Sumber Ajaran Islam 




                 Oleh :
             Kelompok 2
        Dian Mutiara Chairunnisa
      Redha Geriawan Rezta Noraya
              Lutfia Azizah
          Venni Noviliyandari S
         Bismi Agung Firman D
Sumber Hukum Islam

   Segala sesuatu yang menjadi
   pedoman atau dasar acuan
   ajaran Islam




        1.   AL-QUR’AN
        2.   AS-SUNNAH
        3.   IJTIHAD
        4.   QIYAS
        5.   IJMA’
:”                                               ”        :
            :”                                    ” :
                               :”
                      ” :                                      :
                                                  :”

                                                                                         ”
“Dari Muadz ibn Jabal ra bahwa Nabi Saw ketika mengutusnya ke Yaman, Nabi bertanya:
“Bagaimana kamu jika dihadapkan permasalahan hukum? Ia berkata: “Saya berhukum
dengan kitab Allah”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam kitab Allah” ?, ia berkata:
“Saya berhukum dengan sunnah Rasulullah Saw”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam
sunnah Rasul Saw” ? ia berkata: “Saya akan berijtihad dan tidak berlebih (dalam ijtihad)”.
Maka Rasul Saw memukul ke dada Muadz dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah
Al-Qur’an sebagai Sumber
           Hukum Islam
Al-Qur’an adalah firman Allah s.w.t. yang di turunkan kepada
Nabi Muhammad S.A.W. secara berangsur-angsur melalui
malaikat Jibril, turun pada sekitar tanggal 17 Ramadhan tahun ke-
41 dari kelahiran nabi Muhammad s.a.w.

Al-qur’an di jaga dan dipelihara oleh Allah SWT, sesuai dengan
firmannya:

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al quran, dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya. (QS. 15:9)
Al-Qur’an merupakan pedoman hidup utama
                           umat Islam.
                        Firman Allah SWT:



  .
              .
“Hai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, dan janganlah
  kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya).”
                              (QS. Al-Anfal, 8 : 20-21)
Kandungan Al-Qur’an
• Pokok-pokok keimanan (tauhid) kepada Allah, keimanan
  kepada malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab, hari akhir,
  qodli-qodor, dan sebagainya.
• Prinsip-prinsip syari’ah sebagai dasar pijakan manusia
  dalam hidup agar tidak salah jalan dan tetap dalam
  koridor yang benar bagaimana menjalin hubungan kepada
  Allah (hablun minallah, ibadah) dan (hablun minannas,
  mu’amalah)
• Janji atau kabar gembira kepada yang berbuat baik
  (basyir) dan ancaman siksa bagi yang berbuat dosa
  (nadzir)
• Kisah-kisah sejarah
• Dasar-dasar dan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan
Fungsi dari Al-Qur’an
• Petunjuk  Al-Qur’an merupakan suatu
  aturan yang harus diikuti.
• Penjelas  di dalam al-Qur’an sudah dijelaskan
  tentang segala sesuatu yang ditanyakan oleh
  manusia
• Pembeda  Al-Qur’an sebagai pembeda yang
  haq dan yang bathil
• Obat  resep yang diberikan oleh Allah dan
  sudah pasti resep tersebut tidak mungkin salah
  karena Allah maha besar
As-Sunnah sebagai Sumber Ajaran
             Islam
• Sunnah dalam bahasa berarti tradisi,
  kebiasaan adat-istiadat.
• Dalam terminologi Islam, sunnah berarti
  perbuatan, perkataan dan keizinan Nabi
  Muhammad SAW (af’al, aqwal, dan taqrir).
• As-sunnah adalah hukum kedua yang wajib
  dijadikan pedoman bagi umat Islam
• As-sunnah  hadist
Dasar Alasan Sunnah Sebagai
                   Sumber Hukum
• Al- Nisaa:


  Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan
  mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berkuasa
  terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam
  Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. 4:115)
• Al-Maidah:


  Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul- (Nya) dan berhati-
  hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul
  Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. 5:92)
Macam-macam As-Sunnah
• ditinjau dari bentuknya
    – Fi’li (perbuatan Nabi)
    – Qauli (perkataan Nabi)
    – Taqriri (persetujuan atau izin Nabi)
• ditinjau dari segi jumlah orang-orang yang menyampaikannya
    – Mutawir, yaitu yang diriwayatkan oleh orang banyak
    – Masyhur, diriwayatkan oleh banyak orang, tetapi tidak sampai
      (jumlahnya) kepada derajat mutawir
    – Ahad, yang diriwayatkan oleh satu orang.
• ditinjau dari kualitasnya
    – Shahih, yaitu hadits yang sehat, benar, dan sah
    – Hasan, yaitu hadits yang baik, memenuhi syarat shahih, tetapi dari segi
      hafalan pembawaannya yang kurang baik.
    – Dhaif, yaitu hadits yang lemah
    – Maudhu’, yaitu hadits yang palsu.
• ditinjau dari segi diterima atau tidaknya
    – Maqbul, yang diterima.
    – Mardud, yang ditolak.
Hubungan Al-hadits/As-sunnah Dengan
              Al-Qur’an
• As-Sunnah berfungsi sebagai penafsir, dan penjelas daripada ayat-ayat
  tertentu.

• Fungsi As-Sunnah dalam hubungan dengan Al-Qur’an, sebagai berikut :
 Bayan Tafsir: yaitu menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal
  dan musytarak. Seperti hadits : “Shallu kamaa ro-aitumuni ushalli”
  (Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat) adalah merupakan
  tafsiran daripada ayat Al-Qur’an yang umum, yaitu : “Aqimush-shalah”
  (Kerjakan shalat).
 Bayan Taudhih: yaitu menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat Al-
  Qur’an, seperti pernyataan Nabi : “Allah tidak mewajibkan zakat
  melainkan supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah
  dizakati”, adalah taudhih (penjelasan) terhadap ayat Al-Qur’an dalam surat
  at-Taubah: 34, yang artinya sebagai berikut : “Dan orang-orang yang
  menyimpan mas dan perak kemudian tidak membelanjakannya dijalan
  Allah maka gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih”.
Ijtihad Sebagai Sumber Hukum
                   Islam
Pengertian Ijtihad




Kedudukan Ijtihad
Macam-macam Ijtihad
 Secara garis besar ijtihad dibagi kedalam dua
  bagian, yaitu ijtihad Fardhi dan Jami’i.

a) Ijtihad fardhi adalah : ”Setiap ijtihad yang
   dilakukan oleh perseorangan atau beberapa
   orang, namun tidak ada keterangan bahwa semua
   mujtahid lain menyetujuinya dalam suatu
   perkara” (Tasyri’ Islami: 115)

b) Ijtihad Jami’i adalah : ”Semua ijtihad dalam
   suatu perkara yang disepakati oleh semua
   mujtahidin.” (Ushulu Tasyri’ :116)
Lapangan Ijtihad
• Ijtihad tidak berlaku dalam urusan penambahan ibadah mahdhah.
• Hasil ketetapan ijtihad sifatnya kondisional dan situasional, mungkin
  berlaku bagi seseorang tetapi tidak berlaku bagi oranng lain.
• Keputusan ijtihad tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an dan
  al-Sunnah.
• Ketetapan ijtihad tidak melahirkan keputusan yang absolute, tetapi
  sifatnya relative.
• Dalam proses berijtihad harus mempertimbangkan berbagai aspek,
  diantaranya aspek lingkungan, aspek manfaat dan madharat atau
  akibat, aspek motivasi dan nilai-nilai yang menjadi ciri khas ajaran
  Islam.
• Ijtihad mencakup bidang mu’amalah (ihwal ekonomi), jinayat
  (kriminalitas), siasat (politik), ahwal syakhshiyyah (ihwal
  kekeluargaan), dan da’wah (misson), kedokteran, sains dan
  teknologi dan sebagainya.
 Syarat-syarat ijtihad:
 Memiliki ilmu pengetahuan yg luas tentang ayat-ayat al-Qur’an yang
  berhubungan dengan masalah hokum
 Memiliki pengetahuan yang luas tentang hadist-hadist yang berhubungan
  dengan masalah hukum.
 Menguasai seluruh masalah yang hukumnya telah ditunjukkan oleh ijma’.
 Mengetahui secara mendalam tentang masalah qiyas dan dapat
  mempergunakannya untuk menggali hukum.
 Menguasai bahasa arab secara mendalam.
 Mengetahui secara mendalam tentang nasikh-mansukh.
 Mengetahui tentang latar belakang turunnya ayat-ayat al-Qur’an dan hadist.
 Ijtihad memiliki peranan penting dalam pembinaan hukum Islam;
  diantaranya :
 Agar hukum Islam dapat ditetapkan secara fleksibel sehingga tidak kaku.
 Agar dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman
 Dapat memudahkan penerapan ajaran Islam menurut situasi dan kondisi
  yang ada.
 Dapat mengembangkan intelektualitas umat Islam sejalan dengan
  perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Qiyas Sebagai Sumber Hukum Islam
• Qiyas menurut ulama ushul adalah menerangkan
  sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Al Qur’an dan
  hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu
  yang ditetapkan hukumnya berdasarkan nash.

• Pandangan ulama mengenai qiyas ini terbagi menjadi
  tiga kelompok:
  1. Kelompok jumhur, mereka menggunakan qiyas
  sebagai dasar hukum pada hal-hal yang tidak jelas
  nashnya baik dalam Al Qur’an, hadits, pendapat
  sahabat maupun ijma ulama.
  2. Mazhab Zhahiriyah dan Syiah Imamiyah, mereka
  sama sekali tidak menggunakan qiyas.
  3. Kelompok yang lebih memperluas pemakaian qiyas,
  yang berusaha berbagai hal karena persamaan illat .
AYAT AL QUR’AN YANG DIJADIKAN DALIL
DASAR HUKUM QIYAS ADALAH FIRMAN ALLAH




 “Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-
 kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa
 mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng- benteng mereka dapat
 mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka
 (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. dan Allah melemparkan
 ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan
 mereka sendiri dan tangan orang- orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk
 menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.” (Qs.59:2)
Rukun Qiyas
1. Asal (pokok), yaitu apa yang terdapat dalam
   hukum nashnya. Disebut dengan al-maqis alaihi.
2. Fara’ (cabang), yaitu sesuatu yang belum
   terdapat nash hukumnya, disebut pula al-maqîs .
3. Hukmu al-asal , yaitu hukum syar’i yang terdapat
   dalam nash dalam hukum asalnya. Yang
   kemudian menjadi ketetapan hukum untuk fara’.
4. Illat, adalah sifat yang didasarkan atas hukum
   asal atau dasar qiyas yang dibangun atasnya.
Ijma’ sebagai sumber hukum Islam
 Definisi Ijma’
   Secara Etimologi (Bahasa) Ijma’ berasal dari kata
  “ajma’a”,“yujmi’u”,“ijma'an” dengan isim maf’ul mujma yang
  memiliki dua makna :
 Ijma' secara etimologi bisa bermakna tekad yang kuat


 “…Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah)
 sekutu-sekutumu (untuk membinsakanku)…” (QS. Yunus : 71)
 Ijma’ secara etimologi juga memiliki makna sepakat.


  “Maka tatkala mereka membawanya dan               sepakat
  memasukkannya ke dasar sumur” (QS. Yusuf : 15)
Hakikat Ijma’
• Ijma’ merupakan dasar agama yang sah dan
  menjadi sumber hukum ketiga agama Islam
  setelah Al-Qur’an dan Sunnah. Tidak terdapat
  ketetapan Ijma’ yang menentang kebenaran,
  kecuali tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan
  Sunnah. Maka suatu keutamaan bagi para
  ulama ahli ijtihad untuk berijma’ berdasarkan
  Al-Qur’an dan Sunnah.
   Ijma’ bisa dikatakan sebagai salah satu landsan
    hukum islam selain Al-Qur’an dan Sunnah.
    Namun isi dari Ijma’ itu tersendiri harus
    didasari pada dalil-dalil syar’i, karena
    hakekatnya sebaik-baiknya pedoman kita di
    akhir zaman seperti ini adalah Al-Qur’an dan
    Sunnah.
Kesimpulan
• Sumber ajaran Islam ada 5,yaitu: Al-Qur’an,
  As-sunnah/Al-Hadits, Ijtihad, Qiyas dan Ijma’.
• Kelima sumber tersebut adalah pedoman
  hidup yang harus tetap dipegang teguh umat
  Islam selama hidupnya agar tidak tersesat.

Sumber ajaran islam

  • 1.
    Sumber Ajaran Islam Oleh : Kelompok 2 Dian Mutiara Chairunnisa Redha Geriawan Rezta Noraya Lutfia Azizah Venni Noviliyandari S Bismi Agung Firman D
  • 2.
    Sumber Hukum Islam Segala sesuatu yang menjadi pedoman atau dasar acuan ajaran Islam 1. AL-QUR’AN 2. AS-SUNNAH 3. IJTIHAD 4. QIYAS 5. IJMA’
  • 3.
    :” ” : :” ” : :” ” : : :” ” “Dari Muadz ibn Jabal ra bahwa Nabi Saw ketika mengutusnya ke Yaman, Nabi bertanya: “Bagaimana kamu jika dihadapkan permasalahan hukum? Ia berkata: “Saya berhukum dengan kitab Allah”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam kitab Allah” ?, ia berkata: “Saya berhukum dengan sunnah Rasulullah Saw”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam sunnah Rasul Saw” ? ia berkata: “Saya akan berijtihad dan tidak berlebih (dalam ijtihad)”. Maka Rasul Saw memukul ke dada Muadz dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah
  • 4.
    Al-Qur’an sebagai Sumber Hukum Islam Al-Qur’an adalah firman Allah s.w.t. yang di turunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W. secara berangsur-angsur melalui malaikat Jibril, turun pada sekitar tanggal 17 Ramadhan tahun ke- 41 dari kelahiran nabi Muhammad s.a.w. Al-qur’an di jaga dan dipelihara oleh Allah SWT, sesuai dengan firmannya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. 15:9)
  • 5.
    Al-Qur’an merupakan pedomanhidup utama umat Islam. Firman Allah SWT: . . “Hai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya).” (QS. Al-Anfal, 8 : 20-21)
  • 6.
    Kandungan Al-Qur’an • Pokok-pokokkeimanan (tauhid) kepada Allah, keimanan kepada malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab, hari akhir, qodli-qodor, dan sebagainya. • Prinsip-prinsip syari’ah sebagai dasar pijakan manusia dalam hidup agar tidak salah jalan dan tetap dalam koridor yang benar bagaimana menjalin hubungan kepada Allah (hablun minallah, ibadah) dan (hablun minannas, mu’amalah) • Janji atau kabar gembira kepada yang berbuat baik (basyir) dan ancaman siksa bagi yang berbuat dosa (nadzir) • Kisah-kisah sejarah • Dasar-dasar dan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan
  • 7.
    Fungsi dari Al-Qur’an •Petunjuk  Al-Qur’an merupakan suatu aturan yang harus diikuti. • Penjelas  di dalam al-Qur’an sudah dijelaskan tentang segala sesuatu yang ditanyakan oleh manusia • Pembeda  Al-Qur’an sebagai pembeda yang haq dan yang bathil • Obat  resep yang diberikan oleh Allah dan sudah pasti resep tersebut tidak mungkin salah karena Allah maha besar
  • 8.
    As-Sunnah sebagai SumberAjaran Islam • Sunnah dalam bahasa berarti tradisi, kebiasaan adat-istiadat. • Dalam terminologi Islam, sunnah berarti perbuatan, perkataan dan keizinan Nabi Muhammad SAW (af’al, aqwal, dan taqrir). • As-sunnah adalah hukum kedua yang wajib dijadikan pedoman bagi umat Islam • As-sunnah  hadist
  • 9.
    Dasar Alasan SunnahSebagai Sumber Hukum • Al- Nisaa: Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. 4:115) • Al-Maidah: Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul- (Nya) dan berhati- hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. 5:92)
  • 10.
    Macam-macam As-Sunnah • ditinjaudari bentuknya – Fi’li (perbuatan Nabi) – Qauli (perkataan Nabi) – Taqriri (persetujuan atau izin Nabi) • ditinjau dari segi jumlah orang-orang yang menyampaikannya – Mutawir, yaitu yang diriwayatkan oleh orang banyak – Masyhur, diriwayatkan oleh banyak orang, tetapi tidak sampai (jumlahnya) kepada derajat mutawir – Ahad, yang diriwayatkan oleh satu orang. • ditinjau dari kualitasnya – Shahih, yaitu hadits yang sehat, benar, dan sah – Hasan, yaitu hadits yang baik, memenuhi syarat shahih, tetapi dari segi hafalan pembawaannya yang kurang baik. – Dhaif, yaitu hadits yang lemah – Maudhu’, yaitu hadits yang palsu. • ditinjau dari segi diterima atau tidaknya – Maqbul, yang diterima. – Mardud, yang ditolak.
  • 11.
    Hubungan Al-hadits/As-sunnah Dengan Al-Qur’an • As-Sunnah berfungsi sebagai penafsir, dan penjelas daripada ayat-ayat tertentu. • Fungsi As-Sunnah dalam hubungan dengan Al-Qur’an, sebagai berikut :  Bayan Tafsir: yaitu menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal dan musytarak. Seperti hadits : “Shallu kamaa ro-aitumuni ushalli” (Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat) adalah merupakan tafsiran daripada ayat Al-Qur’an yang umum, yaitu : “Aqimush-shalah” (Kerjakan shalat).  Bayan Taudhih: yaitu menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat Al- Qur’an, seperti pernyataan Nabi : “Allah tidak mewajibkan zakat melainkan supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah dizakati”, adalah taudhih (penjelasan) terhadap ayat Al-Qur’an dalam surat at-Taubah: 34, yang artinya sebagai berikut : “Dan orang-orang yang menyimpan mas dan perak kemudian tidak membelanjakannya dijalan Allah maka gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih”.
  • 12.
    Ijtihad Sebagai SumberHukum Islam Pengertian Ijtihad Kedudukan Ijtihad
  • 13.
    Macam-macam Ijtihad  Secaragaris besar ijtihad dibagi kedalam dua bagian, yaitu ijtihad Fardhi dan Jami’i. a) Ijtihad fardhi adalah : ”Setiap ijtihad yang dilakukan oleh perseorangan atau beberapa orang, namun tidak ada keterangan bahwa semua mujtahid lain menyetujuinya dalam suatu perkara” (Tasyri’ Islami: 115) b) Ijtihad Jami’i adalah : ”Semua ijtihad dalam suatu perkara yang disepakati oleh semua mujtahidin.” (Ushulu Tasyri’ :116)
  • 14.
    Lapangan Ijtihad • Ijtihadtidak berlaku dalam urusan penambahan ibadah mahdhah. • Hasil ketetapan ijtihad sifatnya kondisional dan situasional, mungkin berlaku bagi seseorang tetapi tidak berlaku bagi oranng lain. • Keputusan ijtihad tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah. • Ketetapan ijtihad tidak melahirkan keputusan yang absolute, tetapi sifatnya relative. • Dalam proses berijtihad harus mempertimbangkan berbagai aspek, diantaranya aspek lingkungan, aspek manfaat dan madharat atau akibat, aspek motivasi dan nilai-nilai yang menjadi ciri khas ajaran Islam. • Ijtihad mencakup bidang mu’amalah (ihwal ekonomi), jinayat (kriminalitas), siasat (politik), ahwal syakhshiyyah (ihwal kekeluargaan), dan da’wah (misson), kedokteran, sains dan teknologi dan sebagainya.
  • 15.
     Syarat-syarat ijtihad: Memiliki ilmu pengetahuan yg luas tentang ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan masalah hokum  Memiliki pengetahuan yang luas tentang hadist-hadist yang berhubungan dengan masalah hukum.  Menguasai seluruh masalah yang hukumnya telah ditunjukkan oleh ijma’.  Mengetahui secara mendalam tentang masalah qiyas dan dapat mempergunakannya untuk menggali hukum.  Menguasai bahasa arab secara mendalam.  Mengetahui secara mendalam tentang nasikh-mansukh.  Mengetahui tentang latar belakang turunnya ayat-ayat al-Qur’an dan hadist.  Ijtihad memiliki peranan penting dalam pembinaan hukum Islam; diantaranya :  Agar hukum Islam dapat ditetapkan secara fleksibel sehingga tidak kaku.  Agar dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman  Dapat memudahkan penerapan ajaran Islam menurut situasi dan kondisi yang ada.  Dapat mengembangkan intelektualitas umat Islam sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
  • 16.
    Qiyas Sebagai SumberHukum Islam • Qiyas menurut ulama ushul adalah menerangkan sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Al Qur’an dan hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. • Pandangan ulama mengenai qiyas ini terbagi menjadi tiga kelompok: 1. Kelompok jumhur, mereka menggunakan qiyas sebagai dasar hukum pada hal-hal yang tidak jelas nashnya baik dalam Al Qur’an, hadits, pendapat sahabat maupun ijma ulama. 2. Mazhab Zhahiriyah dan Syiah Imamiyah, mereka sama sekali tidak menggunakan qiyas. 3. Kelompok yang lebih memperluas pemakaian qiyas, yang berusaha berbagai hal karena persamaan illat .
  • 17.
    AYAT AL QUR’ANYANG DIJADIKAN DALIL DASAR HUKUM QIYAS ADALAH FIRMAN ALLAH “Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung- kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng- benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang- orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.” (Qs.59:2)
  • 18.
    Rukun Qiyas 1. Asal(pokok), yaitu apa yang terdapat dalam hukum nashnya. Disebut dengan al-maqis alaihi. 2. Fara’ (cabang), yaitu sesuatu yang belum terdapat nash hukumnya, disebut pula al-maqîs . 3. Hukmu al-asal , yaitu hukum syar’i yang terdapat dalam nash dalam hukum asalnya. Yang kemudian menjadi ketetapan hukum untuk fara’. 4. Illat, adalah sifat yang didasarkan atas hukum asal atau dasar qiyas yang dibangun atasnya.
  • 19.
    Ijma’ sebagai sumberhukum Islam  Definisi Ijma’ Secara Etimologi (Bahasa) Ijma’ berasal dari kata “ajma’a”,“yujmi’u”,“ijma'an” dengan isim maf’ul mujma yang memiliki dua makna :  Ijma' secara etimologi bisa bermakna tekad yang kuat “…Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinsakanku)…” (QS. Yunus : 71)  Ijma’ secara etimologi juga memiliki makna sepakat. “Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur” (QS. Yusuf : 15)
  • 20.
    Hakikat Ijma’ • Ijma’merupakan dasar agama yang sah dan menjadi sumber hukum ketiga agama Islam setelah Al-Qur’an dan Sunnah. Tidak terdapat ketetapan Ijma’ yang menentang kebenaran, kecuali tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Maka suatu keutamaan bagi para ulama ahli ijtihad untuk berijma’ berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
  • 21.
    Ijma’ bisa dikatakan sebagai salah satu landsan hukum islam selain Al-Qur’an dan Sunnah. Namun isi dari Ijma’ itu tersendiri harus didasari pada dalil-dalil syar’i, karena hakekatnya sebaik-baiknya pedoman kita di akhir zaman seperti ini adalah Al-Qur’an dan Sunnah.
  • 22.
    Kesimpulan • Sumber ajaranIslam ada 5,yaitu: Al-Qur’an, As-sunnah/Al-Hadits, Ijtihad, Qiyas dan Ijma’. • Kelima sumber tersebut adalah pedoman hidup yang harus tetap dipegang teguh umat Islam selama hidupnya agar tidak tersesat.