STRATEGI PENYIMPANAN ZAT DAN BAHAN KIMIA YANG BENAR
DI LABORATORIUM UNTUK MENGURANGI RESIKO KECELAKAAN
Pendahuluan
Strategi merupakan suatu rencana yang diutamakan untuk mencapai
tujuan. Dalam hal penyimpanan zat dan bahan kimia stategi merupakan rencana
yang dilakukan dalam melakukan penyimpanan bahan dan zat yang benar untuk
mengurangi resiko kecelakaan di laboratorium. Penyimpanan zat dan bahan kimia
sering diabaikan bahkan terkadang dilupakan. Untuk menghindari terabainya
kegunaan penyimpanan zat dan bahan kimia diperlukan strategi penyimpanan
yang terperinci dan hati-hati. Tentu saja penting mengutamakan pertimbangan
yang baik untuk penyimpanan bahan-bahan yang berbahaya, peralatan dan
pemakaian zat dan bahan-bahan kimia untuk menjaga keselamatan kerja di
laboratorium. (Griffin, 2005; 9).
Adapun peranan laboratorium antara lain: Sebagai tempat timbulnya
berbagai masalah sekaligus sebagai tempat untuk memecahkan masalah tersebut,
sebagai tempat untuk melatih keterampilan serta kebiasaan menemukan suatu
masalah dan sikap teliti, sebagai tempat yang dapat mendorong semangat peserta
didik untuk memperdalam pengertian dari suatu fakta yang diselidiki atau
diamatinya, sebagai tempat untuk melatih peserta didik bersikap cermat, bersikap
sabar dan jujur serta berpikir kritis dan cekatan, sebagai tempat mengembangkan
ilmu pengetahuan (Emha 2002; 7). Peran laboratorium sebagai tempat untuk
melatih keterampilan peserta didik dalam hal melakukan praktikum di perlukan
pengawasan agar kontrol penggunaan bahan-bahan kimia dipergunakan dengan
tepat.
Pengaturan keselamatan penggunaan bahan-bahan kimia membutuhkan
pengawasan yang rutin. Resiko pemakaian bahan-bahan kimia berbahaya dapat
dikurangi dengan mengurangi jumlah pemakaian bahan-bahan kimia. Bahan-
bahan kimia yang disimpan dalam lemari penyimpanan harus diperiksa minimal
setahun sekali, bahan-bahan yang sudah tidak layak pakai dipindahkan atau
dibuang sedangkan bahan yang masih bisa digunakan disimpan kembali ditempat
yang aman dan mudah untuk dijangkau. Bahan kimia yang ada di lab jumlahnya
relatif banyak seperti halnya jumlah peralatan. Di samping jumlahnya cukup
banyak juga bahan kimia dapat menimbulkan resiko bahaya cukup tinggi, oleh
karena itu dalam pengelolaan laboratorium aspek penyimpanan, penataan dan
pemeliharaan bahan kimia merupakan bagian penting yang harus diperhatikan.
Penyimpanan dan penataan bahan kimia berdasarkan urutan alfabetis tidaklah
tepat, kebutuhan itu hanya diperlukan untuk melakukan proses
pengadministrasian. Pengurutan secara alfabetis akan lebih tepat apabila bahan
kimia sudah dikelompokkan menurut sifat fisis, dan sifat kimianya terutama
tingkat kebahayaannya.
Bahan berbahaya adalah bahan-bahan yang pembuatan, pengolahan,
pengangkutan, penyimpanan dan penggunaanya menimbulkan atau membebaskan
debu, kabut, uap, gas, serat, atau radiasi sehingga dapat menyebabkan iritasi,
kebakaran, ledakan, korosi, keracunan dan bahaya lain dalam jumlah yang
memungkinkan gangguan kesehatan bagi orang yang berhubungan langsung
dengan bahan tersebut atau meyebabkan kerusakan pada barang-barang, sehingga
strategi penyimpanan yang baik sangat perlu dilakukan untuk
menghidarikecelakaan kerja di laboratorium.
Penyimpanan dan Inventarisasi Bahan-Bahan Kimia
Penyimpanan bahan kimia sangat perlu untuk: , Mengurangi segala resiko
yang timbul, Mencegah mengatasi kehilangan, pencurian , kebakaran, kerusakan
dan penyalahgunaan, Menekan biaya operasional laboratorium sekecil mungkin,
Peningkatan kwalitas kerja/SDM untuk mengelola laboratorium secara optimal,
Memudahkan rencana penambahan bahan yang baru, Merencanakan perbaikan
atau servis, Informasi peralatan bagi user/pemakainya. Setiap bahan kimia
memiliki sifat fisik dan kimia yang berbeda-beda. Maka, hal-hal harus menjadi
diperhatian dalam penyimpanan dan penataan bahan kimia meliputi aspek
pemisahan (segregation), tingkat resiko bahaya (multiple hazards), pelabelan
(labeling), fasilitas penyimpanan (storage facilities), wadah sekunder (secondary
containment), bahan kadaluarsa (outdate chemicals), inventarisasi (inventory), dan
informasi resiko bahaya (hazard information).
Prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan bahan di laboratorium:
1. Aman : bahan disimpan supaya aman dari pencuri.
2. Mudah dicari : Untuk memudahkan mencari letak bahan, perlu diberi tanda yaitu dengan
menggunakan label pada setiap tempat penyimpanan bahan (lemari, rak atau laci).
3. Mudah diambil : Penyimpanan bahan diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan
(Lindawati, 2010)
Pada bahan, pengurutan secara alfabetis akan tepat jika dikelompokkan
menurut sifat fisis dan sifat kimianya terutama tingkat kebahayaannya untuk
pengadministrasian. Bahan kimia yang tidak boleh disimpan dengan bahan kimia
lain, harus disimpan secara khusus dalam wadah sekunder yang terisolasi. Hal ini
untuk mencegah pencampuran dengan sumber bahaya lain seperti api, gas
beracun, ledakan atau degradasi kimia. Misalnya benzena memiliki sifat
flammable dan toxic. Oleh karena itu harus ditempatkan pada lemari tempat
menyimpan zat cair flammable daripada disimpan pada lemari bahan toxic, karena
benzena mudah terbakar daripada beracun. Di bawah ini panduan umum untuk
mengurutkan tingkat bahaya bahan kimia dalam kaitan dengan penyimpanannya.
1. Bahan Radioaktif > Bahan Piroforik > Bahan Eksplosif >
2. Cairan Flammable > Asam/basa Korosif > Bahan Reaktif
3. terhadap Air > Padatan Flammable > Bahan Oksidator >
4. Bahan Combustible > Bahan Toksik > Bahan yang tidak
5. memerlukan pemisahan secara khusus
Wadah dan tempat penyimpanan harus diberi label yang mencantumkan
nama bahan, tingkat bahaya, tanggal diterima dan dipakai. Misalnya warna merah
untuk bahan flammable, kuning untuk bahan oksidator, biru untuk bahan toksik,
putih untuk bahan korosif, dan hijau untuk bahan yang bahayanya rendah.
label bahan flammable label bahan oksidator label bahan toksik
label bahan korosif label bahan dengan tingkat bahaya
rendah
Di samping pemberian label pada lokasi penyimpanan, pelabelan pada
botol reagen juga penting. Informasi yang harus dicantumkan pada botol reagen
diantaranya :
- Nama kimia dan rumusnya - Konsentrasi
- Tanggal penerimaan - Tanggal pembuatan
- Nama orang yang membuat reagen - Lama hidup
- Tingkat bahaya - Klasifikasi lokasi penyimpanan
- Nama dan alamat pabrik
Tempat penyimpanan bahan kimia harus bersih, kering, jauh dari sumber
panas atau sinar matahari langsung dan dilengkapi dengan ventilasi yang menuju
ruang asap atau ke luar ruangan.
Bahan kimia cair yang berbahaya harus disimpan dalam wadah sekunder
seperti wadah plastik untuk mencegah timbulnya kecelakaan akibat bocor atau
pecah. Secara umum pengelompokkan bahan berbahaya yang memerlukan wadah
sekunder adalah :
1. Cairan flammable dan combustible serta pelarut terhalogenasi misalnya
alkohol, eter, trikloroetan, perkloroetan dsb.
2. Asam-asam mineral pekat misalnya asam nitrat, asam klorida, asam sulfat,
asam florida, asam fosfat dsb.
3. Basa-basa pekat misalnya amonium hidroksida, natrium hidroksida, dan
kalium hidroksida.
4. Bahan radioaktif
Bahan kimia kadaluarsa, bahan kimia yang tidak diperlukan, dan bahan
kimia yang rusak harus dibuang melalui unit pengelolaan limbah

Strategi penyimpanan larutan

  • 1.
    STRATEGI PENYIMPANAN ZATDAN BAHAN KIMIA YANG BENAR DI LABORATORIUM UNTUK MENGURANGI RESIKO KECELAKAAN Pendahuluan Strategi merupakan suatu rencana yang diutamakan untuk mencapai tujuan. Dalam hal penyimpanan zat dan bahan kimia stategi merupakan rencana yang dilakukan dalam melakukan penyimpanan bahan dan zat yang benar untuk mengurangi resiko kecelakaan di laboratorium. Penyimpanan zat dan bahan kimia sering diabaikan bahkan terkadang dilupakan. Untuk menghindari terabainya kegunaan penyimpanan zat dan bahan kimia diperlukan strategi penyimpanan yang terperinci dan hati-hati. Tentu saja penting mengutamakan pertimbangan yang baik untuk penyimpanan bahan-bahan yang berbahaya, peralatan dan pemakaian zat dan bahan-bahan kimia untuk menjaga keselamatan kerja di laboratorium. (Griffin, 2005; 9). Adapun peranan laboratorium antara lain: Sebagai tempat timbulnya berbagai masalah sekaligus sebagai tempat untuk memecahkan masalah tersebut, sebagai tempat untuk melatih keterampilan serta kebiasaan menemukan suatu masalah dan sikap teliti, sebagai tempat yang dapat mendorong semangat peserta didik untuk memperdalam pengertian dari suatu fakta yang diselidiki atau diamatinya, sebagai tempat untuk melatih peserta didik bersikap cermat, bersikap sabar dan jujur serta berpikir kritis dan cekatan, sebagai tempat mengembangkan ilmu pengetahuan (Emha 2002; 7). Peran laboratorium sebagai tempat untuk melatih keterampilan peserta didik dalam hal melakukan praktikum di perlukan pengawasan agar kontrol penggunaan bahan-bahan kimia dipergunakan dengan tepat. Pengaturan keselamatan penggunaan bahan-bahan kimia membutuhkan pengawasan yang rutin. Resiko pemakaian bahan-bahan kimia berbahaya dapat dikurangi dengan mengurangi jumlah pemakaian bahan-bahan kimia. Bahan- bahan kimia yang disimpan dalam lemari penyimpanan harus diperiksa minimal setahun sekali, bahan-bahan yang sudah tidak layak pakai dipindahkan atau dibuang sedangkan bahan yang masih bisa digunakan disimpan kembali ditempat yang aman dan mudah untuk dijangkau. Bahan kimia yang ada di lab jumlahnya relatif banyak seperti halnya jumlah peralatan. Di samping jumlahnya cukup banyak juga bahan kimia dapat menimbulkan resiko bahaya cukup tinggi, oleh karena itu dalam pengelolaan laboratorium aspek penyimpanan, penataan dan pemeliharaan bahan kimia merupakan bagian penting yang harus diperhatikan.
  • 2.
    Penyimpanan dan penataanbahan kimia berdasarkan urutan alfabetis tidaklah tepat, kebutuhan itu hanya diperlukan untuk melakukan proses pengadministrasian. Pengurutan secara alfabetis akan lebih tepat apabila bahan kimia sudah dikelompokkan menurut sifat fisis, dan sifat kimianya terutama tingkat kebahayaannya. Bahan berbahaya adalah bahan-bahan yang pembuatan, pengolahan, pengangkutan, penyimpanan dan penggunaanya menimbulkan atau membebaskan debu, kabut, uap, gas, serat, atau radiasi sehingga dapat menyebabkan iritasi, kebakaran, ledakan, korosi, keracunan dan bahaya lain dalam jumlah yang memungkinkan gangguan kesehatan bagi orang yang berhubungan langsung dengan bahan tersebut atau meyebabkan kerusakan pada barang-barang, sehingga strategi penyimpanan yang baik sangat perlu dilakukan untuk menghidarikecelakaan kerja di laboratorium. Penyimpanan dan Inventarisasi Bahan-Bahan Kimia Penyimpanan bahan kimia sangat perlu untuk: , Mengurangi segala resiko yang timbul, Mencegah mengatasi kehilangan, pencurian , kebakaran, kerusakan dan penyalahgunaan, Menekan biaya operasional laboratorium sekecil mungkin, Peningkatan kwalitas kerja/SDM untuk mengelola laboratorium secara optimal, Memudahkan rencana penambahan bahan yang baru, Merencanakan perbaikan atau servis, Informasi peralatan bagi user/pemakainya. Setiap bahan kimia memiliki sifat fisik dan kimia yang berbeda-beda. Maka, hal-hal harus menjadi diperhatian dalam penyimpanan dan penataan bahan kimia meliputi aspek pemisahan (segregation), tingkat resiko bahaya (multiple hazards), pelabelan (labeling), fasilitas penyimpanan (storage facilities), wadah sekunder (secondary containment), bahan kadaluarsa (outdate chemicals), inventarisasi (inventory), dan informasi resiko bahaya (hazard information). Prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan bahan di laboratorium: 1. Aman : bahan disimpan supaya aman dari pencuri. 2. Mudah dicari : Untuk memudahkan mencari letak bahan, perlu diberi tanda yaitu dengan menggunakan label pada setiap tempat penyimpanan bahan (lemari, rak atau laci). 3. Mudah diambil : Penyimpanan bahan diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan (Lindawati, 2010) Pada bahan, pengurutan secara alfabetis akan tepat jika dikelompokkan menurut sifat fisis dan sifat kimianya terutama tingkat kebahayaannya untuk pengadministrasian. Bahan kimia yang tidak boleh disimpan dengan bahan kimia lain, harus disimpan secara khusus dalam wadah sekunder yang terisolasi. Hal ini untuk mencegah pencampuran dengan sumber bahaya lain seperti api, gas beracun, ledakan atau degradasi kimia. Misalnya benzena memiliki sifat
  • 3.
    flammable dan toxic.Oleh karena itu harus ditempatkan pada lemari tempat menyimpan zat cair flammable daripada disimpan pada lemari bahan toxic, karena benzena mudah terbakar daripada beracun. Di bawah ini panduan umum untuk mengurutkan tingkat bahaya bahan kimia dalam kaitan dengan penyimpanannya. 1. Bahan Radioaktif > Bahan Piroforik > Bahan Eksplosif > 2. Cairan Flammable > Asam/basa Korosif > Bahan Reaktif 3. terhadap Air > Padatan Flammable > Bahan Oksidator > 4. Bahan Combustible > Bahan Toksik > Bahan yang tidak 5. memerlukan pemisahan secara khusus Wadah dan tempat penyimpanan harus diberi label yang mencantumkan nama bahan, tingkat bahaya, tanggal diterima dan dipakai. Misalnya warna merah untuk bahan flammable, kuning untuk bahan oksidator, biru untuk bahan toksik, putih untuk bahan korosif, dan hijau untuk bahan yang bahayanya rendah. label bahan flammable label bahan oksidator label bahan toksik label bahan korosif label bahan dengan tingkat bahaya rendah Di samping pemberian label pada lokasi penyimpanan, pelabelan pada botol reagen juga penting. Informasi yang harus dicantumkan pada botol reagen diantaranya : - Nama kimia dan rumusnya - Konsentrasi - Tanggal penerimaan - Tanggal pembuatan - Nama orang yang membuat reagen - Lama hidup - Tingkat bahaya - Klasifikasi lokasi penyimpanan - Nama dan alamat pabrik Tempat penyimpanan bahan kimia harus bersih, kering, jauh dari sumber panas atau sinar matahari langsung dan dilengkapi dengan ventilasi yang menuju ruang asap atau ke luar ruangan. Bahan kimia cair yang berbahaya harus disimpan dalam wadah sekunder seperti wadah plastik untuk mencegah timbulnya kecelakaan akibat bocor atau pecah. Secara umum pengelompokkan bahan berbahaya yang memerlukan wadah sekunder adalah : 1. Cairan flammable dan combustible serta pelarut terhalogenasi misalnya alkohol, eter, trikloroetan, perkloroetan dsb. 2. Asam-asam mineral pekat misalnya asam nitrat, asam klorida, asam sulfat, asam florida, asam fosfat dsb. 3. Basa-basa pekat misalnya amonium hidroksida, natrium hidroksida, dan kalium hidroksida. 4. Bahan radioaktif Bahan kimia kadaluarsa, bahan kimia yang tidak diperlukan, dan bahan kimia yang rusak harus dibuang melalui unit pengelolaan limbah