Page 1
Neo Positivisme Terhadap
Pendidikan
Nama : Rike Purnama
Kelas : 3B
NIM :2225132208
Pendidikan Matematika
Assalamualaikum WR WB
Page 2
Pendahuluan
Berfikir merupakan penentu ada
atau tidaknya keberadaan
manusia. Dengan berfikir, manusia
akan menemukan pengetahuan-
pengetahuan baru yang akan
berkembang dari masa ke masa.
Pengetahuan merupakan syarat
mutlak bagi manusia untuk
mempertahankan keberadaanya.
Pendidikan merupakan salah satu
faktor terbesar bagi terasah dan
berkembangnya pengetahuan
seseorang. Filsafat dipandang
sebagai bagian dari pendidikan.
Berfikir merupakan penentu ada
atau tidaknya keberadaan
manusia. Dengan berfikir, manusia
akan menemukan pengetahuan-
pengetahuan baru yang akan
berkembang dari masa ke masa.
Pengetahuan merupakan syarat
mutlak bagi manusia untuk
mempertahankan keberadaanya.
Pendidikan merupakan salah satu
faktor terbesar bagi terasah dan
berkembangnya pengetahuan
seseorang. Filsafat dipandang
sebagai bagian dari pendidikan.
Page 3
Neo Positivisme
Neo Positivisme merupakan aliran yang sudah tidak
asing lagi bagi dunia pendidikan. Neo positivisme
merupakan aliran yang beranggapan bahwa segala
pengetahuan dianggap benar apabila dapat
dibuktikan kebenarannya. Positivisme merupakan
penyempurnaan dari aliran empirisme dan
rasionalisme. Positivisme memandang pentingnya
pembuktian dan ukuran dalam ilmu pengetahuan.
Positivisme menyatakan pengetahuan hanya bisa
dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui
metode saintifik.
Ilmu pengetahuan tidak bisa berkembang hanya
dengan menggunakan asumsi-asumsi yang tidak
dapat di buktikan kebenarannya. Kebenaran
diperoleh dari fakta-fakta yang telah dikumpulkan
melalui metode ilmiah, lalu dihubungkan benang
merahnya sehingga menimbulkan suatu kesimpulan
yang memiliki nilai dan disepakati nilainya.
Page 4
Neo Positivisme beranggapan bahwa suatu
hal harus di buktikan dulu kebenarannya
bukan hanya asumsi semata. Kehidupan
bergantung pada kebutuhan yang nyata,
pasti, dan rasional.
Jika manusia hanya hidup dalam asumsi
yang tidak jelas kebenarannya maka
kehidupan manusia akan terombang-ambing
dalam ketidakpastian . Oleh karena itu
masyarakat perlu memperdalam
pengetahuan yang bersifat empiris dan
realistik untuk menjunjang kehidupannya.
Neo Positivisme beranggapan bahwa suatu
hal harus di buktikan dulu kebenarannya
bukan hanya asumsi semata. Kehidupan
bergantung pada kebutuhan yang nyata,
pasti, dan rasional.
Jika manusia hanya hidup dalam asumsi
yang tidak jelas kebenarannya maka
kehidupan manusia akan terombang-ambing
dalam ketidakpastian . Oleh karena itu
masyarakat perlu memperdalam
pengetahuan yang bersifat empiris dan
realistik untuk menjunjang kehidupannya.
Page 5
Tokoh Neo Positivisme
Tokoh terpenting dalam aliran positivisme adalah Auguste Comte (1798
-1857). Auguste Comte, yang bernama lengkap Isidore Marie Auguste
Francois Xavier Comte, di lahirkan di Montpellier Prancis selatan pada
17 Januari 1798. Karena peranannya yang amat penting dalam aliran ini,
Auguste Comte mendapat julukan Bapak Positivisme.
Perkembangan positivisme pun berkaitan dengan lingkaran Wina
dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain.
Neo Positivisme adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina
pada tahun 1920-an. Kaum Neo Positivisme disebut juga kaum empiris
logika. Pada umumnya disebut juga Mahzab Wina atau Kring Wina Serta
kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini
adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini
menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logi dan positivisme
logis. Pokok bahasan positivisme contohnya tentang bahasa, logika
simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain.
Page 6
Menurut Auguste Comte, perkembangan pemikiran manusia
berlangsung dalam tiga tahap, yaitu:
•Tahap teologis
Pada tahap ini manusia mengarahkan pandangannya kepada
hakikat yang batiniah (sebab pertama). Di sini manusia percaya
kepada kemungkinan adanya sesuatu yang mutlak. Kepercayaan atas
kekuatan gaib di luar manusia sangat mendasari cara berpikir
manusia
•Tahap metafisis
Pola berpikir manusia telah meninggalkan teologis, namun
masih berpikir abstrak, masih mempersoalkan hakikat dan segala yang
ada, termasuk hakikat yang gaib juga.
•Tahap ilmiah/positif
Pada tahap ini manusia telah mulai mengetahui dan sadar
bahwa upaya pengenalan teologis dan metafisis tidak ada gunanya.
Sekarang manusia berusaha mencari hukum-hukum yang berasal dari
fakta-fakta pengamatan dengan memakai akal.
Pada tahapan positif, manusia lebih percaya diri karena
memiliki bekal untuk mempertahankan kehidupannya dengan
pengetahuan. Dengan pengetahuan yang terus berkembang manusia
dapat lebih memahami alam beserta kekayaan yang dimiliki oleh alam
tersebut sehingga dapat dimanfaatkan dengan searif mungkin.
Menurut Auguste Comte, perkembangan pemikiran manusia
berlangsung dalam tiga tahap, yaitu:
•Tahap teologis
Pada tahap ini manusia mengarahkan pandangannya kepada
hakikat yang batiniah (sebab pertama). Di sini manusia percaya
kepada kemungkinan adanya sesuatu yang mutlak. Kepercayaan atas
kekuatan gaib di luar manusia sangat mendasari cara berpikir
manusia
•Tahap metafisis
Pola berpikir manusia telah meninggalkan teologis, namun
masih berpikir abstrak, masih mempersoalkan hakikat dan segala yang
ada, termasuk hakikat yang gaib juga.
•Tahap ilmiah/positif
Pada tahap ini manusia telah mulai mengetahui dan sadar
bahwa upaya pengenalan teologis dan metafisis tidak ada gunanya.
Sekarang manusia berusaha mencari hukum-hukum yang berasal dari
fakta-fakta pengamatan dengan memakai akal.
Pada tahapan positif, manusia lebih percaya diri karena
memiliki bekal untuk mempertahankan kehidupannya dengan
pengetahuan. Dengan pengetahuan yang terus berkembang manusia
dapat lebih memahami alam beserta kekayaan yang dimiliki oleh alam
tersebut sehingga dapat dimanfaatkan dengan searif mungkin.
T
A
H
A
P
P
E
R
K
E
M
B
A
N
G
A
N
P
E
M
I
K
I
R
A
N
M
A
N
U
S
I
A
Page 7
Neo Positivisme Terhadap Pendidikan
Page 8
Pendidikan yang berlandaskan Neo
Positivisme menekankan pentingnya metode
empiris-eksperimental dan menuntut adanya
penilaian objektivitas dalam setiap
pembahasannya sehingga pendidikan di arahkan
pada tujuan yang realistik atau sesuai dengan
kenyataannya.
Pengembangan kurikulum ditekankan
pada proses terbentuknya peserta didik yang
rasional dan empiris. Pendidikan harus
berlandaskan pada kebenaran yang pasti dan
indrawi ( dapat dilihat, dirasakan, diamati dan
lain-lain).
Dengan adanya penilaian objektivitas
diharapkan dapat menekan penilaian yang
bersifat subjektif, karena penilaian subjektivitas
dianggap tidak sesuai dengan aliran neo
positivisme. Penilaian subjektivitas tidak dapat di
pertanggung jawabkan keabsahannya.
Pendidikan yang berlandaskan Neo
Positivisme menekankan pentingnya metode
empiris-eksperimental dan menuntut adanya
penilaian objektivitas dalam setiap
pembahasannya sehingga pendidikan di arahkan
pada tujuan yang realistik atau sesuai dengan
kenyataannya.
Pengembangan kurikulum ditekankan
pada proses terbentuknya peserta didik yang
rasional dan empiris. Pendidikan harus
berlandaskan pada kebenaran yang pasti dan
indrawi ( dapat dilihat, dirasakan, diamati dan
lain-lain).
Dengan adanya penilaian objektivitas
diharapkan dapat menekan penilaian yang
bersifat subjektif, karena penilaian subjektivitas
dianggap tidak sesuai dengan aliran neo
positivisme. Penilaian subjektivitas tidak dapat di
pertanggung jawabkan keabsahannya.
Page 9
Positivisme memiliki pengaruh yang kuat pada metode
ilmiah, karena hanya fakta-fakta saja yang dapat diterima.
Pendidikan harus mampu menjadi sarana di gunakannya
metode ilmiah dalam setiap proses pembelajaran. Dengan
menggunakan metode ilmiah, manusia akan lebih
menggunakan akal fikirannya untuk membuktikan sesuatu
agar dapat dinilai kebenarannya dibandingkan hanya dengan
meletakkan asumsi-asumsi yang tidak dapat dipertanggung
jawabkan kebenarannya.
Sebuah teori dianggap benar apabila telah mencapai 95%
keakuratannya, dan teori tersebut dapat digunakan dan
diterapkan dalam memecahkan suatu permasalahan.
Karena manusia tidak mungkin mengharapkan kebenaran
100% dalam sebuah teori hasil pemikiran manusia, yang
terpenting adalah seberapa besar kemungkinan teori itu
benar. Kebenaran ilmiah dan keberhasilan pendidikan saat
ini diukur secara positivisme, yaitu harus konkrit, eksak,
akurat, dan memberi manfaat pada pelaksana pendidikan.
Page 10
Aliran Neo Positivisme memiliki peranan yang sangat
besar dalam pendidikan saat ini. Dengan menggunakan
metode ilmiah yang diterapkan dalam memahami realitas
maka kebenaran dapat tercapai. Namun kebenaran yang
didapat merupakan kebenaran yang bersifat sementara
hingga di temukannya kembali kebenaran yang lebih
hakiki lagi, sehingga kebenaran akan memiliki
kemungkinan terus terbaharui dari masa ke masa
tergantung peningkatan kemampuan manusia pada
zamannya.
Pendidikan harus dapat merangsang intelektual
pelaksana pendidikan baik guru, murid maupun semua
perangkat sekolah. Pendidikan berfungsi untuk
mengasah pemikiran yang pada akhirnya akan membuat
manusia menjadi manusia yang seutuhnya, sehingga
manusia bukan hanya dilihat dari wujudnya tetapi dilihat
dari pemikiran-pemikirannya, dan pendidikan membuat
peserta didik lebih memahami mengenai kebenaran yang
ada. Masyarakat pendidikan menghendaki agar
pengajaran memerhatikan minat, kebutuhan, dan
kesiapan peserta didik untuk belajar, serta dimaksudkan
untuk mencapai tujuan-tujuan sosial sekolah.
Aliran Neo Positivisme memiliki peranan yang sangat
besar dalam pendidikan saat ini. Dengan menggunakan
metode ilmiah yang diterapkan dalam memahami realitas
maka kebenaran dapat tercapai. Namun kebenaran yang
didapat merupakan kebenaran yang bersifat sementara
hingga di temukannya kembali kebenaran yang lebih
hakiki lagi, sehingga kebenaran akan memiliki
kemungkinan terus terbaharui dari masa ke masa
tergantung peningkatan kemampuan manusia pada
zamannya.
Pendidikan harus dapat merangsang intelektual
pelaksana pendidikan baik guru, murid maupun semua
perangkat sekolah. Pendidikan berfungsi untuk
mengasah pemikiran yang pada akhirnya akan membuat
manusia menjadi manusia yang seutuhnya, sehingga
manusia bukan hanya dilihat dari wujudnya tetapi dilihat
dari pemikiran-pemikirannya, dan pendidikan membuat
peserta didik lebih memahami mengenai kebenaran yang
ada. Masyarakat pendidikan menghendaki agar
pengajaran memerhatikan minat, kebutuhan, dan
kesiapan peserta didik untuk belajar, serta dimaksudkan
untuk mencapai tujuan-tujuan sosial sekolah.
Page 11
Auguste Comte mengkategorikan ilmu dalam enam kategori
kegunaan yang sifatnya praktis, yaitu:
•menempatkan matematika sebagai dasar bagi ilmu
pengetahuan.
•Ilmu perbintangan (astronomi) yang berfungsi menyusun
hukum-hukum ilmu pasti dalam hubungan dengan gejala
benda-benda langit.
•Ilmu alam (fisika). Menurutnya, melalui observasidan
eksperimen, ilmu-ilmu fisika atau ilmu alam menunjukkan
hubungan-hubungan yang mengatur sifat dengan masa.
•Ilmu kimia yang berfungsi untuk membuktikan adanya
keterkaitan yang luas di antara ilmu-ilmu seperti dalam ilmu
hayat (biologi) dan bahkan dengan sosiologi. Metode yang
digunakan dalam bidang ini adalah observasi dan
eksperimen.
•Ilmu hayat (biologi). Jelasnya, pada tingkatan ini, ilmu telah
berhadapan secara langsung dengan gejala-gejala kehidupan
sebagai unsur yang lebih kompleks.
•Ilmu fisika sosial (sosiologi), sosiologi berfungsi untuk
menghadapkan ilmu pada hakikat kehidupan yang lebih
kompleks, lebih konkret, dan lebih khusus dengan suatu
kelompok manusia.
Auguste Comte mengkategorikan ilmu dalam enam kategori
kegunaan yang sifatnya praktis, yaitu:
•menempatkan matematika sebagai dasar bagi ilmu
pengetahuan.
•Ilmu perbintangan (astronomi) yang berfungsi menyusun
hukum-hukum ilmu pasti dalam hubungan dengan gejala
benda-benda langit.
•Ilmu alam (fisika). Menurutnya, melalui observasidan
eksperimen, ilmu-ilmu fisika atau ilmu alam menunjukkan
hubungan-hubungan yang mengatur sifat dengan masa.
•Ilmu kimia yang berfungsi untuk membuktikan adanya
keterkaitan yang luas di antara ilmu-ilmu seperti dalam ilmu
hayat (biologi) dan bahkan dengan sosiologi. Metode yang
digunakan dalam bidang ini adalah observasi dan
eksperimen.
•Ilmu hayat (biologi). Jelasnya, pada tingkatan ini, ilmu telah
berhadapan secara langsung dengan gejala-gejala kehidupan
sebagai unsur yang lebih kompleks.
•Ilmu fisika sosial (sosiologi), sosiologi berfungsi untuk
menghadapkan ilmu pada hakikat kehidupan yang lebih
kompleks, lebih konkret, dan lebih khusus dengan suatu
kelompok manusia.
Page 12
Kritikan terhadap Teori Neo Positivisme
Max Horkheimer memberikan kritikan terhadap aliran neo
positivisme, yaitu:
• Positivisme mengabaikan pengaruh peneliti dalam
memahami realitas sosial dan secara salah
menggambarkan objek studinya.
• Positivisme tidak memiliki elemen refleksif yang
mendorongnya berkarakter konservatif.
 
Selain kritikan tersebut, kelemahan neo positivisme dalam
pendidikan adalah terpakunya nilai hanya pada hasil akhir
(nilai rapot atau ijazah). Nilai dijunjung tinggi sebagai
patokan keberhasilan seorang siswa. Sehingga ada anggapan
bahwa yang terpenting dalam sekolah adalah keberhasilan
mendapatkan nilai yang tinggi. Sedangkan nilai yang tinggi
belum tentu menjamin seseorang dapat mengaplikasikan
pengetahuannya dalam kehidupan dan memiliki kemampuan
untuk terjun langsung dalam dunia kerja.
Page 13
 Terimakasih 
Wassalamualaikum WR WB

Ppt neopositivisme

  • 1.
    Page 1 Neo PositivismeTerhadap Pendidikan Nama : Rike Purnama Kelas : 3B NIM :2225132208 Pendidikan Matematika Assalamualaikum WR WB
  • 2.
    Page 2 Pendahuluan Berfikir merupakanpenentu ada atau tidaknya keberadaan manusia. Dengan berfikir, manusia akan menemukan pengetahuan- pengetahuan baru yang akan berkembang dari masa ke masa. Pengetahuan merupakan syarat mutlak bagi manusia untuk mempertahankan keberadaanya. Pendidikan merupakan salah satu faktor terbesar bagi terasah dan berkembangnya pengetahuan seseorang. Filsafat dipandang sebagai bagian dari pendidikan. Berfikir merupakan penentu ada atau tidaknya keberadaan manusia. Dengan berfikir, manusia akan menemukan pengetahuan- pengetahuan baru yang akan berkembang dari masa ke masa. Pengetahuan merupakan syarat mutlak bagi manusia untuk mempertahankan keberadaanya. Pendidikan merupakan salah satu faktor terbesar bagi terasah dan berkembangnya pengetahuan seseorang. Filsafat dipandang sebagai bagian dari pendidikan.
  • 3.
    Page 3 Neo Positivisme NeoPositivisme merupakan aliran yang sudah tidak asing lagi bagi dunia pendidikan. Neo positivisme merupakan aliran yang beranggapan bahwa segala pengetahuan dianggap benar apabila dapat dibuktikan kebenarannya. Positivisme merupakan penyempurnaan dari aliran empirisme dan rasionalisme. Positivisme memandang pentingnya pembuktian dan ukuran dalam ilmu pengetahuan. Positivisme menyatakan pengetahuan hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik. Ilmu pengetahuan tidak bisa berkembang hanya dengan menggunakan asumsi-asumsi yang tidak dapat di buktikan kebenarannya. Kebenaran diperoleh dari fakta-fakta yang telah dikumpulkan melalui metode ilmiah, lalu dihubungkan benang merahnya sehingga menimbulkan suatu kesimpulan yang memiliki nilai dan disepakati nilainya.
  • 4.
    Page 4 Neo Positivismeberanggapan bahwa suatu hal harus di buktikan dulu kebenarannya bukan hanya asumsi semata. Kehidupan bergantung pada kebutuhan yang nyata, pasti, dan rasional. Jika manusia hanya hidup dalam asumsi yang tidak jelas kebenarannya maka kehidupan manusia akan terombang-ambing dalam ketidakpastian . Oleh karena itu masyarakat perlu memperdalam pengetahuan yang bersifat empiris dan realistik untuk menjunjang kehidupannya. Neo Positivisme beranggapan bahwa suatu hal harus di buktikan dulu kebenarannya bukan hanya asumsi semata. Kehidupan bergantung pada kebutuhan yang nyata, pasti, dan rasional. Jika manusia hanya hidup dalam asumsi yang tidak jelas kebenarannya maka kehidupan manusia akan terombang-ambing dalam ketidakpastian . Oleh karena itu masyarakat perlu memperdalam pengetahuan yang bersifat empiris dan realistik untuk menjunjang kehidupannya.
  • 5.
    Page 5 Tokoh NeoPositivisme Tokoh terpenting dalam aliran positivisme adalah Auguste Comte (1798 -1857). Auguste Comte, yang bernama lengkap Isidore Marie Auguste Francois Xavier Comte, di lahirkan di Montpellier Prancis selatan pada 17 Januari 1798. Karena peranannya yang amat penting dalam aliran ini, Auguste Comte mendapat julukan Bapak Positivisme. Perkembangan positivisme pun berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Neo Positivisme adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Kaum Neo Positivisme disebut juga kaum empiris logika. Pada umumnya disebut juga Mahzab Wina atau Kring Wina Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logi dan positivisme logis. Pokok bahasan positivisme contohnya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain.
  • 6.
    Page 6 Menurut AugusteComte, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam tiga tahap, yaitu: •Tahap teologis Pada tahap ini manusia mengarahkan pandangannya kepada hakikat yang batiniah (sebab pertama). Di sini manusia percaya kepada kemungkinan adanya sesuatu yang mutlak. Kepercayaan atas kekuatan gaib di luar manusia sangat mendasari cara berpikir manusia •Tahap metafisis Pola berpikir manusia telah meninggalkan teologis, namun masih berpikir abstrak, masih mempersoalkan hakikat dan segala yang ada, termasuk hakikat yang gaib juga. •Tahap ilmiah/positif Pada tahap ini manusia telah mulai mengetahui dan sadar bahwa upaya pengenalan teologis dan metafisis tidak ada gunanya. Sekarang manusia berusaha mencari hukum-hukum yang berasal dari fakta-fakta pengamatan dengan memakai akal. Pada tahapan positif, manusia lebih percaya diri karena memiliki bekal untuk mempertahankan kehidupannya dengan pengetahuan. Dengan pengetahuan yang terus berkembang manusia dapat lebih memahami alam beserta kekayaan yang dimiliki oleh alam tersebut sehingga dapat dimanfaatkan dengan searif mungkin. Menurut Auguste Comte, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam tiga tahap, yaitu: •Tahap teologis Pada tahap ini manusia mengarahkan pandangannya kepada hakikat yang batiniah (sebab pertama). Di sini manusia percaya kepada kemungkinan adanya sesuatu yang mutlak. Kepercayaan atas kekuatan gaib di luar manusia sangat mendasari cara berpikir manusia •Tahap metafisis Pola berpikir manusia telah meninggalkan teologis, namun masih berpikir abstrak, masih mempersoalkan hakikat dan segala yang ada, termasuk hakikat yang gaib juga. •Tahap ilmiah/positif Pada tahap ini manusia telah mulai mengetahui dan sadar bahwa upaya pengenalan teologis dan metafisis tidak ada gunanya. Sekarang manusia berusaha mencari hukum-hukum yang berasal dari fakta-fakta pengamatan dengan memakai akal. Pada tahapan positif, manusia lebih percaya diri karena memiliki bekal untuk mempertahankan kehidupannya dengan pengetahuan. Dengan pengetahuan yang terus berkembang manusia dapat lebih memahami alam beserta kekayaan yang dimiliki oleh alam tersebut sehingga dapat dimanfaatkan dengan searif mungkin. T A H A P P E R K E M B A N G A N P E M I K I R A N M A N U S I A
  • 7.
    Page 7 Neo PositivismeTerhadap Pendidikan
  • 8.
    Page 8 Pendidikan yangberlandaskan Neo Positivisme menekankan pentingnya metode empiris-eksperimental dan menuntut adanya penilaian objektivitas dalam setiap pembahasannya sehingga pendidikan di arahkan pada tujuan yang realistik atau sesuai dengan kenyataannya. Pengembangan kurikulum ditekankan pada proses terbentuknya peserta didik yang rasional dan empiris. Pendidikan harus berlandaskan pada kebenaran yang pasti dan indrawi ( dapat dilihat, dirasakan, diamati dan lain-lain). Dengan adanya penilaian objektivitas diharapkan dapat menekan penilaian yang bersifat subjektif, karena penilaian subjektivitas dianggap tidak sesuai dengan aliran neo positivisme. Penilaian subjektivitas tidak dapat di pertanggung jawabkan keabsahannya. Pendidikan yang berlandaskan Neo Positivisme menekankan pentingnya metode empiris-eksperimental dan menuntut adanya penilaian objektivitas dalam setiap pembahasannya sehingga pendidikan di arahkan pada tujuan yang realistik atau sesuai dengan kenyataannya. Pengembangan kurikulum ditekankan pada proses terbentuknya peserta didik yang rasional dan empiris. Pendidikan harus berlandaskan pada kebenaran yang pasti dan indrawi ( dapat dilihat, dirasakan, diamati dan lain-lain). Dengan adanya penilaian objektivitas diharapkan dapat menekan penilaian yang bersifat subjektif, karena penilaian subjektivitas dianggap tidak sesuai dengan aliran neo positivisme. Penilaian subjektivitas tidak dapat di pertanggung jawabkan keabsahannya.
  • 9.
    Page 9 Positivisme memilikipengaruh yang kuat pada metode ilmiah, karena hanya fakta-fakta saja yang dapat diterima. Pendidikan harus mampu menjadi sarana di gunakannya metode ilmiah dalam setiap proses pembelajaran. Dengan menggunakan metode ilmiah, manusia akan lebih menggunakan akal fikirannya untuk membuktikan sesuatu agar dapat dinilai kebenarannya dibandingkan hanya dengan meletakkan asumsi-asumsi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Sebuah teori dianggap benar apabila telah mencapai 95% keakuratannya, dan teori tersebut dapat digunakan dan diterapkan dalam memecahkan suatu permasalahan. Karena manusia tidak mungkin mengharapkan kebenaran 100% dalam sebuah teori hasil pemikiran manusia, yang terpenting adalah seberapa besar kemungkinan teori itu benar. Kebenaran ilmiah dan keberhasilan pendidikan saat ini diukur secara positivisme, yaitu harus konkrit, eksak, akurat, dan memberi manfaat pada pelaksana pendidikan.
  • 10.
    Page 10 Aliran NeoPositivisme memiliki peranan yang sangat besar dalam pendidikan saat ini. Dengan menggunakan metode ilmiah yang diterapkan dalam memahami realitas maka kebenaran dapat tercapai. Namun kebenaran yang didapat merupakan kebenaran yang bersifat sementara hingga di temukannya kembali kebenaran yang lebih hakiki lagi, sehingga kebenaran akan memiliki kemungkinan terus terbaharui dari masa ke masa tergantung peningkatan kemampuan manusia pada zamannya. Pendidikan harus dapat merangsang intelektual pelaksana pendidikan baik guru, murid maupun semua perangkat sekolah. Pendidikan berfungsi untuk mengasah pemikiran yang pada akhirnya akan membuat manusia menjadi manusia yang seutuhnya, sehingga manusia bukan hanya dilihat dari wujudnya tetapi dilihat dari pemikiran-pemikirannya, dan pendidikan membuat peserta didik lebih memahami mengenai kebenaran yang ada. Masyarakat pendidikan menghendaki agar pengajaran memerhatikan minat, kebutuhan, dan kesiapan peserta didik untuk belajar, serta dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial sekolah. Aliran Neo Positivisme memiliki peranan yang sangat besar dalam pendidikan saat ini. Dengan menggunakan metode ilmiah yang diterapkan dalam memahami realitas maka kebenaran dapat tercapai. Namun kebenaran yang didapat merupakan kebenaran yang bersifat sementara hingga di temukannya kembali kebenaran yang lebih hakiki lagi, sehingga kebenaran akan memiliki kemungkinan terus terbaharui dari masa ke masa tergantung peningkatan kemampuan manusia pada zamannya. Pendidikan harus dapat merangsang intelektual pelaksana pendidikan baik guru, murid maupun semua perangkat sekolah. Pendidikan berfungsi untuk mengasah pemikiran yang pada akhirnya akan membuat manusia menjadi manusia yang seutuhnya, sehingga manusia bukan hanya dilihat dari wujudnya tetapi dilihat dari pemikiran-pemikirannya, dan pendidikan membuat peserta didik lebih memahami mengenai kebenaran yang ada. Masyarakat pendidikan menghendaki agar pengajaran memerhatikan minat, kebutuhan, dan kesiapan peserta didik untuk belajar, serta dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial sekolah.
  • 11.
    Page 11 Auguste Comtemengkategorikan ilmu dalam enam kategori kegunaan yang sifatnya praktis, yaitu: •menempatkan matematika sebagai dasar bagi ilmu pengetahuan. •Ilmu perbintangan (astronomi) yang berfungsi menyusun hukum-hukum ilmu pasti dalam hubungan dengan gejala benda-benda langit. •Ilmu alam (fisika). Menurutnya, melalui observasidan eksperimen, ilmu-ilmu fisika atau ilmu alam menunjukkan hubungan-hubungan yang mengatur sifat dengan masa. •Ilmu kimia yang berfungsi untuk membuktikan adanya keterkaitan yang luas di antara ilmu-ilmu seperti dalam ilmu hayat (biologi) dan bahkan dengan sosiologi. Metode yang digunakan dalam bidang ini adalah observasi dan eksperimen. •Ilmu hayat (biologi). Jelasnya, pada tingkatan ini, ilmu telah berhadapan secara langsung dengan gejala-gejala kehidupan sebagai unsur yang lebih kompleks. •Ilmu fisika sosial (sosiologi), sosiologi berfungsi untuk menghadapkan ilmu pada hakikat kehidupan yang lebih kompleks, lebih konkret, dan lebih khusus dengan suatu kelompok manusia. Auguste Comte mengkategorikan ilmu dalam enam kategori kegunaan yang sifatnya praktis, yaitu: •menempatkan matematika sebagai dasar bagi ilmu pengetahuan. •Ilmu perbintangan (astronomi) yang berfungsi menyusun hukum-hukum ilmu pasti dalam hubungan dengan gejala benda-benda langit. •Ilmu alam (fisika). Menurutnya, melalui observasidan eksperimen, ilmu-ilmu fisika atau ilmu alam menunjukkan hubungan-hubungan yang mengatur sifat dengan masa. •Ilmu kimia yang berfungsi untuk membuktikan adanya keterkaitan yang luas di antara ilmu-ilmu seperti dalam ilmu hayat (biologi) dan bahkan dengan sosiologi. Metode yang digunakan dalam bidang ini adalah observasi dan eksperimen. •Ilmu hayat (biologi). Jelasnya, pada tingkatan ini, ilmu telah berhadapan secara langsung dengan gejala-gejala kehidupan sebagai unsur yang lebih kompleks. •Ilmu fisika sosial (sosiologi), sosiologi berfungsi untuk menghadapkan ilmu pada hakikat kehidupan yang lebih kompleks, lebih konkret, dan lebih khusus dengan suatu kelompok manusia.
  • 12.
    Page 12 Kritikan terhadapTeori Neo Positivisme Max Horkheimer memberikan kritikan terhadap aliran neo positivisme, yaitu: • Positivisme mengabaikan pengaruh peneliti dalam memahami realitas sosial dan secara salah menggambarkan objek studinya. • Positivisme tidak memiliki elemen refleksif yang mendorongnya berkarakter konservatif.   Selain kritikan tersebut, kelemahan neo positivisme dalam pendidikan adalah terpakunya nilai hanya pada hasil akhir (nilai rapot atau ijazah). Nilai dijunjung tinggi sebagai patokan keberhasilan seorang siswa. Sehingga ada anggapan bahwa yang terpenting dalam sekolah adalah keberhasilan mendapatkan nilai yang tinggi. Sedangkan nilai yang tinggi belum tentu menjamin seseorang dapat mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan dan memiliki kemampuan untuk terjun langsung dalam dunia kerja.
  • 13.
    Page 13  Terimakasih Wassalamualaikum WR WB