DEFINISI
Neuropati perifer (peripheral neuropathy/PN) adalah penyakit pada saraf perifer.
Saraf tersebut adalah semua saraf selain yang ada di otak dan urat saraf tulang belakang
(perifer berarti jauh dari pusat).
Sebagian PN diakibatkan kerusakan pada sumbu serabut saraf (akson), yang
mengirimkan perasaan pada otak. Kadang kala, PN disebabkan kerusakan pada selubung
serabut saraf (mielin). Ini mempengaruhi isyarat nyeri (sakit) yang dikirim ke otak.
PN dapat menjadi gangguan ringan atau kelemahan yang melumpuhkan. PN biasanya
dirasakan sebagai kesemutan, pegal, mati rasa atau rasa seperti terbakar pada kaki dan jari
kaki, tetapi juga dapat dialami pada tangan dan jari. Juga dapat dirasa dikitik-kitik, nyeri
tanpa alasan, atau rasa yang tampaknya lebih hebat daripada biasa. Gejala PN dapat bersifat
sementara: kadang sangat sakit, terus tiba-tiba hilang. PN berat dapat mengganggu waktu
berjalan kaki atau berdiri.
ETIOLOGI
Ada beberapa penyebab neuropati perifer. Antaranya cedera mendadak, tekanan
berkepanjangan pada saraf, dan destruksi saraf akibat penyakit atau keracunan. Penyebab
tersering neuropati perifer adalah diabetes mellitus, defisiensi vitamin, alkoholisme yang
bersamaan dengan gizi buruk, dan kelainan bawaan. Tekanan pada saraf dapat akibat tumor,
pertumbuhan tulang abnormal, penggunaan kast atau kruk, atau postur paksa karena
kekakuan untuk jangka yang lama. Artritis rematoid, vibrasi berlebihan dari peralatan berat,
perdarahan pada saraf, herniasi diskus, terpapar dingin atau radiasi, dan berbagai jenis kanser
juga dapat menekan saraf. Neuropati perifer yang umum, parestetika meralgia, khas dengan
sensasi terbakar, baal, dan sensitifitas bagian depan paha. Mikroorganisme dapat menyerang
saraf secara langsung dengan akibat kerusakan saraf tepi. Penyebab lain adalah bahan toksik,
termasuk logam berat (timbal, air raksa, arsen), karbon monoksida, dan pelarut.
PENYEBAB UTAMA NEUROPATI PERIFER
1.Otoimmunitas(poliradikuloneuropati demielinatif inflamatori).
2. Vaskulitis (kelainan jaringan ikat).
3. Kelainan sistemik (diabetes, uremia, sarkoidosis, myxedema, akromegali).
4. Kanser (neuropati paraneoplastik).
5. Infeksi (leprosi, kelainan Lyme, AIDS, herpes zoster).
6. Disproteinemia (mieloma, krioglobulinemia).
7. Defisiensi nutrisional serta alkoholisme.
8. Kompresi dan trauma.
9. Bahan industri toksik serta obat-obatan.
10. Neuropati keturunan.
KLASIFIKASI
Neuropati perifer dapat diklasifikasikan mengikut jumlah saraf yang terkena atau jenis
sel saraf yang terkena (motorik, sensorik, otonom), atau proses yang memberi afek pada saraf
(peradangan misalnya dalam neuritis).
Mononeuropati
Mononeuropati adalah jenis neuropati yang hanya mempengaruhi saraf tunggal.
Penyebab paling umum mononeuropati adalah melalui kompresi fisikal pada saraf
yang dikenal sebagai neuropati kompresi. Salah satu contoh dari neuropati kompresi adalah
Carpal tunnel syndrome. Cedera langsung ke saraf, gangguan suplai darah (iskemia), atau
peradangan juga dapat menyebabkan mononeuropati.
Multipleks Mononeuritis
Multipleks mononeuritis adalah keterlibatan simultan atau berurutan individu batang
saraf tidak infektif, baik sebagian atau seluruhnya, berkembang dari harian ke bertahun dan
biasanya menyajikan dengan kehilangan akut atau subakut dari sensori dan fungsi motorik
saraf tepi individu. Pola keterlibatan adalah asimetris, walaubagaimanapun, apabila penyakit
ini berkembang, defisit menjadi lebih terimpit dan simetris, sehingga sulit untuk
membedakan dari polineuropati.Oleh karena itu, perhatian terhadap pola dari gejala awal
adalah penting.
Mononeuritis multipleks juga dapat menyebabkan rasa sakit, yang dicirikan sebagai
nyeri yang sangat dalam, nyeri yang lebih buruk di malam hari, sering di punggung bawah,
pinggul, atau kaki. Pada pasien dengan diabetes mellitus, multipleks mononeuritis biasanya
ditemui sebagai akut, nyeri unilateral, nyeri paha parah diikuti oleh kelemahan otot anterior
dan kehilangan refleks lutut.
Polineuropati
Dalam polineuropati, sel-sel saraf di berbagai bagian tubuh yang terafek, tanpa
memperhatikan saraf mana yang dilalui. Tidak semua sel saraf yang terkena dalam kasus
tertentu.Dalam aksonopati distal, satu pola umum, badan sel neuron tetap utuh, tapi akson
yang terpengaruh secara proporsional panjangnya. Neuropati diabetes adalah penyebab paling
umum dari pola ini. Dalam polineuropati demielinasi, selubung mielin sekitar akson rusak,
yang mempengaruhi kemampuan akson untuk mengkonduksi impuls listrik. Pola ketiga dan
yang paling tidak biasa terjadi mempengaruhi sel tubuh dari neuron secara langsung. Hal ini
biasanya terjadi pada neuron motorik (dikenal sebagai penyakit neuron motorik) atau neuron
sensorik (dikenal sebagai neuronopati sensorik atau ganglionopati akar dorsal).
Efek dari ini menyebabkan gejala di lebih dari satu bagian tubuh, sering secara
simetris pada sisi kiri dan kanan. Adapun neuropati apapun, gejala utama termasuk
kelemahan atau kejanggalan gerakan (motor), sensasi yang tidak biasa atau tidak
menyenangkan seperti kesemutan atau terbakar, pengurangan kemampuan untuk merasakan
tekstur, suhu, dan gangguan keseimbangan ketika berdiri atau berjalan (sensorik ). Pada
kebanyakan polineuropati, gejala-gejala ini dirasakan dahulu dan paling parah pada
kaki. Gejala otonom juga dapat terjadi, seperti pusing ketika berdiri, disfungsi ereksi dan
kesulitan mengendalikan buang air kecil.
Neuropati Otonom
Neuropati otonom merupakan bentuk polineuropati yang mempengaruhi sistem
involunter, sistem saraf non-sensorik (sistem saraf otonom) yang mempengaruhi sebagian
besar organ internal seperti otot-otot kandung kemih, sistem kardiovaskular, saluran
pencernaan, dan organ kelamin. Saraf-saraf ini tidak berada di bawah kendali kesadaran
seseorang dan berfungsi secara otomatis. Serabut saraf otonom membentuk koleksi besar di
toraks, abdomen dan panggul di luar medula spinalis, namun mereka memiliki hubungan baik
dengan medula spinalis dan otak. Umumnya neuropati otonom terlihat pada pasien dengan
diabetes mellitus tipe 1 dan 2 dalam jangka panjang. Dalam sebagian besar tapi tidak semua
kasus, neuropati otonom terjadi bersama bentuk-bentuk neuropati yang lain, seperti neuropati
sensorik.
Neuritis
Neuritis adalah istilah umum untuk peradangan saraf atau peradangan umum pada
sistem saraf perifer. Gejala tergantung pada saraf yang terlibat, tetapi mungkin termasuk rasa
sakit, paresthesia, paresis, hypoesthesia (mati rasa), anestesi, lumpuh, dan hilangnya refleks.
Jenis-jenis neuritis meliputi:
 Polineuritis atau Neuritis Multiple
 Neuritis Brakial
 Neuritis Optik
 Neuritis Vestinular
 Neuritis Kranial, sering mewakili sebagai Bell’s Palsy
GEJALA KLINIS
Gejala klinis bagi pasien-pasien dengan disfungsi nervus perifer adalah masalah pada
fungsi normal saraf perifer tersebut. Seperti pada fungsi sensorik, biasanya terdapat gejala
kehilangan fungsi ( simtom negatif), yang disertai dengan kekebasan, tremor dan
abnormalitas cara berjalan.
Gejala pertambahan fungsi (simtom positif) termasuk kesemutan, nyeri, gatal dan
merangkak. Nyeri dapat menjadi cukup kuat sehingga perlu penggunaan opioid (narkotika)
obat (misalnya, morfin, oksikodon).
Kulit dapat menjadi begitu hipersensitif sehingga pasien dilarang menyentuh apa pun bagian-
bagian dari tubuh mereka, terutama kaki. Orang dengan tingkat sensitivitas ini tidak dapat
memakai kaus kaki atau sepatu, dan akhirnya menjadi tidak dapat keluar dari rumah.
Gejala motorik termasuk kehilangan fungsi (negatif) gejala kelemahan, kelelahan,
terasa berat, dan kelainan gaya berjalan, dan mendapatkan fungsi (positif) gejala kram,
tremor, dan muscle twitch.
Dari pemeriksaan fisik, pasien dengan neuropati perifer umum biasanya kehilangan
sensori distal atau motorik dan kehilangan sensori, meskipun mereka yang memiliki patologi
(masalah) pada saraf tepi dapat normal; mungkin menunjukkan kelemahan proksimal, seperti
pada neuropati inflamasi seperti Guillain- Barre syndrome, atau mungkin menunjukkan
gangguan fokal sensorik atau kelemahan, seperti di mononeuropati.
PEMERIKSAAN NEUROPATI PERIFER
Sasaran pemeriksaan neuropati perifer adalah menetapkan diagnosis neuropati
periferal, menentukan apakah proses aksonal atau demielinatif, serta mencari penyebabnya.
Secara klinis, neuropati menyebabkan kelemahan serta atrofi otot, hilangnya sensasi
atau perubahan sensasi (nyeri, parestesia), dan kelemahan atau hilangnya refleks tendon.
Pemeriksaan konduksi saraf dapat membedakan neuropati demielinatif (perlambatan
kecepatan konduksi atau blok konduksi) pada neuropati aksonal (amplitudo potensial aksi
rendah). Elektromielografi (EMG) dapat membedakan atrofi denervasi dari kelainan otot
primer. Pemeriksaan CSS membantu terutama pada neuropati demielinatif inflamatori.
Karena akar kranial dan spinal terendam pada CSS, neuropati demielinatif yang mengenai
akar akan menyebabkan peninggian protein CSS. Inflamasi akar saraf juga menyebabkan
pleositosis CSS. Pengambilan riwayat teliti dengan penekanan pada riwayat keluarga,
paparan lingkungan, serta penyakit sistemik, dikombinasi dengan pemeriksaan neurologis
serta laboratorium dapat menentukan etiologi pada kebanyakan neuropati saraf tepi. Bila
diagnosis meragukan, biopsi saraf dengan mikroskop cahaya, mikroskop elektron,
morfometri, dan preparat berkas serabut dapat memberikan informasi definitif lebih banyak.
Saraf sural biasanya dipilih untuk biopsi karena letaknya superfisial serta mudah ditemukan
dan merupakan saraf yang predominan sensori. Biopsi saraf sural meninggalkan bercak
hipestesia pada aspek lateral kaki yang biasanya ditolerasi dengan baik.
Neuropati diabetik dan lainnya mengenai terutama serabut kecil bermielin dan yang
tidak bermielin yang menghantar sensasi nyeri dan suhu. Degenerasi pada ‘neuropati serabut
kecil’ ini mengenai serabut saraf bagian yang paling distal yang dijumpai pada berbagai
organ dan jaringan (serabut somatik) dibanding serabut pada saraf utama. Pemeriksaan
konduksi saraf serta EMG pada setiap kasus mungkin normal dan biopsi saraf sural bisa sulit
diinterpretasikan. Diagnosis bisa ditegakkan dengan biopsi kulit. Sekitar 3-4 mm kulit
diambil dengan punch dan dipotong dengan mikrotom. Potongan diuji dengan antibodi
terhadap Protein Gene Product 9.5 yang menampilkan serabut saraf kecil yeng menembus
epidermis. Kepadatan serabut ini berkurang pada neuropati serabut kecil.
Perubahan patologis pada kebanyakan neuropati saraf tepi (degenerasi aksonal,
demielinasi aksonal atau kombinasinya) tidak spesifik. Pada neuropati aktif makrofag
membuang debris mielin dan akson. Kebanyakan neuropati aksonal lanjut memperlihatkan
hilangnya akson yang bermielin serta bertambahnya kolagen endoneurial. Beberapa neuropati
demielinatif kronik memperlihatkan perubahan hipertrofik. Karenanya pada kebanyakan
neuropati, biopsi saraf sural hanya dapat menentukan diagnosis neuropati dan membedakan
neuropati aksonal dari demielinatif serta neuropati akut dari yang kronis, namun tidak dapat
menentukan penyebab neuropati. Hanya beberapa neuropati memperlihatkan perubahan
patologis yang khas untuk kelainannya setelah diagnosis yang spesifik. Neuropati ini
antaranya neuropati demielinatif inflamatori akut dan kronik, neuropati motor dan sensori
herediter, vaskulitis, neuropati sarkoid, leprosi, neuropati amiloid, invasi neoplastik kesaraf
tepi, leukodistrfi metakhromatik, adrenomieloneuropati, dan neuropati aksonal raksasa.

makalah-neuropati

  • 1.
    DEFINISI Neuropati perifer (peripheralneuropathy/PN) adalah penyakit pada saraf perifer. Saraf tersebut adalah semua saraf selain yang ada di otak dan urat saraf tulang belakang (perifer berarti jauh dari pusat). Sebagian PN diakibatkan kerusakan pada sumbu serabut saraf (akson), yang mengirimkan perasaan pada otak. Kadang kala, PN disebabkan kerusakan pada selubung serabut saraf (mielin). Ini mempengaruhi isyarat nyeri (sakit) yang dikirim ke otak. PN dapat menjadi gangguan ringan atau kelemahan yang melumpuhkan. PN biasanya dirasakan sebagai kesemutan, pegal, mati rasa atau rasa seperti terbakar pada kaki dan jari kaki, tetapi juga dapat dialami pada tangan dan jari. Juga dapat dirasa dikitik-kitik, nyeri tanpa alasan, atau rasa yang tampaknya lebih hebat daripada biasa. Gejala PN dapat bersifat sementara: kadang sangat sakit, terus tiba-tiba hilang. PN berat dapat mengganggu waktu berjalan kaki atau berdiri. ETIOLOGI Ada beberapa penyebab neuropati perifer. Antaranya cedera mendadak, tekanan berkepanjangan pada saraf, dan destruksi saraf akibat penyakit atau keracunan. Penyebab tersering neuropati perifer adalah diabetes mellitus, defisiensi vitamin, alkoholisme yang bersamaan dengan gizi buruk, dan kelainan bawaan. Tekanan pada saraf dapat akibat tumor, pertumbuhan tulang abnormal, penggunaan kast atau kruk, atau postur paksa karena kekakuan untuk jangka yang lama. Artritis rematoid, vibrasi berlebihan dari peralatan berat, perdarahan pada saraf, herniasi diskus, terpapar dingin atau radiasi, dan berbagai jenis kanser juga dapat menekan saraf. Neuropati perifer yang umum, parestetika meralgia, khas dengan sensasi terbakar, baal, dan sensitifitas bagian depan paha. Mikroorganisme dapat menyerang saraf secara langsung dengan akibat kerusakan saraf tepi. Penyebab lain adalah bahan toksik, termasuk logam berat (timbal, air raksa, arsen), karbon monoksida, dan pelarut. PENYEBAB UTAMA NEUROPATI PERIFER 1.Otoimmunitas(poliradikuloneuropati demielinatif inflamatori). 2. Vaskulitis (kelainan jaringan ikat). 3. Kelainan sistemik (diabetes, uremia, sarkoidosis, myxedema, akromegali). 4. Kanser (neuropati paraneoplastik). 5. Infeksi (leprosi, kelainan Lyme, AIDS, herpes zoster). 6. Disproteinemia (mieloma, krioglobulinemia). 7. Defisiensi nutrisional serta alkoholisme. 8. Kompresi dan trauma. 9. Bahan industri toksik serta obat-obatan. 10. Neuropati keturunan. KLASIFIKASI Neuropati perifer dapat diklasifikasikan mengikut jumlah saraf yang terkena atau jenis sel saraf yang terkena (motorik, sensorik, otonom), atau proses yang memberi afek pada saraf (peradangan misalnya dalam neuritis).
  • 2.
    Mononeuropati Mononeuropati adalah jenisneuropati yang hanya mempengaruhi saraf tunggal. Penyebab paling umum mononeuropati adalah melalui kompresi fisikal pada saraf yang dikenal sebagai neuropati kompresi. Salah satu contoh dari neuropati kompresi adalah Carpal tunnel syndrome. Cedera langsung ke saraf, gangguan suplai darah (iskemia), atau peradangan juga dapat menyebabkan mononeuropati. Multipleks Mononeuritis Multipleks mononeuritis adalah keterlibatan simultan atau berurutan individu batang saraf tidak infektif, baik sebagian atau seluruhnya, berkembang dari harian ke bertahun dan biasanya menyajikan dengan kehilangan akut atau subakut dari sensori dan fungsi motorik saraf tepi individu. Pola keterlibatan adalah asimetris, walaubagaimanapun, apabila penyakit ini berkembang, defisit menjadi lebih terimpit dan simetris, sehingga sulit untuk membedakan dari polineuropati.Oleh karena itu, perhatian terhadap pola dari gejala awal adalah penting. Mononeuritis multipleks juga dapat menyebabkan rasa sakit, yang dicirikan sebagai nyeri yang sangat dalam, nyeri yang lebih buruk di malam hari, sering di punggung bawah, pinggul, atau kaki. Pada pasien dengan diabetes mellitus, multipleks mononeuritis biasanya ditemui sebagai akut, nyeri unilateral, nyeri paha parah diikuti oleh kelemahan otot anterior dan kehilangan refleks lutut. Polineuropati Dalam polineuropati, sel-sel saraf di berbagai bagian tubuh yang terafek, tanpa memperhatikan saraf mana yang dilalui. Tidak semua sel saraf yang terkena dalam kasus tertentu.Dalam aksonopati distal, satu pola umum, badan sel neuron tetap utuh, tapi akson yang terpengaruh secara proporsional panjangnya. Neuropati diabetes adalah penyebab paling umum dari pola ini. Dalam polineuropati demielinasi, selubung mielin sekitar akson rusak, yang mempengaruhi kemampuan akson untuk mengkonduksi impuls listrik. Pola ketiga dan yang paling tidak biasa terjadi mempengaruhi sel tubuh dari neuron secara langsung. Hal ini biasanya terjadi pada neuron motorik (dikenal sebagai penyakit neuron motorik) atau neuron sensorik (dikenal sebagai neuronopati sensorik atau ganglionopati akar dorsal). Efek dari ini menyebabkan gejala di lebih dari satu bagian tubuh, sering secara simetris pada sisi kiri dan kanan. Adapun neuropati apapun, gejala utama termasuk kelemahan atau kejanggalan gerakan (motor), sensasi yang tidak biasa atau tidak menyenangkan seperti kesemutan atau terbakar, pengurangan kemampuan untuk merasakan tekstur, suhu, dan gangguan keseimbangan ketika berdiri atau berjalan (sensorik ). Pada kebanyakan polineuropati, gejala-gejala ini dirasakan dahulu dan paling parah pada kaki. Gejala otonom juga dapat terjadi, seperti pusing ketika berdiri, disfungsi ereksi dan kesulitan mengendalikan buang air kecil. Neuropati Otonom Neuropati otonom merupakan bentuk polineuropati yang mempengaruhi sistem involunter, sistem saraf non-sensorik (sistem saraf otonom) yang mempengaruhi sebagian
  • 3.
    besar organ internalseperti otot-otot kandung kemih, sistem kardiovaskular, saluran pencernaan, dan organ kelamin. Saraf-saraf ini tidak berada di bawah kendali kesadaran seseorang dan berfungsi secara otomatis. Serabut saraf otonom membentuk koleksi besar di toraks, abdomen dan panggul di luar medula spinalis, namun mereka memiliki hubungan baik dengan medula spinalis dan otak. Umumnya neuropati otonom terlihat pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 1 dan 2 dalam jangka panjang. Dalam sebagian besar tapi tidak semua kasus, neuropati otonom terjadi bersama bentuk-bentuk neuropati yang lain, seperti neuropati sensorik. Neuritis Neuritis adalah istilah umum untuk peradangan saraf atau peradangan umum pada sistem saraf perifer. Gejala tergantung pada saraf yang terlibat, tetapi mungkin termasuk rasa sakit, paresthesia, paresis, hypoesthesia (mati rasa), anestesi, lumpuh, dan hilangnya refleks. Jenis-jenis neuritis meliputi:  Polineuritis atau Neuritis Multiple  Neuritis Brakial  Neuritis Optik  Neuritis Vestinular  Neuritis Kranial, sering mewakili sebagai Bell’s Palsy GEJALA KLINIS Gejala klinis bagi pasien-pasien dengan disfungsi nervus perifer adalah masalah pada fungsi normal saraf perifer tersebut. Seperti pada fungsi sensorik, biasanya terdapat gejala kehilangan fungsi ( simtom negatif), yang disertai dengan kekebasan, tremor dan abnormalitas cara berjalan. Gejala pertambahan fungsi (simtom positif) termasuk kesemutan, nyeri, gatal dan merangkak. Nyeri dapat menjadi cukup kuat sehingga perlu penggunaan opioid (narkotika) obat (misalnya, morfin, oksikodon). Kulit dapat menjadi begitu hipersensitif sehingga pasien dilarang menyentuh apa pun bagian- bagian dari tubuh mereka, terutama kaki. Orang dengan tingkat sensitivitas ini tidak dapat memakai kaus kaki atau sepatu, dan akhirnya menjadi tidak dapat keluar dari rumah. Gejala motorik termasuk kehilangan fungsi (negatif) gejala kelemahan, kelelahan, terasa berat, dan kelainan gaya berjalan, dan mendapatkan fungsi (positif) gejala kram, tremor, dan muscle twitch. Dari pemeriksaan fisik, pasien dengan neuropati perifer umum biasanya kehilangan sensori distal atau motorik dan kehilangan sensori, meskipun mereka yang memiliki patologi (masalah) pada saraf tepi dapat normal; mungkin menunjukkan kelemahan proksimal, seperti pada neuropati inflamasi seperti Guillain- Barre syndrome, atau mungkin menunjukkan gangguan fokal sensorik atau kelemahan, seperti di mononeuropati.
  • 4.
    PEMERIKSAAN NEUROPATI PERIFER Sasaranpemeriksaan neuropati perifer adalah menetapkan diagnosis neuropati periferal, menentukan apakah proses aksonal atau demielinatif, serta mencari penyebabnya. Secara klinis, neuropati menyebabkan kelemahan serta atrofi otot, hilangnya sensasi atau perubahan sensasi (nyeri, parestesia), dan kelemahan atau hilangnya refleks tendon. Pemeriksaan konduksi saraf dapat membedakan neuropati demielinatif (perlambatan kecepatan konduksi atau blok konduksi) pada neuropati aksonal (amplitudo potensial aksi rendah). Elektromielografi (EMG) dapat membedakan atrofi denervasi dari kelainan otot primer. Pemeriksaan CSS membantu terutama pada neuropati demielinatif inflamatori. Karena akar kranial dan spinal terendam pada CSS, neuropati demielinatif yang mengenai akar akan menyebabkan peninggian protein CSS. Inflamasi akar saraf juga menyebabkan pleositosis CSS. Pengambilan riwayat teliti dengan penekanan pada riwayat keluarga, paparan lingkungan, serta penyakit sistemik, dikombinasi dengan pemeriksaan neurologis serta laboratorium dapat menentukan etiologi pada kebanyakan neuropati saraf tepi. Bila diagnosis meragukan, biopsi saraf dengan mikroskop cahaya, mikroskop elektron, morfometri, dan preparat berkas serabut dapat memberikan informasi definitif lebih banyak. Saraf sural biasanya dipilih untuk biopsi karena letaknya superfisial serta mudah ditemukan dan merupakan saraf yang predominan sensori. Biopsi saraf sural meninggalkan bercak hipestesia pada aspek lateral kaki yang biasanya ditolerasi dengan baik. Neuropati diabetik dan lainnya mengenai terutama serabut kecil bermielin dan yang tidak bermielin yang menghantar sensasi nyeri dan suhu. Degenerasi pada ‘neuropati serabut kecil’ ini mengenai serabut saraf bagian yang paling distal yang dijumpai pada berbagai organ dan jaringan (serabut somatik) dibanding serabut pada saraf utama. Pemeriksaan konduksi saraf serta EMG pada setiap kasus mungkin normal dan biopsi saraf sural bisa sulit diinterpretasikan. Diagnosis bisa ditegakkan dengan biopsi kulit. Sekitar 3-4 mm kulit diambil dengan punch dan dipotong dengan mikrotom. Potongan diuji dengan antibodi terhadap Protein Gene Product 9.5 yang menampilkan serabut saraf kecil yeng menembus epidermis. Kepadatan serabut ini berkurang pada neuropati serabut kecil. Perubahan patologis pada kebanyakan neuropati saraf tepi (degenerasi aksonal, demielinasi aksonal atau kombinasinya) tidak spesifik. Pada neuropati aktif makrofag membuang debris mielin dan akson. Kebanyakan neuropati aksonal lanjut memperlihatkan hilangnya akson yang bermielin serta bertambahnya kolagen endoneurial. Beberapa neuropati demielinatif kronik memperlihatkan perubahan hipertrofik. Karenanya pada kebanyakan neuropati, biopsi saraf sural hanya dapat menentukan diagnosis neuropati dan membedakan neuropati aksonal dari demielinatif serta neuropati akut dari yang kronis, namun tidak dapat menentukan penyebab neuropati. Hanya beberapa neuropati memperlihatkan perubahan patologis yang khas untuk kelainannya setelah diagnosis yang spesifik. Neuropati ini antaranya neuropati demielinatif inflamatori akut dan kronik, neuropati motor dan sensori herediter, vaskulitis, neuropati sarkoid, leprosi, neuropati amiloid, invasi neoplastik kesaraf tepi, leukodistrfi metakhromatik, adrenomieloneuropati, dan neuropati aksonal raksasa.