BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA 
2.1 PERDARAHAN POST PARTUM 
2.1.1 Pengertian perdarahan post partrum 
Menurut RP.Prabowo 2007 dalam buku Asuhan Kegawatdaruratan 
dalam kebidanan tahun 2009, Perdarahan post partum adalah 
perdarahan 500cc atau lebih setelah kalla III selesai ( setelah 
plasenta lahir ). ( Maryuani dan Yulianingsih, 2009: 102 ) . Selain 
itu, perdarahan post partum menurut kamus saku istilah dan 
singkatan kata-kata dalam kebidanan yaitu perdarahan pervaginam 
yang melebihi 500 ml setelah bersalin dan biasanya menyebabkan 
kehilangan banyak darah. (Maryuani,2009:101) 
Definisi perdarahan post partum adalah perdarahan yang melebihi 
500 ml atau lebih setelah bayi lahir. Kondisi dalam persalinan 
menyebabkan kesulitan untuk menentukan jumlah perdarahan 
yang terjadi. Pada umumnya terjadi perdarahan yang lebih dari 
normal, apalagi telah menyebabkan perubahan tanda vital seperti : 
Kesadaran menurun,pucat,limbung,berkringat dingin,sesak 
napas,serta tensi < 90 mmhg dan nadi >100/menit . 
(Prawiroharjdo,2008:523 )
2.1.2 Jenis Perdarahan Post Partum 
Jenis perdarahan post partum 
a. Perdarahan Post Partum Dini /Perdarahan Post Partum Primer 
yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah kala II 
b. Perdarahan pada Masa Nifas / Perdarahan Post Partum 
Sekunder, terjadi pada masa nifas namun tidak termasuk 24 
jam pertama setelah kala III 
( Maryunani,2009:101 ) 
2.1.3 Etiologi 
Penyebab terjadinya perdarahan post partum antra lain : 
a. Antonia uteri 
Antonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus atau kontraksi 
rahim yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup 
perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah 
bayi dan plasenta lahir. (Prawirohardjo,2008,524 ) 
1. Etiologi 
a. Persalinan lama 
b. Persalinan terlalu cepat 
c. Persalinan yang sering 
d. Anastesi yang dalam 
e. Persalinan dengan induksi atau akselerasi oksitosin 
f. Polihidramnion,kehamilan kembar,makrosomia
g. Usaha mengeluarkan plasenta dengan menijit dan 
mendorong rahim ke bawah sementara plasenta belum 
lepas dari rahim. ( Maryunani, 2009,111 ) 
2. Diagnosis 
Diagnosis di tegakkan bila setelah bay dan plasenta lahir 
ternyata perdarahan masih aktif dan banyak dan bergumpal 
dan pada palpasi di dapatkan fundus uteri masih setinggi 
pusat atau lebih dengan kontraksi lembek. ( 
Pawirohardjo,2008,525 ) 
3. Penatalaksanaan 
a. Kenali dan tegakkan diagnosis kerja antonia uteri. 
b. Masase uterus, berikan oksitosin bila ada perbaikan / 
perdarahan berhenti, oksitosin di lanjutkan perinfus. 
c. Bila tidak ada perbaikan di lakukan Kompresi Bimanual 
dan kemudian di pasang tampon, kalau cara ini berhasil 
pertahankan selama 24 jam 
d. Kompresi bimanual eksternal 
Menekan uterus melalui dinding abdomen dengan jalan 
saling mendekatkan kedua belah kepalan tanggan yang 
melingkupi uteru s, pantau aliran darah yang keluar,bila 
perdarahan berkurang , pertahnkan hinnga uterus
berkontraksi dengan baik. Bila blm berhasil maka 
lakukan kompresi aorta abdominalis. 
e. Kompresi bimanual internal 
Uterus di tekan di antara telapak tangan pada dinding 
adomen dan tinju tangan dalam vagina untuk menjepit 
pembulu darah di dalam miometrium. Perhatikan 
perdarahaan yg terjadi. Pertahankan jika perdarahan 
berhenti dan pertahankan selama 2 menit. Tunggu 
sampai uterus berkontraksi dengan baik. Bila 
perdarahan masih ada maka lakukan KBE. 
f. Kompresi aorta abdominalis 
Raba uteri femoralis dengan ujung jari tangan 
kiri,pertahankan posisi tersebut, genggam tangan kanan 
kemudian tekankan pada daerah umbilikus, tegak lurus 
dengan sumbu badan , hinggga mencapai kolumna 
vertebralis. Lihat hasil kompresi dan perhatikan 
perdarahan yang terjadi. 
( Mochtar, 1998:302 ) 
b. Retensio plasenta 
1. Definisi retensio plasenta 
Retensio plasenta adalah tertahannya atau tertahannya atau 
belum lahirnya plasenta hingga atau dari 30 menit setelah 
bayi lahir. Hamoir sebagian besar gangguan pelepasan
plasenta disebabkan oleh gangguan kontraksi uterus ( 
Maryunani,2008:116) 
2. Klasifikasi Retensio Plasenta 
Retensio plasenta terdiri dari beberapa jenis, antara lain : 
a. Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari 
jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan 
kegagalan mekanisme separasi fisiologis. 
b. Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion pasenta 
hingga mencapai sebagian lapisan miometrium. 
c. Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion 
plasenta hingga mencapai / melewati lapisan 
miometrium. 
d. Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion 
plasenta yang menembus lapisan miometrium hingga 
mencapai lapisan serosa dinding uterus. 
e. Plasenta inkarserata adalah tertahannya plasenta di 
dalam kavum uteri, di sebabkan oleh konstriksi ostium 
uteri. (Nugroho,2010 ) 
3. Penatalaksanaan Retensio Plasenta 
a. Tentukan jenis retensio yang terjadi karena berkaitan 
dengan tindakan yang akan di ambil.
b. Renggangkan tali pusat dan mints pasien untuk 
mengedan. Bila ekspulsi plasenta tidak terjadi, coba 
traksi terkontrol tali pusat. 
c. Pasang infus oksitosin 20 IU dalam 500 ml NS/RL 
dengan 40 tetes/menit. Bila perlu kombinasikan dengan 
misoprospol 400 mg/rektal (sebaiknya tidak 
menggunakan ergometrin karena kontraksi tonik yang 
timbul dapat menyebabkan plasenta tertangkap dalam 
kavum uteri. ) 
d. Bila traksi terkontrol gagal untuk melahirkan plasenta, 
lakukan manual plasenta secara hati –hati dan halus 
untuk menghindari terjadinya perforasi dan perdarahan. 
e. Lakukan tranfusi darah apabilandi perlukan 
f. Beri antibiotika profilaksis ( ampisilin 2gr IV/oral 
+metronidazol 1gr supositoria /oral ) 
g. Rujuk pasien ke rumah sakit terdekat bila terjadi 
kompikasi perdarahan hebat, infeksi,syok,neurogenik 
plasenta inkarserata. ( Sarwono,2008:527 ) 
c. Perlukaan jalan lahir 
1. Klasifikasi 
a. Ruptur perineum dan robekan dinding vagina tingkat 
perlukaan perineum dapat di bagi dalam :
1 ) Tingkat I : bila di perlukan hanya terbatas pada mukosa 
vagina atau kulit erineum 
2) Tingkat II : adanya perlukaan yang lebih dalam dan luas 
ke vagina dan perineum dengan melukai fasia serta otot 
-otot diafragma urogenital 
3) Tingkat III : perlukaan yang lebih luas dan labih dalam 
yang menyebabkan muskulus sfingter ani eksternus 
terputus di depan 
b. Robekan serviks 
robekan serviks sering terjadi pada sisi lateral karena 
serviks yang terjulur akan mengalami robekan pada posisi 
spina isiadika tertekan oleh kepala bayi. Robekan serviks 
yang luas menimbulkan perdarahan dan dapat manjalar 
kebawah segmen uterus (Maryunani, 2009:114 )an 
2. Faktor Resiko 
a. Makrosomia 
b. Malpresentasi 
c. Partus presipitatus 
d. Distosia bahu 
( Nugroho,2010 ) 
3. Penatalaksanaan 
Ruptur perienium dan robekan dinding vagina
a. Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi lokasi laserasi 
dan sumber perdarhan. 
b. Lakukan irigasi pada tempat lukan dan bubuhi larutan 
antiseptic. 
c. Jepit ujung klem sumber predarahan dan ikat dengan 
benang yang dapat diserap. 
d. Lakukan penjahitan luka mulai dari bagian yang paling 
distal dari operastor. 
e. Khusus pada ruptur perineum komplit (anus hingga rektum) 
lakukan penjahitan lapis demi lapis dengan bantuan busi 
pada rektum,sbb : 
1) Setelah prosedur aseptik-antiseptik,pasang busi pada 
rektum hingga ujung robekan 
2) Mulai penjahitan dari ujung robekan denngan jahitan 
dan simpul submukosa,menggunakan benang 
poliglikolik no.2/0 (dexon/vicry )hingga ke sfingterani. 
Jepit kedua sfingter ani dengan klem dan jahit dengan 
benag no. 2/0 
3) Lakukan penjahitan ke lapisan otot perineum dan 
submukosa dengan yang sama / kromik 2/0 secara 
jelujur. 
4) Mukosa vagina dan kulit perineum di jahit secara 
submukosa dan subkutikuler
5) Berikan antibiotika profilaksis (ampisilin 2g dengan 
metronidazol 1g /oral ). Terapi antibiotika di berikan 
penuh apabila lluka tampak kotor /di bubuhi rammuan 
tradisional / terdapat tanda-tanda infeksi yang jelas. 
Penatalaksanaan robekan servik : 
1. Bila kontraksi uterus baik, plasenta lahir lengkap, tetapi terjadi 
perdarahan banyak, maka segera lihat bagian lateral bawah kiri dari 
portio. 
2. Jepitkan klem ovarium pada kedua sisi portio yang robek sehingga 
perdarahan dapat segeera di hentikan. Jika setelah eksplorasi 
lanjutkan tidak di jumpai robekan lain, lakukan penjahitan.Jahitan 
di mulai dari ujung robekan kemudian ke arah luar sehingga semua 
robekan dapat di jahit 
3. Setelah tindakan,periksa tanda vital pasien, kontraksi uterus, tinggi 
fundus uteri dan perdarahan pasca tindakan. 
4. Beri antibiotika profilaksis, kecuali bila jelas di temui tanda-tanda 
infeksi. 
5. Bila terdapat defisit cairan, lakukan restorasi dan bila kadar hb 
<8g%, berikan tranfusi darah. 
D. Penyakit darah 
Kelainan pembekuan darah, misalnya afibrinogenemia atau 
hipofibrinogenia. Tanda yang sering di jumpai antara lain :
1. Perdarahan yang banyak 
2. Solusio plasenta 
3. Kematian janin yang lama dalam kandungan 
4. Preeklamsia dan eklamsia 
5. Infeksi,hepatittis dan syok septic 
( Maryunanik,2009:105 ) 
E. Inversio uteri 
1. Definisi 
Inversio uteri dalam kamus saku istilah dan singkatan kata-kata 
dalam kebidanan adalah uterus berputar terbalik sehingga fundus 
uteri teraba dalam intoitus vagina atau nampak menonjol di luar 
pukas dengan selaput lendir di sebelah luar. 
2. Klasifikasi 
a. Inversio eteri ringan : fundus uteri terbalik menonjol ke dalam 
kavum namun belum keluar dari ruang rangga rahim. 
b. Inversio uteri sedang : fundus uteri sudah terbalik dan suda 
masuk kedalam vagina 
c. Inversio uteri berat : uterus dan vagina semuanya terbalik dan 
sebagian sudah keluar vagina 
3. Etiologi 
a. Spontan : Grande multipara, antonia uteri, kelemahan alat 
kandungan,tekanan intra abdominal yang tinggi (mengejan dan 
batuk )
b. Tindakan : Cara Crade yang berlebihan, tarikan tali pusat, 
manual plasenta yang dipaksakan,perlekatan plasenta pada 
dinding rahim. 
F. Subinvolusio uterus 
Kegagalan uterus untuk mengikuti pola normal involusio, dan keadaan 
ini merupakan salah satu dari penyebab terumum perdarahan pasca 
persalinan. ( maryunanik,2009:118 ) 
2.2 Faktor-Faktor Terjadinya Perdarahan Postpartum 
2.2.1 USIA 
Perdarahan post partum yang mengakibatkan kematian maternal 
pada wanita hamil yang melahirkan pada usia di bawah 20 tahun 2- 
5 kali lebih tinggi dari pada pendarahan postpartum yang terjadi 
pada usia 30-35 tahun. Pada usia wanita di bawah 20 tahun fungsi 
reproduksi wanita belum berkembang dengan sempurna, sedangkan 
dengan usia di atas a3a5 tahun fungsi reproduksi seorang wanita 
sudah mengalami penurunan di bandingkan fungsi reproduksi yang 
normal sengga kemungkinan terjadi komplikasi pasca persalinan ( 
Prawiroharjdo,2007:23 ) 
2.2.2 Paritas 
Paritas adalah wanita yang pernah melahirkan bayi aterem ( 
manuaba,2008 ). Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman di 
tinjau dari perdarahan pasca persalinan yang dapat mengakibatkan
ematian maernal, Paritas 1 dan >4 mempunyai angka kejadian 
perdarahan persalinan lebih tinggi. Paritas 1 yaitu ketidak siapan 
ibu untuk menghadapi pesalinan yang pertama merupakan faktor 
penyebab ketidak mampuan ibu hamil dalam menangani 
komplikasi yang terjadi selama kehamilan, persalinan dan nifas 
(the Unofical. Site of FK Unsri http://fkunsri.wordpress.com )Pada 
nulipara dan grande multi paritas (1 dan ≥4) memiliki angka indeks 
resiko yang memungkinkan mengalami resiko tinggi pada 
kehamilan dan persalinan,sedangkan pada multipara paritas (2- 
3)tidak memiliki indeks resiko dan di pandang aman. 
(manuaba,2006:39 ) 
2.2.3 Gravida 
Wanitabdengan kehamilan lebih dari satu atau yang termasuk 
multigravida mempunyai resiko lebih tinggi terhadap terjadinya 
perdarahan pasca persalinan di bandingkan dengan ibu- ibu yang 
termasuk golongan primigravida. Hal ini di sebabkan karena pada 
multigravida menglami penurunan fungsi reproduksi sehingga 
kemungkinan terjadi perdarahan pasca persalinan lebih besar. 
2.2.4 Antenatal care 
Tujuan umu antenatal care adalah menyiapkan seopto,al mungkin 
fisik dan mental inu ban bayi dalam kehamilan,persalinan dan nifas 
sehingga angka morbiditas dan mortalitas ibu serta anak dapat di 
turunkan.
Pemeriksaan antenatal yang baik dan tersedianya tempat rukujukan 
bagi kasus resiko tinggi terutama prdarahan yang selalu mungkin 
terjadi setelah persalinan yang mengakibatkan kematian maternal 
dapat di turunkan. Hal ini disebabkan karena adanya antenatal care 
tanda-tanda dini perdarahan yang berlebih dapat dideteksi dan di 
tanggulangi dengan cepat. 
2.2.5 Kadar hemoglobin 
Anemia adalah suatu keadaan yang di tandai dengan penurunan 
kadar Hb kurang dari 8gr%. Perdarahan pasca persalinan 
menyebabkan kehilangan darah sebanyak 500ml atau lebih dan jika 
ini di biarkan tanpa ada penanganan yang tepat dan akurat akan 
mengakibatkan turunnya kadar Hb di bawah nilai normal ( 
saifudin,2006 :173 ). 
2.2.6 Riwayat persalinan yang kurang baik 
Riwayat perdarahan pada persalinan yang terdahulu dan hasol 
pemeriksaan waktu bersalin, yaitu : 
1. Persalinan/kalla II yang terlalu cepat, sebagai contoh setelah 
ekstraksi vakum, forsep. 
Uterus terlalu terenggang, misalnya pada hidramniom, 
kehamilan kembar, anak besar.
2.3 Kerangka Teori 
Berdasarkan uraian teori yang telah di jelaskan, maka dapat di gambarkan 
skema kerangka teori faktor resiko terjadinya post partum sebagai berikut : 
Gambar 2.1Kerangka teori 
Antonia pTUYTIJG 
uteri 
Retensio plasenta 
Perlukaan jalan lahir 
Penyakit darah 
Inversio uteri 
Subinvolusio uterus 
Usia 
Paritas 
Gravida 
Antenatal 
Kadar HB 
Persalinan 
PERDARAHAN POST 
PARTUM 
Sumber : Buku Asuhan Kegawatdaruratan Dalam Kebidanan Tahun 2009 
2.4 Kerangka Konsep 
Kerangka konsep dalam penelitian pada dasarnya adalah kerangka 
hubungan antara konsep-konsep yang ingin di amati atau di ukur melalui 
penelitian –penelitian. ( Aprina, 2012:107 dan 108 ) 
Dalam penelitian ini, kerangka konsep yang digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.2 
Kerangka konsep 
Variabel Independen Variabel Dependen 
2.5 Hipotesis 
Usia Post Partum 
Hipotesis adalah penjelasan sementara tentang tingkah laku, gejala –gejala, 
atau kejadian tertentu yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Hipotesis di 
dalam penelitian berarti jawaban sementara penelitian, patokan dugaan atau 
dalil sementara, yang kebenarannya akan di buktikan dalam penelitian ( 
Aprina,2012:112 ). Maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: 
Ha: ada hubungan antara usia dengan kejadian Perdarahan Post Partum 
di RSUAM bandar lampung tahun 2013.
BAB III 
METODE PENELITIAN 
3.1 Desain penelitian 
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif yaitu penelitian 
ilmiah yang memiliki criteria seperti: berdasarkan fakta,bebas prasangka, 
menggunakan prinsip dan menggunakan data kuantitatif atau yang 
dikuantitatifkan. (Aprina,2012:124) 
3.1.1 Rancangan Penelitian 
Penelitian yang di gunakan yaitu analitik dengan pendekatan case 
control, dengan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data 
sekaligus pada saat ( point time approach). Artinya subjek 
penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran di lakukan 
terhadap karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. 
Penelitian ini akan mencari hubungan usia dengan kejadian 
perdarahan postpartum .( Notoatmodjo,2005:145) 
3.2 Lokasi penelitian 
Penelitian di laksanakan di ruang Kebidanan RSUAM Bandar 
lampug.dengan alasan terdapat kasus kejadian perdarahan post partum di 
RSUAM Bandar lampung. 
3.3 Populasi dan sampel 
3.1.1 Populasi 
Populasi adalah keseluruhan dari unit analisis yang 
karakteristiknya akan di teliti. (Aprina,2012:150).pada
penelitian ini populasi yang di gunakan adalah semua ibu 
bersalin di RSUAM Bandar lampung Periode Januari –maret 
tahun 2013 yaitu 468 ibu bersalin. 
3.1.2 Sampel 
Sampel adalah sebagian yang di ambil dari keseluruhan objek 
yang di teliti dan di anggap mewakili dari keseluruhan objek 
yang di teliti dan dianggap mewakili seluruh populasi 
(Notoatmodjo,2005). Dalam penelitian ini di gunakan sampel 
seluruh ibu bersalin di RSUAM Bandar lampung Periode 
Januari-maret yaitu 468 ibu bersalin 
3.4 Variabel Penelitian 
Varabel adalah sesuatu yang di gunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran 
yang dimiliki atau di dapatkan oleh satuan penelitian tentang suatu 
konsep pengertian tertentu (Notoatmodjo,2005:70). Dalam penelitian ini 
penulis menggunakan variabel bebas (independen) dan variabel terikat 
(dependen). Variabel yang di gunakan adalah usia,sedangkan Variabel 
terikat yaitu kejadian perdarahan post partum di RSUAM Bandar 
lampung tahun 2013. 
3.5 Definisi Oprasional 
Definisi Oprasional adalah batasa pada variabel-vriabel yang diamati 
atau di teliti untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan 
terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan 
intrumen atau alat ukur ( Notoatmodjo,2005:46).
Definisi opasional dalam penelitian ini adalah : 
N 
o 
Variabel 
Definisi 
Operasional 
Cara Ukur Alat Ukur 
Hail 
Ukur 
Skala 
1 
Dependen 
Perdarahan 
post partum 
Perdarahan 500cc 
atau lebih setelah 
kalla III selesai 
Dokumentasi 
Check list 
0= Tidak 
1= Ya 
Ordinal 
2 
Independen 
Kurun waktu 
yang di tempuh 
oleh ibu sejak di 
lahirkan sampai 
saat melahirkan 
Dokumentasi 
Check list 
0=Tidak 
beresiko 
(20-35 
tahun) 
1=Beresi 
ko 
(<20/>35 
tahun) 
Ordinal 
3.6 Alat ukur peneliti 
Instrumen yang di gunakan 
Intrumen dalam penelitian cara atau pun alat untuk mengumpulkan data 
dalam pekerjaan peneliti (Azwar,2003:57).alat ukur yang di gunakan 
adalah ceklist yang berisi tentang adanya hubungan usia dengan kejadian 
perdarahan post partum. 
a. Perdarahan post partum
Pengukuran variabel perdarahan post partum dengan 
menggunakan ceklist dengan melihan data rekam medik 
diagnosa yang ada perdarahan post partum . bila mengalami 
perdarahan post partum di beri nilai 1 dan bila tidak diberi nilai 0 
b. Usia 
Pengukuran variabel usia dengan menggunakan cheklis dengan 
melihat data rekam medik. Ibu beresiko (<20 tahun atau >35 
tahun) di beri nilai 0 dan bila tidak beresiko (20-35 tahun )di beri 
nilai 1. 
3.6.1 Pengumpulan Data 
Cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan 
menggunakan data sekunder yaitu data yang di ambil dari 
rekam medik RSUAM Bandar lampung. 
3.6.2 Cara pengolahan data 
1. Editing 
Proses pemeriksaan kembali data di lapangan untuk 
mengetahui apakah data itu cukup baik atau akurat untuk 
keperluan proses berikutnya. Kegiatan yang di lakukan 
adalah memeriksa apakah terdapat kekeliruan atau tidak 
dalam pengesian lembar observasi.
2. Coding 
Coding merupakan kegiatan pemberian kode nimerik pada 
data yang terdiri dari beberapa katagori. Untuk 
memudahkan pembacaanya yaitu: kode 1 jawaban ya dan 
kode 0 untuk jawaban tidak. 
3. Processing 
Procesing adalah memproses data agar dapat dianalisa. 
Pemrosesan data di lakukan data dengan cara memasukan 
data dari lembar pengambilan data ke dalam tabel di dalam 
computer sehingga distribusi frekkuensi dan hubungan 
dapat diketahui. 
4. Cleaning ( Pembersihan data ) 
Kegiatan pengecekan kembali oleh peneliti data yang sudah 
di proses untuk memastikan bahwa data tersebut telah 
bersih dari kesalahan dalam pengkodingan ataupun dalam 
membaca objek 
(Notoatmojo,2010:176 ) 
3.7 Analisis Data 
3.7.1 Analisis Univariat 
Data yang terkumpul dlam penelitian ini dianalisa secara 
univariat yang di lakukan terhadap vaiabel dari hasil penelitian.
Pada umum nya dalam analisis ini hanya menghasilkan 
distribusi frekkuensi dan presentasi dari tiap variabel ( 
Notoatmodjo,2005:188). Untuk dat katagorik dianallisis untuk 
mengetahui distribusi presentasi dan frekuensi. Analisis 
univariat di lakukan untuk melihat distribusi frekuensi dengan 
menggunakan rumus presetasi dengan menggunakan rumus 
presentase dan diolah dengan program SPSS. 
3.7.2 Analisi bivariat 
Analisis bivariat di gunakan untuk dua variabel yaitu variabel 
independen dan dependen yang di duga berhubungan atau 
berkorelasi ( Notoatmodjo,2005:188 ). Dalam penelitian ini 
peneliti menggunakan uji chi-square ( 푥 2 ), adalah teknik 
statistik yang di gunakan untuk menguji hipotesis bila dalam 
polulasi terdiri dari 2 atau lebih data nominal. Pengujian ini 
degan cara menbandingkan frekuensi yang diamati dengan 
frekuensi yang diamati dengan frekuensi yang di harapkan 
apakah ada perbedaan bermaknaDan di olah menggunakan 
program SPSS. 
Confidence interval (CI) yang di gunakan adalah 95% 
kepurusan uji statistik adalah :
a. p value ≤ 0,05 maka ada hunungan signifikan antara 
variabel independen dan variabel dependen yang di teliti 
b. p value ≥ 0,05 maka secara statistik tidak ada hbungan 
antara variabel independen dan variabel dependen yang di 
teliti. 
3.8 Jadwal penelitian 
NO Waktu Uraian 
1. Januari – Maret 2015 Melakukan penelitian

materi baru

  • 1.
    BAB II TINJAUANPUSTAKA 2.1 PERDARAHAN POST PARTUM 2.1.1 Pengertian perdarahan post partrum Menurut RP.Prabowo 2007 dalam buku Asuhan Kegawatdaruratan dalam kebidanan tahun 2009, Perdarahan post partum adalah perdarahan 500cc atau lebih setelah kalla III selesai ( setelah plasenta lahir ). ( Maryuani dan Yulianingsih, 2009: 102 ) . Selain itu, perdarahan post partum menurut kamus saku istilah dan singkatan kata-kata dalam kebidanan yaitu perdarahan pervaginam yang melebihi 500 ml setelah bersalin dan biasanya menyebabkan kehilangan banyak darah. (Maryuani,2009:101) Definisi perdarahan post partum adalah perdarahan yang melebihi 500 ml atau lebih setelah bayi lahir. Kondisi dalam persalinan menyebabkan kesulitan untuk menentukan jumlah perdarahan yang terjadi. Pada umumnya terjadi perdarahan yang lebih dari normal, apalagi telah menyebabkan perubahan tanda vital seperti : Kesadaran menurun,pucat,limbung,berkringat dingin,sesak napas,serta tensi < 90 mmhg dan nadi >100/menit . (Prawiroharjdo,2008:523 )
  • 2.
    2.1.2 Jenis PerdarahanPost Partum Jenis perdarahan post partum a. Perdarahan Post Partum Dini /Perdarahan Post Partum Primer yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah kala II b. Perdarahan pada Masa Nifas / Perdarahan Post Partum Sekunder, terjadi pada masa nifas namun tidak termasuk 24 jam pertama setelah kala III ( Maryunani,2009:101 ) 2.1.3 Etiologi Penyebab terjadinya perdarahan post partum antra lain : a. Antonia uteri Antonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus atau kontraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir. (Prawirohardjo,2008,524 ) 1. Etiologi a. Persalinan lama b. Persalinan terlalu cepat c. Persalinan yang sering d. Anastesi yang dalam e. Persalinan dengan induksi atau akselerasi oksitosin f. Polihidramnion,kehamilan kembar,makrosomia
  • 3.
    g. Usaha mengeluarkanplasenta dengan menijit dan mendorong rahim ke bawah sementara plasenta belum lepas dari rahim. ( Maryunani, 2009,111 ) 2. Diagnosis Diagnosis di tegakkan bila setelah bay dan plasenta lahir ternyata perdarahan masih aktif dan banyak dan bergumpal dan pada palpasi di dapatkan fundus uteri masih setinggi pusat atau lebih dengan kontraksi lembek. ( Pawirohardjo,2008,525 ) 3. Penatalaksanaan a. Kenali dan tegakkan diagnosis kerja antonia uteri. b. Masase uterus, berikan oksitosin bila ada perbaikan / perdarahan berhenti, oksitosin di lanjutkan perinfus. c. Bila tidak ada perbaikan di lakukan Kompresi Bimanual dan kemudian di pasang tampon, kalau cara ini berhasil pertahankan selama 24 jam d. Kompresi bimanual eksternal Menekan uterus melalui dinding abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua belah kepalan tanggan yang melingkupi uteru s, pantau aliran darah yang keluar,bila perdarahan berkurang , pertahnkan hinnga uterus
  • 4.
    berkontraksi dengan baik.Bila blm berhasil maka lakukan kompresi aorta abdominalis. e. Kompresi bimanual internal Uterus di tekan di antara telapak tangan pada dinding adomen dan tinju tangan dalam vagina untuk menjepit pembulu darah di dalam miometrium. Perhatikan perdarahaan yg terjadi. Pertahankan jika perdarahan berhenti dan pertahankan selama 2 menit. Tunggu sampai uterus berkontraksi dengan baik. Bila perdarahan masih ada maka lakukan KBE. f. Kompresi aorta abdominalis Raba uteri femoralis dengan ujung jari tangan kiri,pertahankan posisi tersebut, genggam tangan kanan kemudian tekankan pada daerah umbilikus, tegak lurus dengan sumbu badan , hinggga mencapai kolumna vertebralis. Lihat hasil kompresi dan perhatikan perdarahan yang terjadi. ( Mochtar, 1998:302 ) b. Retensio plasenta 1. Definisi retensio plasenta Retensio plasenta adalah tertahannya atau tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau dari 30 menit setelah bayi lahir. Hamoir sebagian besar gangguan pelepasan
  • 5.
    plasenta disebabkan olehgangguan kontraksi uterus ( Maryunani,2008:116) 2. Klasifikasi Retensio Plasenta Retensio plasenta terdiri dari beberapa jenis, antara lain : a. Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis. b. Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion pasenta hingga mencapai sebagian lapisan miometrium. c. Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai / melewati lapisan miometrium. d. Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan miometrium hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus. e. Plasenta inkarserata adalah tertahannya plasenta di dalam kavum uteri, di sebabkan oleh konstriksi ostium uteri. (Nugroho,2010 ) 3. Penatalaksanaan Retensio Plasenta a. Tentukan jenis retensio yang terjadi karena berkaitan dengan tindakan yang akan di ambil.
  • 6.
    b. Renggangkan talipusat dan mints pasien untuk mengedan. Bila ekspulsi plasenta tidak terjadi, coba traksi terkontrol tali pusat. c. Pasang infus oksitosin 20 IU dalam 500 ml NS/RL dengan 40 tetes/menit. Bila perlu kombinasikan dengan misoprospol 400 mg/rektal (sebaiknya tidak menggunakan ergometrin karena kontraksi tonik yang timbul dapat menyebabkan plasenta tertangkap dalam kavum uteri. ) d. Bila traksi terkontrol gagal untuk melahirkan plasenta, lakukan manual plasenta secara hati –hati dan halus untuk menghindari terjadinya perforasi dan perdarahan. e. Lakukan tranfusi darah apabilandi perlukan f. Beri antibiotika profilaksis ( ampisilin 2gr IV/oral +metronidazol 1gr supositoria /oral ) g. Rujuk pasien ke rumah sakit terdekat bila terjadi kompikasi perdarahan hebat, infeksi,syok,neurogenik plasenta inkarserata. ( Sarwono,2008:527 ) c. Perlukaan jalan lahir 1. Klasifikasi a. Ruptur perineum dan robekan dinding vagina tingkat perlukaan perineum dapat di bagi dalam :
  • 7.
    1 ) TingkatI : bila di perlukan hanya terbatas pada mukosa vagina atau kulit erineum 2) Tingkat II : adanya perlukaan yang lebih dalam dan luas ke vagina dan perineum dengan melukai fasia serta otot -otot diafragma urogenital 3) Tingkat III : perlukaan yang lebih luas dan labih dalam yang menyebabkan muskulus sfingter ani eksternus terputus di depan b. Robekan serviks robekan serviks sering terjadi pada sisi lateral karena serviks yang terjulur akan mengalami robekan pada posisi spina isiadika tertekan oleh kepala bayi. Robekan serviks yang luas menimbulkan perdarahan dan dapat manjalar kebawah segmen uterus (Maryunani, 2009:114 )an 2. Faktor Resiko a. Makrosomia b. Malpresentasi c. Partus presipitatus d. Distosia bahu ( Nugroho,2010 ) 3. Penatalaksanaan Ruptur perienium dan robekan dinding vagina
  • 8.
    a. Lakukan eksplorasiuntuk mengidentifikasi lokasi laserasi dan sumber perdarhan. b. Lakukan irigasi pada tempat lukan dan bubuhi larutan antiseptic. c. Jepit ujung klem sumber predarahan dan ikat dengan benang yang dapat diserap. d. Lakukan penjahitan luka mulai dari bagian yang paling distal dari operastor. e. Khusus pada ruptur perineum komplit (anus hingga rektum) lakukan penjahitan lapis demi lapis dengan bantuan busi pada rektum,sbb : 1) Setelah prosedur aseptik-antiseptik,pasang busi pada rektum hingga ujung robekan 2) Mulai penjahitan dari ujung robekan denngan jahitan dan simpul submukosa,menggunakan benang poliglikolik no.2/0 (dexon/vicry )hingga ke sfingterani. Jepit kedua sfingter ani dengan klem dan jahit dengan benag no. 2/0 3) Lakukan penjahitan ke lapisan otot perineum dan submukosa dengan yang sama / kromik 2/0 secara jelujur. 4) Mukosa vagina dan kulit perineum di jahit secara submukosa dan subkutikuler
  • 9.
    5) Berikan antibiotikaprofilaksis (ampisilin 2g dengan metronidazol 1g /oral ). Terapi antibiotika di berikan penuh apabila lluka tampak kotor /di bubuhi rammuan tradisional / terdapat tanda-tanda infeksi yang jelas. Penatalaksanaan robekan servik : 1. Bila kontraksi uterus baik, plasenta lahir lengkap, tetapi terjadi perdarahan banyak, maka segera lihat bagian lateral bawah kiri dari portio. 2. Jepitkan klem ovarium pada kedua sisi portio yang robek sehingga perdarahan dapat segeera di hentikan. Jika setelah eksplorasi lanjutkan tidak di jumpai robekan lain, lakukan penjahitan.Jahitan di mulai dari ujung robekan kemudian ke arah luar sehingga semua robekan dapat di jahit 3. Setelah tindakan,periksa tanda vital pasien, kontraksi uterus, tinggi fundus uteri dan perdarahan pasca tindakan. 4. Beri antibiotika profilaksis, kecuali bila jelas di temui tanda-tanda infeksi. 5. Bila terdapat defisit cairan, lakukan restorasi dan bila kadar hb <8g%, berikan tranfusi darah. D. Penyakit darah Kelainan pembekuan darah, misalnya afibrinogenemia atau hipofibrinogenia. Tanda yang sering di jumpai antara lain :
  • 10.
    1. Perdarahan yangbanyak 2. Solusio plasenta 3. Kematian janin yang lama dalam kandungan 4. Preeklamsia dan eklamsia 5. Infeksi,hepatittis dan syok septic ( Maryunanik,2009:105 ) E. Inversio uteri 1. Definisi Inversio uteri dalam kamus saku istilah dan singkatan kata-kata dalam kebidanan adalah uterus berputar terbalik sehingga fundus uteri teraba dalam intoitus vagina atau nampak menonjol di luar pukas dengan selaput lendir di sebelah luar. 2. Klasifikasi a. Inversio eteri ringan : fundus uteri terbalik menonjol ke dalam kavum namun belum keluar dari ruang rangga rahim. b. Inversio uteri sedang : fundus uteri sudah terbalik dan suda masuk kedalam vagina c. Inversio uteri berat : uterus dan vagina semuanya terbalik dan sebagian sudah keluar vagina 3. Etiologi a. Spontan : Grande multipara, antonia uteri, kelemahan alat kandungan,tekanan intra abdominal yang tinggi (mengejan dan batuk )
  • 11.
    b. Tindakan :Cara Crade yang berlebihan, tarikan tali pusat, manual plasenta yang dipaksakan,perlekatan plasenta pada dinding rahim. F. Subinvolusio uterus Kegagalan uterus untuk mengikuti pola normal involusio, dan keadaan ini merupakan salah satu dari penyebab terumum perdarahan pasca persalinan. ( maryunanik,2009:118 ) 2.2 Faktor-Faktor Terjadinya Perdarahan Postpartum 2.2.1 USIA Perdarahan post partum yang mengakibatkan kematian maternal pada wanita hamil yang melahirkan pada usia di bawah 20 tahun 2- 5 kali lebih tinggi dari pada pendarahan postpartum yang terjadi pada usia 30-35 tahun. Pada usia wanita di bawah 20 tahun fungsi reproduksi wanita belum berkembang dengan sempurna, sedangkan dengan usia di atas a3a5 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan di bandingkan fungsi reproduksi yang normal sengga kemungkinan terjadi komplikasi pasca persalinan ( Prawiroharjdo,2007:23 ) 2.2.2 Paritas Paritas adalah wanita yang pernah melahirkan bayi aterem ( manuaba,2008 ). Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman di tinjau dari perdarahan pasca persalinan yang dapat mengakibatkan
  • 12.
    ematian maernal, Paritas1 dan >4 mempunyai angka kejadian perdarahan persalinan lebih tinggi. Paritas 1 yaitu ketidak siapan ibu untuk menghadapi pesalinan yang pertama merupakan faktor penyebab ketidak mampuan ibu hamil dalam menangani komplikasi yang terjadi selama kehamilan, persalinan dan nifas (the Unofical. Site of FK Unsri http://fkunsri.wordpress.com )Pada nulipara dan grande multi paritas (1 dan ≥4) memiliki angka indeks resiko yang memungkinkan mengalami resiko tinggi pada kehamilan dan persalinan,sedangkan pada multipara paritas (2- 3)tidak memiliki indeks resiko dan di pandang aman. (manuaba,2006:39 ) 2.2.3 Gravida Wanitabdengan kehamilan lebih dari satu atau yang termasuk multigravida mempunyai resiko lebih tinggi terhadap terjadinya perdarahan pasca persalinan di bandingkan dengan ibu- ibu yang termasuk golongan primigravida. Hal ini di sebabkan karena pada multigravida menglami penurunan fungsi reproduksi sehingga kemungkinan terjadi perdarahan pasca persalinan lebih besar. 2.2.4 Antenatal care Tujuan umu antenatal care adalah menyiapkan seopto,al mungkin fisik dan mental inu ban bayi dalam kehamilan,persalinan dan nifas sehingga angka morbiditas dan mortalitas ibu serta anak dapat di turunkan.
  • 13.
    Pemeriksaan antenatal yangbaik dan tersedianya tempat rukujukan bagi kasus resiko tinggi terutama prdarahan yang selalu mungkin terjadi setelah persalinan yang mengakibatkan kematian maternal dapat di turunkan. Hal ini disebabkan karena adanya antenatal care tanda-tanda dini perdarahan yang berlebih dapat dideteksi dan di tanggulangi dengan cepat. 2.2.5 Kadar hemoglobin Anemia adalah suatu keadaan yang di tandai dengan penurunan kadar Hb kurang dari 8gr%. Perdarahan pasca persalinan menyebabkan kehilangan darah sebanyak 500ml atau lebih dan jika ini di biarkan tanpa ada penanganan yang tepat dan akurat akan mengakibatkan turunnya kadar Hb di bawah nilai normal ( saifudin,2006 :173 ). 2.2.6 Riwayat persalinan yang kurang baik Riwayat perdarahan pada persalinan yang terdahulu dan hasol pemeriksaan waktu bersalin, yaitu : 1. Persalinan/kalla II yang terlalu cepat, sebagai contoh setelah ekstraksi vakum, forsep. Uterus terlalu terenggang, misalnya pada hidramniom, kehamilan kembar, anak besar.
  • 14.
    2.3 Kerangka Teori Berdasarkan uraian teori yang telah di jelaskan, maka dapat di gambarkan skema kerangka teori faktor resiko terjadinya post partum sebagai berikut : Gambar 2.1Kerangka teori Antonia pTUYTIJG uteri Retensio plasenta Perlukaan jalan lahir Penyakit darah Inversio uteri Subinvolusio uterus Usia Paritas Gravida Antenatal Kadar HB Persalinan PERDARAHAN POST PARTUM Sumber : Buku Asuhan Kegawatdaruratan Dalam Kebidanan Tahun 2009 2.4 Kerangka Konsep Kerangka konsep dalam penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin di amati atau di ukur melalui penelitian –penelitian. ( Aprina, 2012:107 dan 108 ) Dalam penelitian ini, kerangka konsep yang digambarkan sebagai berikut:
  • 15.
    Gambar 2.2 Kerangkakonsep Variabel Independen Variabel Dependen 2.5 Hipotesis Usia Post Partum Hipotesis adalah penjelasan sementara tentang tingkah laku, gejala –gejala, atau kejadian tertentu yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Hipotesis di dalam penelitian berarti jawaban sementara penelitian, patokan dugaan atau dalil sementara, yang kebenarannya akan di buktikan dalam penelitian ( Aprina,2012:112 ). Maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: Ha: ada hubungan antara usia dengan kejadian Perdarahan Post Partum di RSUAM bandar lampung tahun 2013.
  • 16.
    BAB III METODEPENELITIAN 3.1 Desain penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif yaitu penelitian ilmiah yang memiliki criteria seperti: berdasarkan fakta,bebas prasangka, menggunakan prinsip dan menggunakan data kuantitatif atau yang dikuantitatifkan. (Aprina,2012:124) 3.1.1 Rancangan Penelitian Penelitian yang di gunakan yaitu analitik dengan pendekatan case control, dengan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada saat ( point time approach). Artinya subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran di lakukan terhadap karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. Penelitian ini akan mencari hubungan usia dengan kejadian perdarahan postpartum .( Notoatmodjo,2005:145) 3.2 Lokasi penelitian Penelitian di laksanakan di ruang Kebidanan RSUAM Bandar lampug.dengan alasan terdapat kasus kejadian perdarahan post partum di RSUAM Bandar lampung. 3.3 Populasi dan sampel 3.1.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan dari unit analisis yang karakteristiknya akan di teliti. (Aprina,2012:150).pada
  • 17.
    penelitian ini populasiyang di gunakan adalah semua ibu bersalin di RSUAM Bandar lampung Periode Januari –maret tahun 2013 yaitu 468 ibu bersalin. 3.1.2 Sampel Sampel adalah sebagian yang di ambil dari keseluruhan objek yang di teliti dan di anggap mewakili dari keseluruhan objek yang di teliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo,2005). Dalam penelitian ini di gunakan sampel seluruh ibu bersalin di RSUAM Bandar lampung Periode Januari-maret yaitu 468 ibu bersalin 3.4 Variabel Penelitian Varabel adalah sesuatu yang di gunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau di dapatkan oleh satuan penelitian tentang suatu konsep pengertian tertentu (Notoatmodjo,2005:70). Dalam penelitian ini penulis menggunakan variabel bebas (independen) dan variabel terikat (dependen). Variabel yang di gunakan adalah usia,sedangkan Variabel terikat yaitu kejadian perdarahan post partum di RSUAM Bandar lampung tahun 2013. 3.5 Definisi Oprasional Definisi Oprasional adalah batasa pada variabel-vriabel yang diamati atau di teliti untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan intrumen atau alat ukur ( Notoatmodjo,2005:46).
  • 18.
    Definisi opasional dalampenelitian ini adalah : N o Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hail Ukur Skala 1 Dependen Perdarahan post partum Perdarahan 500cc atau lebih setelah kalla III selesai Dokumentasi Check list 0= Tidak 1= Ya Ordinal 2 Independen Kurun waktu yang di tempuh oleh ibu sejak di lahirkan sampai saat melahirkan Dokumentasi Check list 0=Tidak beresiko (20-35 tahun) 1=Beresi ko (<20/>35 tahun) Ordinal 3.6 Alat ukur peneliti Instrumen yang di gunakan Intrumen dalam penelitian cara atau pun alat untuk mengumpulkan data dalam pekerjaan peneliti (Azwar,2003:57).alat ukur yang di gunakan adalah ceklist yang berisi tentang adanya hubungan usia dengan kejadian perdarahan post partum. a. Perdarahan post partum
  • 19.
    Pengukuran variabel perdarahanpost partum dengan menggunakan ceklist dengan melihan data rekam medik diagnosa yang ada perdarahan post partum . bila mengalami perdarahan post partum di beri nilai 1 dan bila tidak diberi nilai 0 b. Usia Pengukuran variabel usia dengan menggunakan cheklis dengan melihat data rekam medik. Ibu beresiko (<20 tahun atau >35 tahun) di beri nilai 0 dan bila tidak beresiko (20-35 tahun )di beri nilai 1. 3.6.1 Pengumpulan Data Cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data sekunder yaitu data yang di ambil dari rekam medik RSUAM Bandar lampung. 3.6.2 Cara pengolahan data 1. Editing Proses pemeriksaan kembali data di lapangan untuk mengetahui apakah data itu cukup baik atau akurat untuk keperluan proses berikutnya. Kegiatan yang di lakukan adalah memeriksa apakah terdapat kekeliruan atau tidak dalam pengesian lembar observasi.
  • 20.
    2. Coding Codingmerupakan kegiatan pemberian kode nimerik pada data yang terdiri dari beberapa katagori. Untuk memudahkan pembacaanya yaitu: kode 1 jawaban ya dan kode 0 untuk jawaban tidak. 3. Processing Procesing adalah memproses data agar dapat dianalisa. Pemrosesan data di lakukan data dengan cara memasukan data dari lembar pengambilan data ke dalam tabel di dalam computer sehingga distribusi frekkuensi dan hubungan dapat diketahui. 4. Cleaning ( Pembersihan data ) Kegiatan pengecekan kembali oleh peneliti data yang sudah di proses untuk memastikan bahwa data tersebut telah bersih dari kesalahan dalam pengkodingan ataupun dalam membaca objek (Notoatmojo,2010:176 ) 3.7 Analisis Data 3.7.1 Analisis Univariat Data yang terkumpul dlam penelitian ini dianalisa secara univariat yang di lakukan terhadap vaiabel dari hasil penelitian.
  • 21.
    Pada umum nyadalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekkuensi dan presentasi dari tiap variabel ( Notoatmodjo,2005:188). Untuk dat katagorik dianallisis untuk mengetahui distribusi presentasi dan frekuensi. Analisis univariat di lakukan untuk melihat distribusi frekuensi dengan menggunakan rumus presetasi dengan menggunakan rumus presentase dan diolah dengan program SPSS. 3.7.2 Analisi bivariat Analisis bivariat di gunakan untuk dua variabel yaitu variabel independen dan dependen yang di duga berhubungan atau berkorelasi ( Notoatmodjo,2005:188 ). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan uji chi-square ( 푥 2 ), adalah teknik statistik yang di gunakan untuk menguji hipotesis bila dalam polulasi terdiri dari 2 atau lebih data nominal. Pengujian ini degan cara menbandingkan frekuensi yang diamati dengan frekuensi yang diamati dengan frekuensi yang di harapkan apakah ada perbedaan bermaknaDan di olah menggunakan program SPSS. Confidence interval (CI) yang di gunakan adalah 95% kepurusan uji statistik adalah :
  • 22.
    a. p value≤ 0,05 maka ada hunungan signifikan antara variabel independen dan variabel dependen yang di teliti b. p value ≥ 0,05 maka secara statistik tidak ada hbungan antara variabel independen dan variabel dependen yang di teliti. 3.8 Jadwal penelitian NO Waktu Uraian 1. Januari – Maret 2015 Melakukan penelitian