Ben Thiodanu
Juanietto Forry Kusuma
Nicholas Antonio
Nicholas Denny Dharmawan
Kelas 11 IPA 2
Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai politik di Indonesia. PKI
adalah partai komunis non-penguasa terbesar di dunia sebelum
dihancurkan pada tahun 1965 dan dinyatakan sebagai partai terlarang pada
tahun berikutnya.
Partai ini didirikan atas inisiatif tokoh sosialis Belanda, Henk Sneevliet
pada 1914, dengan nama Indische Sociaal-Democratische Vereeniging
(ISDV) (atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda). Keanggotaan
awal ISDV pada dasarnya terdiri atas 85 anggota dari dua partai sosialis
Belanda, yaitu SDAP (Partai Buruh Sosial Demokratis) dan SDP (Partai
Sosial Demokratis), yang aktif di Hindia Belanda.
Di bawah kepemimpinan Sneevliet, ISDV yakin bahwa Revolusi Oktober
seperti yang terjadi di Rusia harus diikuti Indonesia. Kelompok ini berhasil
mendapatkan pengikut di antara tentara tentara dan pelaut Belanda yang
ditempatkan di Hindia Belanda. Dibentuklah "Pengawal Merah" dan dalam
waktu tiga bulan jumlah mereka telah mencapai 3.000 orang. Pada akhir
1917, para tentara dan pelaut itu memberontak di Surabaya, sebuah
pangkalan angkatan laut utama di Indonesia saat itu, dan membentuk
sebuah dewan soviet.
Para penguasa kolonial menindas dewandewan soviet di Surabaya dan
ISDV. Para pemimpin ISDV dikirim kembali ke Belanda, termasuk
Sneevliet. Para pemimpin pemberontakan di kalangan militer Belanda
dijatuhi hukuman penjara hingga 40 tahun
ISDV terus melakukan kegiatannya, meskipun dengan cara
bergerak di bawah tanah. Organisasi ini kemudian menerbitkan
sebuah terbitan yang lain, Soeara Ra’jat. Setelah sejumlah kader
Belanda dikeluarkan dengan paksa, ditambah dengan pekerjaan
di kalangan Sarekat Islam, keanggotaan organisasi ini pun mulai
berubah dari mayoritas warga Belanda menjadi mayoritas orang
Indonesia.
Pembentukan Partai Komunis
Pada awalnya PKI adalah gerakan yang berasimilasi ke dalam Sarekat Islam. Keadaan
yang semakin parah dimana ada perselisihan antara para anggotanya, terutama
di Semarang dan Yogyakarta membuatSarekat Islam melaksanakan disiplin partai. Yakni
melarang anggotanya mendapat gelar ganda di kancah perjuangan pergerakan indonesia.
Keputusan tersebut tentu saja membuat para anggota yang beraliran komunis kesal dan
keluar dari partai dan membentuk partai baru yang disebut ISDV. Pada Kongres ISDV
di Semarang (Mei 1920), nama organisasi ini diubah menjadi Perserikatan Komunis di
Hindia. Semaoen diangkat sebagai ketua partai.
PKH adalah partai komunis pertama di Asia yang menjadi bagian dari Komunis
Internasional. Henk Sneevliet mewakili partai ini pada kongresnya kedua Komunis
Internasional pada 1920.
Pada 1924 nama partai ini sekali lagi diubah, kali ini adalah menjadi Partai Komunis
Indonesia (PKI). TUJUAN PKI ialah menggantikan sistem kapitalisme dengan
komunisme
Semaun
Peristiwa Madiun 1948
Pada 8 Desember 1947 sampai 17 Januari 1948 pihak
Republik Indonesia dan Belanda melakukan
perundingan yang dikenal sebagai Perundingan
Renville. Hasil kesepakatan perundingan Renville
dianggap menguntungkan posisi Belanda.
Sebaliknya,RI menjadi pihak yang dirugikan dengan
semakin sempit wilayah yang dimiliki.Oleh karena
itu, kabinet Amir Syarifuddin diaggap merugikan
bangsa, kabinet tersebut dijatuhkan pada 23
Januari 1948. Ia terpaksa menyerahkan mandatnya
kepada presiden dan digantikan kabinet Hatta.
Selanjutnya Amir Syarifuddin membentuk Front
Demokrasi Rakyat (FDR) pada 28 Juni 1948.
Kelompok politik ini berusaha menempatkan diri
sebagai oposisi terhadap pemerintahan dibawah
kabinet Hatta. FDR bergabung dengan Partai Komunis
Indonesia (PKI) merencanakan suatu perebutan
kekuasaan.
Beberapa aksi yang dijalankan kelompok ini diantaranya dengan melancarkan
propaganda antipemerintah, mengadakan demonstrasi-demonstrasi, pemogokan,
menculik dan membunuh lawan-lawan politik, serta menggerakkan kerusuhan
dibeberapa tempat.
Sejalan dengan peristiwa itu, datanglah Muso seorang tokoh komunis yang sejak lama
berada di Moskow, Uni Soviet. Ia menggabungkan diri dengan Amir Syarifuddin untuk
menentang pemerintah, bahkan ia berhasil mengambil alih pucuk pimpinan PKI.
Setelah itu, ia dan kawan-kawannya meningkatkan aksi teror, mengadu domba
kesatuan-kesatuan TNI dan menjelek-jelekan kepemimpinan Soekarno-Hatta. Puncak
aksi PKI adalah pemberotakan terhadap RI pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa
Timur.
Muso
Tujuan pemberontakan itu adalah meruntuhkan negara RI dan menggantinya dengan
negara komunis. Dalam aksi ini beberapa pejabat, perwira TNI, pimpinan partai,
alim ulama dan rakyat yang dianggap musuh dibunuh dengan kejam. Tindakan
kekejaman ini membuat rakyat marah dan mengutuk PKI. Tokoh-tokoh pejuang dan
pasukan TNI memang sedang menghadapi Belanda, tetapi pemerintah RI mampu
bertindak cepat. Panglima Besar Soedirman memerintahkan Kolonel Gatot
Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur untuk menjalankan
operasi penumpasan pemberontakan PKI. Pada 30 September 1948, Madiun dapat
diduduki kembali oleh TNI dan polisi. Dalam operasi ini Muso berhasil ditembak
mati sedangkan Amir Syarifuddin dan tokoh-tokoh lainnya ditangkap dan dijatuhi
hukuman mati
Bangkit kembali
Pada 1950, PKI memulai kembali kegiatan penerbitannya, dengan
organ-organ utamanya yaitu Harian Rakjat dan Bintang Merah.
Pada1950-an, PKI mengambil posisi sebagai partai nasionalis di
bawah pimpinan D.N. Aidit, dan mendukung kebijakan-kebijakan anti
kolonialis dan anti Barat yang diambil oleh Presiden Soekarno. Di
bawah Aidit, PKI berkembang dengan sangat cepat, dari sekitar 3.000-
5.000 anggota pada 1950, menjadi 165.000 pada 1954 dan bahkan 1,5
juta pada 1959
D.N. Aidit
Pada bulan Agustus 1951, PKI banyak mensponsori berbagai kerusuhan, salah
satunya di bogor. Akibat peristiwa ini tokoh-tokoh PKI banyak ditangkap. Dalam
penangkapan ini, D.N. Aidit berhasil meloloskan diri ke Moscow. Pada tahun
1953 D.N. Aidit kembali ke Indonesia dengan membawa konsep Jalan
Demokrasi Rakyat bagi Indonesia.
Pada pemilu 1955, PKI berhasil menduduki posisi 4 besar dengan jumlah suara
6 juta. Selain itu PKI berhasil merumuskan Manipol baru yang berisi Masyarakat
Indonesia dan Revolusi Indonesia (MIRI) pada tahun 1957. Manipol ini berhasil
mempengaruhi politik Indonesia. Sasaran PKI selanjutnya adalah
menghancurkan kekuatan TNI-AD.
Persiapan Perebutan Kekuasaan Yang dilakukan PKI selanjunya adalah
Penyusupan kedalam ABRI, aparatur negara, partai poitik dan organisasi massa.
Selain itu PKI membentuk dan mempersenjatai angkatan ke V. Ini adalah
kekuatan bersenjata di luar ABRI yang berintikan kaum buruh dan petani.
Gagalnya atau terhambatnya rencana PKI oleh TNI-AD membuat PKI berencana
mendeskreditkan TNI-AD. Salah satunya dengan menyebarkan Isu Dewan
Jendral bahwa Dewan Jendral adalah kelompok perwira TNI-AD yang tidak loyal
atau bahkan ingin menjatuhkan pemerintahan Soekarno. Selain itu juga
disebarkan isu bahwa TNI-AD bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Inggris.
Menjelang Peristiwa G 30 S/PKI
Pelaksanaan G30S/PKI
Pada tanggal 1 oktober 1965 sekitar pukul 01.30 letkol Inf. Untung
diikuti Sjam Pono, Brigjen TNI Soeparjo, dan kolonel Inf. A. Latief
berkumpul dilubang buaya. Kemudian memerintahkan pasukan-
pasukan untuk menuju sasarannya, pasukan-pasukan tersebut adalah
sebagai berikut:
•Pasukan Pasoepati yang bertugas menculik para jendral.Pasukan Bima Sakti
yang bertugas menguasai Jakarta. Pasukan Gatotkaca yang bertugas sebagai
pasukan cadangan.
Menjelang dini hari yaitu pukul 03.00, pasukan Pasoepati mendatangi rumah
para jendral dan berusaha menculiknya. Dari tujuh sasaran, mereka hanya
mendapat 6 orang. Ketika mereka mendatangi rumah A.H. Nasution mereka
gagal menculiknya tapi secara tak terduga Ade Irma Suryani yang merupakan
anak bungsu A.H. Nasution yang baru berumur 5 tahun tertembak saat hendak
menghalang pasukan Pasopati yang mau menculik ayahnya. Namun sebagai
gantinya mereka menculik ajudan Jendral A.H. Nasution yang bernama Lettu
Pierre Andreas Tendean.
•1. Letnan Jendral Ahmad Yani
2. Mayor Jenderal R.Soeprapto
3. Mayor Jenderal Haryono Mas
Tirtodarmo
4. Mayor Jenderal Suwondo Parman
5. Brigadir Jenderal Donald Izacus
Panjaitan
6. Brigadir Jenderal Soetojo Siswomiharjo
7. Letnan Satu Pierre Andreas Tendean
Para jendral yang berhasil diculik adalah:
Seluruh korban penculikan
kemudian dibawa ke Lubang
Buaya, Pondok Gede, dan
diserahkan kepada Pasukan
GatotKaca. Para jendral
disiksa sampai akhirnya
meninggal dunia dan di
masukkan kedalam sumur.
Mengapa PKI membunuh para jendral?
Beberapa orang Jendral pada saat itu sedang merencanakan untuk
menggulingkan kekuasaan Soekarno dan mengambil alih kekuasaan. Rencana ini
disebut resolusi dewan jendral.
Para pemimpin PKI kala itu cukup resah dengan adanya isu tentang resolusi
Dewan Jendral. Mereka khawatir jika para jendral berhasil, maka posisi mereka
berada di ujung tanduk. Untuk itu mereka harus bergerak cepat, berpacu dengan
waktu untuk menumpas para jendral yang terlibat dalam Resolusi Dewan Jendral,
sebelum para jedral mendahuluinya.
PKI sendiri mempunyai kepentingan dalam penumpasan ini. PKI adalah
pendukung terkuat Soekarno, dan Soekarno adalah pendukung terkuat PKI demi
sebuah image bagi dunia internasional bahwa Indonesia tidak mudah dimasuki
pengaruh Amerika Serikat. Memang Sokarno lebih menyukai politik sosialis
demokratik seperti yang diajarkan Uni Soviet kepada dunia kala itu yaitu
pemerataan.
Karena PKI takut kehilangan dukungan dari presiden, maka PKI harus secepatnya
menumpas Dewan Jendral sebelum Dewan Jendral menggulingkan Soekarno.
Maka direncanakanlah sebuah aksi untuk menumpas Dewan Jendral. Akhirnya
para pemimpin PKI sepakat tanggal yang tepat untuk melakukan aksi adalah pada
tanggal 30 September.
Pagi harinya, Soeharto yang telah mengetahui hal ini
mendapat laporan dari beberapa ajudan jendral yang
telah diculik. Soeharto hanya tersenyum dalam hati
karena telah mengetahui bahwa semua ini akan
terjadi. Ambisinya untuk menguasai negeri dengan
pangkat dan jabatan yang dia miliki hanya tinggal
selangkah lagi. Dia biarkan PKI membunuh ketujuh
Jendral tersebut, lalu memfitnah PKI telah melakukan
kudeta terhadap Soekarno .Doktrin yang dilontarkan
Soeharto adalah bahwa PKI akan melakukan
pemberontakan terhadap kekuasaan Soekarno.
Penguasaan Kembali Gedung RRI Pusat:
Dini hari tanggal 1 Oktober 1965 Gerakan Tiga Puluh September (G30S) PKI
menculik dan membunuh 6 orang perwira tinggi Angkatan Darat yang yang
dinilai sebagai penghalang utama rencana mereka untuk merebut kekuasaan
Negara. Pagi itu pula mereka berhasil menguasai Gedung RRI dan Gedung
Pusat Telekomunikasi. Di bawah todongan pistol, seorang penyiar RRI dipaksa
menyiarkan pengumuman yang menyatakan bahwa G-30-S telah
menyelamatkan Negara dari usaha kudeta “Dewan Jendral”. Untuk
menghentikan pengumuman-pengumuman yang menyesatkan rakyat itu Soeharto
yang telah mengambil alih sementara pimpinan Angkatan Darat memerintahkan
pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) untuk membebaskan
Gedung RRI Pusat dan Gedung Telekomunikasi dari penguasaan G-30-S PKI. Operasi
yang dimulai pukul 18.30, dengan mengerahkan kekuatan satu kompi dalam waktu
hanya 20 menit, RPKAD berhasil menguasai kembali gedung vital itu.
Pukul 20.00 tanggal 1 Oktober 1965 RRI Pusat sudah dapat menyiarkan pidato radio
Mayjen Soeharto yang menjelaskan adanya usaha kudeta yang dilakukan oleh PKI
melalui G-30-S
Penangkapan DN Aidit 22 November 1965:
Setelah G 30 S PKI mengalami kegagalan di Jakarta, pada tanggal 1
Oktober 1965 tengah malam ketua PKI D.N. Aidit melarikan diri ke Jawa
Tengah yang merupakan basis utama PKI.
Tanggal 2 Oktober 1965 ia berada di Yogyakarta, kemudian berpindah-
pindah tempat dari Yogyakarta ke Semarang. Selanjutnya ia ke Solo untuk
menghindari operasi pengejaran yang dilakukan oleh RPKAD. Tempat
persembunyiannya yang terakhir di sebuah rumah di kampung Sambeng
Gede. Daerah ini merupakan basis Serikat Buruh Kereta Api (SBKA),
organisasi massa yang bernaung dibawah PKI. Melalui operasi intelijen,
tempat persembunyian D.N. Aidit dapat diketahui oleh ABRI.
Tengah malam tanggal 22 November 1965 pukul 01.30 rumah tersebut
digrebek dan digeledah oleh anggota Komando Pelaksanaan Kuasa
Perang (Pekuper) Surakarta. Penangkapan hampir gagal ketika pemilik
rumah mengatakan bahwa D.N. Aidit telah meninggalkan rumahnya.
Kecurigaan timbul setelah anggota Pekuper menemukan sandal yang
masih baru, koper dan radio yang menandakan hadirnya seseorang yang
lain di dalam rumah itu. Penggeledahan dilanjutkan. Dua orang Pekuper
menemukan D.N. Aidit yang bersembunyi di balik lemari. Ia langsung
ditangkap dan kemudian dibawa ke Markas Pekuper Surakarta di Loji
Gandrung, Solo lalu dibunuh.
Supersemar:
Suasana negara saat itu benar-benar memburuk. Negara yang masih muda
ini serasa berasa di titik paling bawah dari keterpurukannya. Perekonomian
anjlok, harga bahan pangan menjulang, bahan pangan susah didapat
dimana-mana, kerusuhan pecah di seluruh wilayah negeri ini. Beberapa
elemen masyarakat melakukan aksi yang berbuntut dengan dicetuskannya
Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). Isi Tritura adalah:
1. BubarkanPKI
2. Turunkan Harga
3. Bersihkan kabinet dari unsur-unsur G 30 S PKI
Situasi ini akhirnya yang memaksa tiga orang Jendral yaitu Letjen (yang
baru naik pangkatnya) Soeharto, Brigjen Amir Machmud dan Brigjen M
Yusuf untuk menemui presiden dan memaksa presiden agar segera
memenuhi tuntutan rakyat. Tritura harus dipenuhi jika presiden ingin
mengembalikan situasi negara ke arah yang kondusif.
Pemberontakan PKI tahun 1965 pada akhirnya
mengantarkan Presiden Soekarno kepada
pemberhentian dirinya dari jabatan Presiden.
Pemberhentian tersebut diikuti dengan
pengangkatan Mayjen Soeharto menjadi pejabat
presiden pada 12Maret 1967.Sehingga mulai saat
itu, jabatan presiden Indonesia dipegang oleh
Soeharto sehingga masa reformasi tahun 1998
tiba.

Sejarah pki

  • 1.
    Ben Thiodanu Juanietto ForryKusuma Nicholas Antonio Nicholas Denny Dharmawan Kelas 11 IPA 2
  • 2.
    Partai Komunis Indonesia(PKI) adalah partai politik di Indonesia. PKI adalah partai komunis non-penguasa terbesar di dunia sebelum dihancurkan pada tahun 1965 dan dinyatakan sebagai partai terlarang pada tahun berikutnya. Partai ini didirikan atas inisiatif tokoh sosialis Belanda, Henk Sneevliet pada 1914, dengan nama Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) (atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda). Keanggotaan awal ISDV pada dasarnya terdiri atas 85 anggota dari dua partai sosialis Belanda, yaitu SDAP (Partai Buruh Sosial Demokratis) dan SDP (Partai Sosial Demokratis), yang aktif di Hindia Belanda.
  • 3.
    Di bawah kepemimpinanSneevliet, ISDV yakin bahwa Revolusi Oktober seperti yang terjadi di Rusia harus diikuti Indonesia. Kelompok ini berhasil mendapatkan pengikut di antara tentara tentara dan pelaut Belanda yang ditempatkan di Hindia Belanda. Dibentuklah "Pengawal Merah" dan dalam waktu tiga bulan jumlah mereka telah mencapai 3.000 orang. Pada akhir 1917, para tentara dan pelaut itu memberontak di Surabaya, sebuah pangkalan angkatan laut utama di Indonesia saat itu, dan membentuk sebuah dewan soviet. Para penguasa kolonial menindas dewandewan soviet di Surabaya dan ISDV. Para pemimpin ISDV dikirim kembali ke Belanda, termasuk Sneevliet. Para pemimpin pemberontakan di kalangan militer Belanda dijatuhi hukuman penjara hingga 40 tahun
  • 4.
    ISDV terus melakukankegiatannya, meskipun dengan cara bergerak di bawah tanah. Organisasi ini kemudian menerbitkan sebuah terbitan yang lain, Soeara Ra’jat. Setelah sejumlah kader Belanda dikeluarkan dengan paksa, ditambah dengan pekerjaan di kalangan Sarekat Islam, keanggotaan organisasi ini pun mulai berubah dari mayoritas warga Belanda menjadi mayoritas orang Indonesia.
  • 5.
    Pembentukan Partai Komunis Padaawalnya PKI adalah gerakan yang berasimilasi ke dalam Sarekat Islam. Keadaan yang semakin parah dimana ada perselisihan antara para anggotanya, terutama di Semarang dan Yogyakarta membuatSarekat Islam melaksanakan disiplin partai. Yakni melarang anggotanya mendapat gelar ganda di kancah perjuangan pergerakan indonesia. Keputusan tersebut tentu saja membuat para anggota yang beraliran komunis kesal dan keluar dari partai dan membentuk partai baru yang disebut ISDV. Pada Kongres ISDV di Semarang (Mei 1920), nama organisasi ini diubah menjadi Perserikatan Komunis di Hindia. Semaoen diangkat sebagai ketua partai. PKH adalah partai komunis pertama di Asia yang menjadi bagian dari Komunis Internasional. Henk Sneevliet mewakili partai ini pada kongresnya kedua Komunis Internasional pada 1920. Pada 1924 nama partai ini sekali lagi diubah, kali ini adalah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). TUJUAN PKI ialah menggantikan sistem kapitalisme dengan komunisme Semaun
  • 6.
    Peristiwa Madiun 1948 Pada8 Desember 1947 sampai 17 Januari 1948 pihak Republik Indonesia dan Belanda melakukan perundingan yang dikenal sebagai Perundingan Renville. Hasil kesepakatan perundingan Renville dianggap menguntungkan posisi Belanda. Sebaliknya,RI menjadi pihak yang dirugikan dengan semakin sempit wilayah yang dimiliki.Oleh karena itu, kabinet Amir Syarifuddin diaggap merugikan bangsa, kabinet tersebut dijatuhkan pada 23 Januari 1948. Ia terpaksa menyerahkan mandatnya kepada presiden dan digantikan kabinet Hatta. Selanjutnya Amir Syarifuddin membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) pada 28 Juni 1948. Kelompok politik ini berusaha menempatkan diri sebagai oposisi terhadap pemerintahan dibawah kabinet Hatta. FDR bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) merencanakan suatu perebutan kekuasaan.
  • 7.
    Beberapa aksi yangdijalankan kelompok ini diantaranya dengan melancarkan propaganda antipemerintah, mengadakan demonstrasi-demonstrasi, pemogokan, menculik dan membunuh lawan-lawan politik, serta menggerakkan kerusuhan dibeberapa tempat. Sejalan dengan peristiwa itu, datanglah Muso seorang tokoh komunis yang sejak lama berada di Moskow, Uni Soviet. Ia menggabungkan diri dengan Amir Syarifuddin untuk menentang pemerintah, bahkan ia berhasil mengambil alih pucuk pimpinan PKI. Setelah itu, ia dan kawan-kawannya meningkatkan aksi teror, mengadu domba kesatuan-kesatuan TNI dan menjelek-jelekan kepemimpinan Soekarno-Hatta. Puncak aksi PKI adalah pemberotakan terhadap RI pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur. Muso
  • 8.
    Tujuan pemberontakan ituadalah meruntuhkan negara RI dan menggantinya dengan negara komunis. Dalam aksi ini beberapa pejabat, perwira TNI, pimpinan partai, alim ulama dan rakyat yang dianggap musuh dibunuh dengan kejam. Tindakan kekejaman ini membuat rakyat marah dan mengutuk PKI. Tokoh-tokoh pejuang dan pasukan TNI memang sedang menghadapi Belanda, tetapi pemerintah RI mampu bertindak cepat. Panglima Besar Soedirman memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur untuk menjalankan operasi penumpasan pemberontakan PKI. Pada 30 September 1948, Madiun dapat diduduki kembali oleh TNI dan polisi. Dalam operasi ini Muso berhasil ditembak mati sedangkan Amir Syarifuddin dan tokoh-tokoh lainnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati
  • 9.
    Bangkit kembali Pada 1950,PKI memulai kembali kegiatan penerbitannya, dengan organ-organ utamanya yaitu Harian Rakjat dan Bintang Merah. Pada1950-an, PKI mengambil posisi sebagai partai nasionalis di bawah pimpinan D.N. Aidit, dan mendukung kebijakan-kebijakan anti kolonialis dan anti Barat yang diambil oleh Presiden Soekarno. Di bawah Aidit, PKI berkembang dengan sangat cepat, dari sekitar 3.000- 5.000 anggota pada 1950, menjadi 165.000 pada 1954 dan bahkan 1,5 juta pada 1959 D.N. Aidit
  • 10.
    Pada bulan Agustus1951, PKI banyak mensponsori berbagai kerusuhan, salah satunya di bogor. Akibat peristiwa ini tokoh-tokoh PKI banyak ditangkap. Dalam penangkapan ini, D.N. Aidit berhasil meloloskan diri ke Moscow. Pada tahun 1953 D.N. Aidit kembali ke Indonesia dengan membawa konsep Jalan Demokrasi Rakyat bagi Indonesia. Pada pemilu 1955, PKI berhasil menduduki posisi 4 besar dengan jumlah suara 6 juta. Selain itu PKI berhasil merumuskan Manipol baru yang berisi Masyarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia (MIRI) pada tahun 1957. Manipol ini berhasil mempengaruhi politik Indonesia. Sasaran PKI selanjutnya adalah menghancurkan kekuatan TNI-AD. Persiapan Perebutan Kekuasaan Yang dilakukan PKI selanjunya adalah Penyusupan kedalam ABRI, aparatur negara, partai poitik dan organisasi massa. Selain itu PKI membentuk dan mempersenjatai angkatan ke V. Ini adalah kekuatan bersenjata di luar ABRI yang berintikan kaum buruh dan petani. Gagalnya atau terhambatnya rencana PKI oleh TNI-AD membuat PKI berencana mendeskreditkan TNI-AD. Salah satunya dengan menyebarkan Isu Dewan Jendral bahwa Dewan Jendral adalah kelompok perwira TNI-AD yang tidak loyal atau bahkan ingin menjatuhkan pemerintahan Soekarno. Selain itu juga disebarkan isu bahwa TNI-AD bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Inggris. Menjelang Peristiwa G 30 S/PKI
  • 11.
    Pelaksanaan G30S/PKI Pada tanggal1 oktober 1965 sekitar pukul 01.30 letkol Inf. Untung diikuti Sjam Pono, Brigjen TNI Soeparjo, dan kolonel Inf. A. Latief berkumpul dilubang buaya. Kemudian memerintahkan pasukan- pasukan untuk menuju sasarannya, pasukan-pasukan tersebut adalah sebagai berikut: •Pasukan Pasoepati yang bertugas menculik para jendral.Pasukan Bima Sakti yang bertugas menguasai Jakarta. Pasukan Gatotkaca yang bertugas sebagai pasukan cadangan. Menjelang dini hari yaitu pukul 03.00, pasukan Pasoepati mendatangi rumah para jendral dan berusaha menculiknya. Dari tujuh sasaran, mereka hanya mendapat 6 orang. Ketika mereka mendatangi rumah A.H. Nasution mereka gagal menculiknya tapi secara tak terduga Ade Irma Suryani yang merupakan anak bungsu A.H. Nasution yang baru berumur 5 tahun tertembak saat hendak menghalang pasukan Pasopati yang mau menculik ayahnya. Namun sebagai gantinya mereka menculik ajudan Jendral A.H. Nasution yang bernama Lettu Pierre Andreas Tendean.
  • 12.
    •1. Letnan JendralAhmad Yani 2. Mayor Jenderal R.Soeprapto 3. Mayor Jenderal Haryono Mas Tirtodarmo 4. Mayor Jenderal Suwondo Parman 5. Brigadir Jenderal Donald Izacus Panjaitan 6. Brigadir Jenderal Soetojo Siswomiharjo 7. Letnan Satu Pierre Andreas Tendean Para jendral yang berhasil diculik adalah: Seluruh korban penculikan kemudian dibawa ke Lubang Buaya, Pondok Gede, dan diserahkan kepada Pasukan GatotKaca. Para jendral disiksa sampai akhirnya meninggal dunia dan di masukkan kedalam sumur.
  • 13.
    Mengapa PKI membunuhpara jendral? Beberapa orang Jendral pada saat itu sedang merencanakan untuk menggulingkan kekuasaan Soekarno dan mengambil alih kekuasaan. Rencana ini disebut resolusi dewan jendral. Para pemimpin PKI kala itu cukup resah dengan adanya isu tentang resolusi Dewan Jendral. Mereka khawatir jika para jendral berhasil, maka posisi mereka berada di ujung tanduk. Untuk itu mereka harus bergerak cepat, berpacu dengan waktu untuk menumpas para jendral yang terlibat dalam Resolusi Dewan Jendral, sebelum para jedral mendahuluinya. PKI sendiri mempunyai kepentingan dalam penumpasan ini. PKI adalah pendukung terkuat Soekarno, dan Soekarno adalah pendukung terkuat PKI demi sebuah image bagi dunia internasional bahwa Indonesia tidak mudah dimasuki pengaruh Amerika Serikat. Memang Sokarno lebih menyukai politik sosialis demokratik seperti yang diajarkan Uni Soviet kepada dunia kala itu yaitu pemerataan. Karena PKI takut kehilangan dukungan dari presiden, maka PKI harus secepatnya menumpas Dewan Jendral sebelum Dewan Jendral menggulingkan Soekarno. Maka direncanakanlah sebuah aksi untuk menumpas Dewan Jendral. Akhirnya para pemimpin PKI sepakat tanggal yang tepat untuk melakukan aksi adalah pada tanggal 30 September.
  • 14.
    Pagi harinya, Soehartoyang telah mengetahui hal ini mendapat laporan dari beberapa ajudan jendral yang telah diculik. Soeharto hanya tersenyum dalam hati karena telah mengetahui bahwa semua ini akan terjadi. Ambisinya untuk menguasai negeri dengan pangkat dan jabatan yang dia miliki hanya tinggal selangkah lagi. Dia biarkan PKI membunuh ketujuh Jendral tersebut, lalu memfitnah PKI telah melakukan kudeta terhadap Soekarno .Doktrin yang dilontarkan Soeharto adalah bahwa PKI akan melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Soekarno.
  • 15.
    Penguasaan Kembali GedungRRI Pusat: Dini hari tanggal 1 Oktober 1965 Gerakan Tiga Puluh September (G30S) PKI menculik dan membunuh 6 orang perwira tinggi Angkatan Darat yang yang dinilai sebagai penghalang utama rencana mereka untuk merebut kekuasaan Negara. Pagi itu pula mereka berhasil menguasai Gedung RRI dan Gedung Pusat Telekomunikasi. Di bawah todongan pistol, seorang penyiar RRI dipaksa menyiarkan pengumuman yang menyatakan bahwa G-30-S telah menyelamatkan Negara dari usaha kudeta “Dewan Jendral”. Untuk menghentikan pengumuman-pengumuman yang menyesatkan rakyat itu Soeharto yang telah mengambil alih sementara pimpinan Angkatan Darat memerintahkan pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) untuk membebaskan Gedung RRI Pusat dan Gedung Telekomunikasi dari penguasaan G-30-S PKI. Operasi yang dimulai pukul 18.30, dengan mengerahkan kekuatan satu kompi dalam waktu hanya 20 menit, RPKAD berhasil menguasai kembali gedung vital itu. Pukul 20.00 tanggal 1 Oktober 1965 RRI Pusat sudah dapat menyiarkan pidato radio Mayjen Soeharto yang menjelaskan adanya usaha kudeta yang dilakukan oleh PKI melalui G-30-S
  • 16.
    Penangkapan DN Aidit22 November 1965: Setelah G 30 S PKI mengalami kegagalan di Jakarta, pada tanggal 1 Oktober 1965 tengah malam ketua PKI D.N. Aidit melarikan diri ke Jawa Tengah yang merupakan basis utama PKI. Tanggal 2 Oktober 1965 ia berada di Yogyakarta, kemudian berpindah- pindah tempat dari Yogyakarta ke Semarang. Selanjutnya ia ke Solo untuk menghindari operasi pengejaran yang dilakukan oleh RPKAD. Tempat persembunyiannya yang terakhir di sebuah rumah di kampung Sambeng Gede. Daerah ini merupakan basis Serikat Buruh Kereta Api (SBKA), organisasi massa yang bernaung dibawah PKI. Melalui operasi intelijen, tempat persembunyian D.N. Aidit dapat diketahui oleh ABRI. Tengah malam tanggal 22 November 1965 pukul 01.30 rumah tersebut digrebek dan digeledah oleh anggota Komando Pelaksanaan Kuasa Perang (Pekuper) Surakarta. Penangkapan hampir gagal ketika pemilik rumah mengatakan bahwa D.N. Aidit telah meninggalkan rumahnya. Kecurigaan timbul setelah anggota Pekuper menemukan sandal yang masih baru, koper dan radio yang menandakan hadirnya seseorang yang lain di dalam rumah itu. Penggeledahan dilanjutkan. Dua orang Pekuper menemukan D.N. Aidit yang bersembunyi di balik lemari. Ia langsung ditangkap dan kemudian dibawa ke Markas Pekuper Surakarta di Loji Gandrung, Solo lalu dibunuh.
  • 17.
    Supersemar: Suasana negara saatitu benar-benar memburuk. Negara yang masih muda ini serasa berasa di titik paling bawah dari keterpurukannya. Perekonomian anjlok, harga bahan pangan menjulang, bahan pangan susah didapat dimana-mana, kerusuhan pecah di seluruh wilayah negeri ini. Beberapa elemen masyarakat melakukan aksi yang berbuntut dengan dicetuskannya Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). Isi Tritura adalah: 1. BubarkanPKI 2. Turunkan Harga 3. Bersihkan kabinet dari unsur-unsur G 30 S PKI Situasi ini akhirnya yang memaksa tiga orang Jendral yaitu Letjen (yang baru naik pangkatnya) Soeharto, Brigjen Amir Machmud dan Brigjen M Yusuf untuk menemui presiden dan memaksa presiden agar segera memenuhi tuntutan rakyat. Tritura harus dipenuhi jika presiden ingin mengembalikan situasi negara ke arah yang kondusif.
  • 18.
    Pemberontakan PKI tahun1965 pada akhirnya mengantarkan Presiden Soekarno kepada pemberhentian dirinya dari jabatan Presiden. Pemberhentian tersebut diikuti dengan pengangkatan Mayjen Soeharto menjadi pejabat presiden pada 12Maret 1967.Sehingga mulai saat itu, jabatan presiden Indonesia dipegang oleh Soeharto sehingga masa reformasi tahun 1998 tiba.