ASBAB AN-NUZUL AL-QUR’AN 
MAKALAH 
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah 
“Ulumul Qur’an” 
Dosen pembimbing : 
Afiful Ikhwan M.Pd. I 
Oleh : 
1. Risma Riszki Amalia 
Nim: 2013.4.047.0001.1.001704 
2. Niken Saputri 
Nim : 2013.4.047.0001.1.001696 
PAI – SMT 2 
KAMPUS UNIT CAMPURDARAT 
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MUHAMMADIYAH 
(STAIM) TULUNGANGUNG 
April 2014
KATA PENGANTAR 
Alhamdulillah, Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala 
limpahan Rahmat, Taufik dan Hinayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan 
penyusunan makalah ini yang berjudul “ASBABUN NUZUL AL-QUR’AN” 
dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. 
Shalawat dan salam tak lupa kita panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW 
beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya yang telah memperjuangkan Agama 
Islam hingga sampai kepada kita. 
Adapun sesudah itu, kami menyadari bahwa mulai dari perencanaan 
sampai penyusunan makalah ini,kami telah banyak mendapat bantuan dari 
berbagai pihak.Oleh karena itu dengan segala hormat kami sampaikan rasa terima 
kasih yang sedalam-dalamnya kepada : 
1. Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) 
Tulungagung Bapak Nurul Amin M.Ag 
2. Dosen pengampu yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan 
makalah ini Bapak Afiful Ikhwan M.Pd I 
3. Orang tua, teman – teman dan seluruh pihak yang ikut berpartisipasi 
ii 
dalam penyelesaian makalah. 
Atas bimbingan, petunjuk dan dorongan tersebut kami hanya dapat berdo’a 
dan memohon kepada Allah SWT semoga amal dan jerih payah mereka menjadi 
amal soleh di mata Allah SWT. Amin. 
Dan dalam penyusunan makalah ini kami sadar bahwa masih banyak 
kekurangan dan kekeliruan, maka dari itu kami mengharapkan keritikan positif, 
sehingga bisa diperbaiki seperlunya. 
Akhirnya semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu 
acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan 
Amin Yaa Robbal ‘Alamin. 
(PENYUSUN)
DAFTAR ISI 
Halaman Judul ……………………………………………….…..… i 
Kata Pengantar …………………………………………………..…. ii 
Daftar Isi …………………………………………………..…. iii 
BAB I PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang Masalah ……………………………….. 1 
B. Rumusan Masalah ……………………………………… 2 
C. Tujuan Masalah ………………………………………… 2 
iii 
BAB II PEMBAHASAN 
ASBAB AN-NUZUL 
A. Pengertian Asbab An-nuzul …………………………….. 3 
B. Macam – macam Asbab An-nuzul.……………………… 4 
C. Ungkapan – ungkapan Asbab An-nuzul ………………… 10 
D. Kaidah – kaidah Asbab An-nuzul………………………... 10 
E. Kegunaan Asbab An-nuzul………………………………. 13 
BAB III PENUTUP 
Kesimpulan ………………………………………………….. 17 
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………..... 19
BAB I 
PENDAHULUAN 
1 
A. Latar Belakang Masalah 
Al-Qur’an bukan merupakan sebuah “buku” dalam pengertian umum, 
karena tidak pernah diformulasikan, tetapi diwahyukan secara berangsur – angsur 
kepada Nabi Muhammad SAW. Pewahyuan Al-Qur’an secara total dalam sekali 
waktu secara sekaligus adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena pada 
kenyataannya Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi kaum muslimin secara 
berangsur – angsur sesuai dengan kebutuhan – kebutuhan yang timbul. 
Sebagian tugas untuk memahami pesan dari Al-Qur’an sebagai suatu 
kesatuan adalah mempelajarinya dalam konteks latar belakangnya. Latar belakang 
yang paling dekat adalah kegiatan dan perjuangan Nabi yang berlangsung selama 
dua puluh tiga tahun di bawah bimbingan Al-Qur’an. Terhadap perjuangan Nabi 
yang secara keseluruhan sudah terpapar dalam sunnahnya, kita perlu 
memahaminya dalam konteks perspektif, karena aktivitas Nabi berada di 
dalamnya. Tanpa memahami masalah ini, pesan Al-Qur’an sebagai suatu 
kebutuhan tidak akan dapat dipahami. Orang akan salah menangkap pesan – pesan 
Al-Qur’an secara utuh, jika hanya memahami bahasanya saja, tanpa memahami 
konteks historisnya. Agar dipahami secara utuh, Al-Qur’an harus dicerna dalam 
konteks perjuangan Nabi dan latar belakang perjuangannya. Oleh sebab itu, 
hampir semua literatur yang berkenaan dengan Al-Qur’an menekankan 
pentingnya asbab an-nuzul.1 
Mengungkapkan sebab turunnya ayat Al Quran melalui kisah adalah suatu 
cara menerangkan yang jelas mengenai sesuatu yang bernilai tinggi. Hal itu 
seolah-olah merupakan puncak keindahan seni sastra disamping tujuan mulia 
agama. Asbabun Nuzul tidak lain adalah kisah nyata, baik penyajiannya dan 
pemecahannya, kerumitannya dan keruwetannya, maupun manusia-manusia, 
1 Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010), hlm. 59.
2 
pelakunya serta kejadian peristiwanya. Dengan demikian ayat-ayat Al Quran 
senantiasa dibaca orang pada setiap waktu dan tempat dengan minat yang amat 
besar. Pembacanya sama sekali tidak merasa bosan, kendati berulang kali 
menjumpai hikayat manusia terdahulu. Setiap saat dirasakan sebagai kisah kita 
sendiri. 
Itulah sebabnya banyak orang tidak mengutahui asbab an-nuzul 
terperosok kedalam kebingungan dan keragu-raguan. Mereka mengartikan ayat-ayat 
Al Quran tidak sebagaimana yang dimaksud oleh ayat-ayat itu sendiri. 
Mereka tidak dapat memahami dengan tepat hikmah illahi didalam ayat yang 
diturunkan-Nya 
B. Rumusan Masalah 
1. Apa pengertian asbab an-nuzul ? 
2. Sebutkan dan jelaskan macam – macam Asbab an-Nuzul ! 
3. Bagaimana ungkapan-ungkapan asbab an-nuzul ? 
4. Jelaskan kaidah-kaidah Asbab an-Nuzul! 
5. Apa kegunaan asbab an-nuzul ? 
C. Tujuan Masalah 
1. Untuk mengetahui pengertian asbab an-nuzul 
2. Untuk mengetahui macam-macam asbab an-nuzul 
3. Untuk mengetahui ungkapan-ungkapan asbab an-nuzul 
4. Untuk mengetahui kaidah-kaidah asbab an-nuzul 
5. Untuk mengetahui kegunaan asbab an-nuzul
BAB II 
PEMBAHASAN 
3 
A. Pengertian asbab al-nuzul 
Secara etimologis asbab al nuzul terdiri dari kata “ أسَْبَا بٌ ” (bentuk jama’ 
dari kata “ السَبَ بٌ ”) yang mempunyai arti latar belakang, alasan atau sebab/illat2. 
Sedang kata “ اٌلن زوْ لٌ ” berasal dari kata “ نٌَزَلٌَ ” yang berarti turun3. 
Banyak pengertian terminologi yang dirumuskan para ulama’, diantaranya: 
1. Az Zarqani 
“Asbab An-Nuzul” adalah suatu kejadian yang menyebabkan turunya satu 
atau beberapa ayat, atau suatu peristiwa yang dapat dijadikan petunjuk 
hukum berkenaan dengan turunnya suatu ayat.”4 
2. As-Suyuthi 
”Asbabun Nuzul adalah peristiwa yang terjadi sebelum turun ayat, 
sedangkan sesudah turunnya ayat tidaklah disebut asbab”.5 
3. Ash-Shabuni 
“Asbab an-Nuzul” adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan 
turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan 
peristiwa dan kejadian tersebut,baik berupa pertanyaan yang diajukan 
kepada nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.” 
4. Shubhi Shalih 
“Asbab an-Nuzul adalah Sesutu yang menjadi sebab turunnya satu atau 
beberapa ayat Al Qur’an (ayat-ayat) terkadang menyiratkan peristiwa itu 
sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum pada 
saat peristiwa itu terjadi”6 
5. Mana’Al-Qthathan 
2 Ahmad warson munawwir, kamus arab indonesia al-munawwir (Surabaya: pustaka 
progressif, 1997), hlm. 602. 
3 Ibid, hlm.1409. 
4 Muhammad Abdul Azhim az-Zarqani, Manahilul ‘Irfan fi Ulumil Qur’an (Beirut: Darul 
Hayat al-Kitab al-Arabiyyah, t.th, ), hlm. 22. 
5 Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulumi Qur’an, (Beirut: Daul Fikr, t.th.), hlm 29-30. 
6 Subhi as-Shalih, Mabahits fi Uluail Qur’an, (Beirut: Darul Ilmi, t.th.), hlm. 132.
4 
“Asbab An-Nuzul” adalah peristiwa-pwristiwa yang menyebabkan 
turunnya Al-Qur’an berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi, baik 
berupa suatu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada 
nabi”.7 
Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa asbab an-nuzul 
adalah kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat Al-Qur’an. 
Bentuk-bentuk yang melatarbelakangi turunnya Al-Qur’an ini sangat beragam, di 
antaranya berupa: konflik sosial, seperti ketegangan yang terjadi antara suku aus 
dan suku khazraj, kesalahan besar, seperti kasus seorang sahabat yang mengimami 
sholat dalam keadaan mabuk,dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh 
sahabat kepada nabi baik berkaitan dengan sesuatu yang telah lewat,sedang atau 
yang akan terjadi. Dan setelah dikaji dengan cermat, sebab turunnya suatu ayat itu 
berikisar pada dua hal: 
• Jika terjadi suatu peristiwa, maka turunlah ayat Al-Qur’an mengenai peristiwa 
itu. 
• Bila Rasulullah S.A.W ditanya tentang sesuatu hal, maka turunlah ayat Al- 
Qur’an menerangkan hukumnya. 
B. Macam-macam Asbab An-Nuzul 
DR. Rosihon Anwar, M.Ag. menyebutkan dalam bukunya ulumul Qur’an, 
bahwa ada dua hal yang menjadi sudut pandang dalam membagi macam-macam 
asbabun nuzul, yaitu: 
1. Dilihat dari sudut pandang redaksi yang dipergunakan dalam riwayat 
asbab an-nuzul 
a) Sarih (jelas) 
Artinya riwayat yang memang sudah jelas menunjukkan asbab an-nuzul, 
dan tidak mungkin pula menunjukkan yang lainnya. Redaksi 
yang digunakan termasuk sharih bila perawi mengatakan : 
7 Dede Rosyada, Al-Quran Hadis (Jakarta: Dirjen Bimbaga Islam,1998), hlm. 69.
5 
... سَ بَ بَ نَ ز وَ لَ هَ ذَ هَ اَلآي ةَ هَ ذَا 
Artinya: 
Sebab turun ayat ini adalah ... 
حَ دَ ثَ هَ ذَا... فَ ن ز لَ تَ اَلآي ة Artinya: 
Telah terjadi …… maka turunlah ayat.... 
سَ ئَ لَ ر سَ وَ لَ اللَ عَ نَ كََ ذَا... فَ ن ز لَ تَ اَلآي ة Artinya: 
Rasulullah pernah ditanya tentang …… maka turunlah ayat. 
b) Muhtamilah (masih kemungkinan atau belum pasti) 
Riwayat belum dipastikan sebagai asbab an-nuzul karena masih 
terdapat keraguan. 
...نَ ز لَ تَ هَ ذَ هَ اَلآي ة فَ كََ ذَا 
Artinya: 
(ayat ini diturunkan berkenaan dengan) 
...ا حَ سَ بَ هَ ذَ هَ اَلآي ة نََ ز لَ تَ فَ كَ ذَا 
Artinya: 
(saya kira ayat ini diturunkan berkenaan dengan ……) 
... مَا اَ حَ سَ بَ نََ ز لَ تَ هَ ذَ هَ اَلآي ة اَلََّ فَك كَ ذَا 
Artinya: 
(saya kira ayat ini tidak diturunkan kecuali berkenaan dengan …) 
2. Dilihat dari sudut pandang terbilangnya asbabun nuzul untuk satu ayat 
atau terbilangnya ayat untuk satu sebab asbab an-nuzul. 
a) Berbilangnya asbab an-nuzul untuk satu ayat (Ta’adud As-Sabab 
wa Nizil Al-Wahid)
6 
Untuk mengetahui variasi riwayat Asbab an-Nuzul dalam satu ayat 
dari sisi redaksi, para ulama mengemukakan cara sebagai berikut: 
§ Tidak mempermasalahkannya 
Cara ini ditempuh apabila menggtunakan redaksi muhtamilah. 
§ Mengambil versi riwayat Asbab an-Nuzul yang menggunakan 
redaksi shorih. 
§ Mengambil versi riwayat yang shohih (valid)8 
b) Berbilangnya ayat untuk satu asbab an-nuzul (Ta’adud Nazil wa 
As-Sabab Al-Wahid) 
Terkadang suatu kejadian dapat menjadi sebab bagi turunnya dua 
ayat atau lebih. 
contoh satu kejadian yang membuat dua ayat diturunkan sedang 
antara satu dengan yang lainnya berselang lama adalah riwayat 
asbab annuzul yang yang diriwayatkan Ibn Jarir Ath-Thabari , dan 
Ibn Mrdawiyah dari Ibn Abbas : 
كَا نَ ر سَ وَ لَ اللَ صَ.م. جَا لَ سَا فَ لََى شَ جَ ر ةَ,ف قَا لَ :َ اَنَ ه سَ يَأ ت ي كَ مَ اَنَ سَا نَ يَ نَ ظ رََ 
بَ عَي نَ اَلشََي ط ا نَ فَ ا ذ ا جَاء فَ لَ تَ كَلََ مَ وَه فَ لَ مَ يَ لَ ب ثَ أَ نَ اَ ط ل عَ ر جَل أَ زَ ر قَ اَل عَي ن يَ فَ دَا عَاَ 
ر سَ وَ لَ اللَ صَ.م. عَلم تَشتموني اَ نَ تَ وَا صَ حَابَ كَ فَ انَ ط ل قَ اَل ر جَ وَ لَ فَ جَاء لِ صَ حَا بَ هََ 
ف حَل ف وَا بَا اللَ مَا قَ ال وَا حَتََّ اََ وَزعنهم فَ أن ز لَ اَلل :َ يَ ل ف و نَ با للَّ ما قَ ال وا و ل قَ دَ قَ ال واََ 
كل مة اَل ك ف رَ و ك ف روا بَ ع دَ إ س ل م ه مَ و هَُّوا بِ ا لَ يَ نال وَا و ما نَ ق موا إلََّ أَ نَ أَ غ نا هم اَللَّ و ر سول ه م نَ فَ ضل هَ فَ إ نَ يَ ت وب وا يَ كَ خي را لَ مَ و إ نَ يَ ت ولَ وا يَ ع ذب هم اَللَّ ع ذاب ا أَ لي ما فََ 
الدُّن يا وا لآ خ ر ةَ و ما لَ مَ فَ اَ لِ ر ضَ م نَ و ل و لَّ نَ صيرَ 
“Ketika rasulullah duduk dibawah naungan pohon kayu beliau 
bersabda akan datang kamu seorang manusia yang memandang 
dengan mu dengan dua mata setan janganlah kalian ajak bicara jika 
ia datang menemuimu, tidak lama sesudah itu datanglah seorang 
lelaki yang bermata biru rasulullah kemudian memanggilnya dan 
bertanya mengapa engkau dan teman-temanmu memakiku,? Orang 
tersebut pergi dan datang kembali beserta teman-temannya mereka 
8Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an, hlm. 67.
7 
bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak menghina nabi, 
terus menerus mereka mengatakan demikian sampai nabi 
mema’afkannya maka turunlah surat at taubah [9] ayat 74 : 
”Mereka orang-orang munafik bersumpah dengan nama Allah 
bahwa mereka tidak mengatakan sesuatu yang menyakitimu 
sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan 
telah mejadi kafir sesudah islam dan mengimani apa yang tida 
dapat meraka tidak dapat mencapainya dan mereka tidak mencela 
kepada allah dan rasulnya kecuali karena allah dan rasulnya te;ah 
melimpahkan karunia- Nya kepada mereka maka jika mereka 
bertaubat maka itu lebih baik bagi nereka jika meraka berpaling 
maka allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di 
dunia dan di akhirat dan mereka sekali kali tidak mempunyai 
pelindung dan penolong di muka bumi.”9 
Demikin pula riwayat al hakim dengan redaksi yang sama dan 
mengatakan maka Allah menurunkan surat al mujadalah [58] ayat 
18-19.” 
ي و مَ يَ ب عث هم اَللَّ جَي عا فَ ي حل ف و نَ له كَ ما يَ ل ف و نَ ل ك مَ و يَ سب و نَ أَ ن ه مَ عل ى ش يَ ءَ أَ لََّ 
إن ه مَ هم اَل كا ذب و نَ )َ 81 ( اَ س ت ح وذ عل ي هم اَلشَي ط ا نَ فَ أ ن سا ه مَ ذ ك رَ اَ للَّ أَ و ل ئ كَ ح ز بََ 
) الشَي ط ا نَ أَ لَّ إنََ ح ز بَ اَلشَي ط ا نَ هم اَ لْ ا س رو نَ )َ 81 
“(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, lalu 
mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang 
musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka 
menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu 
(manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang 
pendusta. Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan 
mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. 
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan 
yang merugi”.(QS Al Mujadalah : 18-19) 10 
3. Dilihat dari segi bentuk turunnya ayat, asbab an-nuzul dibagi menjadi 2 
yaitu: 
1) Berbentuk peristiwa 
9 Santri kuliah, Ulumul Qur’an… dalam http://jendelaakhirat.blogspot.com// diakses pada 
Selasa 18 Maret 2014 pukul 09.20 WIB 
10 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya (Jakarta: CV Darus Sunnah, 2002), 
hlm. 545.
8 
a) Peristiwa berupa pertengkaran atau persengketaan, seperti 
perselisihan antar golongan suku Aus dan golongan suku 
Khazraj. Perselisihan itu timbul karena hasil adu domba yang 
dilakukan oleh orang-orang yahudi. Peristiwa tersebut melatar 
belakangi turunnya beberapa ayat, surat Ali Imran: 100. 
ي ا أَ ي ها اَلَ ذي ن آَ من وا إ ن تَ طيع وا فَ ري قا م ن اَلَ ذي ن أَ وت وا اَل كَ تا ب يَ ردُّو ك م بَ ع د إي ان ك مََ 
كاف ري نَ 
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti 
sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya 
mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah 
kamu beriman.” (Q.S. Ali Imran: 100 ).11 
b) Peristiwa berupa kesalahan yang serius, seperti peristiwa 
seorang sahabat yang mengimami dalam keadaan mabuk, 
sehingga mengalami kekeliruan dalam membaca surat setelah 
surat Al Fatihah. Peristiwa itu menyebabkan turunnya firman 
Allah surat An Nisa’: 43. 
ي ا أَ ي ها اَلَ ذي نَ آَ من وا لَّ ت ق رب وا اَلصَ لة وأ ن ت مَ س كا رى حتََّ ت عل موا ما ت ق ول و نَ وَ لََّ 
جن با إلََّ عا ب ري س بي لَ حتََّ ت غ ت سل وا و إ نَ كن ت مَ مَ ر ىَ أَ وَ عل ى س ف رَ أَ وَ جاء أ ح دَ من ك مَ م نَ اَل غ ائ طَ أَ وَ لّ م ست م اَل ن ساء فَ ل مَ دوا مَاء فَ ت يمَ موا صع ي دا طَ ي باَ 
ف ا م س حوا ب و جو ه ك مَ وأ ي دي ك مَ إنََ اَللَّ كَا نَ عف وًّا غف و را 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang 
kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang 
kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu 
dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga 
kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir 
atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh 
perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka 
bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah 
mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi 
Maha Pengampun”. (QS : An Nisa’: 43 )12 
11 Ibid, hlm. 63. 
12 Ibid, hlm. 86.
9 
c) Peristiwa berupa hasrat, cita-cita atau keinginan-keinginan 
seperti kesesuaian (muafqat) hasrat dan keinginan Umar bin 
Khattab dengan ketentuan –ketentuan ayat-ayat Al Quran yang 
diturunkan Allah. Menurut riwayat dari sahabat Anas ra. Ada 
beberapa harapan Umar yang dikemukakan kepada Rasulullah, 
kemudian turunlah ayat-ayat yang kandungannya seperti 
harapan tersebut. Seperti Umar pernah berkata kepada 
Rasulullah saw. “ya, Rasulullah, bagaimana kalau sekiranya kita 
jadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat?” maka turunlah 
ayat : Al Baqarah ayat 125.13 
و إذ ج عل نا اَل ب ي تَ م ثاب ة للنَا سَ وأ م نا وا تَّ ذوا م نَ مَ قا مَ إب را هي مَ مَ صلًّى و ع ه دن ا إ لََ 
إب را هي مَ و إ سْ ا عي لَ أَ نَ طَ ه را بَ ي تَ للطَائ ف يَ وال عَاك ف يَ والرُّكَ عَ اَلسُّ جو دَ 
“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) 
tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan 
jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah 
Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah 
rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang 
rukuk dan yang sujud".(QS. Al Baqarah ayat 125)14 
2) Berbentuk pertanyaan 
Pertanyaan yang berhubungan dengan peristiwa masa lalu, 
seperti kisah Ashabul kahfi dan Dzulkarnain. Pertanyaan yang 
berhubungan dengan sesuatu yang masih berlansung (pada saaat 
itu). Seperti pertanyaan orang-orang yahudi mengenai ruh. Yang 
terdapat dalam firman Allah surat Al- Isra’ ayat 85. 
وي سأ ل ون ك ع ن اَلرُّو ح قَ ل اَلرُّو ح م ن أَ م ر ر بّ و ما أَ وت يت م م ن اَل ع ل م إلَّ قَ ل ي لَ 
”Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh 
itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi 
pengetahuan melainkan sedikit".( Q.S Al-Isra’ : 85 )15 
13 Ramli Abdul Wahid, Ulumul Quran, (Jakarta: Rajawali Press 1993), hlm.30-31. 
14 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, hlm. 20. 
15 Ibid, hlm. 291.
10 
Pertanyaan berhungan dengan masa yang akan datang. Seperti 
pertanyaan orang-orang kafir Quraisy tentang hari kiamat yang 
diabadikan dalam firman Allah surat An-Nazi’at ayat 42-43. 
) ي سأ ل ون ك ع ن اَلسَا ع ة أَ ياَ ن مَ ر سا ها )َ 24 ( فَ ي م أَ ن ت م ن ذ كَ را ها )َ 24 
“(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang 
hari berbangkit, kapankah terjadinya?. Siapakah kamu 
(sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)?”. (Q.S An-Nazi’at: 
42-43)16 
C. Ungkapan-ungkapan Asbab An-Nuzul 
Para sahabat dalam menuturkan sebab nuzul menggunakan ungkapan yang 
berbeda antara suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Perbedaan ungkapan 
tersebut tentunya mengandung perbedaan makna yang memiliki implikasi pada 
status sebab nuzulnya. 
Macam-macam ungkapan yang digunakan sahabat dalam 
mendeskribsikan asbab an-nuzul antara lain: 
1. kata سبب (sebab). Contohnya seperti: 
سَبَبُ نـزُُوْلِ هَـذِهِ الاَ يَةِ ك ذا … (sebab turunnya ayat ini demikian …) 
Ungkapan (redaksi) ini disebut sebagai redaksi atau ungkapan yang sharih 
(jelas/tegas). Maksudnya, sebab nuzul yang menggunakan redaksi seperti ini 
menunjukkan betul-betul sebagai latar belakang turunnya ayat, tidak 
mengandung makna lain. 
2. kata فـــ (maka). Contohnya seperti: 
حَدَثَتَ كَذَا وَ كَذَا فَـنَـزَ لَت الآي ة (telah terjadi peristiwa ini dan itu, maka turunlah 
ayat). Ungkapan ini mengandung pengertian yang sama dengan penggunaan 
kata sababu, yakni sama-sama sharih (jelas/tegas). 
3. kata في (mengenai/tentang). Contohnya seperti: 
16Ibid, hlm 585.
11 
نَـزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ فِِْ كَذَا و كَـذَا … (ayat ini turun mengenai ini dan itu). Ungkapan 
seperti ini tidak secara tegas (ghairu sharih) menunjukkan sebab turunnya 
suatu ayat. Akan tetapi masih dimungkinkan mengandung pengertian lain.17 
D. Kaidah-kaidah Asbab An-Nuzul. 
Dalam memahami makna ayat Alquran yang mengandung lafal umum dan 
dikaitkan dengan sebab turunnya, para ulama berbeda pendapat dalam 
menetapkan dasar pemahaman.Karena itu, berkaitan dengan masalah ini ada dua 
kaedah yang bertolak belakang. 
Kaedah pertama menyatakan: 
ا لع ب رة بع م و م اَللَ ف ظ لّ بِ ص و ص اَلسَ ب بَ 
(penetapan makna suatu ayat didasarkan pada bentuk umumnya lafazh (bunyi 
lafazh), bukan sebabnya yang khusus). 
Kaedah kedua menyatakan sebaliknya: 
ا لع ب رة بِ ص و ص اَلسَ ب ب لّ بع م و م اَللَ ف ظَ 
(penetapan makna suatu ayat didasarkan pada penyebabnya yang khusus (sebab 
nuzul), bukan pada bentuk lafazhnya yang umum). 
Contoh Penerapan Kaedah Pertama. 
Firman Allah, Surat An-Nur ayat 6 : 
وَالَّذِينَ يَـرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلََْ يَكُنْ لََمُْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْـفُسُهُمْ ف شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ 
بِاللََِّّ إِنهَُّ لَمِنَ الصَّادِقِيَ 
”Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak 
mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah 
empat kali bersumpah dengan nama Allah, bahwa sesungguhnya dia adalah 
termasuk orang-orang yang benar”. [Q.S. An-Nur: 6]18. 
17 Danang, Ulumul Qur’an…… dalam 
(http://danankphoenix.wordpress.com/2010/03/30/asbabun-nuzul// diakses pada Selasa 18 Maret 
2014 pukul 09.20 WIB 
18 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, hlm. 351.
12 
Jika dilakukan pemahaman berdasarkan bentuk umumnya lafal terhadap 
surat An-Nur ayat 6 di atas, maka keharusan mengucapkan sumpah dengan nama 
Allah sebanyak empat kali bahwa tuduhannya adalah benar, berlaku bagi siapa 
saja (suami) yang menuduh isterinya berzina. Pemahaman yang demikian ini 
(berdasarkan umumnya lafal) tidak bertentangan dengan ayat lain atau hadits atau 
ketentuan hukum yang lainnya. 
Contoh Penerapan Kaedah Kedua, 
Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 115 : 
و للّ اَل م ش ر ق وال مغ ر ب فَ أ ي ن ما تَ ولُّوا فَ ثمَ و جه اَ للّ إنَ اَللَّ وا سع عل يم ”Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, maka ke mana pun kamu menghadap 
di situ-lah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas Rahmat-Nya, lagi Maha 
Mengetahui”. (Q.S. Al-Baqarah: 115)19. 
Jika dalam memahami ayat 115 ini kita terapkan kaedah pertama, maka 
dapat disimpulkan, bahwa shalat dapat dilakukan dengan menghadap ke arah 
mana saja, tanpa dibatasi oleh situasi dan kondisi di mana dan dalam keadaan 
bagaimana kita shalat. Kesimpulan demikian ini bertentangan dengan dalil lain 
(ayat) yang menyatakan, bahwa dalam melaksanakan shalat harus menghadap ke 
arah Masjidil-Haram. Sebagaimana ditegaskan dalam firman Alllah : 
و م ن حي ث خ ر ج ت فَ و ل و ج ه ك شط ر اَل م س ج د اَ لْ را م و إنَه لل حقَُّ م ن ر ب ك و ما اَللَّ بغ اف ل عَمَاَ 
ت ع مل و نَ 
”Dan dari mana saja kamu keluar (datang), Maka palingkanlah wajahmu ke arah 
Masjidil Haram, Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari 
Tuhanmu. dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. 
Al-Baqarah: 149)20. 
Akan tetapi, jika dalam memahami Surat Al-Baqarah ayat 115 di atas 
dikaitkan dengan sebab nuzulnya, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah, 
bahwa menghadap ke arah mana saja dalam shalat adalah sah jika shalatnya 
19 Ibid, hlm. 19. 
20 Ibid, hlm. 24.
13 
dilakukan di atas kendaraan yang sedang berjalan, atau dalam kondisi tidak 
mengetahui arah kiblat (Masjidil-Haram). Dalam kasus ayat yang demikian ini 
pemahamannya harus didasarkan pada sebab turunnya ayat yang bersifat khusus 
dan tidak boleh berpatokan pada bunyi lafazh yang bersifat umum. 
E. Kegunaan Asbab An-Nuzul 
Adapun kegunaan yang diperoleh dalam mengetahui Asbabun Nuzul 
dalam kaitannya dengan memahami makna daripada ayat-ayat suci Al-Qur’an 
secara rinci Al-Zarqani menyebutkan tujuh macam manfaat atau faidah, sebagai 
berikut : 
1. Pengetahuan tentang asbab nuzul membawa kepada pengetahuan tentang 
rahasia dan tujuan Allah secara khusus mensyariatkan agama-Nya melalui 
Al-Quran. Pengetahuan yang demikian akan memberi manfaat baik bagi 
orang mukmin atau non mukmin. Orang mukmin akan bertambah 
keimanannya dan mempunyai hasrat yang keras untuk menerapkan hukum 
Allah dan mengamalkan kitabnya. 
Sebagai contoh adalah syariat tentang pengharaman minuman keras. 
Menurut Muhammad Ali Al-Shabuni pengharaman minuman keras 
berlangsung melalui empat tahap ,tahap pertama Allah mengharamkan 
minuan keras secara tidak langsung,tahap kedua memalingkan secara 
langsung dari padanya,mengharamkan secara parsial, keempat 
pengharaman secara total.21 
2. Pengetahuan tentang asbab nuzul membantu dalam memahami ayat dan 
menghindarkan kesulitan. Hal ini senada dengan pernyataan Ibnu Daqiq Al 
Id ia berkata “ Keterangan tentang sebab turunnya ayat merupakan jalan 
kuat untuk memahami makna-makna Al-Quran”.22 
21 Ahmad Syadali dan. Ahmad Rofi’i, Ulumul Quran I (Bandung: CV.Pustaka Setia, 
1997), hlm. 116-119. 
22 Jalaluddin As-Suyuti, Lubabun Nukul Fi Asbabun Nuzul (Rembang: Darul Ihya 
Indonesia , t. th), hlm 6.
14 
Diantara contohnya ialah ayat ke 158 dari Surah Al-Baqarah kalau 
tidak dibantu dengan pelacakan asbab nuzulnya, pemahaman dan 
penafsiaran ayat tersebut bisa keliru. Ayat tersebut berbunyi : 
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَة مِنْ شَعَائِرِ اللََِّّ فَمَنْ حَجَّ الْبَـيْتَ أَوِ اعْ تَمَرَ فَلَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّ وفَ 
بِِِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْـرًا فَإِنَّ اللََّّ شَاكِ ر عَلِيم 
“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah 
Maka Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka 
tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan Barangsiapa 
yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka 
Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha mengetahui”. 
(Q.S.Al-Baqarah : 158)23 
Dengan kata Fala Junaha, dapat diartikan bahwa rukun sai ibadah 
( boleh) dan tidak mengikat. Oleh sebab itu Urwah salah seorang sahabat 
Nabi pernah berpendapat bahwa sai itu ibadah, dan tidak mengikat. Akan 
tetapi, kemudian dikritik oleh Aisyah, karena menurutnya, ayat tersebut 
diturunkan sehubungan dengan pertanyaan orang-orang Ansar pada 
Rasulullah, tentang sai antara safa dan marwa,karena mereka sebelumnya 
tidak punya tradisi sai saat melakukan ritus, pada zaman islamnya. 
Sehubungan dengan pernyataan mereka inilah ayat tersebut diturunkan, 
dan Rasulullah mewajibkan melakukan sai antara kedua bukit tersebut. 
3. Pengetahuan asbab nuzul dapat menolak dugaan adanya hasr atau 
pembatasan dalam ayat yang menurut lahirnya mengandung hasr atau 
pembatasan, Seperti firman Allah: 
قُلْ لَا أَجِدُ فِِ مَا أُوحِيَ إِلَََّ مَُُرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحً ا 
أَوْ لََْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنهَُّ رِجْ س أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيِْْ اللََِّّ بِهِ ف مَنِ ا طُْْرَّ يََْـرَ بَا وَلَا عَادٍ فَ إنَّ 
رَبَّكَ فََُور رَحِيم 
23 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, hlm. 25.
15 
“Katakanlah:"Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan 
kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak 
memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang 
mengalir atau daging babi (karena Sesungguhnya semua itu kotor) atau 
binatang yang disembelih atas nama selain Allah." (Q.S. Al-An’am: 145)24 
Imam Syafi’i berpendapat bahwa hasr (pembatasan) dalam ayat ini 
tidak termasuk dalam maksud itu sendiri. Untuk menolak adanya hasr 
(pembatasan) dalam ayat ini, ia mengemukakan alasan bahwa sehubungan 
dengan sikap orang-orang kafir yang suka mengharamkan kecuali apa 
yang di halalkan oleh Allah dan meng halalkan Apa yang di haramkan 
oleh-Nya. Hal ini karena penentangan mereka terhadap Allah dan Rasul- 
Nya.25 
4. Pengetahuan tentang asbab nuzul dapat meng hususkan (takhsis) hukum 
pada sebab menurut ulama’ yang memandang bahwa yang mesti 
diperhatikan adalah kehususan sebab dan bukan keumuman lafal.26 
5. Dengan mempelajari asbab nuzul diketahui pula bahwa sebab turun ayat 
ini tidak pernah dari hukum yang terkandung dalam ayat tersebut 
sekalipun datang mukhasisnya ( yang mengkhususkan ).27 
6. Dengan asbab nuzul, di ketahui orang yang ayat tertentu turun padanya 
secara tepat sehinga tidak terjadi kesamaran bisa membawa penuduhan 
terhadap orang yang tidak bersalah dan pembebasan orang yang salah. 28 
7. Pengetahuan tentang asbab nuzul akan mempermudah orang yang meng 
hafal Al-Qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang 
yang mendengarnya jika mengetahui sebab turunya.29 
24 Ibid, hlm. 148. 
25 Ahmad Syadali, dan Ahmad Rofi’i, Ulumul Qur’an 1 , hlm. 127. 
26 Ibid, hlm. 128. 
27 Ibid, hlm. 129. 
28 Ibid, hlm. 131. 
29 Ibid, hlm. 132.
BAB III 
PENUTUP 
17 
Kesimpulan 
a. Asbab An-Nuzul adalah kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi 
turunnya ayat Al-Qur’an. 
b. Macam-macam Asbab An-Nuzul 
a. Dilihat dari sudut pandang redaksi yang dipergunakan dalam riwayat 
asbab an-nuzul 
1. Sarih (jelas) 
Artinya riwayat yang memang sudah jelas menunjukkan asbab An- 
Nuzul, dan tidak mungkin pula menunjukkan yang lainnya 
2. Muhtamilah (masih kemungkinan atau belum pasti) 
Riwayat belum dipastikan sebagai asbab an-nuzul karena masih 
terdapat keraguan. 
b .Dilihat dari sudut pandang terbilangnya asbabun nuzul untuk satu ayat 
atau terbilangnya ayat untuk satu sebab asbab an-nuzul. 
1.Berbilangnya asbab an-nuzul untuk satu ayat (Ta’adud As-Sabab wa 
Nizil Al-Wahid) 
2.Berbilangnya ayat untuk satu asbab an-nuzul (Ta’adud Nazil wa As- 
Sabab Al-Wahid) 
c. Dilihat dari segi bentuk turunnya ayat, asbab an-nuzul dibagi menjadi 2 
yaitu: 
1.Berbentuk peristiwa 
2.Berbentuk pertanyaan 
3. Ungkapan-ungkapan Asbab An-Nuzul 
a. kata سبب (sebab). Contohnya seperti: 
سَبَبُ نـزُُوْلِ هَـذِهِ الاَ يَةِ كــذا … (sebab turunnya ayat ini demikian)
18 
b. kata فـــ (maka). Contohnya seperti: 
حَدَثَتَ كَذَا وَ كَذَا فَـنَـزَلَت الآيَة (telah terjadi peristiwa ini dan itu, maka 
turunlah ayat). 
c. kata في (mengenai/tentang). Contohnya seperti: 
نَـزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ فِِْ كَذَا و كَـذَ ا … (ayat ini turun mengenai ini dan itu). 
4. Kaidah-kaidah Asbab An-Nuzul 
اْلعِبْـرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لَا بِِصُُوْصِ السَّبَ ب 
“penetapan makna suatu ayat didasarkan pada bentuk umumnya lafazh (bunyi 
lafazh), bukan sebabnya yang khusus”. 
Kaedah kedua menyatakan sebaliknya: 
اْلعِبْـرَةُ بِِصُُوْصِ السَّبَبِ لَا بِعُمُوْمِ اللَّفْ ظ 
“penetapan makna suatu ayat didasarkan pada penyebabnya yang khusus 
(sebab nuzul), bukan pada bentuk lafazhnya yang umum”. 
5. kegunaan Asbab An-Nuzul 
a. Pengetahuan tentang asbab nuzul membawa kepada pengetahuan tentang 
rahasia dan tujuan Allah secara khusus mensyariatkan agama-Nya melalui 
Al-Quran. 
b. Pengetahuan tentang asbab nuzul membantu dalam memahami ayat dan 
menghindarkan kesulitan. 
c. Pengetahuan asbab nuzul dapat menolak dugaan adanya hasr atau 
pembatasan dalam ayat yang menurut lahirnya mengandung hasr atau 
pembatasan
DAFTAR PUSTAKA 
Abdul Wahid, Ramli. 1993. Ulumul Quran. Jakarta; Rajawali Press. 
Ahmad Syadali, dan Ahmad Rofi’i. 1997. Ulumul Quran I. Bandung; CV.Pustaka 
19 
Setia. 
Anwar, Rosihon. 2010. Ulumul Qur’an. Bandung; CV Pustaka Setia. 
As-Shalih, Subhi. T.th. Mabahits fi Ulumil Qur’an. Beirut; Darul Ilmi. 
As-Suyuthi, Jalaluddin. T.th. Al-Itqan fi Ulumi Qur’an. Beirut; Darul Fikr. 
As-Suyuti, Jalaluddin. T.th. Lubabun Nukul Fi Asbabun Nuzul. Rembang; Darul 
Ihya Indonesia. 
Az-Zarqani, Muhammad Abdul Azhim. T.th. Manahilul ‘Irfan fi Ulumil Qur’an. 
Beirut; Darul Hayat al-Kitab al-Arabiyyah. 
Danang. 2010. Ulumul Qur’an, dalam 
http://danankphoenix.wordpress.com/2010/03/30/asbabun-nuzul// diakses 
pada Selasa 18 Maret 2014 pukul 09.00 WIB 
Departemen Agama RI. 2002. Al-Qur’an dan terjemahnya. Jakarta; CV Darus 
Sunnah. 
kuliah, Santri. Ulumul Qur’an, dalam http://jendelaakhirat.blogspot.com// diakses 
pada Selasa 18 Maret 2014 pukul 09.00 WIB 
Munawwir,Ahmad warson. 1997. kamus arab indonesia al-munawwir. Surabaya; 
pustaka progressif. 
Rosyada, Dede. 1998. Al-Quran Hadist. Jakarta; Dirjen Bimbaga Islam.

Makalah Asbabun Nuzul

  • 1.
    ASBAB AN-NUZUL AL-QUR’AN MAKALAH Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah “Ulumul Qur’an” Dosen pembimbing : Afiful Ikhwan M.Pd. I Oleh : 1. Risma Riszki Amalia Nim: 2013.4.047.0001.1.001704 2. Niken Saputri Nim : 2013.4.047.0001.1.001696 PAI – SMT 2 KAMPUS UNIT CAMPURDARAT SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MUHAMMADIYAH (STAIM) TULUNGANGUNG April 2014
  • 2.
    KATA PENGANTAR Alhamdulillah,Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Taufik dan Hinayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul “ASBABUN NUZUL AL-QUR’AN” dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Shalawat dan salam tak lupa kita panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya yang telah memperjuangkan Agama Islam hingga sampai kepada kita. Adapun sesudah itu, kami menyadari bahwa mulai dari perencanaan sampai penyusunan makalah ini,kami telah banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak.Oleh karena itu dengan segala hormat kami sampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada : 1. Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Tulungagung Bapak Nurul Amin M.Ag 2. Dosen pengampu yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini Bapak Afiful Ikhwan M.Pd I 3. Orang tua, teman – teman dan seluruh pihak yang ikut berpartisipasi ii dalam penyelesaian makalah. Atas bimbingan, petunjuk dan dorongan tersebut kami hanya dapat berdo’a dan memohon kepada Allah SWT semoga amal dan jerih payah mereka menjadi amal soleh di mata Allah SWT. Amin. Dan dalam penyusunan makalah ini kami sadar bahwa masih banyak kekurangan dan kekeliruan, maka dari itu kami mengharapkan keritikan positif, sehingga bisa diperbaiki seperlunya. Akhirnya semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan Amin Yaa Robbal ‘Alamin. (PENYUSUN)
  • 3.
    DAFTAR ISI HalamanJudul ……………………………………………….…..… i Kata Pengantar …………………………………………………..…. ii Daftar Isi …………………………………………………..…. iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ……………………………….. 1 B. Rumusan Masalah ……………………………………… 2 C. Tujuan Masalah ………………………………………… 2 iii BAB II PEMBAHASAN ASBAB AN-NUZUL A. Pengertian Asbab An-nuzul …………………………….. 3 B. Macam – macam Asbab An-nuzul.……………………… 4 C. Ungkapan – ungkapan Asbab An-nuzul ………………… 10 D. Kaidah – kaidah Asbab An-nuzul………………………... 10 E. Kegunaan Asbab An-nuzul………………………………. 13 BAB III PENUTUP Kesimpulan ………………………………………………….. 17 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………..... 19
  • 4.
    BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang Masalah Al-Qur’an bukan merupakan sebuah “buku” dalam pengertian umum, karena tidak pernah diformulasikan, tetapi diwahyukan secara berangsur – angsur kepada Nabi Muhammad SAW. Pewahyuan Al-Qur’an secara total dalam sekali waktu secara sekaligus adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena pada kenyataannya Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi kaum muslimin secara berangsur – angsur sesuai dengan kebutuhan – kebutuhan yang timbul. Sebagian tugas untuk memahami pesan dari Al-Qur’an sebagai suatu kesatuan adalah mempelajarinya dalam konteks latar belakangnya. Latar belakang yang paling dekat adalah kegiatan dan perjuangan Nabi yang berlangsung selama dua puluh tiga tahun di bawah bimbingan Al-Qur’an. Terhadap perjuangan Nabi yang secara keseluruhan sudah terpapar dalam sunnahnya, kita perlu memahaminya dalam konteks perspektif, karena aktivitas Nabi berada di dalamnya. Tanpa memahami masalah ini, pesan Al-Qur’an sebagai suatu kebutuhan tidak akan dapat dipahami. Orang akan salah menangkap pesan – pesan Al-Qur’an secara utuh, jika hanya memahami bahasanya saja, tanpa memahami konteks historisnya. Agar dipahami secara utuh, Al-Qur’an harus dicerna dalam konteks perjuangan Nabi dan latar belakang perjuangannya. Oleh sebab itu, hampir semua literatur yang berkenaan dengan Al-Qur’an menekankan pentingnya asbab an-nuzul.1 Mengungkapkan sebab turunnya ayat Al Quran melalui kisah adalah suatu cara menerangkan yang jelas mengenai sesuatu yang bernilai tinggi. Hal itu seolah-olah merupakan puncak keindahan seni sastra disamping tujuan mulia agama. Asbabun Nuzul tidak lain adalah kisah nyata, baik penyajiannya dan pemecahannya, kerumitannya dan keruwetannya, maupun manusia-manusia, 1 Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010), hlm. 59.
  • 5.
    2 pelakunya sertakejadian peristiwanya. Dengan demikian ayat-ayat Al Quran senantiasa dibaca orang pada setiap waktu dan tempat dengan minat yang amat besar. Pembacanya sama sekali tidak merasa bosan, kendati berulang kali menjumpai hikayat manusia terdahulu. Setiap saat dirasakan sebagai kisah kita sendiri. Itulah sebabnya banyak orang tidak mengutahui asbab an-nuzul terperosok kedalam kebingungan dan keragu-raguan. Mereka mengartikan ayat-ayat Al Quran tidak sebagaimana yang dimaksud oleh ayat-ayat itu sendiri. Mereka tidak dapat memahami dengan tepat hikmah illahi didalam ayat yang diturunkan-Nya B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian asbab an-nuzul ? 2. Sebutkan dan jelaskan macam – macam Asbab an-Nuzul ! 3. Bagaimana ungkapan-ungkapan asbab an-nuzul ? 4. Jelaskan kaidah-kaidah Asbab an-Nuzul! 5. Apa kegunaan asbab an-nuzul ? C. Tujuan Masalah 1. Untuk mengetahui pengertian asbab an-nuzul 2. Untuk mengetahui macam-macam asbab an-nuzul 3. Untuk mengetahui ungkapan-ungkapan asbab an-nuzul 4. Untuk mengetahui kaidah-kaidah asbab an-nuzul 5. Untuk mengetahui kegunaan asbab an-nuzul
  • 6.
    BAB II PEMBAHASAN 3 A. Pengertian asbab al-nuzul Secara etimologis asbab al nuzul terdiri dari kata “ أسَْبَا بٌ ” (bentuk jama’ dari kata “ السَبَ بٌ ”) yang mempunyai arti latar belakang, alasan atau sebab/illat2. Sedang kata “ اٌلن زوْ لٌ ” berasal dari kata “ نٌَزَلٌَ ” yang berarti turun3. Banyak pengertian terminologi yang dirumuskan para ulama’, diantaranya: 1. Az Zarqani “Asbab An-Nuzul” adalah suatu kejadian yang menyebabkan turunya satu atau beberapa ayat, atau suatu peristiwa yang dapat dijadikan petunjuk hukum berkenaan dengan turunnya suatu ayat.”4 2. As-Suyuthi ”Asbabun Nuzul adalah peristiwa yang terjadi sebelum turun ayat, sedangkan sesudah turunnya ayat tidaklah disebut asbab”.5 3. Ash-Shabuni “Asbab an-Nuzul” adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut,baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.” 4. Shubhi Shalih “Asbab an-Nuzul adalah Sesutu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al Qur’an (ayat-ayat) terkadang menyiratkan peristiwa itu sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum pada saat peristiwa itu terjadi”6 5. Mana’Al-Qthathan 2 Ahmad warson munawwir, kamus arab indonesia al-munawwir (Surabaya: pustaka progressif, 1997), hlm. 602. 3 Ibid, hlm.1409. 4 Muhammad Abdul Azhim az-Zarqani, Manahilul ‘Irfan fi Ulumil Qur’an (Beirut: Darul Hayat al-Kitab al-Arabiyyah, t.th, ), hlm. 22. 5 Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulumi Qur’an, (Beirut: Daul Fikr, t.th.), hlm 29-30. 6 Subhi as-Shalih, Mabahits fi Uluail Qur’an, (Beirut: Darul Ilmi, t.th.), hlm. 132.
  • 7.
    4 “Asbab An-Nuzul”adalah peristiwa-pwristiwa yang menyebabkan turunnya Al-Qur’an berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa suatu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada nabi”.7 Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa asbab an-nuzul adalah kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat Al-Qur’an. Bentuk-bentuk yang melatarbelakangi turunnya Al-Qur’an ini sangat beragam, di antaranya berupa: konflik sosial, seperti ketegangan yang terjadi antara suku aus dan suku khazraj, kesalahan besar, seperti kasus seorang sahabat yang mengimami sholat dalam keadaan mabuk,dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh sahabat kepada nabi baik berkaitan dengan sesuatu yang telah lewat,sedang atau yang akan terjadi. Dan setelah dikaji dengan cermat, sebab turunnya suatu ayat itu berikisar pada dua hal: • Jika terjadi suatu peristiwa, maka turunlah ayat Al-Qur’an mengenai peristiwa itu. • Bila Rasulullah S.A.W ditanya tentang sesuatu hal, maka turunlah ayat Al- Qur’an menerangkan hukumnya. B. Macam-macam Asbab An-Nuzul DR. Rosihon Anwar, M.Ag. menyebutkan dalam bukunya ulumul Qur’an, bahwa ada dua hal yang menjadi sudut pandang dalam membagi macam-macam asbabun nuzul, yaitu: 1. Dilihat dari sudut pandang redaksi yang dipergunakan dalam riwayat asbab an-nuzul a) Sarih (jelas) Artinya riwayat yang memang sudah jelas menunjukkan asbab an-nuzul, dan tidak mungkin pula menunjukkan yang lainnya. Redaksi yang digunakan termasuk sharih bila perawi mengatakan : 7 Dede Rosyada, Al-Quran Hadis (Jakarta: Dirjen Bimbaga Islam,1998), hlm. 69.
  • 8.
    5 ... سَبَ بَ نَ ز وَ لَ هَ ذَ هَ اَلآي ةَ هَ ذَا Artinya: Sebab turun ayat ini adalah ... حَ دَ ثَ هَ ذَا... فَ ن ز لَ تَ اَلآي ة Artinya: Telah terjadi …… maka turunlah ayat.... سَ ئَ لَ ر سَ وَ لَ اللَ عَ نَ كََ ذَا... فَ ن ز لَ تَ اَلآي ة Artinya: Rasulullah pernah ditanya tentang …… maka turunlah ayat. b) Muhtamilah (masih kemungkinan atau belum pasti) Riwayat belum dipastikan sebagai asbab an-nuzul karena masih terdapat keraguan. ...نَ ز لَ تَ هَ ذَ هَ اَلآي ة فَ كََ ذَا Artinya: (ayat ini diturunkan berkenaan dengan) ...ا حَ سَ بَ هَ ذَ هَ اَلآي ة نََ ز لَ تَ فَ كَ ذَا Artinya: (saya kira ayat ini diturunkan berkenaan dengan ……) ... مَا اَ حَ سَ بَ نََ ز لَ تَ هَ ذَ هَ اَلآي ة اَلََّ فَك كَ ذَا Artinya: (saya kira ayat ini tidak diturunkan kecuali berkenaan dengan …) 2. Dilihat dari sudut pandang terbilangnya asbabun nuzul untuk satu ayat atau terbilangnya ayat untuk satu sebab asbab an-nuzul. a) Berbilangnya asbab an-nuzul untuk satu ayat (Ta’adud As-Sabab wa Nizil Al-Wahid)
  • 9.
    6 Untuk mengetahuivariasi riwayat Asbab an-Nuzul dalam satu ayat dari sisi redaksi, para ulama mengemukakan cara sebagai berikut: § Tidak mempermasalahkannya Cara ini ditempuh apabila menggtunakan redaksi muhtamilah. § Mengambil versi riwayat Asbab an-Nuzul yang menggunakan redaksi shorih. § Mengambil versi riwayat yang shohih (valid)8 b) Berbilangnya ayat untuk satu asbab an-nuzul (Ta’adud Nazil wa As-Sabab Al-Wahid) Terkadang suatu kejadian dapat menjadi sebab bagi turunnya dua ayat atau lebih. contoh satu kejadian yang membuat dua ayat diturunkan sedang antara satu dengan yang lainnya berselang lama adalah riwayat asbab annuzul yang yang diriwayatkan Ibn Jarir Ath-Thabari , dan Ibn Mrdawiyah dari Ibn Abbas : كَا نَ ر سَ وَ لَ اللَ صَ.م. جَا لَ سَا فَ لََى شَ جَ ر ةَ,ف قَا لَ :َ اَنَ ه سَ يَأ ت ي كَ مَ اَنَ سَا نَ يَ نَ ظ رََ بَ عَي نَ اَلشََي ط ا نَ فَ ا ذ ا جَاء فَ لَ تَ كَلََ مَ وَه فَ لَ مَ يَ لَ ب ثَ أَ نَ اَ ط ل عَ ر جَل أَ زَ ر قَ اَل عَي ن يَ فَ دَا عَاَ ر سَ وَ لَ اللَ صَ.م. عَلم تَشتموني اَ نَ تَ وَا صَ حَابَ كَ فَ انَ ط ل قَ اَل ر جَ وَ لَ فَ جَاء لِ صَ حَا بَ هََ ف حَل ف وَا بَا اللَ مَا قَ ال وَا حَتََّ اََ وَزعنهم فَ أن ز لَ اَلل :َ يَ ل ف و نَ با للَّ ما قَ ال وا و ل قَ دَ قَ ال واََ كل مة اَل ك ف رَ و ك ف روا بَ ع دَ إ س ل م ه مَ و هَُّوا بِ ا لَ يَ نال وَا و ما نَ ق موا إلََّ أَ نَ أَ غ نا هم اَللَّ و ر سول ه م نَ فَ ضل هَ فَ إ نَ يَ ت وب وا يَ كَ خي را لَ مَ و إ نَ يَ ت ولَ وا يَ ع ذب هم اَللَّ ع ذاب ا أَ لي ما فََ الدُّن يا وا لآ خ ر ةَ و ما لَ مَ فَ اَ لِ ر ضَ م نَ و ل و لَّ نَ صيرَ “Ketika rasulullah duduk dibawah naungan pohon kayu beliau bersabda akan datang kamu seorang manusia yang memandang dengan mu dengan dua mata setan janganlah kalian ajak bicara jika ia datang menemuimu, tidak lama sesudah itu datanglah seorang lelaki yang bermata biru rasulullah kemudian memanggilnya dan bertanya mengapa engkau dan teman-temanmu memakiku,? Orang tersebut pergi dan datang kembali beserta teman-temannya mereka 8Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an, hlm. 67.
  • 10.
    7 bersumpah dengannama Allah bahwa mereka tidak menghina nabi, terus menerus mereka mengatakan demikian sampai nabi mema’afkannya maka turunlah surat at taubah [9] ayat 74 : ”Mereka orang-orang munafik bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak mengatakan sesuatu yang menyakitimu sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah mejadi kafir sesudah islam dan mengimani apa yang tida dapat meraka tidak dapat mencapainya dan mereka tidak mencela kepada allah dan rasulnya kecuali karena allah dan rasulnya te;ah melimpahkan karunia- Nya kepada mereka maka jika mereka bertaubat maka itu lebih baik bagi nereka jika meraka berpaling maka allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat dan mereka sekali kali tidak mempunyai pelindung dan penolong di muka bumi.”9 Demikin pula riwayat al hakim dengan redaksi yang sama dan mengatakan maka Allah menurunkan surat al mujadalah [58] ayat 18-19.” ي و مَ يَ ب عث هم اَللَّ جَي عا فَ ي حل ف و نَ له كَ ما يَ ل ف و نَ ل ك مَ و يَ سب و نَ أَ ن ه مَ عل ى ش يَ ءَ أَ لََّ إن ه مَ هم اَل كا ذب و نَ )َ 81 ( اَ س ت ح وذ عل ي هم اَلشَي ط ا نَ فَ أ ن سا ه مَ ذ ك رَ اَ للَّ أَ و ل ئ كَ ح ز بََ ) الشَي ط ا نَ أَ لَّ إنََ ح ز بَ اَلشَي ط ا نَ هم اَ لْ ا س رو نَ )َ 81 “(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”.(QS Al Mujadalah : 18-19) 10 3. Dilihat dari segi bentuk turunnya ayat, asbab an-nuzul dibagi menjadi 2 yaitu: 1) Berbentuk peristiwa 9 Santri kuliah, Ulumul Qur’an… dalam http://jendelaakhirat.blogspot.com// diakses pada Selasa 18 Maret 2014 pukul 09.20 WIB 10 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya (Jakarta: CV Darus Sunnah, 2002), hlm. 545.
  • 11.
    8 a) Peristiwaberupa pertengkaran atau persengketaan, seperti perselisihan antar golongan suku Aus dan golongan suku Khazraj. Perselisihan itu timbul karena hasil adu domba yang dilakukan oleh orang-orang yahudi. Peristiwa tersebut melatar belakangi turunnya beberapa ayat, surat Ali Imran: 100. ي ا أَ ي ها اَلَ ذي ن آَ من وا إ ن تَ طيع وا فَ ري قا م ن اَلَ ذي ن أَ وت وا اَل كَ تا ب يَ ردُّو ك م بَ ع د إي ان ك مََ كاف ري نَ “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (Q.S. Ali Imran: 100 ).11 b) Peristiwa berupa kesalahan yang serius, seperti peristiwa seorang sahabat yang mengimami dalam keadaan mabuk, sehingga mengalami kekeliruan dalam membaca surat setelah surat Al Fatihah. Peristiwa itu menyebabkan turunnya firman Allah surat An Nisa’: 43. ي ا أَ ي ها اَلَ ذي نَ آَ من وا لَّ ت ق رب وا اَلصَ لة وأ ن ت مَ س كا رى حتََّ ت عل موا ما ت ق ول و نَ وَ لََّ جن با إلََّ عا ب ري س بي لَ حتََّ ت غ ت سل وا و إ نَ كن ت مَ مَ ر ىَ أَ وَ عل ى س ف رَ أَ وَ جاء أ ح دَ من ك مَ م نَ اَل غ ائ طَ أَ وَ لّ م ست م اَل ن ساء فَ ل مَ دوا مَاء فَ ت يمَ موا صع ي دا طَ ي باَ ف ا م س حوا ب و جو ه ك مَ وأ ي دي ك مَ إنََ اَللَّ كَا نَ عف وًّا غف و را “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”. (QS : An Nisa’: 43 )12 11 Ibid, hlm. 63. 12 Ibid, hlm. 86.
  • 12.
    9 c) Peristiwaberupa hasrat, cita-cita atau keinginan-keinginan seperti kesesuaian (muafqat) hasrat dan keinginan Umar bin Khattab dengan ketentuan –ketentuan ayat-ayat Al Quran yang diturunkan Allah. Menurut riwayat dari sahabat Anas ra. Ada beberapa harapan Umar yang dikemukakan kepada Rasulullah, kemudian turunlah ayat-ayat yang kandungannya seperti harapan tersebut. Seperti Umar pernah berkata kepada Rasulullah saw. “ya, Rasulullah, bagaimana kalau sekiranya kita jadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat?” maka turunlah ayat : Al Baqarah ayat 125.13 و إذ ج عل نا اَل ب ي تَ م ثاب ة للنَا سَ وأ م نا وا تَّ ذوا م نَ مَ قا مَ إب را هي مَ مَ صلًّى و ع ه دن ا إ لََ إب را هي مَ و إ سْ ا عي لَ أَ نَ طَ ه را بَ ي تَ للطَائ ف يَ وال عَاك ف يَ والرُّكَ عَ اَلسُّ جو دَ “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud".(QS. Al Baqarah ayat 125)14 2) Berbentuk pertanyaan Pertanyaan yang berhubungan dengan peristiwa masa lalu, seperti kisah Ashabul kahfi dan Dzulkarnain. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang masih berlansung (pada saaat itu). Seperti pertanyaan orang-orang yahudi mengenai ruh. Yang terdapat dalam firman Allah surat Al- Isra’ ayat 85. وي سأ ل ون ك ع ن اَلرُّو ح قَ ل اَلرُّو ح م ن أَ م ر ر بّ و ما أَ وت يت م م ن اَل ع ل م إلَّ قَ ل ي لَ ”Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".( Q.S Al-Isra’ : 85 )15 13 Ramli Abdul Wahid, Ulumul Quran, (Jakarta: Rajawali Press 1993), hlm.30-31. 14 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, hlm. 20. 15 Ibid, hlm. 291.
  • 13.
    10 Pertanyaan berhungandengan masa yang akan datang. Seperti pertanyaan orang-orang kafir Quraisy tentang hari kiamat yang diabadikan dalam firman Allah surat An-Nazi’at ayat 42-43. ) ي سأ ل ون ك ع ن اَلسَا ع ة أَ ياَ ن مَ ر سا ها )َ 24 ( فَ ي م أَ ن ت م ن ذ كَ را ها )َ 24 “(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya?. Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)?”. (Q.S An-Nazi’at: 42-43)16 C. Ungkapan-ungkapan Asbab An-Nuzul Para sahabat dalam menuturkan sebab nuzul menggunakan ungkapan yang berbeda antara suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Perbedaan ungkapan tersebut tentunya mengandung perbedaan makna yang memiliki implikasi pada status sebab nuzulnya. Macam-macam ungkapan yang digunakan sahabat dalam mendeskribsikan asbab an-nuzul antara lain: 1. kata سبب (sebab). Contohnya seperti: سَبَبُ نـزُُوْلِ هَـذِهِ الاَ يَةِ ك ذا … (sebab turunnya ayat ini demikian …) Ungkapan (redaksi) ini disebut sebagai redaksi atau ungkapan yang sharih (jelas/tegas). Maksudnya, sebab nuzul yang menggunakan redaksi seperti ini menunjukkan betul-betul sebagai latar belakang turunnya ayat, tidak mengandung makna lain. 2. kata فـــ (maka). Contohnya seperti: حَدَثَتَ كَذَا وَ كَذَا فَـنَـزَ لَت الآي ة (telah terjadi peristiwa ini dan itu, maka turunlah ayat). Ungkapan ini mengandung pengertian yang sama dengan penggunaan kata sababu, yakni sama-sama sharih (jelas/tegas). 3. kata في (mengenai/tentang). Contohnya seperti: 16Ibid, hlm 585.
  • 14.
    11 نَـزَلَتْ هَذِهِالآيَةُ فِِْ كَذَا و كَـذَا … (ayat ini turun mengenai ini dan itu). Ungkapan seperti ini tidak secara tegas (ghairu sharih) menunjukkan sebab turunnya suatu ayat. Akan tetapi masih dimungkinkan mengandung pengertian lain.17 D. Kaidah-kaidah Asbab An-Nuzul. Dalam memahami makna ayat Alquran yang mengandung lafal umum dan dikaitkan dengan sebab turunnya, para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan dasar pemahaman.Karena itu, berkaitan dengan masalah ini ada dua kaedah yang bertolak belakang. Kaedah pertama menyatakan: ا لع ب رة بع م و م اَللَ ف ظ لّ بِ ص و ص اَلسَ ب بَ (penetapan makna suatu ayat didasarkan pada bentuk umumnya lafazh (bunyi lafazh), bukan sebabnya yang khusus). Kaedah kedua menyatakan sebaliknya: ا لع ب رة بِ ص و ص اَلسَ ب ب لّ بع م و م اَللَ ف ظَ (penetapan makna suatu ayat didasarkan pada penyebabnya yang khusus (sebab nuzul), bukan pada bentuk lafazhnya yang umum). Contoh Penerapan Kaedah Pertama. Firman Allah, Surat An-Nur ayat 6 : وَالَّذِينَ يَـرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلََْ يَكُنْ لََمُْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْـفُسُهُمْ ف شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللََِّّ إِنهَُّ لَمِنَ الصَّادِقِيَ ”Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, bahwa sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar”. [Q.S. An-Nur: 6]18. 17 Danang, Ulumul Qur’an…… dalam (http://danankphoenix.wordpress.com/2010/03/30/asbabun-nuzul// diakses pada Selasa 18 Maret 2014 pukul 09.20 WIB 18 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, hlm. 351.
  • 15.
    12 Jika dilakukanpemahaman berdasarkan bentuk umumnya lafal terhadap surat An-Nur ayat 6 di atas, maka keharusan mengucapkan sumpah dengan nama Allah sebanyak empat kali bahwa tuduhannya adalah benar, berlaku bagi siapa saja (suami) yang menuduh isterinya berzina. Pemahaman yang demikian ini (berdasarkan umumnya lafal) tidak bertentangan dengan ayat lain atau hadits atau ketentuan hukum yang lainnya. Contoh Penerapan Kaedah Kedua, Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 115 : و للّ اَل م ش ر ق وال مغ ر ب فَ أ ي ن ما تَ ولُّوا فَ ثمَ و جه اَ للّ إنَ اَللَّ وا سع عل يم ”Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situ-lah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas Rahmat-Nya, lagi Maha Mengetahui”. (Q.S. Al-Baqarah: 115)19. Jika dalam memahami ayat 115 ini kita terapkan kaedah pertama, maka dapat disimpulkan, bahwa shalat dapat dilakukan dengan menghadap ke arah mana saja, tanpa dibatasi oleh situasi dan kondisi di mana dan dalam keadaan bagaimana kita shalat. Kesimpulan demikian ini bertentangan dengan dalil lain (ayat) yang menyatakan, bahwa dalam melaksanakan shalat harus menghadap ke arah Masjidil-Haram. Sebagaimana ditegaskan dalam firman Alllah : و م ن حي ث خ ر ج ت فَ و ل و ج ه ك شط ر اَل م س ج د اَ لْ را م و إنَه لل حقَُّ م ن ر ب ك و ما اَللَّ بغ اف ل عَمَاَ ت ع مل و نَ ”Dan dari mana saja kamu keluar (datang), Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Baqarah: 149)20. Akan tetapi, jika dalam memahami Surat Al-Baqarah ayat 115 di atas dikaitkan dengan sebab nuzulnya, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah, bahwa menghadap ke arah mana saja dalam shalat adalah sah jika shalatnya 19 Ibid, hlm. 19. 20 Ibid, hlm. 24.
  • 16.
    13 dilakukan diatas kendaraan yang sedang berjalan, atau dalam kondisi tidak mengetahui arah kiblat (Masjidil-Haram). Dalam kasus ayat yang demikian ini pemahamannya harus didasarkan pada sebab turunnya ayat yang bersifat khusus dan tidak boleh berpatokan pada bunyi lafazh yang bersifat umum. E. Kegunaan Asbab An-Nuzul Adapun kegunaan yang diperoleh dalam mengetahui Asbabun Nuzul dalam kaitannya dengan memahami makna daripada ayat-ayat suci Al-Qur’an secara rinci Al-Zarqani menyebutkan tujuh macam manfaat atau faidah, sebagai berikut : 1. Pengetahuan tentang asbab nuzul membawa kepada pengetahuan tentang rahasia dan tujuan Allah secara khusus mensyariatkan agama-Nya melalui Al-Quran. Pengetahuan yang demikian akan memberi manfaat baik bagi orang mukmin atau non mukmin. Orang mukmin akan bertambah keimanannya dan mempunyai hasrat yang keras untuk menerapkan hukum Allah dan mengamalkan kitabnya. Sebagai contoh adalah syariat tentang pengharaman minuman keras. Menurut Muhammad Ali Al-Shabuni pengharaman minuman keras berlangsung melalui empat tahap ,tahap pertama Allah mengharamkan minuan keras secara tidak langsung,tahap kedua memalingkan secara langsung dari padanya,mengharamkan secara parsial, keempat pengharaman secara total.21 2. Pengetahuan tentang asbab nuzul membantu dalam memahami ayat dan menghindarkan kesulitan. Hal ini senada dengan pernyataan Ibnu Daqiq Al Id ia berkata “ Keterangan tentang sebab turunnya ayat merupakan jalan kuat untuk memahami makna-makna Al-Quran”.22 21 Ahmad Syadali dan. Ahmad Rofi’i, Ulumul Quran I (Bandung: CV.Pustaka Setia, 1997), hlm. 116-119. 22 Jalaluddin As-Suyuti, Lubabun Nukul Fi Asbabun Nuzul (Rembang: Darul Ihya Indonesia , t. th), hlm 6.
  • 17.
    14 Diantara contohnyaialah ayat ke 158 dari Surah Al-Baqarah kalau tidak dibantu dengan pelacakan asbab nuzulnya, pemahaman dan penafsiaran ayat tersebut bisa keliru. Ayat tersebut berbunyi : إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَة مِنْ شَعَائِرِ اللََِّّ فَمَنْ حَجَّ الْبَـيْتَ أَوِ اعْ تَمَرَ فَلَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّ وفَ بِِِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْـرًا فَإِنَّ اللََّّ شَاكِ ر عَلِيم “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah Maka Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha mengetahui”. (Q.S.Al-Baqarah : 158)23 Dengan kata Fala Junaha, dapat diartikan bahwa rukun sai ibadah ( boleh) dan tidak mengikat. Oleh sebab itu Urwah salah seorang sahabat Nabi pernah berpendapat bahwa sai itu ibadah, dan tidak mengikat. Akan tetapi, kemudian dikritik oleh Aisyah, karena menurutnya, ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan pertanyaan orang-orang Ansar pada Rasulullah, tentang sai antara safa dan marwa,karena mereka sebelumnya tidak punya tradisi sai saat melakukan ritus, pada zaman islamnya. Sehubungan dengan pernyataan mereka inilah ayat tersebut diturunkan, dan Rasulullah mewajibkan melakukan sai antara kedua bukit tersebut. 3. Pengetahuan asbab nuzul dapat menolak dugaan adanya hasr atau pembatasan dalam ayat yang menurut lahirnya mengandung hasr atau pembatasan, Seperti firman Allah: قُلْ لَا أَجِدُ فِِ مَا أُوحِيَ إِلَََّ مَُُرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحً ا أَوْ لََْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنهَُّ رِجْ س أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيِْْ اللََِّّ بِهِ ف مَنِ ا طُْْرَّ يََْـرَ بَا وَلَا عَادٍ فَ إنَّ رَبَّكَ فََُور رَحِيم 23 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, hlm. 25.
  • 18.
    15 “Katakanlah:"Tiadalah akuperoleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi (karena Sesungguhnya semua itu kotor) atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah." (Q.S. Al-An’am: 145)24 Imam Syafi’i berpendapat bahwa hasr (pembatasan) dalam ayat ini tidak termasuk dalam maksud itu sendiri. Untuk menolak adanya hasr (pembatasan) dalam ayat ini, ia mengemukakan alasan bahwa sehubungan dengan sikap orang-orang kafir yang suka mengharamkan kecuali apa yang di halalkan oleh Allah dan meng halalkan Apa yang di haramkan oleh-Nya. Hal ini karena penentangan mereka terhadap Allah dan Rasul- Nya.25 4. Pengetahuan tentang asbab nuzul dapat meng hususkan (takhsis) hukum pada sebab menurut ulama’ yang memandang bahwa yang mesti diperhatikan adalah kehususan sebab dan bukan keumuman lafal.26 5. Dengan mempelajari asbab nuzul diketahui pula bahwa sebab turun ayat ini tidak pernah dari hukum yang terkandung dalam ayat tersebut sekalipun datang mukhasisnya ( yang mengkhususkan ).27 6. Dengan asbab nuzul, di ketahui orang yang ayat tertentu turun padanya secara tepat sehinga tidak terjadi kesamaran bisa membawa penuduhan terhadap orang yang tidak bersalah dan pembebasan orang yang salah. 28 7. Pengetahuan tentang asbab nuzul akan mempermudah orang yang meng hafal Al-Qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang mendengarnya jika mengetahui sebab turunya.29 24 Ibid, hlm. 148. 25 Ahmad Syadali, dan Ahmad Rofi’i, Ulumul Qur’an 1 , hlm. 127. 26 Ibid, hlm. 128. 27 Ibid, hlm. 129. 28 Ibid, hlm. 131. 29 Ibid, hlm. 132.
  • 19.
    BAB III PENUTUP 17 Kesimpulan a. Asbab An-Nuzul adalah kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat Al-Qur’an. b. Macam-macam Asbab An-Nuzul a. Dilihat dari sudut pandang redaksi yang dipergunakan dalam riwayat asbab an-nuzul 1. Sarih (jelas) Artinya riwayat yang memang sudah jelas menunjukkan asbab An- Nuzul, dan tidak mungkin pula menunjukkan yang lainnya 2. Muhtamilah (masih kemungkinan atau belum pasti) Riwayat belum dipastikan sebagai asbab an-nuzul karena masih terdapat keraguan. b .Dilihat dari sudut pandang terbilangnya asbabun nuzul untuk satu ayat atau terbilangnya ayat untuk satu sebab asbab an-nuzul. 1.Berbilangnya asbab an-nuzul untuk satu ayat (Ta’adud As-Sabab wa Nizil Al-Wahid) 2.Berbilangnya ayat untuk satu asbab an-nuzul (Ta’adud Nazil wa As- Sabab Al-Wahid) c. Dilihat dari segi bentuk turunnya ayat, asbab an-nuzul dibagi menjadi 2 yaitu: 1.Berbentuk peristiwa 2.Berbentuk pertanyaan 3. Ungkapan-ungkapan Asbab An-Nuzul a. kata سبب (sebab). Contohnya seperti: سَبَبُ نـزُُوْلِ هَـذِهِ الاَ يَةِ كــذا … (sebab turunnya ayat ini demikian)
  • 20.
    18 b. kataفـــ (maka). Contohnya seperti: حَدَثَتَ كَذَا وَ كَذَا فَـنَـزَلَت الآيَة (telah terjadi peristiwa ini dan itu, maka turunlah ayat). c. kata في (mengenai/tentang). Contohnya seperti: نَـزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ فِِْ كَذَا و كَـذَ ا … (ayat ini turun mengenai ini dan itu). 4. Kaidah-kaidah Asbab An-Nuzul اْلعِبْـرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لَا بِِصُُوْصِ السَّبَ ب “penetapan makna suatu ayat didasarkan pada bentuk umumnya lafazh (bunyi lafazh), bukan sebabnya yang khusus”. Kaedah kedua menyatakan sebaliknya: اْلعِبْـرَةُ بِِصُُوْصِ السَّبَبِ لَا بِعُمُوْمِ اللَّفْ ظ “penetapan makna suatu ayat didasarkan pada penyebabnya yang khusus (sebab nuzul), bukan pada bentuk lafazhnya yang umum”. 5. kegunaan Asbab An-Nuzul a. Pengetahuan tentang asbab nuzul membawa kepada pengetahuan tentang rahasia dan tujuan Allah secara khusus mensyariatkan agama-Nya melalui Al-Quran. b. Pengetahuan tentang asbab nuzul membantu dalam memahami ayat dan menghindarkan kesulitan. c. Pengetahuan asbab nuzul dapat menolak dugaan adanya hasr atau pembatasan dalam ayat yang menurut lahirnya mengandung hasr atau pembatasan
  • 21.
    DAFTAR PUSTAKA AbdulWahid, Ramli. 1993. Ulumul Quran. Jakarta; Rajawali Press. Ahmad Syadali, dan Ahmad Rofi’i. 1997. Ulumul Quran I. Bandung; CV.Pustaka 19 Setia. Anwar, Rosihon. 2010. Ulumul Qur’an. Bandung; CV Pustaka Setia. As-Shalih, Subhi. T.th. Mabahits fi Ulumil Qur’an. Beirut; Darul Ilmi. As-Suyuthi, Jalaluddin. T.th. Al-Itqan fi Ulumi Qur’an. Beirut; Darul Fikr. As-Suyuti, Jalaluddin. T.th. Lubabun Nukul Fi Asbabun Nuzul. Rembang; Darul Ihya Indonesia. Az-Zarqani, Muhammad Abdul Azhim. T.th. Manahilul ‘Irfan fi Ulumil Qur’an. Beirut; Darul Hayat al-Kitab al-Arabiyyah. Danang. 2010. Ulumul Qur’an, dalam http://danankphoenix.wordpress.com/2010/03/30/asbabun-nuzul// diakses pada Selasa 18 Maret 2014 pukul 09.00 WIB Departemen Agama RI. 2002. Al-Qur’an dan terjemahnya. Jakarta; CV Darus Sunnah. kuliah, Santri. Ulumul Qur’an, dalam http://jendelaakhirat.blogspot.com// diakses pada Selasa 18 Maret 2014 pukul 09.00 WIB Munawwir,Ahmad warson. 1997. kamus arab indonesia al-munawwir. Surabaya; pustaka progressif. Rosyada, Dede. 1998. Al-Quran Hadist. Jakarta; Dirjen Bimbaga Islam.