Adapun dalil yang menunjukkan disyariatkannya
hutang piutang ialah sebagaimana berikut ini:
Dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah
َ‫ف‬ ‫ا‬ً‫ن‬ َ‫س‬َ‫ح‬ ‫ا‬ً‫ض‬ْ‫ر‬َ‫ق‬ َ َّ‫اَّلل‬ ُ‫ض‬ِ‫ر‬ْ‫ق‬ُ‫ي‬ ‫ي‬ِ‫ذ‬َّ‫ال‬ ‫ا‬َ‫ذ‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ُ‫ه‬َ‫ل‬ ُ‫ه‬َ‫ف‬ِ‫ع‬‫ا‬َ‫ض‬ُ‫ي‬
ُ‫س‬ْ‫ب‬َ‫ي‬َ‫و‬ ُ‫ض‬ِ‫ب‬ْ‫ق‬َ‫ي‬ ُ َّ‫اَّلل‬َ‫و‬ ً‫ة‬َ‫ر‬‫ي‬ِ‫ث‬َ‫ك‬ ‫ا‬ً‫اف‬َ‫ع‬ْ‫ض‬َ‫أ‬ََ ‫ن‬ُ‫ع‬ََْ‫ر‬ُُ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َِِ‫و‬ ُ‫ط‬(245 )
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah,
pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan
Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan
pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang
banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan
(rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS.
Al-Baqarah: 245)
4. Ijab qabul
1. Muqridh
(yang
memberikan
pinjaman).
2. Muqtaridh (peminjam).
3. Qardh (barang
yang dipinjamkan)
1. Orang yang
melakukan akad harus
baligh, dan berakal.
2. Ijab qabul
harus dilakukan
dengan jelas.
2. Qardh harus berupa harta
yang menurut syara’ boleh
digunakan/dikonsumsi
SYARAT PIUTANG MENJADI AMAL SHOLIH
1. Harta yang dihutangkan adalah harta yang jelas dan murni
kehalalannya, bukan harta yang haram atau tercampur dengan
sesuatu yang haram.
2. Pemberi piutang / pinjaman tidak mengungkit-ungkit atau
menyakiti penerima pinjaman baik dengan kata-kata maupun
perbuatan.
3. Pemberi piutang/pinjaman berniat mendekatkan diri kepada
Allah dengan ikhlas, hanya mengharap pahala dan ridho dari-
Nya semata. Tidak ada maksud riya’ (pamer) atau sum’ah
(ingin didengar kebaikannya oleh orang lain).
4. Pinjaman tersebut tidak mendatangkan tambahan manfaat
atau keuntungan sedikitpun bagi pemberi pinjaman.
Meskipun aktifitas hutang piutang bukanlah hal yang
tercela dalam Islam, namun sejak awal syariat kita
menganjurkan kepada kita untuk menahan diri agar tidak
berhutang kecuali benar-benar terpaksa. Karena tanpa
disadari, seorang yang berhutang akan tersiksa dengan
hutangnya secara tidak langsung. Rasulullah SAW pun berdoa
untuk terhindar dari lilitan hutang , beliau berdoa : “ Ya
Tuhanku! Aku berlindung diri kepadaMu dari berbuat dosa
dan hutang. Kemudian ia ditanya: Mengapa Engkau banyak
minta perlindungan dari hutang ya Rasulullah? Ia menjawab:
Karena seseorang kalau berhutang, apabila berbicara berdusta
dan apabila berjanji menyalahi."
(HR Bukhari)
*
*
*Haram bagi orang yg memberi hutang untuk memberikan syarat adanya
tambahan ketika mengembalikannya.
*Para ulama bersepakat bahwa bila ia memberi syarat seperti itu maka ia telah
memakan riba.
*Seperti yang dilakukan oleh bank-bank yg ada dengan istilah bunga.
*Dengan nama apapun tambahan ini tidak diperkenankan baik faidah atau
hadiah atau tempat tinggal atau menaiki kendaraan atau lainnya.
Syariat Islam menjanjikan serangkaian keutamaan bagi mereka yang
memberikan pinjaman kepada saudaranya dengan niatan yang tulus penuh
keikhlasan. Seseorang yang mau membantu saudaranya saat ditimpa kesulitan,
maka Allah SWT akan membantunya di akhirat nanti. Rasulullah SAW bersabda :
“ Barang siapa yang membebaskan atas diri seorang muslim, satu penderitaan
dari penderitaan2 di dunia, maka Allah akan mengangkatnya dari kesulitan pada
hari kiamat. Barang siapa memudahkan kesusahan yg ada pada seseorang, maka
Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim)
Keutamaan yang lain adalah, bahwa pahala memberikan hutang atau pinjaman
ternyata lebih besar dari seorang yang menyedekahkan hartanya. Diriwayatkan
bahwasanya Rasulullah SAW mengatakan : “ Saya melihat pada waktu di-isra’-
kan, pada pintu surga tertulis “Pahala shadaqah sepuluh kali lipat dan pahala
pemberian utang delapan belas kali lipat” lalu saya bertanya pada Jibril “Wahai
Jibril, mengapa pahala pemberian utang lebih besar?” Ia menjawab “Karena
peminta-minta sesuatu meminta dari orang yang punya, sedangkan seseorang
yang meminjam tidak akan meminjam kecuali ia dalam keadaan sangat
membutuhkan”. (HR Ibnu Majah)
Manfaat Hutang Piutang
Hutang pihutang sangat besar manfaatnya,
karena dengan hutang pihutang, seseorang
dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh
sebab itu bagi orang yang mampu sebaiknya
memberikan hutang kepada orang yang
memerlukan sehingga tercipta sikap gotong
royong sesama manusia.
Pinjam Meminjam Menurut Islam
Adapun pinjam meminjam menurut Islam ialah membolehkan kepada orang lain mengambil manfaat sesuatu
yang halaluntuk mengambil manfaatnya dengan tidak merusakan zatnya, dan di kembalikan setelah di ambil
manfaatnya dalam keadaan tetap tidak rusak zatnya, pinjam meminjam itu boleh, baik secara mutlak artinya
tidak di batasi dengan waktu,atau dibatasi oleh waktu.
Barang pinjaman kalau hilang atau rusak, menjadi tanggungan orang yang meminjam dengan harga pada hari
rusaknya.
Pinjam ini wajib dikembalikan kepada yang meminjamkan.
Kelompokfiqih 160119032428(1)
Kelompokfiqih 160119032428(1)
Kelompokfiqih 160119032428(1)
Kelompokfiqih 160119032428(1)
Kelompokfiqih 160119032428(1)

Kelompokfiqih 160119032428(1)

  • 4.
    Adapun dalil yangmenunjukkan disyariatkannya hutang piutang ialah sebagaimana berikut ini: Dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah َ‫ف‬ ‫ا‬ً‫ن‬ َ‫س‬َ‫ح‬ ‫ا‬ً‫ض‬ْ‫ر‬َ‫ق‬ َ َّ‫اَّلل‬ ُ‫ض‬ِ‫ر‬ْ‫ق‬ُ‫ي‬ ‫ي‬ِ‫ذ‬َّ‫ال‬ ‫ا‬َ‫ذ‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ُ‫ه‬َ‫ل‬ ُ‫ه‬َ‫ف‬ِ‫ع‬‫ا‬َ‫ض‬ُ‫ي‬ ُ‫س‬ْ‫ب‬َ‫ي‬َ‫و‬ ُ‫ض‬ِ‫ب‬ْ‫ق‬َ‫ي‬ ُ َّ‫اَّلل‬َ‫و‬ ً‫ة‬َ‫ر‬‫ي‬ِ‫ث‬َ‫ك‬ ‫ا‬ً‫اف‬َ‫ع‬ْ‫ض‬َ‫أ‬ََ ‫ن‬ُ‫ع‬ََْ‫ر‬ُُ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َِِ‫و‬ ُ‫ط‬(245 ) “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)
  • 6.
    4. Ijab qabul 1.Muqridh (yang memberikan pinjaman). 2. Muqtaridh (peminjam). 3. Qardh (barang yang dipinjamkan)
  • 7.
    1. Orang yang melakukanakad harus baligh, dan berakal. 2. Ijab qabul harus dilakukan dengan jelas. 2. Qardh harus berupa harta yang menurut syara’ boleh digunakan/dikonsumsi
  • 8.
    SYARAT PIUTANG MENJADIAMAL SHOLIH 1. Harta yang dihutangkan adalah harta yang jelas dan murni kehalalannya, bukan harta yang haram atau tercampur dengan sesuatu yang haram. 2. Pemberi piutang / pinjaman tidak mengungkit-ungkit atau menyakiti penerima pinjaman baik dengan kata-kata maupun perbuatan. 3. Pemberi piutang/pinjaman berniat mendekatkan diri kepada Allah dengan ikhlas, hanya mengharap pahala dan ridho dari- Nya semata. Tidak ada maksud riya’ (pamer) atau sum’ah (ingin didengar kebaikannya oleh orang lain). 4. Pinjaman tersebut tidak mendatangkan tambahan manfaat atau keuntungan sedikitpun bagi pemberi pinjaman.
  • 9.
    Meskipun aktifitas hutangpiutang bukanlah hal yang tercela dalam Islam, namun sejak awal syariat kita menganjurkan kepada kita untuk menahan diri agar tidak berhutang kecuali benar-benar terpaksa. Karena tanpa disadari, seorang yang berhutang akan tersiksa dengan hutangnya secara tidak langsung. Rasulullah SAW pun berdoa untuk terhindar dari lilitan hutang , beliau berdoa : “ Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadaMu dari berbuat dosa dan hutang. Kemudian ia ditanya: Mengapa Engkau banyak minta perlindungan dari hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Karena seseorang kalau berhutang, apabila berbicara berdusta dan apabila berjanji menyalahi." (HR Bukhari)
  • 11.
  • 13.
    * *Haram bagi orangyg memberi hutang untuk memberikan syarat adanya tambahan ketika mengembalikannya. *Para ulama bersepakat bahwa bila ia memberi syarat seperti itu maka ia telah memakan riba. *Seperti yang dilakukan oleh bank-bank yg ada dengan istilah bunga. *Dengan nama apapun tambahan ini tidak diperkenankan baik faidah atau hadiah atau tempat tinggal atau menaiki kendaraan atau lainnya.
  • 14.
    Syariat Islam menjanjikanserangkaian keutamaan bagi mereka yang memberikan pinjaman kepada saudaranya dengan niatan yang tulus penuh keikhlasan. Seseorang yang mau membantu saudaranya saat ditimpa kesulitan, maka Allah SWT akan membantunya di akhirat nanti. Rasulullah SAW bersabda : “ Barang siapa yang membebaskan atas diri seorang muslim, satu penderitaan dari penderitaan2 di dunia, maka Allah akan mengangkatnya dari kesulitan pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan kesusahan yg ada pada seseorang, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim) Keutamaan yang lain adalah, bahwa pahala memberikan hutang atau pinjaman ternyata lebih besar dari seorang yang menyedekahkan hartanya. Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW mengatakan : “ Saya melihat pada waktu di-isra’- kan, pada pintu surga tertulis “Pahala shadaqah sepuluh kali lipat dan pahala pemberian utang delapan belas kali lipat” lalu saya bertanya pada Jibril “Wahai Jibril, mengapa pahala pemberian utang lebih besar?” Ia menjawab “Karena peminta-minta sesuatu meminta dari orang yang punya, sedangkan seseorang yang meminjam tidak akan meminjam kecuali ia dalam keadaan sangat membutuhkan”. (HR Ibnu Majah)
  • 16.
    Manfaat Hutang Piutang Hutangpihutang sangat besar manfaatnya, karena dengan hutang pihutang, seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu bagi orang yang mampu sebaiknya memberikan hutang kepada orang yang memerlukan sehingga tercipta sikap gotong royong sesama manusia.
  • 17.
    Pinjam Meminjam MenurutIslam Adapun pinjam meminjam menurut Islam ialah membolehkan kepada orang lain mengambil manfaat sesuatu yang halaluntuk mengambil manfaatnya dengan tidak merusakan zatnya, dan di kembalikan setelah di ambil manfaatnya dalam keadaan tetap tidak rusak zatnya, pinjam meminjam itu boleh, baik secara mutlak artinya tidak di batasi dengan waktu,atau dibatasi oleh waktu. Barang pinjaman kalau hilang atau rusak, menjadi tanggungan orang yang meminjam dengan harga pada hari rusaknya. Pinjam ini wajib dikembalikan kepada yang meminjamkan.