BAB 1 
PENDAHULUAN 
1 
A. Latar Belakang 
Alkil halida adalah turunan hidrokarbon di mana satu atau lebih 
hidrogennya diganti dengan halogen. Tiap-tiap hydrogen dalam hidrokarbon 
potensil digantikan dengan halogen, bahkan ada senyawa hidrokarbon yang 
semua hidrogennya dapat diganti. Senyawa terflkuorinasi sempurna yang 
dikenal sebagai fluorocarbon, cukup menarik karena kestabilannya pada 
suhu tinggi. 
Alkil halida juga terjadi di alam, meskipun lebih banyak terjadi dalam 
organisme air laut daripada organisme air tawar. Halometana sederhana 
seperti CHCl3, CCl4, CBr4, CH3I, dan CH3Cl adalah unsure pokok alga 
Hawai Aspagonsi taxiformis. Bahkan ada senyawa alkil halida yang diisolasi 
dari organisme laut yang memperlihatkan aktivitas biologis yang menarik. 
Sebagai contoh adalah plocamen B, suatu turunan triklorosikloheksana yang 
diisolasi dari alga merah Plocamium violaceum, berpotensi seperti DDT 
dalam aktivitas insentisidalnya melawan larva nyamuk. 
Perlu dicatat bahwa halogen adalah atom-atom berelektrogenatif t 
inggi dan hanya kekurangan satu elektron untuk mencapai konfigurasi gas 
mulia. Oleh itu halogen dapat membentuk ikatan kovalen tunggal atau ionik 
yang stabil. Ikatan antara gugus metil dengan fluor, klor, brom, dan ioda 
terbentuk oleh tumpang tindih orbital sp3 dari karbon dengan orbital sp3 
dari fluor, klor, brom, dan 
fluorida ke metil iodida. Hal ini mencerminkan prinsip umum bahwa 
tumpang tindih orbital-orbital lebih efisien antara orbital-orbital yang 
mempunyai bilangan kuantum utama yang sama, dan efisiensinya menurun 
dengan meningkatnya perbedaan bilangan kuantum utama. 
Perlu pula dicatat bahwa halogen adalah lebih elektronegatif daripada 
karbon, sehingga ikatan C-X bersifat polar di mana karbon mengemban 
muatan posisif partial (d+) dan halogen muatan negatif partial (d).
2 
B. Rumusan Masalah 
 Menjelaskan tentang pengertian alkil halida 
 Menjelaskan kegunaan dan manfaat alkil halida dalam kehidupan sehari – 
hari 
 bagaimana sifat fisik dan kima senyawa halogen dengan metode 
fluoresein dan garam halida. 
C. Tujuan 
1. Dapat mengetahui pengertian alkil halida. 
2. Dapat mengetahui kegunaan alkil halida. 
3. Dapat mengetahui tata nama alkil halida. 
4. Dapat mengetahui reaksi-reaksi alkil halida. 
5. Dapat mengetahui pembuatan alkil halida. 
6. Dapat mengenal sifat – sifat fisik alkil halida. 
7. Dapat memberikan dan menjelaskan contoh alkil halida.
BAB II 
PEMBAHASAN 
3 
A. Pengertian 
Alkil halida adalah turunan hidrokarbon di mana satu atau lebih hidrogennya 
diganti dengan halogen. Tiap-tiap hydrogen dalam hidrokarbon potensil 
digantikan dengan halogen, bahkan ada senyawa hidrokarbon yang semua 
hidrogennya dapat diganti. Senyawa terflkuorinasi sempurna yang dikenal 
sebagai fluorocarbon, cukup menarik karena kestabilannya pada suhu tinggi. 
B. Tata Nama 
Halida sederhana umumnya dinamai sebagai turunan hydrogen halida. 
Sistem IUPAC menamai halida sebagai halo turunan hidrokarbon. Dalam 
nama umum awalan n-, sek-, (s-), dan ter- (t-) secara berturut-turut 
menunjukkan normal, sekunder, dan tersier. 
. 
Tata Nama dengan Cara Trivial 
Untuk Halida sederhan disebutkan dahulu nama R, kemudian diikuti 
halidanya 
Contoh: 
 CH3-CH2-Br = Etil bromida 
 CH3F = Metil flourida 
 CH3CH2Cl = Etil klorida 
CH3 
 CH3CCH3 = t-Butil bromida 
Br 
Br 
 = Siklobutil bromida
Tata Nama dengan Cara IUPAC 
Diawali dengan nama halogen, kemudian nama alkana. 
Dengan sistem IUPAC, penamaan semua senyawa yang hanya mengandung 
fungsi univalensi dapat dinyatakan dengan awalan fungsi itu sendiri diikuti 
dengan nama hidrokarbon induk; prinsip penomoran sekecil mungkin harus 
dipatuhi. 
H3C CH3 
H3C CH CH3 
CH3CH2CCH2CHCH2CH2CCH3 
4 
Cl 
(7-Bromo-2-kloro-5-isopropil-2,7-demetilnonana) 
Sering terjadi dalam penamaan umum, hidrokarbon dipandang sebagai 
gugus 
CH2Cl2 ICH2CH2CH2CH2I 
( Metilen klorida) ( 1,4-Diiodobutana) 
. 
Istilah geminal (gem-) (latin geminus, kembar) dan vicinal (vic-) (latin 
vicinus, tetangga) kadang digunakan untuk memperlihatkan posisi relatif subst 
itutein geminal untuk posisi 1,1 dan vicinal untuk posisi1,2. 
CH3CHBr BrCH2CH2Br 
(gem-Dibromoetana) ( vic-Dibromoetana)
5 
Contoh; 
Rumusbangun Nama IUPAC Namabiasa 
CH3Cl Klorometana Metilklorida 
CH3CH2Cl Kloroetana EtilKlorida 
CH3CH2CH2Cl 1-kloropropana n-propilklorida 
CH3CHCH3 
Cl 
2-kloropropana Isopropilklorida 
C. Isomer 
Isomer adalah senyawa-senyawa yang memiliki rumus molekul 
sama, tetapi susunan atom-atomnya berbeda. Ada beberapa macam 
isomer, seperti isomer posisi, isomer struktur, isomer fungsional, dan 
isomer cistrans. Haloalkana memiliki isomer posisi dan isomer struktural. 
Haloalakana mempunyai isomer tempatmaupun isomer 
kerangka.Misalkan: C3H6Cl memiliki isomer sebanyak 4 yaitu : 
CHCl2CH2CH3 1,1-Dikloropropana 
CH3CCl2CH3 2,2-Dikloropropana 
CH2ClCHClCH3 1,2-Dikloropropana 
CH2ClCH2CH2Cl 1,3-Dikloropropana
Nama Senyawa Rumus Tl ( oC) Td ( oC) Kerapatan ( cair ) 
Metil flourida CH3F -142 -79 0,877 
Metil klorida CH3Cl -97 -23,7 0,920 
Metil iodida CH3I -64 42,3 2,279 
Etil klorida CH3CH2Cl -139 13,1 0,910 
Etil bromida CH3CH2Br -119 38,4 1,430 
n-Propil klorida CH3CH2CH2Cl -123 46,4 0,890 
Isopropil klorida (CH3)2CHCl -117 36,5 0,860 
n-Butil klorida CH3(CH2)3Br -112 101,6 1,275 
Isobutil bromida (CH3)2CHCH2Br -120 91,3 1,250 
sec-Butil bromida CH3CH2CHBrCH3 -112 68 1,259 
t-Butil bromida (CH3)3CBr -20 73,3 1,222 
n-Oktadekil bromida CH3(CH2)17Br 34 170/0,5 
6 
D. Sifat –Sifat Fisik 
 Titik didihnya lebih tinggi dari pada alkana dengan jumlah atom C 
sama, karena Bmnya lebih tinggi 
 Titik didihnya semakin tinggi dengan bertambah berat atom halogen 
 Titik didihnya bertamabah dengan dengan bertambahnya atom C 
E. Kondisi 
 Tidak larut dalam air, karena tidak mampu melakukan ikatan hidrogen 
dengan air. Senyawa ini larut dalam senyawa organik dengan polaritas 
rendah seperti benzen, eter dan CHCl3 
 Rapatan (densitas) alkil halida cair lebih tinggi dari pada senyawa 
organik lain seperti air. 
Contoh: CH3Cl lebih berat dari pada air ( tenggelem ke dasar wadah)
7 
F. Klasifikasi 
 Alkil halida primer ( 1oC ) = RCH2X mempunyai satu gugugs fungsi 
alkil terikat pada ujung C 
Contoh : 
 Alkil halida sekunder ( 2oC ) = R2CHX mempunyai dua gugus alkil 
terikat pada ujung C 
Contoh : 
 Alkil halida tersier ( 3oC ) = R3CX mempunyai tiga gugus alkil terikat 
pada ujung C 
Contoh : 
G. Reaksi Alkil Halida 
Alkil halida paling banyak ditemui sebagai zat antara dalam 
sintesis. Mereka dengan mudah diubah ke dalam berbagai jenis senyawa 
lain, dan dapat diperoleh melalui banyak cara. Reaksi alkil halida yang 
banyak itu dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu reaksi 
substitusi dan reaksi eliminasi. Dalam reaksi substitusi, halogen ( X ) 
diganti dengan beberapa gugus lain ( Z ).
Reaksi eliminasi melibatkan pelepasan HX, dan hasilnya adalah 
suatu alkena. Banyak sekali modifikasi terhadap reaksi ini, tergantung 
pada pereaksi yang digunakan. 
8 
1) Substitusi Nukleofilik 
Suatu nukleofil (Z:) menyerang alkil halida pada atom 
karbon hibrida-sp yangmengikat halogen (X), menyebabkan 
terusirnya halogen oleh nukleofil. Halogen yang terusir disebut 
gugus pergi. Nukleofil harus mengandung pasangan elektron bebas 
yang digunakan untuk membentuk ikatan baru dengan karbon. Hal 
ini memungkinkan gugus pergi terlepas dengan membawa 
pasangan elektron yang tadinya sebagai elektron ikatan. Ada dua 
persamaan umum yang dapat dituliskan:
9 
Contoh lainnya: 
2) M 
e 
k 
a 
Substitusi Nukleofilik 
Pada dasarnya terdapat dua mekanisme reaksi subst itusi 
nukleofilik. Mereka dilambangkan dengan SN 
2 dan SN 
1 . Bagian SN 
menunjukkan substitusi nukleofilik, sedangakan arti 1 dan 2 akan di 
jelaskan kemudian. 
 Mekanisme SN1 
Mekanisme SN1 adalah proses dua tahap. Pada tahap pertama, 
ikatan antara karbon dengan gugus pergi. 
Lambat 
C X C+ + X - 
(Substrat) ion karbonium Gugus pergi 
Gugus pergi terlepas dengan membawa pasangan elektron, dan 
terbentuklah ion karbonium. Pada tahap kedua (tahap cepat), ion 
karbonium bergabung dengan nukleofil membentuk produk. 
Reaksi SN 1 adalah reaksi ion. Mekanismenya kompleks karma 
adanya antaraksi antara molekul pelarut, molekul RX, dan ion-ion antara 
yang terbentuk Reaksi SN1 suatu alkil halida tersier adalah reaksi 
bertahap (stepwise reaction). Tahapertama berupa pematahan alkil halida 
menjadi sepasang ion: ion halida dan suatu karbokation, suatu ion dalam 
mana atom karbon mengemban suatu muatan positif. 
Karena reaksi SN 1melibatkan ionisasi, reaksi-reaksi ini dibantu oleh 
pelarut polar, seperti H2 C yang dapat menstabilkar, ion dengan cara 
solvasi (solvation.
10 
 Reaksi SN1 
Karena rintangan sterik, t-butil bromida dan alkil halida tersier lain 
tidak bereaksi secara SN2 Namun, bila t-butil bromida 
direaksikan dengan suatu nukleofii yang berupa base 
yang sangat lemah (seperti H2 0 atau CH3 CH?, OH),terbentuk produk 
substitusi, bersama-sama dengan produk eliminasi. Karena 
H2oatau CH3 CH2 OH juga digunakan sebagai pelarut tipe reaksi 
substitusi ini kadang-kadang disebut reaksi solvolisis (solvent dan - 
lysis, nur- penguraian oleh pelarut). 
Ternyata alkil halida tersier mengalami substitusi dengan suatu 
mekanisme yangyang disebut reaksi sN 1 (substitusi, nukieofilik, 
unimolekular). Hasil eksperimen diperoleh dalam reaksi SN1 cukup 
berbeda dari hasii dalam reaksi SN 2. Secara khas, jikaenantiomer murni 
(dari) suatu alkil halida yang mengandung karbon C—X yang 
kiral mengalami suatu reaksi SN1, make akan diveroleh produk 
substitusi rasemik(bukan *produk inversi seperti yang diperoleh dalam 
reaksi SN 2) 
 Reaksi SN2 
Reaksi bromoetana dengan ion hidroksida yang menghasilkan 
etanol dan ion bromida adalah suatu reaksi SN2 yang khas (SN2 berarti 
"substitusi, nukleofilik, bimolekular. Bolch dikatakan metil halida dan 
alkil halida primer apa saja, bereaksi SN2 dengan nukleofil yang agak 
kuat: Metil halida dan alkil halida primer bereaksi dengan nukleofilik 
lemah, seperti H2 0, tetapi reaksi-reaksi ini terlalu lambat sehingga tak 
bermanfaat. Alkil halida sekunder dapat bereaksi SN2; tetapi alkil halida 
tersier tidak. 
 Mekanisme Reaksi 
Pemerian terinci mengenai bagaimana reaksi berlangsung disebut 
mekanisme reaksi. Agar bereaksi pertama-tama molekul-molekul itu 
harus saling bertabrakan. Kebanyakan tabrakan antara molekul itu 
tidak mengakibatkan suatu reaksi; molekul-molekul itu hanyalah 
terpental kembali. Agar bereaksi, molekul-molekul yang bertabrakan 
itu harus: mengandung cukup energi potensial agar terjadi pematahan
ikatan. Juga sikap (orientasi molekul-molekul itu, satu terhadap yang 
lain 
11 
 Stereokimia Reaksi SN2 
Dalam reaksi SN2 antara bromoetana dan ion hidroksida, oksigen 
(dari) ion hidroksida menabrak bagian belakang karbon ujung dan 
menggantikan ion bromide 
H. Pembuatan 
 Dari Alkohol 
Reaksi berlangsung: 
 Melewatkan gas halida kering ke alkohol 
 Memanaskan alkohol dengan asam pekat 
 NaBr dan H2SO4 dengan adanya alkohol 
 HCl (paling tidak reaktif) 
 Halogenasi
 Adisi hidrogen halida dari alkena 
 Adisi halogen dari alkena dan alkuna 
12 
I. Penggunaan Alkil Halida 
 Kloroform (CHCl3) : pelarut untuk lemak, obat bius (dibubuhi etanol, 
disimpan dalam botol coklat, diisi sampai penuh). 
 Tetraklorometana = karbontetraklorida (CCl4) : pelarut untuk lemak, 
alat pemadam kebakaran (Pyrene, TD rendah 77oC, uapnya berat. 
Karbon tetraklorida merupakan zat cair yang tidak berwarna dengan 
massa jenis lebih besar dari air. Uap CCl4 tidak terbakar sehingga 
sering digunakan sebagai pemadam kebakaran. Selain itu, juga 
digunakan sebagai pelarut untuk lemak dan minyak. 
 Freon (Freon 12 = CCl2F2, Freon 22 = CHCl2F) : pendingin lemari es, 
alat “air conditioner”, sebagai propellant (penyebar) kosmetik, 
insektisida. 
 Sebagai pelaru non polar. Banyak senyawa halo alkana yang 
digunakan sebagai pelarut nonpolar CCl4, CHCl3, C2H3Cl3. Pelarut ini 
bersifat racun sehingga jangan sampai terhirup. 
 Tetraklorokarbon (CCl4). Karbon tetraklorida merupakan zat cair yang 
tidak berwarna dengan massa jenis lebih besar dari air. Uap CCl4 
tidak terbakar sehingga sering digunakan sebagai pemadam 
kebakaran. Selain itu, juga digunakan sebagai pelarut untuk lemak 
dan minyak. 
 DDT (dikloro difenil trikloro metana) ini digunakan sebagai 
insektisida. Akan tetapi zat ini sukar sekali terurai, sehingga masih 
ada dalam sayuran dan hewan ternak yang memakan rumput yang di 
semprotkan DDT. Akibatnya dapat menimbulkan keracunan. 
 Sebagai pelaru non polar. Banyak senyawa halo alkana yang 
digunakan sebagai pelarut nonpolar CCl4, CHCl3, C2H3Cl3. Pelarut ini 
bersifat racun sehingga jangan sampai terhirup.
BAB III 
13 
Kesimpulan 
Senyawa yang mengandung hanya karbon, hidrogen dan satu atom 
halogen, dapat di bagi dalam tiga kategori : alkil halida ,aril halida dan halida 
vinilik. Halo alakana mempunyai isomer tempat maupun isomer kerangka. 
Alkena atau dalam kimia organik adalah hidrokarbon tak jenuh dengan 
sebuah ikatan rangkap dua antara atom karbon. Alkena asiklik yang paling 
sederhana, yang membentuk satu ikatan rangkap dan tidak berikatan dengan 
gugus fungsional manapun, maka akan membentuk suatu kelompok 
hidrokarbon dengan rumus umum CnH2n. 
Beberapa alkil halida yang bisa dimanfaatkanantara lain: 
 Kloroform (CHCl3),, Tetraklorokarbon (CCl4) ,Freon, 
DDT (dikloro difenil trikloro metana)
Daftar Pustaka : 
http://sulpahmiami.blogspot.com/2012/06/makalah-kimia-organik.html 
http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/1711/Alkil 
_halida.pdf?sequence=1 
14 
www.chem-is-try.org

Kimor

  • 1.
    BAB 1 PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang Alkil halida adalah turunan hidrokarbon di mana satu atau lebih hidrogennya diganti dengan halogen. Tiap-tiap hydrogen dalam hidrokarbon potensil digantikan dengan halogen, bahkan ada senyawa hidrokarbon yang semua hidrogennya dapat diganti. Senyawa terflkuorinasi sempurna yang dikenal sebagai fluorocarbon, cukup menarik karena kestabilannya pada suhu tinggi. Alkil halida juga terjadi di alam, meskipun lebih banyak terjadi dalam organisme air laut daripada organisme air tawar. Halometana sederhana seperti CHCl3, CCl4, CBr4, CH3I, dan CH3Cl adalah unsure pokok alga Hawai Aspagonsi taxiformis. Bahkan ada senyawa alkil halida yang diisolasi dari organisme laut yang memperlihatkan aktivitas biologis yang menarik. Sebagai contoh adalah plocamen B, suatu turunan triklorosikloheksana yang diisolasi dari alga merah Plocamium violaceum, berpotensi seperti DDT dalam aktivitas insentisidalnya melawan larva nyamuk. Perlu dicatat bahwa halogen adalah atom-atom berelektrogenatif t inggi dan hanya kekurangan satu elektron untuk mencapai konfigurasi gas mulia. Oleh itu halogen dapat membentuk ikatan kovalen tunggal atau ionik yang stabil. Ikatan antara gugus metil dengan fluor, klor, brom, dan ioda terbentuk oleh tumpang tindih orbital sp3 dari karbon dengan orbital sp3 dari fluor, klor, brom, dan fluorida ke metil iodida. Hal ini mencerminkan prinsip umum bahwa tumpang tindih orbital-orbital lebih efisien antara orbital-orbital yang mempunyai bilangan kuantum utama yang sama, dan efisiensinya menurun dengan meningkatnya perbedaan bilangan kuantum utama. Perlu pula dicatat bahwa halogen adalah lebih elektronegatif daripada karbon, sehingga ikatan C-X bersifat polar di mana karbon mengemban muatan posisif partial (d+) dan halogen muatan negatif partial (d).
  • 2.
    2 B. RumusanMasalah  Menjelaskan tentang pengertian alkil halida  Menjelaskan kegunaan dan manfaat alkil halida dalam kehidupan sehari – hari  bagaimana sifat fisik dan kima senyawa halogen dengan metode fluoresein dan garam halida. C. Tujuan 1. Dapat mengetahui pengertian alkil halida. 2. Dapat mengetahui kegunaan alkil halida. 3. Dapat mengetahui tata nama alkil halida. 4. Dapat mengetahui reaksi-reaksi alkil halida. 5. Dapat mengetahui pembuatan alkil halida. 6. Dapat mengenal sifat – sifat fisik alkil halida. 7. Dapat memberikan dan menjelaskan contoh alkil halida.
  • 3.
    BAB II PEMBAHASAN 3 A. Pengertian Alkil halida adalah turunan hidrokarbon di mana satu atau lebih hidrogennya diganti dengan halogen. Tiap-tiap hydrogen dalam hidrokarbon potensil digantikan dengan halogen, bahkan ada senyawa hidrokarbon yang semua hidrogennya dapat diganti. Senyawa terflkuorinasi sempurna yang dikenal sebagai fluorocarbon, cukup menarik karena kestabilannya pada suhu tinggi. B. Tata Nama Halida sederhana umumnya dinamai sebagai turunan hydrogen halida. Sistem IUPAC menamai halida sebagai halo turunan hidrokarbon. Dalam nama umum awalan n-, sek-, (s-), dan ter- (t-) secara berturut-turut menunjukkan normal, sekunder, dan tersier. . Tata Nama dengan Cara Trivial Untuk Halida sederhan disebutkan dahulu nama R, kemudian diikuti halidanya Contoh:  CH3-CH2-Br = Etil bromida  CH3F = Metil flourida  CH3CH2Cl = Etil klorida CH3  CH3CCH3 = t-Butil bromida Br Br  = Siklobutil bromida
  • 4.
    Tata Nama denganCara IUPAC Diawali dengan nama halogen, kemudian nama alkana. Dengan sistem IUPAC, penamaan semua senyawa yang hanya mengandung fungsi univalensi dapat dinyatakan dengan awalan fungsi itu sendiri diikuti dengan nama hidrokarbon induk; prinsip penomoran sekecil mungkin harus dipatuhi. H3C CH3 H3C CH CH3 CH3CH2CCH2CHCH2CH2CCH3 4 Cl (7-Bromo-2-kloro-5-isopropil-2,7-demetilnonana) Sering terjadi dalam penamaan umum, hidrokarbon dipandang sebagai gugus CH2Cl2 ICH2CH2CH2CH2I ( Metilen klorida) ( 1,4-Diiodobutana) . Istilah geminal (gem-) (latin geminus, kembar) dan vicinal (vic-) (latin vicinus, tetangga) kadang digunakan untuk memperlihatkan posisi relatif subst itutein geminal untuk posisi 1,1 dan vicinal untuk posisi1,2. CH3CHBr BrCH2CH2Br (gem-Dibromoetana) ( vic-Dibromoetana)
  • 5.
    5 Contoh; RumusbangunNama IUPAC Namabiasa CH3Cl Klorometana Metilklorida CH3CH2Cl Kloroetana EtilKlorida CH3CH2CH2Cl 1-kloropropana n-propilklorida CH3CHCH3 Cl 2-kloropropana Isopropilklorida C. Isomer Isomer adalah senyawa-senyawa yang memiliki rumus molekul sama, tetapi susunan atom-atomnya berbeda. Ada beberapa macam isomer, seperti isomer posisi, isomer struktur, isomer fungsional, dan isomer cistrans. Haloalkana memiliki isomer posisi dan isomer struktural. Haloalakana mempunyai isomer tempatmaupun isomer kerangka.Misalkan: C3H6Cl memiliki isomer sebanyak 4 yaitu : CHCl2CH2CH3 1,1-Dikloropropana CH3CCl2CH3 2,2-Dikloropropana CH2ClCHClCH3 1,2-Dikloropropana CH2ClCH2CH2Cl 1,3-Dikloropropana
  • 6.
    Nama Senyawa RumusTl ( oC) Td ( oC) Kerapatan ( cair ) Metil flourida CH3F -142 -79 0,877 Metil klorida CH3Cl -97 -23,7 0,920 Metil iodida CH3I -64 42,3 2,279 Etil klorida CH3CH2Cl -139 13,1 0,910 Etil bromida CH3CH2Br -119 38,4 1,430 n-Propil klorida CH3CH2CH2Cl -123 46,4 0,890 Isopropil klorida (CH3)2CHCl -117 36,5 0,860 n-Butil klorida CH3(CH2)3Br -112 101,6 1,275 Isobutil bromida (CH3)2CHCH2Br -120 91,3 1,250 sec-Butil bromida CH3CH2CHBrCH3 -112 68 1,259 t-Butil bromida (CH3)3CBr -20 73,3 1,222 n-Oktadekil bromida CH3(CH2)17Br 34 170/0,5 6 D. Sifat –Sifat Fisik  Titik didihnya lebih tinggi dari pada alkana dengan jumlah atom C sama, karena Bmnya lebih tinggi  Titik didihnya semakin tinggi dengan bertambah berat atom halogen  Titik didihnya bertamabah dengan dengan bertambahnya atom C E. Kondisi  Tidak larut dalam air, karena tidak mampu melakukan ikatan hidrogen dengan air. Senyawa ini larut dalam senyawa organik dengan polaritas rendah seperti benzen, eter dan CHCl3  Rapatan (densitas) alkil halida cair lebih tinggi dari pada senyawa organik lain seperti air. Contoh: CH3Cl lebih berat dari pada air ( tenggelem ke dasar wadah)
  • 7.
    7 F. Klasifikasi  Alkil halida primer ( 1oC ) = RCH2X mempunyai satu gugugs fungsi alkil terikat pada ujung C Contoh :  Alkil halida sekunder ( 2oC ) = R2CHX mempunyai dua gugus alkil terikat pada ujung C Contoh :  Alkil halida tersier ( 3oC ) = R3CX mempunyai tiga gugus alkil terikat pada ujung C Contoh : G. Reaksi Alkil Halida Alkil halida paling banyak ditemui sebagai zat antara dalam sintesis. Mereka dengan mudah diubah ke dalam berbagai jenis senyawa lain, dan dapat diperoleh melalui banyak cara. Reaksi alkil halida yang banyak itu dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu reaksi substitusi dan reaksi eliminasi. Dalam reaksi substitusi, halogen ( X ) diganti dengan beberapa gugus lain ( Z ).
  • 8.
    Reaksi eliminasi melibatkanpelepasan HX, dan hasilnya adalah suatu alkena. Banyak sekali modifikasi terhadap reaksi ini, tergantung pada pereaksi yang digunakan. 8 1) Substitusi Nukleofilik Suatu nukleofil (Z:) menyerang alkil halida pada atom karbon hibrida-sp yangmengikat halogen (X), menyebabkan terusirnya halogen oleh nukleofil. Halogen yang terusir disebut gugus pergi. Nukleofil harus mengandung pasangan elektron bebas yang digunakan untuk membentuk ikatan baru dengan karbon. Hal ini memungkinkan gugus pergi terlepas dengan membawa pasangan elektron yang tadinya sebagai elektron ikatan. Ada dua persamaan umum yang dapat dituliskan:
  • 9.
    9 Contoh lainnya: 2) M e k a Substitusi Nukleofilik Pada dasarnya terdapat dua mekanisme reaksi subst itusi nukleofilik. Mereka dilambangkan dengan SN 2 dan SN 1 . Bagian SN menunjukkan substitusi nukleofilik, sedangakan arti 1 dan 2 akan di jelaskan kemudian.  Mekanisme SN1 Mekanisme SN1 adalah proses dua tahap. Pada tahap pertama, ikatan antara karbon dengan gugus pergi. Lambat C X C+ + X - (Substrat) ion karbonium Gugus pergi Gugus pergi terlepas dengan membawa pasangan elektron, dan terbentuklah ion karbonium. Pada tahap kedua (tahap cepat), ion karbonium bergabung dengan nukleofil membentuk produk. Reaksi SN 1 adalah reaksi ion. Mekanismenya kompleks karma adanya antaraksi antara molekul pelarut, molekul RX, dan ion-ion antara yang terbentuk Reaksi SN1 suatu alkil halida tersier adalah reaksi bertahap (stepwise reaction). Tahapertama berupa pematahan alkil halida menjadi sepasang ion: ion halida dan suatu karbokation, suatu ion dalam mana atom karbon mengemban suatu muatan positif. Karena reaksi SN 1melibatkan ionisasi, reaksi-reaksi ini dibantu oleh pelarut polar, seperti H2 C yang dapat menstabilkar, ion dengan cara solvasi (solvation.
  • 10.
    10  ReaksiSN1 Karena rintangan sterik, t-butil bromida dan alkil halida tersier lain tidak bereaksi secara SN2 Namun, bila t-butil bromida direaksikan dengan suatu nukleofii yang berupa base yang sangat lemah (seperti H2 0 atau CH3 CH?, OH),terbentuk produk substitusi, bersama-sama dengan produk eliminasi. Karena H2oatau CH3 CH2 OH juga digunakan sebagai pelarut tipe reaksi substitusi ini kadang-kadang disebut reaksi solvolisis (solvent dan - lysis, nur- penguraian oleh pelarut). Ternyata alkil halida tersier mengalami substitusi dengan suatu mekanisme yangyang disebut reaksi sN 1 (substitusi, nukieofilik, unimolekular). Hasil eksperimen diperoleh dalam reaksi SN1 cukup berbeda dari hasii dalam reaksi SN 2. Secara khas, jikaenantiomer murni (dari) suatu alkil halida yang mengandung karbon C—X yang kiral mengalami suatu reaksi SN1, make akan diveroleh produk substitusi rasemik(bukan *produk inversi seperti yang diperoleh dalam reaksi SN 2)  Reaksi SN2 Reaksi bromoetana dengan ion hidroksida yang menghasilkan etanol dan ion bromida adalah suatu reaksi SN2 yang khas (SN2 berarti "substitusi, nukleofilik, bimolekular. Bolch dikatakan metil halida dan alkil halida primer apa saja, bereaksi SN2 dengan nukleofil yang agak kuat: Metil halida dan alkil halida primer bereaksi dengan nukleofilik lemah, seperti H2 0, tetapi reaksi-reaksi ini terlalu lambat sehingga tak bermanfaat. Alkil halida sekunder dapat bereaksi SN2; tetapi alkil halida tersier tidak.  Mekanisme Reaksi Pemerian terinci mengenai bagaimana reaksi berlangsung disebut mekanisme reaksi. Agar bereaksi pertama-tama molekul-molekul itu harus saling bertabrakan. Kebanyakan tabrakan antara molekul itu tidak mengakibatkan suatu reaksi; molekul-molekul itu hanyalah terpental kembali. Agar bereaksi, molekul-molekul yang bertabrakan itu harus: mengandung cukup energi potensial agar terjadi pematahan
  • 11.
    ikatan. Juga sikap(orientasi molekul-molekul itu, satu terhadap yang lain 11  Stereokimia Reaksi SN2 Dalam reaksi SN2 antara bromoetana dan ion hidroksida, oksigen (dari) ion hidroksida menabrak bagian belakang karbon ujung dan menggantikan ion bromide H. Pembuatan  Dari Alkohol Reaksi berlangsung:  Melewatkan gas halida kering ke alkohol  Memanaskan alkohol dengan asam pekat  NaBr dan H2SO4 dengan adanya alkohol  HCl (paling tidak reaktif)  Halogenasi
  • 12.
     Adisi hidrogenhalida dari alkena  Adisi halogen dari alkena dan alkuna 12 I. Penggunaan Alkil Halida  Kloroform (CHCl3) : pelarut untuk lemak, obat bius (dibubuhi etanol, disimpan dalam botol coklat, diisi sampai penuh).  Tetraklorometana = karbontetraklorida (CCl4) : pelarut untuk lemak, alat pemadam kebakaran (Pyrene, TD rendah 77oC, uapnya berat. Karbon tetraklorida merupakan zat cair yang tidak berwarna dengan massa jenis lebih besar dari air. Uap CCl4 tidak terbakar sehingga sering digunakan sebagai pemadam kebakaran. Selain itu, juga digunakan sebagai pelarut untuk lemak dan minyak.  Freon (Freon 12 = CCl2F2, Freon 22 = CHCl2F) : pendingin lemari es, alat “air conditioner”, sebagai propellant (penyebar) kosmetik, insektisida.  Sebagai pelaru non polar. Banyak senyawa halo alkana yang digunakan sebagai pelarut nonpolar CCl4, CHCl3, C2H3Cl3. Pelarut ini bersifat racun sehingga jangan sampai terhirup.  Tetraklorokarbon (CCl4). Karbon tetraklorida merupakan zat cair yang tidak berwarna dengan massa jenis lebih besar dari air. Uap CCl4 tidak terbakar sehingga sering digunakan sebagai pemadam kebakaran. Selain itu, juga digunakan sebagai pelarut untuk lemak dan minyak.  DDT (dikloro difenil trikloro metana) ini digunakan sebagai insektisida. Akan tetapi zat ini sukar sekali terurai, sehingga masih ada dalam sayuran dan hewan ternak yang memakan rumput yang di semprotkan DDT. Akibatnya dapat menimbulkan keracunan.  Sebagai pelaru non polar. Banyak senyawa halo alkana yang digunakan sebagai pelarut nonpolar CCl4, CHCl3, C2H3Cl3. Pelarut ini bersifat racun sehingga jangan sampai terhirup.
  • 13.
    BAB III 13 Kesimpulan Senyawa yang mengandung hanya karbon, hidrogen dan satu atom halogen, dapat di bagi dalam tiga kategori : alkil halida ,aril halida dan halida vinilik. Halo alakana mempunyai isomer tempat maupun isomer kerangka. Alkena atau dalam kimia organik adalah hidrokarbon tak jenuh dengan sebuah ikatan rangkap dua antara atom karbon. Alkena asiklik yang paling sederhana, yang membentuk satu ikatan rangkap dan tidak berikatan dengan gugus fungsional manapun, maka akan membentuk suatu kelompok hidrokarbon dengan rumus umum CnH2n. Beberapa alkil halida yang bisa dimanfaatkanantara lain:  Kloroform (CHCl3),, Tetraklorokarbon (CCl4) ,Freon, DDT (dikloro difenil trikloro metana)
  • 14.
    Daftar Pustaka : http://sulpahmiami.blogspot.com/2012/06/makalah-kimia-organik.html http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/1711/Alkil _halida.pdf?sequence=1 14 www.chem-is-try.org