Materi teori sastra
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Materi teori sastra

on

  • 35,814 views

PERSENTASI TEORI SASTRA

PERSENTASI TEORI SASTRA

Statistics

Views

Total Views
35,814
Views on SlideShare
35,807
Embed Views
7

Actions

Likes
4
Downloads
1,011
Comments
7

2 Embeds 7

http://basindoo.blogspot.com 6
http://www.blogger.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

17 of 7 Post a comment

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment
  • Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum bersama I Made Juliadi Supadi,S.Pd

Materi teori sastra Materi teori sastra Presentation Transcript

  • PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA DAN DAERAH BIDANG ILMU PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA BALI FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI DENPASAR Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • POKOK BAHASAN
    • Awal Mula Kesusastraan
    • Masalah Definisi Sastra
    • Ruang Lingkup Ilmu Sastra
    • Klasifikasi Pendekatan Teori Sastra
    • Teori-Teori Objektif dalam Sastra
    • Sosiologi Sastra
    • Teori Ekspresivisme Munculnya Paham
    • Individualisme dan Otonomi
    • Teori Sosiologi Sastra
    • Teori resepsi Sastra
    • Struktur Pembangunan Karya Sastra
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Awal Mula Kesusastraan
    • Setiap orang pada setiap zaman dan setiap tempat dapat bersastra secara aktif dan pasif (Mangunwijaya, 1986:3)
    • Seni sebagai media ekspresi pengalaman estetik manusia berhadapan dengan alam sebagai penjelmaan keindahan (Driyarkara, 1980:7)
    • Ekspresi pengalaman keindahan itu menenteramkan dan menggembirakan manusia, karena di dalamnya manusia mengenali hubungan yang akrab dan hangat antara dirinya dengan sumber atau asas segala sesuatu yang menarik, mengikat memikat, dan memanggil manusia kepada-Nya (Mudji Sutrisno, 1993:31)
    • Sastra berkaitan erat dengan spiritual oleh karena itu, pada awal mula, segala sastra adalah religius (Mangunwijaya, 1988:11)
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Definisi Sastra
    • Dalam bahasa-bahasa “Barat”, istilah sastra secara etimologis diturunkan dari bahasa Latin literature ( littera = huruf atau karya tulis). Tata bahasa dan puisi. Istilah Inggris Literature , istilah Jerman Literatur , dan istilah Perancis litterature berarti segala macam pemakaian bahasa dalam bentuk tertulis.
    • Dalam bahasa Indonesia, kata 'sastra' diturunkan dari bahasa Sansekerta ( Sas - artinya mengajar, memberi petunjuk atau instruksi, mengarahkan; akhiran -tra biasanya menunjukkan alat atau sarana) yang artinya alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Misalnya: silpasastra (buku petunjuk arsitektur), kamasastra (buku petunjuk mengenai seni cinta)
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Masalah Definisi Sastra Lanjutan
    • Istilah 'sastra' (yang di Eropa baru muncul sekitar abad ke-18 itu) pertama-tama digunakan untuk menyebut pemakaian bahasa dalam bentuk tertulis. Bagaimana dengan 'sastra lisan ’ tidak termasuk sastra? Apakah semua bentuk tulisan (kedokteran, arsitektur, agama, filsafat, dan politik) juga dapat disebut sastra?
    • Ada upaya lain telah dilakukan untuk menghindari kerancuan pengertian tentang sastra. Dalam bahasa Perancis, dipergunakanlah istilah belles-lettres (yang berarti: tulisan yang indah dan sopan) sebagai istilah yang khas untuk menyebut karya sastra yang bernilai estetik. Dalam bahasa Indonesia, ada teoretisi yang menyebut awalan su dalam kata susastra yang berarti: baik, indah, perlu dikenakan kepada karya-karya sastra untuk membedakannya dari bentuk pemakaian bahasa lainnya .
    • Persoalannya adalah tidak semua karya sastra (terutama terlihat pada seni-seni modern) menggunakan bahasa yang indah dan berbunga-bunga . Foucault menyebutkan bahwa sastra modern lahir dan bertumbuh di dalam kemapanan bahasa dan kungkungan pola-pola linguistik yang kaku .
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Alasan Mengapa Definisi Sastra Tidak Memuaskan
    • Orang ingin mendefinisikan terlalu banyak sekaligus, tanpa membedakan definisi deskriptif (yang menerangkan apakah sastra itu) dari definisi evaluatif (yang menilai sesuatu teks termasuk sastra atau tidak);
    • Sering orang ingin mencari sebuah definisi ontologis yang normatif mengenai sastra (yakni definisi yang mengungkapkan hakikat sebuah karya sastra). Definisi semacam ini cenderung mengabaikan fakta bahwa karya tertentu bagi sebagian orang merupakan sastra tetapi bagi orang lain bukan sastra;
    • Orang cenderung mendefinisikan sastra menurut standar sastra Barat; dan
    • Definisi yang cukup memuaskan hanya berkaitan dengan jenis sastra tertentu (misalnya puisi) tetapi tidak relevan diterapkan pada sastra pada umumnya ( Luxemburg , 1986:3-13)
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • JALAN KELUAR
    • Para ahli kesusastraan umumnya sepakat untuk mengatakan bahwa tidak mungkin dirumuskan suatu definisi mengenai sastra secara universal.
    • 'Sastra' hanyalah sebuah istilah yang dipergunakan untuk menyebut sejumlah karya dengan alasan tertentu dalam lingkup kebudayaan tertentu pula
    • merumuskan seperangkat ciri-ciri teks yang disebut 'sastra' itu dengan berpijak pada asas kenisbian historis ( Teks-teks bukan sastra berfungsi dalam komunikasi praktis, siap dipakai, dan dimanfaatkan. Teks-teks sastra tidak terutama memenuhi fungsi komunikatif melainkan fungsi estetik dalam suatu lingkup kebudayaan tertentu. Agar dapat memenuhi fungsi estetik itu, suatu teks harus disusun secara khas sesuai dengan model estetika yang berlaku dalam lingkungan kebudayaannya. Teks-teks sastra merupakan modul kebudayaan yang mengungkapkan nilai-nilai dan norma-norma kebudayaan tersebut. Seperti kebudayaan dapat berubah demikian juga modul-modulnya berubah )
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
    • Berdasarkan uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa sastra adalah hasil cipta manusia dengan menggunakan media bahasa tertulis maupun lisan, bersifat imajinatif, disampaikan secara khas, dan mengandung pesan yang bersifat relatif.
    • Tujuan utama dari pengajaran sastra adalah untuk membentuk sikap yang apresiatif dan kreatif terhadap sastra dan bahasa secara umum. Namun, bukan berarti sastra juga tak memberi sumbangan terhadap perkembangan budi pekerti. Karena jika siswa atau mahasiswa sudah mampu bersikap apresiatif terhadap karya sastra, maka mereka sekaligus juga mampu menangkap nilai-nilai dan amanat yang ada dalam karya tersebut.
  • Ruang Lingkup Ilmu Sastra
    • Ilmu sastra meliputi
    • ilmu teori sastra,
    • kritik sastra, dan
    • sejarah sastra.
    • Ketiga disiplin ilmu tersebut saling terkait dalam pengkajian karya sastra, dimana ketiganya itu tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Rene Wellek dan Austin Warren
    • Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sederetan karya seni. Sedangkan teori sastra, kritik sastra dan sejarah sastra merupakan cabang ilmu sastra.
    • Teori sastra adalah studi prinsip, kategori, dan kriteria yang dapat diacu dan dijadikan titik tolak dalam telaah di bidang sastra. Sedangkan studi terhadap karya-karya konkret disebut kritik sastra dan sejarah sastra. Ketiga bidang ilmu ini saling memengaruhi dan berkaitan secara erat. "Tidak mungkin kita menyusun: teori sastra tanpa kritik sastra dan teori sastra; kritik sastra tanpa teori sastra dan sejarah sastra" (Wellek & Warren, 1993:39).
  • Andre Lefevere
    • sastra adalah pengetahuan kemanusiaan ( existential knowledge ) yang sejajar dengan bentuk hidup itu sendiri. Dengan demikian, pertanyaan-pertanyaan terhadap sastra hanya akan terkesan absurd. Sama halnya misalnya dengan pertanyaan mengenai hidup, cinta, kematian, kerinduan. Aspek-aspek ini merupakan hal yang transendental dan sangat sukar diformalkan dalam logika ilmiah dengan bahasa apa pun. Sastra memiliki tempatnya sendiri dalam lingkup yang tidak ilmiah ( non-scientific )
    • istilah yang digunakan Literary Knowledge (Pengetahuan Kesusastraan) untuk menghindari kesan scientific Teori Sastra yang menurutnya terlalu berbau akademis
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Pengertian Teori Sastra
    • Secara u m um, yang dimaksudkan dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menetapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati. Teori berisi konsep/uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu. Suatu teori dapat dideduksi secara logis dan dicek kebenarannya (diverifikasi) atau dibantah kesahihannya (difalsifikasi) pada objek atau gejala-gejala yang diamati tersebut .
  • LANJUTAN
    • istilah yang tepat untuk menyebut teori sastra, baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris, belum ditemukan. Akibatnya definisi mengenai hakikat fungsi dan tugas teori sastra tidak mudah dirumuskan. Bahkan istilah-istilah yang digunakan untuk menyebutkan konsep-konsep yang paling mendasar pun berbeda-beda (dalam Bahasa Inggris : Literary Scholarship , Theory of Literature , Literary Knowledge , Literary Theory , Poetics , General Literature . Dalam bahasa Belanda: Literatuurwetenschap, Theorie van het literairewerk, Literanuir Theorie, Poetique, Algemene ) .
  • KRITIK SASTRA
    • Kritik sastra juga bagian dari ilmu sastra. Istilah lain yang digunakan para pengkaji sastra ialah telaah sastra, kajian sastra, analisis sastra, dan penelitian sastra. Untuk membuat suatu kritik yang baik, diperlukan kemampuan mengapresiasi sastra, pengalaman yang banyak dalam menelaah, menganalisis, mengulas karya sastra, penguasaan, dan pengalaman yang cukup dalam kehidupan yang bersifat nonliterer, serta tentunya penguasaan tentang teori sastra.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • SEJARAH SASTRA
    • Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu. Di dalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi dunia sastra, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra. Sebagai suatu kegiatan keilmuan sastra, seorang sejarawan sastra harus mendokumentasikan karya sastra berdasarkan ciri, klasifikasi, gaya, gejala-gejala yang ada, pengaruh yang melatarbelakanginya, karakteristik isi dan tematik.
    •  
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Hubungan Teori Sastra Dengan Kritik Sastra dan Seejarah Sastra
    • Pada dasarnya teori sastra membahas secara rinci aspek-aspek yang terdapat didalam karya sastra, baik konvensi bahasa yang meliputi makna, gaya, struktur, pilihan kata, maupun konvensi sastra yang meliputi tema, tokoh, penokohan, alur, latar, dan lainnya yang membangun keutuhan sebuah karya sastra.
    • Kritik sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji, menelaah, mengulas, memberi pertimbangan, serta memberikan penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • LANJUTAN
    • Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu, periode ke periode sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa. Perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan karya sastra pada periode-periode tertentu. Secara keseluruhan dalam pengkajian karya sastra, antara teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra terjalin keterkaitan.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Klasifikasi PENDEKATAN Teori Sastra Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Klasifikasi
    • Abrams
    • Pendekatan objektif memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur, antarhubungan, dan totalitas. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik, seperti aspekhistoris, sosiologis, politis, dan unsur-unsur sosiokultural lainnya, termasuk biografi. Oleh karena itulah, pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi.
    • Pendekatan ekspresif (yang menitikberatkan aspek pengarang atau pencipta karya sastra);
    • Pendekatan mimetik (yang mengutamakan aspek semesta); dan
    • Pendekatan pragmatik (yakni pendekatan yang mengutamakan aspek pembaca)
    ARTIST PENCIPTA REALITAS UNIVERSE WORK KARYA AUDIENCE PEMBACA
  • TEORI-TEORI PENDEKATAN OBJEKTIF DALAM SASTRA
    • Struktural
      • 1.1 Struktural Formalis
      • 1.2 Struktural Genetik
      • 1.3 Struktural Dinamik
    • Semiotik Sastra
    • New Criticism
    • Deconstruksi dan Post-Strukralisme
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • PENDEKATAN STRUKTURAL
    • Pendekatan yang memandang dan memahami karya sastra dari segi struktur itu sendiri.
    • Pendekatan ini memahami karya sastra secara close reading (membaca karya sastra secara tertutup tanpa melihat pengarangnya, realitas, dan pembaca).
    • Pendekatan struktural bertujuan membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetil, dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh (Teeuw, 1984)
  • 1.1 Struktural Formalis
    • Istilah Formalisme (dari kata Latin forma yang berarti bentuk, wujud) berarti cara pendekatan dalam ilmu dan kritik sastra yang mengesampingkan data biografis, psikologis, ideologis , sosiologis dan mengarahkan perhatian pada bentuk karya sastra itu sendiri. Para Formalis meletakkan perhatiannya pada ciri khas yang membedakan sastra dari ungkapan bahasa lainnya. Istilah Strukturalisme acap kali digunakan pula untuk menyebut model pendekatan ini karena mereka memandang karya sastra sebagai suatu keseluruhan struktur yang utuh dan otonom berdasarkan paradigma struktur kebahasaannya.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Pelopor Struktural Formalis
    • Kaum Formalis Rusia tahun 1915-1930 dengan tokoh-tokohnya seperti Roman Jakobson, Rene Wellek, Sjklovsky, Eichenhaum, dan Tynjanov
    • Rene Wellek dan Roman Jakobson beremigrasi ke Amerika Serikat
    • Sumbangan penting kaum formalis bagi ilmu sastra adalah secara prinsip mereka mengarahkan perhatian kita kepada unsur-unsur kesastraan dan fungsi puitik. Sampai sekarang masih banyak dipergunakan istilah teori sastra dan analisis sastra yang berasal dari kaum Formalis.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Prinsip Dasar Struktural Formalis
    • Karya sastra merupakan sesuatu yang otonom atau berdiri sendiri
    • Karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari unsur-unsur pembangun karya sastra
    • Makna sebuah karya sastra hanya dapat diungkapkan atas jalinan atau keterpaduan antarunsur
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • 1.2 Struktural Genetik
    • Muncul sebagai wujud ketidakpuasan terhadap teori struktural yang melihat karya sastra sebagai sesuatu yang otonom
    • Pendirinya adalah Taine dan dikembangkan oleh Lucian Goldman di Paris
    • Prinsip Dasarnya: Karya sastra tidak sekedar fakta imajinatif dan pribadi, melainkan juga sebagai cerminan atau rekaman budaya, suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya diciptakan
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • 1.3 Struktural Dinamik
    • Merupakan jembatan penghubung antara teori struktural formalis dan teori semiotik
    • Hampir sama dengan struktural genetik (mengaitkan dengan asal-usul teks) tetapi penekanannya berbeda, Struktural Dinamik menekankan pada struktur, tanda, dan realitas
    • Tokoh-tokohnya : Julia Cristeva dan Roland Bartes (Strukturalisme Prancis)
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • 2. Semiotik Sastra
    • Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sistem tanda
    • Sebagai ilmu tanda, semiotik secara sistematik mempelajari tanda-tanda dan lambang ( semeion, bahasa Yunani yang berarti tanda), sistem-sistem lambang dan proses-proses perlambangan (Luxemburg, 1984)
    • Manusia selalu berada dalam proses semiosis, yaitu memahami sesuatu yang ada di sekitar sebagai sistem tanda
  • 3. New Criticism
    • Muncul tahun 1920-1960. John Crowe Ransom (USA) The New Criticism.
    • Tokoh lainnya: I. A. Richard, T. S. Eliot, Cleanth Brooks, Robert Penn Warren, Allen Tate, R. P. Blackmur, William K. Wimsatt
    • Prinsip dasarnya hampir sama dengan Formalis, namun contoh karya mereka lebih mengarah kepada puisi sehinggga jenis karya sastra yang lainnya merasa diabaikan.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Deconstruksi dan Post-Strukralisme
    • "Dekonstruksi" adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut cara membaca sebuah teks (sastra maupun filsafat) yang berdasarkan pada pola pandangan filsafat Jacques Derrida. Derrida sendiri dipengaruhi pandanganl fenomenologi (Heidegger) dan skeptisisme (Nietzche). Pandangan ini menentang klaim strukturalisme yang menganggap sebuah teks mengandung makna yang sah dalam struktur yang utuh di dalam sistem bahasa tertentu. Dekonstruksi disebut juga sebagai Poststructuralism (Pascastrukturalisme) karena membangun teorinya atas dasar konsep-konsep strukturalisme-semiotik Ferdinand de Saussure .
    • Aliran ini mula-mula dikembangkan di Perancis oleh kelompok penulis Tel Quel dengan tokoh perintis antara lain Jacques Derrida dan Julia Kristeva
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Rangkuman
    • Pada umumnya penekanan perhatian teori sastra pada studi teks dapat digolongkan ke dalam konsep strukturalisme, sekalipun konsep ini sangat beragam jangkauan, kedalaman, dan model analisisnya. Strukturalisme, bagaimanapun, merupakan bidang teori sastra yang sudah menjadi urutan utama kebudayaan intelektual ilmu sastra.
    • Pendekatan struktural dari segi tertentu membawa hasil yang sangat memuaskan. Usaha untuk memahami dan mengupas karya sastra atas dasar strukturnya memaksa peneliti sastra untuk membebaskan din dari berbagai konsep metode dan teknik yang sebenarnya berada di luar jangkauannya sebagai ahli sastra, seperti psikologi, sosiologi, sejarah, dan filsafat.
    • Sekalipun demikian, patut kita catat bahwa banyak teoretisi sastra tidak puas terhadap paradigma bahasa dalam pengkajian sastra. Teoretisi itu antara lain Lefevere (1977), Jameson (1981), Eagleton (1983), dan para pemikii (pascastrukturalisme Derrida, Lacan, Foucault, dll.)
    • Keberatan lain terhadap strukturalisme adalah sifatnya yang ahistoris; Strukturalisme menghapus sejarah manusia karena berambisi membangun universal yang menghapus pandangan individual.
    • strukturalisme juga bersifat anti humanis (Selden, 1991:70-71).
    • Keberatan-keberatan itulah yang kemudian memunculkan aliran Pascastrukturalisme yang menentang setiap bentuk penyisteman yang mengabaikan keragaman kultural dan nilai-nilai kemanusiaan. Sekalipun tidak disebutkan di atas, patut dicatat bahwa konsep-konsep aliran Pascastrukturalisme; sangat mendukung dan memperkaya Teori Sastra Feminisme.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • 2. PENDEKATAN EKSPRESIF
    • Pendekatan yang memfokuskan perhatiannya pada sastrawan sebagai pencipta atau pengarang karya sastra
    • Pengarang Karya Sastra
    • ide, gagasan, emosi,
    • pengalaman lahir batin(ekspresi)
    SOSIO-KULTURAL PEENGARANG PADA MASANYA
  • 2. PENDEKATAN EKSPRESIF (lanjutan)
    • Kelemahan : cenderung menyamakan secara langsung realitas yang ada dalam karya sastra dengan realitas yang dialami sastrawan atau pengarang
    • Perkembangan selanjutnya : PENDEKATAN SOSIOLOGI PENGARANG
  • 1. PENDEKATAN MIMETIK
    • Pendekatan yang berupaya memahami hubungan karya sastra dengan realitas/kenyataan/kenyataan di luar karya sastra (berasal dari kata mimesis (bahasa Yunani) yang berarti tiruan)
    • Realitas: sosial, budaya, politik
    • Karya Sastra
  • Pendekatan Mimetik (lanjutan)
    • Kelemahan : sering dilakukan pembandingan langsung antara realitas faktual (riil) sehingga hakikat karya sastra yang fiktif imajiner sering dilupakan
    • Perkembangan selanjutnya : PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA
  • 3. PENDEKATAN PRAGMATIK
    • Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca dan menitik beratkan pembaca sebagai penafsir karya sastra.
    • Karya sastra pembaca
    • Kelemahan: cenderung menilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu kepada pembaca
    • Perkembangan selanjutnya: RESEPSI SASTRA
  • SOSIOLOGI SASTRA
    • Konsep sosiologi sastra didasarkan pada dalil bahwa karya sastra ditulis oleh seorang pengarang, dan pengarang merupakan a salient b eing , makhluk yang mengalami sensasi-sensasi dalam kehidupan empirik masyarakatnya. Dengan demikian, sastra juga dibentuk oleh masyarakatnya, sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai dalam masyarakatnya. Dari kesadaran ini muncul pemahaman bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakatnya; dan sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya (Soemanto, 1993).
    • Konsep dasar sosiologi sastra sebenarnya sudah dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles yang mengajukan istilah 'mimesis', yang menyinggung hubungan antara sastra dan masyarakat sebagai 'cermin'.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Teori Sastra Marxis
    • T eori ini berakar pada doktrin Manifesto Komunis (1848) yang diberikan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, khusunya terhadap pernyataan bahwa perkembangan evolusi historis manusia dan institusi-institusinya ditentukan oleh perubahan mendasar dalam produksi ekonomi. Peruhanan itu mengakibatkan perom b akan dalam struktur kelas-kelas ekonomi, yang dalam setiap jaman selalu bersaing demi kedudukan sosial ekonomi dan status politik. Kehidupan agama, intelektual, dan kebudayaan setiap jaman -termasuk seni dan kesusastraan - merupakan 'ideologi-ideologi' dan 'suprastruktur-suprastruktur' yang berkaitan secara dialektikal, dan dibentuk atau merupakan akibat dari struktur dan perjuangan kelas dalam jamannya (Abrams, 1981:178).
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • George Lukacs: Sastra Sebagai Cermin
    • Sebuah novel tidak hanya mencerminkan 'realitas' tetapi lebih dari itu memberikan kepada kita " sebuah refleksi realitas yang lebih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih dinamik" yang mungkin melampaui pemahaman umum. Sebuah karya sastra tidak hanya mencerminkan fenomena idividual secara tertutup melainkan lebih merupakan sebuah 'proses yang hidup'.
    • Sastra tidak mencerminkan realitas sebagai semacam fotografi, melainkan lebih sebagai suatu bentuk khusus yang mencerminkan realitas. Dengan demikian, sastra dapat mencerminkan realitas secara jujur dan objektif dan dapat juga mencerminkan kesan realitas subjektif (Selden, 1991:27)
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Bertold Brecht: Efek Alienasi
    • Menurut Brecht, dramawan bendaknya menghindari alur yang dihuhungkan secara lancar dengan makna dan nilai-nilai universal yang pasti. Fakta-fakta ketidakadilan dan ketidakwajaran perlu dihadirkan untuk mengejutkan dan mengagetkan penonton . Penonton jangan ditidurkan dengan ilusi-ilusi palsu . Para pelaku tidak har u s meng h ilangkan personalitas dirinya untuk mendorong identifikasi penonton atas tokoh-tokoh pahlawannya. Mereka harus mampu menimbulkan efek alienasi (keterasingan). Pemain bukan berfungsi menunjukkan melainkan mengungkapkan secara spontan individualitasnya (Selden, 1991:30-32)
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Teori Neomarxisme (pemikir sastra)
    • Berdasarkan metode berpikir dialektis tersebut, Fredric Jameson mengungkapkan bahwa hakikat suatu karya sastra dapat diketahui dari penelitian tentang latar belakang historisnya. Kita tidak hanya sekedar ingin menangkap nilai-nilai yang sempit pada permukaan (seperti dilakukan kaum New Criticism), melainkan harus dapat menemukan hubungan orisinal antara Subjek dan Objek sesuai dengan kedudukannya (Culler, 1981:12-13). Jadi hasil kritik dialektikal itu bukan hanya sekedar suatu interpretasi sastra, melainkan juga sejarah model interpretasi dan kebutuhan akan suatu model interpretasi yang khusus.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Rangkuman
    • Teori-teori sosiologi sastra mempersoalkan kaitan antara karya sastra dan 'kenyataan'. Sebenarnya teori sosiologi sastra inilah yang paling tua usianya dalam sejarah kritik sastra. Dalam kenyataannya, teori yang sudah dirintis oleh filsafat Plato (Abad 4-3 SM) tentang 'mimesis' itu baru mulai dikembangkan pada abad 17-18 — yakni zaman positivisme ilmiah — oleh Hippolite Taine dan berkembang pesat pada awal abad ke-19 dengan dicanangkannya doktrin Manifesto Komunis oleh Marx dan Engels.
    • Studi-studi sosiologis terhadap sastra menghasilkan pandangan bahwa karya sastra dalam taraf tertentu merupakan ekspresi masyarakat dan bagian dari suatu masyarakat. Kenyataan inilah yang menarik perhatian para teoretisi sosiologi sastra untuk mencoba menjelaskan pola dan model hubungan resiprokal itu. Teori-teori Marxisme, yang memandang seni (sastra) sebagai 'alat perjuangan politik' terlalu menekankan aspek pragmatis sastra dan dalam banyak hal mengabaikan struktur karya sastra.
    • Pemikir-pemikir Neomarxis memanfaatkan filsafat dialektika materialisme Marx untuk mendefinisikan aspek ideologi, politik, dan hubungan ekonomi suatu masyarakat. Asumsi epistemologis mereka adalah bahwa sastra menyimpan sejarahnya yang sebenarnya dan menjadi tugas studi sastra untuk mendefinisikannya secara jelas.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Teori Baru Tentang Pengarang
    • Wayne Booth memperkenalkan istilah Implied Author (penulis yang tersirat atau tersembunyi) dalam bukunya The Rhetoric of Fiction (1963)
    • Umberto Eco (1992), dengan memperkenalkan istilah Liminal Author atau Author on the Threshold (Pengarang Ambang)
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Rangkuman
    • Pandangan-pandangan teoretis mengenai pengarang memiliki kaitan timbal-balik dengan 'semangat jaman' yang berlaku pada suatu kurun waktu tertentu. Ada fase, di mana manusia dipandang sebagai 'hamba sahaya' yang tidak pantas meniru-niru karya cipta Tuhannya. Ada tahap lain, di mana orang memandang manusia sebagai ko-kreator 'Sang Pencipta Agung" yang menggemakan keagungan-Nya Sang Pencipta melalui karya seninya sebagai ekspresi pengalaman estetiknya berhadapan dengan alam (ilahi).
    • Refleksi-refleksi lebih lanjut menunjukkan bahwa studi sastra anatomik yang teknis-prosedural dengan mengabaikan faktor manusia, memunculkan kesadaran baru untuk mendefinisikan kembali kedudukan dan hubungan antara pengarang; dan karyanya. Dalam penjelasan Eco, ternyata bahwa antara pengarang dan teks, dan antara pembaca dan teks terdapat diskrepansi yang tak mungkin seluruhnya dijelaskan karena ada dimensi-dimensi transendental ( ghostly ) yang terlihat di dalamnya.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • TEORI-TEORI RESEPSI SASTRA Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Pengantar
    • Teori Resepsi merupakan salah satu aliran dalam penelitian sastra yang terutama dikembangkan oleh mazhab Konstanz tahun 1960-an di Jerman. Teori ini menggeser fokus penelitian dari struktur teks ke arah penerimaan (Latin: recipere , menerima) atau penikmatan pembaca.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Hans Robert Jauss: Horison Harapan
    • Fokus perhatiannya, sebagaimana teori tanggapan pembaca lainnya, adalah penerimaan sebuah teks. Minat utamanya bukan pada tanggapan seorang pembaca tertentu pada suatu waktu tertentu melainkan pada perubahan-perubahan tanggapan, interpretasi, dan evaluasi pembaca umum terhadap teks yang sama atau teks-teks yang berbeda dalam kurun waktu berbeda (Abrams, 1981:155).
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Dalam buku Toward an Aesthetic of Reception (1982:20-45), Jauss mengungkapkan tujuh tesis pemikiran teoretisnya. Secara ringkas ketujuh tesis Jauss diuraikan di bawah ini.
    • Karya sastra bukanlah monumen yang mengungkap makna yang satu dan sama, seperti anggapan tradisional mengenai objektivitas sejarah sebagai deskripsi yang tertutup. Karya sastra ibarat orkestra: selalu memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menghadirkan resonansi yang baru yang membebaskan teks itu dari belenggu bahasa, dan menciptakan konteks yang dapat diterima pembaca masa kini.
    • Sistem horison harapan pembaca timbul sebagai akibat adanya momen historis karya sastra, yang meliputi suatu prapemahaman mengenai genre, bentuk, dan tema dalam karya yang sudah diakrabi, dan dari pemahaman mengenai oposisi antara bahasa puitis dan bahasa sehari-hari. Sekalipun sebuah karya sastra tampak baru sama sekali, ia sesungguhnya tidak baru secara mutlak seolah-olah hadir dari kekosongan.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
    • Jika ternyata masih ada jarak estetik antara horison harapan dengan wujud sebuah karya sastra yang baru, maka proses penerimaan dapat mengubah harapan itu baik melalui penyangkalan terhadap pengalaman estetik yang sudah dikenal, atau melalui kesadaran bahwa sudah muncul suatu pengalaman estetik yang baru.
    • Rekonstruksi mengenai horison harapan terhadap karya sastra sejak diciptakan dan disambut pada masa lampau hingga masa kini, akan menghasilkan berbagai varian resepsi sesuai dengan semangat jaman yang berbeda.
    • Teori estetika penerimaan tidak hanya sekedar memahami makna dan bentuk karya sastra menurut pemahaman historis.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
    • Apabila pemahaman dan pemaknaan sebuah karya sastra menurut resepsi historis (jadi dengan analisis diakronis) tidak dapat dilakukan karena adanya perubahan sikap estetik, maka seseorang dapat menggunakan perspektif sinkronis untuk menggambarkan persamaan, perbedaan, pertentangan, ataupun hubungan antara sistem seni sejaman dengan sistem seni dalam masa lampau.
    • Tugas sejarah sastra tidak menjadi lengkap hanya dengan menghadirkan sistem-sistem karya sastra secara sinkronis dan diakronis, melainkan harus juga dikaitkan dengan sejarah umum.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Wolfgang Iser: Pembaca Implisit
    • Iser lebih memfokuskan perhatiannya kepada hubungan individual antara teks dan pembaca ( Wirkungs Estetik , estetika pengolahan). Pembaca yang dimaksud oleh Iser bukanlah pembaca konkret individual, melainkan Implied Reader (pembaca implisit).
    • 'Pembaca implisit' merupakan suatu instansi di dalam teks yang memungkinkan terjadinya komunikasi antara teks dan pembacanya. Dengan kata lain, pembaca yang diciptakan oleh teks-teks itu sendiri, yang memungkinkan kita membaca teks itu dengan cara tertentu.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Norman Holland & Simon Lesser: Psikoanalisis
    • Menurut mereka, semua karya sastra mentransformasikan fantasi-fantasi tak sadar (menurut psikoanalisis) kepada makna-makna kesadaran yang dapat ditemukan dalam interpretasi konvensiaonal. Jadi makna psikoanalisis merupakan sumber bagi makna-makna lain. Makna psikoloanalisis haras dicari karena tingkatan makna lain hanyalah manifestasi historis atau sosial.
    • Setiap karya sastra memiliki efek-efek superego, ego, dan id yang perlu direfleksikan oleh pembaca. Keterlibatan pembaca ke dalam komponen-komponen kejiwaan itu hanya dapat terpenuhi bila karya sastra mengandung aspek-aspek yang kontradiktif, ambigu, tumpang-tindih, dan samar.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Jonathan Culler: Konvensi pembacaan
    • Keinginan Culler yang utama adalah menggeser fokus perhatian dari teks kepada pembaca . Culler menyatakan bahwa suatu teori pembacaan harus mengungkap norma dan prosedur yang menuntun pembaca kepada suatu penafsiran. Kita semua tahu bahwa setiap pembaca memiliki penafsiran yang berbeda-beda mengenai sebuah teks yang sama. Berbagai variasi penafsiran itu harus dapat dijelaskan oleh teori. Sekalipun penafsiran itu berbeda-beda tetapi mungkin saja mereka mengikuti satu konvensi penafsiran yang sama (Selden, 1991:127).
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Rangkuman
    • Tumbuhnya teori-teori resepsi sastra dipacu juga oleh alam pemikiran filsafat (Fenomenologi) yang berkembang pada masa itu. Pergeseran orientasi kritik sastra, dari pengarang kepada teks, dan dari teks kepada pembaca diilhami oleh pandangan bahwa teks-teks sastra merupakan salah satu gejala yang hanya menjadi aktual jika sudah dibaca dan ditanggapi pembacanya. Teks hanya sebuah pralogik dan logika yang sesungguhnya justru ada pada benak pembacanya.
    • Melalui ketujuh tesisnya, Jauss meletakkan dasar-dasar resepsi sastra dalam kaitannya dengan sejarah estetika penerimaan. Teori resepsi ini pun segera mendapat perhatian berbagai ahli ilmu sastra. Iser mengkhususkan dirinya pada penerimaan dan pencerapan karya sastra oleh pembaca implisit. Culler beranggapan bahwa pemahaman karya sastra sangat ditentukan oleh kompetensi sastra, yakni kemampuan pembaca mewujudkan konvensi-konvensi sastra dalam suatu jenis sastra tertentu.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • STRUKTUR PEMBANGUNAN KARYA SASTRA
    • Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Puisi
    • Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Prosa
    • Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Drama
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Puisi
    • Sebuah karya sastra mengandung unsur intrinsik serta unsur ekstrinsik. Unsur tersebut dinamakan struktur pembangun karya sastra. Unsur intrinsik ialah unsur yang secara langsung membangun cerita dari dalam karya itu sendiri, sedangkan unsur ekstrinsik ialah unsur yang turut membangun cerita dari luar karya sastra. Unsur intrinsik sebuah puisi terdiri dari tema, amanat, sikap atau nada, perasaan, tipografi, enjambemen, akulirik, rima, citraan, dan gaya bahasa. Unsur ekstrinsik yang banyak mempengaruhi puisi antara lain: unsur biografi, unsur kesejarahan, serta unsure kemasyarakatan.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Prosa
    • Unsur intrinsik prosa terdiri dari tema dan amanat, alur, tokoh, latar, sudut pandang, serta bahasa yang dipergunakan pengarang untuk mengekspresikan gagasannya. Tema prosa fiksi terutama novel dapat terdiri dari tema utama serta beberapa tema bawahan. Alur merupakan struktur penceritaan yang dapat bergerak maju (alur maju), mundur (alur mundur), atau gabungan dari kedua alur tersebut (alur campuran). Pergerakan alur dijalankan oleh tokoh cerita. Tokoh yang menjadi pusat cerita dinamakan tokoh sentral. Tokoh adalah pelaku di dalam cerita.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Lanjutan
    • Berdasarkan peran tokoh dapat dibagi menjadi tokoh utama, tokoh bawahan, dan tokoh tambahan. Tokoh tercipta berkat adanya penokohan, yaitu cara kerja pengarang untuk menampilkan tokoh cerita. Penokohan dapat dilakukan menggunakan metode (a) analitik, (b) dramatik, dan (c) kontekstual. Tokoh cerita akan menjadi hidup jika ia memiliki watak seperti layaknya manusia.
    • Watak tokoh terdiri dari sifat, sikap, serta kepribadian tokoh. Cara kerja pengarang memberi watak pada tokoh cerita dinamakan penokohan, yang dapat dilakukan melalui dimensi (a) fisik, (b) psikis, dan (c) sosial
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
    • Latar berkaitan erat dengan tokoh dan alur. Latar adalah seluruh keterangan mengenai tempat, waktu, serta suasana yang ada dalam cerita. Latar tempat terdiri dari tempat yang dikenal, tempat tidak dikenal, serta tempat yang hanya ada dalam khayalan. Latar waktu ada yang menunjukkan waktu dengan jelas, namun ada pula yang tidak dapat diketahui secara pasti.
    • kerja pengarang untuk membangun cerita bukan hanya melalui penokohan dan perwatakan, dapat pula melalui sudut pandang.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
    • Sudut pandang adalah cara pengarang untuk menetapkan siapa yang akan mengisahkan ceritanya, yang dapat dipilih dari tokoh atau dari narator. Sudut pandang melalui tokoh cerita terdiri dari (a) sudut pandang akuan, (b) sudut pandang diaan, (c) sudut pandang campuran. Dalam menuangkan cerita menggunakan medium bahasa, pengarang bebas menentukan akan menggunakan bahasa nasional, bahasa daerah, dialek, ataupun bahasa asing.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  • Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Drama
    • Karya sastra drama memiliki unsur intrinsik serta unsur ekstrinsik yang diperlukan untuk membangun ceritanya. Unsur intrinsik drama terdiri dari tema, plot, tokoh, dialog,karakter, serta latar. Drama yang merupakan ciptaan kreatif pengarang harus memiliki tema yang kuat, agar tercipta sebuah cerita yang tak lekang oleh waktu. Tanpa adanya konflik, cerita drama akan terasa datar.
    • Di dalam drama fungsi tokoh sangat penting sebagai tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis. Cakapan merupakan ciri utama drama yang berupa dialog namun dapat pula berbentuk monolog. Selain itu, ada pula karakter dan latar yang saling berhubungan erat. Latar dalam drama sangat mempengaruhi karakter tokoh.
    Created by Dr. I Made Suarta,SH,M.Hum ---> I Made Juliadi Supadi,S.Pd
  •      JENIS-JENIS KARYA SASTRA
    • Karya satra pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua diantaranya:
    • Sastra Imajinatif dan
    • Sastra Nn-imajinatif
  • Sastra Imajinatif
    • Sastra yang berusaha menerangkan, menjelaskan memahami, membuka pandangan baru dan memberikan maknarealitas keihupan.
    • Jenis-jenis karya sastra ini diataranya: puisi prosa naratif dan drama.
  • Sastra Non-imajinatif
    • Yaitu karya sastra yang berupaya menonjolkan unsur-unsur faktual dan bahasa yang digunakan cenderung denotatif.
    • Dalam praktiknya jenis sastra ini terdiri atas karya-karya yang berbentuk esai kritik biografi autobiografi memoary dan catatan harian.
  • OM SHANTI SHANTI SHANTI OM