HIWALAH

Oleh :
Mugni Sulaeman
1213.02.027
Dosen :
Habibi Zaman RA, SH.i,MA.Ek
Pengertian Hiwalah

Menurut bahasa yang dimaksud hiwalah ialah al-intiqal dan
al-tahwil, artinya memindahkan atau mengalihkan.

Menurut syara‟
Pengertian Hiwalah menurut syara‟ (istilah) para ulama
mendefinisikannya antara lain sebagai berikut :
1. Menurut Hanafiyah, yang dimaksud hiwalah adalah :
“Memindahkan tagihan dari tanggung jawab yang
berutang kepada yang lain yang punya tanggung jawab
kewajiban pula”
2. Menurut Maliki, Syafi‟i dan Hanbali, hiwalah adalah :
“Pemindahan atau pengalihan hak untuk menuntut
pembayaran hutang dari satu pihak kepada pihak yang
lain”.
Jenis-jenis Hiwalah

Hiwalah

Muthlaqoh

Muqoyyadah

Haq

Dayn
Rukun Hiwalah

1. Pihak pertama (muhil) yaitu orang yang
menghiwalahkan (memindahkan) utang
2. Pihak kedua (muhal) yaitu orang yang
dihiwalahkan (orang yang mempunyai
utang kepada muhil)
3. Pihak ketiga (muhal „alaih) yaitu orang
yang menerima hiwalah
4. Ada piutang muhil kepada muhal
5. Ada piutang muhal „alaih kepada muhil
6. Ada sighat hiwalah
Syarat Hiwalah
1. Ada kerelaan muhil (orag yang berhutang
dan ingin memindahkan hutang)
2. Ada persetujuan dari muhal (orang yang
member hutang)
3. Hutang yang akan dialihkan keadaannya
masih tetap dalam pengakuan
4. Adanya kesamaan hutang muhil dan
muhal „alaih (orang yang menerima
pemindahan hutang) dalam jenisnya,
macamnya, waktu penangguhannya dan
waktu pembayarannya.
Hikmah dan Dalil
Hiwalah ini disyari‟atkan oleh Islam dan dibolehkan olehnya
karena adanya masalahat, butuhnya manusia kepadanya
serta adanya kemudahan dalam bermuamalah. Dalam
hiwalah juga terdapat bukti sayang kepada sesama,
mempermudah muamalah mereka, memaafkan, membantu
memenuhi kebutuhan mereka, membayarkan utangnya dan
menenangkan hati mereka.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah
bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallambersabda:

“Menunda membayar utang bagi orang kaya adalah
kezaliman dan apabila seorang dari kalian utangnya dialihkan
kepada orang kaya, hendaklah dia ikuti.”
Berakhirnya akad hiwalah

1. Apabila kontrak hiwalah telah terjadi, maka
tanggungan muhil menjadi gugur.
2. Jika muhal‟alaih bangkrut (pailit) atau meninggal dunia,
maka menurut pendapat Jumhur Ulama, muhal tidak boleh
lagi kembali menagih hutang itu kepada muhil.
3. Jika Muhal alaih telah melaksanakan kewajibannya kepada
Muhal.
4. Meninggalnya Muhal sementara Muhal alaih mewarisi harta
hiwalah karena pewarisan merupakah salah satu sebab
kepemilikan.
5. Jika Muhal menghibahkan atau menyedekahkan harta
hiwalah kepada Muhal Alaih dan ia menerima hibah
tersebut.
6. Jika Muhal menghapus bukukan kewajiban membayar
hutang kepada Muhal Alaih.
TERIMAKASIH

Mugnisulaeman.blogspot.com

Hiwalah

  • 1.
  • 2.
    Pengertian Hiwalah Menurut bahasayang dimaksud hiwalah ialah al-intiqal dan al-tahwil, artinya memindahkan atau mengalihkan. Menurut syara‟ Pengertian Hiwalah menurut syara‟ (istilah) para ulama mendefinisikannya antara lain sebagai berikut : 1. Menurut Hanafiyah, yang dimaksud hiwalah adalah : “Memindahkan tagihan dari tanggung jawab yang berutang kepada yang lain yang punya tanggung jawab kewajiban pula” 2. Menurut Maliki, Syafi‟i dan Hanbali, hiwalah adalah : “Pemindahan atau pengalihan hak untuk menuntut pembayaran hutang dari satu pihak kepada pihak yang lain”.
  • 3.
  • 4.
    Rukun Hiwalah 1. Pihakpertama (muhil) yaitu orang yang menghiwalahkan (memindahkan) utang 2. Pihak kedua (muhal) yaitu orang yang dihiwalahkan (orang yang mempunyai utang kepada muhil) 3. Pihak ketiga (muhal „alaih) yaitu orang yang menerima hiwalah 4. Ada piutang muhil kepada muhal 5. Ada piutang muhal „alaih kepada muhil 6. Ada sighat hiwalah
  • 5.
    Syarat Hiwalah 1. Adakerelaan muhil (orag yang berhutang dan ingin memindahkan hutang) 2. Ada persetujuan dari muhal (orang yang member hutang) 3. Hutang yang akan dialihkan keadaannya masih tetap dalam pengakuan 4. Adanya kesamaan hutang muhil dan muhal „alaih (orang yang menerima pemindahan hutang) dalam jenisnya, macamnya, waktu penangguhannya dan waktu pembayarannya.
  • 6.
    Hikmah dan Dalil Hiwalahini disyari‟atkan oleh Islam dan dibolehkan olehnya karena adanya masalahat, butuhnya manusia kepadanya serta adanya kemudahan dalam bermuamalah. Dalam hiwalah juga terdapat bukti sayang kepada sesama, mempermudah muamalah mereka, memaafkan, membantu memenuhi kebutuhan mereka, membayarkan utangnya dan menenangkan hati mereka. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallambersabda: “Menunda membayar utang bagi orang kaya adalah kezaliman dan apabila seorang dari kalian utangnya dialihkan kepada orang kaya, hendaklah dia ikuti.”
  • 7.
    Berakhirnya akad hiwalah 1.Apabila kontrak hiwalah telah terjadi, maka tanggungan muhil menjadi gugur. 2. Jika muhal‟alaih bangkrut (pailit) atau meninggal dunia, maka menurut pendapat Jumhur Ulama, muhal tidak boleh lagi kembali menagih hutang itu kepada muhil. 3. Jika Muhal alaih telah melaksanakan kewajibannya kepada Muhal. 4. Meninggalnya Muhal sementara Muhal alaih mewarisi harta hiwalah karena pewarisan merupakah salah satu sebab kepemilikan. 5. Jika Muhal menghibahkan atau menyedekahkan harta hiwalah kepada Muhal Alaih dan ia menerima hibah tersebut. 6. Jika Muhal menghapus bukukan kewajiban membayar hutang kepada Muhal Alaih.
  • 8.