I HAN
                            UR       DA
                        W




                                      Y
                    T




                                          A
                   TU




                                          NI
  PEMBELAJARAN BERBASIS
         PAIKEM
(CTL, Pembelajaran Terpadu, Pembelajaran Tematik)




      Materi Pelatihan Penguatan Penguatan
                Pengawas Sekolah




      DIREKTORAT TENAGA KEPENDIDIKAN
              DIREKTORAT JENDERAL
PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
        KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
                             2010
SAMBUTAN
                  DIREKTUR JENDERAL
   PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

Di dalam pelaksanaan program penguatan kemampuan kepala sekolah dan
pengawas sekolah yang merupakan agenda dari program 100 hari Mendiknas,
Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik
dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK) telah menyusun materi untuk
penguatan kemampuan kepala sekolah dan pengawas sekolah.

Di dalam pengembangan materi tersebut telah mengacu kepada standar
pengawas sekolah sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. 12 tahun 2007.
Saya memberikan penghargaan yang tinggi kepada Direktorat Tenaga
Kependidikan atas dihasilkannya materi penguatan kemampuan pengawas
sekolah dalam rangka meningkatkan kompetensi pengawas sekolah.

Materi ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi individu pengawas sekolah
dan lembaga yang terkait dalam penguatan kemampuan pengawas sekolah di
Propinsi dan Kab/Kota. Berbagai pihak yang ingin berkontribusi terhadap
program penguatan pengawas sekolah dapat memperkaya dengan berbagai
referensi dan khasanah bacaan lainnya untuk mewujudkan pengawas sekolah
yang profesional dan akuntabel.

Semoga semua usaha kita untuk penguatan kemampuan pengawas sekolah
sesuai dengan standar pengawas sekolah sebagaimana diamanahkan dalam
Permendiknas No. 12 tahun 2007 dapat diwujudkan, sehingga dapat
meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya dan menghasilkan lulusan yang
cerdas, kreatif, inovatif dan berpikir kritis.

                                               Jakarta, Januari 2010
                                               Direktur Jenderal PMPTK




                                               Prof. Dr. Baedhowi, M.Si
                                               NIP 19490828 197903 1 001




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 i
Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   ii
KATA PENGANTAR


Pada tahun 2007, Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen PMPTK bekerjasama
dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah berhasil merumuskan
standar pengawas sekolah/madrasah yang ditetapkan melalui Permendiknas No
12 tahun 2007. Untuk mengoperasionalkan dan mengimplementasikan
Permendiknas tersebut, Direktorat Tenaga Kependidikan telah berupaya
menyusun materi pelatihan sesuai dengan masing-masing komponen
kompetensi pengawas sekolah yang diatur dalam Permendiknas No 12 tahun
2007.
Materi yang telah disusun ini  merupakan bagian dari rencana pelaksanaan
program penguatan pengawas sekolah, program kedua dari delapan program
100 hari Mendiknas. Program penguatan kemampuan pengawas sekolah sangat
penting mengingat peran strategis pengawas sekolah di dalam proses
peningkatan mutu pendidikan.
Pengawas sekolah mempunyai tugas yang sangat penting di dalam mendorong
guru untuk malakukan proses pembelajaran untuk mampu menumbuhkan
kemampuan kreatifitas, daya inovatif, kemampuan pemecahan masalah, berpikir
kritis dan memiliki naluri jiwa kewirausahaan bagi siswa sebagai produk suatu
sistem pendidikan. Materi ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi
peningkatan kompetensi pengawas sekolah sesuai yang diamanahkan
Permendiknas No 12 tahun 2007.
Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna, namun kami perlu
menyampaikan penghargaan kepada tim penyusun buku ini yang telah berusaha
dan berhasil mempersiapakan materi yang dapat dijadikan bahan bacaan bagi
usaha peningkatan kompetensi pengawas sekolah. Berbagai pihak yang terkait
dengan penguatan kemampuan pengawas sekolah dapat memperkaya dengan
materi yang lain sepanjang mencapai tujuan yang sama yaitu meningkatkan
kompetensi pengawas sekolah sesuai dengan Permendiknas No 12 tahun 2007.
Semoga buku ini bermanfaat bagi usaha penguatan kemampuan pengawas
sekolah di seluruh Kab/Kota di Indonesia.

                                               Jakarta, Januari 2010
                                               Direktur Tenaga Kependidikan



                                               Surya Dharma, MPA, Ph.D
                                               19530927 197903 1 001




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  iii
Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   iv
DAFTAR ISI


SAMBUTAN DIRJEN PMPTK ........................................................................                         i
KATA PENGANTAR ................………………………….…………..………                                                                    iii
DAFTAR ISI .......................................................................................................     v
PENDAHULUAN ...…………………………….…………..………………..                                                                              1
 A. Latar belakang .......................................................................................             1
  B. Dimensi Kompetensi ..............................................................................                 1
 C. Kompetensi yang Hendak Dicapai .......................................................                             2
 D. Indikator Pencapaian Kompetensi .......................................................                            2
  E. Alokasi Waktu ......................................................................................              2
  F. Skenario ..................................................................................................       2
PEMBELAJARAN PAIKEM                                         ……………………….……..………..
                                                                                                                       4
………………………….
 A.      Latar Belakang ………………………................……………………....                                                          4
  B.     Konsep Dasar Pembelajaran ………………………………………..
                                                                                                                       7
         …….…………………………..…
  C.     Tujuan PAIKEM …………..……………………………………………                                                                         14
  D.     Karakteristik PAIKEM ……………………………………….......…....                                                              14
  E.     Jenis-jenis PAIKEM
                                                                                                                       16
         ……………………………………………………………………………
  F.     Penerapan PAIKEM……………………………………………………                                                                          16
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CTL) ……………………..........…                                                                     21
 A.      Latar Belakang Filosofis dan Psikologis ......…………………………                                                      21
  B.     Pengertian Pembelajaran Kontekstual ................................................                          24
  C.     Langkah-langkah CTL ………………………………………………...                                                                     26
 D.      Karakteristik Pembelajaran CTL……………….......…………………                                                            26
  E.     Strategi Pembelajaran Kontekstual .....................................................                       29
  F.     Perbedaan Pembelajaran Kontekstual Dengan Pembelajaran                                                        31
         Tradisional ...............................................................................................



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                                                 v
………….
 G.    Evaluasi Otentik dalam CTL .................................................................
                                                                                                                 33
                                                                              …………….
 H.    Penerapan Pembelajaran Kontekstual di Kelas .................................
                                                                                                                 35
                                                                …………….
PEMBELAJARAN TERPADU ..........................................................……….                              55
 A.    Latar Belakang ........................................................................................
                                                                                                                 58
       ………….
  B.   Tujuan Pembelajaran Terpadu .............................................................                 61
 C.    Jenis-jenis Pembelajaran ......................................................................           62
 D.    Pembelajaran IPA Terpadu ..................................................................               62
  E.   Pembelajaran IPS Terpadu ...................................................................
                                                                                                                 96
                                                                              …………….
PEMBELAJARAN TEMATIK .......................................................................                     109
A.     Latar Belakang ........................................................................................
                                                                                                                 116
                                                                                          …………….
  B.   Kerangka Berpikir ..................................................................................      118
 C.    Pengertian Pembelajaran Tematik .......................................................
                                                                                                                 122
                                                                           ...………….
 D.    Landasan Pembelajaran Tematik .........................................................                   125
  E.   Karakteristik Pembelajaran Tematik ...................................................
                                                                                                                 126
                                                                         …………….
  F.   Rambu-rambu Pembelajaran Tematik .................................................
                                                                                                                 128
       …………….
 G.    Implikasi Pembelajaran Tematik ..........................................................
                                                                                                                 128
                                                                           …………….
 H.    Tahap Persiapan Pembelajaran ............................................................
                                                                                                                 130
                                                                            …………….
  I.   Tahap Pelaksanaan Pembelajaran ........................................................
                                                                                                                 134
                                                                         …………….
  J.   Penilaian Pembelajaran Tematik ..........................................................
                                                                                                                 137
       ………….
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                                           vi
Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   vii
PENDAHULUAN

A. Latar belakang


    Tugas pengawas satuan pendidikan tidak hanya melakukan supervisi
    manajerial kepala sekolah, namun juga membina guru melalui supervisi aka-
    demik. Dalam pembinaan guru tentu harus mengacu pada kompetensi guru,
    terutama kompetensi profesional berkaitan dengan proses pembelajaran. Se-
    jalan dengan perkembangan teknologi serta teori-teori pembelajaran, maka
    guru pun dituntut mampu menguasai dan memilih pendekatan, strategi dan
    metode pembelajaran yang tepat, sehingga menjadikan siswa aktif, kreatif,
    dan belajar dalam suasana senang serta efektif.


    Menghadapi tugas tersebut pengawas tentu harus menguasai strategi/
    metode/ teknik pembelajaran/bimbingan yang up to date. Bila pengetahuan
    pengawas sudah ketinggalan, apa lagi hanya mengandalkan pengalaman
    tan-pa didukung teori-teori, maka pengawas tidak akan mandapatkan
    respek dari para guru yang dibinanya. Paling tidak, untuk jenjang
    pendidikan dasar pe-ngawas harus memahami garis besar strategi
    pembelajaran mata pelajaran utama antara lain: matematika, IPA, IPS,
    bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.
    Materi pelatihan ini dimaksudkan memberikan wawasan dan pengalaman
    langsung    melalui    praktek-praktek     simulasi   bagi   pengawas   dalam
    melaksanakan tugas supervisi akademik di tingkat TK, SD, SMP, SMA,
    SMK, SLB.

B. Dimensi Kompetensi
    Dimensi kompetensi yang diharapkan dibentuk pada akhir Diklat ini adalah
    dimensi Kompetensi Supervisi Akademik.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    1
C. Kompetensi yang Hendak Dicapai
     Setelah mengikuti pelatihan ini pengawas diharapkan dapat membim-bing
     guru dalam memahami, memilih dan menggunakan strategi/metode/tek-
     nik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangkan potensi siswa
     agar kritis, kreatif, inovatif, mampu memecahkan masalah melalui mata-
     mata pelajaran yang relevan.


D. Indikator Pencapaian Kompetensi
     Indikator pencapaian hasil diklat ini adalah apabila pengawas dapat:
     1. Memahami Hakikat Pendekatan Pembelajaran
     2. Mengidentifikasi Berbagai Jenis Pembelajaran PAIKEM
     3. Membimbing guru dalam menggunakan Berbagai Metode Pembelajaran
         Berbasis PAIKEM pada setiap mata pelajaran sesuai dengan tingkat
         berpikir peserta didik.


E.   Alokasi Waktu

        No.                     Materi Diklat                         Alokasi
           1. Pembelajaran Berbasis CTL                              4 jam
           2. Pembelajaran Terpadu (IPA Terpadu, IPS Terpadu)        4 jam
           3. Pembelajaran Tematik                                   4 jam

F.   Skenario
     1. Perkenalan
     2. Pejelasan tentang dimensi kompetensi, indikator, alokasi waktu dan
        skenario pendidikan dan pelatihan strategi pembelajaran.
     3. Pre-test
     4. Eksplorasi pemahaman peserta berkenaan dengan strategi pembelajaran,
        melalui pendekatan andragogi.
     5. Penyampaian Materi Diklat:
        a. Menggunakan pendekatan andragogi, yaitu lebih mengutamakan pe-
            ngungkapan kembali pengalaman peserta pelatihan, menganalisis, me-


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    2
nyimpulkan, dan mengeneralisasi dalam suasana diklat yang aktif, ino-
           vatif, kreatif, efektif, menyenangkan, dan bermakna. Peranan pelatih
           lebih sebagai fasilitator.
       b. Diskusi tentang indikator keberhasilan pelatihan strategi
           pembelajaran.
       c. Praktik pengembangan strategi pembelajaran.
   6. Post test.
   7. Refleksi bersama antara peserta dengan pelatih mengenai jalannya
       pelatihan.
   8. Penutup




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  3
PEMBELAJARAN
                               PAIKEM

A. Latar Belakang
    Para ahli pendidikan berpendapat bahwa proses pembelajaran di sekolah
    sampai saat ini cenderung berpusat kepada guru. Tugas guru adalah
    menyampaikan materi-materi dan siswa diberi tanggung jawab untuk
    menghafal semua pengetahuan. Memang pembelajaran yang berorientasi
    target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat
    dalam jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan
    masalah dalam kehidupan jangka panjang.


    Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang mereka pelajari
    bukan mengetahuinya, oleh karena itu para pendidik telah berjuang dengan
    segala cara dengan mencoba untuk membuat apa yang dipelajari siswa
    disekolah agar dapat dipergunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari.


    Salah satu prinsip paling penting dari psikologi pendidikan adalah guru
    tidak boleh semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa
    harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Guru dapat
    membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi
    menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan
    memberikan ide-ide, dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan
    menggunakan sendiri ide-ide, dan mengajak siswa agar menyadari dan
    menggunakan strategi-strategi mereka sendiri dalam belajar. Guru dapat
    memberikan kepada siswa tangga yang dapat membantu mereka mencapai




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                4
tingkat pemahaman yang lebih tinggi, tetapi harus di upayakan sendiri
    siswa yang memanjat tangga itu.


    Tingkat    pemahaman      siswa    menurut   model   Gagne    (1985)   dapat
    dikelompokan menjadi delapan tipe belajar, yaitu: (1) belajar isyarat, (2)
    stimulus-respon, (3) rangkaian gerak, (4) rangkaian verbal, (5) membedakan,
    (6) pembentukan konsep, (7) pembentukan aturan dan (8) pemecahan
    masalah (problem solving).


    Di lihat dari urutan belajar, belajar pemecahan masalah adalah tipe belajar
    paling tinggi karena lebih kompleks, Dalam tipe belajar pemecahan masalah,
    siswa berusaha menyeleksi dan menggunakan aturan-aturan yang telah
    dipelajari terdahulu untuk membuat formulasi pemecahan masalah. Lebih
    jauh Gagne (1985) mengemukakan bahwa kata-kata seperti penemuan
    (discovery) dan kreatifitas (creativity) kadang-kadang diasosiasikan sebagaii
    pemecahan masalah.


    Pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning
    /CTL), Pembelajaran Pembelajaran Terpadu , Pembelajaran Inkuiri dengan
    menggunakan metode pembelajaran berbuat seperti: kerja kelompok,
    eksperimen, pengamatan, penelitian sederhana, pemecahan masalah, dan
    pembelajaran praktik dengan dikombinasikan dengan metode ekspositori
    seperti ceramah, tanya jawab dan demonstrasi adalah pendekatan
    pembelajaran yang karakteristiknya memenuhi harapan itu. Pendekatan
    atau model-model pembelajaran tersebut menjadi tumpuan harapan para
    ahli pendidikan dan pengajaran dalam upaya menghidupkan kelas secara




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   5
optimal. Kelas yang hidup diharapkan dapat mengimbangi perubahan yang
    terjadi di luar sekolah yang demikian cepat.


    Setiap pendekatan memiliki ciri-ciri dasar atau karakteristik sendiri.
    Karakteristik ini berhubungan dengan apa yang menjadi fokus dan
    mendapat tekanan dalam pembelajaran. Ada pendekatan pembelajaran yang
    berfokus pada siswa yang meliputi perkembangan, kemampuan berpikir,
    aktivitas, pengalaman siswa. Pendekatan pembelajaran berfokus pada guru
    yang meliputi fungsi, peran, dan aktivitas guru. Pendekatan pembelajaran
    berfokus pada masalah meliputi masalah personal, sosial, lingkungan, atau
    pendekatan     pembelajaran     yang       berfokus   pada   teknologi,   sistem
    instruksional, sistem informasi, media, sumber belajar, dll.


    Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
    terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan
    tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh
    karenanya strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dalam
    pembelajaran tergantung pada pendekatannya. Hal ini sesuai dengan
    Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan
    Pendidikan Dasar dan Menengah yang menyatakan bahwa dalam kegiatan
    inti pembelajaran merupakan proses untuk mencapai Kompetensi Dasar
    (KD) yang harus dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
    menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
    memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, krativitas, dan kemadirian
    sesuai denganbakat, minat, dan perkembangan fisik dan psikologis peserta
    didik. Kegiatan pembelajaran ini dilakukan secara sistematis dan sistemik
    melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      6
B. Konsep Dasar Pembelajaran


    1.    Belajar dan Pembelajaran


         Belajar dan pembelajaran merupakan konsep yang saling berkaitan.
         Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku akibat interaksi
         dengan lingkungan. Proses perubahan tingkah laku merupakan upaya
         yang dilakukan secara sadar berdasarkan pengalaman ketika berinteraksi
         dengan lingkungan. Pola tingkah laku yang terjadi dapat dilihat atau
         diamati dalam bentuk perbuatan reaksi dan sikap secara mental dan fisik.


         Tingkah   laku   yang    berubah      sebagai   hasil   proses   pembelajaran
         mengandung pengertian luas, mencakup pengetahuan, pemahaman,
         sikap, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi memiliki karakteristik: (1)
         perubahan terjadi secara sadar, (2) perubahan dalam belajar bersifat
         sinambung dan fungsional, (3) tidak bersifat sementara, (4) bersifat positif
         dan aktif, (5) memiliki arah dan tujuan, dan (6) mencakup seluruh aspek
         perubahan tingkah laku, yaitu pengetahuan, sikap, dan perbuatan.


         Keberhasilan belajar peserta didik dipengaruhi oleh faktor internal dan
         eksternal. Faktor internal, yaitu kondisi dalam proses belajar yang berasal
         dari dalam diri sendiri, sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Ada
         beberapa hal yang termasuk faktor internal, yaitu: kecerdasan, bakat
         (aptitude), keterampilan (kecakapan), minat, motivasi, kondisi fisik, dan
         mental.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                        7
Faktor eksternal, adalah kondisi di luar individu peserta didik     yang
       mempengaruhi belajarnya. Adapun yang termasuk faktor eksternal
       adalah: lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat (keadaan sosio-
       ekonomis, sosio kultural, dan keadaan masyarakat).


       Pada hakikatnya belajar dilakukan oleh siapa saja, baik anak-anak
       maupun manusia dewasa. Pada kenyataannya ada kewajiban bagi
       manusia dewasa atau orang-orang yang memiliki kompetensi lebih
       dahulu agar menyediakan ruang, waktu, dan kondisi agar terjadi proses
       belajar pada anak-anak. Dalam hal ini proses belajar diharapkan terjadi
       secara optimal pada peserta didik melalui cara-cara yang dirancang dan
       difasilitasi oleh guru di sekolah. Dengan demikian diperlukan kegiatan
       pembelajaran yang disiapkan oleh guru.


       Pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk
       mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan
       kejadian-kejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-
       kejadian internal yang berlangsung di dalam peserta didik (Winkel, 1991).
       Pengaturan peristiwa pembelajaran dilakukan secara seksama dengan
       maksud agar terjadi belajar dan membuat berhasil guna (Gagne, 1985).
       Oleh karena itu pembelajaran perlu dirancang, ditetapkan tujuannya
       sebelum dilaksanakan, dan dikendalikan pelaksanaannya (Miarso, 1993)


       Proses pembelajaran yang berhasil guna memerlukan teknik, metode, dan
       pendekatan tertentu sesuai dengan karakteristik tujuan, peserta didik,
       materi, dan sumber daya. Sehingga diperlukan strategi yang tepat dan
       efektif.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  8
Strategi pembelajaran merupakan suatu seni dan ilmu untuk membawa
       pembelajaran sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan
       dapat dicapai secara efesien dan efektif (T. Raka Joni, 1992). Cara-cara
       yang dipilih dalam menyusun strategi pembelajaran meliputi sifat,
       lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar
       kepada peserta didik (Gerlach and Ely). Strategi belajar mengajar tidak
       hanya terbatas pada prosedur dan kegiatan, melainkan juga termasuk di
       dalamnya materi pengajaran atau paket pengajarannya (Dick and Carey).


       Faktor yang memengaruhi proses pembelajaran terdiri dari faktor
       internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan
       dengan pribadi guru sebagai pengelola kelas. Guru harus dapat
       melaksanakan proses pembelajaran, oleh sebab itu guru harus memiliki
       persiapan mental, kesesuaian antara tugas dan tanggung jawab,
       penguasaan bahan, kondisi fisik, dan motivasi kerja.


       Faktor eksternal adalah kondisi yang timbul atau datang dari luar pribadi
       guru, antara lain keluarga dan lingkungan pergaulan di masyarakat.
       Faktor lingkungan, yang dimaksud adalah faktor lingkungan alam,
       lingkungan sosial, dan lingkungan sekolah.


       Berdasarkan pendekatan yang digunakan, secara umum ada dua strategi
       pembelajaran yaitu strategi yang berpusat pada guru (teacher centre
       oriented) dan strategi yang berpusat pada peserta didik (student centre
       oriented).   Pendekatan    pembelajaran   yang    berpusat    pada    guru
       menggunakan strategi ekspositori, sedangkan pendekatan pembelajaran




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    9
yang berpusat pada peserta didik menggunakan strategi diskoveri inkuiri
       (discovery inquiry).


       Pemilihan strategi ekspositori atau diskoveri inkuiri dilakukan atas
       pertimbangan karakteristik kompetensi yang menjadi tujuan yang terdiri
       dari sikap, pengetahuan dan keterampilan, serta karakteristik peserta
       didik dan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu tidak ada strategi
       yang tepat untuk semua kondisi dan karakteristik yang dihadapi. Guru
       diharapkan mampu memilah dan memilih dengan tepat strategi yang
       digunakan agar hasil pembelajaran efektif dan maksimal.


       Pemilihan strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan:
       a.   karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai;
       b. sumber referensi terbatas;
       c.   jumlah pesera didik dalam kelas banyak;
       d. alokasi waktu terbatas; dan
       e.   jumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau
            bahan banyak.
       Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi ekspositori adalah
       sebagai berikut.
       a.   Preparasi, guru menyiapkan bahan/materi pembelajaran
       b. Apersepsi diperlukan untuk penyegaran
       c.   Presentasi (penyajian) materi pembelajaran
       d. Resitasi, pengulangan pada bagian yang menjadi kata kunci
            kompetensi atau materi pembelajaran.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                10
Pemilihan strategi diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan:
       a.   karakteristik peserta didik dengan kemandirian cukup memadai;
       b. sumber referensi, alat, media, dan bahan cukup;
       c.   jumlah peserta didik dalam kelas tidak terlalu banyak;
       d. materi pembelajaran tidak terlalu luas; dan
       e.   alokasi waktu cukup tersedia.


       Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi diskoveri inkuiri adalah
       sebagai berikut.
       a.   Guru atau peserta didik mengajukan dan merumuskan masalah
       b. Merumuskan logika berpikir untuk mengajukan hipotesis atau
            jawaban sementara
       c.   Merumuskan langkah kerja untuk memperoleh data
       d. Menganalisis data dan melakukan verifikasi
       e.   Melakukan generalisasi


       Strategi ekspositori lebih mudah bagi guru namun kurang melibatkan
       aktivitas peserta didik. Kegiatan pembelajaran berupa instruksional
       langsung (direct instructional) yang dipimpin oleh guru. Metode yang
       digunakan adalah ceramah atau presentasi, diskusi kelas, dan tanya
       jawab. Namun demikian ceramah atau presentasi yang dilakukan secara
       interaktif dan menarik dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik
       dalam pembelajaran.


       Strategi diskoveri inkuiri memerlukan persiapan yang sungguh-sungguh,
       oleh karena itu dibutuhkan kreatifitas dan inovasi guru agar pengaturan
       kelas maupun waktu lebih efektif. Kegiatan pembelajaran berbentuk



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                11
Problem Based Learning yang difasilitasi oleh guru. Strategi ini melibatkan
       aktivitas peseserta didik yang tinggi. Metode yang digunakan adalah
       observasi, diskusi kelompok, eksperimen, ekplorasi, simulasi, dan
       sebagainya.


   2. PAIKEM Sebagai Model Pembelajaran Berbasis Kompetensi
       PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inspiratif/Interaktif/
       Inovatif, Kritis /Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Dalam PAIKEM
       digunakan       prinsip-prinsip    pembelajaran   berbasis    kompetensi.
       Pembelajaran berbasis kompetensi adalah pembelajaran yang dilakukan
       dengan orientasi pencapaian kompetensi peserta didik. Sehingga muara
       akhir hasil pembelajaran adalah meningkatnya kompetensi peserta didik
       yang dapat diukur dalam pola sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.
       Prinsip pembelajaran berbasis kompetensi adalah sebagai berikut:
       a. Berpusat pada peserta didik agar mencapai kompetensi yang
           diharapkan. Peserta didik menjadi subjek pembelajaran sehingga
           keterlibatan aktivitasnya dalam pembelajaran tinggi. Tugas guru
           adalah mendesain kegiatan pembelajaran agar tersedia ruang dan
           waktu bagi peserta didik belajar secara aktif dalam mencapai
           kompetensinya.
       b. Pembelajaran terpadu agar kompetensi yang dirumuskan dalam KD
           dan SK tercapai secara utuh. Aspek kompetensi yang terdiri dari
           sikap, pengetahuan, dan keterampilan terintegrasi menjadi satu
           kesatuan.
       c. Pembelajaran dilakukan dengan sudut pandang adanya keunikan
           individual setiap peserta didik. Peserta didik memiliki karakteristik,
           potensi, dan kecepatan belajar yang beragam. Oleh karena itu dalam



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   12
kelas dengan jumlah tertentu, guru perlu memberikan layanan
            individual agar dapat mengenal dan mengembangkan peserta
            didiknya.
       d. Pembelajaran dilakukan secara bertahap dan terus menerus
            menerapkan prinsip pembelajaran tuntas (mastery learning) sehingga
            mencapai ketuntasan yang ditetapkan. Peserta didik yang belum
            tuntas diberikan layanan remedial, sedangkan yang sudah tuntas
            diberikan layanan pengayaan atau melanjutkan pada kompetensi
            berikutnya.
       e. Pembelajaran dihadapkan pada situasi pemecahan masalah, sehingga
            peserta didik menjadi pembelajar yang kritis, kreatif, dan mampu
            memecahkan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu guru perlu
            mendesain pembelajaran yang berkaitan dengan permasalahan
            kehidupan atau konteks kehidupan peserta didik dan lingkungan.
            Berpikir kritis adalah kecakapan nalar secara teratur, kecakapan
            sistematis dalam menilai, memecahkan masalah, menarik keputusan,
            memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah.
            Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan
            kemurnian (originality) dan ketajaman pemahaman (insigt) dalam
            mengembangkan sesuatu (generating). Kemampuan memecahkan
            masalah (problem solving) adalah kemampuan tahap tinggi siswa
            dalam mengatasi hambatan, kesulitan maupun ancaman. Metode
            problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar
            metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab
            dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya
            dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
       f.   Pembelajaran dilakukan dengan multi strategi dan multimedia



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                13
sehingga memberikan pengalaman belajar beragam bagi peserta
           didik.


C. Tujuan PAIKEM
    Pembelajaran       berbasis       PAIKEM   membantu     siswa    mengembangkan
    kemampuan berpikir tahap tinggi, berpikir kritis dan berpikir kreatif (critical
    dan creative thinking). Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara
    teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik
    keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah.
    Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan
    kemurnian         (orginality),     ketajaman   pemahaman        (insigt)    dalam
    mengembangkan sesuatu (generating). Kemampuan memecahkan masalah
    merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.


    Dalam pembelajaran pemecahan masalah, siswa secara individual atau
    kelompok        diberi   tugas     untuk   memecahkan    suatu    masalah.    Jika
    memungkinkan masalah diidentifikasi dan dipilih oleh siswa sendiri, dan
    diidentifikasi hendaknya yang penting dan mendesak untuk diselesaikan
    serta sering dilihat atau diamati oleh siswa sendiri, umpamanya masalah
    kemiskinan, kejahatan, kemacetan lalu lintas, pembusukan makanan, wabah
    penyakit, kegagalan panen, pemalsuan produk, atau soal-soal dalam setiap
    mata pelajaran yang membutuhkan analisis dan pemahaman tingkat tinggi,
    Dsb.




D. Karakteristik PAIKEM


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                        14
Sesuai dengan singkatan PAIKEM, maka pembelajaran yang berfokus pada
    siswa, makna, aktivitas, pengalaman dan kemandirian siswa, serta konteks
    kehidupan dan lingkungan ini memiliki 4 ciri yaitu: mengalami,
    komunikasi, interaksi dan refleksi.
    1. Mengalami (pengalaman belajar) antara lain:
       •   Melakukan pengamatan
       •       Melakukan percobaan
       •   Melakukan penyelidikan
       •   Melakukan wawancara

       •       Siswa belajar banyak melalui berbuat
       •       Pengalaman langsung mengaktifkan banyak indera.
    2. Komunikasi, bentuknya antara lain:
       •   Mengemukakan pendapat
       •   Presentasi laporan
       •   Memajangkan hasil kerja

       •   Ungkap gagasan

    3. Interaksi, bentuknya antara lain:
       •   Diskusi
       •   Tanya jawab
       •   Lempar lagi pertanyaan
           o     Kesalahan makna berpeluang terkoreksi
           o     Makna yang terbangun semakin mantap
           o     Kualitas hasil belajar meningkat




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                             15
4. Kegiatan Refleksi yaitu memikirkan kembali apa yang
        diperbuat/dipikirkan.
       •   mengapa demikian?
       •   apakah hal itu berlaku untuk …?
       •   Untuk perbaikan gagasan/makna
       •   Untuk tidak mengulangi kesalahan
       •   Peluang lahirkan gagasan baru


    Dari karakteristik PAIKEM tersebut, maka guru perlu memberikan doron-
    gan kepada siswa untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam mem-
    bangun gagasan. Tanggung jawab belajar, memang berada pada diri siswa,
    tetapi guru bertanggung jawab dalam memberikan situasi yang mendorong
    prakarsa, motivasi, perhatian, persepsi, retensi, dan transfer dalam belajar,
    sebagai bentuk tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat.


E. Jenis-Jenis PAIKEM
    Pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik PAIKEM antara
    lain adalah pembelajaran kotekstual (CTL), Pembelajaran Terpadu (Tematik,
    IPA Terpadu, IPS Terpadu), Pembelajaran berbasis TIK (ICT), Pembelajaran
    Pengayaan dengan menggunakan berbagai strategi antara lain dengan Les-
    son Study.




F. Penerapan PAIKEM


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  16
Sebagai tahapan strategis pencapaian kompetensi, kegiatan PAIKEM perlu
    didesain dan dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga memperoleh
    hasil maksimal. Berdasarkan panduan penyusunan KTSP (KTSP), kegiatan
    pembelajaran terdiri dari kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur,
    dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah standar, beban belajarnya
    dinyatakan dalam jam pelajaran ditetapkan bahwa satu jam pelajaran
    tingkat SMA/SMK terdiri dari 45 menit, SMP terdiri dari 40 menit, dan
    untuk SD terdiri dari 35 menit tatap muka untuk Tugas Terstruktur dan
    Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur. Dalam hal ini guru perlu mendesain
    kegiatan pembelajaran tatap muka, tugas terstruktur dan kegiatan mandiri.


    1. Kegiatan Tatap Muka
       Untuk kegiatan tatap muka dilakukan dengan strategi bervariasi baik
       ekspositori maupun diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti
       ceramah     interaktif,   presentasi,   diskusi   kelas,   diskusi   kelompok,
       pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen,
       observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, tanya
       jawab, atau simulasi. Tapi jika sudah ada sekolah yang menerapkan
       sistem SKS, maka kegiatan tatap muka lebih disarankan dengan strategi
       ekspositori.    Namun        demikian     tidak    menutup       kemungkinan
       menggunakan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti
       ceramah    interaktif, presentasi,      diskusi kelas,     tanya jawab,   atau
       demonstrasi.




    2. Kegiatan Tugas terstruktur



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      17
Bagi sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tugas terstruktur
       tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran namun dirancang oleh guru dalam
       silabus maupun RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran). Oleh
       karena itu pembelajaran dilakukan dengan strategi diskoveri inkuiri.
       Metode yang digunakan seperti penugasan, observasi lingkungan, atau
       proyek.
       Kegiatan tugas terstruktur merupakan kegiatan pembelajaran yang
       mengembangkan kemandirian belajar peserta didik, peran guru sebagai
       fasilitator, tutor, teman belajar. Strategi yang disarankan adalah diskoveri
       inkuiri dan tidak disarankan dengan strategi ekspositori. Metode yang
       digunakan seperti diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan
       kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan
       kajian pustaka atau internet, atau simulasi.


   3. Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur
       Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang
       dirancang oleh guru. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah
       diskoveri    inkuiri   dengan    metode     seperti   penugasan,     observasi
       lingkungan, atau proyek.


       PAIKEM dapat diterapkan pada pembelajaran Pembelajaran kontekstual
       dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu
       strategi yang memenuhi prinsip pembelajaran berbasis kompetensi.
       Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and
       learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini
       diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal.
       Pemilihan strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan:



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                        18
a.   karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai;
       b. sumber referensi terbatas;
       c.   jumlah pesera didik dalam kelas banyak;
       d. alokasi waktu terbatas; dan
       e.   jumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau
            bahan banyak.


       Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi ekspositori adalah
       sebagai berikut.
       a.   Preparasi, guru menyiapkan bahan/materi pembelajaran
       b. Apersepsi diperlukan untuk penyegaran
       c. Presentasi (penyajian) materi pembelajaran
       d. Resitasi, pengulangan pada bagian yang menjadi kata kunci
            kompetensi atau materi pembelajaran.


       Pemilihan strategi diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan:
       a.   karakteristik peserta didik dengan kemandirian cukup memadai;
       b. sumber referensi, alat, media, dan bahan cukup;
       c.   jumlah peserta didik dalam kelas tidak terlalu banyak;
       d. materi pembelajaran tidak terlalu luas; dan
       e.   alokasi waktu cukup tersedia.

       Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi diskoveri inkuiri adalah
       sebagai berikut.
       a.   Guru atau peserta didik mengajukan dan merumuskan masalah
       b. Merumuskan logika berpikir untuk mengajukan hipotesis atau
            jawaban sementara
       c.   Merumuskan langkah kerja untuk memperoleh data


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                19
d. Menganalisis data dan melakukan verifikasi
       e.   Melakukan generalisasi


       Strategi ekspositori lebih mudah bagi guru namun kurang melibatkan
       aktivitas peserta didik. Kegiatan pembelajaran berupa instruksional
       langsung (direct instructional) yang dipimpin oleh guru. Metode yang
       digunakan adalah ceramah atau presentasi, diskusi kelas, dan tanya
       jawab. Namun demikian ceramah atau presentasi yang dilakukan secara
       interaktif dan menarik dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik
       dalam pembelajaran.


       Strategi diskoveri inkuiri memerlukan persiapan yang sungguh-sungguh,
       oleh karena itu dibutuhkan kreatifitas dan inovasi guru agar pengaturan
       kelas maupun waktu lebih efektif. Kegiatan pembelajaran berbentuk
       Problem Based Learning yang difasilitasi oleh guru. Strategi ini melibatkan
       aktivitas peseserta didik yang tinggi. Metode yang digunakan adalah
       observasi, diskusi kelompok, eksperimen, ekplorasi, simulasi, dan
       sebagainya.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   20
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

A.   Latar Belakang Filosofis dan Psikologis
     Penerapan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) di
     Amerika Serikat bermula dari pandangam ahli pendidikan klasik John
     Dewey yang pada tahun 1916 mengajukan teori kurikulum dan metodologi
     pengajaran yang berhubungan dengan pengalaman dan minat siswa.
     Filosofi pembelajaran kontekstual berakar dari paham progressivisme John
     Dewey. Intinya, siswa akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka
     pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses
     belajar akan produktif jika siswa terlibat dalam proses belajar di sekolah.
     Pokok-pokok pandangan progressivisme antara lain:
     1. Siswa belajar dengan        baik apabila mereka secara aktif dapat
        mengkonstruksi sendiri pemahaman mereka tentang apa yang diajarkan
        oleh guru.
     2. Siswa harus bebas agar dapat berkembang wajar.
     3. Penumbuhan minat melalui pengalaman langsung untuk merangsang
        belajar.
     4. Guru sebagai pembimbing dan peneliti.
     5. Harus ada kerja sama antara sekolah dan masyarakat.
     6. Sekolah progresif harus merupakan laboratorium untuk melakukan
        eksperimen.


     Selain teori progressivisme John Dewey, teori kognitif melatarbelakangi pula
     filosofi pembelajaran kontekstual. Siswa akan belajar dengan baik apabila
     mereka terlibat secara aktif dalam segala kegiatan di kelas dan
     berkesempatan untuk menemukan sendiri. siswa menunjukkan belajar


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  21
dalam bentuk apa yang mereka ketahui dan apa yang dapat mereka
    lakukan. Belajar dipendang sebagai usaha atau kegiatan intelektual untuk
    membangkit ide-ide yang masih laten melalui kegiatan introspeksi.


    Sejauh ini pendidikan kita masih di dominasi oleh pandangan bahawa
    pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih
    berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah
    sebagai pilihan utama strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi
    belajar baru yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang
    tidak mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi
    yang mendorong siswa mengkontruksi pengetahuan di benak mereka
    sendiri.


    Berpijak pada dua pandangan itu, filosofi konstruksivisme berkembang.
    Dasarnya pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari konteks yang
    terbatas dan sedikit demi sedikit. Siswa yang harus mengkontruksikan
    sendiri pengetahuannya.
    Melalui landasan filosofi konstruksivisme, CTL dipromosikan menjadi
    alternatif strategi belajar yang baru. Melalui strategi, siswa diharapkan
    belajar melalui mengalami bukan menghafal.


    Menurut     filosofi konstruktivisme, pengetahuan bersifat non-objektif,
    temporer, dan selalu berubah. Segala sesuatu bersifat temporer, berubah dan
    tidak menentu. Belajar adalah pemaknaan pengetahuan, bukan perolehan
    pengetahuan dan mengajar diartikan sebagain kegiatan atau menggali
    makna, bukan memindahkan pengetahuan kepada orang yang belajar. Otak




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  22
atau akal manusia berfungsi sebagai alat untuk melakukan interpretasi
    sehingga muncul makna yang unik.


    Dengan paham kontruksivisme, siswa diharapkan dapat membangun
    pemahaman sendiri dari pengalaman/pengetahuan terdahulu. Pemahaman
    yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalam belajar
    bermakna.        Siswa        diharapkan     memapu       mempraktikkan
    pengetahuan/pengalaman yang telah diperoleh dalam konteks kehidupan.
    Siswa diharapkan juga melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan
    pengetahuan tersebut. Dengan demikian, siswa dapat memiliki pemahaman
    yang berbeda terhadap pengetahuan yang dipelajari. Pemahaman ini
    diperoleh siswa karena ia dihadapkan kepada lingkungan belajar yang bebas
    yang merupakan unsur yang sangat esensial.


    Hakikat teori kontruksivisme adalah bahwa siswa harus menjadikan
    informasi itu menjadi miliknya sendiri. teori kontruksivisme memandang
    siswa secara terus menerus memeriksa informasi-informasi baru yang
    berlawanan dengan aturan-aturan lama dn memperbaiki aturan-aturan yang
    tidak sesuai lagi. Teori konstruksivis menuntut siswa berperan aktif dalam
    pembelajaran mereka sendiri. Karena penekanannya pada siswa aktif, maka
    strategi kontruksivis sering disebut pengajaran yang berpusat pada siswa
    (student-centered instruction). Di dalam kelas yang pengajarannya terpusat
    kepada siswa, peranan guru adalah membantu siswa menemukan fakta,
    konsep, atau prinsip bagi diri mereka sendiri, bukan memberikan ceramah
    atau mengendalikan seluruh kegiatan di kelas.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               23
Beberapa proposisi yang dapat dikemukakan sebagai implikasi dari teori
     kontruktivistik dalam praktek pembeljaran di sekolah-sekolah kita sekarang
     adalah sebagai berikut:
     1. Belajar adalah proses pemaknaan informasi baru
     2. Kebebasan merupakan unsur esensial dalam lingkungan belajar.
     3. Strategi belajar yang digunakan menentukan proses dan hasil belajar.
     4. Belajar pada hakikatnya memiliki aspeksosial dan budaya.
     5. Kerja kelompok dianggap sangat berharga.
     Dalam pandangan kontruksivistik, kebebasan dipandangan sebagai penentu
     keberhasilan karena kontrol belajar dipegang oleh siswa sendiri. Tujuan
     pembelajaran konstruktivistik menekankan pada penciptaan pemahaman
     yang menuntut aktivitas yang kreatif dan produktif dalam konteks nyata.
     Dengan     demikian,       paham     konstruktivistik      menolak        pandangan
     behavioristik.
B.   Pengertian Pembelajaran Kontekstual
     Pembelajaran       Kontekstual    (Contextual   Teaching    and      Learning/CTL)
     merupakan        suatu   proses   pendidikan    yang    holistik    dan     bertujuan
     memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang
     dipelajarinya     dengan mengkaitkan materi tersebut               dengan    konteks
     kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural)
     sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel
     da-pat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke
     permasalahan/ konteks lainnya.


     CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi
     dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan
     antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
     kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                           24
konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.
    Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan
    siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke
    siswa.


    Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang
    sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran
    berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual
    (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying,
    cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai
    kompetensi secara maksimal.


    Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai
    tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi
    informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja ber-
    sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesu-
    atu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.
    Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.


    Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep
    belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan-nya
    dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan
    antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidu-
    pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama
    pembelaaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya
    (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community),
    pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 25
C.   Langkah-langkah CTL
     CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan
     kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup
     mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam
     CTL adalah sebagai berikut:
     1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna
        dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan
        dan keterampilan barunya.
     2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
     3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
     4. Ciptakan masyarakat belajar.
     5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
     6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
     7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan
        berbagai cara.
D.   Karakteristik Pembelajaran CTL
     1. Kerjasama.
     2. Saling menunjang.
     3. Menyenangkan, tidak membosankan.
     4. Belajar dengan bergairah.
     5. Pembelajaran terintegrasi.
     6. Menggunakan berbagai sumber.
     7. Siswa aktif.
     8. Sharing dengan teman.
     9. Siswa kritis guru kreatif.
     10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta,
        gambar, artikel, humor dan lain-lain.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               26
11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa,
        laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain


    Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan
    rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap
    demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan
    dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan
    pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran,
    lang-kah-langkah pembelajaran, dan authentic assessment-nya.


    Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana
    pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara
    umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran
    konvensional      dengan     program     pembelajaran       kontekstual.    Program
    pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang
    akan    dicapai   (je-las   dan   operasional),     sedangkan     program      untuk
    pembelajaran       kontekstual      le-bih      menekankan        pada      skenario
    pembelajarannya.
    Beberapa komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual menurut
    Johnson (2000: 65), yang dapat di uraikan sebagai berikut:
    1. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections)
       Keterkaitan    yang      mengarah     pada     makna     adalah   jantung    dari
       pembelajaran      dan    pengajaran       kontekstual.   Ketika   siswa     dapat
       mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam.
       Atau    sejarah    dengan      pengalamannya       mereka     sendiri,    mereka
       menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                         27
Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat
         proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL.




    2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (doing significant works)
         Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran
         yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga
         mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sisw
    3. Belajar yang diatur sendiri (self-regulated Learning)
          Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif,
          mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan
          kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa.
          Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada
          siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri.
    4.    Bekerjasama (collaborating)
          Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif
          dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam
          kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling
          mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
    5.    Berpikir kritis dan kreatif (critical dan creative thinking)
          Pembelajaran       kontekstual      membantu        siswa      mengembangkan
          kemampuan berpikir tahap tinggi, nerpikir kritis dan berpikir kreatif.
          Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan
          sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan,
          memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah.
          Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan
          kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                        28
6.   Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nuturing the individual)
          Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan
          kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga
          aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung
          jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran
          kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan
          kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat,
          kebutuhan dan kemampuannya.
     7.   Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards)
          Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara
          optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai
          keunggulan, asalkan sia dibantu oleh gurunya dalam menemukan
          potensi dan kekuatannya.
     8.   Menggunakan Penilaian yang otentik (using authentic assessment)
          Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi
          dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan
          tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian stanar,
          penilaian   autentik   memberi       kesempatan     kepada   siswa   untuk
          menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan
          apa yang sudah mereka pelajari.


E.   Strategi Pembelajaran Kontekstual
     Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna
     yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang
     dipelajari (Nurhadi, Yasin dan Senduk, 2004: 56). Strategi yang berasosiasi
     dengan pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut.
     1.   Belajar berbasis Masalah (Problem-Based Learning)



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     29
Suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata
         sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis
         dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh
         pegetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Dalam
         pengetahuan dan konsep yang esensi dari mata pelajaran. Dalam hal ini
         siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang
         mengintegrasikan keterampilan dan konsep dari berbagai isi materi
         pelajaran. Pendekatan ini mencakup pengumpulan informasi yang
         berkaitan dengan pertanyaan, mensintesis, dan mempresentasikan
         penemuannya kepada orang lain.
    2. Pembelajaran Autentik (Authentic Instruction)
         Suatu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk
         mempelajari konteks bermakna. Ia mengembangkan keterampilan
         berpikir dan memecahkan masalah yang penting di dalam konteks
         kehidupan nyata.
    3. Belajar Berbasis Inquiry (Inquiry-Based Learning)
         Suatu pendekatan pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan
         menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
    4. Belajar berbasis Proyek/Tugas (Project-Based Learning)
         Suatu pendekatan pembelajaran komprehensif di mana lingkungan
         belajar siswa (kelas) didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan
         terhadap masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu
         topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya.
         Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri
         dalam mengkonstruk pembelajarannya, dan mengkulminasikan dengan
         produk nyata.
    5. Belajar Berbasis Kerja (Work-Based Learning)



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                30
Suatu      pendekatan    pembelajaran     yang    memungkinkan      siswa
         menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran
         berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali
         di tempat kerja. Jadi dalam hal ini, tempat kerja atau sejenisnya dan
         berbagai    aktifitas   dipadukan     dengan   materi   pelajaran   untuk
         kepentingan siswa.
     6. Belajar Berbasis Jasa-Layanan (Service Learning)
         Suatu pendekatan pembelajaran yang mengkombinasikan jasa layanan
         masyarakat dengan suatu struktu berbasis sekolah untuk merefleksikan
         jasa-layanan tersebut, jadi menekankan hubungan antara pengalaman
         jasa-layanan dan pembelajaran akademis. Dengan kata lain, pendekatan
         ini menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru yang
         diperlukan dan berbagi keterampilan untuk memenuhi kebutuhan
         dalam masyarkat melalui proyek/tugas terstruktur dan kegiatan
         lainnya.
     7. Belajar Kooperatif (Cooperatif Learning)
         Pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil siswa
         untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam
         mencapai tujuan.


F.   Perbedaan Pembelajaran Kontekstual Dengan Pembelajaran Tradisional
     Terlihat jelas perbedaan proses pembelajaran kontekstual       yang berpijak
     pada pandangan kontrukstivisme dengan pembelajaran tradisional yang
     berpijak padangan behaviorisme-objektivis. Menurut Sanjaya (2006 : 256)
     ada beberapa perbedaan yang dapat diuraikan sebagai berikut:




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   31
1. Dalam pembelajaran kontekstual, siswa secara aktif terlibat dalam proses
        pembelajaran, sedangkan dalam pembelajaran tradisional siswa adalah
        penerima informasi yang pasif.
    2. Dalam pembelajaran kontekstual, siswa belajar dari teman melalui kerja
        kelompok, diskusi, saling mengoreksi, sedangkan dalam pembelajaran
        tradisional siswa belajar secara individual.
    3. Dalam pembelajaran kontekstual, pembelajaran dikaitkan dengan
        kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan, sedangkan
        dalam pemebelajaran tradisional pembelajaran sangat abstrak.
    4. Dalam pembelajaran kontekstual, perilaku dibangun atas kesadaran
        sendiri sedangkan dalam pembelajaran tradisional perilaku dibangun
        atas kebiasaan.
    5. Dalam pembelajaran kontekstual, keterampilan dibangun atas kesadaran
        diri,,   sedangkan    dalam     pembelajaran    tradisional   ketrampilan
        dikembangkan atas dasar latihan.
    6. Dalam pembelajaran kontekstual, hadiah untuk perilaku baik adalah
        kepuasan diri, sedangkan dalam pembelajaran tradisional hadiah untuk
        perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor.
    7. Dalam pembelajaran kontekstual, seseorang tidak melakukan yang jelek
        karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan., sedangkan dalam
        pembelajaran tradisional seseorang tidak melakukan yang jelek karena
        dia takut hukuman.
    8. Dalam pembelajaran kontekstual, bahasa diajarkan dengan pendekatan
        komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks
        nyata, sedangkan dalam pembelajaran tradisional, bahasa diajarkan
        dengan pendekatan struktural: rumus diterapkan sampai paham,
        kemudian dilatihkan (drill).



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  32
9. Dalam pembelajaran kontekstual, pemahaman rumus dikembangkan
        atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa, sedangkan dalam
        pembelajaran tradisional rumus itu ada di luar diri siswa, yang harus
        dikembangkan, diterima dan dilafalkan, dan dilatihkan.
     10. Dalam pembelajaran kontekstual, siswa menggunakan kemampuan
        berpikir kritis, terlibat penuh dalam pengupayakan terjadinya proses
        pembelajaran yang efektif, ikut bertanggungjawab atas terjadinya proses
        pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing ke
        dalam proses pembelajaran sedangkan dalam pembelajaran tradisional
        siswa    secara   pasif   menrima      rumus   atau   kaidah   (membaca,
        mendengarkan, mencatat, menghapal), tampa memberikan kontribusi
        ide dalam proses pembelajaran.
     11. Dalam pembelajaran kontekstual, pengetahuan yang dimiliki oleh
        manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia menciptakan
        atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan
        memahami pengalamannya sedangkan dalam pembelajaran tradisional
        pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep,
        atau hukum yang brada di luar diri manusia.


G.   Evaluasi Otentik Sebagai Ciri Penilaian Pembelajaran Kontekstual
     Pembelajaran kontekstual menuntur evaluasi yang bersifat komprehensif,
     menyeluruh dan terus menerus, karena dilakukan oleh guru kontekstual
     sepanjang proses pembelajaran. Setiap saat terjadi perubahan dan
     perkembangan pada para siswa. Perubahan dan perkembangan bidang atau
     aspek tertentu mungkin sangat banyak/tinggi, tetapi pada bidang atau
     aspek lainnya sedikit, sedikit sekali atau bahkan hampir tidak ada.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  33
Perubahan atau perkembangan tersebut mungkin berkenaan dengan aspek
    yang menjadi tujuan atau terumuskan dalam tujuan pembelajaran.
    Evaluasi dilakukan pada waktu para siswa merencanakan sesuatu kegiatan,
    melaksanakan maupun melaporkan hasil kegiatannya. Evaluasi juga
    dilakukan pada waktu siswa berdiskusi, mengerjakan tugas, mengerjakan
    tugas, melakukan latihan, percobaan, pengamatan, penelitian, pemecahan
    masalah, dan penyelesaian soal. Bagaimana siswa melakukan berbagai
    kegiatan tersebut serta hasil-hasil yang mereka tunjukkan, baik berupa
    rancangan, makalah, laporan, rangkuman, gambar, model, ataupun hasil
    pemecahan dan jawaban soal, merupakan wujud dari perkembangan dan
    kemampuan hasil belajar mereka.


    Evaluasi terhadap proses pembelajaran dan hasil karya merupakan evaluasi
    otentik, evaluasi kenyataan, karena mengevaluasi apa yang secara nyata
    dilakukan dan dihasilkan oleh para siswa. Hal ini tidak berarti, bahwa
    evaluasi dengan menggunakan tes tidak bisa digunakan, karena evaluasi
    dengan menggunakan tes, mengukur hasil pembelajaran pada akhir periode,
    akhir semester, tengah semester atau akhir unit. Makin pendek periode
    waktu pembelajaran yang dievaluasi, maka makin mendekati evaluasi
    otentik.


    Dalam evaluasi hasil pembelajaran, biasanya hanya digunakan tes,
    berbentuk tes obyektif atau essay, maka dalam evaluasi proses juga
    digunakan evaluasi perbuatan (pengamatan), lisan, hasil karya dan
    portfolio. Portfolio merupakan kumpulan dokumen yang disusun secara
    sistematik dan terarah yang menggambarkan perkembangan atau kemajuan
    siswa dalam bidang tertentu.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                             34
H.   Penerapan Pembelajaran Kontekstual di Kelas
     Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan
     pembelajaran     kontekstual     dikelas.   Ketujuh     komponen       itu    adalah
     konstruktivisme      (constructivism),   bertanya     (questioning),   menemukan
     (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling)
     refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment)
     1. Konstruktivisme (Constructivism)
        Konstruktivisme merupakan landasan berpikir pendekatan kontekstual,
        yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit demi sedikit, yang
        hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-
        tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah
        yang siap untuk diambil dan diingat. Tetapi siswa harus mengkontruksi
        pengetahuan itu dan memberi makna melalaui pengalaman nyata. Siswa
        perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang
        berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide, yaitu siswa harus
        mengkontruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri.
        Esensi dari teori kontruksivisme adalah ide bahwa siswa haarus
        menemukan dan mentransfomasikan suatu informasi kompleks ke situasi
        lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
        Dengan    dasar    ini    pembelajaran   harus     dikemas     menjadi     proses
        mengkontruksi      bukan     mnerima     pengetahuan.      Landasan       berpikir
        konstruktivisme agak berbeda dengan kaum objektif, yang lebih
        menekaankan        pada      hasil    pembelajaran.      Dalam      pandangan
        konstruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan
        seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat diutamakan
        dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                           35
pengetahuan. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut
       dengan : (1) menjadikan pengetahuan bermakana dan relevan bagi siswa;
       (2) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya
       sendiri; dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka
       sendiri dalam belajar.




    2. Bertanya (questioning)
       Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya
       karena    bertanya    merupakan     strategi   utama     pembelajaran   yang
       produkstif, kegiatan bertanya berguna untuk: (1) menggaliinformasi baik
       administrasi maupun akademia; (2) mengecek pemahaman siswa; (3)
       membangkitkan respon pada siswa; (4) mengetahui sejauh mana keingin
       tahuan siswa; (5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa; (6)
       memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki gur; (7)
       untuk membangkitkan lebihbanyak lagi pertanyaan dari siswa; (8) untuk
       menyegarkan kembali pengetahuan siswa. Pada semua aktivitas belajar,
       questioning dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dan
       siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang
       didatangkan ke kelas dan sebagainya.
    3. Menemukan (inquiry)
       Menemukan       merupakan     bagian    inti   dari   kegiatan   pembelajaran
       menggunakan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan
       yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat
       seperangkat fakta-fakta tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Siklus
       inquiry adalah (1) observasi, (2) bertanya, (3) mengajukan dugaan, (4)
       pengumpulan data, (5) penyimpulan. Kata kunci dari strategi inquiry



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     36
adalah siswa menemukan sendiri, adapun langkah-langkah kegiatan
       menemukan sendiri adalah: (1) merumuskan masalah dalam mata
       pelajaran apapun; (2) mengamati atau melakukan observasi; (3)
       menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar,laporan, bagan
       tabel, dan karya lainnya; dan (4) mengkomunikasikan atau menyajikan
       hasil karya pada pembaca, teman kelas, guru, atau audience lainnya.


    4. Masyarakat Belajar (learning community)
         Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran
       diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar didapat dari
       berbagi anatara kawan, kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum
       tahu. Di ruang kelas ini, di sekitar sini, juga dengan orang-orang yang
       diluar sana semua adalah anggota masyarakat belajar. Dalam kelas yang
       menggunakan       pendekatan     kontekstual,   guru   disarankan   dalam
       melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa
       dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Yang
       pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberiyahu yang belum tahu,
       yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang
       mempunyai gagasan segera memberikan usul dan seterusnya. Kelompok
       siswa bisa sanagt bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah,
       bahkan bisa melibatkan siswa di dalam kelas atasnya, atau guru
       mengadakan kolaborasi dengan mendatangkan seorang ahli ke kelas.
    5. Permodelan (modelling)
       Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada
       model yang bisa ditiru. Model itu, memberi peluang yang besar bagi guru
       untuk memberi contoh cara mngerjakan sesuatu, dengan begitu guru
       memberi     model    tentang    bagaimana   belajar.   Dalam   pendekatan



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  37
kontekstual guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang
       dengan melibatkan siswa, seorang siswa dapat ditunjuk untuk
       memberikan contoh temannya, misalnya cara melafalkan suatu kata.
       Siswa contoh tersebur dikatakan sebagai model, siswa lain dapat
       menggunakan model tersebut sebagai standar kompetensi yang harus
       dicapai.


    6. Refleksi (reflection)
       Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau
       berpikir kebelakng tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dalam hal
       belajar di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang dipelajarinya sebagai
       struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi
       dari pengetahuan sebelummnya. Refleksi merupakan respons terhadap
       kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.
    7. Penilaian Sebenarnya (authentic assessment)
       Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa
       memberikan gambaran belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar
       siswa perlu diketahui olehb guru agar bisa memastikan bahwa siswa
       mengalami proses pembelajaran yang benar. Apabila data yang
       dikumpulkan      guru   mengidentifikasikan   bahwa    siswa   mengalami
       kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan
       yang tepat agar siswa agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena
       gambaran tentang kemajuanbelajar itu diperlukan disepanjang proses
       pembelajaran, maka penilaian tidak dilakukan diakhir periode seperti
       akhir semester. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil,
       dan dengan berbagai cara. Tes hanyalah salah satunya, itulah hakekat
       penilaian yang sebarnya. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  38
lain atau orang lain. Karakteristik penilain sebenarnya adalah (1)
       dilaksanakan selama dan sesuadah proses pembelajaran berlangsung; (2)
       bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif; (3) yang diukur
       keterampilan dan performasi, bukan hanya mengingat fakta; (4)
       berkesinambungan; (5) terintegrasi; (6) dapat dipergunakan sebagaifeed
       back. Dengan demikian pembelajaran yang benar memang seharusnya
       ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari
       (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya
       sebanyak mungkin informasi diakhir periode pembelajaran.


    Berikut contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berbasis CTL pada
    mata pelajaran IPA di SMP.


       CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
                       BERBASIS CTL

   Sekolah                    :   SMP ..........................................
   Mata Pelajaran             :   IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)
   Kelas/Semester             :   IX (Sembilan)/ 2 (Dua)
   Alokasi Waktu              :   10 x 40 menit (5 pertemuan)


A. Standar Kompetensi         : 4.        Memahami konsep kemagnetan dan
                                          penerapannya dalam kehidupan sehari-
                                          hari.
B. Kompetensi Dasar           : 4.1. Menyelidiki gejala kemagnetan dan cara
                                     membuat magnet.

C. Tujuan Pembelajaran
Pertemuan 1:
   Setelah pembelajaran ini selesai siswa diharapkan dapat:
   1. mengidentifikasi bahan magnetik dan bahan bukan magnetik.
   2. menunjukkan kutub-kutub magnet.
   3. menentukan daerah gaya di sekitar magnet (medan magnet).


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       39
4. mendeskripsikan sifat kutub-kutub magnet.
   5. memberikan pemaknaan terhadap keberadaan kutub-kutub magnet
      (kutub utara dan kutub selatan).
   6. memberikan pemaknaan terhadap sifat-sifat interaksi antara kutub-kutub
      magnet.

Pertemuan 2:
Setelah pembelajaran ini selesai siswa diharapkan dapat:
   1. mendemonstrasikan pembuatan magnet dengan cara menggosok.
   2. mendemonstrasikan pembuatan magnet dengan cara induksi.
   3. mendemonstrasikan pembuatan magnet dengan cara elektromagnetik.
   4. memberikan pemaknaan terhadap pembuatan magnet dengan cara
       menggosok.
   5. memberikan pemaknaan terhadap pembuatan magnet dengan cara
       induksi.
   6. memberikan pemaknaan terhadap pembuatan magnet dengan cara
       elektromagnetik.

Pertemuan 3:
Setelah pembelajaran ini selesai siswa diharapkan dapat:
   1. menyebutkan cara-cara menghilangkan sifat kemagnetan.
   2. mendeskripsikan kemagnetan bumi.
   3. memberikan pemaknaan terhadap cara-cara menghilangkan                sifat
       kemagnetan.
   4. memberikan pemaknaan terhadap keberadaan kemagnetan bumi.

Pertemuan 4:
Setelah pembelajaran ini selesai siswa diharapkan dapat:
   1. menjelaskan secara kualitatif sifat medan magnet di sekitar kawat berarus
       listrik.
   2. memberikan pemaknaan terhadap sifat medan magnet di sekitar kawat
       berarus listrik.

Pertemuan 5:
Penilaian pencapaian KD 4.1 (Ulangan Harian, materi Pertemuan 1 s.d. 4).


D. Materi Pelajaran: Kemagnetan

   KEMAGNETAN



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 40
Lebih dari 2000 tahun yang lalu, orang Yunani yang hidup di suatu daerah di
   Turki yang dikenal sebagai Magnesia menemukan batu aneh. Batu tersebut
   menarik benda-benda yang mengandung besi. Karena batu tersebut
   ditemukan di Magnesia, orang Yunani memberi nama batu tersebut magnet.
   Sifat benda yang teramati sebagai suatu gaya tarik atau gaya tolak antara
   kutub-kutub magnet disebut kemagnetan.




   Secara sederhana kita dapat mengelompokkan bahan-bahan menjadi dua
   kelompok, yaitu: bahan magnetik dan bahan bukan magnetik. Bahan-bahan
   yang dapat ditarik oleh magnet disebut bahan magnetik. Sedangkan bahan-
   bahan yang tidak dapat ditarik oleh magnet disebut bahan bukan magnetik.
   Besi, baja, nikel, dan kobalt termasuk bahan magnetik. Sedangkan kayu, kaca,
   aluminium, dan plastik adalah contoh-contoh bahan bukan magnetik.

   Semua magnet mempunyai sifat-sifat tertentu. Setiap magnet, bagaimanapun
   bentuknya, mempunyai dua ujung di mana pengaruh magnetiknya paling
   kuat. Dua ujung tersebut dikenal sebagai kutub magnet, yang diberi nama
   kutub utara (U) dan kutub selatan (S). Jika kutub-kutub magnet senama (U
   dan U atau S dan S) saling didekatkan, kedua kutub tersebut akan tolak-
   menolak. Namun, jika kutub utara (U) salah satu magnet didekatkan ke
   kutub selatan (S) magnet lain, kutub-kutub tersebut akan tarik-menarik.

   Sifat-sifat magnetik suatu bahan bergantung pada struktur atomnya. Para
   ilmuwan mengetahui bahwa atom itu sendiri memiliki sifat-sifat magnetik.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                41
Sifat-sifat magnetik tersebut disebabkan gerak elektron atom-atom tersebut.
   Oleh karena itu, tiap atom di dalam suatu bahan magnetik adalah seperti
   sebuah magnet kecil yang disebut magnet atom (magnet elementer).

   PEMAKNAAN

   •   Semua magnet memiliki dua kutub yang berlawanan, yaitu utara (U) dan
       selatan (S).
        ”Allah, Tuhan yang Maha Esa menciptakan manusia secara berpasang-
        pasangan.” Hanya Allah-lah dzat yang tunggal, Allah itu satu, tidak
        beranak dan tidak diperanakkan. Bagi ajaran agama Islam, hal ini sesuai
        dengan kandungan dalam Surat Al-Ikhlas.
        Secara kodrati, manusia mempunyai dua jenis kelamin, yaitu: laki-laki (L)
        dan perempuan (P).

   •   Kutub-kutub magnet yang senama (U-U atau S-S), jika didekatkan akan
       tolak-menolak. Sedangkan kutub-kutub magnet yang tidak senama (U-S), jika
       didekatkan akan tarik-menarik.
        Agama melarang manusia sesama jenis untuk saling jatuh cinta. Manusia
        hanya boleh menikah dengan lawan jenisnya. Perilaku ”menyimpang”
        seperti homoseksual (L-L) atau lesbian (P-P) dilarang oleh agama.

   •   Sebatang logam (besi) dapat dijadikan magnet dengan cara menggosokkan
       magnet pada logam tersebut. Penggosokan magnet harus dilakukan secara
       terarah, dan semakin lama penggosokan semakin kuat serta bertahan lama
       sifat kemagnetannya.
        ”Rajin pangkal pandai.” Apabila kita ingin pandai, kita harus rajin
        belajar, dan tidak mudah menyerah.

   •   Sebatang logam (besi) dapat dijadikan magnet dengan cara menginduksi
       logam tersebut dengan magnet pada logam tersebut.
        Lingkungan sangat mempengaruhi perilaku dan perkembangan kognitif
        seseorang. Apabila kita ingin menjadi orang ”baik-baik” maka kita harus
        bergaul dan berteman dengan orang yang berperilaku baik pula. Apabila
        kita ingin menjadi orang yang pandai, maka kita juga harus banyak
        bergaul dan berteman dengan orang yang pandai.

   •   Sebatang logam (besi) dapat dijadikan magnet dengan cara melilitkan
       kawat pada logam dan mengalirkan arus listrik pada kawat yang dililitkan
       pada logam tersebut.


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  42
Agar kemampuan (pengetahuan) kita semakin bertambah, kita harus
       sering berdiskusi dan mendapat masukan-masukan dari banyak orang
       yang memiliki kemampuan melebihi kemampuan kita.

   •   Sebuah magnet dapat hilang sifat kemagnetannya diantaranya apabila kita
       bakar dan kita pukul-pukul. Sifat kemagnetan dimiliki oleh suatu bahan
       apabila magnet-magnet elementer bahan itu tersusun secara teratur.
        ”Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Dalam suatu komunitas,
        apabila kita rukun tidak terjadi saling permusuhan, maka apapun yang
        kita cita-citakan akan dengan lebih mudah untuk kita capai. Namun,
        dengan adanya suatu pengaruh ”negatif” dari luar, misalnya munculnya
        para provokator-provokator, maka adanya provokasi tersebut dapat
        memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa.

E. Alat/Bahan/Sumber belajar
   1. Buku Siswa CTL untuk SMP Direktorat PSMP
   2. Buku Sumber (Referensi) lain
   3. LKS Kemagnetan
   4. Alat peraga magnet, bel listrik, dan motor listrik
   5. Serbuk besi
   6. Animasi pemaknaan untuk penanaman sikap
   7. Kabel/kawat listrik (kawat untuk kumparan)
   8. Catu daya (baterai)

F. Model Pembelajaran:
   Pembelajaran Kooperatif (CL) dengan ”Pemaknaan”

G. Kegiatan Pembelajaran

   Pertemuan 1




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               43
Terlaksana
                       Tahap Pembelajaran
                                                                    Ya    Tidak
 Kegiatan Awal
 • Demonstrasi menarik benda-benda dari logam (besi) dengan
    sebuah ”magnet”. Menanyakan kepada siswa, mengapa benda
    tersebut dapat menempel?
 • Menginformasikan bahwa magnet banyak digunakan
    dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita sambil
    memberikan contoh misalnya bel listrik, motor listrik,
    tape recorder, dll.
 • Menyampaikan tujuan pembelajaran (Pertemuan 1).

 Kegiatan Inti
 • Memperlihatkan magnet batang, mendemonstrasikan
    bahwa ada beberapa benda yang dapat ditarik oleh
    magnet dan ada yang tidak dapat ditarik oleh magnet.
 • Menginformasikan magnet batang mempunyai dua
    kutub yang dinamai kutub utara dan selatan sambil
    mendemonstrasikan menggantungkan magnet batang
    dengan benang. Menjelaskan konsep kemagnetan.
 • Meminta siswa duduk dalam tatanan pembelajaran
    kooperatif       sambil      mengingatkan       keterampilan
    kooperatif yang akan dilatihkan dan bagaimana cara
    mengikuti pelatihan keterampilan kooperatif tersebut
    dan membagikan LKS 2 “Panduan Belajar Pengaruh
    magnet”.
 • Meminta siswa membaca Pengaruh Magnet dan
    membimbing          mengerjakan     LKS      tersebut     dan
    menggarisbawahi kalimat pokok setelah mendiskusikan
    di kelompoknya masing-masing.
 • Membagikan LKS 1 serta alat dan bahan yang
    dibutuhkan        dan     membimbing       tiap     kelompok
    mengerjakan LKS tersebut.
 • Meminta satu-dua kelompok untuk menulis di papan
    tulis Tabel 1 yang telah diisi dan ditanggapi kelompok
    lain.
 • Selanjutnya guru memaknai setiap materi yang telah
    didiskusikan sebagai contoh atau model perilaku dan budi
    pekerti. Adapun materi-materi yang perlu diberikan pemaknaan,
    antara lain berkaitan dengan:
    - magnet dapat menarik benda;
    - magnet memiliki dua kutub, yaitu: U dan S;
    - sifat gaya magnet antar kutub-kutub magnet.
 • (Lain-lainnya dapat dikembangkan sesuai kreativitas guru).


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 44
Pertemuan 2




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   45
Terlaksana
                        Tahap Pembelajaran
                                                                    Ya    Tidak
 Kegiatan Awal
 • Mendemonstrasikan dengan menempelkan sebuah paku besar
    ke paku-paku kecil dan meminta siswa memperhatikan paku-
    paku kecil itu apakah dapat menempel pada sebuah paku besar
    tersebut.
 • Demonstrasi dilanjutkan dengan menempelkan paku besar
    tersebut dengan sebuah magnet batang dan kemudian
    menempelkannya pada paku-paku kecil. Siswa diminta
    memperhatikan paku-paku kecil itu apakah dapat menempel
    pada sebuah paku besar tersebut.
 • Menginformasikan bahwa hari ini akan dilakukan per-
    cobaan membuat magnet dengan cara menggosok, in-
    duksi, dan mengalirkan arus listrik.
 • Menyampaikan tujuan pembelajaran (Pertemuan 2).

 Kegiatan Inti
 • Menyajikan informasi bahwa dalam besi yang bukan
    magnet susunan atom-atomnya masih acak. Agar besi
    menjadi magnet, susunan atom-atomnya harus dibuat
    searah. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah
    dengan cara mendekatkan sebuah magnet ke besi
    tersebut.
 • Meminta siswa duduk dalam tatanan pembelajaran
    kooperatif.
 • Membagikan LKS 3 dan membimbing siswa untuk
    mengerjakan LKS tersebut.
 • Meminta salah satu kelompok untuk menuliskan hasil
    kegiatannya di papan tulis dan kelompok lain diminta
    menanggapinya.
 • Memberi penghargaan pada siswa/kelompok yang
    kinerjanya bagus.
 • Selanjutnya guru memaknai setiap materi yang telah
    didiskusikan sebagai contoh atau model perilaku dan budi
    pekerti. Adapun materi-materi yang perlu diberikan pemaknaan,
    antara lain berkaitan dengan:
    - pembuatan magnet dengan cara menggosok;
    - pembuatan magnet dengan cara induksi;
    - pembuatan magnet dengan cara elektromagnetik.
 • (Lain-lainnya dapat dikembangkan sesuai kreativitas guru).

 Kegiatan Penutup
 • Untuk memantapkan pemahaman siswa tentang ”Cara
    Pembuatan Magnet” guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan

Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  46
Pertemuan 3




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   47
Terlaksana
                        Tahap Pembelajaran
                                                                        Ya    Tidak
 Kegiatan Awal
 • Sambil menggantung bebas sebuah magnet batang, menanyakan
    kepada siswa: ”ke arah mana magnet batang itu selalu
    menghadap?” Mengapa?
 • Menanyakan kepada siswa, apakah suatu magnet, sifat
    kemagnetannya tidak dapat dihilangkan?
 • Menyampaikan tujuan pembelajaran (Pertemuan 3).

 Kegiatan Inti
 • Menginformasikan bahwa garis gaya magnet dapat
    digambar untuk memperlihatkan lintasan medan
    magnet, menjelaskan pola-pola garis gaya untuk
    berbagai macam susunan magnet batang.
 • Menginformasikan bahwa terdapat perbedaan antara
    kutub magnetik dan kutub geografik bumi, serta
    menjelaskan bagaimana kompas dapat membantu untuk
    menentukan arah.
 • Meminta siswa duduk dalam tatanan pembelajaran
    kooperatif       sambil      mengingatkan       keterampilan
    kooperatif yang akan dilatihkan dan bagaimana cara
    mengikuti pelatihan keterampilan kooperatif tersebut
    dan membagikan LKS 5.
 • Meminta siswa membaca Buku Siswa, tentang Pengaruh
    Magnet;       Kemagnetan      Bumi,     dan     membimbing
    mengerjakan LKS 5 tersebut dan menggarisbawahi
    kalimat pokok setelah mendiskusikan di kelompoknya
    masing-masing.
 • Membagikan LKS 4 serta alat dan bahan yang
    dibutuhkan        dan     membimbing       tiap     kelompok
    mengerjakan LKS tersebut.
 • Meminta satu dua kelompok untuk menggambar pola
    serbuk besi untuk tiap susunan magnet batang dan
    ditanggapi kelompok lain.
 • Selanjutnya guru memaknai setiap materi yang telah
    didiskusikan sebagai contoh atau model perilaku dan budi
    pekerti. Adapun materi-materi yang perlu diberikan pemaknaan,
    antara lain berkaitan dengan:
    - cara menghilangkan sifat kemagnetan;
    - keberadaan kemagnetan bumi.
 • (Lain-lainnya dapat dikembangkan sesuai kreativitas guru).

 Kegiatan Penutup
 • Untuk memantapkan          pemahaman        siswa   tentang   cara

Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      48
Pertemuan 4




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   49
Terlaksana
                        Tahap Pembelajaran
                                                                     Ya    Tidak
 Kegiatan Awal
 • Mendemonstrasikan terjadinya penyimpangan suatu jarum
    kompas ketika diletakkan dekat suatu magnet. Menanyakan
    pada siswa, mengapa jarum kompas itu dapat mengalami
    penyimpangan arah?
 • Mengingatkan kembali tentang cara membuat magnet dengan
    mengalirkan arus listrik.
 • Menyampaikan tujuan pembelajaran (Pertemuan 4).

 Kegiatan Inti
 • Menginformasikan bahwa arus listrik yang mengalir
    melalui sebuah penghantar akan menimbulkan medan
    magnet yang arahnya bergantung pada arah arus
    listrik.
 • Menginformasikan bahwa medan magnet solenoida
    dapat diperbesar dengan memperbesar jumlah lilitan
    maupun besar arus yang mengalir melaluinya.
 • Meminta siswa duduk dalam tatanan pembelajaran
    kooperatif   sambil    mengingatkan     keterampilan
    kooperatif yang akan dilatihkan dan bagaimana cara
    mengikuti pelatihan keterampilan kooperatif tersebut
    dan membagikan LKS 8.
 • Meminta siswa membaca Buku Siswa, subbab Medan
    Magnet di Sekitar Arus Listrik, dan membimbing
    mengerjakan LKS 8 tersebut dan menggarisbawahi
    kalimat pokok setelah mendiskusikan di kelompoknya
    masing-masing.

 •    Membagikan LKS 7 serta alat dan bahan yang
      dibutuhkan      dan     membimbing        tiap     kelompok
      mengerjakan LKS tersebut.
 •   Meminta satu-dua kelompok untuk menulis di papan
     tulis untuk melengkapi Tabel 1 hasil penyelidikan dan
     ditanggapi kelompok lain.
 •   Selanjutnya guru memaknai setiap materi yang telah
     didiskusikan sebagai contoh atau model perilaku dan budi
     pekerti. Adapun materi-materi yang perlu diberikan pemaknaan,
     yaitu:
     - sifat medan magnet di sekitar kawat berarus listrik.
 •   (Lain-lainnya dapat dikembangkan sesuai kreativitas guru).

 Kegiatan Penutup
 • Untuk memantapkan pemahaman siswa tentang medan magnet

Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   50
H. Penilaian (Instrumen Penilaian Terlampir pada Lembar Penilaian)
   • Bentuk tes tertulis: pilihan ganda dan uraian singkat
   • Kinerja saat melakukan kegiatan
   • Laporan/presentasi
    Tes tertulis dilaksanakan setelah proses pembelajaran (Pertemuan 5)
    dengan menggunakan Lembar Penilaian (LP) 4.1.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                        51
CONTOH 2: RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS CTL

                                  Sekolah          : SMP
                                  Mata Pelajaran    : IPA
                                  Kelas / Semester : VII / 1

Standar Kompetensi

3. Memahami wujud zat dan perubahannya
4. Memahami berbagai sifat dalam perubahan fisika dan kimia.
6. Memahami keanekara-gaman makhluk hidup.

Kompetensi Dasar
3.1 Menyelidiki sifat-sifat zat berdasarkan wujudnya dan penerapannya dalam
    kehidupan sehari-hari
4.2 Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan
    sifat kimia
6.2 Mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki

Indikator
 Mengidentifikasi cara-cara pemisahan campuran dengan cara fisika
 Mengidentifikasi cara-cara pemisahan campuran dengan cara kimia
 Menentukan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran
 Menerapkan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran

PERTEMUAN 1
A. Tujuan Pembelajaran
    Peserta didik mampu:
    1. Mengidentifikasi cara-cara pemisahan campuran dengan cara penyaringan
    2. Menentukan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran
    3. Menerapkan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran
    4. Melakukan pengamatan, menuliskan data hasil pengamatan, melakukan
        inferensi, berkomunikasi
B. Materi Pembelajaran
     Pemisahan campuran dengan cara penyaringan

C. Metode Pembelajaran
    1.Model    :Cooperatif Learning
    2.Metode   : Demonstrasi
                Eksperimen
                Diskusi




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     52
D.Langkah-langkah
  1. Kegiatan Pendahuluan
        Motivasi: Menunjukkan pada siswa air kotor dan air jernih, kemudian
        menanyakan kepada siswa: “Terdiri dari apa sajakah campuran tersebut, apakah
        terdapat organisme di dalamnya? Apakah air tersebut dapat dijernihkan?”
        Pengetahuan Prasyarat: Mengajukan pertanyaan tentang pengertian campuran
       Menyampaikan tujuan pembelajaran


  2. Kegiatan Inti
        - Menegaskan tentang permasalahan yang muncul dalam sesi pemotivasian.
        - Membagi peserta didik kedalam kelompok-kelompok, Tiap kelompok terdiri
            dari 4-5 siswa.
        - Meminta peserta didik untuk membaca LKS dan mendiskusikan dalam
            kelompok sebelum melakukan percobaan.
        - Membinbing siswa melakukan percobaan dan memeriksa kegiatan peserta
            didik apakah sudah dilakukan dengan benar.
        - Jika masih ada peserta didik /kelompok yang belum dapat melakukan den-
            gan benar ,guru dapat langsung memberikan bimbingan.
        - Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
        - Memberi penghargaan pada semua kelompok yang telah melakukan per-
            cobaan dan mempresentasikan hasilnya sesuai kinerja kelompok.
        - Mengklarifikasi konsep yang telah didapat siswa, dilanjutkan dengan
            diskusi tentang berbagai kemungkinan pemisahan campuran selain pen-
            yaringan.

   3. Kegiatan Penutup
         - Guru membimbing siswa merangkum pelajaran.
         - Penugasan Terstruktur: Memberikan tugas lanjutan dari kegiatan yang telah
             dilakukan yaitu menggunakan bahan-bahan lain yang dapat digunakan un-
             tuk menyaring air dan membandingkan hasilnya dengan kelompok lain. Tu-
             gas dikumpulkan pada pertemuan berikutnya.ahan- apakah yang kamu
             pikir dapat digunakan sebagai penyaring air? Lakukan kegiatan ini dengan
             menggunakbahan-bahan yang
E. Sumber Belajar
        1. Buku siswa
        2. LKS
        3. Alat dan bahan untuk kegiatan siswa dalam pertemuan ini, meliputi:
                 a. botol plastik 2l bekas air mineral
                 b. air kolam
                 c. kerikil
                 d. pasir
                 e. ijuk
                 f. pisau



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       53
PERTEMUAN 2

A.Tujuan Pembelajaran
  Peserta didik dapat :
       1. Mengidentifikasi cara-cara pemisahan campuran dengan cara destilasi
       2. Menentukan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran
       3. Menerapkan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran
       4. Melakukan pengamatan, menuliskan data hasil pengamatan, melakukan
           inferensi, berkomunikasi

B.Materi Pembelajaran
  Pemisahan campuran dengan cara destilasi dan kristalisasi

C.Model Pembelajaran
      Pendekatan     : Pembelajaran Kooperatif
      Metode         : Pengamatan, Diskusi

D.Langkah-langkah
   1. Kegiatan pendahuluan
        Motivasi: Menanyakan kegiatan tugas lanjutan, selanjutnya menanyakan:
        “Bagaimanakah memperoleh air tawar dari air asin? ” (Arahkan dalam konteks
        penjernihan air untuk memperoleh air tawar)
        Pengetahuan Prasyarat: Mengajukan pertanyaan tentang penguapan dan
        pengembunan
        Menyampaikan tujuan pembelajaran

   2. Kegiatan inti
        - Menegaskan tentang permasalahan yang muncul dalam sesi pemotivasian
            dan berdiskusi tentang penguapan dan pengembunan.
        - Membagi peserta didik kedalam kelompok-kelompok, Tiap kelompok terdiri
            dari 4-5 siswa.
        - Meminta peserta didik untuk membaca LKS dan mendiskusikan dalam
            kelompok sebelum melakukan percobaan.
        - Membinbing siswa melakukan percobaan dan memeriksa kegiatan peserta
            didik apakah sudah dilakukan dengan benar.
        - Jika masih ada peserta didik /kelompok yang belum dapat melakukan den-
            gan benar ,guru dapat langsung memberikan bimbingan.
        - Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
        - Memberi penghargaan pada semua kelompok yang telah melakukan per-
            cobaan dan mempresentasikan hasilnya sesuai kinerja kelompok.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     54
-   Mengklarifikasi konsep yang telah didapat siswa, dilanjutkan dengan
           diskusi tentang penerapan lain destilasi. Mendiskusikan pemisahan campu-
           ran selain penyaringan dan destilasi, yakni kristalisasi.

  3. Kegiatan penutup
   - Guru besama peserta didik membuat kesimpulan rangkuman hasil belajar
   - Guru memberikan kuis untuk mengetahui daya serap materi yang baru saja
       dipelajari

E. Sumber Belajar
      1. Buku siswa
      2. LKS
      3. Alat dan bahan untuk kegiatan siswa dalam pertemuan ini, meliputi:
           a. botol plastik 2l bekas air mineral
           b. air kolam
           c. kerikil
           d. pasir
           e. ijuk
           f. pisau


PERTEMUAN KETIGA
A. Tujuan
    Peserta didik dapat
        1. Mengidentifikasi cara-cara pemisahan campuran dengan cara kimia
            (koagulasi)
        2. Menentukan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran
        3. Menerapkan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran
B. Materi Pembelajaran
   Pemisahan campuran

C.Model Pembelajaran
      Pendekatan     : Pembelajaran Kooperatif
      Metode         : Diskusi dan Penerapan Strategi Belajar (membuat peta konsep)

D. Langkah-langkah
  1. Kegiatan Pendahuluan
   Motivasi dan apersepsi
        - Menanyakan:”Pernahkah kamu melihat tawas?” Guru menunjukkan tawas.
            Menanyakan kegunaan tawas (diarahkan untuk penjernihan air)
        - Menyampaikan tujuan pembelajaran
   2. Kegiatan inti
        - Guru meminta peserta didik membaca secara individual materi tentang cara
            pemisahan campuran secara kimia dalam di Buku Siswa (Pengelolaan Air
            Minum)


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     55
-   Membagi peserta didik kedalam kelompok-kelompok, Tiap kelompok terdiri
            dari 4-5 siswa.
        -   Meminta kelompok untuk membuat poster tentang proses pengolahan air
            sungai atau danau menjadi air minum. Poster dapat berupa diagram alir,
            peta konsep, atau sesuai kreasi anak.
        -   Membinbing siswa melakukan kegiatannya.
        -   Jika masih ada peserta didik /kelompok yang belum dapat melakukan den-
            gan benar ,guru dapat langsung memberikan bimbingan.
        -   Peserta didik menempelkan poster hasil kerja kelompoknya dan diamati
            kelompok lain
        -   Memberi penghargaan pada semua kelompok yang telah melakukan per-
            cobaan dan mempresentasikan hasilnya sesuai kinerja kelompok.
        -   Mengklarifikasi konsep yang telah didapat siswa, dilanjutkan dengan
            diskusi tentang pemisahan campuran secara kimia yang lain.

 3. Kegiatan penutup
       - Guru besama peserta didik membuat kesimpulan rangkuman hasil belajar
       - Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur: Guru menginformasikan untuk mem-
           baca dan mempelajari Buku Siswa dan sumber belajar yang lain.


E. Sumber belajar
   1.Buku Siswa
   2.Peralatan untuk membuat poster

F. Penilaian
   1.Teknik penilaian dan bentuk instrumen

                Teknik                                  Bentuk Instrumen
    Tes unjuk kerja                               Lembar Observasi (rating scale)

    Tes tulis                                     Isian


  2. Contoh instrumen
       Tes Tulis:
       Misalkan terdapat campuran air asin dan pasir. Tuliskan langkah-langkah
       pemisahannya, sehingga kamu mendapatkan air tawar, garam, dan pasir!
       Kriteria penskoran:
       4: semua langkah teridentifikasi, urutan langkah ditulis dengan benar
       3: ada langkah yang tidak terlalu prinsip tidak teridentifikasi, urutan langkah
       ditulis dengan benar
       2: ada langkah prinsip tidak teridentifikasi, ada langkah yang ditulis tidak urut
       1: ada langkah prinsip tidak teridentifikasi, ada langkah prinsip tidak tertulis
       0: tidak mengerjakan


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                           56
Lembar Observasi yang dikembangkan sebagai berikut.

Lembar Observasi terhadap Kinerja Ilmiah Siswa
 No      Aspek Yang Diamati                                  Skor
                                    0 (tidak ada)     1 (kurang)  2 (sedang)   3 (baik)
 1    Melakukan pengamatan
 2    Menuliskan data
      pengamatan
 3    Melakukan tafsiran
      terhadap data
 4    Mengkomunikasikan
        Kriteria Penilaian
                           skor yang didapat
                 nilai =                     × 100
                               skor total




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                         57
PEMBELAJARAN TERPADU

A. LATAR BELAKANG
    Pembelajaran terpadu merupakan proses pembelajaran yang bersifat
    menyeluruh atau holistik. Pendekatan ini menempatkan siswa dalam posisi
    sentral, siswa sebagai peserta didik yang aktif, terutama dalam keterampilan
    berpikir.    Beberapa       keterampilan    berpikir     dikembangkan    dalam
    pembelajaran       ini,   seperti:   mengamati,   membedakan,      mengurutkan,
    menduga      dan     mengukur,       mengelompokan,    bertanya,   merumuskan
    hipotesis,          membandingkan,            menganalisis,        memadukan,
    menggenarilasisikan,        menilai,    memperkirakan,     menginterpretasikan,
    merencanakan, melakukan percobaan, berkomunikasi, berpikir konvergen,
    berpikir divergen, berpikir induktif, berpikir deduktif, menyimpulkan,
    mengambil keputusan.


    Kemungkinan Bentuk Penerapan Pembelajaran Terpadu (IPA Terpadu, IPS
    Terpadu. Tematik)          Menurut Joni (1996) didasarkan pada pengaitan
    konseptual intra dan/atau antar bidang studi yang terjadi secara spontan,
    dengan program kegiatan belajar-mengajar yang dilaksanakan secara
    sepenuhnya mengikuti kurikulum yang isinya masih terkotak-kotak
    berdasarkan bidang studi agar terorganisasi secara terstruktur, lebih
    eksplisit dan bertolak dari tema-tema. Model Pengintegrasian Kurikulum
    tersebut menurut Forgaty (1991) digambarkan seperti pada tabel berikut:




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    58
PENGINTEGRASIAN KURIKULUM
        MODEL               RENTANGAN                       DESKRIPSI
Mata Pelajaran Terpisah     fragmented          Tiap Mapel disampaikan terpisah.
                            connected           Suatu konsep dipertautkan dengan
                                                konsep lain.
                            nested              Selain target di Mapel ada target
                                                multiketerampilan
Integrasi beberapa Mata     Sequenced           beberapa topik diatur ulang serta
Pelajaran                                       diurutkan agar dapat serupa satu sama
                                                lain.
                            shared              dua mata pelajaran yang sama-sama
                                                diajarkan    dengan     menggunakan
                                                konsep-konsep atau keterampilan-
                                                keterampilan yang tumpang tindih
                                                (overlap).
                            Webbed              Berangkat dari tema yang dibangun
                            (terjala/tematik)   bersama-sama antara guru dengan
                                                siswa, atas dasar beberapa topik pada
                                                beberapa     mata    pelajaran    yang
                                                berhubungan.
                                                pendekatan metakurikuler digunakan
                            threaded            untuk        mencapai         beberapa
                                                keterampilan dan tingkatan logika
                                                para siswa dengan berbagai mata
                                                pelajaran.
                                                guru masing-masing mata pelajaran
                            integrated          bekerja sama melihat dan memberikan
                                                topik-topik yang berkaitan dan
                                                tumpang tindih.

Lintas Peserta didik        immersed            berpusat untuk mengakomodasikan
                                                kebutuhan para siswa, di mana mereka
                                                akan melihat apa yang dipelajarinya
                                                dari minat dan pengalaman mereka
                                                sendiri.
                            networked           jaringan kerja dengan orang-orang
                                                yang     memiliki  keahlian    untuk
                                                membantu bagian dari pekerjaannya
                                                yang lebih bersifat implementatif.
                                                Mereka akan bekerja secara terpadu
                                                sesuai dengan topik pekerjaan yang
                                                mengikat mereka.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       59
Model-model     pembelajaran      berpikir   yang   dapat   digunakan     dalam
   pembelajaran    terpadu      adalah:   pemecahan    masalah,   evaluasi   kritis,
   penyelidikan, pengambilan keputusan, berpikir kritis, berpikir kreatif.
   Beberapa kegiatan utama dari model-model pembelajaran berpikir ini
   diuraikan sebagai berikut:
   1. Pemecahan Masalah
       •   Menghimpun fakta-fakta,
       •   Merumuskan masalah,
       •   Mengembangkan ide, pemikiran, alternative pemecahan,

       •   Menentukan alternatif pemecahan,
       •   Menyusun rencana tindakan pelaksanaan.
   2. Berpikir Kritis
   •   Menjelaskan ide dan pemikiran
   •   Menentukan tingkat ketepatan informasi dasar (hasil pengamatan dan
       komunikasi).
   •   Menyusun argumentasi dan penyimpulan (berdasarkan data dan konsep)
   3. Berpikir Kreatif
   •   Pengembangan ide-ide dalam beberapa kategori (kelenturan berpikir)
   •   Pengembangan ide baru (kemurnian berpikir)
   •   Penyempurnaan ide (elaborasi pemikiran)
   4. Evaluasi Kritis
       •   Menentukan kriteria
       •   Menyusun alternative pemikiran, pemecahan,
       •   Membuat perkiraan dan menentukan keputusan,
       •   Memberikan alas an, argumentasi bagi keputusan.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    60
B. TUJUAN DAN MANFAAT PEMBELAJARAN TERPADU
    • Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran
    •   Meningkatkan minat dan motivasi
    •   Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus
    •   Motivasi belajar peserta didik dapat diperbaiki dan ditingkatkan.
    •   Pembelajaran terpadu membantu menciptakan struktur kognitif yang
        dapat menjembatani antara pengetahuan awal peserta didik dengan
        pengalaman belajar yang terkait, sehingga pemahaman menjadi lebih
        terorganisasi   dan   mendalam,        sehingga   memudahkan        memahami
        hubungan materi dari satu konteks ke konteks lainnya.
    •   Akan terjadi peningkatan kerja sama          antar guru sub bidang kajian
        terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik,
        peserta didik/guru dengan nara sumber; sehingga belajar lebih
        menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang
        lebih bermakna.
    • Dengan       menggabungkan        berbagai    bidang   kajian   akan     terjadi
        penghematan waktu, karena ketiga atau lebih disiplin ilmu dapat
        dibelajarkan sekaligus. Tumpang tindih materi juga dapat dikurangi
        bahkan dihilangkan.
    •   Peserta didik dapat melihat hubungan yang bermakna antar konsep
        dalam disiplin ilmu tersebut.
    •   Meningkatkan taraf kecakapan berpikir peserta didik, karena peserta
        didik dihadapkan pada gagasan atau pemikiran yang lebih luas dan
        lebih dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran.
    • Pembelajaran terpadu menyajikan penerapan/aplikasi tentang dunia
        nyata    yang     dialami   dalam       kehidupan    sehari-hari,    sehingga




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       61
memudahkan pemahaman konsep dan kepemilikan kompetensi dari
         mata pelajaran yang dipadukan.


C. JENIS-JENIS PEMBELAJARAN TERPADU
    Pembelajaran yang dimungkinkan untuk dipadukan adalah mata pelajaran
    Kimia, Biologi dan Fisika menjadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Terpadu.
    Sedangkan kajian tentang sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik,
    antropologi, filsafat, psikologi sosial      menjadi mata pelajaran Ilmu
    Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu. Dalam hal ini Guru bekerja sama melihat
    dan memberikan topik-topik yang berkaitan dan tumpang tindih (dengan
    mencermati     indikator    yang    telah   disusun)   dan   memadukannya.
    Kemungkinan pada pemaduan IPA adalah Connected, Webbed (tematik) dan
    Integrated.


D. PEMBELAJARAN IPA TERPADU
    1.       PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA)
         Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu
         tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan
         kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau
         prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan
         (discovery). Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi
         peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta
         prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam
         kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada
         pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi
         agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan
         IPA diarahkan untuk inkuiri     dan berbuat sehingga dapat membantu



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                62
peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam
       tentang alam sekitar.


       Secara umum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)          di SMP/MTs, meliputi
       mata pelajaran fisika, bumi antariksa, biologi, dan kimia yang sebenarnya
       sangat berperan dalam membantu anak untuk memahami fenomena
       alam. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan pengetahuan ilmiah, yaitu
       pengetahuan yang telah mengalami uji kebenaran melalui metode ilmiah,
       dengan ciri: objektif, metodik, sistematis, universal, dan tentatif. Ilmu
       Pengetahuan Alam merupakan ilmu yang pokok bahasannya adalah alam
       dan segala isinya.
       Carin dan Sund (1993) mendefinisikan IPA sebagai “pengetahuan yang
       sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan
       berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen”.
       Merujuk pada pengertian IPA itu, maka dapat disimpulkan bahwa
       hakikat IPA meliputi empat unsur utama yaitu:

       •   sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, mahluk hidup,
           serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang
           dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar; IPA bersifat open
           ended;
       •   proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode
           ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau
           percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan;
       •   produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum;
       •   aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan
           sehari-hari.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 63
Keempat unsur itu merupakan ciri IPA yang utuh yang sebenarnya
       tidak dapat dipisahkan satu sama lain.


       Dalam proses pembelajaran IPA keempat unsur itu diharapkan dapat
       muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami proses pembelajaran
       secara utuh, memahami fenomena alam melalui kegiatan pemecahan
       masalah, metode ilmiah, dan meniru cara ilmuwan bekerja dalam
       menemukan fakta baru. Kecenderungan pembelajaran IPA          pada masa
       kini adalah peserta didik hanya mempelajari IPA          sebagai produk,
       menghafalkan konsep, teori dan hukum. Keadaan ini diperparah oleh
       pembelajaran yang beriorientasi pada tes/ujian. Akibatnya IPA sebagai
       proses, sikap, dan aplikasi tidak tersentuh dalam pembelajaran.


       Pengalaman belajar yang diperoleh di kelas tidak utuh dan tidak
       berorientasi tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar.
       Pembelajaran lebih bersifat teacher-centered, guru hanya menyampaikan
       IPA    sebagai produk dan peserta didik menghafal informasi faktual.
       Peserta didik hanya mempelajari IPA            pada domain kognitif yang
       terendah. Peserta didik tidak dibiasakan untuk mengembangkan potensi
       berpikirnya. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak peserta didik
       yang cenderung menjadi malas berpikir secara mandiri. Cara berpikir
       yang dikembangkan dalam kegiatan belajar belum menyentuh domain
       afektif dan psikomotor. Alasan yang sering dikemukakan oleh para guru
       adalah keterbatasan waktu, sarana, lingkungan belajar, dan jumlah
       peserta didik per kelas yang terlalu banyak.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                64
Abad 21 ditandai oleh pesatnya perkembangan IPA dan teknologi dalam
       berbagai bidang kehidupan di masyarakat, terutama teknologi informasi
       dan komunikasi. Oleh karena itu, diperlukan cara pembelajaran yang
       dapat menyiapkan peserta didik untuk melek IPA dan teknologi, mampu
       berpikir logis, kritis, kreatif, serta dapat berargumentasi secara benar.
       Dalam kenyataan, memang tidak banyak peserta didik yang menyukai
       mata pelajaran IPA, karena dianggap sukar, keterbatasan kemampuan
       peserta didik, atau karena mereka tak berminat menjadi ilmuwan atau
       ahli   teknologi.   Namun     demikian,   mereka   tetap   berharap   agar
       pembelajaran IPA di sekolah dapat disajikan secara menarik, efisien, dan
       efektif.
       Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang akan dicapai peserta
       didik yang dituangkan dalam empat aspek yaitu, makhluk hidup dan
       proses kehidupan, materi dan sifatnya, energi dan perubahannya, serta
       bumi dan alam semesta.


       Indikator    pencapaian     kompetensi    dikembangkan     oleh   sekolah,
       disesuaikan dengan lingkungan setempat, dan media serta lingkungan
       belajar yang ada di sekolah. Semua ini ditujukan agar guru dapat lebih
       aktif, kreatif, dan melakukan inovasi dalam pembelajaran tanpa
       meninggalkan isi kurikulum. Melalui pembelajaran IPA terpadu,
       diharapkan peserta didik dapat membangun pengetahuannya melalui
       cara kerja ilmiah, bekerja sama dalam kelompok, belajar berinteraksi dan
       berkomunikasi, serta bersikap ilmiah.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  65
2. KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN IPA
       Ilmu Pengetahuan Alam didefinisikan sebagai pengetahuan yang
       diperoleh melalui pengumpulan data dengan eksperimen, pengamatan,
       dan deduksi untuk menghasilkan suatu penjelasan tentang sebuah gejala
       yang dapat dipercaya. Ada tiga kemampuan dalam IPA yaitu: (1)
       kemampuan untuk mengetahui apa yang diamati, (2) kemampuan untuk
       memprediksi apa yang belum diamati, dan kemampuan untuk menguji
       tindak lanjut hasil eksperimen, (3) dikembangkannya sikap ilmiah.
       Kegiatan pembelajaran IPA mencakup pengembangan kemampuan
       dalam mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, memahami jawaban,
       menyempurnakan jawaban tentang “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana”
       tentang gejala alam maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara
       sistematis yang akan diterapkan dalam lingkungan dan teknologi.
       Kegiatan tersebut dikenal dengan kegiatan ilmiah yang didasarkan pada
       metode ilmiah. Metode ilmiah dalam mempelajari IPA itu sendiri telah
       diperkenalkan sejak abad ke-16 (Galileo Galilei dan Francis Bacon) yang
       meliputi mengidentifikasi masalah, menyusun hipotesa, memprediksi
       konsekuensi dari hipotesis, melakukan eksperimen untuk menguji
       prediksi, dan merumuskan hukum umum yang sederhana yang
       diorganisasikan dari hipotesis, prediksi, dan eksperimen.


       Dalam belajar IPA peserta didik diarahkan untuk membandingkan hasil
       prediksi peserta didik dengan teori        melalui eksperimen dengan
       menggunakan metode ilmiah. Pendidikan IPA di sekolah diharapkan
       dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri
       dan alam sekitarnya, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam
       menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, yang didasarkan pada



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               66
metode ilmiah.       Pembelajaran IPA menekankan pada pengalaman
       langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik mampu
       memahami alam sekitar melalui proses “mencari tahu” dan “berbuat”,
       hal ini akan membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman
       yang lebih mendalam.


       Keterampilan dalam mencari tahu atau berbuat tersebut dinamakan
       dengan keterampilan proses penyelidikan atau “enquiry skills” yang
       meliputi     mengamati,     mengukur,     menggolongkan,      mengajukan
       pertanyaan, menyusun hipotesis, merencanakan eksperimen untuk
       menjawab pertanyaan, mengklasifikasikan, mengolah, dan menganalisis
       data, menerapkan ide pada situasi baru, menggunakan peralatan
       sederhana serta mengkomunikasikan informasi dalam berbagai cara,
       yaitu dengan gambar, lisan, tulisan, dan sebagainya.


      Melalui keterampilan proses dikembangkan sikap dan nilai yang meliputi
      rasa ingin tahu, jujur, sabar, terbuka, tidak percaya tahyul, kritis, tekun,
      ulet, cermat, disiplin, peduli terhadap lingkungan, memperhatikan
      keselamatan kerja, dan bekerja sama dengan orang lain.


      Oleh karena itu pembelajaran IPA di sekolah sebaiknya: (1) memberikan
      pengalaman pada peserta didik sehingga mereka kompeten melakukan
      pengukuran berbagai besaran fisis, (2) menanamkan pada peserta didik
      pentingnya pengamatan empiris dalam menguji suatu pernyataan ilmiah
      (hipotesis). Hipotesis ini dapat berasal dari pengamatan terhadap kejadian
      sehari-hari yang memerlukan pembuktian secara ilmiah, (3) latihan
      berpikir kuantitatif yang mendukung kegiatan belajar matematika, yaitu



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   67
sebagai penerapan matematika pada masalah-masalah nyata yang
      berkaitan dengan peristiwa alam, (4) memperkenalkan dunia teknologi
      melalui kegiatan kreatif dalam kegiatan perancangan dan pembuatan alat-
      alat sederhana maupun penjelasan berbagai gejala dan keampuhan IPA
      dalam menjawab berbagai masalah.


    3. TUJUAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU
       Tujuan pembelajaran IPA Terpadu adalah sebagai berikut.
       a. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran
          Dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai
          peserta didik masih dalam lingkup disiplin ilmu fisika, kimia, dan
          biologi. Banyak ahli yang menyatakan pembelajaran IPA                    yang
          disajikan secara disiplin keilmuan dianggap terlalu dini bagi anak usia
          7-14 tahun, karena anak pada usia ini masih dalam transisi dari tingkat
          berpikir operasional konkret ke berpikir abstrak. Lagi pula, anak
          melihat dunia sekitarnya masih secara holistik. Atas dasar itu,
          pembelajaran IPA hendaknya disajikan dalam bentuk yang utuh dan
          tidak parsial. Di samping itu pembelajaran yang disajikan terpisah-
          pisah   dalam     fisika,    biologi,   kimia,   dan    bumi-alam      semesta
          memungkinkan adanya tumpang tindih dan pengulangan, sehingga
          membutuhkan       waktu       dan    energi     yang   lebih   banyak,    serta
          membosankan bagi peserta didik. Bila konsep yang tumpang tindih
          dan pengulangan dapat dipadukan, maka pembelajaran akan lebih
          efisien dan efektif.


          Keterpaduan      mata       pelajaran   dapat    mendorong      guru     untuk
          mengembangkan kreativitas tinggi karena adanya tuntutan untuk



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                          68
memahami keterkaitan antara satu materi dengan materi yang lain.
          Guru dituntut memiliki kecermatan, kemampuan analitik, dan
          kemampuan kategorik agar dapat memahami keterkaitan atau
          kesamaan materi maupun metodologi.


       b. Meningkatkan minat dan motivasi
          Pembelajaran     terpadu   memberikan    peluang    bagi   guru   untuk
          mengembangkan situasi pembelajaan yang utuh, menyeluruh, dinamis,
          dan bermakna sesuai dengan harapan dan kemampuan guru, serta
          kebutuhan dan kesiapan peserta didik. Dalam hal ini, pembelajaran
          terpadu memberikan peluang bagi pengembangan ilmu pengetahuan
          yang berkaitan dengan tema yang disampaikan.
          Pembelajaran IPA Terpadu dapat mempermudah dan memotivasi
          peserta didik untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami
          keterkaitan atau hubungan antara konsep pengetahuan dan nilai atau
          tindakan yang termuat dalam tema tersebut.             Dengan model
          pembelajaran yang terpadu dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari,
          peserta didik digiring untuk berpikir luas dan mendalam untuk
          menangkap dan memahami hubungan konseptual yang disajikan
          guru. Selanjutnya peserta didik akan terbiasa berpikir terarah, teratur,
          utuh, menyeluruh, sistemik, dan analitik. Peserta didik akan lebih
          termotivasi dalam belajar bila mereka merasa bahwa pembelajaran itu
          bermakna baginya, dan bila mereka berhasil menerapkan apa yang
          telah dipelajarinya.
       c. Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus
          Model pembelajaran IPA terpadu dapat menghemat waktu, tenaga, dan
          sarana, serta biaya karena pembelajaran beberapa kompetensi dasar


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   69
dapat diajarkan sekaligus. Di samping itu, pembelajaran terpadu juga
          menyederhanakan langkah-langkah pembelajaran. Hal ini terjadi karena
          adanya proses pemaduan dan penyatuan sejumlah standar kompetensi,
          kompetensi dasar, dan langkah pembelajaran yang dipandang memiliki
          kesamaan atau keterkaitan.


    4. PEMADUAN KONSEP DALAM PEMBELAJARAN IPA

       Salah satu kunci pembelajaran terpadu yang terdiri atas beberapa mata
       pelajaran adalah menyediakan lingkungan belajar yang menempatkan
       peserta    didik     mendapat      pengalaman   belajar   yang    dapat
       menghubungkaitkan konsep-konsep dari berbagai submata-pelajaran.
       Pengertian terpadu di sini mengandung makna menghubungkan IPA
       dengan berbagai mata pelajaran (Carin 1997;236). Lintas submata
       pelajaran dalam IPA adalah mengkoordinasikan berbagai disiplin ilmu
       seperti biologi, fisika, kimia, geologi, dan astronomi. Sebenarnya IPA
       dapat juga dipadukan dengan mata pelajaran lain di luar bidang kajian
       IPA dan hal ini lebih sesuai untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar.


       Mengingat pembahasan materi IPA pada tingkat lebih tinggi semakin
       luas dan mendalam, maka pada jenjang pendidikan SMP/MTs dan
       SMA/MA, akan lebih baik bila keterpaduan dibatasi pada mata pelajaran
       yang termasuk bidang kajian IPA saja. Hal ini dimaksudkan agar tidak
       terlalu banyak guru yang terlibat, yang akan membuka peluang
       timbulnya kesulitan dalam pembelajaran dan penilaian, mengingat
       semakin tinggi jenjang pendidikan, maka semakin dalam dan luas pula
       pemahaman konsep yang harus diserap oleh peserta didik.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  70
Pembelajaran terpadu diawali dengan penentuan TEMA, karena
       penentuan tema akan membantu peserta didik dalam beberapa aspek
       yaitu:
       α.   peserta didik yang bekerja sama dengan kelompoknya akan lebih
            bertanggung jawab, berdisiplin, dan mandiri;
       β.   peserta didik menjadi lebih percaya diri dan termotivas dalam belajar
            bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajarinya;
       χ.   peserta didik lebih memahami dan lebih mudah mengingat karena
            mereka    ‘mendengar’,    ‘berbicara’,   ‘membaca’,    ‘menulis’    dan
            ‘melakukan’ kegiatan menyelidiki masalah yang sedang dipelajarinya;
       δ.   memperkuat kemampuan berbahasa peserta didik;
       ε.   belajar akan lebih baik bila peserta didik terlibat secara aktif melalui
            tugas proyek, kolaborasi, dan berinteraksi dengan teman, guru, dan
            dunia nyata.
       Oleh karena itu, jika guru hendak melakukan pembelajaran terpadu
       dalam IPA, sebaiknya memilih tema yang menghubungkaitkan antara
       IPA–lingkungan- teknologi-masyarakat.
       Berikut ini diberikan contoh pembelajaran IPA Terpadu dengan tema
       yang bernuansa IPA-lingkungan-teknologi-masyarakat.


       Contoh 1: TEMA SERANGGA/INSEKTA

       Insekta merupakan hewan invertebrata yang banyak ditemukan peserta
       didik dalam kehidupan sehari-hari. Insekta merupakan salah satu kelas
       dari Phylum Arthropoda dengan anggota yang terbanyak dan tingkat
       keanekaragaman yang sangat tinggi. Pada umumnya insekta bersayap,
       namun ada pula yang tak bersayap. Ada yang bermetamorfosis sempurna



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     71
dan ada pula yang tidak. Habitat insekta juga tersebar sangat luas, di
       darat sebagai hewan yang hidup di tanah, di pohon,di dalam air, dan
       sebagai hewan terbang. Peranannya dalam kehidupan juga sangat luas,
       sebagai komponen penting dalam rantai makanan, sebagai hama
       tanaman, sebagai penyerbuk tanaman, sebagai vektor berbagai penyakit
       pada hewan dan manusia, dan masih banyak lagi peranan insekta.
       Begitu luasnya pembahasan tentang insekta, sehingga bila disampaikan
       dalam pembelajaran akan memerlukan waktu yang cukup banyak, dan
       mungkin juga konsepnya sulit dipahami peserta didik. Topik/pokok
       bahasan tentang Insekta juga tidak ditemukan dalam Standar Kompetensi
       dan Kompetensi Dasar. akan tetapi guru dapat memilih tema insekta
       mengingat banyak masalah kesehatan dan lingkungan yang terkait
       dengan insekta. Misalnya, merebaknya penyakit demam berdarah,
       malaria, penyakit kaki gajah yang vektor penyebarannya adalah insekta.
       Jadi pembahasan topik ini dapat menjadi bahan pengayaan untuk
       meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang peranan insekta dalam
       ekosistem, mengasah kepekaan peserta didik terhadap kebersihan
       lingkungan, memahami rantai makanan, dan penyebab timbulnya
       ledakan hama. Topik ini bersifat kontekstual di daerah pertanian dan
       daerah pantai, tetapi untuk daerah perkotaan mungkin agak sulit
       dilaksanakan, namun dapat dicoba. Dengan insekta sebagai tema sentral,
       maka dapat dibuat jaringan tema berikut:




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                              72
Mencari
                                 informasi dari
                                   buku yang             Kunjungan ke tempat
      Proyek:Koleksi                 relevan              pemeliharaan lebah
         insekta
                                                          dan mewawancarai
                                                               peternak


     Mempelajari
      klasifikasi
                                                             Menyelidiki siklus
       insekta
                                  INSEKTA                     hidup berbagai
                                                                  insekta
                                  seran
     Menyelidiki
  tentang serangga
     penyerbuk                                              Penyelidikan tentang
                                                            siklus hidup nyamuk



    Mempelajari
   istilah tentang
    bagian tubuh                 Menyelidiki pengaruh               Menyelidiki
        insekta                  perubahan lingkungan             habitat serangga
                                 thd populasi serangga            dalam ekosistem
                                   vektor penularan
                                       penyakit




                       Gambar 2.1. Jaringan tema insekta


        Kompetensi dasar untuk jaringan tema ”insekta” pada gambar 2.1 di atas
        mungkin tidak termuat dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi
        Dasar seluruhnya, namun dapat menjadi inspirasi untuk memotivasi
        peserta didik yang berminat melakukan penyelidikan tentang insekta.
        Dalam pembelajaran ini sekaligus kita menerapkan metode ilmiah dan
        mengembangkan keterampilan proses IPA dan kemampuan pemecahan
        masalah. Inilah contoh fleksibilitas kurikulum untuk mengembangkan
        potensi peserta didik.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                         73
5. PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU

       a. PERENCANAAN
          Keberhasilan       pembelajaran   terpadu   akan   lebih   optimal   jika
          perencanaan mempertimbangkan kondisi dan potensi peserta didik
          (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Standar kompetensi dan
          kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik sudah tercantum
          dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar per submata
          pelajaran IPA.
          Ada berbagai model dalam mengembangkan pembelajaran IPA
          Terpadu yang dapat dilihat pada alur penyusunan perencanaan
          pembelajaran terpadu berikut ini:

        Menetapkan mata                                 Membuat matriks atau
       pelajaran yang akan                                bagan hubungan
            dipadukan                                   kompetensi dasar dan
                                                           tema atau topik
                                                             pemersatu
      Mempelajari Standar
        kompetensi dan
     kompetensi dasar mata
                                                        Merumuskan indikator
         pelajaran yang
                                                        pembelajaran terpadu
           dipadukan



      Memilih/menetapkan                                 Menyusun silabus
        tema atau topik                                pembelajaran terpadu
          pemersatu


                                                          Menyusun desain
                                                        pembelajaran/rencana
                                                            pelaksannan
                                                        pembelajaran terpadu


          Gambar 3.1 Alur Penyusunan Perencanaan Pembelajaran Terpadu


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    74
Langkah (1):
             Menetapkan mata pelajaran yang akan dipadukan. Pada saat
             menetapkan beberapa mata pelajaran yang akan dipadukan sebaiknya
             sudah disertai dengan alasan atau rasional yang berkaitan dengan
             pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar oleh peserta
             didik dan kebermaknaan belajar. Contoh lihat lampiran.

             Langkah (2):
             Mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar dari mata
             pelajaran yang akan dipadukan. Pada tahap ini dilakukan pengkajian
             atas kompetensi dasar pada semester dan kelas yang sama, antarsemester
             pada kelas yang sama, antarsemester dan kelas yang berbeda dari beberapa
             submata pelajaran IPA yang memungkinkan untuk diajarkan secara
             terpadu. Berikut ini contoh peta kompetensi dasarIPA terpadu untuk
             SMP kelasVII

              CONTOH PETA KOMPETENSI DASAR IPA TERPADU
                            Mata Pelajaran : IPA
                                    Kelas : VII

  KD MP Fisika            KD MP Kimia            KD MP Biologi           Tema        Waktu
                                              5.1     Melaksanakan                 20 x 40’
                       2.2 Melakukan                                   Kerja
                                              pengamatan       objek
1.1 Mendeskripsik          percobaan                                   Ilmiah
                                              secara terencana dan
    an besaran             sederhana
                                              sistematis      untuk
    pokok dan              dengan bahan-
                                              memperoleh
    besaran                bahan yang
                                              informasi gejala alam
    turunan beserta        diperoleh
                                              biotik dan a-biotik.
    satuannya              dalam
                           kehidupan
                           sehari-hari.
3.1      Menyelidiki                          6.2
                       2.3 Melakukan                                   Penjernih
sifat-sifat      zat                          Mengklasifikasikan                   20 x 40’
                           pemisahan                                   an Air
berdasarkan                                   makhluk        hidup
                           campuran
wujudnya        dan                           berdasarkan ciri-ciri
                           dengan
penerapannya                                  yang dimiliki
                           berbagai cara
dalam kehidupan
                           berdasarkan
sehari-hari
                           sifat fisika dan
                           sifat kimia




  Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                           75
Langkah (3):
       Memilih dan menetapkan tema atau topik pemersatu. Dalam memilih
       tema/topik dapat dirumuskan dengan melihat isu-isu yang terkini,
       misalnya penyakit demam berdarah, HIV/AIDS, dan lainnya, kemudian
       baru dilihat koneksitasnya dengan kompetensi dasar dari berbagai
       submata pelajaran IPA. Contoh lihat lampiran.

       Langkah (4):
       Membuat matriks keterhubungan kompetensi dasar dan tema/topik
       pemersatu. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kaitan antara
       tema/topik dengan kompetensi dasar yang dapat dipadukan. Contoh lihat
       lampiran.

       Langkah (5):
       Menyusun dan merumuskan indikator pencapaian hasil belajar untuk
       setiap kompetensi dasar dari submata pelajaran yang dipadukan. Contoh
       lihat lampiran.

       Langkah (6):
       Menyusun silabus pembelajaran IPA terpadu, dikembangkan dari
       berbagai indikator submata pelajaran IPA menjadi beberapa pengalaman
       belajar yang konsep keterpaduan atau keterkaitan menyatu antara
       beberapa submata pelajaran IPA. Contoh lihat lampiran.

       Langkah (7):
       Menjabarkan silabus menjadi desain pembelajaran atau rencana
       pelaksanaan pembelajaran untuk setiap pertemuan. Contoh lihat lampiran.


    b. MODEL PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU
       (Desain Pembelajaran/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)
       Model pembelajaran dalam hal ini adalah menjabarkan silabus menjadi
       desain    pembelajaran/rencana      pelaksanaan   pembelajaran   terpadu,
       dikemas dalam kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan
       penutup/tindak lanjut.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 76
Kegiatan Awal/Pendahuluan
       Kegiatan pendahuluan merupakan kegiatan awal yang harus ditempuh
       guru dan peserta didik pada setiap kali pelaksanaan pembelajaran
       terpadu. Fungsinya untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang
       efektif, yang memungkinkan peserta didik dapat mengikuti proses
       pembelajaran dengan baik. Efisiensi waktu dalam kegiatan awal ini perlu
       diperhatikan, karena waktu yang tersedia relatif singkat yaitu antara 5-10
       menit. Dengan waktu yang relatif singkat tersebut, diharapkan guru
       dapat menciptakan kondisi awal pembelajaran dengan baik sehingga
       peserta didik siap mengikuti pembelajaran dengan seksama.
       Langkah-langkah dalam kegiatan pendahuluan ini terdiri atas beberapa
       tahap yaitu:

            1. menarik perhatian peserta didik untuk menumbuhkan kesiapan
                  belajar;
            2. memotivasi peserta didik: membangkitkan semangat dan minat
                  peserta didik untuk siap menerima pelajaran;
            3. memberikan acuan topik yang akan dibahas;
            4. mengaitkan topik yang akan dipelajari dengan topik yang telah
                  dipelajari yang dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan
                  tentang topik yang sudah dipelajari sebelumnya dan memberikan
                  komentar atas jawaban peserta didik
      Dalam kegiatan pendahuluan ini guru dapat pula melakukan penilaian
      awal peserta didik (tes awal) yang dapat diberikan secara lisan maupun
      tertulis.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  77
Kegiatan Inti
       Kegiatan inti merupakan kegiatan pelaksanaan pembelajaran terpadu
       yang menekankan pada proses pembentukan pengalaman belajar peserta
       didik (learning experience). Pengalaman belajar dapat terjadi melalui
       kegiatan tatap muka dan kegiatan nontatap muka. Kegiatan tatap muka
       dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran yang peserta didik dapat
       berinteraksi langsung dengan guru maupun dengan peserta didik
       lainnya. Kegiatan nontatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan
       pembelajaran yang dilakukan peserta didik dengan sumber belajar lain di
       luar kelas atau di luar sekolah.
       Kegiatan inti pembelajaran terpadu bersifat situasional, yakni disesuaikan
       dengan situasi dan kondisi setempat. Terdapat beberapa kegiatan yang
       dapat dilakukan dalam kegiatan inti pembelajaran terpadu, di antaranya
       adalah sebagai berikut ini.

       •     Kegiatan yang paling awal: Guru        memberitahukan tujuan atau
           kompetensi dasar yang harus dicapai oleh peserta didik beserta garis
           besar materi yang akan disampaikan. Cara yang paling praktis adalah
           menuliskannya di papan tulis dengan penjelasan secara lisan
           mengenai pentingnya kompetensi tersebut yang akan dikuasai oleh
           peserta didik.

       •     Alternatif kegiatan belajar yang akan dialami peserta didik. Guru
           menyampaikan kepada peserta didik kegiatan belajar yang harus
           ditempuh peserta didik dalam mempelajari tema atau topik yang
           telah ditentukan. Kegiatan belajar hendaknya lebih mengutamakan
           aktivitas peserta didik, atau berorientasi pada aktivitas peserta didik.
           Guru hanya sebagai fasilitator yng memberikan kemudahan kepada
           peserta   didik untuk belajar.      Peserta   didik diarahkan    untuk



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    78
menemukan sendiri apa yang dipelajarinya. Prinsip belajar sesuai
           dengan       ’konstruktivisme’      hendaknya    dilaksanakan   dalam
           pembelajaran terpadu
            Dalam membahas dan menyajikan materi/bahan ajar terpadu harus
            diarahkan pada suatu proses perubahan tingkah laku peserta didik,
            penyajian harus dilakukan secara terpadu melalui penghubungan
            konsep di mata pelajaran yang satu dengan konsep di mata pelajaran
            lainnya. Guru harus berupaya untuk menyajikan bahan ajar dengan
            strategi mengajar yang bervariasi, yang mendorong peserta didik
            pada upaya penemuan pengetahuan baru, melalui pembelajaran
            yang bersifat klasikal, kelompok, dan perorangan.
       Kegiatan Akhir/Penutup dan tindak lanjut
       Waktu yang tersedia untuk kegiatan penutup atau kegiatan akhir
       pembelajaran terpadu ini cukup singkat. Oleh karena itu guru perlu
       mengatur dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Secara umum
       kegiatan penutup ini terdiri atas hal-hal sebagai berikut ini.
       a) Mengajak peserta didik untuk           menyimpulkan materi yang telah
           diajarkan.
       b) Melaksanakan tindak lanjut pembelajaran dengan pemberian tugas
           atau latihan yang harus dikerjakan di rumah, menjelaskan kembali
           bahan yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi
           pelajaran tertentu, memberikan motivasi atau bimbingan belajar.
       c) Mengemukakan         topik   yang     akan   dibahas   pada   pertemuan
           selanjutnya.
       d) Memberikan evaluasi lisan atau tertulis.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  79
c. MODEL PENILAIAN IPA TERPADU
       Model      penilaian   yang   dikembangkan   mencakup    prosedur     yang
       digunakan, jenis dan bentuk penilaian, serta alat evaluasi yang
       digunakan. Model penilaian ini disesuaikan dengan penilaian berbasis
       kelas pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Objek penilaian
       mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik.
       Hasil belajar pada hakikatnya merupakan kompetensi-kompetensi yang
       mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang
       diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi dapat
       diukur melalui sejumlah hasil belajar yang indikatornya dapat diukur
       dan diamati.     Penilaian proses dan hasil belajar saling berkaitan satu
       dengan yang lainnya karena hasil belajar merupakan akibat dari proses
       belajar.
       Jenis penilaian terpadu terdiri atas tes dan bukan tes. Sistem penilaian
       dengan menggunakan tes merupakan sistem penilaian konvensional.
       Sistem ini kurang dapat menggambarkan kemampuan peserta didik
       secara menyeluruh, sebab hasil belajar digambarkan dalam bentuk angka
       yang gambaran maknanya sangat abstrak. Oleh karena itu untuk
       melengkapi gambaran kemajuan belajar secara menyeluruh maka
       dilengkapi dengan non-tes.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   80
PENILAIAN




                          Pengetahuan,
     Non                  keterampilan,                 Tes
     tes                  sikap, dan nilai



                                Tes lisan          Tes tertulis           Tes perbuatan




 Skala sikap                Tes tertulis/ uraian                  Tes tertulis/ objektif
 Daftar periksa                                                   Pilihan ganda
 Kuesioner                      Tes tertutup/                     Benar salah
 Catatan anekdot                terbatas/                         Menjodohkan
 Portofolio                     terstruktur                       Isian singkat
 Catatan sekolah                Bebas terbuka                     Isian panjang
 Jurnal
 Cuplikan kerja                                                   Isian khusus




                       Model penilaian pembelajaran terpadu




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                               81
Berikut ini adalah contoh penilaian              untuk   tema/topik     tentang
           LINGKUNGAN SEKITAR KITA

                        TEMA: LINGKUNGAN SEKITAR KITA
     KD            Indikator                              Sistem penilaian
                                     Prosedur         Jenis dan    Jenis tagihan     Instrumen
                                                       bentuk
Menentukan      Mengidentifikasi   Tes awal        Pilihan ganda   Laporan          Soal pilihan
ekosistem dan   satuan dalam       Dapat           dan isian       hasil            ganda yang
saling          ekosistem dan      dilakukan                       pengamatan       berkaitan
hubungan        menyatakan         dapat pula                                       dengan
antara          bahwa matahari     tidak                                            pemahaman
komponen        merupakan          tergantung                                       awal peserta
ekosistem       sumber energi      kondisi                                          didik
                utama dalam                                                         mengenai
                biosfer                                                             tema
                                   Penugasan       Nontes
                Menggambarkan
                dalam bentuk
                diagram rantai
                makanan dan                                                         Lembar
                jaring-jaring                                                       penilaian
                kehidupan dan                                                       laporan
                menjelaskan
                peranan masing-
                masing tingkat
                trofik

Memprediksi     Memperkirakan      Penugasan       Nontes           Laporan         Lembar
pengaruh        hubungan antara                                     hasil           penilaian
kepadatan       populasi                                            pengamatan      laporan
populasi        penduduk
manusia         dengan
terhadap        kebutuhan air
lingkungan      bersih dan udara
                bersih
                                   Praktikum       1.   Nontes
                Memperkirakan                      2.   Tes         Laporan         Lembar
                hubungan ukuran                         perbuatan   praktikum       penilaian
                penduduk                                                            laporan
                dengan                                                              Lembar
                kebutuhan                                                           penilaian
                pangan                                                              kinerja




    Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       82
KD            Indikator                              Sistem penilaian
                                     Prosedur         Jenis dan    Jenis tagihan    Instrumen
                                                       bentuk
Menentukan      Mengidentifikasi   Tes awal        Pilihan ganda   Laporan         Soal pilihan
ekosistem dan   satuan dalam       Dapat           dan isian       hasil           ganda yang
saling          ekosistem dan      dilakukan                       pengamatan      berkaitan
hubungan        menyatakan         dapat pula                                      dengan
antara          bahwa matahari     tidak                                           pemahaman
komponen        merupakan          tergantung                                      awal peserta
ekosistem       sumber energi      kondisi                                         didik
                utama dalam                                                        mengenai
                biosfer                                                            tema
                                   Penugasan       Nontes
                Menggambarkan
                dalam bentuk
                diagram rantai
                makanan dan                                                        Lembar
                jaring-jaring                                                      penilaian
                kehidupan dan                                                      laporan
                menjelaskan
                peranan masing-
                masing tingkat
                trofik

                Memperkirakan
                hubungan ukuran
                penduduk
                dengan
                kebutuhan lahan

                Menjelaskan
                pengaruh
                meningkatnya
                populasi
                penduduk
                dengan
                kerusakan
                lingkungan

                Menjelaskan
                pengaruh
                meningkatnya
                populasi
                penduduk
                dengan kesehatan


    Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      83
KD             Indikator                             Sistem penilaian
                                     Prosedur         Jenis dan    Jenis tagihan    Instrumen
                                                       bentuk
Menentukan      Mengidentifikasi   Tes awal        Pilihan ganda   Laporan         Soal pilihan
ekosistem dan   satuan dalam       Dapat           dan isian       hasil           ganda yang
saling          ekosistem dan      dilakukan                       pengamatan      berkaitan
hubungan        menyatakan         dapat pula                                      dengan
antara          bahwa matahari     tidak                                           pemahaman
komponen        merupakan          tergantung                                      awal peserta
ekosistem       sumber energi      kondisi                                         didik
                utama dalam                                                        mengenai
                biosfer                                                            tema
                                   Penugasan       Nontes
                Menggambarkan
                dalam bentuk
                diagram rantai
                makanan dan                                                        Lembar
                jaring-jaring                                                      penilaian
                kehidupan dan                                                      laporan
                menjelaskan
                peranan masing-
                masing tingkat
                trofik


Mengaplikasik   Menjelaskan        Penugasan       Nontes          Karya tulis     Lembar
an peran        pengaruh                                                           penilaian
manusia         pencemaran air,                                                    karya tulis
dalam           udara, dan tanah
pengelolaan     dalam kaitannya
lingkungan      dengan kegiatan
untuk           manusia
mengatasi
pencemaran      Mengemukakan
dan kerusakan   contoh langkah-
lingkungan      langkah upaya
                pengelolaan
                lingkungan hidup
                untuk
                kesejahteraan
                manusia




    Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       84
KD            Indikator                              Sistem penilaian
                                     Prosedur         Jenis dan    Jenis tagihan    Instrumen
                                                       bentuk
Menentukan      Mengidentifikasi   Tes awal        Pilihan ganda   Laporan         Soal pilihan
ekosistem dan   satuan dalam       Dapat           dan isian       hasil           ganda yang
saling          ekosistem dan      dilakukan                       pengamatan      berkaitan
hubungan        menyatakan         dapat pula                                      dengan
antara          bahwa matahari     tidak                                           pemahaman
komponen        merupakan          tergantung                                      awal peserta
ekosistem       sumber energi      kondisi                                         didik
                utama dalam                                                        mengenai
                biosfer                                                            tema
                                   Penugasan       Nontes
                Menggambarkan
                dalam bentuk
                diagram rantai
                makanan dan                                                        Lembar
                jaring-jaring                                                      penilaian
                kehidupan dan                                                      laporan
                menjelaskan
                peranan masing-
                masing tingkat
                trofik

Mencari         Mengelompokkan     Praktikum       Nontes                          Lembar
informasi       bahan kimia dari                                                   penilaian
tentang         kemasan yang                       Tes perbuatan                   laporan
kegunaan dan    digunakan                                                          Lembar
efek samping    sebagai pemutih,                                                   penilaian
bahan kimia     pembersih,                                                         kinerja
dalam           pengharum, dan
kehidupan       pembasmi
sehari-hari     serangga

                Menyelidiki
                pengaruh
                penggunaan
                bahan kimia yang
                digunakan
                sebagai pemutih,
                pembersih,
                pengharum, dan
                pembasmi
                serangga




    Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      85
KD            Indikator                              Sistem penilaian
                                     Prosedur         Jenis dan    Jenis tagihan    Instrumen
                                                       bentuk
Menentukan      Mengidentifikasi   Tes awal        Pilihan ganda   Laporan         Soal pilihan
ekosistem dan   satuan dalam       Dapat           dan isian       hasil           ganda yang
saling          ekosistem dan      dilakukan                       pengamatan      berkaitan
hubungan        menyatakan         dapat pula                                      dengan
antara          bahwa matahari     tidak                                           pemahaman
komponen        merupakan          tergantung                                      awal peserta
ekosistem       sumber energi      kondisi                                         didik
                utama dalam                                                        mengenai
                biosfer                                                            tema
                                   Penugasan       Nontes
                Menggambarkan
                dalam bentuk
                diagram rantai
                makanan dan                                                        Lembar
                jaring-jaring                                                      penilaian
                kehidupan dan                                                      laporan
                menjelaskan
                peranan masing-
                masing tingkat
                trofik

                Menjelaskan efek
                samping
                penggunaan
                bahan kimia
                dalam rumah
                tangga




Menjelaskan     Menunjukkan        Penugasan       Nontes          Laporan         Lembar



    Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      86
KD               Indikator                           Sistem penilaian
                                        Prosedur       Jenis dan    Jenis tagihan    Instrumen
                                                        bentuk
Menentukan         Mengidentifikasi    Tes awal     Pilihan ganda   Laporan         Soal pilihan
ekosistem dan      satuan dalam        Dapat        dan isian       hasil           ganda yang
saling             ekosistem dan       dilakukan                    pengamatan      berkaitan
hubungan           menyatakan          dapat pula                                   dengan
antara             bahwa matahari      tidak                                        pemahaman
komponen           merupakan           tergantung                                   awal peserta
ekosistem          sumber energi       kondisi                                      didik
                   utama dalam                                                      mengenai
                   biosfer                                                          tema
                                       Penugasan    Nontes
                   Menggambarkan
                   dalam bentuk
                   diagram rantai
                   makanan dan                                                      Lembar
                   jaring-jaring                                                    penilaian
                   kehidupan dan                                                    laporan
                   menjelaskan
                   peranan masing-
                   masing tingkat
                   trofik

hubungan           bentuk energi dan                                hasil           penilaian
bentuk energi      perubahannya                                     pengamatan      laporan
dan                dalam kehidupan
perubahan-         sehari-hari
nya, prinsip
"usaha dan         Mengaplikasikan
energi" serta      konsep energi
penerapan-nya      dan
dalam              perubahannya
kehidupan          dalam kehidupan
sehari-hari        sehari-hari

Menjelaskan        Menjelaskan         Penugasan    Nontes          Laporan         Lembar
hubungan           proses pelapukan                                                 penilaian
antara proses      di lapisan bumi
yang terjadi di    berkaitan dengan
lapisan litosfer   masalah
dan atmosfer       lingkungan
dengan
kesehatan dan      Menjelaskan         Tes akhir    Soal Pilihan                    Kunci




     Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      87
KD            Indikator                              Sistem penilaian
                                     Prosedur         Jenis dan    Jenis tagihan    Instrumen
                                                       bentuk
Menentukan      Mengidentifikasi   Tes awal        Pilihan ganda   Laporan         Soal pilihan
ekosistem dan   satuan dalam       Dapat           dan isian       hasil           ganda yang
saling          ekosistem dan      dilakukan                       pengamatan      berkaitan
hubungan        menyatakan         dapat pula                                      dengan
antara          bahwa matahari     tidak                                           pemahaman
komponen        merupakan          tergantung                                      awal peserta
ekosistem       sumber energi      kondisi                                         didik
                utama dalam                                                        mengenai
                biosfer                                                            tema
                                   Penugasan       Nontes
                Menggambarkan
                dalam bentuk
                diagram rantai
                makanan dan                                                        Lembar
                jaring-jaring                                                      penilaian
                kehidupan dan                                                      laporan
                menjelaskan
                peranan masing-
                masing tingkat
                trofik

permasalah-an   proses                             ganda                           jawaban dan
lingkungan      pemanasan global                                                   cara
                dan pengaruhnya                                                    penilaian
                terhadap masalah
                lingkungan                          Soal uraian
                                                      singkat
                Menjelaskan
                pengaruh proses-
                proses di
                lingkungan
                terhadap
                kesehatan
                manusia

           Berdasarkan contoh itu, maka guru dapat mempraktikkan beberapa
           teknik penilaian, baik yang termasuk dalam ranah kognitif, afektik,
           maupun psikomotor. Tugas berupa laporan baik secara individu maupun
           kelompok sebaiknya berupa tugas aplikasi, misalnya merupakan hasil



    Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      88
pengamatan di luar kelas. Dapat pula berupa tugas sintesis dan evaluasi,
       misalnya tugas pemecahan masalah           lingkungan dan usulan cara
       penanggulangannya. Melalui penugasan ini maka kemampuan berpikir
       dan kepekaan peserta didik akan terasah.


       Untuk keperluan pelaporan hasil penilaian guru dapat memberikan
       bobot bagi setiap tugas yang diberikan tergantung pada pertimbangan
       guru sesuai dengan karakteristik tugas, baik tes maupun nontes.
       Penilaian untuk pelaporan mengacu pada pedoman penilaian dari Pusat
       Kurikulum Balitbang Depdiknas. Oleh karena keterpaduan pembelajaran
       IPA meliputi mata pelajaran fisika, kimia, biologi, maka dalam pelaporan
       hasil penilaian tidak menjadi masalah. Ketiganya akan dipadukan
       menjadi nilai mata pelajaran IPA .


    6. IMPLIKASI PEMBELAJARAN IPA TERPADU

       Sesuatu yang baru atau merupakan inovasi tentu tidak mudah untuk
       dilaksanakan, karena memerlukan penyesuaian diri dan kemauan untuk
       beradaptasi.    Begitu   pula   dengan   pembelajaran   IPA    Terpadu.
       Pembelajaran terpadu biasa dilakukan jenjang pendidikan usia dini,
       namun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan di jenjang
       pendidikan yang lebih tinggi, yaitu jenjang SMP/MTs dan SMA/MA.
       Hasil uji coba menunjukkan bahwa pembelajaran terpadu dapat
       dilaksanakan.
       a. Guru
          Dalam pelaksanaannya, pembelajaran dapat dilakukan oleh tim
          pengajar atau guru tunggal. Hal ini tergantung pada kondisi sekolah.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                89
Bila di suatu sekolah guru IPA terdiri atas guru fisika, kimia, biologi,
          maka     dalam     penyusunan        silabus,   perencanaan   pembelajaran,
          penggunaan media, dan strategi mengajar sebaiknya dibuat bersama
          hingga penyusunan alat penilaiannya. Namun dalam pembelajarannya
          dapat dilakukan oleh guru tunggal. Bila di sekolah, seorang guru
          mengajar semua mata pelajaran IPA, dan mengalami kesulitan untuk
          memadukan kompetensi dasar, indikator, dan materi, maka sangat
          dianjurkan agar guru tersebut bekerja sama dalam kelompok MGMP
          agar    dapat    terjadi   diskusi    tentang   perencanaan   strategi   dan
          pelaksanaan KBM. Indikator yang sudah dipadukan tidak perlu
          diajarkan       dua kali karena tujuan pembelajaran terpadu adalah
          efisiensi dan efektivitas dalam pembelajaran.
                 Dalam pelaksanaannya di lapangan, pembelajaran IPA Terpadu
          terbentur pada masalah-masalah berikut ini.
          1. Jadwal pelajaran yang sudah diatur sedemikian rupa dan tak dapat
              diubah begitu saja.
          2. Masalah guru mata pelajaran IPA yang terpisah.
          3. Program semester yang telah memuat urutan materi yang akan
              diajarkan.
          4. Penguasaan bahan ajar.
          5. Keterpaduan kompetensi yang terjadi lintas kelas.
          Dalam mengajarkan bahan ajar dilakukan oleh guru mata pelajaran
          yang dominan. Misalnya bahan ajar tersebut dominan biologi maka
          yang mengajar sebaiknya guru biologi, atau bersama-sama. Oleh
          karena itu, pembelajaran IPA           terpadu dapat diajarkan oleh guru
          tunggal atau tim pengajar tergantung pada kesepakatan dan waktu.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                        90
Dalam bab sebelumnya telah diuraikan, bahwa yang terpenting adalah
          kerja sama antarguru IPA yang ada di suatu sekolah dalam membuat
          perencanaan       pembelajaran,        mulai     dari   silabus,      desain
          pembelajaran/rencana pelaksanaan pembelajaran hingga kesepakatan
          dalam bentuk penilaian. Bila hal ini dapat dilaksanakan, maka
          pembelajaran terpadu dapat meningkatkan kerja sama antarguru IPA,
          baik yang ada di sekolah maupun dalam lingkup MGMP. Kerja sama
          ini meliputi saling mempelajari materi dari mata pelajaran yang lain.
          Selain    meningkatkan     kerja     sama,   pembelajaran   terpadu     juga
          meningkatkan keharusan bagi guru untuk memperluas wawasan
          pengetahuannya.      Pembelajaran terpadu oleh guru tunggal dapat
          memperkecil masalah pelaksanaannya yang menyangkut jadwal
          pelajaran. Secara teknis, pengaturannya dapat dilakukan sejak awal
          semester atau awal tahun pelajaran. Hal yang perlu dihindarkan
          adalah pembahasan materi yang tidak seimbang karena wawasan
          pengetahuan tentang materi pelajaran yang lain kurang memadai. Hal
          utama yang harus dilakukan guru adalah memahami model
          pembelajaran terpadu secara konseptual maupun praktikal.
       b. Peserta didik
          Bagi peserta didik, pembelajaran terpadu dapat mempertajam
          kemampuan analitis terhadap konsep-konsep yang dipadukan,
          karena dapat mengembangkan kemampuan asosiasi konsep dan
          aplikasi konsep. Pembelajaran terpadu perlu dilakukan dengan
          variasi     metode      yang       tidak       membosankan.        Aktivitas
          pembelajaran harus lebih banyak berpusat pada peserta didik
          agar dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       91
c. Bahan Ajar
          Bahan ajar yang digunakan tidak hanya buku mata pelajaran
          saja, tetapi dapat dari berbagai mata pelajaran yang direkatkan oleh
          tema. Peserta didik dapat juga mencari berbagai sumber belajar
          lainnya. Bahkan bila memungkinkan mereka dapat menggunakan
          teknologi informasi yang ada. Aktivitas peserta didik dalam
          penugasan dapat menjadi nilai tambah yang menguntungkan.
          Dalam pembelajaran terpadu, suatu bahan ajar dapat dibahas dari
          berberapa mata pelajaran sehingga wawasan peserta didik diharapkan
          akan lebih terbuka. Di samping itu karena konsep-konsep itu
          dipadukan dalam suatu pembelajaran, maka akan mengurangi
          kebosanan peserta didik terhadap pengulangan bahan ajar pada
          berbagai mata pelajaran.
       d. Sarana dan Prasarana
          Dalam pembelajaran terpadu diperlukan berbagai alat dan media
          pembelajaran. Karena digunakan untuk pembelajaran konsep yang
          direkatkan oleh tema, maka penggunaan sarana pembelajaran dapat
          lebih efisien jika dibandingkan dengan pemisahan mata pelajaran.
          Memang tidak semua konsep dapat dipadukan. Konsep-konsep yang
          dipilih untuk direkat oleh tema dapat menghemat waktu dan ruang.
          Berikut contoh Pemetaan Kompetensi Dasar untuk menjadi Tema
          dalam pembelajaran IPA Terpadu.
       e. Kekuatan dan Kelemahan Pembelajaran Terpadu
          Walaupun standar kompetensi dan kompetensi dasar IPA
          dikembangkan        dalam      submata   pelajaran,   pada   tingkat
          pelaksanaan guru memiliki keleluasaan dalam membelajarkan
          peserta didiknya untuk mencapai kompetensi tersebut. Salah


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 92
satu contoh yang akan dikembangkan dalam model ini adalah
           guru    dapat     mengidentifikasi     standar     kompetensi       dan
           kompetensi dasar yang dekat dan relevan untuk dikemas dalam
           satu tema dan disajikan dalam kegiatan pembelajaran yang
           terpadu. Yang perlu dicatat ialah pemaduan kegiatan dalam
           bentuk tema sebaiknya dilakukan pada jenjang kelas yang sama
           dan masih dalam lingkup IPA .
       Kekuatan/manfaat yang dapat dipetik melalui pelaksanaan pembelajaran
       terpadu antara laian sebagai berikut.

       •   Dengan menggabungkan berbagai mata pelajaran akan terjadi
           penghematan waktu, karena ketiga disiplin ilmu (Fisika, Kimia, dan
           Biologi) dapat dibelajarkan sekaligus. Tumpang tindih materi juga
           dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
       •   Peserta didik dapat melihat hubungan yang bermakna antarkonsep
           Fisika, Kimia, dan Biologi.
       •   Meningkatkan taraf kecakapan berpikir peserta didik, karena peserta
           didik dihadapkan pada gagasan atau pemikiran yang lebih luas dan
           lebih dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran.

       •   Pembelajaran terpadu menyajikan penerapan/aplikasi tentang dunia
           nyata   yang    dialami    dalam    kehidupan    sehari-hari,   sehingga
           memudahkan pemahaman konsep dan kepemilikan kompetensi IPA.
       •   Motivasi belajar peserta didik dapat diperbaiki dan ditingkatkan.
       •   Pembelajaran terpadu membantu menciptakan struktur kognitif yang
           dapat menjembatani antara pengetahuan awal peserta didik dengan
           pengalaman belajar yang terkait, sehingga pemahaman menjadi lebih




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    93
terorganisasi dan mendalam, sehingga memudahkan memahami
            hubungan materi IPA dari satu konteks ke konteks lainnya.

       •    Akan terjadi peningkatan kerja sama       antarguru submata pelajaran
            terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik,
            peserta didik/guru dengan narasumber; sehingga belajar lebih
            menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang
            lebih bermakna.
       Di    samping    kekuatan/manfaat       yang   dikemukakan     itu,   model
       pembelajaran IPA Terpadu juga memiliki kelemahan. Perlu disadari,
       bahwa sebenarnya       tidak ada model pembelajaran yang cocok untuk
       semua konsep, oleh karena itu model pembelajaran harus disesuaikan
       dengan konsep yang akan diajarkan. Begitu pula dengan pembelajaran
       terpadu dalam IPA memiliki beberapa kelemahan, akan tetapi kelemahan
       tersebut sebagai tantangan untuk terus berupaya diatasi oleh pihak-pihak
       yang terlibat di sekolah. Beberapa kelemahan yang perlu diatasi
       diuraikan sebagai berikut ini.
       a. Aspek Guru: Guru harus berwawasan luas,             memiliki kreativitas
            tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang
            tinggi, dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara
            akademik, guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu
            pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan
            banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus
            pada mata pelajaran tertentu saja. Tanpa kondisi ini, maka
            pembelajaran terpadu dalam IPA akan sulit terwujud.
       b. Aspek peserta didik: Pembelajaran terpadu menuntut kemampuan
            belajar peserta didik yang relatif “baik”, baik dalam kemampuan
            akademik maupun kreativitasnya. Hal ini terjadi karena model



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    94
pembelajaran terpadu menekankan pada kemampuan analitik
           (mengurai),     kemampuan           asosiatif     (menghubung-hubungkan),
           kemampuan eksploratif dan elaboratif (menemukan dan menggali).
           Bila kondisi ini tidak dimiliki, maka penerapan model pembelajaran
           terpadu ini sangat sulit dilaksanakan.
       c. Aspek sarana dan sumber pembelajaran: Pembelajaran terpadu
           memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak
           dan bervariasi, mungkin juga fasilitas internet. Semua ini akan
           menunjang,      memperkaya,         dan     mempermudah        pengembangan
           wawasan.      Bila   sarana   ini    tidak      dipenuhi,    maka   penerapan
           pembelajaran terpadu juga akan terhambat.
       d. Aspek kurikulum: Kurikulum harus luwes, berorientasi pada
           pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada
           pencapaian     target   penyampaian          materi).   Guru    perlu    diberi
           kewenangan dalam mengembangkan materi, metode, penilaian
           keberhasilan pembelajaran peserta didik.
       e. Aspek penilaian: Pembelajaran terpadu membutuhkan cara penilaian
           yang menyeluruh (komprehensif), yaitu menetapkan keberhasilan
           belajar peserta didik dari beberapa mata pelajaran terkait yang
           dipadukan.     Dalam     kaitan      ini,    guru   selain    dituntut   untuk
           menyediakan teknik dan prosedur pelaksanaan penilaian dan
           pengukuran yang komprehensif, juga dituntut untuk berkoordinasi
           dengan guru lain, bila materi pelajaran berasal dari guru yang
           berbeda.
       f. Suasana pembelajaran: Pembelajaran terpadu berkecenderungan
           mengutamakan salah satu mata pelajaran dan ‘tenggelam’nya mata
           pelajaran lain. Dengan kata lain, pada saat mengajarkan sebuah



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                           95
TEMA,       maka     guru       berkecenderungan     menekankan         atau
            mengutamakan        substansi     gabungan    tersebut    sesuai     dengan
            pemahaman, selera, dan latar belakang pendidikan guru itu sendiri.


         Sekalipun pembelajaran terpadu mengandung beberapa kelemahan
         selain   keunggulannya,      sebagai    sebuah    bentuk     inovasi    dalam
         implementasi    Standar    Kompetensi     dan    Kompetensi     Dasar      perlu
         dikembangkan lebih lanjut. Untuk mengurangi kelemahan-kelemahan di
         atas, perlu dibahas bersama antara guru mata pelajaran terkait dengan
         sikap terbuka. Kesemuanya ini ditujukan untuk meningkatkan efektivitas
         dan efisiensi dalam pembelajaran IPA.


E. PEMBELAJARAN IPS TERPADU

    1.       PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
         Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang
         ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik,
         hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar
         realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan
         interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi,
         sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi
         sosial itu merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang diturunkan
         dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial: sosiologi, sejarah,
         geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial.


         Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang
         memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                          96
kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan
       sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari
       berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang
       berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur sosial, aktivitas-
       aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual,
       teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu
       politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu tentang kebijakan
       pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan.
       Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku
       seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol
       sosial. Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu
       sosial dan studi-studi sosial.


            Gambar 1: Keterpaduan Cabang Ilmu Pengetahuan Sosial


    Sejarah
                                                                Ilmu Politik


   Geografi
                                                                 Ekonomi
                                       Ilmu
                                    Pengetahuan
                                       Sosial                    Psikologi
   Sosiologi
                                                                  Sosial


                                                                  Filsafat
 Antropologi


    2. KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN IPS
       Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Ilmu-Ilmu Sosial di tingkat
       Sekolah Menengah Pertama (SMP), meliputi bahan kajian: sosiologi,



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   97
sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, psikologi sosial.
       Bahan kajian itu menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
       Mata pelajaran IPS bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar
       peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap
       mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan
       terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang
       menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa kehidupan masyarakat
       (Nursid Sumaatmaja, 1980;20)


       Dalam implementasinya, perlu dilakukan berbagai studi yang mengarah
       pada peningkatan efisiensi dan efektivitas layanan dan pengembangan
       sebagai konsekuensi dari suatu inovasi pendidikan. Salah satu bentuk
       efisiensi dan efektivitas implementasi kurikulum, perlu dikembangkan
       berbagai model pembelajaran kurikulum.
       Karateristik mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/MTs antara
       lain sebagai berikut.
       •   Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur
           geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan,
           sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan dan agama
           (Numan Soemantri, 2001).
       •   Kompetensi Dasar IPS berasal dari struktur keilmuan geografi,
           sejarah, ekonomi, hukum dan politik, sosiologi, yang dikemas
           sedemikian rupa sehingga menjadi pokok bahasan atau topik (tema)
           tertentu.
       •   Kompetensi Dasar IPS juga menyangkut berbagai masalah sosial yang
           dirumuskan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     98
•   Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dapat menyangkut
             peristiwa dan perubahan kehidupan masyarakat dengan prinsip
             sebab akibat, kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan,
             struktur, proses dan masalah sosial serta upaya-upaya perjuangan
             hidup agar survive seperti pemenuhan kebutuhan, kekuasaan,
             keadilan dan jaminan keamanan (Daldjoeni, 1981).

         •   Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS menggunakan
             tiga dimensi dalam mengkaji dan memahami fenomena sosial
             serta kehidupan manusia secara keseluruhan. Ketiga dimensi
             tersebut terlihat pada tabel berikut.


                       Dimensi IPS Dalam Kehidupan Manusia

  Dimensi dalam
                           Ruang                 Waktu                Nilai/Norma
kehidupan manusia
Area dan substansi     Alam sebagai       Alam dan               Kaidah atau aturan yang
pembelajaran           tempat dan         kehidupan yang         menjadi perekat dan
                       penyedia           selalu berproses,      penjamin keharmonisan
                       potensi sumber     masa lalu, saat ini,   kehidupan manusia dan
                       daya               dan yang akan          alam
                                          datang
Contoh Kompetensi      Adaptasi spasial   Berpikir               Konsisten dengan
Dasar yang             dan eksploratif    kronologis,            aturan yang disepakati
dikembangkan                              prospektif,            dan kaidah alamiah
                                          antisipatif            masing-masing disiplin
                                                                 ilmu
Alternatif penyajian   Geografi           Sejarah                Ekonomi,
dalam mata                                                       Sosiologi/Antropologi
pelajaran

         Sumber: Sardiman, 2004


    3.       TUJUAN PEMBELAJARAN IPS



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                         99
Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan
         potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di
         masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala
         ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang
         terjadi   sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang
         menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-
         program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari
         rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin,
         1998).
         •   Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau
             lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan
             kebudayaan masyarakat.
         •   Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan
             metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat
             digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
         •   Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta
             membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang
             berkembang di masyarakat.
         •   Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial,
             serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu
             mengambil tindakan yang tepat.

         •   Mampu     mengembangkan       berbagai   potensi   sehingga   mampu
             membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung
             jawab membangun masyarakat.


    4.       KONSEP PEMBELAJARAN TERPADU DALAM IPS




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 100
Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering disebut dengan
       pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya
       merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik
       secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan
       menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik
       (Depdikbud, 1996:3). Salah satu di antaranya adalah memadukan
       Kompetensi     Dasar    melalui    pembelajaran   terpadu   siswa   dapat
       memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan
       untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang
       hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, siswa terlatih untuk dapat
       menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.


       Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun
       dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan
       pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari
       suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan
       diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat
       dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang.
       Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari
       berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman
       kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi
       yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial.


       a. Model Integrasi Berdasarkan Topik
          Dalam pembelajaran IPS keterpaduan dapat dilakukan berdasarkan
          topik yang terkait, misalnya ‘pariwisata’. Pariwisata dalam contoh
          yang dikembangkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                101
dalam Ilmu Pengetahuan Sosial. Pengembangan pariwisata dalam hal
           ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisis-geografis yang tercakup
           dalam disiplin Geografi.


           Secara sosiologis, pariwisata itu juga dapat ditinjau dari partisipasi
           masyarakat, pengaruhnya terhadap kondisi sosial budaya setempat,
           dan interaksi antara wisatawan dengan masyarakat lokal. Secara
           historis dapat dikembangkan melalui sejarah daerah pariwisata
           tersebut. Keadaan politik juga dapat dikaji pula pada topik
           pengembangan pariwisata berkaitan dengan pengaruhnya terhadap
           perkembangan pariwisata. Selanjutnya, dampak pariwisata terhadap
           perkembangan ekonomi lokal maupun nasional dapat dikembangkan
           melalui kompetensi yang berkaitan dengan ekonomi. Skema berikut
           memberikan gambaran keterkaitan suatu topik/tema dengan berbagai
           disiplin ilmu.

                                                                 Persebaran,
   Sejarah                                                       kondisi fisik
   perkembangan                    Sejarah           Geografi    daerah objek
   daerah wisata                                                 wisata

                                      PENGEMBANGAN
                                        PARIWISATA
  Partisipasi                                                    Dampak
  masyarakat                   Sosiologi              Ekonomi    terhadap
                                                                 kesejahteraan
   Pengaruh terhadap
                                           Politik               masyarakat
   perkembangan
   masyarakat di sekitar
   objek wisata



            Gambar 2: Model Integrasi IPS Berdasarkan Topik/Tema


       b. Model Integrasi Berdasarkan Potensi Utama


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     102
Keterpaduan IPS dapat dikembangkan melalui topik yang didasarkan
            pada potensi utama yang ada di wilayah setempat; sebagai contoh,
            “Potensi Bali Sebagai Daerah Tujuan Wisata”. Dalam pembelajaran
            yang dikembangkan dalam Kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari
            faktor alam, sosial/antropologis, historis kronologis dan kausalitas,
            serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian potensi
            utama yang terdapat di daerahnya, maka siswa selain dapat
            memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami Kompetensi
            Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam
            Ilmu Pengetahuan Sosial.




        Keadaan Alam                                              Sosiologis/
                                                                 antropologis
   1.   Potensi objek wisata
                                  BALI SEBAGAI
                                                           2.   Memupuk aspirasi terhadap
                                    DAERAH
                                    TUJUAN                      kesenian
                                    WISATA



         Keadaan Politik
                                                                 Ekonomi
   3.   Keamanan dan stabilitas daerah

                                                           4. Azas manfaat terhadap
                                                                kesejahteraan penduduk

             Gambar 3: Model Integrasi IPS Berdasarkan Potensi Utama

         c. Model Integrasi Berdasarkan Permasalahan
            Model     pembelajaran       terpadu   pada   IPS   yang lainnya       adalah
            berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya adalah “Pemukiman
            Kumuh”. Pada pembelajaran terpadu, Pemukiman Kumuh ditinjau




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                             103
dari beberapa faktor sosial yang mempengaruhinya. Di antaranya
          adalah faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Juga dapat dari faktor
          historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap
          aturan/norma.

    Faktor sosial,                                         Faktor Ekonomi
     dan budaya

                               PEMUKIMAN
                                 KUMUH
        Perilaku
                                                            Faktor historis
    terhadap aturan


            Gambar 4. Model Integrasi IPS Berdasarkan Permasalahan

    5. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TERPADU
       a. Perencanaan
          Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran terpadu bergantung pada
          kesesuaian rencana yang dibuat dengan kondisi dan potensi siswa
          (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Untuk menyusun
          perencanaan pembelajaran terpadu perlu dilakukan langkah-langkah
          berikut ini.
          1. Pemetaan Kompetensi Dasar
          2. Penentuan Topik/tema
          3. Penjabaran (perumusan) Kompetensi Dasar ke dalam indikator
              sesuai topik/tema
          4. Pengembangan Silabus
          5. Penyusunan Desain/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
          Langkah-langkah tersebut secara rinci dijelaslan sebagai berikut ini.
          1) Pemetaan Kompetensi Dasar




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  104
Langkah pertama dalam pengembangan model pembelajaran
             terpadu adalah melakukan pemetaan pada semua Standar
             Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran IPS per kelas
             yang dapat dipadukan. Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk
             memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh.
             Kegiatan yang dapat dilakukan pada pemetaan ini antara lain
             dengan:
             •     mengidentifikasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
                   pada mata pelajaran IPS yang dapat dipadukan dalam satu
                   tingkat kelas yang sama; dan
             •     menentukan tema/topik pengikat antar-Standar Kompetensi
                   dan Kompetensi Dasar.
       Beberapa      ketentuan   dalam   pemetaan   Kompetensi     Dasar   dalam
       pengembangan model pembelajaran terpadu Ilmu Pengetahuan Sosial
       adalah sebagai berikut.
       •   Mengidentifikasikan beberapa Kompetensi Dasar dalam berbagai
           Standar Kompetensi yang memiliki potensi untuk dipadukan.
       •   Beberapa Kompetensi Dasar yang tidak berpotensi dipadukan, jangan
           dipaksakan untuk dipadukan dalam pembelajaran. Kompetensi Dasar
           yang tidak diintegrasikan dibelajarkan/disajikan secara tersendiri.
       •   Kompetensi Dasar dipetakan tidak harus berasal dari semua Standar
           Kompetensi yang ada pada mata pelajaran IPS pada kelas yang sama,
           melainkan memungkinkan hanya dua atau tiga Kompetensi Dasar
           saja.
       •   Kompetensi Dasar yang sudah dipetakan dalam satu topik/tema
           masih bisa dipetakan dengan topik/tema lainnya.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     105
Berikut ini contoh pemetaan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran IPS
       yang dapat diintegrasikan/dipadukan.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                           106
Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu
                                       Kelas VII

No.          Geografi                Sosiologi               Ekonomi                  Sejarah            Tema

1.     Semester 2              Semester 1              Semester 2               Semester 2            Kegiatan
       6.1 Mendeskripsikan     2.1 Mendeskripsikan     6.2 Mendeskripsikan      5.1 Mendeskripsikan   Ekonomi
           pola kegiatan           interaksi sebagai       kegiatan pokok           perkembangan      Penduduk
           ekonomi                 proses sosial.          ekonomi yang             masyarakat,
           penduduk,                                       meliputi kegiatan        kebudayaan, dan
           penggunaan                                      konsumsi,                pemerintahan
           lahan, dan pola                                 produksi, dan            pada masa Islam
           pemukiman                                       distribusi barang/       di Indonesia,
           berdasarkan                                     jasa.                    serta
           kondisi fisik                                                            peninggalan-
           permukaan bumi.                                                          peninggalannya

2      Semester 2              Semester 2              Semester 1               Semester 2            Kelangkaan
       4.3 Mendeskripsikan     2.1 Mendeskripsikan     3.1 Mendeskripsikan      5.3 Mendeskripsikan   Sumber
           kondisi geografis       interkasi sebagai       manusia sebagai          perkembangan      Daya
           dan penduduk            proses sosial.          makhluk sosial           masyarakat,
                                                           dan ekonomi yang         kebudayaan, dan
       6.1 Mendeskripsikan     2.3 Mengidentifikasi        bermoral dalam           pemerintahan
           pola kegiatan           bentuk-bentuk           kaitannya dengan         pada masa
           ekonomi                 interaksi sosial        usaha memenuhi           Kolonial Eropa
           penduduk,                                       kebutuhan dan
           penggunaan lahan    2.4 Menguraikan             pemanfaatan
           dan pola                proses interaksi        sumber daya yang
           pemukiman               sosial                  tersedia.
           berdasarkan
           kondisi fisik
           permukaan bumi.
3.     Semester 2                                      Semester 2               Semester 1            Pemanfaatan
       4.1 Menggunakan                                 6.2 Mendeskripsikan      5.1 Mendeskripsikan   Peta
           peta, atlas dan                                 kegiatan pokok           perkembangan
           globe untuk                                     ekonomi yang             masyarakat,
           mendapatkan                                     meliputi kegiatan        kebudayaan, dan
           informasi                                       konsumsi,                pemerintahan
           keruangan.                                      produksi dan             pada masa
                                                           distribusi barang/       Hindu-Buddha,
                                                           jasa.                    serta
                                                                                    peninggalan-
                                                                                    peningalannya

                                                                                5.2 Mendeskripsikan
                                                                                    perkembangan
                                                                                    masyarakat,
                                                                                    kebudayaan, dan
                                                                                    pemerintahan
                                                                                    pada masa Islam
                                                                                    di Indonesia,
                                                                                    serta
                                                                                    peninggalan-
                                                                                    peningalannya




      Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                     107
No.          Geografi              Sosiologi             Ekonomi                  Sejarah               Tema


                                                                            5.3 Mendeskripsikan
                                                                                perkembangan
                                                                                masyarakat,
                                                                                kebudayaan, dan
                                                                                pemerintahan
                                                                                pada masa
                                                                                Kolonial Eropa




                    Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu
                                       Kelas VIII

No.           Geografi              Sosiologi             Ekonomi                  Sejarah               Tema

1.      Semester 1            Semester 2            Semester 1              Semester 1                Globalisasi
        1.1 Mendeskripsikan   6.1 Mendeskripsikan   4.3 Mengidentifikasi    2.1 Menjelaskan
            kondisi fisik         bentuk-bentuk         bentuk pasar            proses
            wilayah dan           hubungan sosial       dalam kegiatan          perkembangan
            penduduk.                                   ekonomi                 kolonialisme dan
                              6.2 Mendeskripsikan       masyarakat.             imperialisme
                                  pranata sosial                                Barat, serta
                                  dalam kehidupan                               pengaruh yang
                                  masyarakat                                    ditimbulkannya di
                                                                                berbagai daerah di
                              6.3 Mendeskripsikan                               Indonesia.
                                  upaya
                                  pengendalian
                                  penyimpangan
                                  sosial
2.      Semester 1            Semester 1            Semester 2                                        Peran
        1.1 Mendeskripsikan   6.2 Mendeskripsikan   7.2 Mendeskripsikan                               Indonesia
            kondisi fisik         pranata sosial        pelaku-pelaku                                 dalam
            wilayah dan           dalam kehidupan       ekonomi dalam                                 Pergaulan
            penduduk.             masyarakat            sistem                                        Antarbangsa
                                                        perekonomian
                                                        Indonesia.
3.      Semester 1            Semester 2            Semester 2              Semester 1                Otonomi
        1.1 Mendeskripsikan   6.2 Mendeskripsikan   7.1 Mendeskripsikan     2.2 Menguraikan           Daerah
            kondisi fisik         pranata sosial        permasalahan            proses
            wilayah dan           dalam kehidupan       angkatan kerja          terbentuknya
            penduduk.             masyarakat            dan tenaga kerja        kesadaran
                                                        sebagai sumber          nasional, identitas
                                                        daya dalam              Indonesia, dan
                                                        kegiatan ekonomi,       perkembangan
                                                        serta peran             pergerakan
                                                        pemerintah dalam        kebangsaan
                                                        upaya                   Indonesia.
                                                        penanggulangan-
                                                        nya.



       Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                    108
No.          Geografi                Sosiologi             Ekonomi                Sejarah              Tema


                                                     7.2 Mendeskripsikan
                                                         palaku-pelaku
                                                         ekonomi dalam
                                                         sistem
                                                         perekonomian
                                                         Indonesia.

4.     Semester 2              Semester 2            Semester 2            2.1 Menjelaskan          Pelestarian
       1.3 Mendeskripsikan     6.1 Mendeskripsikan   4.1 Mendeskripsikan       proses               Lingkungan
           permasalahan            bentuk-bentuk         hubungan antara       perkembangan
           lingkungan hidup        hubungan sosial       kelangkaan            kolonialisme dan
           dan upaya                                     sumber daya           imperialisme
           penang-             6.2 Mendeskripsikan       dengan                Barat, serta
           gulangannya             pranata sosial        kebutuhan             pengaruh yang
           dalam                   dalam kehidupan       manusia yang          ditimbulkannya di
           pembangunan             masyarakat            tidak terbatas        berbagai daerah di
           berkelanjutan.                                                      Indonesia.
                               6.3 Mendeskripsikan
                                   upaya
                                   pengendalian
                                   penyimpangan
                                   sosial




                   Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu
                                       Kelas IX

No.          Geografi               Sosiologi             Ekonomi                Sejarah              Tema
1.     Semester 2              Semester 1            Semester 1            Semester 2               Pengemba-
       5.1 Menginterpretasi-   3.1Mendeskripsi-      7.1Mendeskripsikan    7.2 Menguraikan          ngan
           kan peta tentang       kan perubahan         uang dan               perkembangan         Pariwisata
           bentuk dan pola
                                  sosial-budaya         lembaga                lembaga-
           muka bumi.
                                  pada                  keuangan.              lembaga
                                  masyarakat                                   internasional
                                                                               dan peran
                               3.2 Menguraikan                                 Indonesia dalam
                                   tipe-tipe                                   kerjasama
                                   perilaku                                    internasional
                                   masyarakat
                                   dalam
                                   menyikapi
                                   perubahan




      Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                   109
No.          Geografi                 Sosiologi              Ekonomi                Sejarah            Tema
2      Semester 2                Semester 2             Semester 2             Semester 2            Modernisasi
       5.2 Mendeskripsikan       7.3 Menguraikan        7.4 Mendeskripsikan    7.2Menguraikan
           keterkaitan unsur-        perilaku              kerjasama antar        perkembangan
           unsur geografis                                 negara di bidang
                                     masyarakat                                   lembaga-
           dan penduduk di                                 ekonomi
           kawasan Asia              dalam                                        lembaga
           Tenggara                  perubahan                                    internasional
                                     sosial-budaya di                             dan peran
                                     era global                                   Indonesia dalam
                                                                                  kerjasama
                                                                                  internasional

3.     Semester 2                Semester 2             Semester 2             Semester 2            Kerjasama
       5.2 Mendeskripsikan       7.3 Menguraikan        7.4 Mendeskripsikan    7.2 Menguraikan       Inter-
           keterkaitan unsur-        perilaku              kerjasama antar         perkembangan      nasional
           unsur geografis                                 negara di bidang
                                     masyarakat                                    lembaga-
           dan penduduk di                                 ekonomi
           kawasan Asia              dalam                                         lembaga
           Tenggara                  perubahan                                     internasional
                                     sosial-budaya di   7.5 Mengidentifikasi       dan peran
       Semester 1                    era global             dampak                 Indonesia dalam
       1.1 Mengidentifikasi                                 kerjasama antar        kerjasama
           ciri-ciri negara                                 negara terhadap        internasional
           berkembang dan                                   perekonomian
           negara maju.                                     Indonesia




                   2) Penentuan Topik/Tema

                        Setelah pemetaan Kompetensi Dasar selesai, langkah selanjutnya
                        dilakukan penentuan topik/tema. Topik/tema                    yang ditentukan
                        harus relevan dengan Kompetensi Dasar yang telah dipetakan.
                        Dengan demikian, dalam satu mata pelajaran IPS pada satu
                        tingkatan kelas terdapat beberapa topik yang akan dibahas.
                        Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan topik/tema
                        pada pembelajaran IPS Terpadu antara lain meliputi hal-hal berikut.
                        •     Topik, dalam pembelajaran IPS Terpadu, merupakan perekat
                              antar-Kompetensi Dasar yang terdapat dalam satu rumpun
                              mata pelajaran IPS.




      Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                    110
•    Topik yang ditentukan selain relevan dengan Kompetensi-
                          kompetensi Dasar yang terdapat dalam satu tingkatan kelas,
                          juga sebaiknya relevan dengan pengalaman pribadi siswa,
                          dalam arti sesuai dengan keadaan lingkungan setempat. Hal ini
                          agar pembelajaran yang dilakukan dapat lebih bermakna bagi
                          siswa; contohnya, untuk kelas VII ada 3 (tiga) topik/tema yaitu:
                          aktivitas ekonomi penduduk, kelangkaan sumber daya alam,
                          dan pemanfaatan peta.
                     •    Dalam menentukan topik, isu sentral yang sedang berkembang
                          saat ini, dapat menjadi prioritas yang dipilih dengan tidak
                          mengabaikan keterkaitan antar-Kompetensi Dasar pada satu
                          rumpun yang telah dipetakan. Contohnya, Pemberlakuan
                          Otonomi Daerah, Pertumbuhan Industri, Pemilihan Kepala
                          Daerah Secara Langsung, Pasca Gempa Bumi dan Tsunami,
                          Penyakit Folio, Penyakit Busung Lapar.
                     Berikut ini beberapa contoh Topik yang relatif relevan dengan
                     pemetaan Kompetensi Dasar.


                     Kelas VII SMP
                     i) Topik: Kegiatan Ekonomi Penduduk
No           Geografi                    Sosiologi              Ekonomi                    Sejarah
1.    Semester 2                  Semester 1              Semester 2                Semester 2
      6.1 Mendeskripsikan pola    2.1 Mendeskripsikan     6.2 Mendeskripsikan       5.2 Mendeskripsikan
          kegiatan ekonomi            interaksi sebagai       kegiatan pokok            perkembangan
          penduduk,                   proses sosial.          ekonomi yang              masyarakat,
          penggunaan lahan,                                   meliputi kegiatan         kebudayaan, dan
          dan pola pemukiman                                  konsumsi, produksi,       pemerintahan pada
          berdasarkan kondisi                                 dan distribusi            masa Islam di
          fisik permukaan bumi.                               barang/jasa.              Indonesia, serta
                                                                                        peninggalan-
                                                                                        peninggalannya




     Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                  111
Kelas VIII SMP
                     ii) Topik : Pelestarian Lingkungan
No          Geografi                    Sosiologi                  Ekonomi                     Sejarah
1.    Semester 2                 Semester 2                  Semester 2                2.1 Menjelaskan proses
      1.3 Mendeskripsikan        6.1 Mendeskripsikan         4.1 Mendeskripsikan           perkembangan
          permasalahan               bentuk-bentuk               hubungan antara           kolonialisme dan
          lingkungan hidup dan       hubungan sosial             kelangkaan sumber         imperialisme Barat,
          upaya penang-          6.2 Mendeskripsikan             daya dengan               serta pengaruh yang
          gulangannya dalam          pranata sosial dalam        kebutuhan manusia         ditimbulkannya di
          pembangunan                kehidupan                   yang tidak terbatas       berbagai daerah di
          berkelanjutan.             masyarakat                                            Indonesia.
                                 6.3 Mendeskripsikan
                                     upaya pengendalian
                                     penyimpangan sosial



                     Kelas IX SMP.
                     iii) Topik: Pengembangan Pariwisata
No           Geografi                   Sosiologi                  Ekonomi                     Sejarah
1.    Semester 2                 Semester 1                  Semester 1                Semester 2
      5.1 Menginterpretasi-kan   3.1 Mendeskripsi-kan        7.1 Mendeskripsikan       7.2 Menguraikan
          peta tentang bentuk        perubahan sosial-           uang dan lembaga          perkembangan
          dan pola muka bumi.        budaya pada                 keuangan.                 lembaga-lembaga
                                     masyarakat                                            internasional dan
                                                                                           peran Indonesia dalam
                                 3.2 Menguraikan tipe-tipe                                 kerjasama
                                     perilaku masyarakat                                   internasional
                                     dalam menyikapi
                                     perubahan



                 3) Penjabaran Kompetensi Dasar ke dalam Indikator
                     Setelah melakukan langkah Pemetaan Kompetensi Dasar dan
                     Penentuan Topik/Tema sebagai pengikat keterpaduan, maka
                     Kompetensi-kompetensi Dasar tersebut dijabarkan ke dalam
                     indikator pencapaian hasil belajar yang nantinya digunakan untuk
                     penyusunan silabus.
                     Contoh perumusan Kompetensi Dasar ke dalam berbagai indikator
                     pencapaian




     Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                      112
Kompetensi Dasar Geografi:
             Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, pengunaan
             lahan, dan pola pemukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan
             bumi.
             Perumusan indikatornya:
             •   Mengidentifikasikan mata pencaharian penduduk (pertanian,
                 nonpertanian).
             •   Mendeskripsikan bentuk penggunaan lahan di pedesaan dan
                 perkotaan.
             •   Mendiskripsikan       persebaran   permukiman    penduduk    di
                 berbagai bentang lahan dan mengungkapkan alasan penduduk
                 memilih bermukim di lokasi tersebut.
             Kompetensi Dasar Sosiologi:
             Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial.
             Perumusan indikatornya:
             •   Mengidentifikasi pola-pola keselarasan sosial dalam keluarga
                 dan masyarakat.
             •   Menentukan sikap dalam keragaman sosial untuk mewujudkan
                 keselarasan sosial.
             Kompetensi Dasar Ekonomi:
             Mendeksripsikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan
             konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa.
             Perumusan indikatornya:
             •   Menguraikan kegiatan konsumsi barang dan jasa.
             •   Menguraikan kegiatan produksi barang dan jasa.
             •   Menguraikan kegiatan distribusi barang dan jasa.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 113
Kompetensi Dasar Sejarah:
             Mendeksripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan
             pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-
             peninggalannya.
             Perumusan indikatornya:
             •   Menyusun kronologis proses masuk berkembangnya Islam di
                 Indonesia dengan menggunakan ensiklopedi dan referensi
                 relevan lainnya.
             •   Menjelaskan peranan pedagang dan ulama dalam proses awal
                 perkembangan Islam di Indonesia.
          4) Penyusunan Silabus
             Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada langkah-langkah
             sebelumnya dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan silabus
             pembelajaran terpadu. Komponen penyusunan silabus terdiri dari
             Standar    Kompetensi     IPS     (Sosiologi,   Sejarah,   Geografi,   dan
             Ekonomi), Kompetensi Dasar, Indikator, Pengalaman belajar,
             alokasi waktu, dan penilaian.


          5) Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan
             Pelaksanaan Proses Pembelajaran serta Penilaian Hasil
             Pembelajaran.

              Penyusunan RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan
             kegiatan peserta didik dalam upaya mencapai KD. Demikian pula
             untuk pelaksanaan proses pembelajaran, maupun penilaian hasil
             pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi
             siswa, menggunakan prinsi-prinsip minimal sesuai dengan standar
             isi, standar proses, standar penilaian, dan dikembangkan dengan




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                        114
prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran dan penilaian pada
             pembelajaran kontekstual (CTL).


       b. Implikasi Pembelajaran IPS Terpadu
          Implikasi pembelajaran IPS terpadu terhadap guru, peserta didik,
          bahan ajar, sarana dan prasarana dalam pelaksanaannya bergantung
          pada sekolah masing-masing sama seperti pada pembelajaran IPA
          terpadu. Diharapkan guru yang profesional sesuai dengan PP 74 dan
          minimal standar proses dapat melaksanakan pembelajaran IPS
          terpadu tanpa mengalami kendala.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 115
PEMBELAJARAN TEMATIK

A. LATAR BELAKANG
    Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga
    berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek
    perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang
    sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat
    segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami
    hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih
    bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami
    secara langsung.


    Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas I – III kelas awal)
    untuk setiap mata pelajaran masih banyak dilakukan secara terpisah. Dalam
    pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu
    hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
    berhubungan      dengan    mata    pelajaran   itu.   Sesuai   dengan   tahapan
    perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu
    keutuhan (holistic), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara
    terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir
    holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.


    Seperti pada Mata pelajaran Matematika, perlu diberikan kepada semua
    peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik
    dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif,
    serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar
    peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   116
memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu
    berubah, tidak pasti, dan kompetitif.


    Demikian pula untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan tujuan agar
    peserta didik dapat berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan
    etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, menghargai dan bangga
    menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa
    negara, memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat
    dan kreatif untuk berbagai tujuan, menggunakan bahasa Indonesia untuk
    meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan
    sosial, menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas
    wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan
    kemampuan berbahasa, menghargai dan membanggakan sastra Indonesia
    sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Demikian pula
    pada Kompetensi dasar Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika,
    Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan
    Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, serta Pendidikan Jasmani,Olahraga
    dan Kesehatan perlu dikaji


    Jika mata pelajaran- mata pelajaran tersebut dipadukan menjadi sebuah
    tema akan diperoleh suatu kemampuan berkomunikasi secara baik sebagai
    indikator dalam kemampuan peserta didik dalam berpikir logis, analitis,
    sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama, yang pada
    akhirnya pembelajaran menjadi menyenangkan.


    Permasalahan menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta
    didik kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu,



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                              117
hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk Taman
    Kanak-Kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan
    peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain
    itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara
    kelas satu dan dua sekolah dasar dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga
    menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah
    pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.


    Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi,
    standar proses yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka
    pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar yakni kelas satu, dua, dan tiga
    lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan
    pembelajaran tematik. Untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran
    tematik yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret, disiapkan model
    pelaksanaan pembelajaran tematik untuk SD/MI kelas I hingga kelas III.


B. KERANGKA BERPIKIR
    1.       Karakteristik Perkembangan anak usia kelas awal SD
         Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada
         rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek
         tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupan seseorang.
         Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu
         didorong sehingga akan berkembang secara optimal.
         Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD
         biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka
         telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah
         dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 118
sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang
         koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun
         memegang gunting. Selain itu, perkembangan sosial anak yang berada
         pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan
         keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan
         teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.


         Perkembangan emosi anak usia 6-8 tahun antara lain anak telah dapat
         mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol
         emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar
         tentang benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia
         kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan
         seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan,
         meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab
         akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.


    2.       Cara Anak Belajar
         Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri
         dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori
         perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur
         kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam
         pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam
         lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui
         proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada
         dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep
         dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika
         berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                              119
pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara
       bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan
       lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak
       sangat   dipengaruhi     oleh      aspek-aspek     dari   dalam   dirinya   dan
       lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena
       memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan
       lingkungannya.


       Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada
       rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai
       berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu
       aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur
       secara    serentak,   (2)   Mulai       berpikir    secara   operasional,   (3)
       Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan
       benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan
       aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan
       sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair,
       panjang, lebar, luas, dan berat.


       Memperhatikan         tahapan        perkembangan         berpikir    tersebut,
       kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:
       a. Konkrit
          Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang
          konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak
          atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai
          sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses
          dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       120
dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan
           yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan
           kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
         b. Integratif
           Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang
           dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-
           milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara
           berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi
           bagian.
         c. Hierarkis
           Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara
           bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih
           kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan
           mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan
           serta kedalaman materi .
    3.       Belajar dan Pembelajaran Bermakna
         Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam
         kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian.
         Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai
         suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
         Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak
         dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik.
         Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak           jika
         dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman
         bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya
         proses   belajar   terjadi   dalam    diri   individu   sesuai   dengan
         perkembangannya dan lingkungannya.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 121
Belajar bermakna (meaningfull learning)      merupakan suatu proses
       dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat
       dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil
       dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-
       aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-
       komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar
       tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi
       merupakan       kegiatan     menghubungkan     konsep-konsep     untuk
       menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari
       akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan
       demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha
       mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan
       membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut
       dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.


       Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami
       langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak
       indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan.


C. PENGERTIAN PEMBELAJARAN TEMATIK
    Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar,
    konsep belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran
    bagi anak kelas awl SD sebaiknya dilakukan dengan Pembelajaran tematik.
    Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema
    untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan
    pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                              122
gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983).
    Dengan tema diharapkan akan            memberikan banyak keuntungan, di
    antaranya:
   1. Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
   2. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai
       kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;
   3. pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
   4. kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan
       matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;
   5. Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi
       disajikan dalam konteks tema yang jelas;
   6. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi
       nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata
       pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
   7. guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan
       secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua
       atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan
       remedial, pemantapan, atau pengayaan.
    Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam
    proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat
    memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan
    sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman
    langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan
    menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori
    pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget
    yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi
    pada kebutuhan dan perkembangan anak.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               123
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar
    sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu
    mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi
    kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan
    unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif.
    Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk
    skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan
    pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah
    dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap
    perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu
    keutuhan (holistik).
    Beberapa ciri khas dari pembelajaran tematik antara lain: 1) Pengalaman dan
    kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan
    kebutuhan anak usia sekolah dasar; 2) Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam
    pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa;
    3) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga
    hasil belajar dapat bertahan lebih lama; 4) Membantu mengembangkan
    keterampilan berpikir siswa; 5) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat
    pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam
    lingkungannya; dan 6) Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti
    kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.


    Dengan pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan tema ini, akan
    diperoleh beberapa manfaat yaitu: 1) Dengan menggabungkan beberapa
    kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi
    penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               124
dihilangkan, 2) Siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna
    sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat,
    bukan tujuan akhir, 3) Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan
    mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-
    pecah. 4) Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan
    konsep akan semakin baik dan meningkat,


D. LANDASAN PEMBELAJARAN TEMATIK
    Landasan Pembelajaran tematik mencakup:
    Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh
    tiga aliran filsafat yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3)
    humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu
    ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan,
    suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa.
    Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct
    experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini,
    pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia
    mengkonstruksi      pengetahuannya         melalui   interaksi   dengan   obyek,
    fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat
    ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus
    diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan
    sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus
    menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat
    berperan dalam perkembangan pengetahuannya.                 Aliran humanisme
    melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi
    yang dimilikinya.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    125
Landasan psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan
    dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar.
    Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi
    pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan
    dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
    Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi
    pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana
    pula siswa harus mempelajarinya.


    Landasan yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai
    kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran
    tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23
    Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap
    anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka
    pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat
    dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
    Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan
    pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan
    bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).


E. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TEMATIK
    Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik
    memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
    1. Berpusat pada siswa
    2. Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini
        sesuai   dengan    pendekatan     belajar   modern   yang   lebih   banyak
        menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  126
berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan
        kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
    3. Memberikan pengalaman langsung
    4. Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada
        siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa
        dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk
        memahami hal-hal yang lebih abstrak.
    5. Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas
    6. Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi
        tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan
        tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
    7. Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran
    8. Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata
        pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, Siswa
        mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini
        diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-
        masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
    9. Bersifat fleksibel
    10. Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat
        mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran
        yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan
        keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.
    11. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
    12. Siswa   diberi   kesempatan     untuk   mengoptimalkan   potensi   yang
        dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
    13. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                127
F. RAMBU-RAMBU
    1. Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan
    2. Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester
    3. Kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan
        untuk    dipadukan.    Kompetensi       dasar      yang   tidak     diintegrasikan
        dibelajarkan secara tersendiri.
    4. Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap
        diajarkan baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri.
    5. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca,
        menulis, dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral.
    6. Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat,
        lingkungan, dan daerah setempat.


G. IMPLIKASI PEMBELAJARAN TEMATIK

    Implikasi implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar mencakup
    implikasi terhadap guru, terhadap siswa, terhadap sarana-prasarana,
    sumber belajar media, pengaturan ruangan, dan pemilihan metode
    pembelajaran.
    Implikasi bagi guru
    Pembelajaran    tematik    memerlukan       guru    yang      kreatif    baik   dalam
    menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih
    kompetensi     dari   berbagai   mata      pelajaran    dan    mengaturnya       agar
    pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh.
    Implikasi bagi siswa
    •   Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam
        pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual,
        pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal.


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                          128
•   Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi
        secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan
        penelitian sederhana, dan pemecahan masalah
    Implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media

    •   Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik
        secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan
        menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik.
        Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana
        dan prasarana belajar.
    •   Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang
        sifatnya   didisain   secara   khusus   untuk   keperluan   pelaksanaan
        pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di
        lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization).
    •   Pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media
        pembelajaran yang bervariasi sehingga akan membantu siswa dalam
        memahami konsep-konsep yang abstrak.
    •   Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat
        menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini untuk masing-masing
        mata pelajaran dan dimungkinkan pula untuk menggunakan buku
        suplemen khusus yang memuat bahan ajar yang terintegrasi
    Implikasi terhadap Pengaturan ruangan
    Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik perlu melakukan
    pengaturan ruang agar suasana belajar menyenangkan. Pengaturan ruang
    tersebut meliputi:
    •   Ruang perlu ditata disesuaikan dengan tema yang sedang dilaksanakan.
    •   Susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan
        keperluan pembelajaran yang sedang berlangsung


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               129
•   Peserta didik tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat duduk di
        tikar/karpet
    •   Kegiatan hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik di dalam
        kelas maupun di luar kelas
    •   Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta
        didik dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar
    •   Alat, sarana dan sumber           belajar hendaknya dikelola sehingga
        memudahkan peserta didik untuk menggunakan dan menyimpannya
        kembali.
    Implikasi terhadap Pemilihan metode
    Sesuai    dengan    karakteristik    pembelajaran   tematik,   maka   dalam
    pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan
    dengan menggunakan multi metode. Misalnya percobaan, bermain peran,
    tanya jawab, demonstrasi, bercakap-cakap.


H. TAHAP PERSIAPAN PELAKSANAAN

    Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik, perlu dilakukan beberapa hal
    yang meliputi tahap perencanaan yang mencakup kegiatan pemetaan
    kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan silabus
    dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran.
    1. Pemetaan Kompetensi Dasar
        Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara
        menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan
        indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang
        dipilih. Kegiatan yang dilakukan adalah:




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                130
a. Penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam
          indikator
          Melakukan kegiatan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi
          dasar dari setiap mata pelajaran ke dalam indikator. Dalam
          mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal                sebagai
          berikut:
          •     Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik
          •     Indikator   dikembangkan       sesuai   dengan   karakteristik   mata
                pelajaran

          •     Dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang terukur dan/atau
                dapat diamati.
          1) Menentukan tema
              Dalam menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni:
               Cara pertama, mempelajari standar kompetensi dan kompetensi
               dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran,
               dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.
               Cara kedua, menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat
               keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat
               bekerjasama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat
               dan kebutuhan anak.
          2) Prinsip Penentuan tema
               Dalam menetapkan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip
               yaitu:
               •   Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa:
               •   Dari yang termudah menuju yang sulit
               •   Dari yang sederhana menuju yang kompleks
               •   Dari yang konkret menuju ke yang abstrak.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      131
•   Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses
                 berpikir pada diri siswa
             •   Ruang     lingkup     tema     disesuaikan   dengan    usia    dan
                 perkembangan        siswa,    termasuk   minat,   kebutuhan,   dan
                 kemampuannya
       b. Identifikasi dan analisis Standar Kompetensi, Kompetensi dasar dan
          Indikator
          Lakukan identifikasi dan analisis untuk setiap Standar Kompetensi,
          Kompetensi Dasar dan indikator yang cocok untuk setiap tema
          sehingga semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator
          terbagi habis.
    2. Menetapkan Jaringan Tema
       Buatlah jaringan tema yaitu menghubungkan kompetensi dasar dan
       indikator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan
       terlihat kaitan antara tema, kompetensi dasar dan indikator dari setiap
       mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan
       alokasi waktu setiap tema.
    3. Penyusunan Silabus
       Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya
       dijadikan dasar dalam penyusunan silabus. Komponen silabus terdiri
       dari standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, pengalaman
       belajar, alat/sumber, dan penilaian.
    4. Penyusunan Rencana Pembelajaran
       Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru perlu menyusun
       rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran ini merupakan
       realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam
       silabus pembelajaran. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi:



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    132
1) Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan,
           kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang
           dialokasikan).
       2) Standar kompetensi
       3) Kompetensi dasar
       4) Indikator pencapaian kompetensi
       5) Tujuan pembelajaran
       6) Materi ajar beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam
           rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator.
       7) Alokasi waktu
       8) Metode       pembelajaran     dan    strategi   pembelajaran   (kegiatan
           pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan siswa dalam
           berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk
           menguasai kompetensi dasar dan indikator, kegiatan ini tertuang
           dalam kegiatan pembelajaran mulai dari pendahuluan, inti dan
           penutup).
       9) Penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrumen yang akan
           digunakan untuk menilai pencapaian belajar peserta didik serta
           tindak lanjut hasil penilaian).
       10) Sumber belajar, alat dan media yang digunakan untuk memperlancar
           pencapaian kompetensi dasar, serta sumber bahan yang digunakan
           dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan kompetensi
           dasar yang harus dikuasai.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  133
I.   TAHAP PELAKSANAAN

     1. Tahapan kegiatan
       Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari dilakukan dengan
       menggunakan         tiga       tahapan      kegiatan      yaitu      kegiatan
       pembukaan/awal/pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
       Alokasi waktu untuk setiap tahapan adalah kegiatan pembukaan kurang
       lebih satu jam pelajaran (1 x 35 menit), kegiatan inti 3 jam pelajaran (3 x 35
       menit) dan kegiatan penutup satu jam pelajaran (1 x 35 menit)
       a. Kegiatan Pendahuluan/awal/pembukaan
          Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal
          pembelajaran untuk mendorong siswa menfokuskan dirinya agar
          mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
          Sifat dari kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk pemanasan.
          Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak
          tentang tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang
          dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani, dan
          menyanyi
       b. Kegiatan Inti
          Dalam    kegiatan    inti   difokuskan   pada   kegiatan-kegiatan     yang
          bertujuan untuk pengembangan kemampuan baca, tulis dan hitung.
          Penyajian bahan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan
          berbagai strategi/metode yang bervariasi dan dapat dilakukan secara
          klasikal, kelompok kecil, ataupun perorangan.
       c. Kegiatan Penutup/Akhir dan Tindak Lanjut
          Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa
          contoh kegiatan akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah
          menyimpulkan/mengungkapkan            hasil   pembelajaran     yang   telah



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     134
dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku, pantomim,
          pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik.


    Contoh jadwal pelaksanaan pembelajaran perhari dapat dijabarkan menjadi:

    Contoh 1:

              Kegiatan                             Jenis kegiatan
         Kegiatan                 Anak berkumpul bernyanyi sambil            menari
         pembukaan                mengikluti irama musik

         Kegiatan inti            • Kegiatan untuk pengembangan membaca
                                  • Kegiatan untuk pengembangan menulis
                                  • Kegitan untuk pengembangan berhitung
                                  •
         Kegiatan penutup         Mendongeng atau membaca cerita dari buku cerita


    Contoh 2:

         Kegiatan                  Jenis kegiatan
         Kegiatan                  Waktu       berkumpul   (anak   m,enceritakan
         pembukaan                 pengalkaman, menyanyi, melakukan kegiatan fisik
                                   sesuai dengan tema)

         Kegiatan inti             •   Pengembnagan kemmapuan menulis (kegiatan
                                       kelompok besar)
                                   •   Pengembnagan      kemampuan         berhitung
                                       kegiatan kelompok kecil atau berpasangan)
                                   •   Melakukan pengamatan sesuai dengan tema,
                                       misalnya mengamati jenis kendaraan yang
                                       lewat pada tema transporasi, menggambar
                                       hewan hasil pengamatan

    Kegiatan penutup              •    Mendongeng
                                  •    Pesan-pesan moral
                                  •    Musik/menyanyi




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     135
2. Pengaturan Jadwal pelajaran
          Untuk memudahkan administrasi sekolah terutama dalam penjadwalan.
          Guru bersama dengan guru mata pelajaran            pendidikan agama, guru
          pendidikan Jasmani dan guru muatan lokal perlu bersama-sama
          menyusun Jadwal pelajaran.
       Contoh jadwal yang dapat dikembangkan seperti pada tabel berikut:


                      JADWAL PELAJARAN SD KELAS I, II


Waktu      Senin      Selasa           Rabu              Kamis     Jumat       Sabtu
7.00-7.    Matematika B. Ind.          Matematika        B. Ind.   Penjaskes   IPA
35
7.35-8.    Matematika B.Ind.           Matematika        B.Ind.    Penjaskes   IPA
10
8.10-8.    Matematika B.Ind.           Matematika        KTK       P.Agama     MULOK
45
8.45-9.                                      Istirahat
00
9.00-9.    B.ind        Matematika     IPS               KTK       P.          Mulok
35                                                                 Agama
9.35-1     B.Ind        Matematika     IPS               KTK
0.10




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                         136
J. PENILAIAN PEMBELAJARAN TEMATIK

    1. Prinsip

       a. Penilaian di kelas I dan II mengikuti aturan penilaian mata-mata
           pelajaran lain di sekolah dasar. Mengingat bahwa siswa kelas I SD
           belum semuanya lancar membaca dan menulis, maka cara penilaian
           di kelas I tidak ditekankan pada penilaian secara tertulis.
       b. Kemampuan          membaca, menulis dan         berhitung      merupakan
           kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik kelas I dan II.
           Oleh karena itu, penguasaan terhadap ke tiga kemampuan tersebut
           adalah prasyarat untuk kenaikan kelas.
       c. Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator dari masing-
           masing Kompetensi Dasar dan Hasil Belajar dari mata-mata pelajaran.
       d. Penilaian dilakukan secara terus menerus dan selama proses belajar
           mengajar berlangsung, misalnya sewaktu siswa bercerita pada
           kegiatan awal, membaca pada kegiatan inti dan menyanyi pada
           kegiatan akhir.
       e. Hasil karya/kerja siswa dapat digunakan sebagai bahan masukan
           guru dalam mengambil keputusan siswa misalnya: Penggunaan tanda
           baca, ejaan kata, maupun angka.


    2. Alat Penilaian

       Alat penilaian dapat berupa Tes dan Non Tes. Tes mencakup: tertulis,
       lisan, atau perbuatan, catatan harian perkembangan siswa, dan porto
       folio. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas awal penilaian yang lebih
       banyak digunakan adalah melalui pemberian tugas dan portofolio. Guru
       menilai anak melalui pengamatan yang lalu dicatat pada sebuiah buku


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   137
bantu. Sedangkan Tes tertulis digunakan untuk menilai kemampuan
       menulis siswa, khususnya untuk mengetahui tentang penggunaan tanda
       baca, Jean, kata atau angka.
       Berikut adalah contoh penilaian yang dapat dilakukan guru:

     A. Kewarganegaraan dan                     Tes Lisan
        Pengetahuan Sosial
                                       •   Menyebutkan peristiwa/kegiatan yang
                                           dialami
                                       •   Mengemukakan peristiwa/kegiatan yang
                                           berkesan
                                       •   Mengekspresikan perasaan waktu
                                           memberi kesan.

     B. Bahasa Indonesia              : Perbuatan
                                         • Kelancaran membaca
                                         • Melafalkan kata
                                         • Melagukan/intonasi
                                         • Cara bertanya jawab
                                         Tugas
                                         • Melengkapi kalimat

     C. Ilmu Pengetahuan Alam         : Perbuatan
                                         • Mendemonstrasikan cara menggosok gigi

                                      : Lisan
                                         • Menyebutkan cara memelihara gigi
                                         • Menjelaskan manfaat menggosok gigi




    3. Aspek Penilaian
       Pada pembelajaran tematik penilaian dilakukan untuk mengkaji
       ketercapaian Kompetensi Dasar dan Indikator pada tiap-tiap mata
       pelajaran yang terdapat pada tema tersebut. Dengan demikian penilaian
       dalam hal ini tidak lagi terpadu melalui tema, melainkan sudah terpisah-




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    138
pisah sesuai dengan Kompetensi Dasar, Hasil Belajar dan Indikator mata
       pelajaran.
       Nilai akhir pada laporan (raport) dikembalikan pada kompetensi mata
       pelajaran yang terdapat pada kelas satu dan dua Sekolah Dasar, yaitu:
       Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan
       Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan
       Keterampilan, dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan kesehatan.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                             139
DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. Direktorat Pembinaan SMP. 2008. Bahan Sosialisasi KTSP.
      Jakarta.
Depdiknas. Direktorat Pembinaan SMA. 2009. Pengembangan
      Pembelajaran Yang Efektif. Bahan Bimbingan Teknis KTSP. Jakarta.
Depdiknas. Direktorat Tenaga Kependidikan. 2009. Bahan TOT untuk
      Calon Master Trainer Pengawas Sekolah. Jakarta.
Hamalik, Oemar. 1990. Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar.
     Bandung: Tarsito
Ibrahim R, Syaodih S Nana. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka
     Cipta.
Joyce Bruce. Et al. 2000. Models of Teaching. 6th Ed. Allyn & Bacon: London
Lestari, Tita. 1997. Dampak Penerapan Metode Pemecahan Masalah
     Terhadap Tingkat Kemampuan Berpikir SMA Pada Pembelajaran
     Matematika. Tesis-S-2 Program Studi Pengembangan Kurikulum.
     Pasca Sarjana IKIP Bandung.
Nasution. S. 2005. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Menga-jar.
     Jakarta: Bumi Aksara.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Media Prenada
Sudjana, Nana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Menga-jar.
     Bandung: Sinar Baru.
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar
     Baru.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                              140
Syaodih, Nana. 2004. Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. andung.
     Kesuma Karya.
Uno, B. Hamzah. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Yamin, Martinis. 2006. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta:
     Gaung Persada Press.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                            141
LAMPIRAN PETA STANDAR KOMPETENSI DAN
                                               KOMPETENSI DASAR IPA TERPADU

         A. PETA STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR YANG BERPOTENSI
                                    IPA TERPADU




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                   142
Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   143
Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   144
Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   145
Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   146
Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   147
Lampiran3: CONTOH SILABUS


                        KOMPETENSI
Mata Pelajaran                                    INDIKATOR   KEGIATAN BELAJAR   SARANA/SUMBER   PENILAIAN
                          DASAR




   Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                        148
BAHASA INDONESIA       MENDENGARKAN           •      Menirukan              •   Menirukan bunyi   Kaset dan tape   Pengamatan
                       Membedakan bunyi              bunyi/suara tertentu       suara burung
                       bahasa                        seperti: suara burung, •   Bermain peran
                                                     ombak,      kendaraan,     menjadi
                                                     dan lain-lain.             berbagai
                                                                                kendaraan
                                                                           •    Menirukan suara
                                                                                ombak




                       BERBICARA              •      Menyebutkan nama •         tanya jawab
                       Memperkenalkan diri           orangtua       dan         tentang nama
                       sendiri dengan                saudara kandung            orang tuanya
                       kalimat sederhana                                        dan saudara
                       dan bahasa yang                                          kandungnya
                       santun                                                   (berpasangan)




                                              •      Menanyakan    data •       tanya jawab
                                                     diri    dan  nama          tentang nama
                                                     orangtua     serta         orang tuanya
                                                     saudara     teman          dan saudara
                                                     sekelas                    kandungnya
                                                                                (berpasangan)
                                                                           •    melakukan


      Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      149
MATEMATIKA            Membilang banyak       •      Membilang atau       •   Membilang          •   Bola
                      benda                         menghitung secara        benda-benda di
                                                    urut                     kelas
                                                                         •   Membilang
                                                                             sambil
                                                                             Memantulkan
                                                                             bola

                                             •      Menyebutkan          •   Mengamati lalu
                                                    banyak benda             menyebutkan
                                                                             nama benda
                                                                             yang dilihatnya
                                             •      Membandingkan        •   Praktek langsung   •   Batu-batuan
                                                    dua kumpulan             mengambil dua
                                                    benda melalui            kumpulan benda
                                                    istilah lebih            lalu dihitung
                                                    banyak, lebih
                                                    sedikit, atau sama
                                                    banyak

                                             •      Menceritakan         •   Bercerita
                      Menentukan waktu              pengalamannya            tentnag
                      (pagi, siang,                 saat pagi, siang         pengalamannya
                      malam, hari dan               atau malam hari
                      jam (bulat)




     Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    150
IPS                    Menguindentifikasi       •    Menyebutkan nama     •   Menyebutkan
                       identitas                     lengkap dan nama         nama
                       diri,keluarga, dan            panggilan                lengkapnya
                       kerabat
                                                •    Menyebutkan       •      Menyebutkan
                                                     alamat     tempat        alamat
                                                     tinggal                  rumahnya
IPA                    Makhluk Hidup            •     Menyebutkan         •   Menggambarkan
                       dan Proses                     nama bagian-            tubuhnya lalu
                       kehidupannya             •    Menyebutkan          •   menyebutkan
                       Mengenal bagian-              kegunaan bagian-         nama bagian-
                       bagian tubuh dan              bagian tubuh             bagian tubuhnya
                       kegunaannya                                            dan
                                                                              kegunaannya
                       Mengindetifikasi         •    Mengelompokkan       •   Praktek            Batu, daun, biji
                       benda yang ada di             benda dengan             pengelompokkan     salak
                       lingkungan sekitar            berbagai cara yang
                       berdasarkan                   diketahui anak.
                       cirinya melalui
                                                •    Menunjukkan          •   Praktek langsung
                       pengamatannya
                                                     sebanyak-                mengamati
                                                     banyaknya benda          lingkungan dan
                                                     yang mempunyai           menyebutkan
                                                     warna, bentuk dan        sebanyak-
                                                     ciri tertentu            banyaknya
                                            •                                 benda yang
                                                                              mempunyai
                                                                              warna, bentuk
                                                                              dan ciri
                                                                              tertentu


      Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    151
PENDIDIKAN            Mempraktikkan        •        Menerapkan konsep   •   Praktek langsung
JASMANI, OLAHRAGA     gerak dasar jalan,            arah dalam
                                                                            Menerapkan
DAN KESEHATAN         lari dan loncat               berjalan, berlari
                                                                            konsep arah
                      dalam permainan               dan melompat.
                                                                            dalam berjalan,
                      sederhana, serta
                                                                            berlari dan
                      nilai sportivitas, •                                  melompat.
                      kejujuran,
                      kerjasama,           •        Berjalan dengan     •   Praktek langsung
                      toleransi dan                 berbagai pola           berjalan dengan
                      percaya diri                  langkah dan             pola
                                                    kecepatan




     Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   152
SENI BUDAYA DAN        SENI RUPA              •      Menyebutkan unsur      •   Mengamati
KETERAMPILAN           Mengidentifikasi              rupa di lingkungan         lingkungan lalu
                       unsur rupa pada               sekolah                    menyebutkan
                       benda di alam                                            benda-benda
                       sekitar                                                  yang dilihatnya

                                              •      Mengelompokkan         •   Mengamati
                                                     berbagai jenis:            lingkungan lalu
                                                     bintik gari, bidang,       mengelompokka
                                                     warna dan bentuk           n benda
                                                     pada benda dua             berdasarkan
                                                     dan tiga dimensi di        garis, bintik dsb
                                                     alam sekitar




                       SENI MUSIK              •     Bertepuk tangan        •   Bermain tepuk
                       Mengidentifikasi              dengan pola                tangan dengan
                       unsur/elemen                                             berbagai pola
                       musik dari                                               yang
                       berbagai sumber                                          dicontohkan
                       bunyi yang
                       dihasilkan tubuh
                       manusia

                       SENI TARI               •     Bergerak bebas         •   Mendengarkan
                       Mengidentifikasi              sesuai irama musik         musik dan
                       fungsi tubuh dalam                                       bergerak bebas
                       melaksanaan gerak                                        mengikuti irama
                       di tempat

      Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       153
PENDIDIKAN                                   •      Menyebutkan jenis   •   Menyebutkan
KEWARGANEGARAAN                                     kelamin anggota         jenis kelamin
                                                    keluarga.               teman
                                                                            sebangkunya
                                             •      Meyebutkan agama-   •   Menyebutkan
                                                    agama yang ada di       agama yang
                                                    Indonesia               dikenalnya




     Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   154
Lampiran 4: Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

              RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

KELAS                  : I
TEMA                   : LINGKUNGAN
MINGGU/HARI            : I/Senin
ALOKASI WAKTU          : 5 x 35 menit

INDIKATOR:
Bahasa Indonesia:
• Menanyakan data diri dan nama orangtua serta saudara teman sekelas
• Menjiplak berbagai bentuk gambar, lingkaran, dan bentuk huruf
Matematika:
• Membilang atau menghitung secara urut
• Menyebutkan banyak benda
• Menceritakan pengalamannya saat pagi, siang atau malam hari
IPA
• Menunjukkan sebanyak-banyaknya benda yang mempunyai warna,
    bentuk dan ciri tertentu
IPS
• Menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan
SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
• Bertepuk tangan dengan pola
PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN
• Menerapkan konsep arah dalam berjalan, berlari dan melompat.

SARANA DAN SUMBER BELAJAR:
• Kartu-kartu kata
• Lembar kerja (jam)
• Bola

STRATEGI KEGIATAN

A. Pembukaan (1 X 35 menit)
   • Berdoa bersama
   • Menyanyi lagu kasih ibu sambil bertepuk dengan variasi 1-2-1-2




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                          155
• Guru meminta beberapa anak untuk menyebutkan identitas dirinya
       seperti nama dan alamatnya, dan menceritakan suatu pengalaman
       yang menyenangkan dirinya
     • Guru meminta anak untuk berkeliling di kelas sambil melompat satu
       kaki dengan membilang (menghitung secara urut) lompatannya
     • Guru meminta beberapa anak mengemukakan tentang kegiatan
       yang dapat dilakukan pada waktu pagi hari, siang hari dan malam
       hari



B.       Inti (3 x 35 menit)
     •   Di kelas anak secara individual diminta untuk mengamati berbagai
         benda yang ada dalam kelasnya. memilih benda yang ada di kelas,
         menghitungnya dan menuliskan lambang bilangan dari jumlah
         benda yang dihitungnya (kegiatan ini dilakukan beberapa kali)
     •   Kegiatan berikutnya (atau bagi yang sudah menyelesaikan kegiatan
         pertama) dapat membaca kalimat sederhana dari kartu-kartu kata
         yang sudah disiapkan guru
     •   Guru meminta anak untuk melihat jam dinding dikelasnya, lalu anak
         diminta untuk menggambarkan jam didinding tersebut dilengkapi
         dengan penunjukkan jarum jam pada saat anak melihat dan
         menggambarkannya.


C.     Penutup (1 x 35 menit)
     • Guru bercerita tentang perlunya air bagi makhluk hidup, yang
       dilanjutkan dengan tanya jawab
     • Pesan-pesan moral bagi anak misalnya tentang perlunya hemat air,
       perlunya mandi/menjaga kebersihan
     • Berdoa pulang




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                          156
PEMBELAJARAN PAIKEM
PEMBELAJARAN PAIKEM

PEMBELAJARAN PAIKEM

  • 1.
    I HAN UR DA W Y T A TU NI PEMBELAJARAN BERBASIS PAIKEM (CTL, Pembelajaran Terpadu, Pembelajaran Tematik) Materi Pelatihan Penguatan Penguatan Pengawas Sekolah DIREKTORAT TENAGA KEPENDIDIKAN DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL 2010
  • 5.
    SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Di dalam pelaksanaan program penguatan kemampuan kepala sekolah dan pengawas sekolah yang merupakan agenda dari program 100 hari Mendiknas, Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK) telah menyusun materi untuk penguatan kemampuan kepala sekolah dan pengawas sekolah. Di dalam pengembangan materi tersebut telah mengacu kepada standar pengawas sekolah sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. 12 tahun 2007. Saya memberikan penghargaan yang tinggi kepada Direktorat Tenaga Kependidikan atas dihasilkannya materi penguatan kemampuan pengawas sekolah dalam rangka meningkatkan kompetensi pengawas sekolah. Materi ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi individu pengawas sekolah dan lembaga yang terkait dalam penguatan kemampuan pengawas sekolah di Propinsi dan Kab/Kota. Berbagai pihak yang ingin berkontribusi terhadap program penguatan pengawas sekolah dapat memperkaya dengan berbagai referensi dan khasanah bacaan lainnya untuk mewujudkan pengawas sekolah yang profesional dan akuntabel. Semoga semua usaha kita untuk penguatan kemampuan pengawas sekolah sesuai dengan standar pengawas sekolah sebagaimana diamanahkan dalam Permendiknas No. 12 tahun 2007 dapat diwujudkan, sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya dan menghasilkan lulusan yang cerdas, kreatif, inovatif dan berpikir kritis. Jakarta, Januari 2010 Direktur Jenderal PMPTK Prof. Dr. Baedhowi, M.Si NIP 19490828 197903 1 001 Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah i
  • 6.
    Model Pembelajaran PAIKEM– Pengawas Sekolah ii
  • 7.
    KATA PENGANTAR Pada tahun2007, Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen PMPTK bekerjasama dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah berhasil merumuskan standar pengawas sekolah/madrasah yang ditetapkan melalui Permendiknas No 12 tahun 2007. Untuk mengoperasionalkan dan mengimplementasikan Permendiknas tersebut, Direktorat Tenaga Kependidikan telah berupaya menyusun materi pelatihan sesuai dengan masing-masing komponen kompetensi pengawas sekolah yang diatur dalam Permendiknas No 12 tahun 2007. Materi yang telah disusun ini merupakan bagian dari rencana pelaksanaan program penguatan pengawas sekolah, program kedua dari delapan program 100 hari Mendiknas. Program penguatan kemampuan pengawas sekolah sangat penting mengingat peran strategis pengawas sekolah di dalam proses peningkatan mutu pendidikan. Pengawas sekolah mempunyai tugas yang sangat penting di dalam mendorong guru untuk malakukan proses pembelajaran untuk mampu menumbuhkan kemampuan kreatifitas, daya inovatif, kemampuan pemecahan masalah, berpikir kritis dan memiliki naluri jiwa kewirausahaan bagi siswa sebagai produk suatu sistem pendidikan. Materi ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi peningkatan kompetensi pengawas sekolah sesuai yang diamanahkan Permendiknas No 12 tahun 2007. Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna, namun kami perlu menyampaikan penghargaan kepada tim penyusun buku ini yang telah berusaha dan berhasil mempersiapakan materi yang dapat dijadikan bahan bacaan bagi usaha peningkatan kompetensi pengawas sekolah. Berbagai pihak yang terkait dengan penguatan kemampuan pengawas sekolah dapat memperkaya dengan materi yang lain sepanjang mencapai tujuan yang sama yaitu meningkatkan kompetensi pengawas sekolah sesuai dengan Permendiknas No 12 tahun 2007. Semoga buku ini bermanfaat bagi usaha penguatan kemampuan pengawas sekolah di seluruh Kab/Kota di Indonesia. Jakarta, Januari 2010 Direktur Tenaga Kependidikan Surya Dharma, MPA, Ph.D 19530927 197903 1 001 Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah iii
  • 8.
    Model Pembelajaran PAIKEM– Pengawas Sekolah iv
  • 9.
    DAFTAR ISI SAMBUTAN DIRJENPMPTK ........................................................................ i KATA PENGANTAR ................………………………….…………..……… iii DAFTAR ISI ....................................................................................................... v PENDAHULUAN ...…………………………….…………..……………….. 1 A. Latar belakang ....................................................................................... 1 B. Dimensi Kompetensi .............................................................................. 1 C. Kompetensi yang Hendak Dicapai ....................................................... 2 D. Indikator Pencapaian Kompetensi ....................................................... 2 E. Alokasi Waktu ...................................................................................... 2 F. Skenario .................................................................................................. 2 PEMBELAJARAN PAIKEM ……………………….……..……….. 4 …………………………. A. Latar Belakang ………………………................…………………….... 4 B. Konsep Dasar Pembelajaran ……………………………………….. 7 …….…………………………..… C. Tujuan PAIKEM …………..…………………………………………… 14 D. Karakteristik PAIKEM ……………………………………….......….... 14 E. Jenis-jenis PAIKEM 16 …………………………………………………………………………… F. Penerapan PAIKEM…………………………………………………… 16 PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CTL) ……………………..........… 21 A. Latar Belakang Filosofis dan Psikologis ......………………………… 21 B. Pengertian Pembelajaran Kontekstual ................................................ 24 C. Langkah-langkah CTL ………………………………………………... 26 D. Karakteristik Pembelajaran CTL……………….......………………… 26 E. Strategi Pembelajaran Kontekstual ..................................................... 29 F. Perbedaan Pembelajaran Kontekstual Dengan Pembelajaran 31 Tradisional ............................................................................................... Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah v
  • 10.
    …………. G. Evaluasi Otentik dalam CTL ................................................................. 33 ……………. H. Penerapan Pembelajaran Kontekstual di Kelas ................................. 35 ……………. PEMBELAJARAN TERPADU ..........................................................………. 55 A. Latar Belakang ........................................................................................ 58 …………. B. Tujuan Pembelajaran Terpadu ............................................................. 61 C. Jenis-jenis Pembelajaran ...................................................................... 62 D. Pembelajaran IPA Terpadu .................................................................. 62 E. Pembelajaran IPS Terpadu ................................................................... 96 ……………. PEMBELAJARAN TEMATIK ....................................................................... 109 A. Latar Belakang ........................................................................................ 116 ……………. B. Kerangka Berpikir .................................................................................. 118 C. Pengertian Pembelajaran Tematik ....................................................... 122 ...…………. D. Landasan Pembelajaran Tematik ......................................................... 125 E. Karakteristik Pembelajaran Tematik ................................................... 126 ……………. F. Rambu-rambu Pembelajaran Tematik ................................................. 128 ……………. G. Implikasi Pembelajaran Tematik .......................................................... 128 ……………. H. Tahap Persiapan Pembelajaran ............................................................ 130 ……………. I. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran ........................................................ 134 ……………. J. Penilaian Pembelajaran Tematik .......................................................... 137 …………. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah vi
  • 11.
    Model Pembelajaran PAIKEM– Pengawas Sekolah vii
  • 13.
    PENDAHULUAN A. Latar belakang Tugas pengawas satuan pendidikan tidak hanya melakukan supervisi manajerial kepala sekolah, namun juga membina guru melalui supervisi aka- demik. Dalam pembinaan guru tentu harus mengacu pada kompetensi guru, terutama kompetensi profesional berkaitan dengan proses pembelajaran. Se- jalan dengan perkembangan teknologi serta teori-teori pembelajaran, maka guru pun dituntut mampu menguasai dan memilih pendekatan, strategi dan metode pembelajaran yang tepat, sehingga menjadikan siswa aktif, kreatif, dan belajar dalam suasana senang serta efektif. Menghadapi tugas tersebut pengawas tentu harus menguasai strategi/ metode/ teknik pembelajaran/bimbingan yang up to date. Bila pengetahuan pengawas sudah ketinggalan, apa lagi hanya mengandalkan pengalaman tan-pa didukung teori-teori, maka pengawas tidak akan mandapatkan respek dari para guru yang dibinanya. Paling tidak, untuk jenjang pendidikan dasar pe-ngawas harus memahami garis besar strategi pembelajaran mata pelajaran utama antara lain: matematika, IPA, IPS, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Materi pelatihan ini dimaksudkan memberikan wawasan dan pengalaman langsung melalui praktek-praktek simulasi bagi pengawas dalam melaksanakan tugas supervisi akademik di tingkat TK, SD, SMP, SMA, SMK, SLB. B. Dimensi Kompetensi Dimensi kompetensi yang diharapkan dibentuk pada akhir Diklat ini adalah dimensi Kompetensi Supervisi Akademik. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 1
  • 14.
    C. Kompetensi yangHendak Dicapai Setelah mengikuti pelatihan ini pengawas diharapkan dapat membim-bing guru dalam memahami, memilih dan menggunakan strategi/metode/tek- nik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangkan potensi siswa agar kritis, kreatif, inovatif, mampu memecahkan masalah melalui mata- mata pelajaran yang relevan. D. Indikator Pencapaian Kompetensi Indikator pencapaian hasil diklat ini adalah apabila pengawas dapat: 1. Memahami Hakikat Pendekatan Pembelajaran 2. Mengidentifikasi Berbagai Jenis Pembelajaran PAIKEM 3. Membimbing guru dalam menggunakan Berbagai Metode Pembelajaran Berbasis PAIKEM pada setiap mata pelajaran sesuai dengan tingkat berpikir peserta didik. E. Alokasi Waktu No. Materi Diklat Alokasi 1. Pembelajaran Berbasis CTL 4 jam 2. Pembelajaran Terpadu (IPA Terpadu, IPS Terpadu) 4 jam 3. Pembelajaran Tematik 4 jam F. Skenario 1. Perkenalan 2. Pejelasan tentang dimensi kompetensi, indikator, alokasi waktu dan skenario pendidikan dan pelatihan strategi pembelajaran. 3. Pre-test 4. Eksplorasi pemahaman peserta berkenaan dengan strategi pembelajaran, melalui pendekatan andragogi. 5. Penyampaian Materi Diklat: a. Menggunakan pendekatan andragogi, yaitu lebih mengutamakan pe- ngungkapan kembali pengalaman peserta pelatihan, menganalisis, me- Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 2
  • 15.
    nyimpulkan, dan mengeneralisasidalam suasana diklat yang aktif, ino- vatif, kreatif, efektif, menyenangkan, dan bermakna. Peranan pelatih lebih sebagai fasilitator. b. Diskusi tentang indikator keberhasilan pelatihan strategi pembelajaran. c. Praktik pengembangan strategi pembelajaran. 6. Post test. 7. Refleksi bersama antara peserta dengan pelatih mengenai jalannya pelatihan. 8. Penutup Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 3
  • 16.
    PEMBELAJARAN PAIKEM A. Latar Belakang Para ahli pendidikan berpendapat bahwa proses pembelajaran di sekolah sampai saat ini cenderung berpusat kepada guru. Tugas guru adalah menyampaikan materi-materi dan siswa diberi tanggung jawab untuk menghafal semua pengetahuan. Memang pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat dalam jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan masalah dalam kehidupan jangka panjang. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang mereka pelajari bukan mengetahuinya, oleh karena itu para pendidik telah berjuang dengan segala cara dengan mencoba untuk membuat apa yang dipelajari siswa disekolah agar dapat dipergunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Salah satu prinsip paling penting dari psikologi pendidikan adalah guru tidak boleh semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan ide-ide, dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan sendiri ide-ide, dan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri dalam belajar. Guru dapat memberikan kepada siswa tangga yang dapat membantu mereka mencapai Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 4
  • 17.
    tingkat pemahaman yanglebih tinggi, tetapi harus di upayakan sendiri siswa yang memanjat tangga itu. Tingkat pemahaman siswa menurut model Gagne (1985) dapat dikelompokan menjadi delapan tipe belajar, yaitu: (1) belajar isyarat, (2) stimulus-respon, (3) rangkaian gerak, (4) rangkaian verbal, (5) membedakan, (6) pembentukan konsep, (7) pembentukan aturan dan (8) pemecahan masalah (problem solving). Di lihat dari urutan belajar, belajar pemecahan masalah adalah tipe belajar paling tinggi karena lebih kompleks, Dalam tipe belajar pemecahan masalah, siswa berusaha menyeleksi dan menggunakan aturan-aturan yang telah dipelajari terdahulu untuk membuat formulasi pemecahan masalah. Lebih jauh Gagne (1985) mengemukakan bahwa kata-kata seperti penemuan (discovery) dan kreatifitas (creativity) kadang-kadang diasosiasikan sebagaii pemecahan masalah. Pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning /CTL), Pembelajaran Pembelajaran Terpadu , Pembelajaran Inkuiri dengan menggunakan metode pembelajaran berbuat seperti: kerja kelompok, eksperimen, pengamatan, penelitian sederhana, pemecahan masalah, dan pembelajaran praktik dengan dikombinasikan dengan metode ekspositori seperti ceramah, tanya jawab dan demonstrasi adalah pendekatan pembelajaran yang karakteristiknya memenuhi harapan itu. Pendekatan atau model-model pembelajaran tersebut menjadi tumpuan harapan para ahli pendidikan dan pengajaran dalam upaya menghidupkan kelas secara Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 5
  • 18.
    optimal. Kelas yanghidup diharapkan dapat mengimbangi perubahan yang terjadi di luar sekolah yang demikian cepat. Setiap pendekatan memiliki ciri-ciri dasar atau karakteristik sendiri. Karakteristik ini berhubungan dengan apa yang menjadi fokus dan mendapat tekanan dalam pembelajaran. Ada pendekatan pembelajaran yang berfokus pada siswa yang meliputi perkembangan, kemampuan berpikir, aktivitas, pengalaman siswa. Pendekatan pembelajaran berfokus pada guru yang meliputi fungsi, peran, dan aktivitas guru. Pendekatan pembelajaran berfokus pada masalah meliputi masalah personal, sosial, lingkungan, atau pendekatan pembelajaran yang berfokus pada teknologi, sistem instruksional, sistem informasi, media, sumber belajar, dll. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh karenanya strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran tergantung pada pendekatannya. Hal ini sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang menyatakan bahwa dalam kegiatan inti pembelajaran merupakan proses untuk mencapai Kompetensi Dasar (KD) yang harus dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, krativitas, dan kemadirian sesuai denganbakat, minat, dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik. Kegiatan pembelajaran ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 6
  • 19.
    B. Konsep DasarPembelajaran 1. Belajar dan Pembelajaran Belajar dan pembelajaran merupakan konsep yang saling berkaitan. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan. Proses perubahan tingkah laku merupakan upaya yang dilakukan secara sadar berdasarkan pengalaman ketika berinteraksi dengan lingkungan. Pola tingkah laku yang terjadi dapat dilihat atau diamati dalam bentuk perbuatan reaksi dan sikap secara mental dan fisik. Tingkah laku yang berubah sebagai hasil proses pembelajaran mengandung pengertian luas, mencakup pengetahuan, pemahaman, sikap, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi memiliki karakteristik: (1) perubahan terjadi secara sadar, (2) perubahan dalam belajar bersifat sinambung dan fungsional, (3) tidak bersifat sementara, (4) bersifat positif dan aktif, (5) memiliki arah dan tujuan, dan (6) mencakup seluruh aspek perubahan tingkah laku, yaitu pengetahuan, sikap, dan perbuatan. Keberhasilan belajar peserta didik dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal, yaitu kondisi dalam proses belajar yang berasal dari dalam diri sendiri, sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Ada beberapa hal yang termasuk faktor internal, yaitu: kecerdasan, bakat (aptitude), keterampilan (kecakapan), minat, motivasi, kondisi fisik, dan mental. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 7
  • 20.
    Faktor eksternal, adalahkondisi di luar individu peserta didik yang mempengaruhi belajarnya. Adapun yang termasuk faktor eksternal adalah: lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat (keadaan sosio- ekonomis, sosio kultural, dan keadaan masyarakat). Pada hakikatnya belajar dilakukan oleh siapa saja, baik anak-anak maupun manusia dewasa. Pada kenyataannya ada kewajiban bagi manusia dewasa atau orang-orang yang memiliki kompetensi lebih dahulu agar menyediakan ruang, waktu, dan kondisi agar terjadi proses belajar pada anak-anak. Dalam hal ini proses belajar diharapkan terjadi secara optimal pada peserta didik melalui cara-cara yang dirancang dan difasilitasi oleh guru di sekolah. Dengan demikian diperlukan kegiatan pembelajaran yang disiapkan oleh guru. Pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian- kejadian internal yang berlangsung di dalam peserta didik (Winkel, 1991). Pengaturan peristiwa pembelajaran dilakukan secara seksama dengan maksud agar terjadi belajar dan membuat berhasil guna (Gagne, 1985). Oleh karena itu pembelajaran perlu dirancang, ditetapkan tujuannya sebelum dilaksanakan, dan dikendalikan pelaksanaannya (Miarso, 1993) Proses pembelajaran yang berhasil guna memerlukan teknik, metode, dan pendekatan tertentu sesuai dengan karakteristik tujuan, peserta didik, materi, dan sumber daya. Sehingga diperlukan strategi yang tepat dan efektif. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 8
  • 21.
    Strategi pembelajaran merupakansuatu seni dan ilmu untuk membawa pembelajaran sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efesien dan efektif (T. Raka Joni, 1992). Cara-cara yang dipilih dalam menyusun strategi pembelajaran meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik (Gerlach and Ely). Strategi belajar mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur dan kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi pengajaran atau paket pengajarannya (Dick and Carey). Faktor yang memengaruhi proses pembelajaran terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan pribadi guru sebagai pengelola kelas. Guru harus dapat melaksanakan proses pembelajaran, oleh sebab itu guru harus memiliki persiapan mental, kesesuaian antara tugas dan tanggung jawab, penguasaan bahan, kondisi fisik, dan motivasi kerja. Faktor eksternal adalah kondisi yang timbul atau datang dari luar pribadi guru, antara lain keluarga dan lingkungan pergaulan di masyarakat. Faktor lingkungan, yang dimaksud adalah faktor lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan sekolah. Berdasarkan pendekatan yang digunakan, secara umum ada dua strategi pembelajaran yaitu strategi yang berpusat pada guru (teacher centre oriented) dan strategi yang berpusat pada peserta didik (student centre oriented). Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru menggunakan strategi ekspositori, sedangkan pendekatan pembelajaran Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 9
  • 22.
    yang berpusat padapeserta didik menggunakan strategi diskoveri inkuiri (discovery inquiry). Pemilihan strategi ekspositori atau diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan karakteristik kompetensi yang menjadi tujuan yang terdiri dari sikap, pengetahuan dan keterampilan, serta karakteristik peserta didik dan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu tidak ada strategi yang tepat untuk semua kondisi dan karakteristik yang dihadapi. Guru diharapkan mampu memilah dan memilih dengan tepat strategi yang digunakan agar hasil pembelajaran efektif dan maksimal. Pemilihan strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan: a. karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai; b. sumber referensi terbatas; c. jumlah pesera didik dalam kelas banyak; d. alokasi waktu terbatas; dan e. jumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau bahan banyak. Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi ekspositori adalah sebagai berikut. a. Preparasi, guru menyiapkan bahan/materi pembelajaran b. Apersepsi diperlukan untuk penyegaran c. Presentasi (penyajian) materi pembelajaran d. Resitasi, pengulangan pada bagian yang menjadi kata kunci kompetensi atau materi pembelajaran. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 10
  • 23.
    Pemilihan strategi diskoveriinkuiri dilakukan atas pertimbangan: a. karakteristik peserta didik dengan kemandirian cukup memadai; b. sumber referensi, alat, media, dan bahan cukup; c. jumlah peserta didik dalam kelas tidak terlalu banyak; d. materi pembelajaran tidak terlalu luas; dan e. alokasi waktu cukup tersedia. Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi diskoveri inkuiri adalah sebagai berikut. a. Guru atau peserta didik mengajukan dan merumuskan masalah b. Merumuskan logika berpikir untuk mengajukan hipotesis atau jawaban sementara c. Merumuskan langkah kerja untuk memperoleh data d. Menganalisis data dan melakukan verifikasi e. Melakukan generalisasi Strategi ekspositori lebih mudah bagi guru namun kurang melibatkan aktivitas peserta didik. Kegiatan pembelajaran berupa instruksional langsung (direct instructional) yang dipimpin oleh guru. Metode yang digunakan adalah ceramah atau presentasi, diskusi kelas, dan tanya jawab. Namun demikian ceramah atau presentasi yang dilakukan secara interaktif dan menarik dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Strategi diskoveri inkuiri memerlukan persiapan yang sungguh-sungguh, oleh karena itu dibutuhkan kreatifitas dan inovasi guru agar pengaturan kelas maupun waktu lebih efektif. Kegiatan pembelajaran berbentuk Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 11
  • 24.
    Problem Based Learningyang difasilitasi oleh guru. Strategi ini melibatkan aktivitas peseserta didik yang tinggi. Metode yang digunakan adalah observasi, diskusi kelompok, eksperimen, ekplorasi, simulasi, dan sebagainya. 2. PAIKEM Sebagai Model Pembelajaran Berbasis Kompetensi PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inspiratif/Interaktif/ Inovatif, Kritis /Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Dalam PAIKEM digunakan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Pembelajaran berbasis kompetensi adalah pembelajaran yang dilakukan dengan orientasi pencapaian kompetensi peserta didik. Sehingga muara akhir hasil pembelajaran adalah meningkatnya kompetensi peserta didik yang dapat diukur dalam pola sikap, pengetahuan, dan keterampilannya. Prinsip pembelajaran berbasis kompetensi adalah sebagai berikut: a. Berpusat pada peserta didik agar mencapai kompetensi yang diharapkan. Peserta didik menjadi subjek pembelajaran sehingga keterlibatan aktivitasnya dalam pembelajaran tinggi. Tugas guru adalah mendesain kegiatan pembelajaran agar tersedia ruang dan waktu bagi peserta didik belajar secara aktif dalam mencapai kompetensinya. b. Pembelajaran terpadu agar kompetensi yang dirumuskan dalam KD dan SK tercapai secara utuh. Aspek kompetensi yang terdiri dari sikap, pengetahuan, dan keterampilan terintegrasi menjadi satu kesatuan. c. Pembelajaran dilakukan dengan sudut pandang adanya keunikan individual setiap peserta didik. Peserta didik memiliki karakteristik, potensi, dan kecepatan belajar yang beragam. Oleh karena itu dalam Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 12
  • 25.
    kelas dengan jumlahtertentu, guru perlu memberikan layanan individual agar dapat mengenal dan mengembangkan peserta didiknya. d. Pembelajaran dilakukan secara bertahap dan terus menerus menerapkan prinsip pembelajaran tuntas (mastery learning) sehingga mencapai ketuntasan yang ditetapkan. Peserta didik yang belum tuntas diberikan layanan remedial, sedangkan yang sudah tuntas diberikan layanan pengayaan atau melanjutkan pada kompetensi berikutnya. e. Pembelajaran dihadapkan pada situasi pemecahan masalah, sehingga peserta didik menjadi pembelajar yang kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu guru perlu mendesain pembelajaran yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan atau konteks kehidupan peserta didik dan lingkungan. Berpikir kritis adalah kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah, menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian (originality) dan ketajaman pemahaman (insigt) dalam mengembangkan sesuatu (generating). Kemampuan memecahkan masalah (problem solving) adalah kemampuan tahap tinggi siswa dalam mengatasi hambatan, kesulitan maupun ancaman. Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan. f. Pembelajaran dilakukan dengan multi strategi dan multimedia Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 13
  • 26.
    sehingga memberikan pengalamanbelajar beragam bagi peserta didik. C. Tujuan PAIKEM Pembelajaran berbasis PAIKEM membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap tinggi, berpikir kritis dan berpikir kreatif (critical dan creative thinking). Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian (orginality), ketajaman pemahaman (insigt) dalam mengembangkan sesuatu (generating). Kemampuan memecahkan masalah merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dalam pembelajaran pemecahan masalah, siswa secara individual atau kelompok diberi tugas untuk memecahkan suatu masalah. Jika memungkinkan masalah diidentifikasi dan dipilih oleh siswa sendiri, dan diidentifikasi hendaknya yang penting dan mendesak untuk diselesaikan serta sering dilihat atau diamati oleh siswa sendiri, umpamanya masalah kemiskinan, kejahatan, kemacetan lalu lintas, pembusukan makanan, wabah penyakit, kegagalan panen, pemalsuan produk, atau soal-soal dalam setiap mata pelajaran yang membutuhkan analisis dan pemahaman tingkat tinggi, Dsb. D. Karakteristik PAIKEM Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 14
  • 27.
    Sesuai dengan singkatanPAIKEM, maka pembelajaran yang berfokus pada siswa, makna, aktivitas, pengalaman dan kemandirian siswa, serta konteks kehidupan dan lingkungan ini memiliki 4 ciri yaitu: mengalami, komunikasi, interaksi dan refleksi. 1. Mengalami (pengalaman belajar) antara lain: • Melakukan pengamatan • Melakukan percobaan • Melakukan penyelidikan • Melakukan wawancara • Siswa belajar banyak melalui berbuat • Pengalaman langsung mengaktifkan banyak indera. 2. Komunikasi, bentuknya antara lain: • Mengemukakan pendapat • Presentasi laporan • Memajangkan hasil kerja • Ungkap gagasan 3. Interaksi, bentuknya antara lain: • Diskusi • Tanya jawab • Lempar lagi pertanyaan o Kesalahan makna berpeluang terkoreksi o Makna yang terbangun semakin mantap o Kualitas hasil belajar meningkat Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 15
  • 28.
    4. Kegiatan Refleksiyaitu memikirkan kembali apa yang diperbuat/dipikirkan. • mengapa demikian? • apakah hal itu berlaku untuk …? • Untuk perbaikan gagasan/makna • Untuk tidak mengulangi kesalahan • Peluang lahirkan gagasan baru Dari karakteristik PAIKEM tersebut, maka guru perlu memberikan doron- gan kepada siswa untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam mem- bangun gagasan. Tanggung jawab belajar, memang berada pada diri siswa, tetapi guru bertanggung jawab dalam memberikan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, perhatian, persepsi, retensi, dan transfer dalam belajar, sebagai bentuk tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat. E. Jenis-Jenis PAIKEM Pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik PAIKEM antara lain adalah pembelajaran kotekstual (CTL), Pembelajaran Terpadu (Tematik, IPA Terpadu, IPS Terpadu), Pembelajaran berbasis TIK (ICT), Pembelajaran Pengayaan dengan menggunakan berbagai strategi antara lain dengan Les- son Study. F. Penerapan PAIKEM Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 16
  • 29.
    Sebagai tahapan strategispencapaian kompetensi, kegiatan PAIKEM perlu didesain dan dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga memperoleh hasil maksimal. Berdasarkan panduan penyusunan KTSP (KTSP), kegiatan pembelajaran terdiri dari kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah standar, beban belajarnya dinyatakan dalam jam pelajaran ditetapkan bahwa satu jam pelajaran tingkat SMA/SMK terdiri dari 45 menit, SMP terdiri dari 40 menit, dan untuk SD terdiri dari 35 menit tatap muka untuk Tugas Terstruktur dan Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur. Dalam hal ini guru perlu mendesain kegiatan pembelajaran tatap muka, tugas terstruktur dan kegiatan mandiri. 1. Kegiatan Tatap Muka Untuk kegiatan tatap muka dilakukan dengan strategi bervariasi baik ekspositori maupun diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, tanya jawab, atau simulasi. Tapi jika sudah ada sekolah yang menerapkan sistem SKS, maka kegiatan tatap muka lebih disarankan dengan strategi ekspositori. Namun demikian tidak menutup kemungkinan menggunakan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, tanya jawab, atau demonstrasi. 2. Kegiatan Tugas terstruktur Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 17
  • 30.
    Bagi sekolah yangmenerapkan sistem paket, kegiatan tugas terstruktur tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran namun dirancang oleh guru dalam silabus maupun RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran). Oleh karena itu pembelajaran dilakukan dengan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek. Kegiatan tugas terstruktur merupakan kegiatan pembelajaran yang mengembangkan kemandirian belajar peserta didik, peran guru sebagai fasilitator, tutor, teman belajar. Strategi yang disarankan adalah diskoveri inkuiri dan tidak disarankan dengan strategi ekspositori. Metode yang digunakan seperti diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, atau simulasi. 3. Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh guru. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah diskoveri inkuiri dengan metode seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek. PAIKEM dapat diterapkan pada pembelajaran Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal. Pemilihan strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan: Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 18
  • 31.
    a. karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai; b. sumber referensi terbatas; c. jumlah pesera didik dalam kelas banyak; d. alokasi waktu terbatas; dan e. jumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau bahan banyak. Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi ekspositori adalah sebagai berikut. a. Preparasi, guru menyiapkan bahan/materi pembelajaran b. Apersepsi diperlukan untuk penyegaran c. Presentasi (penyajian) materi pembelajaran d. Resitasi, pengulangan pada bagian yang menjadi kata kunci kompetensi atau materi pembelajaran. Pemilihan strategi diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan: a. karakteristik peserta didik dengan kemandirian cukup memadai; b. sumber referensi, alat, media, dan bahan cukup; c. jumlah peserta didik dalam kelas tidak terlalu banyak; d. materi pembelajaran tidak terlalu luas; dan e. alokasi waktu cukup tersedia. Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi diskoveri inkuiri adalah sebagai berikut. a. Guru atau peserta didik mengajukan dan merumuskan masalah b. Merumuskan logika berpikir untuk mengajukan hipotesis atau jawaban sementara c. Merumuskan langkah kerja untuk memperoleh data Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 19
  • 32.
    d. Menganalisis datadan melakukan verifikasi e. Melakukan generalisasi Strategi ekspositori lebih mudah bagi guru namun kurang melibatkan aktivitas peserta didik. Kegiatan pembelajaran berupa instruksional langsung (direct instructional) yang dipimpin oleh guru. Metode yang digunakan adalah ceramah atau presentasi, diskusi kelas, dan tanya jawab. Namun demikian ceramah atau presentasi yang dilakukan secara interaktif dan menarik dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Strategi diskoveri inkuiri memerlukan persiapan yang sungguh-sungguh, oleh karena itu dibutuhkan kreatifitas dan inovasi guru agar pengaturan kelas maupun waktu lebih efektif. Kegiatan pembelajaran berbentuk Problem Based Learning yang difasilitasi oleh guru. Strategi ini melibatkan aktivitas peseserta didik yang tinggi. Metode yang digunakan adalah observasi, diskusi kelompok, eksperimen, ekplorasi, simulasi, dan sebagainya. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 20
  • 33.
    PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL A. Latar Belakang Filosofis dan Psikologis Penerapan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) di Amerika Serikat bermula dari pandangam ahli pendidikan klasik John Dewey yang pada tahun 1916 mengajukan teori kurikulum dan metodologi pengajaran yang berhubungan dengan pengalaman dan minat siswa. Filosofi pembelajaran kontekstual berakar dari paham progressivisme John Dewey. Intinya, siswa akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat dalam proses belajar di sekolah. Pokok-pokok pandangan progressivisme antara lain: 1. Siswa belajar dengan baik apabila mereka secara aktif dapat mengkonstruksi sendiri pemahaman mereka tentang apa yang diajarkan oleh guru. 2. Siswa harus bebas agar dapat berkembang wajar. 3. Penumbuhan minat melalui pengalaman langsung untuk merangsang belajar. 4. Guru sebagai pembimbing dan peneliti. 5. Harus ada kerja sama antara sekolah dan masyarakat. 6. Sekolah progresif harus merupakan laboratorium untuk melakukan eksperimen. Selain teori progressivisme John Dewey, teori kognitif melatarbelakangi pula filosofi pembelajaran kontekstual. Siswa akan belajar dengan baik apabila mereka terlibat secara aktif dalam segala kegiatan di kelas dan berkesempatan untuk menemukan sendiri. siswa menunjukkan belajar Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 21
  • 34.
    dalam bentuk apayang mereka ketahui dan apa yang dapat mereka lakukan. Belajar dipendang sebagai usaha atau kegiatan intelektual untuk membangkit ide-ide yang masih laten melalui kegiatan introspeksi. Sejauh ini pendidikan kita masih di dominasi oleh pandangan bahawa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah sebagai pilihan utama strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar baru yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkontruksi pengetahuan di benak mereka sendiri. Berpijak pada dua pandangan itu, filosofi konstruksivisme berkembang. Dasarnya pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari konteks yang terbatas dan sedikit demi sedikit. Siswa yang harus mengkontruksikan sendiri pengetahuannya. Melalui landasan filosofi konstruksivisme, CTL dipromosikan menjadi alternatif strategi belajar yang baru. Melalui strategi, siswa diharapkan belajar melalui mengalami bukan menghafal. Menurut filosofi konstruktivisme, pengetahuan bersifat non-objektif, temporer, dan selalu berubah. Segala sesuatu bersifat temporer, berubah dan tidak menentu. Belajar adalah pemaknaan pengetahuan, bukan perolehan pengetahuan dan mengajar diartikan sebagain kegiatan atau menggali makna, bukan memindahkan pengetahuan kepada orang yang belajar. Otak Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 22
  • 35.
    atau akal manusiaberfungsi sebagai alat untuk melakukan interpretasi sehingga muncul makna yang unik. Dengan paham kontruksivisme, siswa diharapkan dapat membangun pemahaman sendiri dari pengalaman/pengetahuan terdahulu. Pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalam belajar bermakna. Siswa diharapkan memapu mempraktikkan pengetahuan/pengalaman yang telah diperoleh dalam konteks kehidupan. Siswa diharapkan juga melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut. Dengan demikian, siswa dapat memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan yang dipelajari. Pemahaman ini diperoleh siswa karena ia dihadapkan kepada lingkungan belajar yang bebas yang merupakan unsur yang sangat esensial. Hakikat teori kontruksivisme adalah bahwa siswa harus menjadikan informasi itu menjadi miliknya sendiri. teori kontruksivisme memandang siswa secara terus menerus memeriksa informasi-informasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lama dn memperbaiki aturan-aturan yang tidak sesuai lagi. Teori konstruksivis menuntut siswa berperan aktif dalam pembelajaran mereka sendiri. Karena penekanannya pada siswa aktif, maka strategi kontruksivis sering disebut pengajaran yang berpusat pada siswa (student-centered instruction). Di dalam kelas yang pengajarannya terpusat kepada siswa, peranan guru adalah membantu siswa menemukan fakta, konsep, atau prinsip bagi diri mereka sendiri, bukan memberikan ceramah atau mengendalikan seluruh kegiatan di kelas. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 23
  • 36.
    Beberapa proposisi yangdapat dikemukakan sebagai implikasi dari teori kontruktivistik dalam praktek pembeljaran di sekolah-sekolah kita sekarang adalah sebagai berikut: 1. Belajar adalah proses pemaknaan informasi baru 2. Kebebasan merupakan unsur esensial dalam lingkungan belajar. 3. Strategi belajar yang digunakan menentukan proses dan hasil belajar. 4. Belajar pada hakikatnya memiliki aspeksosial dan budaya. 5. Kerja kelompok dianggap sangat berharga. Dalam pandangan kontruksivistik, kebebasan dipandangan sebagai penentu keberhasilan karena kontrol belajar dipegang oleh siswa sendiri. Tujuan pembelajaran konstruktivistik menekankan pada penciptaan pemahaman yang menuntut aktivitas yang kreatif dan produktif dalam konteks nyata. Dengan demikian, paham konstruktivistik menolak pandangan behavioristik. B. Pengertian Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel da-pat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 24
  • 37.
    konsep ini, hasilpembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja ber- sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesu- atu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan-nya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidu- pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelaaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 25
  • 38.
    C. Langkah-langkah CTL CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut: 1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. 2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. 3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. 4. Ciptakan masyarakat belajar. 5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. 6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan. 7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan berbagai cara. D. Karakteristik Pembelajaran CTL 1. Kerjasama. 2. Saling menunjang. 3. Menyenangkan, tidak membosankan. 4. Belajar dengan bergairah. 5. Pembelajaran terintegrasi. 6. Menggunakan berbagai sumber. 7. Siswa aktif. 8. Sharing dengan teman. 9. Siswa kritis guru kreatif. 10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 26
  • 39.
    11. Laporan kepadaorang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, lang-kah-langkah pembelajaran, dan authentic assessment-nya. Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (je-las dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual le-bih menekankan pada skenario pembelajarannya. Beberapa komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson (2000: 65), yang dapat di uraikan sebagai berikut: 1. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections) Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam. Atau sejarah dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 27
  • 40.
    Mengkaitkan pembelajaran dengankehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL. 2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (doing significant works) Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sisw 3. Belajar yang diatur sendiri (self-regulated Learning) Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif, mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri. 4. Bekerjasama (collaborating) Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi. 5. Berpikir kritis dan kreatif (critical dan creative thinking) Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap tinggi, nerpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 28
  • 41.
    6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nuturing the individual) Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya. 7. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards) Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan, asalkan sia dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan kekuatannya. 8. Menggunakan Penilaian yang otentik (using authentic assessment) Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian stanar, penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari. E. Strategi Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari (Nurhadi, Yasin dan Senduk, 2004: 56). Strategi yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut. 1. Belajar berbasis Masalah (Problem-Based Learning) Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 29
  • 42.
    Suatu pendekatan pengajaranyang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pegetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Dalam pengetahuan dan konsep yang esensi dari mata pelajaran. Dalam hal ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan keterampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran. Pendekatan ini mencakup pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan, mensintesis, dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain. 2. Pembelajaran Autentik (Authentic Instruction) Suatu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Ia mengembangkan keterampilan berpikir dan memecahkan masalah yang penting di dalam konteks kehidupan nyata. 3. Belajar Berbasis Inquiry (Inquiry-Based Learning) Suatu pendekatan pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna. 4. Belajar berbasis Proyek/Tugas (Project-Based Learning) Suatu pendekatan pembelajaran komprehensif di mana lingkungan belajar siswa (kelas) didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkonstruk pembelajarannya, dan mengkulminasikan dengan produk nyata. 5. Belajar Berbasis Kerja (Work-Based Learning) Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 30
  • 43.
    Suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali di tempat kerja. Jadi dalam hal ini, tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai aktifitas dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa. 6. Belajar Berbasis Jasa-Layanan (Service Learning) Suatu pendekatan pembelajaran yang mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan suatu struktu berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa-layanan tersebut, jadi menekankan hubungan antara pengalaman jasa-layanan dan pembelajaran akademis. Dengan kata lain, pendekatan ini menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagi keterampilan untuk memenuhi kebutuhan dalam masyarkat melalui proyek/tugas terstruktur dan kegiatan lainnya. 7. Belajar Kooperatif (Cooperatif Learning) Pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan. F. Perbedaan Pembelajaran Kontekstual Dengan Pembelajaran Tradisional Terlihat jelas perbedaan proses pembelajaran kontekstual yang berpijak pada pandangan kontrukstivisme dengan pembelajaran tradisional yang berpijak padangan behaviorisme-objektivis. Menurut Sanjaya (2006 : 256) ada beberapa perbedaan yang dapat diuraikan sebagai berikut: Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 31
  • 44.
    1. Dalam pembelajarankontekstual, siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran, sedangkan dalam pembelajaran tradisional siswa adalah penerima informasi yang pasif. 2. Dalam pembelajaran kontekstual, siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi, sedangkan dalam pembelajaran tradisional siswa belajar secara individual. 3. Dalam pembelajaran kontekstual, pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan, sedangkan dalam pemebelajaran tradisional pembelajaran sangat abstrak. 4. Dalam pembelajaran kontekstual, perilaku dibangun atas kesadaran sendiri sedangkan dalam pembelajaran tradisional perilaku dibangun atas kebiasaan. 5. Dalam pembelajaran kontekstual, keterampilan dibangun atas kesadaran diri,, sedangkan dalam pembelajaran tradisional ketrampilan dikembangkan atas dasar latihan. 6. Dalam pembelajaran kontekstual, hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri, sedangkan dalam pembelajaran tradisional hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor. 7. Dalam pembelajaran kontekstual, seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan., sedangkan dalam pembelajaran tradisional seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia takut hukuman. 8. Dalam pembelajaran kontekstual, bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata, sedangkan dalam pembelajaran tradisional, bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural: rumus diterapkan sampai paham, kemudian dilatihkan (drill). Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 32
  • 45.
    9. Dalam pembelajarankontekstual, pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa, sedangkan dalam pembelajaran tradisional rumus itu ada di luar diri siswa, yang harus dikembangkan, diterima dan dilafalkan, dan dilatihkan. 10. Dalam pembelajaran kontekstual, siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam pengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggungjawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran sedangkan dalam pembelajaran tradisional siswa secara pasif menrima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, menghapal), tampa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran. 11. Dalam pembelajaran kontekstual, pengetahuan yang dimiliki oleh manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia menciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya sedangkan dalam pembelajaran tradisional pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang brada di luar diri manusia. G. Evaluasi Otentik Sebagai Ciri Penilaian Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran kontekstual menuntur evaluasi yang bersifat komprehensif, menyeluruh dan terus menerus, karena dilakukan oleh guru kontekstual sepanjang proses pembelajaran. Setiap saat terjadi perubahan dan perkembangan pada para siswa. Perubahan dan perkembangan bidang atau aspek tertentu mungkin sangat banyak/tinggi, tetapi pada bidang atau aspek lainnya sedikit, sedikit sekali atau bahkan hampir tidak ada. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 33
  • 46.
    Perubahan atau perkembangantersebut mungkin berkenaan dengan aspek yang menjadi tujuan atau terumuskan dalam tujuan pembelajaran. Evaluasi dilakukan pada waktu para siswa merencanakan sesuatu kegiatan, melaksanakan maupun melaporkan hasil kegiatannya. Evaluasi juga dilakukan pada waktu siswa berdiskusi, mengerjakan tugas, mengerjakan tugas, melakukan latihan, percobaan, pengamatan, penelitian, pemecahan masalah, dan penyelesaian soal. Bagaimana siswa melakukan berbagai kegiatan tersebut serta hasil-hasil yang mereka tunjukkan, baik berupa rancangan, makalah, laporan, rangkuman, gambar, model, ataupun hasil pemecahan dan jawaban soal, merupakan wujud dari perkembangan dan kemampuan hasil belajar mereka. Evaluasi terhadap proses pembelajaran dan hasil karya merupakan evaluasi otentik, evaluasi kenyataan, karena mengevaluasi apa yang secara nyata dilakukan dan dihasilkan oleh para siswa. Hal ini tidak berarti, bahwa evaluasi dengan menggunakan tes tidak bisa digunakan, karena evaluasi dengan menggunakan tes, mengukur hasil pembelajaran pada akhir periode, akhir semester, tengah semester atau akhir unit. Makin pendek periode waktu pembelajaran yang dievaluasi, maka makin mendekati evaluasi otentik. Dalam evaluasi hasil pembelajaran, biasanya hanya digunakan tes, berbentuk tes obyektif atau essay, maka dalam evaluasi proses juga digunakan evaluasi perbuatan (pengamatan), lisan, hasil karya dan portfolio. Portfolio merupakan kumpulan dokumen yang disusun secara sistematik dan terarah yang menggambarkan perkembangan atau kemajuan siswa dalam bidang tertentu. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 34
  • 47.
    H. Penerapan Pembelajaran Kontekstual di Kelas Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual dikelas. Ketujuh komponen itu adalah konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling) refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) 1. Konstruktivisme (Constructivism) Konstruktivisme merupakan landasan berpikir pendekatan kontekstual, yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba- tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Tetapi siswa harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalaui pengalaman nyata. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide, yaitu siswa harus mengkontruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. Esensi dari teori kontruksivisme adalah ide bahwa siswa haarus menemukan dan mentransfomasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar ini pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkontruksi bukan mnerima pengetahuan. Landasan berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan kaum objektif, yang lebih menekaankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 35
  • 48.
    pengetahuan. Untuk itutugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan : (1) menjadikan pengetahuan bermakana dan relevan bagi siswa; (2) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. 2. Bertanya (questioning) Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya karena bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang produkstif, kegiatan bertanya berguna untuk: (1) menggaliinformasi baik administrasi maupun akademia; (2) mengecek pemahaman siswa; (3) membangkitkan respon pada siswa; (4) mengetahui sejauh mana keingin tahuan siswa; (5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa; (6) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki gur; (7) untuk membangkitkan lebihbanyak lagi pertanyaan dari siswa; (8) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa. Pada semua aktivitas belajar, questioning dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas dan sebagainya. 3. Menemukan (inquiry) Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Siklus inquiry adalah (1) observasi, (2) bertanya, (3) mengajukan dugaan, (4) pengumpulan data, (5) penyimpulan. Kata kunci dari strategi inquiry Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 36
  • 49.
    adalah siswa menemukansendiri, adapun langkah-langkah kegiatan menemukan sendiri adalah: (1) merumuskan masalah dalam mata pelajaran apapun; (2) mengamati atau melakukan observasi; (3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar,laporan, bagan tabel, dan karya lainnya; dan (4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman kelas, guru, atau audience lainnya. 4. Masyarakat Belajar (learning community) Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar didapat dari berbagi anatara kawan, kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Di ruang kelas ini, di sekitar sini, juga dengan orang-orang yang diluar sana semua adalah anggota masyarakat belajar. Dalam kelas yang menggunakan pendekatan kontekstual, guru disarankan dalam melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberiyahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberikan usul dan seterusnya. Kelompok siswa bisa sanagt bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di dalam kelas atasnya, atau guru mengadakan kolaborasi dengan mendatangkan seorang ahli ke kelas. 5. Permodelan (modelling) Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu, memberi peluang yang besar bagi guru untuk memberi contoh cara mngerjakan sesuatu, dengan begitu guru memberi model tentang bagaimana belajar. Dalam pendekatan Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 37
  • 50.
    kontekstual guru bukansatu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa, seorang siswa dapat ditunjuk untuk memberikan contoh temannya, misalnya cara melafalkan suatu kata. Siswa contoh tersebur dikatakan sebagai model, siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai standar kompetensi yang harus dicapai. 6. Refleksi (reflection) Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakng tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dalam hal belajar di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelummnya. Refleksi merupakan respons terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. 7. Penilaian Sebenarnya (authentic assessment) Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui olehb guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar siswa agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuanbelajar itu diperlukan disepanjang proses pembelajaran, maka penilaian tidak dilakukan diakhir periode seperti akhir semester. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanyalah salah satunya, itulah hakekat penilaian yang sebarnya. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 38
  • 51.
    lain atau oranglain. Karakteristik penilain sebenarnya adalah (1) dilaksanakan selama dan sesuadah proses pembelajaran berlangsung; (2) bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif; (3) yang diukur keterampilan dan performasi, bukan hanya mengingat fakta; (4) berkesinambungan; (5) terintegrasi; (6) dapat dipergunakan sebagaifeed back. Dengan demikian pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi diakhir periode pembelajaran. Berikut contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berbasis CTL pada mata pelajaran IPA di SMP. CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) BERBASIS CTL Sekolah : SMP .......................................... Mata Pelajaran : IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) Kelas/Semester : IX (Sembilan)/ 2 (Dua) Alokasi Waktu : 10 x 40 menit (5 pertemuan) A. Standar Kompetensi : 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari- hari. B. Kompetensi Dasar : 4.1. Menyelidiki gejala kemagnetan dan cara membuat magnet. C. Tujuan Pembelajaran Pertemuan 1: Setelah pembelajaran ini selesai siswa diharapkan dapat: 1. mengidentifikasi bahan magnetik dan bahan bukan magnetik. 2. menunjukkan kutub-kutub magnet. 3. menentukan daerah gaya di sekitar magnet (medan magnet). Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 39
  • 52.
    4. mendeskripsikan sifatkutub-kutub magnet. 5. memberikan pemaknaan terhadap keberadaan kutub-kutub magnet (kutub utara dan kutub selatan). 6. memberikan pemaknaan terhadap sifat-sifat interaksi antara kutub-kutub magnet. Pertemuan 2: Setelah pembelajaran ini selesai siswa diharapkan dapat: 1. mendemonstrasikan pembuatan magnet dengan cara menggosok. 2. mendemonstrasikan pembuatan magnet dengan cara induksi. 3. mendemonstrasikan pembuatan magnet dengan cara elektromagnetik. 4. memberikan pemaknaan terhadap pembuatan magnet dengan cara menggosok. 5. memberikan pemaknaan terhadap pembuatan magnet dengan cara induksi. 6. memberikan pemaknaan terhadap pembuatan magnet dengan cara elektromagnetik. Pertemuan 3: Setelah pembelajaran ini selesai siswa diharapkan dapat: 1. menyebutkan cara-cara menghilangkan sifat kemagnetan. 2. mendeskripsikan kemagnetan bumi. 3. memberikan pemaknaan terhadap cara-cara menghilangkan sifat kemagnetan. 4. memberikan pemaknaan terhadap keberadaan kemagnetan bumi. Pertemuan 4: Setelah pembelajaran ini selesai siswa diharapkan dapat: 1. menjelaskan secara kualitatif sifat medan magnet di sekitar kawat berarus listrik. 2. memberikan pemaknaan terhadap sifat medan magnet di sekitar kawat berarus listrik. Pertemuan 5: Penilaian pencapaian KD 4.1 (Ulangan Harian, materi Pertemuan 1 s.d. 4). D. Materi Pelajaran: Kemagnetan KEMAGNETAN Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 40
  • 53.
    Lebih dari 2000tahun yang lalu, orang Yunani yang hidup di suatu daerah di Turki yang dikenal sebagai Magnesia menemukan batu aneh. Batu tersebut menarik benda-benda yang mengandung besi. Karena batu tersebut ditemukan di Magnesia, orang Yunani memberi nama batu tersebut magnet. Sifat benda yang teramati sebagai suatu gaya tarik atau gaya tolak antara kutub-kutub magnet disebut kemagnetan. Secara sederhana kita dapat mengelompokkan bahan-bahan menjadi dua kelompok, yaitu: bahan magnetik dan bahan bukan magnetik. Bahan-bahan yang dapat ditarik oleh magnet disebut bahan magnetik. Sedangkan bahan- bahan yang tidak dapat ditarik oleh magnet disebut bahan bukan magnetik. Besi, baja, nikel, dan kobalt termasuk bahan magnetik. Sedangkan kayu, kaca, aluminium, dan plastik adalah contoh-contoh bahan bukan magnetik. Semua magnet mempunyai sifat-sifat tertentu. Setiap magnet, bagaimanapun bentuknya, mempunyai dua ujung di mana pengaruh magnetiknya paling kuat. Dua ujung tersebut dikenal sebagai kutub magnet, yang diberi nama kutub utara (U) dan kutub selatan (S). Jika kutub-kutub magnet senama (U dan U atau S dan S) saling didekatkan, kedua kutub tersebut akan tolak- menolak. Namun, jika kutub utara (U) salah satu magnet didekatkan ke kutub selatan (S) magnet lain, kutub-kutub tersebut akan tarik-menarik. Sifat-sifat magnetik suatu bahan bergantung pada struktur atomnya. Para ilmuwan mengetahui bahwa atom itu sendiri memiliki sifat-sifat magnetik. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 41
  • 54.
    Sifat-sifat magnetik tersebutdisebabkan gerak elektron atom-atom tersebut. Oleh karena itu, tiap atom di dalam suatu bahan magnetik adalah seperti sebuah magnet kecil yang disebut magnet atom (magnet elementer). PEMAKNAAN • Semua magnet memiliki dua kutub yang berlawanan, yaitu utara (U) dan selatan (S). ”Allah, Tuhan yang Maha Esa menciptakan manusia secara berpasang- pasangan.” Hanya Allah-lah dzat yang tunggal, Allah itu satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Bagi ajaran agama Islam, hal ini sesuai dengan kandungan dalam Surat Al-Ikhlas. Secara kodrati, manusia mempunyai dua jenis kelamin, yaitu: laki-laki (L) dan perempuan (P). • Kutub-kutub magnet yang senama (U-U atau S-S), jika didekatkan akan tolak-menolak. Sedangkan kutub-kutub magnet yang tidak senama (U-S), jika didekatkan akan tarik-menarik. Agama melarang manusia sesama jenis untuk saling jatuh cinta. Manusia hanya boleh menikah dengan lawan jenisnya. Perilaku ”menyimpang” seperti homoseksual (L-L) atau lesbian (P-P) dilarang oleh agama. • Sebatang logam (besi) dapat dijadikan magnet dengan cara menggosokkan magnet pada logam tersebut. Penggosokan magnet harus dilakukan secara terarah, dan semakin lama penggosokan semakin kuat serta bertahan lama sifat kemagnetannya. ”Rajin pangkal pandai.” Apabila kita ingin pandai, kita harus rajin belajar, dan tidak mudah menyerah. • Sebatang logam (besi) dapat dijadikan magnet dengan cara menginduksi logam tersebut dengan magnet pada logam tersebut. Lingkungan sangat mempengaruhi perilaku dan perkembangan kognitif seseorang. Apabila kita ingin menjadi orang ”baik-baik” maka kita harus bergaul dan berteman dengan orang yang berperilaku baik pula. Apabila kita ingin menjadi orang yang pandai, maka kita juga harus banyak bergaul dan berteman dengan orang yang pandai. • Sebatang logam (besi) dapat dijadikan magnet dengan cara melilitkan kawat pada logam dan mengalirkan arus listrik pada kawat yang dililitkan pada logam tersebut. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 42
  • 55.
    Agar kemampuan (pengetahuan)kita semakin bertambah, kita harus sering berdiskusi dan mendapat masukan-masukan dari banyak orang yang memiliki kemampuan melebihi kemampuan kita. • Sebuah magnet dapat hilang sifat kemagnetannya diantaranya apabila kita bakar dan kita pukul-pukul. Sifat kemagnetan dimiliki oleh suatu bahan apabila magnet-magnet elementer bahan itu tersusun secara teratur. ”Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Dalam suatu komunitas, apabila kita rukun tidak terjadi saling permusuhan, maka apapun yang kita cita-citakan akan dengan lebih mudah untuk kita capai. Namun, dengan adanya suatu pengaruh ”negatif” dari luar, misalnya munculnya para provokator-provokator, maka adanya provokasi tersebut dapat memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa. E. Alat/Bahan/Sumber belajar 1. Buku Siswa CTL untuk SMP Direktorat PSMP 2. Buku Sumber (Referensi) lain 3. LKS Kemagnetan 4. Alat peraga magnet, bel listrik, dan motor listrik 5. Serbuk besi 6. Animasi pemaknaan untuk penanaman sikap 7. Kabel/kawat listrik (kawat untuk kumparan) 8. Catu daya (baterai) F. Model Pembelajaran: Pembelajaran Kooperatif (CL) dengan ”Pemaknaan” G. Kegiatan Pembelajaran Pertemuan 1 Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 43
  • 56.
    Terlaksana Tahap Pembelajaran Ya Tidak Kegiatan Awal • Demonstrasi menarik benda-benda dari logam (besi) dengan sebuah ”magnet”. Menanyakan kepada siswa, mengapa benda tersebut dapat menempel? • Menginformasikan bahwa magnet banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita sambil memberikan contoh misalnya bel listrik, motor listrik, tape recorder, dll. • Menyampaikan tujuan pembelajaran (Pertemuan 1). Kegiatan Inti • Memperlihatkan magnet batang, mendemonstrasikan bahwa ada beberapa benda yang dapat ditarik oleh magnet dan ada yang tidak dapat ditarik oleh magnet. • Menginformasikan magnet batang mempunyai dua kutub yang dinamai kutub utara dan selatan sambil mendemonstrasikan menggantungkan magnet batang dengan benang. Menjelaskan konsep kemagnetan. • Meminta siswa duduk dalam tatanan pembelajaran kooperatif sambil mengingatkan keterampilan kooperatif yang akan dilatihkan dan bagaimana cara mengikuti pelatihan keterampilan kooperatif tersebut dan membagikan LKS 2 “Panduan Belajar Pengaruh magnet”. • Meminta siswa membaca Pengaruh Magnet dan membimbing mengerjakan LKS tersebut dan menggarisbawahi kalimat pokok setelah mendiskusikan di kelompoknya masing-masing. • Membagikan LKS 1 serta alat dan bahan yang dibutuhkan dan membimbing tiap kelompok mengerjakan LKS tersebut. • Meminta satu-dua kelompok untuk menulis di papan tulis Tabel 1 yang telah diisi dan ditanggapi kelompok lain. • Selanjutnya guru memaknai setiap materi yang telah didiskusikan sebagai contoh atau model perilaku dan budi pekerti. Adapun materi-materi yang perlu diberikan pemaknaan, antara lain berkaitan dengan: - magnet dapat menarik benda; - magnet memiliki dua kutub, yaitu: U dan S; - sifat gaya magnet antar kutub-kutub magnet. • (Lain-lainnya dapat dikembangkan sesuai kreativitas guru). Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 44
  • 57.
    Pertemuan 2 Model PembelajaranPAIKEM – Pengawas Sekolah 45
  • 58.
    Terlaksana Tahap Pembelajaran Ya Tidak Kegiatan Awal • Mendemonstrasikan dengan menempelkan sebuah paku besar ke paku-paku kecil dan meminta siswa memperhatikan paku- paku kecil itu apakah dapat menempel pada sebuah paku besar tersebut. • Demonstrasi dilanjutkan dengan menempelkan paku besar tersebut dengan sebuah magnet batang dan kemudian menempelkannya pada paku-paku kecil. Siswa diminta memperhatikan paku-paku kecil itu apakah dapat menempel pada sebuah paku besar tersebut. • Menginformasikan bahwa hari ini akan dilakukan per- cobaan membuat magnet dengan cara menggosok, in- duksi, dan mengalirkan arus listrik. • Menyampaikan tujuan pembelajaran (Pertemuan 2). Kegiatan Inti • Menyajikan informasi bahwa dalam besi yang bukan magnet susunan atom-atomnya masih acak. Agar besi menjadi magnet, susunan atom-atomnya harus dibuat searah. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan cara mendekatkan sebuah magnet ke besi tersebut. • Meminta siswa duduk dalam tatanan pembelajaran kooperatif. • Membagikan LKS 3 dan membimbing siswa untuk mengerjakan LKS tersebut. • Meminta salah satu kelompok untuk menuliskan hasil kegiatannya di papan tulis dan kelompok lain diminta menanggapinya. • Memberi penghargaan pada siswa/kelompok yang kinerjanya bagus. • Selanjutnya guru memaknai setiap materi yang telah didiskusikan sebagai contoh atau model perilaku dan budi pekerti. Adapun materi-materi yang perlu diberikan pemaknaan, antara lain berkaitan dengan: - pembuatan magnet dengan cara menggosok; - pembuatan magnet dengan cara induksi; - pembuatan magnet dengan cara elektromagnetik. • (Lain-lainnya dapat dikembangkan sesuai kreativitas guru). Kegiatan Penutup • Untuk memantapkan pemahaman siswa tentang ”Cara Pembuatan Magnet” guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 46
  • 59.
    Pertemuan 3 Model PembelajaranPAIKEM – Pengawas Sekolah 47
  • 60.
    Terlaksana Tahap Pembelajaran Ya Tidak Kegiatan Awal • Sambil menggantung bebas sebuah magnet batang, menanyakan kepada siswa: ”ke arah mana magnet batang itu selalu menghadap?” Mengapa? • Menanyakan kepada siswa, apakah suatu magnet, sifat kemagnetannya tidak dapat dihilangkan? • Menyampaikan tujuan pembelajaran (Pertemuan 3). Kegiatan Inti • Menginformasikan bahwa garis gaya magnet dapat digambar untuk memperlihatkan lintasan medan magnet, menjelaskan pola-pola garis gaya untuk berbagai macam susunan magnet batang. • Menginformasikan bahwa terdapat perbedaan antara kutub magnetik dan kutub geografik bumi, serta menjelaskan bagaimana kompas dapat membantu untuk menentukan arah. • Meminta siswa duduk dalam tatanan pembelajaran kooperatif sambil mengingatkan keterampilan kooperatif yang akan dilatihkan dan bagaimana cara mengikuti pelatihan keterampilan kooperatif tersebut dan membagikan LKS 5. • Meminta siswa membaca Buku Siswa, tentang Pengaruh Magnet; Kemagnetan Bumi, dan membimbing mengerjakan LKS 5 tersebut dan menggarisbawahi kalimat pokok setelah mendiskusikan di kelompoknya masing-masing. • Membagikan LKS 4 serta alat dan bahan yang dibutuhkan dan membimbing tiap kelompok mengerjakan LKS tersebut. • Meminta satu dua kelompok untuk menggambar pola serbuk besi untuk tiap susunan magnet batang dan ditanggapi kelompok lain. • Selanjutnya guru memaknai setiap materi yang telah didiskusikan sebagai contoh atau model perilaku dan budi pekerti. Adapun materi-materi yang perlu diberikan pemaknaan, antara lain berkaitan dengan: - cara menghilangkan sifat kemagnetan; - keberadaan kemagnetan bumi. • (Lain-lainnya dapat dikembangkan sesuai kreativitas guru). Kegiatan Penutup • Untuk memantapkan pemahaman siswa tentang cara Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 48
  • 61.
    Pertemuan 4 Model PembelajaranPAIKEM – Pengawas Sekolah 49
  • 62.
    Terlaksana Tahap Pembelajaran Ya Tidak Kegiatan Awal • Mendemonstrasikan terjadinya penyimpangan suatu jarum kompas ketika diletakkan dekat suatu magnet. Menanyakan pada siswa, mengapa jarum kompas itu dapat mengalami penyimpangan arah? • Mengingatkan kembali tentang cara membuat magnet dengan mengalirkan arus listrik. • Menyampaikan tujuan pembelajaran (Pertemuan 4). Kegiatan Inti • Menginformasikan bahwa arus listrik yang mengalir melalui sebuah penghantar akan menimbulkan medan magnet yang arahnya bergantung pada arah arus listrik. • Menginformasikan bahwa medan magnet solenoida dapat diperbesar dengan memperbesar jumlah lilitan maupun besar arus yang mengalir melaluinya. • Meminta siswa duduk dalam tatanan pembelajaran kooperatif sambil mengingatkan keterampilan kooperatif yang akan dilatihkan dan bagaimana cara mengikuti pelatihan keterampilan kooperatif tersebut dan membagikan LKS 8. • Meminta siswa membaca Buku Siswa, subbab Medan Magnet di Sekitar Arus Listrik, dan membimbing mengerjakan LKS 8 tersebut dan menggarisbawahi kalimat pokok setelah mendiskusikan di kelompoknya masing-masing. • Membagikan LKS 7 serta alat dan bahan yang dibutuhkan dan membimbing tiap kelompok mengerjakan LKS tersebut. • Meminta satu-dua kelompok untuk menulis di papan tulis untuk melengkapi Tabel 1 hasil penyelidikan dan ditanggapi kelompok lain. • Selanjutnya guru memaknai setiap materi yang telah didiskusikan sebagai contoh atau model perilaku dan budi pekerti. Adapun materi-materi yang perlu diberikan pemaknaan, yaitu: - sifat medan magnet di sekitar kawat berarus listrik. • (Lain-lainnya dapat dikembangkan sesuai kreativitas guru). Kegiatan Penutup • Untuk memantapkan pemahaman siswa tentang medan magnet Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 50
  • 63.
    H. Penilaian (InstrumenPenilaian Terlampir pada Lembar Penilaian) • Bentuk tes tertulis: pilihan ganda dan uraian singkat • Kinerja saat melakukan kegiatan • Laporan/presentasi Tes tertulis dilaksanakan setelah proses pembelajaran (Pertemuan 5) dengan menggunakan Lembar Penilaian (LP) 4.1. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 51
  • 64.
    CONTOH 2: RENCANAPELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS CTL Sekolah : SMP Mata Pelajaran : IPA Kelas / Semester : VII / 1 Standar Kompetensi 3. Memahami wujud zat dan perubahannya 4. Memahami berbagai sifat dalam perubahan fisika dan kimia. 6. Memahami keanekara-gaman makhluk hidup. Kompetensi Dasar 3.1 Menyelidiki sifat-sifat zat berdasarkan wujudnya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari 4.2 Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia 6.2 Mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki Indikator  Mengidentifikasi cara-cara pemisahan campuran dengan cara fisika  Mengidentifikasi cara-cara pemisahan campuran dengan cara kimia  Menentukan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran  Menerapkan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran PERTEMUAN 1 A. Tujuan Pembelajaran Peserta didik mampu: 1. Mengidentifikasi cara-cara pemisahan campuran dengan cara penyaringan 2. Menentukan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran 3. Menerapkan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran 4. Melakukan pengamatan, menuliskan data hasil pengamatan, melakukan inferensi, berkomunikasi B. Materi Pembelajaran Pemisahan campuran dengan cara penyaringan C. Metode Pembelajaran 1.Model :Cooperatif Learning 2.Metode : Demonstrasi Eksperimen Diskusi Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 52
  • 65.
    D.Langkah-langkah 1.Kegiatan Pendahuluan Motivasi: Menunjukkan pada siswa air kotor dan air jernih, kemudian menanyakan kepada siswa: “Terdiri dari apa sajakah campuran tersebut, apakah terdapat organisme di dalamnya? Apakah air tersebut dapat dijernihkan?” Pengetahuan Prasyarat: Mengajukan pertanyaan tentang pengertian campuran Menyampaikan tujuan pembelajaran 2. Kegiatan Inti - Menegaskan tentang permasalahan yang muncul dalam sesi pemotivasian. - Membagi peserta didik kedalam kelompok-kelompok, Tiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa. - Meminta peserta didik untuk membaca LKS dan mendiskusikan dalam kelompok sebelum melakukan percobaan. - Membinbing siswa melakukan percobaan dan memeriksa kegiatan peserta didik apakah sudah dilakukan dengan benar. - Jika masih ada peserta didik /kelompok yang belum dapat melakukan den- gan benar ,guru dapat langsung memberikan bimbingan. - Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya - Memberi penghargaan pada semua kelompok yang telah melakukan per- cobaan dan mempresentasikan hasilnya sesuai kinerja kelompok. - Mengklarifikasi konsep yang telah didapat siswa, dilanjutkan dengan diskusi tentang berbagai kemungkinan pemisahan campuran selain pen- yaringan. 3. Kegiatan Penutup - Guru membimbing siswa merangkum pelajaran. - Penugasan Terstruktur: Memberikan tugas lanjutan dari kegiatan yang telah dilakukan yaitu menggunakan bahan-bahan lain yang dapat digunakan un- tuk menyaring air dan membandingkan hasilnya dengan kelompok lain. Tu- gas dikumpulkan pada pertemuan berikutnya.ahan- apakah yang kamu pikir dapat digunakan sebagai penyaring air? Lakukan kegiatan ini dengan menggunakbahan-bahan yang E. Sumber Belajar 1. Buku siswa 2. LKS 3. Alat dan bahan untuk kegiatan siswa dalam pertemuan ini, meliputi: a. botol plastik 2l bekas air mineral b. air kolam c. kerikil d. pasir e. ijuk f. pisau Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 53
  • 66.
    PERTEMUAN 2 A.Tujuan Pembelajaran Peserta didik dapat : 1. Mengidentifikasi cara-cara pemisahan campuran dengan cara destilasi 2. Menentukan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran 3. Menerapkan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran 4. Melakukan pengamatan, menuliskan data hasil pengamatan, melakukan inferensi, berkomunikasi B.Materi Pembelajaran Pemisahan campuran dengan cara destilasi dan kristalisasi C.Model Pembelajaran Pendekatan : Pembelajaran Kooperatif Metode : Pengamatan, Diskusi D.Langkah-langkah 1. Kegiatan pendahuluan Motivasi: Menanyakan kegiatan tugas lanjutan, selanjutnya menanyakan: “Bagaimanakah memperoleh air tawar dari air asin? ” (Arahkan dalam konteks penjernihan air untuk memperoleh air tawar) Pengetahuan Prasyarat: Mengajukan pertanyaan tentang penguapan dan pengembunan Menyampaikan tujuan pembelajaran 2. Kegiatan inti - Menegaskan tentang permasalahan yang muncul dalam sesi pemotivasian dan berdiskusi tentang penguapan dan pengembunan. - Membagi peserta didik kedalam kelompok-kelompok, Tiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa. - Meminta peserta didik untuk membaca LKS dan mendiskusikan dalam kelompok sebelum melakukan percobaan. - Membinbing siswa melakukan percobaan dan memeriksa kegiatan peserta didik apakah sudah dilakukan dengan benar. - Jika masih ada peserta didik /kelompok yang belum dapat melakukan den- gan benar ,guru dapat langsung memberikan bimbingan. - Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya - Memberi penghargaan pada semua kelompok yang telah melakukan per- cobaan dan mempresentasikan hasilnya sesuai kinerja kelompok. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 54
  • 67.
    - Mengklarifikasi konsep yang telah didapat siswa, dilanjutkan dengan diskusi tentang penerapan lain destilasi. Mendiskusikan pemisahan campu- ran selain penyaringan dan destilasi, yakni kristalisasi. 3. Kegiatan penutup - Guru besama peserta didik membuat kesimpulan rangkuman hasil belajar - Guru memberikan kuis untuk mengetahui daya serap materi yang baru saja dipelajari E. Sumber Belajar 1. Buku siswa 2. LKS 3. Alat dan bahan untuk kegiatan siswa dalam pertemuan ini, meliputi: a. botol plastik 2l bekas air mineral b. air kolam c. kerikil d. pasir e. ijuk f. pisau PERTEMUAN KETIGA A. Tujuan Peserta didik dapat 1. Mengidentifikasi cara-cara pemisahan campuran dengan cara kimia (koagulasi) 2. Menentukan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran 3. Menerapkan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran B. Materi Pembelajaran Pemisahan campuran C.Model Pembelajaran Pendekatan : Pembelajaran Kooperatif Metode : Diskusi dan Penerapan Strategi Belajar (membuat peta konsep) D. Langkah-langkah 1. Kegiatan Pendahuluan Motivasi dan apersepsi - Menanyakan:”Pernahkah kamu melihat tawas?” Guru menunjukkan tawas. Menanyakan kegunaan tawas (diarahkan untuk penjernihan air) - Menyampaikan tujuan pembelajaran 2. Kegiatan inti - Guru meminta peserta didik membaca secara individual materi tentang cara pemisahan campuran secara kimia dalam di Buku Siswa (Pengelolaan Air Minum) Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 55
  • 68.
    - Membagi peserta didik kedalam kelompok-kelompok, Tiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa. - Meminta kelompok untuk membuat poster tentang proses pengolahan air sungai atau danau menjadi air minum. Poster dapat berupa diagram alir, peta konsep, atau sesuai kreasi anak. - Membinbing siswa melakukan kegiatannya. - Jika masih ada peserta didik /kelompok yang belum dapat melakukan den- gan benar ,guru dapat langsung memberikan bimbingan. - Peserta didik menempelkan poster hasil kerja kelompoknya dan diamati kelompok lain - Memberi penghargaan pada semua kelompok yang telah melakukan per- cobaan dan mempresentasikan hasilnya sesuai kinerja kelompok. - Mengklarifikasi konsep yang telah didapat siswa, dilanjutkan dengan diskusi tentang pemisahan campuran secara kimia yang lain. 3. Kegiatan penutup - Guru besama peserta didik membuat kesimpulan rangkuman hasil belajar - Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur: Guru menginformasikan untuk mem- baca dan mempelajari Buku Siswa dan sumber belajar yang lain. E. Sumber belajar 1.Buku Siswa 2.Peralatan untuk membuat poster F. Penilaian 1.Teknik penilaian dan bentuk instrumen Teknik Bentuk Instrumen Tes unjuk kerja Lembar Observasi (rating scale) Tes tulis Isian 2. Contoh instrumen Tes Tulis: Misalkan terdapat campuran air asin dan pasir. Tuliskan langkah-langkah pemisahannya, sehingga kamu mendapatkan air tawar, garam, dan pasir! Kriteria penskoran: 4: semua langkah teridentifikasi, urutan langkah ditulis dengan benar 3: ada langkah yang tidak terlalu prinsip tidak teridentifikasi, urutan langkah ditulis dengan benar 2: ada langkah prinsip tidak teridentifikasi, ada langkah yang ditulis tidak urut 1: ada langkah prinsip tidak teridentifikasi, ada langkah prinsip tidak tertulis 0: tidak mengerjakan Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 56
  • 69.
    Lembar Observasi yangdikembangkan sebagai berikut. Lembar Observasi terhadap Kinerja Ilmiah Siswa No Aspek Yang Diamati Skor 0 (tidak ada) 1 (kurang) 2 (sedang) 3 (baik) 1 Melakukan pengamatan 2 Menuliskan data pengamatan 3 Melakukan tafsiran terhadap data 4 Mengkomunikasikan Kriteria Penilaian skor yang didapat nilai = × 100 skor total Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 57
  • 70.
    PEMBELAJARAN TERPADU A. LATARBELAKANG Pembelajaran terpadu merupakan proses pembelajaran yang bersifat menyeluruh atau holistik. Pendekatan ini menempatkan siswa dalam posisi sentral, siswa sebagai peserta didik yang aktif, terutama dalam keterampilan berpikir. Beberapa keterampilan berpikir dikembangkan dalam pembelajaran ini, seperti: mengamati, membedakan, mengurutkan, menduga dan mengukur, mengelompokan, bertanya, merumuskan hipotesis, membandingkan, menganalisis, memadukan, menggenarilasisikan, menilai, memperkirakan, menginterpretasikan, merencanakan, melakukan percobaan, berkomunikasi, berpikir konvergen, berpikir divergen, berpikir induktif, berpikir deduktif, menyimpulkan, mengambil keputusan. Kemungkinan Bentuk Penerapan Pembelajaran Terpadu (IPA Terpadu, IPS Terpadu. Tematik) Menurut Joni (1996) didasarkan pada pengaitan konseptual intra dan/atau antar bidang studi yang terjadi secara spontan, dengan program kegiatan belajar-mengajar yang dilaksanakan secara sepenuhnya mengikuti kurikulum yang isinya masih terkotak-kotak berdasarkan bidang studi agar terorganisasi secara terstruktur, lebih eksplisit dan bertolak dari tema-tema. Model Pengintegrasian Kurikulum tersebut menurut Forgaty (1991) digambarkan seperti pada tabel berikut: Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 58
  • 71.
    PENGINTEGRASIAN KURIKULUM MODEL RENTANGAN DESKRIPSI Mata Pelajaran Terpisah fragmented Tiap Mapel disampaikan terpisah. connected Suatu konsep dipertautkan dengan konsep lain. nested Selain target di Mapel ada target multiketerampilan Integrasi beberapa Mata Sequenced beberapa topik diatur ulang serta Pelajaran diurutkan agar dapat serupa satu sama lain. shared dua mata pelajaran yang sama-sama diajarkan dengan menggunakan konsep-konsep atau keterampilan- keterampilan yang tumpang tindih (overlap). Webbed Berangkat dari tema yang dibangun (terjala/tematik) bersama-sama antara guru dengan siswa, atas dasar beberapa topik pada beberapa mata pelajaran yang berhubungan. pendekatan metakurikuler digunakan threaded untuk mencapai beberapa keterampilan dan tingkatan logika para siswa dengan berbagai mata pelajaran. guru masing-masing mata pelajaran integrated bekerja sama melihat dan memberikan topik-topik yang berkaitan dan tumpang tindih. Lintas Peserta didik immersed berpusat untuk mengakomodasikan kebutuhan para siswa, di mana mereka akan melihat apa yang dipelajarinya dari minat dan pengalaman mereka sendiri. networked jaringan kerja dengan orang-orang yang memiliki keahlian untuk membantu bagian dari pekerjaannya yang lebih bersifat implementatif. Mereka akan bekerja secara terpadu sesuai dengan topik pekerjaan yang mengikat mereka. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 59
  • 72.
    Model-model pembelajaran berpikir yang dapat digunakan dalam pembelajaran terpadu adalah: pemecahan masalah, evaluasi kritis, penyelidikan, pengambilan keputusan, berpikir kritis, berpikir kreatif. Beberapa kegiatan utama dari model-model pembelajaran berpikir ini diuraikan sebagai berikut: 1. Pemecahan Masalah • Menghimpun fakta-fakta, • Merumuskan masalah, • Mengembangkan ide, pemikiran, alternative pemecahan, • Menentukan alternatif pemecahan, • Menyusun rencana tindakan pelaksanaan. 2. Berpikir Kritis • Menjelaskan ide dan pemikiran • Menentukan tingkat ketepatan informasi dasar (hasil pengamatan dan komunikasi). • Menyusun argumentasi dan penyimpulan (berdasarkan data dan konsep) 3. Berpikir Kreatif • Pengembangan ide-ide dalam beberapa kategori (kelenturan berpikir) • Pengembangan ide baru (kemurnian berpikir) • Penyempurnaan ide (elaborasi pemikiran) 4. Evaluasi Kritis • Menentukan kriteria • Menyusun alternative pemikiran, pemecahan, • Membuat perkiraan dan menentukan keputusan, • Memberikan alas an, argumentasi bagi keputusan. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 60
  • 73.
    B. TUJUAN DANMANFAAT PEMBELAJARAN TERPADU • Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran • Meningkatkan minat dan motivasi • Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus • Motivasi belajar peserta didik dapat diperbaiki dan ditingkatkan. • Pembelajaran terpadu membantu menciptakan struktur kognitif yang dapat menjembatani antara pengetahuan awal peserta didik dengan pengalaman belajar yang terkait, sehingga pemahaman menjadi lebih terorganisasi dan mendalam, sehingga memudahkan memahami hubungan materi dari satu konteks ke konteks lainnya. • Akan terjadi peningkatan kerja sama antar guru sub bidang kajian terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, peserta didik/guru dengan nara sumber; sehingga belajar lebih menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang lebih bermakna. • Dengan menggabungkan berbagai bidang kajian akan terjadi penghematan waktu, karena ketiga atau lebih disiplin ilmu dapat dibelajarkan sekaligus. Tumpang tindih materi juga dapat dikurangi bahkan dihilangkan. • Peserta didik dapat melihat hubungan yang bermakna antar konsep dalam disiplin ilmu tersebut. • Meningkatkan taraf kecakapan berpikir peserta didik, karena peserta didik dihadapkan pada gagasan atau pemikiran yang lebih luas dan lebih dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran. • Pembelajaran terpadu menyajikan penerapan/aplikasi tentang dunia nyata yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 61
  • 74.
    memudahkan pemahaman konsepdan kepemilikan kompetensi dari mata pelajaran yang dipadukan. C. JENIS-JENIS PEMBELAJARAN TERPADU Pembelajaran yang dimungkinkan untuk dipadukan adalah mata pelajaran Kimia, Biologi dan Fisika menjadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Terpadu. Sedangkan kajian tentang sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, psikologi sosial menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu. Dalam hal ini Guru bekerja sama melihat dan memberikan topik-topik yang berkaitan dan tumpang tindih (dengan mencermati indikator yang telah disusun) dan memadukannya. Kemungkinan pada pemaduan IPA adalah Connected, Webbed (tematik) dan Integrated. D. PEMBELAJARAN IPA TERPADU 1. PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (discovery). Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 62
  • 75.
    peserta didik untukmemperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Secara umum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMP/MTs, meliputi mata pelajaran fisika, bumi antariksa, biologi, dan kimia yang sebenarnya sangat berperan dalam membantu anak untuk memahami fenomena alam. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah mengalami uji kebenaran melalui metode ilmiah, dengan ciri: objektif, metodik, sistematis, universal, dan tentatif. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan ilmu yang pokok bahasannya adalah alam dan segala isinya. Carin dan Sund (1993) mendefinisikan IPA sebagai “pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen”. Merujuk pada pengertian IPA itu, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA meliputi empat unsur utama yaitu: • sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, mahluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar; IPA bersifat open ended; • proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan; • produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum; • aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 63
  • 76.
    Keempat unsur itumerupakan ciri IPA yang utuh yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam proses pembelajaran IPA keempat unsur itu diharapkan dapat muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami proses pembelajaran secara utuh, memahami fenomena alam melalui kegiatan pemecahan masalah, metode ilmiah, dan meniru cara ilmuwan bekerja dalam menemukan fakta baru. Kecenderungan pembelajaran IPA pada masa kini adalah peserta didik hanya mempelajari IPA sebagai produk, menghafalkan konsep, teori dan hukum. Keadaan ini diperparah oleh pembelajaran yang beriorientasi pada tes/ujian. Akibatnya IPA sebagai proses, sikap, dan aplikasi tidak tersentuh dalam pembelajaran. Pengalaman belajar yang diperoleh di kelas tidak utuh dan tidak berorientasi tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pembelajaran lebih bersifat teacher-centered, guru hanya menyampaikan IPA sebagai produk dan peserta didik menghafal informasi faktual. Peserta didik hanya mempelajari IPA pada domain kognitif yang terendah. Peserta didik tidak dibiasakan untuk mengembangkan potensi berpikirnya. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak peserta didik yang cenderung menjadi malas berpikir secara mandiri. Cara berpikir yang dikembangkan dalam kegiatan belajar belum menyentuh domain afektif dan psikomotor. Alasan yang sering dikemukakan oleh para guru adalah keterbatasan waktu, sarana, lingkungan belajar, dan jumlah peserta didik per kelas yang terlalu banyak. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 64
  • 77.
    Abad 21 ditandaioleh pesatnya perkembangan IPA dan teknologi dalam berbagai bidang kehidupan di masyarakat, terutama teknologi informasi dan komunikasi. Oleh karena itu, diperlukan cara pembelajaran yang dapat menyiapkan peserta didik untuk melek IPA dan teknologi, mampu berpikir logis, kritis, kreatif, serta dapat berargumentasi secara benar. Dalam kenyataan, memang tidak banyak peserta didik yang menyukai mata pelajaran IPA, karena dianggap sukar, keterbatasan kemampuan peserta didik, atau karena mereka tak berminat menjadi ilmuwan atau ahli teknologi. Namun demikian, mereka tetap berharap agar pembelajaran IPA di sekolah dapat disajikan secara menarik, efisien, dan efektif. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang akan dicapai peserta didik yang dituangkan dalam empat aspek yaitu, makhluk hidup dan proses kehidupan, materi dan sifatnya, energi dan perubahannya, serta bumi dan alam semesta. Indikator pencapaian kompetensi dikembangkan oleh sekolah, disesuaikan dengan lingkungan setempat, dan media serta lingkungan belajar yang ada di sekolah. Semua ini ditujukan agar guru dapat lebih aktif, kreatif, dan melakukan inovasi dalam pembelajaran tanpa meninggalkan isi kurikulum. Melalui pembelajaran IPA terpadu, diharapkan peserta didik dapat membangun pengetahuannya melalui cara kerja ilmiah, bekerja sama dalam kelompok, belajar berinteraksi dan berkomunikasi, serta bersikap ilmiah. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 65
  • 78.
    2. KARAKTERISTIK MATAPELAJARAN IPA Ilmu Pengetahuan Alam didefinisikan sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui pengumpulan data dengan eksperimen, pengamatan, dan deduksi untuk menghasilkan suatu penjelasan tentang sebuah gejala yang dapat dipercaya. Ada tiga kemampuan dalam IPA yaitu: (1) kemampuan untuk mengetahui apa yang diamati, (2) kemampuan untuk memprediksi apa yang belum diamati, dan kemampuan untuk menguji tindak lanjut hasil eksperimen, (3) dikembangkannya sikap ilmiah. Kegiatan pembelajaran IPA mencakup pengembangan kemampuan dalam mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, memahami jawaban, menyempurnakan jawaban tentang “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana” tentang gejala alam maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis yang akan diterapkan dalam lingkungan dan teknologi. Kegiatan tersebut dikenal dengan kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode ilmiah. Metode ilmiah dalam mempelajari IPA itu sendiri telah diperkenalkan sejak abad ke-16 (Galileo Galilei dan Francis Bacon) yang meliputi mengidentifikasi masalah, menyusun hipotesa, memprediksi konsekuensi dari hipotesis, melakukan eksperimen untuk menguji prediksi, dan merumuskan hukum umum yang sederhana yang diorganisasikan dari hipotesis, prediksi, dan eksperimen. Dalam belajar IPA peserta didik diarahkan untuk membandingkan hasil prediksi peserta didik dengan teori melalui eksperimen dengan menggunakan metode ilmiah. Pendidikan IPA di sekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, yang didasarkan pada Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 66
  • 79.
    metode ilmiah. Pembelajaran IPA menekankan pada pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik mampu memahami alam sekitar melalui proses “mencari tahu” dan “berbuat”, hal ini akan membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Keterampilan dalam mencari tahu atau berbuat tersebut dinamakan dengan keterampilan proses penyelidikan atau “enquiry skills” yang meliputi mengamati, mengukur, menggolongkan, mengajukan pertanyaan, menyusun hipotesis, merencanakan eksperimen untuk menjawab pertanyaan, mengklasifikasikan, mengolah, dan menganalisis data, menerapkan ide pada situasi baru, menggunakan peralatan sederhana serta mengkomunikasikan informasi dalam berbagai cara, yaitu dengan gambar, lisan, tulisan, dan sebagainya. Melalui keterampilan proses dikembangkan sikap dan nilai yang meliputi rasa ingin tahu, jujur, sabar, terbuka, tidak percaya tahyul, kritis, tekun, ulet, cermat, disiplin, peduli terhadap lingkungan, memperhatikan keselamatan kerja, dan bekerja sama dengan orang lain. Oleh karena itu pembelajaran IPA di sekolah sebaiknya: (1) memberikan pengalaman pada peserta didik sehingga mereka kompeten melakukan pengukuran berbagai besaran fisis, (2) menanamkan pada peserta didik pentingnya pengamatan empiris dalam menguji suatu pernyataan ilmiah (hipotesis). Hipotesis ini dapat berasal dari pengamatan terhadap kejadian sehari-hari yang memerlukan pembuktian secara ilmiah, (3) latihan berpikir kuantitatif yang mendukung kegiatan belajar matematika, yaitu Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 67
  • 80.
    sebagai penerapan matematikapada masalah-masalah nyata yang berkaitan dengan peristiwa alam, (4) memperkenalkan dunia teknologi melalui kegiatan kreatif dalam kegiatan perancangan dan pembuatan alat- alat sederhana maupun penjelasan berbagai gejala dan keampuhan IPA dalam menjawab berbagai masalah. 3. TUJUAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU Tujuan pembelajaran IPA Terpadu adalah sebagai berikut. a. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran Dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai peserta didik masih dalam lingkup disiplin ilmu fisika, kimia, dan biologi. Banyak ahli yang menyatakan pembelajaran IPA yang disajikan secara disiplin keilmuan dianggap terlalu dini bagi anak usia 7-14 tahun, karena anak pada usia ini masih dalam transisi dari tingkat berpikir operasional konkret ke berpikir abstrak. Lagi pula, anak melihat dunia sekitarnya masih secara holistik. Atas dasar itu, pembelajaran IPA hendaknya disajikan dalam bentuk yang utuh dan tidak parsial. Di samping itu pembelajaran yang disajikan terpisah- pisah dalam fisika, biologi, kimia, dan bumi-alam semesta memungkinkan adanya tumpang tindih dan pengulangan, sehingga membutuhkan waktu dan energi yang lebih banyak, serta membosankan bagi peserta didik. Bila konsep yang tumpang tindih dan pengulangan dapat dipadukan, maka pembelajaran akan lebih efisien dan efektif. Keterpaduan mata pelajaran dapat mendorong guru untuk mengembangkan kreativitas tinggi karena adanya tuntutan untuk Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 68
  • 81.
    memahami keterkaitan antarasatu materi dengan materi yang lain. Guru dituntut memiliki kecermatan, kemampuan analitik, dan kemampuan kategorik agar dapat memahami keterkaitan atau kesamaan materi maupun metodologi. b. Meningkatkan minat dan motivasi Pembelajaran terpadu memberikan peluang bagi guru untuk mengembangkan situasi pembelajaan yang utuh, menyeluruh, dinamis, dan bermakna sesuai dengan harapan dan kemampuan guru, serta kebutuhan dan kesiapan peserta didik. Dalam hal ini, pembelajaran terpadu memberikan peluang bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan tema yang disampaikan. Pembelajaran IPA Terpadu dapat mempermudah dan memotivasi peserta didik untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami keterkaitan atau hubungan antara konsep pengetahuan dan nilai atau tindakan yang termuat dalam tema tersebut. Dengan model pembelajaran yang terpadu dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari, peserta didik digiring untuk berpikir luas dan mendalam untuk menangkap dan memahami hubungan konseptual yang disajikan guru. Selanjutnya peserta didik akan terbiasa berpikir terarah, teratur, utuh, menyeluruh, sistemik, dan analitik. Peserta didik akan lebih termotivasi dalam belajar bila mereka merasa bahwa pembelajaran itu bermakna baginya, dan bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajarinya. c. Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus Model pembelajaran IPA terpadu dapat menghemat waktu, tenaga, dan sarana, serta biaya karena pembelajaran beberapa kompetensi dasar Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 69
  • 82.
    dapat diajarkan sekaligus.Di samping itu, pembelajaran terpadu juga menyederhanakan langkah-langkah pembelajaran. Hal ini terjadi karena adanya proses pemaduan dan penyatuan sejumlah standar kompetensi, kompetensi dasar, dan langkah pembelajaran yang dipandang memiliki kesamaan atau keterkaitan. 4. PEMADUAN KONSEP DALAM PEMBELAJARAN IPA Salah satu kunci pembelajaran terpadu yang terdiri atas beberapa mata pelajaran adalah menyediakan lingkungan belajar yang menempatkan peserta didik mendapat pengalaman belajar yang dapat menghubungkaitkan konsep-konsep dari berbagai submata-pelajaran. Pengertian terpadu di sini mengandung makna menghubungkan IPA dengan berbagai mata pelajaran (Carin 1997;236). Lintas submata pelajaran dalam IPA adalah mengkoordinasikan berbagai disiplin ilmu seperti biologi, fisika, kimia, geologi, dan astronomi. Sebenarnya IPA dapat juga dipadukan dengan mata pelajaran lain di luar bidang kajian IPA dan hal ini lebih sesuai untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Mengingat pembahasan materi IPA pada tingkat lebih tinggi semakin luas dan mendalam, maka pada jenjang pendidikan SMP/MTs dan SMA/MA, akan lebih baik bila keterpaduan dibatasi pada mata pelajaran yang termasuk bidang kajian IPA saja. Hal ini dimaksudkan agar tidak terlalu banyak guru yang terlibat, yang akan membuka peluang timbulnya kesulitan dalam pembelajaran dan penilaian, mengingat semakin tinggi jenjang pendidikan, maka semakin dalam dan luas pula pemahaman konsep yang harus diserap oleh peserta didik. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 70
  • 83.
    Pembelajaran terpadu diawalidengan penentuan TEMA, karena penentuan tema akan membantu peserta didik dalam beberapa aspek yaitu: α. peserta didik yang bekerja sama dengan kelompoknya akan lebih bertanggung jawab, berdisiplin, dan mandiri; β. peserta didik menjadi lebih percaya diri dan termotivas dalam belajar bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajarinya; χ. peserta didik lebih memahami dan lebih mudah mengingat karena mereka ‘mendengar’, ‘berbicara’, ‘membaca’, ‘menulis’ dan ‘melakukan’ kegiatan menyelidiki masalah yang sedang dipelajarinya; δ. memperkuat kemampuan berbahasa peserta didik; ε. belajar akan lebih baik bila peserta didik terlibat secara aktif melalui tugas proyek, kolaborasi, dan berinteraksi dengan teman, guru, dan dunia nyata. Oleh karena itu, jika guru hendak melakukan pembelajaran terpadu dalam IPA, sebaiknya memilih tema yang menghubungkaitkan antara IPA–lingkungan- teknologi-masyarakat. Berikut ini diberikan contoh pembelajaran IPA Terpadu dengan tema yang bernuansa IPA-lingkungan-teknologi-masyarakat. Contoh 1: TEMA SERANGGA/INSEKTA Insekta merupakan hewan invertebrata yang banyak ditemukan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Insekta merupakan salah satu kelas dari Phylum Arthropoda dengan anggota yang terbanyak dan tingkat keanekaragaman yang sangat tinggi. Pada umumnya insekta bersayap, namun ada pula yang tak bersayap. Ada yang bermetamorfosis sempurna Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 71
  • 84.
    dan ada pulayang tidak. Habitat insekta juga tersebar sangat luas, di darat sebagai hewan yang hidup di tanah, di pohon,di dalam air, dan sebagai hewan terbang. Peranannya dalam kehidupan juga sangat luas, sebagai komponen penting dalam rantai makanan, sebagai hama tanaman, sebagai penyerbuk tanaman, sebagai vektor berbagai penyakit pada hewan dan manusia, dan masih banyak lagi peranan insekta. Begitu luasnya pembahasan tentang insekta, sehingga bila disampaikan dalam pembelajaran akan memerlukan waktu yang cukup banyak, dan mungkin juga konsepnya sulit dipahami peserta didik. Topik/pokok bahasan tentang Insekta juga tidak ditemukan dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. akan tetapi guru dapat memilih tema insekta mengingat banyak masalah kesehatan dan lingkungan yang terkait dengan insekta. Misalnya, merebaknya penyakit demam berdarah, malaria, penyakit kaki gajah yang vektor penyebarannya adalah insekta. Jadi pembahasan topik ini dapat menjadi bahan pengayaan untuk meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang peranan insekta dalam ekosistem, mengasah kepekaan peserta didik terhadap kebersihan lingkungan, memahami rantai makanan, dan penyebab timbulnya ledakan hama. Topik ini bersifat kontekstual di daerah pertanian dan daerah pantai, tetapi untuk daerah perkotaan mungkin agak sulit dilaksanakan, namun dapat dicoba. Dengan insekta sebagai tema sentral, maka dapat dibuat jaringan tema berikut: Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 72
  • 85.
    Mencari informasi dari buku yang Kunjungan ke tempat Proyek:Koleksi relevan pemeliharaan lebah insekta dan mewawancarai peternak Mempelajari klasifikasi Menyelidiki siklus insekta INSEKTA hidup berbagai insekta seran Menyelidiki tentang serangga penyerbuk Penyelidikan tentang siklus hidup nyamuk Mempelajari istilah tentang bagian tubuh Menyelidiki pengaruh Menyelidiki insekta perubahan lingkungan habitat serangga thd populasi serangga dalam ekosistem vektor penularan penyakit Gambar 2.1. Jaringan tema insekta Kompetensi dasar untuk jaringan tema ”insekta” pada gambar 2.1 di atas mungkin tidak termuat dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar seluruhnya, namun dapat menjadi inspirasi untuk memotivasi peserta didik yang berminat melakukan penyelidikan tentang insekta. Dalam pembelajaran ini sekaligus kita menerapkan metode ilmiah dan mengembangkan keterampilan proses IPA dan kemampuan pemecahan masalah. Inilah contoh fleksibilitas kurikulum untuk mengembangkan potensi peserta didik. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 73
  • 86.
    5. PENGEMBANGAN PEMBELAJARANIPA TERPADU a. PERENCANAAN Keberhasilan pembelajaran terpadu akan lebih optimal jika perencanaan mempertimbangkan kondisi dan potensi peserta didik (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik sudah tercantum dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar per submata pelajaran IPA. Ada berbagai model dalam mengembangkan pembelajaran IPA Terpadu yang dapat dilihat pada alur penyusunan perencanaan pembelajaran terpadu berikut ini: Menetapkan mata Membuat matriks atau pelajaran yang akan bagan hubungan dipadukan kompetensi dasar dan tema atau topik pemersatu Mempelajari Standar kompetensi dan kompetensi dasar mata Merumuskan indikator pelajaran yang pembelajaran terpadu dipadukan Memilih/menetapkan Menyusun silabus tema atau topik pembelajaran terpadu pemersatu Menyusun desain pembelajaran/rencana pelaksannan pembelajaran terpadu Gambar 3.1 Alur Penyusunan Perencanaan Pembelajaran Terpadu Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 74
  • 87.
    Langkah (1): Menetapkan mata pelajaran yang akan dipadukan. Pada saat menetapkan beberapa mata pelajaran yang akan dipadukan sebaiknya sudah disertai dengan alasan atau rasional yang berkaitan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar oleh peserta didik dan kebermaknaan belajar. Contoh lihat lampiran. Langkah (2): Mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar dari mata pelajaran yang akan dipadukan. Pada tahap ini dilakukan pengkajian atas kompetensi dasar pada semester dan kelas yang sama, antarsemester pada kelas yang sama, antarsemester dan kelas yang berbeda dari beberapa submata pelajaran IPA yang memungkinkan untuk diajarkan secara terpadu. Berikut ini contoh peta kompetensi dasarIPA terpadu untuk SMP kelasVII CONTOH PETA KOMPETENSI DASAR IPA TERPADU Mata Pelajaran : IPA Kelas : VII KD MP Fisika KD MP Kimia KD MP Biologi Tema Waktu 5.1 Melaksanakan 20 x 40’ 2.2 Melakukan Kerja pengamatan objek 1.1 Mendeskripsik percobaan Ilmiah secara terencana dan an besaran sederhana sistematis untuk pokok dan dengan bahan- memperoleh besaran bahan yang informasi gejala alam turunan beserta diperoleh biotik dan a-biotik. satuannya dalam kehidupan sehari-hari. 3.1 Menyelidiki 6.2 2.3 Melakukan Penjernih sifat-sifat zat Mengklasifikasikan 20 x 40’ pemisahan an Air berdasarkan makhluk hidup campuran wujudnya dan berdasarkan ciri-ciri dengan penerapannya yang dimiliki berbagai cara dalam kehidupan berdasarkan sehari-hari sifat fisika dan sifat kimia Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 75
  • 88.
    Langkah (3): Memilih dan menetapkan tema atau topik pemersatu. Dalam memilih tema/topik dapat dirumuskan dengan melihat isu-isu yang terkini, misalnya penyakit demam berdarah, HIV/AIDS, dan lainnya, kemudian baru dilihat koneksitasnya dengan kompetensi dasar dari berbagai submata pelajaran IPA. Contoh lihat lampiran. Langkah (4): Membuat matriks keterhubungan kompetensi dasar dan tema/topik pemersatu. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kaitan antara tema/topik dengan kompetensi dasar yang dapat dipadukan. Contoh lihat lampiran. Langkah (5): Menyusun dan merumuskan indikator pencapaian hasil belajar untuk setiap kompetensi dasar dari submata pelajaran yang dipadukan. Contoh lihat lampiran. Langkah (6): Menyusun silabus pembelajaran IPA terpadu, dikembangkan dari berbagai indikator submata pelajaran IPA menjadi beberapa pengalaman belajar yang konsep keterpaduan atau keterkaitan menyatu antara beberapa submata pelajaran IPA. Contoh lihat lampiran. Langkah (7): Menjabarkan silabus menjadi desain pembelajaran atau rencana pelaksanaan pembelajaran untuk setiap pertemuan. Contoh lihat lampiran. b. MODEL PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU (Desain Pembelajaran/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Model pembelajaran dalam hal ini adalah menjabarkan silabus menjadi desain pembelajaran/rencana pelaksanaan pembelajaran terpadu, dikemas dalam kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup/tindak lanjut. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 76
  • 89.
    Kegiatan Awal/Pendahuluan Kegiatan pendahuluan merupakan kegiatan awal yang harus ditempuh guru dan peserta didik pada setiap kali pelaksanaan pembelajaran terpadu. Fungsinya untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif, yang memungkinkan peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Efisiensi waktu dalam kegiatan awal ini perlu diperhatikan, karena waktu yang tersedia relatif singkat yaitu antara 5-10 menit. Dengan waktu yang relatif singkat tersebut, diharapkan guru dapat menciptakan kondisi awal pembelajaran dengan baik sehingga peserta didik siap mengikuti pembelajaran dengan seksama. Langkah-langkah dalam kegiatan pendahuluan ini terdiri atas beberapa tahap yaitu: 1. menarik perhatian peserta didik untuk menumbuhkan kesiapan belajar; 2. memotivasi peserta didik: membangkitkan semangat dan minat peserta didik untuk siap menerima pelajaran; 3. memberikan acuan topik yang akan dibahas; 4. mengaitkan topik yang akan dipelajari dengan topik yang telah dipelajari yang dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan tentang topik yang sudah dipelajari sebelumnya dan memberikan komentar atas jawaban peserta didik Dalam kegiatan pendahuluan ini guru dapat pula melakukan penilaian awal peserta didik (tes awal) yang dapat diberikan secara lisan maupun tertulis. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 77
  • 90.
    Kegiatan Inti Kegiatan inti merupakan kegiatan pelaksanaan pembelajaran terpadu yang menekankan pada proses pembentukan pengalaman belajar peserta didik (learning experience). Pengalaman belajar dapat terjadi melalui kegiatan tatap muka dan kegiatan nontatap muka. Kegiatan tatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran yang peserta didik dapat berinteraksi langsung dengan guru maupun dengan peserta didik lainnya. Kegiatan nontatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran yang dilakukan peserta didik dengan sumber belajar lain di luar kelas atau di luar sekolah. Kegiatan inti pembelajaran terpadu bersifat situasional, yakni disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam kegiatan inti pembelajaran terpadu, di antaranya adalah sebagai berikut ini. • Kegiatan yang paling awal: Guru memberitahukan tujuan atau kompetensi dasar yang harus dicapai oleh peserta didik beserta garis besar materi yang akan disampaikan. Cara yang paling praktis adalah menuliskannya di papan tulis dengan penjelasan secara lisan mengenai pentingnya kompetensi tersebut yang akan dikuasai oleh peserta didik. • Alternatif kegiatan belajar yang akan dialami peserta didik. Guru menyampaikan kepada peserta didik kegiatan belajar yang harus ditempuh peserta didik dalam mempelajari tema atau topik yang telah ditentukan. Kegiatan belajar hendaknya lebih mengutamakan aktivitas peserta didik, atau berorientasi pada aktivitas peserta didik. Guru hanya sebagai fasilitator yng memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk belajar. Peserta didik diarahkan untuk Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 78
  • 91.
    menemukan sendiri apayang dipelajarinya. Prinsip belajar sesuai dengan ’konstruktivisme’ hendaknya dilaksanakan dalam pembelajaran terpadu Dalam membahas dan menyajikan materi/bahan ajar terpadu harus diarahkan pada suatu proses perubahan tingkah laku peserta didik, penyajian harus dilakukan secara terpadu melalui penghubungan konsep di mata pelajaran yang satu dengan konsep di mata pelajaran lainnya. Guru harus berupaya untuk menyajikan bahan ajar dengan strategi mengajar yang bervariasi, yang mendorong peserta didik pada upaya penemuan pengetahuan baru, melalui pembelajaran yang bersifat klasikal, kelompok, dan perorangan. Kegiatan Akhir/Penutup dan tindak lanjut Waktu yang tersedia untuk kegiatan penutup atau kegiatan akhir pembelajaran terpadu ini cukup singkat. Oleh karena itu guru perlu mengatur dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Secara umum kegiatan penutup ini terdiri atas hal-hal sebagai berikut ini. a) Mengajak peserta didik untuk menyimpulkan materi yang telah diajarkan. b) Melaksanakan tindak lanjut pembelajaran dengan pemberian tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah, menjelaskan kembali bahan yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi pelajaran tertentu, memberikan motivasi atau bimbingan belajar. c) Mengemukakan topik yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya. d) Memberikan evaluasi lisan atau tertulis. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 79
  • 92.
    c. MODEL PENILAIANIPA TERPADU Model penilaian yang dikembangkan mencakup prosedur yang digunakan, jenis dan bentuk penilaian, serta alat evaluasi yang digunakan. Model penilaian ini disesuaikan dengan penilaian berbasis kelas pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Objek penilaian mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Hasil belajar pada hakikatnya merupakan kompetensi-kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi dapat diukur melalui sejumlah hasil belajar yang indikatornya dapat diukur dan diamati. Penilaian proses dan hasil belajar saling berkaitan satu dengan yang lainnya karena hasil belajar merupakan akibat dari proses belajar. Jenis penilaian terpadu terdiri atas tes dan bukan tes. Sistem penilaian dengan menggunakan tes merupakan sistem penilaian konvensional. Sistem ini kurang dapat menggambarkan kemampuan peserta didik secara menyeluruh, sebab hasil belajar digambarkan dalam bentuk angka yang gambaran maknanya sangat abstrak. Oleh karena itu untuk melengkapi gambaran kemajuan belajar secara menyeluruh maka dilengkapi dengan non-tes. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 80
  • 93.
    PENILAIAN Pengetahuan, Non keterampilan, Tes tes sikap, dan nilai Tes lisan Tes tertulis Tes perbuatan Skala sikap Tes tertulis/ uraian Tes tertulis/ objektif Daftar periksa Pilihan ganda Kuesioner Tes tertutup/ Benar salah Catatan anekdot terbatas/ Menjodohkan Portofolio terstruktur Isian singkat Catatan sekolah Bebas terbuka Isian panjang Jurnal Cuplikan kerja Isian khusus Model penilaian pembelajaran terpadu Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 81
  • 94.
    Berikut ini adalahcontoh penilaian untuk tema/topik tentang LINGKUNGAN SEKITAR KITA TEMA: LINGKUNGAN SEKITAR KITA KD Indikator Sistem penilaian Prosedur Jenis dan Jenis tagihan Instrumen bentuk Menentukan Mengidentifikasi Tes awal Pilihan ganda Laporan Soal pilihan ekosistem dan satuan dalam Dapat dan isian hasil ganda yang saling ekosistem dan dilakukan pengamatan berkaitan hubungan menyatakan dapat pula dengan antara bahwa matahari tidak pemahaman komponen merupakan tergantung awal peserta ekosistem sumber energi kondisi didik utama dalam mengenai biosfer tema Penugasan Nontes Menggambarkan dalam bentuk diagram rantai makanan dan Lembar jaring-jaring penilaian kehidupan dan laporan menjelaskan peranan masing- masing tingkat trofik Memprediksi Memperkirakan Penugasan Nontes Laporan Lembar pengaruh hubungan antara hasil penilaian kepadatan populasi pengamatan laporan populasi penduduk manusia dengan terhadap kebutuhan air lingkungan bersih dan udara bersih Praktikum 1. Nontes Memperkirakan 2. Tes Laporan Lembar hubungan ukuran perbuatan praktikum penilaian penduduk laporan dengan Lembar kebutuhan penilaian pangan kinerja Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 82
  • 95.
    KD Indikator Sistem penilaian Prosedur Jenis dan Jenis tagihan Instrumen bentuk Menentukan Mengidentifikasi Tes awal Pilihan ganda Laporan Soal pilihan ekosistem dan satuan dalam Dapat dan isian hasil ganda yang saling ekosistem dan dilakukan pengamatan berkaitan hubungan menyatakan dapat pula dengan antara bahwa matahari tidak pemahaman komponen merupakan tergantung awal peserta ekosistem sumber energi kondisi didik utama dalam mengenai biosfer tema Penugasan Nontes Menggambarkan dalam bentuk diagram rantai makanan dan Lembar jaring-jaring penilaian kehidupan dan laporan menjelaskan peranan masing- masing tingkat trofik Memperkirakan hubungan ukuran penduduk dengan kebutuhan lahan Menjelaskan pengaruh meningkatnya populasi penduduk dengan kerusakan lingkungan Menjelaskan pengaruh meningkatnya populasi penduduk dengan kesehatan Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 83
  • 96.
    KD Indikator Sistem penilaian Prosedur Jenis dan Jenis tagihan Instrumen bentuk Menentukan Mengidentifikasi Tes awal Pilihan ganda Laporan Soal pilihan ekosistem dan satuan dalam Dapat dan isian hasil ganda yang saling ekosistem dan dilakukan pengamatan berkaitan hubungan menyatakan dapat pula dengan antara bahwa matahari tidak pemahaman komponen merupakan tergantung awal peserta ekosistem sumber energi kondisi didik utama dalam mengenai biosfer tema Penugasan Nontes Menggambarkan dalam bentuk diagram rantai makanan dan Lembar jaring-jaring penilaian kehidupan dan laporan menjelaskan peranan masing- masing tingkat trofik Mengaplikasik Menjelaskan Penugasan Nontes Karya tulis Lembar an peran pengaruh penilaian manusia pencemaran air, karya tulis dalam udara, dan tanah pengelolaan dalam kaitannya lingkungan dengan kegiatan untuk manusia mengatasi pencemaran Mengemukakan dan kerusakan contoh langkah- lingkungan langkah upaya pengelolaan lingkungan hidup untuk kesejahteraan manusia Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 84
  • 97.
    KD Indikator Sistem penilaian Prosedur Jenis dan Jenis tagihan Instrumen bentuk Menentukan Mengidentifikasi Tes awal Pilihan ganda Laporan Soal pilihan ekosistem dan satuan dalam Dapat dan isian hasil ganda yang saling ekosistem dan dilakukan pengamatan berkaitan hubungan menyatakan dapat pula dengan antara bahwa matahari tidak pemahaman komponen merupakan tergantung awal peserta ekosistem sumber energi kondisi didik utama dalam mengenai biosfer tema Penugasan Nontes Menggambarkan dalam bentuk diagram rantai makanan dan Lembar jaring-jaring penilaian kehidupan dan laporan menjelaskan peranan masing- masing tingkat trofik Mencari Mengelompokkan Praktikum Nontes Lembar informasi bahan kimia dari penilaian tentang kemasan yang Tes perbuatan laporan kegunaan dan digunakan Lembar efek samping sebagai pemutih, penilaian bahan kimia pembersih, kinerja dalam pengharum, dan kehidupan pembasmi sehari-hari serangga Menyelidiki pengaruh penggunaan bahan kimia yang digunakan sebagai pemutih, pembersih, pengharum, dan pembasmi serangga Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 85
  • 98.
    KD Indikator Sistem penilaian Prosedur Jenis dan Jenis tagihan Instrumen bentuk Menentukan Mengidentifikasi Tes awal Pilihan ganda Laporan Soal pilihan ekosistem dan satuan dalam Dapat dan isian hasil ganda yang saling ekosistem dan dilakukan pengamatan berkaitan hubungan menyatakan dapat pula dengan antara bahwa matahari tidak pemahaman komponen merupakan tergantung awal peserta ekosistem sumber energi kondisi didik utama dalam mengenai biosfer tema Penugasan Nontes Menggambarkan dalam bentuk diagram rantai makanan dan Lembar jaring-jaring penilaian kehidupan dan laporan menjelaskan peranan masing- masing tingkat trofik Menjelaskan efek samping penggunaan bahan kimia dalam rumah tangga Menjelaskan Menunjukkan Penugasan Nontes Laporan Lembar Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 86
  • 99.
    KD Indikator Sistem penilaian Prosedur Jenis dan Jenis tagihan Instrumen bentuk Menentukan Mengidentifikasi Tes awal Pilihan ganda Laporan Soal pilihan ekosistem dan satuan dalam Dapat dan isian hasil ganda yang saling ekosistem dan dilakukan pengamatan berkaitan hubungan menyatakan dapat pula dengan antara bahwa matahari tidak pemahaman komponen merupakan tergantung awal peserta ekosistem sumber energi kondisi didik utama dalam mengenai biosfer tema Penugasan Nontes Menggambarkan dalam bentuk diagram rantai makanan dan Lembar jaring-jaring penilaian kehidupan dan laporan menjelaskan peranan masing- masing tingkat trofik hubungan bentuk energi dan hasil penilaian bentuk energi perubahannya pengamatan laporan dan dalam kehidupan perubahan- sehari-hari nya, prinsip "usaha dan Mengaplikasikan energi" serta konsep energi penerapan-nya dan dalam perubahannya kehidupan dalam kehidupan sehari-hari sehari-hari Menjelaskan Menjelaskan Penugasan Nontes Laporan Lembar hubungan proses pelapukan penilaian antara proses di lapisan bumi yang terjadi di berkaitan dengan lapisan litosfer masalah dan atmosfer lingkungan dengan kesehatan dan Menjelaskan Tes akhir Soal Pilihan Kunci Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 87
  • 100.
    KD Indikator Sistem penilaian Prosedur Jenis dan Jenis tagihan Instrumen bentuk Menentukan Mengidentifikasi Tes awal Pilihan ganda Laporan Soal pilihan ekosistem dan satuan dalam Dapat dan isian hasil ganda yang saling ekosistem dan dilakukan pengamatan berkaitan hubungan menyatakan dapat pula dengan antara bahwa matahari tidak pemahaman komponen merupakan tergantung awal peserta ekosistem sumber energi kondisi didik utama dalam mengenai biosfer tema Penugasan Nontes Menggambarkan dalam bentuk diagram rantai makanan dan Lembar jaring-jaring penilaian kehidupan dan laporan menjelaskan peranan masing- masing tingkat trofik permasalah-an proses ganda jawaban dan lingkungan pemanasan global cara dan pengaruhnya penilaian terhadap masalah lingkungan Soal uraian singkat Menjelaskan pengaruh proses- proses di lingkungan terhadap kesehatan manusia Berdasarkan contoh itu, maka guru dapat mempraktikkan beberapa teknik penilaian, baik yang termasuk dalam ranah kognitif, afektik, maupun psikomotor. Tugas berupa laporan baik secara individu maupun kelompok sebaiknya berupa tugas aplikasi, misalnya merupakan hasil Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 88
  • 101.
    pengamatan di luarkelas. Dapat pula berupa tugas sintesis dan evaluasi, misalnya tugas pemecahan masalah lingkungan dan usulan cara penanggulangannya. Melalui penugasan ini maka kemampuan berpikir dan kepekaan peserta didik akan terasah. Untuk keperluan pelaporan hasil penilaian guru dapat memberikan bobot bagi setiap tugas yang diberikan tergantung pada pertimbangan guru sesuai dengan karakteristik tugas, baik tes maupun nontes. Penilaian untuk pelaporan mengacu pada pedoman penilaian dari Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. Oleh karena keterpaduan pembelajaran IPA meliputi mata pelajaran fisika, kimia, biologi, maka dalam pelaporan hasil penilaian tidak menjadi masalah. Ketiganya akan dipadukan menjadi nilai mata pelajaran IPA . 6. IMPLIKASI PEMBELAJARAN IPA TERPADU Sesuatu yang baru atau merupakan inovasi tentu tidak mudah untuk dilaksanakan, karena memerlukan penyesuaian diri dan kemauan untuk beradaptasi. Begitu pula dengan pembelajaran IPA Terpadu. Pembelajaran terpadu biasa dilakukan jenjang pendidikan usia dini, namun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu jenjang SMP/MTs dan SMA/MA. Hasil uji coba menunjukkan bahwa pembelajaran terpadu dapat dilaksanakan. a. Guru Dalam pelaksanaannya, pembelajaran dapat dilakukan oleh tim pengajar atau guru tunggal. Hal ini tergantung pada kondisi sekolah. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 89
  • 102.
    Bila di suatusekolah guru IPA terdiri atas guru fisika, kimia, biologi, maka dalam penyusunan silabus, perencanaan pembelajaran, penggunaan media, dan strategi mengajar sebaiknya dibuat bersama hingga penyusunan alat penilaiannya. Namun dalam pembelajarannya dapat dilakukan oleh guru tunggal. Bila di sekolah, seorang guru mengajar semua mata pelajaran IPA, dan mengalami kesulitan untuk memadukan kompetensi dasar, indikator, dan materi, maka sangat dianjurkan agar guru tersebut bekerja sama dalam kelompok MGMP agar dapat terjadi diskusi tentang perencanaan strategi dan pelaksanaan KBM. Indikator yang sudah dipadukan tidak perlu diajarkan dua kali karena tujuan pembelajaran terpadu adalah efisiensi dan efektivitas dalam pembelajaran. Dalam pelaksanaannya di lapangan, pembelajaran IPA Terpadu terbentur pada masalah-masalah berikut ini. 1. Jadwal pelajaran yang sudah diatur sedemikian rupa dan tak dapat diubah begitu saja. 2. Masalah guru mata pelajaran IPA yang terpisah. 3. Program semester yang telah memuat urutan materi yang akan diajarkan. 4. Penguasaan bahan ajar. 5. Keterpaduan kompetensi yang terjadi lintas kelas. Dalam mengajarkan bahan ajar dilakukan oleh guru mata pelajaran yang dominan. Misalnya bahan ajar tersebut dominan biologi maka yang mengajar sebaiknya guru biologi, atau bersama-sama. Oleh karena itu, pembelajaran IPA terpadu dapat diajarkan oleh guru tunggal atau tim pengajar tergantung pada kesepakatan dan waktu. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 90
  • 103.
    Dalam bab sebelumnyatelah diuraikan, bahwa yang terpenting adalah kerja sama antarguru IPA yang ada di suatu sekolah dalam membuat perencanaan pembelajaran, mulai dari silabus, desain pembelajaran/rencana pelaksanaan pembelajaran hingga kesepakatan dalam bentuk penilaian. Bila hal ini dapat dilaksanakan, maka pembelajaran terpadu dapat meningkatkan kerja sama antarguru IPA, baik yang ada di sekolah maupun dalam lingkup MGMP. Kerja sama ini meliputi saling mempelajari materi dari mata pelajaran yang lain. Selain meningkatkan kerja sama, pembelajaran terpadu juga meningkatkan keharusan bagi guru untuk memperluas wawasan pengetahuannya. Pembelajaran terpadu oleh guru tunggal dapat memperkecil masalah pelaksanaannya yang menyangkut jadwal pelajaran. Secara teknis, pengaturannya dapat dilakukan sejak awal semester atau awal tahun pelajaran. Hal yang perlu dihindarkan adalah pembahasan materi yang tidak seimbang karena wawasan pengetahuan tentang materi pelajaran yang lain kurang memadai. Hal utama yang harus dilakukan guru adalah memahami model pembelajaran terpadu secara konseptual maupun praktikal. b. Peserta didik Bagi peserta didik, pembelajaran terpadu dapat mempertajam kemampuan analitis terhadap konsep-konsep yang dipadukan, karena dapat mengembangkan kemampuan asosiasi konsep dan aplikasi konsep. Pembelajaran terpadu perlu dilakukan dengan variasi metode yang tidak membosankan. Aktivitas pembelajaran harus lebih banyak berpusat pada peserta didik agar dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 91
  • 104.
    c. Bahan Ajar Bahan ajar yang digunakan tidak hanya buku mata pelajaran saja, tetapi dapat dari berbagai mata pelajaran yang direkatkan oleh tema. Peserta didik dapat juga mencari berbagai sumber belajar lainnya. Bahkan bila memungkinkan mereka dapat menggunakan teknologi informasi yang ada. Aktivitas peserta didik dalam penugasan dapat menjadi nilai tambah yang menguntungkan. Dalam pembelajaran terpadu, suatu bahan ajar dapat dibahas dari berberapa mata pelajaran sehingga wawasan peserta didik diharapkan akan lebih terbuka. Di samping itu karena konsep-konsep itu dipadukan dalam suatu pembelajaran, maka akan mengurangi kebosanan peserta didik terhadap pengulangan bahan ajar pada berbagai mata pelajaran. d. Sarana dan Prasarana Dalam pembelajaran terpadu diperlukan berbagai alat dan media pembelajaran. Karena digunakan untuk pembelajaran konsep yang direkatkan oleh tema, maka penggunaan sarana pembelajaran dapat lebih efisien jika dibandingkan dengan pemisahan mata pelajaran. Memang tidak semua konsep dapat dipadukan. Konsep-konsep yang dipilih untuk direkat oleh tema dapat menghemat waktu dan ruang. Berikut contoh Pemetaan Kompetensi Dasar untuk menjadi Tema dalam pembelajaran IPA Terpadu. e. Kekuatan dan Kelemahan Pembelajaran Terpadu Walaupun standar kompetensi dan kompetensi dasar IPA dikembangkan dalam submata pelajaran, pada tingkat pelaksanaan guru memiliki keleluasaan dalam membelajarkan peserta didiknya untuk mencapai kompetensi tersebut. Salah Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 92
  • 105.
    satu contoh yangakan dikembangkan dalam model ini adalah guru dapat mengidentifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dekat dan relevan untuk dikemas dalam satu tema dan disajikan dalam kegiatan pembelajaran yang terpadu. Yang perlu dicatat ialah pemaduan kegiatan dalam bentuk tema sebaiknya dilakukan pada jenjang kelas yang sama dan masih dalam lingkup IPA . Kekuatan/manfaat yang dapat dipetik melalui pelaksanaan pembelajaran terpadu antara laian sebagai berikut. • Dengan menggabungkan berbagai mata pelajaran akan terjadi penghematan waktu, karena ketiga disiplin ilmu (Fisika, Kimia, dan Biologi) dapat dibelajarkan sekaligus. Tumpang tindih materi juga dapat dikurangi bahkan dihilangkan. • Peserta didik dapat melihat hubungan yang bermakna antarkonsep Fisika, Kimia, dan Biologi. • Meningkatkan taraf kecakapan berpikir peserta didik, karena peserta didik dihadapkan pada gagasan atau pemikiran yang lebih luas dan lebih dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran. • Pembelajaran terpadu menyajikan penerapan/aplikasi tentang dunia nyata yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memudahkan pemahaman konsep dan kepemilikan kompetensi IPA. • Motivasi belajar peserta didik dapat diperbaiki dan ditingkatkan. • Pembelajaran terpadu membantu menciptakan struktur kognitif yang dapat menjembatani antara pengetahuan awal peserta didik dengan pengalaman belajar yang terkait, sehingga pemahaman menjadi lebih Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 93
  • 106.
    terorganisasi dan mendalam,sehingga memudahkan memahami hubungan materi IPA dari satu konteks ke konteks lainnya. • Akan terjadi peningkatan kerja sama antarguru submata pelajaran terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, peserta didik/guru dengan narasumber; sehingga belajar lebih menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang lebih bermakna. Di samping kekuatan/manfaat yang dikemukakan itu, model pembelajaran IPA Terpadu juga memiliki kelemahan. Perlu disadari, bahwa sebenarnya tidak ada model pembelajaran yang cocok untuk semua konsep, oleh karena itu model pembelajaran harus disesuaikan dengan konsep yang akan diajarkan. Begitu pula dengan pembelajaran terpadu dalam IPA memiliki beberapa kelemahan, akan tetapi kelemahan tersebut sebagai tantangan untuk terus berupaya diatasi oleh pihak-pihak yang terlibat di sekolah. Beberapa kelemahan yang perlu diatasi diuraikan sebagai berikut ini. a. Aspek Guru: Guru harus berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang tinggi, dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik, guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada mata pelajaran tertentu saja. Tanpa kondisi ini, maka pembelajaran terpadu dalam IPA akan sulit terwujud. b. Aspek peserta didik: Pembelajaran terpadu menuntut kemampuan belajar peserta didik yang relatif “baik”, baik dalam kemampuan akademik maupun kreativitasnya. Hal ini terjadi karena model Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 94
  • 107.
    pembelajaran terpadu menekankanpada kemampuan analitik (mengurai), kemampuan asosiatif (menghubung-hubungkan), kemampuan eksploratif dan elaboratif (menemukan dan menggali). Bila kondisi ini tidak dimiliki, maka penerapan model pembelajaran terpadu ini sangat sulit dilaksanakan. c. Aspek sarana dan sumber pembelajaran: Pembelajaran terpadu memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan bervariasi, mungkin juga fasilitas internet. Semua ini akan menunjang, memperkaya, dan mempermudah pengembangan wawasan. Bila sarana ini tidak dipenuhi, maka penerapan pembelajaran terpadu juga akan terhambat. d. Aspek kurikulum: Kurikulum harus luwes, berorientasi pada pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pencapaian target penyampaian materi). Guru perlu diberi kewenangan dalam mengembangkan materi, metode, penilaian keberhasilan pembelajaran peserta didik. e. Aspek penilaian: Pembelajaran terpadu membutuhkan cara penilaian yang menyeluruh (komprehensif), yaitu menetapkan keberhasilan belajar peserta didik dari beberapa mata pelajaran terkait yang dipadukan. Dalam kaitan ini, guru selain dituntut untuk menyediakan teknik dan prosedur pelaksanaan penilaian dan pengukuran yang komprehensif, juga dituntut untuk berkoordinasi dengan guru lain, bila materi pelajaran berasal dari guru yang berbeda. f. Suasana pembelajaran: Pembelajaran terpadu berkecenderungan mengutamakan salah satu mata pelajaran dan ‘tenggelam’nya mata pelajaran lain. Dengan kata lain, pada saat mengajarkan sebuah Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 95
  • 108.
    TEMA, maka guru berkecenderungan menekankan atau mengutamakan substansi gabungan tersebut sesuai dengan pemahaman, selera, dan latar belakang pendidikan guru itu sendiri. Sekalipun pembelajaran terpadu mengandung beberapa kelemahan selain keunggulannya, sebagai sebuah bentuk inovasi dalam implementasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar perlu dikembangkan lebih lanjut. Untuk mengurangi kelemahan-kelemahan di atas, perlu dibahas bersama antara guru mata pelajaran terkait dengan sikap terbuka. Kesemuanya ini ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pembelajaran IPA. E. PEMBELAJARAN IPS TERPADU 1. PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi sosial itu merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial. Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 96
  • 109.
    kebulatan wawasan yangberkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur sosial, aktivitas- aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual, teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu tentang kebijakan pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol sosial. Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu sosial dan studi-studi sosial. Gambar 1: Keterpaduan Cabang Ilmu Pengetahuan Sosial Sejarah Ilmu Politik Geografi Ekonomi Ilmu Pengetahuan Sosial Psikologi Sosiologi Sosial Filsafat Antropologi 2. KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN IPS Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Ilmu-Ilmu Sosial di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), meliputi bahan kajian: sosiologi, Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 97
  • 110.
    sejarah, geografi, ekonomi,politik, antropologi, filsafat, psikologi sosial. Bahan kajian itu menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Mata pelajaran IPS bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa kehidupan masyarakat (Nursid Sumaatmaja, 1980;20) Dalam implementasinya, perlu dilakukan berbagai studi yang mengarah pada peningkatan efisiensi dan efektivitas layanan dan pengembangan sebagai konsekuensi dari suatu inovasi pendidikan. Salah satu bentuk efisiensi dan efektivitas implementasi kurikulum, perlu dikembangkan berbagai model pembelajaran kurikulum. Karateristik mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/MTs antara lain sebagai berikut. • Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan dan agama (Numan Soemantri, 2001). • Kompetensi Dasar IPS berasal dari struktur keilmuan geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, sosiologi, yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi pokok bahasan atau topik (tema) tertentu. • Kompetensi Dasar IPS juga menyangkut berbagai masalah sosial yang dirumuskan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 98
  • 111.
    Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dapat menyangkut peristiwa dan perubahan kehidupan masyarakat dengan prinsip sebab akibat, kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan, struktur, proses dan masalah sosial serta upaya-upaya perjuangan hidup agar survive seperti pemenuhan kebutuhan, kekuasaan, keadilan dan jaminan keamanan (Daldjoeni, 1981). • Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS menggunakan tiga dimensi dalam mengkaji dan memahami fenomena sosial serta kehidupan manusia secara keseluruhan. Ketiga dimensi tersebut terlihat pada tabel berikut. Dimensi IPS Dalam Kehidupan Manusia Dimensi dalam Ruang Waktu Nilai/Norma kehidupan manusia Area dan substansi Alam sebagai Alam dan Kaidah atau aturan yang pembelajaran tempat dan kehidupan yang menjadi perekat dan penyedia selalu berproses, penjamin keharmonisan potensi sumber masa lalu, saat ini, kehidupan manusia dan daya dan yang akan alam datang Contoh Kompetensi Adaptasi spasial Berpikir Konsisten dengan Dasar yang dan eksploratif kronologis, aturan yang disepakati dikembangkan prospektif, dan kaidah alamiah antisipatif masing-masing disiplin ilmu Alternatif penyajian Geografi Sejarah Ekonomi, dalam mata Sosiologi/Antropologi pelajaran Sumber: Sardiman, 2004 3. TUJUAN PEMBELAJARAN IPS Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 99
  • 112.
    Tujuan utama IlmuPengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program- program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin, 1998). • Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat. • Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial. • Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat. • Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat. • Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat. 4. KONSEP PEMBELAJARAN TERPADU DALAM IPS Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 100
  • 113.
    Pendekatan pembelajaran terpadudalam IPS sering disebut dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3). Salah satu di antaranya adalah memadukan Kompetensi Dasar melalui pembelajaran terpadu siswa dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, siswa terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari. Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang. Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial. a. Model Integrasi Berdasarkan Topik Dalam pembelajaran IPS keterpaduan dapat dilakukan berdasarkan topik yang terkait, misalnya ‘pariwisata’. Pariwisata dalam contoh yang dikembangkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 101
  • 114.
    dalam Ilmu PengetahuanSosial. Pengembangan pariwisata dalam hal ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisis-geografis yang tercakup dalam disiplin Geografi. Secara sosiologis, pariwisata itu juga dapat ditinjau dari partisipasi masyarakat, pengaruhnya terhadap kondisi sosial budaya setempat, dan interaksi antara wisatawan dengan masyarakat lokal. Secara historis dapat dikembangkan melalui sejarah daerah pariwisata tersebut. Keadaan politik juga dapat dikaji pula pada topik pengembangan pariwisata berkaitan dengan pengaruhnya terhadap perkembangan pariwisata. Selanjutnya, dampak pariwisata terhadap perkembangan ekonomi lokal maupun nasional dapat dikembangkan melalui kompetensi yang berkaitan dengan ekonomi. Skema berikut memberikan gambaran keterkaitan suatu topik/tema dengan berbagai disiplin ilmu. Persebaran, Sejarah kondisi fisik perkembangan Sejarah Geografi daerah objek daerah wisata wisata PENGEMBANGAN PARIWISATA Partisipasi Dampak masyarakat Sosiologi Ekonomi terhadap kesejahteraan Pengaruh terhadap Politik masyarakat perkembangan masyarakat di sekitar objek wisata Gambar 2: Model Integrasi IPS Berdasarkan Topik/Tema b. Model Integrasi Berdasarkan Potensi Utama Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 102
  • 115.
    Keterpaduan IPS dapatdikembangkan melalui topik yang didasarkan pada potensi utama yang ada di wilayah setempat; sebagai contoh, “Potensi Bali Sebagai Daerah Tujuan Wisata”. Dalam pembelajaran yang dikembangkan dalam Kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari faktor alam, sosial/antropologis, historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian potensi utama yang terdapat di daerahnya, maka siswa selain dapat memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami Kompetensi Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam Ilmu Pengetahuan Sosial. Keadaan Alam Sosiologis/ antropologis 1. Potensi objek wisata BALI SEBAGAI 2. Memupuk aspirasi terhadap DAERAH TUJUAN kesenian WISATA Keadaan Politik Ekonomi 3. Keamanan dan stabilitas daerah 4. Azas manfaat terhadap kesejahteraan penduduk Gambar 3: Model Integrasi IPS Berdasarkan Potensi Utama c. Model Integrasi Berdasarkan Permasalahan Model pembelajaran terpadu pada IPS yang lainnya adalah berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya adalah “Pemukiman Kumuh”. Pada pembelajaran terpadu, Pemukiman Kumuh ditinjau Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 103
  • 116.
    dari beberapa faktorsosial yang mempengaruhinya. Di antaranya adalah faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Juga dapat dari faktor historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan/norma. Faktor sosial, Faktor Ekonomi dan budaya PEMUKIMAN KUMUH Perilaku Faktor historis terhadap aturan Gambar 4. Model Integrasi IPS Berdasarkan Permasalahan 5. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TERPADU a. Perencanaan Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran terpadu bergantung pada kesesuaian rencana yang dibuat dengan kondisi dan potensi siswa (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Untuk menyusun perencanaan pembelajaran terpadu perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini. 1. Pemetaan Kompetensi Dasar 2. Penentuan Topik/tema 3. Penjabaran (perumusan) Kompetensi Dasar ke dalam indikator sesuai topik/tema 4. Pengembangan Silabus 5. Penyusunan Desain/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Langkah-langkah tersebut secara rinci dijelaslan sebagai berikut ini. 1) Pemetaan Kompetensi Dasar Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 104
  • 117.
    Langkah pertama dalampengembangan model pembelajaran terpadu adalah melakukan pemetaan pada semua Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran IPS per kelas yang dapat dipadukan. Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh. Kegiatan yang dapat dilakukan pada pemetaan ini antara lain dengan: • mengidentifikasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran IPS yang dapat dipadukan dalam satu tingkat kelas yang sama; dan • menentukan tema/topik pengikat antar-Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Beberapa ketentuan dalam pemetaan Kompetensi Dasar dalam pengembangan model pembelajaran terpadu Ilmu Pengetahuan Sosial adalah sebagai berikut. • Mengidentifikasikan beberapa Kompetensi Dasar dalam berbagai Standar Kompetensi yang memiliki potensi untuk dipadukan. • Beberapa Kompetensi Dasar yang tidak berpotensi dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan dalam pembelajaran. Kompetensi Dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan/disajikan secara tersendiri. • Kompetensi Dasar dipetakan tidak harus berasal dari semua Standar Kompetensi yang ada pada mata pelajaran IPS pada kelas yang sama, melainkan memungkinkan hanya dua atau tiga Kompetensi Dasar saja. • Kompetensi Dasar yang sudah dipetakan dalam satu topik/tema masih bisa dipetakan dengan topik/tema lainnya. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 105
  • 118.
    Berikut ini contohpemetaan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran IPS yang dapat diintegrasikan/dipadukan. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 106
  • 119.
    Peta Kompetensi Dasaryang Berpotensi IPS Terpadu Kelas VII No. Geografi Sosiologi Ekonomi Sejarah Tema 1. Semester 2 Semester 1 Semester 2 Semester 2 Kegiatan 6.1 Mendeskripsikan 2.1 Mendeskripsikan 6.2 Mendeskripsikan 5.1 Mendeskripsikan Ekonomi pola kegiatan interaksi sebagai kegiatan pokok perkembangan Penduduk ekonomi proses sosial. ekonomi yang masyarakat, penduduk, meliputi kegiatan kebudayaan, dan penggunaan konsumsi, pemerintahan lahan, dan pola produksi, dan pada masa Islam pemukiman distribusi barang/ di Indonesia, berdasarkan jasa. serta kondisi fisik peninggalan- permukaan bumi. peninggalannya 2 Semester 2 Semester 2 Semester 1 Semester 2 Kelangkaan 4.3 Mendeskripsikan 2.1 Mendeskripsikan 3.1 Mendeskripsikan 5.3 Mendeskripsikan Sumber kondisi geografis interkasi sebagai manusia sebagai perkembangan Daya dan penduduk proses sosial. makhluk sosial masyarakat, dan ekonomi yang kebudayaan, dan 6.1 Mendeskripsikan 2.3 Mengidentifikasi bermoral dalam pemerintahan pola kegiatan bentuk-bentuk kaitannya dengan pada masa ekonomi interaksi sosial usaha memenuhi Kolonial Eropa penduduk, kebutuhan dan penggunaan lahan 2.4 Menguraikan pemanfaatan dan pola proses interaksi sumber daya yang pemukiman sosial tersedia. berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi. 3. Semester 2 Semester 2 Semester 1 Pemanfaatan 4.1 Menggunakan 6.2 Mendeskripsikan 5.1 Mendeskripsikan Peta peta, atlas dan kegiatan pokok perkembangan globe untuk ekonomi yang masyarakat, mendapatkan meliputi kegiatan kebudayaan, dan informasi konsumsi, pemerintahan keruangan. produksi dan pada masa distribusi barang/ Hindu-Buddha, jasa. serta peninggalan- peningalannya 5.2 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan- peningalannya Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 107
  • 120.
    No. Geografi Sosiologi Ekonomi Sejarah Tema 5.3 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Kolonial Eropa Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu Kelas VIII No. Geografi Sosiologi Ekonomi Sejarah Tema 1. Semester 1 Semester 2 Semester 1 Semester 1 Globalisasi 1.1 Mendeskripsikan 6.1 Mendeskripsikan 4.3 Mengidentifikasi 2.1 Menjelaskan kondisi fisik bentuk-bentuk bentuk pasar proses wilayah dan hubungan sosial dalam kegiatan perkembangan penduduk. ekonomi kolonialisme dan 6.2 Mendeskripsikan masyarakat. imperialisme pranata sosial Barat, serta dalam kehidupan pengaruh yang masyarakat ditimbulkannya di berbagai daerah di 6.3 Mendeskripsikan Indonesia. upaya pengendalian penyimpangan sosial 2. Semester 1 Semester 1 Semester 2 Peran 1.1 Mendeskripsikan 6.2 Mendeskripsikan 7.2 Mendeskripsikan Indonesia kondisi fisik pranata sosial pelaku-pelaku dalam wilayah dan dalam kehidupan ekonomi dalam Pergaulan penduduk. masyarakat sistem Antarbangsa perekonomian Indonesia. 3. Semester 1 Semester 2 Semester 2 Semester 1 Otonomi 1.1 Mendeskripsikan 6.2 Mendeskripsikan 7.1 Mendeskripsikan 2.2 Menguraikan Daerah kondisi fisik pranata sosial permasalahan proses wilayah dan dalam kehidupan angkatan kerja terbentuknya penduduk. masyarakat dan tenaga kerja kesadaran sebagai sumber nasional, identitas daya dalam Indonesia, dan kegiatan ekonomi, perkembangan serta peran pergerakan pemerintah dalam kebangsaan upaya Indonesia. penanggulangan- nya. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 108
  • 121.
    No. Geografi Sosiologi Ekonomi Sejarah Tema 7.2 Mendeskripsikan palaku-pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia. 4. Semester 2 Semester 2 Semester 2 2.1 Menjelaskan Pelestarian 1.3 Mendeskripsikan 6.1 Mendeskripsikan 4.1 Mendeskripsikan proses Lingkungan permasalahan bentuk-bentuk hubungan antara perkembangan lingkungan hidup hubungan sosial kelangkaan kolonialisme dan dan upaya sumber daya imperialisme penang- 6.2 Mendeskripsikan dengan Barat, serta gulangannya pranata sosial kebutuhan pengaruh yang dalam dalam kehidupan manusia yang ditimbulkannya di pembangunan masyarakat tidak terbatas berbagai daerah di berkelanjutan. Indonesia. 6.3 Mendeskripsikan upaya pengendalian penyimpangan sosial Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu Kelas IX No. Geografi Sosiologi Ekonomi Sejarah Tema 1. Semester 2 Semester 1 Semester 1 Semester 2 Pengemba- 5.1 Menginterpretasi- 3.1Mendeskripsi- 7.1Mendeskripsikan 7.2 Menguraikan ngan kan peta tentang kan perubahan uang dan perkembangan Pariwisata bentuk dan pola sosial-budaya lembaga lembaga- muka bumi. pada keuangan. lembaga masyarakat internasional dan peran 3.2 Menguraikan Indonesia dalam tipe-tipe kerjasama perilaku internasional masyarakat dalam menyikapi perubahan Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 109
  • 122.
    No. Geografi Sosiologi Ekonomi Sejarah Tema 2 Semester 2 Semester 2 Semester 2 Semester 2 Modernisasi 5.2 Mendeskripsikan 7.3 Menguraikan 7.4 Mendeskripsikan 7.2Menguraikan keterkaitan unsur- perilaku kerjasama antar perkembangan unsur geografis negara di bidang masyarakat lembaga- dan penduduk di ekonomi kawasan Asia dalam lembaga Tenggara perubahan internasional sosial-budaya di dan peran era global Indonesia dalam kerjasama internasional 3. Semester 2 Semester 2 Semester 2 Semester 2 Kerjasama 5.2 Mendeskripsikan 7.3 Menguraikan 7.4 Mendeskripsikan 7.2 Menguraikan Inter- keterkaitan unsur- perilaku kerjasama antar perkembangan nasional unsur geografis negara di bidang masyarakat lembaga- dan penduduk di ekonomi kawasan Asia dalam lembaga Tenggara perubahan internasional sosial-budaya di 7.5 Mengidentifikasi dan peran Semester 1 era global dampak Indonesia dalam 1.1 Mengidentifikasi kerjasama antar kerjasama ciri-ciri negara negara terhadap internasional berkembang dan perekonomian negara maju. Indonesia 2) Penentuan Topik/Tema Setelah pemetaan Kompetensi Dasar selesai, langkah selanjutnya dilakukan penentuan topik/tema. Topik/tema yang ditentukan harus relevan dengan Kompetensi Dasar yang telah dipetakan. Dengan demikian, dalam satu mata pelajaran IPS pada satu tingkatan kelas terdapat beberapa topik yang akan dibahas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan topik/tema pada pembelajaran IPS Terpadu antara lain meliputi hal-hal berikut. • Topik, dalam pembelajaran IPS Terpadu, merupakan perekat antar-Kompetensi Dasar yang terdapat dalam satu rumpun mata pelajaran IPS. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 110
  • 123.
    Topik yang ditentukan selain relevan dengan Kompetensi- kompetensi Dasar yang terdapat dalam satu tingkatan kelas, juga sebaiknya relevan dengan pengalaman pribadi siswa, dalam arti sesuai dengan keadaan lingkungan setempat. Hal ini agar pembelajaran yang dilakukan dapat lebih bermakna bagi siswa; contohnya, untuk kelas VII ada 3 (tiga) topik/tema yaitu: aktivitas ekonomi penduduk, kelangkaan sumber daya alam, dan pemanfaatan peta. • Dalam menentukan topik, isu sentral yang sedang berkembang saat ini, dapat menjadi prioritas yang dipilih dengan tidak mengabaikan keterkaitan antar-Kompetensi Dasar pada satu rumpun yang telah dipetakan. Contohnya, Pemberlakuan Otonomi Daerah, Pertumbuhan Industri, Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung, Pasca Gempa Bumi dan Tsunami, Penyakit Folio, Penyakit Busung Lapar. Berikut ini beberapa contoh Topik yang relatif relevan dengan pemetaan Kompetensi Dasar. Kelas VII SMP i) Topik: Kegiatan Ekonomi Penduduk No Geografi Sosiologi Ekonomi Sejarah 1. Semester 2 Semester 1 Semester 2 Semester 2 6.1 Mendeskripsikan pola 2.1 Mendeskripsikan 6.2 Mendeskripsikan 5.2 Mendeskripsikan kegiatan ekonomi interaksi sebagai kegiatan pokok perkembangan penduduk, proses sosial. ekonomi yang masyarakat, penggunaan lahan, meliputi kegiatan kebudayaan, dan dan pola pemukiman konsumsi, produksi, pemerintahan pada berdasarkan kondisi dan distribusi masa Islam di fisik permukaan bumi. barang/jasa. Indonesia, serta peninggalan- peninggalannya Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 111
  • 124.
    Kelas VIII SMP ii) Topik : Pelestarian Lingkungan No Geografi Sosiologi Ekonomi Sejarah 1. Semester 2 Semester 2 Semester 2 2.1 Menjelaskan proses 1.3 Mendeskripsikan 6.1 Mendeskripsikan 4.1 Mendeskripsikan perkembangan permasalahan bentuk-bentuk hubungan antara kolonialisme dan lingkungan hidup dan hubungan sosial kelangkaan sumber imperialisme Barat, upaya penang- 6.2 Mendeskripsikan daya dengan serta pengaruh yang gulangannya dalam pranata sosial dalam kebutuhan manusia ditimbulkannya di pembangunan kehidupan yang tidak terbatas berbagai daerah di berkelanjutan. masyarakat Indonesia. 6.3 Mendeskripsikan upaya pengendalian penyimpangan sosial Kelas IX SMP. iii) Topik: Pengembangan Pariwisata No Geografi Sosiologi Ekonomi Sejarah 1. Semester 2 Semester 1 Semester 1 Semester 2 5.1 Menginterpretasi-kan 3.1 Mendeskripsi-kan 7.1 Mendeskripsikan 7.2 Menguraikan peta tentang bentuk perubahan sosial- uang dan lembaga perkembangan dan pola muka bumi. budaya pada keuangan. lembaga-lembaga masyarakat internasional dan peran Indonesia dalam 3.2 Menguraikan tipe-tipe kerjasama perilaku masyarakat internasional dalam menyikapi perubahan 3) Penjabaran Kompetensi Dasar ke dalam Indikator Setelah melakukan langkah Pemetaan Kompetensi Dasar dan Penentuan Topik/Tema sebagai pengikat keterpaduan, maka Kompetensi-kompetensi Dasar tersebut dijabarkan ke dalam indikator pencapaian hasil belajar yang nantinya digunakan untuk penyusunan silabus. Contoh perumusan Kompetensi Dasar ke dalam berbagai indikator pencapaian Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 112
  • 125.
    Kompetensi Dasar Geografi: Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, pengunaan lahan, dan pola pemukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi. Perumusan indikatornya: • Mengidentifikasikan mata pencaharian penduduk (pertanian, nonpertanian). • Mendeskripsikan bentuk penggunaan lahan di pedesaan dan perkotaan. • Mendiskripsikan persebaran permukiman penduduk di berbagai bentang lahan dan mengungkapkan alasan penduduk memilih bermukim di lokasi tersebut. Kompetensi Dasar Sosiologi: Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial. Perumusan indikatornya: • Mengidentifikasi pola-pola keselarasan sosial dalam keluarga dan masyarakat. • Menentukan sikap dalam keragaman sosial untuk mewujudkan keselarasan sosial. Kompetensi Dasar Ekonomi: Mendeksripsikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa. Perumusan indikatornya: • Menguraikan kegiatan konsumsi barang dan jasa. • Menguraikan kegiatan produksi barang dan jasa. • Menguraikan kegiatan distribusi barang dan jasa. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 113
  • 126.
    Kompetensi Dasar Sejarah: Mendeksripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan- peninggalannya. Perumusan indikatornya: • Menyusun kronologis proses masuk berkembangnya Islam di Indonesia dengan menggunakan ensiklopedi dan referensi relevan lainnya. • Menjelaskan peranan pedagang dan ulama dalam proses awal perkembangan Islam di Indonesia. 4) Penyusunan Silabus Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada langkah-langkah sebelumnya dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan silabus pembelajaran terpadu. Komponen penyusunan silabus terdiri dari Standar Kompetensi IPS (Sosiologi, Sejarah, Geografi, dan Ekonomi), Kompetensi Dasar, Indikator, Pengalaman belajar, alokasi waktu, dan penilaian. 5) Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Pelaksanaan Proses Pembelajaran serta Penilaian Hasil Pembelajaran. Penyusunan RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan peserta didik dalam upaya mencapai KD. Demikian pula untuk pelaksanaan proses pembelajaran, maupun penilaian hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi siswa, menggunakan prinsi-prinsip minimal sesuai dengan standar isi, standar proses, standar penilaian, dan dikembangkan dengan Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 114
  • 127.
    prinsip-prinsip utama dalampembelajaran dan penilaian pada pembelajaran kontekstual (CTL). b. Implikasi Pembelajaran IPS Terpadu Implikasi pembelajaran IPS terpadu terhadap guru, peserta didik, bahan ajar, sarana dan prasarana dalam pelaksanaannya bergantung pada sekolah masing-masing sama seperti pada pembelajaran IPA terpadu. Diharapkan guru yang profesional sesuai dengan PP 74 dan minimal standar proses dapat melaksanakan pembelajaran IPS terpadu tanpa mengalami kendala. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 115
  • 128.
    PEMBELAJARAN TEMATIK A. LATARBELAKANG Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung. Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas I – III kelas awal) untuk setiap mata pelajaran masih banyak dilakukan secara terpisah. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistic), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik. Seperti pada Mata pelajaran Matematika, perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 116
  • 129.
    memanfaatkan informasi untukbertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Demikian pula untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan tujuan agar peserta didik dapat berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan, menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial, menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Demikian pula pada Kompetensi dasar Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, serta Pendidikan Jasmani,Olahraga dan Kesehatan perlu dikaji Jika mata pelajaran- mata pelajaran tersebut dipadukan menjadi sebuah tema akan diperoleh suatu kemampuan berkomunikasi secara baik sebagai indikator dalam kemampuan peserta didik dalam berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama, yang pada akhirnya pembelajaran menjadi menyenangkan. Permasalahan menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu, Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 117
  • 130.
    hasil penelitian menunjukkanbahwa peserta didik yang telah masuk Taman Kanak-Kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas satu dan dua sekolah dasar dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah. Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi, standar proses yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar yakni kelas satu, dua, dan tiga lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik. Untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran tematik yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret, disiapkan model pelaksanaan pembelajaran tematik untuk SD/MI kelas I hingga kelas III. B. KERANGKA BERPIKIR 1. Karakteristik Perkembangan anak usia kelas awal SD Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 118
  • 131.
    sepeda roda dua,dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri. Perkembangan emosi anak usia 6-8 tahun antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu. 2. Cara Anak Belajar Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 119
  • 132.
    pengetahuan baru menjadiseimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya. Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat. Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu: a. Konkrit Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 120
  • 133.
    dihadapkan dengan peristiwadan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. b. Integratif Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah- milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian. c. Hierarkis Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi . 3. Belajar dan Pembelajaran Bermakna Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 121
  • 134.
    Belajar bermakna (meaningfulllearning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek- aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen- komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan. Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan. C. PENGERTIAN PEMBELAJARAN TEMATIK Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar, konsep belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awl SD sebaiknya dilakukan dengan Pembelajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 122
  • 135.
    gagasan pokok yangmenjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya: 1. Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu, 2. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama; 3. pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan; 4. kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa; 5. Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas; 6. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain; 7. guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 123
  • 136.
    Pembelajaran tematik lebihmenekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik). Beberapa ciri khas dari pembelajaran tematik antara lain: 1) Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar; 2) Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa; 3) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama; 4) Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa; 5) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya; dan 6) Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain. Dengan pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan tema ini, akan diperoleh beberapa manfaat yaitu: 1) Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 124
  • 137.
    dihilangkan, 2) Siswamampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan akhir, 3) Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah- pecah. 4) Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat, D. LANDASAN PEMBELAJARAN TEMATIK Landasan Pembelajaran tematik mencakup: Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya. Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 125
  • 138.
    Landasan psikologis dalampembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya. Landasan yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b). E. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TEMATIK Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: 1. Berpusat pada siswa 2. Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 126
  • 139.
    berperan sebagai fasilitatoryaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar. 3. Memberikan pengalaman langsung 4. Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak. 5. Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas 6. Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa. 7. Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran 8. Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, Siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah- masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. 9. Bersifat fleksibel 10. Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada. 11. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa 12. Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya. 13. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 127
  • 140.
    F. RAMBU-RAMBU 1. Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan 2. Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester 3. Kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan secara tersendiri. 4. Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri. 5. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral. 6. Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan, dan daerah setempat. G. IMPLIKASI PEMBELAJARAN TEMATIK Implikasi implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar mencakup implikasi terhadap guru, terhadap siswa, terhadap sarana-prasarana, sumber belajar media, pengaturan ruangan, dan pemilihan metode pembelajaran. Implikasi bagi guru Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh. Implikasi bagi siswa • Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 128
  • 141.
    Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah Implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media • Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar. • Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didisain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization). • Pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi sehingga akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak. • Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini untuk masing-masing mata pelajaran dan dimungkinkan pula untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan ajar yang terintegrasi Implikasi terhadap Pengaturan ruangan Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik perlu melakukan pengaturan ruang agar suasana belajar menyenangkan. Pengaturan ruang tersebut meliputi: • Ruang perlu ditata disesuaikan dengan tema yang sedang dilaksanakan. • Susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan keperluan pembelajaran yang sedang berlangsung Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 129
  • 142.
    Peserta didik tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat duduk di tikar/karpet • Kegiatan hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik di dalam kelas maupun di luar kelas • Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta didik dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar • Alat, sarana dan sumber belajar hendaknya dikelola sehingga memudahkan peserta didik untuk menggunakan dan menyimpannya kembali. Implikasi terhadap Pemilihan metode Sesuai dengan karakteristik pembelajaran tematik, maka dalam pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan menggunakan multi metode. Misalnya percobaan, bermain peran, tanya jawab, demonstrasi, bercakap-cakap. H. TAHAP PERSIAPAN PELAKSANAAN Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik, perlu dilakukan beberapa hal yang meliputi tahap perencanaan yang mencakup kegiatan pemetaan kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan silabus dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran. 1. Pemetaan Kompetensi Dasar Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Kegiatan yang dilakukan adalah: Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 130
  • 143.
    a. Penjabaran StandarKompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam indikator Melakukan kegiatan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran ke dalam indikator. Dalam mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: • Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik • Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran • Dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang terukur dan/atau dapat diamati. 1) Menentukan tema Dalam menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni: Cara pertama, mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai. Cara kedua, menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerjasama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak. 2) Prinsip Penentuan tema Dalam menetapkan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip yaitu: • Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa: • Dari yang termudah menuju yang sulit • Dari yang sederhana menuju yang kompleks • Dari yang konkret menuju ke yang abstrak. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 131
  • 144.
    Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri siswa • Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa, termasuk minat, kebutuhan, dan kemampuannya b. Identifikasi dan analisis Standar Kompetensi, Kompetensi dasar dan Indikator Lakukan identifikasi dan analisis untuk setiap Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan indikator yang cocok untuk setiap tema sehingga semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator terbagi habis. 2. Menetapkan Jaringan Tema Buatlah jaringan tema yaitu menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema, kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema. 3. Penyusunan Silabus Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya dijadikan dasar dalam penyusunan silabus. Komponen silabus terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar, alat/sumber, dan penilaian. 4. Penyusunan Rencana Pembelajaran Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru perlu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam silabus pembelajaran. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi: Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 132
  • 145.
    1) Identitas matapelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan). 2) Standar kompetensi 3) Kompetensi dasar 4) Indikator pencapaian kompetensi 5) Tujuan pembelajaran 6) Materi ajar beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator. 7) Alokasi waktu 8) Metode pembelajaran dan strategi pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar dan indikator, kegiatan ini tertuang dalam kegiatan pembelajaran mulai dari pendahuluan, inti dan penutup). 9) Penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrumen yang akan digunakan untuk menilai pencapaian belajar peserta didik serta tindak lanjut hasil penilaian). 10) Sumber belajar, alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian kompetensi dasar, serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 133
  • 146.
    I. TAHAP PELAKSANAAN 1. Tahapan kegiatan Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari dilakukan dengan menggunakan tiga tahapan kegiatan yaitu kegiatan pembukaan/awal/pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Alokasi waktu untuk setiap tahapan adalah kegiatan pembukaan kurang lebih satu jam pelajaran (1 x 35 menit), kegiatan inti 3 jam pelajaran (3 x 35 menit) dan kegiatan penutup satu jam pelajaran (1 x 35 menit) a. Kegiatan Pendahuluan/awal/pembukaan Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran untuk mendorong siswa menfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sifat dari kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk pemanasan. Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak tentang tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani, dan menyanyi b. Kegiatan Inti Dalam kegiatan inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan kemampuan baca, tulis dan hitung. Penyajian bahan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai strategi/metode yang bervariasi dan dapat dilakukan secara klasikal, kelompok kecil, ataupun perorangan. c. Kegiatan Penutup/Akhir dan Tindak Lanjut Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa contoh kegiatan akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan/mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 134
  • 147.
    dilakukan, mendongeng, membacakancerita dari buku, pantomim, pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik. Contoh jadwal pelaksanaan pembelajaran perhari dapat dijabarkan menjadi: Contoh 1: Kegiatan Jenis kegiatan Kegiatan Anak berkumpul bernyanyi sambil menari pembukaan mengikluti irama musik Kegiatan inti • Kegiatan untuk pengembangan membaca • Kegiatan untuk pengembangan menulis • Kegitan untuk pengembangan berhitung • Kegiatan penutup Mendongeng atau membaca cerita dari buku cerita Contoh 2: Kegiatan Jenis kegiatan Kegiatan Waktu berkumpul (anak m,enceritakan pembukaan pengalkaman, menyanyi, melakukan kegiatan fisik sesuai dengan tema) Kegiatan inti • Pengembnagan kemmapuan menulis (kegiatan kelompok besar) • Pengembnagan kemampuan berhitung kegiatan kelompok kecil atau berpasangan) • Melakukan pengamatan sesuai dengan tema, misalnya mengamati jenis kendaraan yang lewat pada tema transporasi, menggambar hewan hasil pengamatan Kegiatan penutup • Mendongeng • Pesan-pesan moral • Musik/menyanyi Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 135
  • 148.
    2. Pengaturan Jadwalpelajaran Untuk memudahkan administrasi sekolah terutama dalam penjadwalan. Guru bersama dengan guru mata pelajaran pendidikan agama, guru pendidikan Jasmani dan guru muatan lokal perlu bersama-sama menyusun Jadwal pelajaran. Contoh jadwal yang dapat dikembangkan seperti pada tabel berikut: JADWAL PELAJARAN SD KELAS I, II Waktu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu 7.00-7. Matematika B. Ind. Matematika B. Ind. Penjaskes IPA 35 7.35-8. Matematika B.Ind. Matematika B.Ind. Penjaskes IPA 10 8.10-8. Matematika B.Ind. Matematika KTK P.Agama MULOK 45 8.45-9. Istirahat 00 9.00-9. B.ind Matematika IPS KTK P. Mulok 35 Agama 9.35-1 B.Ind Matematika IPS KTK 0.10 Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 136
  • 149.
    J. PENILAIAN PEMBELAJARANTEMATIK 1. Prinsip a. Penilaian di kelas I dan II mengikuti aturan penilaian mata-mata pelajaran lain di sekolah dasar. Mengingat bahwa siswa kelas I SD belum semuanya lancar membaca dan menulis, maka cara penilaian di kelas I tidak ditekankan pada penilaian secara tertulis. b. Kemampuan membaca, menulis dan berhitung merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik kelas I dan II. Oleh karena itu, penguasaan terhadap ke tiga kemampuan tersebut adalah prasyarat untuk kenaikan kelas. c. Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator dari masing- masing Kompetensi Dasar dan Hasil Belajar dari mata-mata pelajaran. d. Penilaian dilakukan secara terus menerus dan selama proses belajar mengajar berlangsung, misalnya sewaktu siswa bercerita pada kegiatan awal, membaca pada kegiatan inti dan menyanyi pada kegiatan akhir. e. Hasil karya/kerja siswa dapat digunakan sebagai bahan masukan guru dalam mengambil keputusan siswa misalnya: Penggunaan tanda baca, ejaan kata, maupun angka. 2. Alat Penilaian Alat penilaian dapat berupa Tes dan Non Tes. Tes mencakup: tertulis, lisan, atau perbuatan, catatan harian perkembangan siswa, dan porto folio. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas awal penilaian yang lebih banyak digunakan adalah melalui pemberian tugas dan portofolio. Guru menilai anak melalui pengamatan yang lalu dicatat pada sebuiah buku Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 137
  • 150.
    bantu. Sedangkan Testertulis digunakan untuk menilai kemampuan menulis siswa, khususnya untuk mengetahui tentang penggunaan tanda baca, Jean, kata atau angka. Berikut adalah contoh penilaian yang dapat dilakukan guru: A. Kewarganegaraan dan Tes Lisan Pengetahuan Sosial • Menyebutkan peristiwa/kegiatan yang dialami • Mengemukakan peristiwa/kegiatan yang berkesan • Mengekspresikan perasaan waktu memberi kesan. B. Bahasa Indonesia : Perbuatan • Kelancaran membaca • Melafalkan kata • Melagukan/intonasi • Cara bertanya jawab Tugas • Melengkapi kalimat C. Ilmu Pengetahuan Alam : Perbuatan • Mendemonstrasikan cara menggosok gigi : Lisan • Menyebutkan cara memelihara gigi • Menjelaskan manfaat menggosok gigi 3. Aspek Penilaian Pada pembelajaran tematik penilaian dilakukan untuk mengkaji ketercapaian Kompetensi Dasar dan Indikator pada tiap-tiap mata pelajaran yang terdapat pada tema tersebut. Dengan demikian penilaian dalam hal ini tidak lagi terpadu melalui tema, melainkan sudah terpisah- Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 138
  • 151.
    pisah sesuai denganKompetensi Dasar, Hasil Belajar dan Indikator mata pelajaran. Nilai akhir pada laporan (raport) dikembalikan pada kompetensi mata pelajaran yang terdapat pada kelas satu dan dua Sekolah Dasar, yaitu: Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan kesehatan. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 139
  • 152.
    DAFTAR PUSTAKA Depdiknas. DirektoratPembinaan SMP. 2008. Bahan Sosialisasi KTSP. Jakarta. Depdiknas. Direktorat Pembinaan SMA. 2009. Pengembangan Pembelajaran Yang Efektif. Bahan Bimbingan Teknis KTSP. Jakarta. Depdiknas. Direktorat Tenaga Kependidikan. 2009. Bahan TOT untuk Calon Master Trainer Pengawas Sekolah. Jakarta. Hamalik, Oemar. 1990. Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito Ibrahim R, Syaodih S Nana. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Joyce Bruce. Et al. 2000. Models of Teaching. 6th Ed. Allyn & Bacon: London Lestari, Tita. 1997. Dampak Penerapan Metode Pemecahan Masalah Terhadap Tingkat Kemampuan Berpikir SMA Pada Pembelajaran Matematika. Tesis-S-2 Program Studi Pengembangan Kurikulum. Pasca Sarjana IKIP Bandung. Nasution. S. 2005. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Menga-jar. Jakarta: Bumi Aksara. Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Media Prenada Sudjana, Nana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Menga-jar. Bandung: Sinar Baru. Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 140
  • 153.
    Syaodih, Nana. 2004.Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. andung. Kesuma Karya. Uno, B. Hamzah. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Yamin, Martinis. 2006. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung Persada Press. Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 141
  • 154.
    LAMPIRAN PETA STANDARKOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR IPA TERPADU A. PETA STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR YANG BERPOTENSI IPA TERPADU Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 142
  • 155.
    Model Pembelajaran PAIKEM– Pengawas Sekolah 143
  • 156.
    Model Pembelajaran PAIKEM– Pengawas Sekolah 144
  • 157.
    Model Pembelajaran PAIKEM– Pengawas Sekolah 145
  • 158.
    Model Pembelajaran PAIKEM– Pengawas Sekolah 146
  • 159.
    Model Pembelajaran PAIKEM– Pengawas Sekolah 147
  • 160.
    Lampiran3: CONTOH SILABUS KOMPETENSI Mata Pelajaran INDIKATOR KEGIATAN BELAJAR SARANA/SUMBER PENILAIAN DASAR Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 148
  • 161.
    BAHASA INDONESIA MENDENGARKAN • Menirukan • Menirukan bunyi Kaset dan tape Pengamatan Membedakan bunyi bunyi/suara tertentu suara burung bahasa seperti: suara burung, • Bermain peran ombak, kendaraan, menjadi dan lain-lain. berbagai kendaraan • Menirukan suara ombak BERBICARA • Menyebutkan nama • tanya jawab Memperkenalkan diri orangtua dan tentang nama sendiri dengan saudara kandung orang tuanya kalimat sederhana dan saudara dan bahasa yang kandungnya santun (berpasangan) • Menanyakan data • tanya jawab diri dan nama tentang nama orangtua serta orang tuanya saudara teman dan saudara sekelas kandungnya (berpasangan) • melakukan Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 149
  • 162.
    MATEMATIKA Membilang banyak • Membilang atau • Membilang • Bola benda menghitung secara benda-benda di urut kelas • Membilang sambil Memantulkan bola • Menyebutkan • Mengamati lalu banyak benda menyebutkan nama benda yang dilihatnya • Membandingkan • Praktek langsung • Batu-batuan dua kumpulan mengambil dua benda melalui kumpulan benda istilah lebih lalu dihitung banyak, lebih sedikit, atau sama banyak • Menceritakan • Bercerita Menentukan waktu pengalamannya tentnag (pagi, siang, saat pagi, siang pengalamannya malam, hari dan atau malam hari jam (bulat) Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 150
  • 163.
    IPS Menguindentifikasi • Menyebutkan nama • Menyebutkan identitas lengkap dan nama nama diri,keluarga, dan panggilan lengkapnya kerabat • Menyebutkan • Menyebutkan alamat tempat alamat tinggal rumahnya IPA Makhluk Hidup • Menyebutkan • Menggambarkan dan Proses nama bagian- tubuhnya lalu kehidupannya • Menyebutkan • menyebutkan Mengenal bagian- kegunaan bagian- nama bagian- bagian tubuh dan bagian tubuh bagian tubuhnya kegunaannya dan kegunaannya Mengindetifikasi • Mengelompokkan • Praktek Batu, daun, biji benda yang ada di benda dengan pengelompokkan salak lingkungan sekitar berbagai cara yang berdasarkan diketahui anak. cirinya melalui • Menunjukkan • Praktek langsung pengamatannya sebanyak- mengamati banyaknya benda lingkungan dan yang mempunyai menyebutkan warna, bentuk dan sebanyak- ciri tertentu banyaknya • benda yang mempunyai warna, bentuk dan ciri tertentu Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 151
  • 164.
    PENDIDIKAN Mempraktikkan • Menerapkan konsep • Praktek langsung JASMANI, OLAHRAGA gerak dasar jalan, arah dalam Menerapkan DAN KESEHATAN lari dan loncat berjalan, berlari konsep arah dalam permainan dan melompat. dalam berjalan, sederhana, serta berlari dan nilai sportivitas, • melompat. kejujuran, kerjasama, • Berjalan dengan • Praktek langsung toleransi dan berbagai pola berjalan dengan percaya diri langkah dan pola kecepatan Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 152
  • 165.
    SENI BUDAYA DAN SENI RUPA • Menyebutkan unsur • Mengamati KETERAMPILAN Mengidentifikasi rupa di lingkungan lingkungan lalu unsur rupa pada sekolah menyebutkan benda di alam benda-benda sekitar yang dilihatnya • Mengelompokkan • Mengamati berbagai jenis: lingkungan lalu bintik gari, bidang, mengelompokka warna dan bentuk n benda pada benda dua berdasarkan dan tiga dimensi di garis, bintik dsb alam sekitar SENI MUSIK • Bertepuk tangan • Bermain tepuk Mengidentifikasi dengan pola tangan dengan unsur/elemen berbagai pola musik dari yang berbagai sumber dicontohkan bunyi yang dihasilkan tubuh manusia SENI TARI • Bergerak bebas • Mendengarkan Mengidentifikasi sesuai irama musik musik dan fungsi tubuh dalam bergerak bebas melaksanaan gerak mengikuti irama di tempat Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 153
  • 166.
    PENDIDIKAN • Menyebutkan jenis • Menyebutkan KEWARGANEGARAAN kelamin anggota jenis kelamin keluarga. teman sebangkunya • Meyebutkan agama- • Menyebutkan agama yang ada di agama yang Indonesia dikenalnya Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 154
  • 167.
    Lampiran 4: ContohRencana Pelaksanaan Pembelajaran RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KELAS : I TEMA : LINGKUNGAN MINGGU/HARI : I/Senin ALOKASI WAKTU : 5 x 35 menit INDIKATOR: Bahasa Indonesia: • Menanyakan data diri dan nama orangtua serta saudara teman sekelas • Menjiplak berbagai bentuk gambar, lingkaran, dan bentuk huruf Matematika: • Membilang atau menghitung secara urut • Menyebutkan banyak benda • Menceritakan pengalamannya saat pagi, siang atau malam hari IPA • Menunjukkan sebanyak-banyaknya benda yang mempunyai warna, bentuk dan ciri tertentu IPS • Menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN • Bertepuk tangan dengan pola PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN • Menerapkan konsep arah dalam berjalan, berlari dan melompat. SARANA DAN SUMBER BELAJAR: • Kartu-kartu kata • Lembar kerja (jam) • Bola STRATEGI KEGIATAN A. Pembukaan (1 X 35 menit) • Berdoa bersama • Menyanyi lagu kasih ibu sambil bertepuk dengan variasi 1-2-1-2 Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 155
  • 168.
    • Guru memintabeberapa anak untuk menyebutkan identitas dirinya seperti nama dan alamatnya, dan menceritakan suatu pengalaman yang menyenangkan dirinya • Guru meminta anak untuk berkeliling di kelas sambil melompat satu kaki dengan membilang (menghitung secara urut) lompatannya • Guru meminta beberapa anak mengemukakan tentang kegiatan yang dapat dilakukan pada waktu pagi hari, siang hari dan malam hari B. Inti (3 x 35 menit) • Di kelas anak secara individual diminta untuk mengamati berbagai benda yang ada dalam kelasnya. memilih benda yang ada di kelas, menghitungnya dan menuliskan lambang bilangan dari jumlah benda yang dihitungnya (kegiatan ini dilakukan beberapa kali) • Kegiatan berikutnya (atau bagi yang sudah menyelesaikan kegiatan pertama) dapat membaca kalimat sederhana dari kartu-kartu kata yang sudah disiapkan guru • Guru meminta anak untuk melihat jam dinding dikelasnya, lalu anak diminta untuk menggambarkan jam didinding tersebut dilengkapi dengan penunjukkan jarum jam pada saat anak melihat dan menggambarkannya. C. Penutup (1 x 35 menit) • Guru bercerita tentang perlunya air bagi makhluk hidup, yang dilanjutkan dengan tanya jawab • Pesan-pesan moral bagi anak misalnya tentang perlunya hemat air, perlunya mandi/menjaga kebersihan • Berdoa pulang Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah 156