GRANULASI KERING
By: Edi Sutarmanto
GRANULA ???
Adalah gumpalan-gumpalan dari
partikel-partikel yang lebih kecil
umumya berbentuk tidak merata dan
menjadi seperti partikel tunggal yang
lebih besar
FUNGSI DARI GRANULASI
• MENINGKATKAN FLUIDITAS
• MENINGKATKAN
KOMPRESIBILITAS
• AGAR LEBIH STABIL
FLUIDITAS
Mempengaruhi proses pengisian ruang
kompresi, bila bobot seragam, kadar
obat seragam sehingga efek terapi sama
FLUIDITAS DIPENGARUHI OLEH
:
 UKURAN PARTIKEL
 BENTUK PARTIKEL
 KERAPATAN JENIS
 ELEKTROSTATIKA
 KELEMBABAN
METODE PERLEKATAN ANTAR
PARTIKEL
 TERBENTUK JEMBATAN CAIR
 TERBENTUK JEMBATAN
PADAT
 DEFORMASI PLASTIK DAN
ELASTIS
 ADANYA GAYA
ELEKTROSTATIKA
GRANULASI KERING ?????
adalah metode yang dilakukan dengan cara
membuat granul secara mekanis tanpa
bantuan pengikat basah atau pelarut
pengikat. Metode ini digunakan untuk zat
aktif yang tidak tahan panas dan lembab,
serta tidak tahan air atau pelarut yang
digunakan
Metode ini dapat dilakukan menggunakan :
a. Mesin Slug
Massa serbuk ditekan pada tekanan
tinggi sehingga menjadi tablet besar yang
tidak berbentuk, kemudian digiling dan
diayak hingga diperoleh granul dengan
ukuran partikel yang diinginkan.
b. Mesin Rol
Massa serbuk diletakkan diantara
mesin rol (roller compactor) yang
dijalankan secara hidrolik untuk
menghasilkan massa rata yang tipis,
lalu diayak atau digiling hingga
diperoleh granul dengan ukuran yang
diinginkan.
Prinsip Granulasi Kering
Prinsip granulasi kering adalah
menciptakan ikatan antara partikel-
partikel dengan pemberatan secara
mekanik. Ikatan yang mungkin timbul
antar partikel-partikel tergantung dari
sifat serbuk serta campuran.
Keuntungan pembuatan tablet dengan
metode granulasi kering adalah :
1. Memerlukan tahap proses yang lebih
sedikit sehingga mengurangi kebutuhan
akan proses validasi.
2. Waktu hancur lebih cepat karena tidak
diperlukannya larutan pengikat.
3. Tidak memerlukan pengeringan
sehingga tidak terlalu lama
pengerjaannya.
4. Dapat digunakan untuk zat aktif dosis
besar yang peka terhadap panas dan
lembab.
Kerugian pembuatan tablet dengan metode
granulasi kering adalah :
1. Perlu mesin khusus untuk pembuat
slug.
2. Tidak dapat mendistribusikan warna
dengan homogen.
3. Tidak dapat digunakan untuk zat aktif
yang tidak larut.
4. Kemungkinan terjadinya kontaminasi
silang lebih cepat.
5. Keseragaman kandungan lebih sulit
dicapai.
Proses Pelaksanaan
A. Penghalusan
Tujuan dari penghalusan adalah untuk
memperkecil ukuran partikel zat aktif
dan eksipien. Semakin besar ukuran
partikel maka sifat kohesifitas dan
adhesifitas antar partikel semakin
besar yang dapat menyebabkan
terjadinya pemisahan pada granul.
Tahap ini dapat dilakukan dengan
menggunakan bowl hammer, hammer
mill, dan grinder.
B. Pencampuran
Tujuan pencampuran ini adalah untuk
mendapatkan distribusi bahan aktif
yang merata dan homogen. Tahap ini
dapat dilakukan dengan menggunakan
alat planetary mixer, twin-shell, dan
blender. Bahan yang dicampur adl zat
aktif dan eksipien (pengisi, pengikat
kering, sebagian disintegran, bbrp
%lubrikan dan glidan
C. Slugging
Campuran serbuk ditekan ke dalam
cetakan yang besar dan dikompakkan
dengan punch berpermukaan datar,
massa yang diperoleh disebut slug.
D. Pengayakan
Massa basah dibuat menjadi granul
dengan melewatkannya pada ayakan
berukuran 18-20 mesh yang disebut
oscilating granulator/ fitzmill.
E. Pemadatan dan destruksi kembali
serbuk di padatkan kembali dg mesin
bongkah lalu ukuran granul diperkecil
dengan cara melewatkan pada ayakan
dengan porositas yang lebih kecil dari
yang sebelumnya.
F. Penambahan Penghancur dan Lubrikan
Proses selanjutnya yaitu proses
pencampuran granul-granul dengan
penghancur dan lubrikan menggunakan
twin-shell blender atau mixer lainnya.
G. Pengempaan Tablet
Proses terakhir dari metode granulasi
kering adalah pengempaan massa
cetak berupa granul menjadi tablet.
 TEORI MEKANIK
 TEORI ANTARMOLEKUL
 TEORI FILM PERMUKAAN
Teori mekanik menyatakan bahwa partikel-
partikel individu mengalami perubahan
bentuk elastik, plastik atau rapuh di bawah
tekanan sehingga sisi-sisinya bertautan dan
membentuk suatu ikatan mekanik
Menurut teori gaya antarmolekul di bawah
tekanan, molekul2 pd titik kontak yg
sebenarnya antara permukaan granul yg
baru dan bersih cukup dekat sehingga gaya
van der Wals dpt berinteraksi utk
menggabungkan partikel2
Menghubungkan ikatan dengan adanya
selaput cair tipis yang mungkin disebabkan
oleh peleburan atau larutan, pd permukaan
partikel yg disebabkan oleh energi
pengempaan.
 Resep
 Pada pembuatan tablet kali ini dibuat tablet dengan bahan
aktif berupa asetosal 250 mg dan bobot tablet total 400 mg,
sehingga presentase zat aktif dalam sediaan adalah 62,5 %.
Asetosal merupakan zat yang memiliki sifat alir dan
kompresibilitas yang buruk sehingga apabila akan dibuat
sediaan tablet harus dilakukan granulasi terlebih dahulu,
selain itu kadar asetosal dalam tablet pun lebih dari 5%
sehingga pembuatan tablet asetosal menggunakan metode
granulasi, namun karena asetosal tidak stabil terhadap air
dan dapat terhidrolisis maka metode granulasi yang dipilih
adalah granulasi kering.
 Bobot tablet yang diinginkan adalah 400 mg sedangkan
bobot asetosal yang dipakai adalah 250 mg sehingga
dibutuhkan pengisi berupa laktosa anhidrat untuk
menggenapkan bobot tablet hingga 400 mg. Pemilihan
laktosa anhidrat ini karena laktosa anhidrat lebih stabil
dibandingkan bentuk.
 Tablet asetosal dibuat menggunakan metode granulasi
kering sehingga diperlukan pengikat yang dapat
menyatukan zat aktif dengan berbagai zat tambahan
lainya agar menjadi granul yang baik yang dapat
meningkatkan sifat alir dan kompresiblitas dari
asetosal. Maka ditambahkan pengikat berupa PVP
kedalam sediaan untuk mengikat serbuk menjadi
granul. Pemilihan PVP sebagai pengikat karena PVP
kompatibel terhadap asetosal, selain itu PVP memiliki
daya rekat yang baik sehingga dapat meningkatkan
kompresibilitas dari serbuk yang akan dibuat granul.
 Tablet yang baik harus dapat terdisintegrasi
sebelum 30 menit di saluran cerna agar dapat cepat
terabsorbsi dan menimbulkan efek pada tubuh.
Oleh karena itu tablet asetosal ditambahkan
amilum untuk mempercepat disintegrasi dari tablet
baik pada fase dalam maupun pada fase luar.
 Granul dikhawatirkan tersendat di hopper pada
saat pengisian die, apabila hal ini terjadi dapat
mengakibatkan bobot tablet yang dihasilkan tidak
seragam. Maka ditambahkan glidantt kedalam
sediaan agar tablet dapat mengalir dengan baik di
hopper, glidant yang dipilih pada sediaan ini adalah
Talkum, pemilihan talkum sebagai glidantt adalah
karena talkum dapat mengurangi gaya elektrosatis
yang muncul pada di hopper pada saat pengisian
die sehingga serbuk tidak akan tersendat pada saat
pengisian die pada hopper.
 Pada proses pencetakan tablet menggunakan mesin
pencetak tablet dapat terjadi friksi antara die
dengan serbuk yang dapat menimbulkan panas dan
dapat merusak mesin, sehingga friksi tersebut
harus dikurangi bahkan dihilangkan menggunakan
lubrikan. Oleh karena itu, ditambahkan Mg-stearat
kedalam sediaan sebagai lubrikan agar
meminimalisir friksi yang terjadi pada saat proses
pencetakan tablet. Namun dikarenakan asetosal
dan Mg-stearat inkompatibel maka Mg-stearat
dihilangkan dari formula dan sebagai gantinya
talkum dinaikkan kadarnya agar dapat berfungsi
sebagai lubrikan selain sebagai glidan
A. Milling
1. Asetosal diayak menggunakan ayakan mesh 40.
2. PVP diayak menggunakan ayakan mesh 40.
3. Amptotab diayak menggunakan ayakan mesh 40.
4. Laktosa diayak menggunakan ayakan mesh 40.
5. Talkum diayak menggunakan ayakan mesh 40 untuk pencampuran di fase
dalam dan diayak menggunakan ayakan mesh 60 untuk fase luar
6. Amilum diayak menggunakan ayakan mesh 60.
A. Penimbangan Bahan
 Penimbangan Fase Dalam
1. Asetosal yang telah diayak ditimbang sebanyak 125 g di kertas perkamen.
2. PVP yang telah diayak ditimbang sebanyak 4 g di kertas perkamen.
3. Amprotab yang telah diayak ditimbang sebanyak 20 g di kertas perkamen.
4. Laktosa yang telah diayak ditimbang sebanyak 35 g di kertas perkamen.
 Penimbangan Fase Luar
1. Amylum yang telah diayak ditimbang sebanyak g di kertas perkamen.
2. Talkum yang telah diayak ditimbang sebanyak g di kertas perkamen.
A. Pembuatan Tablet
1. Asetosal, PVP, amprotab, dan laktosa dicampurkan dengan setengah bagian
fase luar (glidan dan lubrikan) menggunakan turbula mixer hingga homogen.
2. Campuran tersebut dibuat menjadi slug menggunakan punch yang berdiameter
besar pada tekanan mesin tablet yang tinggi atau dapat juga menggunakan
roller compactor dengan mengatur tekanan yang diberikan.
3. Slug yang sudah jadi digiling kassar dan diayak menggunakan ayakan mesh
12, sehingga dihasilkan granul-granul kasar.
4. Evaluasi dilakukan terhadap granul yang dihasilkan, apabila belum memenuhi
syarat maka slugging dapat diulangi hingga diperoleh granul yang memenuhi
syarat.
5. Slugging maksimum dilakukan hingga 3 kali (menghindari perubahan fisika
atau kimia bahan karena pengaruh mekanik).
6. Granul yang diperoleh ditimbang lalu dilakukan perhitungan jumlah fase luar
yang harus ditambahkan.
7. Sisa fase luar dicampur dengan granul yang telah memenuhi syarat dnegan
jumlah yang sesuai dengan hasil perhitungan.
8. Massa cetak kempa dengan menggunakan punch sesuai bobot tablet yang telah
dihitung.
9. Dilakukan evaluasi terhadap tablet yang dihasilkan.
granulasi kering.pptx
granulasi kering.pptx

granulasi kering.pptx

  • 1.
  • 2.
    GRANULA ??? Adalah gumpalan-gumpalandari partikel-partikel yang lebih kecil umumya berbentuk tidak merata dan menjadi seperti partikel tunggal yang lebih besar
  • 3.
    FUNGSI DARI GRANULASI •MENINGKATKAN FLUIDITAS • MENINGKATKAN KOMPRESIBILITAS • AGAR LEBIH STABIL FLUIDITAS Mempengaruhi proses pengisian ruang kompresi, bila bobot seragam, kadar obat seragam sehingga efek terapi sama
  • 4.
    FLUIDITAS DIPENGARUHI OLEH : UKURAN PARTIKEL  BENTUK PARTIKEL  KERAPATAN JENIS  ELEKTROSTATIKA  KELEMBABAN
  • 5.
    METODE PERLEKATAN ANTAR PARTIKEL TERBENTUK JEMBATAN CAIR  TERBENTUK JEMBATAN PADAT  DEFORMASI PLASTIK DAN ELASTIS  ADANYA GAYA ELEKTROSTATIKA
  • 6.
    GRANULASI KERING ????? adalahmetode yang dilakukan dengan cara membuat granul secara mekanis tanpa bantuan pengikat basah atau pelarut pengikat. Metode ini digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan lembab, serta tidak tahan air atau pelarut yang digunakan
  • 7.
    Metode ini dapatdilakukan menggunakan : a. Mesin Slug Massa serbuk ditekan pada tekanan tinggi sehingga menjadi tablet besar yang tidak berbentuk, kemudian digiling dan diayak hingga diperoleh granul dengan ukuran partikel yang diinginkan.
  • 8.
    b. Mesin Rol Massaserbuk diletakkan diantara mesin rol (roller compactor) yang dijalankan secara hidrolik untuk menghasilkan massa rata yang tipis, lalu diayak atau digiling hingga diperoleh granul dengan ukuran yang diinginkan.
  • 9.
    Prinsip Granulasi Kering Prinsipgranulasi kering adalah menciptakan ikatan antara partikel- partikel dengan pemberatan secara mekanik. Ikatan yang mungkin timbul antar partikel-partikel tergantung dari sifat serbuk serta campuran.
  • 10.
    Keuntungan pembuatan tabletdengan metode granulasi kering adalah : 1. Memerlukan tahap proses yang lebih sedikit sehingga mengurangi kebutuhan akan proses validasi. 2. Waktu hancur lebih cepat karena tidak diperlukannya larutan pengikat. 3. Tidak memerlukan pengeringan sehingga tidak terlalu lama pengerjaannya. 4. Dapat digunakan untuk zat aktif dosis besar yang peka terhadap panas dan lembab.
  • 11.
    Kerugian pembuatan tabletdengan metode granulasi kering adalah : 1. Perlu mesin khusus untuk pembuat slug. 2. Tidak dapat mendistribusikan warna dengan homogen. 3. Tidak dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak larut. 4. Kemungkinan terjadinya kontaminasi silang lebih cepat. 5. Keseragaman kandungan lebih sulit dicapai.
  • 12.
    Proses Pelaksanaan A. Penghalusan Tujuandari penghalusan adalah untuk memperkecil ukuran partikel zat aktif dan eksipien. Semakin besar ukuran partikel maka sifat kohesifitas dan adhesifitas antar partikel semakin besar yang dapat menyebabkan terjadinya pemisahan pada granul. Tahap ini dapat dilakukan dengan menggunakan bowl hammer, hammer mill, dan grinder.
  • 13.
    B. Pencampuran Tujuan pencampuranini adalah untuk mendapatkan distribusi bahan aktif yang merata dan homogen. Tahap ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat planetary mixer, twin-shell, dan blender. Bahan yang dicampur adl zat aktif dan eksipien (pengisi, pengikat kering, sebagian disintegran, bbrp %lubrikan dan glidan
  • 14.
    C. Slugging Campuran serbukditekan ke dalam cetakan yang besar dan dikompakkan dengan punch berpermukaan datar, massa yang diperoleh disebut slug. D. Pengayakan Massa basah dibuat menjadi granul dengan melewatkannya pada ayakan berukuran 18-20 mesh yang disebut oscilating granulator/ fitzmill.
  • 15.
    E. Pemadatan dandestruksi kembali serbuk di padatkan kembali dg mesin bongkah lalu ukuran granul diperkecil dengan cara melewatkan pada ayakan dengan porositas yang lebih kecil dari yang sebelumnya. F. Penambahan Penghancur dan Lubrikan Proses selanjutnya yaitu proses pencampuran granul-granul dengan penghancur dan lubrikan menggunakan twin-shell blender atau mixer lainnya.
  • 16.
    G. Pengempaan Tablet Prosesterakhir dari metode granulasi kering adalah pengempaan massa cetak berupa granul menjadi tablet.
  • 17.
     TEORI MEKANIK TEORI ANTARMOLEKUL  TEORI FILM PERMUKAAN
  • 18.
    Teori mekanik menyatakanbahwa partikel- partikel individu mengalami perubahan bentuk elastik, plastik atau rapuh di bawah tekanan sehingga sisi-sisinya bertautan dan membentuk suatu ikatan mekanik
  • 19.
    Menurut teori gayaantarmolekul di bawah tekanan, molekul2 pd titik kontak yg sebenarnya antara permukaan granul yg baru dan bersih cukup dekat sehingga gaya van der Wals dpt berinteraksi utk menggabungkan partikel2
  • 20.
    Menghubungkan ikatan denganadanya selaput cair tipis yang mungkin disebabkan oleh peleburan atau larutan, pd permukaan partikel yg disebabkan oleh energi pengempaan.
  • 21.
  • 22.
     Pada pembuatantablet kali ini dibuat tablet dengan bahan aktif berupa asetosal 250 mg dan bobot tablet total 400 mg, sehingga presentase zat aktif dalam sediaan adalah 62,5 %. Asetosal merupakan zat yang memiliki sifat alir dan kompresibilitas yang buruk sehingga apabila akan dibuat sediaan tablet harus dilakukan granulasi terlebih dahulu, selain itu kadar asetosal dalam tablet pun lebih dari 5% sehingga pembuatan tablet asetosal menggunakan metode granulasi, namun karena asetosal tidak stabil terhadap air dan dapat terhidrolisis maka metode granulasi yang dipilih adalah granulasi kering.
  • 23.
     Bobot tabletyang diinginkan adalah 400 mg sedangkan bobot asetosal yang dipakai adalah 250 mg sehingga dibutuhkan pengisi berupa laktosa anhidrat untuk menggenapkan bobot tablet hingga 400 mg. Pemilihan laktosa anhidrat ini karena laktosa anhidrat lebih stabil dibandingkan bentuk.  Tablet asetosal dibuat menggunakan metode granulasi kering sehingga diperlukan pengikat yang dapat menyatukan zat aktif dengan berbagai zat tambahan lainya agar menjadi granul yang baik yang dapat meningkatkan sifat alir dan kompresiblitas dari asetosal. Maka ditambahkan pengikat berupa PVP kedalam sediaan untuk mengikat serbuk menjadi granul. Pemilihan PVP sebagai pengikat karena PVP kompatibel terhadap asetosal, selain itu PVP memiliki daya rekat yang baik sehingga dapat meningkatkan kompresibilitas dari serbuk yang akan dibuat granul.
  • 24.
     Tablet yangbaik harus dapat terdisintegrasi sebelum 30 menit di saluran cerna agar dapat cepat terabsorbsi dan menimbulkan efek pada tubuh. Oleh karena itu tablet asetosal ditambahkan amilum untuk mempercepat disintegrasi dari tablet baik pada fase dalam maupun pada fase luar.  Granul dikhawatirkan tersendat di hopper pada saat pengisian die, apabila hal ini terjadi dapat mengakibatkan bobot tablet yang dihasilkan tidak seragam. Maka ditambahkan glidantt kedalam sediaan agar tablet dapat mengalir dengan baik di hopper, glidant yang dipilih pada sediaan ini adalah Talkum, pemilihan talkum sebagai glidantt adalah karena talkum dapat mengurangi gaya elektrosatis yang muncul pada di hopper pada saat pengisian die sehingga serbuk tidak akan tersendat pada saat pengisian die pada hopper.
  • 25.
     Pada prosespencetakan tablet menggunakan mesin pencetak tablet dapat terjadi friksi antara die dengan serbuk yang dapat menimbulkan panas dan dapat merusak mesin, sehingga friksi tersebut harus dikurangi bahkan dihilangkan menggunakan lubrikan. Oleh karena itu, ditambahkan Mg-stearat kedalam sediaan sebagai lubrikan agar meminimalisir friksi yang terjadi pada saat proses pencetakan tablet. Namun dikarenakan asetosal dan Mg-stearat inkompatibel maka Mg-stearat dihilangkan dari formula dan sebagai gantinya talkum dinaikkan kadarnya agar dapat berfungsi sebagai lubrikan selain sebagai glidan
  • 29.
    A. Milling 1. Asetosaldiayak menggunakan ayakan mesh 40. 2. PVP diayak menggunakan ayakan mesh 40. 3. Amptotab diayak menggunakan ayakan mesh 40. 4. Laktosa diayak menggunakan ayakan mesh 40. 5. Talkum diayak menggunakan ayakan mesh 40 untuk pencampuran di fase dalam dan diayak menggunakan ayakan mesh 60 untuk fase luar 6. Amilum diayak menggunakan ayakan mesh 60.
  • 30.
    A. Penimbangan Bahan Penimbangan Fase Dalam 1. Asetosal yang telah diayak ditimbang sebanyak 125 g di kertas perkamen. 2. PVP yang telah diayak ditimbang sebanyak 4 g di kertas perkamen. 3. Amprotab yang telah diayak ditimbang sebanyak 20 g di kertas perkamen. 4. Laktosa yang telah diayak ditimbang sebanyak 35 g di kertas perkamen.  Penimbangan Fase Luar 1. Amylum yang telah diayak ditimbang sebanyak g di kertas perkamen. 2. Talkum yang telah diayak ditimbang sebanyak g di kertas perkamen.
  • 31.
    A. Pembuatan Tablet 1.Asetosal, PVP, amprotab, dan laktosa dicampurkan dengan setengah bagian fase luar (glidan dan lubrikan) menggunakan turbula mixer hingga homogen. 2. Campuran tersebut dibuat menjadi slug menggunakan punch yang berdiameter besar pada tekanan mesin tablet yang tinggi atau dapat juga menggunakan roller compactor dengan mengatur tekanan yang diberikan. 3. Slug yang sudah jadi digiling kassar dan diayak menggunakan ayakan mesh 12, sehingga dihasilkan granul-granul kasar. 4. Evaluasi dilakukan terhadap granul yang dihasilkan, apabila belum memenuhi syarat maka slugging dapat diulangi hingga diperoleh granul yang memenuhi syarat. 5. Slugging maksimum dilakukan hingga 3 kali (menghindari perubahan fisika atau kimia bahan karena pengaruh mekanik). 6. Granul yang diperoleh ditimbang lalu dilakukan perhitungan jumlah fase luar yang harus ditambahkan. 7. Sisa fase luar dicampur dengan granul yang telah memenuhi syarat dnegan jumlah yang sesuai dengan hasil perhitungan. 8. Massa cetak kempa dengan menggunakan punch sesuai bobot tablet yang telah dihitung. 9. Dilakukan evaluasi terhadap tablet yang dihasilkan.