Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 1
TRAUMA 2
PMI Cab. Kota Yogyakarta
Bag. Pendidikan & Latihan
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 2
Cedera Sistem Otot Rangka :
Macam & Penyebabnya
Macam Cedera
 Fraktur (patah tulang) :
putusnya seluruh atau
sebagian jaringan
tulang.
 Dislokasi (cerai sendi) :
lepasnya kepala sendi
dari mangkoknya.
 Strain (terkilir otot) :
robek/putusnya
jaringan otot di bagian
tendon.
 Sprain (terkilir sendi) :
robek/putusnya
Penyebab
 Semua gaya yang cukup
kuat membuat kerusakan
sistem otot rangka
termasuk jaringan lunak
(gaya langsung, tidak
langsung & gaya puntir).
 Pada olah raga, cedera
otot & sendi biasanya
terjadi karena
peregangan yang tidak
cukup, gerakan yang
tidak benar & teregang
melampaui kemampuan
otot.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 3
Cedera Sistem Otot Rangka :
Tanda & Gejalanya
 Perubahan bentuk.
 Nyeri & kaku.
 Suara derik tulang
patah (krepitasi).
 Bengkak.
 Memar.
 Ujung tulang terlihat.
 Sendi terkunci.
 Disfungsi alat gerak.
 Pada bagian distal,
ada gangguan
peredaran darah &
persarafan
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 4
Cedera Sistem Otot Rangka :
Jenis Patah Tulang
 Patah Tulang tertutup.
Tidak ada luka ,
permukaan kulit utuh,
Fragmen tulang tidak
berhubungan dengan
udara luar.
 Patah tulang terbuka.
Ada luka terbuka, kulit
di atas/dekat bagian
yang patah rusak,
fragmen tulang
mungkin terlihat atau
menonjol keluar.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 5
Pembidaian :
Tujuan & Macamnya.
Pembidaian :
tindakan penggunaan
alat bantu guna
menstabilkan bagian
tubuh yang cedera.
Tujuannya :
1. Mencegah pergerakan
(immobilisasi) bagian
yang cedera.
2. Menghindari terjadinya
cedera baru.
3. Mengistirahatkan.
4. Mengurangi rasa nyeri.
Macam-macam bidai :
 Bidai keras
 Bidai yang dapat
dibentuk.
 Bidai traksi.
 Gendongan/belat/beba
t.
 Bidai improvisasi.
Alat bidai harus cukup kuat &
ringan agar bisa difungsikan
sebagai penopang.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 6
Gambar Macam-Macam Bidai
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 7
Prinsip-Prinsip Pembidaian
1. Sedapat mungkin informasikan rencana tindakan kepada
penderita.
2. Paparkan bagian yang cedera, rawat perdarahan yang
terjadi.
3. Buka pakaian & perhiasan penderita yang sekiranya
menutupi/mengganggu di daerah yang cedera.
4. Nilai GSS – gerakan, sensasi, sirkulasi – bagian distal yang
cedera sebelum melakukan pembidaian.
5. Siapkan dahulu peralatan selengkapnya.
6. Jangan mencoba merubah posisi bagian yang cedera,
usahakan bidai pada posisi saat ditemukan.
7. Jangan mencoba memasukan bagian tulang yang patah.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 8
Prinsip-Prinsip Pembidaian
8. Sebelum dipasang, ukur dahulu bidai pada anggota tubuh
penderita yang sehat.
9. Bila cederanya adalah patah tulang, bidai sepanjang dua
sendi yang mengapit tulang yang patah tersebut.
10. Bila cederanya adalah sendi, bidai sepanjang tulang yang
mengapit tulang yang patah tersebut, bidai pula sendi
distalnya.
11. Bila memungkinkan, lapisi dahulu bidai dengan bahan yang
lunak/lembut.
12. Isi bagian kosong diantara tubuh dan bidai dengan pelapis
yang berbahan lunak/lembut.
13. Ikatan jangan terlalu kuat atau terlalu longgar.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 9
Prinsip-Prinsip Pembidaian
14. Ikatan cukup jumlahnya, dimulai dari sendi yang banyak
bergerak, kemudian sendi atas dari tulang yang patah.
15. Satukan dengan tubuh atau alat gerak yang lain.
16. Nilai GSS setelah selesai pembidaian, bandingkan dengan
GSS saat sebelum dibidai.
17. Melakukan pembidaian memerlukan waktu, meski begitu
lakukan dengan efektif & efisien.
18. Jangan membidai berlebihan. Penggunaan papan spinal
atau bidai tubuh akan sangat membantu menghindari
banyaknya pembidaian & lamanya waktu pada satu
penderita
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 10
Cedera Sistem Otot Rangka :
Pertolongan Pertamanya
1. Lakukan prosedur penilaian penderita.
2. Kenali & atasi keadaan yang mengancam nyawa, jangan
terpancing dengan cedera yang terlihat berat.
3. Pasang bidai leher (neck collar) dan beri oksigen jika ada
sesuai protokol.
4. Ingat pada cedera alat gerak, lakukan pemeriksaan GSS
sebelum & sesudah perawatan.
5. Stabilkan bagian cedera secara manual sampai saat
tindakan immobilisasi selesai dilakukan, jangan sampai
menambah rasa sakit pada penderita.
6. Paparkan seluruh bagian yang diduga cedera.
7. Atasi perdarahan & rawat luka yang terjadi.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 11
Cedera Sistem Otot Rangka :
Pertolongan Pertamanya
8. Siapkan alat & bahan pembidaian selengkapnya.
9. Lakukan pembidaian sesuai dengan prinsip-prinsip
pembidaian.
10. Untuk mengurangi rasa sakit penderita, istirahatkan bagian
yang cedera, kompres dingin (pada cedera tertutup) &
pemberian analgetik bisa dipertimbangkan.
11. Letakan penderita pada posisi yang nyaman.
12. Bila ditemukan cedera terkilir, istirahatkan & tinggikan
daerah yang cedera. Beri kompres dingin (maks. 30 menit)
setiap jam jika perlu. Balut tekan & tetap tinggikan.
13. Lakukan pemeriksaan berkala & rujuk ke fasilitas kesehatan.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 12
Cedera Sistem Otot Rangka :
Pertolongan Pertamanya
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 13
Pembidaian Untuk
Cedera Alat Gerak Atas
Fraktur Lengan Atas
Dislokasi/Fraktur Siku
Fraktur Lengan Bawah
Fraktur Jari Tangan Cedera Bahu
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 14
Pembidaian Untuk
Cedera Alat Gerak Bawah
Fraktur Tungkai Atas
Cedera Lutut Cedera Pergelangan Kaki
Fraktur Tungkai Bawah
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 15
Urai Sendi Rahang Bawah
 Tanda & gejala urai sendi rahang bawah : Mulut terbuka,
rahang bawah kaku sukar digerakkan, rasa nyeri, sukar
berbicara
 Penanganannya :
 Bungkus kedua ibu jari penolong dengan kain bersih
 Berdiri didepan penderita
 Letakkan 2 jari di masing-masing geraham penderita
 Tekan ke arah bawah dan dorong ke arah belakang
kemudian ke atas. Penolong harus cepat melepaskan ibu
jarinya dari mulut penderita
 Setelah kembali ke posisi normal, stabilkan daerah tersebut
 Rujuk ke fasilitas kesehatan.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 16
Cedera Kepala
● Cedera kepala :
Terganggunya fungsi otak
akibat benturan dengan benda
tumpul atau terjadi ruda paksa
di daerah kepala.
● Keberadaan otak di kepala
terlindungi oleh cairan otak &
tengkorak yang keras.
● Benturan atau rudapaksa pada
kepala bisa menyebabkan luka
kulit kepala, patah tulang
tengkorak hingga perdarahan
dalam, akibatnya bisa fatal
karena terjadi kerusakan
jaringan otak.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 17
Pembagian Cedera Kepala
Jenis cedera kepala :
 Cedera kepala sederhana :
Terjadi akibat benturan yang cukup
keras tetapi tidak sampai merusak
tengkorak & otak.
 Fraktur tengkorak :
Benturan menyebabkan fraktur
tengkorak (terbuka/tertutup) yang
disertai kerusakan kulit kepala.
 Cedera otak :
Terjadi karena otak menerima gaya
langsung dari benturan yang terjadi
atau tidak langsung dari gaya yang
diteruskan oleh benturan tsb.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 18
Tanda & Gejala Cedera Kepala
 Terjadi perubahan respon.
 Gangguan pernapasan.
 Nadi lambat & lemah.
 Sakit kepala, pusing
mendadak
 Mual, muntah mendadak
tanpa ada gejala awal.
 Gangguan penglihatan.
 Pupil tidak simetris
 Kejang
 Perubahan tanda vital.
 Nyeri di sekitar cedera.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 19
Tanda & Gejala Cedera Kepala
 Mungkin terjadi luka di kepala
(terbuka/tertutup)
 Bila terjadi fraktur, mungkin ditemui ada
bagian tengkorak yang teraba lembut &
lebih dalam.
 Darah/cairan otak keluar lewat
hidung/telinga.
 Memar di belakang telinga (Battle sign)
 Memar disekeliling mata (raccon’s eye)
 Mati rasa & disfungsi motorik.
 Periode hilang kesadaran
 Posisi abnormal akibat gangguan
persarafan (dekortikasi & deserebrasi)
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 20
Penanganan Cedera Kepala
 Lakukan prosedur penilaian penderita.
 Atasi gangguan ABC, bersiap melakukan BHD & RJP.
 Baringkan & istirahatkan penderita.
 Immobilisasi kepala & leher. Pasang bidai leher.
 Berikan oksigen jika ada sesuai protokol.
 Hentikan perdarahan yang terjadi. Jangan coba mencabut
benda yang menancap di kepala, stabilkan saja.
 Tutup & balut luka. Jangan halangi aliran darah/cairan otak
yang keluar lewat hidung/telinga. Tutup longgar saja.
 Anggap penderita juga cedera spinal. Pasang long spinal
board.
 Periksa tanda vital secara berkala
 Rujuk ke fasilitas kesehatan.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 21
Cedera Spinal
 Cedera Spinal : semua cedera yang ber-
hubungan dengan tulang belakang, mulai
dari tulang leher hingga tulang ekor ter-
masuk persarafan di dalamnya.
 Penyebab : kecelakaan, jatuh dari keting-
gian serta semua benturan yang menim-
pa daerah kepala & tulang belakang.
 Lebih baik mencurigai ada cedera spinal
meski mekanisme kejadian tidak jelas
karena harga yang harus dibayar sangat
mahal. Penanganan yang keliru bisa
menyebabkan kelumpuhan, rasa nyeri yg.
hebat & mahalnya biaya pengobatan.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 22
Mekanisme Kejadian &
Dampaknya Pada Tulang Spinal
Cedera spinal dapat berupa patah
tulang dgn/tanpa pergeseran posisi,
dislokasi, strain, sprain, kompresi
tulang & kerusakan jaringan saraf.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 23
Tanda & Gejala Cedera Spinal
 Perubahan bentuk pada kepala, leher/daerah tulang belakang.
 Kelumpuhan alat gerak.
 Gangguan persarafan, disfungsi, mati rasa atau kesemutan
pada alat gerak di bagian bawah daerah cedera.
 Ada rasa nyeri yang tidak menetap, dapat terjadi di mana saja,
baik penderita bergerak atau diam.
 Rasa nyeri disepanjang tulang belakang bisa menjadi petunjuk
telah terjadi cedera spinal.
 Hilangnya kemampuan mengontrol BAB & BAK.
 Sulit bernapas dengan/tanpa pergerakan dada.
 Priapismus (ereksi yang menetap tanpa rangsangan seksual)
 Cedera kepala, memar di bagian bahu, punggung/sisi penderita.
 Postur abnormal (dekortikasi & deserebrasi)
 Dapat terjadi syok
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 24
Penanganan Cedera Spinal
 Analisis mekanisme kejadian & lakukan prosedur penilaian.
 Stabilisasi kepala & leher penderita pada posisi netral dalam
satu garis lurus dengan tulang belakang. Pasang bidai leher.
 Hentikan mereposisi, bila penderita merasa nyeri saat
digerakan ke posisi netral ini. Yang terpenting adalah
mempertahankan posisi kepala-leher pada saat ditemukan.
 Pertahankan ABC, buka airway dengan teknik jaw thrust sambil
mempertahankan posisi kepala-leher tetap lurus.
 Beri oksigen jika ada sesuai protokol.
 Lakukan pemeriksanaan fisik, uji fungsi motorik, sensorik &
sirkulasi (GSS) pada keempat alat gerak jika penderita sadar.
 Pertahankan stabilisasi hingga proses penanganan selesai &
penderita diimmobilisasi dengan long spinal board.
 Periksa tanda vital secara berkala & rujuk ke RS.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 25
Stabilisasi Manual & Penilaian
Penderita Cedera Spinal
Jaw thrust maneuver Stabilisasi kepala – leher secara manual
Uji GSS : gerakan/motorik, sensorik & sirkulasi Pemeriksaan spinal
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 26
Pemasangan Bidai Leher
(Neck Collar / Servical Collar)
1 2 3 4
5 6 7 8
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 27
Stabilisasi Manual & Immobilisasi
Penderita Cedera Keluar Dari Mobil
1 2 3
4 5 6
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 28
Cedera Pada Leher
Cedera Pada Leher :
 Bisa berupa luka terbuka
yang bisa berakibat masuk-
nya udara ke dalam pem-
buluh darah (emboli udara).
 Emboli udara bisa
membuat sirkulasi darah
tersumbat hingga
menyebabkan serangan
jantung atau stroke
 Semua cedera pada leher
harus dianggap serius
hingga terbukti aman di RS.
Tanda & Gejala :
 Luka terbuka, memar
atau perubahan bentuk di
daerah leher.
 Sukar bicara, jadi
serak/parau hingga
kehilangan suara.
 Mungkin terjadi sumbatan
jalan napas.
 Dapat teraba udara di
bawah kulit (krepitus) di
sekitar leher dekat luka
yang dapat meluas.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 29
Penanganan Cedera Pada Leher
 Lakukan prosedur penilaian, pastikan airway terbuka, berikan
oksigen jika ada sesuai protokol.
 Bila ada luka terbuka besar, tutup segera dengan tangan lalu
pasang penutup kedap yang dilapisi dengan penutup tebal.
 Baringkan penderita miring ke kiri terutama jika terdapat
emboli udaraatau posisi lain yang memungkinkansesuai
dengan cedera lainnya.
 Bila ada benda menancap, jangan dicabut, stabilkan saja.
 Rawat syok & rujuk ke fasilitas kesehatan.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 30
Cedera Pada Dada
Cedera Dada Bisa berupa
:
 Cedera dada tertutup,
bi-asanya terjadi
karena benturan
dengan benda tumpul.
 Cedera dada terbuka
sehingga terjadi
hubung-an antara
udara di dalam dada
dengan udara luar.
Misalnya karena patah
tulang dada terbuka
atau luka tusuk.
Faktor Penyulit :
 Pneumothoraks
 Hemothoraks
 Gabungan keduanya.
Tanda & Gejala Umum :
 Sesak atau sukar
bernapas.
 Nyeri di daerah dada.
 Gejala lainnya sesuai
dengan jenis
cederanya.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 31
Penanganan Cedera
Dada Tertutup
 Lakukan prosedur penilaian, buka jalan napas.
 Berikan oksigen jika ada sesuai protokol. Bersiap
melakukan BHD & RJP.
 Periksa fisik dada korban, temukan apakah ada tanda
adanya perdarahan dalam.
 Hentikan perdarahan luar jika ada.
 Biarkan penderita dalam posisi yang dianggap paling
nyaman, yakni bisa memberi ruang gerak dada maksimal
sesuai keadaannya.
 Pantau tanda vital secara berkala
 Rujuk ke fasilitas kesehatan.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 32
Patah Tulang Iga
 Kemungkinan terjadi lebih besar pada usia tua.
 Penyulit yang mungkin terjadi adalah patahan tulang merobek lapisan
pleura sehingga paru bocor & terjadi pneumothoraks, hemothoraks
atau gabungan keduanya.
 Flail chest : terjadi patah tulang iga majemuk dimana satu atau lebih
tulang iga patah menjadi tiga bagian atau lebih.
Tanda & Gejala
 Nyeri dada saat bernapas.
 Perubahan bentuk dada & dinding dadanya.
 Dinding dada tidak mengembang baik saat bernapas, bahkan terjadi
gerakan paradoks (ada bagian dada yang bergerak berlawanan)
 Penderita terkesan melindungi bagian yg.cedera (guarding position).
 Memar yang jelas & luas di daerah dada.
 Pelebaran pembuluh balik leher, mata merah, sianosis, bagian tubuh
atas bengkak.
 Batuk darah & muncul tanda syok.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 33
Guardian Position & Gerakan
Paradoks Pada Flail Chest
Gerakan paradoks : bagian patahan tulang iga
bergerak berlawanan dengan bagian tulang iga
yang lain saat bernapas.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 34
Penanganan Patah Tulang Iga
 Lakukan prosedur penilaian, buka jalan napas.
 Berikan oksigen jika ada sesuai protokol. Bersiap melakukan
BHD & RJP.
 Periksa fisik dada korban, temukan apakah ada tanda adanya
perdarahan dalam.
 Hentikan perdarahan luar jika ada.
 Berikan bantalan pada bagian yang patah.
 Pada kasus flail chest, upayakan bagian yang patah terganjal
sehingga tidak ikut bergerak saat bernapas
 Pasang gendongan lengan di sisi dada yang cedera.
 Biarkan penderita dalam posisi yang dianggap paling nyaman,
yakni bisa memberi ruang gerak dada maksimal sesuai
keadaannya.
 Pantau tanda vital secara berkala
 Tangani syok yang dialami & rujuk ke RS secepatnya.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 35
Cedera Dada Terbuka
 Terjadi karena trauma tajam sedemikian rupa hingga terjadi hubung-
an udara luar dg. rongga pleura, akibatnya paru menjadi kuncup.
 Terlihat sebagai luka pada dinding dada yang menghisap pada setiap
inspirasi (sucking chest wound).
 Karena udara lebih mudah melalui lubang luka di dinding dada dari
pada saluran napas atas, terjadi kesulitan & sesak napas yg. hebat.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 36
Penanganan Cedera
Dada Terbuka
 Lakukan prosedur penilaian, jaga jalan napas tetap terbuka.
 Jangan cabut jika ada benda menancap, stabilkan saja.
 Segera tutup dengan penutup kedap, jika belum ada, tutup dulu de-
ngan tangan, jangan buang waktu. Setelah itu beri penutup kedap.
 Penutup kedap sebaiknya lebih lebar ( 5 cm) dari luka. Bila
penderita bertambah parah, buka salah satu sisi, sehingga penutup
kedap tertempel 3 sisi.
 Rawat syok, beri oksigen jika ada sesuai protokol.
 Segera rujuk ke RS.
Bag. Diklat PMI Kota Yogyakarta 37
Penanganan Cedera
Dada Terbuka

Trauma 2

  • 1.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 1 TRAUMA 2 PMI Cab. Kota Yogyakarta Bag. Pendidikan & Latihan
  • 2.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 2 Cedera Sistem Otot Rangka : Macam & Penyebabnya Macam Cedera  Fraktur (patah tulang) : putusnya seluruh atau sebagian jaringan tulang.  Dislokasi (cerai sendi) : lepasnya kepala sendi dari mangkoknya.  Strain (terkilir otot) : robek/putusnya jaringan otot di bagian tendon.  Sprain (terkilir sendi) : robek/putusnya Penyebab  Semua gaya yang cukup kuat membuat kerusakan sistem otot rangka termasuk jaringan lunak (gaya langsung, tidak langsung & gaya puntir).  Pada olah raga, cedera otot & sendi biasanya terjadi karena peregangan yang tidak cukup, gerakan yang tidak benar & teregang melampaui kemampuan otot.
  • 3.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 3 Cedera Sistem Otot Rangka : Tanda & Gejalanya  Perubahan bentuk.  Nyeri & kaku.  Suara derik tulang patah (krepitasi).  Bengkak.  Memar.  Ujung tulang terlihat.  Sendi terkunci.  Disfungsi alat gerak.  Pada bagian distal, ada gangguan peredaran darah & persarafan
  • 4.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 4 Cedera Sistem Otot Rangka : Jenis Patah Tulang  Patah Tulang tertutup. Tidak ada luka , permukaan kulit utuh, Fragmen tulang tidak berhubungan dengan udara luar.  Patah tulang terbuka. Ada luka terbuka, kulit di atas/dekat bagian yang patah rusak, fragmen tulang mungkin terlihat atau menonjol keluar.
  • 5.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 5 Pembidaian : Tujuan & Macamnya. Pembidaian : tindakan penggunaan alat bantu guna menstabilkan bagian tubuh yang cedera. Tujuannya : 1. Mencegah pergerakan (immobilisasi) bagian yang cedera. 2. Menghindari terjadinya cedera baru. 3. Mengistirahatkan. 4. Mengurangi rasa nyeri. Macam-macam bidai :  Bidai keras  Bidai yang dapat dibentuk.  Bidai traksi.  Gendongan/belat/beba t.  Bidai improvisasi. Alat bidai harus cukup kuat & ringan agar bisa difungsikan sebagai penopang.
  • 6.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 6 Gambar Macam-Macam Bidai
  • 7.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 7 Prinsip-Prinsip Pembidaian 1. Sedapat mungkin informasikan rencana tindakan kepada penderita. 2. Paparkan bagian yang cedera, rawat perdarahan yang terjadi. 3. Buka pakaian & perhiasan penderita yang sekiranya menutupi/mengganggu di daerah yang cedera. 4. Nilai GSS – gerakan, sensasi, sirkulasi – bagian distal yang cedera sebelum melakukan pembidaian. 5. Siapkan dahulu peralatan selengkapnya. 6. Jangan mencoba merubah posisi bagian yang cedera, usahakan bidai pada posisi saat ditemukan. 7. Jangan mencoba memasukan bagian tulang yang patah.
  • 8.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 8 Prinsip-Prinsip Pembidaian 8. Sebelum dipasang, ukur dahulu bidai pada anggota tubuh penderita yang sehat. 9. Bila cederanya adalah patah tulang, bidai sepanjang dua sendi yang mengapit tulang yang patah tersebut. 10. Bila cederanya adalah sendi, bidai sepanjang tulang yang mengapit tulang yang patah tersebut, bidai pula sendi distalnya. 11. Bila memungkinkan, lapisi dahulu bidai dengan bahan yang lunak/lembut. 12. Isi bagian kosong diantara tubuh dan bidai dengan pelapis yang berbahan lunak/lembut. 13. Ikatan jangan terlalu kuat atau terlalu longgar.
  • 9.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 9 Prinsip-Prinsip Pembidaian 14. Ikatan cukup jumlahnya, dimulai dari sendi yang banyak bergerak, kemudian sendi atas dari tulang yang patah. 15. Satukan dengan tubuh atau alat gerak yang lain. 16. Nilai GSS setelah selesai pembidaian, bandingkan dengan GSS saat sebelum dibidai. 17. Melakukan pembidaian memerlukan waktu, meski begitu lakukan dengan efektif & efisien. 18. Jangan membidai berlebihan. Penggunaan papan spinal atau bidai tubuh akan sangat membantu menghindari banyaknya pembidaian & lamanya waktu pada satu penderita
  • 10.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 10 Cedera Sistem Otot Rangka : Pertolongan Pertamanya 1. Lakukan prosedur penilaian penderita. 2. Kenali & atasi keadaan yang mengancam nyawa, jangan terpancing dengan cedera yang terlihat berat. 3. Pasang bidai leher (neck collar) dan beri oksigen jika ada sesuai protokol. 4. Ingat pada cedera alat gerak, lakukan pemeriksaan GSS sebelum & sesudah perawatan. 5. Stabilkan bagian cedera secara manual sampai saat tindakan immobilisasi selesai dilakukan, jangan sampai menambah rasa sakit pada penderita. 6. Paparkan seluruh bagian yang diduga cedera. 7. Atasi perdarahan & rawat luka yang terjadi.
  • 11.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 11 Cedera Sistem Otot Rangka : Pertolongan Pertamanya 8. Siapkan alat & bahan pembidaian selengkapnya. 9. Lakukan pembidaian sesuai dengan prinsip-prinsip pembidaian. 10. Untuk mengurangi rasa sakit penderita, istirahatkan bagian yang cedera, kompres dingin (pada cedera tertutup) & pemberian analgetik bisa dipertimbangkan. 11. Letakan penderita pada posisi yang nyaman. 12. Bila ditemukan cedera terkilir, istirahatkan & tinggikan daerah yang cedera. Beri kompres dingin (maks. 30 menit) setiap jam jika perlu. Balut tekan & tetap tinggikan. 13. Lakukan pemeriksaan berkala & rujuk ke fasilitas kesehatan.
  • 12.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 12 Cedera Sistem Otot Rangka : Pertolongan Pertamanya
  • 13.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 13 Pembidaian Untuk Cedera Alat Gerak Atas Fraktur Lengan Atas Dislokasi/Fraktur Siku Fraktur Lengan Bawah Fraktur Jari Tangan Cedera Bahu
  • 14.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 14 Pembidaian Untuk Cedera Alat Gerak Bawah Fraktur Tungkai Atas Cedera Lutut Cedera Pergelangan Kaki Fraktur Tungkai Bawah
  • 15.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 15 Urai Sendi Rahang Bawah  Tanda & gejala urai sendi rahang bawah : Mulut terbuka, rahang bawah kaku sukar digerakkan, rasa nyeri, sukar berbicara  Penanganannya :  Bungkus kedua ibu jari penolong dengan kain bersih  Berdiri didepan penderita  Letakkan 2 jari di masing-masing geraham penderita  Tekan ke arah bawah dan dorong ke arah belakang kemudian ke atas. Penolong harus cepat melepaskan ibu jarinya dari mulut penderita  Setelah kembali ke posisi normal, stabilkan daerah tersebut  Rujuk ke fasilitas kesehatan.
  • 16.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 16 Cedera Kepala ● Cedera kepala : Terganggunya fungsi otak akibat benturan dengan benda tumpul atau terjadi ruda paksa di daerah kepala. ● Keberadaan otak di kepala terlindungi oleh cairan otak & tengkorak yang keras. ● Benturan atau rudapaksa pada kepala bisa menyebabkan luka kulit kepala, patah tulang tengkorak hingga perdarahan dalam, akibatnya bisa fatal karena terjadi kerusakan jaringan otak.
  • 17.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 17 Pembagian Cedera Kepala Jenis cedera kepala :  Cedera kepala sederhana : Terjadi akibat benturan yang cukup keras tetapi tidak sampai merusak tengkorak & otak.  Fraktur tengkorak : Benturan menyebabkan fraktur tengkorak (terbuka/tertutup) yang disertai kerusakan kulit kepala.  Cedera otak : Terjadi karena otak menerima gaya langsung dari benturan yang terjadi atau tidak langsung dari gaya yang diteruskan oleh benturan tsb.
  • 18.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 18 Tanda & Gejala Cedera Kepala  Terjadi perubahan respon.  Gangguan pernapasan.  Nadi lambat & lemah.  Sakit kepala, pusing mendadak  Mual, muntah mendadak tanpa ada gejala awal.  Gangguan penglihatan.  Pupil tidak simetris  Kejang  Perubahan tanda vital.  Nyeri di sekitar cedera.
  • 19.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 19 Tanda & Gejala Cedera Kepala  Mungkin terjadi luka di kepala (terbuka/tertutup)  Bila terjadi fraktur, mungkin ditemui ada bagian tengkorak yang teraba lembut & lebih dalam.  Darah/cairan otak keluar lewat hidung/telinga.  Memar di belakang telinga (Battle sign)  Memar disekeliling mata (raccon’s eye)  Mati rasa & disfungsi motorik.  Periode hilang kesadaran  Posisi abnormal akibat gangguan persarafan (dekortikasi & deserebrasi)
  • 20.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 20 Penanganan Cedera Kepala  Lakukan prosedur penilaian penderita.  Atasi gangguan ABC, bersiap melakukan BHD & RJP.  Baringkan & istirahatkan penderita.  Immobilisasi kepala & leher. Pasang bidai leher.  Berikan oksigen jika ada sesuai protokol.  Hentikan perdarahan yang terjadi. Jangan coba mencabut benda yang menancap di kepala, stabilkan saja.  Tutup & balut luka. Jangan halangi aliran darah/cairan otak yang keluar lewat hidung/telinga. Tutup longgar saja.  Anggap penderita juga cedera spinal. Pasang long spinal board.  Periksa tanda vital secara berkala  Rujuk ke fasilitas kesehatan.
  • 21.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 21 Cedera Spinal  Cedera Spinal : semua cedera yang ber- hubungan dengan tulang belakang, mulai dari tulang leher hingga tulang ekor ter- masuk persarafan di dalamnya.  Penyebab : kecelakaan, jatuh dari keting- gian serta semua benturan yang menim- pa daerah kepala & tulang belakang.  Lebih baik mencurigai ada cedera spinal meski mekanisme kejadian tidak jelas karena harga yang harus dibayar sangat mahal. Penanganan yang keliru bisa menyebabkan kelumpuhan, rasa nyeri yg. hebat & mahalnya biaya pengobatan.
  • 22.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 22 Mekanisme Kejadian & Dampaknya Pada Tulang Spinal Cedera spinal dapat berupa patah tulang dgn/tanpa pergeseran posisi, dislokasi, strain, sprain, kompresi tulang & kerusakan jaringan saraf.
  • 23.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 23 Tanda & Gejala Cedera Spinal  Perubahan bentuk pada kepala, leher/daerah tulang belakang.  Kelumpuhan alat gerak.  Gangguan persarafan, disfungsi, mati rasa atau kesemutan pada alat gerak di bagian bawah daerah cedera.  Ada rasa nyeri yang tidak menetap, dapat terjadi di mana saja, baik penderita bergerak atau diam.  Rasa nyeri disepanjang tulang belakang bisa menjadi petunjuk telah terjadi cedera spinal.  Hilangnya kemampuan mengontrol BAB & BAK.  Sulit bernapas dengan/tanpa pergerakan dada.  Priapismus (ereksi yang menetap tanpa rangsangan seksual)  Cedera kepala, memar di bagian bahu, punggung/sisi penderita.  Postur abnormal (dekortikasi & deserebrasi)  Dapat terjadi syok
  • 24.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 24 Penanganan Cedera Spinal  Analisis mekanisme kejadian & lakukan prosedur penilaian.  Stabilisasi kepala & leher penderita pada posisi netral dalam satu garis lurus dengan tulang belakang. Pasang bidai leher.  Hentikan mereposisi, bila penderita merasa nyeri saat digerakan ke posisi netral ini. Yang terpenting adalah mempertahankan posisi kepala-leher pada saat ditemukan.  Pertahankan ABC, buka airway dengan teknik jaw thrust sambil mempertahankan posisi kepala-leher tetap lurus.  Beri oksigen jika ada sesuai protokol.  Lakukan pemeriksanaan fisik, uji fungsi motorik, sensorik & sirkulasi (GSS) pada keempat alat gerak jika penderita sadar.  Pertahankan stabilisasi hingga proses penanganan selesai & penderita diimmobilisasi dengan long spinal board.  Periksa tanda vital secara berkala & rujuk ke RS.
  • 25.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 25 Stabilisasi Manual & Penilaian Penderita Cedera Spinal Jaw thrust maneuver Stabilisasi kepala – leher secara manual Uji GSS : gerakan/motorik, sensorik & sirkulasi Pemeriksaan spinal
  • 26.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 26 Pemasangan Bidai Leher (Neck Collar / Servical Collar) 1 2 3 4 5 6 7 8
  • 27.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 27 Stabilisasi Manual & Immobilisasi Penderita Cedera Keluar Dari Mobil 1 2 3 4 5 6
  • 28.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 28 Cedera Pada Leher Cedera Pada Leher :  Bisa berupa luka terbuka yang bisa berakibat masuk- nya udara ke dalam pem- buluh darah (emboli udara).  Emboli udara bisa membuat sirkulasi darah tersumbat hingga menyebabkan serangan jantung atau stroke  Semua cedera pada leher harus dianggap serius hingga terbukti aman di RS. Tanda & Gejala :  Luka terbuka, memar atau perubahan bentuk di daerah leher.  Sukar bicara, jadi serak/parau hingga kehilangan suara.  Mungkin terjadi sumbatan jalan napas.  Dapat teraba udara di bawah kulit (krepitus) di sekitar leher dekat luka yang dapat meluas.
  • 29.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 29 Penanganan Cedera Pada Leher  Lakukan prosedur penilaian, pastikan airway terbuka, berikan oksigen jika ada sesuai protokol.  Bila ada luka terbuka besar, tutup segera dengan tangan lalu pasang penutup kedap yang dilapisi dengan penutup tebal.  Baringkan penderita miring ke kiri terutama jika terdapat emboli udaraatau posisi lain yang memungkinkansesuai dengan cedera lainnya.  Bila ada benda menancap, jangan dicabut, stabilkan saja.  Rawat syok & rujuk ke fasilitas kesehatan.
  • 30.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 30 Cedera Pada Dada Cedera Dada Bisa berupa :  Cedera dada tertutup, bi-asanya terjadi karena benturan dengan benda tumpul.  Cedera dada terbuka sehingga terjadi hubung-an antara udara di dalam dada dengan udara luar. Misalnya karena patah tulang dada terbuka atau luka tusuk. Faktor Penyulit :  Pneumothoraks  Hemothoraks  Gabungan keduanya. Tanda & Gejala Umum :  Sesak atau sukar bernapas.  Nyeri di daerah dada.  Gejala lainnya sesuai dengan jenis cederanya.
  • 31.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 31 Penanganan Cedera Dada Tertutup  Lakukan prosedur penilaian, buka jalan napas.  Berikan oksigen jika ada sesuai protokol. Bersiap melakukan BHD & RJP.  Periksa fisik dada korban, temukan apakah ada tanda adanya perdarahan dalam.  Hentikan perdarahan luar jika ada.  Biarkan penderita dalam posisi yang dianggap paling nyaman, yakni bisa memberi ruang gerak dada maksimal sesuai keadaannya.  Pantau tanda vital secara berkala  Rujuk ke fasilitas kesehatan.
  • 32.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 32 Patah Tulang Iga  Kemungkinan terjadi lebih besar pada usia tua.  Penyulit yang mungkin terjadi adalah patahan tulang merobek lapisan pleura sehingga paru bocor & terjadi pneumothoraks, hemothoraks atau gabungan keduanya.  Flail chest : terjadi patah tulang iga majemuk dimana satu atau lebih tulang iga patah menjadi tiga bagian atau lebih. Tanda & Gejala  Nyeri dada saat bernapas.  Perubahan bentuk dada & dinding dadanya.  Dinding dada tidak mengembang baik saat bernapas, bahkan terjadi gerakan paradoks (ada bagian dada yang bergerak berlawanan)  Penderita terkesan melindungi bagian yg.cedera (guarding position).  Memar yang jelas & luas di daerah dada.  Pelebaran pembuluh balik leher, mata merah, sianosis, bagian tubuh atas bengkak.  Batuk darah & muncul tanda syok.
  • 33.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 33 Guardian Position & Gerakan Paradoks Pada Flail Chest Gerakan paradoks : bagian patahan tulang iga bergerak berlawanan dengan bagian tulang iga yang lain saat bernapas.
  • 34.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 34 Penanganan Patah Tulang Iga  Lakukan prosedur penilaian, buka jalan napas.  Berikan oksigen jika ada sesuai protokol. Bersiap melakukan BHD & RJP.  Periksa fisik dada korban, temukan apakah ada tanda adanya perdarahan dalam.  Hentikan perdarahan luar jika ada.  Berikan bantalan pada bagian yang patah.  Pada kasus flail chest, upayakan bagian yang patah terganjal sehingga tidak ikut bergerak saat bernapas  Pasang gendongan lengan di sisi dada yang cedera.  Biarkan penderita dalam posisi yang dianggap paling nyaman, yakni bisa memberi ruang gerak dada maksimal sesuai keadaannya.  Pantau tanda vital secara berkala  Tangani syok yang dialami & rujuk ke RS secepatnya.
  • 35.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 35 Cedera Dada Terbuka  Terjadi karena trauma tajam sedemikian rupa hingga terjadi hubung- an udara luar dg. rongga pleura, akibatnya paru menjadi kuncup.  Terlihat sebagai luka pada dinding dada yang menghisap pada setiap inspirasi (sucking chest wound).  Karena udara lebih mudah melalui lubang luka di dinding dada dari pada saluran napas atas, terjadi kesulitan & sesak napas yg. hebat.
  • 36.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 36 Penanganan Cedera Dada Terbuka  Lakukan prosedur penilaian, jaga jalan napas tetap terbuka.  Jangan cabut jika ada benda menancap, stabilkan saja.  Segera tutup dengan penutup kedap, jika belum ada, tutup dulu de- ngan tangan, jangan buang waktu. Setelah itu beri penutup kedap.  Penutup kedap sebaiknya lebih lebar ( 5 cm) dari luka. Bila penderita bertambah parah, buka salah satu sisi, sehingga penutup kedap tertempel 3 sisi.  Rawat syok, beri oksigen jika ada sesuai protokol.  Segera rujuk ke RS.
  • 37.
    Bag. Diklat PMIKota Yogyakarta 37 Penanganan Cedera Dada Terbuka