PROGRAM SEMESTERAN
A. PENDAHULUAN
Sebuah program bukan hanya kegiatan tunggal yang dapat diselesaikan dalam waktu
singkat, tetapi merupakan kegiatan yang berkesinambungan karena melaksanakan suatu
kebijakan (Arikunto dan Jabar, 2004:3). Oleh karena itu penyusunan program tahuan dan
program semester tentu merupakan satu sistem yang saling terkait. Ditambahkan Uno
(2007) bahwa salah satu asumsi dasar perlunya merencanakan suatu program
pembelajaran adalah untuk memperbaiki kualitas pembelajaran yang bermuara pada
ketercapaian tujuan pembelajaran.
Maka dari itu, berikut adalah pembahasan mengenai pengertian program tahunan
(prota) dan program semesteran (prosem) beserta hal-hal yang terkait dengannya.
B. PENGERTIAN PROSEM
Program Semester merupakan pemerian/penjabaran dari program tahunan sehingga
program tersebut tidak bisa disusun sebelum tersusun program tahunan.
C. KOMPONEN-KOMPONEN PROSEM
Program semester berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak
dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Pada umumnya program semester ini
berisikan:
a. Identitas (satuan pendidikan, mata pelajaran, kelas/semester, tahun pelajaran)
b. Format isian (kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, jumlah jam pertemuan
(JJP), dan bulan).
D. FORMAT PENYUSUNAN PROSEM
Seperti program tahunan, program semester juga banyak alternatifnya. Berikut
disajikan format program semester yang disarikan dari berbagai model yang ada:
Satuan Pendidikan : ……………………..
Mata Pelajaran : ……………………..
Kelas/Semester : ……………………..
Tahun Pelajaran : ……………………..
Kompetensi
Inti
Kompetensi
Dasar
Materi
Pokok
Indikator JJP
Bulan
(6bulan)
1 2 3 4
Mengetahui Serang , …………..…
Kepala Sekolah Guru Kelas….
_________________ ___________________
NIP. NIP.
Secara sederhana teknik pengisian program semester di atas juga sama seperti
program tahunan. Beberapa komponen yang sudah ada dalam program tahunan tinggal
memindah saja (KI, KD, Materi Pokok). Yang perlu pencermatan adalah perumusan
indikator dan pemerian materi ke dalam bulan selama satu semester.
Indikator dalam program semester harus dirumuskan guru sesuai dengan
karakteristik siswa. Indikator ibarat tujuan instruksional khusus (TIK) dalam pembelajaran
sehingga perumusannya akan lebih efektif apabila menggunakan kata kerja operasional
(KKO), seperti menjelaskan, menyebutkan, menganalisis, mengidentifikasi, mengevaluasi,
dan sejenisnya (selengkapnya dapat dibaca pada pengembangan indikator dalam lampiran
makalah ini).
1. Strategi Implementasi
Menjadi guru memang harus ”survive”. Jika tidak maka segala bentuk
informasi terkini hanya menjadi konsumen saja. Padahal, paradigma pembelajaran
terkini sudah berubah dari proses pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai
konsumen ke arah pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai produsen. Mana
mungkin kita (baca:guru) dapat menjadikan siswa sebagai produsen kalau tidak
memberi teladan bagaimana menjadi seorang produsen.
Secara garis besar implementai kurikulum mencakupi tiga kekuatan pokok
yaitu pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi (Susilo,
2007:176). Pengembangan program kurikulum mencakupi program tahunan, program
semester, program harian, program pengayaan dan remedial, serta program bimbingan
dan konseling. Pelaksanaan pembelajaran merupakan proses interaksi multiarah yang
didesain guru sehingga tercipta enjoyable learning. Sedangkan evaluasi terfokus pada
penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi,
bench marking, dan penilaian program.
Menyusun prota, promes, silabus, RPP, dan sejenisnya secara mandiri dan atau
berdiskusi dengan teman sejawat merupakan langkah awal untuk ”memaksa” diri kita
(baca: guru) menjadi produsen. Oleh karena itu, ada baiknya kita simak penuturan
Ramli (2004) perilaku terbaik dalam pengajaran guru adalah sangunis dan melakonis,
pada penggunaan masing-masing. Sedangkan perilaku lain, koleris dan plegmatis
merupakan perilaku pendukung yang saling bersinergi.
Perilaku sangunis merupakan perilaku pengajaran yang memiliki sikap ramah,
suka berbincang dengan siswa/murid, cerita setiap bertemu murid/siswanya, percaya
diri, bersih fikirannya, cepat berpikir dan dapat diajak berdialog dengan kesetaraan,
cepat berpikir dan dapat diajak berdialog dengan kesetaraan. Perilaku sangunis sangat
baik digunakan guru dalam interaksi dan cara menghadapi kelas dan peserta didik.
Sedangkan perilaku melankolis adalah perilaku pengajaran yang memiliki
sikap teliti, selalu mengajar dengan data dan fakta, detil dan melakukan pengajaran
secara tuntas. Perilaku melankolis sangat baik digunakan guru pada saat
mempersiapkan mata ajaran, modul kurikulum, menjelaskan dan menerangkan materi
pelajaran kepada peserta didik.
2. Epilog:
Menjadi guru yang mampu berperan sebagai produsen bukan merupakan hal
yang mudah lantaran seluruh cipta, rasa, dan karsa perlu bersimbiosis mutualisme,
membentuk sebuah ”rantai pembelajaran” yang kokoh. Tugas-tugas merencanakan
administrasi pembelajaran, di antaranya menyusun program tahunan dan program
semester perlu dilakukan dalam rangka mendesain bingkai pembelajaran efektif.
Paradigma “copy paste“ administrasi pembelajaran dan menjadikan
administrasi pembelajaran hanya sebagai “pelengkap penderita“ secara evolusif perlu
ditinggalkan. Berlatih, belajar meramu, berdiskusi, menganalisis, dan menindakkritisi
berbagai informasi dalam dunia pendidikan merupakan langkah awal untuk membekali
diri menjadi guru yang memiliki kompetensi secara holistik, yakni kompetensi
kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial.

6. Program Semester

  • 1.
    PROGRAM SEMESTERAN A. PENDAHULUAN Sebuahprogram bukan hanya kegiatan tunggal yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat, tetapi merupakan kegiatan yang berkesinambungan karena melaksanakan suatu kebijakan (Arikunto dan Jabar, 2004:3). Oleh karena itu penyusunan program tahuan dan program semester tentu merupakan satu sistem yang saling terkait. Ditambahkan Uno (2007) bahwa salah satu asumsi dasar perlunya merencanakan suatu program pembelajaran adalah untuk memperbaiki kualitas pembelajaran yang bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran. Maka dari itu, berikut adalah pembahasan mengenai pengertian program tahunan (prota) dan program semesteran (prosem) beserta hal-hal yang terkait dengannya. B. PENGERTIAN PROSEM Program Semester merupakan pemerian/penjabaran dari program tahunan sehingga program tersebut tidak bisa disusun sebelum tersusun program tahunan. C. KOMPONEN-KOMPONEN PROSEM Program semester berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Pada umumnya program semester ini berisikan: a. Identitas (satuan pendidikan, mata pelajaran, kelas/semester, tahun pelajaran) b. Format isian (kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, jumlah jam pertemuan (JJP), dan bulan). D. FORMAT PENYUSUNAN PROSEM Seperti program tahunan, program semester juga banyak alternatifnya. Berikut disajikan format program semester yang disarikan dari berbagai model yang ada: Satuan Pendidikan : …………………….. Mata Pelajaran : …………………….. Kelas/Semester : …………………….. Tahun Pelajaran : ……………………..
  • 2.
    Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Materi Pokok Indikator JJP Bulan (6bulan) 1 23 4 Mengetahui Serang , …………..… Kepala Sekolah Guru Kelas…. _________________ ___________________ NIP. NIP. Secara sederhana teknik pengisian program semester di atas juga sama seperti program tahunan. Beberapa komponen yang sudah ada dalam program tahunan tinggal memindah saja (KI, KD, Materi Pokok). Yang perlu pencermatan adalah perumusan indikator dan pemerian materi ke dalam bulan selama satu semester. Indikator dalam program semester harus dirumuskan guru sesuai dengan karakteristik siswa. Indikator ibarat tujuan instruksional khusus (TIK) dalam pembelajaran sehingga perumusannya akan lebih efektif apabila menggunakan kata kerja operasional (KKO), seperti menjelaskan, menyebutkan, menganalisis, mengidentifikasi, mengevaluasi, dan sejenisnya (selengkapnya dapat dibaca pada pengembangan indikator dalam lampiran makalah ini). 1. Strategi Implementasi Menjadi guru memang harus ”survive”. Jika tidak maka segala bentuk informasi terkini hanya menjadi konsumen saja. Padahal, paradigma pembelajaran terkini sudah berubah dari proses pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai konsumen ke arah pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai produsen. Mana mungkin kita (baca:guru) dapat menjadikan siswa sebagai produsen kalau tidak memberi teladan bagaimana menjadi seorang produsen. Secara garis besar implementai kurikulum mencakupi tiga kekuatan pokok yaitu pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi (Susilo, 2007:176). Pengembangan program kurikulum mencakupi program tahunan, program semester, program harian, program pengayaan dan remedial, serta program bimbingan dan konseling. Pelaksanaan pembelajaran merupakan proses interaksi multiarah yang didesain guru sehingga tercipta enjoyable learning. Sedangkan evaluasi terfokus pada
  • 3.
    penilaian kelas, teskemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, bench marking, dan penilaian program. Menyusun prota, promes, silabus, RPP, dan sejenisnya secara mandiri dan atau berdiskusi dengan teman sejawat merupakan langkah awal untuk ”memaksa” diri kita (baca: guru) menjadi produsen. Oleh karena itu, ada baiknya kita simak penuturan Ramli (2004) perilaku terbaik dalam pengajaran guru adalah sangunis dan melakonis, pada penggunaan masing-masing. Sedangkan perilaku lain, koleris dan plegmatis merupakan perilaku pendukung yang saling bersinergi. Perilaku sangunis merupakan perilaku pengajaran yang memiliki sikap ramah, suka berbincang dengan siswa/murid, cerita setiap bertemu murid/siswanya, percaya diri, bersih fikirannya, cepat berpikir dan dapat diajak berdialog dengan kesetaraan, cepat berpikir dan dapat diajak berdialog dengan kesetaraan. Perilaku sangunis sangat baik digunakan guru dalam interaksi dan cara menghadapi kelas dan peserta didik. Sedangkan perilaku melankolis adalah perilaku pengajaran yang memiliki sikap teliti, selalu mengajar dengan data dan fakta, detil dan melakukan pengajaran secara tuntas. Perilaku melankolis sangat baik digunakan guru pada saat mempersiapkan mata ajaran, modul kurikulum, menjelaskan dan menerangkan materi pelajaran kepada peserta didik. 2. Epilog: Menjadi guru yang mampu berperan sebagai produsen bukan merupakan hal yang mudah lantaran seluruh cipta, rasa, dan karsa perlu bersimbiosis mutualisme, membentuk sebuah ”rantai pembelajaran” yang kokoh. Tugas-tugas merencanakan administrasi pembelajaran, di antaranya menyusun program tahunan dan program semester perlu dilakukan dalam rangka mendesain bingkai pembelajaran efektif. Paradigma “copy paste“ administrasi pembelajaran dan menjadikan administrasi pembelajaran hanya sebagai “pelengkap penderita“ secara evolusif perlu ditinggalkan. Berlatih, belajar meramu, berdiskusi, menganalisis, dan menindakkritisi berbagai informasi dalam dunia pendidikan merupakan langkah awal untuk membekali diri menjadi guru yang memiliki kompetensi secara holistik, yakni kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial.