Mekanika batuan adalah ilmu yang mempelajari reaksi 
batuan yang apabila padanya dikenai suatu gangguan. Dalam 
hal material alam, ilmu ini berlaku untuk masalah deformasi 
suatu struktur geologi, seperti bagaimana lipatan, patahan, 
dan rekahan berkembang begitu tegangan terjadi pada batuan 
selama proses geologi. Beberapa tipe rekayasa yang 
melibatkan mekanika batuan adalah pekerjaan sipil, tambang, 
dan perminyakan. 
Mekanika Batuan merupakan ilmu pengetahuan yang 
secara teori maupun pada prakteknya membahas tentang 
perilaku mekanis batuan termasuk di dalamnya membahas 
tentang berbagai metoda perancangan perilaku batuan yang 
sesuai dengan disiplin ilmu teknik yang diperlukan 
Mekanika batuan adalah salah cabang disiplin ilmu 
geomekanika. Mekanika batuan merupakan ilmu yang 
mempelajari sifat-sifat mekanik batuan dan massa batuan. 
Hal ini menyebabkan mekanika batuan memiliki peran yang 
dominan dalam operasi penambangan, seperti pekerjaan 
penerowongan, pemboran, penggalian, peledakan dan 
pekerjaan lainnya. Sehingga untuk mengetahui sifat mekanik 
batuan dan massa batuan dilakukan berbagai macam uji coba 
baik itu dilaboratorium maupun dilapangan langsung atau 
secara insitu. Untuk mengetahui sifat mekanik batuan 
dilakukan beberapa percobaan seperti uji kuat tekan 
uniaksial, uji kuat tarik, uji triaksial dan uji tegangan insitu. 
Mekanika batuan sendiri mempunyai karakteris tik 
mekanik yang diperoleh dari penelitian ini adalah kuat tekan 
batuan (σt), kuat tarik batuan (σc ), Modulus Young (E), 
Nisbah Poisson (v), selubung kekuatan batuan (strength 
envelope), kuat geser (τ), kohesi (C), dan sudut geser dalam 
(φ). Masing-masing karakter mekanik batuan tersebut 
diperoleh dari uji yang berbeda. Kuat tekan batuan dan 
Modulus Young diperoleh dari uji kuat tekan uniaksial. 
Pada penelitian ini nilai kuat tekan batuan dan Modulus 
Young diambil dari nilai rata-rata hasil pengujian lima 
contoh batuan. Untuk kuat tarik batuan diperoleh dari uji 
kuat tarik tak langsung (Brazillian test). Sama dengan uji 
kuat tekan uniaksial, uji kuat tarik tak langsung 
menggunakan lima contoh batuan untuk memperoleh kuat 
tarik rata-rata. Sedangkan selubung kekuatan batuan, kuat 
geser, kohesi, dan sudut geser dalam diperoleh dari pengujian 
triaksial konvensional dan multitahap. Selain mengamati 
sifat mekanik atau dinamik dari batuan dalam praktikum ini 
juga akan diamati sifat fisik batuan tersebut, dengan 
mengamati bobot dan masa jenisnya dalam beberapa 
keadaan. 
Perilaku batuan ada 2 yaitu perilaku batuan statik yang 
terdiri dari elastik, plastik dan elastoplastik dan perilaku 
batuan Dinamik yang terdiri dari viskous (Newtonian), visko-elastik 
(Maxwell),firmo viscous (Kelvin) dan kompleks 
(Burger). 
PERILAKU BATUAN STATIK 
 Batuan mempunyai perilaku yang berbeda-beda pada 
saat menerima beban. Perilaku ini dapat ditentukan 
dengan pengujian di laboratorium yaitu dengan 
pengujian kuat tekan, statik artinya diam. Jadi, yang 
dimaksud dengan perilaku batuan statik adalah 
batuan yang mempunyai sifat atau perilaku yang 
diam. 
 Perilaku batuan Statik memiliki 3 jenis yaitu : 
a. Elastik adalah perilaku batuan apabila tidak ada 
deformasi permanen pada saat tegangan 
dihilangkan (dibuat nol). 
b. Plastik adalah Plastik sempurna → tidak terjadi 
deformasi, jika  < 0. Terjadi deformasi 
permanen jika  = 0, tidak mampu menyangga 
 > 0. 
c. Elasto Plastik adalah Perilaku plastik batuan dapat 
dicirikan dengan adanya deformasi (regangan) 
permanen yang besar sebelum batuan runtuh atau 
hancur (failure). 
Sifat Fisik dan Sifat Mekanik Batuan 
Batuan mempunyai sifat-sifat tertentu yang dapat 
dikelompokkan menjadi dua, yaitu : 
1. Sifat fisik batuan, seperti : berat isi, specific gravity, 
porositas, void ratio, kadar air dan derajat 
kejenuhan. 
2. Sifat mekanik batuan, seperti : kuat tekan, kuat 
tarik, modulus elastisitas dan rasio Poisson. 
PERILAKU BATUAN 
1. Statik → elastik 
plastik 
elastoplastik 
2. Dinamik viskous (Newtonian) 
visko-elastik (Maxwell) 
firmo viscous (Kelvin) 
kompleks (Burger) 
Deformasi karena ada 
1. Intensitas beban (tegangan) 
2. Perilaku material 
Perilaku batuan yang dapat diamati : 
1. Kurva tegangan-regangan ( -  ) 
2. Kurva regangan – waktu ( - t ) → tetap 
3. Kurva relaxation ( - t ) →  tetap 
→ tidak terjadi deformasi permanen saat tegangan dibuat nol. 
- Reversible → ditekan/ditarik, kembali keposisi 
semula 
- Non-reversible → ditekan/ditarik, tidak kembali 
keposisi 
Semula 
Beberapa jenis batuan beku mendekati perilaku elastik : 
Perilaku plastik 
1. Plastik sempurna → tidak terjadi deformasi, jika  < 
0. 
terjadi deformasi permanen jika  = 0, 
tidak mampu menyangga  > 0.
Perilaku Elasto – Plastik 
Pada level tegangan tertentu 
→ elastik linier 
Pada 0 → plastik → hancur 
Perilaku batuan ideal menurut Obert. L (1967) 
Tahapan : 
1. Tahap awal dikenai gaya → kurva landai non linier 
2. Menjadi linier sampai batas elastik E 
3. Terbentuk fracture baru dengan perambatan stabil → 
kurva tetap linier 
4. Batas elastik terlewati → fracture takstabil /kurva 
tidak linier → hancur 
5. Titik hancur c menyatakan kekuatan batuan 
KLASIFIKASI MASSA BATUAN 
1. Latar Belakang 
Di dalam geoteknik, klasifikasi massa batuan yang pertama 
diperkenalkan sekitar 60 tahun yang lalu yang ditujukan untuk 
terowongan dengan penyanggaan menggunakan penyangga 
baja. Kemudian klasifikasi dikembangkan untuk penyangga 
non-baja untuk terowongan, lereng, dan pondasi. 3 pendekatan 
desain yang biasa digunakan untuk penggalian pada batuan 
yaitu: analitik, observasi, dan empirik. Salah satu yang paling 
banyak digunakan adalah pendekatan desain dengan 
menggunakan metode empiric. 
Klasifikasi massa batuan dikembangkan untuk mengatasi 
permasalahan yang timbul di lapangan secara cepat dan tidak 
ditujukan untuk mengganti studi analitik, observasi lapangan, 
pengukuran, dan engineering judgement. 
Tujuan dari klasifikasi massa batuan adalah untuk: 
• Mengidentifikasi parameter-parameter yang mempengaruhi 
kelakuan/sifat massa batuan. 
• Membagi massa batuan ke dalam kelompok-kelompok yang 
mempunyai kesamaan sifat dan kualitas. 
• Menyediakan pengertian dasar mengenai sifat karakteristik 
setiap kelas massa batuan. 
• Menghubungkan berdasarkan pengalaman kondisi massa 
batuan di suatu tempat dengan kondisi massa batuan di tempat 
lain. 
• Memperoleh data kuantitatif dan acuan untuk desain teknik. 
• Menyediakan dasar acuan untuk komuniukasi antara 
geologist dan engineer. 
Keuntungan dari digunakannya klasifikasi massa batuan: 
• Meningkatkan kualitas penyelidikan lapangan berdasarkan 
data masukan sebagai parameter klasifikasi. 
• Menyediakan informasi kuantitatif untuk tujuan desain. 
• Memungkinkan kebijakan teknik yang lebih baik dan 
komunikasi yang lebih efektif pada suatu proyek. 
Dikarenakan kompleknya suatu massa batuan, beberapa 
penelitian berusaha untuk mencari hubungan antara desain 
galian batu dengan parameter massa batuan. Banyak dari 
metode-metode tersebut telah dimodifikasi oleh yang lainnya 
dan sekarang banyak digunakan untuk penelitian awal atau 
bahkan untuk desain akhir. Beberapa klasifikasi massa batuan 
yang dikenal saat ini adalah: 
1. Metode klasifikasi beban batuan (rock load) 
2. Klasifikasi stand-up time 
3. Rock Quality Designation (RQD) 
4. Rock Structure Rating (RSR) 
5. Rock Mass Rating (RMR) 
6. Q-system
2. Metode klasifikasi beban batuan (rock load) 
Metode ini diperkenalkan oleh Karl von Terzaghi pada tahun 
1946. Merupakan metode pertama yang cukup rasional yang 
mengevaluasi beban batuan untuk desain terowongan dengan 
penyangga baja. Metode ini telah dipakai secara berhasil di 
Amerika selama kurun waktu 50 tahun. Akan tetapi pada saat 
ini metode ini sudah tidak cocok lagi dimana banyak sekali 
terowongan saat ini yang dibangun dengan menggunakan 
penyangga beton dan rockbolts. 
3. Klasifikasi Stand-up time 
Metode ini diperkenalkan oleh Laufer pada 1958. Dasar dari 
metode ini adalah bahwa dengan bertambahnya span 
terowongan akan menyebabkan berkurangnya waktu 
berdirinya terowongan tersebut tanpa penyanggaan. Metode 
ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan klasifikasi 
massa batuan selanjutnya. Faktor-faktor yang berpengaruh 
terhadap stand-up time adalah: arah sumbu terowongan, 
bentuk potongan melintang, metode penggalian, dan metode 
penyanggaan. 
4. Rock Quality Designation (RQD) 
RQD dikembangkan pada tahun 1964 oleh Deere. Metode 
ini didasarkan pada penghitungan persentase inti terambil 
yang mempunyai panjang 10 cm atau lebih. Dalam hal ini, inti 
terambil yang lunak atau tidak keras tidak perlu dihitung 
walaupun mempunyai panjang lebih dari 10cm. Diameter inti 
optimal yaitu 47.5mm. Nilai RQD ini dapat pula dipakai 
untuk memperkirakan penyanggaan terowongan. Saat ini 
RQD sebagai parameter standar dalam pemerian inti 
pemboran dan merupakan salah satu parameter dalam 
penentuan klasifikasi massa batuan RMR dan Q-system 
RQD didefinisikan sebagai persentasi dari perolehan inti 
bor (core) yang secara tidak langsung didasarkan pada jumlah 
bidang lemah dan jumlah bagian yang lunak dari massa 
batuan yang diamati dari ini bor (core). 
Berdasarkan nilai RQD massa batuan diklasifikasikan sebagai: 
RQD Kualitas massa batuan 
< 25% Sangat jelek 
25 – 50% Jelek 
50 – 75% Sedang 
75 – 90% Baik 
90 – 100% Sangat baik 
a. Metode Langsung 
Dalam menghitung nilai RQD, metode langsung digunakan 
apabila core logs tersedia. 
b. Metode Tidak Langsung 
Dalam menghitung nilai RQD, metode tidak langsung 
digunakan apabila core logs tidak tersedia. 
Pertimbangan RQD mengabaikan mechanical fracture 
yaitu fracture yang dibuat secara sengaja atau tidak selama 
kegiatan pengeboran atau pengukuran (Hoek, dkk. 1995). 
Nilai RQD ini dapat pula dipakai untuk memperkirakan 
penyanggaan terowongan. Saat ini RQD sebagai parameter 
standar dalam pemerian inti pemboran dan merupakan salah 
satu parameter dalam penentuan klasifikasi massa batuan 
RMR. 
Data Masukan Rock Quality Designation (Rqd) 
Data masukan untuk Rock Quality Designation (RQD) 
berupa panjang inti bor (core) sepanjang pengeboran (core 
run) diukur langsung di lapangan bersamaan dengan kegiatan 
core orienting dilakukan. Pengukuran dilakukan sesaat setelah 
inti bor (core) dikeluarkan dari core barrel. 
sedangkan teknik pengukuran RQD yang dipergunakan adalah 
teknik pengukuran RQD yang diusulkan oleh Call & 
Nicholas, Inc (CNI). 
Data masukan untuk perhitungan RQD adalah inti bor 
(core) yang memiliki panjang lebih besar dari dua kali 
diameter dan panjang total perolehan (core recovery) inti bor 
(core) dalam satu interval (run) pengeboran. 
Penentuan Nilai Rock Quality Designation (Rqd) 
Nilai RQD ditentukan untuk setiap interval (run) 
pengeboran.pengeboran dilakukan dengan interval (run) 3 m 
dengan menggunakan mata bor berdiameter 61.11 mm. 
Walaupun metode penghitungan dengan RQD ini sangat 
mudah dan cepat, akan tetapi metode ini tidak memperhitung 
factor orientasi bidang diskontinu, material pengisi, dll, 
sehingga metode ini kurang dapat menggambarkan keadaan 
massa batuan yang sebenarnya. 
Kegunaan Rock Quality Designation (Rqd) 
a. Teknik Pertambangan 
- Studi perencanaan: pelaksanaan pembukaan tambang 
dan lain sebagainya 
b. Teknik Sipil 
- Terowongan dan lain sebagainya 
- Fondasi bendungan 
5. Rock Structure Rating (RSR) 
RSR diperkenalkan pertama kali oleh Wickam, Tiedemann 
dan Skinner pada tahun 1972 di AS. Konsep ini merupakan 
metode kuantitatif untuk menggambarkan kualitas suatu 
massa batuan dan menentukan jenis penyanggaan di 
terowongan. Motode ini merupakan metode pertama untuk 
menentukan klasifikasi massa batuan yang komplit setelah 
diperkenalkannya klasifikasi massa batuan oleh Terzaghi 
1946. 
Konsep RSR ini selangkah lebih maju dibandingkan konsep-konsep 
yang ada sebelumnya. Pada konsep RSR terdapat 
klasifikasi kuantitatif dibandingkan dengan Terzaghi yang 
hanya klasifikasi kulitatif saja. Pada RSR ini juga terdapat 
cukup banyak parameter yang terlibat jika dibandingkan 
dengan RQD yang hanya melibatkan kualitas inti terambil dari 
hasil pemboran saja. Pada RSR ini juga terdapat klasifikasi 
yang mempunyai data masukan dan data keluaran yang 
lengkap tidak seperti Lauffer yang hanya menyajikan data 
keluaran yang berupa stand-up time dan span. 
RSR merupakan penjumlahan rating dari parameter-parameter 
pembentuknya yang terdiri dari 2 katagori umum, yaitu: 
• Parameter geoteknik; jenis batuan, pola kekar, arah kekar, 
jenis bidang lemah, sesar, geseran, dan lipatan, sifat material; 
pelapukan, dan alterasi. 
• Parameter konstruksi; ukuran terowongan, arah penggalian, 
metode penggalian 
RSR merupakan metode yang cukup baik untuk menentukan 
penyanggaan dengan penyangga baja tetapi tidak 
direkomendasikan untuk menentukan penyanggaan dengan 
penyangga rock bolt dan beton. 
RSR merupakan metode yang cukup baik untuk menentukan 
penyanggaan dengan penyangga baja tetapi tidak 
direkomendasikan untuk menentukan penyanggaan dengan 
penyangga rock bolt dan beton. 
Pada RSR terdapat cukup banyak parameter yang terlibat 
jika dibandingkan dengan konsep lainnya. Pada RSR ini juga
terdapat klasifikasi yang mempunyai data masukan dan data 
keluaran yang lengkap tidak seperti Lauffer yang hanya 
menyajikan data keluaran yang berupa stand-up time dan 
span. RSR merupakan penjumlahan rating dari parameter-parameter 
pembentuknya yang terdiri dari dua katagori umum, 
yaitu: 
a. Parameter geoteknik; jenis batuan, pola kekar, arah kekar, 
jenis bidang lemah, sesar, geseran, danlipatan, sifat 
material; pelapukan, dan alterasi. 
b. Parameter konstruksi; ukuran terowongan, arah 
penggalian, metode penggalian. 
6. Rock Mass Rating (RMR) 
Bieniawski (1976) mempublikasikan suatu klasifikasi massa 
batuan yang disebut Klasifikasi Geomekanika atau lebih 
dikenal dengan Rock Mass Rating (RMR). Setelah bertahun-tahun, 
klasifikasi massa batuan ini telah mengalami 
penyesuaian dikarenakan adanya penambahan data masukan 
sehingga Bieniawski membuat perubahan nilai rating pada 
parameter yang digunakan untuk penilaian klasifikasi massa 
batuan tersebut. Pada penelitian ini, klasifikasi massa batuan 
yang digunakan adalah klasifikasi massa batuan versi tahun 
1989 (Bieniawski, 1989). 6 Parameter yang digunakan dalam 
klasifikasi massa batuan menggunakan Sistim RMR yaitu: 
1. Kuat tekan uniaxial batuan utuh. 
2. Rock Quality Designatian (RQD). 
3. Spasi bidang dikontinyu. 
4. Kondisi bidang diskontinyu. 
5. Kondisi air tanah. 
6. Orientasi/arah bidang diskontinyu. 
Pada penggunaan sistim klasifikasi ini, massa batuan dibagi 
kedalam daerah struktural yang memiliki kesamaan sifat 
berdasarkan 6 parameter di atas dan klasifikasi massa batuan 
untuk setiap daerah tersebut dibuat terpisah. Batas dari daerah 
struktur tersebut biasanya disesuaikan dengan kenampakan 
perubahan struktur geologi seperti patahan, perubahan 
kerapatan kekar, dan perubahan jenis batuan. RMR ini dapat 
digunakan untuk terowongan. lereng, dan pondasi. 
7. Q-system 
Q-system diperkenalkan oleh Barton et al pada tahun 1974. 
Nilai Q didefinisikan sebagai: 
Dimana: 
RQD adalah Rock Quality Designation 
Jn adalah jumlah set kekar 
Jr adalah nilai kekasaran kekar 
Ja adalah nilai alterasi kekar 
Jw adalah faktor air tanah 
SRF adalah faktor berkurangnya tegangan 
• RQD/Jn merepresentasikan struktur massa batuan 
• Jr/Ja merepresentasikan kekasaran dan karakteritik gesekan 
diantara bidang kekar stsu material pengisi 
• Jw/SRF merepresentasikan tegangan aktif yang bekerja 
• Berdasarkan nilai Q kemudian dapat ditentukan jenis 
penyanggaan yang dibutuhkan untuk terowongan. 
RMI 
RMI didasarkan pada, parameter geologi didefinisikan 
dengan baik. Metode yang ada untuk deskripsi bidang 
singkapan, serta logging core drill dan pengukuran geofisika, 
telah disempurnakan. RMI dapat diterapkan dalam berbagai 
jenis teknik batuan dengan penyesuaian untuk fitur yang 
berkaitan dengan proyek tertentu atau pemanfaatan batuan. 
Tujuan utama dari sistem RMI (indeks Massa batuan) 
adalah untuk meningkatkan input data dan penggunaannya 
dalam rekayasa batuan. RMI memanfaatkan parameter yang 
melekat dalam massa batuan yang digabungkan untuk 
mengekspresikan indeks kekuatan relatif massa batuan. 
Indeks Massa batuan, RMI, telah dikembangkan 
untuk mengkarakterisasi kekuatan massa batuan untuk tujuan 
konstruksi. Suatu hal yang penting adalah untuk menggunakan 
parameter di RMI, yang memiliki signifikansi terbesar di 
bidang teknik. 
RMI hanya berlaku pada parameter intrinsik dari 
massa batuan 
RMI memanfaatkan parameter input berikut: kuat 
tekan utuh batuan, Volume blok, dan karakteristik bersama 
seperti yang diberikan oleh kekerasan, perubahan dan ukuran. 
Manfaat Dan Kekurangan Dari RMI 
Beberapa manfaat dari sistem RMI adalah: 
- RMI akan memberikan perbaikan yang signifikan 
dalam penggunaan input data geologi. Terutama yang 
dicapai oleh penggunaan sistematis parameter 
didefinisikan dengan baik di mana karakter tiga 
dimensi massa batuan diwakili oleh volume blok. 
- RMI dapat dengan mudah digunakan untuk perkiraan 
kasar ketika informasi terbatas pada kondisi tanah 
yang tersedia. Misalnya, dalam tahap awal sebuah 
proyek di mana perkiraan kasar yang cukup, eq. (2a) 
dapat diterapkan. 
- The RMI cocok untuk perbandingan dan pertukaran 
pengetahuan antara lokasi yang berbeda. Dengan cara 
ini dapat berkontribusi untuk meningkatkan 
komunikasi antara orang-orang yang terlibat dalam 
rekayasa batuan dan desain. 
- RMI menawarkan platform yang cocok untuk 
penilaian teknik. RMI adalah parameter umum yang 
mencirikan kekuatan yang melekat pada massa 
batuan, dan dapat diterapkan dalam rekayasa sebagai 
kualitas untuk bahan bangunan ini. RMI terdiri dari 
volume blok nyata dan sendi umum parameter untuk 
massa batuan, yang mudah untuk 
menghubungkannya dengan kondisi lapangan. Hal ini 
penting dalam aplikasi penilaian rekayasa. 
- Sistem RMI mencakup spektrum yang luas dari 
variasi massa batuan, oleh karena itu memiliki 
kemungkinan untuk aplikasi yang lebih luas dari 
pada klasifikasi massa batuan dan karakterisasi 
sistem lain saat ini. 
Kemungkinan Aplikasi Dari RMI 
Tujuan utama selama pengembangan RMI telah bekerja 
di luar sistem praktis untuk mengkarakterisasi massa batuan 
yang berlaku untuk rekayasa batuan dan desain. Bila 
diterapkan, nilai RMI atau parameter yang disesuaikan untuk 
fitur lokal penting untuk tujuan rekayasa

Mekanika batuan 1

  • 1.
    Mekanika batuan adalahilmu yang mempelajari reaksi batuan yang apabila padanya dikenai suatu gangguan. Dalam hal material alam, ilmu ini berlaku untuk masalah deformasi suatu struktur geologi, seperti bagaimana lipatan, patahan, dan rekahan berkembang begitu tegangan terjadi pada batuan selama proses geologi. Beberapa tipe rekayasa yang melibatkan mekanika batuan adalah pekerjaan sipil, tambang, dan perminyakan. Mekanika Batuan merupakan ilmu pengetahuan yang secara teori maupun pada prakteknya membahas tentang perilaku mekanis batuan termasuk di dalamnya membahas tentang berbagai metoda perancangan perilaku batuan yang sesuai dengan disiplin ilmu teknik yang diperlukan Mekanika batuan adalah salah cabang disiplin ilmu geomekanika. Mekanika batuan merupakan ilmu yang mempelajari sifat-sifat mekanik batuan dan massa batuan. Hal ini menyebabkan mekanika batuan memiliki peran yang dominan dalam operasi penambangan, seperti pekerjaan penerowongan, pemboran, penggalian, peledakan dan pekerjaan lainnya. Sehingga untuk mengetahui sifat mekanik batuan dan massa batuan dilakukan berbagai macam uji coba baik itu dilaboratorium maupun dilapangan langsung atau secara insitu. Untuk mengetahui sifat mekanik batuan dilakukan beberapa percobaan seperti uji kuat tekan uniaksial, uji kuat tarik, uji triaksial dan uji tegangan insitu. Mekanika batuan sendiri mempunyai karakteris tik mekanik yang diperoleh dari penelitian ini adalah kuat tekan batuan (σt), kuat tarik batuan (σc ), Modulus Young (E), Nisbah Poisson (v), selubung kekuatan batuan (strength envelope), kuat geser (τ), kohesi (C), dan sudut geser dalam (φ). Masing-masing karakter mekanik batuan tersebut diperoleh dari uji yang berbeda. Kuat tekan batuan dan Modulus Young diperoleh dari uji kuat tekan uniaksial. Pada penelitian ini nilai kuat tekan batuan dan Modulus Young diambil dari nilai rata-rata hasil pengujian lima contoh batuan. Untuk kuat tarik batuan diperoleh dari uji kuat tarik tak langsung (Brazillian test). Sama dengan uji kuat tekan uniaksial, uji kuat tarik tak langsung menggunakan lima contoh batuan untuk memperoleh kuat tarik rata-rata. Sedangkan selubung kekuatan batuan, kuat geser, kohesi, dan sudut geser dalam diperoleh dari pengujian triaksial konvensional dan multitahap. Selain mengamati sifat mekanik atau dinamik dari batuan dalam praktikum ini juga akan diamati sifat fisik batuan tersebut, dengan mengamati bobot dan masa jenisnya dalam beberapa keadaan. Perilaku batuan ada 2 yaitu perilaku batuan statik yang terdiri dari elastik, plastik dan elastoplastik dan perilaku batuan Dinamik yang terdiri dari viskous (Newtonian), visko-elastik (Maxwell),firmo viscous (Kelvin) dan kompleks (Burger). PERILAKU BATUAN STATIK  Batuan mempunyai perilaku yang berbeda-beda pada saat menerima beban. Perilaku ini dapat ditentukan dengan pengujian di laboratorium yaitu dengan pengujian kuat tekan, statik artinya diam. Jadi, yang dimaksud dengan perilaku batuan statik adalah batuan yang mempunyai sifat atau perilaku yang diam.  Perilaku batuan Statik memiliki 3 jenis yaitu : a. Elastik adalah perilaku batuan apabila tidak ada deformasi permanen pada saat tegangan dihilangkan (dibuat nol). b. Plastik adalah Plastik sempurna → tidak terjadi deformasi, jika  < 0. Terjadi deformasi permanen jika  = 0, tidak mampu menyangga  > 0. c. Elasto Plastik adalah Perilaku plastik batuan dapat dicirikan dengan adanya deformasi (regangan) permanen yang besar sebelum batuan runtuh atau hancur (failure). Sifat Fisik dan Sifat Mekanik Batuan Batuan mempunyai sifat-sifat tertentu yang dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu : 1. Sifat fisik batuan, seperti : berat isi, specific gravity, porositas, void ratio, kadar air dan derajat kejenuhan. 2. Sifat mekanik batuan, seperti : kuat tekan, kuat tarik, modulus elastisitas dan rasio Poisson. PERILAKU BATUAN 1. Statik → elastik plastik elastoplastik 2. Dinamik viskous (Newtonian) visko-elastik (Maxwell) firmo viscous (Kelvin) kompleks (Burger) Deformasi karena ada 1. Intensitas beban (tegangan) 2. Perilaku material Perilaku batuan yang dapat diamati : 1. Kurva tegangan-regangan ( -  ) 2. Kurva regangan – waktu ( - t ) → tetap 3. Kurva relaxation ( - t ) →  tetap → tidak terjadi deformasi permanen saat tegangan dibuat nol. - Reversible → ditekan/ditarik, kembali keposisi semula - Non-reversible → ditekan/ditarik, tidak kembali keposisi Semula Beberapa jenis batuan beku mendekati perilaku elastik : Perilaku plastik 1. Plastik sempurna → tidak terjadi deformasi, jika  < 0. terjadi deformasi permanen jika  = 0, tidak mampu menyangga  > 0.
  • 2.
    Perilaku Elasto –Plastik Pada level tegangan tertentu → elastik linier Pada 0 → plastik → hancur Perilaku batuan ideal menurut Obert. L (1967) Tahapan : 1. Tahap awal dikenai gaya → kurva landai non linier 2. Menjadi linier sampai batas elastik E 3. Terbentuk fracture baru dengan perambatan stabil → kurva tetap linier 4. Batas elastik terlewati → fracture takstabil /kurva tidak linier → hancur 5. Titik hancur c menyatakan kekuatan batuan KLASIFIKASI MASSA BATUAN 1. Latar Belakang Di dalam geoteknik, klasifikasi massa batuan yang pertama diperkenalkan sekitar 60 tahun yang lalu yang ditujukan untuk terowongan dengan penyanggaan menggunakan penyangga baja. Kemudian klasifikasi dikembangkan untuk penyangga non-baja untuk terowongan, lereng, dan pondasi. 3 pendekatan desain yang biasa digunakan untuk penggalian pada batuan yaitu: analitik, observasi, dan empirik. Salah satu yang paling banyak digunakan adalah pendekatan desain dengan menggunakan metode empiric. Klasifikasi massa batuan dikembangkan untuk mengatasi permasalahan yang timbul di lapangan secara cepat dan tidak ditujukan untuk mengganti studi analitik, observasi lapangan, pengukuran, dan engineering judgement. Tujuan dari klasifikasi massa batuan adalah untuk: • Mengidentifikasi parameter-parameter yang mempengaruhi kelakuan/sifat massa batuan. • Membagi massa batuan ke dalam kelompok-kelompok yang mempunyai kesamaan sifat dan kualitas. • Menyediakan pengertian dasar mengenai sifat karakteristik setiap kelas massa batuan. • Menghubungkan berdasarkan pengalaman kondisi massa batuan di suatu tempat dengan kondisi massa batuan di tempat lain. • Memperoleh data kuantitatif dan acuan untuk desain teknik. • Menyediakan dasar acuan untuk komuniukasi antara geologist dan engineer. Keuntungan dari digunakannya klasifikasi massa batuan: • Meningkatkan kualitas penyelidikan lapangan berdasarkan data masukan sebagai parameter klasifikasi. • Menyediakan informasi kuantitatif untuk tujuan desain. • Memungkinkan kebijakan teknik yang lebih baik dan komunikasi yang lebih efektif pada suatu proyek. Dikarenakan kompleknya suatu massa batuan, beberapa penelitian berusaha untuk mencari hubungan antara desain galian batu dengan parameter massa batuan. Banyak dari metode-metode tersebut telah dimodifikasi oleh yang lainnya dan sekarang banyak digunakan untuk penelitian awal atau bahkan untuk desain akhir. Beberapa klasifikasi massa batuan yang dikenal saat ini adalah: 1. Metode klasifikasi beban batuan (rock load) 2. Klasifikasi stand-up time 3. Rock Quality Designation (RQD) 4. Rock Structure Rating (RSR) 5. Rock Mass Rating (RMR) 6. Q-system
  • 3.
    2. Metode klasifikasibeban batuan (rock load) Metode ini diperkenalkan oleh Karl von Terzaghi pada tahun 1946. Merupakan metode pertama yang cukup rasional yang mengevaluasi beban batuan untuk desain terowongan dengan penyangga baja. Metode ini telah dipakai secara berhasil di Amerika selama kurun waktu 50 tahun. Akan tetapi pada saat ini metode ini sudah tidak cocok lagi dimana banyak sekali terowongan saat ini yang dibangun dengan menggunakan penyangga beton dan rockbolts. 3. Klasifikasi Stand-up time Metode ini diperkenalkan oleh Laufer pada 1958. Dasar dari metode ini adalah bahwa dengan bertambahnya span terowongan akan menyebabkan berkurangnya waktu berdirinya terowongan tersebut tanpa penyanggaan. Metode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan klasifikasi massa batuan selanjutnya. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap stand-up time adalah: arah sumbu terowongan, bentuk potongan melintang, metode penggalian, dan metode penyanggaan. 4. Rock Quality Designation (RQD) RQD dikembangkan pada tahun 1964 oleh Deere. Metode ini didasarkan pada penghitungan persentase inti terambil yang mempunyai panjang 10 cm atau lebih. Dalam hal ini, inti terambil yang lunak atau tidak keras tidak perlu dihitung walaupun mempunyai panjang lebih dari 10cm. Diameter inti optimal yaitu 47.5mm. Nilai RQD ini dapat pula dipakai untuk memperkirakan penyanggaan terowongan. Saat ini RQD sebagai parameter standar dalam pemerian inti pemboran dan merupakan salah satu parameter dalam penentuan klasifikasi massa batuan RMR dan Q-system RQD didefinisikan sebagai persentasi dari perolehan inti bor (core) yang secara tidak langsung didasarkan pada jumlah bidang lemah dan jumlah bagian yang lunak dari massa batuan yang diamati dari ini bor (core). Berdasarkan nilai RQD massa batuan diklasifikasikan sebagai: RQD Kualitas massa batuan < 25% Sangat jelek 25 – 50% Jelek 50 – 75% Sedang 75 – 90% Baik 90 – 100% Sangat baik a. Metode Langsung Dalam menghitung nilai RQD, metode langsung digunakan apabila core logs tersedia. b. Metode Tidak Langsung Dalam menghitung nilai RQD, metode tidak langsung digunakan apabila core logs tidak tersedia. Pertimbangan RQD mengabaikan mechanical fracture yaitu fracture yang dibuat secara sengaja atau tidak selama kegiatan pengeboran atau pengukuran (Hoek, dkk. 1995). Nilai RQD ini dapat pula dipakai untuk memperkirakan penyanggaan terowongan. Saat ini RQD sebagai parameter standar dalam pemerian inti pemboran dan merupakan salah satu parameter dalam penentuan klasifikasi massa batuan RMR. Data Masukan Rock Quality Designation (Rqd) Data masukan untuk Rock Quality Designation (RQD) berupa panjang inti bor (core) sepanjang pengeboran (core run) diukur langsung di lapangan bersamaan dengan kegiatan core orienting dilakukan. Pengukuran dilakukan sesaat setelah inti bor (core) dikeluarkan dari core barrel. sedangkan teknik pengukuran RQD yang dipergunakan adalah teknik pengukuran RQD yang diusulkan oleh Call & Nicholas, Inc (CNI). Data masukan untuk perhitungan RQD adalah inti bor (core) yang memiliki panjang lebih besar dari dua kali diameter dan panjang total perolehan (core recovery) inti bor (core) dalam satu interval (run) pengeboran. Penentuan Nilai Rock Quality Designation (Rqd) Nilai RQD ditentukan untuk setiap interval (run) pengeboran.pengeboran dilakukan dengan interval (run) 3 m dengan menggunakan mata bor berdiameter 61.11 mm. Walaupun metode penghitungan dengan RQD ini sangat mudah dan cepat, akan tetapi metode ini tidak memperhitung factor orientasi bidang diskontinu, material pengisi, dll, sehingga metode ini kurang dapat menggambarkan keadaan massa batuan yang sebenarnya. Kegunaan Rock Quality Designation (Rqd) a. Teknik Pertambangan - Studi perencanaan: pelaksanaan pembukaan tambang dan lain sebagainya b. Teknik Sipil - Terowongan dan lain sebagainya - Fondasi bendungan 5. Rock Structure Rating (RSR) RSR diperkenalkan pertama kali oleh Wickam, Tiedemann dan Skinner pada tahun 1972 di AS. Konsep ini merupakan metode kuantitatif untuk menggambarkan kualitas suatu massa batuan dan menentukan jenis penyanggaan di terowongan. Motode ini merupakan metode pertama untuk menentukan klasifikasi massa batuan yang komplit setelah diperkenalkannya klasifikasi massa batuan oleh Terzaghi 1946. Konsep RSR ini selangkah lebih maju dibandingkan konsep-konsep yang ada sebelumnya. Pada konsep RSR terdapat klasifikasi kuantitatif dibandingkan dengan Terzaghi yang hanya klasifikasi kulitatif saja. Pada RSR ini juga terdapat cukup banyak parameter yang terlibat jika dibandingkan dengan RQD yang hanya melibatkan kualitas inti terambil dari hasil pemboran saja. Pada RSR ini juga terdapat klasifikasi yang mempunyai data masukan dan data keluaran yang lengkap tidak seperti Lauffer yang hanya menyajikan data keluaran yang berupa stand-up time dan span. RSR merupakan penjumlahan rating dari parameter-parameter pembentuknya yang terdiri dari 2 katagori umum, yaitu: • Parameter geoteknik; jenis batuan, pola kekar, arah kekar, jenis bidang lemah, sesar, geseran, dan lipatan, sifat material; pelapukan, dan alterasi. • Parameter konstruksi; ukuran terowongan, arah penggalian, metode penggalian RSR merupakan metode yang cukup baik untuk menentukan penyanggaan dengan penyangga baja tetapi tidak direkomendasikan untuk menentukan penyanggaan dengan penyangga rock bolt dan beton. RSR merupakan metode yang cukup baik untuk menentukan penyanggaan dengan penyangga baja tetapi tidak direkomendasikan untuk menentukan penyanggaan dengan penyangga rock bolt dan beton. Pada RSR terdapat cukup banyak parameter yang terlibat jika dibandingkan dengan konsep lainnya. Pada RSR ini juga
  • 4.
    terdapat klasifikasi yangmempunyai data masukan dan data keluaran yang lengkap tidak seperti Lauffer yang hanya menyajikan data keluaran yang berupa stand-up time dan span. RSR merupakan penjumlahan rating dari parameter-parameter pembentuknya yang terdiri dari dua katagori umum, yaitu: a. Parameter geoteknik; jenis batuan, pola kekar, arah kekar, jenis bidang lemah, sesar, geseran, danlipatan, sifat material; pelapukan, dan alterasi. b. Parameter konstruksi; ukuran terowongan, arah penggalian, metode penggalian. 6. Rock Mass Rating (RMR) Bieniawski (1976) mempublikasikan suatu klasifikasi massa batuan yang disebut Klasifikasi Geomekanika atau lebih dikenal dengan Rock Mass Rating (RMR). Setelah bertahun-tahun, klasifikasi massa batuan ini telah mengalami penyesuaian dikarenakan adanya penambahan data masukan sehingga Bieniawski membuat perubahan nilai rating pada parameter yang digunakan untuk penilaian klasifikasi massa batuan tersebut. Pada penelitian ini, klasifikasi massa batuan yang digunakan adalah klasifikasi massa batuan versi tahun 1989 (Bieniawski, 1989). 6 Parameter yang digunakan dalam klasifikasi massa batuan menggunakan Sistim RMR yaitu: 1. Kuat tekan uniaxial batuan utuh. 2. Rock Quality Designatian (RQD). 3. Spasi bidang dikontinyu. 4. Kondisi bidang diskontinyu. 5. Kondisi air tanah. 6. Orientasi/arah bidang diskontinyu. Pada penggunaan sistim klasifikasi ini, massa batuan dibagi kedalam daerah struktural yang memiliki kesamaan sifat berdasarkan 6 parameter di atas dan klasifikasi massa batuan untuk setiap daerah tersebut dibuat terpisah. Batas dari daerah struktur tersebut biasanya disesuaikan dengan kenampakan perubahan struktur geologi seperti patahan, perubahan kerapatan kekar, dan perubahan jenis batuan. RMR ini dapat digunakan untuk terowongan. lereng, dan pondasi. 7. Q-system Q-system diperkenalkan oleh Barton et al pada tahun 1974. Nilai Q didefinisikan sebagai: Dimana: RQD adalah Rock Quality Designation Jn adalah jumlah set kekar Jr adalah nilai kekasaran kekar Ja adalah nilai alterasi kekar Jw adalah faktor air tanah SRF adalah faktor berkurangnya tegangan • RQD/Jn merepresentasikan struktur massa batuan • Jr/Ja merepresentasikan kekasaran dan karakteritik gesekan diantara bidang kekar stsu material pengisi • Jw/SRF merepresentasikan tegangan aktif yang bekerja • Berdasarkan nilai Q kemudian dapat ditentukan jenis penyanggaan yang dibutuhkan untuk terowongan. RMI RMI didasarkan pada, parameter geologi didefinisikan dengan baik. Metode yang ada untuk deskripsi bidang singkapan, serta logging core drill dan pengukuran geofisika, telah disempurnakan. RMI dapat diterapkan dalam berbagai jenis teknik batuan dengan penyesuaian untuk fitur yang berkaitan dengan proyek tertentu atau pemanfaatan batuan. Tujuan utama dari sistem RMI (indeks Massa batuan) adalah untuk meningkatkan input data dan penggunaannya dalam rekayasa batuan. RMI memanfaatkan parameter yang melekat dalam massa batuan yang digabungkan untuk mengekspresikan indeks kekuatan relatif massa batuan. Indeks Massa batuan, RMI, telah dikembangkan untuk mengkarakterisasi kekuatan massa batuan untuk tujuan konstruksi. Suatu hal yang penting adalah untuk menggunakan parameter di RMI, yang memiliki signifikansi terbesar di bidang teknik. RMI hanya berlaku pada parameter intrinsik dari massa batuan RMI memanfaatkan parameter input berikut: kuat tekan utuh batuan, Volume blok, dan karakteristik bersama seperti yang diberikan oleh kekerasan, perubahan dan ukuran. Manfaat Dan Kekurangan Dari RMI Beberapa manfaat dari sistem RMI adalah: - RMI akan memberikan perbaikan yang signifikan dalam penggunaan input data geologi. Terutama yang dicapai oleh penggunaan sistematis parameter didefinisikan dengan baik di mana karakter tiga dimensi massa batuan diwakili oleh volume blok. - RMI dapat dengan mudah digunakan untuk perkiraan kasar ketika informasi terbatas pada kondisi tanah yang tersedia. Misalnya, dalam tahap awal sebuah proyek di mana perkiraan kasar yang cukup, eq. (2a) dapat diterapkan. - The RMI cocok untuk perbandingan dan pertukaran pengetahuan antara lokasi yang berbeda. Dengan cara ini dapat berkontribusi untuk meningkatkan komunikasi antara orang-orang yang terlibat dalam rekayasa batuan dan desain. - RMI menawarkan platform yang cocok untuk penilaian teknik. RMI adalah parameter umum yang mencirikan kekuatan yang melekat pada massa batuan, dan dapat diterapkan dalam rekayasa sebagai kualitas untuk bahan bangunan ini. RMI terdiri dari volume blok nyata dan sendi umum parameter untuk massa batuan, yang mudah untuk menghubungkannya dengan kondisi lapangan. Hal ini penting dalam aplikasi penilaian rekayasa. - Sistem RMI mencakup spektrum yang luas dari variasi massa batuan, oleh karena itu memiliki kemungkinan untuk aplikasi yang lebih luas dari pada klasifikasi massa batuan dan karakterisasi sistem lain saat ini. Kemungkinan Aplikasi Dari RMI Tujuan utama selama pengembangan RMI telah bekerja di luar sistem praktis untuk mengkarakterisasi massa batuan yang berlaku untuk rekayasa batuan dan desain. Bila diterapkan, nilai RMI atau parameter yang disesuaikan untuk fitur lokal penting untuk tujuan rekayasa