BAB VI
Penafsiran dalam Hukuk Pajak
Penafsiran Hist0ris
Penafsiran istoris adalah penafsiran atas suatu
undang-undang melihat pada sejarah dibuatnya
suatu undang-undang. Untuk dapat memahami
penafsiran historis yang demikian, tentu hanya
dapat diketahui dari dokumen-dokumen rapat pada
waktu dibuatnya undang-undang. Misalnya
dokumen rapat antaraprmerintah dan DPR.
Penafsiran Sosiologis
penafsiran sosiologis adalah penafsiran atas
suatu ketentuan dalam undang-undang yang
disesuaikan dalam perkembangan kehidupan
masyarakat.
Penafsiran Sistematik
Penafsiran sistematik adalah penafsiran atas
ketentuan dalam undang-undang dengan
mengaitkan dengan ketentuan (pasal-pasal) lain dari
undang-undang lainya.
Karena undang-undang terdiri atas pasal-
pasal,sehingga membentuk suatu siatem sistem yang
saling berhubungan.
Penafsiran Otentik
Penafsiran Otentik adalah penafsiran atas suatu
ketentuan dalam undang-undang dengan melihat
pada apa yang telah dijelaskan pada undang-undang
tersebut.
Biasanya dalam suatu undang-undang terdapat
sebuah pasal mengenai ketentuan umum yang isinya
menjelaskan arti atau maksud dengan ketentuan
yang telah diatur.
Penafsiran Tata Bahasa
Penafsiran tata bahasa adalah penafsiran atas
suatu kententuan dalam undang-undang
berdasarkan bunyi kata-kata secara keseluruhan
dalam kalimat-kalimat yang diosusun oleh pembuat
undang-undang.
Inilah pentingnya pembuatan undang-undang
untuk memilik kata-kata dalam menyusun kalimat
menjadi suatu aturan agar tidak menimbulkan salah
pengertian mnagi masyarakat yang membacanya.
Penafsiran Anologis
Penafsiran anoogis adalah penafsiran atas suatu
ketentuan dalam undang-undang dengan cara
memberi kiasan pada kata-kata yang tercantum
dalam undang-undang, sehingga suatu peristiwa
yang sebenarnya tidak tidak tercantum dalam suatu
ketentuan jadi termasuk berdasarkan analog yang
dibuat.

Bab vi

  • 1.
  • 2.
    Penafsiran Hist0ris Penafsiran istorisadalah penafsiran atas suatu undang-undang melihat pada sejarah dibuatnya suatu undang-undang. Untuk dapat memahami penafsiran historis yang demikian, tentu hanya dapat diketahui dari dokumen-dokumen rapat pada waktu dibuatnya undang-undang. Misalnya dokumen rapat antaraprmerintah dan DPR.
  • 3.
    Penafsiran Sosiologis penafsiran sosiologisadalah penafsiran atas suatu ketentuan dalam undang-undang yang disesuaikan dalam perkembangan kehidupan masyarakat.
  • 4.
    Penafsiran Sistematik Penafsiran sistematikadalah penafsiran atas ketentuan dalam undang-undang dengan mengaitkan dengan ketentuan (pasal-pasal) lain dari undang-undang lainya. Karena undang-undang terdiri atas pasal- pasal,sehingga membentuk suatu siatem sistem yang saling berhubungan.
  • 5.
    Penafsiran Otentik Penafsiran Otentikadalah penafsiran atas suatu ketentuan dalam undang-undang dengan melihat pada apa yang telah dijelaskan pada undang-undang tersebut. Biasanya dalam suatu undang-undang terdapat sebuah pasal mengenai ketentuan umum yang isinya menjelaskan arti atau maksud dengan ketentuan yang telah diatur.
  • 6.
    Penafsiran Tata Bahasa Penafsirantata bahasa adalah penafsiran atas suatu kententuan dalam undang-undang berdasarkan bunyi kata-kata secara keseluruhan dalam kalimat-kalimat yang diosusun oleh pembuat undang-undang. Inilah pentingnya pembuatan undang-undang untuk memilik kata-kata dalam menyusun kalimat menjadi suatu aturan agar tidak menimbulkan salah pengertian mnagi masyarakat yang membacanya.
  • 7.
    Penafsiran Anologis Penafsiran anoogisadalah penafsiran atas suatu ketentuan dalam undang-undang dengan cara memberi kiasan pada kata-kata yang tercantum dalam undang-undang, sehingga suatu peristiwa yang sebenarnya tidak tidak tercantum dalam suatu ketentuan jadi termasuk berdasarkan analog yang dibuat.