BAB I                                     PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang             Lahan lebak merupakan salah satu sumbe...
1.2 Tujuan          Dengan menerapkan teknologi penataan lahan serta pengelolaan lahan dan   komoditas pertanian secara te...
BAB II                                 PEMBAHASAN2.1 Pengelompokan dan Karakteristik Lahan2.1.1 Tipologi Lahan Lebak      ...
terjadi kemarau panjang. Ilustrasi jenis lahan lebak disajikan pada Gambar berikut ini:2.1.2 Jenis Tanah dan Karakteristik...
Lahan gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah gambut, yaitu tanahyang terbentuk dari bahan organik atau sisa-sisa ...
musim kemarau terutama di lahan lebak dangkal, dan sebagian lahannya bertanahgambut. Dengan kondisi demikian, maka pengemb...
2.2 Karakterisasi Wilayah dan Perancangan Model Usaha Pertanian2.2.1 Karakterisasi Wilayah       Sebagai langkah awal yang...
2.2.2 Prinsip Dasar Perancangan Model Usaha Pertanian        Secara ringkas, pola pikir atau pendekatan dalam perancangan ...
2.3    Karakterisasi Lahan serta Penataan Lahan dan Tata Air2.3.1 Karakterisasi Lahan       Karakterisasi lahan dilakukan ...
periode genangan air. Klasifikasi tanah ditetapkan menurut Soil Taxonomy yangdikonversi menjadi jenis tanah dan tipe lebak...
pada musim kemaraunya digunakan untuk usaha tanaman pangan atau hortikultura.Apabila tanahnya berupa gambut, jangan ditata...
Tinggi guludan pada sistem surjan adalah 50-75 cm, sedangkan lebarnya 2-3m. Ukuran dukungan adalah tinggi 60-75 cm dan dia...
2.4    Penyusunan Model Usahatani2.4.1 Sistem Usahatani Terpadu       Adanya keragaman karakteristik biofisik lahan dan so...
pengembangan aneka komoditas dalam suatu sistem usaha terpadu sesuai dengankondisi lahan dan prospek pemasaran hasil perta...
diversifikasi produksi dan peningkatan pendapatan. Model usahatani berbasis padibisa berupa : padi, palawija, hortikultura...
DAFTAR PUSTAKAAchmadi, Las,Irsal. Inovasi Teknologi Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Lebak.       Diakses dari :     http...
SISTEM PERTANIAN TERPADU PADA LAHAN RAWA LEBAK          Mata Kuliah Sistem Pertanian Berkelanjutan II                     ...
KATA PENGANTAR       Puji syukur dan terima kasih penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esaatas berkat dan karunia-Nya ...
Pertanian pd lahan lebak (3)
Pertanian pd lahan lebak (3)
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Pertanian pd lahan lebak (3)

7,711 views

Published on

Pertanian pd lahan lebak (3)

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Lahan lebak merupakan salah satu sumberdaya lahan yang potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian di Indonesia pada tanaman pangan khusunya padi. Potensi lahan lebak yang berada di Indonesia anatara lain di Sumatra Selatan dan Kalimantan Selatan. Potensi lahan rawa lebak di seluruh Indonesia mencapai 14 juta hektar, terdiri dari rawa lebak dangkal seluas 4.166.000 ha, lebak tengahan seluas 6.076.000 ha dan lebak dalam seluas 3.039.000 ha (Widjaja Adhi, et al., 1998). Namun demikian pemanfaatannya belum dilakukan secara optimal. Aral yang dimanfaatkan untuk pertanian (padi) diperkirakan mencapai 6,5 % atau 300.000 hektar. Kendala utama pengembangan rawa lebak meliputi faktor biofisik terutama fluktuasi genangan air, sosial ekonomi dan kelembagaan serta dukungan sarana infrastuktur. Introduksi teknologi usahatani padi lahan lebak adalah salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas lahan. Produktivitas tanaman pangan di daerah rawa yang sudah dibuka tersebut pada saat ini relatif masih rendah jika dibandingkan dengan produktivitas di lahan beririgasi (Sabran et al, 1999). Menurut Adimihardja et al, (1998) pemanfaatan lahan rawa untuk usaha pertanian hendaknya memperhatikan faktor-faktor fisik dan lingkungan yang dapat menjadi kendala dalam pengembangan usaha pertanian (Faktorfaktor tersebut meliputi: a) lama dan kedalaman genangan air banjir serta kualitas air, b) ketebalan gambut, kandungan hara dan tingkat kematangan gambut, c) kedalaman lapisan pirit serta kemasaman setiap lapisan tanahnya.
  2. 2. 1.2 Tujuan Dengan menerapkan teknologi penataan lahan serta pengelolaan lahan dan komoditas pertanian secara terpadu, lahan lebak dapat dijadikan sebagai salah satu andalan sumber pertumbuhan agribisnis dan pendukung ketahanan pangan nasional. Hal ini ditunjukkan oleh petani lokal yang telah mengembangkan berbagai model usaha pertanian di beberapa lokasi lahan lebak dengan menerapkan teknologi kearifan lokal maupun hasil penelitian.
  3. 3. BAB II PEMBAHASAN2.1 Pengelompokan dan Karakteristik Lahan2.1.1 Tipologi Lahan Lebak Lahan rawa lebak adalah lahan yang pada periode tertentu (minimal satubulan) tergenang air dan rejim airnya dipengaruhi oleh hujan, baik yang turunsetempat maupun di daerah sekitarnya. Berdasarkan tinggi dan lama genangan airnya,lahan rawa lebak dikelompokkan menjadi lebak dangkal, lebak tengahan dan lebakdalam. Lahan lebak dangkal adalah lahan lebak yang tinggi genangan airnya kurangdari 50 cm selama kurang dari 3 bulan. Lahan lebak tengahan adalah lahan lebak yangtinggi genangan airnya 50-100 cm selama 3-6 bulan. Lahan lebak dalam adalah lahanlebak yang tinggi genangan airnya lebih dari 100 cm selama lebih dari 6 bulan(Widyaya Adhi, et al., 2000). Lahan lebak dangkal umumnya mempunyai kesuburan tanah yang lebih baik,karena adanya pengkayaan dari endapan lumpur yang terbawa luapan air sungai.Lahan lebak tengahan mempunyai genangan air yang lebih dalam dan lebih lamadaripada lebak dangkal, sehingga waktu surutnya air juga lebih belakangan. Olehkarena itu, masa pertanaman padi pada wilayah ini lebih belakang daripada lebakdangkal. Lahan lebak dalam letaknya lebih dalam yang pada musim kemarau denganiklim normal umumnya masih tergenang air dan ditumbuhi oleh beragam gulmaterutama jenis Paspalidium, sehingga wilayah ini merupakan reservoir air dan sumberbibit ikan perairan bebas. Lahan ini umumnya jarang digunakan untuk usaha tanaman,kecuali pada areal yang periode tidak tergenang airnya lebih dari 2 bulan atau bila
  4. 4. terjadi kemarau panjang. Ilustrasi jenis lahan lebak disajikan pada Gambar berikut ini:2.1.2 Jenis Tanah dan Karakteristiknya Jenis tanah yang umum dijumpai di lahan lebak adalah tanah mineral dan gambut. Tanah mineral bisa berasal dari endapan sungai atau bisa berasal dari endapan marin, sedangkan tanah gambut di lapangan bisa berupa lapisan gambut utuh atau lapisan gambut berselang seling dengan lapisan tanah mineral. Tanah mineral memiliki tekstur liat dengan tingkat kesuburan alami sedang - tinggi dan pH 4 - 5 serta drainase terhambat - sedang. Setiap tahun, lahan lebak umumnya mendapat endapan lumpur dari daerah di atasnya, sehingga walaupun kesuburan tanahnya umumnya tergolong sedang, tetapi keragamannya sangat tinggi antar wilayah atau antar lokasi. Pada umumnya nilai N total sedang-tinggi, Ptersedia rendah-sedang, K-tersedia 10-20 ppm sedang, dan KTK sedang-tinggi. Lahan lebak dengan tanah mineral yang berasal dari endapan sungai cukup baik untuk usaha pertanian. Sedangkan lahan lebak dengan tanah mineral yang berasal dari endapan marin biasanya memiliki lapisan pirit (FeS2) yang berbahaya bagi tanaman karena bisa meracuni tanaman terutama bila letaknya dekat dengan permukaan tanah. Oleh karena itu, reklamasi dan pengelolaan lahan ini harus dilakukan secara cermat dan hati-hati agar tanaman bisa tumbuh dan memberikan hasil yang baik (Alkasuma et al, 2003, Alihamsyah, 2005).
  5. 5. Lahan gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah gambut, yaitu tanahyang terbentuk dari bahan organik atau sisa-sisa pepohonan, yang dapat berupa bahanjenuh air dengan kandungan karbon organik sebanyak 12-18% atau bahan tidak jenuhair dengan kandungan karbon organik sebanyak 20%. Berdasarkan ketebalannya,lahan gambut yang dijumpai di lahan lebak bisa berupa lahan bergambut, gambutdangkal, gambut sedang, dan gambut dalam. Lahan bergambut adalah lahan yangketebalan lapisan gambutnya 20-50 cm. Lahan gambut dangkal adalah lahan yangketebalan lapisan gambutnya 50-100 cm. 23Lahan gambut sedang adalah lahan yangketebalan lapisan gambutnya 100-200 cm. Lahan gambut dalam adalah lahan yangketebalan lapisan gambutnya 200-300 cm. Tingkat kematangan tanah gambut jugaberagam, yaitu bisa matang (hemis), setengah matang (sapris) dan mentah (fibris). Tanah gambut biasanya memiliki tingkat kemasaman yang tinggi karenaadanya asam-asam organik, mengandung zat beracun H2S, ketersediaan unsur haramakro dan mikro terutama P, K, Zn, Cu dan Bo yang rendah, serta daya sangga tanahyang rendah. Lahan gambut dengan karakteristik tanah yang demikian memerlukanteknologi pengelolaan dan pemilihan jenis tanaman atau varietas tertentu agartanaman dapat tumbuh dengan baik dan memberikan hasil yang memadai.2.1.3 Masalah dan Kendala Pengembangan Masalah utama pengembangan lahan lebak untuk usaha pertanian adalahkondisirejim airnya fluktuatif dan seringkali sulit diduga, hidrotopografi lahannya beragamdan umumnya belum ditata baik, kebanjiran pada musim hujan dan kekeringan pada
  6. 6. musim kemarau terutama di lahan lebak dangkal, dan sebagian lahannya bertanahgambut. Dengan kondisi demikian, maka pengembangan lahan lebak untuk usahapertanian khususnya tanaman pangan dalam skala luas memerlukan penataan lahandan jaringan tata air serta penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayahnyaagar diperoleh hasil yang optimal. Selain masalah lahan, pengembangan lahan lebakuntuk pertanian juga menghadapi berbagai kendala, diantaranya : kondisi sosialekonomi masyarakat serta kelembagaan dan prasarana pendukung yang umumnyabelum memadai atau bahkan belum ada. Hal ini terutama menyangkut kepemilikanlahan, keterbatasan tenaga dan modal kerja serta kemampuan petani dalam memahamikarakteristik dan teknologi pengelolaan lahan lebak, penyediaan sarana produksi,prasarana tata air dan perhubungan serta jalan usahatani, pasca panen dan pemasaranhasil pertanian.
  7. 7. 2.2 Karakterisasi Wilayah dan Perancangan Model Usaha Pertanian2.2.1 Karakterisasi Wilayah Sebagai langkah awal yang merupakan tahapan penting dalam pengembanganlahan lebak, kegiatan identifikasi dan karakterisasi wilayah perlu dilakukan secararinci terhadap kondisi biofisik lahan, sistem usahatani, komoditas potensial,kelembagaan serta sarana dan prasarana penunjang yang ada, sosial ekonomi petanitermasuk persepsi petani dan prospek pemasaran komoditas pertanian. Hasilidentifikasi dan karakterisasi wilayah ini digunakan sebagai bahan perancanganmodel pengembangan lahan lebak, yang mencakup : arahan pemanfaatan lahan dansistem usahatani serta pengembangan infrastruktur dan kelembagaan pendukungnya. Karakterisasi lahan yang kegiatannya mencakup : pemetaan tanah dan pola(lama dan kedalaman) genangan air atau hidro-topografi ditujukan untuk menyusunkembali model penataan lahan dan jaringan tata air maupun pola tanam danpemilihan komoditas serta teknologi budidayanya. Karakterisasi sosial ekonomipetani serta kelembagaan dan prasarana penunjang digunakan untuk pemilihan modelusahatani dan komoditas serta menyempurnakan prasarana pertanian dankelembagaan yang lebih sesuai termasuk pola peningkatan kapasitas petani.Karakterisasi wilayah dilakukan oleh Tim multi disiplin terutama aparat dari BPTPdan Dinas Pertanian serta Kimpraswil. Data atau informasi yang diperolehselanjutnya ditabulasi dan dianalisis dengan metode yang sesuai dengan jenis datadan informasi, antara lain : dengan analisis deskriptif dan kelayakan pengembangan. Secara ringkas kegiatan karakterisasi wilayah untuk pengembangan lahanlebak disajikan pada Tabel 2.
  8. 8. 2.2.2 Prinsip Dasar Perancangan Model Usaha Pertanian Secara ringkas, pola pikir atau pendekatan dalam perancangan modelpengembangan lahan lebak spesifik lokasi melalui karakterisasi wilayah disajikanpada Gambar 1 dan 2. Dari hasil karakterisasi biofisik lahan yang berupa peta jenistanah dan genangan air atau hidro-topografi lahan serta karakteristik tanah dapatditentukan calon lokasi serta perancangan model pengembangan dan area percontohan.Dari informasi karakteristik tanah dan tipe lahan lebak serta persepsi petaninyaditentukan pula model usaha pertanian yang sesuai, meliputi : pola penataan lahan,pola tanam dan alternatif komoditas potensial yang bisa dikembangkan serta teknologibudidayanya.
  9. 9. 2.3 Karakterisasi Lahan serta Penataan Lahan dan Tata Air2.3.1 Karakterisasi Lahan Karakterisasi lahan dilakukan melalui pemetaan dan pengamatan tanahdengan jalan membuat minipit dan mengebor tanah pada jarak 50-500 m, disesuaikandengan keadaan fisiografi dan penggunaan lahannya. Pengamatan tanah meliputijenis dan karakteristik tanah, terutama untuk mendelineasi tanah mineral dan tanahgambut. Di samping itu, dilakukan penelusuran lapang untuk mengamati faktor fisiklingkungan, antara lain : fisiografi dan penggunaan lahan yang ada serta tinggi dan
  10. 10. periode genangan air. Klasifikasi tanah ditetapkan menurut Soil Taxonomy yangdikonversi menjadi jenis tanah dan tipe lebak, yaitu lebak dangkal, tengahan dandalam. Hasil pengamatan pemboran diplot pada peta dasar untuk menyusun petajenis tanah dan tipe genangan air atau tipe lebak. Skala peta adalah 1:2.500 untuklokasi areal percontohan dan 1:50.000 untuk areal pengembangan.2.3.2 Penataan Lahan dan Jaringan Tata Air Guna mengoptimalkan pengembangan lahan lebak untuk usaha pertanianyang sekaligus meningkatkan diversifikasi hasil pertanian dan pendapatan, makadalam jangka panjang perlu dilakukan penataan lahan dan jaringan tata air. Alternatifpola penataan lahan menurut tipe lahan lebak dan jenis tanahnya disajikan pada Tabel3. Karena genangan airnya kurang dari 50 cm, lahan lebak dangkal dapat ditatasebagai sawah tadah hujan atau kombinasi sawah dan tukungan maupun sistemsurjan, sedangkan lahan lebak tengahan karena genangan airnya lebih dari 50 cmhendaknya ditata sebagai sawah tadah hujan atau kombinasi sawah dan tukungan.Sedangkan lahan lebak dalam yang karena genangan airnya cukup dalam untuk waktuyang lama, hendaknya dibiarkan alami dan digunakan untuk usaha perikanan, tetapi
  11. 11. pada musim kemaraunya digunakan untuk usaha tanaman pangan atau hortikultura.Apabila tanahnya berupa gambut, jangan ditata sebagai surjan walaupun tergolonglahan lebak dangkal.
  12. 12. Tinggi guludan pada sistem surjan adalah 50-75 cm, sedangkan lebarnya 2-3m. Ukuran dukungan adalah tinggi 60-75 cm dan diameter atau sisinya sekitar 2-3 m.Pada petakan lahan yang ditata sistem surjan, pada salah satu sisinya digali saluranberukuran dalam 0,6 m dan lebar 1 m, fungsinya adalah sebagai pengatur kelengasantanah pada petak sawah dan tempat hidup atau perangkap ikan alam. Gunamenyeragamkan tinggi genangan air dan kesuburan tanah di petakan lahan, perludilakukan perataan lahan bersamaan dengan kegiatan pengolahan tanah. Pada lokasilahan lebak tengahan dan lebak dalam perlu dibuat jaringan tata air berupa saluranbesar yang menghubungkan petakan lahan ke sungai guna mengalirkan air darikawasan lahan ke sungai sehingga air genangan cepat surut dan sekaligus sebagaiprasarana transpotasi. Sedangkan pada petakan lahan perlu dibuat parit berukuran lebar 1 m dandalam 0,6 m yang dilengkapi dengan pintu air sistem tabat guna mengalirkan air daripetakan lahan ke saluran besar dan menampung air pada musim kemarau untukmengairi tanaman serta sekaligus sebagai tempat hidup atau perangkap ikan alam.Sistem jaringan tata air ini akan lebih baik jika dikombinasikan dengan penggunaanpompa air untuk memanfaatkan sungai yang posisinya tidak terlalu jauh dari kawasanlahan lebak. Penataan lahan sistem surjan atau tukungan dapat dilakukan oleh petanitetapi perlu percontohan dan penyuluhan. Sedangkan pembuatan jaringan tata airdan pompa hendaknya dilakukan atau dibantu oleh pemerintah.
  13. 13. 2.4 Penyusunan Model Usahatani2.4.1 Sistem Usahatani Terpadu Adanya keragaman karakteristik biofisik lahan dan sosial ekonomi, makasistem usahatani yang dapat dikembangkan di lahan lebak adalah sistem usahataniterpadu yang berbasis sumberdaya lokal (kondisi lahan dan komoditas yang sesuai)dengan fokus optimalisasi pemanfaatan sumberdaya pertaniannya serta hubungansinergistik antar subsistemnya. Dengan demikian, pengembangannya dapat tetapmenjamin kelestarian sumberdaya alamnya. Pemilihan sistem usahatani terpadubersifat spesifik dan dinamis yang disesuaikan dengan karakteristik biofisik lahandan kondisi sosial ekonomi setempat serta kemampuan dan preferensi masyarakatnyatermasuk prospek pemasarannya. Usahataninya harus diarahkan kepada
  14. 14. pengembangan aneka komoditas dalam suatu sistem usaha terpadu sesuai dengankondisi lahan dan prospek pemasaran hasil pertaniannya. Penganekaragaman komoditas ini perlu dilakukan untuk meningkatkanpendapatan dan mengurangi resiko kegagalan usahatani. Sistem usahataninyamencakup : aspek penataan lahan dan jaringan pengairan, pola tanam, pemilihankomoditas dan teknologi budidayanya disesuaikan dengan karakteristik lahannya. Dilihat dari pelaku dan tujuan pengembangannya, secara garis besar ada duamodel usahatani yang cocok dikembangkan di lahan lebak, yaitu : model usahataniberbasis tanaman pangan dan model usaha tani berbasis komoditas unggulan.Usahatani berbasis tanaman pangan ditujukan untuk menjamin keamanan pangan bagipetaninya, sedangkan usahatani berbasis komoditas unggulan dikembangkan padaskala luas dalam perspektif agribisnis oleh pengusaha. Komoditas yang bisadikembangkan di lahan lebak meliputi : tanaman pangan, tanaman sayuran, tanamanbuah-buahan, tanaman perkebunan, ternak, dan ikan. Pemilihan komoditas untuksuatu wilayah pengembangan perlu disesuaikan dengan kondisi dan penataan lahanserta prospek pemasaran hasilnya. Sedangkan pemilihan varietas tanamannyadidasarkan kepada daya adaptabilitasnya terhadap kondisi lahan lebak yang beragam,termasuk preferensi petani dan konsumen.2.4.2 Model Usahatani Berbasis Padi Kondisi lahan lebak pada musim hujan selalu tergenang air dan pada musimkemarau air tanahnya dangkal (kecuali lebak sangat dalam) akan menjadi mediatumbuh yang baik bagi tanaman padi. Oleh karena itu, model usahatani berbasis padidapat menjadi pilihan utama pemanfaatan lahan lebak untuk usaha pertanian. Dengankondisi air yang demikian, padi dapat ditanam di lahan lebak sebagai padi sawahmaupun padi gogo rancah (surung) dan rancah gogo (rintak) tergantung kepadapenataan lahan dan kondisi airnya. Melalui penataan lahan sesuai dengan karakteristiklahan (tipe lebak dan jenis tanahnya) serta pengaturan pola tanam sesuai dengan rejimairnya, berbagai komoditas pertanian bukan padi dapat diusahakan terutama untuk
  15. 15. diversifikasi produksi dan peningkatan pendapatan. Model usahatani berbasis padibisa berupa : padi, palawija, hortikultura, ternak dan ikan; padi, palawija, ternak danikan; padi, hortikultura, ternak dan ikan; padi, ternak dan ikan; padi dan ternak.2.4.3 Penyusunan Pola Tanam Pemilihan pola tanam di lahan lebak harus didasarkan kepada penataan lahanserta periode kering lahan dan pola hujannya. Faktor utama yang paling menentukanpenyusunan pola tanam adalah rejim air khususnya tinggi dan periode genangan ataukedalaman air tanah dan curah hujan. Waktu penanaman padi rintak bisanya bilagenangan air setinggi 10-15 cm, sedangkan untuk padi surung adalah awal musimhujan (3-4 kali hujan) tapi lahan belum tergenang air. Alternatif pola tanam menuruttipe lahan lebak dan penataan lahan disajikan pada Tabel 4. Alternatif pola tanam untuk sawah dan bagian tabukan pada sistem surjan dilahan lebak dangkal adalah padi gogo rancah - padi rancah gogo, padi gogo rancah -padi rancah gogo - palawija/hortikultura dan padi - palawija/ hortikultura. Polatanam pada bagian guludan surjan di lahan lebak dangkal adalah palawija/hortikultura- palawija/hortikultura atau ditumpangsarikan dengan buah-buahan tahunansedangkan pada tukungan ditanami tanaman buah-buahan tahunan. Pola tanam untuksawah di lahan lebak tengahan adalah padi gogo rancah - bera - padi rancah gogo,padi rancah gogo - palawija dan padi rancah gogo - hortikultura, sedangkan polatanam di 33 lahan lebak dalam yang dilengkapi dengan jaringan tata air dan periodetergenangnya air kurang dari 9 bulan adalah padi - bera, palawija/hortikultura - bera,tumpang sisip jagung + kacang hijau, jagung + sayuran berumur pendek, hortikulturaberjarak tanam lebar + sayuran berumur pendek.
  16. 16. DAFTAR PUSTAKAAchmadi, Las,Irsal. Inovasi Teknologi Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Lebak. Diakses dari : http://balittra.litbang.deptan.go.id/prosiding06/Utama-3.pdf tanggal 15 September 2011Alihamsyah, T, 2004. Potensi dan pendayagunaan lahan rawa dalam rangka peningkatan produksi padi. Badan Litbang Pertanian, Jakarta.Alihamsyah, T, 2005. Pengembangan Lahan Rawa Lebak untuk Usaha Pertanian. Balittra. Banjarbaru. 53 halaman.Alihamsyah, T. M. Sarwani, A.Jumberi, I. Ar-Riza, I. Noor, dan H. Sutikno 2003. Lahan Rawa Pasang Surut : Pendukung Ketahanan Pangan dan Sumber Pertumbuhan Agribisnis. Balittra. Banjarbaru. 53 halaman.Alkasuma, Suparto, dan G. Irianto. 2003. Idenetifikasi dan karakterisasi lahan rawa lebak untuk pengenbangan padi sawah dalam rangka antisipasi dampak El- NinoBalittra, 2004. Laporan Tahunan Penelitian Pertanian Lahan Rawa Tahun 2003. Penyunting Trip Alihamsyah dan Izzuddin Noor. Banjarbaru.Norginayuwati, Rafieq,Achmad. Kearifan Budaya Lokal dalam Pemanfaatan Lahan Lebak Untuk Pertanian di Kalimantan Selatan. Diakses dari : http://balittra.litbang.deptan.go.id/lokal/Kearipan-3%20Rafieq.pdf tanggal 15 September 2011Waluyu, dkk. Teknologi Usahatani Padi Di Lahan Lebak. Diakses dari : http://balittra.litbang.deptan.go.id/abstrak/Document9.pdf tanggal 15 September 2011Widjaja Adhi, D.A. Suriadikarta, M.T. Sutriadi, IGM. Subiksa, dan I.W. Suastika. 2000. Pengelolaan, pemanfaatan, dan pengembangan lahan rawa. Dalam A. Adimihardjo et al (eds.). Sumber Daya Lahan Indoensia dan Pengelolaannya. Puslittanak. Bogor. Hlm. 127-164
  17. 17. SISTEM PERTANIAN TERPADU PADA LAHAN RAWA LEBAK Mata Kuliah Sistem Pertanian Berkelanjutan II Disusun oleh : NADYA AVISHINA HADI 150110080213 IMAN MUHARDIONO 150110080222 BILQIS RAZNASTI QULSUM 150110080227 GILANG FAUZI 150110080230 AGROTEKNOLOGI F FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJAJARAN 2011
  18. 18. KATA PENGANTAR Puji syukur dan terima kasih penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esaatas berkat dan karunia-Nya sehingga kami berhasil menyelesaikan tugas MataKuliah Sitem Pertanian Berkelanjutan II yang berjudul “Sistem Pertanian Terpadu diLahan Rawa Lebak” dengan baik. Karena keterbatasan waktu, pengetahuan, pengalaman serta kesempatan yangada, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari materi,analisis, maupun sistematika pembahasannya. Oleh karenanya, segala kritik dan saranyang membangun guna perbaikan makalah ini lebih lanjut, akan kami terima dengansenang hati. Bandung, September 2011 Penyusun

×