SlideShare a Scribd company logo
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
* Perkembangan konsep genesa endapan.
* Beberapa klasifikasi endapan.
* Fluida pembawa bijih.
* Proses Pembentukan Endapan
* Konsep dasar dimulai pada abad ke-16 oleh Georg Bauer
(dengan nama latin Georgius Agricola) pada buku De re Metallica
(1556).
* Menurut Agricola, mineral bijih dapat diklasifikasikan
berdasarkan proses terbentuknya, yaitu INSITU dan ALLUVIAL.
* Endapan insitu terdiri dari fissure veins, bedded,
impregnations, stringers, seams, dan stockworks.
* Endapan alluvial merupakan endapan-endapan yang berasal
dari perombakan endapan insitu.
* Menurut Hoover & Hoover (penerjemah De re Metallica), Agricola
mendasarkan pengelompokan pada dua prinsip dasar, yaitu :
 Endapan yang terbentuk secara sekunder, sehingga lebih
muda daripada batuan induknya
 Endapan yang terbentuk akibat sirkulasi larutan dalam
channels.
* Charpentier : vein-vein terbentuk akibat alterasi pada
batuan samping  keberadaan vein yang bergradasi dengan
batuan samping.
* Gerhard : vein-vein terbentuk pada suatu bukaan (open
fissures filled) oleh mineral-mineral yang terlindikan
(leached) dari batuan samping.
* Berdasarkan Charpentier dan Gerhard tsb, maka muncul
teori “lateral secretion”, yaitu : kandungan suatu endapan
mineral sehingga menjadi suatu endapan bijih yang berasal
dari batuan-batuan samping yang berdekatan akibat dari air
(tidak harus air meteorik).
* Teori ini menjadi referensi utama selama lebih dari 100
tahun.
 Hutton (1788 & 1795) ; batuan beku dan mineral bijih
berasal dari magma dan ditempatkan dalam kondisi
cair (liquid) untuk menjadi kondisi sekarang.
 Pendapat-pendapat bahwa endapan bijih berasal dari
magma juga didukung oleh Joseph Brunner (1801)
dan Scipione Breislak (1811)  teori magma
differentiation and magma segregation.
 Spurr (1933) menyempurnakan teori tersebut bahwa
jenis mineral yang terbentuk tergantung pada jenis
batuan asalnya.
 Teori-teori tsb terus berkembang, hingga Waldemar
Lindgren (1907, 1913 dan 1922) menghasilkan suatu
klasifikasi endapan berdasarkan proses genetik-nya.
* Berdasarkan kesamaan karakteristik dan
deskripsi.
* Persamaan proses genesa dan letak endapan.
* Kesesuaian teori-teori dan lingkungan
pengendapan.
* Dibuat se-sederhana mungkin sehingga mudah
dalam penerapan serta fleksibel.
* Sampai saat ini, hanya endapan sedimenter dan
endapan yang berasosiasi dengan batuan beku
yang dapat dibedakan dengan jelas.
 Mengelompokkan endapan epigenetik menjadi
volcanic (untuk dekat permukaan) dan plutonic (untuk
yang jauh di bawah permukaan).
 Berdasarkan sumber/asal endapan berupa liquids atau
gases atau yang ter-kristalisasi langsung dari magma,
maka endapan plutonik dikelompokkan lagi menjadi :
 hydrothermal,
 pegmatitic-pneumatolytic, dan
 orthomagmatic.
 Pengelompokan yang lebih kecil didasarkan pada
komposisi kimia mineral dan mineral-mineral assosiasi.
 Dikelompokkan berdasarkan :
 Asal dari fluida pembawa bijih,
 Assosiasi mineral (mineral associations),
 Letak/posisi lingkungan pengendapan (terendapkan dekat
permukaan dan terendapkan jauh di bawah permukaan),
 Tipe endapan, host rock, dan gangue mineral.
 Kategori pengelompokan utama adalah berdasarkan assosiasi
mineral.
 Dalam klasifikasi ini, telah dikategorikan kelompok endapan
berdasarkan mineral bijih (ore), batuan induk (host rock) dan
mineral gangue (gangue minerals).
 Sampai saat ini merupakan klasifikasi terbaik yang dapat
digunakan (Park and MacDiarmid, 1975).
 Modifikasi oleh Graton (1933), Buddington (1935) dan
Ridge (1968).
 Klasifikasi ini sebagian besar didasarkan pada tekanan
dan temperatur.
 Skema temperatur dan tekanan merupakan parameter
yang terus diteliti untuk disempurnakan.
 Klasifikasi ini digunakan sebagai klasifikasi standart di
USA.
 Klasifikasi secara genetik ini berhubungan erat dengan
zoning dan paragenesis, dimana secara teoritis zona-
zona P- T berhubungan erat dengan zona-zona mineral-
mineral tertentu.
How do ore deposits form ?
 Sumber dan karakteristik fluida pembawa
bijih,
 Sumber dari mineral bijih dan bagaimana
mekanisme keterdapatannya dalam fluida
atau larutan,
 Proses migrasi fluida pembawa bijih,
 Kontrol (penyebab) pengendapan mineral
bijih dari fluida pembawa bijih.
Merupakan rangkaian urutan-urutan kejadian dari
magma hingga proses dipermukaan bumi akan
menghasilkan type-type endapan tertentu.
o Berdasarkan urutan proses magmatik :
 Aktivitas magma (endapan magmatik cair)
 Injeksi larutan sisa magma pada dekat
pemukaan (endapan hidrothermal).
o Berdasarkan proses eksternal :
Endapan lateritik dan
Endapan sedimenter.
 Silicate-dominated magma atau larutan magma
yang kaya dengan oksida, karbonat atau sulfida.
 Water-dominated fluida hidrothermal yang
terpisah dari magma.
 Air meteorik (yang berasal dari atmosfir)
 Air laut.
 Air connate (terperangkap dalam pori batuan
sedimen).
 Fluida-fluida yang berasosiasi dengan proses-
proses metamorfik.
 Magma adalah suatu “rock melt” atau suatu larutan dengan
temperatur tinggi yang berupa cairan (liquid) dan kristal-kristal.
 Umumnya memiliki komposisi yang tidak homogen; setempat
dapat kaya akan ferromagnesian, silika, sodium dan
potassium; mengandung volatiles, xenoliths (inclusions atau
un-melted fragment), dll.
 Bersifat tidak statik atau bukan dalam suatu sistem yang
tertutup, dapat bergerak secara konvektif.
 Pada saat pendinginan, dapat mengalami kristalisasi dan
terpisah- terpisah menjadi fraksi-fraksi tertentu melalui proses
“fractional crystallization” atau “magma differentiation”.
 Unsur-unsur logam dapat terkonsentrasi melalui mekanisme
pembentukan batuan dalam komposisi yang bervariasi sesuai
dengan kandungan logam-nya.
 Pada magma mafic (ferromagnesian rock
forming silicates - SiO4)  chromium, nickel,
platinum, dll.
 Pada magma silicic (kaya akan silica - SiO2)
 timah, zirconium, thorium, dll.
 Titanium dan Iron dapat terbentuk dalam
range komposisi magma yang lebar.
 Proses-proses kristalisasi seperti
differentiation and crystal settling, secara
gradual meningkatkan konsentrasi volatile
pada larutan-larutan sisa magma.
1. Vesiculation, magma yang mengandung unsur-unsur volatile seperti air (H2O), karbon
dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), sulfur S) dan klorin (Cl). Pada saat magma naik
kepermukaan bumi, unsur-unsur ini membentuk gelombang gas, seperti buih pada air
soda.Gelombang (buih) cenderung naik dan membawa serta unsur-unsur yang lebih volatile
seperti sodium dan potasium.
2. Diffusion, pada proses ini terjadi pertukaran material dari magma dengan material dari batuan
yang mengelilingi reservoir magma, dengan proses yang sangat lambat. Proses diffusi tidak
seselektif proses-proses mekanisme differensiasi magma yang lain. Walaupun demikian, proses
diffusi dapat menjadi sama efektifnya, jika magma diaduk oleh suatu pencaran (convection) dan
disirkulasi dekat dinding dimana magma dapat kehilangan beberapa unsurnya dan mendapatkan
unsur yang lain dari dinding reservoar.
3. Flotation, kristal-kristal ringan yang mengandung sodium dan potasium cenderung untuk
memperkaya magma yang terletak pada bagian atas reservoar dengan unsur-unsur sodium dan
potasium.
4. Gravitational Settling, mineral-mineral berat yang mengandung kalsium, magnesium dan besi,
cenderung memperkaya resevoir magma yang terletak disebelah bawah reservoir dengan unsur-
unsur tersebut. Proses ini mungkin menghasilkan kristal badan bijih dalam bentuk perlapisan.
Lapisan paling bawah diperkaya dengan mineral-mineral yang lebih berat seperti mineral-mineral
silikat dan lapisan diatasnya diperkaya dengan mineral-mineral silikat yang lebih ringan.
5. Assimilation of Wall Rock, selama emplacement magma, batu yang jatuh dari dinding
reservoir akan bergabung dengan magma. Batuan ini bereaksi dengan magma atau secara
sempurna terlarut dalam magma, sehingga merubah komposisi magma. Jika batuan dinding kaya
akan sodium, potasium dan silikon, magma akan berubah menjadi komposisi granitik. Jika batuan
dinding kaya akan kalsium, magnesium dan besi, magma akan berubah menjadi berkomposisi
gabroik.
6. Thick Horizontal Sill, secara umum bentuk ini memperlihatkan proses differensiasi magmatik
asli yang membeku karena kontak dengan dinding reservoir. Jika bagian sebelah dalam
membeku, terjadi Crystal Settling dan menghasilkan lapisan, dimana mineral silikat yang lebih
berat terletak pada lapisan dasar dari mineral silikat yang lebih ringan.
 Proses internal
Kristalisasi dan segregrasi magma
Hydrothermal
Lateral secretion
Metamorphic Processes
 Proses eksternal
Mechanical Accumulation
Sedimentary precipitates
Residual processes
Secondary or supergene enrichment
Volcanic exhalative (= sedimentary exhalative)
Kristalisasi dan segregrasi magma
Hydrothermal
Lateral secretion
Metamorphic Processes
 Pengendapan mineral bijih sebagai
komponen utama atau minor dalam
batuan beku.
 Kristalisasi magma merupakan
proses utama dari pembentukan
batuan vulkanik dan plutonik.
 Terminologi endapan segregasi
magma atau orthomagmatic-deposit
dapat digunakan untuk endapan-
endapan yang terbentuk
(mengkristal) secara langsung dari
magma
FRACTIONAL CRYSTALLIZATION
; proses-proses yang terjadi
sepanjang differensiasi magma
LIQUATION ; Terpisah dari magma
berupa sulfide, sulfide-oxide atau
larutan oxide yang kemudian
terakumulasi dibawah larutan
silikat.
o Hot aqueous solutions (hydrothermal solutions) 
larutan 3 fase (liquid + gas + solid).
o Penting pada pembentukan beberapa type
endapan (stockwork, vein, volcanic-exhalative, dll).
o Range pembentukan endapan berada diperkirakan
pada temperatur 50 – 650°C (sinter –
porfiri/mesothermal).
o Larutan hydrothermal ini dipercaya sebagai salah
satu fluida pembawa bijih utama yang kemudian
terendapkan dalam beberapa fase dan tipe
endapan.
 Larutan berasal dari larutan sisa magma dengan temperatur
yang lebih rendah sebagai sisa dari kristalisasi pada fase
pegmatit  mengandung base metals dan elemen-elemen
lain yang tidak ikut ter-kristal-kan pada pendinginan magma
(W, U, Mo, Cs, Rb, Li, Be, B dan P).
 Larutan sisa magma ini diasumsikan ter-injeksi-kan sepanjang
fractures atau media (channel) lain ke tempat yang lebih
dingin di dekat permukaan dimana tipe-tipe endapan
hidrothermal terdapat.
 Kandungan volatile : H2S, HCl, HF, CO2, SO2 dan H2.
 White (1955) menyatakan bahwa sistim geothermal
kemungkinan merupakan pembentuk utama endapan-
endapan epigenetik  dibuktikan lebih lanjut oleh peneliti
lain  endapan umumnya berhubungan dengan (terdapat
pada) ancient geothermal system.
 Sketsa yang memperlihatkan struktur
dari sistem hidrothermal system (Henley
and Ellis, 1983).
 Sirkulasi air panas kemungkinan
bereaksi dan mengandung kandungan
terlarut dari batuan samping atau intrusi
magma.
 Sistem geothermal sebagai heat engine (biasanya
magmatik) pada kedalaman beberapa kilometer
berinteraksi dengan air meteorik dalam. Sirkulasi
dalam air meteorik (A). Aliran panas (BD) dan
outflow yang lebih lambat (C).
 • Lapisan yg jenuh air endapan skarn Sn-Fe (I).
 • Kristalisasi lanjut dengan kontribusi air meteorik
membentuk endapan Sn-Cu vein (III dan IV).
 • Type II adalah pegmatitik.
 Merupakan proses dari pembentukan lensa-lensa dan urat
kuarsa pada batuan metamorf.
 Terjadi pengisian zona regangan atau fractures oleh silika yang
migrasi dari batuan sekitarnya, termasuk komponen-komponen
sulfida dan sulfur dari batuan samping.
 Mineral utama ; kuarsa, karbonat, serisit, pirit, arsenopirit,
stibnite, kalkopirit, sphalerit, sulphosalts, galena dan emas.
 Ada 2 kemungkinan proses.
Silika berasal dari larutan magma dan difusi pada batuan
Silika berasal dari batuan membentuk vein.
Silika berasal dari larutan magma dan difusi pada batuan samping (kiri) dan
silika berasal dari batuan membentuk vein (kanan).
 Umumnya merupakan hasil
dari contact dan regional
metamorphism.
 Proses pembentukan
umumnya mirip dengan
lateral secretion.
 Dalam proses metamorfik,
perubahan-perubahan secara
metamorfik akibat dari
rekristalisasi dan redistribusi
material melalui proses
diffusi (umumnya material
yang mobile).
Mechanical Accumulation
Sedimentary precipitates
Residual processes
Secondary or supergene enrichment
Volcanic exhalative (= sedimentary
exhalative)
 Mechanical Accumulation ; Konsentrasi dari mineral berat dan lepas menjadi
endapan placer (placer deposit)
 Sedimentary precipitates ; Presipitasi elemen-elemen tertentu pada
lingkungan tertentu, dengan atau tanpa bantuan organisme
 Residual processes ; Pelindian (leaching) elemen-elemen tertentu pada
batuan meninggalkan konsentrasi elemen-elemen yang tidak mobile dalam
material sisa.
 Secondary or supergene enrichment ; Pelindian (leaching) elemen-elemen
tertentu dari bagian atas suatu endapan mineral dan kemudian presipitasi
pada kedalaman menghasilkan endapan dengan konsentrasi yang lebih
tinggi.
 Volcanic exhalative (= sedimentary exhalative) ; Exhalations dari larutan
hydrothermal pada permukaan, yang terjadi pada kondisi bawah permukaan
air laut dan umumnyamenghasilkan tubuh bijih yang berbentuk stratiform
 O Ore geology and Industrial Minerals (An
Introduction)., Anthony
 M. Evans., 1994 (Chapter 4, p. 52-83).
 O The Geology of Ore Deposits., Guilbert,
J.M., Park, C.F., W.H.
 Freeman & Company, 1985.
 O Economics Mineral Deposits., Jense, M.,
Bateman, A.M., 1981.
 O Getting gold from granites., Craig J.P.
Hart., Handout SEG Gold
 Workshop., SGA Meeting, Beijing, 2005.

More Related Content

What's hot

Sni 13 4726-1998 klasifikasi sumberdaya mineral dan cadangan-
Sni 13 4726-1998 klasifikasi sumberdaya mineral dan cadangan-Sni 13 4726-1998 klasifikasi sumberdaya mineral dan cadangan-
Sni 13 4726-1998 klasifikasi sumberdaya mineral dan cadangan-feronika purba
 
GeoTek Kestabilan Lereng
GeoTek Kestabilan LerengGeoTek Kestabilan Lereng
GeoTek Kestabilan LerengAyu Kuleh Putri
 
Formasi Geologi Sulawesi ( Armstrong . Unima )
Formasi Geologi Sulawesi ( Armstrong . Unima )Formasi Geologi Sulawesi ( Armstrong . Unima )
Formasi Geologi Sulawesi ( Armstrong . Unima )Armstrong Sompotan
 
Batuan piroklastik
Batuan piroklastikBatuan piroklastik
Batuan piroklastikyadil142
 
Tekstur khusus batuan beku
Tekstur khusus batuan bekuTekstur khusus batuan beku
Tekstur khusus batuan bekuDiki Prasetya
 
Makalah pengolahan mineral grinding
Makalah pengolahan mineral grindingMakalah pengolahan mineral grinding
Makalah pengolahan mineral grindingActur Saktianto
 
Tahapan pemetaan geologi
Tahapan pemetaan geologiTahapan pemetaan geologi
Tahapan pemetaan geologiIndahPasaribu1
 
Model endapan bahan galian
Model endapan bahan galianModel endapan bahan galian
Model endapan bahan galianseed3d
 
Bab 3-bentuk-dan-tekstur-bijih
Bab 3-bentuk-dan-tekstur-bijihBab 3-bentuk-dan-tekstur-bijih
Bab 3-bentuk-dan-tekstur-bijihRomi Fadli
 
Identifikasi batuan beku
Identifikasi batuan bekuIdentifikasi batuan beku
Identifikasi batuan bekuadbel Edwar
 
sifat batuan
sifat batuansifat batuan
sifat batuanwinalda
 
Metode Penambangan Cut and Fill
Metode Penambangan Cut and FillMetode Penambangan Cut and Fill
Metode Penambangan Cut and FillSastra Diharlan
 
Modul Peta Geologi UPI 2009
Modul Peta Geologi UPI 2009Modul Peta Geologi UPI 2009
Modul Peta Geologi UPI 2009Aulia Nofrianti
 
Mekanika Batuan (Teknik Pertambangan)
Mekanika Batuan (Teknik Pertambangan)Mekanika Batuan (Teknik Pertambangan)
Mekanika Batuan (Teknik Pertambangan)Aris Munandar
 

What's hot (20)

Sni 13 4726-1998 klasifikasi sumberdaya mineral dan cadangan-
Sni 13 4726-1998 klasifikasi sumberdaya mineral dan cadangan-Sni 13 4726-1998 klasifikasi sumberdaya mineral dan cadangan-
Sni 13 4726-1998 klasifikasi sumberdaya mineral dan cadangan-
 
Batuan sedimen
Batuan sedimenBatuan sedimen
Batuan sedimen
 
GeoTek Kestabilan Lereng
GeoTek Kestabilan LerengGeoTek Kestabilan Lereng
GeoTek Kestabilan Lereng
 
Formasi Geologi Sulawesi ( Armstrong . Unima )
Formasi Geologi Sulawesi ( Armstrong . Unima )Formasi Geologi Sulawesi ( Armstrong . Unima )
Formasi Geologi Sulawesi ( Armstrong . Unima )
 
Batuan piroklastik
Batuan piroklastikBatuan piroklastik
Batuan piroklastik
 
Endapan Placer
Endapan PlacerEndapan Placer
Endapan Placer
 
Tekstur khusus batuan beku
Tekstur khusus batuan bekuTekstur khusus batuan beku
Tekstur khusus batuan beku
 
Makalah pengolahan mineral grinding
Makalah pengolahan mineral grindingMakalah pengolahan mineral grinding
Makalah pengolahan mineral grinding
 
Tahapan pemetaan geologi
Tahapan pemetaan geologiTahapan pemetaan geologi
Tahapan pemetaan geologi
 
Model endapan bahan galian
Model endapan bahan galianModel endapan bahan galian
Model endapan bahan galian
 
Bab 3-bentuk-dan-tekstur-bijih
Bab 3-bentuk-dan-tekstur-bijihBab 3-bentuk-dan-tekstur-bijih
Bab 3-bentuk-dan-tekstur-bijih
 
Identifikasi batuan beku
Identifikasi batuan bekuIdentifikasi batuan beku
Identifikasi batuan beku
 
sifat batuan
sifat batuansifat batuan
sifat batuan
 
Metode Penambangan Cut and Fill
Metode Penambangan Cut and FillMetode Penambangan Cut and Fill
Metode Penambangan Cut and Fill
 
Modul Peta Geologi UPI 2009
Modul Peta Geologi UPI 2009Modul Peta Geologi UPI 2009
Modul Peta Geologi UPI 2009
 
Mekanika Batuan (Teknik Pertambangan)
Mekanika Batuan (Teknik Pertambangan)Mekanika Batuan (Teknik Pertambangan)
Mekanika Batuan (Teknik Pertambangan)
 
Kuliah genesa bahan galian
Kuliah genesa bahan galianKuliah genesa bahan galian
Kuliah genesa bahan galian
 
batu Sekis
batu Sekisbatu Sekis
batu Sekis
 
Sifat fisik mineral
Sifat fisik mineralSifat fisik mineral
Sifat fisik mineral
 
ANALISA EKSPLORASI PERTAMBANGAN EMAS
ANALISA EKSPLORASI PERTAMBANGAN EMAS ANALISA EKSPLORASI PERTAMBANGAN EMAS
ANALISA EKSPLORASI PERTAMBANGAN EMAS
 

Similar to Genesa bahan galian

Similar to Genesa bahan galian (20)

351798836 proses-terbentuknya-endapan-bahan-galian
351798836 proses-terbentuknya-endapan-bahan-galian351798836 proses-terbentuknya-endapan-bahan-galian
351798836 proses-terbentuknya-endapan-bahan-galian
 
pembentukan.mineral di alam
pembentukan.mineral di alampembentukan.mineral di alam
pembentukan.mineral di alam
 
Dasar
DasarDasar
Dasar
 
Magma
MagmaMagma
Magma
 
(147654721) struktur batuan
(147654721) struktur batuan(147654721) struktur batuan
(147654721) struktur batuan
 
Bagaimana batuan beku_terbentuk
Bagaimana batuan beku_terbentukBagaimana batuan beku_terbentuk
Bagaimana batuan beku_terbentuk
 
Batuan
BatuanBatuan
Batuan
 
Petrologi batuan beku
Petrologi batuan bekuPetrologi batuan beku
Petrologi batuan beku
 
Bab piroklastik
Bab piroklastikBab piroklastik
Bab piroklastik
 
(147654721) struktur batuan
(147654721) struktur batuan(147654721) struktur batuan
(147654721) struktur batuan
 
Mektan bab 1 proses pembentukan tanah
Mektan bab 1 proses pembentukan tanahMektan bab 1 proses pembentukan tanah
Mektan bab 1 proses pembentukan tanah
 
PAPER PENGARUH STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP PENYEBARAN ENDAPAN MINERAL
PAPER PENGARUH STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP PENYEBARAN ENDAPAN MINERALPAPER PENGARUH STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP PENYEBARAN ENDAPAN MINERAL
PAPER PENGARUH STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP PENYEBARAN ENDAPAN MINERAL
 
Presentation geokimia magmatisme
Presentation geokimia magmatismePresentation geokimia magmatisme
Presentation geokimia magmatisme
 
33920332 bahan-galian-zeolit
33920332 bahan-galian-zeolit33920332 bahan-galian-zeolit
33920332 bahan-galian-zeolit
 
93448331 02-genesa-bahan-galian
93448331 02-genesa-bahan-galian93448331 02-genesa-bahan-galian
93448331 02-genesa-bahan-galian
 
Tugas geografi
Tugas geografiTugas geografi
Tugas geografi
 
02. genesa bahan galian
02. genesa bahan galian02. genesa bahan galian
02. genesa bahan galian
 
Tugas ganesa bahan galian i
Tugas ganesa bahan galian iTugas ganesa bahan galian i
Tugas ganesa bahan galian i
 
Geodas (alfian)(cia2 11002)
Geodas (alfian)(cia2 11002)Geodas (alfian)(cia2 11002)
Geodas (alfian)(cia2 11002)
 
Makalah-batuan-beku
Makalah-batuan-bekuMakalah-batuan-beku
Makalah-batuan-beku
 

More from Samuel Exaudy Tondang (6)

Genesa bahan galian
Genesa bahan galian Genesa bahan galian
Genesa bahan galian
 
Mektan 2015
Mektan  2015 Mektan  2015
Mektan 2015
 
Daftar isi (recovered)
Daftar isi (recovered)Daftar isi (recovered)
Daftar isi (recovered)
 
Cover laporan praktikum mektan (recovered)
Cover laporan praktikum mektan (recovered)Cover laporan praktikum mektan (recovered)
Cover laporan praktikum mektan (recovered)
 
Lembar asistensi
Lembar asistensiLembar asistensi
Lembar asistensi
 
HaKi
HaKiHaKi
HaKi
 

Recently uploaded

SUPERVISOR K3 (MAULANA PANDU PERMANA).ppt
SUPERVISOR K3 (MAULANA PANDU PERMANA).pptSUPERVISOR K3 (MAULANA PANDU PERMANA).ppt
SUPERVISOR K3 (MAULANA PANDU PERMANA).pptwartonowartono11
 
Ukuran penyebaran data berkelompok (statistika)
Ukuran penyebaran data berkelompok (statistika)Ukuran penyebaran data berkelompok (statistika)
Ukuran penyebaran data berkelompok (statistika)hendriko8
 
Daftar Lembaga Penyedia Jasa Linkungan.pdf
Daftar Lembaga Penyedia Jasa Linkungan.pdfDaftar Lembaga Penyedia Jasa Linkungan.pdf
Daftar Lembaga Penyedia Jasa Linkungan.pdfTsabitpattipeilohy
 
Tugas 01 Penjelasan Cara Melakukan Gasifikasi.pdf
Tugas 01 Penjelasan Cara Melakukan Gasifikasi.pdfTugas 01 Penjelasan Cara Melakukan Gasifikasi.pdf
Tugas 01 Penjelasan Cara Melakukan Gasifikasi.pdfnimrodnapitu
 
Metode Kerja Borepile utk Proyek Jembantan Hauling Blok III Utara PT AGM Kals...
Metode Kerja Borepile utk Proyek Jembantan Hauling Blok III Utara PT AGM Kals...Metode Kerja Borepile utk Proyek Jembantan Hauling Blok III Utara PT AGM Kals...
Metode Kerja Borepile utk Proyek Jembantan Hauling Blok III Utara PT AGM Kals...MichaelBluer
 
Panduan Logging Ringkas Nickel laterite.
Panduan Logging Ringkas Nickel laterite.Panduan Logging Ringkas Nickel laterite.
Panduan Logging Ringkas Nickel laterite.aldreyuda
 
medium.com-Mengenal Ikatan Supervisi Nasional ISPI Nasional.pdf
medium.com-Mengenal Ikatan Supervisi Nasional ISPI Nasional.pdfmedium.com-Mengenal Ikatan Supervisi Nasional ISPI Nasional.pdf
medium.com-Mengenal Ikatan Supervisi Nasional ISPI Nasional.pdfHeri Wiyono
 

Recently uploaded (7)

SUPERVISOR K3 (MAULANA PANDU PERMANA).ppt
SUPERVISOR K3 (MAULANA PANDU PERMANA).pptSUPERVISOR K3 (MAULANA PANDU PERMANA).ppt
SUPERVISOR K3 (MAULANA PANDU PERMANA).ppt
 
Ukuran penyebaran data berkelompok (statistika)
Ukuran penyebaran data berkelompok (statistika)Ukuran penyebaran data berkelompok (statistika)
Ukuran penyebaran data berkelompok (statistika)
 
Daftar Lembaga Penyedia Jasa Linkungan.pdf
Daftar Lembaga Penyedia Jasa Linkungan.pdfDaftar Lembaga Penyedia Jasa Linkungan.pdf
Daftar Lembaga Penyedia Jasa Linkungan.pdf
 
Tugas 01 Penjelasan Cara Melakukan Gasifikasi.pdf
Tugas 01 Penjelasan Cara Melakukan Gasifikasi.pdfTugas 01 Penjelasan Cara Melakukan Gasifikasi.pdf
Tugas 01 Penjelasan Cara Melakukan Gasifikasi.pdf
 
Metode Kerja Borepile utk Proyek Jembantan Hauling Blok III Utara PT AGM Kals...
Metode Kerja Borepile utk Proyek Jembantan Hauling Blok III Utara PT AGM Kals...Metode Kerja Borepile utk Proyek Jembantan Hauling Blok III Utara PT AGM Kals...
Metode Kerja Borepile utk Proyek Jembantan Hauling Blok III Utara PT AGM Kals...
 
Panduan Logging Ringkas Nickel laterite.
Panduan Logging Ringkas Nickel laterite.Panduan Logging Ringkas Nickel laterite.
Panduan Logging Ringkas Nickel laterite.
 
medium.com-Mengenal Ikatan Supervisi Nasional ISPI Nasional.pdf
medium.com-Mengenal Ikatan Supervisi Nasional ISPI Nasional.pdfmedium.com-Mengenal Ikatan Supervisi Nasional ISPI Nasional.pdf
medium.com-Mengenal Ikatan Supervisi Nasional ISPI Nasional.pdf
 

Genesa bahan galian

  • 1. JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
  • 2. * Perkembangan konsep genesa endapan. * Beberapa klasifikasi endapan. * Fluida pembawa bijih. * Proses Pembentukan Endapan
  • 3. * Konsep dasar dimulai pada abad ke-16 oleh Georg Bauer (dengan nama latin Georgius Agricola) pada buku De re Metallica (1556). * Menurut Agricola, mineral bijih dapat diklasifikasikan berdasarkan proses terbentuknya, yaitu INSITU dan ALLUVIAL. * Endapan insitu terdiri dari fissure veins, bedded, impregnations, stringers, seams, dan stockworks. * Endapan alluvial merupakan endapan-endapan yang berasal dari perombakan endapan insitu. * Menurut Hoover & Hoover (penerjemah De re Metallica), Agricola mendasarkan pengelompokan pada dua prinsip dasar, yaitu :  Endapan yang terbentuk secara sekunder, sehingga lebih muda daripada batuan induknya  Endapan yang terbentuk akibat sirkulasi larutan dalam channels.
  • 4. * Charpentier : vein-vein terbentuk akibat alterasi pada batuan samping  keberadaan vein yang bergradasi dengan batuan samping. * Gerhard : vein-vein terbentuk pada suatu bukaan (open fissures filled) oleh mineral-mineral yang terlindikan (leached) dari batuan samping. * Berdasarkan Charpentier dan Gerhard tsb, maka muncul teori “lateral secretion”, yaitu : kandungan suatu endapan mineral sehingga menjadi suatu endapan bijih yang berasal dari batuan-batuan samping yang berdekatan akibat dari air (tidak harus air meteorik). * Teori ini menjadi referensi utama selama lebih dari 100 tahun.
  • 5.  Hutton (1788 & 1795) ; batuan beku dan mineral bijih berasal dari magma dan ditempatkan dalam kondisi cair (liquid) untuk menjadi kondisi sekarang.  Pendapat-pendapat bahwa endapan bijih berasal dari magma juga didukung oleh Joseph Brunner (1801) dan Scipione Breislak (1811)  teori magma differentiation and magma segregation.  Spurr (1933) menyempurnakan teori tersebut bahwa jenis mineral yang terbentuk tergantung pada jenis batuan asalnya.  Teori-teori tsb terus berkembang, hingga Waldemar Lindgren (1907, 1913 dan 1922) menghasilkan suatu klasifikasi endapan berdasarkan proses genetik-nya.
  • 6. * Berdasarkan kesamaan karakteristik dan deskripsi. * Persamaan proses genesa dan letak endapan. * Kesesuaian teori-teori dan lingkungan pengendapan. * Dibuat se-sederhana mungkin sehingga mudah dalam penerapan serta fleksibel. * Sampai saat ini, hanya endapan sedimenter dan endapan yang berasosiasi dengan batuan beku yang dapat dibedakan dengan jelas.
  • 7.  Mengelompokkan endapan epigenetik menjadi volcanic (untuk dekat permukaan) dan plutonic (untuk yang jauh di bawah permukaan).  Berdasarkan sumber/asal endapan berupa liquids atau gases atau yang ter-kristalisasi langsung dari magma, maka endapan plutonik dikelompokkan lagi menjadi :  hydrothermal,  pegmatitic-pneumatolytic, dan  orthomagmatic.  Pengelompokan yang lebih kecil didasarkan pada komposisi kimia mineral dan mineral-mineral assosiasi.
  • 8.
  • 9.  Dikelompokkan berdasarkan :  Asal dari fluida pembawa bijih,  Assosiasi mineral (mineral associations),  Letak/posisi lingkungan pengendapan (terendapkan dekat permukaan dan terendapkan jauh di bawah permukaan),  Tipe endapan, host rock, dan gangue mineral.  Kategori pengelompokan utama adalah berdasarkan assosiasi mineral.  Dalam klasifikasi ini, telah dikategorikan kelompok endapan berdasarkan mineral bijih (ore), batuan induk (host rock) dan mineral gangue (gangue minerals).
  • 10.
  • 11.
  • 12.  Sampai saat ini merupakan klasifikasi terbaik yang dapat digunakan (Park and MacDiarmid, 1975).  Modifikasi oleh Graton (1933), Buddington (1935) dan Ridge (1968).  Klasifikasi ini sebagian besar didasarkan pada tekanan dan temperatur.  Skema temperatur dan tekanan merupakan parameter yang terus diteliti untuk disempurnakan.  Klasifikasi ini digunakan sebagai klasifikasi standart di USA.  Klasifikasi secara genetik ini berhubungan erat dengan zoning dan paragenesis, dimana secara teoritis zona- zona P- T berhubungan erat dengan zona-zona mineral- mineral tertentu.
  • 13.
  • 14.
  • 15. How do ore deposits form ?  Sumber dan karakteristik fluida pembawa bijih,  Sumber dari mineral bijih dan bagaimana mekanisme keterdapatannya dalam fluida atau larutan,  Proses migrasi fluida pembawa bijih,  Kontrol (penyebab) pengendapan mineral bijih dari fluida pembawa bijih.
  • 16. Merupakan rangkaian urutan-urutan kejadian dari magma hingga proses dipermukaan bumi akan menghasilkan type-type endapan tertentu. o Berdasarkan urutan proses magmatik :  Aktivitas magma (endapan magmatik cair)  Injeksi larutan sisa magma pada dekat pemukaan (endapan hidrothermal). o Berdasarkan proses eksternal : Endapan lateritik dan Endapan sedimenter.
  • 17.  Silicate-dominated magma atau larutan magma yang kaya dengan oksida, karbonat atau sulfida.  Water-dominated fluida hidrothermal yang terpisah dari magma.  Air meteorik (yang berasal dari atmosfir)  Air laut.  Air connate (terperangkap dalam pori batuan sedimen).  Fluida-fluida yang berasosiasi dengan proses- proses metamorfik.
  • 18.  Magma adalah suatu “rock melt” atau suatu larutan dengan temperatur tinggi yang berupa cairan (liquid) dan kristal-kristal.  Umumnya memiliki komposisi yang tidak homogen; setempat dapat kaya akan ferromagnesian, silika, sodium dan potassium; mengandung volatiles, xenoliths (inclusions atau un-melted fragment), dll.  Bersifat tidak statik atau bukan dalam suatu sistem yang tertutup, dapat bergerak secara konvektif.  Pada saat pendinginan, dapat mengalami kristalisasi dan terpisah- terpisah menjadi fraksi-fraksi tertentu melalui proses “fractional crystallization” atau “magma differentiation”.  Unsur-unsur logam dapat terkonsentrasi melalui mekanisme pembentukan batuan dalam komposisi yang bervariasi sesuai dengan kandungan logam-nya.
  • 19.
  • 20.  Pada magma mafic (ferromagnesian rock forming silicates - SiO4)  chromium, nickel, platinum, dll.  Pada magma silicic (kaya akan silica - SiO2)  timah, zirconium, thorium, dll.  Titanium dan Iron dapat terbentuk dalam range komposisi magma yang lebar.  Proses-proses kristalisasi seperti differentiation and crystal settling, secara gradual meningkatkan konsentrasi volatile pada larutan-larutan sisa magma.
  • 21.
  • 22. 1. Vesiculation, magma yang mengandung unsur-unsur volatile seperti air (H2O), karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), sulfur S) dan klorin (Cl). Pada saat magma naik kepermukaan bumi, unsur-unsur ini membentuk gelombang gas, seperti buih pada air soda.Gelombang (buih) cenderung naik dan membawa serta unsur-unsur yang lebih volatile seperti sodium dan potasium. 2. Diffusion, pada proses ini terjadi pertukaran material dari magma dengan material dari batuan yang mengelilingi reservoir magma, dengan proses yang sangat lambat. Proses diffusi tidak seselektif proses-proses mekanisme differensiasi magma yang lain. Walaupun demikian, proses diffusi dapat menjadi sama efektifnya, jika magma diaduk oleh suatu pencaran (convection) dan disirkulasi dekat dinding dimana magma dapat kehilangan beberapa unsurnya dan mendapatkan unsur yang lain dari dinding reservoar. 3. Flotation, kristal-kristal ringan yang mengandung sodium dan potasium cenderung untuk memperkaya magma yang terletak pada bagian atas reservoar dengan unsur-unsur sodium dan potasium. 4. Gravitational Settling, mineral-mineral berat yang mengandung kalsium, magnesium dan besi, cenderung memperkaya resevoir magma yang terletak disebelah bawah reservoir dengan unsur- unsur tersebut. Proses ini mungkin menghasilkan kristal badan bijih dalam bentuk perlapisan. Lapisan paling bawah diperkaya dengan mineral-mineral yang lebih berat seperti mineral-mineral silikat dan lapisan diatasnya diperkaya dengan mineral-mineral silikat yang lebih ringan. 5. Assimilation of Wall Rock, selama emplacement magma, batu yang jatuh dari dinding reservoir akan bergabung dengan magma. Batuan ini bereaksi dengan magma atau secara sempurna terlarut dalam magma, sehingga merubah komposisi magma. Jika batuan dinding kaya akan sodium, potasium dan silikon, magma akan berubah menjadi komposisi granitik. Jika batuan dinding kaya akan kalsium, magnesium dan besi, magma akan berubah menjadi berkomposisi gabroik. 6. Thick Horizontal Sill, secara umum bentuk ini memperlihatkan proses differensiasi magmatik asli yang membeku karena kontak dengan dinding reservoir. Jika bagian sebelah dalam membeku, terjadi Crystal Settling dan menghasilkan lapisan, dimana mineral silikat yang lebih berat terletak pada lapisan dasar dari mineral silikat yang lebih ringan.
  • 23.  Proses internal Kristalisasi dan segregrasi magma Hydrothermal Lateral secretion Metamorphic Processes  Proses eksternal Mechanical Accumulation Sedimentary precipitates Residual processes Secondary or supergene enrichment Volcanic exhalative (= sedimentary exhalative)
  • 24. Kristalisasi dan segregrasi magma Hydrothermal Lateral secretion Metamorphic Processes
  • 25.
  • 26.
  • 27.
  • 28.  Pengendapan mineral bijih sebagai komponen utama atau minor dalam batuan beku.  Kristalisasi magma merupakan proses utama dari pembentukan batuan vulkanik dan plutonik.  Terminologi endapan segregasi magma atau orthomagmatic-deposit dapat digunakan untuk endapan- endapan yang terbentuk (mengkristal) secara langsung dari magma FRACTIONAL CRYSTALLIZATION ; proses-proses yang terjadi sepanjang differensiasi magma LIQUATION ; Terpisah dari magma berupa sulfide, sulfide-oxide atau larutan oxide yang kemudian terakumulasi dibawah larutan silikat.
  • 29. o Hot aqueous solutions (hydrothermal solutions)  larutan 3 fase (liquid + gas + solid). o Penting pada pembentukan beberapa type endapan (stockwork, vein, volcanic-exhalative, dll). o Range pembentukan endapan berada diperkirakan pada temperatur 50 – 650°C (sinter – porfiri/mesothermal). o Larutan hydrothermal ini dipercaya sebagai salah satu fluida pembawa bijih utama yang kemudian terendapkan dalam beberapa fase dan tipe endapan.
  • 30.
  • 31.  Larutan berasal dari larutan sisa magma dengan temperatur yang lebih rendah sebagai sisa dari kristalisasi pada fase pegmatit  mengandung base metals dan elemen-elemen lain yang tidak ikut ter-kristal-kan pada pendinginan magma (W, U, Mo, Cs, Rb, Li, Be, B dan P).  Larutan sisa magma ini diasumsikan ter-injeksi-kan sepanjang fractures atau media (channel) lain ke tempat yang lebih dingin di dekat permukaan dimana tipe-tipe endapan hidrothermal terdapat.  Kandungan volatile : H2S, HCl, HF, CO2, SO2 dan H2.  White (1955) menyatakan bahwa sistim geothermal kemungkinan merupakan pembentuk utama endapan- endapan epigenetik  dibuktikan lebih lanjut oleh peneliti lain  endapan umumnya berhubungan dengan (terdapat pada) ancient geothermal system.
  • 32.
  • 33.  Sketsa yang memperlihatkan struktur dari sistem hidrothermal system (Henley and Ellis, 1983).  Sirkulasi air panas kemungkinan bereaksi dan mengandung kandungan terlarut dari batuan samping atau intrusi magma.
  • 34.  Sistem geothermal sebagai heat engine (biasanya magmatik) pada kedalaman beberapa kilometer berinteraksi dengan air meteorik dalam. Sirkulasi dalam air meteorik (A). Aliran panas (BD) dan outflow yang lebih lambat (C).  • Lapisan yg jenuh air endapan skarn Sn-Fe (I).  • Kristalisasi lanjut dengan kontribusi air meteorik membentuk endapan Sn-Cu vein (III dan IV).  • Type II adalah pegmatitik.
  • 35.  Merupakan proses dari pembentukan lensa-lensa dan urat kuarsa pada batuan metamorf.  Terjadi pengisian zona regangan atau fractures oleh silika yang migrasi dari batuan sekitarnya, termasuk komponen-komponen sulfida dan sulfur dari batuan samping.  Mineral utama ; kuarsa, karbonat, serisit, pirit, arsenopirit, stibnite, kalkopirit, sphalerit, sulphosalts, galena dan emas.  Ada 2 kemungkinan proses. Silika berasal dari larutan magma dan difusi pada batuan Silika berasal dari batuan membentuk vein.
  • 36. Silika berasal dari larutan magma dan difusi pada batuan samping (kiri) dan silika berasal dari batuan membentuk vein (kanan).
  • 37.  Umumnya merupakan hasil dari contact dan regional metamorphism.  Proses pembentukan umumnya mirip dengan lateral secretion.  Dalam proses metamorfik, perubahan-perubahan secara metamorfik akibat dari rekristalisasi dan redistribusi material melalui proses diffusi (umumnya material yang mobile).
  • 38. Mechanical Accumulation Sedimentary precipitates Residual processes Secondary or supergene enrichment Volcanic exhalative (= sedimentary exhalative)
  • 39.
  • 40.  Mechanical Accumulation ; Konsentrasi dari mineral berat dan lepas menjadi endapan placer (placer deposit)  Sedimentary precipitates ; Presipitasi elemen-elemen tertentu pada lingkungan tertentu, dengan atau tanpa bantuan organisme  Residual processes ; Pelindian (leaching) elemen-elemen tertentu pada batuan meninggalkan konsentrasi elemen-elemen yang tidak mobile dalam material sisa.  Secondary or supergene enrichment ; Pelindian (leaching) elemen-elemen tertentu dari bagian atas suatu endapan mineral dan kemudian presipitasi pada kedalaman menghasilkan endapan dengan konsentrasi yang lebih tinggi.  Volcanic exhalative (= sedimentary exhalative) ; Exhalations dari larutan hydrothermal pada permukaan, yang terjadi pada kondisi bawah permukaan air laut dan umumnyamenghasilkan tubuh bijih yang berbentuk stratiform
  • 41.  O Ore geology and Industrial Minerals (An Introduction)., Anthony  M. Evans., 1994 (Chapter 4, p. 52-83).  O The Geology of Ore Deposits., Guilbert, J.M., Park, C.F., W.H.  Freeman & Company, 1985.  O Economics Mineral Deposits., Jense, M., Bateman, A.M., 1981.  O Getting gold from granites., Craig J.P. Hart., Handout SEG Gold  Workshop., SGA Meeting, Beijing, 2005.