POSITIVISME DALAM
PENDIDIKAN
Oleh: Alvianica Nanda Utami
2225132129
Pendidikan Matematika – 3B
 Pendidikan di Indonesia akhir-akhir ini mengalami kondisi yang
memprihatinkan. Nilai-nilai moral dan budaya yang seharusnya
menjadi ciri khas anak bangsa negeri ini semakin terkikis dan
kian menghilang. Kini telah ramai terdengar remaja bertindak
anarkis di berbagai kota, meningkatnya pula penyalahgunaan
narkoba, dan berbagai macam kasus pergaulan bebas di
kalangan pelajar merupakan bukti bahwa pendidikan telah
gagal membentuk akhlak yang baik kepada anak didik.
 Pendidikan selama ini memang telah menciptakan penerus
bangsa yang mampu menguasai ilmu sains dan teknologi melalui
pendidikan formal yang diikutinya. Akan tetapi, pendidikan yang
ada dirasa tidak berhasil menanamkan nilai-nilai kebajikan atau
karakter yang baik.
 Oleh karena itu, dalam kurikulum 2013 kini, filsafat pendidikan
dirasa menjadi asas terbaik untuk mengadakan penilaian pendidikan
dalam arti menyeluruh. Penilaian pendidikan meliputi segala usaha
dan kegiatan yang dilakukan oleh sekolah dan institusi-institusi
pendidikan.
 Filsafat pendidikan dapat menjadi sandaran intelektual bagi para
pendidik untuk membela tindakan-tindakan mereka dalam bidang
pendidikan. Dalam hal ini juga sekaligus untuk membimbing pikiran
mereka di tengah kancah pertarungan filsafat umum yang mengusasi
dunia pendidikan. Filsafat pendidikan positivisme akan membantu
guru sebagai pendidik untuk pendalaman pikiran bagi penyusunan
kurikulum dan pembelajaran serta pendidikan siswanya di sekolah,
kemudian mengaitkannya dengan faktor-faktor spiritual, sosial,
ekonomi, budaya dan lain-lain, dalam berbagai bidang kehidupan
untuk menciptakan anak didik yang sempurna baik lahir maupun
batinnya.
Aliran Positivisme
 Dalam filsafat, positivisme berarti suatu aliran filsafat yang berpangkal
pada sesuatu yang pasti, faktual, nyata, dari apa yang diketahui dan
berdasarkan data empiris. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
positivisme berarti aliran filsafat yang beranggapan bahwa
pengetahuan itu semata-mata berdasarkan pengalaman dan ilmu yang
pasti. Sesuatu yang maya dan tidak jelas dikesampingkan, sehingga
aliran ini menolak sesuatu seperti metafisik dan ilmu gaib dan tidak
mengenal adanya spekulasi.
 Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa
satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada
pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa
dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang
ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari.
Tokoh Aliran Positivisme
 Pendiri sekaligus tokoh terpenting aliran positivisme adalah
Auguste Comte (1798-1857)
 August Comte adalah tokoh aliran positivisme yang paling
terkenal. Kaum positivis percaya bahwa masyarakat merupakan
bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris
dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial
kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari
kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari
revolusi Perancis.
Konsep Positivisme
Bagi Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan
metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode
positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu :
Metode ini diarahkan pada fakta-fakta.
Metode ini diarahkan pada perbaikan terus menerus dari syarat-
syarat hidup.
Metode ini berusaha ke arah kepastian.
Metode ini berusaha ke arah kecermatan.
Menurut Comte, perkembangan pemikiran manusia
berlangsung dalam 3 zaman, yaitu:
 Pada zaman teologis; manusia percaya bahwa dibelakang gejala-
gejala alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi
dan gerak gejala-gejala tersebut.
 Zaman metafisis atau nama lainnya tahap transisi dari buah pikir
Comte karena tahapan ini menurut Comte hanya modifikasi dari
tahapan sebelumnya. Penekanannya pada tahap ini, yaitu
monoteisme yang dapat menerangkan gejala-gejala alam dengan
jawaban-jawaban yang spekulatif, bukan dari analisa empiris.
 Zaman positif, adalah tahapan yang terakhir dari pemikiran manusia
dan perkembangannya, pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh
akal budi berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji
dan dibuktikan atas cara empiris.
Auguste Comte mengakhiri pemahamannya dengan
pandangan positivistik bahwa semua yang ada harus
empiris, realistik, dan ilmiah. Jika keluar dari persyaratan
itu, hal tersebut tidak dinamakan dengan eksistensi.
Manusia yang meyakini keberadaan yang tidak nyata
adalah manusia yang rasionalnya masih dijajah oleh
pemahaman mitologis atau metafisik. Sementara
pemahaman teologis bersifat spekulatif yang merupakan
masa pencarian kebenaran manusia. Manusia pada
akhirnya akan mengakui bahwa yang benar adalah yang
positif, faktual, dan realistis.
Pandangan dan penemuan ilmiah manusia mengenai alam jagat raya ini
telah mendorong lahirnya filsafat pendidikan berbasis positivisme.
Pendidikan diarahkan pada suatu tujuan yang realistic. Pengembangan
kurikulum ditekankan pada suatu proses penciptaan anak didik yang
rasional dan empiris. Masyarakat harus menyadari sepenuhnya bahwa
kehidupan tidak bergantung pada mitos dan berbagai legenda karena
semua itu akan membuat masyarakat bodoh. Kehidupan bergantung pada
kebutuhan yang nyata, pasti, dan rasional. Oleh karena itu masyarakat
harus melihat pengetahuan dengan memperdalam pendidikan yang
empiris dan realistik. Pendidikan harus berbasis pada penelitian dan
kebenaran yang pasti
Filsafat Positivisme terhadap Pendidikan
Indonesia
Secara jelas tujuan Pendidikan Nasional yang bersumber dari nilai Pancasila
dirumuskan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, pasal 3, yang
merumuskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab.
Melalui filsafat positivisme, pendidikan diarahkan kepada hal baik dalam
segi intelektual dan berbagai bidang kehidupan untuk menciptakan anak
didik yang sempurna baik lahir maupun batinnya. Peserta didik diasah
dalam kemampuannya melihat, menemukan fakta-fakta, menganalisis
sesuatu, serta mentransfer ilmu kepada lingkungannya. sehingga diharapkan
dapat terbentuknya anak bangsa yang kreatif, berkarakter, serta mampu
berkontribusi dalam pembangunan bangsa agar lebih baik dan mampu
bersaing dengan negara asing.

Positivisme dalam Pendidikan

  • 1.
    POSITIVISME DALAM PENDIDIKAN Oleh: AlvianicaNanda Utami 2225132129 Pendidikan Matematika – 3B
  • 2.
     Pendidikan diIndonesia akhir-akhir ini mengalami kondisi yang memprihatinkan. Nilai-nilai moral dan budaya yang seharusnya menjadi ciri khas anak bangsa negeri ini semakin terkikis dan kian menghilang. Kini telah ramai terdengar remaja bertindak anarkis di berbagai kota, meningkatnya pula penyalahgunaan narkoba, dan berbagai macam kasus pergaulan bebas di kalangan pelajar merupakan bukti bahwa pendidikan telah gagal membentuk akhlak yang baik kepada anak didik.  Pendidikan selama ini memang telah menciptakan penerus bangsa yang mampu menguasai ilmu sains dan teknologi melalui pendidikan formal yang diikutinya. Akan tetapi, pendidikan yang ada dirasa tidak berhasil menanamkan nilai-nilai kebajikan atau karakter yang baik.
  • 3.
     Oleh karenaitu, dalam kurikulum 2013 kini, filsafat pendidikan dirasa menjadi asas terbaik untuk mengadakan penilaian pendidikan dalam arti menyeluruh. Penilaian pendidikan meliputi segala usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh sekolah dan institusi-institusi pendidikan.  Filsafat pendidikan dapat menjadi sandaran intelektual bagi para pendidik untuk membela tindakan-tindakan mereka dalam bidang pendidikan. Dalam hal ini juga sekaligus untuk membimbing pikiran mereka di tengah kancah pertarungan filsafat umum yang mengusasi dunia pendidikan. Filsafat pendidikan positivisme akan membantu guru sebagai pendidik untuk pendalaman pikiran bagi penyusunan kurikulum dan pembelajaran serta pendidikan siswanya di sekolah, kemudian mengaitkannya dengan faktor-faktor spiritual, sosial, ekonomi, budaya dan lain-lain, dalam berbagai bidang kehidupan untuk menciptakan anak didik yang sempurna baik lahir maupun batinnya.
  • 4.
    Aliran Positivisme  Dalamfilsafat, positivisme berarti suatu aliran filsafat yang berpangkal pada sesuatu yang pasti, faktual, nyata, dari apa yang diketahui dan berdasarkan data empiris. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, positivisme berarti aliran filsafat yang beranggapan bahwa pengetahuan itu semata-mata berdasarkan pengalaman dan ilmu yang pasti. Sesuatu yang maya dan tidak jelas dikesampingkan, sehingga aliran ini menolak sesuatu seperti metafisik dan ilmu gaib dan tidak mengenal adanya spekulasi.  Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari.
  • 5.
    Tokoh Aliran Positivisme Pendiri sekaligus tokoh terpenting aliran positivisme adalah Auguste Comte (1798-1857)  August Comte adalah tokoh aliran positivisme yang paling terkenal. Kaum positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis.
  • 6.
    Konsep Positivisme Bagi Comteuntuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu : Metode ini diarahkan pada fakta-fakta. Metode ini diarahkan pada perbaikan terus menerus dari syarat- syarat hidup. Metode ini berusaha ke arah kepastian. Metode ini berusaha ke arah kecermatan.
  • 7.
    Menurut Comte, perkembanganpemikiran manusia berlangsung dalam 3 zaman, yaitu:  Pada zaman teologis; manusia percaya bahwa dibelakang gejala- gejala alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut.  Zaman metafisis atau nama lainnya tahap transisi dari buah pikir Comte karena tahapan ini menurut Comte hanya modifikasi dari tahapan sebelumnya. Penekanannya pada tahap ini, yaitu monoteisme yang dapat menerangkan gejala-gejala alam dengan jawaban-jawaban yang spekulatif, bukan dari analisa empiris.  Zaman positif, adalah tahapan yang terakhir dari pemikiran manusia dan perkembangannya, pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh akal budi berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan dibuktikan atas cara empiris.
  • 8.
    Auguste Comte mengakhiripemahamannya dengan pandangan positivistik bahwa semua yang ada harus empiris, realistik, dan ilmiah. Jika keluar dari persyaratan itu, hal tersebut tidak dinamakan dengan eksistensi. Manusia yang meyakini keberadaan yang tidak nyata adalah manusia yang rasionalnya masih dijajah oleh pemahaman mitologis atau metafisik. Sementara pemahaman teologis bersifat spekulatif yang merupakan masa pencarian kebenaran manusia. Manusia pada akhirnya akan mengakui bahwa yang benar adalah yang positif, faktual, dan realistis.
  • 9.
    Pandangan dan penemuanilmiah manusia mengenai alam jagat raya ini telah mendorong lahirnya filsafat pendidikan berbasis positivisme. Pendidikan diarahkan pada suatu tujuan yang realistic. Pengembangan kurikulum ditekankan pada suatu proses penciptaan anak didik yang rasional dan empiris. Masyarakat harus menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan tidak bergantung pada mitos dan berbagai legenda karena semua itu akan membuat masyarakat bodoh. Kehidupan bergantung pada kebutuhan yang nyata, pasti, dan rasional. Oleh karena itu masyarakat harus melihat pengetahuan dengan memperdalam pendidikan yang empiris dan realistik. Pendidikan harus berbasis pada penelitian dan kebenaran yang pasti
  • 10.
    Filsafat Positivisme terhadapPendidikan Indonesia Secara jelas tujuan Pendidikan Nasional yang bersumber dari nilai Pancasila dirumuskan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, pasal 3, yang merumuskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Melalui filsafat positivisme, pendidikan diarahkan kepada hal baik dalam segi intelektual dan berbagai bidang kehidupan untuk menciptakan anak didik yang sempurna baik lahir maupun batinnya. Peserta didik diasah dalam kemampuannya melihat, menemukan fakta-fakta, menganalisis sesuatu, serta mentransfer ilmu kepada lingkungannya. sehingga diharapkan dapat terbentuknya anak bangsa yang kreatif, berkarakter, serta mampu berkontribusi dalam pembangunan bangsa agar lebih baik dan mampu bersaing dengan negara asing.