Free Powerpoint Templates
Page1
Teaching Media of
Translation 1
English Education and Literature
Faculty of Languages and Arts
Semarang State University
Dr. Rudi Hartono, S.S., M.Pd.
2.
Dr. RudiHartono, S.S., M.Pd.
Tasikmalaya, September 7, 1969
S-1 (English Linguistics-UNPAD Bandung)
S-2 (English Education-UPI Bandung)
S-3 (Linguistics: Translation Studies-UNS)
English Lecturer of UNNES Semarang
English Textbook Writer
English Teacher Trainer
E-mail: rudi_fbsunnes@yahoo.com
E-mail: thehartonos@gmail.com
Mobile Phone: 08154663453
3.
“Translation consistsof reproducing in the receptor
language the closest natural equivalence of the source
language message, first in terms of meaning and
secondly in terms of style.” (Nida, 1969:12)
“Translation is the replacement of textual material in one
language (SL) by equivalent textual material in another
language (TL).” (Catford, 1978:20)
Translation is transferring the meaning of the source
language into the receptor language.This is done by
going from the form of the first language to the form of a
second language by way of semantic structure. It is
meaning which is being transferred and must be held
constant. (Larson, 1984:3)
“Translation is rendering the meaning of a text into
another language in the way that the author intended
the text.” (Newmark, 1988:5)
Word-for-word translation:in which the SL word
order is preserved and the words translated singly by
their most common meanings, out of context.
Literal translation: in which the SL grammatical
constructions are converted to their nearestTL
equivalents, but the lexical words are again
translated singly, out of context.
Faithful translation: it attempts to produce the
precise contextual meaning of the original within
the constraints of theTL grammatical structures.
Semantic translation: which differs from 'faithful
translation' only in as far as it must take more
account of the aesthetic value of the SL text.
6.
Adaptation: whichis the freest form of translation, and is
used mainly for plays (comedies) and poetry; the themes,
characters, plots are usually preserved, the SL culture is
converted to theTL culture and the text is rewritten.
Free translation: it produces theTL text without the style,
form, or content of the original.
Idiomatic translation: it reproduces the 'message' of the
original but tends to distort nuances of meaning by
preferring colloquialisms and idioms where these do not
exist in the original.
Communicative translation: it attempts to render the exact
contextual meaning of the original in such a way that both
content and language are readily acceptable and
comprehensible to the readership (1988b: 45-47).
Adaptation
Adaptasi(adaptation) sebagai metode penerjemahan, menurut
Newmark, berbeda dengan adaptasi sebagai teknik penerjemahan
menurut Molina dan Hurtado Albir (2002:509).Adaptasi sebagai metode
mengarah kepada penerjemahan yang menghasilkan keseluruhan teks
menjadi sebuah saduran, sedangkan adaptasi sebagai teknik lebih
cenderung kepada upaya mengganti sebuah unsur kultural dalam Bsu
dengan sebuah unsur kultural yang sesuai dengan pengguna Bsa atau
unsur budaya sasaran, contohnya mengganti kata bahasa Inggris
baseball dengan kata bahasa Spanyol fútbal. Konsep adaptasi di atas
selaras dengan pendapatVinay dan Darbelnet (1977) dan Margot (1979).
Jadi teknik adaptasi belum tentu mengubah seluruh teks menjadi
sebuah saduran, karena teknik ini hanya menerjemahkan unsur-unsur
teks saja, kecuali memang semua unsur dalam teks diadaptasi secara
keseluruhan. Kalau dalam terjemahan Inggris ke Indonesia kita
menjumpai terjemahan frase Dear sir menjadi ’Yang terhormat’ atau
frase Sincerely yours diterjemahkan menjadi ’Hormat saya’.Teknik
penerjemahan ini disesuaikan dengan budaya sasaran dalam bahasa
Indonesia.
9.
Amplification
Teknikamplifikasi (amplification) memperkenalkan suatu
penjelasan rinci dalamTsa yang tidak terdapat dalamTsu,
misalnya untuk menerjemahkan nomina bahasa Arab
Ramadhan ke dalam bahasa Inggris perlu diberi deskripsi
the Muslim month of fasting agar pembacaTsu lebih paham
dan jelas, sehingga ﺸﻬﺮ ﺮﻣﺿﺎﻥ diterjemahkan menjadi
Ramadhan, the Muslim month of fasting.Teknik ini sama
dengan explicitation-nyaVinay, addition, paraphrase dan
periphrasis -nya Delisle, paraphrase-nya Margot, dan
paraphase-nya Newmark. Footnotes sebenarnya juga
merupakan sebuah jenis amplifikasi sebagai lawan dari
reduksi (pengurangan).
10.
Borrowing
MenurutMolina dan Hurtado Albir (2002:510), pinjaman
(borrowing) adalah teknik penerjemahan dengan cara
mengambil kata atau ungkapan langsung dari bahasa lain.
Biasanya kata atau ungkapan yang dipinjam tersebut bersifat
murni atau tanpa perubahan, misalnya kata lobby dari bahasa
Inggris dipinjam oleh bahasa Spanyol. Contoh beberapa kata
bahasa Spanyol yang telah mengalami naturalisasi yang
dipinjam dari bahasa Inggris, seperti kata gol dari goal, kata
fútbal dari football, kata lider dari leader, kata mitin dari
meeting.Teknik borrowing ini sama dengan teknik
naturalisasinya Newmark.
11.
Calque
MenurutRichard (1992:44), calque sama dengan loan
translation atau termasuk jenis borrowing, yaitu teknik
penerjemahan yang menerjemahkan morfem atau kata
suatu bahasa ke dalam morfem atau kata bahasa lain
yang ekuivalen. Contohnya kata bahasa Inggris almighty
adalah calque dari bahasa Latin omnipotens: omni = all
dan potens = mighty, jadi omnipotens menjadi almighty,
beer garden dari bahasa Jerman biergarten dan academic
freedom dari akademische Freiheit.
12.
Compensation
Molinadan Hurtado Albir (2002:510) mengatakan:
Compensation is used to introduce a SourceText (ST) element of
information or stylistic effect in another place in theTargetText (TT)
because it cannot be replaced in the same place as in the SourceText
(ST).
Definisi di atas menyatakan bahwa kompensasi digunakan
untuk memperkenalkan unsur informasi atau efek stilistikTsu
terhadapTsa karena unsur atau efek tersebut tidak dapat
digantikan atau tidak ada padanannya dalamTsa. Contohnya kata
ganti orang ‘thee’ dalam bahasa Inggris kuno diganti dengan
bentuk penyeru ‘O’ dalam bahasa Francis.
Tsu (E) : I was seeking thee, Flathead.
Tsa (F) : En vérité, c’est bien toi que je cherche, OTête-Plate.
13.
Deskripsi adalahteknik penerjemahan dengan cara mengganti
sebuah istilah atau ungkapan dengan sebuah deskripsi bentuk
dan/atau fungsinya.
“Description is to replace a term or expression with a description
of its form or/and function.” (Molina dan Hurtado Albir, 2002:510)
Contoh dari deskripsi adalah penerjemahan kata bahasa Italia
Panetto menjadi sebuah sebuah deskripsi dalam bahasa Inggris
‘Tradtional Italian cake eaten on NewYear’s Eve’. Mengapa
demikian? Karena dalam bahasa Inggris tidak dikenal istilah atau
jenis makanan Panetto, sehingga dianggap untuk menggantikan
kata benda itu dengan sebuah desripsi yang menggambarkan
jenis makanan tersebut.
14.
Discursive Creation
Kreasi diskursif adalah teknik penerjemahan
yang berupaya untuk menentukan atau
menciptakan sebuah padanan sementara
yang benar-benar di luar konteks yang tak
terprediksi.
“To establish a temporary equivalence that is
totally unpredictable out of contex.” (Molina
dan Hurtado Albir, 2002:510)
15.
Established Equivalent
Padanan Mantap adalah teknik penerjemahan
yang berupaya menggunakan sebuah istilah
atau ungkapan yang dikenal (dalam kamus
atau aturan bahasa sebagaimana mestinya)
sebagai sebuah padanan dalamTsa.
“Established equivalent is to use a term or
expression recognized (by dictionary or
language in use) as an equivalent in theTL.”
(Molina dan Hurtado Albir, 2002:510)
16.
Generalization
Generalisasiadalah teknik penerjemahan yang menggunakan
istilah yang lebih umum atau netral.
“Generalization is to use a more general or neutral term.” (Molina
dan Hurtado Albir, 2002:510)
Contoh dari teknik penerjemahan generalisasi ini adalah kasus
penerjemahan ‘quichet’, ‘fenêtre’ atau ‘devanture’ dalam bahasa
Francis yang lebih khusus menjadi ‘window’ dalam bahasa
Inggris yang lebih umum. Misalnya ‘devanture’ sebenarnya
berarti ‘shop window’ = ‘jendela toko’ bukan ‘window’= ‘jendela’,
tetapi dalam kasus ini akhirnya diambil istilah yang lebih umum
atau netral saja yaitu ‘window’ = ‘jendela’.
17.
Particularization
Partikularisasiadalah teknik penerjemahan yang mencoba
menggunakan sebuah istilah yang lebih tepat dan
kongkrit.
“Particularization is to use a more precise or conrete term.”
(Molina dan Hurtado Albir, 2002:510)
Contoh dari teknik penerjemahan ini adalah penerjemahan
kata bahasa Inggris ‘window’ menjadi ‘quichet’ = ‘jendela
toko’ dalam bahasa Francis.
18.
Idiomatic expressions
ST:Jem walked on eggs.
TL: Jem seolah-olah berjalan di atas telur.
CR: Jem berjalan dengan sangat hati-hati.
Metaphors
ST: She said, “Atticus, you are a devil from the hell.”
TL: Katanya, “Atticus, kau iblis dari neraka.”
CR: “Hey, Atticus, Jahanam kau.”
Personifications
ST: Hay-e-hay-e-hay-ey, answered the schoolhouse wall.
TL: Hei-i-hei-i-hei-i, jawab dinding gedung sekolah.
CR: Hai-i-hai-i-hai-I, sahut dinding sekolah itu.
Similes
ST: Miss Rachel went off like the town fire siren.
TL: Miss Rachel meledak seperti siréne pemadam kebakaran.
CR: Miss Rachel berteriak bagaikan suara halilintar.
Alliterations
ST: … to settle an argument with a fist-fight, ….
TL: … untuk membereskan perselisihan melalui adu tinju, ….
CR: … untuk membereskan perselisihan dengan tonjok-tonjokan, ….
19.
Transference: itis the process of transferring an SL
word to aTL text. It includes transliteration and is
the same as what Harvey (2000:5) named
"transcription."
Naturalization: it adapts the SL word first to the
normal pronunciation, then to the normal
morphology of theTL. (Newmark, 1988b:82)
Cultural equivalent: it means replacing a cultural
word in the SL with aTL one. however, "they are
not accurate" (Newmark, 1988b:83)
Functional equivalent: it requires the use of a
culture-neutral word. (Newmark, 1988b:83)
20.
Descriptive equivalent:in this procedure the
meaning of the CBT is explained in several words.
(Newmark, 1988b:83)
Componential analysis: it means "comparing an SL
word with aTL word which has a similar meaning
but is not an obvious one-to-one equivalent, by
demonstrating first their common and then their
differing sense components." (Newmark,
1988b:114)
Synonymy: it is a "nearTL equivalent." Here
economy trumps accuracy. (Newmark, 1988b:84)
21.
Through-translation: itis the literal translation of common
collocations, names of organizations and components of
compounds. It can also be called: calque or loan translation.
(Newmark, 1988b:84)
Shifts or transpositions: it involves a change in the grammar
from SL toTL, for instance, (i) change from singular to
plural, (ii) the change required when a specific SL structure
does not exist in theTL, (iii) change of an SL verb to aTL
word, change of an SL noun group to aTL noun and so
forth. (Newmark, 1988b:86)
Modulation: it occurs when the translator reproduces the
message of the original text in theTL text in conformity
with the current norms of theTL, since the SL and theTL
may appear dissimilar in terms of perspective. (Newmark,
1988b:88)
22.
)Recognized translation:it occurs when the translator
"normally uses the official or the generally accepted
translation of any institutional term." (Newmark, 1988b:89)
Compensation: it occurs when loss of meaning in one part of
a sentence is compensated in another part. (Newmark,
1988b:90)
Paraphrase: in this procedure the meaning of the CBT is
explained. Here the explanation is much more detailed than
that of descriptive equivalent. (Newmark, 1988b:91)
Couplets: it occurs when the translator combines two
different procedures. (Newmark, 1988b:91)
Notes: notes are additional information in a translation.
(Newmark, 1988b:91)
23.
Leppihalme (1997:79)proposes another set of strategies for
translating the proper name allusions:
Retention of the name:
using the name as such.
using the name, adding some guidance.
using the name, adding a detailed explanation, for instance, a footnote.
Replacement of the name by another:
replacing the name by another SL name.
replacing the name by aTL name
Omission of the name:
omitting the name, but transferring the sense by other means, for
instance by a common noun.
omitting the name and the allusion together.
24.
Nine strategiesfor the translation of key-phrase allusions are
proposed by Leppihalme (1997: 82) as follows:
Use of a standard translation,
Minimum change, that is, a literal translation, without regard to
connotative or contextual meaning,
Extra allusive guidance added in the text,
The use of footnotes, endnotes, translator's notes and other
explicit explanations not supplied in the text but explicitly given
as additional information,
Stimulated familiarity or internal marking, that is, the addition of
intra-allusive allusion ,
Replacement by aTL item,
Reduction of the allusion to sense by rephrasing,
Re-creation, using a fusion of techniques: creative construction of
a passage which hints at the connotations of the allusion or other
special effects created by it,
Omission of the allusion.
Uji keakuratan (Accuracytest)
Uji keakuratan (accuracy test) berarti mengecek apakah
makna yang dipindahkan dariTsu itu sama dengan yang
ada diTsa.Tujuan penerjemah adalah mengkomunikasikan
makna secara akurat. Penerjemah tidak boleh
mengabaikan, menambah atau mengurangi pesan yang
terkandung dalamTsu karena terpengaruh oleh bentuk
formal Bsa. Namun demikian untuk menyatakan makna
secara akurat, penerjemah boleh melakukan perubahan
bentuk atau struktur gramatika. Nida danTaber (1982:13)
menegaskan bahwa pesan harus diutamakan karena isi
pesanlah yang terpenting. Ini berarti bahwa penyimpangan
tertentu yang agak radikal dari struktur formal itu
diperbolehkan atau bahkan diperlukan.
27.
Uji keterbacaan (ReadabilityTest)
Larson (1984:499-500) mengemukakan bahwa uji
keterbacaan (readability test) dimaksudkan untuk
menyatakan derajat kemudahan apakah sebuah
terjemahan itu mudah dipahami maksudnya atau tidak.
Tulisan yang tinggi keterbacaannya lebih mudah dipahami
daripada yang rendah. Sebaliknya, tulisan yang lebih
rendah keterbacaannya lebih sukar untuk dibaca.
Keterbacaan ini meliputi pilihan kata (diction), bangun
kalimat (sentence construction), susunan paragraph
(paragraph organization), dan unsur ketatabahasaan
(grammatical elements), jenis huruf (size of type), tanda
baca (punctuation), ejaan (spelling), spasi antarbaris (spaces
between lines), dan ukuran marjin (size of margin).
28.
Uji Kewajaran (NaturalnessTest)
Larson (1984:10) menyatakan bahwa tujuan
penerjemahan di antaranya adalah menghasilkan
terjemahan idiomatik, yaitu terjemahan yang
maknanya sama dengan bahasa sumber yang
dinyatakan dalam bentuk yang wajar dalam Bsa.
Maka dari itu tujuan dari uji kewajaran (naturalness
test) itu sendiri adalah melihat apakah bentuk
terjemahannya itu alamiah atau sudah tepat
dengan gaya bahasa Bsa atau belum.
29.
Uji Keterpahaman (ComprehensionTest)
Newmark (1988:198) mengemukakan bahwa uji
keterpahaman (comprehension testing) dilakukan
untuk mengetahui apakah terjemahan yang
dihasilkan itu dapat dimengerti dengan benar oleh
penutur BSa atau tidak. Uji keterpahaman ini
terkait erat dengan masalah kesalahan referensial
yang mungkin dilakukan oleh penerjemah.
Kesalahan referensial adalah kesalahan yang
menyangkut fakta, dunia nyata, dan proposisi,
bukan menyangkut kata-kata.
30.
Uji keajegan (ConsistencyCheck)
Uji keajegan (consistency check) sangat diperlukan
dalam hal-hal yang bersifat teknis. Duff (1981: 27)
menegaskan bahwa tidak ada aturan baku
mengenai bagaimana cara yang terbaik
menyatakan ungkapan BSu. Namun, dapat dicatat
bahwa ada beberapa kelemahan yang harus
dihindari. Salah satu kelemahan itu adalah
ketidakajegan (inconsistency).
31.
Terjemahan balik (Back-translation)
Soemarno (1988:33-34) menyatakan bahwa terjemahan balik
(back-translation) terjadi ketika suatu teks dalam bahasa A
diterjemahkan ke dalam bahasa B. Hasil terjemahan dalam
bahasa B diterjemahkan kembali ke dalam A1. Untuk menilai
hasil terjemahan itu, terjemahan A1 dibandingkan dengan teks
asli A. Semakin dekat terjemahan A1 terhadap teks asli A,
semakin tinggi nilainya. Terjemahan A1 memang tidak akan sama
dengan teks asli A.
Demikian halnya Nababan (2004a:48) mengemukakan
penjelasan yang sama bahwa strategi lain yang dapat digunakan
untuk mengukur kualitas terjemahan adalah terjemahan balik
(back-translation). Secara praktis, teks bahasa Inggris (Teks A),
misalnya, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (Teks B).
KemudianTeks B diterjemahkan kembali keTeks A1. Semakin
sama pesanTeks A1 dengan pesanTeks A, maka semakin akurat
pesanTeks B.