Kliping sejarah kebudayaan Bali

16,826 views

Published on

2 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
16,826
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
210
Comments
2
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kliping sejarah kebudayaan Bali

  1. 1. Kliping sejarah TENTANGPERSEBARAN ADAT/KEBUDAYAAN HINDU-BUDHA YANG MASIH ADA DI BALI Disusun oleh:  DEDE ADI NUGRAHA ( xDLMx_dhansheiA3 ) PEMERINTAH KABUPATEN MAJALENGKA DINAS PENDIDIKAN SMA NEGERI 1 SUKAHAJI Tahun Pelajaran 2012-2013
  2. 2. KATA PENGANTAR Puji syukur yang dalam kami sampaikan ke hadirat Allah SWT Yang MahaPemurah, karena berkat kemurahanNya Kliping ini dapat kami selesaikan sesuaiyang diharapkan. Sebagaimana telah diberikan tugas kepada kami untuk membuatkliping tentang Persebaran adat/kebudayaan Hindu-Budha yang berada diNusantara. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang kamihadapi. Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunanmateri/kliping ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua,sehingga kendala-kendala yang kami hadapi teratasi.Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada : 1. Orang Tua kami yang selalu memberikan fasilitas dan dorongan untuk bisa membuat kliping/kumpulan artikel-artikel ini. 2. Kepada tim/kelompok yang sangat kompak dalam pengerjaan kliping/kumpulan artikel-artikel ini dengan baik. 3. Narasumber terpecaya dalam pengerjaan ini yang sudah banyak membantu. Terima kasih atas semuanya. Kami sadar, sebagai seorang pelajar yangmasih dalam proses pembelajaran, penulisan karya ilmiah ini masih banyakkekurangannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan ada nya kritik dansaran yang bersifat positif, guna penulisan karya ilmiah yang lebih baik lagi dimasa yang akan datang. Harapan kami, semoga karya ilmiah yang sederhana ini,dapat memberi kesadaran tersendiri bagi generasi muda bahwa budaya Indonesiaharus selalu dikenal oleh generasi muda yang akan datang. Semoga dengan kami membuat karya ilmiah ini dapat bermanfaat danmemberikan motivasi bagi para pembacanya, khususnya bagi kami dan bagi paragenerasi muda yang akan datang, sehingga di Negara ini Kebudayaan nya masihsangat terjaga. Amin. Penyusun,
  3. 3. DAFTAR ISIKATA PENGANTARDAFTAR ISIBAB I PENDAHULUANBAB II PEMBAHASAN A. Upacara Adat Ngaben B. Upacara Mekotek C. Upacara Kajeng Kliwon D. Upacara Melasti E. Upacara Nyambutin F. Upacara Tutug Kambuhan G. Upacara Melarung Bumi/Mecaru Bumi H. Ogoh-Ogoh I. Penjor J. Ngurek K. Tari Barong & Tari KecakDAFTAR PUSTAKA
  4. 4. BAB I PENDAHULUAN PERKEMBANGAN TRADISI HINDU-BUDHA DI INDONESIAFakta tentang Proses Interaksi MasyarakatIndonesia sebagai daerah yang dilalui jalur perdagangan memungkinkan bagi parapedagang India untuk sungguh tinggal di kota pelabuhan-pelabuhan di Indonesiaguna menunggu musim yang baik. Mereka pun melakukan interaksi denganpenduduk setempat di luar hubungan dagang. Masuknya pengaruh budaya danagama Hindu-Budha di Indonesia dapat dibedakan atas 3 periode sebagai berikut.1. Periode Awal (Abad V-XI M) Pada periode ini, unsur Hindu-Budha lebih kuat dan lebih terasa serta menonjol sedang unsur/ ciri-ciri kebudayaan Indonesia terdesak. Terlihat dengan banyak ditemukannya patung-patung dewa Brahma, Wisnu, Siwa, dan Budha di kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara dan Mataram Kuno.2. Periode Tengah (Abad XI-XVI M) Pada periode ini unsur Hindu-Budha dan Indonesia berimbang. Hal tersebut disebabkan karena unsur Hindu-Budha melemah sedangkan unsur Indonesia kembali menonjol sehingga keberadaan ini menyebabkan munculnya sinkretisme (perpaduan dua atau lebih aliran). Hal ini terlihat pada peninggalan zaman kerajaaan Jawa Timur seperti Singasari, Kediri, dan Majapahit. Di Jawa Timur lahir aliranTantrayana yaitu suatu aliran religi yang merupakan sinkretisme antara kepercayaan Indonesia asli dengan agama Hindu- Budha. Raja bukan sekedar pemimpin tetapi merupakan keturunan para dewa. Candi bukan hanya rumah dewa tetapi juga makam leluhur.3. Periode Akhir (Abad XVI-sekarang) Pada periode ini, unsur Indonesia lebih kuat dibandingkan dengan periode sebelumnya, sedangkan unsur Hindu-Budha semakin surut karena perkembangan politik ekonomi di India. Di Bali kita dapat melihat bahwa Candi yang menjadi pura tidak hanya untuk memuja dewa. Roh nenek moyang dalam bentuk Meru Sang Hyang Widhi Wasa dalam agama Hindu sebagai manifestasi Ketuhanan Yang Maha Esa. Upacara Ngaben sebagai objek pariwisata dan sastra lebih banyak yang berasal dari Bali bukan lagi dari India.
  5. 5. AKULTURASIMasuknya budaya Hindu-Budha di Indonesia menyebabkan munculnyaAkulturasi. Akulturasi merupakan perpaduan 2 budaya dimana kedua unsurkebudayaan bertemu dapat hidup berdampingan dan saling mengisi serta tidakmenghilangkan unsur-unsur asli dari kedua kebudayaan tersebut. KebudayaanHindu-Budha yang masuk di Indonesia tidak diterima begitu saja melainkanmelalui proses pengolahan dan penyesuaian dengan kondisi kehidupan masyarakatIndonesia tanpa menghilangkan unsur-unsur asli. Hal ini disebabkan karena: 1. Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi sehingga masuknya kebudayaan asing ke Indonesia menambah perbendaharaan kebudayaan Indonesia. 2. Kecakapan istimewa yang dimiliki bangsa Indonesia atau local geniusmerupakan kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolah unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.Pengaruh kebudayaan Hindu hanya bersifat melengkapi kebudayaan yang telah adadi Indonesia. Perpaduan budaya Hindu-Budha melahirkan akulturasi yang masihterpelihara sampai sekarang. Akulturasi tersebut merupakan hasil dari prosespengolahan kebudayaan asing sesuai dengan kebudayaan Indonesia.
  6. 6. BAB II PEMBAHASAN A. Upacara Adat Ngaben Upacara Adat Ngaben terletak di pinggir Danau Batur dan dikelilingitebing bukit, Desa Trunyan memiliki banyak keunikan sebagai sebuah desa kunadan Bali Aga (Bali asli). Konon ada sebuah pohon Taru Menyan yang menebarkanbau sangat harum. Bau harum itu mendorong Ratu Gede Pancering Jagat untukmendatangi sumber bau. Beliau bertemu dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pingit disekitar pohon-pohon hutan cemara Landung. Di sanalah kemudian mereka kawindan secara kebetulan disaksikan oleh penduduk desa hutan Landung yang sedangberburu. Taru Menyan itulah yang telah berubah menjadi seorang dewi yang tidak
  7. 7. lain adalah istri dari Ida Ratu Pancering Jagat. Sebelum meresmikan pernikahan,Ratu Gede mengajak orang-orang desa Cemara Landung untuk mendirikan sebuahdesa bernama Taru Menyan yang lama kelamaan menjadi Trunyan. Desa ini beradadi Kecamatan Kintamani, Daerah Tingkat II Bangli. Ternyata tidak semua umatHindu di Bali melangsungkan upacara ngaben untuk pembakaran jenasah. DiTrunyan, jenasah tidak dibakar, melainkan hanya diletakkan di tanah pekuburan.Trunyan adalah desa kuna yang dianggap sebagai desa Bali Aga (Bali asli). Trunyamemiliki banyak keunikan dan yang daya tariknya paling tinggi adalah keunikandalam memperlakukan jenasah warganya. Trunyan memiliki tiga jenis kuburanyang menurut tradisi desa Trunyan, ketiga jenis kuburan itu di- klasifikasikanberdasarkan umur orang yang meninggal, keutuhan jenasah dan cara penguburanyaitu : 1. Kuburan utama adalah yang dianggap paling suci dan paling baik yang disebut Setra Wayah. Jenazah yang dikuburkan pada kuburan suci ini hanyalah jenazah yang jasadnya utuh, tidak cacat, dan jenasah yang proses meninggalnya dianggap wajar (bukan bunuh diri atau kecelakaan). 2. Kuburan yang kedua disebut kuburan muda yang khusus diperuntukkan bagi bayi dan orang dewasa yang belum menikah. Namun tetap dengan syarat jenasah tersebut harus utuh dan tidak cacat. 3. Kuburan yang ketiga disebut Sentra Bantas, khusus untuk jenasah yang cacat dan yang meninggal karena salah pati maupun ulah pati (meninggal secara tidak wajar misalnya kecelakaan, bunuh diri). Dari ketiga jenis kuburan tersebut yang paling unik dan menarik adalahkuburan utama atau kuburan suci (Setra Wayah). Kuburan ini berlokasi sekitar 400meter di bagian utara desa dan dibatasi oleh tonjolan kaki tebing bukit. Untukmembawa jenasah ke kuburan harus menggunakan sampan kecil khusus jenasahyang disebut Pedau. Meski disebut dikubur, namun cara penguburannya unik yaitudikenal dengan istilah mepasah. Jenasah yang telah diupacarai menurut tradisisetempat diletakkan begitu saja di atas lubang sedalam 20 cm. Sebagian badannyadari bagian dada ke atas, dibiarkan terbuka, tidak terkubur tanah. Jenasah tersebuthanya dibatasi dengan ancak saji yang terbuat dari sejenis bambu membentuksemacam kerucut, digunakan untuk memagari jenasah. Di Setra Wayah ini terdapat7 liang lahat terbagi menjadi 2 kelompok. Dua liang untuk penghulu desa yangjenasahnya tanpa cacat terletak di bagian hulu dan masih ada 5 liang berjejersetelah kedua liang tadi yaitu untuk masyarakat biasa. Jika semua liang sudah penuh dan ada lagi jenasah baru yang akan dikubur,jenasah yang lama dinaikkan dari lubang dan jenasah barulah yang menempatilubang tersebut. Jenasah lama, ditaruh begitu saja di pinggir lubang. Jadi jangankaget jika di setra wayah berserakan tengorak-tengkorak manusia yang tidak bolehditanam maupun dibuang. Meski tidak dilakukan dengan upacara Ngaben, upacara
  8. 8. kematian tradisi desa Trunyan pada prinsipnya sama saja dengan makna dan tujuanupacara kematian yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali lainnya. Upacaradilangsungkan untuk membayar hutang jasa anak terhadap orang tuanya. Hutangitu dibayarkan melalui dua tahap, tahap pertama dibayarkan dengan perilaku yangbaik ketika orang tua masih hidup dan tahap kedua pada waktu orang tuameninggal serangkaian dengan prilaku ritual dalam bentuk upacara kematian. B. Upacara Mekotek Upacara Mekotek dilaksanakan dengan tujuanmemohon keselamatan.Upacara yang juga di kenaldengan istilah ngerebek. Mekotek ini adalah warisanleluhur, adat budaya dan tradisi yang secara turun temurun terus dilakukan umatHindu di Bali.Pada awalnya pelaksanaan upacara Mekotek diselenggarakan untuk menyambutarmada perang yang melintas di Munggu yang akan berangkat ke medan laga, jugapenyambutan pasukan saat mendapat kemenangan perang Blambangan pada masakerajaan silam.Dahulunya upacara ini menggunakan tombak yang terbuat dari besi. Namunseiring perkembangan zaman dan untuk menghindari peserta yang terluka makasejak tahun 1948 tombak besi mulai diganti dengan tombak dari bahan kayu pulet.Tombak yang asli dilestarikan dan disimpan di pura.Mekotek sendiri diambil dari kata tek-tek yang merupakan bunyi kayu yang diadusatu sama lain sehingga menimbulkan bunyi.Perayaan upacara Mekotek selalu dilakukan oleh warga Desa Munggu, KecamatanMengwi, Kabupaten Badung, Bali, pada setiap Hari Raya Kuningan. Selain sebagai
  9. 9. simbol kemenangan,Mekotek juga merupakan upaya untuk menolak bala yangpernah menimpa desa puluhan tahun lalu.Pada saat itu Perayaan upacara Mekotek dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda1915 (Ida Bagus Gede Mahadewa) karena takut terjadi pemberontakan, namunakibat dari larangan tidak boleh mengadakan upacara Mekotek tersebut munculwabah penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan banyak memakan korban jiwa.Lalu terjadi perundingan dan akhirnya diizinkan kembali, sejak saat itu tidakpernah ada lagi bencana. Upacara ini Makotek ini diikuti sekitar 2000 penduduk Munggu yangterdiri dari 15 banjar turun ke jalan dari umur 12 tahun hingga 60 tahun. Merekamengenakan pakaian adat madya dengan hanya mengenakan kancut dan udengbatik dan membawa selonjoran kayu 2 meter yang telah dikuliti. Pada tengah hariseluruh peserta berkumpul di pura Dalem Munggu yang memanjang. Disanadilakukan upacara syukuran bahwa selama 6 bulan pertanian perkebunan dansegala usaha penduduk berlangsung dengan baik, setelah serangkaian upacaraberlangsung, keseluruhan peserta melakukan pawai menuju ke sumber air yang adadi bagian utara kampung. Warga kemudian terbagi dalam beberapa kelompok . Disetiap pertigaan yang dilewati masing masing kelompok yang terdiri dari 50 orangakan membuat bentuk segitiga menggabungkan kayu-kayu tersebut hinggaberbentuk kerucut lalu mereka berputar, berjingkrak dengan iringan gamelan. Padasaat yang tepat seorang yang dianggap punya nyali sekaligus punya kaul akanmendaki puncak piramid dan melakukan atraksi entah mengangkat tongkatnya atauberdiri dengan mengepalkan tangan, sambil berteriak laksana panglima perangmengkomamdoi prajuritnya untuk terus menerjang musuh lalu kemudianditabrakkan dengan kelompok yang mendirikan tumpukan kayu yang lain.Sesampai di sumber air, tameng suci, segala perangkat upacara yang dibawa dariPura Dalem diberi tirta air suci dan dibersihkan. Kemudian mereka melakukanpawai kembali ke Pura Dalem untuk menyimpan semua perangkat yang dibawaberkeliling tadi.Ini adalah suatu aktraksi adat budaya yang saat menarik untuk anda saksikan,yanghanya ada di Bali pulau Dewata
  10. 10. C. Upacara Kajeng Kliwon Upacara Kajeng Kliwon diperingati setiap 15 hari sekali yaitu pada saatpertemuan Triwara Kajeng dengan Pancawara Kliwon. Kajeng Kliwon termasukdalam upacara Dewa Yadnya, Dewa Yadnya sendiri mempunyai arti upacarakorban suci/persembahan yang tulus ikhlaskepada Sang Hyang WidhiWasa (Tuhan Yang Maha Esa) dan seluruh manifestasi- Nya.Umat Hindu di Bali mempercayai Kajeng kliwon merupakan hari suci dan keramatyang harus diupacarai. Setiap 210 hari ada hari kajeng Kliwon khusus yang disebutPemelastali atau Watugunung runtuh.Kajeng kliwon merupakan hari pemujaan terhadap Sanghyang Siwa yang diyakinipada hari tersebut Sang Hyang Siwa bersemadi. Pada hari kajeng kliwon umatHindu di Bali menghaturkan sesajen dan persembahan kepada Sang Hyang DhurgaDewi, sedangkan di tanah, sesajen dan persembahan dihaturkan kepada Sang BhutaBucari, Sang Kala Bhucari dan Sang Durgha Bucari.Sesajen yang dipersembahkan hampir sama dengan upacara kliwon yang dilakukanpada hari Kliwon biasa, hanya saja sesajen pada Kajeng Kliwon ini ditambahdengan nasi kepel lima warna, yaitu merah, putih, hitam, kuning dan coklat,beberapa bawang putih dan tuak/arak berem. pada bagian atas, di ambang pintugerbang harus dihaturkan canang burat wangi dan canang yasa. Dengan sesajenyang dipersembahkan ini diharapkan rumah tangga dan anggota keluargamendapatkan keselamatan selain itu juga sebagai ungkapan rasa terima kasih atasapa yang telah diberikan Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa).Umat Hindu Bali tetap taat menjalankan adat dan Tradisi agar keseimbanagn alamterus lestari.
  11. 11. D. Upacara Melasti Pelaksaan Upacara Melasti dilakukan tiga hari (tilemkesanga) sebelum Hari Raya Nyepi, Upacara Melastibisa juga sebutupacara Melis atau Mekilis, dimana pada hari ini umat Hindu melakukansembahyangan di tepi pantai dengan tujuan untuk mensucikan diri dari segalaperbuatan buruk di masa lalu dan membuangnya kelaut,ini dilaksanakan sebelummerayakan Tapa Brata penyepian.Dalam lontar Sundarigama berbunyi seperti ini:"....manusa kabeh angaturakenprakerti ring prawatek dewata.". Sementara Melasti dalam ajaran Hindu Baliberbunyi nganyudang malaning gumi ngamet Tirta Amerta atau menghanyutkankekotoran alam menggunakan air kehidupan. Laut sebagai simbolsumberTirtha Amertha (Dewa Ruci, Pemuteran Mandaragiri). Umat Hindu di Bali melaksanakan upacara Melasti sebagai rangkaianpelaksanaan perayaan Hari Raya Nyepi.Selain melakukan sembahyang, Melasti juga adalah hari pembersihan danpenyucian aneka benda sakral milik Pura (pralingga atau pratima Ida Bhatara dansegala perlengkapannya) benda benda tersebut di usung dan diarak mengelilingidesa, ini bertujuan menyucikan desa, selanjutnya menuju samudra, laut, danau,sungai atau mata air lainnya yang dianggap suci. Upacara dilaksanakan dengan melakukan sembahyangan bersamamenghadap laut, seluruh peserta upacara mengenakan baju putih. Setelahupacara Melasti usai dilakukan, seluruh benda dan perlengkapan tersebut diusungke Balai Agung Pura desa. Sebelum Ngrupuk dilakukan nyejer dan selamatan.Umat Hindu di Bali berharap mendapat kesucian diri lahir batin serta mendapatkan
  12. 12. berkah dari Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) untuk menghadapikehidupan di masa yang akan datang.Untuk menyambut Hari Raya Nyepi, pelaksaan upacara Melasti ini di bagi berdasarkan wilayah, di Ibukota provinsi dilakukan Upacara Tawur. Di tingkatkabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Di tingkat kecamatan dilakukanupacara Panca Sanak. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. Dan di tingkatbanjar dilakukan upacara Ekasata. Sedangkan di masing-masing rumah tangga,upacara dilakukan di natar merajan (sanggah).Makna dari upacara Melasti adalah suatu proses pembersihan diri manusia, alamdan benda benda yang di anggap sakral untuk dapat suci kembali denganmelakukan sembahyang dan permohon kepada Hyang Widhi (Tuhan Yang MahaEsa), lewat perantara air kehidupan (laut, danau, sungai ), dengan jalan dihayutkanagar segala kotoran tersebut hilang dan suci kembali. Upacara ini juga bertujuanmemohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar Umat Hindu diberi kekuatandalam melaksanakan rangkaian Hari Raya Nyepi. Pelaksanaan Ritual dan seluruh perlengkapan (pralingga atau pratima IdaBhatara benda benda yang suci dan dianggap Sakral)harus sudah kembaliberada dibale agung selambat lambatnya menjelang sore. Pelaksaaan upacara Melasti dilengkapi dengan berbagai sesajen sebagaisimbolis Trimurti, 3 dewa dalam Agama Hindu, yaituWisnu, Siwa, dan Brahma.serta Jumpana singgasana Dewa Brahma.Dalam Lontar Sunarigama dan Sang Hyang Aji Swamandala ada empat hal yangdipesankan dalam upacara Melasti:1. Mengingatkan agar terus meningkatkan baktinya kepada Tuhan (ngiring parwatek dewata).2. Peningkatan bakti itu untuk membangun kepedulian agar dengan aktif melakukan pengentasan penderitaan hidup bersama dalam masyarakat (anganyutaken laraning jagat).3. Membangun sikap hidup yang peduli dengan penderitaan hidup bersama itu harus melakukan upaya untuk menguatkan diri dengan membersihkan kekotoran rohani diri sendiri (anganyut aken papa klesa).4. Bersama-sama menjaga kelestarian alam ini (anganyut aken letuhan bhuwana). Pelaksanaan Upacara: 1. Upacara Melasti dimulai iring-iringan umat membawa sarana-sarana upacara serta jempana dan barong yang akan diarak menuju tempat sumber air (danau, sungai atau pantai yang letaknya tidak jauh dari Pura di desa terdekat) dengan diiringi tabuh beleganjur. 2. Setelah tiba di tepi sumber air, upacara Melaspas dilanjutkan dengan proses pengambilan air suci gunak membersihkan sarana-sarana
  13. 13. upacara termasuk jempana dan barong. Dalam pelaksanaan upacara ini dilakukan sembahyangan bersama. Setelah sembahyangan bersama seluruh sarana-sarana upacara serta barong dibawa kembali ke pura. 3. Upacara Melaspas kemudian dilanjutkan dengan upacara Tawur Agung yang dilaksanakan di pelataran parkir Pura. Dalam upacara Tawur Agung ini dihaturkan persembahan berupa caru yang ditujukan kepada para bhuta. Setelah penghaturan caru dilanjutkan dengan pengerupukan dengan membunyikan kentongan dan membakar obor. Obor dan suara dari kentongan tersebut dibawa berkeliling di areal Pura. Sesampainya kembali di pelataran parkir semua sarana upacara tersebut dibakar menjadi satu. 4. Upacara pengerupukan dan Tawur Agung ditutup dengan pelaksanaan kirtan Tri Murti di tempat pembakaran sarana upacara. Setelah kirtan, umat berisitirahat sambil menunggu pesiapan persembahyangan tilem. Persembahyangan tilem berjalan dengan khidmat dan lancar hingga usai.Pelaksanaan Upacara Melasti ini menjadi salah satu daya tarik wisata yang saatmenarik untuk disaksikan, bagi anda yang ini melihat keunikannya upacaraMelasti, kita tunggu kedatangan anda ke Bali pulau Dewata. E. Upacara Nyambutin Upacara Nyambutin adalah upacara pemujaan dan permohonan kehadapanHyang Widhi agar jiwa di si bayi diberkati dan benar-benar menyatu kembalikepada raganya, juga sebagai penegasan nama si bayi dan memohon izin danberkah ke hadapan ibu pertiwi agar diizinkan mengijakkan kaki ke bumi.
  14. 14. Kata Nyambutin berasal dari kata sambut, jadi bila diuraikan mempunyaimakna memberikan ucapan salam, selamat datang kepada bayi. Dalam istilah Baliada sekala dan niskala, sekala untuk bayi itu sendiri (terlihat) dan niskala tidakterlihat, saat bayi lahir dipercaya dia tidak sendiri, dia lahir bersama temannyanamun tidak terlihat jadi teman nya itu di namakan niskala.Upacara Nyambutin ini dilakukan pada saat bayi berumur 105 hari/ 3 bulan seringjuga disebut nelubulanin dan tuun tanah = 3 bulanan dan turun ke tanah, karenapada saat seumur itu si bayi mulai belajar duduk, dan di mandi kan sebagaipenyucian atas kelahirannya di dunia.Dalam ajaran Hindu di kenal (Panca Yadnya) yang wajib dilaksanakan di dalamusaha mencapai kesempurnaan hidup lahir maupun batin, salah satunya adalahmanusa yadnya yaitu suatu upacara pengorbanan suci demi kesempurnaan dankeselamatan hidup manusia baik saat berada di alam dunia maupun alam baka, Adabeberapa upacara yang berhubungan dengan Manusa yadnya dan salah satu nyaupacara Nyambutin. Pelaksanaan upacara Nyambutin dipimpin oleh seorang Pemangku, upacaraini dilakukan di halaman rumah (ngatah), antara dapur dan rumah tengah dimanaplasenta (ari-ari) si bayi di kubur, untuk sesajen (babaten) diletakan disebuah mejakecil. Sebelum upacara berlangsung, bayi dan orang yang mengikuti kegiatanupacara duduk dibelakang pimpinan upacara, lalu disiapkan daun dadap, benangdan kapas putih. Ritual upacara pemujaan ini di tujukan kepada Bhatara Surya, ini bermaknaagar si bayi mendapat berkah, persembahan ini juga diberikan untuk para dewa,adapun dewa tersebut I Ratu Taksu Pengijen, I Ratu Gede di Dasar dan I RatuGede, lalu persembahan juga diperuntuk bagi dewa yang berada di bumi yaitu IRatu Bagus Blangsingan, persembahan yang terakhir di berikan kepada DewaRajapati, dewa yang menjaga Plasenta (ari-ari) si bayi, semua persembahan inimempunyai tujuan agar sang bayi mendapat perlindungan dan keselamatan dariHyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) lewat menifestasinya Bhatara Surya.(Christian Riemenschneider,Brigitta Hauser-Schäublin).Berbagai upacara, pemujaan dan persembahan yang dilakukan umat Hindu di Balisebagai ungkapan dari rasa terima kasih ke hadapan Sang Pencipta, denganmelaksanakan upacara Nyambutin ini, dengan ketulus ikhlasan menjalankan nya,di harapan mendapat berkah dan karunia.
  15. 15. F. Upacara Tutug Kambuhan Upacara Tutug Kambuhan bermakna membersihkan jiwa raga sang bayidari pengaruh buruk, sedangkan untuk ibu membersihkan dari segala noda dankotoran, ungkapan rasa berterima kasih kepada Nyama Bajang bayi atasbantuannya menjaga bayi sewaktu masih dalam kandungan juga mohon agarmereka kembali ke tempat asalnya masing-masing. Tutug Kambuhan bisa jugadisebut Bulan Pitung, Dina atau Macolongan, upacara ini dilaksanakan saat bayiberumur 42 hari, perhitungan ini mengikuti wuku yaitu selama 6 wuku, satu wuku7 hari, jadi satu bulan Bali sama dengan 35 hari (5 minggu). Upacara ini termasukdalam upacara manusaYadnya, Karena upacara ini dilakukan pada seorangmanusia (bayi), manusa Yadnya adalah upacara persembahan suci yang tulusikhlas kepada manusia. Adapun yang dimaksud dengan Nyama Bajang adalah merupakanmanifestasi kekuatan Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) yang membantutugas-tugas Kanda-Pat dalam hal menjaga dan memelihara bayi, sejak mulaitumbuhnya benih sampai saat kelahiran bayi. Setelah bayi lahir, tugas-tugasNyama Bajang ini berakhir sedangkan yang dimaksud dengan Kanda-Pat adalah: Ari-ari, Lamas, Getih dan Yeh-Nyom. Berbeda dengan NyamaBajang, Kanda-Pat selalu senantiasa menemani manusia, sejak bayi masih dalamkandungan sampai manusia menjadi tua dan akhirnya meninggal dunia. Upacara Tutug Kambuhan ini sangat penting untuk dilaksanakan tepat padawaktunya, ini semua berguna unutk pembersihan raga bagi bayi, karena pada usia42 hari, tali pusar sudah putus, lapisan kulit yang paling tipis sudah berganti,peredaran darah dan konsumsi makanan sudah lancar sehingga keringat, air mata,ludah, kencing, dan kotoran sudah keluar dan untuk pembersihan raga ibu ditandaioleh terhentinya aliran kotoran dari rahim.Upacara Tutug Kambuhan ini sebaiknya diusahakan terlaksana, walaupun sangatsederhana. Upacara ini merupakan batas waktu bagi kebersihan jiwa si bayi danibunya yang biasa disebut lepas sesebelan atau cuntaka.Setelah sesebelan/cuntaka ini bayi dan ibunya boleh diperkenakan masuk ke dalam
  16. 16. Pura, namun saat memasuki pura, ibu dilarang menyusui anak, karena air susuyang menetes membawa “keletehan atau membuat kotor tempat suci. Sedangkanuntuk sang ayah, batas waktu sesebelan/cuntaka adalah ketika si bayi putus talipusarnya. Pada saat itu ayah harus melakukan natab bea kala dan ngayabprayascita.Upacara Tutug Kambuhan ini dipimpin oleh pendeta/Sulinggih dan dilaksanakandirumah, ada 3 tempat lokasi dalam melakukan upacara ini yaitu:1. Di dapur, pemujaan/persembahan terhadap Dewa Brahma.2. Di tempat pemandian pemujaan/persembahan terhadap Dewa Wisnu.3. Di sanggah kamulan pemujaan/persembahan terhadap Dewa Siwa. Pelaksanaan upacara diawali dengan membaca doa dan menghaturkan puja-puja oleh Pendeta/Sulinggih dengan mempersembahkan beberapa sesajen yangberfungsi untuk membersihkan jasmani bayi agar memperoleh kesucian,kesejahteraan, juga sebagai permohonan agar diberikan kesuksesan hidup, laludiadakan upacara byakala untuk pembersihan lahir dan bathin juga menghilangkansegala bentuk pengaruh-pengaruh negatif, upacaraselanjutnya dilukatdan natab, rangkaian upacara Tutug Kambuhan ini diakhiridengan melakukan persembahyangan. G. Upacara Melarung Bumi/Mecaru Bumi Upacara Melarung Bumi disebut juga Mecaru Bumi, upacara inibermakna membersihkan bumi dari pengaruh buruk dan negatif yang bisamerusak kehidupan manusia juga menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Dalammelaksanakan upacara Melarung Bumi ini, umat Hindu di Bali percaya ada 9 dewayang di puja, adapun dewa dewa itu : Dewa Wisnu, Dewa Iswara, DewaMaheswara, Dewa Brahma, Dewa Rudra, Dewa Mahadewa, Dewa Sangkara,Dewa Indra/Sambu dan Dewa Siwa.
  17. 17. Dari ke 9 dewa ini, semuanya mempunyai peran penting dalam menjaga bumibeserta isinya, sedangkan maksud dan tujuan dari upacara ini adalah sebagaiperwujudan rasa kepedulian kita manusia terhadap lingkungan alam yang kitadiami dan tempati agar jangan sampai rusak dan binasa. Upacara Melarung Bumi ini dipimpin oleh seorang pendeta, dilakukan 1hari, sementara upacara bisa dilakukan kapan saja, tergantung kondisi alam,apalagi saat terjadi musibah atau bencana, seperti kekeringan, tanah longsor, banjir,gempa, gunung meletus, maka wajib dilaksanakan upacara Melarung Bumi ini.Lokasi tempat upacara bisa dilakukan dimana saja, seperti di pura Agung, tempatsuci, dan di rumah.Sarana upacara Melarung Bumi ini di sebut Banten Pakelem. Yang terdiri daribeberapa sesajen yang didalamnya termasuk hewan, seperti Ayam, Bebek,Kambing, Kerbau, Sapi dan lain sebagainya , hewan yang dipersembahkan tersebutjumlah dan jenisnya disesuaikan dengan tingkat upacara yang akan dilaksanakan.Umat Hindu di Bali mengenal tiga tingkatan dalam menjalankan upacara keagamaan, adapun tingkatan tersebut : Rendah (Nista), sedang (Madya), dantinggi (Utama), disesuai dengan tingkat kemampuan yang akan melaksanakannya.Setelah semua sarana persembahan disediakan, kemudian prosepsi upacara dimulai, saat upacara , dipanjatkan doa dan puji pujian diiringi dengan suaragamelan, lalu dilaksanakan sembahyang bersama yang di pimpin oleh pendeta. Akhir dari kegiatan upacara, semua sesajen yang telah disediakan di bawake laut, danau, sungai, kawah gunung, kemudian sesajen tersebut dilarungkan ataudihanyutkan. Ini semua bermakna membuang segala macam unsur negatif. Agarbumi beserta isi nya kembali suci dan lestari(jagaditalohjinawi).Dari rangakain kegitan upacara Melarung Bumi adalah sebagai ungkapan rasaterima kasih kehadapan yang Pencipta beserta manifestasinya yang telahmenciptakan alam jagad raya lengkap dengan isi nya.Bali mempunyai berbagai kegiatan upacara keagamaan, dan salah satu nya adalahupacaraMelarung Bumi, dan bila anda ingin menyaksikan upacara ini datanglah keBali pulau para Dewata.
  18. 18. H. Ogoh-Ogoh Ogoh-Ogoh merupakan karya seni patung dalam kebudayaan Bali yangmenggambarkan kepribadian "Bhuta Kala" dan sudah menjadi ikon ritual yangsecara tradisi sangat penting dalam penyambutan Hari Raya Nyepi atau TahunBaru Saka. Seluruh umat Hindu Dharma akan bersukaria menyambut kehadirantahun baru itu dengan mengarak-arakan "ogoh-ogoh" yang dibarengi denganperenungan tentang yang telah terjadi dan sudah dilakukan selama ini. Pada saat"Pangrupukan" atau sehari menjelang Hari Raya Nyepi, peristiwa dan prosesinyasetiap tahunnya sama yaitu pada setiap Banjar (pemangku adat setingkatKelurahan) di Bali akan berlomba dalam hal membuat "ogoh-ogoh" semenarikmungkin. Bila pembuatannya lebih bernilai seni, rumit, dan lebih mutakhir, maka"ogoh-ogoh" itu diharapkan bisa menaikkan martabat Banjar yang membuatnya.Fungsi utama "ogoh-ogoh" adalah sebagai representasi Bhuta Kala yang dibuatmenjelang perayaan Hari Raya Nyepi, dimana "ogoh-ogoh" tersebut akan diarakberamai-ramai keliling banjar atau desa pada senja hari, sehari sebelum Hari RayaNyepi (Pangrupukan). Menurut para cendekiawan dan praktisi Hindu Dharma,prosesi ini melambangkan keinsyafan diri manusia akan kekuatan alam semestadan waktu yang maha dashyat. Kekuatan tersebut meliputi kekuatan "BhuanaAgung" (alam raya) dan "Bhuana Alit" (diri manusia). Dalam pandangan filsafat(tattwa), kekuatan tersebut dapat mengantarkan makhluk hidup di alam raya,khususnya manusia dapat menuju kebahagiaan atau kehancuran. Semua itutergantung pada niat luhur manusia, sebagai makhluk Tuhan yang paling muliadalam menjaga dirinya sendiri serta seisi dunia.Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala melambangkan kekuatan alam semesta(bhu) dan waktu (kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Dalam perwujudanpatung yang dimaksud, "Bhuta Kala" digambarkan sebagai sosok yang besarmenakutkan dan pada umumnya berupa wujud raksasa (rakshasa). Raksasa adalahbangsa pemakan daging manusia atau kadang-kadang sebagai bangsa kanibal dandilukiskan dalam "Yakshagana", sebuah seni populer dari "Karnataka". Menurutmitologi Hindu dan Budha menyatakan, kata "rakshasa" mempunyai arti
  19. 19. "kekejaman", yang merupakan lawan dari kata "raksha" yang artinya"kesentosaan". Namun tidak semua raksasa memiliki kepribadian yang kejam,seperti Wibisana, Hiranyaksa, dan Hiranyakasipu, yang mendapat berkah daridewa karena mereka memuja Dewa Brahma. Menurut kitab Ramayanamenguraikan, bahwa raksasa diciptakan dari kaki Dewa Brahma. Sedangkanmenurut kisah lain, mereka berasal dari tokoh Pulastya, Khasa, Nirriti, dan Nirrita. Dengan keberadaan arak-arakan "Ogoh-Ogoh" yang sudah menjadi tradisiinilah yang menambah daya tarik wisatawan baik mancanegara maupun nusantara.Karena selain memiliki keindahan tempat-tempat wisata, Balipun memilikikekayaan budaya yang menjadi andalan kepariwisataan. Serasa belum lengkapbilamana wisatawan berkunjung tidak melihat prosesi "Ogoh-Ogoh" padapenyambutan Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka. I. Ngurek Ngurek adalah atraksi menusuk diri dengan menggunakan senjata keris, iniberlangsung ketika para pelaku berada dalam keadaan kerasukan (diluarkesadaran). Ngurek berkaitan erat dengan ritual keagamaan bahkan disejumlahdesa adat di Bali tradisi ini wajib dilangsungkan. Ngurek bisa disebut jugadengan Ngunying, Ngurek merupakan wujud bakti seseorang yangdipersembahkan kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).Ngurek termasuk dalam upacara Dewa Yadnya yaitu pengorbanan/persembahansuci yang tulus ihklas. Menurut ajaran agama Hindu, Tuhan Yang Maha Esamenciptakan manusia, mahluk hidup beserta isinya berdasarkan atas Yadnya, makadengan itu manusia di harapkan dapat memelihara, mengembangkan danmengabdikan diri nya kepada Sang Pencipta yakni Hyang Widhi Wasa (TuhanYang Maha Esa).Ngurek berasal dari kata ‘urek’ yang berarti lobangi atau tusuk, jadi Ngurek dapatdiartikan berusaha melobangi atau menusuk bagian tubuh sendiri dengan keris,
  20. 20. tombak atau alat lainnya saat berada dalam kondisi kerasukan. Karena Ngurekdilakukan dalam kondisi kerasukan atau diluar kesadaran, maka roh lain yangmasuk ketubuh akan memberi kekuatan, sehingga orang yang melakukan Ngurekini menjadi kebal, dan ini merupakan suatu keunikan sekaligus misteri yang sulitdijelaskan.Tradisi Ngurek tidak tahu kapan mulai dilakukan, konon ini terjadi pada jamankejayaan kerajaan. Saat itu sang raja ingin membuat pesta yang tujuannya untukmenunjukkan rasa syukur kepada Sang Pencipta dan sekaligus menyenangkan hatipara prajuritnya. Setelah dilakukan sejumlah upacara, kemudian memasuki tahaphiburan, mulai dari sabung ayam, hingga tari-tarian yang menunjukkankedigdayaan para prajurit, maka dari tradisi ini munculah Tari Ngurek atau TariNgunying. Ngurek, menusuk diri dengan keris dalam keadaan kerasukan atau tidaksadar ini pada zamannya hanya dilakukan oleh para pemangku, namun kini orangyang melakukan Ngurek tak lagi dibedakan statusnya,bisa pemangku,penyungsung pura, anggota krama desa, tokoh masyarakat, laki-laki danperempuan. Tapi suasananya tetap yaitu mereka melakukannya dalam keadaankerasukan atau trance. Kendati keris yang terhunus itu ditancapkan ketubuh,namun tidak setitikpun darah yang keluar atau terluka.Ngurek ini biasa dilakukan di luar kompleks pura utama.Sebelum Ngurek dilakukan, biasanyaBarong dan Rangda serta para pepatih yangkerasukan itu keluar dari dalam kompleks pura utama dan mengelilingi wantilanpura sebanyak 3 kali. Saat melakukan hal itulah, para pepatih mengalami titikkulminasi spiritual tertinggi. Kerasukan dalam Ngurek, biasanya terjadi setelah melakukan proses ritual.Untuk mencapai klimaks kerasukan, mereka harus melakukan beberapa tahapan.Tahapan-tahapan tersebut secara garis besar dibagi menjadi tiga yang terdiri dari: 1. Nusdus adalah merangsang para pelaku ngurek dengan asap yang beraroma harum menyengat agar segera kerasukan. 2. Masolah merupakan tahap menari dengan iringan lagu-lagu dan koor kecak atau bunyi-bunyian gamelan. 3. Ngaluwur berarti mengembalikan pelaku ngurek pada jati dirinya Masuknya roh kedalam diri para pengurek ini ditandai oleh keadaan: badanmenggigil, gemetar, mengerang dan memekik, dengan di iringi suara gendinggamelan, para pengurek yang kerasukan, langsung menancapkan senjata,biasanya berupa keris pada bagian tubuh di atas pusar seperti dada, dahi, bahu,leher, alis dan mata, walaupun keris tersebut ditancapkan dan ditekan kuat kuatsecara berulang ulang, jangankan berdarah, tergores pun tidak kulit para pengurektersebut, roh yang ada didalam tubuh para pengurek ini menjaga tubuh mereka agarkebal, tidak mempan dengan senjata. Ngurek mempunyai gaya masing-masing, adayang berdiri sembari menancapkan keris ke bagian tubuh, seperti dada atau mata,
  21. 21. ada pula yang bersandar di pelinggih. Setelah upacara selesai, para pelaku ngurekkembali ke kompleks pura utama.Tradisi Ngurek ini merupakan kebiasaan masyarakat Bali, dimana saat upacaramengundang roh leluhur dilakukan, para roh diminta untuk berkenan memasukibadan orang-orang yang telah ditunjuk, dan menjadi sebuah tanda, bahwa roh-rohyang diundang telah hadir di sekitar mereka. Tradisi Ngurek juga dipercaya, untukmengundang Ida Bhatara dan para Rencang-Nya, berkenan menerima persembahanritual saat upacara. Jika orang-orang yang ditunjuk sudah kerasukan dan mulaiNgurek, maka masyarakat bisa mengetahui dan meyakini kalau Ida Bhatara sudahturunnya ke marcapada (dunia), maka umat yang mengikuti prosesi ritual kianmantap dengan semangat bhaktinya.Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa, apa pun yang kita lakukandengan pasrah, berserah diri dan ihklas kepada Sang Pencipta (Tuhan Yang MahaEsa), maka akan mendapat anugrah dan karunia. J. Tari Barong & Tari Kecak Tari Barong dan Tari Kecak adalah dua jenis tarian tradisional Bali yangsangat terkenal di dunia kepariwisataan baik di tanah air maupun dunia. Kedua
  22. 22. tarian ini seringkali dijadikan media promosi paket-paket wisata Bali oleh setiapagen atau biro perjalanan wisata sehingga kedua tarian tradisional itu menjadi ikonyang melambangkan budaya Bali. Hampir semua agen atau biro perjalanan wisatayang menyelenggarakan paket wisatanya di Bali, selalu mebawa tamu mereka atauwisatawan untuk menyaksikan Tari Barong dan Tari Kecak. Ada beberapa tempatyang menyelenggarakan kedua tarian tersebut, di antaranya salah satu tempatterkenal yang setiap harinya mengadakan pertunjukkannya adalah di desaBatubulan, kabupaten Gianyar. Selain itu, ada juga beberapa tempat lain, seperti dikawasan obyek wisata Pura Uluwatu, dan tempat lainnya yang digelar di daerahKesiman serta Suwung, yang masih termasuk dalam wilayah ibukota Denpasar. Pada umumnya tari Kecak ataupun tari Barong itu diadakan oleh suatukelompok (sekeha) seni tari tradisional yang ada di setiap desa-desa atau banjar-banjar di Bali. Seperti di desa Batubulan kecamatan Gianyar, terdapatbeberapa sekeha yang memiliki jenis tarian yang sama dengansekeha lainnya.Perbedaan masing-masing kelompok itu hanya pada bentuk pelayanan dan tempatpertunjukkannya. Pada umumnya pertunjukkan di Batubulan, tarian pertama yangdigelar untuk pengunjung atau wisatawan adalah tarian Barong yang digabungdengan tari lain yaitu tari Keris, sehingga tarian itu dikenal juga dengan nama "TariBarong dan Keris". Untuk menyaksikan tarian ini setiap akan diberikan semacampanduan cerita tarian dalam bentuk tulisan. Panduan cerita ini ditulis dalamberbagai bahasa di dunia sehingga memudahkan bagi setiap pengunjung yangumumnya datang dari berbagai bangsa. Tari Barong menggambarkan pertarungan antara kebaikan melawankejahatan. Barong melambangkan kebaikan sedangkan pihak musuhnya adalahRangda yang mewakilkan kejahatan. Tari Barong ini diperankan oleh dua orangpenari yang memakai topeng binatang mirip harimau, sama sepertipertunjukkan barongsai pada kebudayaan Cina. Sedangkan Rangda berupa topengyang berwajah menyeramkan dengan dua gigi taring runcing di mulutnya. Tarianini dibuka dengan gending pembuka (gamelan) yang dibawakanoleh sekeha gamelan. Para penabuh gamelan ini berada di sebelah kanan panggungyang menjadi bagian tidak terpisahkan dari pertunjukkan tarian tersebut secarakeseluruhan. Sebab tari Barong sangat tergantung pada irama-irama tabuh dari alatmusik gamelan tersebut. Seperti halnya pertunjukkan-pertunjukkan drama,pertunjukkan tari Barong ini dari awal hingga akhir terdiri dari lima babak, yangpada babak pertama diawali dengan fragmen atau semacam pengantar cerita. Alurdari pertunjukkan tari ini mengartikan nilai filosofi yang menyatakan bahwapeperangan antara kebaikan dan kejahatan di dunia ini selalu ada serta berlangsungterus menerus. Pertunjukkan tari Barong ini biasanya hanya berlangsung selamasatu jam.Sedangkan "Tari Kecak" merupakan pertunjukan kesenian tari khas Bali yangdiciptakan sekitar tahun 1930 dan dimainkan oleh laki-laki. Tari ini diperankan
  23. 23. oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang posisinya duduk berbarismembentuk suatu lingkaran dengan diiringi irama tertentu yang menyerukan "cak"secara berulang kali, sambil mengangkat kedua lengan. Tari Kecak inimenggambarkan kisah Ramayana di mana saat barisan kera membantu Ramamelawan Rahwana. Pada mulanya tari Kecak ini berasal dari ritual tarian "SangHyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada dalam kondisi yang tidaksadar (trance). Dalam hal ini penari tersebut sedang melakukan komunikasi denganTuhan atau kepada para roh leluhur yang kemudian menyampaikan keinginan danharapan kepada masyarakatnya. Para penari yang duduk melingkar itu mengenakankain bermotif kotak-kotak seperti papan catur yang mengikat pada pinggangmereka. Selain penari tersebut, ada pula beberapa penari lainnya yang memerankantokoh-tokoh Ramayana, seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.Iring-iringan lagu atau musik yang mengiringi tari Kecak selama berlangsungdiambil dari ritual tarian Sanghyang, yang tidak menggunakan alat musik. Akantetapi hanya menggunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yangmemerankan tokoh-tokoh Ramayana. Sekitar tahun 1930-an seniman WayanLimbak bekerja sama dengan pelukis asal Jerman yaitu Walter Spies menciptakankreasi tari Kecak berdasarkan tradisi tari Sanghyang yang digabungkan denganmengambil bagian-bagian dari kisah Ramayana. Wayan Limbak memperkenalkandan mempopulerkan tari Kecak ini saat ia berkeliling dunia bersama rombonganpenari Balinya.
  24. 24. DAFTAR PUSTAKAR. Soekmono, Dr., 1995, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2,Yogyakarta: Penerbit KanisiusSartono Kartodirdjo, dkk., 1977, Sejarah Nasional Indonesia II, Jakarta: BalaiPustakaChalif Latif dan Irwin Lay, Atlas Sejarah, Jakarta: Pembina Praga, 1993.Edhie Wurjantoro, Sejarah Nasional dan Umum I, Jakarta: Depdikbud, 1996.Soekmona R., Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia II , Yogyakarta:Kanisius,1973.Sartono Kartodirjo, Marwati Djoned Poeponegoro, NugrohoNotosusanto, SejarahNasional Indonesia II, Jakarta: Depdikbud, 1973.Supartono Widyosiswoyo, Sejarah I, Klaten: Intan, 1979.Truyana, Sejarah Nasional dan Sejarah Umum SMU I, Jakarta: Sumberbahagia,1995.Dhan_di@rocketmail.com

×