Makalah al yakin la yuzalu bi syak

7,194 views

Published on

1 Comment
4 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
7,194
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
183
Comments
1
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah al yakin la yuzalu bi syak

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Alhamdulillah semoga Alloh SWT selalu memberikan kepada kita hidayah dan Taufiq-Nya. Amin. Shalawat dan salam semoga terlimpah pada rasulullah Saw. Dalam hal ini penulis akan menguraikan kaidah al-yaqin la yuzalu bisyakki. Kaidah-kaidah fiqih yang ada dalam khazanah keilmuan qawaid al fiqhiyyah pada dasarnya tebagi dalam dua kategori. Pertama adalah kaidah fiqih yang hanya diperuntukkan untuk masalah individu dan masalah ibadah dalam arti hubungan vertikal antara setiap individu dengan Allah. Kedua, kaidah fiqih yang memang sengaja dimunculkan untuk menyelesaikan beberapa masalah terkait dengan hubungan yang bersifat horizontal antar manusia itu sendiri, selain memang di dalamnya terdapat nilai-nilai hubungan vertikal karena beberapa obyek yang menjadi kajian adalah hukum Islam yang tentu saja itu semua bersumber dari Allah. Rasulullah SAW bersabda: ‫الحالل بين والحرام بين ، وبينهما مشبهات ال يعلمها كثير من الناس‬ Artinya: “sesuatu yang halal dan haram telah jelas (hukumnya) dan diantara keduanya ada masalah-masalah mutasyabihat (yang tidak jelas hukumnya) yang mayoritas orang tidak mengetahui hukumnya”.1 Alloh SWT telah memberikan kemudahan yang luar biasa kepada umat Islam dalam rangka menjalankan kehidupan sehari-harinya. Alloh SWT berfirman: 1 Hadist riwayat Imam Bukhari, Shahih Bukhari, juz 1 hal. 28. Imam Muslim,Shahih Muslim, juz 3 hal. 1221. Imam At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, juz 3 hal. 511. Imam Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, juz 2 hal. 1318. Imam Ahmad, Musnad Ahmad, juz 4 hal. 269
  2. 2. Artinya; “tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. 2 Pada umumnya pembahasan Qowaid Fiqiyah berdasarkan pembagian kaidah-kaidah asasiyah dan kaidah-kaidah ghoiru asasiyah. Kaidah asasiyah adalah kaidah yang disepakati oleh imam-imam azhah tanpa diperselisihkan kekuatannya disebut juga sebagai kaidah-kaidah induk karena hampir setiap bab dalam Fiqih masuk dalam kelompok kaidah induk ini. Adapun jumlah kaidah asasiyah hanya 5 macam yaitu: 1. Segala sesuatu tergantung kepada tujuannya. ‫األمور بمقاصدها‬ 2. Yakin itu tidak dapat dihilangkan dengan adanya keraguan. ‫اليقين ال يزول بالشك‬ 3. Kesulitan itu dapat menarik kemudahan. ‫المشقة تجلب التيسير‬ 4. Kemadharatan itu harus dihilangkan. ‫الضرر يزال‬ 5. Kebiasaan itu dapat dijadikan hukum. ‫العادة محكمة‬ Dari kelima kaidah diatas penulis akan mencoba untuk membahas kaidah Alyaqin La Yazulu Bisyakki. Menurut hemat penulis, bahwa kaidah ini sangat penting untuk dibahas karena merupakan kaidah yang berisi tentang al-yaqin dan asy-syakk. Imam As-Suyuthi menyatakan: “kaidah ini mencakup semua pembahasan dalam Fiqih, dan masalah-masalah yang berkaitan dengannya mencapai ¾ dari subyek pembahasan fiqih”.3 Imam Al-Qarafi menambahkan: “dalam kaidah ini seluruh ulama sudah bersepakat dalam mengamalkannya dan kita harus selalu mempelajarinya”.4 2 Surat At-Taubah: 122. 3 As-Suyuthi, Al-Asybah Wa An-Nadzair, hal. 55. 4 Al-Qarafi, Al-Furuq, juz 1 hal. 111.
  3. 3. Kemudian Imam Daqiq Al-‘Id mengisyaratkan kepada setiap umat Islam untuk mengerjakan sesuatu yang sudah pasti dan membuang keragu-raguan, sehingga seakan-akan ulama telah sepakat tentang keberadaan kaidah, akan tetapi mereka tidak bersepakat dalam prosedur tata laksana kaidah ini”.5 Kaidah ini menghantarkan kepada kita kepada konsep kemudahan demi menghilangkan kesulitan yang kadang kala menimpa kepada kita, dengan cara menetapkan sebuah kepastian hukum dengan menolak keragu-raguan. Dan telah diketahui akibat dari keragu-raguan adalah adanya beban dan kesulitan, maka kita diperintahkan untuk mengetahui hukum secara benar dan pasti sehingga terasa mudah dan ringan dalam menjalankan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya.6 Termasuk didalamnya adalah aqidah dan ibadah. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas maka penulis akan membahas kaidah “Yakin itu tidak dapat dihilangkan dengan adanya keraguan” menjadi tiga poin sebagai berikut: 1. Apa yang di maksud dengan kaidah “Yakin itu tidak dapat dihilangkan dengan adanya keraguan” ‫? اليقين ال يزول بالشك‬ 2. Apa dasar hukum kaidah Yakin itu tidak dapat dihilangkan dengan adanya keraguan. ‫? اليقين ال يزول بالشك‬ 3. Apa sajakah kaidah turunan yang timbul dari kaidah “Yakin itu tidak dapat dihilangkan dengan adanya keraguan” ‫? اليقين ال يزول بالشك‬ 5 6 Daqiq Al-‘Id, Ihkam Al-Ahkam Syarh ‘umdat Al-Ahkam, juz 1 hal. 78. An-Nadawi, Qawaid Fiqhiyyah, hal. 354.
  4. 4. BAB II PEMBAHASAN A. Kaidah Fiqh Tentang Keyakinan dan Keraguan Keyakinan dan keraguan merupakan dua hal yang berbeda, bahkan bisa dikatakan saling berlawanan. Hanya saja, besarnya keyakinan dan keraguan akan bervariasi tergantung lemah-kuatnya tarikan yang satu dangan yang lain. Sebelum menjelaskan kaidah Al Yaqinu la Yuzalu Bi al-Syak ini penulis akan menjelaskan terlebih dahulu makna Al Yaqinu la Yuzalu Bi al-Syak dari segi kebahasaan dan dari segi istilah. 1. Al-Yaqin. 1) Menurut kebahasaan berarti: pengetahuan dan tidak ada keraguan didalamnya.7 Ulama sepakat dalam mengartikan Al-Yaqin yang artinya pengetahuan dan merupakan anonim dari Asy-Syakk. 2) Menurut istilah: a. Menurut Imam Al-Jurjani Al-Yaqin adalah ”meyakini sesuatu bahwasanya ”begini” dengan berkeyakinan bahwa tidak mungkin ada kecuali dengan ”begini” cocok dengan realita yang ada, tanpa ada kemungkinan untuk menghilangkannya”.8 b. Imam Abu Al-Baqa’ Al-Yaqin adalah ”pengetahuan yang bersifat tetap dan pasti dan dibenarkan oleh hati dengan menyebutkan sebab-sebab tertentu dan tidak menerima sesuatu yang tidak bersifat pasti”.9 c. As-Suyuthi menyatakan Al-Yaqin adalah ”sesuatu yang tetap dan pasti yang dapat dibuktikan melalui penelitian dan menyertakan bukti-bukti yang mendukungnya”.10 7 8 Ibn Mandzur, Lisan Al-Arab, juz 13 hal. 457. Al-Jurjani, At-Ta’rifaat, hal 332. Al-Jurjani, At-Ta’rifaat, hal 322. Abu Al-Baqa’, Al-Kulliyat, juz 5 hal. 116. 10 As-Suyuthi, Al-Asybah Wa An-Nadzair, hal. 58 9
  5. 5. 2. Asy-Syakk 1) Menurut kebahasaan berarti: anonim dari Al-Yaqin. Juga bisa diartikan sesuatu yang membingungkan.11 2) Menurut istilah: a. Menurut Imam Al-Maqarri Asy-Syakk adalah ”sesuatu yang tidak menentu (meragukan) antara ada atau tidak ada”.12 b. Menurut Imam Al-Jurjani Asy-Syakk adalah ”sesuatu yang tidak menentu (meragukan) antara sesuatu yang saling berlawanan, tanpa dapat dimenangkan salah satunya”.13 Dari uraian diatas maka dapat diperoleh pengertian secara jelas bahwa sesuatu yang bersifat tetap dan pasti tidak dapat dihapus kedudukannya oleh keraguan. Sebagai penjelasan lebih lanjut ‫( ال ذمة ب راءة األ صل‬hukum asal sesuatu itu adalah terbebas seseorang dari beban tanggung jawab) sehingga al-yaqin bukan termasuk sesuatu yang terbebankan. Dan apabila ada sebuah dalil yang memberikan pembebanan kepada al-yaqin, maka harus sesuai dengan sendi agama. Contoh: hukum asal air adalah suci, baik air hujan, sungai, laut, sumber, danau. Hukum asal air telah pasti suci dan tidak ada sesuatu yang meragukan hukum asal air tersebut. Contoh lain: ‫( ال ح ق ي قة ال ك الم ف ي األ صل‬hukum asal pada suatu kalimat adalah makna hakekat (kenyataan)-nya, artinya sesuatu yang pasti dalam dalalah al-alfadz digunakan dari segi maknanya yang tersurat, sampai datang dalil yang menjelaskannya kemudian. Hukum yang bersifat tetap dan pasti harus ditetapkan dan berpedoman dengan dalil, dan dalil yang ada tersebut tidak boleh saling bertentangan.contoh: apabila sesorang memiliki harta yang diperolehnya melalui jual beli, warisan atau sebab lain dengan cara yang halal dan benar maka hukumnya menjadi hak milik penuh dan harta tersebut tidak bisa berpindah tangan kecuali ada bukti lain yang datang kemudian. Karena hak milik tersebut berpedoman pada sebab-sebab pemerolehannya secara benar dan halal, maka hal tersebut bersifat tetap dan pasti, 11 Ibn Mandzur, Lisan Al-Arab, juz 10 hal. 451. Ibn Nujaim, Al-Asybah Wa An-Nadzair, hal 82. Al-Maqarri, Al-Mishbah Al-Munir, juz 1 hal. 320. 13 Al-Jurjani, At-Ta’rifaat, hal 168. 12
  6. 6. dan tidak bisa dihapus oleh keraguan yang tidak didasari dengan alat bukti yang kuat. Untuk bisa memahami kaidah ini, terlebih dahulu harus mengetahui, bahwa tingkat daya hati dalam menangkap sesuatu selalu berbeda-beda, yakni : 1. Al Yakin Secara bahasa: mengetahui dan hilangnya keraguan. Al Yakin merupakan kebalikan dari Al Syak. Bisa disimpulkan bahwa Al Yakin adalah bentuk penetapan dan penenangan atas sesuatu yang sekiranya tidak tersisa lagi keraguan. Keyakinan yang ada tidak bisa dihilangkan oleh keraguan yang baru datang, dan keyakinan semacam ini tidak bisa hilang kecuali dengan keyakinan yang sederajat. 2. Ghalabah al Dzan Ghalabatul al dzan bisa digambarkan ketika seseorang dihadapkan pada dua kemungkinan. Ia menduga salah satunya lebih unggul dan hatinya lebih condong untuk membuang salah satu lainnya yang lemah, maka yang lebih unggul disebut Ghalabatul al dzan. 3. Al Dzan Menurut para ahli fiqh jika salah satu dari dua kemungkinan itu lebih kuat dan bisa mengungguli yang lain, namun hati enggan mengambil yang kuat dan enggan juga membuang lainnya yang lemah maka inilah yang disebut al dzan. Sedangkan jika hati berpegang pada salahsatunya dan membuang yang lain maka disebut Ghalabatul al dzan 4. Al syak Al syak secara bahasa artinya ragu atau bingung. Secara terminologi, al syak adalah setara antara dua perkara, yaitu berhenti/tidak bisa menentukan diantara dua perkara dan hati tidak condong pada salah satunya. Sementara Al Razi menjelaskan, ragu diantara dua perkara, jika keduanya seimbang, maka disebut Al
  7. 7. Syak. Jika tidak seimbang, maka yang lebih unggul disebut dzan dan yang lemah disebut salah duga/al wahn. . Kaidah yang berkaitan dengan hal ini ialah: ‫ال بَقاَلا ُ ااَاُُ َ ال ُ اْيَقَيْلا‬ ‫َب‬ َ “Keyakinan tidak dapat dihapus dengan keraguan.” B. Dasar Hukum Kaidah ‫ال بَقاَلا ُ ااَاُُ َ ال ُ اْيَقَيْلا‬ ‫َب‬ َ Dasar-dasar kaidah tentang keyakinan dan keraguan berdasarkan kepada Al-Qur-an, Hadits Nabi Muhammad saw, Ijma para Sahabat, dan dalil Aqli yang disepakati jumhur Ulama. Berikut adalah penjelasannya : 1. Firman Alloh SWT:                     Artinya: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”.14 Seperti menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah, dan mengharamkan apa-apa yang telah Dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak dll           14 Surat Al-An’am: 116.
  8. 8.          Artinya: “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan”.15                             Artinya: “Ingatlah, Sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga”.16                    Artinya: “Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran”.17 2. Hadits Rasulullah SAW: 15 Surat Yunus: 36. Surat Yunus: 66. 17 Surat An-Najm: 28. 16
  9. 9. Adapun dasar-dasar pengambilan kaidah asasiyyah yang kedua ini mengenai keyakinan dean keraguan, antara lain sebagai berikut: Sebagaimana yang dikutip oleh Muchlis Usman, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:[13] ‫عن أَبي هريْرة َ قَال قَال رسول اَّللِ صلهى اَّلل علَيه وسلهم إذَا وجدَ أَحدُكم فِي بَطنِه‬ ِ ْ ُْ َ َ َ ِ َ َ َ ِْ َ ‫ه‬ َ ‫َ َ َ ُ ُ ه‬ َ َُ ِ ْ َ ‫شيئًا فَأَشكل ع َليه أَخَرج منهُ شيء أَم ال فَال يَخرجن منَ المسْجد حتهى يَسمع‬ َْ َ ِ ِ َْ ِ ‫ْ َ َ َ ِْ َ َ ِْ َ ْ ٌ ْ َ َ ْ ُ َ ه‬ َ َْ ‫صوتًا أَو يجدَ ريحا‬ ً ِ َِ ْ َْ Dari Abu Hurairah berkata : Rosululloh bersabda : “Apabila salah seorang diantara kalian merasakan sesuatu dalam perutnya, lalu dia kesulitan menetukan apakah sudah keluar sesuatu (kentut) ataukah belum, maka jangan membatalkan sholatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim). ‫عن أَبي سعيد الخدْري ِ قَال قَال رسول اَّلل صلهى اَّلل علَيه وسلهم إذَا شَك أ َحدُكم‬ ُْ َ ‫ه‬ َ ِ‫َ َ َ ُ ُ ه‬ ِ ُ ْ ٍ َِ ِ ْ َ ِ َ َ َ ِْ َ ‫ه‬ َ َ‫في صالته فَلم يدْر كم صلهى ثَالثًا أَم أَربعًا فَ ْليطرح الشك و ْليبْن على ما است َْيقَن‬ ْ َ ََ ِ َ َ ‫َ ْ َ ِ ه ه‬ ِ َ ْ ْ َ َْ ِ َ َْ ِِ ََ َ َِْ ََ َ ْ َ َ ْ َ ْ ِ ْ َ ُ ْ َ ‫ه‬ َ‫ثُم يسجد ُ سجدَتَيْن قَبل أَن يُس ِلم فَإِن كانَ صلهى خَمسا شفَعنَ لَهُ صالت َهُ وإن كان‬ ْ َ ً ْ َ ‫صلهى إتْماما ألَربع كانتَا تَرغيما ِللشيطان‬ ِ َ ْ‫َ ِ َ ً ِ ْ َ ٍ َ َ ْ ِ ً ه‬ “ Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata : Rosululloh bersabda : “Apabila salah seorang diantara kalian ragu-ragu dalam shalatnya, sehingga tidak mengetahui sudah berapa rakaatkah dia mengerjakan shalat, maka hendaklah dia membuang keraguan dan lakukanlah yang dia yakni kemudian dia sujud dua kali sebelum salam, kalau ternyata dia itu shalat lima rakaat maka kedua sujud itu bisa menggenapkan shalatnya, dan jikalau ternyata shalatnya sudah sempurna maka kedua sujud itu bisa membuat jengkel setan.” (HR. Muslim) Imam An-Nawawi berkomentar terhadap hadits diatas: “hadits ini adalah pokok dari syariat Islam, sebuah pondasi kuat dari tegaknya kaidah-kaidah fiqih. Maksudnya adalah segala sesuatu diberi beban hukum atas dasar keberlangsungannya dengan menggunakan pokok-pokok ajaran Islam secara yakin dan pasti serta tidak ada keraguan yang mengganggu pikirannya. Dari hadits diatas tersurat adanya seseorang yang yakin dia dalam keadaan suci akan tetapi terdetik dalam hatinya keraguan dia ber”hadats”, maka yang diunggulkan adalah
  10. 10. dia masih dalam keadaan bersuci sampai datang bukti yang menyebutkan dia sudah ber”hadats”.18 3. Ijma’ Ulama telah bersepakat tentang adanya pengamalan kaidah ‫ الَقاَلا ُ ااَاُُ َ ال ُ اْيَقَيْلا‬ini. ‫ب َب‬ َ Imam Al-Qarafi menyatakan: “dalam kaidah ini seluruh ulama sudah bersepakat dalam mengamalkannya dan kita harus selalu mempelajarinya”.19 Imam Daqiq Al-‘Id mengisyaratkan kepada setiap umat Islam untuk mengerjakan sesuatu yang sudah pasti dan membuang keragu-raguan, sehingga seakan-akan ulama telah sepakat tentang keberadaan kaidah, akan tetapi mereka tidak bersepakat dalam prosedur tata laksana kaidah ini”.20 Imam Abu Bakar As-Sarkhasi menyatakan: “berpegang teguh pada sesuatu yang pasti dan tetap dan meninggalkan keragu-raguan merupakan pokok ajaran syariat Islam”.21 4. Dalil ‘Aqli Sudah dipastikan bahwa sesuatu yang pasti itu lebih kuat kedudukannya daripada sesuatu yang meragukan dan membingungkan, karena sesuatu yang pasti selalu bersifat tetap dan dapat dibuktikan dengan menggunakan alat bukti yang sah, dan sesuatu yang meragukan selali bersifat membingungkan dan penuh dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang akan datang dikemudian hari. Syaikh Musthafa Az-Zarqa menyatakan: “sesuatu yang pasti itu lebih kuat kedudukannya daripada sesuatu yang meragukan dan membingungkan, karena sesuatu yang pasti itu mempunyai kedudukan hukum yang kuat dan bersifat pasti, dan jika ada 18 19 Imam An-Nawawi, Syarh An-Nawawi ‘Ala Shahih Muslim, juz 2 hal. 414. Al-Qarafi, Al-Furuq, juz 1 hal. 111. Daqiq Al-‘Id, Ihkam Al-Ahkam Syarh ‘umdat Al-Ahkam, juz 1 hal. 78. 21 As-Sarkhasi, Usul As-Sarkhasi, juz 2 hal. 116. 20
  11. 11. keragu-raguan yang tiba-tiba datang maka tidak bisa menghapus hukum yang bersifat psti tersebut”.22 C. Kaidah-kaidah Lanjutan dari kaidah ‫ال بَقاَلا ُ ااَاُُ َ ال ُاْيَقَيْلا‬ ‫َب‬ َ Muhammad Shidqi Ibn Ahmad al-Burnu menjelaskan bahwa kaidah al-yaqin la yazalu bi al-syak adalah bersumber dari Abu Hanifah. Zaid al-Dabusi dalam kitab Ta’sis al-Nazhar menyatakan bahwa: “Menurut Abu Hanifah, sesuatu yang ditetapkan dengan cara penelitian dari segala segi dan meyakinkan dari seluruh seginya, hukumnya ditetapkan berdasarkan penelitian tersebut sebelum terdapat bukti kuat yang mengingkarinya.” Kaidah asasiyyah tentang keyakinan dan keraguan yang penulis ketahui ada 11 (sebelas) yang merupakan sub-sub dari kaidah ‫ , ال بَقاَلا ُ ااَاُُ َ ال ُ اْيَقَيْلا‬yaitu: ‫َب‬ َ Kaidah pertama: ُ ِ ْ ‫اليَقن يُزَ ال باليَقيْن مثْ ِله‬ ِ ِ ِ ِ ْ ُ “ Apa yang yakin bisa hilang karena adanya bukti lain yang meyakinkan pula “ Maksudnya apabila telah meyakini sesuatu kemudian ada bukti yang lebih meyakinkan tentang hal tersebut, maka keyakinan kedua lah yang dianggap benar. Contoh: Seseorang yang berkendaraan pada waktu hujan, kemudian dia terkena percikan air hujan yang sudah tercampur dengan air di jalan yang kemungkinan bahwa air itu najis, maka dia tidak wajib mencuci kaki atau baju yang terkena air tersebut, karena pada dasarnya air adalah suci, kecuali kalau ada bukti kuat bahwa air itu najis. Kaidah kedua ‫أَن ما ثَبَت بيَقين ال يَرتَفع إال بيَقين‬ ٍ ِ ِ ‫َ ِ ِ ٍ َ ْ ِ ُ ه‬ َ ‫ه‬ “ Apa yang ditetapkan atas dasar keyakinan tidak bisa hilang kecuali dengan keyakinan lagi “ Dalam kaidah ini berhubungan dengan jumlah bilangan, apabila seseorang ragu, maka bilangan yang terkecil itulah yang meyakinkan.23 22 Musthafa Ahmad Az-Zarqa, Al-madkhal Al-Fiqh Al-‘Am, juz 2 hal. 981.
  12. 12. Contoh: Seseorang makan gorengan sambil berkumpul dengan teman-temannya, kemudian dia ragu sudah memakan 3 atau 4 gorengan, maka bilangan yang 4 lah yang meyakinkan,karena ini berhubungan dengan mualamalah atau hubungan sesama manusia, sebab jika kita memilih bilangan sedikit, dikhawatirkan akan termakan hak orang lain, tetapi jika keraguan dalam masalah ibadah kepada Allah SWT seperti bilangan shalat, apakah sudah 3 rakaat atau 4 rakaat, maka bilangan terkecillah yang kita ambil sebab ini adalah masalah pelaksanaan kewajiban kita sebagai hamba-Nya dan untuk kehati-hatian kita . ‫اْلَصل بَراءةُ الذمة‬ َّ ِّ َ َ ُ ‫أ أ‬ “ Hukum asal adalah bebasnya seseorang dari tanggung jawab “ Pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan bebas dari tuntutan, baik yang berhubungan dengan hak Allah maupun dengan hak Adami. Jadi sesuatu bebas dari tanggungan sampai ada yang mengubahnya.24 Contoh: Seseorang bebas dari tanggung jawabnya sebagai mahasiswa, sampai dia benar-benar masuk sebuah universitas dan terdaftar sebagai mahasiswa. َ َ َ َ َ ُ َ ُ ْ ْ ‫األَصل بقَاء ما كانَ علَى ما كان‬ “ Hukum asal itu tetap dalam keadaan tersebut selama tidak ada hal lain yang mengubahnya “ Keadaan dalam contoh sebelumnya bisa terjadi perubahan lagi, manakala ada unsur lain yang mengubahnya.25 Mislanya, mahasiswa bebas lagi dari tugas dan kewajibannya sebagai mahasiswa ketika dia telah lulus atau menyelesaikan sekolahnya. Contoh lainnya, seseorang yang telah berwudhu, akan tetap dalam keadaan berwudhu, sampai adanya bukti bahwa ia telah batal. Dengan adanya bukti batal tersebut, maka berubahlah hukum masihnya ia dalam keadaan berwudhu. 23 Djazuli, Kaidah-kaidah Fikih: Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalahmasalah yang praktis, h. 48. 24 ibid 25 Ibid., hal. 49
  13. 13. ‫اْلَصل العدم‬ َ‫أ أ ُ أ‬ “ Hukum asal adalah ketiadaan “ Contoh: Andi membeli play station, kemudian dia berselisih dengan penjual bahwa play station yang dibelinya ternyata rusak, maka dalam masalah ini yang menang adalah penjual, karena waktu pembeliaan play station ini sudah dicoba terlebih dahulu dan dalam keadaan baik. ‫األَصل إِضفَةُ الحأدث إِلَى أقرب أَوقَاته‬ ِ ِ ْ َ ُ ْ ْ ِِ ْ َ َْ “ Hukum asal adalah penyandaran suatu peristiwa kepada waktu yang lebih dekat kejadiannya “ Kaidah tersebut terdapat dalam kitab-kitab mazhab Hanafi. Sedangkan dalam kitab-kitab mazhab Syafi’I, meskipun substansinya sama tetapi ungkapannya berbeda, yaitu: ُ ْ ْ ‫األَصل فِي كل حادث تَقَد رهُ بِأ َْقربِالزمأن‬ ُ ِ ِ ِ َ ِ ُ ِ َ ‫َ ه‬ “ Hukum asal dalam segala peristiwa adalah terjadi pada waktu yang paling dekat kepadanya “ Apabila terjadi keraguan karena perbedaan waktu dalam suatu peristiwa, maka hukum yang ditetapkan adalah menurut waktu yang paling dekat kepada peristiwa tersebut, karena waktu yang paling dekat yang menjadikan peristiwa itu terjadi.26 Contoh: Seseorang menjalani operasi ginjal, setelah itu dia sehat dan dapat menjalani aktifitas sehari-harinya seperti biasa, kemudian selang beberapa bulan dia meninggal dunia, maka meninggalnya orang tersebut bukan karena terjadi operasi, tetapi dikarenakan suatu hal dan sebagainya. ‫اْلَصل فِّي اْلَشيَاء اْلبَاحةُ حتَّى يَدُل الد َِّّليل علَى التَّحأ ريم‬ َ ُ ُّ َ َ ِّ ‫أ أ ِّ أ‬ ُ ‫أ أ‬ ِّ “ Hukum asal segala sesuatu itu adalah boleh sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya “ Maksudnya selama belum adanya dalil yang menjadikan sesuatu itu haram, maka hukumnya adalah boleh. Di kalangan mazhab Hanafi ada pula kaidah: ‫األَصل في األَشيَاء الحظر‬ َُ َ ْ ِ ْ ْ ِ ُ ْ ْ 26 Ibid,. Hal. 51
  14. 14. “ Hukum asal segala sesuatu adalah larangan (haram) “ Kemudian oleh para ulama, kaidah tersebut dikompromikan menjadi dua kaidah dalam bidang hukum yang berbeda, yaitu kaidah: ‫اْلَصل فِّي اْلَشيَاء اْلبَاحةُ حتَّى يَدُل الد َِّّليل علَى التَّحأ ريم‬ َ ُ ُّ َ َ ِّ ‫أ أ ِّ أ‬ ُ ‫أ أ‬ ِّ ِّ “ Hukum asal segala sesuatu itu adalah kebolehan sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya “ Contoh: Tentang binatang cacing, misalnya seseorang memakan atau memperjualbelikan cacing. Karena pada dasarnya semua hukum itu adalah mubah, maka dalam hal ini pun diperbolehkan untuk melaksanakan kegiatan tersebut sampai adanya dalil yang menyatakan keharamannya. Kaidah ini hanya berlaku untuk bidang fiqih muamalah, sedangkan untuk fikih ibadah digunakan kaidah: ُ ْ ْ ‫األَصل فِي العبَادَةِ المبُطالن حتهى يَقُوم الده ِليل علَى األَمر‬ ِْ َ ُ َْ ْ ِْ ْ َ ُ ْ َ “ Hukum asal dalam ibadah mahdah adalah batal sampai ada dalil yang memerintahkannya “ Contoh: Kita telah mengetahui bahwa tiap-tiap shalat memiliki jumlah rakaat masingmasing. Maka tidak boleh kita merubahnya, misalkan shalat isya yang 4 rakaat menjadi 3 rakaat saja, karena masalah ibadah itu sudah ada ketetapannya dari Allah SWT. Imam Syafi’I berpendapat : “ Allah itu Maha Bijaksana, jadi mustahil Allah menciptakan sesuatu, lau mengharamkan atas hamba-Nya”. Sedangkan Imam Abu Hanifah berkata bahwa: “ Memang Allah Maha Bijaksana, tetapi bagaimanapun segala sesuatu itu adalah milik Allah Ta’ala sendiri. Jadi kita tidak boleh menggunakannya sebelum ada izin dari Allah.27 َ ِّ َ ‫أ َ ِّ أ‬ ‫اْلَصل فِّي الكََلم الحقيقة‬ ُ ‫أ أ‬ “ Hukum asal dari suatu kalimat adalah arti yang sebenarnya “ Kaidah ini member maksud bahwa dalam suatu kalimat, harus diartikan kepada arti yang hakikat atau arti yang sebenarnya. Yakni sebagaimana yang 27 Imam Musbikin, Qawa’id al-fiqhiyah, hal. 59.
  15. 15. dimaksudkan oleh pengertian yang hakiki.28 Jadi, makna dari sebuah kata yang diungkapkan haruslah arti yang sebenarnya. Contoh; Seorang pengusaha kaya akan menghibahkan sebuah rumah dan kendaraan kepada bapak si Jodi yang telah berjasa dalam mengelola usahannya. Jadi bapak dalam kalimat itu adalah ayah kandung dari Jodi, bukan ayah angkat ataupun ayah tirinya Jodi. ُ‫العبْرة ُ بالظن الهذِي يَظهر خطاءه‬ ُ َ َ َُْ ِ ‫َ ِ َ ِ ه‬ “ Tidak dianggap (diakui), persangkaan yang jelas salahnya “ Contoh: Apabila seorang anak yang berhutang sudah melunasi semua hutangnya, lalu si ayah dari penghutang juga membayarkan hutang anaknya tadi, karena si ayah menyangka belum dibayar. Maka si ayah boleh meminta uangnya kembali, karena ada persangkaan yang salah. ‫ال عبْرة ُ ِللتهوهم‬ ِ ُّ َ َ ِ َ “ Tidak diakui adanya waham (kira-kira) “ Maksudnya adalah dalam suatu hal, kita tidak menggunakan perkiraan. Contoh: Seseorang yang meninggal dunia dan memiliki harta warisan yang banyak, kemudian harta tersebut dibagi kepada ahli warisnya. Tentang harta lain yang dikira-kira ada barangnya, tidak diakui karena hanya berupa perkiraan saja. ‫ما ثَبتَ بزَ من يُحْ كم ببقَاءه مالَم يقُم الده ِليل علَى خالفه‬ ِِ َ ِ َ ُ ْ ْ َ َ ِِ َ َُ ِ َ ِ َ َ “ Apa yang ditetapkan berdasarkan waktu, maka hukumnya ditetapkan berdasarkan berlakunya waktu tersebut selama tidak ada dalil yang bertentangan dengannya “ Contoh: Seseorang yang pergi ke luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI), kemudian lama tidak terdengar kabar beritanya, maka dia tetap dinyatakan masih hidup. Karena berdasarkan pada keadaan saat dia berangkat, yakni dalam keadaan masih hidup. 28 Ibid., hal. 64.
  16. 16. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Keyakinan dan keraguan merupakan dua hal yang berbeda, bahkan bisa dikatakan saling berlawanan. Hanya saja, besarnya keyakinan dan keraguan akan bervariasi tergantung lemah-kuatnya tarikan yang satu dangan yang lain. Dalil ‘aqli (akal) bagi kaidah keyakinan dan keraguan adalah bahwa keyakinan lebih kuat dari pada keraguan, karena dalam keyakinan terdapat hukum qath’i yang meyakinkan. Atas dasar petimbangan itulah bisa dikatakan bahwa keyakinan tidak boleh dirusak oleh keraguan. Dari pembahasan tentang kaidah keyakinan tidak bisa hilang dengan adanya keraguan ini, oleh karenanya pemakalah mengambil kesimpulan bahwa apabila kita telah yakin terhadap sesuatu dalam hati, maka hal itu lah yang berlaku, kecuali memang ada dalil atau bukti lain yang lebih kuat atau meyakinkan sehingga dapat membatalkan keyakinan kita itu. Karena sesuai dengan maknanya yakin itu adalah kemantapan hati atas sesuatu. Intinya rasa ragu itu tidak bisa menghapuskan keyakinan kita. B. Saran Sebagai hamba Allah yang beriman dan bertaqwa, marilah kita bersama-sama mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan menjalankan syariatNya. Dan marilah kita hindari hal-hal yang meragukan, sebab hal yang meragukan hanya akan menjadi penghalang bagi kita untuk menjalankan syariatnya. Dan tetaplah konsisten dengan pendirian yang meyakinkan hati.
  17. 17. DAFTAR PUSTAKA B. Buku Departemen Agama RI. Al-Quran dan Terjemahannya. Surabaya: PT Mahkota, 2004 M Hadits Digital 9 imam. Djazuli, Acep, Ilmu Fiqh: Penggalian, Perkembangan dan Penerapan Hukum Islam, Jakarta: Kencana, 2006. Djazuli, Acep, Kaidah-Kaidah Fikih: Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah-masalah yang Praktis, Jakarta: Kencana, 2006. Mubarok, Jaih, Kaidah Fiqh: sejarah dan kaidah-kaidah asasi, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002. Musbikin, Imam, Qawa’id al-fiqhiyah, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001. Usman, Mukhlis, Kaidah-kaidah Istinbath hukum Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002. Asjmuni A. Rahman, Kaidah-kaidah Fiqih (Qawai’idul Fiqhiyyah), Jakarta: Bulan Bintang, 1976. Mun’im A. Sirry, Sejarah Fiqih Islam: Sebuah Pengantar, Surabaya: Risalah Gusti, 1995. Abu Al-Baqa’, Ayyub bin Musa, Al-Kafawi. Al-Kulliyat. Suriah: wizarah AtsTsaqafah, 1981 M. Ab Husain, Ya’qub Abdulwahhab. Kaidah Al-Yaqin La Yazulu Bi Asy-Syakk. Riyadh: Maktabah Ar-Rasyd, t.th.
  18. 18. Al-Jurjani, Ali bin Muhammad bin Ali. At-Ta’rifaat. Beirut: Dar Al-Kitab AlArabi, 1405 H. Al-Maqarri, Ahmad bin Muhammad bin Ali. Al-Mishbah Al-Munir. Beirut: AlMaktabah Al-Ilmiyah, t.th. Al-Qarafi, Ahmad bin Idris bin Abdurrahman Ash-Shonhaji, Syihabuddin. AlFuruq, Beirut: ‘Alim A,-Kutub, t.th. An-Nadawi, Ali Ahmad. Qawaid Fiqhiyyah. Damaskus: Dar Al-Qalam, t.th. An-Nawawi, Yahya bin Syarf, Abu Zakariya. Syarh An-Nawawi ‘Ala Shahih Muslim, Beirut: Dar Ihya’ At-Turats Al-Arabi, 1392 H. As-Sarkhasi, Muhammad bin Ahmad Abu Bakar. Usul As-Sarkhasi. Beirut: Dar Al-Ma’rifat, 1393 H. As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman. Al-Asybah Wa An-Nadzair fi qawaid wa furu’ fiqh Asy-Syafi’iyyah, Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, t.th. Daqiq Al-‘Id, Muhammad bin Ali bin wahab Al-qusyairi. Ihkam Al-Ahkam Syarh ‘umdat Al-Ahkam. Kairo: al-Muniriyah, t.th. Ibn Mandzur, Muhammad bin Mukarrim. Lisan Al-Arab. Beirut: Dar Shadr, t.th. Musthafa Ahmad Az-Zarqa, Al-madkhal Al-Fiqh Al-‘Am. Damaskus: Dar AlQalam, t.th B. Internet http://ahmadsabiq.com/2010/02/24/sesuatu-yang-yakin-tidak-bisa-hilang-dengankeraguan/ On Line 10 oktober 2013, 16.00 wib.

×