MAKALAH
TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN
DI SUSUN OLEH
KELOMPOK III
Anike merisa
sari 201241009
Ahmad syahruzi 201241035
hasruddin 201241006
hasril 201241038
satriadi 201241037
UNIVERSITAS KALTARA TANJUNG SELOR
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN MANAJEMEN
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur dan terima kasih penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha
Esa yang telah memberikan rahmat dan petunjuknya, serta dukungan serta doa
dari orang tua, dosen, sahabat, dan teman-teman serta yang lainnya. Karena
penulis dapat menyelesaikan tulisan ini berupa makalah dengan judul “Model
pengambilan keputusan” untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori pengambilan
keputusan.
Alhamdulillah, akhirnya tugas makalah Teori pengambilan keputusan
dapat diselesaikan. Penulis juga menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini
masih banyak terdapat kesalahan maupun kekurangan, baik dari segi pengetikan,
maupun materi yang di sajikan. Oleh sebab itu, saran dan kritik dari semua pihak
yang terkait sangat di harapkan agar makalah ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang
memerlukannya. Tidak lupa pula penulis haturkan permohonan maaf sebesar-
besarnya apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kata-kata yang salah dan
tidak sesuai.
Tanjung selor, November 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................... . i
DAFTAR ISI.................................................................................................... . ii
BAB I PENDAHULUAN......................................................................... . 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................ . 1
1.2 Rumusan Masalah………...………………………………….. 1
1.3 Tujuan………………………………………………………... 1
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................... . 2
2.1.Pengertian model pengambilan keputusan.............................. . 2
2.2.Klasifikasi model pengambilan keputusan………….............. .. 7
BAB III PENUTUP.................................................................................... . 17
2.1.Kesimpulan.............................................................................. . 17
2.2.Saran........................................................................................ . 17
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Berdasarkan pendekatan ilmu manajemen untuk memecahkan
masalah digunakan model matematika dalam menyajikan system menjadi
lebih sederhana dan lebih mudah dipahaminya. Pada umumnya model itu
memberikan sarana abstrak untuk membantu komunikasi. Bahasa itu
sendiri merupakan proses abstraksi, sedangkan matematika merupakan
bahasa simbolik khusus
Sehingga di setiap lini kehidupan kita perlu memikirkan model
pengambilan keputusan yang akan digunakan untuk mengambil suatu
keputusan, agar keputan yang kita ambil menjadi yang terbaik.
1.2 RUMUSAN MASALAH
a. Apakah yang di maksud dengan model pengambilan keputusan.
b. Apa saja yang terdapat di dalam klarifikasi model pengambilan
keputusan.
1.3 TUJUAN
a. Mengetahui pengertian model pengambilan keputusan.
b. Mengetahui klarifikasi model pengambilaan keputusan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Model Pengambilan Keputusan
Model adalah percontohan yang mengandung unsure yang bersifat
penyederhanaan untuk dapat ditiru (jika perlu). Pengambilan keputusan itu sendiri
merupakan suatu proses berurutan yang memerlukan penggunaan model secara
cepat dan benar.
Pentingnya model dalam suatu pengambilan keputusan, antara lain sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui apakah hubungan yang bersifat tunggal dari unsur-unsur itu
ada relevansinya terhadap masalah yang akan dipecahkan diselesaikan itu.
2. Untuk memperjelas (secara eksplisit) mengenai hubungan signifikan diantara
unsur-unsur itu.
3. Untuk merumuskan hipotesis mengenai hakikat hubungan-hubungan antar
variabel. Hubungan ini biasanya dinyatakan dalam bentuk matematika.
4. Untuk memberikan pengelolaan terhadap pengambilan keputusan.
Model merupakan alat penyederhanaan dan penganalisisan situasi atau
system yang kompleks. Jadi dengan model, situasi atau sistem yang kompleks itu
dapat disederhanakan tanpa menghilangkan hal-hal yang esensial dengan tujuan
memudahkan pemahaman. Pembuatan dan penggunaan model dapat memberikan
kerangka pengelolaan dalam pengambilan keputusan.
Olaf Helmer menyatakan bahwa: karakteristik dari konstruksi. Model
adalah abstraksi, elemen-elemen tertentu dari situasi yang mungkin dapat
membantu seseorang menganalisis keputusan dan memahaminya dengan lebih
baik. Untuk mengadakan abstraksi, maka pembuatan model sering kali dapat
meliputi perubahan konseptual. Setiap unsur dari situasi nyata merupakan tiruan
dengan menggunakan sasaran matematika atau sasaran fisik.
Pembuatan dan penggunaan model menurut Kast, memberikan kerangka
pengelolaan. Model merupakan alat penyederhanaan dan penganalisisan situasi
atau system yang kompleks. Jadi dengan menggunakan model situasi yang
kompleks disederhanakan tanpa penghilangan hal-hal yang esensial dengan tujuan
untuk memudahkan pemahaman.
Berdasarkan pendekatan ilmu manajemen untuk memecahkan masalah
digunakan model matematika dalam menyajikan system menjadi lebih sederhana
dan lebih mudah dipahaminya. Pada umumnya model itu memberikan sarana
abstrak untuk membantu komunikasi. Bahasa itu sendiri merupakan proses
abstraksi, sedangkan matematika merupakan bahasa simbolik khusus.
Model pengambilan keputusan diantaranya:
1. Rasional, model perilaku manusia berdasarkan keyakinan bahwa orang-
orang, organisasi, dan bangsa menjalankan kalkulasi pemaksimalan nilai,
yang secara mendasar konsisten.
Pengambialan keputusan yang rasional merukan proses yang komplek.
Tahapan rasional decision making proses:
a. Mengenal permasalahan.
b. Definisikan tujuan.
c. Kumpulkan data yang relevan.
d. Identifikasi alternative yang memungkinkan (feasible).
e. Seleksi kriteria untuk pertimbangan alternative terbaik.
f. Modelkan hubungan antara kriteria, data, dan alternative.
g. Prediksi hasil dari semua alternative.
h. Pilih alternative terbaik.
2. Organisasional, model-model pengambilan keputusan yang
memperhitungkan karakteristik politik dan structural dari organisasi.
3. Birokrasi, apapun yang dilakukan organisasi adalah hasil dari rutinitas
dan proses bisnis yang terasah oleh penggunaan aktif selama bertahun-
tahun.
4. Keputusan klasik (classical dision), berpandangan bahwa manager
bertindak dalam kepastian. Merupakan model yang sangat rasional untuk
pembuatan keputusan manajerial.
5. Keputusan administrasi, menurut Herbert Simon, manager dalam
pengambilan keputusan menghadapi 3 kondisi:
a. Informasi tidak sempurna, dan tidak lengkap.
b. Rasionalitas yang terbatas (bounded rasionality).
c. Cepat puas (satisfice).
Dan ada 3 konsep untuk membantu manajer menempatkan pembuatan keputusan
dalam perspektif, yaitu:
a. Rasionalitas terbatas dan memadai (bounded rationality and satisficing)
Menekankan bahwa pembuatan keputusan harus menghadapi kenyataan
tidak memadainya informasi mengenai sifat masalah dan menyelesaikan yang
mungkin, kekurangan waktu dan uang untuk mengumpulkan informasi yang lebih
lengkap, ketidakmampuan untuk mengingat sejumlah dasar informasi, dan batas-
batas kecerdasan mereka sendiri. Yang perlu dipelajari oleh pembuatan keputusan
efektif adalah menerima yang memadai dengan gambaran sasaran organisasi jelas
terbayang dalam benak.
b. Heuristic
Orang yang tergantung pada prinsip heuristic / pedoman umum, untuk
menyederhanakan pembuatan keputuasan
c. Memutuskan siapa yang membuat keputusan (bisa)
Model rasional tidak memberikan pedoman mengenai siapa yang harus membuat
keputusan, “siapa yang akan memutuskan?” merupakan keputusan pertama yang
harus dibuat manajer. Keputusan ini bias sangat rumit.
Proses pembuatan keputusan rasional:
1. Pengamatan situasi: definisikan masalah, tentukan tujuan, keputusan
2. Kembangkan alternative: cari alternative secara kreatif, jangan mengevaluasi
dulu.
3. Mengevaluasi alternative dan memilih yang terbaik.
4. Implementasikan keputusan dan memonitor hasil: rencanakan implementasi,
implementasi rencana, monitor implementasi dan buat penyesuaian yang perlu.
Model pengambilan keputusan bisa dilakukan secara individual, kelompok,
tim, panitiaan, dewan, komisi, atau cara reverendum mengajukan usul tertulis.
Cara pengambilan keputusan denga cara mengolah data dan penilaian, baik
kualitatif dan kuantitatif merupaka teknik pengambilan keputusan. Teknik
pengambilan keputusan diperlukan suatu kemampuan.
Setiap pengambilan keputusan selalu terdapat pertimbangan yang berasal dari:
1. Perasaan, firasat, feeling/ intuisi.
2. Pengumpulan, pengolahan, penilaian, dan interpretasi fakta-fakta secara
rasional sistematis.
3. Pengalaman/ ervaring.
4. Kewibawaan, gezgag, atu pengaruh yang dipunyai oleh decision maker.
5. Kewenangan/ kekuasaan formal yang dimiliki oleh decision maker
Jadi decision maker harus menentukan strategi dan metode pengambilan
keputusan. Ke 5 hal diatas dimiliki oleh decision maker secara individual, maka ia
dapat mengambil keputusan secara individual.
2.2 Klasifikasi model pengambilan keputusan:
Mengingat begitu banyaknya cara untuk mengadakan klasifikasi model, dibawah
ini disampaikan beberapa klasifikasi saja.
1. Tujuannya : model latihan, model penelitian, model keputusan, model
perencanaan, dan lain sebagainya. Pengertian tujuan disini adalah dalam arti
purpose.
2. Bidang penerapannya (field of application) : model tentang transportasi,
model tentang persediaan barang, model tentang pendidikan, model tentang
kesehatan, dan sebagainya.
3. Tingkatannya (level) : model tingkat manajemen kantor, tingkat kebijakan
nasional, kebijakan regional, kebijakan local, dan sebagainya.
4. Ciri waktunya (time character) : model statis dan model dinamis.
5. Bentuknya (form) : model dua sisi, satu sisi, tiga dimensi, model konflik,
model non konflik, dan sebagainya.
6. Pengembangan analitik (analytic development) : tingkat dimana matematika
perlu digunakan; lain-lain.
7. Kompleksitas (complexity) : model sangat terinci, model sederhana, model
global, model keseluruhan, dan lain-lain.
8. Formalisasi (formalization) : model mengenai tingkat dimana interaksi itu telah
direncanakan dan hasilnya sudah dapat diramalkan, namun secara formal perlu
dibicarakan juga.
Klarifikasi model pengambilan keputusan menurut beberapa ahli :
a. Quade membedakan model ke dalam dua tipe:
1. Model kuantitatif
Model kuantitatif adalah serangkaian asumsi yang tepat yang
dinyatakan dalam serangkaian hubungan matematis yang pasti. Ini dapat
berupa persamaan, atau analisis lainnya, atau merupakan instruksi bagi
computer, yang berupa program-program untuk computer. Adapun ciri-ciri
pokok model ini ditetapkan secara lengkap melalui asumsi-asumsi, dan
kesimpulan berupa konsekuensi logis dari asumsi-asumsi tanpa
menggunakan pertimbangan atau intuisi mengenai proses dunia nyata
(praktik) atau permasalahan yang dibuat model untuk pemecahannya.
2. Model kualitatif
didasarkan atas asumsi-asumsi yang ketepatannya agak kurang jika
dibandingkan dengan model kuantitatif dan ciri-cirinya digambarkan
melalui kombinasi dari deduksi-deduksi asumsi-asumsi tersebut dan
dengan pertimbangan yang lebih bersifat subjektif mengenai proses atau
masalah yang pemecahannya dibuatkan model.
b. Gullet dan Hicks klasifikasi model pengambilan keputusan:
1. Model Probabilitas
Umumnya model-model keputusannya merupakan konsep
probabilitas dan konsep nilai harapan member hasil tertentu (the concept
of probability and expected value). Adapun yang dimaksud dengan
probabilitas adalah kemungkinan yang dapat terjadi dalam suatu peristiwa
tertentu (the chance of particular event occuring).
Demikian juga halnya dengan probabilitas statistic atau proporsi
statistic dikembangkan melalui pengamatan langsung terhadap populasi
atau melalui sampel dari populasi tersebut.
Banyak kemungkinan dalam rangka pengambilan keputusan dalam
organisasi, yang semuanya bertujuan mendapatkan sesuatu yang
diharapkan masa mendatang, misalnya agar nantinya dapat menanggulangi
terhadap kesulitan-kesulitan dalam masa resesi, untuk dapat menaikkan
tingkatan pendapatan masyarakat, lain sebagainya.
2. Konsep tentang nilai-nilai harapan (the Concept of Expectedvalue)
Dapat digunakan dalam pengambilan keputusan yang akan
diambilnya nanti menyangkut kemungkinan-kemungkinan yang telah
diperhitungkan bagi situasi dan kondisi yang akan datang. Adapun nilai
yang diharapkan dari setiap peristiwa yang terjadi merupakan
kemungkinan terjadinya peristiwa itu dikalikan dengan nilai kondisional.
Sedangkan nilai kondisionalnya adalah nilai dimana terjadinya peristiwa
yang diharapkan masih diragukan.
3. Model Matriks
Selain model probabilitas dan nilai harapan (probability and
excpected value), ada juga model lainnya. Model lainnya adalah model
matriks (the payoff matrix model). Model matriks merupakan model khusus
yang menyajikan kombinasi antara strategi yang digunakan dan hasil yang
diharapkan.
Gullett dan Hicks mengatakan : “The payoff matrix is a particularly
convenient method of displaying and summarizing the expected value
alternative strategics”.
Model matriks terdiri dari dua hal, yaitu baris dan lajur . Baris (Row)
bentuknya menjajar , sedangkan Lajur (Coloum) bentuknya menegak
(vertical) .
4. Model Pohon Keputusan (Decision Tree Model)
Suatu diagram yang cukup sederhana yang menunjukkan suatu
proses untuk merinci masalah-masalah yang dihadapinya kedalam
komponen-komponen, kemudian dibuatkannya alternatif-alternatif
pemecahan beserta konsekuensi masing-masing.
Pohon keputusan dipergunakan untuk memecahkan masalah-
masalah yang timbul dalam proyek yang sedang ditangani. Welch and
Comer memberikan definisi sebagai berikut : “The decision tree is a
simple diagram showing the possible consequences of alternative decision.
The tree includes the decision nodes chance modes, pay offs for each
combination, and the probabilitie of each event.”
Menurut Welch, ada 4 komponen dari pohon keputusan yakni :
1. Simpul Keputusan,
2. Simpul Kesempatan,
3. Hasil dari kombinasi, dan
4. Kemungkinan-kemungkinan akibat dari setiap peristiwa yang terjadi.
Diagram pohon ini salah satu lanngkah yang diperlukan dalam
pengambilan rancangan bangun proyek
Adapun langkah-langkah perlu dilakukan secara berturut-turut sebagai berikut:
a. Mengadakan indentifikasi jaringan hubungan komponen-komponen yang
ada secara bersama-sama membentuk masalah tertentu yang nantinya
harus dipecahkan melalui diagram keputusan.
b. Masalah utama iitu kemudian dirinci kedalam masalah yang lebih kecil.
c. Masalah yang sudah mulai terinci itu kemudian dirinci lagi kedalam
masalah yang lebih kecil.
5. Model kurva Indiferen (Kurva Tak Acuh)
Kurva berbentuk garis dimana titik yang berada pada garis kurva tersebut
mempunyai tingkat kepuasan atau kemanfaatan yang sama.
Kurva Indiferen mempunyai 4 ciri penting , yaitu :
a. Kurva indiferen membentuk lereng yang negatif. Kemiringan yang ngatif
menunjukkan fakta atau asumsi bahwa satu dapat diganti dengan
komoditas lain sehingga konsumen mempunyai tingkat kepuasan yang
tetap sama.
b. Jika ada dua kurva indiferen dalam suatu keadaan atau lingkupan maka
keduanya tidak akan saling berpootngan
c. Hasil yang diperoleh dari asumsi ialah bahwa kurva indiferen ditarik
melalui setiap titik sehingga membentuk gari kurva.
d. Kurva indiferen dibutuhkan bagi pengorbanaan tertentu untuk
mendapatkan kepuasan yang optimal.
6. Model Simulasi Komputer
Pengambilan keputusan siperlukan rancangan bangun (design) yang
biasanya menggunakan komputer yang mampu menirukan apa-apa yang
dilakukan organisasi.
c. Robert D.Spech mengelompokkan model dalam rangka analisis kebijakan
pengambilan keputusan ke dalam 5 kategori yakni sebagai berikut.
1. Model Matematika
menggunakan teknik seperti misalnya linear programming, teori
jaringan kerja, dsb. komputer dapat digunakan begitu pula dengan
kalkulator yang dapat digunakan sebagai alat perhitungan saja bukan
sebagai simulator.
2. Model Simulasi Komputer
merupakan tiruan dari kasus yang sesungguhnya. Ada yang dibuat
dengan peralatan dan ukuran yang sama persis dengan yang
sesungguhnya.
3. Model Permainan Operasional
Dalam model ini manusia dijadikan objek yang harus mengambil
keputusan. Informasi diperoleh dari komputer atau video game yang
menyajikan masalahnya. Misalnya seperti pada permainan perang-
perangan (war games),video memberikan informasi dan menyajikan
masalah yang berupa datangnya musuh yang akan menyerang kita dengan
macam-macam cara penyerangan. Kita diminta mempertahankan diri dan
menghancurkan musuh dengan peralatan yang telah disediakan pada video
games tersebut.
4. Model verbal
Model verbal adalah model pengambilan keputusan berdasarkan
analogi yang lebih bersifat bukan kuantitatif. Dari analog itu kemudian
dibuat dalilnya yang kemudian diterapkan untuk menyimpulkan dan
mengambil keputusan yang nonkuantitatif.
Anthony down memberikan contoh model verbal yang berupa atau
menyangkut birokrasi. Down memandang birokrasi sebagai organisasi
yang memiliki 4 ciri,sebagai berikut.
1. Birokrasi mempunyai lingkungan yang cukup luas dimana peringkat
tertinggi hanya mengetahui kurang dari setengah dari seluruh
anggotanya secara pribadi. Ini berarti bahwa birokrasi itu menghadapi
masalah administratif substansial.
2. Bagian terbesar dari anggotanya adalah karyawan penuh yang sangat
menggantungkan dari pada kesempatan kerja dan gajinya pada
organisasi itu. Ini berarti bahwa pada anggotanya sangat terikat pada
pekerjaannya.
3. Upahnya, kenaikan pangkatnya, dan sebagainya itu sangat tergantung
pada prestasinya dalam organisasi itu atau ketentuan-ketentuan yang
dibuat oleh organisasi tersebut.
4. Sebagian besar dari hasil itu secara tidak langsung dinilai dalam
pasaran. Prestasi kerja para anggota atau karyawan secara tidak
langsung juga ikut menentukan pasaran hasil
organisasinya/perusahaannya.
Dengan demikian, maka faktor intern (fungsi) dan faktor ekstern
(lingkungan) ikut berperan dan oleh karena itu perlu mendapat perhatian. Dalam
pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pimpinan, maka analogi terhadap
berlakunya dalil dan faktor-faktor tersebut harus juga menjadi bahan
pertimbangan.
5. Model fisik
Dalam menjalankan kebijakan pemerintah model fisik ini tidak
begitu penting untuk dianalisis. Model ini,misalnya model dalam rangka
pembuatan bangunan atau tata kota. Dalam model pengambilan bangunan
misalnya berlaku model perencanaan jaringan kerja atau model PERT dan
yang sejenisnya. Model ini merupakan serangkaian keputusan dalam
program pembangunan dan pengembangan yang cukup kompleks. Bagian-
bagian mana yang dapat dilakukan secara serentak, dalam arti tidak usah
berurutan dan bagian-bagian mana yang mengerjakan bagian berikutnya.
Ini lebih merupakan tugas dan pengambilan keputusan seorang insinyur
daripada policy maker.
BAB III
PENUTUP
3.1 SARAN
Untuk mengambil suatu keputusan sebaiknya kita memperhatikaan
berbagai model pengambilan keputusan terlebih dahulu agar pengambilan
keputusan kita itu bisa lebih baik.
3.2 KESIMPULAN
Pengambilan keputusan itu dapat di lakukan dengan sederhana,
tetapi dapat juga tidak sederhana sehingga memerlukan model, model
pengambilan keputusan yang canggih. Apakah pengambilan keputusan itu
membutuhkan rasio, emosi, bahkan kadang-kadang dibutuhkan sesuatu yang
rasional. Pengartian rasional disni mengacu pada prinsip efisiensi. Jika ada
tekanan dari kelompok organisasi dan motivasi yang bersifat pribadi dari
pimpinan akan berakibat keputusannya kurang objektif, sehingga tidak menjadi
keputusan yang terbaik.

Model pengambilan keputusan

  • 1.
    MAKALAH TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN MODELPENGAMBILAN KEPUTUSAN DI SUSUN OLEH KELOMPOK III Anike merisa sari 201241009 Ahmad syahruzi 201241035 hasruddin 201241006 hasril 201241038 satriadi 201241037 UNIVERSITAS KALTARA TANJUNG SELOR FAKULTAS EKONOMI JURUSAN MANAJEMEN 2014
  • 2.
    KATA PENGANTAR Puji syukurdan terima kasih penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan petunjuknya, serta dukungan serta doa dari orang tua, dosen, sahabat, dan teman-teman serta yang lainnya. Karena penulis dapat menyelesaikan tulisan ini berupa makalah dengan judul “Model pengambilan keputusan” untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori pengambilan keputusan. Alhamdulillah, akhirnya tugas makalah Teori pengambilan keputusan dapat diselesaikan. Penulis juga menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan maupun kekurangan, baik dari segi pengetikan, maupun materi yang di sajikan. Oleh sebab itu, saran dan kritik dari semua pihak yang terkait sangat di harapkan agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya. Tidak lupa pula penulis haturkan permohonan maaf sebesar- besarnya apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kata-kata yang salah dan tidak sesuai. Tanjung selor, November 2014 Penulis
  • 3.
    DAFTAR ISI KATA PENGANTAR..................................................................................... . i DAFTAR ISI.................................................................................................... . ii BAB I PENDAHULUAN......................................................................... . 1 1.1 Latar Belakang ........................................................................ . 1 1.2 Rumusan Masalah………...………………………………….. 1 1.3 Tujuan………………………………………………………... 1 BAB II PEMBAHASAN ........................................................................... . 2 2.1.Pengertian model pengambilan keputusan.............................. . 2 2.2.Klasifikasi model pengambilan keputusan………….............. .. 7 BAB III PENUTUP.................................................................................... . 17 2.1.Kesimpulan.............................................................................. . 17 2.2.Saran........................................................................................ . 17 DAFTAR PUSTAKA
  • 4.
    BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATARBELAKANG Berdasarkan pendekatan ilmu manajemen untuk memecahkan masalah digunakan model matematika dalam menyajikan system menjadi lebih sederhana dan lebih mudah dipahaminya. Pada umumnya model itu memberikan sarana abstrak untuk membantu komunikasi. Bahasa itu sendiri merupakan proses abstraksi, sedangkan matematika merupakan bahasa simbolik khusus Sehingga di setiap lini kehidupan kita perlu memikirkan model pengambilan keputusan yang akan digunakan untuk mengambil suatu keputusan, agar keputan yang kita ambil menjadi yang terbaik. 1.2 RUMUSAN MASALAH a. Apakah yang di maksud dengan model pengambilan keputusan. b. Apa saja yang terdapat di dalam klarifikasi model pengambilan keputusan. 1.3 TUJUAN a. Mengetahui pengertian model pengambilan keputusan. b. Mengetahui klarifikasi model pengambilaan keputusan.
  • 5.
    BAB II PEMBAHASAN 2.1 PengertianModel Pengambilan Keputusan Model adalah percontohan yang mengandung unsure yang bersifat penyederhanaan untuk dapat ditiru (jika perlu). Pengambilan keputusan itu sendiri merupakan suatu proses berurutan yang memerlukan penggunaan model secara cepat dan benar. Pentingnya model dalam suatu pengambilan keputusan, antara lain sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui apakah hubungan yang bersifat tunggal dari unsur-unsur itu ada relevansinya terhadap masalah yang akan dipecahkan diselesaikan itu. 2. Untuk memperjelas (secara eksplisit) mengenai hubungan signifikan diantara unsur-unsur itu. 3. Untuk merumuskan hipotesis mengenai hakikat hubungan-hubungan antar variabel. Hubungan ini biasanya dinyatakan dalam bentuk matematika. 4. Untuk memberikan pengelolaan terhadap pengambilan keputusan. Model merupakan alat penyederhanaan dan penganalisisan situasi atau system yang kompleks. Jadi dengan model, situasi atau sistem yang kompleks itu dapat disederhanakan tanpa menghilangkan hal-hal yang esensial dengan tujuan memudahkan pemahaman. Pembuatan dan penggunaan model dapat memberikan kerangka pengelolaan dalam pengambilan keputusan.
  • 6.
    Olaf Helmer menyatakanbahwa: karakteristik dari konstruksi. Model adalah abstraksi, elemen-elemen tertentu dari situasi yang mungkin dapat membantu seseorang menganalisis keputusan dan memahaminya dengan lebih baik. Untuk mengadakan abstraksi, maka pembuatan model sering kali dapat meliputi perubahan konseptual. Setiap unsur dari situasi nyata merupakan tiruan dengan menggunakan sasaran matematika atau sasaran fisik. Pembuatan dan penggunaan model menurut Kast, memberikan kerangka pengelolaan. Model merupakan alat penyederhanaan dan penganalisisan situasi atau system yang kompleks. Jadi dengan menggunakan model situasi yang kompleks disederhanakan tanpa penghilangan hal-hal yang esensial dengan tujuan untuk memudahkan pemahaman. Berdasarkan pendekatan ilmu manajemen untuk memecahkan masalah digunakan model matematika dalam menyajikan system menjadi lebih sederhana dan lebih mudah dipahaminya. Pada umumnya model itu memberikan sarana abstrak untuk membantu komunikasi. Bahasa itu sendiri merupakan proses abstraksi, sedangkan matematika merupakan bahasa simbolik khusus.
  • 7.
    Model pengambilan keputusandiantaranya: 1. Rasional, model perilaku manusia berdasarkan keyakinan bahwa orang- orang, organisasi, dan bangsa menjalankan kalkulasi pemaksimalan nilai, yang secara mendasar konsisten. Pengambialan keputusan yang rasional merukan proses yang komplek. Tahapan rasional decision making proses: a. Mengenal permasalahan. b. Definisikan tujuan. c. Kumpulkan data yang relevan. d. Identifikasi alternative yang memungkinkan (feasible). e. Seleksi kriteria untuk pertimbangan alternative terbaik. f. Modelkan hubungan antara kriteria, data, dan alternative. g. Prediksi hasil dari semua alternative. h. Pilih alternative terbaik. 2. Organisasional, model-model pengambilan keputusan yang memperhitungkan karakteristik politik dan structural dari organisasi. 3. Birokrasi, apapun yang dilakukan organisasi adalah hasil dari rutinitas dan proses bisnis yang terasah oleh penggunaan aktif selama bertahun- tahun.
  • 8.
    4. Keputusan klasik(classical dision), berpandangan bahwa manager bertindak dalam kepastian. Merupakan model yang sangat rasional untuk pembuatan keputusan manajerial. 5. Keputusan administrasi, menurut Herbert Simon, manager dalam pengambilan keputusan menghadapi 3 kondisi: a. Informasi tidak sempurna, dan tidak lengkap. b. Rasionalitas yang terbatas (bounded rasionality). c. Cepat puas (satisfice). Dan ada 3 konsep untuk membantu manajer menempatkan pembuatan keputusan dalam perspektif, yaitu: a. Rasionalitas terbatas dan memadai (bounded rationality and satisficing) Menekankan bahwa pembuatan keputusan harus menghadapi kenyataan tidak memadainya informasi mengenai sifat masalah dan menyelesaikan yang mungkin, kekurangan waktu dan uang untuk mengumpulkan informasi yang lebih lengkap, ketidakmampuan untuk mengingat sejumlah dasar informasi, dan batas- batas kecerdasan mereka sendiri. Yang perlu dipelajari oleh pembuatan keputusan efektif adalah menerima yang memadai dengan gambaran sasaran organisasi jelas terbayang dalam benak. b. Heuristic Orang yang tergantung pada prinsip heuristic / pedoman umum, untuk menyederhanakan pembuatan keputuasan
  • 9.
    c. Memutuskan siapayang membuat keputusan (bisa) Model rasional tidak memberikan pedoman mengenai siapa yang harus membuat keputusan, “siapa yang akan memutuskan?” merupakan keputusan pertama yang harus dibuat manajer. Keputusan ini bias sangat rumit. Proses pembuatan keputusan rasional: 1. Pengamatan situasi: definisikan masalah, tentukan tujuan, keputusan 2. Kembangkan alternative: cari alternative secara kreatif, jangan mengevaluasi dulu. 3. Mengevaluasi alternative dan memilih yang terbaik. 4. Implementasikan keputusan dan memonitor hasil: rencanakan implementasi, implementasi rencana, monitor implementasi dan buat penyesuaian yang perlu. Model pengambilan keputusan bisa dilakukan secara individual, kelompok, tim, panitiaan, dewan, komisi, atau cara reverendum mengajukan usul tertulis. Cara pengambilan keputusan denga cara mengolah data dan penilaian, baik kualitatif dan kuantitatif merupaka teknik pengambilan keputusan. Teknik pengambilan keputusan diperlukan suatu kemampuan.
  • 10.
    Setiap pengambilan keputusanselalu terdapat pertimbangan yang berasal dari: 1. Perasaan, firasat, feeling/ intuisi. 2. Pengumpulan, pengolahan, penilaian, dan interpretasi fakta-fakta secara rasional sistematis. 3. Pengalaman/ ervaring. 4. Kewibawaan, gezgag, atu pengaruh yang dipunyai oleh decision maker. 5. Kewenangan/ kekuasaan formal yang dimiliki oleh decision maker Jadi decision maker harus menentukan strategi dan metode pengambilan keputusan. Ke 5 hal diatas dimiliki oleh decision maker secara individual, maka ia dapat mengambil keputusan secara individual. 2.2 Klasifikasi model pengambilan keputusan: Mengingat begitu banyaknya cara untuk mengadakan klasifikasi model, dibawah ini disampaikan beberapa klasifikasi saja. 1. Tujuannya : model latihan, model penelitian, model keputusan, model perencanaan, dan lain sebagainya. Pengertian tujuan disini adalah dalam arti purpose. 2. Bidang penerapannya (field of application) : model tentang transportasi, model tentang persediaan barang, model tentang pendidikan, model tentang kesehatan, dan sebagainya.
  • 11.
    3. Tingkatannya (level): model tingkat manajemen kantor, tingkat kebijakan nasional, kebijakan regional, kebijakan local, dan sebagainya. 4. Ciri waktunya (time character) : model statis dan model dinamis. 5. Bentuknya (form) : model dua sisi, satu sisi, tiga dimensi, model konflik, model non konflik, dan sebagainya. 6. Pengembangan analitik (analytic development) : tingkat dimana matematika perlu digunakan; lain-lain. 7. Kompleksitas (complexity) : model sangat terinci, model sederhana, model global, model keseluruhan, dan lain-lain. 8. Formalisasi (formalization) : model mengenai tingkat dimana interaksi itu telah direncanakan dan hasilnya sudah dapat diramalkan, namun secara formal perlu dibicarakan juga. Klarifikasi model pengambilan keputusan menurut beberapa ahli : a. Quade membedakan model ke dalam dua tipe: 1. Model kuantitatif Model kuantitatif adalah serangkaian asumsi yang tepat yang dinyatakan dalam serangkaian hubungan matematis yang pasti. Ini dapat berupa persamaan, atau analisis lainnya, atau merupakan instruksi bagi computer, yang berupa program-program untuk computer. Adapun ciri-ciri pokok model ini ditetapkan secara lengkap melalui asumsi-asumsi, dan
  • 12.
    kesimpulan berupa konsekuensilogis dari asumsi-asumsi tanpa menggunakan pertimbangan atau intuisi mengenai proses dunia nyata (praktik) atau permasalahan yang dibuat model untuk pemecahannya. 2. Model kualitatif didasarkan atas asumsi-asumsi yang ketepatannya agak kurang jika dibandingkan dengan model kuantitatif dan ciri-cirinya digambarkan melalui kombinasi dari deduksi-deduksi asumsi-asumsi tersebut dan dengan pertimbangan yang lebih bersifat subjektif mengenai proses atau masalah yang pemecahannya dibuatkan model. b. Gullet dan Hicks klasifikasi model pengambilan keputusan: 1. Model Probabilitas Umumnya model-model keputusannya merupakan konsep probabilitas dan konsep nilai harapan member hasil tertentu (the concept of probability and expected value). Adapun yang dimaksud dengan probabilitas adalah kemungkinan yang dapat terjadi dalam suatu peristiwa tertentu (the chance of particular event occuring). Demikian juga halnya dengan probabilitas statistic atau proporsi statistic dikembangkan melalui pengamatan langsung terhadap populasi atau melalui sampel dari populasi tersebut.
  • 13.
    Banyak kemungkinan dalamrangka pengambilan keputusan dalam organisasi, yang semuanya bertujuan mendapatkan sesuatu yang diharapkan masa mendatang, misalnya agar nantinya dapat menanggulangi terhadap kesulitan-kesulitan dalam masa resesi, untuk dapat menaikkan tingkatan pendapatan masyarakat, lain sebagainya. 2. Konsep tentang nilai-nilai harapan (the Concept of Expectedvalue) Dapat digunakan dalam pengambilan keputusan yang akan diambilnya nanti menyangkut kemungkinan-kemungkinan yang telah diperhitungkan bagi situasi dan kondisi yang akan datang. Adapun nilai yang diharapkan dari setiap peristiwa yang terjadi merupakan kemungkinan terjadinya peristiwa itu dikalikan dengan nilai kondisional. Sedangkan nilai kondisionalnya adalah nilai dimana terjadinya peristiwa yang diharapkan masih diragukan. 3. Model Matriks Selain model probabilitas dan nilai harapan (probability and excpected value), ada juga model lainnya. Model lainnya adalah model matriks (the payoff matrix model). Model matriks merupakan model khusus yang menyajikan kombinasi antara strategi yang digunakan dan hasil yang diharapkan. Gullett dan Hicks mengatakan : “The payoff matrix is a particularly convenient method of displaying and summarizing the expected value alternative strategics”.
  • 14.
    Model matriks terdiridari dua hal, yaitu baris dan lajur . Baris (Row) bentuknya menjajar , sedangkan Lajur (Coloum) bentuknya menegak (vertical) . 4. Model Pohon Keputusan (Decision Tree Model) Suatu diagram yang cukup sederhana yang menunjukkan suatu proses untuk merinci masalah-masalah yang dihadapinya kedalam komponen-komponen, kemudian dibuatkannya alternatif-alternatif pemecahan beserta konsekuensi masing-masing. Pohon keputusan dipergunakan untuk memecahkan masalah- masalah yang timbul dalam proyek yang sedang ditangani. Welch and Comer memberikan definisi sebagai berikut : “The decision tree is a simple diagram showing the possible consequences of alternative decision. The tree includes the decision nodes chance modes, pay offs for each combination, and the probabilitie of each event.” Menurut Welch, ada 4 komponen dari pohon keputusan yakni : 1. Simpul Keputusan, 2. Simpul Kesempatan, 3. Hasil dari kombinasi, dan 4. Kemungkinan-kemungkinan akibat dari setiap peristiwa yang terjadi. Diagram pohon ini salah satu lanngkah yang diperlukan dalam pengambilan rancangan bangun proyek
  • 15.
    Adapun langkah-langkah perludilakukan secara berturut-turut sebagai berikut: a. Mengadakan indentifikasi jaringan hubungan komponen-komponen yang ada secara bersama-sama membentuk masalah tertentu yang nantinya harus dipecahkan melalui diagram keputusan. b. Masalah utama iitu kemudian dirinci kedalam masalah yang lebih kecil. c. Masalah yang sudah mulai terinci itu kemudian dirinci lagi kedalam masalah yang lebih kecil. 5. Model kurva Indiferen (Kurva Tak Acuh) Kurva berbentuk garis dimana titik yang berada pada garis kurva tersebut mempunyai tingkat kepuasan atau kemanfaatan yang sama. Kurva Indiferen mempunyai 4 ciri penting , yaitu : a. Kurva indiferen membentuk lereng yang negatif. Kemiringan yang ngatif menunjukkan fakta atau asumsi bahwa satu dapat diganti dengan komoditas lain sehingga konsumen mempunyai tingkat kepuasan yang tetap sama. b. Jika ada dua kurva indiferen dalam suatu keadaan atau lingkupan maka keduanya tidak akan saling berpootngan c. Hasil yang diperoleh dari asumsi ialah bahwa kurva indiferen ditarik melalui setiap titik sehingga membentuk gari kurva. d. Kurva indiferen dibutuhkan bagi pengorbanaan tertentu untuk mendapatkan kepuasan yang optimal.
  • 16.
    6. Model SimulasiKomputer Pengambilan keputusan siperlukan rancangan bangun (design) yang biasanya menggunakan komputer yang mampu menirukan apa-apa yang dilakukan organisasi. c. Robert D.Spech mengelompokkan model dalam rangka analisis kebijakan pengambilan keputusan ke dalam 5 kategori yakni sebagai berikut. 1. Model Matematika menggunakan teknik seperti misalnya linear programming, teori jaringan kerja, dsb. komputer dapat digunakan begitu pula dengan kalkulator yang dapat digunakan sebagai alat perhitungan saja bukan sebagai simulator. 2. Model Simulasi Komputer merupakan tiruan dari kasus yang sesungguhnya. Ada yang dibuat dengan peralatan dan ukuran yang sama persis dengan yang sesungguhnya. 3. Model Permainan Operasional Dalam model ini manusia dijadikan objek yang harus mengambil keputusan. Informasi diperoleh dari komputer atau video game yang menyajikan masalahnya. Misalnya seperti pada permainan perang-
  • 17.
    perangan (war games),videomemberikan informasi dan menyajikan masalah yang berupa datangnya musuh yang akan menyerang kita dengan macam-macam cara penyerangan. Kita diminta mempertahankan diri dan menghancurkan musuh dengan peralatan yang telah disediakan pada video games tersebut. 4. Model verbal Model verbal adalah model pengambilan keputusan berdasarkan analogi yang lebih bersifat bukan kuantitatif. Dari analog itu kemudian dibuat dalilnya yang kemudian diterapkan untuk menyimpulkan dan mengambil keputusan yang nonkuantitatif. Anthony down memberikan contoh model verbal yang berupa atau menyangkut birokrasi. Down memandang birokrasi sebagai organisasi yang memiliki 4 ciri,sebagai berikut. 1. Birokrasi mempunyai lingkungan yang cukup luas dimana peringkat tertinggi hanya mengetahui kurang dari setengah dari seluruh anggotanya secara pribadi. Ini berarti bahwa birokrasi itu menghadapi masalah administratif substansial. 2. Bagian terbesar dari anggotanya adalah karyawan penuh yang sangat menggantungkan dari pada kesempatan kerja dan gajinya pada organisasi itu. Ini berarti bahwa pada anggotanya sangat terikat pada pekerjaannya.
  • 18.
    3. Upahnya, kenaikanpangkatnya, dan sebagainya itu sangat tergantung pada prestasinya dalam organisasi itu atau ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh organisasi tersebut. 4. Sebagian besar dari hasil itu secara tidak langsung dinilai dalam pasaran. Prestasi kerja para anggota atau karyawan secara tidak langsung juga ikut menentukan pasaran hasil organisasinya/perusahaannya. Dengan demikian, maka faktor intern (fungsi) dan faktor ekstern (lingkungan) ikut berperan dan oleh karena itu perlu mendapat perhatian. Dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pimpinan, maka analogi terhadap berlakunya dalil dan faktor-faktor tersebut harus juga menjadi bahan pertimbangan. 5. Model fisik Dalam menjalankan kebijakan pemerintah model fisik ini tidak begitu penting untuk dianalisis. Model ini,misalnya model dalam rangka pembuatan bangunan atau tata kota. Dalam model pengambilan bangunan misalnya berlaku model perencanaan jaringan kerja atau model PERT dan yang sejenisnya. Model ini merupakan serangkaian keputusan dalam program pembangunan dan pengembangan yang cukup kompleks. Bagian- bagian mana yang dapat dilakukan secara serentak, dalam arti tidak usah
  • 19.
    berurutan dan bagian-bagianmana yang mengerjakan bagian berikutnya. Ini lebih merupakan tugas dan pengambilan keputusan seorang insinyur daripada policy maker.
  • 20.
    BAB III PENUTUP 3.1 SARAN Untukmengambil suatu keputusan sebaiknya kita memperhatikaan berbagai model pengambilan keputusan terlebih dahulu agar pengambilan keputusan kita itu bisa lebih baik. 3.2 KESIMPULAN Pengambilan keputusan itu dapat di lakukan dengan sederhana, tetapi dapat juga tidak sederhana sehingga memerlukan model, model pengambilan keputusan yang canggih. Apakah pengambilan keputusan itu membutuhkan rasio, emosi, bahkan kadang-kadang dibutuhkan sesuatu yang rasional. Pengartian rasional disni mengacu pada prinsip efisiensi. Jika ada tekanan dari kelompok organisasi dan motivasi yang bersifat pribadi dari pimpinan akan berakibat keputusannya kurang objektif, sehingga tidak menjadi keputusan yang terbaik.