BAB I 
PENDAHULUAN 
1 
1.1 Latar belakang masalah 
Keluarga merupakan agen sosialisasi. Keluarga sebagai 
kumpulan orang orang yang mempunyai hubungan erat 
mempunyai peran penting dalam proses sosialisasi berbagai hal 
tentang kehidupan. Dukungan finansial dan emosional diperlukan 
oleh anggota keluarga, dan hal inilah yang mempengaruhi 
mereka dalam memutuskan membeli. 
Selama ini terdapat anggapan bahwa ibu hanyalah sebagai 
istri yang tugasnya mengurus suami dan anak-anak, sementara 
urusan besar diputuskan suami, termasuk keputusan pengeluaran 
keluarga. Tetapi zaman sekarang, pandangan seperti itu mulai 
tidak tepat karena sudah banyak perubahan yang terjadi pada 
keluarga. Saat ini tidak hanya memutuskan apa yang ingin 
mereka beli untuk keperluan pribadi tetapi juga sebagai penentu 
pembelian keluarga. Wanita sering bertindak sebagai agen 
pembelian yang menginterpretasikan kebutuhan dan keinginan 
dari anggota keluarga yang lain (Mark American Demographics, 
Agustus 1993). Laki-laki malah tidak lagi menjadipengambil 
keputusan yang mutlak dalam pembelian produk bagi 
keluarganya. 
Yuswohady selaku Chief of Corporate & Strategy Practice 
Mark Plus & Co. Mengatakan bahwa survei yang dilakukan oleh 
kantornya di 14 kota besar dengan responden 2.000 orang ibu 
rumah tangga menunjukkan hasil yang sangat menarik. Anak 
pun tidak kurang pengaruhnya dalam pembelian produk. Menurut 
Wimalasiri, orang tua sudah mempersepsikan anak-anak mereka 
sebagai pemberi pengaruh untuk berbagai variasi produk dan 
jasa. Hal ini dapat dikarenakan: (1) Hanya memiliki sedikit anak; 
(2) Pasangan yang bekerja memperbolehkan Wina Christina dan 
Indarini anak-anak mereka untuk membuat pilihan; (3) Dengan 
adanya daya tarik media, anak-anak mempelajari banyak hal
mengenai produk dan jasa dan memiliki posisi untuk meyakinkan 
orang tua mengenai apa yang bagus dan apa yang buruk (The 
Journal of Consumer Marketing, 2004). Jadi pengambil 
keputusan pembelian bukan hanya suami atau individu tunggal, 
namun juga beberapa individu dalam keluarga, atau semua 
anggota keluarga, tergantung dari situasi pembelian yang 
dihadapi (Mark American Demographics, Agustus 1993). 
Kelas sosial seseorang juga membedakan proses 
pembeliannya. Menurut Prasad (1975:42- 47), secara umum, 
kelompok kelas sosial rendah kurang mempunyai informasi dan 
karena kebanyakan istrinya tidak bekerja, keputusan pembelian 
seringkali hanya pada satu individu. Suami sebagai pencari 
nafkah, atau istri sebagai pengelola keuangan. Konsumen kelas 
menengah lebih sering berdiskusi mengenai kemampuan produk, 
manfaat produk, dan harga sebelum melakukan pembelian. 
Sedangkan konsumen kelas atas lebih bersifat otonomi karena 
suami danistri sama-sama memegang keuangan yang cukup dan 
harga bukan faktor penting sehingga saling tidak 
mempermasalahkan pembelian. 
2 
1.2 Rumusan Masalah 
1. Apa yang dimaksud pengambilan keputusan dalam keluarga? 
2. Bagaimana proses pengambilan keputusan dalam keluarga? 
3. Bagaimana tipe pengambilan keputusan dalam keluarga? 
4. Apa saja aspek dan faktor yang mempengaruhi pengambilan 
keputusan? 
1.3 Tujuan 
Untuk proses pembelajaran, pengetahuan tentang proses 
pengambilan keputusan dalam keluarga.
3 
1.4 Manfaat 
Menambah wawasan tentang pengambilan keputusan keluarga 
bagi penulis maupun pembaca.
BAB II 
PEMBAHASAN 
2.1 Pengertian Pengambilan Keputusan 
 Menurut Simon dalam Turban, dkk (2005), pengambilan 
keputusan adalah sebuah proses memilih tindakan diantara 
berbagai alternatif untuk mencapai suatu tujuan atau beberapa 
tujuan. Dalam suatu kesatuan, pengambilan keputusan 
merupakan hasil suatu proses komunikasi dan partisipasi sebagai 
wujud untuk pencapaian tujuan yang diharapkan. Sehingga 
pengambilan keputusan sangatlah penting sebagai dasar untuk 
membangun rencana kedepan. 
 G.R terry pengambilan keputusan sebagai pemilihan alternative 
kegiatan tertentu dari dua atau lebih alternative yang ada. 
 Koont & O’Donnel pengambilan keputusan adalah pemilihan di 
antara alternatif-alternatif mengenai suatu cara bertindak yang 
merupa-kan inti dari perencanaan 
 Theo Haiman “inti dari semua perencanaan adalah pengambilan 
keputusan, suatu cara pemilihan bertindak, Suatu keputusan 
sebagai suatu cara bertindak yang dipilih oleh pengelola sebagai 
suatu proses yang paling efektif untuk mencapai tujuan dan 
memecahkan masalah” 
 Jadi pengambilan keputusan adalah permulaan dari aktifitas 
manusia yang sadar dan terarah, baik secara individu, kelompok 
atau institusional, sehingga pengambilan keputusan menjadi 
aspek yang penting dalam suatu pengelolaan atau manajemen 
2.2 Proses Pengambilan Keputusan Keluarga 
Proses pengambilan keputusan merupakan tahapan-tahapan yg 
harus dilalui atau digunakan untuk membuat keputusan. 
4
Secara garis besar pengambilan keputusan terdiri dari tiga tahap, 
yaitu : 
5 
1. Penemuan masalah. 
Masalah harus didefinisikan dgn jelas, sehingga 
perbedaan antara masalah dan bukan masalah (misalnya 
issu) menjadi jelas. 
2. Pemecahan Masalah 
Pada tahap ini dimana masalah yg sudah ada atau sudah 
jelas itu kemudian diselesaikan. Langkah-langkah yg diambil 
adalah : 
a. Identifikasi alternatif-alternatif untuk memecahkan 
masalah. 
b. Identifikasi faktor-faktor yg tidak dapat diketahui 
sebelumnya atau di luar jangkauan manusia, 
identifikasi peristiwa-peristiwa di masa datang (state 
of nature). 
c. Pembuatan alat (sarana) untuk mengevaluasi atau 
mengukur hasil, biasanya berbentuk tabel hasil (pay off 
table). 
d. Pemilihan dan penggunaan model pengambilan 
keputusan. 
3. Pengambilan keputusan, berdasarkan keadaan lingkungan 
atau kondisi yg ada, yaitu pasti, tidak pasti, resiko, dan 
konflik. 
Pengambilan keputusan meliputi empat tahap yang saling 
berhubungan dan berurutan (Simon, 1980). Empat proses tersebut 
adalah : 
1. Intelligence(kecerdasan) 
Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari 
lingkup problematika serta proses pengenalan masalah. Data
masukan diperoleh, diproses, dan diuji dalam rangka 
mengidentifikasi masalah. 
6 
2. Design(desain) 
Tahap ini adalah proses menemukan, mengembangkan, dan 
menganalisis alternatif tindakan yang bisa dilakukan. Tahap ini 
meliputi proses untuk mengerti masalah, menurunkan solusi, dan 
menguji kelayakan solusi. 
3. Choice (pilihan) 
Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan diantara berbagai 
alternatif tindakan yang mungkin akan dijalankan. Tahap ini 
meliputi pencarian, evaluasi, dan rekomendasi solusi yang sesuai 
untuk model yang telah dibuat. Solusi dari model merupakan 
nilai spesifik untuk variabel hasil pada alternatif yang dipilih. 
4. Implementation(implementasi) 
Tahap implementasi adalah tahap pelaksanaan dari keputusan 
yang telah diambil. Pada tahap ini diperlukan untuk menyusun 
serangkian tindakan yang terencana, sehingga hasil keputusan 
dapat dipantau dan disesuaikan apabila diperlukan perbaikan. 
2.3 Pola pengambilan keputusan 
tan lebih 
besar dari orang lain misalnya dalam keluarga ayah atau ibu 
yang lebih dominan. 
. 
keluarga dengan kekuatan berimbang setiap 
orang memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat dan 
akhirnya keputusan di ambil berdasarkan kesepakatan bersama.
2.4 Tipe-tipe proses pengambilan keputusan 
Pada dasarnya tipe-tipe pengambilan keputusan dapat dibedakan 
menjadi tiga hal, yaitu: 
1. Keputusan terprogram/keputusan terstruktur: 
Keputusan yang terprogram merupakan keputusan yang 
direncanakan sesuai dengan kebiasaan, aturan, atau prosedur yang 
berlaku. Biasanya hasil atau dampak dari keputusan ini tidak 
mengejutkan karena cenderung berulang-ulang dan lebih bersifat 
rutinitas. 
2. Keputusan tidak terprogram/ tidak terstruktur : 
Keputusan yang tidak terprogram merupakan keputusan yang 
tidak direncanakan sebelumnya. Biasanya berkenaan dengan 
masalah-masalah baru dan bersifat khusus. Tipe keputusan ini 
relatif lebih sulit dibandingkan dengan keputusan yang 
diprogramkan. Waktunya sering tidak bisa diduga. 
2.5 Aspek-aspek penentu dalam mengambil keputusan: 
7 
dan sosial 
2.6 Faktor-faktor yang mempengari pengambilan keputusan 
Menurut John D. Millet, faktor-faktor yang mempengaruhi 
pengambilan keputusan :
(1). Pria dan wanita 
(2). Peranan Pengambil Keputusan 
(3). Keterbatasan Kemampuan 
8
BAB III 
9 
PENUTUP 
3.1 Kesimpulan 
Keputusan yang dilakukan dengan tergesa-gesa seringkali merupakan 
keputusan yang buruk dan menimbulkan konflik. Seluruh anggota 
keluarga memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat dan akhirnya 
keputusan di ambil berdasarkan kesepakatan bersama. 
3.2 saran 
Sebaiknya keputusan yang akan diambil didalam keluarga harus 
dirundingkan terlebih dahulu dengan anggota keluarga yang lain 
karena jika tidak dirundingkan terlebih dahulu dapat 
menimbulkan konflik atau masalah.Menciptakan keputusan yang 
harmonis itu perlu, supaya menimbulkan keputusan yang positif 
dan menguntungkan bagi seluruh anggota keluarga dan jangan 
mementingkan diri sendiri.
Daftar Pustaka 
 www.republika.co.id 
 https://dedeneur.wordpress.com/2012/10/08model-pengambilan- 
keputusan-keputusan-tipe-tipe-pengambilan-dan- 
faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pemecahan-masalah/ 
 http://kanissaputri.blogspot.com/2013/11/proses-pengambilan- 
keputusan.html 
 http://www.google.com/url?q=http://file.upi.edu/Direktori/ 
FPTK/JUR._PEND._KESEJAHTERAAN_KELUARGA/1 
95407261980022- 
AS_AS_SETIAWATI/Powerpoint_Pengambilan_keputusa 
n.pdf&sa=U&ei=RdZeVJb2McKLuwTe54D4Cw&ved=0C 
BoQFjAB&usg=AFQjCNF1J4wvz- 
WgSJU9YQtaJ4iKOtXzeg 
 http://artikaamanda.blogspot.com/2012/02/pengaruh-keluarga. 
10 
html 
 http://nuugraahaailsa.blogspot.com/2012/10/tipe-tipe-pengambilan- 
keputusan.html 
 http://kanissaputri.blogspot.com/2013/11/proses-pengambilan- 
keputusan.html

Makalah ikk

  • 1.
    BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar belakang masalah Keluarga merupakan agen sosialisasi. Keluarga sebagai kumpulan orang orang yang mempunyai hubungan erat mempunyai peran penting dalam proses sosialisasi berbagai hal tentang kehidupan. Dukungan finansial dan emosional diperlukan oleh anggota keluarga, dan hal inilah yang mempengaruhi mereka dalam memutuskan membeli. Selama ini terdapat anggapan bahwa ibu hanyalah sebagai istri yang tugasnya mengurus suami dan anak-anak, sementara urusan besar diputuskan suami, termasuk keputusan pengeluaran keluarga. Tetapi zaman sekarang, pandangan seperti itu mulai tidak tepat karena sudah banyak perubahan yang terjadi pada keluarga. Saat ini tidak hanya memutuskan apa yang ingin mereka beli untuk keperluan pribadi tetapi juga sebagai penentu pembelian keluarga. Wanita sering bertindak sebagai agen pembelian yang menginterpretasikan kebutuhan dan keinginan dari anggota keluarga yang lain (Mark American Demographics, Agustus 1993). Laki-laki malah tidak lagi menjadipengambil keputusan yang mutlak dalam pembelian produk bagi keluarganya. Yuswohady selaku Chief of Corporate & Strategy Practice Mark Plus & Co. Mengatakan bahwa survei yang dilakukan oleh kantornya di 14 kota besar dengan responden 2.000 orang ibu rumah tangga menunjukkan hasil yang sangat menarik. Anak pun tidak kurang pengaruhnya dalam pembelian produk. Menurut Wimalasiri, orang tua sudah mempersepsikan anak-anak mereka sebagai pemberi pengaruh untuk berbagai variasi produk dan jasa. Hal ini dapat dikarenakan: (1) Hanya memiliki sedikit anak; (2) Pasangan yang bekerja memperbolehkan Wina Christina dan Indarini anak-anak mereka untuk membuat pilihan; (3) Dengan adanya daya tarik media, anak-anak mempelajari banyak hal
  • 2.
    mengenai produk danjasa dan memiliki posisi untuk meyakinkan orang tua mengenai apa yang bagus dan apa yang buruk (The Journal of Consumer Marketing, 2004). Jadi pengambil keputusan pembelian bukan hanya suami atau individu tunggal, namun juga beberapa individu dalam keluarga, atau semua anggota keluarga, tergantung dari situasi pembelian yang dihadapi (Mark American Demographics, Agustus 1993). Kelas sosial seseorang juga membedakan proses pembeliannya. Menurut Prasad (1975:42- 47), secara umum, kelompok kelas sosial rendah kurang mempunyai informasi dan karena kebanyakan istrinya tidak bekerja, keputusan pembelian seringkali hanya pada satu individu. Suami sebagai pencari nafkah, atau istri sebagai pengelola keuangan. Konsumen kelas menengah lebih sering berdiskusi mengenai kemampuan produk, manfaat produk, dan harga sebelum melakukan pembelian. Sedangkan konsumen kelas atas lebih bersifat otonomi karena suami danistri sama-sama memegang keuangan yang cukup dan harga bukan faktor penting sehingga saling tidak mempermasalahkan pembelian. 2 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud pengambilan keputusan dalam keluarga? 2. Bagaimana proses pengambilan keputusan dalam keluarga? 3. Bagaimana tipe pengambilan keputusan dalam keluarga? 4. Apa saja aspek dan faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan? 1.3 Tujuan Untuk proses pembelajaran, pengetahuan tentang proses pengambilan keputusan dalam keluarga.
  • 3.
    3 1.4 Manfaat Menambah wawasan tentang pengambilan keputusan keluarga bagi penulis maupun pembaca.
  • 4.
    BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Pengambilan Keputusan  Menurut Simon dalam Turban, dkk (2005), pengambilan keputusan adalah sebuah proses memilih tindakan diantara berbagai alternatif untuk mencapai suatu tujuan atau beberapa tujuan. Dalam suatu kesatuan, pengambilan keputusan merupakan hasil suatu proses komunikasi dan partisipasi sebagai wujud untuk pencapaian tujuan yang diharapkan. Sehingga pengambilan keputusan sangatlah penting sebagai dasar untuk membangun rencana kedepan.  G.R terry pengambilan keputusan sebagai pemilihan alternative kegiatan tertentu dari dua atau lebih alternative yang ada.  Koont & O’Donnel pengambilan keputusan adalah pemilihan di antara alternatif-alternatif mengenai suatu cara bertindak yang merupa-kan inti dari perencanaan  Theo Haiman “inti dari semua perencanaan adalah pengambilan keputusan, suatu cara pemilihan bertindak, Suatu keputusan sebagai suatu cara bertindak yang dipilih oleh pengelola sebagai suatu proses yang paling efektif untuk mencapai tujuan dan memecahkan masalah”  Jadi pengambilan keputusan adalah permulaan dari aktifitas manusia yang sadar dan terarah, baik secara individu, kelompok atau institusional, sehingga pengambilan keputusan menjadi aspek yang penting dalam suatu pengelolaan atau manajemen 2.2 Proses Pengambilan Keputusan Keluarga Proses pengambilan keputusan merupakan tahapan-tahapan yg harus dilalui atau digunakan untuk membuat keputusan. 4
  • 5.
    Secara garis besarpengambilan keputusan terdiri dari tiga tahap, yaitu : 5 1. Penemuan masalah. Masalah harus didefinisikan dgn jelas, sehingga perbedaan antara masalah dan bukan masalah (misalnya issu) menjadi jelas. 2. Pemecahan Masalah Pada tahap ini dimana masalah yg sudah ada atau sudah jelas itu kemudian diselesaikan. Langkah-langkah yg diambil adalah : a. Identifikasi alternatif-alternatif untuk memecahkan masalah. b. Identifikasi faktor-faktor yg tidak dapat diketahui sebelumnya atau di luar jangkauan manusia, identifikasi peristiwa-peristiwa di masa datang (state of nature). c. Pembuatan alat (sarana) untuk mengevaluasi atau mengukur hasil, biasanya berbentuk tabel hasil (pay off table). d. Pemilihan dan penggunaan model pengambilan keputusan. 3. Pengambilan keputusan, berdasarkan keadaan lingkungan atau kondisi yg ada, yaitu pasti, tidak pasti, resiko, dan konflik. Pengambilan keputusan meliputi empat tahap yang saling berhubungan dan berurutan (Simon, 1980). Empat proses tersebut adalah : 1. Intelligence(kecerdasan) Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkup problematika serta proses pengenalan masalah. Data
  • 6.
    masukan diperoleh, diproses,dan diuji dalam rangka mengidentifikasi masalah. 6 2. Design(desain) Tahap ini adalah proses menemukan, mengembangkan, dan menganalisis alternatif tindakan yang bisa dilakukan. Tahap ini meliputi proses untuk mengerti masalah, menurunkan solusi, dan menguji kelayakan solusi. 3. Choice (pilihan) Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan diantara berbagai alternatif tindakan yang mungkin akan dijalankan. Tahap ini meliputi pencarian, evaluasi, dan rekomendasi solusi yang sesuai untuk model yang telah dibuat. Solusi dari model merupakan nilai spesifik untuk variabel hasil pada alternatif yang dipilih. 4. Implementation(implementasi) Tahap implementasi adalah tahap pelaksanaan dari keputusan yang telah diambil. Pada tahap ini diperlukan untuk menyusun serangkian tindakan yang terencana, sehingga hasil keputusan dapat dipantau dan disesuaikan apabila diperlukan perbaikan. 2.3 Pola pengambilan keputusan tan lebih besar dari orang lain misalnya dalam keluarga ayah atau ibu yang lebih dominan. . keluarga dengan kekuatan berimbang setiap orang memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat dan akhirnya keputusan di ambil berdasarkan kesepakatan bersama.
  • 7.
    2.4 Tipe-tipe prosespengambilan keputusan Pada dasarnya tipe-tipe pengambilan keputusan dapat dibedakan menjadi tiga hal, yaitu: 1. Keputusan terprogram/keputusan terstruktur: Keputusan yang terprogram merupakan keputusan yang direncanakan sesuai dengan kebiasaan, aturan, atau prosedur yang berlaku. Biasanya hasil atau dampak dari keputusan ini tidak mengejutkan karena cenderung berulang-ulang dan lebih bersifat rutinitas. 2. Keputusan tidak terprogram/ tidak terstruktur : Keputusan yang tidak terprogram merupakan keputusan yang tidak direncanakan sebelumnya. Biasanya berkenaan dengan masalah-masalah baru dan bersifat khusus. Tipe keputusan ini relatif lebih sulit dibandingkan dengan keputusan yang diprogramkan. Waktunya sering tidak bisa diduga. 2.5 Aspek-aspek penentu dalam mengambil keputusan: 7 dan sosial 2.6 Faktor-faktor yang mempengari pengambilan keputusan Menurut John D. Millet, faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan :
  • 8.
    (1). Pria danwanita (2). Peranan Pengambil Keputusan (3). Keterbatasan Kemampuan 8
  • 9.
    BAB III 9 PENUTUP 3.1 Kesimpulan Keputusan yang dilakukan dengan tergesa-gesa seringkali merupakan keputusan yang buruk dan menimbulkan konflik. Seluruh anggota keluarga memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat dan akhirnya keputusan di ambil berdasarkan kesepakatan bersama. 3.2 saran Sebaiknya keputusan yang akan diambil didalam keluarga harus dirundingkan terlebih dahulu dengan anggota keluarga yang lain karena jika tidak dirundingkan terlebih dahulu dapat menimbulkan konflik atau masalah.Menciptakan keputusan yang harmonis itu perlu, supaya menimbulkan keputusan yang positif dan menguntungkan bagi seluruh anggota keluarga dan jangan mementingkan diri sendiri.
  • 10.
    Daftar Pustaka www.republika.co.id  https://dedeneur.wordpress.com/2012/10/08model-pengambilan- keputusan-keputusan-tipe-tipe-pengambilan-dan- faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pemecahan-masalah/  http://kanissaputri.blogspot.com/2013/11/proses-pengambilan- keputusan.html  http://www.google.com/url?q=http://file.upi.edu/Direktori/ FPTK/JUR._PEND._KESEJAHTERAAN_KELUARGA/1 95407261980022- AS_AS_SETIAWATI/Powerpoint_Pengambilan_keputusa n.pdf&sa=U&ei=RdZeVJb2McKLuwTe54D4Cw&ved=0C BoQFjAB&usg=AFQjCNF1J4wvz- WgSJU9YQtaJ4iKOtXzeg  http://artikaamanda.blogspot.com/2012/02/pengaruh-keluarga. 10 html  http://nuugraahaailsa.blogspot.com/2012/10/tipe-tipe-pengambilan- keputusan.html  http://kanissaputri.blogspot.com/2013/11/proses-pengambilan- keputusan.html