PERANCANGAN GEOMETRIK JALAN 
“ JALAN “ 
OKITANAWA EVERROBERT 
YOFI HELDI PRANATA 
ANTO
JALAN 
Jalan adalah prasarana transportasi 
darat yang meliputi segala bagian jalan, 
termasuk bangunan pelengkap dan 
perlengkapannya yang diperuntukkan bagi 
lalu lintas, yang berada pada permukaan 
tanah, di atas permukaan tanah, di bawah 
permukaan tanah dan/atau air, serta di atas 
permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan 
lori, dan jalan kabel.
UNDANG-UNDANG TENTANG JALAN 
• UU RI NO. 13 TAHUN 1980 TENTANG 
JALAN 
• JALAN SEBAGAI SALAH SATU PRASARANA 
PERHUBUNGAN PADA HAKEKATNYA MERUPAKAN 
UNSUR PENTING DALAM USAHA PENGEMBANGAN 
KEHIDUPAN BANGSA DAN PEMBINAAN KESATUAN 
DAN PERATURAN BANGSA UNTUK MENCAPAI 
TUJUAN NASIONAL BERDASARKAN PANCASILA 
SEPERTI TERMAKTUB DI DALAM PEMBUKAAN 
UUD 1945. 
• JALAN MEMPUNYAI PERANAN YANG PENTING 
TERUTAMA YANG MENYANGKUT PERWUJUDAN 
PERKEMBANGAN ANTAR DAERAH YANG 
SEIMBANG DAN PEMERATAAN HASIL
PENGELOMPOKAN JALAN 
JALAN dikelompokkan menjadi 2, yaitu : 
Jalan 
Umum 
• jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas 
umum 
Jalan 
Khusus 
• jalan yang di bangun oleh instasi, badan 
usaha. perseorangan, atau kelompok 
masyarakat untuk kepentingan pribadi
SISTEM 
JALAN 
UMUM 
FUNGSI 
STATUS 
KELAS
Sistem jaringan jalan merupakan satu kesatuan 
jaringan jalan yang terdiri dari sistem jaringan jalan 
primer dan sistem jaringan jalan sekunder yang 
terjalin dalam hubungan hierarki. 
Sistem jaringan jalan disusun dengan mengacu 
pada rencana tata ruang wilayah dan dengan 
memperhatikan keterhubungan antar kawasan 
dan/atau dalam kawasan perkotaan, dan kawasan 
pedesaan. Jalan tol adalah jalan umum yang 
merupakan bagian sistem jaringan jalan dan 
sebagai jalan nasional yang penggunanya 
diwajibkan membayar tol.
• Sistem Jaringan Jalan Primer 
Sistem jaringan jalan primer disusun berdasarkan 
rencana tata ruang dan pelayanan distribusi barang 
dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di 
tingkat nasional, dengan menghubungkan semua 
simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat 
kegiatan sebagai berikut: 
 menghubungkan secara menerus pusat kegiatan 
nasional, pusat kegiatan wilayah, pusat kegiatan 
lokal sampai ke pusat kegiatan lingkungan 
 menghubungkan antar pusat kegiatan nasional.
• Sistem Jaringan Jalan Sekunder 
Sistem jaringan jalan sekunder disusun berdasarkan 
rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota dan pelayanan 
distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam 
kawasan perkotaan yang menghubungkan secara menerus 
kawasan yang mempunyai fungsi primer, fungsi sekunder 
kesatu, fungsi sekunder kedua, fungsi sekunder ketiga, dan 
seterusnya sampai ke persil.
JALAN ARTERI 
• Jalan yang melayani angkutan utama dengan 
ciri-ciri perjalanan jarak jauh, 
• kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan 
masuk dibatasi secara efisien 
JALAN KOLEKTOR 
• Jalan yang melayani angkutan 
pengumpul/pembagi dengan ciri-ciri 
perjalanan jarak sedang, 
• kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan 
masuk dibatasi,
JALAN LOKAL 
• Jalan yang melayani angkutan setempat 
dengan ciri-ciri perjalanan jarak dekat, 
• kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah 
jalan masuk tidak dibatasi 
JALAN LINGKUNGAN 
• jalan umum yang berfungsi melayani 
angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan 
jarak dekat, 
• kecepatan rata-rata rendah
Jalan bebas hambatan 
Rumah/ terminal/ kantor 
Jalan lokal 
Jalan kolektor 
Jalan Akses 
Jalan Arteri
Jalan Nasional 
• Jalan nasional merupakan jalan arteri dan jalan 
kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang 
menghubungkan antar ibukota provinsi, dan 
jalan strategis nasional, serta jalan tol. 
Jalan Provinsi 
• Jalan provinsi merupakan jalan kolektor dalam 
sistem jaringan primer yang menghubungkan 
ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, 
atau antar ibukota kabupaten/kota, dan jalan 
strategis provinsi.
JALAN UMUM menurut STATUS 
Jalan Kabupaten 
• Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dalam 
sistem jaringan jalan primer yang tidak 
termasuk dalam jalan nasional dan jalan 
provinsi, yang menghubungkan ibukota 
kabupaten dengan ibukota kecamatan, 
antaribukota kecamatan, ibukota kabupaten 
dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat 
kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem 
jaringan jalan sekunder dalam wilayah 
kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.
JALAN UMUM menurut STATUS 
Jalan Kota 
• Jalan kota adalah jalan umum dalam sistem jaringan 
sekunder yang menghubungkan antarpusat 
pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat 
pelayanan dengan persil, menghubungkan antara 
persil, serta menghubungkan antarpusat 
permukiman yang berada di dalam kota 
Jalan Desa 
• Jalan desa merupakan jalan umum yang 
menghubungkan kawasan dan/atau 
antarpermukiman di dalam desa, serta jalan 
lingkungan.
JALAN UMUM menurut KELAS 
• Pengaturan kelas jalan berdasarkan spesifikasi 
penyediaan prasarana jalan dikelompokkan atas jalan 
bebas hambatan, jalan raya, jalan sedang, dan jalan kecil. 
• Menurut berat kendaraan yang Iewat, jalan raya terdiri 
atas: 
1. Jalan Kelas I 4. Jalan Kelas IIC 
2. Jalan Kelas IIA 5. Jalan Kelas III 
3. Jalan Kelas IIB 
• Tebal perkerasan jalan itu ditentukan sesuai dengan kelas 
jalan. 
• Makin berat kendaraan-kendaraan yang melalui suatu 
jalan, makin berat pula syarat-syarat yang ditentukan 
untuk pembuatan jalan tersebut.
JALAN UMUM menurut KELAS 
• Klasifikasi menurut kelas jalan berkaitan dengan 
kemampuan jalan untuk menerima beban lalu lintas, 
dinyatakan dalam muatan sumbu terberat (MST) dalam 
satuan ton. 
• Klasifikasi menurut kelas jalan dan ketentuannya serta 
kaitannya dengan kasifikasi menurut fungsi jalan dapat 
dilihat dalam Tabel (Pasal 11, PP. No.43/1993). 
FUNGSI KELAS MST (Ton ) 
ARTERI 
I 
II 
III A 
>10 
10 
8 
KOLEKTOR 
III A 
III B 8
Bagian-Bagian Jalan 
DAMAJA 
(Daerah Manfaat Jalan) 
DAMIJA 
(Daerah Milik Jalan) 
DAWASJA 
(Daerah Pengawasan Jalan)
Daerah manfaat jalan (DAMAJA) 
1) lebar antara batas ambang pengaman 
konstruksi jalan di kedua sisi jalan, 
2) tinggi 5 meter di atas permukaan perkerasan 
pada sumbu jalan, dan 
3) kedalaman ruang bebas 1,5 meter di bawah 
muka jalan. 
Daerah milik jalan (DAMIJA) 
Damija dibatasi oleh lebar yang sama dengan 
Damaja ditambah ambang pengaman konstruksi 
jalan dengan tinggi 5 meter dan kedalaman 1.5 
meter
. Daerah Pengawasan Jalan (DAWASJA) 
Ruang Daerah Pengawasan Jalan (Dawasja) 
adalah ruang sepanjang jalan di luar Damaja yang 
dibatasi oleh tinggi dan lebar tertentu, diukur dari 
sumbu jalan 
a) jalan Arteri minimum 20 meter, 
b) jalan Kolektor minimum 15 meter, 
c) jalan Lokal minimum 10 meter. 
Untuk keselamatan pemakai jalan, Dawasja di 
daerah tikungan ditentukan oleh jarak pandang 
bebas
Perancangan Geometrik Jalan - Jalan
Perancangan Geometrik Jalan - Jalan

Perancangan Geometrik Jalan - Jalan

  • 1.
    PERANCANGAN GEOMETRIK JALAN “ JALAN “ OKITANAWA EVERROBERT YOFI HELDI PRANATA ANTO
  • 2.
    JALAN Jalan adalahprasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel.
  • 3.
    UNDANG-UNDANG TENTANG JALAN • UU RI NO. 13 TAHUN 1980 TENTANG JALAN • JALAN SEBAGAI SALAH SATU PRASARANA PERHUBUNGAN PADA HAKEKATNYA MERUPAKAN UNSUR PENTING DALAM USAHA PENGEMBANGAN KEHIDUPAN BANGSA DAN PEMBINAAN KESATUAN DAN PERATURAN BANGSA UNTUK MENCAPAI TUJUAN NASIONAL BERDASARKAN PANCASILA SEPERTI TERMAKTUB DI DALAM PEMBUKAAN UUD 1945. • JALAN MEMPUNYAI PERANAN YANG PENTING TERUTAMA YANG MENYANGKUT PERWUJUDAN PERKEMBANGAN ANTAR DAERAH YANG SEIMBANG DAN PEMERATAAN HASIL
  • 4.
    PENGELOMPOKAN JALAN JALANdikelompokkan menjadi 2, yaitu : Jalan Umum • jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum Jalan Khusus • jalan yang di bangun oleh instasi, badan usaha. perseorangan, atau kelompok masyarakat untuk kepentingan pribadi
  • 5.
    SISTEM JALAN UMUM FUNGSI STATUS KELAS
  • 6.
    Sistem jaringan jalanmerupakan satu kesatuan jaringan jalan yang terdiri dari sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder yang terjalin dalam hubungan hierarki. Sistem jaringan jalan disusun dengan mengacu pada rencana tata ruang wilayah dan dengan memperhatikan keterhubungan antar kawasan dan/atau dalam kawasan perkotaan, dan kawasan pedesaan. Jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan membayar tol.
  • 7.
    • Sistem JaringanJalan Primer Sistem jaringan jalan primer disusun berdasarkan rencana tata ruang dan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan sebagai berikut:  menghubungkan secara menerus pusat kegiatan nasional, pusat kegiatan wilayah, pusat kegiatan lokal sampai ke pusat kegiatan lingkungan  menghubungkan antar pusat kegiatan nasional.
  • 8.
    • Sistem JaringanJalan Sekunder Sistem jaringan jalan sekunder disusun berdasarkan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota dan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan yang menghubungkan secara menerus kawasan yang mempunyai fungsi primer, fungsi sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua, fungsi sekunder ketiga, dan seterusnya sampai ke persil.
  • 9.
    JALAN ARTERI •Jalan yang melayani angkutan utama dengan ciri-ciri perjalanan jarak jauh, • kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien JALAN KOLEKTOR • Jalan yang melayani angkutan pengumpul/pembagi dengan ciri-ciri perjalanan jarak sedang, • kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi,
  • 10.
    JALAN LOKAL •Jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri perjalanan jarak dekat, • kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi JALAN LINGKUNGAN • jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, • kecepatan rata-rata rendah
  • 11.
    Jalan bebas hambatan Rumah/ terminal/ kantor Jalan lokal Jalan kolektor Jalan Akses Jalan Arteri
  • 12.
    Jalan Nasional •Jalan nasional merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antar ibukota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta jalan tol. Jalan Provinsi • Jalan provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antar ibukota kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.
  • 13.
    JALAN UMUM menurutSTATUS Jalan Kabupaten • Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang tidak termasuk dalam jalan nasional dan jalan provinsi, yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, antaribukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.
  • 14.
    JALAN UMUM menurutSTATUS Jalan Kota • Jalan kota adalah jalan umum dalam sistem jaringan sekunder yang menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan antara persil, serta menghubungkan antarpusat permukiman yang berada di dalam kota Jalan Desa • Jalan desa merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antarpermukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan.
  • 16.
    JALAN UMUM menurutKELAS • Pengaturan kelas jalan berdasarkan spesifikasi penyediaan prasarana jalan dikelompokkan atas jalan bebas hambatan, jalan raya, jalan sedang, dan jalan kecil. • Menurut berat kendaraan yang Iewat, jalan raya terdiri atas: 1. Jalan Kelas I 4. Jalan Kelas IIC 2. Jalan Kelas IIA 5. Jalan Kelas III 3. Jalan Kelas IIB • Tebal perkerasan jalan itu ditentukan sesuai dengan kelas jalan. • Makin berat kendaraan-kendaraan yang melalui suatu jalan, makin berat pula syarat-syarat yang ditentukan untuk pembuatan jalan tersebut.
  • 17.
    JALAN UMUM menurutKELAS • Klasifikasi menurut kelas jalan berkaitan dengan kemampuan jalan untuk menerima beban lalu lintas, dinyatakan dalam muatan sumbu terberat (MST) dalam satuan ton. • Klasifikasi menurut kelas jalan dan ketentuannya serta kaitannya dengan kasifikasi menurut fungsi jalan dapat dilihat dalam Tabel (Pasal 11, PP. No.43/1993). FUNGSI KELAS MST (Ton ) ARTERI I II III A >10 10 8 KOLEKTOR III A III B 8
  • 19.
    Bagian-Bagian Jalan DAMAJA (Daerah Manfaat Jalan) DAMIJA (Daerah Milik Jalan) DAWASJA (Daerah Pengawasan Jalan)
  • 20.
    Daerah manfaat jalan(DAMAJA) 1) lebar antara batas ambang pengaman konstruksi jalan di kedua sisi jalan, 2) tinggi 5 meter di atas permukaan perkerasan pada sumbu jalan, dan 3) kedalaman ruang bebas 1,5 meter di bawah muka jalan. Daerah milik jalan (DAMIJA) Damija dibatasi oleh lebar yang sama dengan Damaja ditambah ambang pengaman konstruksi jalan dengan tinggi 5 meter dan kedalaman 1.5 meter
  • 21.
    . Daerah PengawasanJalan (DAWASJA) Ruang Daerah Pengawasan Jalan (Dawasja) adalah ruang sepanjang jalan di luar Damaja yang dibatasi oleh tinggi dan lebar tertentu, diukur dari sumbu jalan a) jalan Arteri minimum 20 meter, b) jalan Kolektor minimum 15 meter, c) jalan Lokal minimum 10 meter. Untuk keselamatan pemakai jalan, Dawasja di daerah tikungan ditentukan oleh jarak pandang bebas

Editor's Notes

  • #17 Jalan Kelas I Jalan Kelas IIA Jalan Kelas IIB Jalan Kelas IIC