Sistem Pemerintahan 1945 – 1959 
pembahasan mengenai sistem pemerintahan 1945 – 1959 akan dibagi kedalam tiga periode yakni: 
1945 – 1949 , 1949 – 1950 , dan 1950 – 1959. Pembagian ini dimaksudkan untuk memperjelas 
perubahan yang terjadi pada tiap periode . 
Pada awal deklarasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 , Indonesia menjalankan 
sistem presidensial yang merujuk pada UUD 1945 yang menyatakan bahwa Presiden memiliki 
kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan. Namun pada tanggal 23 Agustus 1945 , Belanda dan 
negara sekutu mendarat di Indonesia. Adapun negara selain Belanda bermaksud untuk 
mengamankan Indonesia pasca penetapan kemerdekaannya . Namun lain halnya dengan Belanda, ia 
kembali ke Indonesia dengan maksud untuk kembali menguasai Indonesia. Tentunya hal ini 
merupakan tantangan bagi deklarator kita Soekarno untuk mempertahankan Indonesia dan wilayah 
– wilayah yang telah disepakati sebagai bagian dari Indonesia. 
Untuk itu dibutuhkan jalan perundingan dengan pihak Belanda untuk mengakui Indonesia sebagai 
negara merdeka. Namun Jenderal Van Mook yang memimpin perundingan dengan Indonesia atas 
dasar pidato Ratu Wilhemnia tidak dapat dilakukan , karena Soekarno identik dengan Jepang. Maka 
berdasarkan pertimbangan tersebut dibentuklah kabinet semi-presidensil (semi-parlementer) 
peristiwa ini merupakan perubahan sistem pemerintahan agar dianggap lebih demokratis dan 
didasarkan pada usul BP – KNIP yang ditetapkan tanggal 14 November 1945. Hal ini dimaksudkan 
untuk membuka jalan perundingan antara kedua belah pihak , dengan demikian Sutan Sjahrir 
diangkat sebagai perdana menteri yang memimpin pemerintahan Indonesia dan juga sebagai 
perwakilan dalam perundingan dengan pihak Belanda. 
Pada masa kabinet parlementer ini Sutan Sjahrir mengambil banyak peran terutama melakukan 
diplomasi dengan pihak Belanda untuk mengakui Indonesia sebagai negara merdeka. Adapun pada 
periode ini sistem pemerintahan dinilai tidak stabil , karena terjadi penguasaan terhadap wewenang 
kepada Perdana Menteri . Sehingga terjadi tiga kali pergantian perdana menteri, yakni : Sutan Sjahrir 
, Amir Syarifuddin , dan Muhammad Hatta. 
Pada periode ini juga terjadi berbagai perjanjian antara Indonesia dan Belanda untuk pengakuan dari 
Belanda terhadap Indonesia. Bahkan Belanda melakukan dua kali agresi ke Indonesia yang 
menyebabkan berbagai perang di beberapa wilayah . Dan akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949 
di Istana Dam, Amsterdam . 
Untuk periode ini , Indonesia menjalankan sistem pemerintahan semi-parlementer karena kondisi 
tersebut yang tidak memungkinkan untuk menjalankan sepenuhnya , dan tentunya dipengaruhi 
faktor politik yakni untuk membuka jalan diplomasi dengan pihak Belanda. 
Selain itu pada periode ini dibentuk KNIP yang merupakan lembaga yang menjadi cikal bakal DPR 
yang berfungsi sebagai badan legislatif . Hal ini sesuai dengan Pasal 4 Aturan Peralihan dalam UUD 
1945 dan maklumat Wakil Presiden Nomor X pada tanggal 16 Oktober 1945, yang memutuskan 
bahwa KNIP diserahi kekuasaan legislatif, karena MPR dan DPR belum terbentuk. 
II. Periode 1949 – 1950
Pada periode ini sistem pemerintahan Indonesia masih menggunakan sistem pemerintahan 
parlementer yang merupakan lanjutan dari periode sebelumnya (1945-1949). Sistem ini menganut 
sistem multi-partai. Hal ini didasarkan pada konstitusi RIS yang menetapkan sistem parlementer 
kabinet semu (quasy parlementary) sebagai sistem pemerintahan RIS. Perlu diketahui bahwa sistem 
pemerintahan yang dianut pada masa konstitusi RIS bukanlah kabinet parlementer murni karena 
dalam sistem parlementer murni, parlemen mempunyai kedudukan yang sangat menentukan 
terhadap kekuasaan pemerintah. 
Diadakannya perubahan bentuk negara kesatuan RI menjadi negara serikat ini adalah merupakan 
konsekuensi sebagai diterimanya hasil Konferensi Meja Bundar (KMB). Perubahan ini dituangkan 
dalam Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS). Hal ini karena adanya campur tangan dari PBB 
yang memfasilitasinya. 
Wujud dari campur tangan PBB tersebut adanya konfrensi KMB yaitu : 
- Indonesia merupakan Negara bagian RIS 
- Indonesia RIS yang di maksud Sumatera dan Jawa 
- Wilayah diperkecil dan Indonesia di dalamnya 
- RIS mempunyai kedudukan yang sama dengan Belanda 
- Indonesia adalah bagian dari RIS yang meliputi Jawa, Sumatera dan Indonesia Timur. 
Dalam RIS ada point-point sebagai berikut : 
1. Pemerintah berhak atas kekuasaan TJ atau UU Darurat 
2. UU Darurat mempunyai kekuatan atas UU Federasi 
Berdasarkan Konstitusi RIS yang menganut sistem pemerintahan parlementer ini, badan legislatif RIS 
dibagi menjadi dua bagian yakni: Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat. Oleh karena itu pada periode 
ini Indonesia tetap menganut sistem parlementer namun bentuk pemerintahan dan bentuk 
negaranya merupakan federasi yaitu negara yang didalamnya terdiri dari negara-negara bagian yang 
masing masing negara bagian memiliki kedaulatan sendiri untuk mengurus urusan dalam negerinya. 
III. Periode 1950 – 1959 
Periode ini (1950-1959) merupakan periode dimana presiden Soekarno memerintah menggunakan 
konstitusi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950, pemberlakukan peraturan 
pada periode ini berlangsung dari 17 Agustus 1950 sampai 5 Juli 1959. Masa ini merupakan masa 
berakhirnya Negara Indonesia yang federalis. Landasannya adalah UUD 1950 pengganti konstitusi 
RIS 1949. Sistem pemerintahan yang dianut adalah parlementer kabinet dengan demokrasi liberal 
yang masih bersifat semu. 
Adapun ciri-cirinya antara lain: 
a. Presiden dan wakil presiden tidak dapat diganggu gugat. 
b. Menteri bertanggung jawab atas kebijakan pemerintahan. 
c. Presiden berhak membubarkan DPR.
d. Perdana menteri diangkat oleh Presiden. 
Diawali dari tanggal 15 Agustus 1950, Undang-Undang Dasar Sementara Negara Kesatuan Republik 
Indonesia (UUDS NKRI, UU No. 7/1850, LN No. 56/1950) disetujui oleh DPR dan Senat RIS. Pada 
tanggal yang sama pula, DPR dan Senat RIS mengadakan rapat di mana dibacakan piagam 
pernyataan terbentuknya NKRI yang bertujuan: 
1. Pembubaran secara resmi negara RIS yang berbentuk federasi; 
2. Pembentukan NKRI yang meliputi seluruh daerah Indonesia dengan UUDS yang mulai berlaku 
pada tanggal 17 Agustus 1950. 
UUDS ini merupakan adopsi dari UUD RIS yang mengalami sedikit perubahan, terutama yang 
berkaitan dengan perubahan bentuk negara dari negara serikat ke negara kesatuan. 
Setelah peralihan dari Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia 
(NKRI), Indonesia mulai menganut sistem demokrasi liberal dimana dalam sistem ini pemerintahan 
berbentuk parlementer sehingga perdana menteri langsung bertanggung jawab kepada parlemen 
(DPR) yang terdiri dari kekuatan-kekuatan partai. Anggota DPR berjumlah 232 orang yang terdiri 
dari: Masyumi (49 kursi), PNI (36 kursi), PSI (17 kursi), PKI (13 kursi), Partai Katholik (9 kursi), Partai 
Kristen (5 kursi), dan Murba (4 kursi), sedangkan sisa kursi dibagikan kepada partai-partai atau 
perorangan, yang tak satupun dari mereka mendapat lebih dari 17 kursi. Adapun kabinet yang telah 
dibentuk pada periode ini (1950 – 1959) antara lain: 
• 1950-1951 - Kabinet Natsir 
• 1951-1952 - Kabinet Sukiman-Suwirjo 
• 1952-1953 - Kabinet Wilopo 
• 1953-1955 - Kabinet Ali Sastroamidjojo I 
• 1955-1956 - Kabinet Burhanuddin Harahap 
• 1956-1957 - Kabinet Ali Sastroamidjojo II 
• 1957-1959 - Kabinet Djuanda 
Dari segi sudut pandang analis pemerintahan sistem ini tentunya tidak dapat menopang untuk 
pemerintahan yang kuat, tetapi umumnya diyakini bahwa struktur kepartaian tersebut akan 
disederhanakan apabila pemilihan umum dilaksanakan. Setelah pembentukan NKRI diadakanlah 
berbagai usaha untuk menyusun Undang-Undang Dasar baru dengan membentuk Lembaga 
Konstituante. Lembaga Konstituante adalah lembaga yang diserahi tugas untuk membentuk UUD 
baru. 
Konstituante diserahi tugas membuat undang-undang dasar yang baru sesuai amanat UUDS 1950. 
Namun sampai tahun 1959 badan ini belum juga bisa membuat konstitusi baru. Maka Presiden 
Soekarno menyampaikan konsepsi tentang Demokrasi Terpimpin pada DPR hasil pemilu yang berisi 
ide untuk kembali pada UUD 1945. 
Akhirnya setelah negara RI dengan UUDS 1950 dan sistem Demokrasi Liberal yang berlangsung 
selama 9 tahun, rakyat Indonesia merasa bahwa UUDS 1950 dengan sistem Demokrasi Liberal tidak 
cocok, karena tidak sesuai dengan jiwa Pancasila dan UUD 1945. Disamping itu, Presiden
menganggap bahwa keadaan ketatanegaraan Indonesia membahayakan persatuan dan kesatuan 
bangsa dan negara serta merintangi pembangunan semesta berencana untuk mencapai masyarakat 
adil dan makmur; sehingga pada tanggal 5 Juli 1959 mengumumkan dekrit mengenai pembubaran 
Konstituante dan berlakunya kembali UUD 1945 serta tidak berlakunya UUDS 1950. 
Dekrit Presiden 5 Juli 1959 merupakan dekrit yang mengakhiri masa parlementer dan digunakan 
kembalinya UUD 1945. Masa sesudah ini lazim disebut masa Demokrasi Terpimpin. Dekrit presiden 5 
Juli menyatakan bahwa: 
1. Kembali berlakunya UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950 
2. Pembubaran Konstituante 
3. Pembentukan MPRS dan DPAS 
Penutup 
Tentunya setelah memahami sistem pemerintahan Indonesia dari 1945 – 1959 dapat disimpulkan 
Indonesia menjalankan sistem pemerintahan parlementer sejak 14 November 1945 , hal ini 
dikarenakan persoalan politik antara Indonesia dan Belanda dan didasarkan pada pertimbangan 
mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 
Namun dalam perkembangannya walaupun Indonesia menjalankan sistem Parlementer namun 
dalam penerapannya sistem tersebut masih dijalankan setengah-hati atau bisa dibilang sebagai 
sistem semi-parlementer. Hal ini dapat dilihat dari penerapan selama 15 tahun dalam sistem 
pemerintahan Indonesia. 
Dapat kita lihat pada periode I (1945 – 1949) , perdana menteri diangkat hanya untuk menggantikan 
posisi presiden selaku perunding , sedangkan kebijakan – kebijakan masih dipengaruhi oleh 
Presiden. Kemudian pada periode II (1949 – 1950) merupakan periode pembentukan RIS (Republik 
Indonesia Serikat) yang merupakan negara federasi yang didasarkan pada KMB (Konferensi Meja 
Bundar). Pada periode ini sistem pemerintahan masih menjalankan parlementer namun dengan 
kabinet semu, sehingga fungsi – fungsi kekuasaan perdana menteri selaku pimpinan tertinggi tidak 
dilaksanakan dengan maksimal. Namun karena berbentuk RIS maka pada periode II ini , 
pemerintahan terbagi atas dua yakni: Senat dan DPR-RIS. 
Dan kemudian pada periode III (1950 – 1959) merupakan periode yang masih menjalankan sistem 
parlementer namun sudah mulai menjalankan parlementer kabinet secara penuh, namun karena 
merupakan masa peralihan (kembali) dari RIS 1949 ke UUDS 1950 maka terjadi instabilitas politik di 
parlemen (DPR). Instabilitas ini disebabkan oleh sistem demokrasi liberal yang menjadikan perdana 
menteri merupakan pimpinan terhadap dewan perwakilan rakyat (DPR) , sehingga bila perdana 
menteri diganti maka DPR akan ikut dirombak. Sehingga anggota DPR mengikuti pemimpinnya 
(perdana menteri). 
Namun pada akhirnya sistem yang diberlakukan pada periode III ini yakni UUDS 1950 tidak 
menemukan solusi yang tepat untuk bangsa , maka Presiden mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 yang 
menetapkan kembali UUD 1945 sebagai dasar negara.

Sistem pemerintahan 1945

  • 1.
    Sistem Pemerintahan 1945– 1959 pembahasan mengenai sistem pemerintahan 1945 – 1959 akan dibagi kedalam tiga periode yakni: 1945 – 1949 , 1949 – 1950 , dan 1950 – 1959. Pembagian ini dimaksudkan untuk memperjelas perubahan yang terjadi pada tiap periode . Pada awal deklarasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 , Indonesia menjalankan sistem presidensial yang merujuk pada UUD 1945 yang menyatakan bahwa Presiden memiliki kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan. Namun pada tanggal 23 Agustus 1945 , Belanda dan negara sekutu mendarat di Indonesia. Adapun negara selain Belanda bermaksud untuk mengamankan Indonesia pasca penetapan kemerdekaannya . Namun lain halnya dengan Belanda, ia kembali ke Indonesia dengan maksud untuk kembali menguasai Indonesia. Tentunya hal ini merupakan tantangan bagi deklarator kita Soekarno untuk mempertahankan Indonesia dan wilayah – wilayah yang telah disepakati sebagai bagian dari Indonesia. Untuk itu dibutuhkan jalan perundingan dengan pihak Belanda untuk mengakui Indonesia sebagai negara merdeka. Namun Jenderal Van Mook yang memimpin perundingan dengan Indonesia atas dasar pidato Ratu Wilhemnia tidak dapat dilakukan , karena Soekarno identik dengan Jepang. Maka berdasarkan pertimbangan tersebut dibentuklah kabinet semi-presidensil (semi-parlementer) peristiwa ini merupakan perubahan sistem pemerintahan agar dianggap lebih demokratis dan didasarkan pada usul BP – KNIP yang ditetapkan tanggal 14 November 1945. Hal ini dimaksudkan untuk membuka jalan perundingan antara kedua belah pihak , dengan demikian Sutan Sjahrir diangkat sebagai perdana menteri yang memimpin pemerintahan Indonesia dan juga sebagai perwakilan dalam perundingan dengan pihak Belanda. Pada masa kabinet parlementer ini Sutan Sjahrir mengambil banyak peran terutama melakukan diplomasi dengan pihak Belanda untuk mengakui Indonesia sebagai negara merdeka. Adapun pada periode ini sistem pemerintahan dinilai tidak stabil , karena terjadi penguasaan terhadap wewenang kepada Perdana Menteri . Sehingga terjadi tiga kali pergantian perdana menteri, yakni : Sutan Sjahrir , Amir Syarifuddin , dan Muhammad Hatta. Pada periode ini juga terjadi berbagai perjanjian antara Indonesia dan Belanda untuk pengakuan dari Belanda terhadap Indonesia. Bahkan Belanda melakukan dua kali agresi ke Indonesia yang menyebabkan berbagai perang di beberapa wilayah . Dan akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949 di Istana Dam, Amsterdam . Untuk periode ini , Indonesia menjalankan sistem pemerintahan semi-parlementer karena kondisi tersebut yang tidak memungkinkan untuk menjalankan sepenuhnya , dan tentunya dipengaruhi faktor politik yakni untuk membuka jalan diplomasi dengan pihak Belanda. Selain itu pada periode ini dibentuk KNIP yang merupakan lembaga yang menjadi cikal bakal DPR yang berfungsi sebagai badan legislatif . Hal ini sesuai dengan Pasal 4 Aturan Peralihan dalam UUD 1945 dan maklumat Wakil Presiden Nomor X pada tanggal 16 Oktober 1945, yang memutuskan bahwa KNIP diserahi kekuasaan legislatif, karena MPR dan DPR belum terbentuk. II. Periode 1949 – 1950
  • 2.
    Pada periode inisistem pemerintahan Indonesia masih menggunakan sistem pemerintahan parlementer yang merupakan lanjutan dari periode sebelumnya (1945-1949). Sistem ini menganut sistem multi-partai. Hal ini didasarkan pada konstitusi RIS yang menetapkan sistem parlementer kabinet semu (quasy parlementary) sebagai sistem pemerintahan RIS. Perlu diketahui bahwa sistem pemerintahan yang dianut pada masa konstitusi RIS bukanlah kabinet parlementer murni karena dalam sistem parlementer murni, parlemen mempunyai kedudukan yang sangat menentukan terhadap kekuasaan pemerintah. Diadakannya perubahan bentuk negara kesatuan RI menjadi negara serikat ini adalah merupakan konsekuensi sebagai diterimanya hasil Konferensi Meja Bundar (KMB). Perubahan ini dituangkan dalam Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS). Hal ini karena adanya campur tangan dari PBB yang memfasilitasinya. Wujud dari campur tangan PBB tersebut adanya konfrensi KMB yaitu : - Indonesia merupakan Negara bagian RIS - Indonesia RIS yang di maksud Sumatera dan Jawa - Wilayah diperkecil dan Indonesia di dalamnya - RIS mempunyai kedudukan yang sama dengan Belanda - Indonesia adalah bagian dari RIS yang meliputi Jawa, Sumatera dan Indonesia Timur. Dalam RIS ada point-point sebagai berikut : 1. Pemerintah berhak atas kekuasaan TJ atau UU Darurat 2. UU Darurat mempunyai kekuatan atas UU Federasi Berdasarkan Konstitusi RIS yang menganut sistem pemerintahan parlementer ini, badan legislatif RIS dibagi menjadi dua bagian yakni: Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat. Oleh karena itu pada periode ini Indonesia tetap menganut sistem parlementer namun bentuk pemerintahan dan bentuk negaranya merupakan federasi yaitu negara yang didalamnya terdiri dari negara-negara bagian yang masing masing negara bagian memiliki kedaulatan sendiri untuk mengurus urusan dalam negerinya. III. Periode 1950 – 1959 Periode ini (1950-1959) merupakan periode dimana presiden Soekarno memerintah menggunakan konstitusi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950, pemberlakukan peraturan pada periode ini berlangsung dari 17 Agustus 1950 sampai 5 Juli 1959. Masa ini merupakan masa berakhirnya Negara Indonesia yang federalis. Landasannya adalah UUD 1950 pengganti konstitusi RIS 1949. Sistem pemerintahan yang dianut adalah parlementer kabinet dengan demokrasi liberal yang masih bersifat semu. Adapun ciri-cirinya antara lain: a. Presiden dan wakil presiden tidak dapat diganggu gugat. b. Menteri bertanggung jawab atas kebijakan pemerintahan. c. Presiden berhak membubarkan DPR.
  • 3.
    d. Perdana menteridiangkat oleh Presiden. Diawali dari tanggal 15 Agustus 1950, Undang-Undang Dasar Sementara Negara Kesatuan Republik Indonesia (UUDS NKRI, UU No. 7/1850, LN No. 56/1950) disetujui oleh DPR dan Senat RIS. Pada tanggal yang sama pula, DPR dan Senat RIS mengadakan rapat di mana dibacakan piagam pernyataan terbentuknya NKRI yang bertujuan: 1. Pembubaran secara resmi negara RIS yang berbentuk federasi; 2. Pembentukan NKRI yang meliputi seluruh daerah Indonesia dengan UUDS yang mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus 1950. UUDS ini merupakan adopsi dari UUD RIS yang mengalami sedikit perubahan, terutama yang berkaitan dengan perubahan bentuk negara dari negara serikat ke negara kesatuan. Setelah peralihan dari Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Indonesia mulai menganut sistem demokrasi liberal dimana dalam sistem ini pemerintahan berbentuk parlementer sehingga perdana menteri langsung bertanggung jawab kepada parlemen (DPR) yang terdiri dari kekuatan-kekuatan partai. Anggota DPR berjumlah 232 orang yang terdiri dari: Masyumi (49 kursi), PNI (36 kursi), PSI (17 kursi), PKI (13 kursi), Partai Katholik (9 kursi), Partai Kristen (5 kursi), dan Murba (4 kursi), sedangkan sisa kursi dibagikan kepada partai-partai atau perorangan, yang tak satupun dari mereka mendapat lebih dari 17 kursi. Adapun kabinet yang telah dibentuk pada periode ini (1950 – 1959) antara lain: • 1950-1951 - Kabinet Natsir • 1951-1952 - Kabinet Sukiman-Suwirjo • 1952-1953 - Kabinet Wilopo • 1953-1955 - Kabinet Ali Sastroamidjojo I • 1955-1956 - Kabinet Burhanuddin Harahap • 1956-1957 - Kabinet Ali Sastroamidjojo II • 1957-1959 - Kabinet Djuanda Dari segi sudut pandang analis pemerintahan sistem ini tentunya tidak dapat menopang untuk pemerintahan yang kuat, tetapi umumnya diyakini bahwa struktur kepartaian tersebut akan disederhanakan apabila pemilihan umum dilaksanakan. Setelah pembentukan NKRI diadakanlah berbagai usaha untuk menyusun Undang-Undang Dasar baru dengan membentuk Lembaga Konstituante. Lembaga Konstituante adalah lembaga yang diserahi tugas untuk membentuk UUD baru. Konstituante diserahi tugas membuat undang-undang dasar yang baru sesuai amanat UUDS 1950. Namun sampai tahun 1959 badan ini belum juga bisa membuat konstitusi baru. Maka Presiden Soekarno menyampaikan konsepsi tentang Demokrasi Terpimpin pada DPR hasil pemilu yang berisi ide untuk kembali pada UUD 1945. Akhirnya setelah negara RI dengan UUDS 1950 dan sistem Demokrasi Liberal yang berlangsung selama 9 tahun, rakyat Indonesia merasa bahwa UUDS 1950 dengan sistem Demokrasi Liberal tidak cocok, karena tidak sesuai dengan jiwa Pancasila dan UUD 1945. Disamping itu, Presiden
  • 4.
    menganggap bahwa keadaanketatanegaraan Indonesia membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara serta merintangi pembangunan semesta berencana untuk mencapai masyarakat adil dan makmur; sehingga pada tanggal 5 Juli 1959 mengumumkan dekrit mengenai pembubaran Konstituante dan berlakunya kembali UUD 1945 serta tidak berlakunya UUDS 1950. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 merupakan dekrit yang mengakhiri masa parlementer dan digunakan kembalinya UUD 1945. Masa sesudah ini lazim disebut masa Demokrasi Terpimpin. Dekrit presiden 5 Juli menyatakan bahwa: 1. Kembali berlakunya UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950 2. Pembubaran Konstituante 3. Pembentukan MPRS dan DPAS Penutup Tentunya setelah memahami sistem pemerintahan Indonesia dari 1945 – 1959 dapat disimpulkan Indonesia menjalankan sistem pemerintahan parlementer sejak 14 November 1945 , hal ini dikarenakan persoalan politik antara Indonesia dan Belanda dan didasarkan pada pertimbangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namun dalam perkembangannya walaupun Indonesia menjalankan sistem Parlementer namun dalam penerapannya sistem tersebut masih dijalankan setengah-hati atau bisa dibilang sebagai sistem semi-parlementer. Hal ini dapat dilihat dari penerapan selama 15 tahun dalam sistem pemerintahan Indonesia. Dapat kita lihat pada periode I (1945 – 1949) , perdana menteri diangkat hanya untuk menggantikan posisi presiden selaku perunding , sedangkan kebijakan – kebijakan masih dipengaruhi oleh Presiden. Kemudian pada periode II (1949 – 1950) merupakan periode pembentukan RIS (Republik Indonesia Serikat) yang merupakan negara federasi yang didasarkan pada KMB (Konferensi Meja Bundar). Pada periode ini sistem pemerintahan masih menjalankan parlementer namun dengan kabinet semu, sehingga fungsi – fungsi kekuasaan perdana menteri selaku pimpinan tertinggi tidak dilaksanakan dengan maksimal. Namun karena berbentuk RIS maka pada periode II ini , pemerintahan terbagi atas dua yakni: Senat dan DPR-RIS. Dan kemudian pada periode III (1950 – 1959) merupakan periode yang masih menjalankan sistem parlementer namun sudah mulai menjalankan parlementer kabinet secara penuh, namun karena merupakan masa peralihan (kembali) dari RIS 1949 ke UUDS 1950 maka terjadi instabilitas politik di parlemen (DPR). Instabilitas ini disebabkan oleh sistem demokrasi liberal yang menjadikan perdana menteri merupakan pimpinan terhadap dewan perwakilan rakyat (DPR) , sehingga bila perdana menteri diganti maka DPR akan ikut dirombak. Sehingga anggota DPR mengikuti pemimpinnya (perdana menteri). Namun pada akhirnya sistem yang diberlakukan pada periode III ini yakni UUDS 1950 tidak menemukan solusi yang tepat untuk bangsa , maka Presiden mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 yang menetapkan kembali UUD 1945 sebagai dasar negara.