YANI FAJAR WIRAWAN
NIM ; 10.03.2.149.0210
ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN MENINGITIS
Struktur dan FungsiSistem persarafan terdiri dari sel-sel
saraf yang disebut neuron dan jaringan penunjang yang
disebut neuroglia . Tersusun membentuk sistem saraf pusat
(SSP) dan sistem saraf tepi (SST). SSP terdiri atas otak dan
medula spinalis sedangkan sistem saraf tepi merupakan
susunan saraf diluar SSP yang membawa pesan dari sistem
saraf pusat.
Sistem persarafan berfungsi dalam mempertahankan
kelangsungan hidup melalui berbagai mekanisme sehingga
tubuh tetap mencapai keseimbangan. Stimulasi yang diterima
oleh tubuh baik yang bersumber dari lingkungan internal
maupun eksternal menyebabkan berbagai perubahan dan
menuntut tubuh dapat mengadaptasi sehingga tubuh tetap
seimbang. Upaya tubuh dalam mengadaptasi perubahan
berlangsung melalui kegiatan saraf yang dikenal sebagai
kegiatan refleks. Bila tubuh tidak mampu mengadaptasinya
maka akan terjadi kondisi yang tidak seimbang atau sakit.
 Sel Saraf (Neuron) :Merupakan sel tubuh yang berfungsi
mencetuskan dan menghantarkan impuls listrik. Neuron
merupakan unit dasar dan fungsional sistem saraf yang
mempunyai sifat exitability artinya siap memberi respon saat
terstimulasi. Satu sel saraf mempunyai badan sel disebut
soma yang mempunyai satu atau lebih tonjolan disebut
dendrit.
 Jaringan Penunjang: jaringan penunjang saraf terdiri atas
neuroglia. Neuroglia adalah sel-sel penyokong untuk neuron-
neuron SSP, merupakan 40% dari volume otak dan medulla
spinalis. Jumlahnya lebih banyak dari sel-sel neuron dengan
perbandingan sekitar 10 berbanding satu. Ada empat jenis sel
neuroglia yaitu: mikroglia, epindima, astrogalia, dan
oligodendroglia
 Sistem Saraf Pusat : Sistem saraf pusat terdiri atas otak dan
medula spinalis. SSP dibungkus oleh selaput meningen yang
berfungsi untuk melindungi otak dan medula spinalis dari
benturan atau trauma. Meningen terdiri atas tiga lapisan
1. Dura meter : membran putih tebal dan kasar yang
menutupi seluruh otak dan medula spinalis. Dura
meter terdiri dari 2 lapisan yang berfusi menjadi
satu kecuali di dalam tengkorak tempat lapisan luar
melekat pada tulang dan tempat terdapat sinus
venosus. Falx cerebri adalah lipatan vertikal dura
meter yang memisahkan kedua hemisfer serebri di
garis tengah. tentoriu,m adalah bagian horisontal
dura meter yang memisahkan lobus oksipital
dengan cerebellum.
2. Membran araknoidea : membran halus yang
pada tempat tertentu berfusi dengan pia
meter, dan pada tempat lain terpisah dari
pia meter oleh ruang sub araknoid, yang
berisi CSS. Cisterna magna adalah bagian
ruang sub araknoid yang besar pada bagian
belakang tak bawah, menempati celah
antara serebelum dan medulla oblongata.
3. Pia meter : membran halus yang melekat
pada seluruh permukaan otak dan medulla
spinalis. Leptomeningen adalah istilah yang
digunakan untuk menggambarkan pia dan
araknoid sebagai suatu kesatuan.
1. Menerima informasi (rangsangan) dari dalam
maupun dari luar tubuh melalui saraf sensori .
Saraf sensori disebut juga Afferent Sensory
Pathway.
2. Mengkomunikasikan informasi antara sistem saraf
perifer dan sistem saraf pusat.
3. Mengolah informasi yang diterima baik ditingkat
medula spinalis maupun di otak untuk selanjutnya
menentukan jawaban atau respon.
4. Mengantarkan jawaban secara cepat melalui saraf
motorik ke organ-organ tubuh sebagai kontrol atau
modifikasi dari tindakan. Saraf motorik disebut
juga Efferent Motorik Pathway.
 Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen,
cairan serebrospinal dan spinal column yang
menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat
(Suriadi & Rita, 2001).
 Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges,
biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari
mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok,
Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis
(virus) (Long, 1996).
 Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang
yang mengenai piamater,araknoid dan dalam derajat
yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medulla
spinalis yang superficial.(neorologi kapita
selekta,1996).
Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan
perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu :
a) Meningitis serosa
Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang
disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya
adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lainnya Virus,
Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.
b) Meningitis purulenta
Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang
meliputi otak dan medula spinalis. Penyebabnya antara lain
: Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis
(meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus
aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella
pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.
 Bacterial meningitis
disebabkan oleh bakteri tertentu dan
merupakan penyakit yang serius. Salah satu
bakterinya adalah meningococcal bacteria.
 Gejalanya seperti timbul bercak kemerahan atau
kecoklatan pada kulit. Bercak ini akan berkembang
menjadi memar yang mengurangi suplai darah ke
organ-organ lain dalam tubuh dapat berakibat fatal
dan menyebabkan kematian
 Meningitis Tuberkulosis Generalisata
 Gejala : demam, mudah kesal, obstipasi, muntah-
muntah, ditemukan tanda-tanda perangsangan
meningen seperti kaku kuduk, suhu badan naik
turun, nadi sangat labil/lambat, hipertensi umum,
abdomen tampak mencekung, gangguan saraf otak.
 Penyebab : kuman mikobakterium tuberkulosa varian
hominis.
 Diagnosis : Meningitis Tuberkulosis dapat
ditegakkan dengan pemeriksaan cairan otak, darah,
radiologi, test tuberkulin
 Meningitis Purulenta
 Gejala : demam tinggi, menggigil, nyeri kepala yang
terus-menerus, kaku kuduk,kesadaran menurun, mual
dan muntah, hilangnya nafsu makan, kelemahan umum,
rasa nyeri pada punggung serta sendi.
 Penyebab : Diplococcus pneumoniae(pneumokok), Neisseria
meningitidis(meningokok),Stretococcus haemolyticus,
Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia
coli, Klebsiella pneumoniae, Pneudomonas aeruginosa.
 Diagnosis : dilakukan pemeriksaan cairan otak, antigen
bakteri pada cairan otak, darah tepi,elektrolit darah,
biakan dan test kepekaan sumber infeksi, radiologik,
pemeriksaan EEG.
 Viral meningitis
termasuk penyakit ringan. Gejalanya mirip
dengan sakit flu biasa, dan umumnya si
penderita dapat sembuh sendiri. Frekuensi
viral meningitis biasanya meningkat di musim
panas karena pada saat itu orang lebih sering
terpapar agen pengantar virus. Banyak
virusyang bisa menyebabkan viral meningitis.
Antara lain virus herpes dan virus penyebab
flu.
 Meningitis Kriptikokus
 adalah meningitis yang disebabkan oleh jamur kriptokokus. Jamur ini bisa
masuk ke tubuh kita saat kita menghirup debu atau tahi burung yang
kering.
 Kriptokokus ini dapat menginfeksikan kulit, paru, dan bagian tubuh lain.
Meningitis Kriptokokus ini paling sering terjadi pada orang dengan CD4
di bawah 100.
 Diagnosis
Darah atau cairan sumsum tulang belakang dapat dites untuk
kriptokokus dengan dua cara. Tes yang disebut ‘CRAG’ mencari antigen
(sebuah protein) yang dibuat oleh kriptokokus.
 Tes ‘biakan’ mencoba menumbuhkan jamur kriptokokus dari contoh
cairan.
1. Tes CRAG cepat dilakukan dan dapat memberi hasi pada hari yang
sama. Tes biakan
2. membutuhkan waktu satu minggu atau lebih untuk menunjukkan
hasil positif. Cairan
3. sumsum tulang belakang juga dapat dites secara cepat bila diwarnai
dengan tinta India.
1. Bakteri; Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus
pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok),
Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus
influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas
aeruginosa
2. Penyebab lainnya, Virus, Toxoplasma gondhii dan
Ricketsia
3. Faktor predisposisi : jenis kelamin laki-laki lebih sering
dibandingkan dengan wanita
4. Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal
pada minggu terakhir kehamilan
5. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi
imunoglobulin.
6. Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau
injuri yang berhubungan dengan sistem persarafan
 Komplikasi yang bisa terjadi adalah :
 Gangguan pembekuan darah
 Syok septic
 Demam yang memanjang
 Kejang
 Gangguan mental
 Gangguan belajar
Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK :
1. Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering)
2. Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik, tidak responsif, dan koma.
3. Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sbb:
a) Rigiditas nukal ( kaku leher ). Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran
karena adanya spasme otot-otot leher.
b) Tanda kernik positip: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan fleksi
kearah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna.
c) Tanda brudzinki : bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan
pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka
gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan.
4. Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya.
5. Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat
purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tanda-tanda
vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit kepala,
muntah dan penurunan tingkat kesadaran.
6. Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.
7. Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba muncul, lesi
purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata
Otak dan medula spinalis dilindungi oleh tiga lapisan meningen yaitu
pada bagian paling luar adalah durameter, bagian tengah araknoid, dan
bagian dalam piameter. Cairan otak dihasilkan didalam pleksus choroid
ventrikel bergerak/mengalir melalui sub arachnoid dalam system
ventrikuler seluruh otak dan sumsum tulang belakang, direabsorbsi
melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari jari didalam lapisan
subarchnoid.
Organisme (virus/bakteri) yang dapat menyebabkan meningitis,
memasuki cairan otak melalui aliran darah didalam pembuluh darah
otak. Cairan hidung (secret hidung) atau secret telinga yang disebabkan
oleh fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan meningitis karena
hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan (dunia luar),
mikroorganisme yang masuk dapat berjalan kecairan otak melalui
ruangan subarachnoid. Adanya mikroorganisme yang patologis
merupakan penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak
dan ventrikel. Eksudat yang dibentuk akan menyebar, baik kecranial
maupun kesaraf spinal yang dapat menyebabkan kemunduran
neurologis selanjutnya, dan eksudat ini dapat menyebabkan sumbatan
aliran normal cairan otak dan dapat menyebabkan hydrocephalus
I. Identitas
 Nama :Tn.K
 Jenis kelamin : Laki-laki
 Umur : 35 th
 Status perkawinan : Menikah
 Pendidikan : SMA
 Suku/Bangsa : INDONESIA
 Alamat : Jl. Pemuda no. 201
 Pekerjaan : Jukir
 Tanggal MRS : 5 april 2012
 Sumber informasi : klien
Keluhan utama : demam mengigil
Riwayat keperawatan :
RPS : P: Px mengeluh demam menggigil yang sudah
dirasakan seminggu yang lalu sehingga pada
tanggal 5 april 2012 di bawa ke Rs
Q : Suhu Px mencapai 38,50C
R : Rasa sakit di rasakan pada seluruh tubuh
S : Px terlihat malaise dan mengalami kejang
sehingga aktivitasnya terganggu
T : demam meningkat saat malam hari
RPD : Pasien pernah mengalami penyakit ISPA
RPK : Ibu pasien pernah mengalami penyakit TB
Observasi dan Pemeriksaan Fisik
- Keadaan Umum : Malaise,Kesadaran menurun,Tampak lemah
Gelisah,kejang
TTV : TD : 140/100 mmHg
N : 65 x/mnt
S : 38,5°C
RR : 22x/mnt
 Foto fobia
 Ketulian
 Delirium
 Pupil anisokor
 Afasia
 Hiper algesia
B1 (Breathing)
- peningkatan kerja pernafasan
- adanya PCH
- suara nafas ronkhi
- RR : 22x/ mnt
B2 (Blood)
- TD : 140/100 mmHg
- N : 65 x/mnt
- sianosis
B3 (Brain)
- Sakit kepala
- Delirium
- Gg penglihatan
- Fotofobia
- Ketulian
- Afasia
- Pupil anisokor
B4 (bladder)
- Inkontinensi atau retensi urin
- BAK mengalami penurunan
input : 1500cc
output : 1000cc
- Warna urin kuning
B5 (bowel)
- Anoreksia
- sulit menelan
- Muntah
- turgor kulit jelek
- membran mukosa kering.
B6 (Bone)
 Pergerakan sendi terbatas
 Kekuatan otot skala 2-2, 2-2
 Kelainan ekstremitas : tidak
 Kelainan tulang belakang : tidak
 Fraktur : tidak
 Traksi / spalk /gips : tidak
DATA ETIOLOGI PROBLEM
Ds :
- Klien mengeluh sakit kepala
Do:
- Keadaan umum
 Klien tampak pucat dan lemah
- Pemeriksaan fisik
 TTV
S : 38,5ᴼC
N : 60x/menit
TD : 130/90 mmHg
RR : 28 x/menit
 Kesadaran Delirium E=3 V=3
M=2 (8)
- Pemeriksaan Penunjang
 Pungsi Lumbal : TIK 25 mmHg
 Pemeriksaan Darah
Leukosit : 12.100/ µl
Kadar Hb : 12 g/dl
Glukosa darah : 4,5 ml
Protein darah : 74 g/L
Kultur : Bakteri Haemophilus
Influenza (+)
Invasi pada N. olfaktorius
Permeabilitas vaskuler
meningkat
Transudasi
Edema serebri
Peningkatan volume tengkorak
Peningkatan TIK
Vasospasme pembuluh darah
edema serebri
Sirkulasi terhenti
MK: GANGGUAN PERFUSI
Gangguan
perfusi jaringan
DATA ETIOLOGI PROBLEM
DS :
Keluarga klien mengatakan klien
mengalami sakit kepala
DO :
• keadaan Umum :
Lemah, muntah,demam,aktivitas
terbatas
 TTV
S : 38,5ᴼC
N : 60x/menit
TD : 130/90 mmHg
RR : 28 x/menit
•Pemeriksaan Penunjang :
Pex. Kultur, CT-Scan,rongsen
kepala, dll
resiko injuri
1. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan
dengan peningkatan tekanan intrakranial.
2. Resiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan
kejang
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
Hari/Tg
l
No. Diagnosa Intervensi Rasional
Kamis, 5
April
2012
Diagnosa 1
Tujuan :
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 3 x 24 jam
pasien menunjukan
keadaan status
neurologis yang
membaik
KH :
•TTV dalam batas
normal yaitu 110 /70 -
120 /80 mmHg
•Kesadaran pasien
meningkat GCS 4-5
•Pasien dapat
menggerakkan tangan
sesuai perintah
•Adanya peningkatan
kognitif dan tidak ada
atau hilangnya tanda-
1. Anjurkan Pasien
BRT dengan
posisi tidur
terlentang tanpa
bantal
2. Monitor tanda-
tanda status
neurologis
dengan GCS.
3. Monitor intake
dan output
4. KolaborasiBerika
n cairan perinfus
dengan perhatian
ketat.
5. Monitor AGD
bila diperlukan
pemberian
oksigen
6. Berikan terapi
sesuai advis
dokter seperti:
1. Perubahan pada tekanan
intakranial akan dapat
meyebabkan resiko untuk
terjadinya herniasi otak
2. Dapat mengurangi kerusakan
otak lebih lanjt
3. hipertermi dapat menyebabkan
peningkatan IWL dan
meningkatkan resiko dehidrasi
terutama pada pasien yang tidak
sadra, nausea yang menurunkan
intake per oral
4. Meminimalkan fluktuasi pada
beban vaskuler dan tekanan
intrakranial, vetriksi cairan dan
cairan dapat menurunkan edema
cerebral
5. Adanya kemungkinan asidosis
disertai dengan pelepasan
oksigen pada tingkat sel dapat
menyebabkan terjadinya
iskhemik serebral
Hari/Tgl No. Diagnosa jam Implementasi TTD
Kamis 5
april
2012
Diagnosa 1 07.00 1. Menganjurkan Pasien BRT
dengan posisi tidur terlentang
tanpa bantal
2. Memonitor tanda-tanda status
neurologis dengan GCS.
3. Memonitor intake dan output
4. BerkolaborasiBerikan cairan
perinfus dengan perhatian
ketat.
5. Memonitor AGD bila
diperlukan pemberian oksigen
6. Memberikan terapi sesuai
advis dokter seperti: Steroid,
Aminofel, Antibiotika.
Hari/Tgl No Diagnosa Evaluasi TTD
Jumat 6 april
2012
Diagnosa 1 S : klien mengatakan aktifitas lebih baik
O : - klien terlihat rileks
- mukosa bibir klien basah
- turgor kulit klien lembab
- pergerakan klien bebas
- TD pasien kembali normal 120/80
mmHg
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
Har
i/Tg
l
No.
Diagnosa
Intervensi Rasional
Ka
mis
5
apri
l
201
2
Diagnosa 2
Tujuan :
Pasien bebas
dari injuri
yang
disebabkan
oleh kejang
dan
penurunan
kesadaran
KH :
•cidera
berkurang,
1. Independentmonitor
kejang pada tangan,
kaki, mulut dan otot-
otot muka lainnya
2. Persiapkan lingkungan
yang aman seperti
batasan ranjang, papan
pengaman, dan alat
suction selalu berada
dekat pasien.
3. Pertahankan BRT
selama fase akut
1. Gambaran tribalitas sistem saraf
pusat memerlukan evaluasi yang
sesuai dengan intervensi yang
tepat untuk mencegah terjadinya
komplikasi.
2. Melindungi pasien bila terjadi
kejang dan Mengurangi resiko
jatuh / terluka jika vertigo,
sincope, dan ataksia
3. Untuk mencegah atau
mengurangi kejang dan
Phenobarbital dapat
menyebabkan respiratorius
depresi dan sedasi.
Hari/Tgl No. Diagnosa jam Implementasi TTD
Kamis 5
april
2012
Diagnosa 2 07.00 1. Mengindependent monitor
kejang pada tangan, kaki,
mulut dan otot-otot muka
lainnya
2. Mempersiapkan lingkungan
yang aman seperti batasan
ranjang, papan pengaman,
dan alat suction selalu berada
dekat pasien.
3. Mempertahankan bedrest total
selama fae akut
Hari/Tgl No Diagnosa Evaluasi TTD
Jumat 6 april
2012
Diagnosa 2 S : - keluarga klien mengatakan
suhu tubuh menurun
- keluarga klien mengatakan
kesehatan klien berangsur-
angsur membaik
O : - tidak ada tanda-tanda kejang
- klien terlihat tenang
- klien terlihat lebih segar
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
SATUAN ACARA
PENYULUHAN (SAP)
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok Bahasan : Meningitis
Sub Pokok Bahasan : Perawatan Meningitis
Waktu : Pkl 07.30 – 08.20
Hari/Tanggal : Kamis, 19 April 2012
Tempat : Aula RSNU Tuban
Sasaran : Klien dan keluarga di RSNU Tuban
Penyuluh : Mahasiswa STIKES NU Tuban semester 4
----------------------------------------------------------------------------------------------
-
A. Tujuan Instruksional
1. Tujuan Instruksional Umum
 Setelah mendapat penyuluhan tentang meningitis selama 30 menit, diharapkan
peserta mengerti tentang perawatan pada pasien meningitis.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan, diharapkan peserta mampu :
 Menjelaskan tentang pengertian meningitis
 Menjelaskan tentang penyebab meningitis
 Menyebutkan tanda dan gejala meningitis
 Menyebutkan pencegahan meningitis
 Menjelaskan penatalaksanaan meningitis
B. Metode belajar
– Ceramah
– Tanya jawab
– Brain storming
C. Alat dan Media
– Laptop dan LCD
– Leaflet
– Flipchart
No Kegiatan Respon Peserta Waktu
1. Pembukaan
-Perkenalan/salam
-Penyampaian Tujuan
-Membalas salam
-Memperhatikan
5 Menit
2. a) Penyampaian materi, tentang: Pengertian,
penyebab, tanda gejala, pencegahan, dan
penatalaksanaan pada pasien meningitis.
b) Pemberian kesempatan pada peserta
penyuluhan untuk bertanya.
c) Menjawab pertanyaan peserta penyuluhan
yang berkaitan dengan materi.
- Memperhatikan
penjelasan dan
demonstrasi dengan
cermat
- Menanyakan hal yang
belum jelas
- Memperhatikan
jawaban penyuluh
30 menit
3. Penutup
-Tanya jawab (evaluasi)
-Menyimpulkan hasil materi
-Mengakhiri kegiatan
-Mengucapkan salam
-Membagikan leaflet
Menjawab salam 10 Menit
• Pembimbing : 1.
2.
• Moderator :
Job Description :
- Membuka dan menutup kegiatan
- Membuat susunan acara dengan jelas
• Penyaji :
Job Description :
- Menyampaikan materi penyuluhan
• Observer :
Job Description :
-Mengobservasi jalannya kegiatan
• Fasilitator : 1.
2.
3.
Job Description :
-Membantu menyiapkan perlengkapan penyuluhan
-Memotivasi audience untuk bertanya
-Menjawab pertanyaan audience
• Evaluasi struktur
 Klien dan keluarga di RSNU Tuban
 Penyelenggaraan penyuluhan di aula RSNU Tuban.
 Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh Mahasiswa STIKES NU
semester 4.
 Kontrak waktu dilakukan 1 hari sebelum Penyuluhan dan 15 menit sebelum pelaksanaan
Penyuluhan.
• Evaluasi proses
– Peserta antusias terhadap materi penyuluhan.
– Peserta mengikuti penyuluhan sampai selesai.
– Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar.
– Peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan sharing.
• Evaluasi hasil
 Peserta mampu menjelaskan tentang pengertian meningitis
 Peserta mampu menjelaskan tentang penyebab meningitis
 Peserta mampu menyebutkan tanda dan gejala meningitis
 Peserta mampu menyebutkan pencegahan meningitis
 Peserta mampu menjelaskan penatalaksanaan meningitis
 Tanda dan gejala
 Demam
 Mudah kesal
 Sembelit
 Muntah-muntah.
 Kaku pada leher
 Kejang
 Sensitif terhadap cahaya
 Kebingungan atau sulit
konsentrasi
 Pengertian
Meningitis adalah
peradangan pada membran
(meninges) disekitar otak
dan tulang belakang,
biasanya infeksi penyakit ini
menyebar.
 Penyebab
Disebabkan oleh bakteri/kuman
pneumococcus, Meningococcus,
Hemophilus influenza,
Staphylococcus, E.coli, Salmonella.
MATERI PENYULUHAN
 Tn.K MRS pada tanggal 5 april 2012 dengan
keluhan demam menggigil , malaise, aktivitas
terbatas, ataksia,gerakan involunter, kelemahan ,
hipotonia, riwayat endokarditis, TD meningkat,
nadi menurun, inkontinensia/ retensi urine,
anoreksia, kesulitan menelan, muntah, turgor kulit
jelek, mukosa kering,sakit kepala,kehilangan
sensasi,hiperalgesia meningkat,rasa nyeri, kejang ,
foto fobia, ketulian, delirium, afasia, pupil
anisokor.
Pada pemeriksaan diagnostik TIK meningkat,
cairan keruh atau berkabut, leukosit dan protein
meningkat,glukosa menurun, kultur(-) terhadap
beberapa jenis bakteri
 Pemeriksaan laboratorium (Analisa cairan ):
cairan keruh atau berkabut, leukosit dan
protein meningkat, glukosa menurun, TIK
meningkat,
 Kultur bakteri: positif terhadap beberapa jenis
bakteri
(pneumococcus, meningecoccus, stapilococcus, strep
tococcus)
Penatalaksanaan secara medis pada meningitis dapat dilakukan dengan
cara diberikan
a) Koreksi gangguan asam basa elektrolit, apabilla terdapat ketidak
seimbangan asam basa dan elektrolit dapt diberikan Cairan intravena
MARTOS-10 Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam Mengandung 400 kcal/L
b) Atasi kejang dapat diatasi dengan, Kortikosteroid.golongan
deksametason 0,6 mg/kgBB/hari selama 4 hari, 15-20 menit sebelum
pemberian antibiotic
c) Antibiotik. Terdiri 2 fase yaitu empiric dan setelah hasil biakan dan uji
resistensi. Pengobatan empiric pada neonates adalah kombinasi ampisilin
dan aminoglikosida atau ampisilin dan sefotaksin. Pada umur 3 bulan –
10 tahun kombinsasi ampisilin dan kloramfenikol atau
sefuroksim/sefotaksim/sefriakson. Pada usia lebih dari 10 tahun
digunakan penislin. Pada neonatus pengobatan selama 21 hari, pada bayi
dan anak 10 – 14 hari.
d) Streptomisin, PAS dan INH. Dapat diberikan diberikan dengan dosis
30-50 mg/kg BB/ hari selama 3 bulan atau jika perlu diteruskan 2 kali
seminggu selama 2-3 bulan lagi, sampai likuor serebrospinalis menjadi
normal. PAS dan INH diteruskan paling sedikit samapi 2 tahun. Umtuk
mengatasi dehidrasi akibat masukan makanan yang kurang atau muntah.

ppt-meningitis

  • 1.
    YANI FAJAR WIRAWAN NIM; 10.03.2.149.0210
  • 2.
  • 3.
    Struktur dan FungsiSistempersarafan terdiri dari sel-sel saraf yang disebut neuron dan jaringan penunjang yang disebut neuroglia . Tersusun membentuk sistem saraf pusat (SSP) dan sistem saraf tepi (SST). SSP terdiri atas otak dan medula spinalis sedangkan sistem saraf tepi merupakan susunan saraf diluar SSP yang membawa pesan dari sistem saraf pusat. Sistem persarafan berfungsi dalam mempertahankan kelangsungan hidup melalui berbagai mekanisme sehingga tubuh tetap mencapai keseimbangan. Stimulasi yang diterima oleh tubuh baik yang bersumber dari lingkungan internal maupun eksternal menyebabkan berbagai perubahan dan menuntut tubuh dapat mengadaptasi sehingga tubuh tetap seimbang. Upaya tubuh dalam mengadaptasi perubahan berlangsung melalui kegiatan saraf yang dikenal sebagai kegiatan refleks. Bila tubuh tidak mampu mengadaptasinya maka akan terjadi kondisi yang tidak seimbang atau sakit.
  • 4.
     Sel Saraf(Neuron) :Merupakan sel tubuh yang berfungsi mencetuskan dan menghantarkan impuls listrik. Neuron merupakan unit dasar dan fungsional sistem saraf yang mempunyai sifat exitability artinya siap memberi respon saat terstimulasi. Satu sel saraf mempunyai badan sel disebut soma yang mempunyai satu atau lebih tonjolan disebut dendrit.  Jaringan Penunjang: jaringan penunjang saraf terdiri atas neuroglia. Neuroglia adalah sel-sel penyokong untuk neuron- neuron SSP, merupakan 40% dari volume otak dan medulla spinalis. Jumlahnya lebih banyak dari sel-sel neuron dengan perbandingan sekitar 10 berbanding satu. Ada empat jenis sel neuroglia yaitu: mikroglia, epindima, astrogalia, dan oligodendroglia  Sistem Saraf Pusat : Sistem saraf pusat terdiri atas otak dan medula spinalis. SSP dibungkus oleh selaput meningen yang berfungsi untuk melindungi otak dan medula spinalis dari benturan atau trauma. Meningen terdiri atas tiga lapisan
  • 5.
    1. Dura meter: membran putih tebal dan kasar yang menutupi seluruh otak dan medula spinalis. Dura meter terdiri dari 2 lapisan yang berfusi menjadi satu kecuali di dalam tengkorak tempat lapisan luar melekat pada tulang dan tempat terdapat sinus venosus. Falx cerebri adalah lipatan vertikal dura meter yang memisahkan kedua hemisfer serebri di garis tengah. tentoriu,m adalah bagian horisontal dura meter yang memisahkan lobus oksipital dengan cerebellum.
  • 6.
    2. Membran araknoidea: membran halus yang pada tempat tertentu berfusi dengan pia meter, dan pada tempat lain terpisah dari pia meter oleh ruang sub araknoid, yang berisi CSS. Cisterna magna adalah bagian ruang sub araknoid yang besar pada bagian belakang tak bawah, menempati celah antara serebelum dan medulla oblongata. 3. Pia meter : membran halus yang melekat pada seluruh permukaan otak dan medulla spinalis. Leptomeningen adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pia dan araknoid sebagai suatu kesatuan.
  • 7.
    1. Menerima informasi(rangsangan) dari dalam maupun dari luar tubuh melalui saraf sensori . Saraf sensori disebut juga Afferent Sensory Pathway. 2. Mengkomunikasikan informasi antara sistem saraf perifer dan sistem saraf pusat. 3. Mengolah informasi yang diterima baik ditingkat medula spinalis maupun di otak untuk selanjutnya menentukan jawaban atau respon. 4. Mengantarkan jawaban secara cepat melalui saraf motorik ke organ-organ tubuh sebagai kontrol atau modifikasi dari tindakan. Saraf motorik disebut juga Efferent Motorik Pathway.
  • 8.
     Meningitis adalahperadangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).  Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996).  Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piamater,araknoid dan dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medulla spinalis yang superficial.(neorologi kapita selekta,1996).
  • 9.
    Meningitis dibagi menjadi2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu : a) Meningitis serosa Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lainnya Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia. b) Meningitis purulenta Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.
  • 10.
     Bacterial meningitis disebabkanoleh bakteri tertentu dan merupakan penyakit yang serius. Salah satu bakterinya adalah meningococcal bacteria.  Gejalanya seperti timbul bercak kemerahan atau kecoklatan pada kulit. Bercak ini akan berkembang menjadi memar yang mengurangi suplai darah ke organ-organ lain dalam tubuh dapat berakibat fatal dan menyebabkan kematian
  • 11.
     Meningitis TuberkulosisGeneralisata  Gejala : demam, mudah kesal, obstipasi, muntah- muntah, ditemukan tanda-tanda perangsangan meningen seperti kaku kuduk, suhu badan naik turun, nadi sangat labil/lambat, hipertensi umum, abdomen tampak mencekung, gangguan saraf otak.  Penyebab : kuman mikobakterium tuberkulosa varian hominis.  Diagnosis : Meningitis Tuberkulosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan cairan otak, darah, radiologi, test tuberkulin
  • 12.
     Meningitis Purulenta Gejala : demam tinggi, menggigil, nyeri kepala yang terus-menerus, kaku kuduk,kesadaran menurun, mual dan muntah, hilangnya nafsu makan, kelemahan umum, rasa nyeri pada punggung serta sendi.  Penyebab : Diplococcus pneumoniae(pneumokok), Neisseria meningitidis(meningokok),Stretococcus haemolyticus, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pneudomonas aeruginosa.  Diagnosis : dilakukan pemeriksaan cairan otak, antigen bakteri pada cairan otak, darah tepi,elektrolit darah, biakan dan test kepekaan sumber infeksi, radiologik, pemeriksaan EEG.
  • 13.
     Viral meningitis termasukpenyakit ringan. Gejalanya mirip dengan sakit flu biasa, dan umumnya si penderita dapat sembuh sendiri. Frekuensi viral meningitis biasanya meningkat di musim panas karena pada saat itu orang lebih sering terpapar agen pengantar virus. Banyak virusyang bisa menyebabkan viral meningitis. Antara lain virus herpes dan virus penyebab flu.
  • 14.
     Meningitis Kriptikokus adalah meningitis yang disebabkan oleh jamur kriptokokus. Jamur ini bisa masuk ke tubuh kita saat kita menghirup debu atau tahi burung yang kering.  Kriptokokus ini dapat menginfeksikan kulit, paru, dan bagian tubuh lain. Meningitis Kriptokokus ini paling sering terjadi pada orang dengan CD4 di bawah 100.  Diagnosis Darah atau cairan sumsum tulang belakang dapat dites untuk kriptokokus dengan dua cara. Tes yang disebut ‘CRAG’ mencari antigen (sebuah protein) yang dibuat oleh kriptokokus.  Tes ‘biakan’ mencoba menumbuhkan jamur kriptokokus dari contoh cairan. 1. Tes CRAG cepat dilakukan dan dapat memberi hasi pada hari yang sama. Tes biakan 2. membutuhkan waktu satu minggu atau lebih untuk menunjukkan hasil positif. Cairan 3. sumsum tulang belakang juga dapat dites secara cepat bila diwarnai dengan tinta India.
  • 15.
    1. Bakteri; Mycobacteriumtuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa 2. Penyebab lainnya, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia 3. Faktor predisposisi : jenis kelamin laki-laki lebih sering dibandingkan dengan wanita 4. Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan 5. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin. 6. Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injuri yang berhubungan dengan sistem persarafan
  • 16.
     Komplikasi yangbisa terjadi adalah :  Gangguan pembekuan darah  Syok septic  Demam yang memanjang  Kejang  Gangguan mental  Gangguan belajar
  • 17.
    Gejala meningitis diakibatkandari infeksi dan peningkatan TIK : 1. Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering) 2. Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik, tidak responsif, dan koma. 3. Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sbb: a) Rigiditas nukal ( kaku leher ). Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher. b) Tanda kernik positip: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan fleksi kearah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna. c) Tanda brudzinki : bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan. 4. Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya. 5. Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tanda-tanda vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran. 6. Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal. 7. Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba muncul, lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata
  • 18.
    Otak dan medulaspinalis dilindungi oleh tiga lapisan meningen yaitu pada bagian paling luar adalah durameter, bagian tengah araknoid, dan bagian dalam piameter. Cairan otak dihasilkan didalam pleksus choroid ventrikel bergerak/mengalir melalui sub arachnoid dalam system ventrikuler seluruh otak dan sumsum tulang belakang, direabsorbsi melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari jari didalam lapisan subarchnoid. Organisme (virus/bakteri) yang dapat menyebabkan meningitis, memasuki cairan otak melalui aliran darah didalam pembuluh darah otak. Cairan hidung (secret hidung) atau secret telinga yang disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan meningitis karena hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan (dunia luar), mikroorganisme yang masuk dapat berjalan kecairan otak melalui ruangan subarachnoid. Adanya mikroorganisme yang patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel. Eksudat yang dibentuk akan menyebar, baik kecranial maupun kesaraf spinal yang dapat menyebabkan kemunduran neurologis selanjutnya, dan eksudat ini dapat menyebabkan sumbatan aliran normal cairan otak dan dapat menyebabkan hydrocephalus
  • 20.
    I. Identitas  Nama:Tn.K  Jenis kelamin : Laki-laki  Umur : 35 th  Status perkawinan : Menikah  Pendidikan : SMA  Suku/Bangsa : INDONESIA  Alamat : Jl. Pemuda no. 201  Pekerjaan : Jukir  Tanggal MRS : 5 april 2012  Sumber informasi : klien Keluhan utama : demam mengigil
  • 21.
    Riwayat keperawatan : RPS: P: Px mengeluh demam menggigil yang sudah dirasakan seminggu yang lalu sehingga pada tanggal 5 april 2012 di bawa ke Rs Q : Suhu Px mencapai 38,50C R : Rasa sakit di rasakan pada seluruh tubuh S : Px terlihat malaise dan mengalami kejang sehingga aktivitasnya terganggu T : demam meningkat saat malam hari RPD : Pasien pernah mengalami penyakit ISPA RPK : Ibu pasien pernah mengalami penyakit TB
  • 22.
    Observasi dan PemeriksaanFisik - Keadaan Umum : Malaise,Kesadaran menurun,Tampak lemah Gelisah,kejang TTV : TD : 140/100 mmHg N : 65 x/mnt S : 38,5°C RR : 22x/mnt  Foto fobia  Ketulian  Delirium  Pupil anisokor  Afasia  Hiper algesia
  • 23.
    B1 (Breathing) - peningkatankerja pernafasan - adanya PCH - suara nafas ronkhi - RR : 22x/ mnt B2 (Blood) - TD : 140/100 mmHg - N : 65 x/mnt - sianosis B3 (Brain) - Sakit kepala - Delirium - Gg penglihatan - Fotofobia - Ketulian - Afasia - Pupil anisokor
  • 24.
    B4 (bladder) - Inkontinensiatau retensi urin - BAK mengalami penurunan input : 1500cc output : 1000cc - Warna urin kuning B5 (bowel) - Anoreksia - sulit menelan - Muntah - turgor kulit jelek - membran mukosa kering. B6 (Bone)  Pergerakan sendi terbatas  Kekuatan otot skala 2-2, 2-2  Kelainan ekstremitas : tidak  Kelainan tulang belakang : tidak  Fraktur : tidak  Traksi / spalk /gips : tidak
  • 25.
    DATA ETIOLOGI PROBLEM Ds: - Klien mengeluh sakit kepala Do: - Keadaan umum  Klien tampak pucat dan lemah - Pemeriksaan fisik  TTV S : 38,5ᴼC N : 60x/menit TD : 130/90 mmHg RR : 28 x/menit  Kesadaran Delirium E=3 V=3 M=2 (8) - Pemeriksaan Penunjang  Pungsi Lumbal : TIK 25 mmHg  Pemeriksaan Darah Leukosit : 12.100/ µl Kadar Hb : 12 g/dl Glukosa darah : 4,5 ml Protein darah : 74 g/L Kultur : Bakteri Haemophilus Influenza (+) Invasi pada N. olfaktorius Permeabilitas vaskuler meningkat Transudasi Edema serebri Peningkatan volume tengkorak Peningkatan TIK Vasospasme pembuluh darah edema serebri Sirkulasi terhenti MK: GANGGUAN PERFUSI Gangguan perfusi jaringan
  • 26.
    DATA ETIOLOGI PROBLEM DS: Keluarga klien mengatakan klien mengalami sakit kepala DO : • keadaan Umum : Lemah, muntah,demam,aktivitas terbatas  TTV S : 38,5ᴼC N : 60x/menit TD : 130/90 mmHg RR : 28 x/menit •Pemeriksaan Penunjang : Pex. Kultur, CT-Scan,rongsen kepala, dll resiko injuri
  • 27.
    1. Gangguan perfusijaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial. 2. Resiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang 3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
  • 28.
    Hari/Tg l No. Diagnosa IntervensiRasional Kamis, 5 April 2012 Diagnosa 1 Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien menunjukan keadaan status neurologis yang membaik KH : •TTV dalam batas normal yaitu 110 /70 - 120 /80 mmHg •Kesadaran pasien meningkat GCS 4-5 •Pasien dapat menggerakkan tangan sesuai perintah •Adanya peningkatan kognitif dan tidak ada atau hilangnya tanda- 1. Anjurkan Pasien BRT dengan posisi tidur terlentang tanpa bantal 2. Monitor tanda- tanda status neurologis dengan GCS. 3. Monitor intake dan output 4. KolaborasiBerika n cairan perinfus dengan perhatian ketat. 5. Monitor AGD bila diperlukan pemberian oksigen 6. Berikan terapi sesuai advis dokter seperti: 1. Perubahan pada tekanan intakranial akan dapat meyebabkan resiko untuk terjadinya herniasi otak 2. Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjt 3. hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko dehidrasi terutama pada pasien yang tidak sadra, nausea yang menurunkan intake per oral 4. Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler dan tekanan intrakranial, vetriksi cairan dan cairan dapat menurunkan edema cerebral 5. Adanya kemungkinan asidosis disertai dengan pelepasan oksigen pada tingkat sel dapat menyebabkan terjadinya iskhemik serebral
  • 29.
    Hari/Tgl No. Diagnosajam Implementasi TTD Kamis 5 april 2012 Diagnosa 1 07.00 1. Menganjurkan Pasien BRT dengan posisi tidur terlentang tanpa bantal 2. Memonitor tanda-tanda status neurologis dengan GCS. 3. Memonitor intake dan output 4. BerkolaborasiBerikan cairan perinfus dengan perhatian ketat. 5. Memonitor AGD bila diperlukan pemberian oksigen 6. Memberikan terapi sesuai advis dokter seperti: Steroid, Aminofel, Antibiotika.
  • 30.
    Hari/Tgl No DiagnosaEvaluasi TTD Jumat 6 april 2012 Diagnosa 1 S : klien mengatakan aktifitas lebih baik O : - klien terlihat rileks - mukosa bibir klien basah - turgor kulit klien lembab - pergerakan klien bebas - TD pasien kembali normal 120/80 mmHg A : masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi
  • 31.
    Har i/Tg l No. Diagnosa Intervensi Rasional Ka mis 5 apri l 201 2 Diagnosa 2 Tujuan: Pasien bebas dari injuri yang disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran KH : •cidera berkurang, 1. Independentmonitor kejang pada tangan, kaki, mulut dan otot- otot muka lainnya 2. Persiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat pasien. 3. Pertahankan BRT selama fase akut 1. Gambaran tribalitas sistem saraf pusat memerlukan evaluasi yang sesuai dengan intervensi yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi. 2. Melindungi pasien bila terjadi kejang dan Mengurangi resiko jatuh / terluka jika vertigo, sincope, dan ataksia 3. Untuk mencegah atau mengurangi kejang dan Phenobarbital dapat menyebabkan respiratorius depresi dan sedasi.
  • 32.
    Hari/Tgl No. Diagnosajam Implementasi TTD Kamis 5 april 2012 Diagnosa 2 07.00 1. Mengindependent monitor kejang pada tangan, kaki, mulut dan otot-otot muka lainnya 2. Mempersiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat pasien. 3. Mempertahankan bedrest total selama fae akut
  • 33.
    Hari/Tgl No DiagnosaEvaluasi TTD Jumat 6 april 2012 Diagnosa 2 S : - keluarga klien mengatakan suhu tubuh menurun - keluarga klien mengatakan kesehatan klien berangsur- angsur membaik O : - tidak ada tanda-tanda kejang - klien terlihat tenang - klien terlihat lebih segar A : masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi
  • 34.
  • 35.
    SATUAN ACARA PENYULUHAN PokokBahasan : Meningitis Sub Pokok Bahasan : Perawatan Meningitis Waktu : Pkl 07.30 – 08.20 Hari/Tanggal : Kamis, 19 April 2012 Tempat : Aula RSNU Tuban Sasaran : Klien dan keluarga di RSNU Tuban Penyuluh : Mahasiswa STIKES NU Tuban semester 4 ---------------------------------------------------------------------------------------------- - A. Tujuan Instruksional 1. Tujuan Instruksional Umum  Setelah mendapat penyuluhan tentang meningitis selama 30 menit, diharapkan peserta mengerti tentang perawatan pada pasien meningitis. 2. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mendapatkan penyuluhan, diharapkan peserta mampu :  Menjelaskan tentang pengertian meningitis  Menjelaskan tentang penyebab meningitis  Menyebutkan tanda dan gejala meningitis  Menyebutkan pencegahan meningitis  Menjelaskan penatalaksanaan meningitis
  • 36.
    B. Metode belajar –Ceramah – Tanya jawab – Brain storming C. Alat dan Media – Laptop dan LCD – Leaflet – Flipchart
  • 37.
    No Kegiatan ResponPeserta Waktu 1. Pembukaan -Perkenalan/salam -Penyampaian Tujuan -Membalas salam -Memperhatikan 5 Menit 2. a) Penyampaian materi, tentang: Pengertian, penyebab, tanda gejala, pencegahan, dan penatalaksanaan pada pasien meningitis. b) Pemberian kesempatan pada peserta penyuluhan untuk bertanya. c) Menjawab pertanyaan peserta penyuluhan yang berkaitan dengan materi. - Memperhatikan penjelasan dan demonstrasi dengan cermat - Menanyakan hal yang belum jelas - Memperhatikan jawaban penyuluh 30 menit 3. Penutup -Tanya jawab (evaluasi) -Menyimpulkan hasil materi -Mengakhiri kegiatan -Mengucapkan salam -Membagikan leaflet Menjawab salam 10 Menit
  • 38.
    • Pembimbing :1. 2. • Moderator : Job Description : - Membuka dan menutup kegiatan - Membuat susunan acara dengan jelas • Penyaji : Job Description : - Menyampaikan materi penyuluhan
  • 39.
    • Observer : JobDescription : -Mengobservasi jalannya kegiatan • Fasilitator : 1. 2. 3. Job Description : -Membantu menyiapkan perlengkapan penyuluhan -Memotivasi audience untuk bertanya -Menjawab pertanyaan audience
  • 40.
    • Evaluasi struktur Klien dan keluarga di RSNU Tuban  Penyelenggaraan penyuluhan di aula RSNU Tuban.  Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh Mahasiswa STIKES NU semester 4.  Kontrak waktu dilakukan 1 hari sebelum Penyuluhan dan 15 menit sebelum pelaksanaan Penyuluhan. • Evaluasi proses – Peserta antusias terhadap materi penyuluhan. – Peserta mengikuti penyuluhan sampai selesai. – Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar. – Peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan sharing. • Evaluasi hasil  Peserta mampu menjelaskan tentang pengertian meningitis  Peserta mampu menjelaskan tentang penyebab meningitis  Peserta mampu menyebutkan tanda dan gejala meningitis  Peserta mampu menyebutkan pencegahan meningitis  Peserta mampu menjelaskan penatalaksanaan meningitis
  • 41.
     Tanda dangejala  Demam  Mudah kesal  Sembelit  Muntah-muntah.  Kaku pada leher  Kejang  Sensitif terhadap cahaya  Kebingungan atau sulit konsentrasi  Pengertian Meningitis adalah peradangan pada membran (meninges) disekitar otak dan tulang belakang, biasanya infeksi penyakit ini menyebar.  Penyebab Disebabkan oleh bakteri/kuman pneumococcus, Meningococcus, Hemophilus influenza, Staphylococcus, E.coli, Salmonella. MATERI PENYULUHAN
  • 42.
     Tn.K MRSpada tanggal 5 april 2012 dengan keluhan demam menggigil , malaise, aktivitas terbatas, ataksia,gerakan involunter, kelemahan , hipotonia, riwayat endokarditis, TD meningkat, nadi menurun, inkontinensia/ retensi urine, anoreksia, kesulitan menelan, muntah, turgor kulit jelek, mukosa kering,sakit kepala,kehilangan sensasi,hiperalgesia meningkat,rasa nyeri, kejang , foto fobia, ketulian, delirium, afasia, pupil anisokor. Pada pemeriksaan diagnostik TIK meningkat, cairan keruh atau berkabut, leukosit dan protein meningkat,glukosa menurun, kultur(-) terhadap beberapa jenis bakteri
  • 43.
     Pemeriksaan laboratorium(Analisa cairan ): cairan keruh atau berkabut, leukosit dan protein meningkat, glukosa menurun, TIK meningkat,  Kultur bakteri: positif terhadap beberapa jenis bakteri (pneumococcus, meningecoccus, stapilococcus, strep tococcus)
  • 44.
    Penatalaksanaan secara medispada meningitis dapat dilakukan dengan cara diberikan a) Koreksi gangguan asam basa elektrolit, apabilla terdapat ketidak seimbangan asam basa dan elektrolit dapt diberikan Cairan intravena MARTOS-10 Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam Mengandung 400 kcal/L b) Atasi kejang dapat diatasi dengan, Kortikosteroid.golongan deksametason 0,6 mg/kgBB/hari selama 4 hari, 15-20 menit sebelum pemberian antibiotic c) Antibiotik. Terdiri 2 fase yaitu empiric dan setelah hasil biakan dan uji resistensi. Pengobatan empiric pada neonates adalah kombinasi ampisilin dan aminoglikosida atau ampisilin dan sefotaksin. Pada umur 3 bulan – 10 tahun kombinsasi ampisilin dan kloramfenikol atau sefuroksim/sefotaksim/sefriakson. Pada usia lebih dari 10 tahun digunakan penislin. Pada neonatus pengobatan selama 21 hari, pada bayi dan anak 10 – 14 hari. d) Streptomisin, PAS dan INH. Dapat diberikan diberikan dengan dosis 30-50 mg/kg BB/ hari selama 3 bulan atau jika perlu diteruskan 2 kali seminggu selama 2-3 bulan lagi, sampai likuor serebrospinalis menjadi normal. PAS dan INH diteruskan paling sedikit samapi 2 tahun. Umtuk mengatasi dehidrasi akibat masukan makanan yang kurang atau muntah.