1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Untuk menjalankan suatu usaha maka kita memerlukan modal yang
tidak sedikit. Apalagi kita juga membutuhkan barang-barang modal untuk
menjalankan suatu usaha tersebut, agar kita dapat menjalankan suatu usaha
dengan lancar maka kita membutuhkan suatu lembaga untuk memperoleh
suatu dana usaha, lembaga ini dinamakan leasing.
Leasing atau sewa-guna-usaha adalah setiap kegiatan pembiayaan
perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk
digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan
pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih bagi
perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang
bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai
sisa uang yang telah disepakati bersama.
Dengan melakukan leasing perusahaan dapat memperoleh barang
modal dengan jalan sewa beli untuk dapat langsung digunakan
berproduksi, yang dapat diangsur setiap bulan, triwulan atau enam bulan
sekali kepada pihak lessor.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan pemaparan penulis dalam latar belakang tersebut
diatas, penulis dalam makalah ini akan membahas :
2
1. Apa penegrtian dari leasing ?
2. Siapa pihak – pihak yang terlibat dalam leasing ?
3. Bagaimana penggolongan peusahaan leasing ?
4. Bagaimana proses dan transaksi leasing ?
5. Bagaimana jenis dan teknik pembiayaan leasing ?
6. Apa kerugian dan keuntungan pembiayaan leasing ?
7. Apa contoh perusahaan pembiayaan leasing ?
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN LEASING
Leasing adalah suatu kegiatan pembiayaan kepada perusahan
(badan hukum) atau perorangan dalam bentuk pembiayaan barang modal.
Pembayaran kembali oleh peminjam dilakukan oleh peminjam dilakukan
secara berkala, dan dalam jangka waktu menengah atau panjang.
Perusahaan yang menyelenggarakan leasing disebut lessor, sedangkan
perusahaan yang mengajukan leasing disebut dengan lessee.1
Selanjutnya dengan kebijaksanaan deregulasi 20 desember 1988,
ketentuan bisnis leasing yang diterbitkan sebelumnya dinyatakan tidak
berlaku lagi. Bisnis leasing kemudian diberi nama sewa guna usaha sesuai
dengan keputusan mentri keuangan nomor 1169/KMK 01/1991 tanggal 21
november 1991 yang memberikan definisi “sewa guna usaha adalah
kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang- barang
modal, baik secara sewa guna usaha hak opsi (finance lease) maupun sewa
guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh leases
selama jangka tertentu berdasarkan pembayaran berkala.”2
B. PIHAK – PIHAK YANG TERLIBAT DALAM KEGIATAN
LEASING
Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam proses pemberian fasilitas
leasing adalah sebagai berikut:
1Subagyo, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Ke-2, (Yogyakarta:
Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, 2002), Hlm. 223.
2 Drs. Herman Darmawi . Pasar Finansial Dan Lembaga-Lembaga Finansial,
(Jakarta: Pt. Bumi Aksara,2006) Hlm. 200.
4
1. Lessor.
Merupakan perusahaan leasing yang membiayai keinginan nasabahnya
untuk memperoleh barang-barang modal. Lessor dalam financial lease
bertujuan untuk mendapatkan kembali biaya yang telah dikeluarkan
untuk membiayai barang modal dengan mendapatkan keuntungan.
2. Lessee.
Adalah nasabah yang mengajukan permohonan leasing kepada lessor
untuk memperoleh barang modal yang diinginkan.
3. Supplier.
Yaitu pedagang yang menyediakan barang yang akan dileasing sesuai
perjanjian antara lessors dengan lessee dan dalam hal ini suplier juga
dapat bertindak sebagai lessor. Dalam mekanisme financial lease,
suplier langsung menyerahkan barang kepada lease tanpa melalui pihak
lessor sebagai pihak yang memberikan pembiayaan.3
4. Bank dan kreditur
Dalam suatu perjanjian atau kontrak leasing, pihak bank atau kreditur
lain tidak terlibat secara langsung dalam kontrak tersebut, namun pihak
bank memegang peranan dalam hal penyediaan dana kepada lessor.4
C. Penggolongan perusahaan leasing
Jenis-jenis perusahaan leasing dalam menjalankan kegiatannya
dibagi kedalam tiga 3 (tiga) kelompok yaitu:
1. independent leasing.
Merupakan perusahaan leasing yang berdiri sendiri dapat/sekaligus
sebagai supplier atau membeli barang-barang modal dari supplier lain
untuk disewakan.
3 Kasmir, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Ke-6, Jakarta: Pt Raja
Grafindo Persada, 2002.Hlm.260
4 Drs. Herman Darmawi, Op. Cit, Hlm. 201.
5
2. Captive lessor.
Dalam perusahaan leasing jenis ini, produsen atau supplier mendirikan
perusahaan leasing dan yang mereka sewakan adalah barang-barang
milik mereka sendiri. Tujuan utamanya adalah untuk dapat meningkatkan
penjualan, sehingga mengurangi penumpukan barang digudang/toko.
3. Lease broker.
Perusahaan jenis ini kerjanya hanyalah mempertemukan keinginan-
keinginan lessee untuk memperoleh barang modal kepada pihak lessor
untuk disewakan.5
D. Proses dan Mekanisme Transaksi Leasing
Dalam melakukan perjanjian leasing terdapat proses dan
mekanisme yang harus dijalankan sebagai beikut:
1. Lessee bebas memilih dan menentukan pealatan yang dibutuhkan,
mengadakan penawaran harga dan menunjuk suplaier peralatan.
2. Setelah lessee mengisi formulir permohonan lease, maka dikirimkan
kepada lesor disertai dokumen lengkap.
3. Lesse mengefaluasi kelayakan kredit dan memutuskan untuk
memberikan fasilitas lease dengan syarat dan kondisi yang disetujui
lessee lalu ditanda tangani.
4. Pada saat yang sama lease dapat menanda tangani kontrak asuransi
seperti yang tercantum dalam kontrak lease
5. Kontrak pemberian pealatan akan ditanda tangani lessor dengan
suplaier peralatan tersebut.
6. Suplaier dapat mengirimkan peralatan yang dilease ke lokasi lessee.
Untuk mempertahankan dan memelihara kondisi peralatan tersebut,
supplier akan menandatangani perjanjian tersebut.
5 Kasmir, Op. Cit., hlm.262-263
6
7. Lessee menandatangani tanda terima peralatan dan menyerahkan
kepada supplier.
8. Supplier menyerahkan tanda terima ( yang diterima dari lessee), bukti
pemilikan dan pemindahan pemilikan kepada lessor.
9. Lessor membayar harga peralatan yang dileasee kepada supplier.
10. Lesse membayar sewa lease secara periodik sesuai dengan jadwal
pembayaran yang telah ditentukan dalam kontrak lease.6
E. Jenis dan teknik pembiayaan leasing
Ada dua macam pembiayaan yang diberikan oleh perusahaan
leasing, yaitu:
1. Operating leasing
Adalah usaha leasing, dimana pihak lessee hanya membayar sewa
pembiayaan (rental) sesuai perjanjian, tanpa diikuti dengan pemilikan
barang modal tersebut oleh lessee pada akhir masa perjanjian. Dalam
praktiknya lessor biasanya membeli barang modal dari supplier atau
pihak lain terlebi dahulu, kemudian pihak lessee akan membayar rental
sejumlah tertentu, tanpa memperhitungkan terlalu rinci biaya yang telah
dikeluarkan oleh lessor.
2. Financial lease
Adalah usaha leasing, dimana selain membayar sewa yang ditetapkan,
pada akhirnya masa kontrak pembiayaan lessee akan membeli barang-
barang modal tersebut berdasarkan sisa yang disepakati bersama.7
Teknik pembiayaan leasing dapat dilihat dari jenis transaksi leasing
yang secara garis besar dapat dibagi dua kategori pembiayaan yaitu
finance lease dan operating lease.
6 ThomasSuyatno, KelembagaanPerbankan, (Jakarta: PT Grafindo Pustaka
Utama, 1999) Hlm 59
7 Subagyo, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Ke-2, (Yogyakarta:
Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, 2002). Hlm. 224
7
1. Finance Lease.
Adalah suatu bentuk pembiayaan dengan cara kontrak antara lessor
dan lessee dengan ketentuan sebagai berikut:
a. lessor sebagai pemilik barang atau objek leasing yang dapat
berupa barang bergerak ataupun benda tidak bergerak memiliki
umur maksimum sama dengan masa kegunaan ekonomis barang
tersebut.
b. Lessee berkewajiban membayar kepada lessor secara berkala
sesuai dengan jumlah dan jangka waktu yang disetujui. Jumlah
tersebut merupakan angsuran atau lease payment yang terdiri dari
biaya perolehan barang ditambah dengan semua biaya lainnya
yang dikeluarkan lessor dan tingkat keuntungan.
c. Lessor dalam jangka waktu pengembalian yang disetujui tidak
dapat secara sepihak mengakhiri masa kontrak atau pemakaian
barang tersebut. Risiko ekonomis termasuk biaya pemeliharaan
dan biaya lainnya yang berhubungan dengan barang yang di-lease
ditanggung oleh lessee.
d. Lessee pada akhir periode kontrak memiliki hak opsi untuk
membeli barang tersebut sesuai dengan nilai sisa yang disepakati
untuk menggembalikan pada lessor atau memperpanjang masa
lesse sesuai dengan syarat-syarat yang disetujui bersama.
Ciri-ciri finance lease antara lain :
a) Objek leasing tetap milik lessor sampai dilakukannya hak opsi
b) Barang modal bisa dalam bentuk barang bergerak / tidak bergerak
c) Masa sewa barang modal sama dengan umur ekonomisnya
d) Jumlah lease payment = jumlah biaya perolehan + biaya-biaya
lainnya + spread
e) Lessor tidak dapat secara sepihak mengakhiri masa kontrak (non-
cancellablea), atau akan dikenakan denda
8
f) Risiko ekonomis misalnya biaya pemeliharaan ditanggung lessee
g) Transaksi keuangan
h) Full pay out
i) Disertai hak opsi beli sesuai dengan residual value
j) Lessor tidak boleh menyusutkan barang modal.8
2. Operating Lease.
Adalah suatu perjanjian kontrak antara lessor dan lessee dengan
ketentuan sebagai berikut:
a. Lessor sebagai pemilik objek leasing kemudian menyerahkan
kepada pihak lessee untuk digunakan dengan jangka waktu relatif
lebih pendek dari pada umur ekonomis barang modal tersebut.
b. Lessor atau pengguna barang modal tersebut membayar sejumlah
sewa secara berkala kepada lessor yang jumlahnya tidak meliputi
jumlah keseluruhan biaya perolehan barang tersebut beserta
bunganya.
c. Lessor menanggung segala risiko ekonomis dan pemeliharaan
atas barang-barang tersebut.
d. Lessee pada akhir kontrak harus mengembalikan objek lease pada
lessor.
e. Lease biasanya dapat membatalkan perjanjian kontrak leasing
sewaktu-waktu.9
F. Keunggulan dan Kerugian pembiayaan leasing
Keunggulan dari pembiayaan leasing diantaranya adalah sebagai
berikut:
8 Y. Sri Susilo Dkk, Bank Dan Lembaga Keuangan Lain (Jakarta: Salemba
Empat, 2000). Hlm 74
9 Drs. Herman Darmawi . Pasar Finansial Dan Lembaga-Lembaga Finansial,
(Jakarta: PT. Bumi Aksara,2006) Hlm.207-210
9
1. Fleksibilitas penanaman karena memungkinkan pendayagunaan infesasi
dana secara optimum.10
2. Menghemat modal.
Penggunaan sistem leasing memungkinkan lessee menghemat modal
kerja. Untuk memulai usaha, lessee tidak perlu menyediakan dana
dalam jangka besar untuk menyiapkan barang-barang modal.
3. Pemanfaatan sistem leasing memungkinkan pihak lessee menghemat
modal kerja, karena untuk memulai produksinya, lessee tidak harus
menyediakan barang dalam jumlah besar untuk membeli mesin-mesin,
dan sebagainya.
4. Resiko keusangan.
Dalam keadaan yang serba tidak menentu, operating leasee terhadap
risiko keusangan sehingga lessee tidak perlu mempertimbangkan risiko
pada tahap dini yang mungkin terjadi.
5. Menciptakan keuntungkan dari pengaruh inflasi.
Pembayaran sewa bersifat tetap dan dalam jangka menengah atau
panjang. Oleh karena itu, nilai riil sewa akan turun jika terjadi inflasi
dalam perekonomian.
6. Menguntungkan arus kas.
Keluwesan pengaturan pembayaran sewa sangatlah penting dalam
perencanaan arus dana karena pengaturan ini akan mempunyai dampak
yang berarti bagi pendapatan lessee.
7. Kemudahan penyusunan anggaran.
Adanya pembayaran sewa secara berkala yang jumlahnya relatif tetap
akan memudahkan dalam penyusunan anggaran tahunan lessee dapat
memilih cara pembayaran sewa secara bulanan atau kesepakatan
lainnya disamping adanya kebebasan dalam penentuan dasar suku
bunga tetap atau mengambang.11
10 Dr. Faried Wijaya M., M.A. Lembaga-Lembaga Keuangan Dan Keuangan,
Edisi Ke-2. Yogyakarta: Bpfe, 1991. Hlm. 387
11 Totok Budisantoso, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Ke-2,
(Jakarta: Salemba Empat, 2006), Hlm. 196-197.
10
Sedangkan kerugian menggunakan leasing antara lain adalah
sebagai berikut :
1. Hak kepemilikan barang hanya akan berpindah apabila kewajiba lease
telah diselesaikan dan hak opsi digunakan.
2. Seandainya terjadi pembatalan suatu perjanjian sewa guna usaha, maka
kemungkinanbiaya yang ditimbulkan cukup besar.
3. Barang modal yang diperoleh oleh lease tidak dapat dijadikan
jaminan untuk memperoleh kredit.
4. Resiko yang melekat pada peralatan atau barang modal itu
sendiri. Kemungkinan adanya kenakalan penyewa guna usaha untuk
melakukan jual atau sewa kepada pihak sewa guna usaha yang lain.
5. Fluktuasi bunga. Adanya fluktuasi bunga menimbulkan resiko bunga
bagi perusahaan sewa guna usaha, karena antara investasi dalam barang
yang disewa guna usaha dengan sumber dana pembelanjaan tidak
sesuai.
G. Contoh perusahaan leasing
Perusahaan leasing yang berdiri sendiri atau independent dari
supplier/ produsen. Perusahaan dapat memperoleh barang dari berbagai
supplier/produsen. Contoh : Adira, WOM, SOF (Summit Oto Finance),
FIF (Federal International Finance- Honda) CAPTIVE LESSOR
Perusahaan leasing yang didirikan sendiri oleh produsen untuk membiayai
penjualan produk-produknya.
Perusahaan leasing yang mempertemukan calon lessee dengan
pihak lessor yang membutuhkan barang dengan cara leasing. Perusahaan
ini juga dapat memberikan jasa-jasa yang dibutuhkan dalam leasing seperti
pendanaan dan barang, tetap dalam fungsinyasebagai penghubung, seperti
: Era, Mentari, Ray White, Columbia, Columbus.
11
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Sewa guna usaha adalah kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk
penyediaan barang- barang modal, baik secara sewa guna usaha hak
opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating
lease) untuk digunakan oleh leases selama jangka tertentu berdasarkan
pembayaran berkala.
2. Pihak – pihak dalam pembiayaan leasing adalah Lessor, Lessee dan
Supplier.
3. Jenis-jenis perusahaan leasing terdiri dari Independent leasing, Captive
lessor dan Lease broker
4. Jenis dan teknik pembiayaan leasing terdapat dua macam pembiayaan
yang diberikan oleh perusahaan leasing, yaitu Operating leasing dan
Financial lease
5. Keunggulan dari pembiayaan leasing antara lain fleksibilitas,
menghemat modal, menghemat modal kerja, menciptakan keuntungkan
dari pengaruh inflasi, menguntungkan arus kas sedangkan kerugian dari
pembiayaan leasing antara lain hak kepemilikan barang hanya akan
berpindah apabila kewajiba lease telah diselesaikan dan hak opsi
digunakan, kemungkinanbiaya yang ditimbulkan cukup besar, barang
modal tidak dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh kredit, resiko
yang melekat pada peralatan atau barang modal itu sendiri, fluktuasi
bunga.
6. Contoh perusahaan leasing independent yaitu Adira, WOM, SOF
(Summit Oto Finance), FIF (Federal International Finance-
Honda) CAPTIVE LESSOR sedangkan Perusahaan leasing yang
mempertemukan calon lessee dengan pihak lessor yang membutuhkan
barang dengan cara leasing yaitu antara lain Era, Mentari, Ray White,
Columbia, Columbus.
12
DAFTAR PUSTAKA
Subagyo, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Ke-2, (Yogyakarta:
Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, 2002)
Dr. Faried Wijaya M., M.A. Lembaga-Lembaga Keuangan Dan Keuangan,
Edisi Ke-2. Yogyakarta: BPFE, 1991.
Drs. Herman Darmawi . Pasar Finansial Dan Lembaga-Lembaga Finansial,
(Jakarta: Pt. Bumi Aksara,2006)
Kasmir, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Ke-6, Jakarta: Pt Raja
Grafindo Persada, 2002
Totok Budisantoso, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Ke-2,
(Jakarta: Salemba Empat, 2006),
Y. Sri Susilo Dkk, Bank Dan Lembaga Keuangan Lain (Jakarta: Salemba
Empat, 2000).
Thomas Suyatno, KelembagaanPerbankan, (Jakarta: PT Grafindo Pustaka
Utama, 1999)

Bab i

  • 1.
    1 BAB I PENDAHULUAN A. LATARBELAKANG Untuk menjalankan suatu usaha maka kita memerlukan modal yang tidak sedikit. Apalagi kita juga membutuhkan barang-barang modal untuk menjalankan suatu usaha tersebut, agar kita dapat menjalankan suatu usaha dengan lancar maka kita membutuhkan suatu lembaga untuk memperoleh suatu dana usaha, lembaga ini dinamakan leasing. Leasing atau sewa-guna-usaha adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa uang yang telah disepakati bersama. Dengan melakukan leasing perusahaan dapat memperoleh barang modal dengan jalan sewa beli untuk dapat langsung digunakan berproduksi, yang dapat diangsur setiap bulan, triwulan atau enam bulan sekali kepada pihak lessor. B. IDENTIFIKASI MASALAH Berdasarkan pemaparan penulis dalam latar belakang tersebut diatas, penulis dalam makalah ini akan membahas :
  • 2.
    2 1. Apa penegrtiandari leasing ? 2. Siapa pihak – pihak yang terlibat dalam leasing ? 3. Bagaimana penggolongan peusahaan leasing ? 4. Bagaimana proses dan transaksi leasing ? 5. Bagaimana jenis dan teknik pembiayaan leasing ? 6. Apa kerugian dan keuntungan pembiayaan leasing ? 7. Apa contoh perusahaan pembiayaan leasing ?
  • 3.
    3 BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIANLEASING Leasing adalah suatu kegiatan pembiayaan kepada perusahan (badan hukum) atau perorangan dalam bentuk pembiayaan barang modal. Pembayaran kembali oleh peminjam dilakukan oleh peminjam dilakukan secara berkala, dan dalam jangka waktu menengah atau panjang. Perusahaan yang menyelenggarakan leasing disebut lessor, sedangkan perusahaan yang mengajukan leasing disebut dengan lessee.1 Selanjutnya dengan kebijaksanaan deregulasi 20 desember 1988, ketentuan bisnis leasing yang diterbitkan sebelumnya dinyatakan tidak berlaku lagi. Bisnis leasing kemudian diberi nama sewa guna usaha sesuai dengan keputusan mentri keuangan nomor 1169/KMK 01/1991 tanggal 21 november 1991 yang memberikan definisi “sewa guna usaha adalah kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang- barang modal, baik secara sewa guna usaha hak opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh leases selama jangka tertentu berdasarkan pembayaran berkala.”2 B. PIHAK – PIHAK YANG TERLIBAT DALAM KEGIATAN LEASING Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam proses pemberian fasilitas leasing adalah sebagai berikut: 1Subagyo, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Ke-2, (Yogyakarta: Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, 2002), Hlm. 223. 2 Drs. Herman Darmawi . Pasar Finansial Dan Lembaga-Lembaga Finansial, (Jakarta: Pt. Bumi Aksara,2006) Hlm. 200.
  • 4.
    4 1. Lessor. Merupakan perusahaanleasing yang membiayai keinginan nasabahnya untuk memperoleh barang-barang modal. Lessor dalam financial lease bertujuan untuk mendapatkan kembali biaya yang telah dikeluarkan untuk membiayai barang modal dengan mendapatkan keuntungan. 2. Lessee. Adalah nasabah yang mengajukan permohonan leasing kepada lessor untuk memperoleh barang modal yang diinginkan. 3. Supplier. Yaitu pedagang yang menyediakan barang yang akan dileasing sesuai perjanjian antara lessors dengan lessee dan dalam hal ini suplier juga dapat bertindak sebagai lessor. Dalam mekanisme financial lease, suplier langsung menyerahkan barang kepada lease tanpa melalui pihak lessor sebagai pihak yang memberikan pembiayaan.3 4. Bank dan kreditur Dalam suatu perjanjian atau kontrak leasing, pihak bank atau kreditur lain tidak terlibat secara langsung dalam kontrak tersebut, namun pihak bank memegang peranan dalam hal penyediaan dana kepada lessor.4 C. Penggolongan perusahaan leasing Jenis-jenis perusahaan leasing dalam menjalankan kegiatannya dibagi kedalam tiga 3 (tiga) kelompok yaitu: 1. independent leasing. Merupakan perusahaan leasing yang berdiri sendiri dapat/sekaligus sebagai supplier atau membeli barang-barang modal dari supplier lain untuk disewakan. 3 Kasmir, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Ke-6, Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada, 2002.Hlm.260 4 Drs. Herman Darmawi, Op. Cit, Hlm. 201.
  • 5.
    5 2. Captive lessor. Dalamperusahaan leasing jenis ini, produsen atau supplier mendirikan perusahaan leasing dan yang mereka sewakan adalah barang-barang milik mereka sendiri. Tujuan utamanya adalah untuk dapat meningkatkan penjualan, sehingga mengurangi penumpukan barang digudang/toko. 3. Lease broker. Perusahaan jenis ini kerjanya hanyalah mempertemukan keinginan- keinginan lessee untuk memperoleh barang modal kepada pihak lessor untuk disewakan.5 D. Proses dan Mekanisme Transaksi Leasing Dalam melakukan perjanjian leasing terdapat proses dan mekanisme yang harus dijalankan sebagai beikut: 1. Lessee bebas memilih dan menentukan pealatan yang dibutuhkan, mengadakan penawaran harga dan menunjuk suplaier peralatan. 2. Setelah lessee mengisi formulir permohonan lease, maka dikirimkan kepada lesor disertai dokumen lengkap. 3. Lesse mengefaluasi kelayakan kredit dan memutuskan untuk memberikan fasilitas lease dengan syarat dan kondisi yang disetujui lessee lalu ditanda tangani. 4. Pada saat yang sama lease dapat menanda tangani kontrak asuransi seperti yang tercantum dalam kontrak lease 5. Kontrak pemberian pealatan akan ditanda tangani lessor dengan suplaier peralatan tersebut. 6. Suplaier dapat mengirimkan peralatan yang dilease ke lokasi lessee. Untuk mempertahankan dan memelihara kondisi peralatan tersebut, supplier akan menandatangani perjanjian tersebut. 5 Kasmir, Op. Cit., hlm.262-263
  • 6.
    6 7. Lessee menandatanganitanda terima peralatan dan menyerahkan kepada supplier. 8. Supplier menyerahkan tanda terima ( yang diterima dari lessee), bukti pemilikan dan pemindahan pemilikan kepada lessor. 9. Lessor membayar harga peralatan yang dileasee kepada supplier. 10. Lesse membayar sewa lease secara periodik sesuai dengan jadwal pembayaran yang telah ditentukan dalam kontrak lease.6 E. Jenis dan teknik pembiayaan leasing Ada dua macam pembiayaan yang diberikan oleh perusahaan leasing, yaitu: 1. Operating leasing Adalah usaha leasing, dimana pihak lessee hanya membayar sewa pembiayaan (rental) sesuai perjanjian, tanpa diikuti dengan pemilikan barang modal tersebut oleh lessee pada akhir masa perjanjian. Dalam praktiknya lessor biasanya membeli barang modal dari supplier atau pihak lain terlebi dahulu, kemudian pihak lessee akan membayar rental sejumlah tertentu, tanpa memperhitungkan terlalu rinci biaya yang telah dikeluarkan oleh lessor. 2. Financial lease Adalah usaha leasing, dimana selain membayar sewa yang ditetapkan, pada akhirnya masa kontrak pembiayaan lessee akan membeli barang- barang modal tersebut berdasarkan sisa yang disepakati bersama.7 Teknik pembiayaan leasing dapat dilihat dari jenis transaksi leasing yang secara garis besar dapat dibagi dua kategori pembiayaan yaitu finance lease dan operating lease. 6 ThomasSuyatno, KelembagaanPerbankan, (Jakarta: PT Grafindo Pustaka Utama, 1999) Hlm 59 7 Subagyo, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Ke-2, (Yogyakarta: Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, 2002). Hlm. 224
  • 7.
    7 1. Finance Lease. Adalahsuatu bentuk pembiayaan dengan cara kontrak antara lessor dan lessee dengan ketentuan sebagai berikut: a. lessor sebagai pemilik barang atau objek leasing yang dapat berupa barang bergerak ataupun benda tidak bergerak memiliki umur maksimum sama dengan masa kegunaan ekonomis barang tersebut. b. Lessee berkewajiban membayar kepada lessor secara berkala sesuai dengan jumlah dan jangka waktu yang disetujui. Jumlah tersebut merupakan angsuran atau lease payment yang terdiri dari biaya perolehan barang ditambah dengan semua biaya lainnya yang dikeluarkan lessor dan tingkat keuntungan. c. Lessor dalam jangka waktu pengembalian yang disetujui tidak dapat secara sepihak mengakhiri masa kontrak atau pemakaian barang tersebut. Risiko ekonomis termasuk biaya pemeliharaan dan biaya lainnya yang berhubungan dengan barang yang di-lease ditanggung oleh lessee. d. Lessee pada akhir periode kontrak memiliki hak opsi untuk membeli barang tersebut sesuai dengan nilai sisa yang disepakati untuk menggembalikan pada lessor atau memperpanjang masa lesse sesuai dengan syarat-syarat yang disetujui bersama. Ciri-ciri finance lease antara lain : a) Objek leasing tetap milik lessor sampai dilakukannya hak opsi b) Barang modal bisa dalam bentuk barang bergerak / tidak bergerak c) Masa sewa barang modal sama dengan umur ekonomisnya d) Jumlah lease payment = jumlah biaya perolehan + biaya-biaya lainnya + spread e) Lessor tidak dapat secara sepihak mengakhiri masa kontrak (non- cancellablea), atau akan dikenakan denda
  • 8.
    8 f) Risiko ekonomismisalnya biaya pemeliharaan ditanggung lessee g) Transaksi keuangan h) Full pay out i) Disertai hak opsi beli sesuai dengan residual value j) Lessor tidak boleh menyusutkan barang modal.8 2. Operating Lease. Adalah suatu perjanjian kontrak antara lessor dan lessee dengan ketentuan sebagai berikut: a. Lessor sebagai pemilik objek leasing kemudian menyerahkan kepada pihak lessee untuk digunakan dengan jangka waktu relatif lebih pendek dari pada umur ekonomis barang modal tersebut. b. Lessor atau pengguna barang modal tersebut membayar sejumlah sewa secara berkala kepada lessor yang jumlahnya tidak meliputi jumlah keseluruhan biaya perolehan barang tersebut beserta bunganya. c. Lessor menanggung segala risiko ekonomis dan pemeliharaan atas barang-barang tersebut. d. Lessee pada akhir kontrak harus mengembalikan objek lease pada lessor. e. Lease biasanya dapat membatalkan perjanjian kontrak leasing sewaktu-waktu.9 F. Keunggulan dan Kerugian pembiayaan leasing Keunggulan dari pembiayaan leasing diantaranya adalah sebagai berikut: 8 Y. Sri Susilo Dkk, Bank Dan Lembaga Keuangan Lain (Jakarta: Salemba Empat, 2000). Hlm 74 9 Drs. Herman Darmawi . Pasar Finansial Dan Lembaga-Lembaga Finansial, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,2006) Hlm.207-210
  • 9.
    9 1. Fleksibilitas penanamankarena memungkinkan pendayagunaan infesasi dana secara optimum.10 2. Menghemat modal. Penggunaan sistem leasing memungkinkan lessee menghemat modal kerja. Untuk memulai usaha, lessee tidak perlu menyediakan dana dalam jangka besar untuk menyiapkan barang-barang modal. 3. Pemanfaatan sistem leasing memungkinkan pihak lessee menghemat modal kerja, karena untuk memulai produksinya, lessee tidak harus menyediakan barang dalam jumlah besar untuk membeli mesin-mesin, dan sebagainya. 4. Resiko keusangan. Dalam keadaan yang serba tidak menentu, operating leasee terhadap risiko keusangan sehingga lessee tidak perlu mempertimbangkan risiko pada tahap dini yang mungkin terjadi. 5. Menciptakan keuntungkan dari pengaruh inflasi. Pembayaran sewa bersifat tetap dan dalam jangka menengah atau panjang. Oleh karena itu, nilai riil sewa akan turun jika terjadi inflasi dalam perekonomian. 6. Menguntungkan arus kas. Keluwesan pengaturan pembayaran sewa sangatlah penting dalam perencanaan arus dana karena pengaturan ini akan mempunyai dampak yang berarti bagi pendapatan lessee. 7. Kemudahan penyusunan anggaran. Adanya pembayaran sewa secara berkala yang jumlahnya relatif tetap akan memudahkan dalam penyusunan anggaran tahunan lessee dapat memilih cara pembayaran sewa secara bulanan atau kesepakatan lainnya disamping adanya kebebasan dalam penentuan dasar suku bunga tetap atau mengambang.11 10 Dr. Faried Wijaya M., M.A. Lembaga-Lembaga Keuangan Dan Keuangan, Edisi Ke-2. Yogyakarta: Bpfe, 1991. Hlm. 387 11 Totok Budisantoso, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Ke-2, (Jakarta: Salemba Empat, 2006), Hlm. 196-197.
  • 10.
    10 Sedangkan kerugian menggunakanleasing antara lain adalah sebagai berikut : 1. Hak kepemilikan barang hanya akan berpindah apabila kewajiba lease telah diselesaikan dan hak opsi digunakan. 2. Seandainya terjadi pembatalan suatu perjanjian sewa guna usaha, maka kemungkinanbiaya yang ditimbulkan cukup besar. 3. Barang modal yang diperoleh oleh lease tidak dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh kredit. 4. Resiko yang melekat pada peralatan atau barang modal itu sendiri. Kemungkinan adanya kenakalan penyewa guna usaha untuk melakukan jual atau sewa kepada pihak sewa guna usaha yang lain. 5. Fluktuasi bunga. Adanya fluktuasi bunga menimbulkan resiko bunga bagi perusahaan sewa guna usaha, karena antara investasi dalam barang yang disewa guna usaha dengan sumber dana pembelanjaan tidak sesuai. G. Contoh perusahaan leasing Perusahaan leasing yang berdiri sendiri atau independent dari supplier/ produsen. Perusahaan dapat memperoleh barang dari berbagai supplier/produsen. Contoh : Adira, WOM, SOF (Summit Oto Finance), FIF (Federal International Finance- Honda) CAPTIVE LESSOR Perusahaan leasing yang didirikan sendiri oleh produsen untuk membiayai penjualan produk-produknya. Perusahaan leasing yang mempertemukan calon lessee dengan pihak lessor yang membutuhkan barang dengan cara leasing. Perusahaan ini juga dapat memberikan jasa-jasa yang dibutuhkan dalam leasing seperti pendanaan dan barang, tetap dalam fungsinyasebagai penghubung, seperti : Era, Mentari, Ray White, Columbia, Columbus.
  • 11.
    11 BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN 1.Sewa guna usaha adalah kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang- barang modal, baik secara sewa guna usaha hak opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh leases selama jangka tertentu berdasarkan pembayaran berkala. 2. Pihak – pihak dalam pembiayaan leasing adalah Lessor, Lessee dan Supplier. 3. Jenis-jenis perusahaan leasing terdiri dari Independent leasing, Captive lessor dan Lease broker 4. Jenis dan teknik pembiayaan leasing terdapat dua macam pembiayaan yang diberikan oleh perusahaan leasing, yaitu Operating leasing dan Financial lease 5. Keunggulan dari pembiayaan leasing antara lain fleksibilitas, menghemat modal, menghemat modal kerja, menciptakan keuntungkan dari pengaruh inflasi, menguntungkan arus kas sedangkan kerugian dari pembiayaan leasing antara lain hak kepemilikan barang hanya akan berpindah apabila kewajiba lease telah diselesaikan dan hak opsi digunakan, kemungkinanbiaya yang ditimbulkan cukup besar, barang modal tidak dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh kredit, resiko yang melekat pada peralatan atau barang modal itu sendiri, fluktuasi bunga. 6. Contoh perusahaan leasing independent yaitu Adira, WOM, SOF (Summit Oto Finance), FIF (Federal International Finance- Honda) CAPTIVE LESSOR sedangkan Perusahaan leasing yang mempertemukan calon lessee dengan pihak lessor yang membutuhkan barang dengan cara leasing yaitu antara lain Era, Mentari, Ray White, Columbia, Columbus.
  • 12.
    12 DAFTAR PUSTAKA Subagyo, BankDan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Ke-2, (Yogyakarta: Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, 2002) Dr. Faried Wijaya M., M.A. Lembaga-Lembaga Keuangan Dan Keuangan, Edisi Ke-2. Yogyakarta: BPFE, 1991. Drs. Herman Darmawi . Pasar Finansial Dan Lembaga-Lembaga Finansial, (Jakarta: Pt. Bumi Aksara,2006) Kasmir, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Ke-6, Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada, 2002 Totok Budisantoso, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Ke-2, (Jakarta: Salemba Empat, 2006), Y. Sri Susilo Dkk, Bank Dan Lembaga Keuangan Lain (Jakarta: Salemba Empat, 2000). Thomas Suyatno, KelembagaanPerbankan, (Jakarta: PT Grafindo Pustaka Utama, 1999)