PERSEDIAAN BARANG
DAGANG
Achsan Nagata (11140182000007)
Astina Riyana (111140182000001)
Dian Mas Utami (11140182000032)
By : Kelompok 3 Akuntansi Lanjutan
AKUNTANSI UNTUK PERSEDIAAN
BARANG DAGANG
 Konsep Dasar Persediaan
 Cara Mengendalikan Persediaan
 Menentukan Kepemilikan Persediaan
 Menjelaskan sistem pencatatan persediaan
 Menghitung cost
persediaan:FIFO,LIFO,AVERAGE
 Aplikasi penerapan Persediaan Barang Dagang di
Laporan Keuangan
KONSEP DASAR PERSEDIAAN
 Barang-barang yang dimiliki oleh
perusahaan pada suatu saat tertentu,
dengan maksud untuk dijual kembali baik
scara langsung maupun melalui peroses
produksi dalam siklus operasi normal.
 Persediaan dikelompokan :
1. Bahan baku
2. Barang dalam proses
3. Barang jadi
Mengendalikan Persediaan
 Dimulai segera setelah persediaan diterima. Laporan
penerimaan yang telah diberi nomor sebelumnya harus diundi
oleh departemen penerimaan perusahaan untuk menetapkan
tanggung-gugat awal atas persediaan.
 Untuk memastikan,setiap laporan penerimaan harus cocok
dengan pesanan pembelian.demikian pula harga pada saat
pemesanan yang tertera dalam pesanan pembelian harus
dibandingkan dengan harga pada saat penagihan yang tertera
dalam faktur yang dikirimkan pemasok
Kepemilikan Persediaan
Suatu barang dikatakan sebagai persediaan jika barang
tersebut benar benar,dimiliki oleh perusahaan tanpa
memandang lokasi persediaan tersebut
 FOB (Free on Board), shipping
point. Kepemilikan barang menjadi
milik pembeli pada saat diserahkan
penjual kepada penyelenggara
transportasi atau pihak perusahaan
pengirim barang yang independen.
 FOB (Free on Board) destination
point. Kepemilikan barang masih
berada di penjual sampai barang
tersebut diterima oleh pembeli.
Sistem Pencatatan
Persediaan
 Sistem Periodik
Dalam sistem ini, Nilai persediaan dicatat
setiap hari pada saat terjadi pembelian maka
akan dimasukkan ke dalam akun
“Persediaan Barang”. Dan pada saat terjadi
transaksi penjualan , maka akan mengurangi
barang yang brsangkutan yaitu dengan cara
menghitung Nilai Pokok Penjualan secara
langsung dengan metode yang dipilih
.
Sistem Pencatatan
Persediaan
Sistem Prepetual
Pada saat ada transaksi pmbelian barang tidak
dicatat/dibukukan sebagai Nilai Persediaan, tetapi
dicatat ke dalam akun “Pembelian”, sehingga dalam
pencatat laporan L/R nilai Pembelian tersebut akan
dicatat sebagai pengurang penjualan/pendapatan.
Metode - Metode Dalam Pencatatan
Penentuan Persediaan Akhir
Metode First-In, First-Out (FIFO)
Metode penentuan persediaan yang
didasarkan pada anggapan bahwa barang
yang paling dulu dibeli (masuk) adalah yang
paling dulu dijual (dikeluarkan)
Sisa persediaan : dihitung berdasarkan
harga barang yang dibeli terakhir.
Metode - Metode Dalam Pencatatan
Penentuan Persediaan Akhir
Metode Last-In, First-Out (LIFO)
Metode penentuan persediaan yang
didasarkan pada anggapan bahwa barang
yang dibeli paling dahulu, dianggap dijual
paling dahulu.
Sisa persediaan: dihitung berdasarkan harga
barang yang dibeli pertama.
Metode - Metode Dalam Pencatatan
Penentuan Persediaan Akhir
Metode Biaya Rata-Rata/ Average
Metode ini yaitu penentuan persediaan
berdasarkan ketentuan dari Perhitungan
 “ Harga Pokok Rata-Rata per
unit X Jumlah Unit Persediaan “.
Sisa persediaan: dihitung berdasarkan
harga rata-rata selama periode tertentu.
CONTOH SOAL
 Menggunakan Sistem Periodik
Prusahaan mencatat persediaan barang dagang dengan Metode
Periodik(Fisik). Berikut ini adalah data yang diperoleh selama bulan April
2013 :
Tgl 1 April : Persediaan Awal 200 unit @ Rp. 900
Tgl 10 April : Pembelian 300 unit @ Rp. 1.000
Tgl 21 April : Pembelian 400 unit @ Rp. 1.100
Tgl 23 April : Pembelian 100 unit @ Rp. 1.200
Pada tanggal 30 April 2013 Persediaan Akhir sebanyak 300 unit
Diminta :
Berapa nilai persediaan akhir 30 april 2013 menggunkan metode diatas ?
Berapa Nilai HPP sblum bulan maret 2013 menggunkan metode diatas ?
JAWAB
Langkah Pertama………
1 April : Persdian Awal 200 unit @ Rp. 900 = Rp. 180.000
10 April : Pembelian 300 unit @ Rp. 1.000 = Rp. 300.000
21 April : Pembelian 400 unit @ Rp. 1.100 = Rp. 440.000
23 April : Pembelian 100 unit @ Rp. 1.200 = Rp. 120.000
Total 1.000 unit @ Rp. 4.200 = Rp.1.040.000
Persediaan yang terjual akhir periode = 1.000 unit - 300 unit = 700 unit
Langkah Selanjutnya……….
1) Metode FIFO Periodik
Persediaan akhir :
300 unit
200 unit @ Rp. 1.100 = Rp. 220.000
100 unit @ Rp. 1.200 = Rp. 120.000
Nilai persediaan akhir Rp. 340.00
HPP = BTUD - Persediaan Akhir
= Rp. 1.040.000 - Rp. 340.000
= Rp. 700.000
2) Metode LIFO Periodik
Persediaan akhir :
300 unit
100 unit @ Rp. 1.000 = Rp. 100.000
200 unit @ Rp. 900 = Rp. 180.000
Nilai persediaan akhir Rp. 280.000
HPP = BTUD - Persediaan Akhir
= Rp. 1.040.000 - Rp.280.000
= Rp. 760.000
3). Metode Average Periodik
 Rata-Rata Tertimbang
Persediaan akhir =
= 300 X Rp. 1.040.000/1.000
= 300 X 1.040
Nilai Persediaan akhir = Rp. 312.000
HPP = BTUD - Persediaan Akhir
= Rp. 1.040.000 - Rp. 312.000
= Rp. 728.000
 Rata-Rata Sederhana
Persediaan akhir =
300 unit X 4.200/4 = 300 X 1.050
Nilai Persediaan akhir = Rp. 315.000
HPP = BTUD - Persediaan Akhir
= Rp. 1.040.000 - Rp. 315.000
= Rp. 725.000
CONTOH SOAL
 Menggunakan Sistem Perpetual
Perusahaan mencatat persediaan barang dagangan dengan Metode
Perpetual. Berikut ini adalah data yang diperoleh selama bulan Maret 2013 :
Tgl 3 Maret’13 : Pembelian 4.000 unit @ Rp. 800
Tgl 10 Maret’13 : Pembelian 12.000 unit @ Rp. 880
Tgl 26 Maret’13 : Penjualan 8.000 unit @ Rp. 950
Tgl 29 Maret’13 : Pembelian 4.000 unit @ Rp. 830
Diminta :
Berapa Nilai Persediaan akhir 31 Maret 2013 menggunkan metode diatas ?
Berapa Nilai HPP sblum bulan maret 2013 menggunkan metode diatas ?
Hitung Laba / Rugi Kotornya ?
JAWAB
FIFO PREPETUAL
Tgl Pembelian H.P Penjualan Persediaan
Mar
et
Unit HP/Unit Total Unit Hp/Unit Total Unit Hp/Unit Total
03 4000 800 3.200 k 4000 800 3.200 k
20 12000 880 10.560 k 4000 800 3.200 k
12000 880 10.560 k
26 4000 800 3.200 k
4000 880 3.520 k 8000 880 7.040 k
29 4000 830 3.320 k 8000 880 7.040 k
4000 830 3.320 k
Lanjutan…….
Persediaan Akhir   = Rp. 7.040.000 + Rp. 3.320.000
                                      = Rp. 10.360.000
HPP = Rp. 3.200.000 + Rp. 3.520.000
= Rp. 6.720.000
Laba/ Rugi Kotor :
Penjualan ( 8.000 X 950) = Rp. 7.600.000
HPP = (Rp. 6.720.000)
Laba kotor = Rp. 8.800.000
Metode LIFO Perpetual
Tgl Pembelian HP Penjualan Persediaan
Mar
et
Unit HP/Unit Total Unit HP/Unit Total Unit HP/Unit Total
03 4000 880 3.200 k 4000 800 3.200 k
10 12000 880 10.560 k 4000 800 3.200 k
12000 880 10.560 k
26 8000 880 7.040 k 4000 800 3.200 k
4000 880 3.520 k
29 4000 3.320 k 4000 800 3.200 k
4000 880 3.520 k
4000 830 3.320 k
Lanjutan……..
Persediaan Akhir = Rp. 3.200.00 + Rp. 3.520.000 +
Rp.3.250.000
                                 = Rp. 10.040.000
HPP = Rp. 7.040.000
Laba/ Rugi Kotor :
Penjualan ( 8.000 X 950) = Rp. 7.600.000
HPP = (Rp. 7.040.000)
Laba kotor = Rp. 560.000
Metode Rata-Rata Bergerak
Tgl Pembelian HP Penjualan Persediaan
Mar
et
Unit HP/Unit Total Unit HP/Unit Total Unit HP/Unit Total
03 4000 800 3.200 4000 800 3200 k
10 12000 880 10.560 12000 880 10.560 k
16000 860 13.760 k
26 8000 860 6880 k 8000 860 6880 k
29 4000 830 3.320 4000 830 3320 k
12000 850 10200 k
Lanjutan……..
Persediaan Akhir                   = Rp. 10.200.000
HPP = Rp. 6.880.000
Laba/ Rugi Kotor :
Penjualan ( 8.000 X 950) = Rp. 7.600.000
HPP = (Rp . 6.880.000)
Laba kotor = Rp. 720.000
Penyajian Persediaan Barang
Dagang
 Persediaan barang dagang biasanya disajikan
dalam kelompok aktiva lancar dalam
neraca,setelah atau dibawah piutang.Metode
yang digunakan untuk menentukan biaya
persediaan (FIFO,LIFO,atau biaya rata-rata)
dan metode penilaian persediaan (biaya atau
LCM) harus dicantumkan
Mengestimasi Biaya Persediaan
 (1) Metode eceran
Metode persediaan eceran
(retail inventory method)
mengestimasikan biaya
persediaan berdasarkan
hubungan antara harga
pokok barang dagang yang
tersedia untuk dijual
dengan harga eceran dari
barang dagang yang sama
 (2) Metode laba kotor
Metode laba kotor (gross profit
method) menggunakan
estimasi laba kotor yang
direalisasi selama periode
dimaksud untuk mengestimasi
persediaan pada akhir periode
CONTOH 1
Estimasi Metode Eceran
Diketahui :
Persediaan Awal = Rp. 14.000.000
Harga Eceran = Rp. 21.500.000
HP. Pembelian = Rp. 61.000.000
Harga ecerannya = Rp. 78.000.000
Harga Eceran Penjualan Bersih = Rp. 70.000.000
Ditanya : Berapa Taksiran persediaan akhirnya ?
Jawab :
Atas dasar HP Atas Dasar Harga Eceran
Persediaan awal Rp. 14.000.000 Rp. 21.500.000
Pembelian Rp. 61.000.000 Rp. 78.500.000
BTUD Rp. 75.000.000 Rp. 100.000.000
Penjualan Bersih (Rp. 70.000.000)
Persediaan Akhir (berdasarkan hrg eceran) Rp. 30.000.000
Perbandingan HP terhadap Harga Eceran = 75%
= (75.000.000 : 100.000.000)
= 0.75 x 100
Taksiran Harga Perolehan Persediaan Akhir
= 75% x Rp. 30.000.000
= Rp. 22.500.000
CONTOH 2
Estimasi Metode Laba Kotor
Diketahui :
Penjualan = Rp. 20.000.000
Persediaan Awal = Rp. 4.000.000
Pembelian = Rp. 12.000.000
Laba Kotor 30% dari Penjualan
Ditanya : berapa Taksiran Persediaan akhirnya ?
Jawab :
Persediaan awal = Rp. 4.000.0 00
Pembelian = Rp. 12.000.000
BTUD = Rp. 16.000.000
Penjualan Bersih = Rp. 20.000.000
Laba Kotor (20.000.000 x 30% ) = (Rp. 6.000.000)
= (Rp. 14.000.000)
Taksiran Persediaan Akhir = Rp. 2.000.000
Penyajian Persediaan Barang
Dagang
 Persediaan barang dagang biasanya disajikan dalam
kelompok aktiva lancar dalam neraca,setelah atau
dibawah piutang.Metode yang digunakan untuk
menentukan biaya persediaan (FIFO,LIFO,atau
biaya rata-rata) dan metode penilaian persediaan
(biaya atau LCM) harus dicantumkan. Dalam hal
ini pengaruh perubahan dan alasan perubahan harus
diungkapkan dalam laporan keuangan pada periode
terjadinya perubahan
Aktiva
Kas $19400
Piutang Usaha $80.000
Dikurangi : Penyisihan
piutang tak tertagih
persediaan barang dagang
$3000 $77000
Yang lebih rendah antara
harga pokok
(FIFO) atau harga pasar $216300
Mengestimasi Biaya Persediaan

 Metode Eceran untuk Perhitungan Biaya Persediaan
Cara menentukan nilai persediaan akhir sbb :
a. Dihitung terlebih dahulu jumlah barang tersedia untuk dijual
dengan cara:
Persediaan awal + Pembelian bersih tahun berjalan
b. Dihitung HP barang yang dijual dengan cara :
Jumlah Penjualan – (Prosentase x Jumlah Penjualan)
c. Dihitung Nilai persediaan akhir barang dagang dengan cara :
BTUD – HP barang yang sudah terjual
CONTOH SOAL 1
Diketahui :
Persediaan Awal = Rp. 14.000.000
Harga Eceran = Rp. 21.500.000
HP. Pembelian = Rp. 61.000.000
Harga ecerannya = Rp. 78.000.000
Harga Eceran Penjualan Bersih = Rp. 70.000.000
Ditanya : Berapa Taksiran persediaan akhirnya ?
Lanjutan……
Jawab :
Atas dasar HP Atas Dasar Harga Eceran
Persediaan awal Rp. 14.000.000 Rp. 21.500.000
Pembelian Rp. 61.000.000 Rp. 78.500.000
BTUD Rp. 75.000.000 Rp. 100.000.000
Penjualan Bersih (Rp. 70.000.000)
Persediaan Akhir (berdasarkan hrg eceran) Rp. 30.000.000
Perbandingan HP terhadap Harga Eceran = 75%
= (75.000.000 : 100.000.000)
= 0.75 x 100
Taksiran Harga Perolehan Persediaan Akhir
= 75% x Rp. 30.000.000
= Rp. 22.500.000
Metode Laba Kotor untuk Perhitungan
Biaya Persediaan
a.Atas persediaan barang awal, selain diketahui HP nya harus
pula ditentukan berapa besar harga jual ecerannya.
b.Setiap terjadi pembelian harus ditentukan Jumlah harga
jualnya.
c.Dihitung barang tersedia dijual menurut harga beli dan harga
jual
d.Dihitung prosentase HP terhadap harga jual dengan rumus :
HP. BTUD = Harga jual BTUD x 100%
e.Prosentase HP terhadap harga jual tsb akn digunakn untuk
menaksir HP persediaan yang ada pada akhir peride.
CONTOH SOAL 2
Diketahui :
Penjualan = Rp. 20.000.000
Persediaan Awal = Rp. 4.000.000
Pembelian = Rp. 12.000.000
Laba Kotornya 30% dari Penjualan
Ditanya : berapa Taksiran Persediaan akhirnya ?
Jawab :
Persediaan awal = Rp. 4.000.0 00
Pembelian = Rp. 12.000.000
BTUD = Rp.
16.000.000
Penjualan Bersih = Rp. 20.000.000
Laba Kotor (20.000.000 x 30% ) = (Rp. 6.000.000)
= (Rp. 14.000.000)
Terima Kasih
고맙습니다
ありがとうござい
ました
谢谢
mtur
nuwun

Kelompok 5 ppt persediaan barang dagang

  • 1.
    PERSEDIAAN BARANG DAGANG Achsan Nagata(11140182000007) Astina Riyana (111140182000001) Dian Mas Utami (11140182000032) By : Kelompok 3 Akuntansi Lanjutan
  • 2.
    AKUNTANSI UNTUK PERSEDIAAN BARANGDAGANG  Konsep Dasar Persediaan  Cara Mengendalikan Persediaan  Menentukan Kepemilikan Persediaan  Menjelaskan sistem pencatatan persediaan  Menghitung cost persediaan:FIFO,LIFO,AVERAGE  Aplikasi penerapan Persediaan Barang Dagang di Laporan Keuangan
  • 3.
    KONSEP DASAR PERSEDIAAN Barang-barang yang dimiliki oleh perusahaan pada suatu saat tertentu, dengan maksud untuk dijual kembali baik scara langsung maupun melalui peroses produksi dalam siklus operasi normal.  Persediaan dikelompokan : 1. Bahan baku 2. Barang dalam proses 3. Barang jadi
  • 4.
    Mengendalikan Persediaan  Dimulaisegera setelah persediaan diterima. Laporan penerimaan yang telah diberi nomor sebelumnya harus diundi oleh departemen penerimaan perusahaan untuk menetapkan tanggung-gugat awal atas persediaan.  Untuk memastikan,setiap laporan penerimaan harus cocok dengan pesanan pembelian.demikian pula harga pada saat pemesanan yang tertera dalam pesanan pembelian harus dibandingkan dengan harga pada saat penagihan yang tertera dalam faktur yang dikirimkan pemasok
  • 5.
    Kepemilikan Persediaan Suatu barangdikatakan sebagai persediaan jika barang tersebut benar benar,dimiliki oleh perusahaan tanpa memandang lokasi persediaan tersebut  FOB (Free on Board), shipping point. Kepemilikan barang menjadi milik pembeli pada saat diserahkan penjual kepada penyelenggara transportasi atau pihak perusahaan pengirim barang yang independen.  FOB (Free on Board) destination point. Kepemilikan barang masih berada di penjual sampai barang tersebut diterima oleh pembeli.
  • 6.
    Sistem Pencatatan Persediaan  SistemPeriodik Dalam sistem ini, Nilai persediaan dicatat setiap hari pada saat terjadi pembelian maka akan dimasukkan ke dalam akun “Persediaan Barang”. Dan pada saat terjadi transaksi penjualan , maka akan mengurangi barang yang brsangkutan yaitu dengan cara menghitung Nilai Pokok Penjualan secara langsung dengan metode yang dipilih .
  • 7.
    Sistem Pencatatan Persediaan Sistem Prepetual Padasaat ada transaksi pmbelian barang tidak dicatat/dibukukan sebagai Nilai Persediaan, tetapi dicatat ke dalam akun “Pembelian”, sehingga dalam pencatat laporan L/R nilai Pembelian tersebut akan dicatat sebagai pengurang penjualan/pendapatan.
  • 8.
    Metode - MetodeDalam Pencatatan Penentuan Persediaan Akhir Metode First-In, First-Out (FIFO) Metode penentuan persediaan yang didasarkan pada anggapan bahwa barang yang paling dulu dibeli (masuk) adalah yang paling dulu dijual (dikeluarkan) Sisa persediaan : dihitung berdasarkan harga barang yang dibeli terakhir.
  • 9.
    Metode - MetodeDalam Pencatatan Penentuan Persediaan Akhir Metode Last-In, First-Out (LIFO) Metode penentuan persediaan yang didasarkan pada anggapan bahwa barang yang dibeli paling dahulu, dianggap dijual paling dahulu. Sisa persediaan: dihitung berdasarkan harga barang yang dibeli pertama.
  • 10.
    Metode - MetodeDalam Pencatatan Penentuan Persediaan Akhir Metode Biaya Rata-Rata/ Average Metode ini yaitu penentuan persediaan berdasarkan ketentuan dari Perhitungan  “ Harga Pokok Rata-Rata per unit X Jumlah Unit Persediaan “. Sisa persediaan: dihitung berdasarkan harga rata-rata selama periode tertentu.
  • 11.
    CONTOH SOAL  MenggunakanSistem Periodik Prusahaan mencatat persediaan barang dagang dengan Metode Periodik(Fisik). Berikut ini adalah data yang diperoleh selama bulan April 2013 : Tgl 1 April : Persediaan Awal 200 unit @ Rp. 900 Tgl 10 April : Pembelian 300 unit @ Rp. 1.000 Tgl 21 April : Pembelian 400 unit @ Rp. 1.100 Tgl 23 April : Pembelian 100 unit @ Rp. 1.200 Pada tanggal 30 April 2013 Persediaan Akhir sebanyak 300 unit Diminta : Berapa nilai persediaan akhir 30 april 2013 menggunkan metode diatas ? Berapa Nilai HPP sblum bulan maret 2013 menggunkan metode diatas ?
  • 12.
    JAWAB Langkah Pertama……… 1 April: Persdian Awal 200 unit @ Rp. 900 = Rp. 180.000 10 April : Pembelian 300 unit @ Rp. 1.000 = Rp. 300.000 21 April : Pembelian 400 unit @ Rp. 1.100 = Rp. 440.000 23 April : Pembelian 100 unit @ Rp. 1.200 = Rp. 120.000 Total 1.000 unit @ Rp. 4.200 = Rp.1.040.000 Persediaan yang terjual akhir periode = 1.000 unit - 300 unit = 700 unit
  • 13.
    Langkah Selanjutnya………. 1) MetodeFIFO Periodik Persediaan akhir : 300 unit 200 unit @ Rp. 1.100 = Rp. 220.000 100 unit @ Rp. 1.200 = Rp. 120.000 Nilai persediaan akhir Rp. 340.00 HPP = BTUD - Persediaan Akhir = Rp. 1.040.000 - Rp. 340.000 = Rp. 700.000 2) Metode LIFO Periodik Persediaan akhir : 300 unit 100 unit @ Rp. 1.000 = Rp. 100.000 200 unit @ Rp. 900 = Rp. 180.000 Nilai persediaan akhir Rp. 280.000 HPP = BTUD - Persediaan Akhir = Rp. 1.040.000 - Rp.280.000 = Rp. 760.000
  • 14.
    3). Metode AveragePeriodik  Rata-Rata Tertimbang Persediaan akhir = = 300 X Rp. 1.040.000/1.000 = 300 X 1.040 Nilai Persediaan akhir = Rp. 312.000 HPP = BTUD - Persediaan Akhir = Rp. 1.040.000 - Rp. 312.000 = Rp. 728.000  Rata-Rata Sederhana Persediaan akhir = 300 unit X 4.200/4 = 300 X 1.050 Nilai Persediaan akhir = Rp. 315.000 HPP = BTUD - Persediaan Akhir = Rp. 1.040.000 - Rp. 315.000 = Rp. 725.000
  • 15.
    CONTOH SOAL  MenggunakanSistem Perpetual Perusahaan mencatat persediaan barang dagangan dengan Metode Perpetual. Berikut ini adalah data yang diperoleh selama bulan Maret 2013 : Tgl 3 Maret’13 : Pembelian 4.000 unit @ Rp. 800 Tgl 10 Maret’13 : Pembelian 12.000 unit @ Rp. 880 Tgl 26 Maret’13 : Penjualan 8.000 unit @ Rp. 950 Tgl 29 Maret’13 : Pembelian 4.000 unit @ Rp. 830 Diminta : Berapa Nilai Persediaan akhir 31 Maret 2013 menggunkan metode diatas ? Berapa Nilai HPP sblum bulan maret 2013 menggunkan metode diatas ? Hitung Laba / Rugi Kotornya ?
  • 16.
    JAWAB FIFO PREPETUAL Tgl PembelianH.P Penjualan Persediaan Mar et Unit HP/Unit Total Unit Hp/Unit Total Unit Hp/Unit Total 03 4000 800 3.200 k 4000 800 3.200 k 20 12000 880 10.560 k 4000 800 3.200 k 12000 880 10.560 k 26 4000 800 3.200 k 4000 880 3.520 k 8000 880 7.040 k 29 4000 830 3.320 k 8000 880 7.040 k 4000 830 3.320 k
  • 17.
    Lanjutan……. Persediaan Akhir   = Rp.7.040.000 + Rp. 3.320.000                                       = Rp. 10.360.000 HPP = Rp. 3.200.000 + Rp. 3.520.000 = Rp. 6.720.000 Laba/ Rugi Kotor : Penjualan ( 8.000 X 950) = Rp. 7.600.000 HPP = (Rp. 6.720.000) Laba kotor = Rp. 8.800.000
  • 18.
    Metode LIFO Perpetual TglPembelian HP Penjualan Persediaan Mar et Unit HP/Unit Total Unit HP/Unit Total Unit HP/Unit Total 03 4000 880 3.200 k 4000 800 3.200 k 10 12000 880 10.560 k 4000 800 3.200 k 12000 880 10.560 k 26 8000 880 7.040 k 4000 800 3.200 k 4000 880 3.520 k 29 4000 3.320 k 4000 800 3.200 k 4000 880 3.520 k 4000 830 3.320 k
  • 19.
    Lanjutan…….. Persediaan Akhir =Rp. 3.200.00 + Rp. 3.520.000 + Rp.3.250.000                                  = Rp. 10.040.000 HPP = Rp. 7.040.000 Laba/ Rugi Kotor : Penjualan ( 8.000 X 950) = Rp. 7.600.000 HPP = (Rp. 7.040.000) Laba kotor = Rp. 560.000
  • 20.
    Metode Rata-Rata Bergerak TglPembelian HP Penjualan Persediaan Mar et Unit HP/Unit Total Unit HP/Unit Total Unit HP/Unit Total 03 4000 800 3.200 4000 800 3200 k 10 12000 880 10.560 12000 880 10.560 k 16000 860 13.760 k 26 8000 860 6880 k 8000 860 6880 k 29 4000 830 3.320 4000 830 3320 k 12000 850 10200 k
  • 21.
    Lanjutan…….. Persediaan Akhir                   = Rp.10.200.000 HPP = Rp. 6.880.000 Laba/ Rugi Kotor : Penjualan ( 8.000 X 950) = Rp. 7.600.000 HPP = (Rp . 6.880.000) Laba kotor = Rp. 720.000
  • 22.
    Penyajian Persediaan Barang Dagang Persediaan barang dagang biasanya disajikan dalam kelompok aktiva lancar dalam neraca,setelah atau dibawah piutang.Metode yang digunakan untuk menentukan biaya persediaan (FIFO,LIFO,atau biaya rata-rata) dan metode penilaian persediaan (biaya atau LCM) harus dicantumkan
  • 23.
    Mengestimasi Biaya Persediaan (1) Metode eceran Metode persediaan eceran (retail inventory method) mengestimasikan biaya persediaan berdasarkan hubungan antara harga pokok barang dagang yang tersedia untuk dijual dengan harga eceran dari barang dagang yang sama  (2) Metode laba kotor Metode laba kotor (gross profit method) menggunakan estimasi laba kotor yang direalisasi selama periode dimaksud untuk mengestimasi persediaan pada akhir periode
  • 24.
    CONTOH 1 Estimasi MetodeEceran Diketahui : Persediaan Awal = Rp. 14.000.000 Harga Eceran = Rp. 21.500.000 HP. Pembelian = Rp. 61.000.000 Harga ecerannya = Rp. 78.000.000 Harga Eceran Penjualan Bersih = Rp. 70.000.000 Ditanya : Berapa Taksiran persediaan akhirnya ? Jawab : Atas dasar HP Atas Dasar Harga Eceran Persediaan awal Rp. 14.000.000 Rp. 21.500.000 Pembelian Rp. 61.000.000 Rp. 78.500.000 BTUD Rp. 75.000.000 Rp. 100.000.000 Penjualan Bersih (Rp. 70.000.000) Persediaan Akhir (berdasarkan hrg eceran) Rp. 30.000.000 Perbandingan HP terhadap Harga Eceran = 75% = (75.000.000 : 100.000.000) = 0.75 x 100 Taksiran Harga Perolehan Persediaan Akhir = 75% x Rp. 30.000.000 = Rp. 22.500.000
  • 25.
    CONTOH 2 Estimasi MetodeLaba Kotor Diketahui : Penjualan = Rp. 20.000.000 Persediaan Awal = Rp. 4.000.000 Pembelian = Rp. 12.000.000 Laba Kotor 30% dari Penjualan Ditanya : berapa Taksiran Persediaan akhirnya ? Jawab : Persediaan awal = Rp. 4.000.0 00 Pembelian = Rp. 12.000.000 BTUD = Rp. 16.000.000 Penjualan Bersih = Rp. 20.000.000 Laba Kotor (20.000.000 x 30% ) = (Rp. 6.000.000) = (Rp. 14.000.000) Taksiran Persediaan Akhir = Rp. 2.000.000
  • 26.
    Penyajian Persediaan Barang Dagang Persediaan barang dagang biasanya disajikan dalam kelompok aktiva lancar dalam neraca,setelah atau dibawah piutang.Metode yang digunakan untuk menentukan biaya persediaan (FIFO,LIFO,atau biaya rata-rata) dan metode penilaian persediaan (biaya atau LCM) harus dicantumkan. Dalam hal ini pengaruh perubahan dan alasan perubahan harus diungkapkan dalam laporan keuangan pada periode terjadinya perubahan
  • 27.
    Aktiva Kas $19400 Piutang Usaha$80.000 Dikurangi : Penyisihan piutang tak tertagih persediaan barang dagang $3000 $77000 Yang lebih rendah antara harga pokok (FIFO) atau harga pasar $216300
  • 28.
    Mengestimasi Biaya Persediaan  Metode Eceran untuk Perhitungan Biaya Persediaan Cara menentukan nilai persediaan akhir sbb : a. Dihitung terlebih dahulu jumlah barang tersedia untuk dijual dengan cara: Persediaan awal + Pembelian bersih tahun berjalan b. Dihitung HP barang yang dijual dengan cara : Jumlah Penjualan – (Prosentase x Jumlah Penjualan) c. Dihitung Nilai persediaan akhir barang dagang dengan cara : BTUD – HP barang yang sudah terjual
  • 29.
    CONTOH SOAL 1 Diketahui: Persediaan Awal = Rp. 14.000.000 Harga Eceran = Rp. 21.500.000 HP. Pembelian = Rp. 61.000.000 Harga ecerannya = Rp. 78.000.000 Harga Eceran Penjualan Bersih = Rp. 70.000.000 Ditanya : Berapa Taksiran persediaan akhirnya ?
  • 30.
    Lanjutan…… Jawab : Atas dasarHP Atas Dasar Harga Eceran Persediaan awal Rp. 14.000.000 Rp. 21.500.000 Pembelian Rp. 61.000.000 Rp. 78.500.000 BTUD Rp. 75.000.000 Rp. 100.000.000 Penjualan Bersih (Rp. 70.000.000) Persediaan Akhir (berdasarkan hrg eceran) Rp. 30.000.000 Perbandingan HP terhadap Harga Eceran = 75% = (75.000.000 : 100.000.000) = 0.75 x 100 Taksiran Harga Perolehan Persediaan Akhir = 75% x Rp. 30.000.000 = Rp. 22.500.000
  • 31.
    Metode Laba Kotoruntuk Perhitungan Biaya Persediaan a.Atas persediaan barang awal, selain diketahui HP nya harus pula ditentukan berapa besar harga jual ecerannya. b.Setiap terjadi pembelian harus ditentukan Jumlah harga jualnya. c.Dihitung barang tersedia dijual menurut harga beli dan harga jual d.Dihitung prosentase HP terhadap harga jual dengan rumus : HP. BTUD = Harga jual BTUD x 100% e.Prosentase HP terhadap harga jual tsb akn digunakn untuk menaksir HP persediaan yang ada pada akhir peride.
  • 32.
    CONTOH SOAL 2 Diketahui: Penjualan = Rp. 20.000.000 Persediaan Awal = Rp. 4.000.000 Pembelian = Rp. 12.000.000 Laba Kotornya 30% dari Penjualan Ditanya : berapa Taksiran Persediaan akhirnya ? Jawab : Persediaan awal = Rp. 4.000.0 00 Pembelian = Rp. 12.000.000 BTUD = Rp. 16.000.000 Penjualan Bersih = Rp. 20.000.000 Laba Kotor (20.000.000 x 30% ) = (Rp. 6.000.000) = (Rp. 14.000.000)
  • 33.