PEMIKIRAN HUKUM ISLAM 
Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dari Al-qur’an sdan menjadi bagian dari 
agama Islam, sebagai sistem hukum ia mempunyai beberapa istilah kunci yang perlu dijelaskan 
lebih dulu kadang kala membingungkan kalau tidak tahu persis maknanya, dalam kajian 
makalah studi hukum Islam ini penulis akan mengawali pembahasan dari istilah-istilah kunci 
dalan hukum Islam (Syari’ah, Fiqh, Ushul al-Fiqh, Mazhab, Fatwa, Qaul), Islam sebagai norma 
hukum dan etika, mazhab utama dan pendekatan hukum yang mereka pakai terhadap kajian 
hukum Islam sampai kepada disiplin-disiplin utama studi hukum dan cabang cabangnya serta 
yang terakhir mengenai tokoh dan karya terpenting dalam perkembangan mutakhir kajian -kajian 
hukum Islam. Semoga bermanfaat. 
A. PEMIKIRAN HUKUM MADZHAB HANAFI 
a) Riwayat hidup Abu Hanifah 
Imam Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit al-Kufiy merupakan orang yang faqih di 
negara Irak, beliau adalah salah satu dari empat Imam yang mempunyai Madzhab. Di kalangan 
umat Islam, beliau lebih dikenal dengan nama Imam Hanafi. Beliau adalah keturunan Persia 
yang dilahirkan 80 H. 
Abu Hanifah memiliki tinggi badan yang sedang, memiliki postur tubuh yang bagus, 
jelas dalam berbicara, dan selalu memakai wewangian. Beliau wafat bertepatan pada bulan 
Rajab pada usia ke-70 pada tahun 150 H. 
b) Madzhab Imam Hanafi 
Sunni, dan bercorak rasional yang berkedudukan di Kufah. Madzhab fiqh ini dibentuk 
oleh Nu’manbin Tsabit bin Zutha (80-150H), yang populer dengan nama Abu Hanifah. Gelarnya 
ini diberikan oleh masyarakat Kufah karena ketekunannya dalam beribadah, kejujuran serta 
kecenderungannya pada kebenaran. 
Di samping itu, Abu Hanifah juga mempelajari fiqh dengan teori-teori kajiannya dari 
Hammadbin Abu Sulaimansalah seorang ulama’ fiqh dari aliran rasional di Ku fah. Beliau belajar 
dengan Hammad dalam tempo yang tidak kurang dari 18 tahun. 
Pemikiran Hukum Islam yang menjadi objek pencarian Imam Abu Hanifah adalah 
sebagai berikut : 
a. Fiqih Umar bin al – Khathab, yang di dasarkan pada maslahah (Kebaikan umum) 
b. Fiqih Imam Ali bin Abi Thalin, yang didasarkan pada penggalian hukum secara 
mendalam untuk menemukan hakekat – hekekat Syari’ah 
c. Fiqih Abdullah bin Mas’ud, yang didasarkan pada takhrij terhadap berbagai pendapat 
d. Fiqih Abdullah bin Abbas yang didasarkan pada tafsir al – Qur’an.1 
Pemikiran hukum Imam Abu Hanafi adalah sebagai berikut : 
a. Al – Qur’an adalah sumber segala ketentuan syari’ah yang dijadikan rujukan dalam 
proses analogis atau legislasi terhadap berbagai metode kajian hukum yang 
dirumuskan. 
b. Al – Sunnah merupakan sumber hukum kedua setelah Al – Qur’an yang berperan 
sebagai penjelas terhadap berbagai ketentuan hukum dari Al – Qur’an yang masih 
belum jelas maksudnya. 
c. Pendapat sahabat memperoleh posisi yang kuat, karena mereka adalah orang – orang 
yang membawa ajaran Nabi kepada generasi sesudahnya. Ketetapan sahabat itu ada 
dua bentuk, yaitu ketentuan hukum ang ditetapkan dalam bentuk fatwa. 
Ketentuanhukum yang ditetapkan lewat ijma’ mengikat, sementara yang ditetapkan 
lewat fatwa tidak mengikat. 
1 Studi Hukum Islam (Surabaya: UIN Sunan Ampel Press,Tim Penyusun MKD UIN Sunan 
Ampel, 2013), Hlm 179
d. Qiyas dilakukan bila Al – Qur’an dan Al – Sunnah tidak menyatakan secara eksplisit 
tentang kententuan hukum bagi persoalan – persoalan yang dihadapinya. Qiyas adalah 
menghubungkan kasus hukum (furu’) kepada dalil (ashl) yang telah ditetapkan 
hukumnya (hukmashl) dengan melihat kesamaan – kesamaan alasan hukum (‘illat), 
sehingga hukum dalam dalil untuk hukum dalam kasus. 
e. Istihsan diajukan kalau hasil Qiyas itu terlehat kurangsesuai dengan kebutuhan sosial 
dilihat dari sisi kebaikan umumnya.2 
Pengaruh Madzhab Imam Hanafi 
Secara umum murid Imam Abu Hanifah, di bagi menjadi dua kelompok besar, yaitu : 
kelompok yang tidak selalu mendampinginya dan kelompok yang selalu mendampinginya 
(Mulazamah Daimah) sekaligus mengambil ilmu darinya sampai Imam Abu Hanifah meninggal 
dunia. 
Diantara muridnya yang berjasa ada dua orang yaitu Imam Abu Yusuf dan Muhammad 
bin al – Hasan asy – Syaibani. Imam Abu yusuf telah membukukan pendapat – pendapat Imam 
Abu Hanifah dalam karya – karya berikut : 
a. Kitab al – Atsar, kitab ini berisi mengenai fatwa murid sahabat Nabi (Tabi’in) dari 
kalangan akar fiqih daerah Iraq 
b. Ikhlifah ibn Abi Laila, kitab ini berisi peebedaan pendangan hukum antara Imam Abu 
Hanifah dengan Ibn Abi Laila, kitab ini memenangkan pendapat Imam Abu Hanifah. 
c. Ar – Radd ‘ala Siyar al – Auza’i, kita ini berisi pendapat al – Auza’i tentang hubungan 
antara kaum muslimin dan non muslim pada saat perang jihad. 
2 Ibid, Hlm 180 – 183 
d. Kitab al – Kharaj, buku ini berisi sistem keuangan bagi Negara Islam. Imam Abu Yusuf 
kadang – kadang berbeda pendapat dengan gurunya Imam Abu Hanifah, dan kadang – 
kadang membela pendapat gurunya dengan argumentasi yang mendetail.3 
B. PEMIKIRAN HUKUM MADZHAB MALIKI 
a) Riwayat Hidup 
Iman malik adalah pendiri Madzhab Maliki. Terkenal juga dengan sebutan Imam Dar 
Al-Hijrah. Menurut buku ulumul hadist mengatakan “Ia lahir pada tahun 94 H /712 M” tetapi 
pendapat mayoritas adalah beliau lahir pada 93 H4, di kota Madinah daerah Hijaz. Dari riwayat 
ini, ia adalah keturunan Arab dari dusun Dzu Ashbah, sebuah dusun di kota Hamyar.5 Beliau 
Wafat setelah 22 hari didera kesakitan hingga tepat pada hari minggu tanggal 10 rabi’ul awal 
179 Hijaiyyah 800 Miladiyah beliau wafat. 
b) Madzhab Imam Maliki 
Sejak kecil beliau telah rajin menghadiri majelis -majelis ilmu pengetahuan, sehingga 
sejak kecil itu pula beliau telah hafal al-Qur’an. Pada mulanya beliau belajar dari Ribiah, 
seorang ulama’ yang sangat terkenal pada waktu itu. Selain itu, beliau juga mempelajari ilmu 
fiqih dari para sahabat. 
Imam Malik dikenal mempunyai daya ingat yang sangat kuat. Pernah, beliau 
mendengar tiga puluh satu hadits dari Ibn Syihab tanpa menuliskannya. Ketika kepadanya 
diminta mengulangi seluruh hadits tersebut, tak satupun dilupakannya. 
3 Ibid, Hlm 185 – 186 
4 Hukum Islam dan Pranata Sosial (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, Dede Rosyada, 
1995),hlm.179 
5 Ulumul Hadis (Bandung: Cv.Mustika Abadi, M.Agus Solahudin & Agus Suyadi, 2008),hlm. 
224-226
Imam Malik adalah seorang ulama’ yang sangat terkemuka, terutama dalam ilmu hadits 
an fiqih. Beliau mencapai tingkat yang sangat tinggi dalam kedua cabang ilmu itu . Imam Malik 
menulis kitab al-Muwaththa’, yang merupakan kitab hadits dan fiqih. Imam Malik meninggal 
dunia pada usia 86 tahun. 
Berdasarkan pengetahuan dan pengalamnya, pemikiran hukum islam Imam Malik 
cenderung mengutamakan riwayat, yakni mengedepankan hadis dan fatwa sahabat. 
Pemikiran Imam Malik tentang Mashlahah Mursalah (kebaikan yang tidak ditegaskan 
dalam sumber hukum islam) mengemuka. Secara sis tematis, pola pemikian hukum islam Imam 
Malik dapat dikemukakan sebagai berikut : 
a. Al – Qur’an sebagai sumber hukum yang pertama dana berada di atas yang lainnya. 
b. Al – Sunnah merupakan sumber hukum kedua setelah Al – Qur’an, karena fungsinya 
adalah menjelaskan ayat – ayat Al – Qur’an serta menetapkan hukum tersendiri. Imam 
Malik lebih mengutamakan Sunnah Mutawatir, kemudian Sunnah Masyhur. Sedangkan 
Sunnah Ahad ditinggalkan jika bertentangan dengan tradisi masyarakat Madinah. 
c. Tradisi masyarakat Madinah adalah sejumlah norma adat yang ditaati eluruh 
masyarakat kota ini. Oleh karena iitu, tradisi tersebut bisa juga sebagai kesepakatan 
(ijma’) masyarakat Madinah. 
d. Ijma’ seluruh para pakar hukum islam dan pakar lainnya yang bekaitan dengan masalah 
umat. Ijma’ seringkali terjadi ketika masalah – masalah tidak memiliki pijakan dalam 
sumber hukum al – qur’an dan sunnah Nabi. Ijma’ juga diperlukan untuk menjelaskan 
sumber hukum tersebut. 
e. Fatwa sahabat yang dipandang oleh Imam Malik sebagai hadis. Namun, hadis seperti 
ini lemah, karena sanadnya terhenti pada sahabat. Oleh karena itu, kalau bertentangan 
dengan hadis marfu’ (langsung bersumber dari Nabi), otomatis hadis – hadis tersebut 
tertolak. 
f. Qiyas, bagi Imam Malik mencakup tiga hal. Pertama, menyampaikan hukum kasus 
dengan sumber hukum karena terdapat alasan yang sama (Qiyas Ishthilahi). Kedua 
menguatkan hukum yang di kehendaki oleh kebaikan individu atas hukum yang 
dimunculkan oleh Qiyas (Istihsan Ishthilahi). Ketiga, kebaikna umumyang tidaj di 
tegaskan oleh sumber hukum, namun ia ambil untuk menghindari kesulitan (al – 
mashlahah al - mursalah). 
g. Al – Mashlahah al – Mursalah menetapkan hukum untuk kasus hukum dengan 
mempertimbangkan tujuan Syari’ah yakni memelihara agama, jiwa akal, harta dan 
keturunan, yang proses anaisisnya lebih banyak ditentukan oleh nalar pakar hukum 
islam sendiri. 
h. Istihsan, menurut Imam Malik adalah menetapakn hukum berdasarkan kebaikan umum 
(Maslahah) bila ditemukan jawabannya dalam sumber hukum, karena Syariat hanya 
hadir demi kemaslahatan 
i. Sadd al – Dzari’ah (menutup sarana kerusakan) adalah menutup sarana atau jalan 
maksiat atas menimbulkan kerusakan. Imam Malik sering menetapkan hukum dengan 
melihat kemungkinan – kemungkinan akibat yang timbul dari sesuatu perbuatan. 
Pengaruh Madzhab Imam Malik 
Pemikiran hukum Imam Malik dikembangkan kepada generasi selanjutnya melalui dua 
jalan, yaitu melalui kitab yang ditulis Imam Malikterutama al – Muwatha’ serta melalui para 
muridnya. 
Imam Malik tidak pernah meninggalkan Madinah, kecuali untuk menunaikan ibadah 
Haj. Pada saat itu, pengunjung Madinah bertemu dengan Imam Malikyang mengadakan 
pengajian di Masjid nabi dan tertarik untuk mengikuti pengajiannya. 
Imam Malik memiliki murid – murid yang termukadan berperan penting dalam 
penyebaran Madzhab Maliki.
a) Abdullah bin Wahib ia belajar kepada Imam Malik selama 20 tahun dan menyebarkan 
Madzhab Maliki di Mesir. 
b) Abdurrahman bin Qasim ia belajar bersama Imam Malik selam 20 tahun. Ia merupakan 
murid yang palaing berjasa dalam membukukan pendapat Imam Malik juga memiliki 
beberapa pendapat yang berbeda dengan Imam Malik. 
c) Asyhab bin Abdul Aziz al – Qaisi al – Amiri. Ia merupakan murid Imam malik yang 
memiliki hubungan pertemanan akrab dengan Imam Syafi’i. Ia telah menyusun kitab 
yang dinamakan “Mudawwanah Asyhab” atau “Kutub Asyab”. 
d) Asad bin Fuat bin Sinan 
e) Abdul Malik bin al – Majisun. 
f) Imam Syafi’in. Pendiri madzhab Syafi’i.

Untuk presentasi

  • 1.
    PEMIKIRAN HUKUM ISLAM Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dari Al-qur’an sdan menjadi bagian dari agama Islam, sebagai sistem hukum ia mempunyai beberapa istilah kunci yang perlu dijelaskan lebih dulu kadang kala membingungkan kalau tidak tahu persis maknanya, dalam kajian makalah studi hukum Islam ini penulis akan mengawali pembahasan dari istilah-istilah kunci dalan hukum Islam (Syari’ah, Fiqh, Ushul al-Fiqh, Mazhab, Fatwa, Qaul), Islam sebagai norma hukum dan etika, mazhab utama dan pendekatan hukum yang mereka pakai terhadap kajian hukum Islam sampai kepada disiplin-disiplin utama studi hukum dan cabang cabangnya serta yang terakhir mengenai tokoh dan karya terpenting dalam perkembangan mutakhir kajian -kajian hukum Islam. Semoga bermanfaat. A. PEMIKIRAN HUKUM MADZHAB HANAFI a) Riwayat hidup Abu Hanifah Imam Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit al-Kufiy merupakan orang yang faqih di negara Irak, beliau adalah salah satu dari empat Imam yang mempunyai Madzhab. Di kalangan umat Islam, beliau lebih dikenal dengan nama Imam Hanafi. Beliau adalah keturunan Persia yang dilahirkan 80 H. Abu Hanifah memiliki tinggi badan yang sedang, memiliki postur tubuh yang bagus, jelas dalam berbicara, dan selalu memakai wewangian. Beliau wafat bertepatan pada bulan Rajab pada usia ke-70 pada tahun 150 H. b) Madzhab Imam Hanafi Sunni, dan bercorak rasional yang berkedudukan di Kufah. Madzhab fiqh ini dibentuk oleh Nu’manbin Tsabit bin Zutha (80-150H), yang populer dengan nama Abu Hanifah. Gelarnya ini diberikan oleh masyarakat Kufah karena ketekunannya dalam beribadah, kejujuran serta kecenderungannya pada kebenaran. Di samping itu, Abu Hanifah juga mempelajari fiqh dengan teori-teori kajiannya dari Hammadbin Abu Sulaimansalah seorang ulama’ fiqh dari aliran rasional di Ku fah. Beliau belajar dengan Hammad dalam tempo yang tidak kurang dari 18 tahun. Pemikiran Hukum Islam yang menjadi objek pencarian Imam Abu Hanifah adalah sebagai berikut : a. Fiqih Umar bin al – Khathab, yang di dasarkan pada maslahah (Kebaikan umum) b. Fiqih Imam Ali bin Abi Thalin, yang didasarkan pada penggalian hukum secara mendalam untuk menemukan hakekat – hekekat Syari’ah c. Fiqih Abdullah bin Mas’ud, yang didasarkan pada takhrij terhadap berbagai pendapat d. Fiqih Abdullah bin Abbas yang didasarkan pada tafsir al – Qur’an.1 Pemikiran hukum Imam Abu Hanafi adalah sebagai berikut : a. Al – Qur’an adalah sumber segala ketentuan syari’ah yang dijadikan rujukan dalam proses analogis atau legislasi terhadap berbagai metode kajian hukum yang dirumuskan. b. Al – Sunnah merupakan sumber hukum kedua setelah Al – Qur’an yang berperan sebagai penjelas terhadap berbagai ketentuan hukum dari Al – Qur’an yang masih belum jelas maksudnya. c. Pendapat sahabat memperoleh posisi yang kuat, karena mereka adalah orang – orang yang membawa ajaran Nabi kepada generasi sesudahnya. Ketetapan sahabat itu ada dua bentuk, yaitu ketentuan hukum ang ditetapkan dalam bentuk fatwa. Ketentuanhukum yang ditetapkan lewat ijma’ mengikat, sementara yang ditetapkan lewat fatwa tidak mengikat. 1 Studi Hukum Islam (Surabaya: UIN Sunan Ampel Press,Tim Penyusun MKD UIN Sunan Ampel, 2013), Hlm 179
  • 2.
    d. Qiyas dilakukanbila Al – Qur’an dan Al – Sunnah tidak menyatakan secara eksplisit tentang kententuan hukum bagi persoalan – persoalan yang dihadapinya. Qiyas adalah menghubungkan kasus hukum (furu’) kepada dalil (ashl) yang telah ditetapkan hukumnya (hukmashl) dengan melihat kesamaan – kesamaan alasan hukum (‘illat), sehingga hukum dalam dalil untuk hukum dalam kasus. e. Istihsan diajukan kalau hasil Qiyas itu terlehat kurangsesuai dengan kebutuhan sosial dilihat dari sisi kebaikan umumnya.2 Pengaruh Madzhab Imam Hanafi Secara umum murid Imam Abu Hanifah, di bagi menjadi dua kelompok besar, yaitu : kelompok yang tidak selalu mendampinginya dan kelompok yang selalu mendampinginya (Mulazamah Daimah) sekaligus mengambil ilmu darinya sampai Imam Abu Hanifah meninggal dunia. Diantara muridnya yang berjasa ada dua orang yaitu Imam Abu Yusuf dan Muhammad bin al – Hasan asy – Syaibani. Imam Abu yusuf telah membukukan pendapat – pendapat Imam Abu Hanifah dalam karya – karya berikut : a. Kitab al – Atsar, kitab ini berisi mengenai fatwa murid sahabat Nabi (Tabi’in) dari kalangan akar fiqih daerah Iraq b. Ikhlifah ibn Abi Laila, kitab ini berisi peebedaan pendangan hukum antara Imam Abu Hanifah dengan Ibn Abi Laila, kitab ini memenangkan pendapat Imam Abu Hanifah. c. Ar – Radd ‘ala Siyar al – Auza’i, kita ini berisi pendapat al – Auza’i tentang hubungan antara kaum muslimin dan non muslim pada saat perang jihad. 2 Ibid, Hlm 180 – 183 d. Kitab al – Kharaj, buku ini berisi sistem keuangan bagi Negara Islam. Imam Abu Yusuf kadang – kadang berbeda pendapat dengan gurunya Imam Abu Hanifah, dan kadang – kadang membela pendapat gurunya dengan argumentasi yang mendetail.3 B. PEMIKIRAN HUKUM MADZHAB MALIKI a) Riwayat Hidup Iman malik adalah pendiri Madzhab Maliki. Terkenal juga dengan sebutan Imam Dar Al-Hijrah. Menurut buku ulumul hadist mengatakan “Ia lahir pada tahun 94 H /712 M” tetapi pendapat mayoritas adalah beliau lahir pada 93 H4, di kota Madinah daerah Hijaz. Dari riwayat ini, ia adalah keturunan Arab dari dusun Dzu Ashbah, sebuah dusun di kota Hamyar.5 Beliau Wafat setelah 22 hari didera kesakitan hingga tepat pada hari minggu tanggal 10 rabi’ul awal 179 Hijaiyyah 800 Miladiyah beliau wafat. b) Madzhab Imam Maliki Sejak kecil beliau telah rajin menghadiri majelis -majelis ilmu pengetahuan, sehingga sejak kecil itu pula beliau telah hafal al-Qur’an. Pada mulanya beliau belajar dari Ribiah, seorang ulama’ yang sangat terkenal pada waktu itu. Selain itu, beliau juga mempelajari ilmu fiqih dari para sahabat. Imam Malik dikenal mempunyai daya ingat yang sangat kuat. Pernah, beliau mendengar tiga puluh satu hadits dari Ibn Syihab tanpa menuliskannya. Ketika kepadanya diminta mengulangi seluruh hadits tersebut, tak satupun dilupakannya. 3 Ibid, Hlm 185 – 186 4 Hukum Islam dan Pranata Sosial (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, Dede Rosyada, 1995),hlm.179 5 Ulumul Hadis (Bandung: Cv.Mustika Abadi, M.Agus Solahudin & Agus Suyadi, 2008),hlm. 224-226
  • 3.
    Imam Malik adalahseorang ulama’ yang sangat terkemuka, terutama dalam ilmu hadits an fiqih. Beliau mencapai tingkat yang sangat tinggi dalam kedua cabang ilmu itu . Imam Malik menulis kitab al-Muwaththa’, yang merupakan kitab hadits dan fiqih. Imam Malik meninggal dunia pada usia 86 tahun. Berdasarkan pengetahuan dan pengalamnya, pemikiran hukum islam Imam Malik cenderung mengutamakan riwayat, yakni mengedepankan hadis dan fatwa sahabat. Pemikiran Imam Malik tentang Mashlahah Mursalah (kebaikan yang tidak ditegaskan dalam sumber hukum islam) mengemuka. Secara sis tematis, pola pemikian hukum islam Imam Malik dapat dikemukakan sebagai berikut : a. Al – Qur’an sebagai sumber hukum yang pertama dana berada di atas yang lainnya. b. Al – Sunnah merupakan sumber hukum kedua setelah Al – Qur’an, karena fungsinya adalah menjelaskan ayat – ayat Al – Qur’an serta menetapkan hukum tersendiri. Imam Malik lebih mengutamakan Sunnah Mutawatir, kemudian Sunnah Masyhur. Sedangkan Sunnah Ahad ditinggalkan jika bertentangan dengan tradisi masyarakat Madinah. c. Tradisi masyarakat Madinah adalah sejumlah norma adat yang ditaati eluruh masyarakat kota ini. Oleh karena iitu, tradisi tersebut bisa juga sebagai kesepakatan (ijma’) masyarakat Madinah. d. Ijma’ seluruh para pakar hukum islam dan pakar lainnya yang bekaitan dengan masalah umat. Ijma’ seringkali terjadi ketika masalah – masalah tidak memiliki pijakan dalam sumber hukum al – qur’an dan sunnah Nabi. Ijma’ juga diperlukan untuk menjelaskan sumber hukum tersebut. e. Fatwa sahabat yang dipandang oleh Imam Malik sebagai hadis. Namun, hadis seperti ini lemah, karena sanadnya terhenti pada sahabat. Oleh karena itu, kalau bertentangan dengan hadis marfu’ (langsung bersumber dari Nabi), otomatis hadis – hadis tersebut tertolak. f. Qiyas, bagi Imam Malik mencakup tiga hal. Pertama, menyampaikan hukum kasus dengan sumber hukum karena terdapat alasan yang sama (Qiyas Ishthilahi). Kedua menguatkan hukum yang di kehendaki oleh kebaikan individu atas hukum yang dimunculkan oleh Qiyas (Istihsan Ishthilahi). Ketiga, kebaikna umumyang tidaj di tegaskan oleh sumber hukum, namun ia ambil untuk menghindari kesulitan (al – mashlahah al - mursalah). g. Al – Mashlahah al – Mursalah menetapkan hukum untuk kasus hukum dengan mempertimbangkan tujuan Syari’ah yakni memelihara agama, jiwa akal, harta dan keturunan, yang proses anaisisnya lebih banyak ditentukan oleh nalar pakar hukum islam sendiri. h. Istihsan, menurut Imam Malik adalah menetapakn hukum berdasarkan kebaikan umum (Maslahah) bila ditemukan jawabannya dalam sumber hukum, karena Syariat hanya hadir demi kemaslahatan i. Sadd al – Dzari’ah (menutup sarana kerusakan) adalah menutup sarana atau jalan maksiat atas menimbulkan kerusakan. Imam Malik sering menetapkan hukum dengan melihat kemungkinan – kemungkinan akibat yang timbul dari sesuatu perbuatan. Pengaruh Madzhab Imam Malik Pemikiran hukum Imam Malik dikembangkan kepada generasi selanjutnya melalui dua jalan, yaitu melalui kitab yang ditulis Imam Malikterutama al – Muwatha’ serta melalui para muridnya. Imam Malik tidak pernah meninggalkan Madinah, kecuali untuk menunaikan ibadah Haj. Pada saat itu, pengunjung Madinah bertemu dengan Imam Malikyang mengadakan pengajian di Masjid nabi dan tertarik untuk mengikuti pengajiannya. Imam Malik memiliki murid – murid yang termukadan berperan penting dalam penyebaran Madzhab Maliki.
  • 4.
    a) Abdullah binWahib ia belajar kepada Imam Malik selama 20 tahun dan menyebarkan Madzhab Maliki di Mesir. b) Abdurrahman bin Qasim ia belajar bersama Imam Malik selam 20 tahun. Ia merupakan murid yang palaing berjasa dalam membukukan pendapat Imam Malik juga memiliki beberapa pendapat yang berbeda dengan Imam Malik. c) Asyhab bin Abdul Aziz al – Qaisi al – Amiri. Ia merupakan murid Imam malik yang memiliki hubungan pertemanan akrab dengan Imam Syafi’i. Ia telah menyusun kitab yang dinamakan “Mudawwanah Asyhab” atau “Kutub Asyab”. d) Asad bin Fuat bin Sinan e) Abdul Malik bin al – Majisun. f) Imam Syafi’in. Pendiri madzhab Syafi’i.