Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 
2 
Uraian Materi 
Anda tentu pernah memberikan 
imunisasi TT pada ibu hamil dan Anda 
telah melakukan upaya pencegahan 
infeksi. Tuliskanlah pengalaman Anda 
tentang langkah-langkah kerja yang 
Anda dilakukan sejak persiapan sampai 
pengelolaan alat bekas pakai pada 
kotak berikut ini! 
Bagaimana, apakah Anda sudah 
selesai menuliskannya? Bila sudah 
selesai, bacalah uraian materi berikut 
ini dan cocokkanlah pengalaman Anda 
dengan uraian berikut ini! 
Upaya pencegahan infeksi 
merupakan salah satu penerapan 
kewaspadaan universal. Apakah yang 
dimaksud dengan kewaspadaan 
universal? 
1. Definisi kewaspadaaan 
universal 
Universal precautions atau 
Kewaspadaan Universal (KU) adalah 
pedoman yang ditetapkan Center for 
Disease Control (CDC) untuk mencegah 
penyebaran berbagai penyakit yang 
ditularkan melalui darah di lingkungan 
rumah sakit, atau sarana kesehatan 
lainnya. Konsep yang dianut adalah 
semua darah dan cairan tubuh harus 
dikelola sebagai sumber yang dapat 
menularkan HIV, Hepatitis B virus 
(HBV) dan berbagai penyakit lain yang 
ditularkan melalui darah. 
Bagan rantai penularan infeksi di 
sarana kesehatan 
Sumber: Depkes RI, 2010 
Prinsip utama prosedur 
kewaspadaan universal pelayanan 
kesehatan adalah menjaga hygiene 
sanitasi individu, sanitasi ruangan, dan 
sterilisasi peralatan. 
2. Petunjuk umum pelaksanaan 
kewaspadaan universal 
Prinsip kewaspadaan universal 
dalam pencegahan infeksi merupakan 
kunci utama keberhasilan memutuskan 
rantai transmisi penyakit yang 
Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 
3 
ditularkan melalui kontak langsung 
kontak langsung cairan tubuh pasien, 
droplet, airborne. Langkah-langkah 
pencegahan infeksi harus dilaksanakan, 
khususnya infeksi melalui darah/cairan 
tubuh. Perlu diingat bahwa langkah-langkah 
ini tidak mengabaikan 
pentingnya prosedur standar dalam 
tindakan pemrosesan alat/instrumen 
secara tepat, pembuangan sampah/ 
limbah secara aman dan menjamin 
kebersihan ruangan serta lingkungan 
sekitarnya. 
a. Kewaspadaan dalam tindak 
medik 
Segala prosedur pembedahan 
yang membuka jaringan organ, 
pembuluh darah, dan pertolongan 
persalinan atau tindakan abortus, 
termasuk tindakan medic invasive 
berisiko tinggi menularkan HIV bagi 
tenaga medis. Untuk memutuskan 
rantai penularan, perlu pembatas 
berupa: (1) kaca mata pelindung untuk 
menghindari percikan cairan tubuh ke 
mata; (2) masker pelindung hidung/ 
mulut untuk mencegah percikan 
pada mukosa hidung atau mulut; (3) 
plastik penutup badan (schort) untuk 
mencegah kontak dengan cairan 
tubuh pasien; (4) sarung tangan yang 
sesuai untuk pelindung tangan yang 
aktif melakukan tindak medik invasif; 
(5) Penutup kaki untuk melindungi kaki 
dari cairan yang infektif. 
b. Kegiatan di gawat darurat 
Unit gawat darurat umumnya 
melayani kasus gawat darurat awal di 
suatu rumah sakit, harus menyediakan 
peralatan yang berkaitan dengan 
pelaksanaan KU. Sarana seperti sarung 
tangan, masker dan gaun khusus harus 
selalu ada, mudah dicapai, mudah 
dipakai. Alat resusitasi harus tersedia 
dan harus ada petugas terlatih yang siap 
menggunakannya. Di setiap pelayanan 
darurat harus tersedia wadah khusus 
untuk mengelola peralatan tajam. 
c. Kegiatan di kamar operasi 
1) Dalam prosedur operasi 
Selain kontak langsung 
dengan darah, tertusuknya 
bagian tubuh oleh benda 
tajam merupakan kejadian 
yang harus dicegah. Oleh 
karena itu instrumen yang 
tajam jangan diberikan ke/ 
dari operator oleh asisten 
atau ahli instrumen. Untuk 
memudahkan hal ini, pakailah 
nampa guna menyerahkan 
instrumen tajam tersebut 
atau mengembalikannya. 
Operator bertanggung jawab 
menempatkan benda tajam 
secara aman. 
2) Pada saat menjahit 
Lakukan prosedur sedemikian 
rupa pada saat menjahit 
Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 
4 
sehingga jari/tangan terhindar 
tusukan. Bila tersedia, 
gunakan jarum khusus yang 
mempunyai desain spesifik 
yang mampu menembus 
jaringan tetapi tidak akan 
menembus sarung tangan. 
3) Memisahkan jaringan 
Jangan menggunakan tangan 
untuk memisahkan jaringan, 
karena hal ini menambah 
risiko pemaparan infeksi 
melalui tangan operator. 
4) Operasi sulit 
Untuk operasi-operasi yang 
membutuhkan waktu lebih 
dari 60 menit dan ruang kerja 
sempit, dianjurkan untuk 
menggunakan sarung tangan 
sesuai standar. 
5) Melepas baju operasi harus 
dilakukan sebelum membuka 
sarung tangan agar tidak 
terpapar cairan darah/cairan 
tubuh dari baju operasi. 
6) Pencucian instrumen bekas 
pakai sebaiknya secara 
mekanik. Bila mencuci 
instrumen secara manual, 
petugas harus menggunakan 
sarung tangan rumah 
tangga dan instrumen 
tersebut sebelumnya telah 
didekontaminasi dengan 
merendam dalam larutan 
klorin 0,5%, selama 10 menit. 
7) Seorang dokter yang 
melakukan prosedur 
pembedahan sebaiknya telah 
diuji kalayakannya melakukan 
pembedahan secara khusus 
tersebut. 
d. Kegiatan di kamar bersalin 
1) Kegiatan di kamar 
bersalin yang membutuhkan 
lengan/tangan untuk 
manipulasi intrauterine harus 
menggunakan schort dan 
sarung tangan yang mencapai 
siku. 
2) Menolong bayi baru lahir 
harus menggunakan sarung 
tangan. 
3) Cara pengisapan lendir 
bayi dengan mulut harus 
ditinggalkan. 
4) Potonglah tali pusat pada 
saat pulsasi telah menurun 
atau hilang. ASI dari ibu yang 
terinfeksi HIV berisiko bagi 
bayi baru lahir, akan tetapi 
tidak beriiko untuk tenaga 
kesehatan. 
3. Pelaksanaan kewaspadaan 
universal 
Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 
5 
Lima kegiatan pokok prosedur 
kewaspadaan universal adalah sebagai 
berikut. 
(1) Cuci tangan untuk mencegah 
infeksi silang 
Cuci tangan dilaksanakan sesuai 
kebutuhan, yaitu 
a. Cuci tangan higienik atau rutin 
untuk mengurangi kotoran 
dan flora yang ada di tangan 
dengan menggunakan sabun 
atau deterjen. 
Persiapan 
• Sarana cuci tangan 
disiapkan di setiap ruang 
penderita dan tempat lain 
misalnya ruang bedah, 
koridor. 
• Air bersih yang mengalir 
(dari kran, ceret atiu 
sumber lain) 
• Sabun sebaiknya dalam 
bentuk sabun cair 
• Lap kertas atau kain yang 
kering 
• Kuku dijaga selalu pendek 
• Cincin dan gelang 
perhiasan harus dilepas 
dari tangan 
Prosedur 
(1) Basahi tangan setinggi 
pertengahan lengan bawah 
dengan air mengalir. 
(2) Taruh sabun di bagian 
telapak tangan yang 
telah basah. Buat busa 
secukupnya tanpa percikan 
(3) Gerakan cuci tangan 
terdiri dari gosokan kedua 
telapak tangan, gosokan 
telapak tangan kanan di 
atas punggung tangan 
kin dan sebaliknya, gosok 
kedua telapak dengan 
jari saling mengait, gosok 
kedua ibu jari dengan 
cara menggenggam 
dan memutar, gosok 
pergelangan tangan 
(4) Proses berlangsung selama 
10-15 detik. 
(5) Bilas kembali dengan air 
sampai bersih. 
(6) Keringkan tangan dengan 
handuk atau kertas yang 
bersih atau tissue atau 
handuk katun sekali pakai. 
(7) Matikan kran dengan 
kertas atau tissue 
(8) Pada cuci tangan aseptik/ 
bedah diikuti larangan 
menyentuh permukaan 
yang tidak steril. 
Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 
6 
Langkah –langkah mencuci tangan higienik 
Sumber: Depkes RI, 2010 
Alternatif cuci tangan higienik 
Sebagai alternatif, dapat gunakan 
bilasan alkohol-gliserin (asalkan 
tangan tak kotor secara fisik) 
 Formula: 
Tambahkan 2 ml gliserin kedalam 
100 ml larutan alkohol 60- 
90%. 
 Penggunaan: 
Tuangkan sebanyak 3 - 5 ml dan 
gosokkan pada kedua belah 
tangan selama 2-5 menit, 
diperlukan sejumlah 6-10 ml 
untuk keseluruhan proses. 
b. Cuci tangan aseptik dilakukan 
sebelum tindakan aseptik pada 
pasien dengan menggunakan 
antiseptik. 
c. Cuci tangan bedah dilakukan 
sebelum melakukan tindakan 
bedah cara aseptik dan sikat 
steril. 
Indikasi cuci tangan 
a. Sebelum melakukan 
tindakan. (1) memulai pekerjaan 
(baru tiba di kantor); (2) saat 
akan memeriksa (kontak 
langsung dengan pasien); 
(3) akan memakai sarung 
tangan steril atau DTT; (4) akan 
memakai peralatan yang telah 
di-DTT; (5) akan melakukan 
injeksi; (6) saat hendak pulang 
ke rumah. 
b. Setelah melakukan 
tindakan yang kemungkinan 
tercemar. (1) setelah memeriksa 
pasien; (2) setelah memegang 
alat bekas pakai dan bahan 
–bahan lain yang berisiko 
terkontaminasi; (3) setelah 
menyentuh selaput mukosa, 
darah atau cairan tubuh lain; 
Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 
7 
(4) setelah membuka sarung 
tangan ; (5) setelah dari toilet/ 
kamar kecil; setelah batuk atau 
bersin. 
Sarana mencuci tangan 
air mengalir, sabun dan diterjen, 
larutan antiseptik (alkohol 
60-90%, Chlorhexedin 40%, 
Hexachlorophen 3%, Yodium 3%, 
Yodophor 1:2.500). 
(2) Pemakaian alat pelindung 
diantaranya pemakaian sarung 
tangan guna mencegah kontak 
dengan darah serta cairan infeksius 
yang lain. 
• Alat pelindung diri adalah 
sarung tangan, pelindung 
w a j a h / m a s k e r / k a c a 
mata, penutup kepala, 
gaun pelindung, sepatu 
pelindung. 
• Tidak semua alat pelindung 
tubuh harus dipakai. Jenis 
pelindung yang dipakai 
tergantung pada jenis 
tindakan atau kegiatan yang 
akan dikerjakan. Sebagai 
contoh, untuk tindakan 
bedah minor (misalnya 
vasektomi, memasang/ 
mengangkat implant) cukup 
memakai sarung tangan 
steril atau DTT saja. Namun 
untuk kegiatan operatif 
di kamar bedah, atau 
melakukan pertolongan 
persalinan sebaiknya 
semua pelindung tubuh 
dipakai oleh petugas untuk 
mengurangi kemungkinan 
terpajan darah/cairan tubuh 
lainnya. 
• Setiap petugas kesehatan 
harus: 
1) menggunakan sarung tangan 
bila : (1) menyentuh darah atau 
cairan tubuh, selaput lendir, 
atau kulit yang tidak utuh; 
(2) mengelola peralatan dan 
sarana kesehatan /kedokteran 
yang tercemar darah; dan (3) 
mengerjakan punksi vena / 
lumbal atau prosedur yang 
menyangkut pembuluh darah. 
2) mengganti sarung tangan 
setiap selesai kontak dengan 
pasien. 
Cara memakai sarung tangan 
Sumber: Depkes RI, 2010 
Cara melepas sarung tangan 
Sumber: Depkes RI, 2010 
Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 
8 
3) memakai masker/pelindung 
mata/pelindung wajah bila 
mengerjakan prosedur yang 
memungkinkan cipratan 
darah atau cairan tubuh 
guna mencegah terpaparnya 
selaput lendir pada mulut, 
hidung dan mata. 
4) Memakai jubah (pakaian kerja) 
khusus selama melakukan 
tindakan yang mungkin 
menimbulkan cipratan darah/ 
cairan tubuh lainnya. 
Gambar penggunaan alat 
perlindungan diri 
*Sumber: http://google.image 
Tangan atau bagian tubuh lainnya 
harus segera dicuci sebersih 
mungkin bila terciprat darah atau 
cairan tubuh lainnya. Setiap kali 
melepas sarung tangan harus 
segera dicuci. 
(3) Pengelolaan alat kesehatan bekas 
pakai 
Langkah-langkah pengelolaan 
alat setelah digunakan meliputi 
dekontaminasi, pencucian dan 
pembilasan, desinfeksi tingkat 
tinggi atau sterilisasi. Secara lebih 
rinci seperti uraian berikut ini. 
Pengelolaan alat setelah digunakan 
*Sumber: http://google.image 
(a) Dekontaminasi 
(1) Masukkan peralatan bekas 
pakai yang akan digunakan 
kembali ke dalam larutan 
klorin 0,5% segera setelah 
digunakan. 
(2) Rendam selama 10 menit 
dan segera lakukan 
pencucian dan pembilasan. 
(3) Lakukan pula pembersihan 
Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 
9 
permukaan peralatan 
(misalnya meja bedah) 
dengan larutan klorin 
0,5%. 
(b) Pencucian-pembilasan 
(1) Cuci dengan air bersih dan 
sabun atau deterjen 
(2) Sikat dengan sikat halus 
hingga tampak bersih 
(3) Lakukan penyikatan 
dalam air pencuci untuk 
menghindarkan percikan 
(4) Buka engsel atau 
sambungan peralatan 
(5) Bilas merata dengan air 
bersih. 
(c) Desinfeksi tingkat tinggi 
(DTT)/Seterilisasi 
DTT dengan merebus 
(1) Susun peralatan hingga 
terendam dalam air 
(2) Rebus hingga mendidih dalam 
panci bertutup. 
(3) Hitung waktu dari saat air 
mulai mendidih hingga 20 
menit untuk proses DTT 
(4) Jangan menambah sesuatu 
ke dalam panci setelah 
penghitungan waktu dimulai 
(5) Keringkan di udara terbuka 
sebelum disimpan. 
DTT dengan cara mengukus 
DTT kimiawi 
(1) Masukkan peralatan kedalam 
larutan dekontaminan yang 
tersedia 
• Alcohol. Memiliki efek 
bakterisidal dan virusidal cukup 
kuat Dibutuh konsentrasi 60- 
90%, direndam selama 1 menit 
• Larutan klorin; 
Efektivitas klorin dan 
desinfektan lain diturunkan 
secara bermakna oleh darah. 
Dianjurkan untuk permukaan 
yang terpajan cairan tubuh 
dibersihkan dahulu dengan 
lap atau kertas yang menyerap 
sebelum didekontaminasi 
dengan cairan klorin 0,5% atau 
Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 
10 
0,05% atau dekontaminasi 
dilakukan dua kali. Setidaknya 
diperlukan kontak dengan 500 
ppm klorin bebas selama 10 
menit. Untuk desinfeksi alat/ 
instrument 
Mikroorganisme Konsentrasi efektif 
klorin 
Waktu 
Mikoplasma dan bakteri 
vegetatif (<5 ppm) 
25 ppm Beberapa detik 
Spora basilus subtilis 100 ppm 5 menit 
Agen mikotik 100 ppm 1 jam 
S. Aureus 
Salmonella cholerae 
Pseudomonas aeruginosa 
100 ppm 10 menit 
Beberapa macam virus 
termasuk HIV, HBV 
200 ppm 10 menit 
Mycobacterium tuberculosis 1000 ppm 
Cairan pemutih rumah tangga yang mengandung natrium hopoklorit 5,25% 
atau 52.500 ppm klorin bebas. 
Pengenceran 1:999 akan menghasilkan 50 ppm klorin bebas 
Pengenceran 1:9 akan menghasilkan 5.000 ppm 
*Sumber: Depkes RI, 2010 
• Formadehid 
Efektif untuk bakterisidal, 
fungisidal, virusidal, dan 
sporisidal. Namun bersifat 
karsinogenik, sehingga 
petugas kesehatan harus 
membatasi diri kontak dengan 
formaldehid. Di pasar, tersedia 
formaldehid 37% dari beratnya. 
Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 
11 
Mikro-organisme 
Konsen-trasi 
Waktu 
perendaman 
Virus polio 8% 10 menit 
M. 
2% 2 menit 
Tuberculosa 
B a s i l u s 
anthracis 
2% 2 jam 
*Sumber: Depkes RI, 2010 
• Glutaraldehid 
Efektif untuk bakterisidal, 
virusidal. Efek samping: proktitis, 
keratopati,iritasi mata, hidung, 
tenggorokan, epistaksis, dermatitis 
kontak, asma, radang hidung. 
Mikro-organisme 
Konsen-trasi 
Waktu 
perendaman 
Bakteri 
vegetatif, M. 
Tuberculosis, 
fungi, virus, 
oosit crypto-sporidium 
2 %, pH 
7,5-8,5 
10 - 20 menit 
Spora 
basilus dan 
clostridium 
2 %, pH 
7,5-8,5 
3 jam 
• Hidrogen peroksida (H2O2) 
Mikro-organisme 
Konsen-trasi 
Waktu 
Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri 
perendaman 
S.Aureus, 
Seratia 
marcessens, 
proteus 
Mirabilis, 
E.coli, 
Streptokokus 
spp, pseudo-monas 
spp., 
basilus spp., 
0,6-15% 15-60 menit 
Spora 
basilus dan 
clostridium 
0,6-15% 150 jam 
(2) Rendam sesuai efektivitas 
dekontaminan. 
(3) Bilas dengan air DTT. 
(4) Biarkan kering sebelum 
digunakan dan disimpan. 
(d) Sterilisasi
Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 
12 
(e) Pemakaian dan penyimpanan 
alat yang sudah dikelola 
Alat yang telah dilakukan 
DTT atau sterilisasi dapat 
digunakan atau disimpan. 
Jika alat tidak terbungkus, 
harus digunakan segera 
setelah dikeluarkan. Bila 
terbungkus dan yakin steril, 
dapat digunakan paling lama 
7 hari (1 minggu). Bila tidak 
yakin (ragu-ragu), lakukan 
sterilisasi kembali. 
(4) Pengelolaan jarum dan alat tajam 
untuk mencegah perlukaan 
Petugas kesehatan harus selalu 
waspada terhadap kemungkinan 
tertusuk jarum, pisau dan benda 
atau alat tajam lainnya selama 
membersihkan atau mencuci 
peralatan, membuang sampah 
atau membenahi peralatan 
setelah berlangsungnya prosedur 
atau tindakan. Untuk mencapai 
tujuan ini, maka jangan menutup 
kembali jarum suntik setelah 
selesai dipakai, jangan sengaja 
membengkokkan/mematahkan 
jarum suntik dengan tangan, 
jangan melepas jarum suntik 
dari tabungnya, atau melakukan 
tindakan apapun pada jarum suntik 
menggunakan tangan terbuka. 
Setelah segala benda tajam selesai 
dipergunakan, maka harus ditaruh 
di wadah khusus yang tahan atau 
anti tusukan. Kemudian, wadah 
kumpulan benda tajam harus 
terjamin aman untuk dibawa ke 
tempat pemrosesan alat atau 
dalam proses pengenyahannya. 
Cara menutup jarum setelah 
digunakan 
*Sumber : Depkes RI, 2010 
(5) Pengelolaan limbah dan sanitasi 
ruangan 
Secara umum limbah dibagi 
menjadi limbah padat dan limbah 
cair. Limbah padat disebut juga 
dengan sampah. Tidak semua 
limbah rumah sakit berbahaya. 
Petugas yang menangani berisiko 
terpajan infeksi karena luka benda 
tajam yang terkontaminasi. 
Limbah rumah sakit dibagi atas: 
a. Limbah rumah tangga 
Limbah non medis, yaitu 
limbah yang tidak kontak 
dengan darah, atau cairan 
tubuh yang lain, sehingga 
berisiko rendah. 
Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 
13 
b. Limbah medis 
Limbah yang kontak dengan 
sarah atau cairan tubuh pasien 
sehingga dikategorikan 
sebagai limbah berisiko tinggi 
atau berisiko menularkan 
penyakit. Limbah ini dibagi 
menjadi limbah klinis, limbah 
laboratoris, dan limbah 
berbahaya. Limbah berbahaya 
mempunyai sifat beracun, 
meliputi limbah pembersih, 
desinfektan, obat-obatan, 
sitotoksik, dan senyawa 
radioaktif. 
Kantong sampah haruslahn 
utuh (tidak bocor). Warna kantong 
penampungan sementara disesuaikan 
dengan jenis limbahnya. Kuning untuk 
sampah infeksius, hitam untuk limbah 
non-infeksius/ domestic, merah untuk 
limbah radioaktif, ungu untuk limbah 
yang bersifat sitotoksik, dan coklat 
untuk limbah beracun lainnya. 
Tempat penampungan sementara 
limbah pelayanan kesehatan 
*Sumber: Murniati, 2013 
4. Kebijakan pelaksanaan 
kewaspadaan universal 
Kebijakan pelaksanaan 
kewaspadaan universal sebagai 
berikut. 
a. Walaupun air liur belum terbukti 
menularkan HIV, tindakan 
resusitasi dari mulut ke mulut 
harus dihindari. Jadi, di setiap 
tempat dimana ada kasusnya 
yang memerlukan resusitasi, perlu 
disediakan alat resusitasi. 
b. Petugas kesehatan yang 
mengalami luka atau lesi 
yang mengeluarkan cairan, 
misalnya dermatitis basah, 
harus menghindari tugas yang 
bersifat kontak langsung dengan 
peralatan bekas pakai pasien. 
c. Petugas kesehatan yang hamil 
tidak mempunyai risiko lebih 
besar untuk untuk tertular HIV 
dibandingkan dengan petugas 
kesehatan tidak hamil. Namun 
demikian, bila terjadi infeksi HIV 
selama kehamilan, janin yang 
dikandungnya berisiko untuk 
mengalami transmisi perinatal. 
Karena itu, petugas kesehatan 
yang sedang hamil harus lebih 
memperhatikan segala prosedur 
yang dapat menghindari 
penularan HIV. 
Dengan menerapkan 
kewaspadaan Universal, setiap petugas 
kesehatan terlindung semaksimal 
mungkin dari kemungkinan terkena 
infeksi penyakit yang ditularkan melalui 
Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 
14 
darah/cairan tubuh, baik dari kasus 
yang terdiagnosis maupun yang tidak 
terdiagnosis. Tambahan pula, transmisi 
kebanyakan infeksi yang ditularkan 
dengan cara lainpun akan berkurang 
pula. 
5. Manajemen untuk tenaga 
kesehatan yang terpapar darah/ 
cairan tubuh 
a. Paparan secara parenteral melalui 
tusukan jarum, kena potong dan 
lain-lain 
Keluarkan darah sebanyak-banyaknya, 
cuci tangan dengan 
sabun dan air atau dengan air 
saja sebanyak mungkin. 
b. Paparan pada selaput lendir 
melalui cipratan ke mata 
Cucilah mata secara pelan-pelan 
dengan mata dalam keadaan 
terbuka, menggunakan air atau 
cairan NaCl. 
c. Paparan pada mulut 
Keluarkan cairan mengandung 
infeksi tersebut dengan cara 
berludah, kemudian kumur-kumurlah 
dengan air beberapa 
kali. 
Paparan pada kulit yang utuh 
atau kulit yang sedang luka, lecet 
atau dermatitis. Cucilah sebersih 
mungkin dengan air dan sabun 
antiseptik. 
Selanjutnya, mereka yang 
terpapar ini perlu mendapatkan 
pemantauan HIV yang mencukupi 
dan kondisi kesehatannya harus pula 
diperhatikan. Penjamupun harus terus 
dipantau kemungkinan infeksinya. 
Selama pemantauan, tenaga kesehatan 
yang terpapar tersebur memerlukan 
konseling mengenai resiko infeksi 
dan pencegahan trasmisi lanjutan. 
Tentunya, orang tersebut diingatkan 
agar tidak menjadi donor darah atau 
jaringan, selalu melakukan hubungan 
seksual yang aman dan mencegah 
terjadinya kehamilan. Di beberapa 
negara seperti Australia diberikan 
Zidovudine (AZT) profilaksis 200mg 
oral, 5x/hari selama seminggu. 
6. Kepatuhan melaksanakan KU 
Penelitian tentang kepatuhan 
terhadap KU yang diselenggarakan di 
Bagian Obstetri dan Ginekologi FKUI/ 
RSCM tahun 1997-1998 menampilkan 
data antara lain : membuang benda 
tajam ke wadah khusus 79,3% ; mencuci 
tangan 85,7% ; memakai sarung 
tangan 66,7% ;memakai kacamata 
32,6% ; dan memakai masker 39,5%. 
Tingkat kepatuhan petugas Bagian 
Obstetri dan Ginekologi yang bekerja 
di Instalasi Gawat Darurat dan Instalasi 
Bedah Pusat lebih baik di bandingkan 
Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
Modul Pendidikan Jarak Jauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 
15 
dengan petugas di tempat yang sama 
yang bekerja di ruang perawatan. 
Tingkat kepatuhan untuk 
melaksanakan KU, khususnya berkaitan 
dengan HIV/AIDS, dipengaruhi oleh 
faktor-faktor sebagai berikut: 
a. Faktor individu: jenis kelamin, 
umur, jenis pekerjaan/profesi, 
lama bekerja dan tingkat 
pendidikan, 
b. Faktor psikosossial: sikap terhadap 
HIV dan /atau virus Hepatitis B, 
ketegangan dalam suasana kerja, 
rasa takut dan persepsi terhadap 
risiko, 
c. Faktor organisasi manajemen: 
adanya kesepakatan untuk 
membuat suasana lingkungan 
kerja yang aman, adanya 
dukungan dari rekan sekerja,dan 
adanya pelatihan. 
7. Upaya untuk melaksanakan 
kewaspadaan universal (KU) 
di setiap fasilitas pelayanan 
kesehatan 
Para peneliti menyebutkan bahwa 
KU adalah pekerjaan yang sederhana 
dan relatif murah, tanpa menambah 
lamanya pelaksanaan prosedur 
operatif. Untuk memulai pelaksanaan 
KU di suatu fasilitas pelayanan 
kesehatan perlu diterapkan langkah-langkah 
(1) pengenalan unsur-unsur 
yang terkait, (2) menilai fasilitas dan 
kebiasaan yang berlangsung selama 
ini, (3) meninjau kembali kebijakan dan 
prosedur yang telah ada, (4) membuat 
perencanaan (menyusun proposal), 
(5) menjalankan rencana yang telah 
disusun, (6) mengadakan pendidikan 
dan pelatihan, (7) memantau dan 
mengadakan supervisi pelaksanaan 
KU secara berkala. Koordinasi upaya 
pelaksanaan ini dapat dilakukan 
oleh panitia pengendalian infeksi 
nosokomial di rumah sakit. 
Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri

Kewaspadaan umum (universal precautions)

  • 1.
    Modul Pendidikan JarakJauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 2 Uraian Materi Anda tentu pernah memberikan imunisasi TT pada ibu hamil dan Anda telah melakukan upaya pencegahan infeksi. Tuliskanlah pengalaman Anda tentang langkah-langkah kerja yang Anda dilakukan sejak persiapan sampai pengelolaan alat bekas pakai pada kotak berikut ini! Bagaimana, apakah Anda sudah selesai menuliskannya? Bila sudah selesai, bacalah uraian materi berikut ini dan cocokkanlah pengalaman Anda dengan uraian berikut ini! Upaya pencegahan infeksi merupakan salah satu penerapan kewaspadaan universal. Apakah yang dimaksud dengan kewaspadaan universal? 1. Definisi kewaspadaaan universal Universal precautions atau Kewaspadaan Universal (KU) adalah pedoman yang ditetapkan Center for Disease Control (CDC) untuk mencegah penyebaran berbagai penyakit yang ditularkan melalui darah di lingkungan rumah sakit, atau sarana kesehatan lainnya. Konsep yang dianut adalah semua darah dan cairan tubuh harus dikelola sebagai sumber yang dapat menularkan HIV, Hepatitis B virus (HBV) dan berbagai penyakit lain yang ditularkan melalui darah. Bagan rantai penularan infeksi di sarana kesehatan Sumber: Depkes RI, 2010 Prinsip utama prosedur kewaspadaan universal pelayanan kesehatan adalah menjaga hygiene sanitasi individu, sanitasi ruangan, dan sterilisasi peralatan. 2. Petunjuk umum pelaksanaan kewaspadaan universal Prinsip kewaspadaan universal dalam pencegahan infeksi merupakan kunci utama keberhasilan memutuskan rantai transmisi penyakit yang Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
  • 2.
    Modul Pendidikan JarakJauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 3 ditularkan melalui kontak langsung kontak langsung cairan tubuh pasien, droplet, airborne. Langkah-langkah pencegahan infeksi harus dilaksanakan, khususnya infeksi melalui darah/cairan tubuh. Perlu diingat bahwa langkah-langkah ini tidak mengabaikan pentingnya prosedur standar dalam tindakan pemrosesan alat/instrumen secara tepat, pembuangan sampah/ limbah secara aman dan menjamin kebersihan ruangan serta lingkungan sekitarnya. a. Kewaspadaan dalam tindak medik Segala prosedur pembedahan yang membuka jaringan organ, pembuluh darah, dan pertolongan persalinan atau tindakan abortus, termasuk tindakan medic invasive berisiko tinggi menularkan HIV bagi tenaga medis. Untuk memutuskan rantai penularan, perlu pembatas berupa: (1) kaca mata pelindung untuk menghindari percikan cairan tubuh ke mata; (2) masker pelindung hidung/ mulut untuk mencegah percikan pada mukosa hidung atau mulut; (3) plastik penutup badan (schort) untuk mencegah kontak dengan cairan tubuh pasien; (4) sarung tangan yang sesuai untuk pelindung tangan yang aktif melakukan tindak medik invasif; (5) Penutup kaki untuk melindungi kaki dari cairan yang infektif. b. Kegiatan di gawat darurat Unit gawat darurat umumnya melayani kasus gawat darurat awal di suatu rumah sakit, harus menyediakan peralatan yang berkaitan dengan pelaksanaan KU. Sarana seperti sarung tangan, masker dan gaun khusus harus selalu ada, mudah dicapai, mudah dipakai. Alat resusitasi harus tersedia dan harus ada petugas terlatih yang siap menggunakannya. Di setiap pelayanan darurat harus tersedia wadah khusus untuk mengelola peralatan tajam. c. Kegiatan di kamar operasi 1) Dalam prosedur operasi Selain kontak langsung dengan darah, tertusuknya bagian tubuh oleh benda tajam merupakan kejadian yang harus dicegah. Oleh karena itu instrumen yang tajam jangan diberikan ke/ dari operator oleh asisten atau ahli instrumen. Untuk memudahkan hal ini, pakailah nampa guna menyerahkan instrumen tajam tersebut atau mengembalikannya. Operator bertanggung jawab menempatkan benda tajam secara aman. 2) Pada saat menjahit Lakukan prosedur sedemikian rupa pada saat menjahit Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
  • 3.
    Modul Pendidikan JarakJauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 4 sehingga jari/tangan terhindar tusukan. Bila tersedia, gunakan jarum khusus yang mempunyai desain spesifik yang mampu menembus jaringan tetapi tidak akan menembus sarung tangan. 3) Memisahkan jaringan Jangan menggunakan tangan untuk memisahkan jaringan, karena hal ini menambah risiko pemaparan infeksi melalui tangan operator. 4) Operasi sulit Untuk operasi-operasi yang membutuhkan waktu lebih dari 60 menit dan ruang kerja sempit, dianjurkan untuk menggunakan sarung tangan sesuai standar. 5) Melepas baju operasi harus dilakukan sebelum membuka sarung tangan agar tidak terpapar cairan darah/cairan tubuh dari baju operasi. 6) Pencucian instrumen bekas pakai sebaiknya secara mekanik. Bila mencuci instrumen secara manual, petugas harus menggunakan sarung tangan rumah tangga dan instrumen tersebut sebelumnya telah didekontaminasi dengan merendam dalam larutan klorin 0,5%, selama 10 menit. 7) Seorang dokter yang melakukan prosedur pembedahan sebaiknya telah diuji kalayakannya melakukan pembedahan secara khusus tersebut. d. Kegiatan di kamar bersalin 1) Kegiatan di kamar bersalin yang membutuhkan lengan/tangan untuk manipulasi intrauterine harus menggunakan schort dan sarung tangan yang mencapai siku. 2) Menolong bayi baru lahir harus menggunakan sarung tangan. 3) Cara pengisapan lendir bayi dengan mulut harus ditinggalkan. 4) Potonglah tali pusat pada saat pulsasi telah menurun atau hilang. ASI dari ibu yang terinfeksi HIV berisiko bagi bayi baru lahir, akan tetapi tidak beriiko untuk tenaga kesehatan. 3. Pelaksanaan kewaspadaan universal Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
  • 4.
    Modul Pendidikan JarakJauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 5 Lima kegiatan pokok prosedur kewaspadaan universal adalah sebagai berikut. (1) Cuci tangan untuk mencegah infeksi silang Cuci tangan dilaksanakan sesuai kebutuhan, yaitu a. Cuci tangan higienik atau rutin untuk mengurangi kotoran dan flora yang ada di tangan dengan menggunakan sabun atau deterjen. Persiapan • Sarana cuci tangan disiapkan di setiap ruang penderita dan tempat lain misalnya ruang bedah, koridor. • Air bersih yang mengalir (dari kran, ceret atiu sumber lain) • Sabun sebaiknya dalam bentuk sabun cair • Lap kertas atau kain yang kering • Kuku dijaga selalu pendek • Cincin dan gelang perhiasan harus dilepas dari tangan Prosedur (1) Basahi tangan setinggi pertengahan lengan bawah dengan air mengalir. (2) Taruh sabun di bagian telapak tangan yang telah basah. Buat busa secukupnya tanpa percikan (3) Gerakan cuci tangan terdiri dari gosokan kedua telapak tangan, gosokan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kin dan sebaliknya, gosok kedua telapak dengan jari saling mengait, gosok kedua ibu jari dengan cara menggenggam dan memutar, gosok pergelangan tangan (4) Proses berlangsung selama 10-15 detik. (5) Bilas kembali dengan air sampai bersih. (6) Keringkan tangan dengan handuk atau kertas yang bersih atau tissue atau handuk katun sekali pakai. (7) Matikan kran dengan kertas atau tissue (8) Pada cuci tangan aseptik/ bedah diikuti larangan menyentuh permukaan yang tidak steril. Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
  • 5.
    Modul Pendidikan JarakJauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 6 Langkah –langkah mencuci tangan higienik Sumber: Depkes RI, 2010 Alternatif cuci tangan higienik Sebagai alternatif, dapat gunakan bilasan alkohol-gliserin (asalkan tangan tak kotor secara fisik)  Formula: Tambahkan 2 ml gliserin kedalam 100 ml larutan alkohol 60- 90%.  Penggunaan: Tuangkan sebanyak 3 - 5 ml dan gosokkan pada kedua belah tangan selama 2-5 menit, diperlukan sejumlah 6-10 ml untuk keseluruhan proses. b. Cuci tangan aseptik dilakukan sebelum tindakan aseptik pada pasien dengan menggunakan antiseptik. c. Cuci tangan bedah dilakukan sebelum melakukan tindakan bedah cara aseptik dan sikat steril. Indikasi cuci tangan a. Sebelum melakukan tindakan. (1) memulai pekerjaan (baru tiba di kantor); (2) saat akan memeriksa (kontak langsung dengan pasien); (3) akan memakai sarung tangan steril atau DTT; (4) akan memakai peralatan yang telah di-DTT; (5) akan melakukan injeksi; (6) saat hendak pulang ke rumah. b. Setelah melakukan tindakan yang kemungkinan tercemar. (1) setelah memeriksa pasien; (2) setelah memegang alat bekas pakai dan bahan –bahan lain yang berisiko terkontaminasi; (3) setelah menyentuh selaput mukosa, darah atau cairan tubuh lain; Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
  • 6.
    Modul Pendidikan JarakJauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 7 (4) setelah membuka sarung tangan ; (5) setelah dari toilet/ kamar kecil; setelah batuk atau bersin. Sarana mencuci tangan air mengalir, sabun dan diterjen, larutan antiseptik (alkohol 60-90%, Chlorhexedin 40%, Hexachlorophen 3%, Yodium 3%, Yodophor 1:2.500). (2) Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksius yang lain. • Alat pelindung diri adalah sarung tangan, pelindung w a j a h / m a s k e r / k a c a mata, penutup kepala, gaun pelindung, sepatu pelindung. • Tidak semua alat pelindung tubuh harus dipakai. Jenis pelindung yang dipakai tergantung pada jenis tindakan atau kegiatan yang akan dikerjakan. Sebagai contoh, untuk tindakan bedah minor (misalnya vasektomi, memasang/ mengangkat implant) cukup memakai sarung tangan steril atau DTT saja. Namun untuk kegiatan operatif di kamar bedah, atau melakukan pertolongan persalinan sebaiknya semua pelindung tubuh dipakai oleh petugas untuk mengurangi kemungkinan terpajan darah/cairan tubuh lainnya. • Setiap petugas kesehatan harus: 1) menggunakan sarung tangan bila : (1) menyentuh darah atau cairan tubuh, selaput lendir, atau kulit yang tidak utuh; (2) mengelola peralatan dan sarana kesehatan /kedokteran yang tercemar darah; dan (3) mengerjakan punksi vena / lumbal atau prosedur yang menyangkut pembuluh darah. 2) mengganti sarung tangan setiap selesai kontak dengan pasien. Cara memakai sarung tangan Sumber: Depkes RI, 2010 Cara melepas sarung tangan Sumber: Depkes RI, 2010 Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
  • 7.
    Modul Pendidikan JarakJauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 8 3) memakai masker/pelindung mata/pelindung wajah bila mengerjakan prosedur yang memungkinkan cipratan darah atau cairan tubuh guna mencegah terpaparnya selaput lendir pada mulut, hidung dan mata. 4) Memakai jubah (pakaian kerja) khusus selama melakukan tindakan yang mungkin menimbulkan cipratan darah/ cairan tubuh lainnya. Gambar penggunaan alat perlindungan diri *Sumber: http://google.image Tangan atau bagian tubuh lainnya harus segera dicuci sebersih mungkin bila terciprat darah atau cairan tubuh lainnya. Setiap kali melepas sarung tangan harus segera dicuci. (3) Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai Langkah-langkah pengelolaan alat setelah digunakan meliputi dekontaminasi, pencucian dan pembilasan, desinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi. Secara lebih rinci seperti uraian berikut ini. Pengelolaan alat setelah digunakan *Sumber: http://google.image (a) Dekontaminasi (1) Masukkan peralatan bekas pakai yang akan digunakan kembali ke dalam larutan klorin 0,5% segera setelah digunakan. (2) Rendam selama 10 menit dan segera lakukan pencucian dan pembilasan. (3) Lakukan pula pembersihan Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
  • 8.
    Modul Pendidikan JarakJauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 9 permukaan peralatan (misalnya meja bedah) dengan larutan klorin 0,5%. (b) Pencucian-pembilasan (1) Cuci dengan air bersih dan sabun atau deterjen (2) Sikat dengan sikat halus hingga tampak bersih (3) Lakukan penyikatan dalam air pencuci untuk menghindarkan percikan (4) Buka engsel atau sambungan peralatan (5) Bilas merata dengan air bersih. (c) Desinfeksi tingkat tinggi (DTT)/Seterilisasi DTT dengan merebus (1) Susun peralatan hingga terendam dalam air (2) Rebus hingga mendidih dalam panci bertutup. (3) Hitung waktu dari saat air mulai mendidih hingga 20 menit untuk proses DTT (4) Jangan menambah sesuatu ke dalam panci setelah penghitungan waktu dimulai (5) Keringkan di udara terbuka sebelum disimpan. DTT dengan cara mengukus DTT kimiawi (1) Masukkan peralatan kedalam larutan dekontaminan yang tersedia • Alcohol. Memiliki efek bakterisidal dan virusidal cukup kuat Dibutuh konsentrasi 60- 90%, direndam selama 1 menit • Larutan klorin; Efektivitas klorin dan desinfektan lain diturunkan secara bermakna oleh darah. Dianjurkan untuk permukaan yang terpajan cairan tubuh dibersihkan dahulu dengan lap atau kertas yang menyerap sebelum didekontaminasi dengan cairan klorin 0,5% atau Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
  • 9.
    Modul Pendidikan JarakJauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 10 0,05% atau dekontaminasi dilakukan dua kali. Setidaknya diperlukan kontak dengan 500 ppm klorin bebas selama 10 menit. Untuk desinfeksi alat/ instrument Mikroorganisme Konsentrasi efektif klorin Waktu Mikoplasma dan bakteri vegetatif (<5 ppm) 25 ppm Beberapa detik Spora basilus subtilis 100 ppm 5 menit Agen mikotik 100 ppm 1 jam S. Aureus Salmonella cholerae Pseudomonas aeruginosa 100 ppm 10 menit Beberapa macam virus termasuk HIV, HBV 200 ppm 10 menit Mycobacterium tuberculosis 1000 ppm Cairan pemutih rumah tangga yang mengandung natrium hopoklorit 5,25% atau 52.500 ppm klorin bebas. Pengenceran 1:999 akan menghasilkan 50 ppm klorin bebas Pengenceran 1:9 akan menghasilkan 5.000 ppm *Sumber: Depkes RI, 2010 • Formadehid Efektif untuk bakterisidal, fungisidal, virusidal, dan sporisidal. Namun bersifat karsinogenik, sehingga petugas kesehatan harus membatasi diri kontak dengan formaldehid. Di pasar, tersedia formaldehid 37% dari beratnya. Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
  • 10.
    Modul Pendidikan JarakJauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 11 Mikro-organisme Konsen-trasi Waktu perendaman Virus polio 8% 10 menit M. 2% 2 menit Tuberculosa B a s i l u s anthracis 2% 2 jam *Sumber: Depkes RI, 2010 • Glutaraldehid Efektif untuk bakterisidal, virusidal. Efek samping: proktitis, keratopati,iritasi mata, hidung, tenggorokan, epistaksis, dermatitis kontak, asma, radang hidung. Mikro-organisme Konsen-trasi Waktu perendaman Bakteri vegetatif, M. Tuberculosis, fungi, virus, oosit crypto-sporidium 2 %, pH 7,5-8,5 10 - 20 menit Spora basilus dan clostridium 2 %, pH 7,5-8,5 3 jam • Hidrogen peroksida (H2O2) Mikro-organisme Konsen-trasi Waktu Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri perendaman S.Aureus, Seratia marcessens, proteus Mirabilis, E.coli, Streptokokus spp, pseudo-monas spp., basilus spp., 0,6-15% 15-60 menit Spora basilus dan clostridium 0,6-15% 150 jam (2) Rendam sesuai efektivitas dekontaminan. (3) Bilas dengan air DTT. (4) Biarkan kering sebelum digunakan dan disimpan. (d) Sterilisasi
  • 11.
    Modul Pendidikan JarakJauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 12 (e) Pemakaian dan penyimpanan alat yang sudah dikelola Alat yang telah dilakukan DTT atau sterilisasi dapat digunakan atau disimpan. Jika alat tidak terbungkus, harus digunakan segera setelah dikeluarkan. Bila terbungkus dan yakin steril, dapat digunakan paling lama 7 hari (1 minggu). Bila tidak yakin (ragu-ragu), lakukan sterilisasi kembali. (4) Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan Petugas kesehatan harus selalu waspada terhadap kemungkinan tertusuk jarum, pisau dan benda atau alat tajam lainnya selama membersihkan atau mencuci peralatan, membuang sampah atau membenahi peralatan setelah berlangsungnya prosedur atau tindakan. Untuk mencapai tujuan ini, maka jangan menutup kembali jarum suntik setelah selesai dipakai, jangan sengaja membengkokkan/mematahkan jarum suntik dengan tangan, jangan melepas jarum suntik dari tabungnya, atau melakukan tindakan apapun pada jarum suntik menggunakan tangan terbuka. Setelah segala benda tajam selesai dipergunakan, maka harus ditaruh di wadah khusus yang tahan atau anti tusukan. Kemudian, wadah kumpulan benda tajam harus terjamin aman untuk dibawa ke tempat pemrosesan alat atau dalam proses pengenyahannya. Cara menutup jarum setelah digunakan *Sumber : Depkes RI, 2010 (5) Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan Secara umum limbah dibagi menjadi limbah padat dan limbah cair. Limbah padat disebut juga dengan sampah. Tidak semua limbah rumah sakit berbahaya. Petugas yang menangani berisiko terpajan infeksi karena luka benda tajam yang terkontaminasi. Limbah rumah sakit dibagi atas: a. Limbah rumah tangga Limbah non medis, yaitu limbah yang tidak kontak dengan darah, atau cairan tubuh yang lain, sehingga berisiko rendah. Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
  • 12.
    Modul Pendidikan JarakJauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 13 b. Limbah medis Limbah yang kontak dengan sarah atau cairan tubuh pasien sehingga dikategorikan sebagai limbah berisiko tinggi atau berisiko menularkan penyakit. Limbah ini dibagi menjadi limbah klinis, limbah laboratoris, dan limbah berbahaya. Limbah berbahaya mempunyai sifat beracun, meliputi limbah pembersih, desinfektan, obat-obatan, sitotoksik, dan senyawa radioaktif. Kantong sampah haruslahn utuh (tidak bocor). Warna kantong penampungan sementara disesuaikan dengan jenis limbahnya. Kuning untuk sampah infeksius, hitam untuk limbah non-infeksius/ domestic, merah untuk limbah radioaktif, ungu untuk limbah yang bersifat sitotoksik, dan coklat untuk limbah beracun lainnya. Tempat penampungan sementara limbah pelayanan kesehatan *Sumber: Murniati, 2013 4. Kebijakan pelaksanaan kewaspadaan universal Kebijakan pelaksanaan kewaspadaan universal sebagai berikut. a. Walaupun air liur belum terbukti menularkan HIV, tindakan resusitasi dari mulut ke mulut harus dihindari. Jadi, di setiap tempat dimana ada kasusnya yang memerlukan resusitasi, perlu disediakan alat resusitasi. b. Petugas kesehatan yang mengalami luka atau lesi yang mengeluarkan cairan, misalnya dermatitis basah, harus menghindari tugas yang bersifat kontak langsung dengan peralatan bekas pakai pasien. c. Petugas kesehatan yang hamil tidak mempunyai risiko lebih besar untuk untuk tertular HIV dibandingkan dengan petugas kesehatan tidak hamil. Namun demikian, bila terjadi infeksi HIV selama kehamilan, janin yang dikandungnya berisiko untuk mengalami transmisi perinatal. Karena itu, petugas kesehatan yang sedang hamil harus lebih memperhatikan segala prosedur yang dapat menghindari penularan HIV. Dengan menerapkan kewaspadaan Universal, setiap petugas kesehatan terlindung semaksimal mungkin dari kemungkinan terkena infeksi penyakit yang ditularkan melalui Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
  • 13.
    Modul Pendidikan JarakJauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 14 darah/cairan tubuh, baik dari kasus yang terdiagnosis maupun yang tidak terdiagnosis. Tambahan pula, transmisi kebanyakan infeksi yang ditularkan dengan cara lainpun akan berkurang pula. 5. Manajemen untuk tenaga kesehatan yang terpapar darah/ cairan tubuh a. Paparan secara parenteral melalui tusukan jarum, kena potong dan lain-lain Keluarkan darah sebanyak-banyaknya, cuci tangan dengan sabun dan air atau dengan air saja sebanyak mungkin. b. Paparan pada selaput lendir melalui cipratan ke mata Cucilah mata secara pelan-pelan dengan mata dalam keadaan terbuka, menggunakan air atau cairan NaCl. c. Paparan pada mulut Keluarkan cairan mengandung infeksi tersebut dengan cara berludah, kemudian kumur-kumurlah dengan air beberapa kali. Paparan pada kulit yang utuh atau kulit yang sedang luka, lecet atau dermatitis. Cucilah sebersih mungkin dengan air dan sabun antiseptik. Selanjutnya, mereka yang terpapar ini perlu mendapatkan pemantauan HIV yang mencukupi dan kondisi kesehatannya harus pula diperhatikan. Penjamupun harus terus dipantau kemungkinan infeksinya. Selama pemantauan, tenaga kesehatan yang terpapar tersebur memerlukan konseling mengenai resiko infeksi dan pencegahan trasmisi lanjutan. Tentunya, orang tersebut diingatkan agar tidak menjadi donor darah atau jaringan, selalu melakukan hubungan seksual yang aman dan mencegah terjadinya kehamilan. Di beberapa negara seperti Australia diberikan Zidovudine (AZT) profilaksis 200mg oral, 5x/hari selama seminggu. 6. Kepatuhan melaksanakan KU Penelitian tentang kepatuhan terhadap KU yang diselenggarakan di Bagian Obstetri dan Ginekologi FKUI/ RSCM tahun 1997-1998 menampilkan data antara lain : membuang benda tajam ke wadah khusus 79,3% ; mencuci tangan 85,7% ; memakai sarung tangan 66,7% ;memakai kacamata 32,6% ; dan memakai masker 39,5%. Tingkat kepatuhan petugas Bagian Obstetri dan Ginekologi yang bekerja di Instalasi Gawat Darurat dan Instalasi Bedah Pusat lebih baik di bandingkan Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri
  • 14.
    Modul Pendidikan JarakJauh, Pendidikan Tinggi Kesehatan 15 dengan petugas di tempat yang sama yang bekerja di ruang perawatan. Tingkat kepatuhan untuk melaksanakan KU, khususnya berkaitan dengan HIV/AIDS, dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: a. Faktor individu: jenis kelamin, umur, jenis pekerjaan/profesi, lama bekerja dan tingkat pendidikan, b. Faktor psikosossial: sikap terhadap HIV dan /atau virus Hepatitis B, ketegangan dalam suasana kerja, rasa takut dan persepsi terhadap risiko, c. Faktor organisasi manajemen: adanya kesepakatan untuk membuat suasana lingkungan kerja yang aman, adanya dukungan dari rekan sekerja,dan adanya pelatihan. 7. Upaya untuk melaksanakan kewaspadaan universal (KU) di setiap fasilitas pelayanan kesehatan Para peneliti menyebutkan bahwa KU adalah pekerjaan yang sederhana dan relatif murah, tanpa menambah lamanya pelaksanaan prosedur operatif. Untuk memulai pelaksanaan KU di suatu fasilitas pelayanan kesehatan perlu diterapkan langkah-langkah (1) pengenalan unsur-unsur yang terkait, (2) menilai fasilitas dan kebiasaan yang berlangsung selama ini, (3) meninjau kembali kebijakan dan prosedur yang telah ada, (4) membuat perencanaan (menyusun proposal), (5) menjalankan rencana yang telah disusun, (6) mengadakan pendidikan dan pelatihan, (7) memantau dan mengadakan supervisi pelaksanaan KU secara berkala. Koordinasi upaya pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh panitia pengendalian infeksi nosokomial di rumah sakit. Kembali ke: Pendahuluan Uraian Materi Rangkuman Test Formatif Tugas Mandiri