Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Polemik Syi'ah dan Sunni

1,262 views

Published on

Published in: Spiritual
  • Be the first to comment

Polemik Syi'ah dan Sunni

  1. 1. Polemik Sunni dengan Syi’ah POLEMIKPick the] ANTARA SUNNI DENGAN SYI’AH [date Alih Bahasa : Idrus Abidin. Sumber : idrusabidin.blogspot.com Adapun tentang riwayat yang didalamnya ada tambahan bahwa Umar mengatakan kepada Ali, "Selamat bagi Anda wahai Ali bin Abi Thalib, Anda menjadi tuan semua orang mukmin dan mukminah", penggalan hadits ini tidak shahih karena Ali bin Zaid bin Jadan meriwayatkannya sendirian. Sedang dia, menurut ahli hadits seorang yang lemah (dhaif ).1 Setelah kita tahu hal itu, ketahuilah bahwa Abu Bakar dan Umarlah yang benar. Orang-orang Rafidhah tidak punya hujjah dalam hadits tersebut. Al- hamdulillah….. KLAIM SYI’AH TENTANG KEKHALIFAAN ALI PASCA WAFATNYA RASULULLAH DAN JAWABAN AHLU SUNNAH TEHADAPNYA At-Tijani (Syi’ah) mengklaim, "Adapun klaim bahwa ijma menetapkan pemilihan Abu Bakar pada hari Tsaqifah kemudian disusul dengan membaitnya di mesjid, klaim ini sama sekali tanpa dalil. Bagaimana mungkin ijma itu bisa terjadi, padahal beberapa orang dari kalangan sahabat tidak ikut membaiat, seperti Ali, Abbas dan semua bani Hasyim. Disamping itu orang-orang seperti Usamah bin Zaid, Zubair, Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad bin Aswad, Ammar bin Yasir, Hudzaifah bin Al-Yamani, Khuzaimah bin Tsabit, Abu Buraidah Al-Aslami, Bara bin Azib, Utbah bin Kaab, Sahl bin Hanif, Saad bin Ubadah, Qais bin Saad, Abu Ayyub Al-Anshari, Jabir bin Abdullah, Khalid bin Said dan banyak lagi selain mereka, semuanya tidak berbaiat. Lalu mana ijma yang dimaksud itu, wahi hamba Allah….?! Padahal Ali saja yang tidak berbaiat sudah cukup membuat ijma tersebut tidak sah. Kareana dialah calon satu-satunya yang diorbitkan Rasulullah Saw menjadi khalifah. Itu kalau kita tidak mengakui adanya nash langsung yang mencalonkan beliau.2 Setelah itu At-Tijani menisbatkan penukilan orang-orang yang tidak berbaiat tersebut kepada kitab seperti, At-Thabari, Tarikh Ibnu Atsir, Tarikh Khulafa, Tarikh Khamis, Al-Istiab dan semua literatur yang membahas pembaitan Abu Bakar. Ia tidak menulis jilid buku dan halaman dari kitab-kitab tersebut yang ia nukil. 1 Lihat Taqrib At-Tahzib jilid 1 No. 4750 Hal. 694. Tahzib Al-Kamal Fii Asmaa Ar-Rijaal jilid 21 No. 4070 hal 494. al-Jurjani berkomentari tentang dia dalam kitabnya Asy-Syarh Fii AhwAli Ar-Rijal hal. 194 bahwa Ali bin Zaid lemah hadisnya, kurang fokus dan hadisnya tidak bisa dijadikan hujjah. Lihat pula Silsilah As-Shahihah jilid 4 hal. 344. 2 Tsumma Ihtadaitu hal. 136. 1
  2. 2. Polemik Sunni dengan Syi’ah Jawaban saya (Ahlussunnah) :Pick the] [date 1) Pertama: Demi Allah yang menciptakan langit dan bumi, seandainya kebohongan bisa berbicara, pasti ia berlepas diri dari pembohong ini. Semoga Allah memberikan keburukan kepadanya dan membalas perbuatannya yang setimpal. Jika kita merujuk kembali kepada kitab-kitab tersebut, kita tidak menemukan klaim bahwa mereka tidak membaiat Abu Bakar as-Shiddiq. Kitab pertama yang dimaksud adalah Tarikh Thabari jilid 2 dengan judul "Peristiwa Tsaqifah". At-Thabari menulis beberapa riwayat, diantaranya ada yang shahih dan ada pula yang lemah (dhaif). Ia menulis hadits Ibnu Abbas yang dikeluarkan oleh imam Bukhari. Hadits ini sangat panjang, diantara sebagian isinya mengatakan bahwa Ibnu Khattab berkhutbah diatas mimbar untuk menjawab orang-orang yang mengatakan, "Jika Amirul Mukminin wafat maka saya membaiat fulan." Pada hadits tersebut, At-Thabari menulis kisah Tsaqifah. Umar berkata, "Diantara informasi yang kami dapatkan ketika Rasulullah Saw wafat bahwa Ali dan Zubair bersama orang-orang yang sependapat dengannya tidak berbaiat bersama kami. Mereka berada di rumah Fatimah. Orang-orang Anshar ikut tidak berbaiat. Orang-orang Muhajirin berkumpul bersama Abu Bakar. Saya mengatakan kepada Abu Bakar, "Mari kita bergabung bersama teman-teman kita dari kalangan Anshar. Kamipun berangkat memimpin mereka, lalu kami bertemu dengan dua orang shaleh yang pernah ikut dalam perang Badar. Mereka berdua berkata, "Hendak kemana kalian, wahai orang-orang Muhajirin?" Kami jawab, "Kami mau bergabung dengan sahabat-sahabat kami dari kalangan orang-orang Anshar. Mereka berkata lagi, "Kembalilah kalian dan selesaikanlah permasalahan kalian." Kami menjawab, "Demi Allah, kami akan mendatangi mereka." Umar berkata, "Lalu kami mendatangi mereka dan ternyata mereka sedang berkumpul di Tsaqifah bin Saidah." Umar melanjutkan, "Ternyata diantara mereka ada orang yang berselimut." Saya bertanya, "Siapa ini?" Mereka menjawab, "Saad bin Ubadah." Saya berkata, "Kenapa dia?" Mereka menjawab, "Sakit demam." Tiba-tiba seseorang diantara mereka berdiri dan memuji Allah swt lalu mengatakan, "Amma badu, kami adalah orang-orang Anshar dan pejuang-pejuang Islam, sedang kalian wahai orang-orang Quraisy adalah kerabat Rasulullah Saw, telah bergabung bersama kami beberapa kelompok dari kaum kalian." Umar berkata, "Setelah saya melihat mereka mencoba mencela asal-usul kami dan merebut kekhalifaan, saya lalu menyiapkan perkataan yang akan saya katakan di depan Abu Bakar dan saya merasa lebih tahu darinya dalam batas-batas tertentu. Abu Bakar lebih tenang dan lebih bijak dibanding saya. Ketika saya hendak berbicara, ia mengatakan, "Tahan", maka saya tidak enak kalau melanggarnya." Ia lalu berdiri memuji Allah Swt dan membesarkan-Nya. Dia tidak meninggalkan dalam pembicaraannya apapun yang pernah saya siapkan seandainya saya yang berbicara. Bahkan ia lebih bagus dariku." Ia berkata, "Amma badu, wahai 1
  3. 3. Polemik Sunni dengan Syi’ah kaum Anshar! kalian tidak mengatakan satu keutamaanpun kecuali kalianPick the] berhak menyandangnya. Orang-orang Arab tidak mengenal keutamaan itu [date selain dari orang-orang Quraisy., merekalah orang paling baik dari segi posisi maupun nasab. Sekarang saya ridha jika kalian memilih salah seorang dari kedua orang ini. Baiatlah siapapun yang kalian kehendaki." Abu Bakarpun mengangkat tanganku dan tangan Abu Ubaidah bin Jarrah. Umar berkata, "Demi Allah, saya tidak pernah membenci kata-katanya kecuali apa yang baru saja ia katakan. Jika saya diminta maju kedepan, lalu leherku ditebas -selama itu tidak membuatku berbuat dosa- itu lebih aku sukai daripada menjadi pemimpin sebuah kelompok yang mana Abu Bakar salah satu diantaranya." Setelah Abu Bakar selesai dari pembicaraannya, tiba-tiba seseorang dari kalangan Anshar berdiri dan berkata, "Ada pemimpin dari kami dan ada pula dari kalian, wahai orang Quraisy. Kemudian terjadi kegaduhan disertai dengan munculnya teriakan-teriakan. Setelah kegaduhan mulai meredah, saya mengatakan kepada Abu Bakar, "Angkat tanganmu, wahai Abu Bakar!." Ia lalu mengangkatnya. Saya segera membaiatnya. Setelah itu, orang-orang Anshar ikut membaiatnya….3. At-Thabari kemudian mengangkat sebuah atsar dari Walid bin Jami Az- Zuhri, ia berkata, "Amr bin Harits berkata kepada Saad bin Zaid, "Apakah Anda menyaksikan wafatnya Rasulullah saw?" Saad menjawab, "Betul." Amr bertanya lagi, "Kapan Abu Bakar dibaiat? Ia menjawab, "Ketika Rasulullah wafat, mereka tidak suka kalau ada hari yang terlewati sedang mereka tidak berada di bawah naungan jamaah. Amr melanjutkan pertanyaannya, "Apa ada seseorang yang tidak setuju?." Ia jawab, "Tidak, orang-orang Muhajirin berbondong-bondong membaiatnya tanpa ada yang mengomandoinya 4. Kemudian At-Tabari menulis riwayat Habib bin Abi Tsabit, ia berkata, "Ali sedang berada dirumahnya, ketika didatangi dan di informasikan tentang pembaitan Abu Bakar, maka ia pun segera keluar dengan baju tanpa sarung karena tergesa-gesa. Ia khawatir terlambat berbaiat. Kemudian ia duduk bersama Abu Bakar dan mengutus seseorang untuk mengambil pakainnya. Kemudian ia datang dengan baju tersebut lalu Ali memakainya dan duduk bersama Abu Bakar.5" At-Thabari kemudian menulis hadits yang dikeluarkan oleh imam Bukhari6 yang saya terangkan pada pembahasan warisan Fatimah dari pembaitan Ali terhadap Abu Bakar setelah Fatimah wafat.7 Pada bagian akhir, 3 Shahih Bukhari jilid 6 kitab : Al-Muharibin, no. 6442. Lihat At-Tabari jilid 2 hal. 234-235. 4 At-TaBari jilid 2 hal. 236 Thn. 11 H. 5 Ibid. 6 Lihat halaman …….. 7 Tetapi At-TaBari menambahkan ( …..seseorang mengatakan : bukankah Ali membaiatnya setealah lewat 6 bulan ? ia menjawab : tidak, dan tidak seorangpun dari bani hasyim hingga Ali membaiatnya.) Al-Baihaqi mendhaifkan hadis ini karena az-zuhri tidak emnjelaskan sanadnya dan riwayat yang bersambumg dari abu said lebih sah. Adapun yang lain, mereka mengggabung hadis tersebut bahwa Ali membaiat Abu Bakar yang kedua kAlinya sebagai penegasan dari baiat pertama karena peristiwa 1
  4. 4. Polemik Sunni dengan Syi’ah At-Thabari menulis riwayat Anas bin Malik 8 tentang pembaiatan Abu BakarPick the] secara umum setelah pembaiatan Tsaqifah. Setelah itu, At-Thabari tidak lagi [date menulis sesuatu apapun. Adapun kitab Tarikh Ibnu Atsir,9 tidak ditemukan sedikitpun apa yang dikatakan At-Tijani tentang ketidak-ikutan sahabat-sahabat tersebut dalam membaiat Abu Bakar. Pada bab "Peristiwa Tsaqifah dan kekhalifaan Abu Bakar r.a." beliau menulis kisah Tsaqifah dan riwayat tentang pembaiatan Ali bin Abi Thalib terhadap Abu Bakar pada awal pembaiatan, saat Ali mendengarkan hal itu. Ibnu Atsir kemudian mengatakan, "Yang benar adalah bahwa Abu Bakar tidak dibaiat oleh Ali kecuali setelah berlalu enam bulan. Kemudian ia menulis hadis Ibnu Abbas tentang kekhalifaan Umar bin Khattab dan naiknya keatas mimbar serta masalah pembaiatan yang telah kita singgung sebelumnya. Kemudian ia mengangkat riwayat Abu Umrah al-Anshari tentang berkumpulmya orang-orang di Tsaqifah. Singkatnya, sampai orang-orang berbaiat kepada Abu Bakar. Ia mempertegas pembaiatan Ali dan bani Hasyim terhadap Abu Bakar setelah wafatnya Fatimah. Sebelumnya saya sudah jelaskan tentang lemahnya riwayat ini dan pertentangannya dengan riwayat yang shahih. Inilah yang ditulis oleh Ibnu Atsir dalam kitabnya, dan tidak ditemukan sama sekali apa yang dikalaim oleh At-Tijani !! Adapun kitab Tarikh Khulafaa yang dinisbatkan kepada Ibnu Qutaibah, sebaiknya kita tidak usah melacaknya. Karena keraguan kita tentang penulis yang sebenarnya, ini yang pertama, sedang yang kedua, kitab-kitab yang bisa dijadikan rujukan telah kita nukil isinya. Ketiga, At-Tijani tidak menulis yang terjadi akibat masalah warisan sebagaimana sebelumnya. Atas pertimbangan ini, perkataan az- zuhri dipahami bahwa Ali tidak membaiatnya pada hari itu karena ingin bersama beliau dan selalu berada didekatnya. Kareana jauhnya Abu Bakar bisa menyebabkan orang-orang yang tidak memahami inti persoalan memahami bahwa itu terjadi karena Ali tidak ridha dengan kekhAlifaan Abu Bakar. Karena itulah ada ulama yang memutlakkan perkataan itu. Dengan pertimbangan itulah, Ali Bari berbaiat setelah wafatnya Fatimah agar menghilangkan syubhat ini. ( Al-Fath jilid 6 hal. 566 ) kedua riwayat tersebut bisa juga digabungkan dengan mengatakan bahwa Ali berbaiat dua kAli . baiat pertama ketika awal-awal khilafah Abu Bakar dan baiat kedua setelah 6 bulan berlalu didepan banyak orang. Saya telah mendapatkan riwayat yang semua perawinya terpercaya yang memperkuat hal ini. Abdullah bin ahmad bin hambal menulis dalam kitab " As-Sunnah " dari abu nadrah ia berkata : ketika orang-orang berkumpul untuk membaiat Abu Bakar r.a. beliau berkata : kenapa saya tidak melihar Ali ? ia berkata : maka beberapa orang dari Anshar mendatangi Ali dan menghadapkannya kepada beliau. Abu Bakar berkata kepadanya : wahai Ali, anak paman Rasulullah saw ? Ali menjawab : tidak ada keraguan lagiwahai khalifah Rasulullah saw. angkat tangan anda, lalu ia mengangkatnya dan dibaiat oleh Ali. Kemudian Abu Bakar mengatakan : kenapa saya tidak melihat zubair ? maka beberapa orang Anshar menemui zubair dan iapun datang. Abu Bakar mengatakan kepadanya : wahai zubair, anak tante Rasulullah saw ? zubair menjawab : tidak ada keraguan lagiwahai khalifah Rasulullah. Angkat tangan anda , maka Abu Bakar mengangkat tangannya dan dibaiat oleh zubair. ( Kitab As-Sunnah jilid 2 No. 1292. ahli tahqiq mengatakan : perawinya shahih ). 8 Shahih Bukhari jilid 6 Kitab : Al-Ahkam No. 6794. 9 Tarikh Ibnu Atsir dari hal. 189-195 Th. 11 H. 1
  5. 5. Polemik Sunni dengan Syi’ah halaman, hingga kita bisa merujuknya. Adapun Tarikh Khumais, saya samaPick the] sekali tidak bisa mendapatkannya. Saya kurang tahu, apakah itu salah satu [date referensi orang-orang Rafidhah. Adapun kitab Al-Istiaab Fii Marifati al- Ashab karangan Ibnu Abdil Bar, beliau menulis dalil-dalil tentang kekhalifaan Abu Bakar lebih banyak dibanding dengan penulis lainya.10 Ia mengangkat riwayat An-Nazzal bin Sabrah dari Ali ia berkata, "Sebaik-baik orang dalam umat ini setelah Nabinya, adalah Abu Bakar kemudian Umar. Muhammad bin Hanafiyah, Abdul Khair, dan Abu Juhaifah meriwayatkan pula hadits tersebut dari Ali. Ali r.a. pernah berkata, "Rasulullah adalah orang paling utama, kemudian Abu Bakar, lalu Umar. Setelah itu fitnah menimpa kami, Allah swt lalu mengampuni orang-orang yang dikehendakinya dari fitnah itu." Abdul Khair berkata, "Saya pernah mendengar Ali mengatakan, "Semoga Allah Swt merahmati Abu Bakar, dia adalah orang pertama yang menyatukan dua panji." Dan kami meriwayatkan dari Abdullah bin Jafar bin Abi Thalib dari beberapa jalur bahwa ia berkata, "Kami mengangkat Abu Bakar sebagai pemimpin kami, dia adalah sebaik- baik khalifah. Ia sangat menyayangi kami dan sangat lemah-lembut kepada kami." Masruq Barkata, "Mencintai Abu Bakar dan Umar adalah bagian dari sunnah." Abdul Bar juga menulis hadits Rasulullah Saw ketika meminta Abu Bakar untuk mengimami mereka. Ibnu Abdil Bar juga menulis hadits Huzaifah, ia mengatakan, "Rasululah Saw bersabda, "Setelah aku tiada kelak, ikutilah Abu Bakar dan Umar, dan carilah hidayah layaknya Ammar serta pegang teguhlah janji Ibnu Ummi Abdi. Kemudian Ibnu Abdil Bar berkata, "Abu Bakar dibaiat sebagai khalifah pada hari Rasululah Saw wafat, itu terjadi di Tsaqifah bani Saidah. Kemudian ia dibaiat secara umum pada hari selasa setelah hari pembaiatan pertama. Saad bin Ubadah, sekelompok orang- orang Khazraj, dan sekelompok orang Quraisy tidak berbaiat pada hari itu. Kemudian mereka baru berbaiat setelah itu, kecuali saad. Ada pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada seorangpun dari suku Quraisy yang tidak berbaiat. Ada juga yang mengatakan bahwa ada beberapa orang yang tidak berbaiat dari suku Quraisy yaitu: Ali, Zubair, Thalhah, Khalid bin Said bin Ash, kemudian mereka membaiatnya setelah itu. Bahkan ada pendapat mengatakan bahwa Ali tidak membaiat Abu Bakar kecuali setelah wafatnya Fatimah. Setelah itu, ia tetap patuh pada Abu Bakar, menghormati dan mengutamakannya. Ibnu Abdil Bar juga menulis riwayat Abdullah bin Masud, "Orang-orang Anshar akhirnya tersadar untuk membaiat Abu Bakar pada hari Tsaqifah bani Saidah karena perkataan Umar bin Khattab yang berbunyi, "Saya tanya kalian dengan nama Allah Swt, apakah kalian tahu bahwa Rasulullah Saw pernah meminta Abu Bakar mengimami kita?" Mereka menjawab, "Betul." Umar berkata lagi, "Siapa diantara kalian yang bisa 10 Riwayat tersebut ada yang dhaif dan bathil. Saya menulisnya agar pembaca sekAlian bisa mengetahui kebohongan At-Tijani. 1
  6. 6. Polemik Sunni dengan Syi’ah menghilangkan posisi Abu Bakar yang telah ditetapkan oleh RasulullahPick the] Saw?" Mereka menjawab, "Tidak seorangpun diantara kami yang bisa berbuat [date demikian. Kami memohon ampun kepada Allah." Hasan Basri meriwayatkan dari Qais bin Ubadah, ia berkata, "Ali bin Abi Thalib berkata kepadaku, "Rasulullah Saw menderita sakit beberapa hari lamanya. Ia menyuruh kami shalat berjamaah dengan mengatakan, "Mintalah kepada Abu Bakar untuk mengimami kalian." Setelah Rasulullah Saw wafat, saya perhatikan ternyata shalat adalah bendera Islam dan tiang agama. Maka kami rela urusan dunia kami diurus oleh Abu Bakar sebagaimana Rasululah Saw telah ridha kepada beliau sebelumnya. Kami pun membaiat Abu Bakar.11" Inilah yang ditulis Ibnu Abdil Bar dalam kitabnya. Saya katakan kepada siapapun yang mencari kebenaran, "Setelah kebenaran, tiada lagi tersiasa kecuali kesesatan." Inilah literatur yang disebutkan oleh At-Tijani untuk mempertegas ketidak ikutan beberapa sahabat dalam pembaiatan Abu Bakar. Buku-buku yang sebenarnya menghimpun tentang pembaiatan orang-orang muslim terhadap Abu Bakar di Tsaqifah maupun pada pembaiatan umum dari semua kalangan muslim. At-Tijani tidak berhenti disitu, ia menulis pada catatan kaki kitabnya setelah menyebutkan literatur yang –katanya- ia nukil, dan semua orang-orang yang membahas pembaiatan Abu Bakar. Saya katakan, "Tidak ada buku yang membahas tentang pembaiatan tersebut kecuali mempertegas keabsahan pembaiatan Abu Bakar dari semua sahabat. Ditambah lagi baiatnya Ali dan bani Hasyim. Bahkan literatur Rafidhah Itsnaa Asyariah pun mempertegas hal itu juga. 2) Kedua: Jika dikatakan bahwa beberapa orang sahabat tersebut tidak membaiat Abu Bakar menjadi khalifah, maka itu tidak membatalkan baiat sahabat lainnya. Karena masalah pengangkatan khalifah tidal membutuhkan kesepakatan semua orang, tetapi cukup dengan kesepakatan pembesar- pembesar sahabat dan mayoritas lain yang mendukung tegaknya khilafah. Inilah yang disepakati ulama. Imam Nawawi mengatakan, "Adapun masalah baiat, ulama telah sepakat bahwa keabsahannya tidak tergantung kepada baiatnya semua orang dan semua kalangan pemerintahan. Tetapi cukup kesepakatan para ulama, para pemimpin dan pembesar-pembesar lainnya.12" Al-Maziri berkata, "Alasan Ali dengan keterlambatannya membaiat Abu Bakar adalah bahwa dalam masalah membaiat seorang khalifah, pendapat para Ahlul Halli wal Aqdi sudah cukup dan tidak harus dengan semua orang. Tidak semua penduduk diharuskan datang untuk membaiat khalifah., tetapi cukup ketaatan mereka dengan tidak bersebrangan atau memberontak kepadanya. Inilah yang terjadi pada Ali. Ia hanya terlambat berbaiat kepada 11 Lihat kembAli riwayat sebelumnya dalam kitab Al-Istiaab Fii Marifati Al-Ashaab karangan Ibnu Abdil Bar jilid 3 dari hal. 970-977. Tahqiq : Ali Muhammad Al-Bajawi. Cetakan : Dar Al-Jil Bairut. 12 Syarah Muslim juz 12 hal. 112-113. 1
  7. 7. Polemik Sunni dengan Syi’ah Abu Bakar sebagaimana telah dijelaskan sebelimnya.13" Syaikhul Islam IbnuPick the] Taimiah berkata, "Dalam masalah pengangkatan khalifah yang dibutuhkan [date hanyalah kesepakatan pemimpin dan mayoritas lain yang punya peran dalam pemilihan tersebut. Yang mana maslahat kekhilafaan bisa terpenuhi dengannya.14" Bahkan Ali sendiri, sebagaimana yang ditulis oleh Syarif Ridha dalam kitabnya Al-Hujjah Lil Imamiyyah "Nahju Al-Balagah" mengatan, "Demi Allah, seandainya khilafah tidak bisa tegak tanpa dukungan semua orang maka khilafah pasti tidak akan tegak. Tetapi orang-orang yang hadir mewakili yang orang-orang yang berhalanagan. Tidak ada jalan bagi yang hadir untuk mundur dan yang tidak hadir untuk memilih.15 Pembaca budiman. Lihat kebenaran yang nyata begitupun kebohongan yang dijejalkan oleh At-Tijani! Ulama sepakat tentang hal itu karena kalau kehadiran seseorang atau dua orang atau sekelompok orang menjadi penghalang bagi tegaknya khilafah maka kesepakatan tentang itu tidak akan pernah terwujud. Hal itu karena seseorang terkadang tidak hadir karena ada sesuatu dalam dirinya atau alasan lain yang tidak bisa diterima. Kalau masalahnya demikian, lalu bagaimana kita bisa sepakat dengan seorang khalifah?!. Disini harus ditegaskan pula bahwa kesepakatan mayoritas umat akan kekhalifaan Abu Bakar lebih besar dibanding ketika mereka membaiat Ali sebagai khalifah. Malahan kurang lebih sepertiga umat Islam tidak membaiat Ali, bahkan ada yang memeranginya. Sepertiga lainnya tidak ikut berperang bersamanya. Diantara mereka pula ada yang tidak membaiatnya, dan diantara orang yang tidak membaiatnya ada yang memberontak kepada beliau sebagaimana ada yang tidak memeranginya. Seandainya masalah kekhalifahan tidak sah jika tidak didukung oleh beberapa kalangan maka kekhalifahan Ali lebih tidak sah lagi. Jika dikatakan, "Mayoritas umat Islam tidak memeranginya atau para pemimpin mayoritas umat dan lainnya membaiatnya, maka Abu Bakar lebih- lebih lagi.16 Jika At-Tijani mengklaim bahwa nash-nash yang mendukung kekhalifahan Ali adalah sangat jelas, maka saya jawab bahwa dalil-dalil tersebut telah saya jelaskan bahwa ia tidak bisa dijadikan hujjah, belum lagi hadits-hadits yang menjelaskan tentang kekhalifahan Abu Bakar yang sangat kuat dan tak terbantahkan.17 Dengan demikian, sudah jelas bagi kita akan lemahnya hujjah At-Tijani yang berbunyi "Dengan tidak berbaiatnya Ali saja kepada Abu Bakar sudah cukup membuat kesepakatan bahwa kekhalifaan Abu Bakar tidak sah." Semoga Allah merahmati para ahli ijma kepada khilafah Abu Bakar.?! 13 Al-Fath juz 7 hal. 565 kitab: Peperangan. 14 Al-Minhaj juz 8 hal. 336. 15 Nahju Al-Balagah juz 2 hal. 368 cetakan Dar Alfain. 16 Al-Minhaj juz 8 hal. 338-339. 17 Lihat hal. 1
  8. 8. Polemik Sunni dengan Syi’ahPick the] KLAIM SYI’AH TENTANG KEKHALIFAAN ALI PASCA [date WAFATNYA RASULULLAH DAN JAWABAN AHLU SUNNAH TEHADAPNYA At-Tijani melanjutkan perkataannya dengan menulis, "Pembaiatan Abu Bakar sebagai khalifah tidaklah berdasarkan hasil musyawarah, tetapi itu terjadi manakala orang-orang lagi sibuk, khususnya para pemimpin mereka sebagaimana yang dikatakan oleh ulama, karena ketika itu mereka disibukkan oleh pengurusan jenazah Rasulullah dan penguburannya. Penduduk Madinah dikejutkan oleh kematian Rasulullah dan kemudian dipaksakan untuk untuk berbaiat. Mereka diancam dengan pembakaran rumah Fathimah jika orang-orang tidak berbaiat dan tidak mau keluar dari rumah tersebut. Lalu bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bahwa baiat tersebut berdasarkan hasil musyawarah dan ijma.18" Dengan memohon taufik dari Allah Swt saya katakana : 1) Jika kekhalifahan Abu Bakar terjadi tanpa musyawarah dan dalam kondisi orang-orang muslim sedang kebingungan (berkabung), lalu bagaimana At- Tijani bisa memadukan perkataannya ini dengan sebelumnya bahwa sebagian sahabat tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar ?! apakah orang-orang muslim adalah kelompok kecil itu?! Hingga ia katakan bahwa itu terjadi tanpa musyawarah. Padahal kami sudah menjelaskan dari literatur At-Tijani sendiri bahwa itu terjadi sesuai dengan musyawarah kaum Muslimin. Dan Abu Bakar dibaiat di Tsaqifah dan pada pembaiatan umum oleh umat ! 2) Ia mengatakan bahwa penduduk Madinah dikejutkan dengan wafatnya Rasulullah Saw, setelah itu mereka dipaksa untuk berbaiat. Subhanallah…. Siapa yang memaksa penduduk Madinah berbaiat?! Apakah Abu Bakar dan Umar?! lalu bagaimana keduanya memaksa mereka?! Apakah malaikat membantu mereka berdua?1 Atau keduanya dibantu oleh bagian keamanan nasional atau pasukan pertahanan? atau keamanan revolusi ??! Ali bin Abi Thalib didukung dengan dalil-dalil yang jelas untuk menjadi khalifah. Ahlul halli wal Aqdi dan penduduk Madinah tidak bisa menghalangi Abu Bakar menjadi khalifah, padahal beliau hanya didukung oleh segelintir penduduk. Bahkan beliau bisa menjadi khalifah walaupun ditentang oleh mayoritas umat Islam? Demi Allah, jika kebodohan adalah seekor kucing pasti saya letakkan anjing didekatnya !! Kotoran apalagi yang dihasilkan oleh tinta pena orang cerdas ini! Ia tidak didukung oleh dalil-dalil yang masuk akal apalagi dalil yang berasal dari Al-Quran dan sunnah. Jadi, pembaiatan sahabat terhadap kekhalifaan Abu Bakar tidak bisa dipungkiri. Ahli syair mengatakan, 18 Tsumma Ihtadaitu hal. 136. 1
  9. 9. Polemik Sunni dengan Syi’ah Apakah ada sesuatu yang masuk akal jika siang masih membutuhkan bukti ?1Pick the] Bahkan orang-orang Syiah Itsna Asyariah mendukung realitas ini dan tidak [date bisa membantahnya. Imam Syiah Itsna Asyariah Hasan bin Musa An- Nuwaihti mempertegas hal ini dalam kitabnya "Firaaq As-Syiah" dengan mengatakan, "Sebagian besar penduduk Madinah mendukung Abu Bakar sebagai khalifah. Mereka sepakat dengan Umar tentang hal itu dan ridha dengan mereka berdua."19 Ibrahim Ats-Tsaqafi, salah seorang Imam Syiah Itsna Asyariah memaparkan perkataan Ali bin Abi Thalib r.a. dalam beberapa suratnya kepada sahabat-sahabatnya, "Maka orang-orang berkumpul mendukung Abu Bakar dan berkerumun untuk membaiatnya. 20" Kemudian pentahqiq kitab tersebut menjelaskan arti orang berkumpul yaitu, Terkumpulnya sesuatu dari semua arah -sebagaimana terkumpulnya tanah- terhadap Abu Bakar. Ia mengatakan, "Al-majlisi berkata, "Berkumpul berarti bersegera."21 Adapun Ibnu Mutahhir Al-Huli ia juga tidak bisa menolak realitas ini. Ia kemudian mengigau dengan berkata, "Mayoritas umat membaiatnya agar mereka bisa mendapatkan harta.22 setelah itu datang orang yang mengaku telah mendapatkan hidayah (At-Tijani-pent.) menyingkap sesuatu yang belum pernah dikenal oleh Ahlussunnnah dan Syiah Rafidhah bahwa Abu Bakar dan Umar memaksa umat untuk membaiat Abu Bakar?! Ia mengungkapkan berbagai hujjah yang katanya membuktikan hidayah tersebut. Saya harap agar ia berhenti dari perbuatannya tersebut karena saya khawatir kalau dikagetkan dengan berkumpulnya orang-orang untuk membaiatnya kepada hidayah !!!. 3) Adapun tentang pembakaran rumah Fatimah, hal itu telah saya jelaskan sebelumnya.23 4) Ia mengatakan, "Umar bin Khatttab sendiri mengetahui bahwa baiat tersebut adalah sesuatu kesalahan yang semoga Allah swt melindungi orang-orang muslim darinya. Siapapun yang berbuat demikian bunuh sajalah dia, atau ia mengatakan, "Siapapun yang mendakwahkan pendapat demikian, maka ia tidak boleh dibaiat lagi begitupun orang-orang yang membaiatnya.24" Saya berkata, "Riwayat yang dari Umar tidak demikian lafazhnya, baik dalam kitab Shahih Bukhari maupun dalam literatur hadits lainnya. Hadits tersebut sangat panjang, diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Umar berdiri menyampaikan khutbah di Madinah untuk menjawab pendapat yang dihembuskan oleh seseorang. Diantara isi khutbahnya ialah, "Saya telah mendengarkan salah seorang diantara kalian mengatakan, "Demi Allah, jika Umar telah wafat pasti saya membait fulan." Jangan sekali-kali ada yang 19 Firaq As-Syiah karangan An-Nuwaihti hal. 4 cetakan Dar Al-Adwa 20 Al-Garaat karangan Ats-Tsaqafi hal. 305-306 bab : surat-surat Ali kepada para sahabatnya. 21 Ibid hal. 306 22 Lihat Al-Minhaj juz 2 hal 16. 23 Lihat hal. 24 Tsumma Ihtadaitu hal. 136-137. 1
  10. 10. Polemik Sunni dengan Syi’ah mengatakan bahwa pembaitan Abu Bakar adalah sebuah kejadian tiba-tiba.Pick the] Betul, itua dalah kejadian tiba-tiba, tetapi Allah swt melindungi orang-orang [date muslim dari fitnahnya. Tidak ada seorangpun yang dipotong lehernya layaknya Abu Bakar. Barang siapa yang membaiat seseorang tanpa adanya musyawarah dari orang-orang muslim maka ia tidak bisa dibaiat, demikian pula orang yang membaiatnya. Hal itu bisa membuatnya terbunuh.25 Arti perkataan Umar bahwa itu adalah kejadian tiba-tiba adalah kejadian yang tidak ada persiapan sebelumnya. Demikianlah prosesi pembaiatan Abu Bakar, tanpa persiapan apa-apa sebelumnya. Tapi Allah swt menjauhkan fitnah dari kejadian itu.Hal itu diberi alasan oleh beliau dengan mengatakan. "Dan tidak ada diantara kalian yang di potong lehernya seperti Abu Bakar, maksudnya tidak ada diantara kalian yang bisa mencapai kedudukan Abu Bakar dan keutamaannya, karena dali-dalil tentang itu sangat jelas dan kesepakatan orang-orang untuk membaiatnya tidak ada yang bisa memungkirinya. Al- khattabi mengatakan, "Orang-orang terdahulu masuk Islam diantara kalian tidak mampu menempati posisi Abu Bakar. Jadi, jangan seorangpun diantara kalian yang memimpikan bisa dibaiat layaknya Abu Bakar, awalnya beliau dibaiat oleh kelompok kecil kemudian mayoritas umat ikut membaiatnya." Tidak ada perbedaan pendapat tentang hal itu, karena beliau memang pantas untk menjadi khalifah. Penduduk Madinah tidak lagi harus berfikir dan memusyawarahkannya. Tapi selain beliau itu tidak bisa dilakukan.26 jelas Umar mengatakan hal ini karena adanya perkataan bahwa jika Umar telah wafat pasti saya membaiat fulan. Maksudnya ia menghendaki kejadian lain terjadi layaknya apa yang terjadi bagi Abu Bakar, padahal itu tidak bisa lagi terjadi. Bahkan sudah mustahil orang-orang sepakat dengan seseorang untuk diangkat menjadi khalifah sebagaimana yang pernah terjadi pada Abu Bakar. Barang siapa yang ingin membaiat seseorang tanpa dukungan mayoritas umat Islam maka sebenarnya ia terancam pembunuhan. Inilah maksud dari perkataan Umar " hal itu bisa menyebabkan ia terbunuh " artinya bahwa siapapun yang berbuat demikian ia dan pembaiatnya terancam hukuman mati.27 Dari sini, jelaslah maksud Umar dalam masalah ini. Adapun At-Tijani, ia hanya menukil riwayat ini dari Umar dengan cara terpotong. Ia tidak menukil latar belakang perkataan itu. Jika latarbelakangnya sudah diketahui maka batAllah hujjah yang dipedomani At-Tijani. Bahkan hujjah itu menyerang dirinya sendiri kareana Umar mengatakan hal itu untuk memperjelas keutamaan Abu Bakar, yaitu kesepakatan mayoritas orang dan dukungannya terhadap beliau. Inilah sebenarnya yang terjadi. Sejarahpun menjadi saksi atas kejadia tersebut. Jika ada yang mengira perkataan Umar itu sebagai celaan bagi Abu Bakar itu hanya karena kedangkalan pemahamannya tiada lain!! 25 Shahih Bukhari kitab: Al-Muharibin No. 6442. 26 Al-Fath juz 12 hal. 155. 27 Ibid. 1
  11. 11. Polemik Sunni dengan Syi’ah Kemudian dengan penuh kebohongan ia mengatakan bahwa Ali mengomentariPick the] kekhalifahan Abu Bakar dengan mengatakan, "Demi Allah, Abu Bakar telah [date menyandang jabatan khilafah, ia tidak tahu bahwa saya dan khilafah bagaikan dua sisi mata uang. Banjir bah menjauh dariku dan burung pun tidak lagi mendekat kepadaku.28" Jawaban saya (Ahlusunnah) : Pertama: Sangat mustahil Ali mengatakan hal ini kepada Abu Bakar atau ia menyatakan lebih berhak menjadi khalifah dibanding beliau. Jika Ali dan khilafah bagaikan dua sisi mata uang, maka tidak mungkin ia membaiat Abu Bakar. Ini sudah kesepakatan Ahlus Sunnah dan Syiah. Kedua: Seandainya benar Ali mengatakan demikian, kita tidak melihat itu sebagai penghinaan terhadap Abu Bakar. Bahkan kelihatannya itu lebih mengurangi keutamannya dibandingkan Abu Bakar, karena kami telah jelaskan bahwa ulama sepakat dengan kekhalifahan Abu Bakar tanpa sedikitpun pemaksaan. Orang Anshar dan Muhajirin termasuk di dalamnya Bani Hasyim membaiat Abu Bakar tanpa sedikitpun paksaan, dan ini sama sekali bukan rekayasa Abu Bakar. Adapun klaim bahwa Ali mengatakan, "Ia dan khilafah bagaikan dua sisi mata uang", disini saya katakan bahwa tidak mungkin Abu Bakar melangkahi seseorang yang jelas-jelas berhak sebagai khalifah, berdasarkan dalil-dalil yang sangat nyata. Seandainya khilafah adalah hak Ali, pasti dialah yang akan dibaiat oleh masyarakat. Bukan Abu Bakar yang mereka baiat. Jika hal itu sudah jelas, berarti kita sudah yakin bahwa yang berhak menjadi khalifah adalah Abu Bakar. Adapun dalil-dalil yang dikatakan sebagai penegas kekhalifaan Ali, sangat lemah dibanding dengan sarang laba-laba. Ia tidak bisa menandingi hadits-hadits keutamaan Abu Bakar sebagai khalifah. Ketiga: Sudah sangat jelas berdasarkan berbagai bukti bahwa Ali membaiat Abu Bakar sebagai khalifah, baik itu pada fase awal pembaiatan maupun setelah berlalu enam bulan lamanya. Nah, bagaimana mungkin dikatakan bahwa Ali mengatakan sesuatu yang sering diistilahkan sebagai "Khutbah Syaqsiqiyyah", jika kita mengakui bahwa Ali berbaiat, padahal perkataan yang disandarkan kepadanya adalah bohong belaka, maka sungguh jelaslah kebenaran kami. Jika mereka (Ar-Rafidhah) mengatakan bahwa Ali hanya berbaiat agar tidak dicela, maka kami katakan, "Mustahil sekali bagi Ali yang telah mengetahui kebenaran berdasarkan dengan dalil- dAli yang sangat jelaskemudian ia meninggalkan kebenaran hanya karena takut terhadap seseorang atau ia berpura-pura setuju dengan pembaiatan Abu Bakar. Ini adalah kemunafikan yang sebenarnya. Kami sangat menjauhkan Ali dari sikap demikian. Keempat: Kitab Nahju Al-Balaghah bukanlah hujjah terhadap Ahlu Sunnah, bahkan ditentang oleh sebuah riwayat dari Imam Bukhari dan Muslim pada kitabnya masing-masing dari hadits Aisyah29 yang mempertegas pembaiatan Ali terhadap Abu Bakar dan pengakuannya tentang keutamaan dan haknya sebagai khalifah. 28 Tsumma Ihtadaitu hal. 137. 29 Lihat hal. 1
  12. 12. Polemik Sunni dengan Syi’ah Kelima: Apakah At-Tijani yang merasa mendapat hidayah dan objektif, telahPick the] membaca semua isi kitab Nahju Al-Balaghah atau hanya memilih bagian-bagian [date tertentu untuk dinukil didalam kitabnya yang mendukung klaimnya? Jika kita periksa surat-surat Ali, kita dapati sesuatu yang bertolak belakang dengan nukilan At-Tijani.30 Pada salah satu suratnya kepada Muawiyah yang dijadikan hujjah untuk mempertegas kekhalifaan Ali dan kepantasannya untuk dibaiat berbunyi, "Bahwa saya telah dibaiat oleh orang-orang yang telah membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman, cara mereka ketika membaiat saya sama ketika mambaiat para khalifah terdahulu. Tidak ada peluang bagi yang hadir untuk memilih dan yang tidak hadir untuk menolak, tetapi hasil musyawarah dari Muhajirin dan Anshar. Jika mereka sepakati seseorang menjadi khalifah, itu akan menjadi keridhaan Allah swt, jika mereka tidak taat kepada khalifah maka mereka tercela atau telah berbuat bidah. Kembalikanlah mereka kepada ketaatan dan jika mereka enggan, maka perangilah karena mereka telah mengikuti jalan selain jalan orang-orang mukmin, Allah akan membuat mereka berpaling karena keterpalingan mereka."31 Maha suci Allah, Bagaimana bisa perkataan Ali "Abu Bakar telah menyandang khilafah" sejalan dengan perkataanya tadi "bahwa saya telah dibaiat oleh orang-orang yang membaiat Abu Bakar sebagai perampas khilafah dan pada waktu bersamaan Ali sendiri mengakui kekhalifaan Abu Bakar, bagaimana bisa bertemu antara perkataan Ali yang berbunyi bahwa Abu Bakar tidak tahu kalau saya dengan khilafah bagaikan ulekan dengan alat tumbuknya." Dengan perkataanya, "Tidak ada peluang bagi yang hadir untuk memilih dan yang tidak hadir untuk menolak." Belum lagi perkataanya, "Tetapi hasil musyawarah antara Muhajirin dan Anshar, jika mereka sepakati seseorang untuk menjadi khalifah, itu akan menjadi keridhaan Allah, jika mereka tidak taat kepada khalifah maka mereka tercela atau berbuat bidah, kembalikan mereka kepada ketaatan, jika mereka enggan maka perangilah karena mereka telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin!!!" Saya katakan kepada orang-orang berakal apakah ada pertentangan lebih jelek daripada ini?! Bukankah itu bukti paling nyata bahwa kitab Nahju Al-Balaghah bukan semuanya milik Ali bin Abi Thalib, tetapi sebagian besar darinya adalah perkataan yang disandarkan kepadanya. Ali memberi nasehat tanpa adanya pertentangan, bagaimana mungkin pertentangan hebat ini bisa terjadi? Dari sin kita tahu bahwa penulis kebohongan ini yang disandarkan kepada Ali dengan penuh kepalsuan dan kebohongan adalah penulis Nahju Al-Balaghah, Imam Rafidhah Syarif Ridha. Dari surat Ali kepada Muawiyah tersebut kita dapat mengungkap bahwa pembaiatan Abu Bakar bukanlah dengan cara palsu, tetapi terangkatnya beliau sebagai khalifah karena baiat orang-orang Muhajirin dan Anshar lewat jalan musyawarah. Jika Anda sudah tahu tentang hal tersebut pembaca budiman, itulah kebenaran yang harus Anda yakini agar Anda selamat!. 30 Seperti perkataannya ( ….biarkanlah aku dan carilah selain aku ) 31 Nahju Al-Balagah hal. 530. 1
  13. 13. Polemik Sunni dengan Syi’ah Kemudian ia mengatakan, "Saad bin Ubadah mencela Abu Bakar dan Umar danPick the] berusaha melengserkannya dari kursi kekhalifaan, seandainya bukan karena sakit [date yang dideritanya pasti ia mencegah meraka berdua dan memeranginya hingga akhir omong kosong tersebut.32 Jawaban saya: Pertama: Seandainya riwayat ini benar, ia hanya merusak keredibilitas Saad dan sama sekali tidak mengangkat pamornya. Tapi perkatan dan perbuatan yang demikian nampaknya jauh dari para sahabat Rasulullah Saw. seperti Saad bin Ubadah, pembesar kaum Anshar. Kedua: Menukil dari kitab "Tarikh al-Khulafaa" yang disandarkan kepada Ibnu Qutaibah tidak menjamin keabsahan riwayat tersebut. Ketiga: Saya tidak menjelaskan kepalsuan riawayat ini dengan dalil-dalil dan hujah dari as-Sunnah, tetapi saya hanya mengangkat kembali hujjah yang kalian pedomani, yaitu surat Ali kepada Muawiyah dalam referensi utama kalian "Nahju Al- Balgah." Ali mengatakan bahwa Abu Bakar dibaiat oleh orang-orang Muhajirin dan Anshar lewat keputusan musyawarah. Ia juga mengatakan, "Jika mereka tidak taat kepada khalifah, maka mereka tercela atau berbuat bidah. Kembalikan mereka kepada ketaatan." jika kita mengakui bahwa pengakuan At-Tijani tentang Saad maka pujian apa atau hujjah apa yang diperoleh Saad dengan mencela Abu Bakar dan Umar? padahal ia telah dibaiat oleh orang-orang Muhajirin dan Anshar. Apakah perbuatan Saad ini menbatalkan hasil keputusan musyawarah mereka?! Apakah jika ia memberontak terhadap mereka berarti ia benar?!. Atau ia harus dikembalikan kepada ketaatan atau harus diperangi karena ia keluar dari jamaah kaum Muslimin?!!! Saya berkata kepada At-Tijani, "Jika Anda menolak itu, berarti Anda menolak kitab terpenting yang Anda jadikan referensi untuk menyerang lawan-lawan Anda. Hal itu sangat menguntungkan kami Ahlus Sunnah karena kalian mempertegas bahwa referensi kalian ini hanyalah kumpulan kebohongan terhadap Ali dan segenap keluarganya. Jika Anda katakan bahwa perkataan Ali itu benar, maka ada dua hal yang mutlak bagi Anda, yaitu apakah Anda mengakui bahwa perkataan dan perbuatan Saad tersebut bertentangan dengan kebenaran dan hasil musyawarah mayoritas umat Islam?. Dengan ini, Anda telah menolak sendiri pendapat Anda tentang ketidak absahan kekhalifaan Abu Bakar r.a. atau Anda mengakui bahwa apa yang diriwayatkan dari Saad hanyalah kebohongan dan kebatilan. Pengakuan ini adalah bukti nyata bahwa apa yang diriwayatkan dalam kitab Tarikh Khulafa adalah batil dan tidak bisa di jadikan hujjah, baik dari segi sanad maupun matan. Hal itu juga mengharuskan Anda menolak riwayat-riwayat yang disandarkan kepada Fatimah r.a dengan penuh kebohongan tentang Abu Bakar dan Umar. Saya kira ini adalah keharusan yang mutlak dan tidak disengaja dari At-Tijani bahwa kitab Tarikh al- Khulafaa, Al-Imamah atau As-Siyasah disandarkan kepada Ibnu Qutaibah. Setelah itu, saya katakan kepada At-Tijani, "Perkataan yang mana Anda pilih wahai orang 32 Tsumma Ihtadaitu hal 137. 1
  14. 14. Polemik Sunni dengan Syi’ah yang mengaku objektif ?!. Setelah saya menjawab hujjah-hujjah At-Tijani tentangPick the] Abu Bakar, saya menegaskan: [date Jika kita sudah tahu bahwa perkataan Umar bin Khattab "Pembaitan Abu Bakar adalah suatu kejadiaan tiba-tiba" adalah merupakan pujian dan bukan sama sekali penghinaan bagi beliau. Jika kita sudah tahu bahwa Ali mengakui bahwa Abu bakar dibaiat oleh kaum Muhajirin dan Anshar melalui musyawarah maka Allah Swt telah meridhainya. Apabila pembaitan Abu Bakar sebagai khalifah benar sesuai dengan hasil musyawarah dan ijma, maka kita tahu bahwa perkataan yang di sandarkan kepada Saad bin Ubadah adalah batil. Jika kita sudah tahu bahwa baiat tersebut berasal dari kehendak para sahabat, diantaranya Ali dan Bani Hasyim, yang mana hal itu sesuai dengan kesepakatan para sejarawan seperti At-Thabari, Ibnu atsir, Al-Istiaab dan semua yang mengangkat masalah pembaitan Abu Bakar, diantaranya kitab Nahju al-Balagah kita ketahui bahwa dalil-dalil sangat jelas mendukung keabsahan kekhalifahan Abu Bakar. Sekarang saya sudah bisa menjawab pertanyaan At-Tijani, Apa bukti dari keabsahan kekhalifaan Abu Bakar? saya jawab bahwa hujjahnya sangat jelas bagi kami kalangan Ahlu Sunnah wal Jamaah dan sangat tegas bagi Ahli fitnah dan pembual?! KELIMA: Klaimnya bahwa wali lebih utama diikuti daripada Abu Bakar berikut jawabannya. At-Tijani mengatakan pada sub judul "Ali lebih utama untuk diikuti" di antara sebab yang berperan dalam keputusanku meninggalkan jalur pendahuluku adalah perbandingan antara Ali dan Abu Bakar dari segi dalil-dalil naqli dan aqli. Saya sudah sebutkan pada bagian terdahulu bahwa saya berpedoman pada ijma yang disepakati oleh Ahlu Sunnah dan Syiah. Saya sudah menelusuri literatur kedua belah fihak tapi saya tidak menemukan ijma kecuali kepada Ali bin Abi Thalib. Ahlu Sunnah dan Syiah sepakat tentang kekhalifahannya sebagaimana yang terdapat dalam berbagai nash-nash yang ditegaskan oleh literatur kedua belah pihak sedang dipihak lain tidak ada yang mengakui kekhalifaan Abu Bakar kecuali sebagian kecil dari kaum Muslimin. Sebelumnya kami sudah jelaskan perkataan Umar tentang pembaitan Abu Bakar33. Jawaban saya (Ahlusunnah) : Pertama: Kelihatannya At-Tijani telah dikuasai oleh kebohongan! Seandainya Ahlu Sunnah sepakat dengan Syiah tentang kekhalifahan Ali sebagaimana menurut At- Tijani ada dalam nash-nash, lalu mengapa ia memenuhi lembaran-lembaran ini demi 33 Tsumma Ihtadait, hal: 140-141 1
  15. 15. Polemik Sunni dengan Syi’ah membuktikan kekhalifaan Ali?! dan apa perbedaan kedua kelompok ini jika merekaPick the] sepakat tentang kekhalifahan Ali?! Bagaimana bisa terjadi ijma terhadap [date kekhalifahan Ali padahal sejarah membuktikan bahwa ijma hanya terjadi pada khalifah Abu Bakar. Bahkan tidak ditemukan adanya ijma tentang kekhalifahan Ali, baik dari literatur Ahlu Sunnah maupun dari literatur Syiah Rafidhah34, dengan berbagai pertentangan, kebohongan dan khurafat yang meliputi agama Rafidhah ini. Saya katakan kepada At-Tijani, "Jika Anda memiliki satupun literatur Ahlu Sunnah yang sepakat dengan kekhalifaan Ali bin Abi Thalib, saya harap Anda menunjukkannya kepada kami. Jika Anda tidak bisa, ketahuilah bahwa Anda adalah pembohong ulung." Kedua: Kemudian ia mengatakan, "Dipihak lain, tidak ada yang mengakui kekhalifahan Abu Bakar kecuali sebagian kecil dari kaum Muslimin." Saya katakan, "Walupun demikian, Abu Bakar menjadi khalifah pertama dan didukung oleh orang- orang muslim dengan penuh keridhaan dan ketaatan. Adapun tentang perkataan Umar mengenai pembaitan Abu Bakar, itu telah kami bahas sebelumnya." Ia kemudian mengatakan, "Banyak keutaamaan-keutamaan dan perilaku terpuji yang disebutkan oleh orang Syiah terhadap Ali bin Abi Thalib yang mempunyai sanad, benar-benar keberadaannya dan terdapat pula dalam literatur-literatur Ahlu Sunnah yang mereka pedomani. Begitupun dari berbagai jalur yang tidak bisa diragukan lagi."35 Saya katakan : Pertama: Insya Allah, kita akan melihat hujah yang dipakai oleh orang-orang Rafidhah, sanad-sandnya dan tingkat keshahihannya agar kita mengetahui riwayat yang shahih dan yang palsu. Kedua: Bahwa hadits-hadits tersebut diriwayatkan dari berbagai jalur yang tidak bisa lagi diragukan. Ini sangat mengherankan, karena yang dimaksud At-Tijani adalah bahwa hadits-hadis tersebut mutawatir.36 Apakah semua hadits yang diriwayatkan tentang Ali sampai kepada tingkat mutawatir? Kita lihat nanti!! saya mengatakan demikian karena walaupun saya bersumpah didepan Kabah bahwa At- Tijani mengatakan sesuatu yang ia tidak mengerti dan dia tidak memahami sedikitpun tentang dasar-dasar ilmu hadits pasti saya tidak melanggar sumpah !!. Ia melanjutkan perkataanya, "Hadits-hadits" tentang keutamaan Ali telah diriwayatkan oleh sebagian besar sahabat hingga Ahmad bin Hambal berkata, "Kalangan shahabat tidak meriwayatkan keutamaan-keutamaan layaknya apa yang mereka riwayatkan tentang Ali bin Abi Thalib." Al-Qadhi Ismail, An-Nasai dan Abi Ali Al-Anshari mengatakan, "Tidak ada hadits dengan sanad yang baik yang menerangkan tentang keutamaan sahabat layaknya keutamaan Ali.37 Jawaban saya : 34 Lihat apa yang telah kami sebutkan dalam masalah keutamaan Abu Bakar dalam kitab-kitab Ar- Rafidhah dan lewat statemen-statemen para Imam Itsna Asyariah 35 Tsumma Ihtadait 36 Hadits Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang yang mustahil bagi mereka untuk berbohong. 37 Tsuma Ihtadait, hal: 141 1
  16. 16. Polemik Sunni dengan Syi’ah Pertama: Yang dimaksudkan bukanlah banyaknya hadits-hadits tentang keutamaanPick the] Ali, tetapi yang dimaksud adalah banyaknya perawi-perawinya. Artinya adalah [date bahwa perawi-perawi hadits banyak meriwayatkan keutamaan Ali, baik yang shahih maupun yang palsu, hingga satu hadis saja mempunyai banyak sanad seperti hadits: ُ َ ْ َ ٌُ ِ َ َ ُ َ ْ َ ُ ْ ُ ْ َ ‫من كنت موله فعلي موله‬ "Siapa yang menjadikan aku tuannya (pemimpinnya) maka Ali juga adalah tuannya (pemimpinnya)." Hadits ini banyak sekali jalurnya padahal haditsnya cuma satu. Ini terjadi karena wafatnya Ali termasuk belakangan dan banyaknya kejadian-kejadian serta fitnah yang terjadi pada zamannya. Begitupula banyaknya tuduhan-tuduhan yang dialaminya. Olehnya itu, Ibnu Hajar berkata, "Tidak ada hadits dengan kwalitas sanad yang baik yang menerangkan keutamaan sahabat layaknya keutamaan Ali." Kelihatannya yang menyebabkan demikian adalah beliau termasuk sahabat yang wafatnya belakangan dan terjadinya pertentangan-pertentangan yang terjadi pada zamannya hingga ada yang keluar dari jamaah." Itulah yang menyebabkan tersebarnya keutamaan- keutamaan beliau dibanding dengan keutamaan shahabat lainnya sebagai wujud penolakan terhadap orang-orang yang berbeda dengan beliau.38 Kedua: Sebagai tambahan pembahasan sebelumnya, bahwa tidak semua hadits- hadits yang diriwayatkan tentang keutamaan Ali adalah shahih. Az-Zahabi berkata dalam kitab Talkhis Al-Maudhuaat, "Tidak ada hadits yang diriwayatkan tentang keutamaan sahabat yang menandingi banyaknya hadits-hadits tentang keutamaan Ali, yang mana ia tebagi dalam tiga kategori: Shahih dan hasan serta dhaif, yang terakhir ini sangat banyak. Bagian lain adalah hadis maudhu ( palsu ) dan itu sangat banyak, bahkan sebagian termasuk menyesatkan dan zindiq."39 Jadi tidak semua hadits yang diriwayatkan tentang keutamaan Ali itu shahih, tetapi pembohong-pembohong itulah yang banyak memalsukan hadits-hadits tentang keutamaan Ali. Hal ini diperkuat oleh Imamiyyah, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abi al-Hadid yang beraliran Syiah, "Asal mula kebohongan dalam hadits-hadits tentang keutamaan sahabat adalah orang- orang Syiah, merekalah yang pada awalnya yang membuat hadits yang berbeda-beda tentang keutamaan Ali. Yang menyebabkan mereka berbuat demikan adalah kebencian terhadap lawan-lawan mereka."40 Al-Kabsy mengakui hal tersebut ketika menulis dalam bukunya "Rijal Al-Kasyi" dari Abu Maskan, dari orang-orang yang meriwayatkan darinya, dari sahabat-sahabat kami yang dari Abu Abdullah a.s. ia berkata, "Saya mendengarnya berkata, "Allah Swt melaknat Mughirah bin Zaid. Ia pernah membuat kebohongan atas nama ayahku. Allah membuatnya merasakan panasnya besi.41 Ia juga menulis hadits dari Yunus, ia berkata, "Saya berangkat ke Irak lalu kutemukan disana sekelompot sahabat Abu Jafar a.s. dan saya juga temukan 38 Fathul Bari, juz 7, hal: 89. 39 Lihat: catatan kaki kitab: As-Shawaiq Al-Muharrifah, hal: 186 40 Syarh Nahjul balaghah, Ibnul Abi Al-Hadid, juz 3, hal:17, cetakan Darul Fikir 41 Rijalul Kasyi, hal: 195 1
  17. 17. Polemik Sunni dengan Syi’ah sahabat Abu Abdullah yang begitu banyak. Lalu saya dengar hadits-hadits dariPick the] mereka dan mengambil kitab-kitabnya. Setelah itu saya tunjukkkan kepada Ali Abul [date Hasan ar-Ridha a.s, ternyata ia menolak banyak hadits yang terdapat didalamnya yang berasal dari Abu Abdullah a.s. lalu ia mengatakan kepadaku, "Abu Khattab berbohong atas nama Abu Abdullah a.s., Allah swt melaknat Abu Khattab demikian pula sahabat-sahabatnya. Mereka menyisihkan dan memasukkan hadits-hadits tersebut dalam kitab sahabat-sahabat Abu Abdullah hingga hari ini."42 Apakah masih ada yang ragu setelah penjelasan ini?! bahwa banyak sekali hadits-hadits tentang keutamaan Ali adalah kebohongan dari orang-orang yang merasa sekelompok dengan beliau! dan literatur yang kalian jadikan rujukan, justeru kami pakai untuk menyerang kalian. Ketiga: At-Tijani berusaha membuat pembaca menjadi bingung dengan mengangkat perkataan imam Ahmad bahwa beliau melihat Ali lebih utama dibanding Abu Bakar dan Umar. Padahal sebenarnya imam Ahmad berpendapat bahwa orang yang paling utama setelah Rasulullah Saw adalah Abu Bakar dan Umar. Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata, "Saya dengar ayahku berkata, "Adapun masalah siapa yang lebih utama, maka saya katakan, "Abu Bakar kemudian Umar, lalu Usman kemudian Ali."43 Ia juga berkata, "Saya pernah bertanya kepada ayahku tentang keutamaan antara Abu Bakar, Umar, usman dan Ali r.a.?" Ia lalu menjawab, "Abu Bakar kemudian Umar, kemudian usman lalu Ali, khalifah keempat dari khulafa ar- rasyidin." Saya berkata kepada ayahku, "Ada sekolompok orang yang mengatakan bahwa Abu Bakar bukanlah khalifah? Ia menjawab, "Itu adalah perkataan buruk."44 Dalam kitab Masail Ibnu Hani ia berkata, "Saya dengar Abu Abdullah mengatakan tentang keutamaan, "Abu Bakar kemudian Umar kemudian usman. Kalau ada yang mengatakan setelah itu Ali maka saya tidak membentaknya." Kemudian anaknya bertanya kepadanya tentang kekhlifahan, "Saya bertanya kepada ayahku tentang kekhalifaan?" Ia menjawab, "Abu Bakar kemudian Umar, kemudian usman lalu Ali."45 inilah pendapat imam Ahmad tentang keutamaan dan kekhalifahan. At-Tijani melanjutkan, "Adapun tentang Abu Bakar, saya juga sudah menelusuri dalam literatur kedua belah pihak tapi saya tidak menemukan dalam literatur Ahlu Sunnah yang mengakui keutamaannya yang bisa menandingi atau menyamai keutamaan imam Ali."46 Jawaban saya: "Penelusuran At-Tijani tidak bisa dijadikan pegangan karena saya yakin sepenuhnya bahwa dia tidak objektif. Walaupun ia mengklaim dirinya objektif. Belum lagi ia tidak bisa membedakan antara hadits Mutawatir dan hadits maudhu (palsu ) !! Saya juga mengerti kenapa ia beberapa kali menolak pendapanya sendiri. 42 Ibid 43 As-Sunnah, Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, juz 2,no. 1347, hal: 573 44 Ibid, juz 2, no. 1349, hal: 574 45 Masail Ibnu Hani, juz 2, hal: 169,. Lihat: Al-Masail Wa Ar-Rasail yang diriwatkan oleh imam Ahmad, yang dikumpulkan oleh Abdul Ilah Al-Ahmadi, juz 1, hal: 385 46 Tsumma Ihatadait, hal: 141 1
  18. 18. Polemik Sunni dengan Syi’ahPick the] [date Padahal baru saja ia menulis "Syiah dan Sunni sepakat atas kekhalifahan Ali r.a. sebagaimana dalam literatur kedua golongan tersebut." Sekarang perhatikan! Bukankah tidak ada yang mengakui kekhalifahan Abu Bakar kecuali kelompok tertentu dari kalangan umat Islam. Coba lihat pembaca sekalian! kemudian perhatikan perkataan dia selanjutnya: "Adapun mengenai Abu Bakar, saya telah menelusuri litertur kedua kelompok, tapi saya tidak menemukan dalam literatur Ahlu Sunnah yang menjelaskan keutamaan Abu Bakar dan penghormatan Ahlu Sunnah Wal Jamaah terhadap kekhalifahan Abu Bakar yang bisa menandingi kekhalifaan Ali." Saya katakan kepada At-Tijani, "Kelompok manakah yang Anda pilih? Apakah Ahlu Sunnah yang telah sepakat atas kekhalifahan Ali atau Ahlu Sunnah yang mengakui kemuliaan Abu Bakar!?" Oleh karenanya, saya menasehati Anda, mudah- mudahan Anda mempertimbangkan dengan bijak, ketika anda mencetak buku ini selanjutnya, hendaklah mengoreksi spesialisasi Anda dengan menulis di sampul depan "Tsumma ihtadaitu" karangan DR. Muhammad At-Tijani Al-Samawi, doktor dibidang ilmu semrawut." Kemudian ia berkata, "Walaupun Abu Bakar adalah khalifah pertama dan ia memiliki peran besar yang tidak asing lagi bagi kita, walaupun Daulah Umayyah memberikan paket khusus dan sogokan terhadap siapa saja yang meriwayatkan keutamaan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, bahkan kalaupun Daulah sengaja mengarang-ngarang keutamaan dan kelebihan bagi Abu Bakar yang menghiasi lembaran-lembaran literatur, akan tetapi semua itu tidak dapat mengimbangi keutamaan Ali sedikit pun.47 Komentar saya: "Mudah-mudahan laknat Allah menimpa para pendusta! Bagaimana pembual ini mengetahui bahwa Daulah Umayyah memberikan paket khusus dan sogokan terhadap orang-orang yang meriwayatkan keutamaan Abu Bakar, Umar, dan Usman. Mengapa dia tidak menisbatkan kebohongannya kepada At- Thabari dan Al-Kamil dan literatur sejarah agar ia bisa mempertegas kebenaran ocehannya atau ia hanya menampakkan kedengkian dan kezholimannya terhadap pembesar sahabat dengan membuat kebohongan yang tidak bisa diterima oleh anak kecil, apalagi orang dewasa. Apa dia tidak tahu bahwa periwayat hadits keutamaan Ali adalah sahabat juga? perkataan ini adalah tuduhan terhadap pembesar sahabat yang meriwayatkan hadits bahwa mereka meriwayatkan hadits palsu dari Rasulullah saw. Apakah Al-Quran yang kita warisi dari para sahabat juga penuh kebohongan? semoga Allah melaknat Ar-Rafidah dan koleganya atas tuduhan mereka terhadap para sahabat yang telah menemani Rasulullah saw. Celaan apa lagi yang lebih hebat dari celaan mereka terhadap Rasulullah SAW?! Menurut mereka, sahabat nabi adalah orang-orang zhalim, perampok, munafiq, pengecut, pembohong, suka sogokan dan 47 Tsumma Ihtadaitu, hal. 142-143. 1
  19. 19. Polemik Sunni dengan Syi’ah mengadakan kebohongan terhadap Rasululllah SAW demi mendapatkan harta danPick the] sogokan !!. [date Semoga Allah merahmati Imam Malik ketika ia mengatakan, "Mereka melemparkan tuduhan terhadap para sahabat Rasulullah SAW dengan maksud agar dianggap bahwa Rasulullah SAW adalah orang hina dan sahabatnya adalah orang hina pula, jika seandainya Muhammad adalah orang baik, pastilah sahabatnya orang baik pula.48 Hendaklah pencari kebenaran melihat tuduhan Ar-Rafidah tersebut agar mereka tahu siapa sebenarnya mereka dan yakin bahwa meraka hanyalah perpanjangan tangan Abdullah bin saba, orang Yahudi yang selalu ingin menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Kebohonganpun dilakukan demi menunjukkan kecintaan mereka terhadap Ahlul Bait yang mulia, padahal Ahlul Bait berlepas tangan dari mereka sebagaimana Srigala sama sekali tidak menyentuh darah nabi Yusuf. Selanjutnya orang muharahan ini berkata, "Apalagi jika anda meneliti hadits keutamaan Abu Bakar, maka Anda menemukan ketidak sesuaian dengan apa yang tertulis dalam lembaran sejarah, yaitu bahwa perbuatannya bertolak belakang dengan keutamaan tersebut. Bahkan akal sehat dan agamapun sulit menerimanya. 49 Lihatlah pembaca budiman, orang yang tidak waras dan tidak memahami masalah ini hendak memperselisihkan hal mendasar dalam Islam yang telah kokoh. Ia hendak membedah hadis keutamaan Abu Bakar, padahal ia tidak menelusuri sanad atau matannya. Lalu dengan apa ia bisa membedah hadis tersebut?!. Apa dengan akalnya atau katakanlah dengan segala waktunya dan objektifitasnya. Lalu ia meneliti hadis keutamaan Abu Bakar, padahal hadits tersebut tidak hanya satu. Saya kemudian bertanya-tanya, "Apa ia menanamnya diatas tanah yang subur agar ia bisa melihat apakah tumbuh atau tidak, agar ia lihat seberapa jauh tingkat keshahihannya, atau mungkin ia hendak mencelupnya dengan kebohongan lalu ia menghiasinya dengan permainan Dajjal. Lalu ia tinggal menunggu hasilnya." Ia berkata, "Telah dijelaskan pada hadits yang berbunyi: "Jika seandainya keimanan Abu Bakar ditimbang dengan keimanan semua umatku, niscaya keimanan Abu Bakar masih lebih berat ." Jika seandainya Rasulullah saw mengetahui posisi Abu Bakar yang sedemikian itu, maka tidak mungkin Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid menjadi panglima pasukan yang Abu Bakar salah diantaranya, dan tidaklah Rasulullah saw menolak untuk menjadi saksi atasnya sebagaimana Rasulullah saw menjadi saksi terhadap syuhada Uhud. Belaiu berkata kepadanya, "Saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah aku tiada nanti", hinggga Abu Bakarpun menangis.50 Jawaban saya, "Pandangan ini telah saya jawab di beberapa tempat di buku ini. Jadi silahkan Anda periksa kembali." Sayapun menjelaskan bahwa dia sebenarnya tidak menjelaskan hadits-hadits tersebut sebagaimana ia katakana disini, akan tetapi 48 Al-Fatawa Al-Iraqiyyah, karangan Ibnu Taimiyyah, hal.157. 49 Tsumma Ihtadaitu, hal. 143. 50 Ibid. 1
  20. 20. Polemik Sunni dengan Syi’ah ia malah menghalalkan dan mengharamkan. Apalagi ia beberapa kali merubah nashPick the] hadits ini. Disini ia menulis: "..dan beliau (Rasulullah) mengatakan kepadanya, "saya [date tidak tahu apa yang akan terjadi setelah aku tiada!" Padahal Rasulullah saw mengatakan saya tidak tahu apa yang akan kalian lakukan setelah aku tiada." dengan redaksi yang menujukkan "kalian" tapi saya katakan, "Kedengkian mengalahkan objektifitas. Ia menambahkan, "Dan tidak pula Rasulullah saw mengutus Ali bin Abi Thalib di belakangnya untuk mengambil surah At-Taubah dari Abu Bakar dan Rasulullah saw melarang ia untuk menyampaikannya."51 Saya katakan, "ini adalah kebohongan yang nyata! Karena Rasulullah saw tidak melarang Abu Bakar untuk menyampaikan surah At-Taubah, Sebagaimana pandangan At-Tijani dan tidak disebutkan dalam hadits dengan redaksi yang demikian. Padahal sudah diketahui secara pasti bahwa Rasulullah saw menjadikan Abu Bakar sebagai pemimpin kelompok yang akan menunaikan haji pada tahun kesembilan hijriyah." At-Tabari tidak meriwayatkan hadits ini, begitupun Ishak dalam musnadnya, An-Nasai dan Ad-Darimi juga tidak meriwayatkan dari keduanya, Ibnu Khusaimah dan Ibnu Hibban tidak mensahihkannya. Dari Ibnu Juraij, Abdullah bin Usman bin Qasim bercerita kepadaku, dari Zubair dari Jubair bahwa Rasulullah saw ketika pulang dari umrah Jiranah mengutus Abu Bakar bersama rombongan untuk berhaji, maka kami berangkat bersamanya. Ketika kami dekat dengan Al-Araj dan waktu subuh hampir tiba, tiba-tiba terdengar langkah kaki unta Nabi saw. Ternyata Ali yang mengendarainya. Abu Bakar lalu berkata kepadanya, Anda diutus sebagai pemimpin atau sekedar utusan saja?" Ia menjawab, "Rasulullah saw mengutusku untuk menyampaikan surah At-Taubah kepada penduduk Mekkah, maka kami tiba di Mekkah. Ketika sehari sebelum hari Tarwiyah, Abu Bakar berkhutbah di depan penduduk. Setelah selesai, Ali lalu membacakan surah At-Taubah sampai habis. Begitupula ketika hari Nahar dan Nafar.52 Abu Bakar ketika itu mengumumkan, "orang-orang musyrik tidak dibolehkan lagi menunaikan haji tahun depan dan tidak boleh lagi tawaf sambil telanjang." Bahkan Abu Bakarpun meminta kepada sahabat-sahabatnya untuk mengumumkan hal yang sama. Hadits ini diperkuat lagi dengan riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah ia berkata, "Abu Bakar mengutus saya pada musim haji tersebut bersama para sahabat- sahabat yang lain untuk mengumumkan hal tersebut pada hari an-Nahr di Mina bahwa orang-orang musyrik tidak diperkenankan lagi menunaikan haji tahun depan dan tidak boleh lagi thawaf sambil telanjang." Humaid berkata, "Lalu Rasulullah saw membonceng Ali bin Abi Thalib dan memintanya membaca surah At-Taubah." Abu Huraiah melanjutkan, "Ia pun mengumumkan hal tersebut kepada penduduk Mina pada hari An-nahar sambil membacakan surah At-Taubah dan tidak boleh lagi orang musyrik haji tahun depan dan tawaf sambil telanjang."53 51 Ibid. 52 Fathul Bari, jilid 8, hal. 171. 53 Shahih Bukhari, jilid 4, bab : Tafsir No. 4738. 1
  21. 21. Polemik Sunni dengan Syi’ah Komentar saya, "Rasulullah saw membonceng Ali hanya karena hal ini tidakPick the] boleh disampaikan oleh selain Rasulullah saw atau salah seorang dari keluarganya." [date Sebagaimana riwayat At-Tabrani dari Abu rafi ia mengatakan, "Tidak boleh ada yang menyampaikan kecuAli kamu atau salah seorang dari keluargamu.54 Jadi Rasulullah saw mengutus Ali hanya karena hal tersebut dan sama sekali bukan melarang Abu Bakar menyampaikannya. Padahal Abu Bakarlah yang diminta oleh Rasulullah saw memimpin rombongan tersebut dan Ali salah seorang anggota rombongan. Adapun perkataan At-Tijani : tentu Rasulullah saw tidak mengatakan pada hari penyerahan bendera perang badar : bendera ini akan kuserahkan besok kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan iapun dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, ia banyak menyerang musuh dan tidak pengecut dalam perang. Hatinya penuh dengan keimanan. Lalu Rasulullah saw menyerahkan bendera itu kepada Ali bukan kepada Abu Bakar.55 Kemudian ia menisbatkan periwayatannya ke Shahih Muslim Saya menjawab : hadis ini tidak saya temukan dalan Shahih Muslim dengan redaksi yang demikian, tapi yang ada dalam Shohih Muslim adalah hadis riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw berkata pada hari haibar : akan aku serahkan bendera ini kepada orang yang mencintai Allah dan rasul-Nya dan Allah akanmembukakan sebuah negeri dengan perantaraannya. Umar bin khattab berkata : saya tidak pernah menginginkan kepemimpinan kecuali hari itu. ia melanjutkan : lalu saya berlomba untuk mendapatkan bendera itu dengan harpan agar aku yang dipercayakan . lanjut Umar : lalu Rasulullah saw memanggil Ali bin Abi Tholib dan menyerahkan bendera itu kepadanya sambil bersabda : majulah dan jangan menoleh hingga Allah membukakan khaibar untukmu. Umar melanjutkan : maka Ali maju tanpa menoleh dan berteriak : ya Rasulullah saw , dengan apa aku memerangi mereka ? Rasulullah saw menjawab : perangilah mereka hingga mengucapkan la ilaha iallallahu muhammadun Rasulullah saw. Jika mereka menerima itu maka darah dan hartanya haram kalian sentuh kecuali dengan cara yang benar dan Allahlah yang akan menghisab mereka.56 Hadits ini menjelaskan keutamaan Ali bin Abi Tholib r.a tetapi tidak sedikitpun mengurangi keutamaan Abu Bakar. Benderapun tidak berada dalam genggaman Abu Bakar hingga ia harus menyerahkan kepada Ali. Tidak masuk akal jika Abu Bakar dikhususkan dengan suatu keutamaan tanpa menyertakan sahabat yang lain dan memonopoli semua keistimewaan, sementara sahabat yang lain tidak memeiliki keistimewaan apapun. Bahkan seandainya kemuliaan itu diberikan kepada seseorang selain Abu Bakar maka hal itu menjadi penghinaan terhadap dirinya. Padahal sabda nabi berbunyi " saya akan serahkan bendera ini kepada orang yang Allah akan membuka suatu negeri dengan tangannya, ia mencintai Allah dan rasul-Nya " Tidak ada keraguan bahwa ini merupakan keutamaan Ali, tetapi orang berakal tidak mengatakan bahwa itu khusus untuk Ali, atau dengan kata lain : karena ia 54 Fathul bari, jilid 8, hal. 169. 55 Tsumma Ihtadaitu, hal. 143. 56 Shahih Muslim beserta Syarahnya, bab : Keutamaan sahabat. No. 2405. 1
  22. 22. Polemik Sunni dengan Syi’ah mencintai Allah dan rasul-Nya maka sahabat yang lain tidak mencintai Allah danPick the] rasul-Nya. Bahkan jelas sekali Rasulullah saw menetapkan keutamaan kepada [date Abdullah bin Himar padahal ia pernah berbuat dosa dengan meminum khomar beberapa kali. Lalu tiba-tiba seseorang berkata : laknatlah ia ya Allah. Sering sekali ia berbuat demikian. Rasulullah saw langsung menimpali : jangan kalian melaknatnya. Demi Allah, ia mencintai Allah dan rasul-Nya.57 Apa orang waras mengatakan bahwa keutamaan ini khusus untuknya ? padahal sudah masyhur bahwa sahabat nabi begitu banyak. Tentu tidak bisa diterima jika semua persoalan, pujian dan keutamaan dikhususkan kepada seorang sahabat saja .akan tetapi semua sahabat adalah orang terdekat Rasulullah saw. Masing-masing punya tempat disisi Rasulullah saw .Tidak ada keraguan bahwa orang-orang yang Allah akui sebagai sahabat Rasulullah saw semuanya mencintai Allah dan rasul-Nya . Olehnya itu berhujjah dengan hadis ini demi mengunggulkan Ali atas Abu Bakar adalah batil. Sayapun tidak lupa mengingatkan At-Tijani bahwa perawi hadis ini adalah seorang sahabat yang mulia. Abu hurairah yang anda tuduh seagai pemalsu hadis tentang keutamaan Abu Bakar dan termasuk sahabat yang memiliki rasa dendam terhadap Ali. Bagaimana anda memadukam periwayat hadis keutamaan Ali ( Abu huraira ) dengan tuduhan anda terhadap dirinya akan kebohongan dan kedengkian kepada Imam Ali?! Adapun pekataannya : seandainya Allah mengetahui keimanan Abu Bakar yang demikian dan melampaui keimanan para sahabat lainnya, tentulah Rasulullah saw tidak mengingatkan akan terhapusnya pahalanya jika mengeraskan suaranya lebih dari Rasulullah saw.58 Saya jawab : ayat ini turun untuk menjelaskan kepada para sahabat dan semua orang muslim tentang adab-adab bersama Rasulullah saw dan tatacara memuliakan beliau . ayat inipun umum maknanya sampai ada yang mengkhususkannya . bagaimana mungkim seorang At-Tijani mengklaim bahwa Allah mengancam Abu Bakar dengan terhapusnya pahalanya. Padahal sangat jelas bahwa seba turunnya ayat ini banyak, diantaranya adalah bahwa Abu Bakar dan Umar saling bersitegang tentang suatu, masalah hingga ayat ini turun dan diawali dengan ( wahai orang-orang beriman…) dari sini kita tahu bahwa turunnya ayat ini dengan tujuan mendidik para sahabat tentang masalah ini, agar mereka tampil sebagai orang-orang yang terbaik dalam menemani Rasulullah saw. Ayat ini sama sekali tidak dikhususkan untuk Abu Bakar . pada riwayat muslim dijelaskan bahwa ayat ini turun untuk Tsabit bin Qais. Anas bin Malik berkata : ketika ayat ini turun Tsabit bin Qais duduk dan berkata : saya termasuk ahli neraka. Dan ia berusaha menghindari nabi. Lalu Rasulullah saw bertanya kepada Saad bin Muaz : wahai Abu amr, apa yang terjadi pada Tsabit ? apa ia mengeluhkan sesuatu ? Saad menjawab : saya bertetangga dengannya tapi saya tidak tau kalau dia ada masalah. Ia berkata : maka saad menemuinya dan menyampaikan perkataan Rasulullah saw. Maka stsabit berkata : ayat ini turun dan 57 Shaih Bukhari, bab : Hudud, Sub bab : apa yang tidak dibolehkan terhadap orang yang melaknat peminum khamer. No. 6398. 58 Tsumma Ihtadaitu, hal. 143. 1
  23. 23. Polemik Sunni dengan Syi’ah kaliantahu bahwa suara sayalah pAling tinggi disisi Rasulullah saw, olehnya itu sayaPick the] adalah ahli neraka. Saadpun menyampaikan hal itu kepada rasulillahsaw lalu beliau [date bersabda : dia ahli sorga.59 Lalu bagaimana dengan Abu Bakar yang Rasulullah saw telah mengimpormasikan berkali-kali sebagai ahli sorga. Apalagi dialah yangpertama menerima ajakan dan tarbiyah ilahiyyah ini. Al-Hakim dan Ibnu Mardawaih telah meriwayatkan hadis secara bersambung sandnya dari jalur Ibnu Syihab dari Abu Bakar ia berkata : ketika surah Al-Hujurat ayat 2 turun, Abu Bakar mengatakan : ya Rasulullah saw, saya bersumpah untuk berbicara denganmu layaknya saudaraku yang paling dekat.60 Singkat kata, bahwa Abu Bakar assidiq bukanlah orang yang bersih dari kesalahan tetapi ia juga kadang benar dan kadang pula salah. Ia ditegur karena kesalahannya, .Al-Quranlah yang mentarbiahnya dan Rasulullah sebagai murabbinya. Hal ini adalah sanjungan untuknya dan bukanlah berupa celaan. Demikianlah seharusnya kita memahaminya. Ia kemudian mengulangi hal yang telah dijawab sebelumnya dengan mengatakan : dia tentu tidak membakar Al-fujaah As-salmi.61 saya katakan : Demi Allah mengherangkan sekali kelakuan orang-orang cebol itu yang berhujjah dengan sesuatu yang justru menyerang pendapatnya sendiri .karena penyiksaan dengan api yang dilakukan oleh Ali lebih hebat daripada Abu Bakar. Dan telah jelas didalam hadits shahih bahwa Ali mengumpulkan orang-orang zindiq dari kelompok ekstrim syiah dan membakar mereka dengan api . ketika Ibnu abbas mendengar kejadian itu ia berkata : jika saya adalah Ali pasti saya tidak membakar mereka dengan api karena Rasulullah saw melarang menyiksa seseorang dengan api ekan tetapi saya akan menebas leher mereka sebagaimana sabda nabi: ‫من بدل دينه فاقتلوه‬ " Siapa yang murtad maka bunuhlah" ketika mendengar komentar Ibnu abbas tersebut, ia berkata : celakalah Ibnu al- fadl, betapa ia dalam malapetaka. Ali telah membakar sekolompok orang dengan api. Jika saja perbuatan Abu Bakar tersebut sesuatu yang tercela maka perbuatan Ali lebih tercela lagi. Jika perbuatan Ali menurut ulama sesuatu yang tidak perlu dicela, apalagi perbuatan Abu Bakar.62 Adapun perkataan At-Tijani bahwa Abu Bakar pada hari tsaqifah menyerahkan keputusan kepada dua orang,Umar atau Abu Ubaidah.63 Saya katakan : masalah ini telah dijawab oleh Ibnu hajar dalam kitabnya fathul bari dengan menjelaskan : perkataan ini bermasalah karena beliau tahu dialah pAling berhak menjadi khalifah. Pengangkatannya sebagai Imam sholat adalah bukti paling kuat. Abu Bakar mengatakan demikian karena malu untuk mengjukan diri dengan berkata : saya setuju untuk menjadi pemimpin kalian. Apalagi beliau tahu bahwa 59 Shahih Muslim dengan syarahnya, bab : Iman No. 119 jilid 2. 60 Fathul Bari, jilid 8 hal. 456. 61 Tsumma Ihtadaitu, hal. 143. 62 Al-Minhaj, jilid 5, hal : 495-496. 63 Tsumma Ihtadaitu, hal. 143. 1
  24. 24. Polemik Sunni dengan Syi’ah Umar dan Abu ubadah pasti tidak menerima pencalonan itu, bahkan Umar sudahPick the] menyatakan penolakannya dalam hadis tadi, lebih-lebih Abu ubadah, karena [date keutamaannya dibawah Umar menurut ijma ulama. Cukuplah bagi Abu Bakar ketika ia menjatuhkan pilihan bagi dirinya tanpa ada yang menolak sedikitpun. Itu menunjukkan bahwa dialah paling berhak menjadi khilafah. Kini jelaslah bahwa perkatan Abu Bakar tadi tidaklah menunjukkan ia berlepas tangan dari pencalonan khilafah tersebut.64 Ditempat lain, At-Tijani juga menulis : orang-orang syiah berpegang teguh dengan perkataan Abu Bakar ( aku rela kalianmemilih salah seorang dari kedua oang ini ) bahwa Abu Bakar tidak meyakini kekhalifaannya dan haknya sebagai khalifah. Jawaan tentang masalah ini bisa dilihat dari beberapa segi : Pertama : bahwa hal tersebut menunjukkan betapa tawadhunya Abu Bakar. Kedua : hal itu terjadi karena Abu Bakar melihat bahwa sahabat lain bisa menjadi khalifah walaupun pembesar sahabat masih ada. Atau jika kekhalifaan itu adalah hak Abu Bakar,berarti beliau berhak untuk menyerahkan kepada yang lain. Ketiga : beliau ykin bahwa kedua sahabatnya itu tidak mungkin ada yang mau menerima hal itu. Dengan ini beliau meu menunjukkan bahwa seandainya dia tidak ada, maka keduanyalah yang berhak menjadi khalifah. Karena itulah, ketika Abu Bakar wafat, ia menyerahkan kekhalifaan kepada Umar, karena Abu ubaidah disibikkan oleh jihad di negeri syam. Perkataan Umar yang berbunyi :( lebih baik aku tampil kedepan kemudian leherku ditebas dengan pedang daripada mendahului Abu Bakar.) Menunjukkan benarnya kemungkinan tersebut.65 Kemudian At-Tijani melanjutkan : orang yang memiliki keimanan demikian atau bahkan keimanannya melibihi iman seluruh umat islam tidak mungkin menyesal pada akhir hayatnya akan sikapnya terhadap fatimah, keputusannya membakar alfujah assalmi dan pengangkatannya sebagai khalifah. Juga ia tidak akan menyesal dilahirkan sebagai manusia, bahkan ia berharap untuk menjadi sehelai rambut atau segumpalan kotoran unta saja. Apa mungkin keimanan orang seperti ini mengimbangi semua keimanan seluruh orang islam apalagi menlebihinya.66 Saya yakin telah menjawab denan tuntas masalah ini sebelumnya. Masalah yang sangat menggelikan adalah seringnya At-Tijani mengulang perkataannya, seolah-olah ia sendiri kurang yakin dengan tulisannya, atau ia mengira sidang pembaca kurang pemahaman hingga ia mengulang-ulan suatu permasalahan agar mereka memahaminya. Ia kemudian melanjutkan : jika kita melihat hadis yang berbunyi : ‫لو كنت متخذا خليل لتخذت أبا بكر خليل‬ Jika seandainya aku mengambil teman, pastilah aku memilih Abu Bakar" Maka sama saja dengan sebelumnya. Dimana Abu Bakar ketika di mekah diadakan hari persaudaraan sebelum hijarah ? begitupun hari persaudaraan yang diadakan di 64 Fathul Bari, jilid 7 hal. 38-39. Bab : keutamaan sahabat. 65 Ibid, jilid 12, hal. 162 Bab : Hudud. 66 Tsumma Ihtadaitu, hal. 143-144. 1
  25. 25. Polemik Sunni dengan Syi’ah madinah setelah hijrah. padahal Rasulullah saw menjadikan Ali bin abi tholib sebagaiPick the] teman pada kedua hari itu, bahkan ia mengatakan kepadanya : [date ‫انت اخي في الدنيا والخرة‬ "engkaulah sahabatku di dunia dan di ahirat" dan Rasulullah saw mengacuhkan Abu bkar dan tidak menjadikannya saudara di akhirat kela sebagaiman tidak dijadikannya teman didunia ini. Saya tidak mau berpanjang lebar dalam masalah ini, cukuplah dua contoh tadi yang barasal dari literature Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Adapun orang-oarang syi ah, mereka sama sekali tidak mengenal hadis tersebut karena mereka memiliki bukti kongkrit bahwa hadis-hadis tersebut ditulis setelah Abu Bakar wafat.67 Pertama : jika kita menrima klaim At-Tijani bahwa : Abu Bakar tidak ada ketika kedua hari persaudaraan tersebut diadakan dan ketika rsulullah menjadikan Ali sebagai saudara. Apa mungkin hal tersebut membatalkan hadis nabi tentang keutamaan Abu Bakar ? atau haruskah Rasulullah saw menyebutkan semua keutamaan tersebut kepada seoarang sahabat seperti Abu Bakar tanpa yang lain, hingga ketika Rasulullah saw menyebutkan sebuah hadis keutamaan seseorang seperti Ali maka batallah hadis-hadis keutamaan Abu Bakar ?!. Kedua : hadis shohih dikenal dengan dengan dua segi, yaitu sanad dan matannya. Adapun hadis rasululllah saw yang menjadikan Abu Bakar sebagai saudara, tidak bisa ditolak dari segi matan karena Abu Bakar telah menemani Rasulullah saw sejak awal kerasulannya hinga beliau wafat. Bahkan Rasulullah saw tidak bisa mendapatkan teman duduk layaknya Abu Bakar.68 Jadi Abu Bakar berhak dengan kedudukan istimewa ini. Adapun dari segi sanad, keshahihannya tidak diragukan lagi karena dirawayatkan oleh sekelompok sahabat dalam kumpulan hadis- hadis shahih dengan sanad yang bersambung, terpercaya, jauh dari cacat dan berbagai pertentangan. Ketiga : adapun tentang hari persuaraan itu ternyata hanyalah kebohongan. Hadis yang dijadikan At-Tijani sebagai sandaran " engkau sahabatku didunia dan di akhrat " adalah hadis palsu, diriwayatkan oleh Imam at-tirmidzi, Ibnu adi dan al- hakim, semuanya dari jalur hakim bin jubair dari jami bin umair. Padahal hakim bin jubair lemah dan jami bin umair pendusta.. Ibnu hibban mengatakan : ia seoarang rafidoh dan pemalsu hadis. Ibnu numair berkata : dia adalah pembohong besar.69 Ibnu taimiyyah mengatakan bahwa hadis-hadis tentang persaudaraan Ali semuanya palsu.70 67 Tsumma Ihtadaitu, hal. 144. 68 Ini adalh penggalan dari hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas tenang perkataan Ali bin Abi Thalib, ……saya sering dengar Rasulullah saw bersabda : ‫.ذهبت أتا وأبوبكروعمر, ودخلت أنا وأبوبكروعمر, خرجت أنا وأبوبكر وعمر‬ )saya pergi bersama Abu Bakar dan Umar, saya masuk bersama Abu Bakar dan Umar, saya keluar bersama Abu Bakar dan Umar ) dan hadis Aisyah : tidak seharipun kecuAli Rasulullah saw menjenguk kami tiap pagi maupun sore. Shaih Bukhari, kitab : keutamaan sahabat. No. 3692. 69 Mizan Al-Itidal. Karangan Az-Zahabi. Jilid 1, hal. 421 No. 1552. 70 Al-Minhaj jilid 7 hal. 361. lihat pula silsilah hadis maudhu karangan Al-Albani hal. 355-356. 1
  26. 26. Polemik Sunni dengan Syi’ah Bagaimana mungkin At-Tijani melemahkan hadis Abu Bakar yang shahihPick the] dengan menggunakan hadis palsu?! [date Kemudian ia menulis : adapun orang-orang syi ah, mereka tidak meyakini hadis- hadi tersebut sama sekAli, karena mereka bukti nyata bahwa penulisannya dimulai setelah zaman Abu Bakar.71 Perkataan ini sudah jelas karena tidak mungkin bagi pembual bisa meyakini kebenaran, sebagaimana pepatah berbunyi : kotoran unta menunjukkan adanya onta tersebut. Adapun klaim bahwa hadis tersebut ditulis setelah zaman Abu Bakar dan di jadikan sebagai bukti nyata bagi orang-orang rafidah, disini saya sangat berharap agar mereka bisa membuktikan dengan jelas klaim tersebut agar kami percaya sepenuhnya Ia kemudian mengklaim bahwa Abu Bakar adalah orang bodoh dengan mengatakan : pada kesempatan ini, sejarah telah menginformasikan kepada kita bahwa Imam Ali adalah orang paling pintar dikalangan sahabat. Bahkan mereka semua bertanya kepada Ali tentang persoalan besar yang mereka hadapi. Kitapun tidak menemukan bahwa Ali pernah bertanya kepada salah seorang diantara mereka, bahkan Abu Bakar sendiri mengatakan : Allah swt tidak membiarkan aku menghadapi masalah besar kecuali Ali selalu bersamaku.72 Saya menjawab : ini adalah kebohongan yang nyata, apa ada hadis shahih yang membuktikan hal itu ?. Ahlu Sunnah Wal Jamaah sepakat bahwa sahabat pAling pintar adalah Abu Bakar kemudian Umar. Bahkan ijma ulama tentang hal ini terambil dari kalangan para sahabat. Tidak ada keterangan sama sekAli bahwa Abu Bakar mendapatkan ilmu dari Ali, tapi yang sudah jelas bahwa Alilah yang pernah bertanya kepada Abu Bakar, sebagaimana hadis asma binti al hakam al-fazari ia berkata : saya pernah mendengar Ali pernah berkata : saya beranjak dewasa ketika saya mendengar hadis dari Rasulullah saw, lalu Allah memberikan manfaat kepadaku dengan hadis itu. Jika ada seseoang menyampaikan hadis kepadaku, saya minta ia bersumpah agar aku bisa menerima hadisnya. Ali berkata : Abu Bakar memberitahuku – dan betapa jujur Abu Bakar- ia berkata : saya mendengar Rasulullah saw bersabda : ‫ما من عبد يذنب ذنبا ثيحسن الطهور ثم يقور فيصلي‬ : ‫ركعتين ثم يستغفر ا غفر ا له ثم قرأ هذه الية‬ .........‫والذين إذا فعلوا فاحشة‬ Tiada seorang hamba yang berbuat dosa lalu ia berwudhu dengan baik kemudian melaksanakan shalat dua rakaat kemudian ia minta ampun kepada allah swt niscaya allah akal mengampuninya. Kemudian Abu Bakar membaca ayat : dan orang-orang yang apabila berbuat dosa………73 71 Tsumma Ihtadaitu, hal. 144. 72 Tsumma Ihtadaitu, hal.145-146. 73 Sunan Abi Daud Bab : bagian dari bab witir, No.1521. lihat juga shahih Abu daud No, 1346. 1

×