AKUNTANSI
P E R S E D I A A N
MATRIKULASI AKUNTANSI
MAGISTER MANAJEMEN UNMUL
2014
1
Arti Penting Persediaan
Persediaan seringkali merupakan bagian yang sangat besar dari keseluruhan aktiva lancar
yang dimiliki suatu perusahaan
Pengertian Persediaan :
Persediaan adalah barang yang dimiliki oleh perusahaan dengan tujuan untuk digunakan
dalam proses produksi atau untuk dijual kembali.
Klasifikasi Persediaan
Persediaan pada Perusahaan Jasa
Persediaan yang terdapat pada perusahaan yang bergerak di bidang jasa biasanya hanya
terdiri dari satu jenis yaitu Persediaan Pelengkapan.
Persediaan pada Perusahaan Dagang
Persediaan yang ada pada perusahaan dagang terdiri dari :
 Persediaan Barang Dagangan
 Persediaan Perlengkapan.
2
Persediaan pada Perusahaan Manufaktur :
 Persediaan Bahan Baku
 Persediaan Bahan Penolong
 Persediaan Barang Dalam Proses
 Persediaan Barang Jadi
 Persediaan Perlengkapan
Penentuan Kuantitas Persediaan
Untuk menentukan kuantitas persediaan yang dimiliki cara yang dilakukan adalah
dengan melakukan perhitungan fisik (Stock Opname) persediaan.
Yang perlu diperhatikan adalah :
1. Apakah persediaan yang ada merupakan milik perusahaan atau bukan ?, misalnya
barang titipan (konsinyasi) dan barang dalam perjalanan.
2. Apakah persediaan perusahaan masih ada di luar perusahaan, misalnya barang yang
dititipkan, barang dalam perjalanan.
3
Metode Penetapan Harga Pokok Persediaan
Dasar penetapan harga pokok persediaan ada dua yaitu :
1. Aliran Fisik Sesungguhnya, yaitu Metode Identifikasi Khusus
2. Aliran Anggapan terdiri dari :
a. First-in, First-out (FIFO) atau MPKP
Asumsi pada metode ini adalah persediaan yang dimiliki lebih awal dijual
lebih dahulu.
a. Last-in, Last-out (LIFO) atau MTKP
Asumsi pada metode ini adalah persediaan yang dimiliki paling akhir dijual
lebih dahulu
a. Harga Perolehan Rata-rata
Persediaan yang dijual didasarkan pada rata-rata harga persediaan yang
dimiliki
Metode Pencatatan Persediaan
Dalam akuntansi metode yang digunakan untuk mencatat persediaan ada dua yaitu :
 Metode Periodik (Fisik)
 Metode Perpetual (Buku)
4
Kombinasi Metode Penetapan Harga Perolehan dan Metode Pencatatan
melahirkan metode-metode sebagai berikut :
1. Metode Idntifikasi Khusus
2. Metode Rata-rata Sederhana (Periodik)
3. Metode Rata-rata Teretimbang (Periodik)
4. Metode Rata-rata Bergerak (Perpetual)
5. Metode FIFO Perpetual
6. Metode FIFO Periodik
7. Metode LIFO Perpetual
8. Metode LIFO Periodik
5
PERBEDAAN PENCATATAN SISTEM PERPETUAL
DAN SISRTEM PERIODIK
6
Juni 1 Persediaan awal (4 unit) Rp. 12. 000,00
1 s/d 30 Pembelian secara kredit
36. 000,00
(12 unit @ Rp. 3. 000,00)
1 s/d 30 Penjualan secara kredit
35. 000,00
(7 Unit @ Rp. 5. 000,00)
Harga pokok penjualan
21. 000,00
(7 Unit @ Rp. 3. 000,00)
30 Persediaan akhir
27. 000,00
(9 Unit @ Rp. 3. 000,00)
SISTEM PERPETUAL SISTEMPERIODIK
Persediaan Awal, 1 Juni
Rekening persediaan menunjukkan barang yang ada
dalam persediaan sebesar Rp. 12. 000,00
Rekening persediaan menunjukkan barang yang ada
dalam persediaan sebesar Rp. 12. 000,00
Ayat Jurnal untuk Mencatat Pembelian
Persediaan 36. 000
Utang Dagang 36. 000
Pembelian 36. 000
Utang Dagang 36. 000
Ayat Jurnal untuk Mencatat Penjualan
Piutang Dagang 35. 000
Penjualan 35. 000
Piutang Dagang 35. 000
Penjualan 35. 000
Harga pokok
Penjualan 21. 000
Persediaan 21. 000
Jurnal Penyesuaian pada Akhir Periode
Tidak diperlukan jurnal penyesuaian. Rekening
persediaan menunjukkan
HPP 12. 000
Persediaan 12.000
saldo yang ada pada akhir periode yaitu Rp. 27. 000 HPP 36. 000
Pembelian 36. 000
( Rp. 12. 000 + Rp. 36. 000 – Rp. 21. 000 ) Persediaan 27.000
HPP 27. 000
7
Pencatatan Akuntansi Antara Metode Periodik dengan Metode Perpetual
Transaksi Metode Periodik (Fisik) Metode Perpetual (Buku)
1 Pembelian Pembelian xx Persediaan BD xx
Kas / H. Dagang xx Kas / H. Dagang xx
2 Retur Pebelian Kas / H. Dagang xx Kas / H. Dagang xx
Retur Pembelian xx Persediaan BD xx
3 Potongan Pembelian H. Dagang xx H. Dagang xx
Pot. Pembelian xx Persediaan BD xx
4 Penjualan Kas / P. Dagang xx Kas / P. Dagang xx
Penjualan xx Penjualan xx
BPP xx
Persediaan BD xx
5 Retur Penjualan Retur Penjualan xx Retur Penjualan xx
Kas / P. Dagang xx Kas / P. Dagang xx
Persdiaan BD xx
BPP xx
6 Potongan Penjualan Pot. Penjualan xx Pot. Penjualan xx
P. Dagang xx P. Dagang xx
8
Pemilihan Metode Harga Perolehan
Alasan pemilihan suatu metode pada umumnya didasari oleh tiga faktor, yaitu :
1. Pengaruh terhadap neraca
2. Pengaruh terhadap laporan laba rugi
3. Pengaruh terhadap pajak
Perbandingan Penerapan Metode
Untuk melihat perbandingan penerapan tiap-tiap metode maka diberikan contoh sebagai berikut :
Transaksi yang berhubungan dengan persediaan pada bulan Februari 2010 :
01 – 2 – 10 : Persediaan awal 50 Unit @ Rp 1.100
05 – 2 – 10 : Pembelian 600 unit @ Rp 1.200
09 – 2 – 10 : Penjualan 400 unit @ Rp 2.000
19 – 2 – 10 : Pembelian 500 unit @ Rp 1.300
24 – 2 – 10 : Penjualan 600 unit @ Rp 2.200
Persediaan berdasarkan hasil perhitungan fisik pada tanggal 28 Februari 2009 sebanyak 150 unit.
9
Berdasarkan data-data tersebut dapat dihitung :
Penjualan
Unit Harga/unit Jumlah
Penjualan 9 – 2 – 2010 400 2.000 800.000
Penjualan 24 – 2 - 2010 600 2.200 1.320.000
Jumlah 1.000 2.120.000
Barang Tersedia Dijual
Unit Harga/Unit Jumlah
Persediaan awal 50 1.100 55.000
Pembelian 5 – 2 – 2010 600 1.200 720.000
Pembelian 19 – 2 – 2010 500 1.300 650.000
Jumlah 1.150 3.600 1.425.000
10
Nilai Persediaan Akhir
Metode Rata-rata Sederhana
Harga Rata-rata per unit = 3,600 : 3 = 1.200
Persediaan Akhir 150 x 1,200 180.000
Metode Rata-rata Tertimbang
Harga rata-rata per unit = 1,425,000 : 1,150 1.239
Persediaan akhir 150 x 1,239 185.850
FIFO Periodik
Persediaan akhir 150 x 1,300 195.000
LIFO Periodik
Persediaan akhir 50 x 1,100 55.000
100 x 1,200 120.000
175.000
11
Perbandingan Laba Kotor
(Metode Priodik)
RRS RRT FIFO PRI LIFO PRI
Penjualan 2.120.000 2.120.000 2.120.000 2.120.000
Beban Pokok Penjualan :
Persediaan Siap Dijual 1.425.000 1.425.000 1.425.000 1.425.000
Persediaan akhir 180.000 185.850 195.000 175.000
Beban Pokok Penjualan 1.245.000 1.239.150 1.230.000 1.250.000
Laba Kotor 875.000 880.850 890.000 870.000
12
FIFO PERPETUAL
KARTU PERSEDIAAN
TGL KETERANGAN
MASUK KELUAR SALDO
UNIT H / U JUMLAH UNIT H / U JUMLAH UNIT H / U JUMLAH
1/2/2010 Persediaan awal 50 1,100 55,000
5/2/2010 Pembelian 600 1,200 720,000 50 1,100 55,000
600 1,200 720,000
650 775,000
9/2/2010 Penjualan 50 1,100 55,000 250 1,200 300,000
350 1,200 420,000
400 475,000
19/2/2010 Pembelian 500 1,300 650,000 250 1,200 300,000
500 1,300 650,000
750 950,000
24/2/2010 Penjualan 250 1,200 300,000 150 1,300 195,000
350 1,300 455,000
600 755,000
13
Rp1.230.000 Rp195.000
LIFO PERPETUAL
KARTU PERSEDIAAN
TGL KETERANGAN
MASUK KELUAR SALDO
UNIT H / U JUMLAH UNIT H / U JUMLAH UNIT H / U JUMLAH
1/2/2010 Persediaan awal 50 1,100 55,000
5/2/2010 Pembelian 600 1,200 720,000 50 1,100 55,000
600 1,200 720,000
650 775,000
9/2/2010 Penjualan 400 1,200 480,000 50 1,100 55,000
200 1,200 240,000
250 295,000
19/2/2010 Pembelian 500 1,300 650,000 50 1,100 55,000
200 1,200 240,000
500 1,300 650,000
750 945,000
24/2/2010 Penjualan 500 1,300 650,000 50 1,100 55,000
100 1,200 120,000 100 1,200 120,000
600 770,000 150 175,000
Rp1.250.000 Rp175.000
RATA-RATA BERGERAK
KARTU PERSEDIAAN
TGL KETERANGAN
MASUK KELUAR SALDO
UNIT H / U JUMLAH UNIT H / U JUMLAH UNIT H / U JUMLAH
1/2/2010 Persediaan awal 50 1,100 55,000
5/2/2010 Pembelian 600 1,200 720,000 650 1,192 775,000
9/2/2010 Penjualan 400 1,192 477,000 250 1,192 298,000
19/2/2010 Pembelian 500 1,300 650,000 750 1,264 948,000
24/2/2010 Penjualan 600 1,264 758,400 150 1,264 189,600
Rp1.235.000 Rp189.600
PERBANDINGAN LABA KOTOR
METODE PERPETUAL
FIFO LIFO RRB
Penjualan 2,120,000 2,120,000 2,120,000
Harga Pokok Penjualan :
Persediaan Siap Dijual 1,425,000 1,425,000 1,425,000
Persediaan Akhir 195,000 175,000 189,600
Harga Pokok Penjualan 1,230,000 1,250,000 1,235,400
Laba Kotor 890,000 870,000 884,600
16
17
PENYIMPANGAN DARI PRINSIP BIAYA PEROLEHAN
Dalam keadaan tertentu, prinsip akuntansi yang berlaku umum memberi
kemungkinan untuk menyimpang dari prinsip biaya perolehan. Hal ini terjadi bila
persediaan tidak dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi dari biaya
perolehannya, sehingga perusahaan merugi.
Sebagai contoh, perusahaan membeli sejumlah barang dalam partai besar untuk
menghindari kekosongan persediaan seharga Rp500.000.000. Kekosongan tidak
terjadi, persediaan yang terjual sampai akhir tahun Rp200.000.000. Namun, pada
akhir tahun nilai barang merosot tajam, sehingga diperkirakan sisa persediaan
barang hanya akan terjual dengan harga Rp150.000.000. Layakkah kalau sisa
persediaan itu dilaporkan sebesar biaya perolehannya (Rp300.000.000)?
Dalam kasus ini, perusahaan diminta menyimpang dari prinsip biaya perolehan.
Apabila nilai persediaan lebih rendah dari biaya perolehannya, perusahaan harus
menurunkan nilai persediaan menjadi sebesar nilai bersih yang dapat
direalisasi. Caranya adalah menilai persediaan pada nilai yang lebih rendah
antara biaya perolehan atau nilai bersih yang bisa direalisasi pada periode
penurunan harga. Ini merupakan salah satu contoh dari konsep akuntansi yang
disebut konsep pertimbangan sehat.
18
Produk
Biaya
Perolehan
Nilai Bersih yang
Dapat Direalisasi
Nilai yang Lebih Rendah
Antara Biaya Perolehan atau
Nilai Bersih yang Dapat
Direalisasi
TV Layar Datar
Radio Satelit
DVD Recorder
Tape Recorder
Rp60.000.000
Rp45.000.000
Rp48.000.000
Rp15.000.000
Rp168.000.000
Rp55.000.000
Rp52.000.000
Rp45.000.000
Rp14.000.000
Rp166.000.000
Rp55.000.000
Rp45.000.000
Rp45.000.000
Rp14.000.000
Rp159.000.000
Perhitungan nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan atau nilai
bersih yang dapat direalisasi
Rugi penurunan nilai persediaan Rp9.000.000
Persediaan (HPP) Rp9.000.000
19
KESALAHAN PERSEDIAAN
Kesalahan bisa terjadi antara lain karena adanya kesalahan dalam melakukan
perhitungan atau dalam penetapan harga persediaan. Kesalahan bisa juga
terjadi karena perusahaan tidak menerapkan dengan tepat saat terjadinya
perpindahan kepemilikan barang atas barang-barang yang sedang dalam
perjalanan.
Kesalahan dalam persediaan akan berdampak pada neraca maupun laporan
rugi-laba.
20
DAMPAK TERHADAP LAPORAN LABA-RUGI
Formula Perhitungan Beban Pokok Penjualan:
Persediaan
Awal
Biaya
Perolehan
Pembelian
Persediaan
Akhir
Beban Pokok
Penjualan
Apabila kesalahan berupa kurangsaji persediaan awal, maka beban pokok penjualan
akan kurangsaji juga. Jika kesalahan berupa kurangsaji persediaan akhir, maka beban
pokok penjualan akan lebihsaji.
Dampak kesalahan persediaan terhadap laba bersih tahun yang bersangkutan:
Apabila Kesalahan
Persediaan
Maka Beban Pokok
Penjualan
Maka Laba Bersih
Kurangsaji persediaan awal
Lebihsaji persediaan awal
Kurangsaji persediaan akhir
Lebihsaji persediaan akhir
Kurangsaji
Lebihsaji
Lebihsaji
Kurangsaji
Lebihsaji
Kurangsaji
Kurangsaji
Lebihsaji
PERUSAHAAN BATAVIA
Laporan Laba-Rugi (Diringkas)
2011 2012
Salah Benar Salah Benar
Penjualan
Persediaan Awal
Biaya Perolehan Pembelian
Biaya Perolehan Barang
tersedia dijual
Persediaan Akhir
Beban Pokok Penjualan
Laba Kotor
Beban Operasi
Laba Bersih
20.000
40.000
60.000
12.000
80.000
48.000
32.000
10.000
22.000
20.000
40.000
60.000
15.000
80.000
45.000
35.000
10.000
25.000
12.000
68.000
80.000
23.000
90.000
57.000
33.000
20.000
13.000
15.000
68.000
83.000
23.000
90.000
60.000
30.000
20.000
10.000
DAMPAK TERHADAP LAPORAN LABA-RUGI
(Rp3.000)
Laba Bersih
Kurang saji
(Rp3.000)
Laba Bersih
Lebih saji
Kesalahan menjadi hapus. Total laba bersih gabungan
selama dua tahun menjadi benar
22
DAMPAK TERHADAP LAPORAN POSISI
KEUANGAN (NERACA)
Kesalahan
Persediaan Akhir
Aset Kewajiban Ekuitas (Modal)
Lebihsaji
Kurangsaji
Lebihsaji
Kurangsaji
Tidak berpengaruh
Tidak berpengaruh
Lebihsaji
Kurangsaji
23
PENYAJIAN DI LAPORAN
PENYAJIAN
Persediaan dilaporkan dalam laporan posisi keuangan (neraca) sebagai aset
lancar. Dalam laporan laba-rugi, beban pokok penjualan dikurangkan terhadap
penjualan
PENGUNGKAPAN
Hal-hal penting yang berkaitan dengan persediaan perlu diungkapkan dalam
Catatan Atas Laporan Keuangan. Hal-hal yang perlu diungkapkan meliputi:
1. Pengelompokkan persediaan
2. Dasar akuntansi yang digunakan (biaya perolehan, atau nilai yang lebih
rendah antara biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasi)
3. Metode biaya perolehan (identifikasi khusus, MPKP atau biaya perolehan
rata-rata).
Contoh dapat dilihat di buku pada halaman 445
24
PENAKSIRAN PERSEDIAAN
Dalam keadaan tertentu perusahaan tidak bisa melakukan
perhitungan fisik persediaan, seperti saat gudang terbakar dan
sebagainya. Dalam keadaan demikian, perusahaan harus melakukan
penaksiran tentang persediaan yang ada.
Dua alasan mengapa perlu diadakan penaksiran adalah karena
perusahaan dalam situasi darurat seperti kebakaran maupun
kebanjiran, atau manajemen berkeinginan untuk menyusun laporan
keuangan secara bulanan atau triwulanan tetapi perhitungan fisik
dilakukan setahun sekali.
Dua metode yang lazim digunakan untuk menaksir persediaan adalah:
1. Metode Laba Kotor
2. Metode Harga Eceran
25
METODE LABA KOTOR
Metode yang relatif sederhana, namun efektif. Metode ini digunakan untuk
menaksir biaya perolehan persediaan dengan cara mengalikan persentase laba
kotor terhadap penjualan bersih. Keunggulan metode ini bisa digunakan untuk
mendeteksi kesalahan yang berjumlah besar.
Formula yang digunakan dalam metode laba kotor:
Tahap 1: Penjualan Bersih Taksiran Laba Kotor
Taksiran Beban
Pokok Penjualan
Tahap 2:
Biaya Perolehan
Barang Tersedia
Dijual
Taksiran Beban
Pokok Penjualan
Taksiran Biaya
Perolehan
Persediaan Akhir
METODE LABA KOTOR
Misalkan perusahaan “Mitra Usaha” bermaksud menyusun laporan laba-rugi
untuk bulan Januari. Penjualan bersih Rp200.000.000, persediaan awal
Rp40.000.000, dan biaya perolehan pembelian Rp120.000.000. Pada tahun-
tahun yang lalu perusahaan memperoleh laba kotor sebesar 30%. Pada tahun
ini diharapkan tingkat persentase laba kotor masih sama. Taksiran biaya
perolehan pada akhir Januari:
TAHAP 1:
Penjualan
Kurangi: Taksiran laba kotor (30% x Rp200.000.000)
Taksiran Beban Pokok Penjualan
TAHAP 2:
Persediaan awal
Biaya perolehan pembelian
Biaya perolehan barang tersedia dijual
Kurangi: Taksiran beban pokok penjualan
Taksiran Biaya Perolehan Persediaan Akhir
Rp200.000.000
60.000.000
Rp140.000.000
Rp 40.000.000
120.000.000
160.000.000
140.000.000
Rp20.000.000
Perlu diperhatikan, bahwa metode laba kotor ini tidak boleh digunakan untuk
menyusun laporan keuangan pada akhir tahun. Dalam menyusun laporan
keuangan, perusahaan harus mendasarkan pada perhitungan fisik
sesungguhnya.
27
METODE HARGA ECERAN
Metode yang umumnya digunakan perusahaan dagang eceran untuk menaksir
biaya perolehan persediaan. Perusahaan umumnya memiliki pola perbandingan
harga jual dengan harga perolehannya.
Formula yang digunakan dalam metode harga eceran:
TAHAP 1:
Barang Tersedia Dijual
atas Dasar Harga Eceran
Penjualan
Bersih
Persediaan
Akhir atas Dasar
Harga Eceran
TAHAP 2:
Barang Tersedia
Dijual atas Dasar
Biaya Perolehan
Barang Tersedia
Dijual Atas Dasar
Harga Eceran
Rasio Biaya
Perolehan terhadap
Harga Eceran
TAHAP 3:
Persediaan Akhir
atas Dasar Harga
Eceran
Rasio Biaya
Perolehan terhadap
Harga Eceran
Taksiran Biaya
Perolehan
Persediaan Akhir
:
28
METODE HARGA ECERAN
Misalkan, perusahaan “Murni” menetapkan 10 unit barang yang dibeli
dengan harga Rp7.000 untuk dijual seharga Rp10.000 per unit. Rasio biaya
perolehan terhadap harga eceran adalah 70% (7.000 : 10.000). Seandainya
ada 4 unit yang belum terjual, maka harga eceran keempat barang tersebut
adalah Rp40.000 (4xRp10.000), dan biaya perolehannya adalah Rp28.000
(70% dari Rp40.000). Angka ini cocok dengan hasil perhitungan biaya
perolehan persediaan atas dasar biaya perolehan yaitu 4xRp7.000=Rp28.000
Maka taksiran biaya perolehan persediaan akhirnya:
Persediaan akhir atas dasar harga eceran x Rasio =
Rp28.000 x 70% = Rp19.600
Kelemahan utama metode ini terletak pada teknik merata-rata harga.
Akibatnya bisa menghasilkan nilai persediaan yang keliru apabila komposisi
persediaan akhir tidak mencerminkan komposisi persediaan barang tersedia
dijual.
29
METODE BIAYA PEROLEHAN MASUK
TERAKHIR KELUAR PERTAMA (MTKP)
IFRS (International Financial Reporting Standards), tidak mengizinkan
penggunaan MTKP untuk tujuan pelaporan keuangan. Hal yang sama berlaku
di Indonesia sejak diberlakukannya SAK ETAP pada 2009 lalu. Namun, di
Amerika Serikat dan di sejumlah negara lain, metode ini masih diperkenankan
untuk pelaporan keuangan dan juga untuk pelaporan pajak.
30
METODE BIAYA PEROLEHAN MASUK
TERAKHIR KELUAR PERTAMA (MTKP)
Metode MTKP berasumsi bahwa barang yang berasal dari pembelian
terakhir akan dijual lebih dahulu. Pada metode MTKP biaya perolehan
barang yang dibeli terakhir akan diakui lebih dahulu sebagai beban pokok
penjualan. Karenanya, persediaan akhir akan didasarkan pada harga yang
berasal dari pembelian yang lebih awal.
Dengan demikian, pada metode MTKP, perusahaan akan menetapkan
biaya perolehan persediaan dengan mengambil biaya perolehan per
unit yang berasal dari barang yang lebih dahulu tersedia dijual dan
selanjutnya digunakan biaya perolehan berikutnya sampai semua
unit dalam persediaan ditetapkan biaya perolehannya.
31
METODE BIAYA PEROLEHAN MASUK
TERAKHIR KELUAR PERTAMA (MTKP)
BIAYA PEROLEHAN BARANG TERSEDIA DIJUAL
Tanggal Keterangan Unit
Biaya Perolehan Per
Unit
Total Biaya
Perolehan
Jan 1
Apr 15
Aug 24
Nov 27
Persediaan Awal
Pembelian
Pembelian
Pembelian
Jumlah
100
200
300
400
1.000
Rp10.000
11.000
12.000
13.000
Rp1.000.000
2.200.000
3.600.000
5.200.000
Rp12.000.000
Perusahaan menetapkan biaya perolehan persediaan akhir sebanyak 450 unit
dengan mengambil harga dari pembelian-pembelian lebih awal. Pembelian-
pembelian tersebut terdiri dari 100 unit @Rp10.000 (Jan 1), 200 unit
@Rp11.000 (Apr 15), dan 150 unit @Rp12.000 (Aug 24). Selanjutnya
perusahaan menetapkan beban pokok penjualan dengan cara mengurangkan
biaya perolehan barang tersedia dijual dengan biaya perolehan persediaan
akhir.
32
METODE BIAYA PEROLEHAN MASUK
TERAKHIR KELUAR PERTAMA (MTKP)
Perusahaan juga dapat menghitung beban pokok penjualan dengan memberi
harga pada 550 unit barang terjual dengan mengambil harga dari 550 unit
yang dibeli terakhir.
Tanggal Keterangan Unit
Biaya Perolehan
Per Unit
Total Biaya
Perolehan
Nov 27
Aug 24
Pembelian
Pembelian
Jumlah
400
150
550
Rp13.000
12.000
Rp5.200.000
1.800.000
Rp7.000.000
Dalam sistem persediaan periodik, semua barang yang dibeli selama
periode dianggap tersedia untuk penjualan pertama, tanpa melihat
tanggal pembeliannya.
Kelemahan utama metode MTKP akan terasa pada periode ketika harga-harga
sedang naik. Dalam situasi tersebut, biaya perolehan yang dialokasikan ke
persediaan akhir akan terlihat kurangsaji (understated) secara signifikan
neraca. Alasan mengapa masih digunakannya metode ini di Amerika adalah
karena adanya penghematan pajak.
TERIMA KASIH
33

4-PA ak Persediaan.ppt

  • 1.
    AKUNTANSI P E RS E D I A A N MATRIKULASI AKUNTANSI MAGISTER MANAJEMEN UNMUL 2014 1
  • 2.
    Arti Penting Persediaan Persediaanseringkali merupakan bagian yang sangat besar dari keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki suatu perusahaan Pengertian Persediaan : Persediaan adalah barang yang dimiliki oleh perusahaan dengan tujuan untuk digunakan dalam proses produksi atau untuk dijual kembali. Klasifikasi Persediaan Persediaan pada Perusahaan Jasa Persediaan yang terdapat pada perusahaan yang bergerak di bidang jasa biasanya hanya terdiri dari satu jenis yaitu Persediaan Pelengkapan. Persediaan pada Perusahaan Dagang Persediaan yang ada pada perusahaan dagang terdiri dari :  Persediaan Barang Dagangan  Persediaan Perlengkapan. 2
  • 3.
    Persediaan pada PerusahaanManufaktur :  Persediaan Bahan Baku  Persediaan Bahan Penolong  Persediaan Barang Dalam Proses  Persediaan Barang Jadi  Persediaan Perlengkapan Penentuan Kuantitas Persediaan Untuk menentukan kuantitas persediaan yang dimiliki cara yang dilakukan adalah dengan melakukan perhitungan fisik (Stock Opname) persediaan. Yang perlu diperhatikan adalah : 1. Apakah persediaan yang ada merupakan milik perusahaan atau bukan ?, misalnya barang titipan (konsinyasi) dan barang dalam perjalanan. 2. Apakah persediaan perusahaan masih ada di luar perusahaan, misalnya barang yang dititipkan, barang dalam perjalanan. 3
  • 4.
    Metode Penetapan HargaPokok Persediaan Dasar penetapan harga pokok persediaan ada dua yaitu : 1. Aliran Fisik Sesungguhnya, yaitu Metode Identifikasi Khusus 2. Aliran Anggapan terdiri dari : a. First-in, First-out (FIFO) atau MPKP Asumsi pada metode ini adalah persediaan yang dimiliki lebih awal dijual lebih dahulu. a. Last-in, Last-out (LIFO) atau MTKP Asumsi pada metode ini adalah persediaan yang dimiliki paling akhir dijual lebih dahulu a. Harga Perolehan Rata-rata Persediaan yang dijual didasarkan pada rata-rata harga persediaan yang dimiliki Metode Pencatatan Persediaan Dalam akuntansi metode yang digunakan untuk mencatat persediaan ada dua yaitu :  Metode Periodik (Fisik)  Metode Perpetual (Buku) 4
  • 5.
    Kombinasi Metode PenetapanHarga Perolehan dan Metode Pencatatan melahirkan metode-metode sebagai berikut : 1. Metode Idntifikasi Khusus 2. Metode Rata-rata Sederhana (Periodik) 3. Metode Rata-rata Teretimbang (Periodik) 4. Metode Rata-rata Bergerak (Perpetual) 5. Metode FIFO Perpetual 6. Metode FIFO Periodik 7. Metode LIFO Perpetual 8. Metode LIFO Periodik 5
  • 6.
    PERBEDAAN PENCATATAN SISTEMPERPETUAL DAN SISRTEM PERIODIK 6 Juni 1 Persediaan awal (4 unit) Rp. 12. 000,00 1 s/d 30 Pembelian secara kredit 36. 000,00 (12 unit @ Rp. 3. 000,00) 1 s/d 30 Penjualan secara kredit 35. 000,00 (7 Unit @ Rp. 5. 000,00) Harga pokok penjualan 21. 000,00 (7 Unit @ Rp. 3. 000,00) 30 Persediaan akhir 27. 000,00 (9 Unit @ Rp. 3. 000,00)
  • 7.
    SISTEM PERPETUAL SISTEMPERIODIK PersediaanAwal, 1 Juni Rekening persediaan menunjukkan barang yang ada dalam persediaan sebesar Rp. 12. 000,00 Rekening persediaan menunjukkan barang yang ada dalam persediaan sebesar Rp. 12. 000,00 Ayat Jurnal untuk Mencatat Pembelian Persediaan 36. 000 Utang Dagang 36. 000 Pembelian 36. 000 Utang Dagang 36. 000 Ayat Jurnal untuk Mencatat Penjualan Piutang Dagang 35. 000 Penjualan 35. 000 Piutang Dagang 35. 000 Penjualan 35. 000 Harga pokok Penjualan 21. 000 Persediaan 21. 000 Jurnal Penyesuaian pada Akhir Periode Tidak diperlukan jurnal penyesuaian. Rekening persediaan menunjukkan HPP 12. 000 Persediaan 12.000 saldo yang ada pada akhir periode yaitu Rp. 27. 000 HPP 36. 000 Pembelian 36. 000 ( Rp. 12. 000 + Rp. 36. 000 – Rp. 21. 000 ) Persediaan 27.000 HPP 27. 000 7
  • 8.
    Pencatatan Akuntansi AntaraMetode Periodik dengan Metode Perpetual Transaksi Metode Periodik (Fisik) Metode Perpetual (Buku) 1 Pembelian Pembelian xx Persediaan BD xx Kas / H. Dagang xx Kas / H. Dagang xx 2 Retur Pebelian Kas / H. Dagang xx Kas / H. Dagang xx Retur Pembelian xx Persediaan BD xx 3 Potongan Pembelian H. Dagang xx H. Dagang xx Pot. Pembelian xx Persediaan BD xx 4 Penjualan Kas / P. Dagang xx Kas / P. Dagang xx Penjualan xx Penjualan xx BPP xx Persediaan BD xx 5 Retur Penjualan Retur Penjualan xx Retur Penjualan xx Kas / P. Dagang xx Kas / P. Dagang xx Persdiaan BD xx BPP xx 6 Potongan Penjualan Pot. Penjualan xx Pot. Penjualan xx P. Dagang xx P. Dagang xx 8
  • 9.
    Pemilihan Metode HargaPerolehan Alasan pemilihan suatu metode pada umumnya didasari oleh tiga faktor, yaitu : 1. Pengaruh terhadap neraca 2. Pengaruh terhadap laporan laba rugi 3. Pengaruh terhadap pajak Perbandingan Penerapan Metode Untuk melihat perbandingan penerapan tiap-tiap metode maka diberikan contoh sebagai berikut : Transaksi yang berhubungan dengan persediaan pada bulan Februari 2010 : 01 – 2 – 10 : Persediaan awal 50 Unit @ Rp 1.100 05 – 2 – 10 : Pembelian 600 unit @ Rp 1.200 09 – 2 – 10 : Penjualan 400 unit @ Rp 2.000 19 – 2 – 10 : Pembelian 500 unit @ Rp 1.300 24 – 2 – 10 : Penjualan 600 unit @ Rp 2.200 Persediaan berdasarkan hasil perhitungan fisik pada tanggal 28 Februari 2009 sebanyak 150 unit. 9
  • 10.
    Berdasarkan data-data tersebutdapat dihitung : Penjualan Unit Harga/unit Jumlah Penjualan 9 – 2 – 2010 400 2.000 800.000 Penjualan 24 – 2 - 2010 600 2.200 1.320.000 Jumlah 1.000 2.120.000 Barang Tersedia Dijual Unit Harga/Unit Jumlah Persediaan awal 50 1.100 55.000 Pembelian 5 – 2 – 2010 600 1.200 720.000 Pembelian 19 – 2 – 2010 500 1.300 650.000 Jumlah 1.150 3.600 1.425.000 10
  • 11.
    Nilai Persediaan Akhir MetodeRata-rata Sederhana Harga Rata-rata per unit = 3,600 : 3 = 1.200 Persediaan Akhir 150 x 1,200 180.000 Metode Rata-rata Tertimbang Harga rata-rata per unit = 1,425,000 : 1,150 1.239 Persediaan akhir 150 x 1,239 185.850 FIFO Periodik Persediaan akhir 150 x 1,300 195.000 LIFO Periodik Persediaan akhir 50 x 1,100 55.000 100 x 1,200 120.000 175.000 11
  • 12.
    Perbandingan Laba Kotor (MetodePriodik) RRS RRT FIFO PRI LIFO PRI Penjualan 2.120.000 2.120.000 2.120.000 2.120.000 Beban Pokok Penjualan : Persediaan Siap Dijual 1.425.000 1.425.000 1.425.000 1.425.000 Persediaan akhir 180.000 185.850 195.000 175.000 Beban Pokok Penjualan 1.245.000 1.239.150 1.230.000 1.250.000 Laba Kotor 875.000 880.850 890.000 870.000 12
  • 13.
    FIFO PERPETUAL KARTU PERSEDIAAN TGLKETERANGAN MASUK KELUAR SALDO UNIT H / U JUMLAH UNIT H / U JUMLAH UNIT H / U JUMLAH 1/2/2010 Persediaan awal 50 1,100 55,000 5/2/2010 Pembelian 600 1,200 720,000 50 1,100 55,000 600 1,200 720,000 650 775,000 9/2/2010 Penjualan 50 1,100 55,000 250 1,200 300,000 350 1,200 420,000 400 475,000 19/2/2010 Pembelian 500 1,300 650,000 250 1,200 300,000 500 1,300 650,000 750 950,000 24/2/2010 Penjualan 250 1,200 300,000 150 1,300 195,000 350 1,300 455,000 600 755,000 13 Rp1.230.000 Rp195.000
  • 14.
    LIFO PERPETUAL KARTU PERSEDIAAN TGLKETERANGAN MASUK KELUAR SALDO UNIT H / U JUMLAH UNIT H / U JUMLAH UNIT H / U JUMLAH 1/2/2010 Persediaan awal 50 1,100 55,000 5/2/2010 Pembelian 600 1,200 720,000 50 1,100 55,000 600 1,200 720,000 650 775,000 9/2/2010 Penjualan 400 1,200 480,000 50 1,100 55,000 200 1,200 240,000 250 295,000 19/2/2010 Pembelian 500 1,300 650,000 50 1,100 55,000 200 1,200 240,000 500 1,300 650,000 750 945,000 24/2/2010 Penjualan 500 1,300 650,000 50 1,100 55,000 100 1,200 120,000 100 1,200 120,000 600 770,000 150 175,000 Rp1.250.000 Rp175.000
  • 15.
    RATA-RATA BERGERAK KARTU PERSEDIAAN TGLKETERANGAN MASUK KELUAR SALDO UNIT H / U JUMLAH UNIT H / U JUMLAH UNIT H / U JUMLAH 1/2/2010 Persediaan awal 50 1,100 55,000 5/2/2010 Pembelian 600 1,200 720,000 650 1,192 775,000 9/2/2010 Penjualan 400 1,192 477,000 250 1,192 298,000 19/2/2010 Pembelian 500 1,300 650,000 750 1,264 948,000 24/2/2010 Penjualan 600 1,264 758,400 150 1,264 189,600 Rp1.235.000 Rp189.600
  • 16.
    PERBANDINGAN LABA KOTOR METODEPERPETUAL FIFO LIFO RRB Penjualan 2,120,000 2,120,000 2,120,000 Harga Pokok Penjualan : Persediaan Siap Dijual 1,425,000 1,425,000 1,425,000 Persediaan Akhir 195,000 175,000 189,600 Harga Pokok Penjualan 1,230,000 1,250,000 1,235,400 Laba Kotor 890,000 870,000 884,600 16
  • 17.
    17 PENYIMPANGAN DARI PRINSIPBIAYA PEROLEHAN Dalam keadaan tertentu, prinsip akuntansi yang berlaku umum memberi kemungkinan untuk menyimpang dari prinsip biaya perolehan. Hal ini terjadi bila persediaan tidak dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi dari biaya perolehannya, sehingga perusahaan merugi. Sebagai contoh, perusahaan membeli sejumlah barang dalam partai besar untuk menghindari kekosongan persediaan seharga Rp500.000.000. Kekosongan tidak terjadi, persediaan yang terjual sampai akhir tahun Rp200.000.000. Namun, pada akhir tahun nilai barang merosot tajam, sehingga diperkirakan sisa persediaan barang hanya akan terjual dengan harga Rp150.000.000. Layakkah kalau sisa persediaan itu dilaporkan sebesar biaya perolehannya (Rp300.000.000)? Dalam kasus ini, perusahaan diminta menyimpang dari prinsip biaya perolehan. Apabila nilai persediaan lebih rendah dari biaya perolehannya, perusahaan harus menurunkan nilai persediaan menjadi sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi. Caranya adalah menilai persediaan pada nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan atau nilai bersih yang bisa direalisasi pada periode penurunan harga. Ini merupakan salah satu contoh dari konsep akuntansi yang disebut konsep pertimbangan sehat.
  • 18.
    18 Produk Biaya Perolehan Nilai Bersih yang DapatDirealisasi Nilai yang Lebih Rendah Antara Biaya Perolehan atau Nilai Bersih yang Dapat Direalisasi TV Layar Datar Radio Satelit DVD Recorder Tape Recorder Rp60.000.000 Rp45.000.000 Rp48.000.000 Rp15.000.000 Rp168.000.000 Rp55.000.000 Rp52.000.000 Rp45.000.000 Rp14.000.000 Rp166.000.000 Rp55.000.000 Rp45.000.000 Rp45.000.000 Rp14.000.000 Rp159.000.000 Perhitungan nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasi Rugi penurunan nilai persediaan Rp9.000.000 Persediaan (HPP) Rp9.000.000
  • 19.
    19 KESALAHAN PERSEDIAAN Kesalahan bisaterjadi antara lain karena adanya kesalahan dalam melakukan perhitungan atau dalam penetapan harga persediaan. Kesalahan bisa juga terjadi karena perusahaan tidak menerapkan dengan tepat saat terjadinya perpindahan kepemilikan barang atas barang-barang yang sedang dalam perjalanan. Kesalahan dalam persediaan akan berdampak pada neraca maupun laporan rugi-laba.
  • 20.
    20 DAMPAK TERHADAP LAPORANLABA-RUGI Formula Perhitungan Beban Pokok Penjualan: Persediaan Awal Biaya Perolehan Pembelian Persediaan Akhir Beban Pokok Penjualan Apabila kesalahan berupa kurangsaji persediaan awal, maka beban pokok penjualan akan kurangsaji juga. Jika kesalahan berupa kurangsaji persediaan akhir, maka beban pokok penjualan akan lebihsaji. Dampak kesalahan persediaan terhadap laba bersih tahun yang bersangkutan: Apabila Kesalahan Persediaan Maka Beban Pokok Penjualan Maka Laba Bersih Kurangsaji persediaan awal Lebihsaji persediaan awal Kurangsaji persediaan akhir Lebihsaji persediaan akhir Kurangsaji Lebihsaji Lebihsaji Kurangsaji Lebihsaji Kurangsaji Kurangsaji Lebihsaji
  • 21.
    PERUSAHAAN BATAVIA Laporan Laba-Rugi(Diringkas) 2011 2012 Salah Benar Salah Benar Penjualan Persediaan Awal Biaya Perolehan Pembelian Biaya Perolehan Barang tersedia dijual Persediaan Akhir Beban Pokok Penjualan Laba Kotor Beban Operasi Laba Bersih 20.000 40.000 60.000 12.000 80.000 48.000 32.000 10.000 22.000 20.000 40.000 60.000 15.000 80.000 45.000 35.000 10.000 25.000 12.000 68.000 80.000 23.000 90.000 57.000 33.000 20.000 13.000 15.000 68.000 83.000 23.000 90.000 60.000 30.000 20.000 10.000 DAMPAK TERHADAP LAPORAN LABA-RUGI (Rp3.000) Laba Bersih Kurang saji (Rp3.000) Laba Bersih Lebih saji Kesalahan menjadi hapus. Total laba bersih gabungan selama dua tahun menjadi benar
  • 22.
    22 DAMPAK TERHADAP LAPORANPOSISI KEUANGAN (NERACA) Kesalahan Persediaan Akhir Aset Kewajiban Ekuitas (Modal) Lebihsaji Kurangsaji Lebihsaji Kurangsaji Tidak berpengaruh Tidak berpengaruh Lebihsaji Kurangsaji
  • 23.
    23 PENYAJIAN DI LAPORAN PENYAJIAN Persediaandilaporkan dalam laporan posisi keuangan (neraca) sebagai aset lancar. Dalam laporan laba-rugi, beban pokok penjualan dikurangkan terhadap penjualan PENGUNGKAPAN Hal-hal penting yang berkaitan dengan persediaan perlu diungkapkan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan. Hal-hal yang perlu diungkapkan meliputi: 1. Pengelompokkan persediaan 2. Dasar akuntansi yang digunakan (biaya perolehan, atau nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasi) 3. Metode biaya perolehan (identifikasi khusus, MPKP atau biaya perolehan rata-rata). Contoh dapat dilihat di buku pada halaman 445
  • 24.
    24 PENAKSIRAN PERSEDIAAN Dalam keadaantertentu perusahaan tidak bisa melakukan perhitungan fisik persediaan, seperti saat gudang terbakar dan sebagainya. Dalam keadaan demikian, perusahaan harus melakukan penaksiran tentang persediaan yang ada. Dua alasan mengapa perlu diadakan penaksiran adalah karena perusahaan dalam situasi darurat seperti kebakaran maupun kebanjiran, atau manajemen berkeinginan untuk menyusun laporan keuangan secara bulanan atau triwulanan tetapi perhitungan fisik dilakukan setahun sekali. Dua metode yang lazim digunakan untuk menaksir persediaan adalah: 1. Metode Laba Kotor 2. Metode Harga Eceran
  • 25.
    25 METODE LABA KOTOR Metodeyang relatif sederhana, namun efektif. Metode ini digunakan untuk menaksir biaya perolehan persediaan dengan cara mengalikan persentase laba kotor terhadap penjualan bersih. Keunggulan metode ini bisa digunakan untuk mendeteksi kesalahan yang berjumlah besar. Formula yang digunakan dalam metode laba kotor: Tahap 1: Penjualan Bersih Taksiran Laba Kotor Taksiran Beban Pokok Penjualan Tahap 2: Biaya Perolehan Barang Tersedia Dijual Taksiran Beban Pokok Penjualan Taksiran Biaya Perolehan Persediaan Akhir
  • 26.
    METODE LABA KOTOR Misalkanperusahaan “Mitra Usaha” bermaksud menyusun laporan laba-rugi untuk bulan Januari. Penjualan bersih Rp200.000.000, persediaan awal Rp40.000.000, dan biaya perolehan pembelian Rp120.000.000. Pada tahun- tahun yang lalu perusahaan memperoleh laba kotor sebesar 30%. Pada tahun ini diharapkan tingkat persentase laba kotor masih sama. Taksiran biaya perolehan pada akhir Januari: TAHAP 1: Penjualan Kurangi: Taksiran laba kotor (30% x Rp200.000.000) Taksiran Beban Pokok Penjualan TAHAP 2: Persediaan awal Biaya perolehan pembelian Biaya perolehan barang tersedia dijual Kurangi: Taksiran beban pokok penjualan Taksiran Biaya Perolehan Persediaan Akhir Rp200.000.000 60.000.000 Rp140.000.000 Rp 40.000.000 120.000.000 160.000.000 140.000.000 Rp20.000.000 Perlu diperhatikan, bahwa metode laba kotor ini tidak boleh digunakan untuk menyusun laporan keuangan pada akhir tahun. Dalam menyusun laporan keuangan, perusahaan harus mendasarkan pada perhitungan fisik sesungguhnya.
  • 27.
    27 METODE HARGA ECERAN Metodeyang umumnya digunakan perusahaan dagang eceran untuk menaksir biaya perolehan persediaan. Perusahaan umumnya memiliki pola perbandingan harga jual dengan harga perolehannya. Formula yang digunakan dalam metode harga eceran: TAHAP 1: Barang Tersedia Dijual atas Dasar Harga Eceran Penjualan Bersih Persediaan Akhir atas Dasar Harga Eceran TAHAP 2: Barang Tersedia Dijual atas Dasar Biaya Perolehan Barang Tersedia Dijual Atas Dasar Harga Eceran Rasio Biaya Perolehan terhadap Harga Eceran TAHAP 3: Persediaan Akhir atas Dasar Harga Eceran Rasio Biaya Perolehan terhadap Harga Eceran Taksiran Biaya Perolehan Persediaan Akhir :
  • 28.
    28 METODE HARGA ECERAN Misalkan,perusahaan “Murni” menetapkan 10 unit barang yang dibeli dengan harga Rp7.000 untuk dijual seharga Rp10.000 per unit. Rasio biaya perolehan terhadap harga eceran adalah 70% (7.000 : 10.000). Seandainya ada 4 unit yang belum terjual, maka harga eceran keempat barang tersebut adalah Rp40.000 (4xRp10.000), dan biaya perolehannya adalah Rp28.000 (70% dari Rp40.000). Angka ini cocok dengan hasil perhitungan biaya perolehan persediaan atas dasar biaya perolehan yaitu 4xRp7.000=Rp28.000 Maka taksiran biaya perolehan persediaan akhirnya: Persediaan akhir atas dasar harga eceran x Rasio = Rp28.000 x 70% = Rp19.600 Kelemahan utama metode ini terletak pada teknik merata-rata harga. Akibatnya bisa menghasilkan nilai persediaan yang keliru apabila komposisi persediaan akhir tidak mencerminkan komposisi persediaan barang tersedia dijual.
  • 29.
    29 METODE BIAYA PEROLEHANMASUK TERAKHIR KELUAR PERTAMA (MTKP) IFRS (International Financial Reporting Standards), tidak mengizinkan penggunaan MTKP untuk tujuan pelaporan keuangan. Hal yang sama berlaku di Indonesia sejak diberlakukannya SAK ETAP pada 2009 lalu. Namun, di Amerika Serikat dan di sejumlah negara lain, metode ini masih diperkenankan untuk pelaporan keuangan dan juga untuk pelaporan pajak.
  • 30.
    30 METODE BIAYA PEROLEHANMASUK TERAKHIR KELUAR PERTAMA (MTKP) Metode MTKP berasumsi bahwa barang yang berasal dari pembelian terakhir akan dijual lebih dahulu. Pada metode MTKP biaya perolehan barang yang dibeli terakhir akan diakui lebih dahulu sebagai beban pokok penjualan. Karenanya, persediaan akhir akan didasarkan pada harga yang berasal dari pembelian yang lebih awal. Dengan demikian, pada metode MTKP, perusahaan akan menetapkan biaya perolehan persediaan dengan mengambil biaya perolehan per unit yang berasal dari barang yang lebih dahulu tersedia dijual dan selanjutnya digunakan biaya perolehan berikutnya sampai semua unit dalam persediaan ditetapkan biaya perolehannya.
  • 31.
    31 METODE BIAYA PEROLEHANMASUK TERAKHIR KELUAR PERTAMA (MTKP) BIAYA PEROLEHAN BARANG TERSEDIA DIJUAL Tanggal Keterangan Unit Biaya Perolehan Per Unit Total Biaya Perolehan Jan 1 Apr 15 Aug 24 Nov 27 Persediaan Awal Pembelian Pembelian Pembelian Jumlah 100 200 300 400 1.000 Rp10.000 11.000 12.000 13.000 Rp1.000.000 2.200.000 3.600.000 5.200.000 Rp12.000.000 Perusahaan menetapkan biaya perolehan persediaan akhir sebanyak 450 unit dengan mengambil harga dari pembelian-pembelian lebih awal. Pembelian- pembelian tersebut terdiri dari 100 unit @Rp10.000 (Jan 1), 200 unit @Rp11.000 (Apr 15), dan 150 unit @Rp12.000 (Aug 24). Selanjutnya perusahaan menetapkan beban pokok penjualan dengan cara mengurangkan biaya perolehan barang tersedia dijual dengan biaya perolehan persediaan akhir.
  • 32.
    32 METODE BIAYA PEROLEHANMASUK TERAKHIR KELUAR PERTAMA (MTKP) Perusahaan juga dapat menghitung beban pokok penjualan dengan memberi harga pada 550 unit barang terjual dengan mengambil harga dari 550 unit yang dibeli terakhir. Tanggal Keterangan Unit Biaya Perolehan Per Unit Total Biaya Perolehan Nov 27 Aug 24 Pembelian Pembelian Jumlah 400 150 550 Rp13.000 12.000 Rp5.200.000 1.800.000 Rp7.000.000 Dalam sistem persediaan periodik, semua barang yang dibeli selama periode dianggap tersedia untuk penjualan pertama, tanpa melihat tanggal pembeliannya. Kelemahan utama metode MTKP akan terasa pada periode ketika harga-harga sedang naik. Dalam situasi tersebut, biaya perolehan yang dialokasikan ke persediaan akhir akan terlihat kurangsaji (understated) secara signifikan neraca. Alasan mengapa masih digunakannya metode ini di Amerika adalah karena adanya penghematan pajak.
  • 33.