Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Ilmu tasawuf

4,594 views

Published on

power point makul imlu tasawuf

Published in: Spiritual
  • Be the first to comment

Ilmu tasawuf

  1. 1. Ilmu Tasawuf
  2. 2. Dasar-Dasar Qur’ani Penggemblengan Jiwa :  “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan- jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar berserta orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Al Ankabut: 69)  “Dan adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya, dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya” (Q.S. An Nazi’at: 40-41)  “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan” (Q.S. Yusuf: 53)
  3. 3. Dasar-Dasar Qur’ani Tingkatan takwa :  “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (Q.S. Al Hujurat: 13) Tingkatan asketis :  “Katakanlah, kesenangan di dunia ini hanya sementara, dan akhirat itu lebih baik untuk orang- orang takwa” (Q.S. An Nisaa’: 77)  “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) di atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan” (Q.S. Al Hasyr: 9)
  4. 4. Dasar-Dasar Qur’ani Tingkatan tawakal :  “Dan barang siapa tawakkal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan (keperluan)-nya” (Q.S.Ath Thalaaq: 3)  “Dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman itu tawakkal” (Q.S. At Taubah: 51)
  5. 5. Dasar-Dasar Qur’ani Tingkatan Syukur :  “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” (Q.S. Ibrahim: 7) Tingkatan sabar :  “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah” (Q.S. An Nahl: 127)  “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Q.S. Al Baqarah: 155)
  6. 6. Tingkatan rela :  “Allah rela terhadap mereka, dan mereka pun rela terhadap-Nya” (Q.S. Al Maa’idah: 119) Tingkatan malu :  “Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah benar-benar melihat segala perbuatan?” (Q.S. Al ‘Alaq: 14)
  7. 7. Perkembangan Ajaran Tasawuf  Nabi Muhammad SAW  Khalifah Ali  Hasan Basri  Al-Habib al-Ajay  Dawud al-Tha’iy  Al-Makruf al-Kurkhi  As-Suraa  Al-Junaid Dari mereka berkembang Ilmu Tasawuf
  8. 8. Sebab Timbulnya Tasawuf Internal diri:  perasaan adanya kesalahan dalam dirinya.  perasaan katakutan akan siksa Allah di akhirat kelak.  Asketisme gurun pasir  Persoalan politik, ekonomi Eksternal  Interaksi sosial dan bertemunya dengan budaya luar; kontak agama, keilmuan, tradisi dll.
  9. 9. Sebab Timbulnya Tasawuf  Dari persoalan politik akhirnya masuk ke persoalan theologi sampai akhirnya kepada persoalan aktivitas tasawuf. Sebab ada beberapa sahabat yang tidak mau memihak kepada mereka yang bertikai lalu mereka mengkhususkan dirinya beribadah kepada Allah. Jadi, motifnya adalah tidak mau terlibat dalam perseteruan yang terjadi waktu itu. Bahkan ada kalanya sebagai reaksi dari perilaku para penguasa/pemimpin yang lebih mementingkan persoalan keluarga dan materialistik. Sehingga hal ini jelas-jelas menyalahi contoh yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah serta para sahabatnya. Selanjutnya para zahid itu pun akhirnya mengembangkan faham dan ajarannya.
  10. 10. Pembagian Tasawuf dalam Aplikasi a. Tasawuf Akhlaqi menjadikan dakwah, jihad, dan akhlaq yang terpuji, zikir, olah pikir, sikap zuhud sebagai jalan mereka. Kesemuanaya itu merupakan perwujudan dari taqwa dan penyucian diri (tazkiyah al-nafs) b. Tasawuf Falsafi Mereka mempraktekkan zuhud yang bersumber dari al- Qur’an dan Sunnah Rasul. Setelah itu ke tahap berikutnya yaitu tasawuf. Fase pertama adalah aplikasi, sedangkan fase kedua selain aplikasi juga ditambah dengan teori. c. Tasawuf Irfani
  11. 11. Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Tasawuf/Konsep Mendekatkan diri kepada Allah  Syariat  Thoriqot  Hakekat  Ma’rifat
  12. 12. Syariat  Mengerjakan syariat adalah mengerjakan amal badaniyah dari hukum-hukum seperti shalat, puasa, zakat dan haji.  Syariat adalah peraturan-peraturan yang bersumber dari Qur’an dan Sunnah. (QS. Al-Maidah 48: Likulli ja’alna minkum syir’atan wa minhajan)  Tujuan utama syariat adalah membangun kehidupan manusi atas dasar amar ma’ruf dan nahi munkar.  Hukum menurut syariat ada 5: fardhu/wajib, sunnat atau mustahab, mubah, haram dan makruh.
  13. 13. Thoriqot  Thoriqot adalah suatu sistem (thariqah) untuk menempuh jalan yang pada akhirnya mengenal dan merasakan adanya Tuhan, yang dengan jalan itu seseorang dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya (ainul bashirah).  Istilah Thoriqot terdapat dalam QS. Jin 16), “Dan bahwa jika mereka tetap (istiqamah) menempuh jalan itu “TAREKAT” sesungguhnya akan kami beri rezeki/rahmat yang berlimpah- limpah”.  Ali bin Abi Thalib pernah bertanya kepada Rasulullah : Ayyuth- thariqati aqrabu ilallah? Faqala Rasulullah saw: dzikru. (Manakah tarekat yang sedekat-dekatnya mencapai Tuhan? Yang dijawab oleh Rasulullah, “tidak lain daripada dzikir kepada Allah”.
  14. 14. Hakekat  Syariat merupakan peraturan, tarekat merupakan pelaksanaan, hakekat merupakan tujuan pokok yakni pengenalan Tuhan yang sebenar-benarnya.  Contoh dalam hal bersuci: menurut syariat bersih diri dengan air, menurut tarekat bersih diri lahir dan bathin dari hawa nafsu, menurut hakekat bersih hati dari selain Allah, semuanya untuk mencapai ma’rifat terhadap Allah.
  15. 15. Ma’rifat  Ma’rifat adalah mengenal Allah yang sebenar-benarnya.  Menurut Taftazani, “apabila seseorang telah mencapai tujuan terakhir dalam pekerjaan suluknya ilallah dan fillah, pasti ia akan tenggelam dalam lautan tauhid dan irfan sehingga zatnya selalu dalam pengawasan zat Tuhan dan sifatnya selalu dalam pengawasan sifat Tuhan.
  16. 16. Kebenaran  Kebenaran Syariah : kebenaran formalisme  Kebenaran Kalam : Kebenaran argumentasi  Kebenaran Tasawuf : Kebenaran pengalaman batin (penghayatan)
  17. 17. Ahwal dan Maqamat dalam Tasawuf : Bagi mereka yang akan melakukan laku tasawuf, ada beberapa tingkatan atau tahapan. Tahapan itu pada prinsipnya adalah tidak lepas dari tujuh tingkatan : Maqam Taubat (Kembali ke jalan Allah) Maqam Wara’ (Meninggalkan segala hal yang syubhat) Maqam Zuhud (Tidak tamak atau tidak ingin dan tidak mengutamakan kesenangan duniawi) Maqam Fakir (Tidak mengharapkan apapun kecuali hanya kepada Allah) Maqam Sabar (Menerima segala bencana, dengan laku sopan atau rela) Maqam Tawakkal (Berserah diri atau mempercayakan diri pada jaminan pemeliharaan Allah sepenuhnya) Maqam Ridho (Kerelaan hati dalam menerima ketentuan Allah)
  18. 18. Perkembangan Tasawuf Bisa dijabarkan dalam 3 karakteristik : 1. Tasawuf yang masih berupa zuhud, pada abad 1 dan 2. Hasan Al-Basri, Rabiah al-Adawiyah. Aktivitas pribadi 2. Tasawuf abad ke 3 dan 4, Al-Junaid, Al-Kharraz, berjamaah, sejak saat itu muncul thariqat (tarekat). Ada teori dan praktek kehidupan sufistik. 3. Tasawuf abad ke 5, Imam Al-Ghazali, 4. Tasawuf Abad ke 6, tasawuf falsafi, wahdatul wujud, panteisme, Ibnu Arabi, Suhrawardi, Ibnu Sab’in
  19. 19. Pembagian tasawuf  Tasawuf Sunni; memiliki wawasan moral praktis dan bersandarkan Al-Qur’an dan Sunnah.  Tasawuf Falsafi; menggabungkan tasawuf dengan berbagai aliran mistik dari berbagai sumber. Muncul konsep fana’, al-ittihad, hulul, wahdatul wujud.  Di antara tokoh yang menolak tasawuf falsafi adalah Ibn Al-Jauzi dan Ibn Taimiyah
  20. 20. Pembagian Tasawuf  Tasawuf Akhlaqi  Tasawuf Irfani  Tasawuf Falsafi  Tasawuf Non Falsasi (Sunni)  Tasawuf Falsafi
  21. 21. DI ANTARA TOKOH TASAWUF AKHLAQI  ABU SAID AL HASAN AL BASRI  ABU ABDILLAH AL HARIS BIN ASAD AL BASRI AL MUHASIBI  Al QUSYAIRI, lengkapnya Abul-Qasim Abdul Karim al Qusyairi  ABU HAMID AL-GHAZALI
  22. 22. Tokoh Tasawuf Akhlaqi  ABU SAID AL HASAN AL BASRI -- (selanjutnya disebut saja Hasan al-Basri) adalah ulama terkemuka dari generasi tabi’in (generasi yang berjumpa dengan para sahabat Nabi, tapi tidak dengan Nabi). Ia lahir di Madinah pada 642/21 H.  Hasan al-Basri dapat bergaul dengan banyak sahabat Nabi. Ia dapat menghayati semangat kesederhanaan dan keikhlasan mereka beragama, di samping banyak menimba informasi tentang sunnah-sunnah Nabi dari mereka.
  23. 23. Dialog Ali dan Hasan Basri  Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Ali bin Abi Talib, dalam statusnya sebagai Khalifah (656-661/35-40 H), memasuki Mesjid Jami Basrah dan mengusir para tukang kisah (karena tidak senang dan menganggap berkisah itu bid’ah) dari mesjid itu, serta nyaris pula mengusir Hasan al –Basri, yang sedang dilingkari oleh banyak orang. Kata Ali : Hai anak muda, jawablah pertanyaanku; bila jawabanmu tidak benar, maka kamu akan diusir seperti mereka yang sudah diusir!”, “Silahkan tanya, ya Amirul Mukminin“ kata Hasan al-Basri. Ali Berkata : “Tahukah kamu apa yang maslahat bagi agama dan apa pula yang merusaknya? “Hasan al-Basri menjawab : “Yang maslahat bagi agama adalah sikap wara’ (menjauhi apa saja yang tidak terang kehalalannya), dan yang merusak agama adalah sikap tamak (rakus).” Khalifah Ali membenarkan jawaban tersebut dan dengan rasa senang hati mempersilahkan Hasan al-Basri, yang masih muda, untuk meneruskan pengajarannya.
  24. 24. Peringatan Hasan al-Bari bagi Para Penguasa  Hasan al-Basri terkenal berani memberi peringatan kepada pihak penguasa. Kepada Umar Hubairat, yang diangkat menjadi Gubernur di Irak (722/103) dan telah berjanji untuk senantiasa melaksanakan perintah Khalifah Yazid, ia memberi nasihat : “Tanamkan perasaan gentar kepada Allah, bukan kepada Yazid, Allah mampu memisahkan anda dari Yazid, sedang Yazid tidak mampu memisahkan anda dari Allah, Allah pada suatu saat akan mengirim malaikat-Nya untuk merenggut anda dari kursi jabatan anda, dan menarik anda dari istana yang luas ini untuk dibawa ke ruang kubur yang sempit; pada saat itu tiada sesuatu yan dapat membebaskan anda kecuali amal anda sendiri. Hai Aba Hubairat, tiada kepatuhan kepada makhluk dalam mendurhakai Khalik.”
  25. 25. Konsep :  Zuhud  Wara’  Khauf  Raja’
  26. 26. Zuhud (Asketisme) (Taf)  Hikmah pemahaman yang membuat para penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi, di mana mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan kalbu mereka, serta tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya.  Zuhud atau asketisme tidak bersyaratkan kemiskinan. Bahkan terkadang seseorang itu kaya tapi di saat yang sama dia pun asketis. Utsman bin ‘Affan dan ‘Abdurrahman ibn ‘Auf adalah para hartawan, tapi keduanya adalah para asketis dengan harta yang mereka miliki.
  27. 27. Pendapat al-Bashri tentang Asketis  Dunia adalah tempat kerja bagi orang yang disertai perasaan tidak senang dan tidak butuh kepadanya, dan dunia merasa bahagia bersamanya atau dalam menyertainya. Barangsiapa menyertainya dengan perasaan ingin memilikinya, dan mencintainya, dia akan dibuat menderita oleh dunia serta diantarkannya pada hal-hal yang tidak tertanggungkan oleh kesabarannya.
  28. 28. Khauf dan Sedih Hasan Al-Bashri  Al-Sya’rani dalam kitabnya, al-Thabaqat, berkata: “Dia penuh diliputi rasa takut, sehingga neraka seakan diciptakan untuk dirinya seorang”.  “Bagi orang yang tahu bahwa kematian ada pangkalnya, kiamat ada saatnya, dan tegak di hadapan Allah ada tempatnya, dia pasti akan memperpanjang rasa sedihnya”.  Asketisme Hasan al-Bashri berdasarkan rasa takut kepada Allah, rasa sedih, dan kontemplasi untuk meraih ridha Allah dan surga-Nya di akhirat.
  29. 29. Tokoh Tasawud Akhlaqi  ABU ABDILLAH AL HARIS BIN ASAD AL BASRI AL MUHASIBI, Ia lahir di Basrah, Irak, pada 781 (165 H), wafat di ibukota tersebut pada 875 (243 H), dalam usia 78 tahun.  Kesungguhannya berupaya untuk mengembangkan dan menjaga kesucian batinnya adalah luar biasa, sehingga ia diberi gelar al-Muhasibi, yang mengandung arti : orang yang melakukan perhitungan (introspeksi) terhadap aktivitas batinnya sendiri.
  30. 30. Tasawuf Al-Muhasibi  Sebagai tokoh yan cukup lama berada dalam lingkungan ahli hadis dan fikih, maka tasawuf yan dipilih dan diajarkannya adalah tasawuf yang kuat berpegang kepada al-Quran dan Sunnah Nabi, tidak mau melanggar batas-batas syariat. Juga sebagai yang pernah memberikan perhatian besar kepada persoalan-persoalan ilmu kalam, maka tasawufnya adalah tasawuf yang memberikan penghargaan tinggi pada akal. Ia meyakini kebenaran isi hadis yang diriwayatkannya, yang menyatakan : “Allah tidak menerima shalat seseorang, puasanya, hajinya, umrahnya, sedekahnya, jihadnya, dan berbagai kebaikan yang diucapkannya, apabila ia tidak memikirkannya (memahaminya).”
  31. 31. Pentingnya Akal dalam Al-Muhasibi  “Allah berkata kepada akal; Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tidak ada makhluk Aku ciptakan, yang lebih mulia dan lebih Aku cintai darimu, karena denganmu Aku dikenal, dan dipuja, serta denganmu Aku memberi, menghukum, dan bagimu pahala.”  Sejalan dengan itu, ia antara lain berkata: “Setiap zahid, maka tingkat kezuhudannya bergantung pada tingkat pengetahuannya, tingkat pengetahuannya bergantung pada kadar akalnya, dan kadar akalnya bergantung pada kadar imannya.”
  32. 32. Tokoh Tasawud Akhlaqi  Al QUSYAIRI, lengkapnya Abul-Qasim Abdul Karim al Qusyairi, adalah sufi terkemuka dari abad ke-11 (5 H). Ia lahir pada 986 (376 H) di Istiwa, dekat dengan salah satu pusat pengajaran ilmu-ilmu agama, kota Nisyapur (di Iran).  Tasawuf yang dianut dan diajarkan oleh al- Qusyairi adalah tasawuf yang sejalan dengan ajaran syariat.
  33. 33. Pesan Al-Qusyairi  Di antara pesan-pesan al Qusyairi dalam tulisannya adalah sebagai berikut : “ Ketahuilah oleh anda bahwa para syekh golongan atau tasawuf ini membangun prinsip-prsinsip mereka dengan dasar-dasar yang kuat dalam tauhid; dengan dasar- dasar itu mereka menjaga akidah-akidah mereka agar terhindar dari bidah-bidah. Mereka dekat dengan tauhid yang di pegang oleh kaum salaf dan Ahlus Sunnah, yankni tauhid yang tidak mengandung tamsil ( menyamakan Tuhan dengan makhluknya ) dan ta’til ( mengosongkan-Nya dari sifat-sifat- Nya ). Mereka menyadari apa yang menjadi hak Tuhan yan qadim, dan mereka meyakini apa yang merupakan sifat makhluk yang di ciptakan dari tiada. Karena itulah tokoh golongan ini, al Junaid , berkata “ Tauhid adalah mengesakan Yang Qadim ( Allah) dari yang hadis (makhluk ).Mereka mengukuhkan dasar-dasar akidah itu dengan dalil-dalil dan bukti-bukti yang jelas,”
  34. 34. Pesan Al-Qusyairi  Al-Qusyairi memperingatkan bahwa tasawuf yang tidak disertai dengan upaya yang sungguh-sungguh untuk menyucikan diri dan menjauhkan diri dari yang tercela adalah tasawuf yang batil atau yang berpura-pura; setiap kebatinan yang menyalahi syariat yang lahir, bukanllah kebatinan setiap tauhid yang tidak bersesuaian dengan al Quran dan Sunnah bukanlah tauhid, tapi talhid atau penyelewengan); dan setiap makrifat yang tidak disertai wara’ atau menjauhi apa saja yang diragukan kehalalannya ) dan istiqamah ( lurus dan teguh pendirian ) bukanlah makrifah, tapi khurafat ( khayalan kosong ).
  35. 35. Hubungan Syariat dan Hakekat  Tentang hubungan antara syariat dan hakikat al-Qusyairi menulis sebagai berikut : “ Syariat adalah perintah untuk tetap dan tekun beribadah , sedangkan hakikat adalah menyaksikan ketuhanan. Setiap syariat yang tidak diperkuat dengan hakikat, tidaklah diterima; dan setiap hakikat yang tidak terikat dengan syariat, juga tidak diterima. Syariat datang untuk membebani makhluk (manuia) dengan tugas, sedang hakekat mengabarkan tentang urusan Tuhan. Syareat adalah : Anda mentaati (menyembah)-NYa, sedang hakekat adalah : Anda menyaksikan-Nya, syareat adalah menegakkan apa yang diperintahkan sedangkan hakekat adalah menyaksikan apa yang diputuskan, ditentukan, dirahasiakan, dan dinyatakan- Nya.”
  36. 36. Tokoh Tasawuf Akhlaqi  ABU HAMID AL-GHAZALI, (selanjutnya disebut saja Al-Ghazali) adalah ulama yang amat berpengaruh dan diagungkan di dunia Islam. Gelarnya antara lain adalah Hujjat al Islam, yang mengandung arti: bukti kebenaran Islam. Ia dilahirkan di Desa Gazaleh, dekat Tus, Iran Utara, pada 1058 (450 H).  Setelah dididik dalam lingkungan orang tua dan guru yang zahid pada masa kecil, ia belajar pada Madrasah Nizamiyah di Tus, Jurjan, dan Nisyapur. Di Nisyapur inilah, ia berusia 20-28 tahun, berguru dan bergaul dengan Imam Al-Juwaini.  Selanjutnya is berada di Mu'askar (1085-1090/478-483 H) dan Bagdad (1090- 1095/483-488 H). Di Bagdad inilah ia menjadi pemimpin Madrasah Nizamiyah dan guru besar yang amat disegani.  Didahului oleh konflik batin yang parah (karena sama kuatnya tarikan untuk tetap berada di Bagdad dengan dorongan untuk meninggalkannya) dan sakit selama enam bulan, bahkan tidak bisa bicara, ia tinggalkan kota itu dan berkhalwat menjalani kehidupan tasawuf selama lebih kurang 10 tahun di Damaskus, Jerusalem, Mekkah, Madinah dan Tus. Setelah itu ia mengajar lagi selama dua tahun di Nisyapur, kemudian kembali ke Tus dan mendirikan madrasah untuk para calon ahli fikih serta khankah untuk para calon sufi. Di Tus inilah ia wafat dalam usia 55 tahun (1111/505 H).
  37. 37.  Timbulnya kecenderungan ke arah tasawuf pada diri Al-Ghazali, periode awal kehidupan spiritualnya merupakan persiapan psikis baginya menempuh jalan tasawuf. Periode spiritualnya itu sndiri ditandai dengan berbagai kondisi intuituf, seperti keraguan, kegelisahan, rasa bosan, rasa sedih ang mendalam, rasa takut terhaap sesuatu yang tidak diketahui, upaya memahami realitas alam dan menyingkapkan ang di balinya, dan perasaan-perasaan samar lainnya, yang kesemua itu akhirnya menuju Allah.
  38. 38.  Arah yang menuju Allah adalah obat yang menyembuhkan krisis Al-Ghazali. Mengenai kesembuhannya tersebut Al- Ghazali berkata : “Penyakit ini pun semakin merajela. Dan hampir selam dua bulan, dipaksa oleh kondisi yang ada dan bukannya berdasarkan logika sehat, aku berada dalam jalur kaum sofis.  Dari proses kegelisahan kemudian diturunkan cahaya (nur) dari Allah ke dalam kalbu.  Cahaya itu adalah cahaya keimanan.  Dari cahaya keimanan itulah muncul “al-ilm al-yaqini” yang menyingkapkan apa yang diketahui, sehingga dengannya tidak ada lagi keragunan serta tidak dibarengai keliru maupun ilusi belaka.
  39. 39. Al-Ghazali dan Falsafah  Sebagai ulama yang mengerti falsafat, al-Gazali mengingatkan para ulama agar tidak menyerang falsafat secara membabi buta, sebab hal itu akan merugikan agama. Menurutnya, falsafat itu terdiri dari enam cabang, yaitu: matematika, logika, fisika, politik, etika dan ketuhanan. Tiga cabang pertama, katanya, tidak ada sangkut pautnya dengan agama, dan karena itu tidak perlu diserang atau diingkari. Sedang politik dan etika tidak lain dari apa yang berasal dari nabi dan sufi, yang kemudian dimanfaatkan oleh para filosof. Hanya pada cabang ketuhanan dijumpai pendapat-pendapat yang menurut pemahamannya, perlu disalahkan.
  40. 40. Tingkatan Akal Manusia  Tentang akal, al-Gazali menjelaskan bahwa akal adalah daya yang membedakan jiwa manusia dari jiwa binatang.  Akal itu berfungsi untuk menangkap pengetahuan, baik teoretis maupun praktis. Ia mempunyai empat tingkatan: 1. Tingkat pertama, seperti yang dimiliki setiap bayi, masih merupakan potensi dan disebutnya akal gharizi (akal insting/bawaan). 2. Tingkat kedua, yang dimiliki oleh anak-anak mumayyiz adalah akal yang sudah memiliki pengetahuan daruri (aksioma), seperti pengetahuan tentang lebih banyaknya empat dari satu; akal ini disebutnya akal dhahiri. 3. Tingkat ketiga adalah akal yang sudah memiliki pengetahuan yang diperoleh (al-'ulum al-mustafadat) melalui pengalaman, baik teoretis (benar-salah) maupun praktis (baik-buruk). 4. Tingkat keempat adalah akal yang mampu mengendalikan nafsu-nafsu badan berdasarkan pengetahuan yang sudah diperoleh itu. Al-Gazali juga menjelaskan bahwa para nabi memiliki akal garizi yang sempurna, yang dengannya mereka menerima wahyu atau ilham dari malaikat.
  41. 41. Pengetahuan Akal  Sebagai ulama yang akhirnya memilih dan lebih mengungulkan jalan tasawuf, al-Gazali mengingatkan bahwa pengetahuan akal tentang banyak hal dalam wilayah empiris dan matematis, memang dapat diterima oleh hati dengan keyakinan yang penuh. Adapun pengetahuan akal tentang Tuhan yang didasarkan pada dalil-dalil, dapat juga diterima hati, tapi tidak dengan keyakinan yang penuh. Hati baru merasa memiliki makrifat (pengetahuan) tentang Tuhan dengan keyakinan yang penuh, yang tidak mungkin dapat digoyahkan oleh apa pun, bila mata hati yang mengarah ke wilayah gaib terbuka, atau tidak lagi tertutup oleh hijab (penutup) apa pun, sehingga bisa secara langsung menyaksikan rahasia-rahasia Tuhan, dengan rasa bahagia sejati yang tiada taranya. Hanya para nabi yang memiliki hati demikian, tanpa usaha. Yang bukan nabi haruslah menempuh perjuangan (mujahadah) panjang dan keras untuk menyucikan hatinya sedemikian rupa, sampai mata hati itu terbuka, seperti yang diusahakan para sufi. Para nabi dan sufi, dengan demikian, memiliki tingkat makrifat yang berbeda di atas tingkat makrifat teolog, filosof dan kaum awam.
  42. 42. DI ANTARA TOKOH TASAWUF IRFANI  RABIAH AL ADAWIYAH  ABU AL FAID ZUNNUN BIN IBRAHIM AL MISRI  JUNAID AL BAGHDADI  ABU ABDUL RAHMAN AL-SULAMI  ABU AL-MUGIS AL-HUSAIN BIN MANSUR AL-BAIDAWI AL-HALLAJ
  43. 43. TOKOH TASAWUF IRFANI  RABIAH AL ADAWIYAH, lengkapnya Rabiah binti Ismail al Adawiyah al Bashriyah, adalah seorang sufi wanita terkenal dari abad ke-8 (2 H). Ia diperkirakan lahir pada 713 (95 H) atau 717 (99 H) di suatu perkampungan di luar kota Bashrah (Irak). Ia wafat di kota itu pada 801 (185 H). Dalam usia 90 atau 86 tahun, ia bukanlah Rabiah yang wafat di Baitul Maqdis (Yerussalem) pada tahun 753 (135 H).
  44. 44. Sifat Zuhud Rabiah  Rabiah al Adawiyah terkenal zahid (tak tertarik pada harta dan kesenangan duniawi) dan tak pernah mau meminta pertolongan pada orang lain. Ketika ia ditanya orang mengapa ia bersikap demikian (tidak mau meminta pertolongan pada orang lain), ia menjawab: “Saya mau meminta sesuatu pada dia yang memilikinya apalagi pada orang-orang yang bukan menjadi pemilik sesuatu itu …Sesungguhnya Allah lah yang memberi rizqi kepadaku dan kepada mereka yang kaya. Apakah dia yang memberi rizqi kepada orang yang kaya, tidak memberi rizqi kepada orang-orang yang miskin? Sekiranya dia menghendaki begitu, maka kita harus menyadari posisi kita sebagai hambanya dan haruslah kita menerimanya dengan hati rido (senang).
  45. 45. Cinta kepada Allah Berbeda dari pada zahid (sufi) yang mendahuluinya atau yang sezaman dengannya, ia dalam menjalankan tasawuf itu bukanlah karena dikuasai oleh perasaan takut kepada Allah atau takut kepada neraka-Nya. Hatinya ternyata penuh oleh perasaan cinta dan asyik masyuk dengan Allah, sebagai Kekasih-Nya. Bagaimana gelora cintanya kepada Tuhan, tergambar dalam sejumlah ungkapan-ungkapan berikut ini, yang lazim dihubungkan orang kepada dirinya.  “Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka … bukan pula karena ingin masuk surga … tapi aku mengabdi karena cintaku kepada Nya.“  “Tuhanku, jika aku mengabdi kepada-Mu karena takut pada neraka, bakarlah aku di dalamnya, dan jika aku mengabdi kepada-Mu karena mengharapkan surga, jauhkanlah aku dari padanya; tetapi jika Kau kupuja semata-mata karena Kau, maka janganlah Kau sembunyikan kecantikan- Mu yang kekal dariku “.  “Ya, Tuhan, bintang di langit telah gemerlapan, orang-orang telah bertiduran, pintu-pintu istana telah dikunci dan tiap kekasih telah menyendiri dengan kekasihnya, dan inilah aku di hadirat-Mu.”
  46. 46. Cinta Rabiah kepada Allah Sewaktu fajar telah menyingsing :  “Tuhanku, malam telah berlalu dan siang segera menampakkan diri. Aku gelisah, apakah amalanku Kau-terima hingga aku merasa bahagia, ataukah Kau tolak hingga aku merasa sedih. Demi kemuliaan-Mu, inilah yang akan kulakukan selama aku Kau-beri hayat. Sekiranya Kau usir dari depan pintu-Mu, aku tidak akan pergi, karena cinta pada-Mu telah memenuhi hatiku. “  “Aku mencintai-Mu dengan dua cinta, cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu. Cinta karena diriku adalah keadaanku senantiasa mengingat-Mu, dan cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu menyingkapkan tabir hingga Kau kulihat. Baik untuk ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku, tapi bagi-Mulah pujian untuk semuanya.”  “Wahai kekasih-hati, hanya Kau-lah yang kucintai. Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadirat-Mu, Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku. Hatiku telah enggan mencintai selain dari-Mu.”
  47. 47. Tokoh Tasawuf Irfani  ABU AL FAID DZUNNUN BIN IBRAHIM AL MISRI, adalah sufi terkemuka abad ke 9 (3 H). Ia lahir di Ikhmim, Mesir Hulu, pada 773 (155 H).  Ia adalah salah seorang yang pada masanya terkenal keluasan ilmunya, kerendahanhatinya, dan budi pekertinya yang baik.  Dalam tasawuf dipandang penting karena dia itulah orang pertama di Mesir yang memperbincangkan masalah keadaan dan tingkatan para wali.
  48. 48. Pesan Dzunnun al-Misri  Seperti para sufi lainnya, ia bukan saja sangat memperhatikan ketaatan pada syariat agama, tapi bahkan ketekunannya beribadat melebihi apa yang dapat dilakukan oleh ulama syariat. Ia pernah berpesan: “Di antara tanda-tanda orang yang mencintai Allah adalah mengikuti kekasih-Nya, Rasulullah, baik akhlak, perbuatan, perintah, maupun sunnah-sunnahnya. Hendaklah anda mencintai apa yang dicintai Allah, dan membenci apa yang dibenci-Nya, hendaklah anda mengerjakan setiap kebaikan, dan menolak apa saja yang melupakan kepada-Nya, demi Allah janganlah anda takut pada celaan pencela, bersikap lembutlah kepada kaum beriman dan tegaslah kepada kaum kafir, serta ikutilah Rasulullah dalam urusan agama.”
  49. 49. Ma’rifah menurut Dzunnun  Kehadiran Zunnun dalam barisan sufi merupakan tonggak penting dalam sejarah tasawuf, karena ia banyak berbicara tentang ma’rifah dan memberi arti penting bagi term itu. Dengan kehadirannya tasawuf tidak lagi sekedar tasawuf ibadah atau zuhud, baik dengan emosi takut kepada Allah atau cinta membara kepada-NYA, tapi meningkat menjadi tasawuf ma’rifah, yakni tasawuf yang bertujuan tercapainya ma’rifatullah (pengetahuan tentang Allah) melalui penyaksian mata batin (hati) secara langsung. Zunnun berkata: “Makrifah yang hakiki bukanlah pengetahuan tentang Tuhan berdasarkan syahadat tauhid, yang dimiliki oleh semua orang mukmin, bukan pula yang berdasarkan argumentasi dan penjelasan, seperti yang dimiliki oleh para filosof dan teolog, tapi adalah pengetahuan tentang keesaanNYA yang dimiliki oleh para wali (SUFI) yang menyaksikanNYA dengan mata hati. Ma’rifah hakiki itulah yang membawa rasa cinta kepadaNYA dan rasa bahagia, pada diri sufi yang memperolehnya, ke puncak yang tertinggi, yang tidak ada taranya lagi.
  50. 50. Ciri orang yang Arif  Sebagai sufi, yang memperhatikan pentingnya syariat lahir Zunnun pernah mengingatkan: “Ciri seorang yang arif (yang telah memperoleh makrifah hakiki) ada 3: cahaya makrifahnya tidaklah memadamkan cahaya kewara’annya (kerendahhatiannya), tidak berkeyakinan bahwa ilmu batin menghancurkan hukum yang lahir , dan banyaknya nikmat Allah tidak mendorongnya kepada perbuatan merobek tirai-tirai larangan Allah. ”Baginya, korelasi antara ma’rifah dengan perasaan khusuk kepada Tuhan sangat erat. Ia berkata: “Orang yang arif –setiap hari- semakin lebih khusuk, karena ia setiap saat semakin lebih dekat kepada-NYA.“
  51. 51. Kegelisahan Dzunnun  Ia juga mengecam sebagian ulama, yang telah menyimpang dari jalan yang lurus. Katanya: dewasa ini sikap menganggap enteng dosa telah melanda para ahli ibadah (ubbad dan nussaq dan para Quro” (ulama’) sehingga mereka tenggelam dalam syahwat perut dan seks. Mereka tidak melihat cacat mereka maka hancurlah tanpa mereka sadari. Mereka cenderung memakan yang haram dan tidak mencari yang halal. Mereka lebih menyenangi ilmu terbanding berbuat amal, mereka malu mengatakan, aku tidak tahu, kendati sedang membicarakan sesuatu yang tidak mereka ketahui. Mereka adalah budak dunia, bukan ulama syariat (agama). Sekiranya mereka mengetahui syariat, tentu mereka tercegah dari perbuatan-perbuatan buruk….”
  52. 52. Dzunnun : sufi yang keramat  Selain memiliki pengajaran-pengajaran yang mendalam Zunnun dikenal sebagai sufi yang memiliki keramat. Gelar “Zunnun” (zu annun-pemilik ikan) diberikan orang setelah mereka menyaksikan terjadinya keajaiban -tatkala ia yang sedang berada di kapal dituduh oleh para penumpang sebagai pencuri sebuah permata yang hilang. Setelah berseru : Ya Allah Engkaulah yang maha tahu. Tetapi tiba-tiba bermunculan ikan-ikan pada masing-masing mulutnya. Zunnun mengambilnya satu dan menyerahkannya kepada saudagar yang kehilangan. Semua mereka yang menuduh berlutut minta maaf kepadanya, dan sejak itulah ia digelari Zunnun.
  53. 53. Tokoh Tasawuf Irfani  JUNAID AL BAGHDADI, lengkapnya Abu al Qasim Junaid al Bahgdadi, adalah sufi terkemuka pada abad ke-9 (3 H). Orang tuanya berasal dari Nahawan, sebuah daerah pegunungan di selatan Hamzan, Persia. Kendati tidak ada catatan tentang tahun kelahirannya, dapat diperkirakan bahwa ia lahir pada perempatan kedua abad ke 9 (perempatan pertama abad ke 3 H ). Ia wafat di Baghdad pada 911 (297 H) , dalam usia tujuh puluhan atau delapan puluhan tahun.
  54. 54. Jasa Al-Junaid  Seperti halnya Ibnu Sina dalam Falsafat Islam, Junaid dalam tasawuf dipandang telah berjasa membawa tasawuf ke tingkat perkembangan tertinggi. Pandangan-pandangannya yang dalam dan bersifat konprehenship, paling banyak dicatat dan disajikan oleh sumber-sumber tasawuf tertua. Ia, karena memiliki ilmu yang dalam, hal dan maqom yang tinggi, serta murid yang banyak, mendapat gelar penghulu, panutan, atau imam para sufi (Syaikh al-Tha’ifah). Tidak mengherankan bahwa pada waktu wafatnya di Baghdad, konon jenazahnya disholatkan oleh lebih kurang 100 ribu orang, dan selama lebih sebulan kuburannya ramai di kunjungi orang untuk menunjukkan bela sungkawa, cinta, atau rasa hormat mereka kepadanya.  Dalam tasawuf, Al-Junaid mewakili aliran moderat. Ia mewakili tasawuf para fuqaha yang mendasarkan diri pada al-Qur’an dan as-Sunnah secara riil.
  55. 55. Hubungan Syariat dan Ma’rifat  Junaid dikenal sebagi sufi yang keras menjaga tasawuf agar tidak menyimpang dari ajaran syariat. Diriwayatkan bahwa ketika seseorang berkata bahwa ahlul ma’rifah tidak perlu lagi mengamalkan syariat, Junaid memberikan reaksi yang keras, dengan mengucapkan kata sebagai berikut: “orang yang mencuri dan berzina lebih baik daripada orang yang menggugurkan syariat itu; sesungguhnya para arifin senantiasa mengamalkan kewajiban yang berasal dari Tuhan, dan dengan pengamalan itulah mereka kembali kepada-NYA. Sekiranya aku terus hidup seribu tahun, aku tak akan mengurangi amal-amal kebaikan walau sebesar debu, kecuali bila ada penghalang yang tak teratasi.”  Junaid juga pernah menegaskan bahwa:” Semua jalan tertutup (terlarang) bagi manusia, kecuali bagi mereka yang menulusuri jejak langkah Rasul mengikuti sunnahnya, dan setia berada pada jalannya. Hanya bagi Rosul saja terbuka semua jalan kebaikan. Ingatlah bahwa madzhab kita terikat pada dasar-dasar dalam Al-Quan dan sunnah Nabi.”
  56. 56. Tasawuf Menurut Junaid  Menurut Junaid, tasawuf adalah mensucikan hati dari sikap bermufakat dengan kehendak manusia memisahkan diri dari akhlaq alamiah, memadamkan sifat-sifat kemanusiaan, menolak ajakan- ajakan nafsu, mengembangkan sifat-sifat rohaniyah, bergantung pada pengetahuan hakiki, menggunakan apa yang lebih utama begi keabadian, memberi nasihat kepada segenap umat, menyempurnakan upaya mendapatkan hakikat, dan mengikuti Rosul dalam syariat.  Selain itu ita juga mengajarkan bahwa tasawuf itu dibangun di atas 8 butir akhlaq para nabi atau rasul, yaitu: kemurahan hati (seperti pada nabi Ibrahim), keridhaan hati (seperti pada nabi Ishaq), kesabaran (seperti pada nabi Ayyub), berisyarat (seperti pada nabi Zakaria), keterasingan (seperti pada nabi Yahya), berpakaian bulu domba (seperti pada nabi Musa), berkelana (seperti pada nabi Isa), dan kefakiran dan bergantung pada Allah (seperti pada nabi Muhammad).
  57. 57. Makna Sabar  Al-Junaid selain memberi makna-makna biasa, juga makna-makna yang lebih tinggi untuk butir-butir akhlaq yang diajarkan dalam tasawuf. Tentang sabar misalnya Al-Junaid berkata:” berjalan dari dunia menuju akhirat mudah bagi para mukmin; hijrah dari makhluk untuk berdampingan dengan al-haq (Tuhan) berat; berjalan dari jiwa kepada Allah amat sulit, dan sabar bersama Allah paling susah.” Tentang sabar itu sendiri, ia katakan bahwa sabar itu menerima kepahitan tanpa bermuram hati; ridlo, menurutnya adalah tidak sempit dada menerima kadar Tuhan atau dengan kata lain berserah diri tanpa ikhtiar untuk mengelakkannya. Kefakiran diberinya makna ketergantungan pada Allah dan merasa cukup kaya denganNYA.  Junaid yang tidak diragukan oleh kalangan tasawuf mengalami pula hal fana’, tidak pernah mengucapkan kata-kata ganjil (syatahat). Ia tergolong tidak senang dengan ucapan demikian dan bahkan pernah berupaya menasehati Al-Hallaj agar dapat mengendalikan diri dari berbicara.
  58. 58. Masalah Tauhid dan Fana’  Allah adalah Yang Maha Esar, Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan Dia negasikan segala yang berbilang banyak, berhitungan, bisa disamai, segala sesuatu yang disembah selain-Nya, yang tidak bisa diserupakan, diuraikan, digambarkan, dan dibuatkan contoh-Nya, Dia tanpa padanan, dan Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.  Tauhid yang hakiki menurut al-Junaid adalah buah kefanaan dari semua yang selain Allah. Tauhid yang secara khusus dianut para sufi adalah pemisahan dari yang dahulu dengan yang baharu, keluar dari tanah asal, penginderaan apa yang dicintai (manusia), dan penjauhan dari apa yang diketahui dengan apa yang tidak diketahui. Hendaklah yang Maha Benar menjadi tempat bagi semua-Nya.  Menurut Al-Junaid, hendaklah seseorang menjadi pribadi yang berada di tangah Allah di mana segala keberlakuan-Nya berlaku bagi dirinya.  Hal ini tidak bisa tercapai kecuali dengan “membuat dirinya fana dari dirinya dan dari seruan makhluk kepadanya, dengan sirnanya perasaan dan gerakannya, akibat apa yang dia kehendaki dikendalikan Yang Maha Benar.
  59. 59. Masalah Tauhid dan Fana’  Dengan kefanaan dalam tauhid, seorang sufi bisa merealisasikan “keinginannya untuk ke luar dari ruang sempit menuju kefanaan abadi.  Dari pendapat al-Junaid di atas tampak jelas isyaratnya pada tauhid bentuk khusus yang berdasarkan kefanaan atas kehendak serta kepercayaan selain Allah, akibat sirnanya perasaan dan gerakan dengan kepercayaan penuh bahwa Allah melakukan segala sesuatu bagi hamba-Nya. Pengertian tauhid yang begini, yakni kefanaan dari hal yang normal baik dalam kehendak maupun pandangan, banyak mendapat perhatian para sufi setelahnya.  Kefanaan dalam tauhid adalah pengetahuan teoritis yang bisa dicapai jiwa manusia dalam alam lain, sebelum jiwa berpadu dengan tubuh dalam alam ini.
  60. 60. Tokoh Tasawuf Irfani  ABU ABDUL RAHMAN AL-SULAMI Nama lengkap al-Sulami adalah Muhammad ibn Husain ibn Muhammad ibn Musa al-Azdi yang bergelar Abu Abdul Rahman al-Sulami, lahir tahun 325 H dan wafat pada bulan Sya'ban 412 H/1012 M. Dia pakar hadits, guru para sufi dan pakar sejarah. Dia seorang syeikh thariqah yang telah dianugerahi penguasaan dalam berbagai ilmu hakikat dan perjalanan tasawuf.
  61. 61. ‘Abdun menurut Al-Sulami  Di antara pemikirannya adalah bahwa manusia akan menjadi hamba ('abd) sejati kalau dia sudah bebas (hurr: merdeka) dari selain Tuhan.  Kalau kehendak hati sudah menyatu dengan kehendak Allah, maka apa saja yang dipilih Allah untuknya, hati akan menerima tanpa menentang sedikitpun (qana'ah). Karena ‫ال‬ ‫وجه‬ ‫فثم‬ ‫تولوا‬ ‫فاينما‬ , kemanapun engkau berpaling, di situlah wajah Allah (QS. 2:115).
  62. 62. Konsep Dzikir Al-Sulami  Dalam konsep dzikir, al-Sulami berpendapat bahwa perbandingan antara dzikir dan fakir adalah lebih sempurna dzikir, karena kebenaran (al-haq) itu diberitakan oleh dzikir bukan oleh fakir dalam proses pembukaan kerohanian. Ada beberapa tingkatan mengenai dzikir, yaitu dzikir lidah, dzikir hati, dzikir sirr (rahasia), dan dzikir ruh.
  63. 63. Tasawuf Teoretis  Pada abad ke-3 dan ke-4 H, tasawuf berfungsi sebagai jalan mengenal Allah SWT (ma'rifah) yang tadinya hanya sebagai jalan beribadah. Tasawuf pada masa itu merupakan pengejawantahan tasawuf teoretis. al-Sulami yang lahir dan masuk kelompok sufi pada masa itu, terkenal sebagai penulis sejarah biografi kaum sufi masyhur yang semasa dengannya yaitu dalam kitabnya Adab al-Mutasawwafah. Selain itu, dia juga terkenal dengan kitabnya Thabaqah al-Sufiyin yang juga memaparkan biografi-biografi para sufi. Al-Sulami menitik tekankan tasawuf pada ketaatan terhadap al-Qur'an, meninggalkan perkara bid'ah dan nafsu syahwat, ta'dzim pada guru/syeikh, serta bersifat pema'af.
  64. 64. Tokoh Tasawuf Irfani  ABU AL-MUGIS AL-HUSAIN BIN MANSUR AL- BAIDAWI AL-HALLAJ (selanjutnya disebut saja al- Hallaj) adalah sufi terkemuka dari abad ke-9 (3 Hijriyah). Ia lahir di kota Baida’ Faris (Irak) pada 858 (224 H).  Pada masa remaja ia berada di Tutsar dan belajar pada Sashl bin Abdillah at Tutsari. Pada usia 18 tahun ia pergi ke Bashrah, dan selanjutnya berada di Baghdad. Ia belajar antara lain pada Al Junaid al Baghdadi dan Amru bin Usman al Maki. 
  65. 65. Al-Hallaj  Di mana pun ia berada ia melaksanakan dakwah, mengajak umat agar mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian pengikut-pengikutnya yang dikenal dengan sebutan Halajiyah, makin bertambah besar. Para pengikutnya itu yakin bahwa ia adalah seorang wali, yang memiliki berbagai kekeramatan.  Mungkin karena khawatir pada kebesaran pengaruhnya, kecenderungannya pada aliran Syiah, dan besarnya jumlah pengikutnya, penguasa di Baghdad menangkap dan memenjarakannya pada 910 (297 H). Dengan sejumlah tuduhan (bahwa ia berkomplot dengan kaum Qaramitah, yang mengancam kekuasaan daulat Bani Abbas; ia dianggap bersifat ketuhanan oleh sebagian pengikutnya yang fanatik; ia mengucapkan ana alhaq (Akulah yang maha benar): dan menyatakan bahwa ibadah haji tidak wajib, akhirnya ia disalib pada 914 (301 H), mayatnya dibakar dan debunya dibuang di sungai Tigris.  Konon al Hallaj menghadapi hukuman itu dengan penuh keberanian dan berkata pada saat tersalib : “Ya Allah, mereka adalah hamba-hamba-Mu, yang telah berhimpun untuk membunuhku, karena fanatik pada agama-Mu dan hendak mendekatkan diri kepada-Mu. Ampunilah mereka. Sekiranya Engkau singkapkan kepada mereka apa yang telah Engkau singkapkan kepadaku, niscaya mereka tidak akan memperlakukanku seperti ini.”
  66. 66. Al-Hallaj  Tidak diragukan bahwa al Hallaj adalah sufi yang tekun beribadah, sesuai dengan ajaraan syariat, hanya saja ia sering mengucapkan syatahat (ungkapan-ungkapan yang ganjil kedengarannya) pada saat- saat tenggelam dalam ekstase atau fana’ (sirna kesadarannya tentang segala-galanya, kecuali tentang Tuhan, seperti ungkapan “ana al Haq “ (saya yang maha benar), yang oleh sebagian ulama sering dipahami secara harfiah, sehingga ia dituduh mendakwakan diri kepada Tuhan.  Kendati al Hallaj memang sering mengucapkan “ana al Haq” itu, sebenarnya tidaklah ia bermaksud untuk mengatakan dirinya Tuhan, sebab ia juga pernah mengatakan sebagai berikut: “Aku adalah rahasia yang maha benar, dan bukanlah yang maha benar itu aku. Aku hanyalah satu dari yang benar, maka bedakanlah antara kami.” Oleh karena itu ungkapan “an al Haq“ itu tidak tepat untuk dipahami secara harfi. Ungkapan itu harus dipahami dengan cara lain.
  67. 67. Al-Hallaj  Perlu diketahui bahwa al Hallaj mempunyai pandangan bahwa Tuhan menciptakan manusia menurut bentuknya itu mengandung arti bahwa kendati manusia itu makhluk dan bukan Tuhan, manusia mempunyai bentuk (tabiat kemanusiaan) yang menyerupai bentuk (tabiat ketuhanan) yang dimiliki Tuhan. Dengan kata lain dapat dipahami bahwa bentuk manusia (tabiat kemanusiaan) adalah bentuk Tuhan (tabiat ketuhanan) yang tidak sempurna, sedangkan bentuk (tabiat ketuhanan) yang dimiliki Tuhan adalah maha sempurna dan suci dari kekurangan. Karena demikian bentuk (tabiat) manusia, maka pada manusia, kendati ia bukan Tuhan, lahirlah (tampak) bentuk Tuhan secara tidak langsung, seperti pada foto kepala Negara tampak bentuk kepala Negara secara tidak langsung. Dengan pengertian demikianlah al Hallaj berkata: Maha suci Zat yang bersifat kemanusiaan (yang diciptakan)-Nya membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang. Kemudian ia tampak nyata bagi makhluk-Nya (secara tidak langsung) dalam bentuk manusia yang makan dan minum.”
  68. 68. Al-Hallaj  Sebagai sufi, al Hallaj mengalami perasaan bersatu dengan Tuhan, yakni merasa bahwa rohnya dan roh Tuhan bersatu dalam badannya. Ia merasa terjadi hulul (berada atau bertempatnya roh Tuhan dalam badannya. Kata al Hallaj “Roh-Mu disatukan dengan rohku sebagaimana anggur disatukan dengan air suci; maka jika ada sesuatu yang menyentuh engkau ia menyentuh aku pula, dan ketika itu dalam tiap hal Engkau adalah (seperti ) aku.” Al Hallaj juga pernah berkata “Aku adalah (seperti) Dia yang kucintai dan Dia yang kucintai adalah (seperti) aku. Kami adalah dua roh yang bertempat dalam satu tubuh; jika anda lihat aku, anda lihat Dia, jika anda lihat Dia, anda lihat aku”. Bahwa bersatu itu hanya terjadi dalam perasaan (perasaan dalam ekstase atau wajd) terlihat dalam ungkapan al Hallaj sebagai berikut : “Wahai tumpuan cita, aku takjub pada-Mu dan padaku; Kau dekatkan aku pada-Mu, sehingga aku menyangka bahwa Engkau adalah aku: dan dalam wajd (ekstase) aku sirna: dengan diri-Mu Kau sirnakan aku dari (kesadaran)-ku.“ Demikianlah, persatuan itu hanya terjadi dalam perasaan atau dalam kesadaran. Dengan berpegang kepada perkataan al Halaj “Bukanlah yang maha benar (Tuhan) itu aku.“ Sebagai kata kunci, maka ungkapannya yang lain seperti “Aku adalah Dia”, “Engkau adalah aku,” dan “Aku yang maha benar”, lebih tepat dipahami dengan pengertian: “Aku seperti Dia,” “Engkau seperti aku, dan “Aku seperti yang maha benar”, tapi tidak identik atau persis sama.
  69. 69. Tokoh Tasawuf Irfani  ABU YAZID AL-BISTAMI, (selanjutnya disebut Al-Bistami) adalah tokoh sufi abad ke-3 H. Ia lahir pada (804/188 H) dan wafat pada (875/261 H). Kakeknya seorang Majusi, tapi kedua orang tuanya adalah penganut Islam yang saleh dan wara’ (sederhana dan mementingkan halalnya rezeki). Al Bistami hampir sepanjang hidupnya menetap di kota kelahirannya, Bistam (di tenggara laut Kaspia, Iran). Beberapa kali ia terpaksa menyingkir dari kota itu untuk waktu yang relative singkat, karena munculnya permusuhan dari pihak yang menganggap tasawufnya menyimpang.
  70. 70. Al-Bistami  Sebagaimana halnya anak dan remaja muslim, ia pada masa mudanya mendalami al-Quran dan Hadis. Ia menekuni fikih Hanafi. Setelah menjalani tasawuf, ia dikenal sebagai sufi yang sangat memperhatikan syariat atau keteladanan Nabi Muhammad. Hal ini terlihat dari salah satu nasihatnya yang lebih kurang demikian, “Kalau anda lihat seseorang sanggup melakukan pekerjaan keramat, seperti duduk bersila di udara, maka janganlah anda terperdaya olehnya. Perhatikanlah apakah ia melaksanakan suruhan, menjauhi larangan, dan menjaga batas-batas syariat.” Juga terlihat dari sikap dan komentarnya terhadap seseorang yang sudah dikenal zahid, setelah ia menyaksikan orang itu melanggar sunnah Nabi dengan meludah ke arah kiblat di dalam mesjid. Komentarnya : “Orang ini tidak menjaga satu adab dari adab- adab yang diajarkan Rasulullah. Bila ia begini, bagaimana pula ia dapat dipercaya atas apa-apa yang didakwahkannya.” Ia juga mengungkapkan bahwa poernah terbetik di hatinya untuk memohon kepada Allah agar Ia memberikan sikap tidak acuh sama sekali pada makanan dan wanita, tapi hatinya kemudian berkata, “ Pantaskah aku meminta kepada Allah sesuatu yang tidak pernah diminta oleh Rasulullah ?“. Ketika di Tanya tentang sufi, al Bistami berkata : “ Sufi adalah orang yang tangan kanannya memegang kitabullah, tangan kirinya memegang sunnah Rasul-Nya, salah satu matanya memandang ke surga dan yang lain ke neraka, ia memakai sarung dunia dan mantel akhirat sambil
  71. 71. Ajaran Al-Bistami  Ajaran yang sudah masyhur dihubungkan kepada Al-Bistami adalah ajaran tentang fana’ (kesirnaan ), baqa’ (kekekalan) , dan ittihad (bersatu) dengan Tuhan. Ketiganya merupakan tiga aspek dari satu pengalaman yang terjadi setelah tercapainya makrifat.
  72. 72. Konsep Fana’ Al-Bistami  Yang dimaksud dengan fana’ itu adalah lenyapnya kesadaran diri seorang sufi tentang alam ini, termasuk tentang dirinya sendiri. Al-Bistami pernah mengatakan bahwa ketika ia naik haji untuk pertama kali, yang ia lihat adalah bangunan ka’bah dan dirinya. Kemudian ia naik haji lagi, maka selain melihat bangunan ka’bah dan dirinya, ia merasakan Tuhan di ka’bah. Pada haji yang ketiga, ia tidak merasaakan apa-apa lagi kecuali Tuhan di ka’bah. Al Bistami dicatat pernah berkata; “ Hari pertama aku zuhud terhadap dunia dan segala isinya; pada hari ke dua aku zuhud terhadap akhirat dan segala isinya; pada hari ke tiga aku zuhud terhadap apa saja selain Allah; pada hari keempat tidak ada yang tinggal bagiku lagi selain Allah.” Gambaran kesadaran Al-Bistami seperti tersebut itu biasanya disebut fana’. Ke mana pun ia menghadapkan mukanya, yang terlihat oleh mata hatinya hanya Allah; mata hatinya yang menghadap ke wilayah gaib terbuka, sedang yang menghadap ke wilayah empiris menjadi tertutup. Hanya Allah yang berada dalam kesadarannya, sedang yang selain-Nya lenyap sama sekali dari kesadarannya. Dalam keadaan fana’ itulah ia berkata ; “Yang ada dalam jubah ini hanya Allah.”
  73. 73. Konsep Baqa’ Al-Bistami  Dengan terjadinya fana’ itu, terjadi pulalah baqa’. Kesadaran tentang selain Allah sirna (fana’), tapi kesadaran tentang Allah semata terus berlangsung (baqa’). Kata Al-Bistami ; “Ia telah membuat aku gila pada diriku sehingga aku mati, kemudian Ia membuat aku gila pada-Nya, dan aku pun hidup, aku berkata; Gila pada diriku adalah kehancuran (fana’) sedang gila pada- Mu adalah kelanjutan hidup (baqa’).” Al-Bistami juga berkata; ”Aku tahu pada Tuhan melalui diriku sampai aku hancur, kemudian aku tahu pada-Nya melalui diri-Nya, maka aku hidup.”
  74. 74. Konsep Ittihad Al-Bistami  Dilihat dari sisi lain, apa yang disebut fana’ dan baqa’ itu dapat pula disebut ittihad (bersatu) dengan Tuhan. Ia yang merasa hidup dan tenggelam dalam lautan ketuhanan, akan merasa seperti besi yang berada dalam lautan api, ia merasa penuh dengan sifat-sifat ketuhanan. Keadaan ittihad itu tergambar dalam ungkapan Al-Bistami berikut ini; ”Aku adalah Engkau, Engkau adalah aku, dan aku adalah Engkau, ; konversipun terputus, kata menjadi satu , bahkan seluruhnya menjadi satu.” Ungkapan-ungkapannya yang seperti inilah yang dianggap menyeleweng oleh ulama yang bukan sufi.
  75. 75. Tokoh Tasawuf Falsafi  IBNU ARABI, Lengkapnya Abu Bakar Muhammad Ibnu Ali Ibnu Arabi adalah sufi kelahiranAndalusia dan berpengaruh besar. Ia lahir di Murcia apada 1164 (560 H), pada masa pemerintahan Sultan Muhammad bin Sa’ad bin Mardanisy. Keluarga yang melahirkannya adalah keluarga yang saleh. Ayah dan kedua pamannya termasuk golongan sufi. Pada 1172 (568 H), keluarganya, karena situasi politik yang memburuk di Murcia, terpaksa pindah ke Seville. Di Seville ini, ia selain dibimbing oleh ayahnya, tekun sekali mempelajari ilmu-ilmu keislaman, seperti tafsir, hadis, fikih, teologi, dan tasawuf pada sejumlah ulama. Masih dalam rangka memperluas ilmu dan pengalaman, ia sejak berusia 30 tahun sering melakukan perlawatan ke berbagai negeri untuk berjumpa dan berguru pada syekh-syekh yang hidup di Andalusia (Spanyol), Maroko, AlJazair, dan Tunisia. Disebutkan misalnya, ia berjumpa dengan Ibnu Rasyid (filosof yang sedang bertugas sebagai hakim kepala di Kordoba), dan belajar pada syekh Abu Madyan di Telemsar di Al Jazair. Sejak 1201 (598 H), ia mulai meninggalkan dunia Islam belahan barat untuk selamanya, dan melakukan berbagai perlawatan ke negeri-negeri Islam di belahan timur, seperti Mesir (598, 603-604 H), Hejaz (698-600; 611 H), Irak ( 601,608 H) Asia Kecil (607 H), dan Syam ( 611 H). Akhirnya ia menetap di Damaskus (Syam), sampai wafat dan dimakamkan di pinggir kota itu pada 1240 (638 H).
  76. 76. Ibnu Arabi  Sejak masa muda, Ibnu Arabi telah memperlihatkan kepribadian yang menonjol. Ia cepat memahami apa yang diajarkan kepadanya. Ia tekun dan tabah belajar atau mengamalkan amal-amal tasawuf. Kendati banyak beribadat dan banyak melakukan perlawatan- perlawatan, ia mampu menghasilkan karya tulis yang luar biasa jumlahnya, yang sulit ditandingi oleh penulisan manapun. Ia, menurut keterangannya sendiri, berhasil menulis 289 buah buku atau risalah. Semua tulisannya berbicara dalam bidang tasawuf. karya tulisnya yan paling termasyhur adalah kitab “Al- Futuhat al Makkiyah“, yang sekarang dicetak dalam empat jilid, merupakan sebuah ensiklopedia besar tentang tasawuf, dan kitab “Fusus al Hikam“, yang menyajikan rumusan-rumusan final dari pendiriannya, terutama di sekitar Wahdatul wujud.
  77. 77. Tipe Tasawuf Ibnu Arabi  Tasawuf yang dianut oleh Ibnu Arabi adalah tipe tasawuf falsafi, yang oleh sebagian ulama ditentang keras. Karena tasawufnya dianggap mengandung ajaran yang menyimpang dari kebenaran, orang-orang di Mesir pernah berupaya membunuhnya, tapi ia dapat berlindung pada seorang syekh yang berpengaruh pada waktu itu di sana. Bagaimanapun, kebanyakan sufi sangat menghormatinya dan menilainya sebagai sufi terbesar (mereka menggelarinya asy-Syekh al- Akbar). Ajarannya cukup bergema pada terakat-tarekat yang berkembang luas pada abad-abad sesudah masa hidupnya, atau pada sufi-sufi yang tidak berada dalam tarekat tertentu.
  78. 78. Wahdatul Wujud  Faham wahdatul wujud, yang ia pandang orang sebagai pencetusnya yang pertama, adalah faham tentang keesaan atau kesatuan wujud. Menurut faham ini, yang ada secara hakiki hanyalah satu, yaitu Tuhan. Sedangkan wujud dari alam yang diciptakan oleh Tuhan itu, bukanlah wujud hakiki, tapi wujud bayangan. Alam ini diciptakan oleh Tuhan sedemikian rupa, sehingga alam ini merupakan bayangan bagi-Nya. Tuhan menciptakan alam ini agar melalui alam itu Ia dapat dikenal. Manausia tidak akan bisa secara langsung mengenal-Nya, seperti yang dikatakan-Nya dalam hadis qudsi: “Aku adalah perbendaaharaan yang terpendam, yang tidak dikenal, aku ingin supaya dikenal, maka aku ciptakan alam ini, sehingga dengannya mereka mengenal Aku.” Alam sebagai bayangan tentulah lain dari Tuhan, wujud hakiki; namun demikian alam itu sampai taraf tertentu menyerupai-Nya. Karena itulah maka alam tersebut merupakan tempat Tuhan menyatakan atau menampakkan diri-Nya secara langsung. Dengan memperhatikan dan mengetahui alam sebagai bayangan yangtidak sempurna, maka manusia dapat mengetahui bahwa Tuhan itu seperti alam, tapi maha sempurna. Ungkapan Ibnu Arabi, seperti alam (ciptaan) adalah Khalik (pencipta) haruslah dipahami bahwa alam itu kendati lain dari penciptanya, namun menyerupai-Nya, seperti foto rumah lain dari rumah, tapi pasti menyerupainya, sehingga foto itu dapat dipahami sebagai tempat rumah menampakkan dirinya secara tidak langsung.
  79. 79. Membaca Al-Qur’an  Sebagai sufi yang bertanggung jawab membimbing umat, Ibnu Arabi banyak menuliskan nasehat atau wasiat. Ia berwasiat antara lain agar gemarlah membawa al-Quran dan memperhatikan maksudnya, seperti memperhatikan bagaimana Tuhan memberikan sifat-sifat kepada hamba-hamba-Nya yang baik supaya dijadikan contoh, dan bagaimana Ia memberikan sifat-sifat kepada hamba-hamba-Nya yang jahat, agar dijauhi dan tidak dicontoh. Ia juga menasehatkan begini : ”Apabila anda membaca al-Quran, jadikanlah diri anda berada dalam al-Quran, dan bersungguh-sungguhlah mengamalkan isinya, sebagaimana anda bersungguh-sungguh membacanya, karena tidak ada seorangpun pada hari kiamat yang akan lebih diazab dari orang yang menghafal ayat al-Quran, tapi melupakan isinya. Rasulullah berkata : ”Perumpamaan mukmin yang membaca al-Quran sebagai buah Utrujah, harum daunnya dan lezat rasanya” yang dimaksud dengan harum baunya ialah bacaan al-Quran dengan iman yang indah, dan dengan lezat rasanya ialah iman yang diperoleh dari pembacaan al-Quran yang dipahami isinya.”
  80. 80. Tokoh Tawasuf Falsafi  AL-JILI, atau lengkapnya Abdul Karim ibnu Ibrahim al-Jili, adalah seorang sufi terkenal dari negeri Baghdad. Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui orang. Para penulis hanya menyebutkan bahwa ia lahir di al-Jili, sebuah negeri di kawasan Baghdad, pada 1365 (767 H) dan meninggal dunia di tempat yang sama pada 1409 (811 H).
  81. 81. Guru Al-Jili  Jenjang pendidikan yang dilalui al-Jili juga sulit ditelusuri. Al-Jili hanya diketahui pernah berguru pada Abdul Qadir al Jaelani, seorang pendiri dan pemimpin tarekat Qadiriyah yang kondang. Di samping itu ia juga sempat berguru pada Syekh Syarafud- Din Ismail ibnu Ibrahim al Jabarti, seorang tokoh tasawuf terkenal di negeri Zabit Yaman.
  82. 82. Karya Al-Jili  Dalam dunia tulis menulis Al-Jili termasuk seorang sufi yang cukup kreatif. Karangannya tentang tasawuf tidak kurang dari 20 buah, yang paling terkenal di antaranya “Al Insan al Kamil fi Makrifah al Awakhir wa al Awail dan Al Kahf wa ar-Raqim fi Syarh Bismillah ar-Rahman ar-Rahim”. Konon bukunya yang disebut pertama “al Insan al Kamil” pernah menggemparkan ulama Sunnah dan fikih pada masa itu meskipun isinya hanya menjelaskan buah pikiran Ibnu Arabi dan Jalaluddin Rumi, karena memang Al-Jili terkenal sebagai penerus dan pembela ajaran Muhyiddin Ibnu Arabi dan Jalaluddin Rumi, walaupun dalam beberapa hal mereka berbeda pendapat.
  83. 83. Ajaran Al-Jili  Ajaran al-Jili secara garis besar meliputi pengertian tentang Zat Mutlak, masalah Ruh, Tentang Nur Muhammad dan Insan Kamil (manusia sempurna). Zat Mutlak, menurut al-Jili adalah sesuatu yang dihubungkan kepadanya nama dan sifat ‘ainnya bukan pada wujudnya. Dalam arti bahwa setiap nama atau sifat yang dihubungkan kepada sesuatu maka sesuatu itu disebut zat, baik ia ada atau tidak. Zat Allah itu gaib dengan sendirinya, tidak dapat dicapai atau dijangkau dengan syarat apapun, maka untuk mencapai zat yan tertinggi harus dengan jalan Kasyaf Ilahi. Tanpa mengetahui kasyf tersebut maka pendekatan terhadap zat ilahi tidak mungkin dapat diketahui dan dicapai, karena zat tersebut berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa dan panca indera.
  84. 84. Tahap Kasyaf Al-Jili Kasyaf tersebut menurut al-Jili dapat melalui dengan beberapa tahap :  Fana dari dirinya sendiri untuk mencapai hadirat Tuhan.  Fana dari Tuhan untuk mencapai rahasia-rahasia Rububiyah.  Fana dari ketergantunan terhadap sifat-sifat Tuhan untuk berhubungan dengan Zat Tuhan.
  85. 85. Ajaran tentang Ruh  Ajaran Al-Jili lainnya adalah tentang ruh. Ruh menurut al-Jili ialah para malaikat. Malaikat adalah makhluk yang diciptakan Tuhan dari cahaya-Nya, kemudian dari malaikat inilah Tuhan menciptakan alam. Malaikat merupakan makhluk yang terdekat dan termulia di sisi Allah, karena itu malaikat diberi tempat di alam ufuk, alam jabarut dan alam malakut. Sedan ruh al Qudus atau ruh al arwah merupakan wajah yang khas dari wajah Tuhan, dengan wajah itu terciptalah yang maujud ini. Ruh al Qudus berarti ruh yang suci dari semua yang maujud. Ruh itu disebut juga dengan wajah ilahi yang ada dalam semua makhluk.
  86. 86. Nur Muhammad  Tentang Nur Muhammad, al-Jili menyatakan, Nur itulah sumber dari segala yang maujud, tanpa Nur maka tidak akan ada alam ini, tidak ada zaman dan keturunan. Kejadian alam ini pada mulanya bersumber dari pada Hakikat al Muhammadiyah atau Nur Muhammad, karena Nur Muhammad itulah asal segala kejadian. Ajaran Nur Muhammad ini pada mulanya dicetuskan oleh al-Hallaj, yang diteruskan kemudian oleh Ibnu Arabi. Al-Jili dalam hal ini hanya mengembangkan saja. Dalam ajaran Nur Muhammad ini dijelaskan bahwa Nabi Muhammad terdiri dari dua aspek, yakni rupa yang qadim, dan rupa yang azali. Dia telah terjadi sebelum terjadinya seluruh yang ada. Rupa yang azali adalah sebagai manusia, sebagai seorang rasul dan nabi yang diutus Tuhan, dan rupa ini akan mengalami maut. Sedang rupa yang qadim tetap ada meliputi alam, dari rupa yang inilah diambil segala Nur untuk menciptakan segala nabi dan rasul serta para wali.
  87. 87. Ajaran tentang Insan Kamil  Yang terakhir dari ajaran al-Jili adalah mengenai Insan Kamil, manusia sempurna. Menurut al-Jili Muhammad adalah Al Insan al Kamil karena mempunyai sifat-sifat al-Haq (Tuhan) dan al-Khalq (makhluk) sekaligus. Sesungguhnya al insan al kamil itu adalah Ruh Muhammad yang diciptakan dalam diri nabi-nabi sejak dari Adam sampai Muhammad, wali-wali serta orang-orang saleh. Al Insan al Kamil merupakan cermin Tuhan (copy Tuhan) yang diciptakan atas nama-Nya sebagai refleksi gambaran nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Al Insan al Kamil diberi hak-hak dan sifat-sifat yang istimewa dengan hukum- hukum Tuhan yan halus. Ia memiliki dua dimensi yaitu kanan dan kiri. Yang kanan merupakan aspek lahir seperti melihat, mendengar ….. Dan yang kiri......
  88. 88. Tokoh Tasawuf Falsafi  IBNU SAB’IN, lengkapnya Abdul-Hak ibnu Sab'in adalah seorang sufi terkemuka di Andalusia (Spanyol). Ia lahir di Murcia pada 1217 (614 H) dari keluarga bangsawan. Ayahnya seorang penguasa kota kelahirannya sendiri. Setelah memperoleh bimbingan dari sejumlah guru, untuk mempelajari al-Qur'an, hadits Nabi, sastra Arab, dan ilmu- ilmu keislaman lainnya. Ia tekun menelaah sendiri buku-buku yang diminatinya. Melalui ketekunannya itu ia berhasil memahami berbagai aliran dalam falsafat Yunani, Hermetisme, Persia dan India, di samping menguasai pemikiran-pemikiran al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu Rusyd, dan golongan Ikhwan as-Safa. Ia juga memahami aliran atau mazhab-mazhab dalam lapangan fikih, ilmu kalam dan tasawuf. Ia, karena akhirnya memilih jalan tasawuf, pantas disebut sufi yang berpengetahuan luas atau sufi yang menguasai falsafat.
  89. 89. Ibnu Sab’in  Ibnu Sab'in telah mulai mengajar dan sekaligus mendirikan tarekatnya, yang dikenal dengan nama tarekat Sab'iniyah, pada 1230-an (630-an H). Mungkin karena keadaan politik yang memburuk, atau karena sikap negative sebagian ulama fikih terhadapnya, ia dan sejumlah pengikutnya terpaksa hijrah dari Murcia pada 1244 (640 H), menuju Afrika Utara. Pada mulanya ia menuju Sabtah (Ceuta) dan diizinkan oleh penguasa kota itu, Ibnu Khalad, untuk menetap dan mengajar di sana. Seorang wanita kaya, yang tertarik kepada pengajarannya, menikah dengannya, dan memberikan hartanya untuk membangun sebuah zawiah bagi tarekatnya. Pada waktu berada di Sabtah ini, datang surat dari Raja Sisilia, Frederik II (1194-1250 M), yang menanyakan kepadanya persoalan falsafat Aristoteles. Dengan datangnya surat itu, yang kemudian dibalas oleh Ibnu Sab'in dengan jawaban-jawaban yang diharapkan Raja Sisilia tersebut, Ibnu Khalad (penguasa kota), yang bersikap negatif terhadap falsafat dan para pengasuhnya, segera menyadari siapa sebenarnya Ibnu Sab'in. Ia segera memaksa Ibnu Sab'in agar keluar dari Sabtah. Setelah terusir dari kota itu, Ibnu Sab'in berulangkali mengalami hijrah dari satu tempat ke tempat lain: ke Udwah, ke Bijayah, ke Qabis (di Tunisia) dan ke Kairo (Mesir), karena dimusuhi, baik oleh ulama fikih maupun pihak penguasa.
  90. 90. Ibnu Sab’in  Di Mesir pun ia tidak bisa tenteram, karena datang surat dari para fukaha Marokko atau Magribi kepada pihak penguasa di Mesir, dengan isu bahwa Ibnu Sab'in seorang mulhid (menyimpang dari jalan yang benar). Mungkin karena hasutan surat itu atau karena dituduh bermazhab Syi'ah, ia terpaksa lagi hijrah dari Mesir, yang pada waktu itu sedang dikuasai oleh Dinasti Ayyubi yang anti Syi'ah. Ia pergi ke Mekkah, dan ternyata memperoleh sambutan baik dan perlindungan dari Syarif Abu Nami, penguasa kota suci itu. Di Mekkah inilah ia dapat menikmati kehidupan yang tenteram, kendati dalam dua tahun menjelang wafatnya ia merasakan lagi permusuhan dari pihak fuqaha yang ada di sana. Konon dengan munculnya lagi permusuhan itu ia berniat hijrah ke India, tapi sebelum niat itu terlaksana ia sudah wafat pada 1272 (669 H). Berbagai versi ditulis orang tentang kematiannya (wafat biasa, diracun, bunuh diri), tapi versi mana yang benar tidak dapat dipastikan. Dugaan besar cenderung menyatakan bahwa ia wafat biasa.
  91. 91. Ajaran Tasawuf Ibnu Sab’in  Di antara paham tasawuf yang dianutnya adalah paham kesatuan mutlak (al-wahdat al-mutlaqat), yang menurut para ahli tidak persis sama dengan paham kesatuan wujud (wahdat al-wujud) Ibnu Arabi. Ia dinilai lebih tegas dari Ibnu Arabi dalam hal menekankan kesatuan wujud dan dalam menegaskan (meniadakan) kejamakan (pluralitas). Wujud, baginya, hanya satu yaitu wujud Allah saja. Wujud segenap maujudat yang lain adalah 'ain (pemandirian) wujud Allah yang satu itu, tidak merupakan tambahan bagi-Nya, dari segi apa pun. Wujud Allah, menurutnya, adalah asal bagi apa yang telah ada di masa lalu, apa yang ada sekarang, dan apa yang akan ada di masa mendatang. Wujud materi yang dapat ditangkap secara inderawi, berasal dari wujud Allah. Kadang-kadang ia menggambarkan Allah itu sebagai lingkaran luas yang tak berbatas, sedangkan wujud alam sebagai wujud sempit dan terbatas, yang berada di dalam lingkaran yang luas. Esensi kedua wujud itu satu. Kadang-kadang ia menggambarkan hubungan antara wajib al-wujud (Allah) dan mumkin al-wujud (alam) seperti hubungan materi dan bentuk.
  92. 92. Al-Qur’an dan Sunnah  Menurut Ibnu Sab'in, beberapa ayat al-Qur'an dan hadits Nabi mengacu pada paham yang dianutnya itu. Ayat tersebut menurutnya adalah: "Dia (Allah) adalah yang pertama (al- awwal), yang akhir (al-akhir), yang tampak (az-zahir) dan yang tersembunyi (al-batin)" (Q.S. al-Hadid-3); dan "segala sesuatu akan hancur, kecuali wajah (esensi)-Nya" (Q.S. al-Qasas: 88). Sebagian ulama, karena tidak sependapat dengan pemahamannya yang seperti di atas, cenderung menilai pemahaman seperti itu menyimpang dari ajaran tauhid yang benar, dan itu pulalah yang mungkin menjadi sebab utama ia dimusuhi para ulama dan fuqaha, dan terpaksa berulang kali mengalami pengusiran.
  93. 93. Tokoh Tasawuf Falsafi  IBNU MASARRAH, lengkapnya Muhammad Ibnu Abdillah Ibnu Masarrah al Jabali adalah seorang sufi dari Andalusia (Spanyol). Ia lahir di Cordova pada 883 (269 H) dan wafat di zawiyahnya di Sierra, dekat Cordova juga, pada 931 (319 H). Karena memberikan perhatian yang cukup besar pada falsafat, ia disebut juga sufi filosof. Ia bahkan dapat dipandang sebagai filosof muslim pertama untuk kawasan dunia Islam belahan Barat. Sementara predikat filosof muslim pertama di dunia Islam Timur disandang oleh al-Kindi.
  94. 94. Ibnu Masarrah  Ibnu Masarrah banyak memperoleh bimbingan dan pengajaran agama langsung dari ayahnya, Abdullah ibnu Masarrah. Ayahnya ini pada masa mudanya, sekitar 854 (240 H) pernah berkunjung ke Dunia Islam bagian Timur, termasuk Irak, dan menjadi pecinta ilmu pengetahuan serta penganut teologi Mu’tazilah. Setelah kembali ke Cordova, ia juga bersahabat karib dengan tokoh Mu’tazilah, Khalil al Ghaflah, dan juga berupaya mengajarkan paham Mu’tazilah. Ibnu Masarrah mendapat dorongan yang kuat dari ayahnya untuk menekuni ilmu pengetahuan dan filsafat, serta menjalani corak kehidupan zuhud. Berkat potensi besar yang dimilikinya dan kesungguhannya, ia berkembang seperti yang diharapkan ayahnya.
  95. 95. Ibnu Masarrah  Masih dalam usia remaja, Ibnu Masarrah berpisah dari ayah yang menjadi pembimbingnya, karena ayahnya terpaksa menyingkir dari Andalusia, pergi ke Mekkah, dan wafat di kota suci itu beberapa tahun kemudian (899/286 H). Ia masih beruntung dapat mempelajari dan menekuni buku-buku yang ditinggalkan oleh ayahnya, dan agaknya pada usia 20-an ia sudah menyiarkan pula pandangan-pandangannya, yang ternyata menimbulkan reaksi negatif di kalangan ulama dan fukaha di Andalusia. Sebagai akibat reaksi negatif itu, ia terpaksa pula menyingkir dari Andalusia dan pergi ke kawasan Islam belahan Timur. Menurut catatan yang ada, ia pernah berjumpa di Mekkah dengan dua ulama sufi, yaitu : Mahrajuri (w. 941/330 H) dan Abu Said Ibnu Muhammad ibnu Ziyad ibnu al Arabi (w. 952/341 H di Mekkah); yang akhir ini disebutkan menulis buku yang khusus dimaksudkan untuk menyerang paham yang dianut Ibnu Masarrah. Tahun berapa persisnya ia meninggalkan Andalusia dan tahun berapa kembalinya, tidak diketahui, karena tidak ada informasi dari penulis masa lalu tentang itu. Informasi yang tersedia menunjukan bahwa ia bersama pengikutnya pada 912/300 H (tahun pengangkatan Abdur Rahman III sebagai Amir atau penguasa di Cordova dan amir ini memiliki kebijaksanaan yang lebih toleran) sudah berada pada sebuah zawiyah di Sierra, dekat Cordova itu, menjalani hidup kesufian. Di sanalah ia menetap sampai wafat.
  96. 96. Ibnu Masarrah  Ia mengarang sejumlah buku atau risalah. Dua di antaranya berjudul: Kitab at-Tabsirat (Buku Pengajaran) dan Kitab al Huruf (tentang simbol-simbol huruf). Sejumlah sarjana yang melakukan penelitian tentang Ibnu Masarrah, seperti Miguel Asin Palacios, Henry Corbin, dan lain-lain, menyebutkan bahwa karangan-karangan Ibnu Masarrah telah hilang atau lenyap dan hanya dua buku atau risalah saja yang diketahui judulnya, seperti tersebut di atas. Rupanya ada perkembangan baru, Dr. Muhammad Kamal Ja’far telah menjumpai dua karya di atas dan membahasnya dengan judul “Di Antara karangan-karangan Ibnu Masarrah yang hilang“ pada majalah pendidikan di Tripoli, Libia, pada 1974 (1395 H ).
  97. 97. Ibnu Masarrah  Ibnu Masarrah, seperti halnya al Farabi yang sezaman dan mungkin bertemu dengannya tatkala ia menyingkir ke dunia Islam belahan Timur. Ia juga menganut paham emanasi, yang lebih mirip dengan kerangka emanasi Plotinus. Menurutnya Tuhan adalah wujud Pertama, Pencipta, Maha Mengetahui, Maha Berkehendak, dan sebab Pertama atau Sebab dari segala sebab. Akibat pertama sebagai ciptaan-Nya yang langsung adalah al unsur, yang diterjemahkan oleh para ahli sebagai “materi pertama” yang bersifat rohaniah dan menjadi sumber bagi wujud potensial dan wujud-wujud yang mengandung kejamakan. Akibat kedua yang dihasilkan Tuhan melalui al unsur, adalah al Aql (Akal). Selanjutnya yang ketiga, melalui dua pertama, adalah an-Nafs (Jiwa); yang keempat, melalui tiga pertama, adalah Nature Semesta (Tabiat Umum); dan yang kelima, melalui empat pertama, adalah materi kedua, yang sudah bersifat Murakkab (tersusun).
  98. 98. Tema Makalah  Hasan Al-Basri  Rabiah al-Adawiyah  Dzunnun Al-Misri  Al-Ghazali  Al-Junaidi  Al-Qusyairi  Al-Muhasibi  Al-Jilli

×