• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Menangis Karena Takut dan Rindu Kepada allah
 

Menangis Karena Takut dan Rindu Kepada allah

on

  • 4,851 views

 

Statistics

Views

Total Views
4,851
Views on SlideShare
4,851
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
21
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Menangis Karena Takut dan Rindu Kepada allah Menangis Karena Takut dan Rindu Kepada allah Document Transcript

    • MENANGIS KARENA TAKUT DAN RINDU KEPADA ALLAH Oleh : Idrus Abidin, Lc., MA. Sumber : idrusabidin.blogspot.comSINOPSIS. Bagi kaum lelaki, menangis merupakan aib yang tidak dibenarkan. Kapan pundan di mana pun. Karena, walau bagaimana, kelelakian adalah merupakan simbolketangguhan dan keperkasaan. Merupakan suatu tindakan cengeng jika tangisanmenghiasi mata sang lelaki. Tindakan yang biasanya lumrah bagi wanita, sebagaiungkapan perasaannya, baik karena kesal atau karena rindu terhadap sang kekasih(suami) atau pun lainnya. Di hadapan Allah swt, tidak ada yang perkasa. Tidak ada yanggagah berani dan tidak ada pula yang hebat. Dia-lah yang memiliki segalanya. Sehinggatangisan di hadapan-Nya, baik karena takut maupun rindu, merupakan simbol kehambaanyang sudah seharusnya ditunjukkan oleh siapa pun. Sikap inilah yang ditunjukkan olehRasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. sebagai teladan sepanjang zaman.Artinya, “Dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Suatu ketika,Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminta Aku agar membacakan al-Qurankepadanya. (Dengan perasaan malu), Ibnu Masud mengungkapkan, "Bagaimana(mungkin) Aku membacakan al-Quran kepadamu wahai Rasulullah !? padahal al-Quranini diturunkan kepadamu ". "Saya ingin mendengarnya dari orang lain" ungkap beliau.Maka, Ibnu Masud pun memulai bacaannya dari surah an-Nisaa. Ketika sampai padaayat 41 yang berbunyi, "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kamimendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu(Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu)..". Rasulullah pun dengan lembutmengatakan, "Cukup". Ketika saya (Ibnu Masud) menoleh kepadanya, ternyata air mataRasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang bercucuran. (HR.Bukhari dan Muslim). Kalangan sahabat sebagai siswa dalam madrasah Rasulullah, juga mewarisisikap demikian. Mereka adalah pribadi-pribadi yang cengeng di hadapan Allah swt dimalam hari, tetapi perkasa bak harimau di siang hari di hadapan musuh dan di medangpertempuran.
    • Artinya, “Dari Anas radiyallahu ‘anhu, ia melaporkan, “Suatu ketika RasulullahShallallahu ‘Alaihi Wasallam naik mimbar. Ia kemudian berkhutbah seperti biasanya.Tetapi, khutbah ketika itu tidak sama dengan khutbah Rasulullah sebelumnya. Nuansanyaberbeda. Beliau mengatakan, "Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui maka pastikalian sedikit tertawa dan banyak menangis". Sahabat-sahabat beliau pun menutupiwajah mereka sambil terdengar suara seperti kerumunan lebah (karena suara tangisanmereka). (HR. Bukhari dan Muslim). Ummat sebelum Islam (ahli kitab), yang beriman kepada Allah swt., jugademikian keadannya. Keimananlah yang membuat mata mereka basah oleh air matakerinduan terhadap rahmat-Nya. Sebagaimana mereka menitikkan air mata karena takutterhadap siksaan-Nya. Kondisi mereka dideskripsikan oleh Allah swt dalam firman-Nya, "Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila AlQuran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambilbersujud, Dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami, Sesungguhnya janji Tuhan kamipasti dipenuh. Mereka tersungkur dengan muka mereka sambil menangis sehingga Allahpun senantiasa menambah ke-khusyu-an (dalam hati mereka)". (QS. al-Israa : 107-109).KEUTAMAAN MENANGIS KARENA ALLAH SWT. Karena tangisan merupakan simbol keimanan bagi orang mukmin, makakeutamaan yang di milikinya sangat mengesankan. Sebut saja misalnya sebuah riwayatyang dirilis oleh Abu Hurairah r.a. Ia mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘AlaihiWasallam pernah menginformasikan, "Tidaklah akan masuk nereka seseorang yang menangis karena takut kepadaAllah, sehingga air susu kembali ke asalnya (tempat keluarnya). Debu peperangan dijalan Allah swt tidak akan menyatu selamanya dengan asap api neraka". (HR.Tirmidzi).
    • Bahkan orang yang menangis ketika mengingat Allah dalam keadaan sendiriandengan hati yang terpaut dengan Allah swt. termasuk dalam kategori orang-orang yangmendapatkan naungan di akhirat nanti. Hari di mana naungan tidak akan diperolehkecuali mereka yang memiliki kedekatan dengan Allah swt. Abu Hurairah melaporkan,Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, "Ada tujuh golongan yang diberikan tempat bernaung pada hari (kiamat). Haridi mana manusia tidak mempunyai tempat bernaung kecuali naungan-Nya : Pemimpinyang adil, pemuda yang tumbuh dalam nuansa ibadah kepada Allah swt., orang yangtertambat hatinya dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah. Merekaberdua berkumpul dan berpisah karena cinta karena Allah. Seseorang yang diajak(berbuat mesum) oleh seorang wanita bangShallallahu ‘Alaihi Wasallam an danberparas cantik, lalu ia jawab, "Saya takut kepada Allah", seseseorang yang bersedekahdengancara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak menegetahui apa yangdilakukan tangan kananya (ketika bersedakah), dan orang yang mengingat Allah kalasendirian (dan dengan penuh ke-khusyuan) , lalu matanya basah (karena takut dan rindukepada Allah swt.)". (HR.Muttafaq Alaihi). Demikianlah tangisan yang di landasi dengan iman yang menghasilkan rasarindu (raja) untuk bertemu dengan Sang Kekasih. Rasa yang juga dilapisi pula oleh rasatakut (khauf) kepada-Nya karena adanya neraka yang merupakan simbol kemarahan-Nya.Kedua faktor inilah yang berada dibalik tangisan orang-orang mukmin. Walaupun sisikerinduan yang paling mendominasi dirinya saat-saat air mata membasahi wajahnya.RAJA (HARAP) DAN KHAUF (TAKUT) YANG MELAHIRKAN TANGISAN. Raja adalah ketenangan hati dan kedamaian jiwa karena mengharapkan sesuatuyang dicintai. Jika faktor-faktor pendukung raja ini sempurna maka ia akanmenghasilkan tangisan yang mewujudkan perasaan tenang dan perasaan tentram. Namunjika perangkat-perangkatnya tidak padu dan tidak apik, ia akan menghasilkan pribadiyang terpedaya. Pribadi yang berharap dengan harapan yang berlebihan kepada Allahswt. sehingga lupa bahwa di samping rahmat Allah yang ia harapkan, juga di sana adakemurkaan-Nya yang harus dipertimbangkan dan dihindari. Untuk peribadi demikian,
    • tangisan tidak bisa hadir pada pelupuk matanya. Perasaannya yang diselimuti olehharapan akan rahmat Allah membuatnya terlena. Sikap yang merefleksikanketidakkeritisan terhadap kualitas ibadah yang ia lakukan terhadap Zat yang diharapkanrahmat-Nya (Allah Swt.). Jika sikap kritis ini tidak hadir pada diri seseorang ketika melakukan amalan,maka kualitas ibadahnya tidak lagi maksimal. Sikap kritis ini sering dikenal denganistilah muraqabah. Yaitu sebuah aktifitas yang mementingkan kritik ketika dan setelahmelakukan amalan. Apakah sudah layak dan pantas untuk dimajukan, dan bagiamanaseharusnya pada pase selanjutnya?. Sikap inilah yang disebut oleh Rasulullah sebagaisikap cerdas seorang mukmin dalam beribadah. Dalam sebuah sabdanya, RasulullahShallallahu ‘Alaihi Wasallam . menegaskan, "Orang yang cerdas adalah siapa yang selalu mengkeritisi dirinya dan beramal(dengan malan yang baik) sebagai persiapan untuk (hidup) setelah mati nanti (akhirat)."(HR. Tirmidzi) Jika ditelusuri lebih mendalam, muraqabah ini merupakan implementasi darisikap khauf (rasa takut) seseorang jika amalannya belum pantas dan layak untukdipersembahkan. Baik ketidakpantasan itu dari segi kualitas maupun kuantitas. Inilahyang sering kita dengar dari para ahli suluk bahwa dalam rangka melakukan spiritualjourney menuju Allah, hendaknya seseorang terbang dengan dua sayap, sayap al-khaufdan sayap al-raja. Hanya saja, pada saat tertentu, seperti sakit misalnya, sisi al-rajaseharusnya lebih ditegaskan, karena nuansanya sedang berada pada level al-khauf.Demikian pula ketika sedang segar bugar, dengan nuansa al-raja yang lebihmendominasi, sisi al-khauf perlu dihadirkan dan dipertegas keberadaanya. Perangkat-perangkat al-raja yang di maksud di sini, yang dengannya seseorangtidak terpedaya adalah : 1. Mencintai apa yang diharapkan (mahabbah). 2. Merasa khawatir jika kehilangan apa yang diharapkan (khauf). 3. Selalu berusaha untuk mendapatkannya (.raja’)Setiap orang yang berharap pasti merasa takut dan cemas jika tidak merasa yakin bisamendapatkan apa yang diharapkannya, dan bila orang yang sedang berjalan merasakhawatir ketinggalan pasti ia berusaha untuk berlari. Raja adalan penantian terhadap sesuatu yang disenangi, setelah memenuhisemua persyaratan yang butuhkan berdasarkan pada kemampuan seseorang. Raja di sinidikiaskan, misalnya, dengan penanaman tumbuhan. Semua orang yang akan menanam
    • pasti akan mencari lahan yang subur sebagai tempat persemaian. Di sanalah benih dengankualitas tinggi itu disemai. Selanjutnya ia melakukan perawatan yang baik dan terusmenerus sesuai dengan kebutuhan dan tuntunan. Menyianginya dan menjaganya dariberbagai serangan hama dan berbagai penyakit. Setelah itu, ia menunggu rahmat Allahswt. hingga masa panen tiba. Inilah gambaran ideal dari sebuah raja. Dan rajademikianlah yang dikehendaki setelah semuanya dilakukan dan diuapayakan. Untuk lebih kongkritnya, dunia adalah sebuah ladang, sedang hasilnya akandipanen pada hari akhirat kelak. Sementara hati itu layaknya bumi. Iman laksana benih,ketaatan ibarat pengolahan tanah dan usaha untuk menyianginya serta upaya untukmengalirkan air kepadanya. Sedang hati yang terpesona oleh dunia dan terbuai olehnyaadalah seperti tanah gersang yang tidak bisa menumbuhkan benih. Sementara pada harikiamat adalah waktu panen. Dan seseorang tidak akan memanen kecuali apa yang pernahdisemainya. Benih tidak akan tumbuh kecuali benih iman. Iman sangat jarang memberimanfaat bila hatinya busuk dan akhlaknya buruk. Demikianlah gambaran yang dilukiskanoleh Ahmad Farid dalam bukunya, 16 Langkah Menuju Puncak Kedamaian Jiwa.KHAUF (RASA TAKUT) SEBAGAI PENYEIMBANG. Jika raja merupakan piranti kasih sayang yang dibukakan secara luas olehAllah bagi hamba-Nya, maka khauf merupakan cambuk yang dapat memicu merekauntuk mendekat kepada-Nya. Memang benar, ujung dari raja dan khauf adalahkedekakatan dengan Allah. Karena memang untuk itulah jin dan manusia diadakan dipentas kehidupan ini. Khauf merupakan kondisi seseorang yang merasakan sakit danterbakarnya hati akibat dari rasa takut akan terjadinya sesuatu yang tidak menyenagkan dikemudian hari. Khauf-lah yang berperan dan mengerem nafsu manusia dari keserakahan,angkara murka dan dosa. Dia pula yang mengikat manusia untuk menunjukkan ketaatankepada Allah swt. Khauf sesungguhnya merupakan hasil dari pengenalan terhadap Allah swt(marifatullah). Pengenalan yang dihasilkan berdasarkan pada penelusuran terhadapnama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah swt. Marifatullah demikian akanmerefleksiakan rasa takut sekaligus mewujudkan koreksi diri seorang muslim akan hak-hak Yang Maha Agung, yang selama ini diabaikan atau belum termaksimalkan. Dengankata lain, dengan mengenal Allah secara baik maka secara otomatis kekerdilan manusiaakan tampak. Baik kekerdilan itu sebagai mahluk lemah maupun kekerdilan amaliah dankepicikan tingkat kepatuhan terhadap Sang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Dengandemikian, orang yang paling takut kepada Allah swt adalah orang yang paling mengenaldirinya setelah mengenal Tuhannya sendiri. Maka tidaklah mengherankan jika Rasulullahsebagai penghulu para nabi menegaskan, sebagaimana dirilis oleh Imam Bukhari dalamkitab Shahih-nya, "Demi Allah, Sungguh aku adalah orang yang paling tahu tentangAllah dan paling takut kepada-Nya". (HR Bukhari).
    • Jika kita mengetahui bahwa para ulama merupakan pewaris nabi, maka tentunyapula kita menyadari bahwa ulama pulalah yang memiliki tingkat pengenalan yang baiktentang Allah swt. Dengan pengenalan demikian mereka kemudian menjadi mahluk yangpaling takut kepada-Nya. Asumsi ini ditegaskan oleh firman Allah yang berbunyi, " Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya,hanyalah ulama[1258]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun".(QS Fathir : 28). Jika demikian, orang yang takut sesungguhnya bukanlah mereka yangmengusap air matanya dan tidak pula yang sesegukan akibat tangisan yang menghiasiwajahnya. Tetapi takut yang sebenarnya adalah mereka yang meninggalkan hal-hal yangdikhawatirkan dapat menjerumuskannya ke dalam kubangan siksaan. Abu al-Qasim al-Hakim berpesan, "Siapa yang takut dengan sesuatu, dia pastiakan menghindari darinya. Dan siapa yang takut kepada Allah, dia akan berlarimenghindari siksa-Nya dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya". As-Syibli berkata,"Setiap kali aku takut kepada kepada Allah, pasti Aku melihat pintu hikmah danpelajaran yang berharga". Yahya bin Muadz mengatakan, "Setiap orang mukmin yangmengerjakan kemaksiatn, pasti ia akam mensikapinya dengan dua cara : Takut terhadapsiksaan dan berharap adanya ampunan". Khauf akan membakar syahwat dan kenginan-keinginan terhadap perkara yangharam. Sehingga kemaksiatan yang ia cintai berubah menjadi sesuatu yang paling iabenci. Sebagaimana madu dibenci oleh orang yang sangat menyenaginya manakala iamengetahui bahwa terdapat racun padanya. Syahwat akan terbakar oleh rasa khauf(takut). Bagian-bagian tubuhnya mempnyai tatakrama dan adab yang dipatuhi. Hatinyamenjadi lahan subur bagi tumbuhnya ke-khusyuan, rasa hina dan rendah diri di hadapanAllah swt. Dia akan ditinggalkan oleh kesombongan, dendam, iri dan dengki. Bahkanperhatiannya semakin tajam, karena pengaruh rasa khauf-nya dan memeperhatikanterhadap akibat dan sanksi yang ia peroleh jika melanggar aturan. Kini perasaan selaluterawasi yang dikenal dengan sebutan muraqabah menjadi aktifitas baru yang dibarengidengan usaha sungguh-sungguh yang disebut mujahadah untuk membersihkan jiwa danlahiriahnya dari dominasi syahwat dan prilaku setan. Demikan besar urgensi khauf, sehingga sikap ini menghasilkan petunjuk,rahmat, ilmu dan keridhaan Allah swt. Allah berfirman, "Dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yangtakut kepada Tuhannya". (QS. al-Araf : 154).
    • Firman-Nya, "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun". (QS.Fathir : 28). Juga firman-Nya, "Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. yangdemikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya". (QS.al-Bayyinah : 8). Allah swt selalu mewanti-wanti agar menajadikan khauf sebagai komponenmendasar dari keimanan yang hanya pantas ditunjukkan kepada-Nya semata. Terhadapsetan yang biasanya dijadikan simbol yang ditakuti, Allah menegsakan bahwa, sikaptakut itu seharusnya hanya ditujukan kepada-Nya semata. Karena Dia-lah sesungguhnyayang pantas ditakuti. Dengan rasa takut kepada-Nya, setan yang biasanya menggetarkanjiwa menjadi tidak berarti apa-apa. Setan hanya pantas dikhawatirkan jika seandainyamengelabui manusia dari jalur menuju Allah swt.(baca : Kebenaran). Karenanya, Allahmenegaskan, "Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti(kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), Karena itu janganlahkamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaku, jika kamu benar-benar orang yangberiman." (QS. Ali Imran : 175). Selain faktor khauf dan raja yang menghasilkan tangisan, juga terdapatbeberapa faktor yang merupakan wujud lain dari kedua faktor di atas. Di antaranya,kesedihan terhadap peristiwa lampau yang menyedihkan bersama teman seperjuangandalam meniti jalan Allah swt. Sikap demikian ditunjukkan oleh Abdul Rahman bin Auf.Sebagaimana riwayat beliau berikut :Artinya, ”Dari Abdul Rahman bin ’Auf, bahwasanya, suatu ketika, saat ia disuguhimakanan, padahal ia sedang puasa. (Sedangkan orang yang berpuasa biasanya sangatmengharapkan makanan. Tetapi beliau teringat dengan saat-saat yang dilewatiyabersama para sahabat utama yang telah syahid lebih dulu. Dengan menganggap remeh
    • dirinya dibanding mereka, beliau mengatakan,) "Mushab bin Umair telah terbunuh,padahal ia lebih baik dariku". Ketika ia meninggal, kain kapan saja susah didapatkanuntuk mengapaninya. Hanya sebuah kain burdah yang digunakan untuk itu. Jika kain ituditarik untuk menutupi kepalanya, maka kakinya akan tersingkap. Tapi ketika kakinyaditutup dengan kain tersebut, maka kelihatanlah kepalanya. Lalu dunia ini (dengansegala kenikmatannya) dibukakan kuncinya, atau dengan redaksi lain, ia mengatakan,”dunia ini telah diserahkan kepada kami (untuk dikuasai secara politis). Namun Sayakhawatir kalau semua kenikmatan ini adalah kebaikan kami yang disegarahkanbalasannya di dunia ini”. Lalu beliau menangis sejadi-jadinya hingga makanan tidaklagi disentuh olehnya”. (HR. Bukhari) Mushab bin Umair adalah seorang pemuda tampan yang hidup mewah bersamakedua orang tuanya di Mekah pada masa jahiliah. Pakaiannya saja sangat berkelas dandipenuhi dengan aroma wewangian. Ia banyak diidolakan di kota Mekah oleh banyakgadis. Tetapi setelah ia masuk Islam, kehidupannya berubah drastis dengan berusahamenjauhi kemewahan dan memilih hidup sederhana. Bahkan pakaiannya ada yangcompang camping. Ia ikut hijrah ke kota Madinah dan hidup di sana sebagai muhajirin.Ketika perang Uhud berkobar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyerahkanbendera perang kepadanya. Di sanalah ia menemukan predikat sebagai syuhada Uhud. Abdul Rahman bin Auf mengingat peristiwa itu kemudian mengatakan,"Mereka (sahabat utama yang telah syahid) telah berlalu dan selamat dari godaan duniaberupa harta rampasan perang yang begitu melimpah bagi generasi belakangan".Kemudian ia melanjutkan, "Kami khawatir jika kebaikan kami disegerahkan (balasannyadi dunia berupa kenikmatan demikian)". Karena memang orang kafir disegerahkanbalasan kebikannya di dunia, sehingga di akhirat kelak mereka hanya mendulang siksayang tiada bertepian. Sedang orang mukmin bisa jadi mendapatkan balasan kebaikannyadi dunia maupun di akhirat. Tetapi balasan akhirat itulah sesungguhnya yang lebihpenting. Beliau khawatir jika kebaikannya disegerahkan balasannya di dunia ini, sehinggaia menangis penuh kekhawatiran dan harapan. Ia pun meningalkan makanan. Kasus lain yang mirip dengan kajadian tersebut di atas adalah riwayat yangdisampaikan oleh Anas radiyallahu anhu. -- Anas melaporkan, ”Abu Bakar berkata kepada Umar radiyallahu anhuma,setelah wafatnya Rasulullah saw, ”Ayo kita sama-sama pergi menemui Ummu Aimanrdiyallahu anhuma, sebagaimana Rasulullah saw sering mengunjunginya. Tatkala kami
    • tiba dan bertemu dengannya, Ummu Aiman menangis (penuh kesedihan). Abu Bakar danUmar berkata kepadanya, ”Kenapa Anda menangis ?” Bukankah Anda tau bahwakeberadaan Rasulullah saw di sisi Allah itu lebih baik. Ummu Aiman menjawab, ”Sayatidak menangis, saya juga tidak tahu bahwa keberadaan Rasulullah saw di sisi Allah itulebih baik. Saya hanya menangis karena wahyu telah terputus dari langit. Maka,mendengar ungkapan Ummu Aiman tersebut, Abu Bakar dan Umar pun tidak tahanmenahan cucuran air matanya. Mereka berdua pun ikut menangis bersama UmmuAiman”. (HR Muslim) Demikianlah potret tangisan sahabat yang lahir dari rasa khauf dan raja-nyakepada Allah swt. Semoga kita diberikan kemampuan menangisi dosa-dosa kita kepadaAllah. Amin.Wallahu alam.