Your SlideShare is downloading. ×
Makalah poligami
Makalah poligami
Makalah poligami
Makalah poligami
Makalah poligami
Makalah poligami
Makalah poligami
Makalah poligami
Makalah poligami
Makalah poligami
Makalah poligami
Makalah poligami
Makalah poligami
Makalah poligami
Makalah poligami
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Makalah poligami

4,136

Published on

Published in: Education
0 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
4,136
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
5
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Bab Poligami Selasa,8Mei 2013 Hal1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.LatarBelakang Surah An-Nisa' (bahasa Arab: , an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah. Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain. Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An- Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil). Belakangan ini istilah poligami menjadi suatu hal yang sudah tidak asing lagi untuk diperdengarkan, banyak dikalangan masyarakat dan para tokoh terkenal di Indonesia yang juga melakukan poligami. Poligami dilakukan oleh orang yang sudah terikat dalam suatu pernikahan. Pernikahan merupakan ikatan antara dua insan yang mempunyai banyak perbedaan, baik dari segi fisik, asuhan keluarga, pergaulan, cara berfikir (mental), pendidikan, diakui sah oleh Negara dan agama. Sedangkan Poligami ialah suatu system pernikahan dimana salah satu pihak (suami) mengawini lebih dari satu istri pada waktu bersamaan, artinya istri-istri tersebut masih dalam tanggungan suami tidak diceraikan tetapi masih sah menjadi istrinya. Hal ini tentu menjadi pro kontra dikalangan masyarakat bangsa Indonesia. Dalam kondisi tertentu poligami diperbolehkan bagi seseorang, namun dengan ketentuan syarat yang berlaku. Dalam kesempatan ini kami akan mencoba memaparkan tentang poligami, baik dari pendapat para ulama, dari segi hukum Indonesia dan dari segi agama. Setiap apapun perbuatan pasti memiliki dampak bagi pelakunya, begitupun dengan poligami. Poligami membawa dampak tersendiri bagi orang yang berpoligami baik positif maupun negatif. 1.2.RumusanMasalah  ApakahpengertiandariPoligami ?  Apakahhukum,SyaratdanAdabdaripoligami ?
  • 2. Bab Poligami Selasa,8Mei 2013 Hal2  BagaimanaPandanganPoligamiDalamIslam ?  BagaimanaPandanganNegara TentangPoligami ?  ApakahDampakdariPoligami ?  ApakahHikmah dariPoligami ? 1.3.Tujuan Siswamengetahuidaripengertianpoligami Siswamengertitentangpoligamidalamislam Siswamemahamipandanganpoligamidalamnegara
  • 3. Bab Poligami Selasa,8Mei 2013 Hal3 BAB II PEMBAHASAN 2.1. PengertianPoligami Pengertian dari Poligami adalah perkawinan seorang suami dengan istri lebih dari satu.Poligami berasal dari bahasa Yunani, yaitu apoulus yang mempunyai arti banyak; serta gamos yang mempunyai arti perkawinan. Maka ketika kata ini digabungkan akan berarti suatu perkawinan yang banyak dan bisa jadi dalam jumlah yang tidak terbatas.1[1] Kata poligami hampir sama dengan poligini. Dimana poligini berasal dari kata polus yang berarti banyak; dan gene yang berarti perempuan. Dari pengertian itu dapat di pahami bahwa yang dimaksud dengan poligami dan poligini ialah suatu system perkawinan dimana yang salah satu pihak (suami) mengawini lebih dari satu istri pada waktu bersamaan, artinya istri-istri tersebut masih dalam tanggungan suami tidak diceraikan tetapi masih sah menjadi istrinya. Ada juga istilah poliandri, dimana yang menjadi pelaku poliandri adalah sang istri. Jika dibandingkan dengan poliandri, lebih banyak orang yang mempraktekkan poligami. Kebalikkan dari poligami yaitu monogami, dimana didalam perkawinan tersebut suami hanya mempunyai satu istri. Monogami pada kenyataanya lebih sesuai dengan perilaku manusia. Menurut syari’at islam, kata poligami atau ta‟addud az-zaujat mempunyai arti seorang laki- laki diperbolehkan mengawini perempuan sebanyak dua, tiga, atau empat jika mampu berlaku adil. Jumhur ulama berpendapat bahwa batasannya yaitu hanya empat. Dalam poligami ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain: 1. Jumlah perempuan yang boleh nikahi harus berjumlah 4 dan tidak boleh lebih dari itu. Prof. T. M. Hasby Ash-Shiddiqi berpendapat berdasarkan penafsiran QS. An-Nisa ayat 3: “Paling banyak ketika cukup persyaratan, boleh mengawini empat orang wanita. Kawin lebih dari empat adalah kekhususan Nabi Muhammad SAW. Sebagian ahli ilmu mengatakan, bahwa ayat ini digunakan untuk segolongan umat yang memperbolehkan mengawini beberapa orang yang kita 1[1] Labib MZ, Pembelaan UmmatManusia, (Surabaya: Bentang Pelajar, 1986), hlm:15
  • 4. Bab Poligami Selasa,8Mei 2013 Hal4 kehendaki. Pendapat ini ditentang oleh para ijma’ fuqaha. Ayat ini menegaskan bahwa perkawinan itu mewajibkan beberapa hak.”2[3] 1. Dia harus mempunyai kemampuan dan kekayaan yang cukup untuk menafkahi istri yang dinikahinya baik bersifat lahir maupun batin. 2. Dia harus memperlakukan istrinya secara adil, setiap hari diberlakukan sama dalam memenuhi hak- hak mereka.3[4] 2.2.HukumBerpoligamiDalam Islam PoligamisudahadasejaksebelumNabi Muhammad Saw.Dan telahdilaksanakandidunia Arab danselain Arab. Kemudian datanglah Islam untuk menegaskan syariat tersebut,meluruskan, membatasi dan menetapkan syarat-syarat kebolehannya. Diantara dalil-dalil yang membolehkannya melakukan poligami dalam Islam berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta‟ala: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisaa: 3) Ayat ini menjelaskan,jika kalaian merasa khawatir terkena dosa memakan harta anak perempuan yatim , maka janganlah menikahinya. Sebab Allah telah memberikan alternatif lain, yaitu menikah dengan selain anak perempuan yatim; satu, dua, tiga, atau empat istri. Namun jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil kepada dua,tiga atau empat istri ,maka kalian harus menikah dengan wanita 2[4] Abdurahman I Doi, Perkawinan dalam Syari’at Islam, pen. Basri Iba Ashgari dan Wadi Isturi, cet. Ke-I, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992), hlm. 49
  • 5. Bab Poligami Selasa,8Mei 2013 Hal5 satu saja, atau menikah dengan satu wanita yang merdeka dan menyalurkan syahwat pada budak- budak wanita Pilihan menikah dengan satu wanita atau menyalurkannya dengan budak itu lebih baik menghindari seseorang dari kezhaliman. Allah Berfirman,       “129. dan kamu sekali-kali tidak akan dapat Berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung- katung. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Ayatinimenegasaknbahwaadilsecarasempurnadanmutlaktidakmungkindapatdilakukanolehmanusia,s iapapun dia. Makaayatinihanyamelarangkedzalimanyang nampak dan sewenang-wenangan yang jelas,yaitu kecenderungan penuh. Bolehnya syariat poligami ini juga dikuatkan dengan perbuatan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam dan perbuatan para sahabat sesudah beliau shallallahu „alaihi wa sallam. Syaikh Ahmad Muhammad Syakir berkata, “Anehnya para penentang poligami baik pria maupun wanita, mayoritas mereka tidak mengerti tata cara wudhu dan sholat yang benar, tapi dalam masalah poligami, mereka merasa sebagai ulama besar!!” (Umdah Tafsir I/458-460 seperti dikutip majalah Al Furqon Edisi 6 1428 H, halaman 62). Perkataan beliau ini, kiranya cukup menjadi bahan renungan bagi orang-orang yang menentang poligami tersebut, hendaknya mereka lebih banyak dan lebih dalam mempelajari ajaran agama Allah kemudian mengamalkannya sampai mereka menyadari bahwa sesungguhnya aturan Allah akan membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat.
  • 6. Bab Poligami Selasa,8Mei 2013 Hal6 2.3. SyaratdanAdabBerpoligami Syarat-syarat poligami Sebagaimana syariat lainnya, dalam menjalankan poligami ini, ada syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seseorang sebelum melangkah untuk melakukannya. Ada dua syarat bagi seseorang untuk melakukan poligami yaitu (kami ringkas dari tulisan Ustadz Abu Ismail Muslim Al Atsari dalam majalah As Sunnah Edisi 12/X/1428 H): 1. Berlaku adil pada istri dalam pembagian giliran dan nafkah. Dan tidak dipersyaratkan untuk berlaku adil dalam masalah kecintaan. Karena hal ini adalah perkara hati yang berada di luar batas kemampuan manusia. 2. Mampu untuk melakukan poligami yaitu: pertama, mampu untuk memberikan nafkah sesuai dengan kemampuan, misalnya jika seorang lelaki makan telur, maka ia juga mampu memberi makan telur pada istri-istrinya. Kedua, kemampuan untuk memberi kebutuhan biologis pada istri-istrinya. Dalam pendapat lainnya Syarat-syarat poligami yaitu 1. Membatasi jumlah isteri yang akan dikawininya. 2. Diharamkan bagi suami mengumpulkan wanita-wanita yang masih ada tali persaudaraan menjadi isterinya. 3. Disyaratkan pula berlaku adil,  Berlaku adil terhadap dirinya sendiri.  Adil di antara para isteri.  Adil memberikan nafkah.  Adil dalam menyediakan tempat tinggal.  Anak-anak juga mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan, pemeliharaan serta kasih sayang yang adil dari seorang ayah. 4. Tidak menimbulkan huru-hara di kalangan isteri maupun anak-anak. 5. Berkuasa/mampu menanggung nafkah.
  • 7. Bab Poligami Selasa,8Mei 2013 Hal7 Adapun adab dalam berpoligami bagi orang yang melakukannya adalah sebagai berikut (kami ringkas dari tulisan Ustadz Abu Ismail Muslim Al Atsari dalam majalah As Sunnah Edisi 12/X/1428 H): 1. Berpoligami tidak boleh menjadikan seorang lelaki lalai dalam ketaatan pada Allah. 2. Orang yang berpoligami tidak boleh beristri lebih dari empat dalam satu waktu. 3. Jika seorang lelaki menikahi istri ke lima dan dia mengetahui bahwa hal tersebut tidak boleh, maka dia dirajam. Sedangkan jika dia tidak mengetahui, maka dia terkena hukum dera. 4. Tidak boleh memperistri dua orang wanita bersaudara (kakak beradik) dalam satu waktu. 5. Tidak boleh memperistri seorang wanita dengan bibinya dalam satu waktu. 6. Walimah dan mahar boleh berbeda dia antara para istri. 7. Jika seorang pria menikah dengan gadis, maka dia tinggal bersamanya selama tujuh hari. Jika yang dinikahi janda, maka dia tinggal bersamanya selama 3 hari. Setelah itu melakukan giliran yang sama terhadap istri lainnya. 8. Wanita yang dipinang oleh seorang pria yang beristri tidak boleh mensyaratkan lelaki itu untuk menceraikan istri sebelumnya (madunya). 9. Suami wajib berlaku adil dalam memberi waktu giliran bagi istri-istrinya. 10. Suami tidak boleh berjima’ dengan istri yang bukan gilirannya kecuali atas seizin dan ridha istri yang sedang mendapatkan giliran. Jika seseorang tidak bisa memenuhi syarat-syarat berpoligami, dan dikuatirkan tidak bisa berlaku adil, maka sebaiknya menikah hanya dengan 1 istri saja, seperti yg disebutkan dalam (QS. An Nisaa: 3) diatas. 2.4. Pandangan Islam DalamPoligami Islam pada dasarnya 'memperbolehkan' seorang pria beristri lebih dari satu (poligami). Islam 'memperbolehkan' seorang pria beristri hingga empat orang istri dengan syarat sang suami harus dapat berbuat 'adil' terhadap seluruh istrinya.  Pendapat Ustad Quraish Shihab Ayat 3 An-Nisa bukan anjuran apalagi perintah poligami. Mengutip penjelasan Ustad Quraish Shihab :
  • 8. Bab Poligami Selasa,8Mei 2013 Hal8 ”Ayat ini tidak menganjurkan apalagi mewajibkan berpoligami, tetapi ia hanya berbicara ttg bolehnya berpoligami. Poligami dalam ayat itu merupakan pintu kecil yang hanya dapat dilalui oleh siapa yang sangat membutuhkan dan dengan syarat yang tidak ringan”  Bagaimana dengan anggapan berpoligami adalah sunnah Rasul? Mengutip penjelasan Ustad Quraish Shihab : Tidak bisa dikatakan bahwa Rasul SAW menikahi lebih dari satu perempuan dan pernikahan semacam itu hendaknya diteladani. Karena, tidak semua apa yang dilakukan Rasul SAW perlu diteladani sebagaimana tidak semua yang wajib atau terlarang bagi beliau, wajib atau terlarang pula bagi umatnya. Bukankah Rasul SAW antara lain wajib bangun shalat malam dan tidak boleh menerima zakat? Bukankah tidak batal wudlu beliau bila tertidur? Selanjutnya perlu dipertanyakan buat mereka yang beranggapan poligami adalah sunah Rasul SAW. ''Apakah benar mereka benar- benar ingin meneladani Rasul SAW dalam pernikahannya? '' Kalau benar demikian, maka perlu mereka sadari Rasul SAW baru berpoligami setelah pernikahan pertamanya berlalu sekian lama setelah meninggalnya Khadijah RA. Kita ketahui Rasul SAW menikah dalam usia 25 tahun, 15 tahun setelah pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah RA, beliau diangkat menjadi Nabi. Istri beliau ini wafat pada tahun ke-10 kenabian Beliau. Ini berarti beliau bermonogami selama 25 tahun. Lalu setelah tiga atau empat tahun sesudah wafatnya Khadijah RA, baru beliau menggauli Aisyah RA yakni pada tahun kedua atau ketiga Hijriyah, sedang beliau wafat dalam tahun ke-11 Hijriyah dalam usia 63 tahun. Ini berarti beliau berpoligami hanya dalam waktu delapan tahun, jauh lebih pendek daripada hidup bermonogami beliau, baik dihitung berdasar masa kenabian lebih-lebih jika dihitung seluruh masa pernikahan beliau. Jika demikian, maka mengapa bukan masa yang lebih banyak itu yang diteladani? Mengapa mereka yang bermaksud meneladani Rasul SAW itu tidak meneladaninya dalam memilih calon-calon istri yang telah mencapai usia senja? Semua istri Nabi SAW selain Aisyah adalah janda-janda yang berusia di atas 45 tahun? Di samping itu, mengapa mereka tidak meneladani beliau dalam kesetiaannya yang demikian besar terhadap istri petamanya, sampai- sampai beliau menyatakan kecintaan dan kesetiaannya walau di hadapan istri-istri beliau yang lain?
  • 9. Bab Poligami Selasa,8Mei 2013 Hal9 2.5. Pandangan Negara Tentang Poligami Dalam antropologi sosial, poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu suami atau istri (sesuai dengan jenis kelamin orang bersangkutan) sekaligus pada suatu saat (berlawanan dengan monogami, di mana seseorang memiliki hanya satu suami atau istri pada suatu saat). Terdapat tiga bentuk poligami, yaitu poligini (seorang pria memiliki beberapa istri sekaligus), poliandri (seorang wanita memiliki beberapa suami sekaligus), dan pernikahan kelompok (bahasa Inggris: group marriage, yaitu kombinasi poligini dan poliandri). Ketiga bentuk poligami tersebut ditemukan dalam sejarah, namum poligini merupakan bentuk yang paling umum terjadi. Poligami dalam UU No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 3 (1) Pada azasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh beristeri seorang. Seorang wanita hanya boleh bersuami seorang. (2) Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang jika dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Dalam hal suami hendak beristeri lebih dari seorang, maka ia wajib mengajukan permohonan kepada Pengadilan di daerah tempat tinggalnya, Pengadilan dimaksud hanya memberi izin kepada suami, apabila: 1. Isteri tidak dapat melakukan kewajiban. 2. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan. 3. Isteri tidak dapat melahirkan anak. Untuk dapat mengajukan permohonan, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Persetujuan isteri/isteri-isteri. 2. Kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup isteri dan anak-anaknya. 3. Jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri dan anak-anaknya.
  • 10. Bab Poligami Selasa,8Mei 2013 Hal10 Persetujuan isteri diatas tidak diperlukan apabila isteri/isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian atau jika tidak ada kabar dari isterinya minimal 2 tahun atau karena sebab yang lain yang perlu penilaian hakim, demikian menurut Pasal 4 dan Pasal 5. Dalam hal suami beristeri lebih dari seorang, berlaku hal-hal sebagai berikut: 1. Suami wajib memberi jaminan hidup yang sama kepada semua isteri dan anaknya. 2. Isteri kedua tidak berhak atas harta bersama yang suda ada sebelum perkawinan dengan isteri kedua atau berikutnya itu. 3. Para isteri mempunyai hak yang sama atas harta bersama yang terjadi sejak perkawinannya masing- masing. Bila Pengadilan tidak menentukan lain, maka berlakulah ketentuan diatas, demikian menurut Pasal 65. 2.6. Dampak Dari Poligami Ada beberapa dampak poligami bagi wanita yaitu : a. Timbul perasaan dalam diri menyalahkan diri sendiri, istri merasa tindakan suaminya berpoligami adalah akibat dari ketidakmampuan dirinya memenuhi kebutuhan biologis suaminya. b. Ketergantungan secara ekonomi kepada suami. Ada beberapa suami memang dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya. Tetapi seringkali pula dalam prakteknya, suami lebih mementingkan istri muda dan menelantarkan istri dan anak-anaknya terdahulu. Akibatnya istri yang tidak memiliki pekerjaan akan sangat kesulitan menutupi kebutuhan sehari-hari. c. Hal lain yang terjadi akibat adanya poligami adalah sering terjadinya kekerasan terhadap perempuan, baik kekerasan fisik, ekonomi, seksual maupun psikologis. d. Selain itu, dengan adanya poligami, dalam masyarakat sering terjadi nikah di bawah tangan, yaitu perkawinan yang tidak dicatatkan pada kantor pencatatan nikah (Kantor Catatan Sipil atau Kantor Urusan Agama). Perkawinan yang tidak dicatatkan dianggap tidak sah oleh negara, walaupun perkawinan tersebut sah menurut agama. Bila ini terjadi, maka yang dirugikan adalah pihak perempuannya karena perkawinan tersebut dianggap tidak pernah terjadi oleh negara. Ini berarti bahwa segala konsekwensinya juga dianggap tidak ada, seperti hak waris dan sebagainya.
  • 11. Bab Poligami Selasa,8Mei 2013 Hal11 e. Yang paling mengerikan, kebiasaan berganti-ganti pasangan menyebabkan suami/istri menjadi rentan terhadap penyakit menular seksual (PMS) dan bahkan rentan terjangkit virus HIV/AIDS. f. Para suami bebas berselingkuh, berpindah ke lain hati.Jika jatuh cinta lagi ke pada WIL (Wanita Idaman Lain) bisa dikawini. Jika sudah bosan dengan istri pertama, cari istri kedua dst. Akhirnya terjadi penurunan moral suami, keluarga yang berantakan, penurunan kesejahteraan keluarga. g. Para muslim berlomba-lomba cari istri tambahan, kawin lagi. Karena terinspirasi contoh nabi dan para tokoh ulama (Aa Gymm, Hamzah Haz, Rhoma, dst.) yang berpoligami, para muslim berangan-angan cari wanita lain yang lebih dari istri sebelumnya h. Terjadi pertikaian dan perpecahan dalam rumah tangga Istri pertama, kedua, dan anak-anak mereka saling berebut kasih sayang, saling cemburu, saling curiga dan membenci. Adapun kondisi atau situasi dimana seseorang diperbolehkan untuk melakukan poligami: 1. Bila istri menderita penyakit yang berbahaya, seperti lumpuh dan penyakit yang menular. Dalam kondisi ini akan lebih baik jika ada istri lain yang memenuhi kebetuhan suami dan anak-anaknya. 2. Bila istri terbukti tidak mempunyai keturunan (mandul). Setelah melakukan usaha medis, para ahli kesehatan mengatakan bahwa ia tidak mampu melahirkan keturunan. 3. Tabiat kemanusiaan suami yang menginginkan untuk beristri lebih dari satu. Dari segi biologis, nafsu keinginan melaksanakan hubungan itu tidak sama antara laki-laki satu dengan yang lainnya. Ada yang kuat, normal dan lemah. 4. Dimana jumlah kaum hawa lebih banyak daripada adam. Faktanya dalam suatu masyarakat seringkali dijumpai jumlah kaum hawa lebih banyak dari kaum adam. 2.8. HikmahPoligami Islam membolehkan umatnya berpoligami bukanlah tanpa alasan atau tujuan tertentu. Keharusan berpoligami ini mempunyai hikmah-hikmah untuk kepentingan serta kesejahteraan umat Islam itu sendiri. Di antaranya ialah; 1. Kemaslahatan Kaum Laki – laki a. Ada laki-laki yang dikarunai libido seks berlebih, sehingga tidak cukup hanya dengan 1 istri. Sementara istrinya pasti menjalankan masa, menstruasi,nifas atau sakit yang otomatis
  • 12. Bab Poligami Selasa,8Mei 2013 Hal12 menghalangi terpenuhi kebetuhan dirinya, maka poligami adalah langkah terbaik untuk memelihara serta menyelamatkan suami dari jatuh ke lembah perzinaan. b. bahwa wanita itu mempunyai tiga halangan iaitu haid, nifas dan keadaan yang belum betul-betul sihat selepas melahirkan. Jadi, dalam keadaan begini, Islam mengharuskan berpoligami sampai empat orang isteri dengan tujuan kalau tiap-tiap isteri ada yang haid, ada yang nifas dan ada pula yang masih sakit sehabis nifas, maka masih ada satu lagi yang bebas. Dengan demikian dapatlah menyelamatkan suami daripada terjerumus ke jurang perzinaan pada saat-saat isteri berhalangan. 2.Kemaslahatan Masyarakat Akibat peperangan yang biasanya melibatkan kaum lelaki, maka jumlah wanita akan lebih banyak baik mereka itu masih gadis mahupun janda.Dengan adanya poligami diharapkan janda- janda akibat peperangan itu dapat diselamatkan serta diberi perlindungan yang sempurna. Begitu juga untuk menghindari banyaknya jumlah gadis-gadis tua yang tidak dapat merasakan hidup berumahtangga dan berkeluarga. 1. Untuk mendapatkan keturunan kerana isteri mandul tidak dapat melahirkan anak. Atau karena isteri sudah terlalu tua dan sudah putus haidnya. Dalam pemilihan bakal isteri, Islam menyukai wanita yang dapat melahirkan keturunan daripada yang mandul, walaupun sifat- sifat jasmaniahnya lebih menarik. Ini dijelaskan oleh Rasulullah dengan sabdanya yang bermaksud, "Perempuan hitam yang mempunyai benih lebih baik dari wanita-wanita cantik yang mandul." 2. Untuk memberi perlindungan dan penghormatan kepada kaum wanita dari keganasan serta kebuasan nafsu kaum lelaki yang tidak dapat menahannya. Andaikan poligami tidak diperbolehkan, kaum lelaki akan menggunakan wanita sebagai alat untuk kesenangannya semata-mata tanpa dibebani satu tanggungjawab. Akibatnya kaum wanita akan menjadi simpanan atau pelacur yang tidak dilayan sebagai isteri serta tidak pula mendapatkan hak perlindungan untuk dirinya. 3. Untuk menghindari kelahiran anak-anak yang tidak sah agar keturunan masyarakat terpelihara dan tidak disia-siakan kehidupannya. Dengan demikian dapat pula menjamin sifat kemuliaan umat Islam. Anak luar nikah mempunyai hukum yang berbeza dari anak
  • 13. Bab Poligami Selasa,8Mei 2013 Hal13 yang dari pernikahan yang sah. Jika gejala ini dibiarkan berleluasa dan tidak ditangani dengan hati-hati ia akan bakal menghancurkan umat Islam dan merosakkan fungsi pernikahan itu sendiri. Dengan keterangan-keterangan di atas, jelaslah poligami yang diharuskan dalam Islam bukanlah untuk memenuhi nafsu seks sahaja bagi kalangan kaum lelaki tetapi mempunyai maksud serta tujuan untuk kemaslahatan umat Islam seluruhnya. Islam juga tidak memandang mudah akan syarat-syarat yang dikenakan pada suami yang beristeri banyak. Sebab itulah bagi mereka secara tegas Allah (SWT) mengingatkan, tanggungjawab mereka bukanlah mudah. Andai kata ketentuan- ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah itu tidak dapat dipenuhi oleh setiap suami yang berpoligami, maka dia akan beroleh dosa. Ini sudah tentu bertentangan dengan ajaran Islam dan dilarang melakukannya.
  • 14. Bab Poligami Selasa,8Mei 2013 Hal14 BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Jika seseorang ragu untuk berperilaku adil dan memberikan perlakuan yang sama untuk memenuhi hak-hak mereka sebagai istri, maka sebaiknya seorang suami memiliki istri satu dan ia tidak diperkenankan menikahi perempuan yang kedua dan seterusnya. Namun, bila seorang suami mampu berlaku adil dan memberikan hak yang sama kepada dua orang istri atau lebih, maka ia diperbolehkan untuk menikahi istri yang ketiga. Dalam kondisi tertentu seseorang diperbolehkan untuk berpoligami apabila istrinya memiliki penyakit yang berbahaya, istri terbukti tidak mempunyai keturunan (mandul), tabiat kemanusiaan suami yang menginginkan untuk beristri lebih dari satu , serta dimana jumlah kaum hawa lebih banyak daripada adam 3.2. Kritikdan Saran Sebuahmakalahsepertiinimembutuhkandengankritikdan saran karenakritikdan saran yang membangunitulahtujuanpembelajaransendiri.Denganmenyelesaikanmakalahinisemogamenambah ,k eilmuandalamberagamaterlebihkhususdenganmateri “poligami”, semuanyamembutuhkan proses agar lebihbaikuntukmembangundanmenunjangkeilmuandimasa yang datang.
  • 15. Bab Poligami Selasa,8Mei 2013 Hal15 DAFTAR PUSTAKA  http://dokterbantal.tripod.com/f_artikel_islam/hikmahhikmah20poligami20dalam20islam. htm.03/mei 2013, 03:55 Wib.  Labib MZ, Pembelaan UmmatManusia, (Surabaya: Bentang Pelajar, 1986)  Faqih, Khoyin Abu,2007,Poligami, Solusiatau Masalah.Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat.  Saebani, Drs. Beni Ahmad,2010,Fiqih Munakahat 2,Bandung : CV.PustakaSetia  Abdurahman I Doi, Perkawinan dalam Syari‟at Islam, pen. Basri Iba Ashgari dan Wadi Isturi, cet. Ke-I, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992), hlm. 49

×