ASBAB AL-NUZUL 
Makalah 
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah 
“STUDY AL-QUR’AN” 
Disusun Oleh: 
Nur Alfiyatur Rochmah (B06213037) 
Dosen Pembimbing: 
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI 
FAKULTAS DAKWAH 
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL 
SURABAYA 
2013
KATA PENGANTAR 
Pertama-tama marilah kita panjatkan rasa syukur kita kepada Allah, karena dengan 
taufik-Nya lah kita bisa melakukan aktifitas-aktifitas sehari-hari demi memewujudkan cita-cita 
yang luhur berguna bagi nusa dan bangsa 
Kedua kalinya sholatullah wasalamuhu yang senantiasa kita limpahkan kapada pimpinan 
sejati kita yakni nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman yang penuh 
kemiskinan motivasi hingga pada hari yang selalu memberikan kita jalan yang lurus yakni agama 
islam, 
Dengan ini saya berharap kepada seluruh teman-teman mahasiswa apabila dalam 
pembuatan makalah ini kurang sempurna saya mohon untuk mengkritik makalah ini, karna saya 
sadar kemempuan saya jauh dari sempurna maka dari itu untuk mengevaluasi apa yang telah 
saya cetak, dengan tujuan supaya penulisan yang selanjutnya saya lebih baik, 
Harapan penulisan makalah ini supaya teman-teman mahasiswa agarmemahami tentang 
pengertian asbabun nuzul dan seluk beluknya dan semoga makalah ini bermanfaat khususnya 
bagi saya sendiri dan umumnya bagi pembaca .
BAB I 
PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang 
. Qur’an diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia ke arah tujuan yang terang 
dan jalan yang lurus dengan menegakkan asas kehidupan yang didasarkan pada keimanan kepada 
Allah dan risalah-Nya. Juga memberitahukan hal yang telah lalu, kejadian-kejadian yang 
sekarang serta berita-berita yang akan datang. 
Sebagian besar Qur’an pada mulanya diturunkan untuk tujuan umum ini, tetapi 
kehidupan para sahabat bersama Rasulullah telah menyaksikan banyak peristiwa sejarah, bahkan 
kadang terjadi di antara mereka peristiwa khusus yang memerlukan penjelasan hukum Allah atau 
masih kabur bagi mereka. Kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah untuk mengetahui 
hukum Islam mengenai hal itu. Maka Qur’an turun untuk peristiwa khusus tadi atau untuk 
pertanyaan yang muncul itu. Hal seperti itulah yang dinamakan Asbabun Nuzul. 
Asbabun nuzul merupakan suatu aspek ilmu yang harus diketahui, dikaji dan diteliti oleh 
para mufassirin atau orang-orang yang ingin memahami Al-Qur’an secara mendalam. 
Berdasarkan pemahaman para ahli tafsir mengenai pentingnya mempelajari Asbabun 
Nuzul maka ilmu ini perlu dikembangkan untuk dipahami oleh umat manusia. Bahkan sekarang 
Asbabun Nuzul telah dijadikan salah satu kajian dalam ‘Ulumul Qur’an. 
B. Rumusan Masalah 
1. Apa pengertian dari Asbabun Nuzul ? 
2. Apa saja macam-macam Asbabun nuzul ? 
3. Apa faedah dari Asbabun nuzul ? 
C. Tujuan Penulisan 
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan asbabun nuzul. 
2. Untuk mengetahui macam-macam dari asbabun nuzul. 
3. Untuk mengetahui faedah-faedah dari mempelajari asbabun nuzul.
BAB II 
PEMBAHASAN 
A. Pengertian Asbabun Nuzul 
Asbab adalah bentuk plural (jama’) dari kata sabab yang dalam bahasa indonesia 
diartikan: sebab, alasan, motif, latar belakang dan lain-lain, sedangkan Nuzul merupakan bentuk 
masdar dari anzala yang berarti turun. Pengertian asbab an-nuzul secara istilah adalah sesuatu 
yang melatarbelakangi turunnya suatu ayat, yang mencakup suatu permasalahan dan 
menerangkan suatu hukum pada saat terjadi peristiwa-peristiwa.1 
Menurut Abdul Djalal Ilmu asbabun Nuzul ialah Membahas kasus-kasus yang menjadi 
sebab diturunkannya beberapa ayat al-Qur’an macam-macamnya, sighat (redaksi-redaksinya), 
tarjih riwayat-riwayatnya dan faedah mempelajarinya. 
Menurut Quraish Shihab berdasarkan kutipan dari al-Zarqani, asbab an-nuzul adalah 
suatu kejadian yang menyebabkan turunnya suatu ayat atau beberapa ayat, atau suatu peristiwa 
yang dapat dijadikan petunjuk hukum berkenaan turunnya suatu ayat. 
M. Hasbi Ash Shiddieqy mengartikan Asbabun Nuzul sebagai kejadian yang karenanya 
diturunkan Al-Qur’an untuk menerangkan hukumnya di hari timbul kejadian-kejadian itu dan 
suasana yang didalamnya Al-Qur’an diturunkan serta membicarakan sebab yang tersebut itu, 
baik diturunkan langsung sesudah terjadi sebab itu ataupun kemudian lantaran sesuatu hikmah. 
Nurcholish Madjid menyatakan bahwa asbabun adalah konsep, teori atau berita tentang 
adanya sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, 
baik berupa satu ayat, satu rangkaian ayat maupun satu surat. 
Subhi Shalih menyatakan bahwa Asbabun Nuzul itu sangat berkenaan dengan sesuatu 
yang menjadi sebab turunnya sebuah ayat atau beberapa ayat, atau suatu pertanyaan yang 
menjadi sebab turunnya ayat sebagai jawaban, atau sebagai penjelasan yang diturunkan pada 
waktu terjadinya suatu peristiwa. 
Az-Zarqani berpendapat bahwa asbabun nuzul adalah keterangan mengenai suatu ayat 
atau rangkaian ayat yang berisi tentang sebab-sebab turunnya atau menjelaskan hukum suatu 
kasus pada waktu kejadiannya. 
1 Dr. Usman, M.ag,Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Sukses offset,2009), hal. 103
Dari pengertian tersebut di atas dapat ditarik dua kategori mengenai sebab turunnya suatu 
ayat. Pertama, suatu ayat turun ketika terjadi suatu peristiwa. Sebagaimana diriwayatkan Ibn 
Abbas tentang perintah Allah kepada Nabi SAW untuk memperingatkan kerabat dekatnya. 
Kemudian Nabi SAW naik ke bukit Shafa dan memperingatkan kaum kerabatnya akan azab 
yang pedih. Ketika itu Abu Lahab berkata, “Celakalah engkau, apakah engkau mengumpulkan 
kami hanya untuk urusan ini?”, lalu ia berdiri. Maka turunlah surat Al-Lahab. 
Kedua, suatu ayat turun apabila Rasulullah ditanya tentang sesuatu hal, maka turunlah 
ayat Al-Qur’an yang menerangkan hukumnya. Seperti pengaduan Khaulah binti Sa’labah kepada 
Nabi SAW berkenaan dengan zihar yang dijatuhkan suaminya, Aus bin Samit, padahal Khaulah 
telah menghabiskan masa mudanya dan telah sering melahirkan karenanya. Namun sekarang ia 
dikenai zihar oleh suaminya ketika sudah tua dan tidak melahirkan lagi. Kemudian turunlah ayat, 
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengadu kepadamu tentang 
suaminya”, yakni Aus bin Samit. 
Asbabun nuzul menggambarkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an memiliki hubungan dialektis 
dengan fenomena sosio-kultural masyarakat. Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa Asbabun 
nuzul tidak berhubungan secara kausal dengan materi yang bersangkutan. Artinya, tidak bisa 
diterima pernyataan bahwa jika suatu sebab tidak ada, maka ayat itu tidak akan turun. 
Komaruddin Hidayat memposisikan persoalan ini dengan menyatakan bahwa kitab suci 
Al-Qur’an, sebagaimana kitab suci yang lain dari agama samawi, memang diyakini memiliki dua 
dimensi, yaitu historis dan transhistoris. Kitab suci menjembatani jarak antara Tuhan dan 
manusia. Tuhan hadir menyapa manusia di balik hijab kalamNya yang kemudian menyejarah. 
B. Macam-macam Asbabun Nuzul 
Bila diperhatikan dengan seksama, asbabun al-nuzul ayat-ayat al-Qur’an itu dapat 
dibedakan menjadi dua yaitu: pertama, segi bentuk turunnya ayat. Kedua, jumlah sebab dan 
ayat yang turun. 
Dari segi bentuknya, “asbab al-nuzul” dapat dibagi dua yaitu: 
1. Berbentuk peristiwa 
2. Berbentuk pertanyaan
Adapun sebab-sebab nuzul yang berbentuk peristiwa dapat dibagi tiga yaitu :2 
1. Peristiwa berupa pertengkaran atau persengketaan, seperti perselisihan yang berkecakamuk 
yang terjadi antara segolongan dari suku Aus dan segologan dari suku Khazraj. Perselisihan 
timbul dari intrik-intrik atau hasil adu domba yang disulutkan oleh orang-orang Yahudi, 
sehingga mereka berteriak-teriak dengan mengatakan “senjata,senjata”. Peristiwa tersebut 
melatarbelakangi turunnya beberapa ayat, surah Alu’Imran berikut ini: 
) يا ايها الذين امنوا ان تطيعوا فريقا من الذين اوتوا الكتاب يردوكم بعدا ايمانكم كفرين )ال عمران 011 
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi 
al-Kitab, niscahaya mereka akan mengembalikan kamu kafir sesudah kamu beriman.” 
Q.S.(2):100 
2. Peristiwa berupa kesalahan yang serius, seperti peristiwa seorang sahabat yang mengimami 
shalat dalam keadaan mabuk, sehingga mengalami kekeliruan dalam membaca suatu surat 
setelah al-fatihah. 
3. Peristiwa berupa hasrat, cita-cita atau keiinginan-keinginan, seperti kesesuaian-kesesuaian ( 
Muwafqot) hasrat dan keinginan Umar bin Khathtab dengan ketentuan-ketuan ayat-ayat al- 
Qur’an yang diturunkan Allah.3Menurut riwayat dari sahabat Anas r.a. ada beberapa harapan 
Umar yangdikemukakannya kepada Nabi Muhammad s.a.w., kemudian ayat-ayat yang 
kandungannya sesuai denganharapan-harapan dan keinginan-keinginan Umar tersebut. 
Seperti ketika Umar berkata kepada Rasullullah s.a.w.:”Ya Rasulullah, bagaimana 
kalau sekiranya kita kita jadikan maqom Ibrahim sebagai tempat sholat”? Maka turunlah ayat : 
) ...واتخدوا ن مقام ابرراهيم مصلي... )البقراة: 021 
“…Dan jadilah sebagian maqom Ibrahim sebagai tempat sholat…”Q.S.(2):125. 
Sbab-saba al-nuzul yang berbentuk pertanyaan juga dapat dikelompokkan menjadi tiga macam 
yaitu:4 
1. Pertanyaan yang berhubungan dengan peristiwa masa lalu, seperti kasus pertanyaan yang 
diajukan oleh orang-orang Quraisiy tentang”Ashab al-Kahfi” dan “Dzulkarnain” . RRasul 
2 Ramli Abdul Wahid, Ulumul Qur’an, (Jakarta: Rajawali Press, 1993), h. 30-31. Lihat juga ‘Abdul’ Azhim al- 
Zarqoniy,Manahil al-irfan, h. 107. 
3 Sebagian ulama’ di antaranya ada yang telah menyusun kitab khusus yang mengemukakan hal-hal yang berkaitan 
dengan masalah hasrat dan keinginan Umar bin Khaththab tersebut yang terkait dengan ayat -ayat yang diturunkan. 
4 Ramli Abdul Wahid,op.cit.,h. 32-33. Lihat Muhammad ‘Abdul’Azhim,Manahil al-irfan…, h. 108.
kemudian menjawab:” Besok akan aku beritahu kamu”. Tanpa mengucapkan kata ان شاء 
الله(Jika Allahmengkhendaki). Ternyata wahyu terlambat turun. Menurut riwayat dari ibnu 
ishak, setelah pertanyaan tersebut diajukan, ayat yangberkaitan dengan itu baru 
diturunkan lima belas hari kemudian, sedangkan menurut riwayat yang lain tiga hary 
kemudian. 
2. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang masih sedang berlangsung (pada saat 
itu). Sebagai contoh: Menurut salah satu riwayat dari ‘ikrimah yang diterima oleh Ibnu 
abbas, ia mengatakan, pada suatu saat ketika rasullullah s.a.w. berjalan-jalan di madinah, 
beberapa orang Quraisiy meminta materi pertanyaan kepada orang-orang yahudi yang 
kebetulan di jumpainya, dengan mengatakan:”Berikanlah kami materi pertanyaan yang 
akan kami tanyakan kepada orang itu, maka orang yahudipun memberikan pertanyaan 
kepada “ruh”. Merekapun (orang-orang Quraisiy) kemudian menanyakan hal ini kepada 
rasullullah. Maka turunlah firman alllah kepada Rosullullah agar sebagai jawaban dari 
pertanyaan yang mereka ajukan tersebut. 
3. Pertanyaan yang berhubungan dengan masayang akan datang: Seperti pertanyaan orang-orang 
kafir Quraisiy tentang hari kiamat, yang diabadikan dalam firman allah berikut ini: 
)24- يسالونك عنن اسعة ايان مرساها. فيما انت من ذكراها )انازعات: 22 
“Orang-orang kafir bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari bangkit (Kiamat), 
Kapankah terjadinya. Siapakah kamu (maka) Dapatkah engkau menyebutkan 
(Waktunya)?” Q.S.(79): 42-43. 
Sebagai jawabannya adalahterdapat pada ayt berikutnya dalam surah yang sama, yaitu: 
) الى ربك منتهاها )الناززعات: 22 
“Kepada tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).” Q.S.(79): 44. 
Dari segi jumlah sebab dan ayat yang turun, asbab al-nuzul dapat dibagi dua 
yaitu: 
1. Ta’addud al-sabab wa al-nazil wahid (sebab turunnya ayat lebih satu dan inti persoalan 
yang terkandung dalam ayat itu atau sekelompok ayat yang turun itu adalah satu juga). 
2. Ta;addud al-nazal wa al-sabab wahid 
(Inti yang terkandung dalam ayat yang diturunkan lebih dari satu sedang sebab turunnya 
satu). 
D. Faedah-faedah Asbabun Nuzul
Beberapa kegunaan atau Faedah dari mempelajari dan mengetahui Asbab al-nuzul 
itu, diantaranya adalah:5 
1. Untuk mengetahui hikmah diundangkannya suatu hokum dan perhatian syara’ 
terhadap kepentingan dan kebutuhan umum dalam menghadapi segala peristiwa. 
2. Membantu seseorang dalam memahami suatu ayat, sekaligus dapat menghilangkan 
kesulitan yang terdapat di dalam ayat. 
3. Dapat memberikan pemahaman dengan tepat, bahwa hukum yang dibawa oleh ayat 
al-Qur’an adalah khusus untuk memberikan penyelesaian terhadap peristiwa atau 
pertanyaan yang menjadi sabab al-nuzulnyaayat itu. 
4. Dapat diketahui dengan tepat sasaran hukum yang dibawa oleh ayat-ayat yang 
diturunkan, sehingga tidak akan keliru didlam menetapkan suatu hukum. 
5. Dapat membantu mempermudah pemahaman dan penghafalan ayat serta 
membantu”meletakkan” ayat-ayat yang bersangkutan berada didalam hati orang yang 
mendengarnya bila ayat itu dibacakan. 
BAB III 
PENUTUP 
5 Manna al-Qaththan, op.cit.h.79. Lihat Muhammad ‘abdul’Azhim, Manahil al-‘Irfan, h. 109.
A. Kesimpulan 
Seteleh mempelajari dan melihat pembahasan yang telah dijabarkan panjang lebar 
diatas, dapat kami simpulkan bahwasannya: 
1. Asbabun Nuzul didefinisikan 
Sebagai suatu hal yang karenanya Al-qur’an diturunkan untuk menerangkan status 
hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan”, serta 
memiliki faedah didalamnya. 
2. Cara turunnya Asbabun Nuzul itu: 
Pertama ayat-ayat turun sebagai reaksi terhadap pertanyaan yang dikemukakan kepada 
nabi. 
Kedua ayat-ayat turun sebagai permulaan tanpa didahului oleh peristiwa atau 
pertanyaan. 
3. Ayat-ayat yang mempunyai sebab turun itu terbagi menjadi dua kelmpok; 
 Ayat-ayat yang sebab turunnya harus diketahui ( hukum ) karena asbabun nuzulnya 
harus diketahui agar penetapan hukumnya tidak menjadi keliru. 
 Ayat-ayat yang sebab turunnya tidak harus diketahui, ( ayat yang menyangkut kisah 
dalam Al-qur’an). 
DAFTAR PUSTAKA
‘Djalal, Abdul Ulumul Qur’an. Surabaya: Dunia Ilmu. 1998. 
‘Usman, Ulumul Qua’an. Yogyakarta: Teras. 2009. 
‘Ramli, Abdul Wahid.1994. Ulumul qur’an.Jakarta:Rajawali 
‘Anwar, Rosihon. Ulum al-quran. Bandung: Pustaka Setia. 2008. 
‘Ahmad Syadali dan Ahmad Rifa’i, Ulumul Qur’an I. Bandung: Pustaka Setia. 2006. 
‘Shalih, Subhi. Mabahits fi ‘Ulumul Qur’an. Beirut: Dar al-Qalam li Al-Malayyin 1988.

Asbab al nuzul

  • 1.
    ASBAB AL-NUZUL Makalah Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “STUDY AL-QUR’AN” Disusun Oleh: Nur Alfiyatur Rochmah (B06213037) Dosen Pembimbing: JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS DAKWAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2013
  • 2.
    KATA PENGANTAR Pertama-tamamarilah kita panjatkan rasa syukur kita kepada Allah, karena dengan taufik-Nya lah kita bisa melakukan aktifitas-aktifitas sehari-hari demi memewujudkan cita-cita yang luhur berguna bagi nusa dan bangsa Kedua kalinya sholatullah wasalamuhu yang senantiasa kita limpahkan kapada pimpinan sejati kita yakni nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman yang penuh kemiskinan motivasi hingga pada hari yang selalu memberikan kita jalan yang lurus yakni agama islam, Dengan ini saya berharap kepada seluruh teman-teman mahasiswa apabila dalam pembuatan makalah ini kurang sempurna saya mohon untuk mengkritik makalah ini, karna saya sadar kemempuan saya jauh dari sempurna maka dari itu untuk mengevaluasi apa yang telah saya cetak, dengan tujuan supaya penulisan yang selanjutnya saya lebih baik, Harapan penulisan makalah ini supaya teman-teman mahasiswa agarmemahami tentang pengertian asbabun nuzul dan seluk beluknya dan semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi saya sendiri dan umumnya bagi pembaca .
  • 3.
    BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang . Qur’an diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia ke arah tujuan yang terang dan jalan yang lurus dengan menegakkan asas kehidupan yang didasarkan pada keimanan kepada Allah dan risalah-Nya. Juga memberitahukan hal yang telah lalu, kejadian-kejadian yang sekarang serta berita-berita yang akan datang. Sebagian besar Qur’an pada mulanya diturunkan untuk tujuan umum ini, tetapi kehidupan para sahabat bersama Rasulullah telah menyaksikan banyak peristiwa sejarah, bahkan kadang terjadi di antara mereka peristiwa khusus yang memerlukan penjelasan hukum Allah atau masih kabur bagi mereka. Kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah untuk mengetahui hukum Islam mengenai hal itu. Maka Qur’an turun untuk peristiwa khusus tadi atau untuk pertanyaan yang muncul itu. Hal seperti itulah yang dinamakan Asbabun Nuzul. Asbabun nuzul merupakan suatu aspek ilmu yang harus diketahui, dikaji dan diteliti oleh para mufassirin atau orang-orang yang ingin memahami Al-Qur’an secara mendalam. Berdasarkan pemahaman para ahli tafsir mengenai pentingnya mempelajari Asbabun Nuzul maka ilmu ini perlu dikembangkan untuk dipahami oleh umat manusia. Bahkan sekarang Asbabun Nuzul telah dijadikan salah satu kajian dalam ‘Ulumul Qur’an. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dari Asbabun Nuzul ? 2. Apa saja macam-macam Asbabun nuzul ? 3. Apa faedah dari Asbabun nuzul ? C. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan asbabun nuzul. 2. Untuk mengetahui macam-macam dari asbabun nuzul. 3. Untuk mengetahui faedah-faedah dari mempelajari asbabun nuzul.
  • 4.
    BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Asbabun Nuzul Asbab adalah bentuk plural (jama’) dari kata sabab yang dalam bahasa indonesia diartikan: sebab, alasan, motif, latar belakang dan lain-lain, sedangkan Nuzul merupakan bentuk masdar dari anzala yang berarti turun. Pengertian asbab an-nuzul secara istilah adalah sesuatu yang melatarbelakangi turunnya suatu ayat, yang mencakup suatu permasalahan dan menerangkan suatu hukum pada saat terjadi peristiwa-peristiwa.1 Menurut Abdul Djalal Ilmu asbabun Nuzul ialah Membahas kasus-kasus yang menjadi sebab diturunkannya beberapa ayat al-Qur’an macam-macamnya, sighat (redaksi-redaksinya), tarjih riwayat-riwayatnya dan faedah mempelajarinya. Menurut Quraish Shihab berdasarkan kutipan dari al-Zarqani, asbab an-nuzul adalah suatu kejadian yang menyebabkan turunnya suatu ayat atau beberapa ayat, atau suatu peristiwa yang dapat dijadikan petunjuk hukum berkenaan turunnya suatu ayat. M. Hasbi Ash Shiddieqy mengartikan Asbabun Nuzul sebagai kejadian yang karenanya diturunkan Al-Qur’an untuk menerangkan hukumnya di hari timbul kejadian-kejadian itu dan suasana yang didalamnya Al-Qur’an diturunkan serta membicarakan sebab yang tersebut itu, baik diturunkan langsung sesudah terjadi sebab itu ataupun kemudian lantaran sesuatu hikmah. Nurcholish Madjid menyatakan bahwa asbabun adalah konsep, teori atau berita tentang adanya sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa satu ayat, satu rangkaian ayat maupun satu surat. Subhi Shalih menyatakan bahwa Asbabun Nuzul itu sangat berkenaan dengan sesuatu yang menjadi sebab turunnya sebuah ayat atau beberapa ayat, atau suatu pertanyaan yang menjadi sebab turunnya ayat sebagai jawaban, atau sebagai penjelasan yang diturunkan pada waktu terjadinya suatu peristiwa. Az-Zarqani berpendapat bahwa asbabun nuzul adalah keterangan mengenai suatu ayat atau rangkaian ayat yang berisi tentang sebab-sebab turunnya atau menjelaskan hukum suatu kasus pada waktu kejadiannya. 1 Dr. Usman, M.ag,Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Sukses offset,2009), hal. 103
  • 5.
    Dari pengertian tersebutdi atas dapat ditarik dua kategori mengenai sebab turunnya suatu ayat. Pertama, suatu ayat turun ketika terjadi suatu peristiwa. Sebagaimana diriwayatkan Ibn Abbas tentang perintah Allah kepada Nabi SAW untuk memperingatkan kerabat dekatnya. Kemudian Nabi SAW naik ke bukit Shafa dan memperingatkan kaum kerabatnya akan azab yang pedih. Ketika itu Abu Lahab berkata, “Celakalah engkau, apakah engkau mengumpulkan kami hanya untuk urusan ini?”, lalu ia berdiri. Maka turunlah surat Al-Lahab. Kedua, suatu ayat turun apabila Rasulullah ditanya tentang sesuatu hal, maka turunlah ayat Al-Qur’an yang menerangkan hukumnya. Seperti pengaduan Khaulah binti Sa’labah kepada Nabi SAW berkenaan dengan zihar yang dijatuhkan suaminya, Aus bin Samit, padahal Khaulah telah menghabiskan masa mudanya dan telah sering melahirkan karenanya. Namun sekarang ia dikenai zihar oleh suaminya ketika sudah tua dan tidak melahirkan lagi. Kemudian turunlah ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya”, yakni Aus bin Samit. Asbabun nuzul menggambarkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an memiliki hubungan dialektis dengan fenomena sosio-kultural masyarakat. Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa Asbabun nuzul tidak berhubungan secara kausal dengan materi yang bersangkutan. Artinya, tidak bisa diterima pernyataan bahwa jika suatu sebab tidak ada, maka ayat itu tidak akan turun. Komaruddin Hidayat memposisikan persoalan ini dengan menyatakan bahwa kitab suci Al-Qur’an, sebagaimana kitab suci yang lain dari agama samawi, memang diyakini memiliki dua dimensi, yaitu historis dan transhistoris. Kitab suci menjembatani jarak antara Tuhan dan manusia. Tuhan hadir menyapa manusia di balik hijab kalamNya yang kemudian menyejarah. B. Macam-macam Asbabun Nuzul Bila diperhatikan dengan seksama, asbabun al-nuzul ayat-ayat al-Qur’an itu dapat dibedakan menjadi dua yaitu: pertama, segi bentuk turunnya ayat. Kedua, jumlah sebab dan ayat yang turun. Dari segi bentuknya, “asbab al-nuzul” dapat dibagi dua yaitu: 1. Berbentuk peristiwa 2. Berbentuk pertanyaan
  • 6.
    Adapun sebab-sebab nuzulyang berbentuk peristiwa dapat dibagi tiga yaitu :2 1. Peristiwa berupa pertengkaran atau persengketaan, seperti perselisihan yang berkecakamuk yang terjadi antara segolongan dari suku Aus dan segologan dari suku Khazraj. Perselisihan timbul dari intrik-intrik atau hasil adu domba yang disulutkan oleh orang-orang Yahudi, sehingga mereka berteriak-teriak dengan mengatakan “senjata,senjata”. Peristiwa tersebut melatarbelakangi turunnya beberapa ayat, surah Alu’Imran berikut ini: ) يا ايها الذين امنوا ان تطيعوا فريقا من الذين اوتوا الكتاب يردوكم بعدا ايمانكم كفرين )ال عمران 011 “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscahaya mereka akan mengembalikan kamu kafir sesudah kamu beriman.” Q.S.(2):100 2. Peristiwa berupa kesalahan yang serius, seperti peristiwa seorang sahabat yang mengimami shalat dalam keadaan mabuk, sehingga mengalami kekeliruan dalam membaca suatu surat setelah al-fatihah. 3. Peristiwa berupa hasrat, cita-cita atau keiinginan-keinginan, seperti kesesuaian-kesesuaian ( Muwafqot) hasrat dan keinginan Umar bin Khathtab dengan ketentuan-ketuan ayat-ayat al- Qur’an yang diturunkan Allah.3Menurut riwayat dari sahabat Anas r.a. ada beberapa harapan Umar yangdikemukakannya kepada Nabi Muhammad s.a.w., kemudian ayat-ayat yang kandungannya sesuai denganharapan-harapan dan keinginan-keinginan Umar tersebut. Seperti ketika Umar berkata kepada Rasullullah s.a.w.:”Ya Rasulullah, bagaimana kalau sekiranya kita kita jadikan maqom Ibrahim sebagai tempat sholat”? Maka turunlah ayat : ) ...واتخدوا ن مقام ابرراهيم مصلي... )البقراة: 021 “…Dan jadilah sebagian maqom Ibrahim sebagai tempat sholat…”Q.S.(2):125. Sbab-saba al-nuzul yang berbentuk pertanyaan juga dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu:4 1. Pertanyaan yang berhubungan dengan peristiwa masa lalu, seperti kasus pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang Quraisiy tentang”Ashab al-Kahfi” dan “Dzulkarnain” . RRasul 2 Ramli Abdul Wahid, Ulumul Qur’an, (Jakarta: Rajawali Press, 1993), h. 30-31. Lihat juga ‘Abdul’ Azhim al- Zarqoniy,Manahil al-irfan, h. 107. 3 Sebagian ulama’ di antaranya ada yang telah menyusun kitab khusus yang mengemukakan hal-hal yang berkaitan dengan masalah hasrat dan keinginan Umar bin Khaththab tersebut yang terkait dengan ayat -ayat yang diturunkan. 4 Ramli Abdul Wahid,op.cit.,h. 32-33. Lihat Muhammad ‘Abdul’Azhim,Manahil al-irfan…, h. 108.
  • 7.
    kemudian menjawab:” Besokakan aku beritahu kamu”. Tanpa mengucapkan kata ان شاء الله(Jika Allahmengkhendaki). Ternyata wahyu terlambat turun. Menurut riwayat dari ibnu ishak, setelah pertanyaan tersebut diajukan, ayat yangberkaitan dengan itu baru diturunkan lima belas hari kemudian, sedangkan menurut riwayat yang lain tiga hary kemudian. 2. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang masih sedang berlangsung (pada saat itu). Sebagai contoh: Menurut salah satu riwayat dari ‘ikrimah yang diterima oleh Ibnu abbas, ia mengatakan, pada suatu saat ketika rasullullah s.a.w. berjalan-jalan di madinah, beberapa orang Quraisiy meminta materi pertanyaan kepada orang-orang yahudi yang kebetulan di jumpainya, dengan mengatakan:”Berikanlah kami materi pertanyaan yang akan kami tanyakan kepada orang itu, maka orang yahudipun memberikan pertanyaan kepada “ruh”. Merekapun (orang-orang Quraisiy) kemudian menanyakan hal ini kepada rasullullah. Maka turunlah firman alllah kepada Rosullullah agar sebagai jawaban dari pertanyaan yang mereka ajukan tersebut. 3. Pertanyaan yang berhubungan dengan masayang akan datang: Seperti pertanyaan orang-orang kafir Quraisiy tentang hari kiamat, yang diabadikan dalam firman allah berikut ini: )24- يسالونك عنن اسعة ايان مرساها. فيما انت من ذكراها )انازعات: 22 “Orang-orang kafir bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari bangkit (Kiamat), Kapankah terjadinya. Siapakah kamu (maka) Dapatkah engkau menyebutkan (Waktunya)?” Q.S.(79): 42-43. Sebagai jawabannya adalahterdapat pada ayt berikutnya dalam surah yang sama, yaitu: ) الى ربك منتهاها )الناززعات: 22 “Kepada tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).” Q.S.(79): 44. Dari segi jumlah sebab dan ayat yang turun, asbab al-nuzul dapat dibagi dua yaitu: 1. Ta’addud al-sabab wa al-nazil wahid (sebab turunnya ayat lebih satu dan inti persoalan yang terkandung dalam ayat itu atau sekelompok ayat yang turun itu adalah satu juga). 2. Ta;addud al-nazal wa al-sabab wahid (Inti yang terkandung dalam ayat yang diturunkan lebih dari satu sedang sebab turunnya satu). D. Faedah-faedah Asbabun Nuzul
  • 8.
    Beberapa kegunaan atauFaedah dari mempelajari dan mengetahui Asbab al-nuzul itu, diantaranya adalah:5 1. Untuk mengetahui hikmah diundangkannya suatu hokum dan perhatian syara’ terhadap kepentingan dan kebutuhan umum dalam menghadapi segala peristiwa. 2. Membantu seseorang dalam memahami suatu ayat, sekaligus dapat menghilangkan kesulitan yang terdapat di dalam ayat. 3. Dapat memberikan pemahaman dengan tepat, bahwa hukum yang dibawa oleh ayat al-Qur’an adalah khusus untuk memberikan penyelesaian terhadap peristiwa atau pertanyaan yang menjadi sabab al-nuzulnyaayat itu. 4. Dapat diketahui dengan tepat sasaran hukum yang dibawa oleh ayat-ayat yang diturunkan, sehingga tidak akan keliru didlam menetapkan suatu hukum. 5. Dapat membantu mempermudah pemahaman dan penghafalan ayat serta membantu”meletakkan” ayat-ayat yang bersangkutan berada didalam hati orang yang mendengarnya bila ayat itu dibacakan. BAB III PENUTUP 5 Manna al-Qaththan, op.cit.h.79. Lihat Muhammad ‘abdul’Azhim, Manahil al-‘Irfan, h. 109.
  • 9.
    A. Kesimpulan Setelehmempelajari dan melihat pembahasan yang telah dijabarkan panjang lebar diatas, dapat kami simpulkan bahwasannya: 1. Asbabun Nuzul didefinisikan Sebagai suatu hal yang karenanya Al-qur’an diturunkan untuk menerangkan status hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan”, serta memiliki faedah didalamnya. 2. Cara turunnya Asbabun Nuzul itu: Pertama ayat-ayat turun sebagai reaksi terhadap pertanyaan yang dikemukakan kepada nabi. Kedua ayat-ayat turun sebagai permulaan tanpa didahului oleh peristiwa atau pertanyaan. 3. Ayat-ayat yang mempunyai sebab turun itu terbagi menjadi dua kelmpok;  Ayat-ayat yang sebab turunnya harus diketahui ( hukum ) karena asbabun nuzulnya harus diketahui agar penetapan hukumnya tidak menjadi keliru.  Ayat-ayat yang sebab turunnya tidak harus diketahui, ( ayat yang menyangkut kisah dalam Al-qur’an). DAFTAR PUSTAKA
  • 10.
    ‘Djalal, Abdul UlumulQur’an. Surabaya: Dunia Ilmu. 1998. ‘Usman, Ulumul Qua’an. Yogyakarta: Teras. 2009. ‘Ramli, Abdul Wahid.1994. Ulumul qur’an.Jakarta:Rajawali ‘Anwar, Rosihon. Ulum al-quran. Bandung: Pustaka Setia. 2008. ‘Ahmad Syadali dan Ahmad Rifa’i, Ulumul Qur’an I. Bandung: Pustaka Setia. 2006. ‘Shalih, Subhi. Mabahits fi ‘Ulumul Qur’an. Beirut: Dar al-Qalam li Al-Malayyin 1988.