LAPORAN
                  KEGIATAN ON THE JOB LEARNING (OJL)
 PROGRAM PENYIAPAN CALON KEPALA SEKOLAH LPPKS SURAKARTA


              PENGELOLAAN SARANA PRASARANA

A. Rasional
         Keberhasilan program pendidikan melalui proses belajar mengajar
  sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satu di antaranya adalah
  tersedianya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai disertai
  pemanfaatan dan pengelolaan secara optimal. Sarana dan prasarana
  pendidikan merupakan salah satu sumber daya yang penting dan utama dalam
  menunjang proses pembelajarandi sekolah, untuk itu perlu dilakukan
  peningkatan dalam pendayagunaan dan pengelolaannya, agar tujuan yang
  diharapkan dapat tercapai. Dewasa ini masih sering ditemukan banyak sarana
  dan prasarana pendidikan yang dimiliki oleh sekolah yang diterima sebagai
  bantuan, baik dari pemerintah maupun masyarakat yang tidak optimal
  penggunaannya dan bahkan tidak dapat lagi digunakan sesuai dengan
  fungsinya. Hal itu disebabkan antara lain oleh kurangnya kepedulian terhadap
  sarana dan prasarana yang dimiliki serta tidak adanya pengelolaan yang
  memadai.
         Seiring dengan perubahan pola pemerintahan setelah diberlakukannya
  otonomi daerah, maka pola pendekatan manajemen sekolah saat ini berbeda
  pula   dengan    sebelumnya,   yakni   lebih   bernuansa   otonomi.   Untuk
  mengoptimalkan penyediaan, pendayagunaan, perawatan dan pengendalian
  sarana dan prasarana pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan,
  diperlukan penyesuaian manajemen sarana dan prasarana. Sekolah dituntut
  memiliki kemandirian untuk mengatur dan mengurus kepentingan sekolah
  menurut kebutuhan dan kemampuan sendiri serta berdasarkan pada aspirasi
  dan partisipasi warga sekolah dengan tetap mengacu pada peraturan dan
  perundangan-undangan pendidikan nasional yang berlaku. Hal itu terutama
  ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan pada semua jenis dan jenjang
  pendidikan, khususnya pada pendidikan dasar dan menengah.


                                     1
Untuk mewujudkan dan mengatur hal tersebut, maka pemerintah
melalui Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tetang Standar Nasional
Pendidikan yang menyangkut standar sarana dan prasarana pendidikan
secara nasional pada Bab VII Pasal 42 dengan tegas disebutkan bahwa; (1)
Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot,
peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya,
bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang
proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. (2) Setiap satuan
pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang
pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang
perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi,
ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolah raga, tempat beribadah,
tempat bermain, tempat bekreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk
menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
      Standar sarana dan prasarana untuk SMP/MTS mencakup kriteria
minimum sarana dan kriteria minimum prasarana. Hal ini tertuang dengan jelas
pada permen 24 tahun 2007, dengan standar inilah segala sesuatu yang
berhubungan dengan proses pembelajaran di sekolah seharusnya ada,
berfungsi, cukup dalam jumlah dan memenuhi spesifikasi untuk menunjang
proses belajar tersebut.
      Agar proses pengelolaan sarana prasarana di sekolah dapat berjalan
maksimal dalam menunjang proses pembelajaran, maka diperlukan Kepala
Sekolah yang mampu dan memahami tentang manajemen sarana dan
prasarana pendidikan persekolahan berbasis sekolah. Hal ini sesuai dengan
kebijakan yang telah digariskan oleh Depdikanas tentang standar kompetensi
yang harus dimiliki oleh Kepala Sekolah, salah satu di antaranya adalah
dimensi kompetensi manajerial. Dalam hal ini Kepala Sekolah harus memiliki
kemampuan mengelola sarana dan prasarana sekolah dalam rangka
pencapaian tujuan sekolah secara maksimal.




                                    2
B. Tujuan
        Tujuan kajian pengelolaan sarana prasarana adalah agar Calon Kepala
  Sekolah dapat memahami cara-cara pengelolaan         sarana dan prasarana
  sekolah/madrasah sebagai perwujudan kompetensi manajerial calon kepala
  sekolah

C. Kompetensi yang Diharapkan
        Kompetensi yang diharapkan dimiliki calon Kepala Sekolah dapat:
  1. Perencanaan    kebutuhan fasilitas (bangunan, peralatan, perabot, lahan,
     infrastruktur) sekolah sesuai dengan Permen 20 Tahun 2007 tentang
     Standar Sarana dan Prasarana Sekolah/Madrasah;
  2. Pengelolaan pengadaan fasilitas sesuai dengan peraturan yang berlaku;
  3. Pengelolaan    pemeliharaan fasilitas, baik perawatan preventif maupun
     perawatan terhadap kerusakan fasilitas sekolah;
  4. Pengelolaan kegiatan iventaris sarana dan prasarana sekolah sesuai
     dengan sistem pembukuan yang berlaku; dan
  5. Pengelolaan penghapusan barang inventaris sekolah.


D. Langkah-langkah Kegiatan
  Langkah-langkahnya:
  1. Mempelajari sumber materi/referensi dan panduan sarana prasarana
  2. Menyusun instrumen kajian sarana dan prasarana
  3. Melakukan survey ke sekolah dan berkoordinasi dengan pihak sekolah
     untuk menentukan jadwal kajian
  4. Meminjam Dokumen profil sekolah tentang penyediaan sarana dan
     prasarana
  5. Melakukan inventarisasi pengelolaan sarana prasarana di sekolah dengan
     instrumen yang telah disusun
  6. Melakukan analisis terhadap hasil kajian sarana dan prasarana
  7. Melakukan diskusi dengan pihak sekolah (bagian sarana dan prasarana)
     tentang hasil analisis dan menyampaikan temuan-temuan yang perlu
     direvisi dan dikembangkan lebih lanjut



                                      3
E. Hasil Kajian
         Berdasarkan hasil kajian dan wawancara menunjukkan bahwa
   1. Semua sekolah magang sudah             memiliki sarana dan prasarana    untuk
      menunjang proses pembelajaran hanya sebagian belum memadai baik
      kuallitas maupun kuantitas. Di SMP 25 dan SMP 24 untuk media dan
      buku-buku referensi penunjang pembelajaran belum memadai. Sedangkan
      di SMP 2 di ruang kelas sudah terpasang LCD.
   2. Semua sekolah magang memiliki sarana prasarana yang meliputi lahan,
      ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata
      usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, kantin, tempat berolah
      raga, dan tempat beribadah. Tetapi ruang laboratorium di SMP 24 dan SMP
      25 juga belum memadai
   3. Proses perencanaan sarana dan prasarana untuk masing-masing sekolah
      magang        berkaitan dengan: perencanaan, prosedur perencanaan dan
      pengadaan sudah berjalan dengan baik.
   4. Pengadaan         (cara-cara   pengadaan,     prosedur   pengadaan,    proses
      pengadaan dan pengendalian sarana prasarana) juga sudah cukup baik
      dan hampir sama di tiga sekolah magang.
   5. Terkait dengan penyediaan alat dan sumber belajar SMP 25 dan SMP 24
      Surakarta sudah memenuhi kondisi sarana prasarana pendidikan sesuai
      dengan      Standar Pelayanan Minimal, sedangkan untuk SMP Negeri 2
      sudah memenuhi tahapan Standar Nasional Pendidikan.
   6. Pemeliharaan fasilitas dan bangunan sudah dilaksanakan secara rutin dan
      berkala sesuai prosedur yang berlaku.
   7. Inventarisasi sarana dan prasarana        meliputi pengadministrasian barang
      inventaris,    klasifikasi dan kode barang inventaris, dan pelaporan     juga
      sudah baik tetapi belum tertib administrasinya
   8. Penghapusan sarana dan prasarana di SMP 25 dan SMP 2 belum pernah,
      sedangkan di SMP 24 yang sudah             melakukan penghapusan       sesuai
      prosedur yang berlaku yaitu melalui pemusnahan barang-barang yang
      sudah rusak dan pelelangan. Untuk proses pelelangan dilakukan SMP 24
      untuk buku-buku bekas Sekolah Teknik         (ST) yang sudah tidak terpakai).



                                         4
F. Refleksi
         Berdasarkan hasil kajian menunjukkan bahwa             peralatan penunjang
   pembelajaran sebagian besar belum memadai khususnya media pembelajaran
   dan laboratorium. Sedangkan       prosedur pengelolaan sarana prasarana          di
   masing-masing sekolah sudah berjalan baik.


G. Penutup
         Berdasarkan hasil kajian dan refleksi maka dapat diberikan saran tindak
   lanjut berkaitan pengelolaan sarana prasarana sekolah sebagai berikut:
   1. Sekolah magang (khususnya SMP 25 dan SMP 24) perlu                   membuat
      perencanaan dan usulan ke pemerintah atau penggalian dana secara
      mandiri    untuk   pengadaan    sarana       pendidikan    khususnya       media
      pembelajaran dan buku-buku referensi         untuk menunjang pelaksanaan
      pembelajaran.
   2. Sekolah magang (khususnya SMP 25 dan SMP 24) perlu membuat usulan
      untuk pembangunan ruang lab (moving class) ke pemerintah atau
      penggalian dana secara mandiri        agar proses belajar mengajar dapat
      optimal.
   3. Kepala     sekolah    perlu    menertibkan     proses      inventarisasi    dan
      pengadministrasian barang di sekolah masing-masing agar pengelolaan
      sarana prasarana dapat terkendali dengan baik.




DAFTAR PUSTAKA

BSNP, 2010. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
     Nomor 15 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan
     Dasar di Kabupaten/kota. Biro Hukum dan Organisasi Departemen
     Pendidikan Nasional. Kepala Bagian Penyusunan Rancangan Peraturan
     Perundang-undangan dan Bantuan Hukum


BSNP, 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
     Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh
     satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Biro Hukum dan Organisasi
     Departemen Pendidikan Nasional. Kepala Bagian Penyusunan Rancangan
     Peraturan Perundang-undangan dan Bantuan Hukum


                                        5
Depdiknas, 2007. Manajemen          Sarana dan Prasarana Pendidikan
      Persekolahan Berbasis Sekolah. Materi Pendidikan dan Pelatihan Kepala
      Sekolah. Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan
      Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan
      Nasional.

Kemendiknas dan Kemenag RI, 2011. Materi Pelatihan Peningkatan Manajemen
     Melalui Penguatan Tata Kelola dan Akuntabilitas di Sekolah/Madrasah.
     Dirjen Pendidikan Dasar Kementrian Pendidikan Nasional -       Dirjen
     Pendidikan Islam Kementrian Agama RI.

LPPKS, 2011. Bahan Pembelajaran Pengelolaan Sarana dan Prasarana.
     Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah Surakarta.




                                     6

7. mulyati ojl sarpra

  • 1.
    LAPORAN KEGIATAN ON THE JOB LEARNING (OJL) PROGRAM PENYIAPAN CALON KEPALA SEKOLAH LPPKS SURAKARTA PENGELOLAAN SARANA PRASARANA A. Rasional Keberhasilan program pendidikan melalui proses belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satu di antaranya adalah tersedianya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai disertai pemanfaatan dan pengelolaan secara optimal. Sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu sumber daya yang penting dan utama dalam menunjang proses pembelajarandi sekolah, untuk itu perlu dilakukan peningkatan dalam pendayagunaan dan pengelolaannya, agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Dewasa ini masih sering ditemukan banyak sarana dan prasarana pendidikan yang dimiliki oleh sekolah yang diterima sebagai bantuan, baik dari pemerintah maupun masyarakat yang tidak optimal penggunaannya dan bahkan tidak dapat lagi digunakan sesuai dengan fungsinya. Hal itu disebabkan antara lain oleh kurangnya kepedulian terhadap sarana dan prasarana yang dimiliki serta tidak adanya pengelolaan yang memadai. Seiring dengan perubahan pola pemerintahan setelah diberlakukannya otonomi daerah, maka pola pendekatan manajemen sekolah saat ini berbeda pula dengan sebelumnya, yakni lebih bernuansa otonomi. Untuk mengoptimalkan penyediaan, pendayagunaan, perawatan dan pengendalian sarana dan prasarana pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan, diperlukan penyesuaian manajemen sarana dan prasarana. Sekolah dituntut memiliki kemandirian untuk mengatur dan mengurus kepentingan sekolah menurut kebutuhan dan kemampuan sendiri serta berdasarkan pada aspirasi dan partisipasi warga sekolah dengan tetap mengacu pada peraturan dan perundangan-undangan pendidikan nasional yang berlaku. Hal itu terutama ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan pada semua jenis dan jenjang pendidikan, khususnya pada pendidikan dasar dan menengah. 1
  • 2.
    Untuk mewujudkan danmengatur hal tersebut, maka pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tetang Standar Nasional Pendidikan yang menyangkut standar sarana dan prasarana pendidikan secara nasional pada Bab VII Pasal 42 dengan tegas disebutkan bahwa; (1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. (2) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolah raga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat bekreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Standar sarana dan prasarana untuk SMP/MTS mencakup kriteria minimum sarana dan kriteria minimum prasarana. Hal ini tertuang dengan jelas pada permen 24 tahun 2007, dengan standar inilah segala sesuatu yang berhubungan dengan proses pembelajaran di sekolah seharusnya ada, berfungsi, cukup dalam jumlah dan memenuhi spesifikasi untuk menunjang proses belajar tersebut. Agar proses pengelolaan sarana prasarana di sekolah dapat berjalan maksimal dalam menunjang proses pembelajaran, maka diperlukan Kepala Sekolah yang mampu dan memahami tentang manajemen sarana dan prasarana pendidikan persekolahan berbasis sekolah. Hal ini sesuai dengan kebijakan yang telah digariskan oleh Depdikanas tentang standar kompetensi yang harus dimiliki oleh Kepala Sekolah, salah satu di antaranya adalah dimensi kompetensi manajerial. Dalam hal ini Kepala Sekolah harus memiliki kemampuan mengelola sarana dan prasarana sekolah dalam rangka pencapaian tujuan sekolah secara maksimal. 2
  • 3.
    B. Tujuan Tujuan kajian pengelolaan sarana prasarana adalah agar Calon Kepala Sekolah dapat memahami cara-cara pengelolaan sarana dan prasarana sekolah/madrasah sebagai perwujudan kompetensi manajerial calon kepala sekolah C. Kompetensi yang Diharapkan Kompetensi yang diharapkan dimiliki calon Kepala Sekolah dapat: 1. Perencanaan kebutuhan fasilitas (bangunan, peralatan, perabot, lahan, infrastruktur) sekolah sesuai dengan Permen 20 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Sekolah/Madrasah; 2. Pengelolaan pengadaan fasilitas sesuai dengan peraturan yang berlaku; 3. Pengelolaan pemeliharaan fasilitas, baik perawatan preventif maupun perawatan terhadap kerusakan fasilitas sekolah; 4. Pengelolaan kegiatan iventaris sarana dan prasarana sekolah sesuai dengan sistem pembukuan yang berlaku; dan 5. Pengelolaan penghapusan barang inventaris sekolah. D. Langkah-langkah Kegiatan Langkah-langkahnya: 1. Mempelajari sumber materi/referensi dan panduan sarana prasarana 2. Menyusun instrumen kajian sarana dan prasarana 3. Melakukan survey ke sekolah dan berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk menentukan jadwal kajian 4. Meminjam Dokumen profil sekolah tentang penyediaan sarana dan prasarana 5. Melakukan inventarisasi pengelolaan sarana prasarana di sekolah dengan instrumen yang telah disusun 6. Melakukan analisis terhadap hasil kajian sarana dan prasarana 7. Melakukan diskusi dengan pihak sekolah (bagian sarana dan prasarana) tentang hasil analisis dan menyampaikan temuan-temuan yang perlu direvisi dan dikembangkan lebih lanjut 3
  • 4.
    E. Hasil Kajian Berdasarkan hasil kajian dan wawancara menunjukkan bahwa 1. Semua sekolah magang sudah memiliki sarana dan prasarana untuk menunjang proses pembelajaran hanya sebagian belum memadai baik kuallitas maupun kuantitas. Di SMP 25 dan SMP 24 untuk media dan buku-buku referensi penunjang pembelajaran belum memadai. Sedangkan di SMP 2 di ruang kelas sudah terpasang LCD. 2. Semua sekolah magang memiliki sarana prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, kantin, tempat berolah raga, dan tempat beribadah. Tetapi ruang laboratorium di SMP 24 dan SMP 25 juga belum memadai 3. Proses perencanaan sarana dan prasarana untuk masing-masing sekolah magang berkaitan dengan: perencanaan, prosedur perencanaan dan pengadaan sudah berjalan dengan baik. 4. Pengadaan (cara-cara pengadaan, prosedur pengadaan, proses pengadaan dan pengendalian sarana prasarana) juga sudah cukup baik dan hampir sama di tiga sekolah magang. 5. Terkait dengan penyediaan alat dan sumber belajar SMP 25 dan SMP 24 Surakarta sudah memenuhi kondisi sarana prasarana pendidikan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal, sedangkan untuk SMP Negeri 2 sudah memenuhi tahapan Standar Nasional Pendidikan. 6. Pemeliharaan fasilitas dan bangunan sudah dilaksanakan secara rutin dan berkala sesuai prosedur yang berlaku. 7. Inventarisasi sarana dan prasarana meliputi pengadministrasian barang inventaris, klasifikasi dan kode barang inventaris, dan pelaporan juga sudah baik tetapi belum tertib administrasinya 8. Penghapusan sarana dan prasarana di SMP 25 dan SMP 2 belum pernah, sedangkan di SMP 24 yang sudah melakukan penghapusan sesuai prosedur yang berlaku yaitu melalui pemusnahan barang-barang yang sudah rusak dan pelelangan. Untuk proses pelelangan dilakukan SMP 24 untuk buku-buku bekas Sekolah Teknik (ST) yang sudah tidak terpakai). 4
  • 5.
    F. Refleksi Berdasarkan hasil kajian menunjukkan bahwa peralatan penunjang pembelajaran sebagian besar belum memadai khususnya media pembelajaran dan laboratorium. Sedangkan prosedur pengelolaan sarana prasarana di masing-masing sekolah sudah berjalan baik. G. Penutup Berdasarkan hasil kajian dan refleksi maka dapat diberikan saran tindak lanjut berkaitan pengelolaan sarana prasarana sekolah sebagai berikut: 1. Sekolah magang (khususnya SMP 25 dan SMP 24) perlu membuat perencanaan dan usulan ke pemerintah atau penggalian dana secara mandiri untuk pengadaan sarana pendidikan khususnya media pembelajaran dan buku-buku referensi untuk menunjang pelaksanaan pembelajaran. 2. Sekolah magang (khususnya SMP 25 dan SMP 24) perlu membuat usulan untuk pembangunan ruang lab (moving class) ke pemerintah atau penggalian dana secara mandiri agar proses belajar mengajar dapat optimal. 3. Kepala sekolah perlu menertibkan proses inventarisasi dan pengadministrasian barang di sekolah masing-masing agar pengelolaan sarana prasarana dapat terkendali dengan baik. DAFTAR PUSTAKA BSNP, 2010. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar di Kabupaten/kota. Biro Hukum dan Organisasi Departemen Pendidikan Nasional. Kepala Bagian Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangan dan Bantuan Hukum BSNP, 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Biro Hukum dan Organisasi Departemen Pendidikan Nasional. Kepala Bagian Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangan dan Bantuan Hukum 5
  • 6.
    Depdiknas, 2007. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan Persekolahan Berbasis Sekolah. Materi Pendidikan dan Pelatihan Kepala Sekolah. Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional. Kemendiknas dan Kemenag RI, 2011. Materi Pelatihan Peningkatan Manajemen Melalui Penguatan Tata Kelola dan Akuntabilitas di Sekolah/Madrasah. Dirjen Pendidikan Dasar Kementrian Pendidikan Nasional - Dirjen Pendidikan Islam Kementrian Agama RI. LPPKS, 2011. Bahan Pembelajaran Pengelolaan Sarana dan Prasarana. Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah Surakarta. 6