Islam di Sulawesi Selatan
Oleh:
Eko Rusdianto
www.pindai.org | t: @pindaimedia | f: facebook.com/pindai.org | e: redaksi@pindai.org
PINDAI.ORG – Islam di Sulawesi Selatan / 23 Juli 2015
	
  
H a l a m a n 	
  2	
  |	
  5	
  
	
  
Islam di Sulawesi Selatan
oleh Eko Rusdianto
Sejumlah pengaruh dari simbol, tradisi, arsitektur, dan bahasa Persia di sejumlah tempat di
Nusantara.
DI aula utama istana Luwu, Kota Palopo (sekitar 350 km dari Makassar), terdapat enam bendera
yang disusun berjejer, dan di baris ketiga—sebagai simbol kalangan istana—ada sebuah bendera
yang jadi kebesaran kerajaan tersebut. Ia berwarna hitam dengan garis tepi putih, di tengahnya
sebuah gambar singa putih; berhiaskan huruf kaligrafi dengan kutipan syahadat. Dalam bahasa
setempat bendera ini dikenal dengan sebutan bandera macang’e.
Andi Baso Lolo Bayan, anggota dewan adat Luwu, yang menemani saya menjelaskan, “Pada
masa lalu, di Luwu ada hidup macan. Inilah yang menjadi penanda keberanian masyarakat
Luwu.”
“Macan adalah kucing Sawerigading. Jadi jangan heran kalau orang Luwu tak diterkam macan,”
katanya. Sawerigading, penguasa Luwu, adalah tokoh utama dalam epik I La Galigo, salah satu
kitab terpanjang di dunia.
Menurut Andi Baso, poin adanya lafas al-Quran di bendera itu—yang jadi rasa penasaran saya—
dicantumkan kemudian setelah Datu Luwu, raja ke-15, Andi Pattiware memeluk Islam.
Di Sulawesi Selatan, dalam banyak literatur, syiar Islam berawal pada abad ke-17. Era ini
ditandai kedatangan tiga ulama yang diutus Sultan Johor, bagian dari Kesultanan Malaka (saat
ini jadi negara bagian Malaysia). Ketiganya adalah Abdul Jawad (Datu ri’ Tiro), Abdul Makmur
(Datu ri’ Bandang), dan Sulaiman (Datu ri’ Pattimang)—mereka sering disebut “tiga datu”.
Sebagaimana agama baru—tidak di Sulawesi, tidak pula di Jawa—syiar Islam mulanya
ditentang. Di Gowa, tiga ulama penyiar Islam ini mengalami hambatan. Lantas menuju Luwu
dan berhasil mengislamkan Datu Luwu pada 5 Februari 1605.
Leonard Andaya dalam Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17 (2004)
menulis bahwa upaya lebih awal mengislamkan Luwu adalah “langkah tepat.” Andaya mengutip
salah satu kronik Wajo yang menjelaskan apa yang disebut “kemuliaan” terdapat di Luwu,
sementara “kekuasaan” ada di Makassar.
Pernyataan dalam kronik Wajo itu cukup berasalan. Di Sulawesi Selatan, Luwu dianggap sebagai
kerajaan tertua, sekaligus pula tempat peradaban tua bermula. Dalam epik I La Galigo,
dikisahkan sebelum dunia ini dihuni manusia, para penghuni langit (dunia atas) mengutus
seorang dewa yakni Batara Guru yang menikahi seorang putri dari perritiwi (dunia bawah).
Anak-anak mereka menyebar dan jadi pemimpin ke pelbagai penjuru Sulawesi Selatan.
PINDAI.ORG – Islam di Sulawesi Selatan / 23 Juli 2015
	
  
H a l a m a n 	
  3	
  |	
  5	
  
	
  
Dari Luwu, tiga datu ini lantas menuju Tallo. Pada September tahun yang sama, Raja Tallo (I
Mallingkaang Daeng Manyonri Karaeng Tumenanga ri Bonto Biraeng) memeluk Islam, dengan
gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Menyusul kemudian Raja Gowa, I Mangarangi Daeng
Manrabia, yang lantas menyandang gelar Sultan Alauddin.
Proses syiar Islam ke pelbagai wilayah pun berlangsung cepat. Kerajaan-kerajaan kecil, yang jadi
bawahan, dengan mudah mengikuti. Sekuel inilah yang disebut sejumlah literatur akademik
sebagai awal mula masuknya Islam di Sulawesi Selatan.
Namun, ada yang mengisahkan versi berbeda.
Chalid AS, arkeolog dari Universitas Hasanuddin, mengatakan bahwa sejarah masuknya Islam di
Sulawesi Selatan bukanlah dimulai saat kedatangan trio datu. Melainkan sekira abad ke-15 saat
seorang ulama Persia, bernama Sayyid Jamaluddin Husain al-Kubra, menetap dan menyebarkan
Islam di wilayah Belawa, Kabupaten Wajo. Perkiraan kehadirannya antara tahun 1452. Ia
meninggal pada 1453.
“Di saat inilah pengaruh Persia memasuki wilayah Sulawesi Selatan,” katanya.
Chalid meneliti ke beberapa wilayah di Sulawesi Selatan. Salah satunya menelisik bentuk
makam raja, bendera kerajaan, dan syair perang. Ia menilai, beberapa arca singa dipakai sebagai
bentuk nisan dan bendera. Juga sejumlah bangunan makam kerajaan menyerupai kubah dengan
beberapa relif manusia menunggang kuda dan memegang pedang.
Itulah yang kemudian jadi navigasi Chalid melihat bagaimana hubungan antara Persia dan
Sulawesi Selatan. Hasil penelitiannya, Bentuk-bentuk Kebudayaan Persia di Sulawesi Selatan:
Kajian Arkeologi Islam (2014), memaparkan bahwa Persia (kini lebih dikenal Iran)—dalam
konteks paham keagamaan Islam Syiah—mulai menyebarkan ulama dan tradisi Syiah saat
kerajaan Safavi (1500-1740). Pemerintahan Safavi melakukan gerakan nasionalisasi dengan
menyatukan bekas-bekas kerajaan yang tergabung dalam teritori kekuasaan Sasania (Persia).
Dalam agenda ini simbol Persia kuno, seperti singa dan penggambaran kehidupan atau tradisi
masyarakatnya, diserap ke dalam nilai-nilai keislaman, sekaligus meninggalkan simbol,
bangunan, seni dan sastra Persia.
Dalam catatan Chalid, jejak atau peninggalan arkeologi Islam dari Persia di Sulawesi Selatan
misalnya terwujud lewat bentuk kubah atau cungkup pada makam. Di Persia, ia dinamakan
gondab—pada perkembangannya mirip museleum. Kubah-kubah pada masa awal disebut
Gumbat-i-Qabus; makam dari Emir Shamas a-Ma’ali Qabus pada tahun 1006.
Makam berbentuk kubah di Persia dibikin untuk para raja, ulama, serta kaum cendikia seperti
filsuf, sastrawan, dan ilmuwan. Dan di Sulawesi Selatan, menurut Chalid, hal sama pun
dilakukan; makam-makam kubah dibuat untuk mengenang bangsawan (raja dan keluarganya),
ulama, petinggi kerajaan, dan kalangan intelektual.
Selain bentuk kubah, ikon macan atau singa sebagai simbol mitologi Persia dipakai selama
ribuan tahun. Simbol ini terutama berkembang semasa dinasti Safavi (1501-1722). Masa itu
PINDAI.ORG – Islam di Sulawesi Selatan / 23 Juli 2015
	
  
H a l a m a n 	
  4	
  |	
  5	
  
	
  
simbol singa di Persia identik merepresentaikan (sifat) kelaki-lakian, pahlawan, pemberani, dan
prajurit. Sementara singa dalam tokoh Islam disematkan pada Ali bin Abu Thalib. Di kedatuan
Luwu, bendera berlambang singa tersemat pada unit Attoriolo, yakni pemegang ritual dalam
istana, bergelar Anre Guru.
Simbol yang sama juga terdapat di Kerajaan Bone. Bendera bergambar singa diyakini sebagai
bendera dari prajurit perang Arung Palakka (Raja Bone). Sementara di Makassar, singa
menyimbolkan sosok prajurit dengan kecakapan khusus.
Beberapa bentuk dalam kesusastraan di Sulawesi Selatan mengandung adanya pengaruh Persia,
menurut Chalid. Ini seperti Assikalabineng atau kitab berhubungan intim suami-istri. Ia
mengagungkan nama Ali bin Abu Thalib (dikenal hangat dengan nama Baginda Ali), sementara
Hasan dan Husein disebut Asang dan Useng.
Ahmad M Sewang dalam Islamisasi Kerajaan Gowa: Abad XVI-XVII (2005) menulis bahwa
salah satu bentuk pengagungan kepada “Baginda Ali” ini antara lain terdapat pula dalam Syair
Perang Makassar, ditulis Amin Entji, seorang melayu yang menjabat juru tulis pada masa
pemerintahaan Sultan Hasanuddin (1653-1669).
Chalid juga mencatat, para penyiar Islam yang mendatangi wilayah-wilayah baru membawa
kebudayaan yang memungkinkan terjadinya akulturasi atau perpaduan. Salah satunya adalah
bahasa. Kita mengenal pelbagai kosakata dari serapan bahasa Persia. Chalid mendata sedikitnya
ada 359 kosakata seperti kanduri (kenduri), astana (istana), bandar (pelabuhan), bedebah
(biadab), bius, diwan (dewan), gandum, jadah (anak haram), syahbandar, kismis, tamasya, dan
sebagainya.
Pengaruh Husain al-Kubra
Namun, apa yang disebut “pengaruh” dari ulama Persia Sayyid Jamaluddin Husain al-Kubra ini
belum tentu menjelaskan secara pasti bahwa ia seorang Syiah, sebagaimana diyakini Chalid AS.
Pandangan skeptis ini dikatakan Supratman, dosen Fakultas Sastra Arab sekaligus direktur
Iranian Corner di Universitas Hasanuddin.
“Belum ada catatan dan data pasti mengenai paham dan ajaran yang dikembangkan Husain al-
Kubra. Apakah Syiah atau Sunni?” katanya. “Tapi jika dikatakan sebagai ulama pembawa Islam
pertama di Sulawesi Selatan—saya kira itu benar.”
Menurutnya, sebelum perhentian terakhir di Wajo, Husain al-Kubra menyinggahi sejumlah
kerajaan, dari Kamboja, Malaysia, dan Jawa. Di Wajo, selama setahun menyebarkan ajaran
Islam dengan cara-cara damai, ia diterima dengan hangat oleh kerajaan dan masyarakat.
“Jika kemudian nama Husain al-Kubra tidak begitu tenar dibanding tiga datu penyebar Islam
setelahnya, maka ini ada kesalahan dalam penulisan sejarah,” katanya.
PINDAI.ORG – Islam di Sulawesi Selatan / 23 Juli 2015
	
  
H a l a m a n 	
  5	
  |	
  5	
  
	
  
Namun, Iwan Sumantri, arkeolog Universitas Hasanuddin, beranggapan lain. Tak begitu
tenarnya syiar Islam dari Husain al-Kubra karena wilayah kerajaan Wajo tak begitu besar dan tak
memiliki pengaruh kuat di Sulawesi Selatan.
“Berbeda dengan penyebar Islam setelahnya, yang mengislamkan Kerajaan Gowa dan Luwu,
cakupannya cukup luas dan merupakan wilayah kerajaan besar,” katanya. “Jadi bisa dipastikan,
setelah raja menerima Islam dan mengumumkannya, maka pengaruhnya pun hingga ke
masyarakat tingkat bawah. Itu tentu seperti titah.”
Selain itu, tradisi tulis di Sulawesi Selatan baru berkembang pada abad ke-17, dengan bukti
penemuan pemakaian huruf lontara. “Jadi pada masa penemuan tradisi tulis ini, tentu
dimungkinkan pencatatan sejarah yang baik,” ujar Sumantri.
Saya tertarik untuk bertanya kepada beberapa mahasiswa di Universitas Muhammadiyah
Makassar dan Universitas Islam Negeri Makassar. Jawaban mereka sama: penyebar Islam
pertama di Sulawesi Selatan adalah tiga datu itu.
Abdurrahman Wahid—biasa disapa Gus Dur—pernah berziarah ke makam Sayyid Jamaluddin
Husain al-Kubra pada akhir Januari 1989, saat itu ia menjabat ketua Pengurus Besar Nahdlatul
Ulama, organisasi muslim besar di Indonesia. Menurut Gus Dur, Husain al-Kubra adalah leluhur
atau nenek dari wali songo di Jawa. Dalam satu catatan pengalaman seorang nahdliyin, pernah
rombongan terdiri 42 ulama dari Jawa Timur berziarah ke makam Husain al-Kubra di Wajo.
Tetapi, dalam beberapa catatan, masyarakat muslim Jawa mengenalnya sebagai Sayyid Hussein
Jumadil Kubro, ayah dari Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Malik Maghribi (Sunan Gresik).
Perbedaan nama ini memunculkan perdebatan dan spekulasi tentang makam tempat ia
dikuburkan.
Martin van Bruinessen, pakar Islam Asia Tenggara dari Universitas Utrecht, Belanda, dalam
beberapa catatan menulis bawah kemungkinan besar makam Husain al-Kubra atau Jumadil
Kubro ada di Wajo—tempat terakhirnya menyebarkan syiar Islam ke pelbagai wilayah di Asia.[]
_____
Eko Rusdianto. Penulis kelahiran Palopo tinggal di Makassar, menulis juga untuk Majalah
Historia dan Mongabay-Indonesia. Blog: ekorusdianto.blogspot.com. Kontak email:
eko.mallo@gmail.com.

Islam di Sulawesi Selatan

  • 1.
    Islam di SulawesiSelatan Oleh: Eko Rusdianto www.pindai.org | t: @pindaimedia | f: facebook.com/pindai.org | e: redaksi@pindai.org
  • 2.
    PINDAI.ORG – Islamdi Sulawesi Selatan / 23 Juli 2015   H a l a m a n  2  |  5     Islam di Sulawesi Selatan oleh Eko Rusdianto Sejumlah pengaruh dari simbol, tradisi, arsitektur, dan bahasa Persia di sejumlah tempat di Nusantara. DI aula utama istana Luwu, Kota Palopo (sekitar 350 km dari Makassar), terdapat enam bendera yang disusun berjejer, dan di baris ketiga—sebagai simbol kalangan istana—ada sebuah bendera yang jadi kebesaran kerajaan tersebut. Ia berwarna hitam dengan garis tepi putih, di tengahnya sebuah gambar singa putih; berhiaskan huruf kaligrafi dengan kutipan syahadat. Dalam bahasa setempat bendera ini dikenal dengan sebutan bandera macang’e. Andi Baso Lolo Bayan, anggota dewan adat Luwu, yang menemani saya menjelaskan, “Pada masa lalu, di Luwu ada hidup macan. Inilah yang menjadi penanda keberanian masyarakat Luwu.” “Macan adalah kucing Sawerigading. Jadi jangan heran kalau orang Luwu tak diterkam macan,” katanya. Sawerigading, penguasa Luwu, adalah tokoh utama dalam epik I La Galigo, salah satu kitab terpanjang di dunia. Menurut Andi Baso, poin adanya lafas al-Quran di bendera itu—yang jadi rasa penasaran saya— dicantumkan kemudian setelah Datu Luwu, raja ke-15, Andi Pattiware memeluk Islam. Di Sulawesi Selatan, dalam banyak literatur, syiar Islam berawal pada abad ke-17. Era ini ditandai kedatangan tiga ulama yang diutus Sultan Johor, bagian dari Kesultanan Malaka (saat ini jadi negara bagian Malaysia). Ketiganya adalah Abdul Jawad (Datu ri’ Tiro), Abdul Makmur (Datu ri’ Bandang), dan Sulaiman (Datu ri’ Pattimang)—mereka sering disebut “tiga datu”. Sebagaimana agama baru—tidak di Sulawesi, tidak pula di Jawa—syiar Islam mulanya ditentang. Di Gowa, tiga ulama penyiar Islam ini mengalami hambatan. Lantas menuju Luwu dan berhasil mengislamkan Datu Luwu pada 5 Februari 1605. Leonard Andaya dalam Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17 (2004) menulis bahwa upaya lebih awal mengislamkan Luwu adalah “langkah tepat.” Andaya mengutip salah satu kronik Wajo yang menjelaskan apa yang disebut “kemuliaan” terdapat di Luwu, sementara “kekuasaan” ada di Makassar. Pernyataan dalam kronik Wajo itu cukup berasalan. Di Sulawesi Selatan, Luwu dianggap sebagai kerajaan tertua, sekaligus pula tempat peradaban tua bermula. Dalam epik I La Galigo, dikisahkan sebelum dunia ini dihuni manusia, para penghuni langit (dunia atas) mengutus seorang dewa yakni Batara Guru yang menikahi seorang putri dari perritiwi (dunia bawah). Anak-anak mereka menyebar dan jadi pemimpin ke pelbagai penjuru Sulawesi Selatan.
  • 3.
    PINDAI.ORG – Islamdi Sulawesi Selatan / 23 Juli 2015   H a l a m a n  3  |  5     Dari Luwu, tiga datu ini lantas menuju Tallo. Pada September tahun yang sama, Raja Tallo (I Mallingkaang Daeng Manyonri Karaeng Tumenanga ri Bonto Biraeng) memeluk Islam, dengan gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Menyusul kemudian Raja Gowa, I Mangarangi Daeng Manrabia, yang lantas menyandang gelar Sultan Alauddin. Proses syiar Islam ke pelbagai wilayah pun berlangsung cepat. Kerajaan-kerajaan kecil, yang jadi bawahan, dengan mudah mengikuti. Sekuel inilah yang disebut sejumlah literatur akademik sebagai awal mula masuknya Islam di Sulawesi Selatan. Namun, ada yang mengisahkan versi berbeda. Chalid AS, arkeolog dari Universitas Hasanuddin, mengatakan bahwa sejarah masuknya Islam di Sulawesi Selatan bukanlah dimulai saat kedatangan trio datu. Melainkan sekira abad ke-15 saat seorang ulama Persia, bernama Sayyid Jamaluddin Husain al-Kubra, menetap dan menyebarkan Islam di wilayah Belawa, Kabupaten Wajo. Perkiraan kehadirannya antara tahun 1452. Ia meninggal pada 1453. “Di saat inilah pengaruh Persia memasuki wilayah Sulawesi Selatan,” katanya. Chalid meneliti ke beberapa wilayah di Sulawesi Selatan. Salah satunya menelisik bentuk makam raja, bendera kerajaan, dan syair perang. Ia menilai, beberapa arca singa dipakai sebagai bentuk nisan dan bendera. Juga sejumlah bangunan makam kerajaan menyerupai kubah dengan beberapa relif manusia menunggang kuda dan memegang pedang. Itulah yang kemudian jadi navigasi Chalid melihat bagaimana hubungan antara Persia dan Sulawesi Selatan. Hasil penelitiannya, Bentuk-bentuk Kebudayaan Persia di Sulawesi Selatan: Kajian Arkeologi Islam (2014), memaparkan bahwa Persia (kini lebih dikenal Iran)—dalam konteks paham keagamaan Islam Syiah—mulai menyebarkan ulama dan tradisi Syiah saat kerajaan Safavi (1500-1740). Pemerintahan Safavi melakukan gerakan nasionalisasi dengan menyatukan bekas-bekas kerajaan yang tergabung dalam teritori kekuasaan Sasania (Persia). Dalam agenda ini simbol Persia kuno, seperti singa dan penggambaran kehidupan atau tradisi masyarakatnya, diserap ke dalam nilai-nilai keislaman, sekaligus meninggalkan simbol, bangunan, seni dan sastra Persia. Dalam catatan Chalid, jejak atau peninggalan arkeologi Islam dari Persia di Sulawesi Selatan misalnya terwujud lewat bentuk kubah atau cungkup pada makam. Di Persia, ia dinamakan gondab—pada perkembangannya mirip museleum. Kubah-kubah pada masa awal disebut Gumbat-i-Qabus; makam dari Emir Shamas a-Ma’ali Qabus pada tahun 1006. Makam berbentuk kubah di Persia dibikin untuk para raja, ulama, serta kaum cendikia seperti filsuf, sastrawan, dan ilmuwan. Dan di Sulawesi Selatan, menurut Chalid, hal sama pun dilakukan; makam-makam kubah dibuat untuk mengenang bangsawan (raja dan keluarganya), ulama, petinggi kerajaan, dan kalangan intelektual. Selain bentuk kubah, ikon macan atau singa sebagai simbol mitologi Persia dipakai selama ribuan tahun. Simbol ini terutama berkembang semasa dinasti Safavi (1501-1722). Masa itu
  • 4.
    PINDAI.ORG – Islamdi Sulawesi Selatan / 23 Juli 2015   H a l a m a n  4  |  5     simbol singa di Persia identik merepresentaikan (sifat) kelaki-lakian, pahlawan, pemberani, dan prajurit. Sementara singa dalam tokoh Islam disematkan pada Ali bin Abu Thalib. Di kedatuan Luwu, bendera berlambang singa tersemat pada unit Attoriolo, yakni pemegang ritual dalam istana, bergelar Anre Guru. Simbol yang sama juga terdapat di Kerajaan Bone. Bendera bergambar singa diyakini sebagai bendera dari prajurit perang Arung Palakka (Raja Bone). Sementara di Makassar, singa menyimbolkan sosok prajurit dengan kecakapan khusus. Beberapa bentuk dalam kesusastraan di Sulawesi Selatan mengandung adanya pengaruh Persia, menurut Chalid. Ini seperti Assikalabineng atau kitab berhubungan intim suami-istri. Ia mengagungkan nama Ali bin Abu Thalib (dikenal hangat dengan nama Baginda Ali), sementara Hasan dan Husein disebut Asang dan Useng. Ahmad M Sewang dalam Islamisasi Kerajaan Gowa: Abad XVI-XVII (2005) menulis bahwa salah satu bentuk pengagungan kepada “Baginda Ali” ini antara lain terdapat pula dalam Syair Perang Makassar, ditulis Amin Entji, seorang melayu yang menjabat juru tulis pada masa pemerintahaan Sultan Hasanuddin (1653-1669). Chalid juga mencatat, para penyiar Islam yang mendatangi wilayah-wilayah baru membawa kebudayaan yang memungkinkan terjadinya akulturasi atau perpaduan. Salah satunya adalah bahasa. Kita mengenal pelbagai kosakata dari serapan bahasa Persia. Chalid mendata sedikitnya ada 359 kosakata seperti kanduri (kenduri), astana (istana), bandar (pelabuhan), bedebah (biadab), bius, diwan (dewan), gandum, jadah (anak haram), syahbandar, kismis, tamasya, dan sebagainya. Pengaruh Husain al-Kubra Namun, apa yang disebut “pengaruh” dari ulama Persia Sayyid Jamaluddin Husain al-Kubra ini belum tentu menjelaskan secara pasti bahwa ia seorang Syiah, sebagaimana diyakini Chalid AS. Pandangan skeptis ini dikatakan Supratman, dosen Fakultas Sastra Arab sekaligus direktur Iranian Corner di Universitas Hasanuddin. “Belum ada catatan dan data pasti mengenai paham dan ajaran yang dikembangkan Husain al- Kubra. Apakah Syiah atau Sunni?” katanya. “Tapi jika dikatakan sebagai ulama pembawa Islam pertama di Sulawesi Selatan—saya kira itu benar.” Menurutnya, sebelum perhentian terakhir di Wajo, Husain al-Kubra menyinggahi sejumlah kerajaan, dari Kamboja, Malaysia, dan Jawa. Di Wajo, selama setahun menyebarkan ajaran Islam dengan cara-cara damai, ia diterima dengan hangat oleh kerajaan dan masyarakat. “Jika kemudian nama Husain al-Kubra tidak begitu tenar dibanding tiga datu penyebar Islam setelahnya, maka ini ada kesalahan dalam penulisan sejarah,” katanya.
  • 5.
    PINDAI.ORG – Islamdi Sulawesi Selatan / 23 Juli 2015   H a l a m a n  5  |  5     Namun, Iwan Sumantri, arkeolog Universitas Hasanuddin, beranggapan lain. Tak begitu tenarnya syiar Islam dari Husain al-Kubra karena wilayah kerajaan Wajo tak begitu besar dan tak memiliki pengaruh kuat di Sulawesi Selatan. “Berbeda dengan penyebar Islam setelahnya, yang mengislamkan Kerajaan Gowa dan Luwu, cakupannya cukup luas dan merupakan wilayah kerajaan besar,” katanya. “Jadi bisa dipastikan, setelah raja menerima Islam dan mengumumkannya, maka pengaruhnya pun hingga ke masyarakat tingkat bawah. Itu tentu seperti titah.” Selain itu, tradisi tulis di Sulawesi Selatan baru berkembang pada abad ke-17, dengan bukti penemuan pemakaian huruf lontara. “Jadi pada masa penemuan tradisi tulis ini, tentu dimungkinkan pencatatan sejarah yang baik,” ujar Sumantri. Saya tertarik untuk bertanya kepada beberapa mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Makassar dan Universitas Islam Negeri Makassar. Jawaban mereka sama: penyebar Islam pertama di Sulawesi Selatan adalah tiga datu itu. Abdurrahman Wahid—biasa disapa Gus Dur—pernah berziarah ke makam Sayyid Jamaluddin Husain al-Kubra pada akhir Januari 1989, saat itu ia menjabat ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, organisasi muslim besar di Indonesia. Menurut Gus Dur, Husain al-Kubra adalah leluhur atau nenek dari wali songo di Jawa. Dalam satu catatan pengalaman seorang nahdliyin, pernah rombongan terdiri 42 ulama dari Jawa Timur berziarah ke makam Husain al-Kubra di Wajo. Tetapi, dalam beberapa catatan, masyarakat muslim Jawa mengenalnya sebagai Sayyid Hussein Jumadil Kubro, ayah dari Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Malik Maghribi (Sunan Gresik). Perbedaan nama ini memunculkan perdebatan dan spekulasi tentang makam tempat ia dikuburkan. Martin van Bruinessen, pakar Islam Asia Tenggara dari Universitas Utrecht, Belanda, dalam beberapa catatan menulis bawah kemungkinan besar makam Husain al-Kubra atau Jumadil Kubro ada di Wajo—tempat terakhirnya menyebarkan syiar Islam ke pelbagai wilayah di Asia.[] _____ Eko Rusdianto. Penulis kelahiran Palopo tinggal di Makassar, menulis juga untuk Majalah Historia dan Mongabay-Indonesia. Blog: ekorusdianto.blogspot.com. Kontak email: eko.mallo@gmail.com.