••••••••••••••••••••••••••••••••••
SUNNAH <ul><li>Sunnah secara bahasa berarti “perilaku seseorang tertentu, termasuk perilaku yang baik atau perilaku yang b...
FUNGSI SUNNAH TERHADAP AYAT HUKUM <ul><li>Secara umum fungsi sunnah sebagai bay ā n (penjelasan) atau taby ī n (menjelaska...
PEMBAGIAN SUNNAH <ul><li>Sunnah atau hadis dari segi sanad (periwayatannya) dibagi kepada 2 macam:  hadis mutawatir  dan  ...
Pendapat Ulama Tentang Sunnah <ul><li>Jumhur ulama berpendapat bahwa Sunnah berkedudukan sebagai sumber atau dalil kedua s...
Pendapat Ulama Tentang Sunnah <ul><li>Kekuatan Sunnah sebagai sumber hukum ditentukan oleh kebenaran materi (wurud) dan p...
Pendapat Ulama Tentang Sunnah <ul><li>Khabar atau Sunnah masyhur  mempunyai kekuatan yang qath`i pada tingkat sahabat teta...
Pendapat Ulama Tentang Sunnah <ul><li>Dari segi bersinambungnya sebuah khabar atau hadis dibagi menjadi dua tingkat : </li...
IJMA’ <ul><li>Secara etimologi, ijma’ berarti “kebulatan tekad terhadap suatu persoalan”, atau “kesepakatan tentang suatu ...
Dalil Keabsahan Ijma’ <ul><li>QS. Al-Nisa`: 115 </li></ul><ul><li>وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَ...
Landasan (Sanad) Ijma’ dan Contoh Ijma’ <ul><li>Ijma’ baru dapat diakui sebagai dalil jika dalam pembentukannya mempunyai ...
Macam-macam Ijma’ <ul><li>Ijma’ sharih adalah kesepakatan tegas dari para ulama mujtahid dimana masing-masing mujtahid men...
Pendapat Jumhur Ulama Tentang Pembatasan Ijma` <ul><li>a. Keikutsertaan kalangan awam dalam ijma’ ; suara orang awam tidak...
QIYAS (ANALOGI) <ul><li>Secara bahasa, qiyas berarti “mengukur sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk diketahui adanya per...
Dalil Keabsahan Qiyas <ul><li>QS. Al-Nisa`: 59 </li></ul><ul><li>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيع...
Rukun Qiyas <ul><li>Qiyas dianggap sah jika lengkap rukun-rukunnya. Ada 4 rukun qiyas: </li></ul><ul><li>الأصل   (pokok te...
Contoh Qiyas <ul><li>Menurut surat al-Isra' 23; seseorang tidak boleh berkata uf ( cis ) kepada orang tua. Maka hukum memu...
Pembagian Qiyas <ul><li>Dari segi kekuatan ’illat yang terdapat pada furu’ dibandingkan ashal: </li></ul><ul><li>Qiyas Awl...
Kelompok ulama yang menolak penggunaan qiyas dalam menetapkan hukum syara`: <ul><li>1. Syi’ah Imamiyah , mereka tidak memb...
Kelompok ulama yang menolak penggunaan qiyas dalam menetapkan hukum syara`: <ul><li>Selain itu  Zhahiriyah  juga mengemuka...
Sebab Perbedaan Dalam Penetapan Sumber Hukum <ul><li>1. Sikap dan cara berpegang pada sunnah dan standar yang dipergunakan...
Sebab Perbedaan Dalam Penetapan Sumber Hukum <ul><li>2. Dalam hal fatwa-fatwa sahabat dan kedudukannya, para imam mujtahid...
Pengaruh Tasyri’ Periode Tadwin <ul><li>Adanya hadis-hadis shahih yang telah dibukukan, baik secara sistem musnad, ataupun...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Pendapat ulama ttg sunnah ijma' qiyas ijtihad

28,373

Published on

2 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
28,373
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
655
Comments
2
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pendapat ulama ttg sunnah ijma' qiyas ijtihad

  1. 1. ••••••••••••••••••••••••••••••••••
  2. 2. SUNNAH <ul><li>Sunnah secara bahasa berarti “perilaku seseorang tertentu, termasuk perilaku yang baik atau perilaku yang buruk”. Secara istilah, sunnah adalah “segala perilaku Rasulullah Saw yang berhubungan dengan hukum, baik berupa ucapan (sunnah qawliyyah), perbuatan (sunnah fi’liyyah), atau pengakuan (sunnah taqririyyah). </li></ul><ul><li>Contoh sunnah qawliyyah , sabda Rasul Saw لاضرر ولا ضرار . Contoh sunnah fi’liyyah seperti hadis tentang rincian tatacara shalat, haji, dsb. Contoh sunnah taqririyyah ialah pengakuan Rasul Saw atas perilaku dua sahabat ketika dalam perjalanan mereka tidak menemukan air, lalu mereka bertayamum dan mengerjakan shalat. Kemudian mereka mendapatkan air, sedang waktu shalat masih berlanjut. Lalu salah satunya berwudhu’ dan mengulangi shalat, satunya lagi tidak. Keduanya diakui oleh Rasul Saw. </li></ul><ul><li>Dalil keabsahan sunnah, QS. Al-Nisa`: 59, Al-Ahzab: 21, Al-Nisa`: 80 </li></ul><ul><li>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا </li></ul><ul><li>لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا </li></ul><ul><li>مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا </li></ul>
  3. 3. FUNGSI SUNNAH TERHADAP AYAT HUKUM <ul><li>Secara umum fungsi sunnah sebagai bay ā n (penjelasan) atau taby ī n (menjelaskan ayat-ayat hukum dalam al-Quran). Secara khusus fungsi sunnah: </li></ul><ul><li>Menjelaskan isi al-Quran, antara lain dengan merinci ayat-ayat global. Disamping itu berfungsi mentakhshish ayat-ayat yang sifatnya umum. </li></ul><ul><li>Membuat aturan tambahan yang bersifat teknis atas sesuatu kewajiban yang disebutkan pokok-pokoknya dalam al-Quran. </li></ul><ul><li>Menetapkan hukum yang belum disinggung dalam Al-Quran. Misalnya hadis كل ذي ناب من السباع فأكله حرام artinya semua jenis binatang buruan yang mempunyai taring dan burung yang mempunyai cakar, maka hukum memakannya adalah haram. (HR. Nasa`i) </li></ul>
  4. 4. PEMBAGIAN SUNNAH <ul><li>Sunnah atau hadis dari segi sanad (periwayatannya) dibagi kepada 2 macam: hadis mutawatir dan hadis ahad . MUTAWATIR adalah hadis yang diriwayatkan dari Rasul oleh sekelompok perawi yang menurut kebiasaan individu-individunya jauh dari kemungkinan berbuat bohong, karena banyak jumlah mereka dan diketahui sifat masing-masing mereka yang jujur serta berjauhan tempat antara satu dengan yang lain. Dari kelompok ini diriwayatkan pula selanjutnya oleh kelompok berikutnya yang jumlahnya juga banyak, begitulah seterusnya hingga sampai kepada pentadwin (orang yang membukukan). Hadis mutawatir terbagi dua: mutawatir lafzi (diriwayatkan oleh orang banyak yang bersamaan arti dan lafaznya), dan mutawatir ma’nawi (hadis yang beragam redaksinya tapi maknanya sama). </li></ul><ul><li>Hadis AHAD, diriwayatkan oleh seorang atau lebih tetapi tidak sampai ke batas hadis mutawatir. Hadis Ahad terbagi 3: Masyhur (hadis yang pada masa sahabat diriwayatkan oleh 3 perawi tetapi kemudian pada masa tabi’in dan seterusnya hadis itu menjadi mutawatir dilihat dari segi jumlah perawinya), ‘ aziz (hadis yang pada satu periode diriwayatkan oleh dua perawi meskipun pada periode yang lain diriwayatkan olwh banyak orang), gharib (hadis yang diriwayatkan orang perorangan pada setiap periode). </li></ul>
  5. 5. Pendapat Ulama Tentang Sunnah <ul><li>Jumhur ulama berpendapat bahwa Sunnah berkedudukan sebagai sumber atau dalil kedua setelah al Quran dan mempunyai kekuatan untuk ditaati serta mengikat untuk semua umat Islam, alasannya: </li></ul><ul><li>1. Ayat Quran yang menyuruh umat untuk menaati Rasul. Al-Nisa`: 59 </li></ul><ul><li>2. Ayat Quran sering menyuruh umat untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. al-A`raf :158 </li></ul><ul><li>3. Ayat Quran menetapkan bahwa yang dikatakan Nabi seluruhnya adalah berdasarkan wahyu. Al-Najm: 3-4. </li></ul><ul><li>Dalalah dari Hadis: Jumhur ulama sepakat bahwa status dalil hadis Mutawatir adalah qath’i (menyakinkan), sedangkan hadis ahad adalah dhanni (disangka kuat kebenarannya). Hanya hadis mutawatir yang dapat dipegangi sebagai dalil/hujjah dalam masalah ‘aqaid, sedangkan hadis ahad hanya dapat sebagai hujjah masalah amalan. </li></ul><ul><li>Dari segi boleh diikuti atau ditinggalkannya suatu Sunnah : </li></ul><ul><li>1. Sunah Tasyri (Sunnah berdaya hukum) yang mengikat untuk diikuti. Sunnah ini terdiri dari aqidah, akhlak, dan hukum-hukum amaliyah. </li></ul><ul><li>2. Sunnah bukan tasyri, yaitu Sunnah yang tidak berdaya hukum dan tidak mengikat untuk diikuti. </li></ul>
  6. 6. Pendapat Ulama Tentang Sunnah <ul><li>Kekuatan Sunnah sebagai sumber hukum ditentukan oleh kebenaran materi (wurud) dan penunjukannya (dalalah) terhadap hukum. Dari segi kebenaran materinya, kekuatan Sunnah mengikuti kebenaran pemberitaannya yang terdiri dari tiga tingkat, yaitu: mutawatir, masyhur, dan ahad. </li></ul><ul><li>Khabar mutawatir akan menghasilkan ilmu yakin (qath`i) bila memenuhi syarat-syarat : </li></ul><ul><li>1. Pembawa berita mencapai jumlah tertentu yang tidak mungkin sepakat berbohong. </li></ul><ul><li>2. Pembawa berita mengetahui pasti apa yang diberitakannya. </li></ul><ul><li>3. Pengetahuan mereka tentang berita itu berdasarkan pengalaman sendiri. </li></ul><ul><li>4. Jumlah penerima dan pembawa berita sama pada bagian pangkal, tengah, dan ujungnya. </li></ul><ul><li>5. Pembawa berita mempunyai kemampuan untuk menerima pengetahuan yang diberikan kepadanya. </li></ul>
  7. 7. Pendapat Ulama Tentang Sunnah <ul><li>Khabar atau Sunnah masyhur mempunyai kekuatan yang qath`i pada tingkat sahabat tetapi kekuatannya dari Nabi hanya bersifat zhanni. Menurut Abu Hanifah, khabar masyhur menimbulkan ilmu yakin walaupun kadarnya di bawah keyakinan yang ditimbulkan oleh khabar mutawatir. </li></ul><ul><li>Khabar ahad pada dasarnya tidak mempunyai kekuatan yang meyakinkan. Ia hanya menghasilkan ilmu hanya sampai tingkatan zhan ( dugaan kuat dan tidak meyakinkan ). Menurut mayoritas ulama, khabar ahad dapat dijadikan dalil dalam beramal dan penetapan hukum bila memenuhi syarat-syarat : </li></ul><ul><li>a. Pembawa berita orang Islam </li></ul><ul><li>b. Pembawa berita sudah mukallaf ( dewasa ) </li></ul><ul><li>c. Pembawa berita daya ingatnya kuat </li></ul><ul><li>d. Pembawa berita mempunyai sifat adil dan jujur dalam penyampaian khabar yang diterimanya. </li></ul>
  8. 8. Pendapat Ulama Tentang Sunnah <ul><li>Dari segi bersinambungnya sebuah khabar atau hadis dibagi menjadi dua tingkat : </li></ul><ul><li>Pertama,  Muttasil Sanad , yaitu khabar yang periwayatannya bersinambungan dan tidak ada rantai yang putus. </li></ul><ul><li>Kedua,  Khabar Mursal , yaitu khabar yang garis periwayatannya ada yang terputus. Ulama Syafi`i tidak menerima khabar mursal sebagai dalil, kecuali diperkuat oleh salah satu diantara hal berikut : </li></ul><ul><li>1. diperkuat oleh khabar yang pembawa beritanya bersinambung. </li></ul><ul><li>2. sesuai dengan ucapan sebagian sahabat. </li></ul><ul><li>3. diperkuat khabar mursal yang lain yang telah diterima sebagai dalil sebelumnya. </li></ul><ul><li>4. secara nyata diterima oleh ahli ilmu dan kelompok yang mengemukakan fatwa mengenai hal yang sama dengan apa yang dijelaskan oleh hadis mursal tersebut. </li></ul>
  9. 9. IJMA’ <ul><li>Secara etimologi, ijma’ berarti “kebulatan tekad terhadap suatu persoalan”, atau “kesepakatan tentang suatu masalah”. Secara terminologi, menurut ‘Abdul Karim Zaidan, ijma’ adalah “kesepakatan para mujtahid dari kalangan umat Islam tentang hukum syara’ pada satu masa setelah Rasulullah Saw wafat”. </li></ul><ul><li>Para ulama sepakat bahwa ijma’ sah dijadikan sebagai dalil hukum. Ada ikhtilaf mengenai jumlah pelaku kesepakatan sehingga dapat dianggap ijma’. Menurut mazhab Maliki, kesepakatan sudah dianggap ijma’ meskipun hanya merupakan kesepakatan penduduk Madinah (ijma’ ahl al-madinah). Menurut Syi’ah, ijma’ adalah kesepakatan para imam di kalangan mereka. Menurut jumhur, ijma’ sudah dianggap sah dengan adanya kesepakatan dari mayoritas ulama mujtahid. </li></ul>
  10. 10. Dalil Keabsahan Ijma’ <ul><li>QS. Al-Nisa`: 115 </li></ul><ul><li>وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى و َيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا </li></ul><ul><li>Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin , Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. </li></ul><ul><li>Ayat tsb mengancam golongan yang menentang Rasul Saw dan mengikuti jalan orang2 non-mukmin. Artinya, wajib hukumnya mengikuti jalan orang2 mukmin, yaitu mengikuti kesepakatan (ijma’) mereka. </li></ul><ul><li>Hadis Rasulullah Saw riwayat Abu Daud dan Tirmizi: </li></ul><ul><li>عن ابن عمر أن رسول الله ص م قال إن الله لايجمع أمتي اَو قالَ أمةَ محمدٍ ص م على ضلالة </li></ul><ul><li>Rasul Saw bersabda: Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku, atau beliau berkata umat Muhammad Saw, atas kesesatan. </li></ul>
  11. 11. Landasan (Sanad) Ijma’ dan Contoh Ijma’ <ul><li>Ijma’ baru dapat diakui sebagai dalil jika dalam pembentukannya mempunyai landasan, yaitu Quran dan Sunnah. </li></ul><ul><li>Contoh ijma’ yang dilandaskan atas Quran adalah kesepakatan para ulama atas keharaman menikahi nenek dan cucu perempuan , walau tidak disebut tegas dalam QS. Al-Nisa`: 23. </li></ul><ul><li>حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاتُكُمْ وَبَنَاتُ الأخِ وَبَنَاتُ الأخْتِ ... </li></ul><ul><li>Para ulama sepakat bahwa kata ummahat (para ibu) mencakup ibu kandung dan nenek, dan kata banat (anak-anak perempuan) mencakup anak dan juga cucu perempuan. </li></ul><ul><li>Contoh ijma’ yang disanadkan atas sunnah, kesepakatan para ulama bahwa nenek menggantikan hak ibu, jika ibu kandung si mayit sudah wafat, dalam hal mendapat harta warisan . Dalam hadis disebutkan, ketika ada nenek datang bertanya kepada Abu Bakar, lalu Abu Bakar bertanya kepada khalayak, dan Mughirah lah yang bisa memberitahu bahwa Rasul pernah memberi nenek 1/6 dari harta warisan cucunya. </li></ul><ul><li>عن ابن عمر قال جاءت الجدة أمُّ الأمْ وأمّ الأب الى ابي بكر فسأل الناسَ فشهدَ المغيرةُ بن شعبةَ أنّ رسول الله ص م أعطاها ( رواه الترمذي ) </li></ul>
  12. 12. Macam-macam Ijma’ <ul><li>Ijma’ sharih adalah kesepakatan tegas dari para ulama mujtahid dimana masing-masing mujtahid menyatakan persetujuannya secara tegas terhadap kesimpulan hukum. </li></ul><ul><li>Ijma’ sukuti adalah bahwa sebagian ulama menyatakan pendapatnya, sedangkan ulama mujtahid lainnya hanya diam tanpa komentar. </li></ul><ul><li>Menurut Imam Syafi’i dan kalangan Mailikiyah, ijma’ sukuti tidak dapat dijadikan landasan pembentukan hukum. Karena diamnya sebagian ulama belum tentu menandakan setuju, bisa jadi disebabkan takut kepada penguasa bilamana pendapat itu telah didukung penguasa, atau boleh jadi disebabkan merasa sungkan menentang pendapat mujtahid karena dianggap lebih senior. </li></ul><ul><li>Menurut Hanafiyah dan Hanabilah, ijma’ sukuti sah dijadikan sumber hukum, karena diamnya sebagian ulam dipahami sebagai persetujuan. Jika mereka tidak setuju dan memandangnya keliru, pasti secara tegas menentangnya. </li></ul>IJMA ’ IJMA’ SHARIH (TEGAS) IJMA’ SUKUTI (DIAM)
  13. 13. Pendapat Jumhur Ulama Tentang Pembatasan Ijma` <ul><li>a. Keikutsertaan kalangan awam dalam ijma’ ; suara orang awam tidak diperhitungkan untuk melangsungkan suatu ijma`. </li></ul><ul><li>b. Ijma’ sesudah masa sahabat ; ijma’ tidak hanya berlaku pada masa sahabat saja, tetapi setiap masa ijma’ itu mempunyai kekuatan hujjah bila memenuhi ketentuannya. Dalil-dalil yang menunjukkan kehujjahan ijma’ tidak keluar dari al Quran, Sunnah, dan logika. </li></ul><ul><li>c. Kesepakatan mayoritas ; tidak sah ijma’ bila hanya mayoritas ulama saja yang bersepakat sedangkan ada minoritas yang menentangnya. </li></ul><ul><li>d. Kesepakatan ulama Madinah ; kesepakatan ulama Madinah saja tidak merupakan kekuatan hujjah terhadap ulama lain yang tidak sependapat dengan mereka, sehingga bukan merupakan ijma’. </li></ul><ul><li>e. Kesepakatan ahlu al-bait (keturunan Nabi Muhammad dari Fatimah dan Ali); kesepakatan mereka atas suatu hukum tidak dianggap ijma’ yang mempunyai kekuatan hukum terhadap orang lain. </li></ul><ul><li>f. Kesepakatan khulafaur rasyidin ; kesepakatan khalifah yang empat itu bukan ijma’ dan tidak dapat dijadikan hujjah menurut apa adanya. Alasannya adalah terpelihara dari kesalahan dan dosa adalah kesepakatan menyeluruh bukan kesepakatan terbatas. </li></ul>
  14. 14. QIYAS (ANALOGI) <ul><li>Secara bahasa, qiyas berarti “mengukur sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk diketahui adanya persamaan antara keduanya”. </li></ul><ul><li>Secara istilah, DR. Wahbah al-Zuhaili mendefinisikan: </li></ul><ul><li>إلحاق أمر غير منصوص على حكمه الشرعي بأمر منصوص على حكمه لاشتراكهما فى علة الحكم </li></ul><ul><li>Qiyas adalah: Menghubungkan (menyamakan hukum) sesuatu yang tidak ada ketentuan hukumnya, dengan sesuatu yang ada ketentuan hukumnya, karena ada persamaan ‘illat antara keduanya. </li></ul>
  15. 15. Dalil Keabsahan Qiyas <ul><li>QS. Al-Nisa`: 59 </li></ul><ul><li>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا </li></ul><ul><li>Ayat ini menunjukkan bahwa jika ada perselisihan pendapat tentang hukum suatu masalah, maka jalan keluarnya dengan mengembalikan kepada Allah (Al-Quran) dan Sunnah Rasulullah Saw. Nah, cara mengembalikannya antara lain dengan metode qiyas. </li></ul><ul><li>Hadis yang berisi dialog antara Rasulullah Saw dan Mu’az bin Jabal ketika ia akan dikirim menjadi hakim di Yaman, dan merupakan pengakuan Rasul terhadap praktik qiyas. </li></ul><ul><li>كيف تقضي فقال أقضي بما في كتاب الله قال فإن لم يكن في كتاب الله قال فبسنة رسول الله ص م قال فإن لم يكن في سنة رسول الله ص م قال أجتهد برأيي قال الحمد لله الذي وفّق رسولَ رسولِ الله ص م ( رواه الترمذي ) </li></ul>
  16. 16. Rukun Qiyas <ul><li>Qiyas dianggap sah jika lengkap rukun-rukunnya. Ada 4 rukun qiyas: </li></ul><ul><li>الأصل (pokok tempat meng-qiyaskan sesuatu), yaitu masalah yang telah ditetapkan hukumnya, baik dalam al-Quran atau dalam sunnah. الأصل disebut juga المقيس عليه (yang menjadi ukuran) . Misalnya khamer ditegaskan dalam QS. Al-Maidah: 90 </li></ul><ul><li>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ </li></ul><ul><li>Adanya حكم الأصل yaitu hukum syara’ yang terdapat pada الأصل yang hendak ditetapkan pada الفرع (cabang) dengan jalan qiyas. Misalnya hukum haramnya khamer. </li></ul><ul><li>Adanya cabang ( الفرع ) yaitu sesutau yang tidak ada ketegasan hukumnya dalam Quran, sunnah atau ijma’, yang hendak ditemukan hukumnya melalui qiyas. Misalnya hukum wisky, bir. </li></ul><ul><li>‘ illat ( علة ) yang merupakan inti bagi praktik qiyas, yaitu suatu sifat yang ada pada ashal dan sifat itu yang dicari pada fara'. Seandainya sifat ada pula pada fara', maka persamaan sifat itu menjadi dasar untuk menetapkan hukum fara' sama dengan hukum ashal. </li></ul>
  17. 17. Contoh Qiyas <ul><li>Menurut surat al-Isra' 23; seseorang tidak boleh berkata uf ( cis ) kepada orang tua. Maka hukum memukul, membentak, meneror dsb terhadap orang tua juga dilarang, atas dasar analogi terhadap hukum cis tadi. Karena ‘illatnya sama-sama menyakiti orang tua. </li></ul><ul><li>Pada zaman Rasulullah saw pernah diberikan contoh dalam menentukan hukum dengan dasar Qiyas tersebut, yaitu ketika Umar bin Khathab berkata kepada Rasulullah saw : Hari ini saya telah melakukan suatu pelanggaran, saya telah mencium istri, padahal saya sedang dalam keadaan berpuasa. Tanya Rasul : Bagaimana kalau kamu berkumur pada waktu sedang berpuasa ? Jawab Umar : tidak apa-apa. Sabda Rasul : Kalau begitu teruskanlah puasamu. </li></ul>
  18. 18. Pembagian Qiyas <ul><li>Dari segi kekuatan ’illat yang terdapat pada furu’ dibandingkan ashal: </li></ul><ul><li>Qiyas Awlawi: Berlakunya hukum pada furu’ lebih kuat dari pemberlakuan hukum pada ashal, karena kekuatan ’illat pada furu’. Contoh, keharaman memukul lebih kuat dari keharaman berkata ”uf” kepada orang tua. </li></ul><ul><li>Qiyas musawi, yakni qiyas yang berlakunya hukum pada furu’ sama keadaannya dengan berlakunya hukum pada ashal karena kekuatan ’illatnya sama. Contoh, membakar harta anak yatim atau memakannya secara tidak patut, sama-sama merusak harta anak yatim. </li></ul><ul><li>Qiyas adna: Berlakunya hukum pada furu’ lebih lemah dibandingkan berlakunya hukum pada ashal, meskipun qiyas tersebut memiliki persyaratan. Misal, hukum riba pada gandum dgn hukum riba pada apel. </li></ul><ul><li>Dari segi kejelasan ‘illatnya: Qiyas jali , qiyas yang ‘illatnya ditetapkan dalam nash bersamaan dengan penetapan hukum ashal, atau tidak ditetapkan ‘illatnya dalam nash, namun titik perbedaan antara ashal dengan furu’nya dipastikan tidak ada pengaruhnya. Qiyas khafi , yaitu qiyas yang ‘illatnya tidak disebutkan dalam nash. </li></ul>
  19. 19. Kelompok ulama yang menolak penggunaan qiyas dalam menetapkan hukum syara`: <ul><li>1. Syi’ah Imamiyah , mereka tidak membolehkan sama sekali penggunaan qiyas. Alasannya: “agama Allah tidak dapat dicapai melalui akal”, dan “Sunnah itu bila diqiyaskan akan merusak agama”. </li></ul><ul><li>2. Al-Nazham , mengatakan bahwa ’illat yang tersebut dalam nash mewajibkan adanya usaha menghubungkan hukum melalui “lafaz” yang umum, tidak melalui qiyas. </li></ul><ul><li>3. Zhahiriyah, pemimpinnya Abu Daud Khallaf, mereka tidak menggunakan qiyas tetapi menggunakan kaidah “umum lafaz nash”. Contohnya, jumhur ulama mengharamkan memukul orang tua karena diqiyaskan dengan haramnya mengucapkan kata “uf” kepada orang tua. Keduanya mempunyai ‘illat yang sama, menyakiti orang tua. </li></ul><ul><li>Zhahiri juga mengharamkan memukul orang tua tetapi tidak menggunakan qiyas. Mereka menggunakan dalil umum perintah berbuat baik kepada orang tua dalam firman Allah dan hadits Nabi, jadi haramnya memukul orang tua itu bukan karena adanya larangan mengucapkan “uf”. </li></ul>
  20. 20. Kelompok ulama yang menolak penggunaan qiyas dalam menetapkan hukum syara`: <ul><li>Selain itu Zhahiriyah juga mengemukakan beberapa dalil tentang larangan menetapkan hukum berdasarkan qiyas : </li></ul><ul><li>a. Qur`an surat al Maidah (5): 3, “pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan nikmatKu dan telah Kuridloi Islam sebagai agamamu…”. </li></ul><ul><li>b. Tidak dibenarkan seseorang mengikuti tasyabuh dalam al Quran dan tidak boleh mencari makna ayat yang mutasyabih. QS Ali Imran (3): 7 “adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan (suka pada yang bathil) maka mereka mengikuti ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari ta`wilnya”. </li></ul><ul><li>c. Terdapat beberapa nash al Quran yang dengan jelas menolak penggunaan akal dalam menetapkan hukum. </li></ul><ul><li>d. Hadis Nabi yang menyuruh orang beriman untuk meninggalkan apa-apa yang telah ditinggalkan Allah dan Rasul ketika tidak adanya nash. </li></ul>
  21. 21. Sebab Perbedaan Dalam Penetapan Sumber Hukum <ul><li>1. Sikap dan cara berpegang pada sunnah dan standar yang dipergunakan untuk menguatkan satu riwayat atas riwayat yang lain. Imam Abu Hanifah dkk berhujjah dengan sunnah mutawatir dan masyhur saja. Mereka memandang kuat hadis yang diriwayatkan oleh orang yang tsiqah dari kalangan ahli fiqih. Imam Malik dkk berpegang pada hadis yang dipandang kuat oleh ahli fiqih Madinah tanpa diperselisihkan diantara mereka, dan mereka meninggalkan hadis ahad yang bertentangan dengan amalan ahli fiqih Madinah ketika itu. </li></ul><ul><li>Sedangkan imam-imam mujtahid lainnya berhujjah dengan hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang adil dan tsiqah tanpa melihat apakah mereka dari kalangan ahli fiqih atau sesuai dengan amalan ahli Madinah. </li></ul><ul><li>Akibatnya , para imam mujtahid Irak menjadikan hadis-hadis masyhur sebagai hadis yang berkualitas mutawatir, sehingga mereka mentakhsis ayat-ayat yang bersifat umum, dan mentaqyid ayat-ayat yang masih bersifat muthlaq dengan hadis masyhur tsb. Akibat lainnya , sebagian tokoh tasyri’ berhujjah dengan hadis mursal (hadis yang diriwayatkan oleh sahabat dengan menyatakan bahwa Rasul memerintahkan atau melarang atau menetapkan begini, tanpa menjelaskan bahwa ia sendiri mendengar atau menyaksikan langsung dari Rasulullah Saw). </li></ul>
  22. 22. Sebab Perbedaan Dalam Penetapan Sumber Hukum <ul><li>2. Dalam hal fatwa-fatwa sahabat dan kedudukannya, para imam mujtahid berbeda pendapat mengenai hasil ijtihad mereka. Imam Abu Hanifah dkk berpendirian bahwa boleh mengambil fatwa mana saja, tanpa membatasi pada fatwa seorang sahabat tertentu saja, tapi tidak boleh bertentangan dengan fatwa mereka secara keseluruhan. Imam Syafi’i & pendukungnya berpendirian bahwa hal itu adalah fatwa yang bersifat ijtihadiyah individu dari orang-orang yang tidak ma’shum, sehingga boleh mengambil fatwa mana saja dari mereka dan boleh juga berfatwa dengan menyalahi fatwa mereka secara keseluruhan. </li></ul><ul><li>3. Dalam hal qiyas (analogi), imam-imam mujtahid dari kalangan Syi’ah dan Zhahiriyah menolak berhujjah dengan qiyas. Sedang mayoritas ulama mujtahid lainnya berhujjah dengan qiyas dan menjadikannya salah satu sumber hukum yang disepakati setelah Quran, Sunnah dan Ijma’. Namun mereka berbeda pendapat dalam hal-hal yang patut dijadikan ‘illat hukum sebagai dasar penetapan hukum dalam qiyas. </li></ul><ul><li>4. Prinsip-prinsip yang dipergunakan dalam meneliti hukum-hukum syariat dan uslub-uslub bahasa Arab . Ada yang memahami ayat dan hadis berdasarkan mantuq (bunyi lafalnya), atau mafhum mukhalafah, muthlaq atau muqayyad, ‘am atau khash, indikasi (qarinah) dsb. </li></ul>
  23. 23. Pengaruh Tasyri’ Periode Tadwin <ul><li>Adanya hadis-hadis shahih yang telah dibukukan, baik secara sistem musnad, ataupun berdasarkan bab-bab fiqih. Para ulama hadis berlomba menghimpun dan meneliti hadis serta menyusun biografi para rawi hadis. </li></ul><ul><li>Pembukuan Fiqih, hukum-hukumnya, dan pengumpulan masalah-masalah yang berkaitan antara satu objek dengan sesuatu yang lain, penyelidikan kausalitas hukum, istidlal (cara menggunakan dalil dalam menetapkan hukum). </li></ul><ul><li>Pembukuan ilmu ushul fiqih yang merupakan landasan dan sandaran dalam melakukan aktivitas ijtihad. </li></ul>
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×