KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat, anugerah dan bimbingan-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Model Pengembangan Kurikulum Wheeler” tepat pada waktunya, dan tak lupa penulis
ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulisan makalah
ini.
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari bahwa banyak terdapat
kekurangan. Hal ini disebabkan karena terbatasnya pengetahuan yang penulis miliki, karena
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna penyempurnaan
makalah ini.
Semoga makalah ini dapat berguna bagi para pembaca untuk lebih memahami
psikologi pendidikan sehingga dapat diterapkan untuk mencapai hasil pendidikan di Indonesia
yang lebih optimal.
Denpasar, Januari 2013
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
1.2.Rumusan Masalah
1.3.Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Konsep,teori dan karakteristik kurikulum model Wheeler
2.2. Langkah-langkah pengembangan kurikulum Wheeler
2.3. Keunggulan dan kelemahan kurikulum model Wheeler
2.4. Implementasi pengembangan kurikulum model Wheeler
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam sistem
pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus
dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan pemahaman
tentang penglaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa. Oleh karena pentingnya fungsi
dan peran kurikulum, maka setiap pengembangan kurikulum harus didasarkan pada asas-asas
tertentu. Fungsi asas atau landasan pengembangan kurikulum adalah seperti fondasi sebuah
bangunan. Layaknya membangun sebuah gedung, maka menyusun sebuah kurikulum juga
harus didasarkan pada fondasi yang kuat. Kesalahan menentukan dan menyusun pondasi
kurikulum berarti kesalahan dalam menentukan kebijakan dan implementasi pendidikan.
Pengembangan kurikulum pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang
isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya. Seller dan
Miller (1985) mengemukakan bahwa pengembangan kurikulum adalah rangkaian kegiatan
yang dilakukan secara terus menerus. Seller memandang bahwa penembangan kurikulum
harus dimulai dari menentukan orientasi kurikulum, yakni kebijakan-kebijakan umum,
misalnya arah dan tujuan pendidikan, pandangan tetang hakikat belajar dan hakikat anak
didik, pandangan tentang keberhasilan implementasi kurikulum, dan lain sebagainya.
Berdasarkan orientasi itu selanjutnya dikembangkan kurikulum menjadi pedoman
pembelajaran, diimplementasikan dalam proses pembelajaran dan dievaluasi Hasil evaluasi
itulah kemudian dijadikan bahan dalam menentukan orientasi, begitu seterusnya, sehingga
membentuk siklus. Pengembangan kurikulum pada hakekatnya adalah pengembangan
komponen-komponen yang membentuk sistem kurikulum itu sendiri serta pengembangan
komponen pembelajaran sebagai implementasi kurikulum. Dengan demikian, maka
pengembangan kurikulum memiliki dua sisi yang sama pentingnya, yaitu sisi kurikulum
sebagai pedoman yang kemudian membentuk kurikulum tertulis dan sisi kurikulum sebagai
implementasi yang disebut sebagai sistem pembelajaran.
Kurikulum juga dikatakan sebagai bentuk pengalaman belajar peserta didik. Disini
kurikulum memiliki hubungan yang sangat erat dengan evaluasi keberhasilan pelaksanaan
proses / kegiatan belajar mengajar. Siswa dituntut tidak hanya menguasai sisi kognitif atau
pengetahuan dalam artian isi atau materi saja, akan tetapi juga dilihat proses siswa dalam
memperoleh pengalaman belaja, Kurikulum dipahami pula sebagai suatu bentuk program atau
rencana untuk belajar. Dalam suatu kurikulum mesti ada perencanaan pembelajaran serta
bagaimana perencanaan itu diimplementasikan menjadi pengalaman belajar siswa dalam
rangka pencapaian tujuan yang diharapkan. Maka yang menjadi fungsi suatu kurikulum
adalah dalam mempersiapkan peserta didik agar mereka dapat hidup di masyarakat.
Kurikulum dan pembelajaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebagai
suatu rencana atau program, kurikulum tidak akan bermakna manakala tidak
diimplementasikan dalam bentuk pembelajaran. Demikian juga sebaliknya, tanpa kurikulum
yang jelas sebagai acuan, maka pembelajaran tidak akan berlangsung secara efektif.
Sedangkan untuk mengembangkan kurikulum sendiri mempunyai bermacam – macam model.
Menurut Good ( 1972 ) dan travers ( 1973 ). Model adalah abstraksi dunia nyata atau
representasi peristiwa kompleks atau sistem dalam, dalam bentuk naratif, matematis grafis,
serta lambang – lambang lainnya . Model bukanlah realitas, akan tetapi merupakan
representasi realitas yang dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian, model pada
dasarnya berkaitan dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjemahkan sesuatu ke
dalam realitas, yang sifatnya lebih praktis .
Dalam pengembangan kurikulum ada beberapa model yang dapat digunakan. Setiap
model memiliki kekhasan tertentu baik dilihat dari keluasan pengembangan kurikulumnya,
maupun dari tahapan pengebangannya sesuai dengan pendekatannya. Salah satu model
kurikulum yang kini dikembangkan atau diterapkan dalam bidang pendidikan adalah model
kurikulum Wheeler.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang sebelumnya, maka dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut.
1 Bagaimana konsep, teori dan karakteristik kurikulum model Wheeler?
2 Bagaimana langkah-langkah pengembangan kurikulum model Wheeler?
3 Bagaimanakah keunggulan dan kelemahan kurikulum model Wheeler ?
4 Bagaimanakah implementasi pengembangan kurikulum model Wheeler?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini berdasarkan rumusan masalah di atas adalah
sebagai berikut.
1 Menjelaskan konsep, teori, karakteristik kurikulum model Wheeler.
2 Menjelaskan langkah-langkah pengembangan kurikulum Wheeler.
3 Menjelaskan keunggulan dan kelemahan kurikulum model Wheeler.
4 Menjelaskan implementasi pengembangan kurikulum model Wheeler.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah penulis dan pembaca dapat
memperoleh pengetahuan tentang konsep, teori, karakteristik kurikulum model Wheeler,
langkah - langkah pengembangan kurikulum Wheeler, keunggulan dan kelemahan kurikulum
model Wheeler, implementasi pengembangan kurikulum model Wheeler.
1.5 Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode kajian pustaka,
yaitu penulis mengumpulkan berbagai sumber atau referensi yang relevan dengan materi yang
disajikan dan kemudian dilakukan pengkajian terhadap materi tersebut lebih lanjut.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep, Teori, Dan Karakteristik Kurikulum Model Wheeler
Menurut Good (1972) dan Travers(1972) , model adalah abstraksi dunia nyata atau
representasi peristiwa kompleks atau system, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta
lambang-lambang lainnya. Model bukanlah realitas, akan tetapi merupakan representasi
realitas yang dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian, model pada dasarnya berkaitan
dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjamahkan sesuatu ke dalam realitas,
yang sifatnya lebih praktis. Model berfungsi sebagai sarana untuk mempermudah
berkomunikasi, atau sebagai petunjuk, atau sebagai petunjuk yang bersifat perspektif untuk
mengambil keputusan, atau sebagai petunjuk perencanaan untuk kegiatan pengelolaan.
Nadler (1988) menjelaskan bahwa model yang baik adalah model yang dapat menolong si
pengguna untuk mengerti dan memahami suatu proses secara mendasar dan menyeluruh.
Selanjutnya ia menjelaskan manfaat model adalah sebagai berikut:
a. Model dapat menjelaskan beberapa aspek perilaku dan interaksi manusia.
b. Model dapat mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil observasi dan penelitian.
c. Model dapat menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks.
d. Model dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan.1
Pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan
rencana kurikulum yang luas dan spesifik.proses ini berhubungan dengan seleksi dan
pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar mengajar, antara lain penetapan jadwal
pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan,
sumber dan alat pengukur pengembangan kurikulum yang mengacu pada kreasi sumber-
sumber unit, rencana unit, dan garis pelajaran kurikulum ganda lainnya, untuk memudahkan
proses belajar-mengajar.
Menurut Wheeler, pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang membentuk
suatu lingkaran. Proses pengembangan kurikulum terjadi secara terus menerus. Proses
pengembangan kurikulum terdiri dari lima fase atau tahapan yang dalam pelaksanaannnya
berlangsung secara sistematis dan berurut. Kita tidak bisa menyelesaikan tahap kedua, apabila
kita belum menyelesaikan tahap pertama. Setelah semua tahapan-tahapan selesai
dilaksanakan, maka akan kembali ketahap awal sehingga proses pengembangan kurikulum
berlangsung secara terus menerus.
Pada dasarnya, model pengembangan kurikulum Wheeler hampir sama dengan model
pengembangan kurikulum yang sudah disusun sebelumnya oleh Tyler. Model Tyler tidak
menyediakan atau tidak membantu pengembang dalam melakukan umpan balik berdasarkan
hasil evaluasi yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Karena keterbatasan
model Tyler inilah, maka Wheeler melanjutkannya dengan mengembangkan model siklus.
Pada tahun 1967, model garis lurus yang dikembangkan oleh Tyler dimodifikasi menjadi
model sferis atau spiral oleh Wheeler (Huang & Yang, 2004). Model siklus Wheeler memiliki
lima prosedur (Sanjaya, 2008), yaitu: a)menentukan tujuan umum dan khusus, b) memilih
pengalaman belajar, c) memilih konten atau isi, d) mengatur dan mengintegrasikan
pengalaman belajar dan konten,serta e) evaluasi. Berbeda halnya dengan model Tyler yang
terdiri dari 4 tahap pengembangan, yaitu:a) mengidentifikasi tujuan umum, b) menentukan
pengalaman belajar, c) mengorganisasi pengalaman belajar, dan d) evaluasi.
Perbedaan pengembangan kurikulum model Tyler dengan pengembangan kurikulum
model Wheeler dapat dipaparkan sebagai berikut.
1. Pada model Wheeler, konten dipisahkan dari pengalaman belajar sementara
berdasarkan model kurikulum yang dikembangkan oleh Tyler, konten tidak terlepas
dari pengalaman belajar.
2. Model Wheeler adalah model pengembangan kurikulum dengan 5 tahap
pengembangan, sedangkan model Tyler terdiri dari 4 tahapan pengembangan.
3. Wheeler melaksanakan model pengembangannya dengan model siklus atau
lingkaran, sedangkan model Tyler hanya berupa model linier atau garis.
4. Dalam model Wheeler, evaluasi dilakukan dan hasilnya dijadikan input kembali ke
dalam sistem untuk dilakukan penyempurnaan kembali, sementara pada model
Tyler, evaluasi adalah terminal atau akhir dari pelaksanaan pengembangan
kurikulum.
Terdapat beberapa alasan mengapa Wheeler kurang sependapat dengan model
pengembangan Tyler, yaitu sebagai berkut.
1. Tujuan harus dibahas sebagai perilaku yang mengacu pada produk akhir
pembelajaran yang menghasilkan tujuan akhir. Seseorang dapat berpikir tentang
tujuan-tujuan utama sebagai hasil.
2. Tujuan di formulasikan dari umum ke yang khusus dalam perencanaan kurikulum.
3. Isi seharusnya dibedakan dari pengalaman belajar yang menentukan konten
tersebut.
Dalam perumusan tujuan kurikulum apapun bentuk dan model yang dipilih pada
dasarnya harus selalu mempertimbangkan berbagai sumber untuk kepentingan individu dan
kepentingan masyarakat. Berdasarkan beberapa pemikiran inilah, selanjutnya Wheeler
mengembangkan model pengembangan kurikulumnya.
2.2 Langkah-Langkah Pengembangan Kurikulum Wheeler
Wheeler berpendapat bahwa pengembangan kurikulum teridri dari 5 tahap yaitu:
1. Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus.
Dalam hal ini tujuan umum dapat berupa tujuan yang bersifat normative yang
mengandung tujuan filisofis (aim) atau tujuan pembelajaran yang bersifat praktis
(goals). Sedangkan yang menjadi tujuan khusus yaitu tujuan yang bersifat spesifik dan
observable (objective) yaitu suatu tujuan pembelajaran yang mudah diukur
ketercapaiannya. Dalam pengembangan kurikulum menurut Wheeler penentuan tujuan
merupakan tahap awal yang harus dilakukan. Dalam penyusunan suatu kurikulumin,
merumuskan tujuan merupakan hal yang harus dikerjakan karena tujuan merupakan
arah atau sasaran pendidikan. Tanpa ada tujuan maka apa yang ingin di capai akan
menjadi tidak jelas.
Alasan alasan yang mendasar mengenai pentingnya perumusan suatu tujuan adalah:
a. Tujuan berkaitan erat dengan arah dan sasaran yang harus dicapai oleh dunia
pendidikan. Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, denagn
demikian salah satu komponen penting yang harus ada dalam suatu perencanaan
kurikulum adalah tujuan itu sendiri.
b. Tujuan kurikulum dapat membantu pengembang kurikulum dalam mendesain suatu
model kurikulum. Melalui tujuan yang jelas, maka dapat membantu para pengembang
kurikulum dalam mendesain model kurikulum yang dapat digunakan bahkan akan
membantu guru dalam mendesain sistem pembelajaran. Maksudnya disini adalah
dengan tujuan yang jelas dapat memberikan arahan kepada guru dalam menentukan
bahan atau materi yang harus dipelajari, menentukan metode dan strategi pembelajaran
yang akan digunakan, menentukan alat, media, dan sumber pembelajaran, serta
bagaimana cara merancang alat evaluasi untuk menentukan keberhasilan belajar siswa.
c. Tujuan dapat digunakan sebagai control dalam menentukan batas batas serta kualitas
pembelajaran. Dengan adanya tujuan kurikulum yang jelas dapat digunakan sebagai
kontrol dalam menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran. Artinya, melalui
penetapan tujuan, para pengembang kurikulum termasuk guru dapat mengontrol sampai
mana siswa telah memperoleh kemampuan-kemampuan sesuai dengan tujuan dan
tuntutan kurikulum yang berlaku. Lebih jauh dari itu dengan adanya tujuan akan dapat
ditentukan daya serap siswa dan kualitas suatu sekolah.
2. Menentukan pengalaman belajar yang mungkin dapat dilakukan oleh siswa untuk
mencapai tujuan yang telah dirumuskan dalam langkah pertama. Yang dimaksud
dengan pengalaman belajar disini adalah segala aktivitas siswa dalam berinteraksi
denagn lingkungan. Menentukan pengalaman belajar merupakan hal yang penting untuk
materi - materi yang sesuai dalam proses pembelajaran.
3. Menentukan isi dan materi pelajaran sesuai dengan pengalaman belajar
Tahap ketiga dalam pengembangan kurikulum menurut Wheeler adalah penentuan isi
dan materi pelajaran. Penentuan isi dan materi pelajaran ini di dasarkan atas
pengalaman belajar yang di alami oleh peserta didik, pengalaman belajar yang dialami
oleh peserta didik dijadikan suatu acuan dalam penyusunan materi ajar.langkah langkah
pengorganisasian merupakan hal yang sangat penting karena dengan pengorganisasian
yang jelas akan memberikan arah bagi pelaksanaan proses pembelajaran sehingga
menjadi pengalaman belajar bagi pelaksanaan proses pembelajaran sehingga menjadi
pengalaman belajar yang nyata bagi siswa.
4. Mengorganisasi atau menyatukan pengalaman belajar dengan isi atau materi pelajaran.
Setelah materi ajar disusun maka dilakukan penyatuan antara pengalaman belajar
dengan materi ajar yang telah disusun, hal ini bertujuan agar terjadi hubungan atau
kesinambungan antara pengalaman belajar dengan materi ajar. Sehingga proses belajar
mengajar dapat berjalan dengan naik sehingga hasil yang diperoleh pun dapat
maksimal.
5. Melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan.
Disini setelah proses pembelajaran selesai akan dilaksanakan suatu proses evaluasi.
Dalam proses pengembangan kurikulum ini tahap evaluasi merupakan tahap yang
sangat penting, hal itu karena proses penilaian atau evaluasi dapat memberikan
informasi tentang ketercapaian daripada tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Dengan evaluasi ini maka akan dapat diketahui apakah kurikulum yang diterapkan itu
berjalan denagn baik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah
tersebut.secara rinci dapat dikatakan bahwa Evaluasi bertujuan untuk menggumpulkan,
menganalisis dan menyajikan data untuk bahan penentuan keputusan mengenai
kurikulum apakan kurikulum itu masih bisa berlaku atau harus di perbaharui atau
digamti lagihal itu terjadi karena evaluasi suatu kurikulum dapat memberikan
informasi mengenai kesesuaian, efektifitas dan efisiensi kurikulum terhadap tujuan
yang ingin dicapai dan penggunaan sumber daya,yang mana informasi ini akan sangat
berguna sebagai bahan pembuat keputusan apakah kurikulum tersebut masih dijalankan
tetapi perlu revisi atau kurikulum tersebut harus diganti dengan kurikulum yang baru.
Evaluasi kurikulum juga penting dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar yang
berubah.
Berdasarkan dari langkah- langkah pengembangan kurikulum yang
dikemukakan oleh Wheeler terlihat bahwa pengembangn kurikulum itu berbentuk
sebuah siklus (lingkaran) yang mana pada setiap tahapa dalam siklus tersebut
membentuk suatu system yang terdiri dari komponen- komponen pengembangan yang
saling berhubungan satu sama lain.
Gambar 1.Model Pengembangan Kurikulum Wheeler
(dikutip dari Sanjaya, 2008)
2.3 Keunggulan Dan Kelemahan Kurikulum Model Wheeler
Walaupun model kurikulum Wheeler merupakan pengembangan dari model kurikulum Tyler,
gambar siklus model pengembangan kurikulum Wheeler menunjukkan bahwa model pengembangan
ini tampaknya jauh lebih progresif dari pada model garis lurus yang dikembangkan oleh Tyler.Berikut
keunggulan dari model pengembangan Wheeler.
1. Model ini memiliki mekanisme umpan balik, sehingga menyediakan masukan atau saran
dengan tujuan untuk mengukur kemajuan dari penerapan model pengembangan kurikulum.
2. Dengan adanya umpan balik, dapat diketahui sejauh mana tingkat ketercapaaian
pengembangan kurikulum yang diimplementasikan. Jadi, fungsi evaluasi disini tergantung
dari tujuan orang yang melakukan evaluasi. Apakah untuk mengetahui atau untuk mengukur
tingkat ketercapaian pengembangan kurikulum, atau hanya untuk mengetahui sejauh mana
ketercapaian model pengembangan kurikulum.
Namun di sisi lain, model pengembangan kurikulum ini juga memiliki beberapa
kelemahan.Beberapa kelemahannya yaitu sebagai berikut.
1. Tujuan jangka pendek Wheeler meliputi karakteristik perilaku. Perilaku memiliki banyak
tujuan keuntungan jika diterapkan untuk merancang kurikulum, akan tetapi memiliki beberapa
batasan dalam pelaksanaannya. Contohnya, bagaimana seseorang bisa mengukur
meningkatnya kelancaran siswa dalam menulis.
2. Model ini kurang prosedur antara mengorganisir dan mengintegrasikan konten pengalaman
belajar dan evaluasi. Menurut Huang &Yang (2004) prosedur ini adalah pelaksanaan konten
yang terintegrasi.
2.4 Implementasi Pengembangan Kurikulum Model Wheeler
Kurikulum merupakan rencana tertulis yang berisi tentang ide-ide dan gagasan-gagasan
yang dirumuskan oleh pengembang kurikulum. Rencana tertulis itu kemudian menjadi
dokumen kurikulum yang membentuk suatu sistem kurikulum yang terdiri dari komponen-
komponen yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Komponen-
komponen yang membentuk sistem kurikulum selanjutnya melahirkan sistem pengajaran dan
sistem pengajaran itulah yang menjadi pedoman guru dalam pengelolaan proses belajar
mengajar di dalam kelas. Karena system pengajaran melahirkan tindakan-tindakan guru dan
siswa , maka dapat juga dikatakan bahwa tindakan-tindakan itu pada dasarnya implementasi
dari kurikulum, yang selanjutnya akan memberikan masukan dalam proses perbaikan
kurikulum. Demikian terus-menerus, sehingga proses pengembangan kurikulum membentuk
siklus yang tanpa ujung.
Pengembangan kurikulum berdasarkan model Wheeler, dapat dimplementasikan pada
rencana pelaksanaan pembelajaran, dengan mengikuti 5 tahapan, yang terdiri atas :
1. Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus.
Tujuan Umum :
Standar Kompetensi : 3. Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari.
Tujuan khusus :
Kompetensi Dasar : 3.4. Mendeskripsikan hubungan energi dan daya listrik serta
pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari
2. Menentukan pengalaman belajar yang mungkin dilakukan siswa untuk
mencapai tujuan
a.Menjelaskan faktor-faktor yang menentukan energi listrik.
b.Menjelaskan rumusan energi listrik.
c.Menyebutkan alat-alat pengubah energi listrik.
d.Menjelaskan karakteristik dan prinsip kerja beberapa alat pengubah energi
listrik.
e.Menjelaskan pengertian daya listrik.
f. Menjelaskan hubungan antara daya listrik dan energi listrik.
g.Menjelaskan langkah-langkah untuk menentukan energi listrik
dalam satuan kWh.
h.Menyebutkan kesetaraan nilai antara kWh dan joule.
i. Menjelaskan cara melakukan penghematan dalam menggunakan energi.
3. Menentukan isi atau materi pembelajaran berdasarkan pengalaman belajar
Energi dan Daya Listrik
4. Mengorganisaikan atau menyatukan pengalaman belajar dengan isi atau materi
belajar
SILABUS
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas/Semester : I X/1
Standar Kompetensi : 3. Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari.
Kompetensi
Dasar
Materi
Pelajaran
Pengalaman
Belajar
Indikator
Penilaian
Alokasi
Waktu
Sumber
Belajar
Teknik
Bentuk
Instru
men
Contoh
Instrumen
3.4.Me
nd
esk
rip
si-
ka
n
hu
bu
ng
an
en
erg
i
da
n
da
ya
list
rik
ser
ta
pe
ma
nfa
ata
nn
ya
dal
am
Energ
i dan
Daya
Listri
k
o Menca
ri
inform
asi
melalu
i studi
pustak
a
untuk
mene
mukan
ubung
an
antara
V, I
dan
energi
listrik,
hubun
gan
antara
daya
listrik
energi
listrik,
dan
satuan
nya
(kWh
dan
Menjelas
kan
hubunga
n antara
V, I
dengan
energi
listrik
yang
digunaka
n.
Menjelas
kan
hubunga
n antara
daya
listrik
energi
listrik,
dan
satuanny
a (kWh
dan
Joule)
Menerap
kan
konsep
energi
dan daya
listrik
Tes
tertulis
Tes
tertulis
Penugas
an
Penugas
aan
Tes
unjuk
kerja
Uraian
Uraian
Tugas
rumah
Proyek
Uji
petik
kerja
prosed
ur
Tentukan
energi listrik
yang
digunakan
bila
tegangan
dan kuat
arus
diketahui!
Tentukan
energi listrik
dalam
satuan KWh
bila daya
listrik
diketahui
dalam
satuan joule!
Lihatlah
KWh meter
yang ada
dirumahmu,
kemudian
hitunglah
penggunaan
energi listrik
yang
terpakai
6 x 40 Martthen
Kangina
n, 2007.
IPA
FISIKA
untuk
SMP
kelas IX,
Erlangga
Budi
Prasodjo,
et al,
2009.
PHYSIC
S for
junior
high
school 3,
Yudhistir
a
ke
hid
up
an
seh
ari
-
har
i
Joule)
o Menye
lesaika
n soal-
soal
yang
berkait
dengan
perhitu
ngan
pengg
unaan
listrik
o Melak
ukan
eksperi
men
sedeha
na
untuk
menun
jukkan
peruba
han
energi
listrik
ke
bentuk
energi
lain
o Mengk
aji
cara-
cara
yang
tepat
untuk
melak
ukan
penghe
matan
energi
dalam
kehidu
pan
sehari-
hari
dalam
perhitun
gan
penggun
aan
listrik di
rumah
tangga
berdasar
kan
angka
yang
tertera
pada
kWh
meter
Menunju
kkan
perubaha
n energi
listrik
menjadi
energi
bentuk
lain
Mempra
ktikkan
penghem
atan
energi
dalam
kehidupa
n sehari-
hari dan
mengem
ukakan
alasanny
a.
selama 1
bulan!
Lakukan
percobaan
tentang
energi
listrik,
kemudian
amati
perubahan
energi listrik
yang terjadi!
Ceritakan
bagaimana
cara
menghemat
energi listrik
dalam
kehidupan
sehari-hari?
dan
dasar
teori
yang
mendu
kung
berdas
ar
kajian
pustak
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )
Mata Pelajaran : IPA (Fisika)
Kelas / Semester : IX / I
Alokasi waktu : 6 X 40’ ( 3x pertemuan )
Standar Kompetensi
3. Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kompetensi Dasar
3.4 Mendeskripsikan hubungan energi dan daya listrik serta pemanfaatannya dalam
kehidupan sehari-hari.
A. Tujuan Pembelajaran
Peserta didik dapat:
Menjelaskan faktor-faktor yang menentukan energi listrik.
Menyebutkan alat-alat pengubah energi listrik.
Menjelaskan karakteristik dan prinsip kerja beberapa alat pengubah energi
listrik.
Menjelaskan pengertian daya listrik.
Menjelaskan hubungan antara daya listrik dan energi listrik.
Menjelaskan langkah-langkah untuk menentukan energi listrik
dalam satuan kWh.
Menyebutkan kesetaraan nilai antara kWh dan joule.
Menjelaskan cara melakukan penghematan dalam menggunakan energi.
B. Materi Pembelajaran
Energi dan Daya Listrik
C. Metode Pembelajaran
1. Model : - Direct Instruction (DI)
- Cooperative Learning
2. Metode : - Diskusi kelompok
- Eksperimen
- Observasi
- Ceramah
D. Langkah-langkah Kegiatan
PERTEMUAN PERTAMA
No Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
1
2
a. Kegiatan Pendahuluan (5 menit )
Motivasi dan Apersepsi: -
Bagaimana cara menentukan
besarnya energi listrik?
Prasyarat pengetahuan:
Sebutkan besaran yang
menentukan nilai energi listrik
Pra eksperimen:
- Berhati-hatilah menggunakan
alat dan bahan praktikum.
Kegiatan Inti ( 30 menit )
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
Peserta didik (dibimbing oleh
guru) mendiskusikan faktor-
faktor yang menentukan energi
listrik.
Perwakilan dari tiap kelompok
diminta untuk mengambil
kawat nikelin sepanjang 1 m,
lima buah baterai, sebuah
hambatan geser, sebuah
ammeter, sebuah saklar, sebuah
voltmeter, sebuah stopwatch,
sebuah termometer dan kabel
secukupnya.
Guru mempresentasikan
langkah kerja untuk melakukan
eksperimen mengamati
hubungan antara kalor dengan
beda potensial, kuat arus listrik,
dan lama aliran arus listrik
- Memperhatikan dan
menjawab pertanyaan guru
berdasarkan pengetahuan
awal yang dimiliki.
- Siswa membentuk kelompok
kemudian berdiskusi
- Siswa mencari buku/literatur
yang berhubungan dengan listrik
- Siswa melakukan eksperimen
mengikuti langkah-langkah kerja
ilmiah
- Siswa mendiskusikan hasil
eksperimen dengan kelompoknya
- Siswa mendapat bimbingan
apabila menemui kesulitan dalam
3
Peserta didik dalam setiap
kelompok melakukan
eksperimen sesuai dengan
langkah kerja yang telah
dijelaskan oleh guru.
Guru memeriksa eksperimen
yang dilakukan peserta didik
apakah sudah dilakukan dengan
benar atau belum. Jika masih
ada peserta didik atau
kelompok yang belum dapat
melakukannya dengan benar,
guru dapat langsung
memberikan bimbingan.
Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
Membiasakan peserta didik
membaca dan menulis yang
beragam melalui tugas-tugas
tertentu yang bermakna;
Memfasilitasi peserta didik
melalui pemberian tugas,
diskusi, dan lain-lain untuk
memunculkan gagasan baru
baik secara lisan maupun
tertulis;
Memberi kesempatan untuk
berpikir, menganalisis,
menyelesaikan masalah, dan
bertindak tanpa rasa takut;
Memfasilitasi peserta didik
dalam pembelajaran kooperatif
dan kolaboratif;
Memfasilitasi peserta didik
berkompetisi secara sehat
untuk meningkatkan prestasi
belajar;
Memfasilitasi peserta didik
membuat laporan eksplorasi
yang dilakukan baik lisan
maupun tertulis, secara
individual maupun kelompok;
Memfasilitasi peserta didik
untuk menyajikan hasil kerja
pengisian LKS (kerja ilmiah)
- Wakil dari masing-masing
kelompok menyampaikan hasil
diskusinya, untuk mendapat
masukan dari kelompok yang
lain dan guru
- Siswa memperbaiki LKS (kerja
ilmiah) yang kurang tepat
- Siswa mendiskusikan aplikasi
untuk mendapatkan makna
- Siswa mendiskusikan konsep
yang dipelajari
Siswa memberikan pertanyaan dan
pendapat mengenai apa yang telah
dilakukan dalam eksperimen
individual maupun kelompok;
Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
Guru bertanya jawab tentang
hal-hal yang belum diktahui
siswa
Guru bersama siswa bertanya
jawab meluruskan kesalahan
pemahaman, memberikan
penguatan dan penyimpulan
Kegiatan Penutup (5 menit )
Dalam kegiatan penutup, guru:
bersama-sama dengan peserta
didik dan/atau sendiri membuat
rangkuman/simpulan
pelajaran;
melakukan penilaian dan/atau
refleksi terhadap kegiatan yang
sudah dilaksanakan secara
konsisten dan terprogram;
memberikan umpan balik
terhadap proses dan hasil
pembelajaran;
merencanakan kegiatan tindak
lanjut dalam bentuk
pembelajaran remedi, program
pengayaan, layanan konseling
dan/atau memberikan tugas
baik tugas individual maupun
kelompok sesuai dengan hasil
belajar peserta didik;
- Apabila diperlukan guru membantu
siswa dalam memecahkan masalah
dalam pengisian LKS (kerja ilmiah)
- Guru memandu siswa dalam diskusi
kelompok
- Guru memandu siswa dalam diskusi
kelas
Penutup (10 menit)
Tindak Lanjut
- Guru meluruskan apabila ada konsep
yang kurang tepat.
- Guru menjelaskan berbagai aplikasi
untuk memberikan makna
- Guru merefleksi pemahaman konsep
Siswa menjawab pertanyaan yang
berhubungan dengan konsep, teori
dari yang telah dipelajari
Siswa membperbaiki teori, konsep
yang sekiranya menyimpang dari
pemahaman sebelumnya
Siswa memberikan kesimpulan
tentang materi yang telah dipelajari
Jika ada hal yang belum dipahami
Siswa menyesuaikan dengan teori
yang telah di terimanya
PERTEMUAN KEDUA
No Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
1
2
3
a. Kegiatan Pendahuluan (5 menit )
Motivasi dan Apersepsi:
Mengapa elemen pemanas alat-
alat listrik umumnya berupa
lilitan?
Prasyarat pengetahuan:
Sebutkan alat-alat pengubah
energi listrik.
Kegiatan Inti ( 30 menit )
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
Menjelaskan( 15 menit )
Menyebutkan alat-alat
pengubah energi listrik.
Menjelaskan karakteristik dan
prinsip kerja beberapa alat
pengubah energi listrik.
Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
 Guru membimbing peserta
didik dalam pembentukan
kelompok.
 Peserta didik (dibimbing oleh
guru) mendiskusikan asas
Black.
 Peserta didik memperhatikan
penjelasan guru mengenai
penerapan asas Black dalam
kehidupan sehari-hari.
 Perwakilan peserta didik
diminta untuk menyebutkan
alat-alat pengubah energi
listrik.
 Guru membagi tugas
kelompok:
 kelompok diberi tugas untuk
menjelaskan karakteristik dan
prinsip kerja setrika listrik.
2 kelompok diberi
tugas untuk
menjelaskan
karakteristik dan
prinsip kerja kompor
listrik.
Siswa memberi pendapat dengan
pengetahuan awal yang dimiliki
- Siswa membentuk kelompok
kemudian mendiskusikan isu-
isu sosial dan teknologi untuk
dibuktikan
- Siswa melakukan eksperimen
untuk memecahkan isu-isu
sosial dan teknologi
- Siswa melakukan eksperimen
mengikuti langkah-langkah
kerja ilmiah
- Siswa mendiskusikan hasil
eksperimen dengan
kelompoknya
- Siswa mendapat bimbingan
apabila menemui kesulitan
dalam pengisian LKS (kerja
ilmiah)
- Wakil dari masing-masing
kelompok menyampaikan hasil
diskusinya, untuk mendapat
masukan dari kelompok yang
lain dan guru
- Setiap kelompok mencari data
tentang masing-masing
karateristik alat-alat listrik yang
dapat menimbulkan panas.
2 kelompok diberi
tugas untuk
menjelaskan
karakteristik dan
prinsip kerja solder
listrik.
2 kelompok diberi
tugas untuk
menjelaskan
karakteristik dan
prinsip kerja kipas
angin.
2 kelompok diberi
tugas untuk
menjelaskan
karakteristik dan
prinsip kerja bel
listrik.
 Tugas kelompok diberikan 1
minggu sebelum proses
pembelajaran dilaksanakan.
 Setiap kelompok diminta
melaporkan hasil
pengamatannya dalam bentuk
karya tulis.
 Setiap kelompok diminta untuk
mempresentasikan hasil
diskusinya di depan kelompok
yang lain.
 Guru menanggapi hasil diskusi
kelompok peserta didik dan
memberikan informasi yang
sebenarnya.
Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
 Guru bertanya jawab tentang
hal-hal yang belum diktahui
siswa
 Guru bersama siswa bertanya
jawab meluruskan kesalahan
pemahaman, memberikan
penguatan dan penyimpulan
Kegiatan Penutup (5 menit )
Dalam kegiatan penutup, guru:
 bersama-sama dengan peserta
didik dan/atau sendiri
Setiap kelompok membuat
makalah/karya tulis dan siap
untuk dipresentasikan
Bagi siswa yang belum jelas
dipersilakan bertanya /
mengeluarkan pendapat terhadap
kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan.
Siswa menyimpulkan dari
semua kegiatan belajar yang
membuat rangkuman/simpulan
pelajaran;
 melakukan penilaian dan/atau
refleksi terhadap kegiatan yang
sudah dilaksanakan secara
konsisten dan terprogram;
 memberikan umpan balik
terhadap proses dan hasil
pembelajaran;
 merencanakan kegiatan tindak
lanjut dalam bentuk
pembelajaran remedi, program
pengayaan, layanan konseling
dan/atau memberikan tugas
baik tugas individual maupun
kelompok sesuai dengan hasil
belajar peserta didik;
telah dilakukan
Media/Sumber Belajar /Refrensi
1. Papan tulis dan gambar/carta/lingkungan
2. Spidol/kapur tulis dan penghapus
3. Buku refrensi dan lingkungan
Martthen Kanginan, 2007. IPA FISIKA untuk SMP kelas IX, Erlangga
Budi Prasodjo,et al, 2009. PHYSICS for junior high school 3, Yudhistira
5. Melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan
a. Teknik penilaian : tes tulis, tes unjuk kerja.
b. Bentuk instrumen : pilihan ganda dan uji unjuk kerja
c. Contoh instrumen :
Penilaian :
Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik
Penilaian
Bentuk
Instrumen
Instrumen/ Soal
Menjelaskan
hubungan antara V,
I dengan energi
listrik yang
digunakan.
Menjelaskan
hubungan antara
daya listrik energi
listrik, dan
satuannya (kWh
Tes tertulis
Tes tertulis
Penugasan
Penugasan
Uraian
Uraian
Tugas
rumah
Proyek
Tentukan energi listrik
yang digunakan bila
tegangan dan kuat arus
diketahui!
Tentukan energi listrik
dalam satuan KWh bila
daya listrik diketahui
dalam satuan joule!
Lihatlah KWh meter
yang ada dirumahmu,
kemudian hitunglah
dan Joule)
Menerapkan konsep
energi dan daya
listrik dalam
perhitungan
penggunaan listrik
di rumah tangga
berdasarkan angka
yang tertera pada
kWh meter
Tes unjuk
kerja
Uji petik
kerja
prosedur
penggunaan energi listrik
yang terpakai selama 1
bulan!
Lakukan percobaan
tentang energi listrik,
kemudian amati
perubahan energi listrik
yang terjadi!
Ceritakan bagaimana cara
menghemat energi listrik
dalam kehidupan sehari-
hari?
Dari setiap akhir penilaian, pendidik akan meninjau kembali setiap soal yang dijawab
karena merupakan umpan balik untuk mengetahui proses-proses tahapan yang telah
dilaksanakan sebelumnya.
BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
Pengembangan kurikulum model Wheeler, memberikan keluwesan dalam
penerapanya karena tahap-tahap penyusunan kurikulum tidak terlalu rumit, seperti model-
model yang lain dan yang paling terpenting dalam pengembangan kurikulum model wheeler
ini adalah sistematisnya yang selalu memperhatikan tahap-tahap sebelumnya.
3.2. Saran
Dari implementasi model pengembangan kurikulum menurut Wheeler, bagi para
pendidik yang ingin mudah dalam mengontrol kemajuan dan aktivitas kegiatan siswa dalam
proses pembelajaran dapat menggunakan model kurikulum ini, karena dengan model
pengembangan kurikulum yang berbentuk lingkaran, pendidik dengan mudah dapat
mengetahui dimana ketidaktepatan dalam tahap-tahap proses kurikulum tersebut.
Daftar Pustaka
Ernywati. 2011. Model Pengembangan Kurikulum Menurut Wheeler. Diakses dari
http://ernywati.blogspot.com/2011/06/model-pengembangan-kurikulum-menurut.html.
pada tanggal 18 Januari 2013
Indrawan. 2011. Pengembangan Kurikulum Model Wheler. Diakses dari http://oktap-
indrawan.blogspot.com/2013/01/pengembangan-kurikulum-model-wheler.html. pada
tanggal 18 Januari 2013
Intanumapea, 2011 . Model-Model Pengembangan Kurikulum Dan Fungsinya Bagi Guru.
Diakses dari http://intanrumapea.wordpress.com/2011/10/22/model-model-
pengembangan-kurikulum-dan-fungsinya-bagi-guru/. Pada tanggal 18 Januari 2013.
Sanjaya,Wina.2008.KURIKULUM dan PEMBELAJARAN Teori dan Praktik pengembangan
kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).Bandung. KENCANA PRENADA MEDIA
GROUP

model pembelajaran wheeler

  • 1.
    KATA PENGANTAR Puji syukurpenulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat, anugerah dan bimbingan-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Model Pengembangan Kurikulum Wheeler” tepat pada waktunya, dan tak lupa penulis ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulisan makalah ini. Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan. Hal ini disebabkan karena terbatasnya pengetahuan yang penulis miliki, karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna bagi para pembaca untuk lebih memahami psikologi pendidikan sehingga dapat diterapkan untuk mencapai hasil pendidikan di Indonesia yang lebih optimal. Denpasar, Januari 2013 Penulis
  • 2.
    DAFTAR ISI Kata Pengantar DaftarIsi BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang 1.2.Rumusan Masalah 1.3.Tujuan BAB II PEMBAHASAN 2.1. Konsep,teori dan karakteristik kurikulum model Wheeler 2.2. Langkah-langkah pengembangan kurikulum Wheeler 2.3. Keunggulan dan kelemahan kurikulum model Wheeler 2.4. Implementasi pengembangan kurikulum model Wheeler BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan 3.2. Saran DAFTAR PUSTAKA ii
  • 3.
    BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam sistem pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang penglaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa. Oleh karena pentingnya fungsi dan peran kurikulum, maka setiap pengembangan kurikulum harus didasarkan pada asas-asas tertentu. Fungsi asas atau landasan pengembangan kurikulum adalah seperti fondasi sebuah bangunan. Layaknya membangun sebuah gedung, maka menyusun sebuah kurikulum juga harus didasarkan pada fondasi yang kuat. Kesalahan menentukan dan menyusun pondasi kurikulum berarti kesalahan dalam menentukan kebijakan dan implementasi pendidikan. Pengembangan kurikulum pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya. Seller dan Miller (1985) mengemukakan bahwa pengembangan kurikulum adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terus menerus. Seller memandang bahwa penembangan kurikulum harus dimulai dari menentukan orientasi kurikulum, yakni kebijakan-kebijakan umum, misalnya arah dan tujuan pendidikan, pandangan tetang hakikat belajar dan hakikat anak didik, pandangan tentang keberhasilan implementasi kurikulum, dan lain sebagainya. Berdasarkan orientasi itu selanjutnya dikembangkan kurikulum menjadi pedoman pembelajaran, diimplementasikan dalam proses pembelajaran dan dievaluasi Hasil evaluasi itulah kemudian dijadikan bahan dalam menentukan orientasi, begitu seterusnya, sehingga membentuk siklus. Pengembangan kurikulum pada hakekatnya adalah pengembangan komponen-komponen yang membentuk sistem kurikulum itu sendiri serta pengembangan komponen pembelajaran sebagai implementasi kurikulum. Dengan demikian, maka pengembangan kurikulum memiliki dua sisi yang sama pentingnya, yaitu sisi kurikulum sebagai pedoman yang kemudian membentuk kurikulum tertulis dan sisi kurikulum sebagai implementasi yang disebut sebagai sistem pembelajaran. Kurikulum juga dikatakan sebagai bentuk pengalaman belajar peserta didik. Disini kurikulum memiliki hubungan yang sangat erat dengan evaluasi keberhasilan pelaksanaan proses / kegiatan belajar mengajar. Siswa dituntut tidak hanya menguasai sisi kognitif atau
  • 4.
    pengetahuan dalam artianisi atau materi saja, akan tetapi juga dilihat proses siswa dalam memperoleh pengalaman belaja, Kurikulum dipahami pula sebagai suatu bentuk program atau rencana untuk belajar. Dalam suatu kurikulum mesti ada perencanaan pembelajaran serta bagaimana perencanaan itu diimplementasikan menjadi pengalaman belajar siswa dalam rangka pencapaian tujuan yang diharapkan. Maka yang menjadi fungsi suatu kurikulum adalah dalam mempersiapkan peserta didik agar mereka dapat hidup di masyarakat. Kurikulum dan pembelajaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebagai suatu rencana atau program, kurikulum tidak akan bermakna manakala tidak diimplementasikan dalam bentuk pembelajaran. Demikian juga sebaliknya, tanpa kurikulum yang jelas sebagai acuan, maka pembelajaran tidak akan berlangsung secara efektif. Sedangkan untuk mengembangkan kurikulum sendiri mempunyai bermacam – macam model. Menurut Good ( 1972 ) dan travers ( 1973 ). Model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem dalam, dalam bentuk naratif, matematis grafis, serta lambang – lambang lainnya . Model bukanlah realitas, akan tetapi merupakan representasi realitas yang dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian, model pada dasarnya berkaitan dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjemahkan sesuatu ke dalam realitas, yang sifatnya lebih praktis . Dalam pengembangan kurikulum ada beberapa model yang dapat digunakan. Setiap model memiliki kekhasan tertentu baik dilihat dari keluasan pengembangan kurikulumnya, maupun dari tahapan pengebangannya sesuai dengan pendekatannya. Salah satu model kurikulum yang kini dikembangkan atau diterapkan dalam bidang pendidikan adalah model kurikulum Wheeler. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang sebelumnya, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut. 1 Bagaimana konsep, teori dan karakteristik kurikulum model Wheeler? 2 Bagaimana langkah-langkah pengembangan kurikulum model Wheeler? 3 Bagaimanakah keunggulan dan kelemahan kurikulum model Wheeler ? 4 Bagaimanakah implementasi pengembangan kurikulum model Wheeler?
  • 5.
    1.3 Tujuan Penulisan Adapuntujuan penulisan makalah ini berdasarkan rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut. 1 Menjelaskan konsep, teori, karakteristik kurikulum model Wheeler. 2 Menjelaskan langkah-langkah pengembangan kurikulum Wheeler. 3 Menjelaskan keunggulan dan kelemahan kurikulum model Wheeler. 4 Menjelaskan implementasi pengembangan kurikulum model Wheeler. 1.4 Manfaat Penulisan Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah penulis dan pembaca dapat memperoleh pengetahuan tentang konsep, teori, karakteristik kurikulum model Wheeler, langkah - langkah pengembangan kurikulum Wheeler, keunggulan dan kelemahan kurikulum model Wheeler, implementasi pengembangan kurikulum model Wheeler. 1.5 Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode kajian pustaka, yaitu penulis mengumpulkan berbagai sumber atau referensi yang relevan dengan materi yang disajikan dan kemudian dilakukan pengkajian terhadap materi tersebut lebih lanjut.
  • 6.
    BAB II PEMBAHASAN 2.1 Konsep,Teori, Dan Karakteristik Kurikulum Model Wheeler Menurut Good (1972) dan Travers(1972) , model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau system, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. Model bukanlah realitas, akan tetapi merupakan representasi realitas yang dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian, model pada dasarnya berkaitan dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjamahkan sesuatu ke dalam realitas, yang sifatnya lebih praktis. Model berfungsi sebagai sarana untuk mempermudah berkomunikasi, atau sebagai petunjuk, atau sebagai petunjuk yang bersifat perspektif untuk mengambil keputusan, atau sebagai petunjuk perencanaan untuk kegiatan pengelolaan. Nadler (1988) menjelaskan bahwa model yang baik adalah model yang dapat menolong si pengguna untuk mengerti dan memahami suatu proses secara mendasar dan menyeluruh. Selanjutnya ia menjelaskan manfaat model adalah sebagai berikut: a. Model dapat menjelaskan beberapa aspek perilaku dan interaksi manusia. b. Model dapat mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil observasi dan penelitian. c. Model dapat menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks. d. Model dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan.1 Pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik.proses ini berhubungan dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar mengajar, antara lain penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan, sumber dan alat pengukur pengembangan kurikulum yang mengacu pada kreasi sumber- sumber unit, rencana unit, dan garis pelajaran kurikulum ganda lainnya, untuk memudahkan proses belajar-mengajar. Menurut Wheeler, pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang membentuk suatu lingkaran. Proses pengembangan kurikulum terjadi secara terus menerus. Proses pengembangan kurikulum terdiri dari lima fase atau tahapan yang dalam pelaksanaannnya berlangsung secara sistematis dan berurut. Kita tidak bisa menyelesaikan tahap kedua, apabila kita belum menyelesaikan tahap pertama. Setelah semua tahapan-tahapan selesai
  • 7.
    dilaksanakan, maka akankembali ketahap awal sehingga proses pengembangan kurikulum berlangsung secara terus menerus. Pada dasarnya, model pengembangan kurikulum Wheeler hampir sama dengan model pengembangan kurikulum yang sudah disusun sebelumnya oleh Tyler. Model Tyler tidak menyediakan atau tidak membantu pengembang dalam melakukan umpan balik berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Karena keterbatasan model Tyler inilah, maka Wheeler melanjutkannya dengan mengembangkan model siklus. Pada tahun 1967, model garis lurus yang dikembangkan oleh Tyler dimodifikasi menjadi model sferis atau spiral oleh Wheeler (Huang & Yang, 2004). Model siklus Wheeler memiliki lima prosedur (Sanjaya, 2008), yaitu: a)menentukan tujuan umum dan khusus, b) memilih pengalaman belajar, c) memilih konten atau isi, d) mengatur dan mengintegrasikan pengalaman belajar dan konten,serta e) evaluasi. Berbeda halnya dengan model Tyler yang terdiri dari 4 tahap pengembangan, yaitu:a) mengidentifikasi tujuan umum, b) menentukan pengalaman belajar, c) mengorganisasi pengalaman belajar, dan d) evaluasi. Perbedaan pengembangan kurikulum model Tyler dengan pengembangan kurikulum model Wheeler dapat dipaparkan sebagai berikut. 1. Pada model Wheeler, konten dipisahkan dari pengalaman belajar sementara berdasarkan model kurikulum yang dikembangkan oleh Tyler, konten tidak terlepas dari pengalaman belajar. 2. Model Wheeler adalah model pengembangan kurikulum dengan 5 tahap pengembangan, sedangkan model Tyler terdiri dari 4 tahapan pengembangan. 3. Wheeler melaksanakan model pengembangannya dengan model siklus atau lingkaran, sedangkan model Tyler hanya berupa model linier atau garis. 4. Dalam model Wheeler, evaluasi dilakukan dan hasilnya dijadikan input kembali ke dalam sistem untuk dilakukan penyempurnaan kembali, sementara pada model Tyler, evaluasi adalah terminal atau akhir dari pelaksanaan pengembangan kurikulum. Terdapat beberapa alasan mengapa Wheeler kurang sependapat dengan model pengembangan Tyler, yaitu sebagai berkut. 1. Tujuan harus dibahas sebagai perilaku yang mengacu pada produk akhir pembelajaran yang menghasilkan tujuan akhir. Seseorang dapat berpikir tentang tujuan-tujuan utama sebagai hasil.
  • 8.
    2. Tujuan diformulasikan dari umum ke yang khusus dalam perencanaan kurikulum. 3. Isi seharusnya dibedakan dari pengalaman belajar yang menentukan konten tersebut. Dalam perumusan tujuan kurikulum apapun bentuk dan model yang dipilih pada dasarnya harus selalu mempertimbangkan berbagai sumber untuk kepentingan individu dan kepentingan masyarakat. Berdasarkan beberapa pemikiran inilah, selanjutnya Wheeler mengembangkan model pengembangan kurikulumnya. 2.2 Langkah-Langkah Pengembangan Kurikulum Wheeler Wheeler berpendapat bahwa pengembangan kurikulum teridri dari 5 tahap yaitu: 1. Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus. Dalam hal ini tujuan umum dapat berupa tujuan yang bersifat normative yang mengandung tujuan filisofis (aim) atau tujuan pembelajaran yang bersifat praktis (goals). Sedangkan yang menjadi tujuan khusus yaitu tujuan yang bersifat spesifik dan observable (objective) yaitu suatu tujuan pembelajaran yang mudah diukur ketercapaiannya. Dalam pengembangan kurikulum menurut Wheeler penentuan tujuan merupakan tahap awal yang harus dilakukan. Dalam penyusunan suatu kurikulumin, merumuskan tujuan merupakan hal yang harus dikerjakan karena tujuan merupakan arah atau sasaran pendidikan. Tanpa ada tujuan maka apa yang ingin di capai akan menjadi tidak jelas. Alasan alasan yang mendasar mengenai pentingnya perumusan suatu tujuan adalah: a. Tujuan berkaitan erat dengan arah dan sasaran yang harus dicapai oleh dunia pendidikan. Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, denagn demikian salah satu komponen penting yang harus ada dalam suatu perencanaan kurikulum adalah tujuan itu sendiri. b. Tujuan kurikulum dapat membantu pengembang kurikulum dalam mendesain suatu model kurikulum. Melalui tujuan yang jelas, maka dapat membantu para pengembang kurikulum dalam mendesain model kurikulum yang dapat digunakan bahkan akan membantu guru dalam mendesain sistem pembelajaran. Maksudnya disini adalah dengan tujuan yang jelas dapat memberikan arahan kepada guru dalam menentukan bahan atau materi yang harus dipelajari, menentukan metode dan strategi pembelajaran
  • 9.
    yang akan digunakan,menentukan alat, media, dan sumber pembelajaran, serta bagaimana cara merancang alat evaluasi untuk menentukan keberhasilan belajar siswa. c. Tujuan dapat digunakan sebagai control dalam menentukan batas batas serta kualitas pembelajaran. Dengan adanya tujuan kurikulum yang jelas dapat digunakan sebagai kontrol dalam menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran. Artinya, melalui penetapan tujuan, para pengembang kurikulum termasuk guru dapat mengontrol sampai mana siswa telah memperoleh kemampuan-kemampuan sesuai dengan tujuan dan tuntutan kurikulum yang berlaku. Lebih jauh dari itu dengan adanya tujuan akan dapat ditentukan daya serap siswa dan kualitas suatu sekolah. 2. Menentukan pengalaman belajar yang mungkin dapat dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan dalam langkah pertama. Yang dimaksud dengan pengalaman belajar disini adalah segala aktivitas siswa dalam berinteraksi denagn lingkungan. Menentukan pengalaman belajar merupakan hal yang penting untuk materi - materi yang sesuai dalam proses pembelajaran. 3. Menentukan isi dan materi pelajaran sesuai dengan pengalaman belajar Tahap ketiga dalam pengembangan kurikulum menurut Wheeler adalah penentuan isi dan materi pelajaran. Penentuan isi dan materi pelajaran ini di dasarkan atas pengalaman belajar yang di alami oleh peserta didik, pengalaman belajar yang dialami oleh peserta didik dijadikan suatu acuan dalam penyusunan materi ajar.langkah langkah pengorganisasian merupakan hal yang sangat penting karena dengan pengorganisasian yang jelas akan memberikan arah bagi pelaksanaan proses pembelajaran sehingga menjadi pengalaman belajar bagi pelaksanaan proses pembelajaran sehingga menjadi pengalaman belajar yang nyata bagi siswa. 4. Mengorganisasi atau menyatukan pengalaman belajar dengan isi atau materi pelajaran. Setelah materi ajar disusun maka dilakukan penyatuan antara pengalaman belajar dengan materi ajar yang telah disusun, hal ini bertujuan agar terjadi hubungan atau kesinambungan antara pengalaman belajar dengan materi ajar. Sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan naik sehingga hasil yang diperoleh pun dapat maksimal. 5. Melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan. Disini setelah proses pembelajaran selesai akan dilaksanakan suatu proses evaluasi. Dalam proses pengembangan kurikulum ini tahap evaluasi merupakan tahap yang
  • 10.
    sangat penting, halitu karena proses penilaian atau evaluasi dapat memberikan informasi tentang ketercapaian daripada tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan evaluasi ini maka akan dapat diketahui apakah kurikulum yang diterapkan itu berjalan denagn baik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah tersebut.secara rinci dapat dikatakan bahwa Evaluasi bertujuan untuk menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan penentuan keputusan mengenai kurikulum apakan kurikulum itu masih bisa berlaku atau harus di perbaharui atau digamti lagihal itu terjadi karena evaluasi suatu kurikulum dapat memberikan informasi mengenai kesesuaian, efektifitas dan efisiensi kurikulum terhadap tujuan yang ingin dicapai dan penggunaan sumber daya,yang mana informasi ini akan sangat berguna sebagai bahan pembuat keputusan apakah kurikulum tersebut masih dijalankan tetapi perlu revisi atau kurikulum tersebut harus diganti dengan kurikulum yang baru. Evaluasi kurikulum juga penting dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar yang berubah. Berdasarkan dari langkah- langkah pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh Wheeler terlihat bahwa pengembangn kurikulum itu berbentuk sebuah siklus (lingkaran) yang mana pada setiap tahapa dalam siklus tersebut membentuk suatu system yang terdiri dari komponen- komponen pengembangan yang saling berhubungan satu sama lain. Gambar 1.Model Pengembangan Kurikulum Wheeler (dikutip dari Sanjaya, 2008)
  • 11.
    2.3 Keunggulan DanKelemahan Kurikulum Model Wheeler Walaupun model kurikulum Wheeler merupakan pengembangan dari model kurikulum Tyler, gambar siklus model pengembangan kurikulum Wheeler menunjukkan bahwa model pengembangan ini tampaknya jauh lebih progresif dari pada model garis lurus yang dikembangkan oleh Tyler.Berikut keunggulan dari model pengembangan Wheeler. 1. Model ini memiliki mekanisme umpan balik, sehingga menyediakan masukan atau saran dengan tujuan untuk mengukur kemajuan dari penerapan model pengembangan kurikulum. 2. Dengan adanya umpan balik, dapat diketahui sejauh mana tingkat ketercapaaian pengembangan kurikulum yang diimplementasikan. Jadi, fungsi evaluasi disini tergantung dari tujuan orang yang melakukan evaluasi. Apakah untuk mengetahui atau untuk mengukur tingkat ketercapaian pengembangan kurikulum, atau hanya untuk mengetahui sejauh mana ketercapaian model pengembangan kurikulum. Namun di sisi lain, model pengembangan kurikulum ini juga memiliki beberapa kelemahan.Beberapa kelemahannya yaitu sebagai berikut. 1. Tujuan jangka pendek Wheeler meliputi karakteristik perilaku. Perilaku memiliki banyak tujuan keuntungan jika diterapkan untuk merancang kurikulum, akan tetapi memiliki beberapa batasan dalam pelaksanaannya. Contohnya, bagaimana seseorang bisa mengukur meningkatnya kelancaran siswa dalam menulis. 2. Model ini kurang prosedur antara mengorganisir dan mengintegrasikan konten pengalaman belajar dan evaluasi. Menurut Huang &Yang (2004) prosedur ini adalah pelaksanaan konten yang terintegrasi. 2.4 Implementasi Pengembangan Kurikulum Model Wheeler Kurikulum merupakan rencana tertulis yang berisi tentang ide-ide dan gagasan-gagasan yang dirumuskan oleh pengembang kurikulum. Rencana tertulis itu kemudian menjadi dokumen kurikulum yang membentuk suatu sistem kurikulum yang terdiri dari komponen- komponen yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Komponen- komponen yang membentuk sistem kurikulum selanjutnya melahirkan sistem pengajaran dan sistem pengajaran itulah yang menjadi pedoman guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar di dalam kelas. Karena system pengajaran melahirkan tindakan-tindakan guru dan siswa , maka dapat juga dikatakan bahwa tindakan-tindakan itu pada dasarnya implementasi dari kurikulum, yang selanjutnya akan memberikan masukan dalam proses perbaikan
  • 12.
    kurikulum. Demikian terus-menerus,sehingga proses pengembangan kurikulum membentuk siklus yang tanpa ujung. Pengembangan kurikulum berdasarkan model Wheeler, dapat dimplementasikan pada rencana pelaksanaan pembelajaran, dengan mengikuti 5 tahapan, yang terdiri atas : 1. Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan Umum : Standar Kompetensi : 3. Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan khusus : Kompetensi Dasar : 3.4. Mendeskripsikan hubungan energi dan daya listrik serta pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari 2. Menentukan pengalaman belajar yang mungkin dilakukan siswa untuk mencapai tujuan a.Menjelaskan faktor-faktor yang menentukan energi listrik. b.Menjelaskan rumusan energi listrik. c.Menyebutkan alat-alat pengubah energi listrik. d.Menjelaskan karakteristik dan prinsip kerja beberapa alat pengubah energi listrik. e.Menjelaskan pengertian daya listrik. f. Menjelaskan hubungan antara daya listrik dan energi listrik. g.Menjelaskan langkah-langkah untuk menentukan energi listrik dalam satuan kWh. h.Menyebutkan kesetaraan nilai antara kWh dan joule. i. Menjelaskan cara melakukan penghematan dalam menggunakan energi. 3. Menentukan isi atau materi pembelajaran berdasarkan pengalaman belajar Energi dan Daya Listrik
  • 13.
    4. Mengorganisaikan ataumenyatukan pengalaman belajar dengan isi atau materi belajar SILABUS Mata Pelajaran : Fisika Kelas/Semester : I X/1 Standar Kompetensi : 3. Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi Dasar Materi Pelajaran Pengalaman Belajar Indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber Belajar Teknik Bentuk Instru men Contoh Instrumen 3.4.Me nd esk rip si- ka n hu bu ng an en erg i da n da ya list rik ser ta pe ma nfa ata nn ya dal am Energ i dan Daya Listri k o Menca ri inform asi melalu i studi pustak a untuk mene mukan ubung an antara V, I dan energi listrik, hubun gan antara daya listrik energi listrik, dan satuan nya (kWh dan Menjelas kan hubunga n antara V, I dengan energi listrik yang digunaka n. Menjelas kan hubunga n antara daya listrik energi listrik, dan satuanny a (kWh dan Joule) Menerap kan konsep energi dan daya listrik Tes tertulis Tes tertulis Penugas an Penugas aan Tes unjuk kerja Uraian Uraian Tugas rumah Proyek Uji petik kerja prosed ur Tentukan energi listrik yang digunakan bila tegangan dan kuat arus diketahui! Tentukan energi listrik dalam satuan KWh bila daya listrik diketahui dalam satuan joule! Lihatlah KWh meter yang ada dirumahmu, kemudian hitunglah penggunaan energi listrik yang terpakai 6 x 40 Martthen Kangina n, 2007. IPA FISIKA untuk SMP kelas IX, Erlangga Budi Prasodjo, et al, 2009. PHYSIC S for junior high school 3, Yudhistir a
  • 14.
    ke hid up an seh ari - har i Joule) o Menye lesaika n soal- soal yang berkait dengan perhitu ngan pengg unaan listrik oMelak ukan eksperi men sedeha na untuk menun jukkan peruba han energi listrik ke bentuk energi lain o Mengk aji cara- cara yang tepat untuk melak ukan penghe matan energi dalam kehidu pan sehari- hari dalam perhitun gan penggun aan listrik di rumah tangga berdasar kan angka yang tertera pada kWh meter Menunju kkan perubaha n energi listrik menjadi energi bentuk lain Mempra ktikkan penghem atan energi dalam kehidupa n sehari- hari dan mengem ukakan alasanny a. selama 1 bulan! Lakukan percobaan tentang energi listrik, kemudian amati perubahan energi listrik yang terjadi! Ceritakan bagaimana cara menghemat energi listrik dalam kehidupan sehari-hari?
  • 15.
    dan dasar teori yang mendu kung berdas ar kajian pustak RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP ) Mata Pelajaran : IPA (Fisika) Kelas / Semester : IX / I Alokasi waktu : 6 X 40’ ( 3x pertemuan ) Standar Kompetensi 3. Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi Dasar 3.4 Mendeskripsikan hubungan energi dan daya listrik serta pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari. A. Tujuan Pembelajaran Peserta didik dapat: Menjelaskan faktor-faktor yang menentukan energi listrik. Menyebutkan alat-alat pengubah energi listrik. Menjelaskan karakteristik dan prinsip kerja beberapa alat pengubah energi listrik. Menjelaskan pengertian daya listrik. Menjelaskan hubungan antara daya listrik dan energi listrik. Menjelaskan langkah-langkah untuk menentukan energi listrik dalam satuan kWh. Menyebutkan kesetaraan nilai antara kWh dan joule. Menjelaskan cara melakukan penghematan dalam menggunakan energi. B. Materi Pembelajaran Energi dan Daya Listrik
  • 16.
    C. Metode Pembelajaran 1.Model : - Direct Instruction (DI) - Cooperative Learning 2. Metode : - Diskusi kelompok - Eksperimen - Observasi - Ceramah D. Langkah-langkah Kegiatan PERTEMUAN PERTAMA No Kegiatan Guru Kegiatan Siswa 1 2 a. Kegiatan Pendahuluan (5 menit ) Motivasi dan Apersepsi: - Bagaimana cara menentukan besarnya energi listrik? Prasyarat pengetahuan: Sebutkan besaran yang menentukan nilai energi listrik Pra eksperimen: - Berhati-hatilah menggunakan alat dan bahan praktikum. Kegiatan Inti ( 30 menit ) Eksplorasi Dalam kegiatan eksplorasi, guru: Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan faktor- faktor yang menentukan energi listrik. Perwakilan dari tiap kelompok diminta untuk mengambil kawat nikelin sepanjang 1 m, lima buah baterai, sebuah hambatan geser, sebuah ammeter, sebuah saklar, sebuah voltmeter, sebuah stopwatch, sebuah termometer dan kabel secukupnya. Guru mempresentasikan langkah kerja untuk melakukan eksperimen mengamati hubungan antara kalor dengan beda potensial, kuat arus listrik, dan lama aliran arus listrik - Memperhatikan dan menjawab pertanyaan guru berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki. - Siswa membentuk kelompok kemudian berdiskusi - Siswa mencari buku/literatur yang berhubungan dengan listrik - Siswa melakukan eksperimen mengikuti langkah-langkah kerja ilmiah - Siswa mendiskusikan hasil eksperimen dengan kelompoknya - Siswa mendapat bimbingan apabila menemui kesulitan dalam
  • 17.
    3 Peserta didik dalamsetiap kelompok melakukan eksperimen sesuai dengan langkah kerja yang telah dijelaskan oleh guru. Guru memeriksa eksperimen yang dilakukan peserta didik apakah sudah dilakukan dengan benar atau belum. Jika masih ada peserta didik atau kelompok yang belum dapat melakukannya dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan. Elaborasi Dalam kegiatan elaborasi, guru: Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna; Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis; Memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut; Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif; Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar; Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok; Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja pengisian LKS (kerja ilmiah) - Wakil dari masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, untuk mendapat masukan dari kelompok yang lain dan guru - Siswa memperbaiki LKS (kerja ilmiah) yang kurang tepat - Siswa mendiskusikan aplikasi untuk mendapatkan makna - Siswa mendiskusikan konsep yang dipelajari Siswa memberikan pertanyaan dan pendapat mengenai apa yang telah dilakukan dalam eksperimen
  • 18.
    individual maupun kelompok; Konfirmasi Dalamkegiatan konfirmasi, guru: Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan Kegiatan Penutup (5 menit ) Dalam kegiatan penutup, guru: bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran; melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram; memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; - Apabila diperlukan guru membantu siswa dalam memecahkan masalah dalam pengisian LKS (kerja ilmiah) - Guru memandu siswa dalam diskusi kelompok - Guru memandu siswa dalam diskusi kelas Penutup (10 menit) Tindak Lanjut - Guru meluruskan apabila ada konsep yang kurang tepat. - Guru menjelaskan berbagai aplikasi untuk memberikan makna - Guru merefleksi pemahaman konsep Siswa menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan konsep, teori dari yang telah dipelajari Siswa membperbaiki teori, konsep yang sekiranya menyimpang dari pemahaman sebelumnya Siswa memberikan kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari Jika ada hal yang belum dipahami Siswa menyesuaikan dengan teori yang telah di terimanya
  • 19.
    PERTEMUAN KEDUA No KegiatanGuru Kegiatan Siswa 1 2 3 a. Kegiatan Pendahuluan (5 menit ) Motivasi dan Apersepsi: Mengapa elemen pemanas alat- alat listrik umumnya berupa lilitan? Prasyarat pengetahuan: Sebutkan alat-alat pengubah energi listrik. Kegiatan Inti ( 30 menit ) Eksplorasi Dalam kegiatan eksplorasi, guru: Menjelaskan( 15 menit ) Menyebutkan alat-alat pengubah energi listrik. Menjelaskan karakteristik dan prinsip kerja beberapa alat pengubah energi listrik. Elaborasi Dalam kegiatan elaborasi, guru:  Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.  Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan asas Black.  Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai penerapan asas Black dalam kehidupan sehari-hari.  Perwakilan peserta didik diminta untuk menyebutkan alat-alat pengubah energi listrik.  Guru membagi tugas kelompok:  kelompok diberi tugas untuk menjelaskan karakteristik dan prinsip kerja setrika listrik. 2 kelompok diberi tugas untuk menjelaskan karakteristik dan prinsip kerja kompor listrik. Siswa memberi pendapat dengan pengetahuan awal yang dimiliki - Siswa membentuk kelompok kemudian mendiskusikan isu- isu sosial dan teknologi untuk dibuktikan - Siswa melakukan eksperimen untuk memecahkan isu-isu sosial dan teknologi - Siswa melakukan eksperimen mengikuti langkah-langkah kerja ilmiah - Siswa mendiskusikan hasil eksperimen dengan kelompoknya - Siswa mendapat bimbingan apabila menemui kesulitan dalam pengisian LKS (kerja ilmiah) - Wakil dari masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya, untuk mendapat masukan dari kelompok yang lain dan guru - Setiap kelompok mencari data tentang masing-masing karateristik alat-alat listrik yang dapat menimbulkan panas.
  • 20.
    2 kelompok diberi tugasuntuk menjelaskan karakteristik dan prinsip kerja solder listrik. 2 kelompok diberi tugas untuk menjelaskan karakteristik dan prinsip kerja kipas angin. 2 kelompok diberi tugas untuk menjelaskan karakteristik dan prinsip kerja bel listrik.  Tugas kelompok diberikan 1 minggu sebelum proses pembelajaran dilaksanakan.  Setiap kelompok diminta melaporkan hasil pengamatannya dalam bentuk karya tulis.  Setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelompok yang lain.  Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya. Konfirmasi Dalam kegiatan konfirmasi, guru:  Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa  Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan Kegiatan Penutup (5 menit ) Dalam kegiatan penutup, guru:  bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri Setiap kelompok membuat makalah/karya tulis dan siap untuk dipresentasikan Bagi siswa yang belum jelas dipersilakan bertanya / mengeluarkan pendapat terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Siswa menyimpulkan dari semua kegiatan belajar yang
  • 21.
    membuat rangkuman/simpulan pelajaran;  melakukanpenilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;  memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;  merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; telah dilakukan Media/Sumber Belajar /Refrensi 1. Papan tulis dan gambar/carta/lingkungan 2. Spidol/kapur tulis dan penghapus 3. Buku refrensi dan lingkungan Martthen Kanginan, 2007. IPA FISIKA untuk SMP kelas IX, Erlangga Budi Prasodjo,et al, 2009. PHYSICS for junior high school 3, Yudhistira 5. Melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan a. Teknik penilaian : tes tulis, tes unjuk kerja. b. Bentuk instrumen : pilihan ganda dan uji unjuk kerja c. Contoh instrumen : Penilaian : Indikator Pencapaian Kompetensi Teknik Penilaian Bentuk Instrumen Instrumen/ Soal Menjelaskan hubungan antara V, I dengan energi listrik yang digunakan. Menjelaskan hubungan antara daya listrik energi listrik, dan satuannya (kWh Tes tertulis Tes tertulis Penugasan Penugasan Uraian Uraian Tugas rumah Proyek Tentukan energi listrik yang digunakan bila tegangan dan kuat arus diketahui! Tentukan energi listrik dalam satuan KWh bila daya listrik diketahui dalam satuan joule! Lihatlah KWh meter yang ada dirumahmu, kemudian hitunglah
  • 22.
    dan Joule) Menerapkan konsep energidan daya listrik dalam perhitungan penggunaan listrik di rumah tangga berdasarkan angka yang tertera pada kWh meter Tes unjuk kerja Uji petik kerja prosedur penggunaan energi listrik yang terpakai selama 1 bulan! Lakukan percobaan tentang energi listrik, kemudian amati perubahan energi listrik yang terjadi! Ceritakan bagaimana cara menghemat energi listrik dalam kehidupan sehari- hari? Dari setiap akhir penilaian, pendidik akan meninjau kembali setiap soal yang dijawab karena merupakan umpan balik untuk mengetahui proses-proses tahapan yang telah dilaksanakan sebelumnya.
  • 23.
    BAB III PENUTUP 3.1. Simpulan Pengembangankurikulum model Wheeler, memberikan keluwesan dalam penerapanya karena tahap-tahap penyusunan kurikulum tidak terlalu rumit, seperti model- model yang lain dan yang paling terpenting dalam pengembangan kurikulum model wheeler ini adalah sistematisnya yang selalu memperhatikan tahap-tahap sebelumnya. 3.2. Saran Dari implementasi model pengembangan kurikulum menurut Wheeler, bagi para pendidik yang ingin mudah dalam mengontrol kemajuan dan aktivitas kegiatan siswa dalam proses pembelajaran dapat menggunakan model kurikulum ini, karena dengan model pengembangan kurikulum yang berbentuk lingkaran, pendidik dengan mudah dapat mengetahui dimana ketidaktepatan dalam tahap-tahap proses kurikulum tersebut.
  • 24.
    Daftar Pustaka Ernywati. 2011.Model Pengembangan Kurikulum Menurut Wheeler. Diakses dari http://ernywati.blogspot.com/2011/06/model-pengembangan-kurikulum-menurut.html. pada tanggal 18 Januari 2013 Indrawan. 2011. Pengembangan Kurikulum Model Wheler. Diakses dari http://oktap- indrawan.blogspot.com/2013/01/pengembangan-kurikulum-model-wheler.html. pada tanggal 18 Januari 2013 Intanumapea, 2011 . Model-Model Pengembangan Kurikulum Dan Fungsinya Bagi Guru. Diakses dari http://intanrumapea.wordpress.com/2011/10/22/model-model- pengembangan-kurikulum-dan-fungsinya-bagi-guru/. Pada tanggal 18 Januari 2013. Sanjaya,Wina.2008.KURIKULUM dan PEMBELAJARAN Teori dan Praktik pengembangan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).Bandung. KENCANA PRENADA MEDIA GROUP