PURGATORIUM
Pengajaran di Kota Wisata Cibubur
31 Oktober 2015
Albertus Purnomo, OFM
Problem Ajaran tentang
Purgatorium (Purgatorium)
 Perdebatan antara Katolik dan
Protestan
 Alasan mereka yang menolak api
Penyucian:
 Api Penyucian dipandang sebagai
penemuan gereja Katolik
 Tidak terdapat rujukan dalam
Alkitab
Setelah mati, hanya ada dua
pilihan : bersatu dengan Allah
(surga) atau terpisah dengan
Allah (neraka) secara abadi
Kondisi setelah mati itu
definitif, tidak bisa diubah lagi,
termasuk penebusan
 Api Penyucian: Pemicu
Protestantisme
 Yohanes Tetzel, seorang Dominikan,
menjual indulgensi untuk jiwa-jiwa di
Api Penyucian
 Ajaran Api Penyucian adalah warisan
tradisi gereja selama berabad-abad
Tradisi Hindu Kuno: Siklus
Lahir Kembali
Tiga perjalanan orang yang sudah
meninggal
1. Mereka yang baik hidupnya, akan
dituntun makhluk rohani masuk ke
dalam dunia brahman (surga)
2. Mereka yang pantas masuk, tetapi
belum murni, dimakan oleh dewa, -
reinkarnasi lalu masuk ke surga
3. Mereka yang jahat masuk dalam
penghukuman kekal
Tradisi Persia Kuno: Jembatan
Penguji
 Menurut tradisi agama Persia (Iran)
Kuno, jiwa mereka yang mati akan
berjalan menuju surga (langit).
 Jembatan Penguji sebelum masuk
surga
 Jiwa-jiwa orang mati menunggu di
tempat penantian sebelum diuji
Tradisi Yahudi: Dunia Orang
Mati
 Rabi Sammai mengajarkan ini: Akan ada tiga
kelompok pada hari Penghakiman, yaitu mereka
yang sungguh-sungguh kudus, mereka yang
sungguh-sungguh jahat, dan yang ketiga adalah
mereka berada di antara keduanya. Segera
ditulis dan dimeteraikan bahwa mereka yang
sungguh-sungguh kudus akan hidup sampai
akhir zaman, dan sama halnya ditulis dan
dimeteraikan bahwa mereka yang sungguh-
sungguh jahat akan tinggal di Gehena (neraka)
seperti yang tertulis (Dan 12:2). Bagi mereka
yang di kelompok ketiga (tidak kudus dan tidak
jahat), mereka akan turun ke Gehena untuk
sementara waktu dan kemudian akan naik lagi,
sebagaimana tertulis (Zak 13:9 dan 1 Sam 2:6).
Tradisi Islam : Barzakh
 Menurut Al-Quran, ada sebuah
kehidupan sesudah kematian.
 Sesudah kematian, manusia
mengalami masa yang disebut
sebagai alam barzakh. Alam barzakh
adalah masa di antara kematian dan
pengadilan terakhir (kiamat) (QS
23:100).
Dalam Alkitab?
 Korban Penghapus Salah (1 Mak
12:41-46)
 Pengampunan di Masa Depan (Mat
12:31-32) ????
 Membayar Hutang Sampai Lunas
(Mat 5:25-26// Luk 12:58-59)????
 Pangkuan Abraham (Luk 16:19-26)
(Sheol)
 Doa kepada orang mati ( 2 Tim 1:16-
18)
TRADISI AWAL GEREJA
 “Di sinilah, anakku yang terkasih,
hidupnya berakhir. Tetapi di sana, O
Bapa di surga, kami memohon
ampunan dan belas kasihan atas
penderitaan anakku, demi Kristus,
Tuhan kami” (TULISAN DI SEBUAH
NISAN)
 “Cahaya abadi terangilah atas dia,
Timotea, dalam Kristus”
 Kutipan tulisan apokrif Kisah Paulus dan
Tekla (160 M)
 Dan setelah itu, Trifaena kembali
menerima Tekla. Sebab, anak
perempuannya, Falconilla, yang telah
meninggal, berkata kepadanya dalam
sebuah mimpi: “Ibu, engkau harus
menerima Tekla, orang asing ini, di
tempatku, sebab dia bisa mendoakanku,
dan membawaku ke tempat orang-orang
benar”
Para Perintis Ajaran
Purgatorium
 Origenes (+254) dan Klemens (+215),
 Gagasan pokok: Allah menghukum
manusia demi kebaikan manusia itu
sendiri
 Klemens : “Allah tidak akan
mendatangkan pembalasan, sebab
pembalasan berarti mengembalikan
kejahatan dengan kejahatan. Allah
menghukum hanya dengan maksud
untuk kebaikan”.
 Origenes: “Allah menghukum manusia
demi kebaikannya sendiri”.
 Dalam Perjanjian Lama, sarana
penghukuman ilahi selalu dikaitkan
dengan api (Im 10:1-2; Ul 32:22).
 Origenes menafsirkan secara positif
bahwa api ini bukan pertama-tama
sebagai ungkapan kemurkaan Allah,
tetapi sarana yang dipakai oleh Allah
untuk memurnikan manusia (bdk. Yer
15:14).
 Menurut Origenes, semua orang,
bahkan orang baik sekalipun, harus
dibersihkan dalam api karena tidak
seorangpun bebas sama sekali dari
dosa.
 Meskipun menimbulkan rasa sakit, api
ini berfungsi untuk mematangkan jiwa
orang.
 Jiwa yang belum sempurna, perlu
disucikan dan disempurnakan terlebih
Agustinus
 Tradisi katolik mewarisi istilah Api
Penyucian, yang dalam bahasa
aslinya “ignis pur
 Tempat penghukuman sementara
“poenae temporariae”(hukuman
sementara) yang dikontraskan dengan
poenae sempiternae (hukuman kekal).
gatorius.”
Paus Gregorius (+604)
 Doa-doa orang yang hidup untuk
proses penyucian jiwa-jiwa orang
mati.
 Pengampunan memang bisa
membebaskan jiwa dari dosa. Namun,
pengampunan tidak menghilangkan
sisa-sisa kecenderungan batin yang
melahirkan dosa.
 Jika selama hidup di dunia, orang
gagal menghapuskan kecenderungan
ini, maka penghapusannya akan
dilakukan setelah mati.
Beda Venerabilis (+735)
 berbicara tentang sebuah tempat di
mana jiwa para pendosa yang
bertobat mengalami pemurnian
setelah kematiannya
Hugo dari Santo Viktor (1096 -
1141)
 Tiga jenis jiwa orang mati
 1) jiwa orang yang sungguh baik dan
sempurna.  Surga
 2) jiwa orang yang sungguh-sungguh
jahat  neraka
 3) orang yang baik, tapi masih belum
sempurna  Pemurnian
Paus Innocentius III (1198 –
1216)
 membagi gereja menjadi tiga bagian:
 1) gereja yang sudah berjaya di
Surga;
 2) gereja militan yang sedang
berziarah di bumi
 3) gereja yang “tinggal di tempat
Penyucian”.
Alexander Hales (1185 – 1245)
 sangat sedikit anggota gereja yang
tidak perlu melewati Api Penyucian.
 Penghuni tempat Penyucian ini sangat
banyak.
 Sekalipun demikian, mereka tidak
akan selamanya di tempat ini.
 Sebab, Api Penyucian hanyalah
tempat singgah sementara.
Bonaventura (1221 – 1274)
 Api Penyucian pada dasarnya lebih
dekat ke surga daripada ke neraka.
 Di dalam Api Penyucian tidak ada
istilah penundaan. Jika proses
penyucian jiwa sudah berakhir
sempurna, maka jiwa tersebut akan
segera naik ke surga
Albertus Magnus (1193 –
1280)
 Api Penyucian adalah tempat bagi
mereka yang sudah melakukan
kebaikan, tetapi masih ternoda oleh
dosa.
Thomas Aquinas (1225-1274)
 Penampakan jiwa-jiwa tersebut
kepada orang yang hidup, entah
dalam penglihatan maupun mimpi
 Jiwa bisa meninggalkan dunianya dan
menampakkan diri kepada orang-
orang hidup yang memang menaruh
perhatian pada mereka, hanya atas
izin dari Allah.
Surat Paus Innocentius IV
(1254).
 Surat ini berisi ajakan Paus terhadap
Gereja Ortodoks Yunani untuk
menerima definisi Api Penyucian
(Purgatorium) sehingga tercipta
kesamaan ajaran antara Gereja Latin
dan Yunani.
 Surat ini penting karena di sinilah
untuk pertama kalinya pihak
Kepausan menyebut Purgatorium (Api
Penyucian) secara resmi.
Konsili Lyon II (1274)
 Paus Gregorius X
 Jika mereka meninggal dalam kasih
sebelum menyelesaikan perbuatan untuk
menghapus kesalahan itu, jiwa mereka
akan disucikan setelah kematian dengan
hukuman penyucian. Dan untuk
pengurangan hukuman ini, mereka
bisa dibantu dengan tindakan silih
umat beriman yang masih hidup,
dengan mengikuti Misa Kudus,
memanjatkan doa, sedekah, dan
tindakan kesalehan lainnya sesuai
dengan kebiasaan gereja.
Konsili Firenze (1438-1443)
 Jika mereka mati dalam rasa sesal
dan tobat atas dosa mereka dan
masih mencintai Allah, tetapi belum
menulasi hukuman atas dosa yang
telah mereka lakukan dengan
perbuatan penghapus dosa, maka
jiwa mereka, setelah kematian akan
dibersihkan di penghukuman Api
Penyucian,
Konsili Trente (1545–1563)
 Menghadapi serangan Protestan
 Konsili Trente menyatakan: “Api
Penyucian itu ada” dan “jiwa yang
berada di dalamnya bisa ditolong
dengan tindakan silih (misalnya, doa)
dari orang beriman, dan yang paling
penting adalah kurban di Altar”
Penderitaan di Api Penyucian
 Semakin seseorang merindukan akan
sesuatu, semakin terasa sakit jika
sesuatu itu terampas daripadanya.
Sesudah kehidupan ini, kerinduan
akan Allah, Sang Kebaikan tertinggi,
begitu kuat dalam jiwa-jiwa orang
benar dan tidak dihalangi lagi oleh
badan yang fana. Karena itulah, jiwa-
jiwa akan begitu begitu menderita jika
kerinduan itu tertunda (Santo Thomas
Aquinas)
Santa Katarina dari Genoa
(1447-1510)
 “Risalah tentang Api Penyucian”
 Bukan hanya penderitaan, tetapi juga
sukacita tumbuh dalam diri jiwa-jiwa di
Api Penyucian.
 Di Api Penyucian, jiwa-jiwa hanya
melihat kebaikan Allah semata. Dan
jiwa-jiwa pun masuk dalam
kerahiman-Nya.
 Menurut Katarina, tidak ada
kebahagiaan yang bisa dibandingkan
dengan kebahagiaan jiwa di Api
Penyucian, kecuali kebahagian para
kudus di surga. Hari demi hari,
kebahagiaan mereka bertambah
karena rintangan yang menghalangi
Allah hadir dalam dirinya sedikit demi
sedikit mulai berkurang.
Mendoakan Arwah
 Marilah kita membantu dan
mengenangkan mereka. Jika anak-anak
Ayub dikuduskan karena persembahan
ayahnya (Ayb 1:5), mengapa kita
meragukan bahwa persembahan kita
bagi orang yang meninggal dapat
membawa mereka penghiburan?
Janganlah ragu-ragu untuk menolong
mereka yang telah mati dan
mempersembahkan doa-doa kepada
mereka (Yohanes Krisostomus dalam
INDULGENSI
 Umat beriman yang telah meninggal
dan masih berada di jalan penyucian
termasuk anggota persekutuan para
kudus. Maka dari itu kita dapat,
membantu mereka dengan
memperoleh indulgensi bagi mereka.
Dengan demikian, dihapuskan siksa
dosa sementara para orang mati di
dalam Api Penyucian
 (Katekismus Gereja Katolik no 1479)
 Istilah indulgensi berasal dari bahasa
Latin, “indulgere”. (‘berbuat kebaikan
kepada’)
 Selanjutnya, indulgensi dihubungkan
dengan praktek penghapusan dosa
dan kesalahan.
 Paus Paulus VI dalam Konstitusi
Apostolik “Indulgentiarum doctrina” :
Indulgensi dapat diperuntukkan bagi
orang hidup dan orang mati.
 Sakramen Pengakuan Dosa
menghindarkan orang dari hukuman
kekal.
 Namun, hukuman sementara masih
harus dijalani. Hukuman sementara ini
bisa dihapus dengan melakukan silih
pertobatan.
 Tindakan silih yang umumnya
menghasilkan indulgensi adalah berdoa,
mempraktekan devosi-devosi religius,
berpuasa, bermatiraga, memberikan
derma, melakukan karya karitatif, dan
Paus Yohanes Paulus II
 Dalam Audiensi Umum, 4 Agustus
1999, dia mengajarkan tentang Api
Penyucian dan menekankan
pentingnya menguduskan diri sebelum
menghadap hadirat Allah yang kudus
 Mereka yang masih memilki cacat dan
belum bersih, harus disucikan dahulu
sebelum masuk dalam persekutuan
dengan Allah yang sempurna
Paus Yohanes Paulus II
 Api Penyucian tidak menunjuk tempat,
tetapi suatu keberadaan ( a condition
of existence). Api Penyucian juga
bukan perpanjangan keadaan hidup di
dunia. Sudah definitif
 Mereka yang berada di Api Penyucian
sebenarnya masih berada dalam
ikatan kesatuan antara mereka yang
terberkati di surga dan kita yang
sedang berada di jalan menuju
Rumah Bapa
Paus Benediktus XVI
 Dalam audensi umum, 12 Januari
2011, dia mengupas kehidupan Santa
Katarina dari Genoa.
 Proses penyucian jiwa menuju
kesatuan dengan Allah, dimulai dari
rasa sedih yang mendalam karena
menyadari bahwa dosa yang
dilakukan tidak sebanding dengan
kasih Allah yang tanpa batas.
 Api Penyucian seperti api yang
memurnikan dari dalam diri orang. Api
ini menimbulkan rasa sakit. Sakit
karena rasa sesal atas dosa-dosanya.
 Api Penyucian bukanlah tempat,
melainkan proses
KESIMPULAN
 1) Ajaran Api Penyucian merupakan
bagian dari tradisi suci gereja yang
diwariskan turun-temurun. Karena
sebuah tradisi, maka ajaran ini akan
selalu berkembang.
 2) Untuk bisa menghadap Allah, maka
orang harus dikuduskan, entah
selama masih hidup atau sesudah
mati. Jika terjadi sesudah mati, ia
dibersihkan seluruhnya dari kelekatan
dosa sampai benar-benar kudus.
Penyucian ini bukanlah sebuah
pilihan, tetapi syarat mutlak yang tidak
terhindarkan jika ingin bersatu dengan
Allah.
 3) Karena Allah Maha Kasih dan Maha
Rahim, maka Ia dengan senang hati
akan mengampuni dosa dan
kesalahan manusia yang bertobat.
Gereja juga diberi kuasa oleh Kristus
untuk mengampuni dan melepaskan
anggotanya dari dosa melalui
Sakramen Pengakuan Dosa. Akan
tetapi, pengampunan dosa tidak serta
merta menghapus hukuman atas
dosa.
 4) Api Penyucian adalah wujud nyata
dari Allah yang berbelas kasih
sekaligus Allah yang berkeadilan.
Belas kasih Allah yang mengampuni
tidak serta merta membebaskan orang
dari hukuman sementara.
 5) Hukuman dalam proses penyucian
ini menimbulkan rasa sakit dan
penderitaan. Penderitaan ini bukanlah
pertama-tama penderitaan fisik,
melainkan penderitaan batin atau
rohani.
 Jiwa di Api Penyucian memiliki
kerinduan membara untuk bersatu
dengan Allah. Tetapi, tertunda karena
harus menjalani proses penyucian
atas dosa.
 6) Seperti halnya surga dan neraka,
Api Penyucian adalah “tempat ketiga”
yang penuh misteri.
 7) Api Penyucian adalah “tempat”
dan/atau “proses” penyucian jiwa
manusia setelah kematian. Namun,
untuk menyucikan jiwa, tidak perlu
harus menunggu sampai kematian
menjemput. Selama hidup orang
masih bisa menyucikan diri dan
menebus dosanya. Caranya dengan
mendapatkan indulgensi dari gereja
dan juga dari Allah. Memang, ada
aturan dan doa-doa khusus untuk
memperoleh indulgensi.

Purgatorium

  • 1.
    PURGATORIUM Pengajaran di KotaWisata Cibubur 31 Oktober 2015 Albertus Purnomo, OFM
  • 2.
    Problem Ajaran tentang Purgatorium(Purgatorium)  Perdebatan antara Katolik dan Protestan  Alasan mereka yang menolak api Penyucian:  Api Penyucian dipandang sebagai penemuan gereja Katolik  Tidak terdapat rujukan dalam Alkitab
  • 3.
    Setelah mati, hanyaada dua pilihan : bersatu dengan Allah (surga) atau terpisah dengan Allah (neraka) secara abadi Kondisi setelah mati itu definitif, tidak bisa diubah lagi, termasuk penebusan
  • 4.
     Api Penyucian:Pemicu Protestantisme  Yohanes Tetzel, seorang Dominikan, menjual indulgensi untuk jiwa-jiwa di Api Penyucian  Ajaran Api Penyucian adalah warisan tradisi gereja selama berabad-abad
  • 5.
    Tradisi Hindu Kuno:Siklus Lahir Kembali Tiga perjalanan orang yang sudah meninggal 1. Mereka yang baik hidupnya, akan dituntun makhluk rohani masuk ke dalam dunia brahman (surga) 2. Mereka yang pantas masuk, tetapi belum murni, dimakan oleh dewa, - reinkarnasi lalu masuk ke surga 3. Mereka yang jahat masuk dalam penghukuman kekal
  • 6.
    Tradisi Persia Kuno:Jembatan Penguji  Menurut tradisi agama Persia (Iran) Kuno, jiwa mereka yang mati akan berjalan menuju surga (langit).  Jembatan Penguji sebelum masuk surga  Jiwa-jiwa orang mati menunggu di tempat penantian sebelum diuji
  • 7.
    Tradisi Yahudi: DuniaOrang Mati  Rabi Sammai mengajarkan ini: Akan ada tiga kelompok pada hari Penghakiman, yaitu mereka yang sungguh-sungguh kudus, mereka yang sungguh-sungguh jahat, dan yang ketiga adalah mereka berada di antara keduanya. Segera ditulis dan dimeteraikan bahwa mereka yang sungguh-sungguh kudus akan hidup sampai akhir zaman, dan sama halnya ditulis dan dimeteraikan bahwa mereka yang sungguh- sungguh jahat akan tinggal di Gehena (neraka) seperti yang tertulis (Dan 12:2). Bagi mereka yang di kelompok ketiga (tidak kudus dan tidak jahat), mereka akan turun ke Gehena untuk sementara waktu dan kemudian akan naik lagi, sebagaimana tertulis (Zak 13:9 dan 1 Sam 2:6).
  • 8.
    Tradisi Islam :Barzakh  Menurut Al-Quran, ada sebuah kehidupan sesudah kematian.  Sesudah kematian, manusia mengalami masa yang disebut sebagai alam barzakh. Alam barzakh adalah masa di antara kematian dan pengadilan terakhir (kiamat) (QS 23:100).
  • 9.
    Dalam Alkitab?  KorbanPenghapus Salah (1 Mak 12:41-46)  Pengampunan di Masa Depan (Mat 12:31-32) ????  Membayar Hutang Sampai Lunas (Mat 5:25-26// Luk 12:58-59)????  Pangkuan Abraham (Luk 16:19-26) (Sheol)  Doa kepada orang mati ( 2 Tim 1:16- 18)
  • 10.
    TRADISI AWAL GEREJA “Di sinilah, anakku yang terkasih, hidupnya berakhir. Tetapi di sana, O Bapa di surga, kami memohon ampunan dan belas kasihan atas penderitaan anakku, demi Kristus, Tuhan kami” (TULISAN DI SEBUAH NISAN)  “Cahaya abadi terangilah atas dia, Timotea, dalam Kristus”
  • 11.
     Kutipan tulisanapokrif Kisah Paulus dan Tekla (160 M)  Dan setelah itu, Trifaena kembali menerima Tekla. Sebab, anak perempuannya, Falconilla, yang telah meninggal, berkata kepadanya dalam sebuah mimpi: “Ibu, engkau harus menerima Tekla, orang asing ini, di tempatku, sebab dia bisa mendoakanku, dan membawaku ke tempat orang-orang benar”
  • 12.
    Para Perintis Ajaran Purgatorium Origenes (+254) dan Klemens (+215),  Gagasan pokok: Allah menghukum manusia demi kebaikan manusia itu sendiri  Klemens : “Allah tidak akan mendatangkan pembalasan, sebab pembalasan berarti mengembalikan kejahatan dengan kejahatan. Allah menghukum hanya dengan maksud untuk kebaikan”.  Origenes: “Allah menghukum manusia demi kebaikannya sendiri”.
  • 13.
     Dalam PerjanjianLama, sarana penghukuman ilahi selalu dikaitkan dengan api (Im 10:1-2; Ul 32:22).  Origenes menafsirkan secara positif bahwa api ini bukan pertama-tama sebagai ungkapan kemurkaan Allah, tetapi sarana yang dipakai oleh Allah untuk memurnikan manusia (bdk. Yer 15:14).
  • 14.
     Menurut Origenes,semua orang, bahkan orang baik sekalipun, harus dibersihkan dalam api karena tidak seorangpun bebas sama sekali dari dosa.  Meskipun menimbulkan rasa sakit, api ini berfungsi untuk mematangkan jiwa orang.  Jiwa yang belum sempurna, perlu disucikan dan disempurnakan terlebih
  • 15.
    Agustinus  Tradisi katolikmewarisi istilah Api Penyucian, yang dalam bahasa aslinya “ignis pur  Tempat penghukuman sementara “poenae temporariae”(hukuman sementara) yang dikontraskan dengan poenae sempiternae (hukuman kekal). gatorius.”
  • 16.
    Paus Gregorius (+604) Doa-doa orang yang hidup untuk proses penyucian jiwa-jiwa orang mati.  Pengampunan memang bisa membebaskan jiwa dari dosa. Namun, pengampunan tidak menghilangkan sisa-sisa kecenderungan batin yang melahirkan dosa.  Jika selama hidup di dunia, orang gagal menghapuskan kecenderungan ini, maka penghapusannya akan dilakukan setelah mati.
  • 17.
    Beda Venerabilis (+735) berbicara tentang sebuah tempat di mana jiwa para pendosa yang bertobat mengalami pemurnian setelah kematiannya
  • 18.
    Hugo dari SantoViktor (1096 - 1141)  Tiga jenis jiwa orang mati  1) jiwa orang yang sungguh baik dan sempurna.  Surga  2) jiwa orang yang sungguh-sungguh jahat  neraka  3) orang yang baik, tapi masih belum sempurna  Pemurnian
  • 19.
    Paus Innocentius III(1198 – 1216)  membagi gereja menjadi tiga bagian:  1) gereja yang sudah berjaya di Surga;  2) gereja militan yang sedang berziarah di bumi  3) gereja yang “tinggal di tempat Penyucian”.
  • 20.
    Alexander Hales (1185– 1245)  sangat sedikit anggota gereja yang tidak perlu melewati Api Penyucian.  Penghuni tempat Penyucian ini sangat banyak.  Sekalipun demikian, mereka tidak akan selamanya di tempat ini.  Sebab, Api Penyucian hanyalah tempat singgah sementara.
  • 21.
    Bonaventura (1221 –1274)  Api Penyucian pada dasarnya lebih dekat ke surga daripada ke neraka.  Di dalam Api Penyucian tidak ada istilah penundaan. Jika proses penyucian jiwa sudah berakhir sempurna, maka jiwa tersebut akan segera naik ke surga
  • 22.
    Albertus Magnus (1193– 1280)  Api Penyucian adalah tempat bagi mereka yang sudah melakukan kebaikan, tetapi masih ternoda oleh dosa.
  • 23.
    Thomas Aquinas (1225-1274) Penampakan jiwa-jiwa tersebut kepada orang yang hidup, entah dalam penglihatan maupun mimpi  Jiwa bisa meninggalkan dunianya dan menampakkan diri kepada orang- orang hidup yang memang menaruh perhatian pada mereka, hanya atas izin dari Allah.
  • 24.
    Surat Paus InnocentiusIV (1254).  Surat ini berisi ajakan Paus terhadap Gereja Ortodoks Yunani untuk menerima definisi Api Penyucian (Purgatorium) sehingga tercipta kesamaan ajaran antara Gereja Latin dan Yunani.  Surat ini penting karena di sinilah untuk pertama kalinya pihak Kepausan menyebut Purgatorium (Api Penyucian) secara resmi.
  • 25.
    Konsili Lyon II(1274)  Paus Gregorius X  Jika mereka meninggal dalam kasih sebelum menyelesaikan perbuatan untuk menghapus kesalahan itu, jiwa mereka akan disucikan setelah kematian dengan hukuman penyucian. Dan untuk pengurangan hukuman ini, mereka bisa dibantu dengan tindakan silih umat beriman yang masih hidup, dengan mengikuti Misa Kudus, memanjatkan doa, sedekah, dan tindakan kesalehan lainnya sesuai dengan kebiasaan gereja.
  • 26.
    Konsili Firenze (1438-1443) Jika mereka mati dalam rasa sesal dan tobat atas dosa mereka dan masih mencintai Allah, tetapi belum menulasi hukuman atas dosa yang telah mereka lakukan dengan perbuatan penghapus dosa, maka jiwa mereka, setelah kematian akan dibersihkan di penghukuman Api Penyucian,
  • 27.
    Konsili Trente (1545–1563) Menghadapi serangan Protestan  Konsili Trente menyatakan: “Api Penyucian itu ada” dan “jiwa yang berada di dalamnya bisa ditolong dengan tindakan silih (misalnya, doa) dari orang beriman, dan yang paling penting adalah kurban di Altar”
  • 28.
    Penderitaan di ApiPenyucian  Semakin seseorang merindukan akan sesuatu, semakin terasa sakit jika sesuatu itu terampas daripadanya. Sesudah kehidupan ini, kerinduan akan Allah, Sang Kebaikan tertinggi, begitu kuat dalam jiwa-jiwa orang benar dan tidak dihalangi lagi oleh badan yang fana. Karena itulah, jiwa- jiwa akan begitu begitu menderita jika kerinduan itu tertunda (Santo Thomas Aquinas)
  • 29.
    Santa Katarina dariGenoa (1447-1510)  “Risalah tentang Api Penyucian”  Bukan hanya penderitaan, tetapi juga sukacita tumbuh dalam diri jiwa-jiwa di Api Penyucian.  Di Api Penyucian, jiwa-jiwa hanya melihat kebaikan Allah semata. Dan jiwa-jiwa pun masuk dalam kerahiman-Nya.
  • 30.
     Menurut Katarina,tidak ada kebahagiaan yang bisa dibandingkan dengan kebahagiaan jiwa di Api Penyucian, kecuali kebahagian para kudus di surga. Hari demi hari, kebahagiaan mereka bertambah karena rintangan yang menghalangi Allah hadir dalam dirinya sedikit demi sedikit mulai berkurang.
  • 31.
    Mendoakan Arwah  Marilahkita membantu dan mengenangkan mereka. Jika anak-anak Ayub dikuduskan karena persembahan ayahnya (Ayb 1:5), mengapa kita meragukan bahwa persembahan kita bagi orang yang meninggal dapat membawa mereka penghiburan? Janganlah ragu-ragu untuk menolong mereka yang telah mati dan mempersembahkan doa-doa kepada mereka (Yohanes Krisostomus dalam
  • 32.
    INDULGENSI  Umat berimanyang telah meninggal dan masih berada di jalan penyucian termasuk anggota persekutuan para kudus. Maka dari itu kita dapat, membantu mereka dengan memperoleh indulgensi bagi mereka. Dengan demikian, dihapuskan siksa dosa sementara para orang mati di dalam Api Penyucian  (Katekismus Gereja Katolik no 1479)
  • 33.
     Istilah indulgensiberasal dari bahasa Latin, “indulgere”. (‘berbuat kebaikan kepada’)  Selanjutnya, indulgensi dihubungkan dengan praktek penghapusan dosa dan kesalahan.  Paus Paulus VI dalam Konstitusi Apostolik “Indulgentiarum doctrina” : Indulgensi dapat diperuntukkan bagi orang hidup dan orang mati.
  • 34.
     Sakramen PengakuanDosa menghindarkan orang dari hukuman kekal.  Namun, hukuman sementara masih harus dijalani. Hukuman sementara ini bisa dihapus dengan melakukan silih pertobatan.  Tindakan silih yang umumnya menghasilkan indulgensi adalah berdoa, mempraktekan devosi-devosi religius, berpuasa, bermatiraga, memberikan derma, melakukan karya karitatif, dan
  • 35.
    Paus Yohanes PaulusII  Dalam Audiensi Umum, 4 Agustus 1999, dia mengajarkan tentang Api Penyucian dan menekankan pentingnya menguduskan diri sebelum menghadap hadirat Allah yang kudus  Mereka yang masih memilki cacat dan belum bersih, harus disucikan dahulu sebelum masuk dalam persekutuan dengan Allah yang sempurna
  • 36.
    Paus Yohanes PaulusII  Api Penyucian tidak menunjuk tempat, tetapi suatu keberadaan ( a condition of existence). Api Penyucian juga bukan perpanjangan keadaan hidup di dunia. Sudah definitif  Mereka yang berada di Api Penyucian sebenarnya masih berada dalam ikatan kesatuan antara mereka yang terberkati di surga dan kita yang sedang berada di jalan menuju Rumah Bapa
  • 37.
    Paus Benediktus XVI Dalam audensi umum, 12 Januari 2011, dia mengupas kehidupan Santa Katarina dari Genoa.  Proses penyucian jiwa menuju kesatuan dengan Allah, dimulai dari rasa sedih yang mendalam karena menyadari bahwa dosa yang dilakukan tidak sebanding dengan kasih Allah yang tanpa batas.
  • 38.
     Api Penyucianseperti api yang memurnikan dari dalam diri orang. Api ini menimbulkan rasa sakit. Sakit karena rasa sesal atas dosa-dosanya.  Api Penyucian bukanlah tempat, melainkan proses
  • 39.
    KESIMPULAN  1) AjaranApi Penyucian merupakan bagian dari tradisi suci gereja yang diwariskan turun-temurun. Karena sebuah tradisi, maka ajaran ini akan selalu berkembang.
  • 40.
     2) Untukbisa menghadap Allah, maka orang harus dikuduskan, entah selama masih hidup atau sesudah mati. Jika terjadi sesudah mati, ia dibersihkan seluruhnya dari kelekatan dosa sampai benar-benar kudus. Penyucian ini bukanlah sebuah pilihan, tetapi syarat mutlak yang tidak terhindarkan jika ingin bersatu dengan Allah.
  • 41.
     3) KarenaAllah Maha Kasih dan Maha Rahim, maka Ia dengan senang hati akan mengampuni dosa dan kesalahan manusia yang bertobat. Gereja juga diberi kuasa oleh Kristus untuk mengampuni dan melepaskan anggotanya dari dosa melalui Sakramen Pengakuan Dosa. Akan tetapi, pengampunan dosa tidak serta merta menghapus hukuman atas dosa.
  • 42.
     4) ApiPenyucian adalah wujud nyata dari Allah yang berbelas kasih sekaligus Allah yang berkeadilan. Belas kasih Allah yang mengampuni tidak serta merta membebaskan orang dari hukuman sementara.
  • 43.
     5) Hukumandalam proses penyucian ini menimbulkan rasa sakit dan penderitaan. Penderitaan ini bukanlah pertama-tama penderitaan fisik, melainkan penderitaan batin atau rohani.  Jiwa di Api Penyucian memiliki kerinduan membara untuk bersatu dengan Allah. Tetapi, tertunda karena harus menjalani proses penyucian atas dosa.
  • 44.
     6) Sepertihalnya surga dan neraka, Api Penyucian adalah “tempat ketiga” yang penuh misteri.
  • 45.
     7) ApiPenyucian adalah “tempat” dan/atau “proses” penyucian jiwa manusia setelah kematian. Namun, untuk menyucikan jiwa, tidak perlu harus menunggu sampai kematian menjemput. Selama hidup orang masih bisa menyucikan diri dan menebus dosanya. Caranya dengan mendapatkan indulgensi dari gereja dan juga dari Allah. Memang, ada aturan dan doa-doa khusus untuk memperoleh indulgensi.