POLTEKKES KEMENKES MALANG
PRODI DIII KEBIDANAN KEDIRI
secara fisiologis yaitu
kebutuhan oksigen dan
pertukaran gas, kebutuhan
cairan dan elektrolit,
kebutuhan makanan,
kebutuhan eliminasi urin
dan alvi, kebutuhan
istirahat dan tidur,
kebutuhan aktivitas,
kebutuhan kesehatan
temperatur tubuh, dan
kebutuhan sosial.
Pemenuhan kebutuhan
akan cairan dan
elektrolit merupakan
salah satu hal yang
penting dalam
kehidupan manusia.
Agar dapat
mempertahankan
kesehatan dan
kehidupannya,
manusia membutuhkan
cairan dan elektrolit
dalam jumlah dan
Pemenuhan kebutuhan
akan cairan dan
elektrolit merupakan
salah satu hal yang
penting dalam
kehidupan manusia.
Agar dapat
mempertahankan
kesehatan dan
kehidupannya,
manusia membutuhkan
cairan dan elektrolit
dalam jumlah dan
Pada kondisi
tertentu di saat
tubuh manusia
mengalami
kekurangan cairan
atau dehidrasi,
pemberian cairan
intravena diperlukan
untuk memenuhi
kebutuhan cairan
tubuh. Pemberian
cairan intravena ini
dilakukan dengan
Infus adalah pemasukan obat dan
sebagainya (berupa cairan) tanpa tekanan
istimewa melalui pembuluh darah atau
rongga badan.
Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan
cairan pada klien yang tidak mampu
mengonsumsi cairan oral secara adekuat,
menambah asupan elektrolit untuk menjaga
keseimbangan elektrolit, menyediakan
glukosa untuk kebutuhan energi dalam
proses metabolisme, memenuhi kebutuhan
vitamin larut air, serta menjadi media untuk
pemberian obat melalui vena.
1) Perdarahan dalam jumlah banyak.
2) Trauma abdomen.
3) Fraktur tulang, khususnya di pelvis dan
paha.
4) Kehilangan cairan tubuh atau
dehidrasi.
5) Diare dan demam.
6) Luka bakar yang luas.
7) Semua trauma kepala, dada, dan
1) Larutan nutrien
Larutan ini berisi beberapajenis
karbohidrat (dekstrosadan
glukosa) dan air. Larutan nutrien
yang umum digunakan adalah 5%
dekstrosadalam air (D5W), 3,3%
glukosadalam 0,3% NaCl, dan
5% glukosadalam 0,45% NaCl.
Setiap 1 liter cairan dextrose5%
mengandung 170-200 kalori,asam
amino (amigen, anunosol, dan
travamin) atau lemak (lipomul
dan lyposyn).
1) Larutan nutrien
Larutan ini berisi beberapajenis
karbohidrat (dekstrosadan
glukosa) dan air. Larutan nutrien
yang umum digunakan adalah 5%
dekstrosadalam air (D5W), 3,3%
glukosadalam 0,3% NaCl, dan
5% glukosadalam 0,45% NaCl.
Setiap 1 liter cairan dextrose5%
mengandung 170-200 kalori,asam
amino (amigen, anunosol, dan
travamin) atau lemak (lipomul
dan lyposyn).
2) Larutan elektrolit
Larutan elektrolit meliputi larutan
saline(isotonik, hipotonik atau
hipertonik). Jenislarutan
elektrolit yang paling banyak
digunakan adalah normal salin
(isotonik), yaitu NaCl 0,9%.
Contoh larutan elektrolit lainnya
adalah laktat ringer (Na+, K+,
Cl‾, Ca2+) dan cairan butler
(Na+, K+, Mg2+, Cl‾, HCO3‾).
2) Larutan elektrolit
Larutan elektrolit meliputi larutan
saline(isotonik, hipotonik atau
hipertonik). Jenislarutan
elektrolit yang paling banyak
digunakan adalah normal salin
(isotonik), yaitu NaCl 0,9%.
Contoh larutan elektrolit lainnya
adalah laktat ringer (Na+, K+,
Cl‾, Ca2+) dan cairan butler
(Na+, K+, Mg2+, Cl‾, HCO3‾).
3) Cairan asam basa
Jenis cairan yang termasuk
cairan asam basa adalah
natrium laktat dan natrium
bikarbonat. Laktat
merupakan sejenis garam
yang dapat mengikat ion H+
dari cairan sehingga
mengurangi keasaman
lingkungan.
4) Volume ekspander
Jenis larutan ini berfungsi
meningkatkan volume
pembuluh darah atau
plasma, misalnya pada
kasus hemoragi atau
kombustio berat. Volume
ekspander yang umum
digunakan antara lain
dekstran, plasma, dan
albumin serum. Cara
kerjanya adalah dengan
meningkatkan tekanan
osmotik darah.
Penginf usan dapat dilakukan
pada beberapa t empat sebagai
berikut :
1) Vena lengan yait u vena
sef alika, basilika at au mediana
kubit i
2) Vena t ungkai at au vena
saf ena
3) Vena di daerah kepala
1) Siapkan peralatan
yang diperlukan,
meliputi:
a. Standar infus
b. Set infus
c. Cairan infus
d. Kapas alkohol
e. Alkohol
f. Kassa steril
g. Bethadine
h. Pengalas atau perlak
i. Torniket
j. Plester
k. Gunting plester
l. Sarung tangan bersih
2) Persiapakan klien. Minta
persetujuan klien setelah memberikan
penjelasan mengenai tujuan dan jenis
prosedur.
3) Cuci tangan
4) Siapkan cairan dan set infus.
Pertahankan teknik aseptik ketika
membuka cairan dan pack infus.
5) Hubungkan cairan ke set infus
dengan menusukkan ujung slang pada
bagian karet botol infus.
6) Isi cairan ke dalam set infus
dengan menekan ruang tetesan
(reservoir) sampai terisi sebagian dan
buka klem slang sampai cairan
memenuhi slang dan udara di dalam
slang keluar.
2) Persiapakan klien. Minta
persetujuan klien setelah memberikan
penjelasan mengenai tujuan dan jenis
prosedur.
3) Cuci tangan
4) Siapkan cairan dan set infus.
Pertahankan teknik aseptik ketika
membuka cairan dan pack infus.
5) Hubungkan cairan ke set infus
dengan menusukkan ujung slang pada
bagian karet botol infus.
6) Isi cairan ke dalam set infus
dengan menekan ruang tetesan
(reservoir) sampai terisi sebagian dan
buka klem slang sampai cairan
memenuhi slang dan udara di dalam
slang keluar.
7) Letakkan pengalas di bawah
area (vena) yang akan dipasang infus.
8) Cari lokasi pemasangan.
Usahakan pada area paling distal pada
ekstremitas yang tidak dominan.
9) Bendung vena dengan
memasang torniket 10-12 cm di atas area
penusukan dan anjurkan klien untuk
menggenggam (bila sadar).
10) Kenakan sarung tangan bersih
11) Bersihkan area penusukan
dengan kapas alkohol 70% memutar dari
dalam ke luar atau dari atas ke bawah.
12) Lakukan penusukan vena
dengan meletakkan ibu jari di bawah
vena dan posisi jarum (abbocath)
mengarah ke atas.
7) Letakkan pengalas di bawah
area (vena) yang akan dipasang infus.
8) Cari lokasi pemasangan.
Usahakan pada area paling distal pada
ekstremitas yang tidak dominan.
9) Bendung vena dengan
memasang torniket 10-12 cm di atas area
penusukan dan anjurkan klien untuk
menggenggam (bila sadar).
10) Kenakan sarung tangan bersih
11) Bersihkan area penusukan
dengan kapas alkohol 70% memutar dari
dalam ke luar atau dari atas ke bawah.
12) Lakukan penusukan vena
dengan meletakkan ibu jari di bawah
vena dan posisi jarum (abbocath)
mengarah ke atas.
13) Perhatikan keluarnya darah melalui
jarum (abbocath atau surflo). Apabila terlihat
ada darah dalam jarum (abbocath atau surflo),
tarik keluar bagian dalam jarum sambil
menyusupkan bagian luarnya lebih jauh ke
dalam vena.
14) Setelah jarum bagian dalam
dilepaskan, tekan bagian atas vena dengan
menggunakan jari tangan agar darah tidak
keluar.
15) Hubungkan abbocath ke slang infus
secara cepat dan cermat.
16) Lepaskan torniket dan lemaskan
kepalan tangan klien.
17) Buka klem dan atur kecepatan
sesuai instruksi yang telah diberikan.
18) Periksa daerah sekitar tempat
penusukan untuk melihat adanya tanda-tanda
infiltrasi.
13) Perhatikan keluarnya darah melalui
jarum (abbocath atau surflo). Apabila terlihat
ada darah dalam jarum (abbocath atau surflo),
tarik keluar bagian dalam jarum sambil
menyusupkan bagian luarnya lebih jauh ke
dalam vena.
14) Setelah jarum bagian dalam
dilepaskan, tekan bagian atas vena dengan
menggunakan jari tangan agar darah tidak
keluar.
15) Hubungkan abbocath ke slang infus
secara cepat dan cermat.
16) Lepaskan torniket dan lemaskan
kepalan tangan klien.
17) Buka klem dan atur kecepatan
sesuai instruksi yang telah diberikan.
18) Periksa daerah sekitar tempat
penusukan untuk melihat adanya tanda-tanda
infiltrasi.
19) Bila tidak ada tanda-tanda infiltrasi,
tutupi area penusukan dengan kasa steril dan
fiksasikan dengan plester.
20) Tuliskan tanggal dan waktu
pemasangan infus serta ukuran jarum.
21) Lepaskan sarung tangan dan cuci
tangan.
22) Catat jenis cairan, lokasi infus,
kecepatan aliran, dan jenis jarum infus yang
digunakan.
19) Bila tidak ada tanda-tanda infiltrasi,
tutupi area penusukan dengan kasa steril dan
fiksasikan dengan plester.
20) Tuliskan tanggal dan waktu
pemasangan infus serta ukuran jarum.
21) Lepaskan sarung tangan dan cuci
tangan.
22) Catat jenis cairan, lokasi infus,
kecepatan aliran, dan jenis jarum infus yang
digunakan.
Ada dua met ode yang digunakan unt uk
menghit ung j umlah t et esan, yakni:
1) J umlah millimet er perj am
J umlah t et esan dihit ung dengan
membandingkan volume cairan yang harus
diberikan (ml) dengan lamanya pemberian
(j am).
Cont oh: 3000 ml cairan RL harus
diberikan dalam 24 j am. Dengan demikian
J umlah t et esan = (3000 ml)/ (24 j am) =
Tetesan permenit
Jumlah tetesan dihitung dengan mengalikan
jumlah cairan yang dibutuhkan (ml) dengan
faktor tetes, kemudian membaginya dengan
lama pemberian (menit). Faktor tetes ditentukan
berdasarkan alat yang digunakan. Rumus
pemberian cairan :
Tetes = (ÎŁ cairan yang dibutuhkan x faktor tetes
(makro atau mikro))/(Total waktu (jam x 60
menit))
Pedoman:
Faktor tetes makro : 20 tetes
Faktor tetes mikro: 60 tetes
Contoh: Seorang klien datang dengan keluhan
mual dan muntah yang terus-menerus. Dari
pengkajian ditemukan tanda-tanda dehidrasi
sedang. Berdasarkan pemeriksaan, klien
harus mendapatkan terapi cairan intravena.
Dokter menginstruksikan pemberian 3 kolf RL
dalam 24 jam. Dengan demikian, jumlah
tetesan infus/menit untuk klien tersebut
adalah:
Tetes/menit = ((3 x 500 ml)x 20 tetes)/(24 x
60 menit)
= (30.000 tetes)/(1.440 menit)
= 20,8 tetes/menit
1) Posisi tangan atau area
pemasangan infus
2) Posisi dan ketepatan slang
3) Tinggi botol infus
4) Kemungkinan infiltrasi atau cairan
terhambat
Hal yang harus diperhatikan baik
oleh perawat atau klien agar
pemberian infus dapat berjalan
dengan lancar, yaitu:
1) Mempertahankan
kepatenan infus intravena
2) Memenuhi kebutuhan rasa
nyaman klien dalam melakukan
aktivitas sehari-hari dengan
memenuhi kebutuhan personal
higiene klien dan membantu
mobilisasi, misalnya turun dari
tempat tidur, berjalan, makan,
minum, dan lain-lain.
3) Melakukan observasi
terhadap komplikasi yang mungkin
muncul, seperti:
a. Infiltrasi, yaitu masuknya
cairan ke jaringan subkutan yang
ditandai dengan bengkak, dingin, nyeri,
dan terhambatnya tetesan infus.
b. Flebitis, yaitu trauma
mekanik atau iritasi kimiawi pada vena
yang ditandai dengan nyeri, panas, dan
kemerahan pada vena tempat
pemasangan infus.
c. Kelebihan cairan akibat
tetesan infus yang terlalu cepat, yang
ditandai dengan perasaan kedinginan,
adanya cairan pada paru yang teramati
pada foto toraks, dan lain-lain.
4) Mengatur tetesan
infus secara tepat. Hal-
hal yang harus
diperhatikan perawat,
antara lain:
a. Tetesan yang
terlalu cepat dapat
menyebabkan gagal
jantung dan edema paru.
b. Tetesan yang
terlalu lambat
4) Mengatur tetesan
infus secara tepat. Hal-
hal yang harus
diperhatikan perawat,
antara lain:
a. Tetesan yang
terlalu cepat dapat
menyebabkan gagal
jantung dan edema paru.
b. Tetesan yang
terlalu lambat
5) Memberikan penjelasan
kepada klien. Hal-hal yang
perlu dijelaskan antara lain:
a. Segera melapor apabila
ada bengkak pada area
pemasangan
b. Menghindari gerakan
tiba-tiba pada ekstremitas
yang terpasang infus atau
menekuk sendi ekstremitas
yang terpasang infus
c. Tidak menekan tabung
infus
d. Menjaga agar botol
infus selalu lebih tinggi dari
lokasi pemasangan
5) Memberikan penjelasan
kepada klien. Hal-hal yang
perlu dijelaskan antara lain:
a. Segera melapor apabila
ada bengkak pada area
pemasangan
b. Menghindari gerakan
tiba-tiba pada ekstremitas
yang terpasang infus atau
menekuk sendi ekstremitas
yang terpasang infus
c. Tidak menekan tabung
infus
d. Menjaga agar botol
infus selalu lebih tinggi dari
lokasi pemasangan
6) Mengganti botol infus. Penggantian botol
dilakukan apabila cairan sudah berada di leher botol
dan tetesan masih berjalan. Sebaliknya, prosedur ini
dilakukan dalam 24 jam untuk mencegah flebitis dan
pembentukan trombus. Secara umum, prosedur
penggantian botol infus adalah sebagai berikut:
a. Siapkan botol baru yang akan digunakan.
b. Klem slang infus agar tidak terjadi
penghentian tetesan atau pembuntuan darah.
c. Tarik jarum dari botol lama dan segera
tusukkan pada botol baru yang sebelumnya sudah
didesinfektan dengan kapas alkohol 70%.
d. Gantungkan botol kembali.
e. Buka klem dan hitung kembali tetesan
secara benar.
f. Pasang label.
g. Catat tindakan yang dilakukan pada
lembar observasi atau prosedur tindakan.
6) Mengganti botol infus. Penggantian botol
dilakukan apabila cairan sudah berada di leher botol
dan tetesan masih berjalan. Sebaliknya, prosedur ini
dilakukan dalam 24 jam untuk mencegah flebitis dan
pembentukan trombus. Secara umum, prosedur
penggantian botol infus adalah sebagai berikut:
a. Siapkan botol baru yang akan digunakan.
b. Klem slang infus agar tidak terjadi
penghentian tetesan atau pembuntuan darah.
c. Tarik jarum dari botol lama dan segera
tusukkan pada botol baru yang sebelumnya sudah
didesinfektan dengan kapas alkohol 70%.
d. Gantungkan botol kembali.
e. Buka klem dan hitung kembali tetesan
secara benar.
f. Pasang label.
g. Catat tindakan yang dilakukan pada
lembar observasi atau prosedur tindakan.
7) Mengganti slang infus.
Prosedur ini dilakukan paling
lambat setelah 3x24 jam, dan
Centers for Disease Control (CDC)
menganjurkan agar tidak lebih dari
2x24 jam. Langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut:
a. Siapkan set infus yang
baru, termasuk botol cairan infus
yang diresepkan.
b. Alirkan cairan sepanjang
slang, gantungkan botol cairan,
dan tutup klem pada standar infus.
c. Pegang poros jarum
dengan satu tangan dan tangan
yang lain melepaskan slang.
d. Sambungkan slang yang
baru ke poros jarum.
e. Langkah selanjutnya
sama dengan prosedur
pemasangan infus baru.
7) Mengganti slang infus.
Prosedur ini dilakukan paling
lambat setelah 3x24 jam, dan
Centers for Disease Control (CDC)
menganjurkan agar tidak lebih dari
2x24 jam. Langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut:
a. Siapkan set infus yang
baru, termasuk botol cairan infus
yang diresepkan.
b. Alirkan cairan sepanjang
slang, gantungkan botol cairan,
dan tutup klem pada standar infus.
c. Pegang poros jarum
dengan satu tangan dan tangan
yang lain melepaskan slang.
d. Sambungkan slang yang
baru ke poros jarum.
e. Langkah selanjutnya
sama dengan prosedur
pemasangan infus baru.
8) Menghentikan terapi intravena. Prosedur ini
dilakukan apabila program terapi sudah selesai
jika hendak dilakukan penusukan yang baru.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Tutup klem infus.
b. Buka slang pada area penusukan sambil
memegang jarum.
c. Tarik jarum secepatnya dan beri
penekanan pada area bekas tusukan dengan
kapas alkohol selama 2-3 menit untuk mencegah
perdarahan.
Keuntungan yang didapat dari pemasangan infus
antara lain:
1) Efek terapeutik segera dapat tercapai
karena penghantaran obat ke tempat target
berlangsung cepat
2) Absorsi total memungkinkan dosis obat
lebih tepat dan terapi lebih dapat diandalkan
3) Kecepatan pemberian dapat dikontrol
sehingga efek terapeutik dapat dipertahankan
maupun dimodifikasi
4) Rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu
jika diberikan intramuskular atau subkutan dapat
dihindari
5) Sesuai untuk obat yang tidak dapat
diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang
besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus
gastrointestinalis
Keuntungan yang didapat dari pemasangan infus
antara lain:
1) Efek terapeutik segera dapat tercapai
karena penghantaran obat ke tempat target
berlangsung cepat
2) Absorsi total memungkinkan dosis obat
lebih tepat dan terapi lebih dapat diandalkan
3) Kecepatan pemberian dapat dikontrol
sehingga efek terapeutik dapat dipertahankan
maupun dimodifikasi
4) Rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu
jika diberikan intramuskular atau subkutan dapat
dihindari
5) Sesuai untuk obat yang tidak dapat
diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang
besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus
gastrointestinalis
Kerugian yang mungkin didapat
dari pemasangan infus antara
lain:
1) Tidak bisa dilakukan
“drug recall” dan mengubah aksi
obat tersebut sehingga resiko
toksisitas dan sensitivitas tinggi
2) Kontrol pemberian
yang tidak baik bisa
menyebabkan “speeed shock”
3) Kontaminasi mikroba
melalui titik akses ke sirkulasi
dalam periode tertentu
4) Iritasi Vaskular,
misalnya phlebitis kimia
5) Inkompabilitas obat
dan interaksi dari berbagai obat
tambahan
Kerugian yang mungkin didapat
dari pemasangan infus antara
lain:
1) Tidak bisa dilakukan
“drug recall” dan mengubah aksi
obat tersebut sehingga resiko
toksisitas dan sensitivitas tinggi
2) Kontrol pemberian
yang tidak baik bisa
menyebabkan “speeed shock”
3) Kontaminasi mikroba
melalui titik akses ke sirkulasi
dalam periode tertentu
4) Iritasi Vaskular,
misalnya phlebitis kimia
5) Inkompabilitas obat
dan interaksi dari berbagai obat
tambahan
Pemasangan infus
Pemasangan infus

Pemasangan infus

  • 1.
    POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODIDIII KEBIDANAN KEDIRI
  • 2.
    secara fisiologis yaitu kebutuhanoksigen dan pertukaran gas, kebutuhan cairan dan elektrolit, kebutuhan makanan, kebutuhan eliminasi urin dan alvi, kebutuhan istirahat dan tidur, kebutuhan aktivitas, kebutuhan kesehatan temperatur tubuh, dan kebutuhan sosial.
  • 3.
    Pemenuhan kebutuhan akan cairandan elektrolit merupakan salah satu hal yang penting dalam kehidupan manusia. Agar dapat mempertahankan kesehatan dan kehidupannya, manusia membutuhkan cairan dan elektrolit dalam jumlah dan Pemenuhan kebutuhan akan cairan dan elektrolit merupakan salah satu hal yang penting dalam kehidupan manusia. Agar dapat mempertahankan kesehatan dan kehidupannya, manusia membutuhkan cairan dan elektrolit dalam jumlah dan Pada kondisi tertentu di saat tubuh manusia mengalami kekurangan cairan atau dehidrasi, pemberian cairan intravena diperlukan untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Pemberian cairan intravena ini dilakukan dengan
  • 4.
    Infus adalah pemasukanobat dan sebagainya (berupa cairan) tanpa tekanan istimewa melalui pembuluh darah atau rongga badan. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan cairan pada klien yang tidak mampu mengonsumsi cairan oral secara adekuat, menambah asupan elektrolit untuk menjaga keseimbangan elektrolit, menyediakan glukosa untuk kebutuhan energi dalam proses metabolisme, memenuhi kebutuhan vitamin larut air, serta menjadi media untuk pemberian obat melalui vena.
  • 5.
    1) Perdarahan dalamjumlah banyak. 2) Trauma abdomen. 3) Fraktur tulang, khususnya di pelvis dan paha. 4) Kehilangan cairan tubuh atau dehidrasi. 5) Diare dan demam. 6) Luka bakar yang luas. 7) Semua trauma kepala, dada, dan
  • 6.
    1) Larutan nutrien Larutanini berisi beberapajenis karbohidrat (dekstrosadan glukosa) dan air. Larutan nutrien yang umum digunakan adalah 5% dekstrosadalam air (D5W), 3,3% glukosadalam 0,3% NaCl, dan 5% glukosadalam 0,45% NaCl. Setiap 1 liter cairan dextrose5% mengandung 170-200 kalori,asam amino (amigen, anunosol, dan travamin) atau lemak (lipomul dan lyposyn). 1) Larutan nutrien Larutan ini berisi beberapajenis karbohidrat (dekstrosadan glukosa) dan air. Larutan nutrien yang umum digunakan adalah 5% dekstrosadalam air (D5W), 3,3% glukosadalam 0,3% NaCl, dan 5% glukosadalam 0,45% NaCl. Setiap 1 liter cairan dextrose5% mengandung 170-200 kalori,asam amino (amigen, anunosol, dan travamin) atau lemak (lipomul dan lyposyn). 2) Larutan elektrolit Larutan elektrolit meliputi larutan saline(isotonik, hipotonik atau hipertonik). Jenislarutan elektrolit yang paling banyak digunakan adalah normal salin (isotonik), yaitu NaCl 0,9%. Contoh larutan elektrolit lainnya adalah laktat ringer (Na+, K+, Cl‾, Ca2+) dan cairan butler (Na+, K+, Mg2+, Cl‾, HCO3‾). 2) Larutan elektrolit Larutan elektrolit meliputi larutan saline(isotonik, hipotonik atau hipertonik). Jenislarutan elektrolit yang paling banyak digunakan adalah normal salin (isotonik), yaitu NaCl 0,9%. Contoh larutan elektrolit lainnya adalah laktat ringer (Na+, K+, Cl‾, Ca2+) dan cairan butler (Na+, K+, Mg2+, Cl‾, HCO3‾).
  • 7.
    3) Cairan asambasa Jenis cairan yang termasuk cairan asam basa adalah natrium laktat dan natrium bikarbonat. Laktat merupakan sejenis garam yang dapat mengikat ion H+ dari cairan sehingga mengurangi keasaman lingkungan. 4) Volume ekspander Jenis larutan ini berfungsi meningkatkan volume pembuluh darah atau plasma, misalnya pada kasus hemoragi atau kombustio berat. Volume ekspander yang umum digunakan antara lain dekstran, plasma, dan albumin serum. Cara kerjanya adalah dengan meningkatkan tekanan osmotik darah.
  • 8.
    Penginf usan dapatdilakukan pada beberapa t empat sebagai berikut : 1) Vena lengan yait u vena sef alika, basilika at au mediana kubit i 2) Vena t ungkai at au vena saf ena 3) Vena di daerah kepala
  • 9.
    1) Siapkan peralatan yangdiperlukan, meliputi: a. Standar infus b. Set infus c. Cairan infus d. Kapas alkohol e. Alkohol f. Kassa steril g. Bethadine h. Pengalas atau perlak i. Torniket j. Plester k. Gunting plester l. Sarung tangan bersih
  • 10.
    2) Persiapakan klien.Minta persetujuan klien setelah memberikan penjelasan mengenai tujuan dan jenis prosedur. 3) Cuci tangan 4) Siapkan cairan dan set infus. Pertahankan teknik aseptik ketika membuka cairan dan pack infus. 5) Hubungkan cairan ke set infus dengan menusukkan ujung slang pada bagian karet botol infus. 6) Isi cairan ke dalam set infus dengan menekan ruang tetesan (reservoir) sampai terisi sebagian dan buka klem slang sampai cairan memenuhi slang dan udara di dalam slang keluar. 2) Persiapakan klien. Minta persetujuan klien setelah memberikan penjelasan mengenai tujuan dan jenis prosedur. 3) Cuci tangan 4) Siapkan cairan dan set infus. Pertahankan teknik aseptik ketika membuka cairan dan pack infus. 5) Hubungkan cairan ke set infus dengan menusukkan ujung slang pada bagian karet botol infus. 6) Isi cairan ke dalam set infus dengan menekan ruang tetesan (reservoir) sampai terisi sebagian dan buka klem slang sampai cairan memenuhi slang dan udara di dalam slang keluar. 7) Letakkan pengalas di bawah area (vena) yang akan dipasang infus. 8) Cari lokasi pemasangan. Usahakan pada area paling distal pada ekstremitas yang tidak dominan. 9) Bendung vena dengan memasang torniket 10-12 cm di atas area penusukan dan anjurkan klien untuk menggenggam (bila sadar). 10) Kenakan sarung tangan bersih 11) Bersihkan area penusukan dengan kapas alkohol 70% memutar dari dalam ke luar atau dari atas ke bawah. 12) Lakukan penusukan vena dengan meletakkan ibu jari di bawah vena dan posisi jarum (abbocath) mengarah ke atas. 7) Letakkan pengalas di bawah area (vena) yang akan dipasang infus. 8) Cari lokasi pemasangan. Usahakan pada area paling distal pada ekstremitas yang tidak dominan. 9) Bendung vena dengan memasang torniket 10-12 cm di atas area penusukan dan anjurkan klien untuk menggenggam (bila sadar). 10) Kenakan sarung tangan bersih 11) Bersihkan area penusukan dengan kapas alkohol 70% memutar dari dalam ke luar atau dari atas ke bawah. 12) Lakukan penusukan vena dengan meletakkan ibu jari di bawah vena dan posisi jarum (abbocath) mengarah ke atas.
  • 11.
    13) Perhatikan keluarnyadarah melalui jarum (abbocath atau surflo). Apabila terlihat ada darah dalam jarum (abbocath atau surflo), tarik keluar bagian dalam jarum sambil menyusupkan bagian luarnya lebih jauh ke dalam vena. 14) Setelah jarum bagian dalam dilepaskan, tekan bagian atas vena dengan menggunakan jari tangan agar darah tidak keluar. 15) Hubungkan abbocath ke slang infus secara cepat dan cermat. 16) Lepaskan torniket dan lemaskan kepalan tangan klien. 17) Buka klem dan atur kecepatan sesuai instruksi yang telah diberikan. 18) Periksa daerah sekitar tempat penusukan untuk melihat adanya tanda-tanda infiltrasi. 13) Perhatikan keluarnya darah melalui jarum (abbocath atau surflo). Apabila terlihat ada darah dalam jarum (abbocath atau surflo), tarik keluar bagian dalam jarum sambil menyusupkan bagian luarnya lebih jauh ke dalam vena. 14) Setelah jarum bagian dalam dilepaskan, tekan bagian atas vena dengan menggunakan jari tangan agar darah tidak keluar. 15) Hubungkan abbocath ke slang infus secara cepat dan cermat. 16) Lepaskan torniket dan lemaskan kepalan tangan klien. 17) Buka klem dan atur kecepatan sesuai instruksi yang telah diberikan. 18) Periksa daerah sekitar tempat penusukan untuk melihat adanya tanda-tanda infiltrasi. 19) Bila tidak ada tanda-tanda infiltrasi, tutupi area penusukan dengan kasa steril dan fiksasikan dengan plester. 20) Tuliskan tanggal dan waktu pemasangan infus serta ukuran jarum. 21) Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan. 22) Catat jenis cairan, lokasi infus, kecepatan aliran, dan jenis jarum infus yang digunakan. 19) Bila tidak ada tanda-tanda infiltrasi, tutupi area penusukan dengan kasa steril dan fiksasikan dengan plester. 20) Tuliskan tanggal dan waktu pemasangan infus serta ukuran jarum. 21) Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan. 22) Catat jenis cairan, lokasi infus, kecepatan aliran, dan jenis jarum infus yang digunakan.
  • 12.
    Ada dua metode yang digunakan unt uk menghit ung j umlah t et esan, yakni: 1) J umlah millimet er perj am J umlah t et esan dihit ung dengan membandingkan volume cairan yang harus diberikan (ml) dengan lamanya pemberian (j am). Cont oh: 3000 ml cairan RL harus diberikan dalam 24 j am. Dengan demikian J umlah t et esan = (3000 ml)/ (24 j am) =
  • 13.
    Tetesan permenit Jumlah tetesandihitung dengan mengalikan jumlah cairan yang dibutuhkan (ml) dengan faktor tetes, kemudian membaginya dengan lama pemberian (menit). Faktor tetes ditentukan berdasarkan alat yang digunakan. Rumus pemberian cairan : Tetes = (ÎŁ cairan yang dibutuhkan x faktor tetes (makro atau mikro))/(Total waktu (jam x 60 menit)) Pedoman: Faktor tetes makro : 20 tetes Faktor tetes mikro: 60 tetes
  • 14.
    Contoh: Seorang kliendatang dengan keluhan mual dan muntah yang terus-menerus. Dari pengkajian ditemukan tanda-tanda dehidrasi sedang. Berdasarkan pemeriksaan, klien harus mendapatkan terapi cairan intravena. Dokter menginstruksikan pemberian 3 kolf RL dalam 24 jam. Dengan demikian, jumlah tetesan infus/menit untuk klien tersebut adalah: Tetes/menit = ((3 x 500 ml)x 20 tetes)/(24 x 60 menit) = (30.000 tetes)/(1.440 menit) = 20,8 tetes/menit
  • 15.
    1) Posisi tanganatau area pemasangan infus 2) Posisi dan ketepatan slang 3) Tinggi botol infus 4) Kemungkinan infiltrasi atau cairan terhambat
  • 16.
    Hal yang harusdiperhatikan baik oleh perawat atau klien agar pemberian infus dapat berjalan dengan lancar, yaitu: 1) Mempertahankan kepatenan infus intravena 2) Memenuhi kebutuhan rasa nyaman klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari dengan memenuhi kebutuhan personal higiene klien dan membantu mobilisasi, misalnya turun dari tempat tidur, berjalan, makan, minum, dan lain-lain. 3) Melakukan observasi terhadap komplikasi yang mungkin muncul, seperti: a. Infiltrasi, yaitu masuknya cairan ke jaringan subkutan yang ditandai dengan bengkak, dingin, nyeri, dan terhambatnya tetesan infus. b. Flebitis, yaitu trauma mekanik atau iritasi kimiawi pada vena yang ditandai dengan nyeri, panas, dan kemerahan pada vena tempat pemasangan infus. c. Kelebihan cairan akibat tetesan infus yang terlalu cepat, yang ditandai dengan perasaan kedinginan, adanya cairan pada paru yang teramati pada foto toraks, dan lain-lain.
  • 17.
    4) Mengatur tetesan infussecara tepat. Hal- hal yang harus diperhatikan perawat, antara lain: a. Tetesan yang terlalu cepat dapat menyebabkan gagal jantung dan edema paru. b. Tetesan yang terlalu lambat 4) Mengatur tetesan infus secara tepat. Hal- hal yang harus diperhatikan perawat, antara lain: a. Tetesan yang terlalu cepat dapat menyebabkan gagal jantung dan edema paru. b. Tetesan yang terlalu lambat 5) Memberikan penjelasan kepada klien. Hal-hal yang perlu dijelaskan antara lain: a. Segera melapor apabila ada bengkak pada area pemasangan b. Menghindari gerakan tiba-tiba pada ekstremitas yang terpasang infus atau menekuk sendi ekstremitas yang terpasang infus c. Tidak menekan tabung infus d. Menjaga agar botol infus selalu lebih tinggi dari lokasi pemasangan 5) Memberikan penjelasan kepada klien. Hal-hal yang perlu dijelaskan antara lain: a. Segera melapor apabila ada bengkak pada area pemasangan b. Menghindari gerakan tiba-tiba pada ekstremitas yang terpasang infus atau menekuk sendi ekstremitas yang terpasang infus c. Tidak menekan tabung infus d. Menjaga agar botol infus selalu lebih tinggi dari lokasi pemasangan
  • 18.
    6) Mengganti botolinfus. Penggantian botol dilakukan apabila cairan sudah berada di leher botol dan tetesan masih berjalan. Sebaliknya, prosedur ini dilakukan dalam 24 jam untuk mencegah flebitis dan pembentukan trombus. Secara umum, prosedur penggantian botol infus adalah sebagai berikut: a. Siapkan botol baru yang akan digunakan. b. Klem slang infus agar tidak terjadi penghentian tetesan atau pembuntuan darah. c. Tarik jarum dari botol lama dan segera tusukkan pada botol baru yang sebelumnya sudah didesinfektan dengan kapas alkohol 70%. d. Gantungkan botol kembali. e. Buka klem dan hitung kembali tetesan secara benar. f. Pasang label. g. Catat tindakan yang dilakukan pada lembar observasi atau prosedur tindakan. 6) Mengganti botol infus. Penggantian botol dilakukan apabila cairan sudah berada di leher botol dan tetesan masih berjalan. Sebaliknya, prosedur ini dilakukan dalam 24 jam untuk mencegah flebitis dan pembentukan trombus. Secara umum, prosedur penggantian botol infus adalah sebagai berikut: a. Siapkan botol baru yang akan digunakan. b. Klem slang infus agar tidak terjadi penghentian tetesan atau pembuntuan darah. c. Tarik jarum dari botol lama dan segera tusukkan pada botol baru yang sebelumnya sudah didesinfektan dengan kapas alkohol 70%. d. Gantungkan botol kembali. e. Buka klem dan hitung kembali tetesan secara benar. f. Pasang label. g. Catat tindakan yang dilakukan pada lembar observasi atau prosedur tindakan. 7) Mengganti slang infus. Prosedur ini dilakukan paling lambat setelah 3x24 jam, dan Centers for Disease Control (CDC) menganjurkan agar tidak lebih dari 2x24 jam. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: a. Siapkan set infus yang baru, termasuk botol cairan infus yang diresepkan. b. Alirkan cairan sepanjang slang, gantungkan botol cairan, dan tutup klem pada standar infus. c. Pegang poros jarum dengan satu tangan dan tangan yang lain melepaskan slang. d. Sambungkan slang yang baru ke poros jarum. e. Langkah selanjutnya sama dengan prosedur pemasangan infus baru. 7) Mengganti slang infus. Prosedur ini dilakukan paling lambat setelah 3x24 jam, dan Centers for Disease Control (CDC) menganjurkan agar tidak lebih dari 2x24 jam. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: a. Siapkan set infus yang baru, termasuk botol cairan infus yang diresepkan. b. Alirkan cairan sepanjang slang, gantungkan botol cairan, dan tutup klem pada standar infus. c. Pegang poros jarum dengan satu tangan dan tangan yang lain melepaskan slang. d. Sambungkan slang yang baru ke poros jarum. e. Langkah selanjutnya sama dengan prosedur pemasangan infus baru.
  • 19.
    8) Menghentikan terapiintravena. Prosedur ini dilakukan apabila program terapi sudah selesai jika hendak dilakukan penusukan yang baru. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: a. Tutup klem infus. b. Buka slang pada area penusukan sambil memegang jarum. c. Tarik jarum secepatnya dan beri penekanan pada area bekas tusukan dengan kapas alkohol selama 2-3 menit untuk mencegah perdarahan.
  • 20.
    Keuntungan yang didapatdari pemasangan infus antara lain: 1) Efek terapeutik segera dapat tercapai karena penghantaran obat ke tempat target berlangsung cepat 2) Absorsi total memungkinkan dosis obat lebih tepat dan terapi lebih dapat diandalkan 3) Kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek terapeutik dapat dipertahankan maupun dimodifikasi 4) Rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu jika diberikan intramuskular atau subkutan dapat dihindari 5) Sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinalis Keuntungan yang didapat dari pemasangan infus antara lain: 1) Efek terapeutik segera dapat tercapai karena penghantaran obat ke tempat target berlangsung cepat 2) Absorsi total memungkinkan dosis obat lebih tepat dan terapi lebih dapat diandalkan 3) Kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek terapeutik dapat dipertahankan maupun dimodifikasi 4) Rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu jika diberikan intramuskular atau subkutan dapat dihindari 5) Sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinalis Kerugian yang mungkin didapat dari pemasangan infus antara lain: 1) Tidak bisa dilakukan “drug recall” dan mengubah aksi obat tersebut sehingga resiko toksisitas dan sensitivitas tinggi 2) Kontrol pemberian yang tidak baik bisa menyebabkan “speeed shock” 3) Kontaminasi mikroba melalui titik akses ke sirkulasi dalam periode tertentu 4) Iritasi Vaskular, misalnya phlebitis kimia 5) Inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan Kerugian yang mungkin didapat dari pemasangan infus antara lain: 1) Tidak bisa dilakukan “drug recall” dan mengubah aksi obat tersebut sehingga resiko toksisitas dan sensitivitas tinggi 2) Kontrol pemberian yang tidak baik bisa menyebabkan “speeed shock” 3) Kontaminasi mikroba melalui titik akses ke sirkulasi dalam periode tertentu 4) Iritasi Vaskular, misalnya phlebitis kimia 5) Inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan