Budaya lokal masyarakat Jawa

12,636 views
12,144 views

Published on

Mencakup kebudayaan yang ada di masyarakat Baduy, masyarakat Tengger, masyarakat Sunda dan masyarakat Jawa.

Published in: Education
0 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
12,636
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
8
Actions
Shares
0
Downloads
171
Comments
0
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Budaya lokal masyarakat Jawa

  1. 1. BUDAYA LOKAL MASYARAKAT JAWA Oleh : Nisya Ayu Ariesta (8) Triningsih Wahyu Kristanti (10) XI Bahasa
  2. 2. BUDAYA LOKAL MASYARAKAT BADUY Letak Geografis : Suku baduy terletak di daerah Banten, secara geografis suku Baduy terletak pada koordinat 6°27‟27” – 6°30‟0” LS dan 108°3‟9” – 106°4‟55” BT, suku Baduy bermukim tepatnya di kaki gunung Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak- Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Suhu rata- rata disana adalah 20 °C. Tiga desa utamanya adalah Cikeusik, Cibeo dan Cikertawana.
  3. 3. Dilihat dari segi geografisnya memang suku baduy ini jauh dari tempat - tempat umum dan terletak dekat gunung sehingga menyebabkan orang kanekes lebih menutup diri terhadap dunia luar seperti tidak mau belajar baca tulis, mengenal teknologi, dan hanya berpegang teguh terhadap kepercayaan dan adat istiadat yang mereka anut.
  4. 4. Orang kanekes dibagi menjadi 2 yaitu orang kanekes dalam dan orang kanekes luar. Orang Kanekes Tangtu (Baduy Dalam) berada diwilayah Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisa gu, Padawaras dan Sirahdayeuh. Sedangkan orang Kanekes Panamping (Baduy Luar) tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisa gu, dan lain sebagainya.
  5. 5. Masyarakat Kanekes mempunyai moto “Lojor henteu beunang dipotong, pendek henteu beunang disambung”, mereka menganggap segala hal yang sudah ada di dunia ini tidak boleh diubah dalam bentuk apapun, sehingga mereka tidak menerima kemajuan dalam bentuk apapun.
  6. 6. Bahasa : Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah.
  7. 7. Agama atau kepercayaan : Agama yang dianut masyarakat Baduy adalah agama Sunda Wiwitan, yakni sebuah kepercayaan yang dianut masyarakat Sunda jaman dahulu yang mendapatkan pengaruh besar dari budaya Hindu. Namun ada juga sebagian masyarakat Baduy Kanekes yang memeluk agama Islam dan Budha.
  8. 8. Mata Pencaharian : Mata pencaharian masyarakat Baduy adalah menjadi petani. Namun seperti semboyan yang dianutnya, mereka menanam secara apa adanya, tidak mengubah atau mengolah tanah. Mereka bertani padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah- buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan.
  9. 9. Ritual : Suku Baduy memiliki hari raya sendiri yaitu Hari Raya Seren Taun, atau disebut juga Kawalu yang lamanya hingga 3 bulan. Saat perayaan Kawalu, pelancong tidak diizinkan masuk hingga Baduy Dalam karena disana digelar upacara adat. Selain itu adapula Tradisi/ Ritual Seba, ritual ini adalah bentuk silaturahim Suku Baduy dengan Kepala Pemerintahan.
  10. 10. Terdapat 2 jenis Seba, pertama adalah Seba kecil yaitu dilakukan di lingkungan sendiri tanpa perlu keluar kampung. Kedua, Seba besar yaitu wajib hukumnya untuk melakukan pertemuan dengan pemimpin pemerintahan dengan membawa hasil bumi, terutama laksa (intisari padi hasil panen seluruh masyarakat baduy yang dikeringkan dan disatukan)
  11. 11. Tata Cara Pernikahan : Orang Baduy menyebutnya perkawinan sebagai rukun hidup, artinya bahwa perkawinan harus dilakukan agar tidak menyalahi kodratnya sebagai manusia. Sebelum lamaran pertama diajukan, pu‟un/kepala suku harus mengetahui dan menyetujui rencana pernikahan ini. Pu‟un juga ikut menentukan hari yang baik untuk menikah. Dalam setahun, setiap pu‟un hanya bisa menikahkan sampai enam pasang. Jika permintaan pernikahan lebih dari enam pada tahun itu, pasangan yang terakhir harus menunggu tahun berikutnya.
  12. 12. Cara Pemakaman: Jenazah Suku Baduy akan dikuburkan di tempat tertentu, setelah 7 hari 7 malam kuburan tersebut dapat digunakan kembali untuk berladang. Oleh sebab itu, kita tidak akan pernah menemukan kuburan di Suku Baduy.
  13. 13. Struktur masyarakat : Pemerintahan yang digunakan di Kanekes ada dua macam, yakni sistem adat dan sistem nasional. Setiap Desa di Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang dalam budaya Kanekes disebut jaro pamarentah. Namun dalam sistem adat, seluruh masyarakat Baduy dipimpin oleh seorang pemimpin adat tertinggi yang disebut sebagai pu‟un.
  14. 14. Jabatan pu‟un tidak dibatasi oleh waktu sehingga jabatan ini ditempati oleh orang yang dianggap memiliki kharisma tinggi sebagai pemimpin serta orang harus memiliki kemampuan untuk bertahan selama mungkin dalam jabatan tersebut. Dibawah pu‟un ada jaro yang secara tidak langsung dapat juga disebut sebagai bawahan pu‟un. Oleh karena itu jika ada acara nasional, yang harus mengikuti acara tersebut bukan pu‟un tapi jaro pamarentah atau kepala desa.
  15. 15. BUDAYA LOKAL MASYARAKAT TENGGER Letak Geografis : Luas daerah Tengger kurang lebih 40km dari utara ke selatan dan 20-30 km dari timur ke barat, di atas ketinggian antara 1000 m - 3675 m. Daerah Tengger teletak pada bagian dari empat kabupaten, yaitu : Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Tipe permukaan tanahnya bergunung-gunung dengan tebing-tebing yang curam. Kaldera Tengger adalah lautan pasir yang terluas, terletak pada ketinggian 2300 m, dengan panjang 5-10 km. Kawah Gunung Bromo, dengan ketinggian 2392 m, dan masih aktif. Di sebelah selatan menjulang puncak Gunung Semeru dengan ketinggian 3676 m.
  16. 16. Agama atau kepercayaan : Masyarakat Suku Tengger menganut empat agama, yaitu Hindu, Islam, Kristen dan Budha. Namun sistem religi masyarakat Tengger di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo mayoritas beragama Hindu.
  17. 17. Mata Pencaharian : Warga Tengger pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani sayuran karena kesuburan tanahnya yang tak lepas dari 2 gunung yang masih aktif. Hasil pertanian dari Suku Tengger terkenal dengan kualitasnya yang tahan lama dibandingkan hasil pertanian daerah lain. Selain bertani, ada sebagian masyarakat Suku Tengger yang berprofesi menjadi pemandu wisatawan di Bromo dan juga sebagian menjadi supir jeep.
  18. 18. Ritual : Kasada Kasada merupakan perayaan terbesar dan merupakan hari raya khusus masyarakat Tengger. Upacara kasada diperingati pada bulan ke 12 dalam kalender Jawa. Tujuan dari kasada adalah untuk sedekah bumi yaitu hasil pertanian dan peternakan. Fungsi dari upacara tersebut adalah untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Waktu pelaksanaan Kasada dimulai jam 12 malam. Upacara Kasada juga disebut sebagai Upacara labuh Sesaji.
  19. 19. Upacara Galungan Merupakan upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Tengger dengan cara membawa berbagai macam makanan yang kemudian dibawa ke Sanggar dan bersembahyang bersama, setelah itu makanan tersebut dimakan bersama. Upacara Kuningan Kuningan sejenis upacara sembahyang hari besar sebelum kasada. Yang bertujuan untuk menyelamati warga. Biasanya dilaksanakan pada Rabu Agung. Upacara Karo Upacara tersebut biasanya dilaksanakan pada hari lebaran, yang tujuanya bersilaturahmi dengan tetangga dan agar manusia kembali pada kesucian untuk memperingati Sang Hyang Widhi. Upacara ini disebut juga satya yoga, di lakukan setahun sekali selama 120 hari. Upacara Sadoran Dilakukan untuk memperingati kelahiran manusia dahulu kala. Dalam upacara ini terdapat prosesi pemanggilan roh-roh halus.
  20. 20. Prosesi Kelahiran atau Sesayut Dalam masyarakat Tengger ada beberapa prosesi yang hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu, diantaranya adalah 7 bulanan yaitu selamatan yang diadakan ketika usia kandungan berumur 7 bulan. Selain itu ketika bayi berusia 44 hari maka dilaksanakan acara lek-lekan (adat Jawa) berupa nasi tumpeng. Setelah itu upacara Turun Tanah atau biasa disebut “Ngrosoki”. Ketika bayi beranjak dewasa diadakan Selamatan yang disebut “Indung”. Ada juga upacara “Potong-Tugel Kuncung” yaitu prosesi potong rambut seperti halnya pada sinkretisme masyarakat Jawa.
  21. 21. Perkawinan Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan tercapainya suatu pernikahan. Yang pertama adalah menanyakan hari dan tanggal kepada kepala desa, dilakukan mempelai pria. Yang kedua mencocokan tanggal dan hari kepada dukun adat untuk disesuakan dengan weton Jawa. Yang ketiga lamaran dilakukan oleh orang tua pria. Tata cara perkawinan ada dua yaitu pawilahan atau ijab Kabul. Yang kedua Walagara, atau temu manten. Upacara perkawinan ini biasanya disebut dengan upacara Praswata Gara.
  22. 22. Kematian Masyarakat tengger mempunyai kawasan dengan agama Islam di Jawa yaitu dimakamkan dengan mengenakan kain kafan tetapi dengan badan menghadap ke atas atau terlentang dengan kepala diposisi selatan menghadap kawah Gunung Bromo. Sesudah dimakamkan dibuatkan boneka yang terbuat dari daun-daun tertentu dan pelepah pisang kemudian dibakar di Danyang atau pepunden. Adapun tujuanya yaitu untuk penghapusan dosa.
  23. 23. Struktur masyarakat : Struktur masyarakat Tengger bersifat abstrak. Mereka memiliki keunikan pola kehidupan sosial budaya terkait dengan perilaku positif masyarakatnya dalam tindakan pemanfaatan ruang dan adaptasi terhadap lingkungan di sekitarnya. Pola kehidupan sosial budaya masyarakat Suku Tengger bersumber dari nilai budaya, religi dan adat-istiadat setempat yang kemudian membentuk nilai-nilai kearifan lokal, salah satunya dalam pemanfaatan ruang dan upaya pemeliharaan lingkungan.
  24. 24. BUDAYA LOKAL MASYARAKAT JAWA Letak geografis : Suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. Selain di ketiga propinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Letak geografis pulau jawa 132.000 km², berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Jawa Tengah di timur, Samudera Hindia di selatan, serta Banten dan DKI Jakarta di barat.
  25. 25. Bahasa : Suku bangsa Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Kehidupan keagamaan/kepercayaan : Orang Jawa sebagian besar menganut agama Islam. Ada juga yang menganut agama Protestan, Katolik, Budha dan Hindu. Tapi ada orang suku jawa yang mempercayai agama Kejawen. Kejawen merupakan sebuah kepercayaan yang dianut di pulai Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa.
  26. 26. Mata pencaharian : Mayoritas orang Jawa berprofesi sebagai petani, namun di perkotaan mereka mendominasi pegawai negeri sipil, BUMN, anggota DPR/DPRD, pejabat eksekutif, pejabat legislatif, pejabat kementerian dan militer. Orang Jawa adalah etnis paling banyak di dunia artis dan model. Orang Jawa juga banyak yang bekerja di luar negeri, sebagai buruh kasar dan pembantu rumah tangga.
  27. 27. Adat Istiadat atau Kebiasaan : Selapanan Selapanan, yaitu upacara pemberian nama pada bayi yang baru lahir. Upacara itu diadakan pada hari ke-35 setelah kelahirannya. Upacara Selapanan bertujuan memohon keselamatan bagi si bayi. Tedhak Siten Tedhak Siten, upacara ini diperuntukkan bagi bayi yang berusia antara 5-6 bulan pada saat pertama kali turun ke tanah.
  28. 28. Pernikahan : Serah-Serahan Dalam kesempatan ini pihak keluarga calon mempelai putra menyerahkan barang-barang tertentu kepada calon mempelai putri. Pingitan Saat-saat menjelang perkawinan, bagi calon mempelai putri dilakukan 'pingitan„ selama lima atau hanya cukup tiga hari saja. Selama itu calon mempelai putri dilarang keluar rumah dan tidak boleh bertemu dengan calon mempelai putra. Pasang Bleketepe/ Tarup Diawali dengan pemasangan 'bleketepe' (anyaman daun kelapa) yang dilakukan oleh orangtua calon mempelai putri, yang ditandai pula dengan pengadaan sesajen. Siraman Makna upacara ini, secara simbolis merupakan persiapan dan pembersihan diri lahir batin kedua calon mempelai yang dilakukan dirumah masing-masing. Juga merupakan media permohonan doa restu dari para pinisepuh.
  29. 29. Paes/ Ngerik Paes pada tahap 'ngalub-alubi' (pendahuluan), sebagai lambang upaya memperindah diri secara lahir dan batin. Dodol Dawet Dalam upacara ini, ibu calon mempelai putri bertindak sebagai penjual dawet, didampingi dan dipayungi oleh bapak calon mempelai putri. Keluarga dan kerabat adalah pembeli dengan pembayaran 'kreweng' (pecahan genteng) Midodareni Ini adalah malam terakhir bagi kedua calon mempelai sebagai bujang dan dara sebelum melangsungkan pernikahan keesokan harinya. Pernikahan Pernikahan, merupakan upacara puncak yang dilakukan menurut keyakinan agama si calon mempelai. Panggih (Temu) Panggih' atau 'temu' adalah dipertemukannya mempelai putri dan mempelai putra.
  30. 30. Pemakaman : Tradisi Mendhak Upacara tradisional ini dilaksanakan tiga kali dalam seribu hari setelah hari kematian. Pertama disebut Mendhak Pisan, upacara untuk memperingati satu tahun kematian (365 hari). Kedua disebut Mendhak Pindho sebagai upacara peringatan dua tahun kematian. Ketiga disebut sebagai Mendhak Telu atau Pungkasan atau Nyewu Dina, yang dilaksanakan pada hari ke seribu setelah kematian. Kematian surtanah Tradisi ini bertujuan agar arwah atau roh orang mati mendapat tempat yang layak di sisi Sang Maujud Agung. Upacara nyewu dina Inti dari upacara ini memohon pengampunan kepada Tuhan. Upacara Brobosan Upacara Brobosan ini bertujuan untuk menunjukkan penghormatan dari sanak keluarga kepada orang tua dan leluhur mereka yang telah meninggal dunia. Upacara Brobosan diselenggarakan di halaman rumah orang yang meninggal, sebelum dimakamkan, dan dipimpin oleh anggota keluarga yang paling tua.
  31. 31. Struktur masyarakat : Pada dasarnya, struktur masyarakat Jawa terbagi dalam 4 masa, antara lain yakni feodalisme, kolonialisme, kemerdekaan, dan kekinian. Masing-masing bagian memiliki karakteristik berbeda yang membahas mengenai system masyarakat yang ada di dalamnya. Feodalisme merupakan suatu masa, dimana pada saat itu raja ditetapkan sebagai pemilik kekuasaan tertinggi.
  32. 32. Pada masa kolonial, terdapat pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial, antara lain yakni Eropa yang terdiri dari golongan para penjajah dan cenderung memiliki kekuasaan tertinggi. Yang kedua adalah kelompok Timur Asing yang terdiri dari para pedagang dari bangsa Arab dan bangsa China, kelompok ini merupakan kelompok yang memiliki kekuasaan pertengahan. Dan kelompok ketiga yaitu kelompok pribumi, terdiri dari kalangan masyarakat asli Indonesia yang mayoritas merupakan sebagai budak.
  33. 33. Pada masa kemerdekaan hingga kini, Indonesia sudah terlepas dari kaum penjajah. Tidak ada pihak yang dominan yang menjadi penguasa, dan tidak ada pula pihak minoritas yang terjajah. Dalam sistem kemasyarakatan mengenai status sosial, dalam masyarakat ini masih berada pada tataran yang wajar.
  34. 34. BUDAYA LOKAL MASYARAKAT SUNDA Letak geografis : Suku Sunda berdiam di wilayah Jawa Barat dengan luas 46.300 km. Wilayah Jawa Barat ini sering di sebut tanah Pasundan atau Tatar Sunda. Daerahnya berbatasan dengan Laut Jawa dan DKI Jakarta di sebelah utara, Samudera Hindia di sebelah selatan, Selat Sunda di sebelah barat dan Provinsi Jawa Tengah di sebelah timur.
  35. 35. Bahasa : Suku Sunda memakai bahasa Sunda sebagai alat komunikasi. Bahasa Sunda menunjukkan tingkatan-tingkatan yaitu bahasa halus, kasar dan sedang. Di daerah utara, bahasa Sunda sudah banyak yang bercampur dengan bahasa Jawa, demikian pula di daerah perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah.
  36. 36. Mata pencaharian : Mata pencaharian utama masyarakat Sunda adalah bertani. Perkebunan banyak terdapat di daerah ini karena tanahnya subur dan iklimnya yang menguntungkan. Di daerah ini terdapat perkebunan teh, karet, tebu dan kelapa sawit. Selain pertanian dan perkebunan, masyarakatnya juga berdagang.
  37. 37. Adat Istiadat atau Kebiasaan : Kehamilan Upacara kehamilan yang dilakukan :  Upacara satu bulanan  Upacara dua bulanan  Upacara tiga bulanan atau madeking  Upacara lima bulanan  Upacara enam bulanan  Upacara delapan bulanan  Upacara Sembilan bulanan
  38. 38. Pernikahan Pertama, tahap Nendeun Omong. Tahap ini adalah pembicaraan orang tua kedua pihak mempelai atau siapapun yang dipercaya jadi utusan pihak pria yang punya rencana mempersunting seorang gadis sunda. Orang tua atau sang utusan datang bersilaturahmi dan menyimpan pesan bahwa kelak sang gadis akan dilamar. Kedua, tahap Lamaran. Tahap melamar atau meminang ini sebagai tindak lanjut dari tahap pertama. Proses ini dilakukan orang tua calon pengantin keluarga sunda dan keluarga dekat.
  39. 39. Ketiga, tahap Tunangan. Tahap ini adalah prosesi ‘patuker beubeur tameuh’, yaitu dilakukan penyerahan ikat pinggang warna pelangi atau polos kepada si gadis. Keempat, tahap Seserahan (3 – 7 hari sebelum pernikahan). Calon pengantin pria membawa uang, pakaian, perabot rumah tangga, perabot dapur, makanan, dan lain- lain. Kelima, tahap Ngeuyeuk seureuh (opsional, jika ngeuyeuk seureuh tidak dilakukan, maka seserahan dilaksanakan sesaat sebelum akad nikah).
  40. 40. Keenam, tahap Membuat Lungkun. Dua lembar sirih bertangkai saling dihadapkan. Digulung menjadi satu memanjang. Diikat dengan benang kanteh. Diikuti kedua orang tua dan para tamu yang hadir. Maknanya, agar kelak rejeki yang diperoleh bila berlebihan dapat dibagikan kepada saudara dan handai taulan. Ketujuh, tahap berebut uang di bawah tikar sambil disawer. Melambangkan berlomba mencari rejeki dan disayang keluarga. Kedepalan, tahap Upacara Prosesi Pernikahan
  41. 41. Upacara Adat Kematian Pada garis besarnya rangkaian upacara adat kematian dapat digambarkan sebagai berikut: memandikan mayat, mengkafani mayat, menyolatkan mayat, menguburkan mayat, menyusur tanah dan tahlilan, yaitu pembacaan do‟a dan zikir kepada Allah swt. Agar arwah orang yang baru meninggal dunia itu diampuni segala dosanya dan diterima amal ibadahnya, juga mendo‟akan agar keluarga yang ditinggalkannya tetap tabah dan beriman dalam menghadapi cobaan. Tahlilan dilaksanakan di rumahnya, biasanya sore/malam hari. Pada hari pertama wafatnya (poena), tiluna (tiga harinya), tujuhna (tujuh harinya), matangpuluh (empat puluh harinya), natus (seratus hari), mendak taun (satu tahunnya), dan newu (seribu harinya).
  42. 42. Kehidupan keagamaan/kepercayaan : Mayoritas orang Sunda beragama Islam, akan tetapi ada juga sebagian kecil yang beragama Kristen, Hindu dan Sunda Wiwitan/Jati Sunda. Agama Sunda Wiwitan masih bertahan di beberapa komunitas pedesaan suku Sunda, seperti di Kuningan dan masyarakat Suku Baduy di Lebak Banten yang berkerabat dekat dan dapat dikategorikan sebagai suku Sunda.

×