A Pengertian Komunikasi Verbal 
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik lisan maupun tulisan. 
Komunikasi ini paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia. Melalui kata -kata , mereka 
mengungkapkan perasaan, emos i , pemiki ran atau gagasan, menyampaikan fakta , data , dan 
informasi serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan dan pemiki ran, sal ing berdebat, dan 
bertengkar. Dalam komunikas i verbal bahasa memi l iki peranan yang sangat penting. 1 
Ada beberapa unsur penting dalam komunikas i verbal , yaitu: 
1) Bahasa 
Pada dasarnya bahasa adalah suatu system lambang yang memungkinkan orang dalam berbagi 
makna. Dalam komunikasi verbal, lambang bahasa yang dipergunakan adalah bahasa verbal baik 
l i san, tertulis pada kertas, maupun yang tertulis disuatu media teknologi. Bahasa suatu bangsa atau 
suku berasal dari interaks i dan hubungan anta ra warganya satu sama lain. 2 
Bahasa memi l iki banyak fungs i , namun sekurang-kurangnya ada tiga fungs i yang erat 
hubungannya dalam menciptakan komunikas i yang efe kti f. Ketiga fungs i itu adalah: 
a) Untuk mempelajari tentang dunia sekel i l ing ki ta 
b) Untuk membina hubungan yang baik di anta ra sesama manus ia 
c) Untuk menciptaakan ikatan-ikatan dalam kehidupan manus ia. 
2) Kata 
Kata merupakan inti lambang terkeci l dalam bahasa. Kata adalah suatu lambang yang 
menjelaskan sesuatu hal, baik orang, barang, kejadian, atau keadaan. Jadi , kata itu bukan orang, 
barang, kejadian, atau keadaan sendi ri .3 
Adapun tujuan menggunakannya komunikas i verbal (l i san dan tul i san) anta ra lain: 
 Penyampaian penjelasan, pemberi tahuan, arahan dan lain sebagainya, 
 Presenta s i penjualan dihadapan para audien, 
 Penyelenggaraan rapat, 
 Wawancara dengan orang lain, dsb. 
A. Pengertian Komunikasi Non Verbal 
Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang pesannya dikemas dalam bentuk nonverbal , 
tanpa kata-kata. Dalam hidup nyata komunikasi nonverbal jauh lebih banyak dipakai daripada 
komuniasi verbal. Dalam berkomunikas i hampi r secara otomati s komunikas i nonverba l ikut 
1 Agus M. Hardjana, Komunikasi Intrapersonal & Komunikasi Interpersonal, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 22 
2 Ibid., hlm. 23 
3 Ibid, hlm. 24 
digunakan. Karena itu, komunikasi nonverbal bersifat tetap dan s elalu ada. Komunikas i nonverbal 
lebih jujur mengungkapkan hal yang mau diungkapkan karena spontan. 4 
Komunikasi nonverbal adalah semua aspek komunikasi selain kata-kata sendi ri . Ini mencakup 
bagaimana kita mengucapkan kata-kata, lingkungan yang mempengaruhi interaks i , dan benda - 
benda yang mempengaruhi ci tra pribadi dan pola interaks i . 
Komunikasi non verbal dapat berupa bahasa tubuh, tanda (sign), tindakan atau perbuatan (action) 
atau objek (object).5 
Bahasa tubuh yang berupa raut wajah, gerak kepala, gerak tangan, gerak -gerik tubuh 
mengungkapkan berbagai perasaan, isi hati, isi pikiran, kehendak, dan sikap orang merupakan salah 
satu bentuk komunikas i non verbal . 
Dalam komunikasi nonverbal tanda dapat menggantikan kata-kata, misalnya, bendera, rambu-rambu 
lalu l inta s darat, laut, udara; aba -aba dalam olahraga. 
Tindakan atau perbuatan juga dapat menggantikan kata -kata , selain itu berfungs i sebagai 
penghantar makna. Mi salnya, menggebrak meja dalam pembicaraan, menutup pintu keras -keras 
pada waktu meninggalkan rumah, menekan gas mobil kuat-kuat. Semua itu mengandung makna 
tersendi ri . 
Objek sebagai bentuk komunikas i nonverbal juga tidak mengganti kata , tetapi dapat 
menyampaikan arti tertentu. Misalnya, pakaian, aksesori dandan, rumah, perabot rumah, harta 
benda, kendaraan, hadiah. 
Mark knapp (1978) menyebut bahwa penggunaan kode nonverbal dalam berkomunikas i 
memi l iki fungs i untuk 
 Meyakinkan apa yang diucapkannya (repeti tion) 
 Menunjukkan perasaan dan emosi yang tidak bi sa diuta rakan dengan kata -kata (subs titution) 
 Menunjukkan jati di ri sehingga orang lain bi sa mengenalnya (identi ty) 
 Menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang di rasakan belum sempurna 
B. Proses Komunikasi Verbal dan Non Verbal 
Proses komunikas i adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada 
komunikannya, sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna anta ra komunikan dengan 
komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikas i yang efekti f 
(sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi termasuk juga suatu proses 
penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak lain dimana seseorang atau beberapa orang, 
4 Ibid,. hlm. 26 
5 Marhaeni fajar, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktik, (Jakarta, graha Ilmu: 2009). Hlm. 81
kelompok, organisasi dan masyarakat menciptakan dan menggunakan informas i agar terhubun g 
dengan l ingkungan dan orang lain. Komunikasi berasal dari bahasa latin communi s yang berarti 
sama. Secara sederhana komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan 
dan orang yang menerima pesan. 
Pada umumnya komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh 
kedua belah pihak. Apabi la tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, 
komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, dan menunjukkan sikap 
tertentu seperti tersenyum, mengangkat bahu dan sebagainya. Komunikasi ini disebut komunikas i 
nonverbal. Proses komunikasi bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan 
tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi dapat terjadi apabi la ada interaks i anta r 
manusia dan ada penyampaian pesan untuk mewujudkan motif komunikas i . Melalui komunikas i 
s ikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. 
Secara sempit komunikasi diartikan sebagai pesan yang diki rimkan kepada satu atau l ebih 
penerima dengan maksud sekedar untuk mempengaruhi tingkah laku s i penerima. 
Sedangkan secara luas komunikasi adalah setiap bentuk tingkah laku seseorang baik verbal 
maupun non verbal yang ditanggapi oleh orang lain. Komunikasi mencakup pengertian yang lebih 
luas dari sekedar wawancara. Setiap bentuk tingkah laku mengungkapkan pesan tertentu, sehingga 
juga merupakan sebentuk komunikas i 
(Johnson 1981) 
Komunikas i anta ra dua orang memi l iki tujuh unsur yaitu : 
1) Maksud-maksud, gagasan-gagasan dan perasaan-perasaan yang ada dalam di ri pengi rim serta 
bentuk tingkah laku yang dipilihnya. Semua itu menjadi awal bagi perbuatan komunikati fnya, yakni 
mengi rimkan suatu pesan yang mengandung i s i tertentu. 
2) Proses kodifikas i pesan oleh pengi rim. Pengi rim merubah gagasan, perasaan dan maksud-maksudnya 
kedalam bentuk pesan yang dapat diki rimkan. 
3) Proses pengi riman pesan kepada penerima. 
4) Adanya saluran (Channel ) atau media, melalui mana pesan diki rimkan. 
5) Proses dekodifikasi pesan oleh penerima. Penerima menginterpretasikan atau menafs i rkan makna 
pesan. 
6) Tanggapan batin oleh penerima terhadap has i l interpreta s inya tentang makna pesan yang 
di tangkap. 
7) Kemungkinan adanya hambatan(noi se) tertentu 
Ada l ima ta raf yang dapat diukur dalam proses komunikas i : 
1) Taraf pertama adalah hubungan puncak. 
2) Taraf kedua adalah ta raf hati atau perasaan. 
3) Taraf ketiga adalah menyatakan gagasan dan pendapat. 
4) Taraf ke empat membicarakan orang lain. 
5) Taraf kel ima adalah basa -bas i . 
Dalam lima taraf Komunikasi, ketika dua orang bertemu maka akan terjadi komunikasi , namun 
komunikasinya itu dapat berlangsung pada taraf kedalaman yang berbeda-beda. Taraf kedalaman 
komunikasi ini dapat diukur dari apa dan siapa yang saling dibicarakan : pikiran atau perasaan obyek 
tertentu, orang lain atau dirinya sendiri, Semakin orang mau saling membicarakan tentang perasaan 
yang ada didalam dirinya semakin dalamlah taraf komunikasi yang terjadi. Ata s dasar kedalamannya 
ini lah John Powel l (Sta f CLC,1985) membedakan komunikas i dalam l ima ta raf. 
1) Taraf pertama adalah hubungan puncak. 
Komunikasi pada ta raf ini ditandai dengan kejujuran, keterbukaan, dan sal ing percaya yang 
mutlak diantara kedua belah pihak. Tidak ada lagi ganjalan-ganjalan berupa rasa takut, rasa khawatir 
jangan-jangan kepercayaan kita disia-siakan. Selain merasa bebas untuk mengungkapkan perasaan, 
biasanya keduanya juga memil iki perasaan yang sama tentang banyak hal . Dengan kata lain 
komunikasi tersebut telah berkembang begitu mendalam sehingga kedua belah pihak merasakan 
kesatuan perasaan timbal bal ik yang hampi r sempurna. 
2) Taraf kedua adalah ta raf hati atau perasaan. 
Ada yang mengatakan bahwa emosi atau perasaan adalah unsur yang membedakan orang yang 
satu dengan yang lain. Contohnya sama-sama mengibarkan bendera mantan pejuang yang sukses 
dan yang bernasib kurang beruntung, maupun rakyat biasa yang tidak mengalami masa perang tentu 
melakukanya dengan perasaan berbeda. Kalau kita berani mengungkapkan perasaan ki ta dalam 
komunikasi, maka hubungan kita akan berkesan dan memberikan manfaat bagi perkemba ngan 
pribadi ki ta mas ing-mas ing. 
3) Taraf ketiga adalah menyatakan gagasan dan pendapat. 
Ki ta sudah mau saling membuka diri, saling mengungkapkan di ri , namun pengungkapan di ri 
tersebut masih terbatas pada taraf pikiran. Ibaratnya, waktu dipersilakan duduk, tetangga itu mas ih 
segan masuk keruang tamu dan memi l ih duduk diteras . Dalam pembicaraan ki ta sdh mau 
mengemukakan pendapat kita, misal berbicara tantang kebutuhan bahan pokok, namun kita mas ih 
bers ikap saling hati-hati, kita berusaha keras menghindarkan di ri menunjukan kesan bahwa ki ta 
mempunyai pendapat yang berbeda. Ki ta cenderung menyenangkan lawan bicara ki ta .
4) Taraf ke empat membicarakan orang lain. 
Di s ini orang sudah saling menanggapi, namun tetap masih pada ta raf dangkal, khususnya belum 
mau berbicara tentang di ri mas ing-mas ing. Contohnya tetangga ki ta pers i lahkan mampi r itu 
mungkin sungguh-sungguh mau singgah, namun waktu dipersi lakan masuk, namun dia memi l ih 
mengobrol sambi l berdi ri didepan rumah, yang dibicarakanpun obyek di luar ki ta . 
5) Taraf kel ima adalah basa-bas i . 
Ini merupakan ta raf komunikas i pal ing dangkal . Biasanya terjadi anta ra dua orang yang 
bertemu secara kebetulan, misalnya kita sedang duduk diteras, seorang tetangga lewat didepan 
rumah kita. Sebagai sopan santun kita menegur, misalkan dengan mengatakan s i lahkan mampi r, 
maka biasanya hanya dijawab terimakasih lain kali, dan tetanggapun terus berlalu. Jadi pada taraf ini 
tidak terjadi komunikas i dalam arti sebenarnya. 
Komunikas i Efekti f 
Komunikasi disebut efektif apabi la penerima menginterpre ta s ikan pesan yang diterima 
sebagaimana dimaksud oleh pengirim. Kenyataanya, kita sering gagal memahami . Sumber utama 
kesalahan dalam komunikasi adalah cara penerima menangkap suatu pesan, berbeda dari yang 
dimaksud pengi rim, karena pengi rim gagal mengkomu nikas ikan pesannya dengan tepat. 
A. Beberapa sumber kesalah fahaman 
Kegagalan dalam komunikas i yang timbul karena adanya kesenjangan anta ra apa yang 
sebenarnya dimaksud pengirim dengan apa yang oleh penerima diduga dimaksud oleh pengi rim, 
bersumber pada sejumlah faktor sebagai berikut. (Johnson,1981) 
 Sumber-sumber hambatan yang bersifat emosional dan sosial atau kultural. Mi salnya, karena ki ta 
tidak suka pada seseorang, maka semua kata-katnya kita ta fsi rkan negati f, atau ki ta ters inggung 
ketika seorang teman dari barat membelai kepala kita, yang sebetulnya itu merupakan ungkapan 
keakraban. 
 Sering kita mendengarkan dengan maksud sadar atau tidak sadar untuk memberikan penilaian dan 
menghakimi pembicara. Akibatnya ia menjadi bersikap defens i f. Artinya s ikap menutup di ri dan 
sangat berhati -hati dalam berkata -kata . 
 Kesalahfahaman atau distorsi dalam komunikasi sering terjadi karena kita saling tidak mempercayai . 
B. Mengi rimkan Pesan Secara Efekti f 
Menurut Johnson ada 3 syarat yang harus dipenuhi . 
 ki ta harus mengusahakan agar pesan-pesan yang ki ta ki rimkan mudah dipahami . 
 Sebagai pengi rim ki ta harus memi l iki kredibi l i ta s dimata penerima. 
 Ki ta harus berusaha mendapatkan umpan balik secara optimal tentang pengaruh pesan ki ta itu 
dalam diri penerima. Dengan kata lain, kita harus memilki kredibi l i ta s dan terampi l megi rimkan 
pesan. 
a. Kredibi l i ta s Pengi rim 
Yang dimaksud adalah kadar kepercayaan. Kredibilitas memiliki beberapa aspek (Johnson 1981) 
: 
 Si fat bisa dipercaya si pengirim sebagai sumber informasi, sebagai pribadi menunjukan s i fat-s i fat 
bi sa diandalkan, bi sa diharapkan dan kons i s ten. 
 Intens i , yaitu maksud atau motivas i baik dari pihak pengi rim. 
 Ungkapan s ikap hangat dan bersahabat dari pengi rim. 
 Predikat atau cap yang telah diberikan masyarakat kepada pengirim menyangkut sifatnya yang bi sa 
dipercaya. 
 Apakah pengirim memiliki keahlian menyangkut pokok pembicaraan yang akan di sampaikannya. 
 Si fat dinami s (proakti f, agres i f dan empatik) pengi rim. 
b. Ketrampi lan mengi rimkan pesan. 
Beberapa bentuk ketrampilan mengirimkan pesan yang penting sebagai berikut (Johnson 1981) 
 Secara jelas kita harus meng-aku-I pesan yang kita kirimkan. Caranya dengan menggunakan kata 
ganti orang pertama tunggal dalam pembicaraan ki ta . Jadi sedapat mungkin dengan tegas 
me nya ta ka n”s a ya …” a ta u “a ku…” 
 Membuat pesan ki ta lengkap dan mudah dipahami . 
 Redudansi pesan-pesan sebaiknya kita ulang seperlunya, termasuk menggunakan lebih dari satu 
media untuk mengi rimkan pesan yang sama. 
 Berusaha mendapatkan umpan balik tentang cara pesan kita tangkap oleh lawan komunikas i ki ta . 
 Ki ta perlu menyesuaikan cara penyampaian pesan ki ta dengan kerangka acuan, sudut pandang 
maupun kemampuan atau daya tangkap lawan komunikas i ki ta . 
 Dalam mengungkapkan perasaan, sebaiknya ditempuh salah satu dari tiga cara berikut, yaitu dengan 
menyebut namanya, bentuk tindakannya, ataupun menggunakan kiasan. Mi salnya menyebut nama 
pe ra saan “ Ma af saya sedang s edih” menyebut bentuk tindakan ya ng di s e ba bka n ol e h pe ra s a a n 
s e dang dialami. ”Ingin menangis rasanya “ untuk menyatakan kesediha n, me ngguna ka n ki a s a n, “ 
Ha ti s a ya s e pe rti di s a ya t s embi l u” juga untuk me ngungka pka n ke pe di ha n. 
 Menunjukan tingkah laku lawan komunikasi kita tanpa memberikan penilaian maupun interpretasi .6 
6 Dr. A. Supratiknya, Tinjauan Psikologis Komunikasi Antarpribadi, (Yogyakarta : kanisius, 1995). Hlm. 31-36.

K om non verbal

  • 1.
    A Pengertian KomunikasiVerbal Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik lisan maupun tulisan. Komunikasi ini paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia. Melalui kata -kata , mereka mengungkapkan perasaan, emos i , pemiki ran atau gagasan, menyampaikan fakta , data , dan informasi serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan dan pemiki ran, sal ing berdebat, dan bertengkar. Dalam komunikas i verbal bahasa memi l iki peranan yang sangat penting. 1 Ada beberapa unsur penting dalam komunikas i verbal , yaitu: 1) Bahasa Pada dasarnya bahasa adalah suatu system lambang yang memungkinkan orang dalam berbagi makna. Dalam komunikasi verbal, lambang bahasa yang dipergunakan adalah bahasa verbal baik l i san, tertulis pada kertas, maupun yang tertulis disuatu media teknologi. Bahasa suatu bangsa atau suku berasal dari interaks i dan hubungan anta ra warganya satu sama lain. 2 Bahasa memi l iki banyak fungs i , namun sekurang-kurangnya ada tiga fungs i yang erat hubungannya dalam menciptakan komunikas i yang efe kti f. Ketiga fungs i itu adalah: a) Untuk mempelajari tentang dunia sekel i l ing ki ta b) Untuk membina hubungan yang baik di anta ra sesama manus ia c) Untuk menciptaakan ikatan-ikatan dalam kehidupan manus ia. 2) Kata Kata merupakan inti lambang terkeci l dalam bahasa. Kata adalah suatu lambang yang menjelaskan sesuatu hal, baik orang, barang, kejadian, atau keadaan. Jadi , kata itu bukan orang, barang, kejadian, atau keadaan sendi ri .3 Adapun tujuan menggunakannya komunikas i verbal (l i san dan tul i san) anta ra lain:  Penyampaian penjelasan, pemberi tahuan, arahan dan lain sebagainya,  Presenta s i penjualan dihadapan para audien,  Penyelenggaraan rapat,  Wawancara dengan orang lain, dsb. A. Pengertian Komunikasi Non Verbal Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang pesannya dikemas dalam bentuk nonverbal , tanpa kata-kata. Dalam hidup nyata komunikasi nonverbal jauh lebih banyak dipakai daripada komuniasi verbal. Dalam berkomunikas i hampi r secara otomati s komunikas i nonverba l ikut 1 Agus M. Hardjana, Komunikasi Intrapersonal & Komunikasi Interpersonal, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 22 2 Ibid., hlm. 23 3 Ibid, hlm. 24 digunakan. Karena itu, komunikasi nonverbal bersifat tetap dan s elalu ada. Komunikas i nonverbal lebih jujur mengungkapkan hal yang mau diungkapkan karena spontan. 4 Komunikasi nonverbal adalah semua aspek komunikasi selain kata-kata sendi ri . Ini mencakup bagaimana kita mengucapkan kata-kata, lingkungan yang mempengaruhi interaks i , dan benda - benda yang mempengaruhi ci tra pribadi dan pola interaks i . Komunikasi non verbal dapat berupa bahasa tubuh, tanda (sign), tindakan atau perbuatan (action) atau objek (object).5 Bahasa tubuh yang berupa raut wajah, gerak kepala, gerak tangan, gerak -gerik tubuh mengungkapkan berbagai perasaan, isi hati, isi pikiran, kehendak, dan sikap orang merupakan salah satu bentuk komunikas i non verbal . Dalam komunikasi nonverbal tanda dapat menggantikan kata-kata, misalnya, bendera, rambu-rambu lalu l inta s darat, laut, udara; aba -aba dalam olahraga. Tindakan atau perbuatan juga dapat menggantikan kata -kata , selain itu berfungs i sebagai penghantar makna. Mi salnya, menggebrak meja dalam pembicaraan, menutup pintu keras -keras pada waktu meninggalkan rumah, menekan gas mobil kuat-kuat. Semua itu mengandung makna tersendi ri . Objek sebagai bentuk komunikas i nonverbal juga tidak mengganti kata , tetapi dapat menyampaikan arti tertentu. Misalnya, pakaian, aksesori dandan, rumah, perabot rumah, harta benda, kendaraan, hadiah. Mark knapp (1978) menyebut bahwa penggunaan kode nonverbal dalam berkomunikas i memi l iki fungs i untuk  Meyakinkan apa yang diucapkannya (repeti tion)  Menunjukkan perasaan dan emosi yang tidak bi sa diuta rakan dengan kata -kata (subs titution)  Menunjukkan jati di ri sehingga orang lain bi sa mengenalnya (identi ty)  Menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang di rasakan belum sempurna B. Proses Komunikasi Verbal dan Non Verbal Proses komunikas i adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna anta ra komunikan dengan komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikas i yang efekti f (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi termasuk juga suatu proses penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak lain dimana seseorang atau beberapa orang, 4 Ibid,. hlm. 26 5 Marhaeni fajar, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktik, (Jakarta, graha Ilmu: 2009). Hlm. 81
  • 2.
    kelompok, organisasi danmasyarakat menciptakan dan menggunakan informas i agar terhubun g dengan l ingkungan dan orang lain. Komunikasi berasal dari bahasa latin communi s yang berarti sama. Secara sederhana komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan. Pada umumnya komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabi la tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, dan menunjukkan sikap tertentu seperti tersenyum, mengangkat bahu dan sebagainya. Komunikasi ini disebut komunikas i nonverbal. Proses komunikasi bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi dapat terjadi apabi la ada interaks i anta r manusia dan ada penyampaian pesan untuk mewujudkan motif komunikas i . Melalui komunikas i s ikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Secara sempit komunikasi diartikan sebagai pesan yang diki rimkan kepada satu atau l ebih penerima dengan maksud sekedar untuk mempengaruhi tingkah laku s i penerima. Sedangkan secara luas komunikasi adalah setiap bentuk tingkah laku seseorang baik verbal maupun non verbal yang ditanggapi oleh orang lain. Komunikasi mencakup pengertian yang lebih luas dari sekedar wawancara. Setiap bentuk tingkah laku mengungkapkan pesan tertentu, sehingga juga merupakan sebentuk komunikas i (Johnson 1981) Komunikas i anta ra dua orang memi l iki tujuh unsur yaitu : 1) Maksud-maksud, gagasan-gagasan dan perasaan-perasaan yang ada dalam di ri pengi rim serta bentuk tingkah laku yang dipilihnya. Semua itu menjadi awal bagi perbuatan komunikati fnya, yakni mengi rimkan suatu pesan yang mengandung i s i tertentu. 2) Proses kodifikas i pesan oleh pengi rim. Pengi rim merubah gagasan, perasaan dan maksud-maksudnya kedalam bentuk pesan yang dapat diki rimkan. 3) Proses pengi riman pesan kepada penerima. 4) Adanya saluran (Channel ) atau media, melalui mana pesan diki rimkan. 5) Proses dekodifikasi pesan oleh penerima. Penerima menginterpretasikan atau menafs i rkan makna pesan. 6) Tanggapan batin oleh penerima terhadap has i l interpreta s inya tentang makna pesan yang di tangkap. 7) Kemungkinan adanya hambatan(noi se) tertentu Ada l ima ta raf yang dapat diukur dalam proses komunikas i : 1) Taraf pertama adalah hubungan puncak. 2) Taraf kedua adalah ta raf hati atau perasaan. 3) Taraf ketiga adalah menyatakan gagasan dan pendapat. 4) Taraf ke empat membicarakan orang lain. 5) Taraf kel ima adalah basa -bas i . Dalam lima taraf Komunikasi, ketika dua orang bertemu maka akan terjadi komunikasi , namun komunikasinya itu dapat berlangsung pada taraf kedalaman yang berbeda-beda. Taraf kedalaman komunikasi ini dapat diukur dari apa dan siapa yang saling dibicarakan : pikiran atau perasaan obyek tertentu, orang lain atau dirinya sendiri, Semakin orang mau saling membicarakan tentang perasaan yang ada didalam dirinya semakin dalamlah taraf komunikasi yang terjadi. Ata s dasar kedalamannya ini lah John Powel l (Sta f CLC,1985) membedakan komunikas i dalam l ima ta raf. 1) Taraf pertama adalah hubungan puncak. Komunikasi pada ta raf ini ditandai dengan kejujuran, keterbukaan, dan sal ing percaya yang mutlak diantara kedua belah pihak. Tidak ada lagi ganjalan-ganjalan berupa rasa takut, rasa khawatir jangan-jangan kepercayaan kita disia-siakan. Selain merasa bebas untuk mengungkapkan perasaan, biasanya keduanya juga memil iki perasaan yang sama tentang banyak hal . Dengan kata lain komunikasi tersebut telah berkembang begitu mendalam sehingga kedua belah pihak merasakan kesatuan perasaan timbal bal ik yang hampi r sempurna. 2) Taraf kedua adalah ta raf hati atau perasaan. Ada yang mengatakan bahwa emosi atau perasaan adalah unsur yang membedakan orang yang satu dengan yang lain. Contohnya sama-sama mengibarkan bendera mantan pejuang yang sukses dan yang bernasib kurang beruntung, maupun rakyat biasa yang tidak mengalami masa perang tentu melakukanya dengan perasaan berbeda. Kalau kita berani mengungkapkan perasaan ki ta dalam komunikasi, maka hubungan kita akan berkesan dan memberikan manfaat bagi perkemba ngan pribadi ki ta mas ing-mas ing. 3) Taraf ketiga adalah menyatakan gagasan dan pendapat. Ki ta sudah mau saling membuka diri, saling mengungkapkan di ri , namun pengungkapan di ri tersebut masih terbatas pada taraf pikiran. Ibaratnya, waktu dipersilakan duduk, tetangga itu mas ih segan masuk keruang tamu dan memi l ih duduk diteras . Dalam pembicaraan ki ta sdh mau mengemukakan pendapat kita, misal berbicara tantang kebutuhan bahan pokok, namun kita mas ih bers ikap saling hati-hati, kita berusaha keras menghindarkan di ri menunjukan kesan bahwa ki ta mempunyai pendapat yang berbeda. Ki ta cenderung menyenangkan lawan bicara ki ta .
  • 3.
    4) Taraf keempat membicarakan orang lain. Di s ini orang sudah saling menanggapi, namun tetap masih pada ta raf dangkal, khususnya belum mau berbicara tentang di ri mas ing-mas ing. Contohnya tetangga ki ta pers i lahkan mampi r itu mungkin sungguh-sungguh mau singgah, namun waktu dipersi lakan masuk, namun dia memi l ih mengobrol sambi l berdi ri didepan rumah, yang dibicarakanpun obyek di luar ki ta . 5) Taraf kel ima adalah basa-bas i . Ini merupakan ta raf komunikas i pal ing dangkal . Biasanya terjadi anta ra dua orang yang bertemu secara kebetulan, misalnya kita sedang duduk diteras, seorang tetangga lewat didepan rumah kita. Sebagai sopan santun kita menegur, misalkan dengan mengatakan s i lahkan mampi r, maka biasanya hanya dijawab terimakasih lain kali, dan tetanggapun terus berlalu. Jadi pada taraf ini tidak terjadi komunikas i dalam arti sebenarnya. Komunikas i Efekti f Komunikasi disebut efektif apabi la penerima menginterpre ta s ikan pesan yang diterima sebagaimana dimaksud oleh pengirim. Kenyataanya, kita sering gagal memahami . Sumber utama kesalahan dalam komunikasi adalah cara penerima menangkap suatu pesan, berbeda dari yang dimaksud pengi rim, karena pengi rim gagal mengkomu nikas ikan pesannya dengan tepat. A. Beberapa sumber kesalah fahaman Kegagalan dalam komunikas i yang timbul karena adanya kesenjangan anta ra apa yang sebenarnya dimaksud pengirim dengan apa yang oleh penerima diduga dimaksud oleh pengi rim, bersumber pada sejumlah faktor sebagai berikut. (Johnson,1981)  Sumber-sumber hambatan yang bersifat emosional dan sosial atau kultural. Mi salnya, karena ki ta tidak suka pada seseorang, maka semua kata-katnya kita ta fsi rkan negati f, atau ki ta ters inggung ketika seorang teman dari barat membelai kepala kita, yang sebetulnya itu merupakan ungkapan keakraban.  Sering kita mendengarkan dengan maksud sadar atau tidak sadar untuk memberikan penilaian dan menghakimi pembicara. Akibatnya ia menjadi bersikap defens i f. Artinya s ikap menutup di ri dan sangat berhati -hati dalam berkata -kata .  Kesalahfahaman atau distorsi dalam komunikasi sering terjadi karena kita saling tidak mempercayai . B. Mengi rimkan Pesan Secara Efekti f Menurut Johnson ada 3 syarat yang harus dipenuhi .  ki ta harus mengusahakan agar pesan-pesan yang ki ta ki rimkan mudah dipahami .  Sebagai pengi rim ki ta harus memi l iki kredibi l i ta s dimata penerima.  Ki ta harus berusaha mendapatkan umpan balik secara optimal tentang pengaruh pesan ki ta itu dalam diri penerima. Dengan kata lain, kita harus memilki kredibi l i ta s dan terampi l megi rimkan pesan. a. Kredibi l i ta s Pengi rim Yang dimaksud adalah kadar kepercayaan. Kredibilitas memiliki beberapa aspek (Johnson 1981) :  Si fat bisa dipercaya si pengirim sebagai sumber informasi, sebagai pribadi menunjukan s i fat-s i fat bi sa diandalkan, bi sa diharapkan dan kons i s ten.  Intens i , yaitu maksud atau motivas i baik dari pihak pengi rim.  Ungkapan s ikap hangat dan bersahabat dari pengi rim.  Predikat atau cap yang telah diberikan masyarakat kepada pengirim menyangkut sifatnya yang bi sa dipercaya.  Apakah pengirim memiliki keahlian menyangkut pokok pembicaraan yang akan di sampaikannya.  Si fat dinami s (proakti f, agres i f dan empatik) pengi rim. b. Ketrampi lan mengi rimkan pesan. Beberapa bentuk ketrampilan mengirimkan pesan yang penting sebagai berikut (Johnson 1981)  Secara jelas kita harus meng-aku-I pesan yang kita kirimkan. Caranya dengan menggunakan kata ganti orang pertama tunggal dalam pembicaraan ki ta . Jadi sedapat mungkin dengan tegas me nya ta ka n”s a ya …” a ta u “a ku…”  Membuat pesan ki ta lengkap dan mudah dipahami .  Redudansi pesan-pesan sebaiknya kita ulang seperlunya, termasuk menggunakan lebih dari satu media untuk mengi rimkan pesan yang sama.  Berusaha mendapatkan umpan balik tentang cara pesan kita tangkap oleh lawan komunikas i ki ta .  Ki ta perlu menyesuaikan cara penyampaian pesan ki ta dengan kerangka acuan, sudut pandang maupun kemampuan atau daya tangkap lawan komunikas i ki ta .  Dalam mengungkapkan perasaan, sebaiknya ditempuh salah satu dari tiga cara berikut, yaitu dengan menyebut namanya, bentuk tindakannya, ataupun menggunakan kiasan. Mi salnya menyebut nama pe ra saan “ Ma af saya sedang s edih” menyebut bentuk tindakan ya ng di s e ba bka n ol e h pe ra s a a n s e dang dialami. ”Ingin menangis rasanya “ untuk menyatakan kesediha n, me ngguna ka n ki a s a n, “ Ha ti s a ya s e pe rti di s a ya t s embi l u” juga untuk me ngungka pka n ke pe di ha n.  Menunjukan tingkah laku lawan komunikasi kita tanpa memberikan penilaian maupun interpretasi .6 6 Dr. A. Supratiknya, Tinjauan Psikologis Komunikasi Antarpribadi, (Yogyakarta : kanisius, 1995). Hlm. 31-36.