PILAR-PILAR
PENDIDIKAN
Daniel Saroengoe
1
1. Learning to KNOW
 Learning to know bukan sebatas mengetahui dan
memiliki materi informasi sebanyak-banyaknya,
menyimpan dan mengingat selama-lamanya dengan
setepat-tepatnya, sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang
telah diberikan, namun juga kemampuan dalam
memahami makna di balik materi ajar yang telah
diterimanya.
2
6 pilar-pilar pendidikan yang
direkomendasikan UNESCO
 Dengan learning to know, kemampuan menangkap
peluang untuk melakukan pendekatan ilmiah
diharapkan bisa berkembang yang tidak hanya
melalui logika empirisme semata, tetapi juga secara
transendental, yaitu kemampuan mengaitkannya
dengan nilai-nilai spiritual.
3
2. Learning to DO
 Learning to do merupakan konsekuensi dari learning to
know. Kelemahan model pendidikan dan pengajaran
yang selama ini berjalan adalah mengajarkan “omong
doang” (baca: teori), dan kurang menuntun orang untuk
“berbuat” (praktek). Semangat retorika lebih besar dari
action.
 Yang dimaksud learning to do bukanlah kemampuan
berbuat mekanis dan pertukangan tanpa pemikiran, tetapi
peserta didik akan terus belajar bagaimana memperbaiki
dan menumbuhkembangkan kerja, juga bagaimana
mengembangkan teori atau konsep intelektualitasnya.
4
3. Learning to BE
 Melengkapi learning to know dan learning to do,
Robinson Crussoe berpendapat bahwa manusia itu
hidup sendiri tanpa kerja sama atau saling tergantung
dengan manusia lain. Manusia di era sekarang ini
bisa hanyut ditelan masa jika tidak berpegang teguh
pada jati dirinya.
 Learning to be akan menuntun peserta didik menjadi
ilmuwan sehingga mampu menggali dan menentukan
nilai kehidupannya sendiri dalam hidup
bermasyarakat sebagai hasil belajarnya.
5
4. Learning to LIVE TOGETHER
 Learning to live together ini merupakan keterkaitan dan
kelanjutan dengan poin-poin di bawah. Oleh karena itu,
premis ini menekankan dan menuntut seseorang untuk
hidup bersama-sama ditengah masyarakat dan menjadi
educated person yang bermanfaat baik bagi diri dan
masyarakatnya maupun bagi seluruh umat manusia.
 Karena manusia adalah “makhluk sosial”, maka
pendidikan diperoleh melalui interaksi sosial, adaptasi
dan mengaktualisasikan diri ditengah masyarakatnya
6
SISTEM PENDIDIKAN DAN
PEMBELAJARAN
STANDARD INTERNASIONAL
LEARN TO KNOW
LEARN TO DO
LEARN TO BE
LEARN TO LIVE
TOGETHER
PENGEMBANGAN
PENGETAHUAN/WAWASAN
KEILMUAN
PENGEMBANGAN
KEMAMPUAN DAN
PENGALAMAN
PENGEMBANGAN
KEAHLIAN DAN
PRESTASI
PENGEMBANGAN
KEMAMPUAN ADAPTASI
SOSIAL DAN LINGKUNGAN
4 PILAR
PENDIDIKAN
OBJEKTIF
MELIHAT
MASALAH
MEMAHAMI
MASALAH
MEMECAHKAN
MASALAH
MENCEGAH
MASALAH
MELIHAT
PELUANG
MEMAHAMI
PELUANG
MEMANFAATKAN
PELUANG
MENCIPTAKAN
PELUANG
TINGKAT PENCAPAIAN
INTELEKTUAL
SUMBER UNESCO7
Oleh karena perkembangan dunia pendidikan
abad 21 ini yang semakin beragam dan meluas,
maka diperlukan tambahan 2 rumusan pilar-
pilar pendidikan yaitu :
1. Learning How To Learn
2. Learning Throughout Learn
8
5. Learning HOW TO LEARN
 Sekolah boleh saja selesai, tetapi belajar tidak boleh
berhenti. Pepatah, “Satu masalah terjawab, seribu
masalah menunggu untuk dijawab”, seakan sudah
menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan dalam
kehidupan yang serba modern ini.
 Oleh karena itu, Learning How to Learn akan
membawa peserta didik pada kemampuan untuk dapat
mengembangkan strategi dan kiat belajar yang lebih
independen, kreatif, inovatif, efektif, efisien, dan penuh
percaya diri, karena masyarakat baru adalah learning
society atau knowledge society.
9
 Orang-orang yang mampu menduduki posisi
sosial yang tinggi dan penting adalah mereka
yang mampu belajar lebih lanjut.
 Learning How to Learn memerlukan model
pembelajaran baru, yaitu pergeseran dari model
belajar “memilih” (menghafal) menjadi model
belajar “menjadi” (mencari/ meneliti). Asumsi
yang digunakan dalam model belajar “memiliki”
adalah “pendidik tahu”, peserta didik tidak tahu.
Oleh karena itu, pendidik memberi pelajaran,
peserta didik menerima.
10
 Yang dipentingkan dalam model belajar
“memiliki” ini adalah penerima pelajaran yang
akan menerima sebanyak-banyaknya, menyimpan
selama-lamanya, dan menggunakannya sesuai
dengan aslinya serta menurut instruksi yang telah
diberikan.
 Sebaliknya, pada proses belajar “menjadi”, peserta
didik sendiri yang mencari dan menemukan
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang
dihadapinya, sedang pendidik dituntut
membimbing, memotivasi, memfasilitasi,
memprovakasi, dan mempersuasi.
11
6. Learning THROUGHOUT LEARN
 Perubahan dan perkembangan kehidupan berjalan terus-
menerus yang semakin keras dan rumit. Oleh karena
itu, tidak ada jalan lain kecuali harus belajar terus-
menerus sepanjang hayat.
 Learning Throughout Learn ini menuntun dan memberi
pencerahan pada peserta didik bahwa ilmu bukanlah
hasil buatan manusia, tetapi merupakan hasil temuan
atau hasil pencarian manusia. Karena ilmu adalah ilmu
Tuhan yang tidak terbatas dan harus dicari, maka upaya
mencarinya juga tidak mengenal kata berhenti.
12
Bertolak dari butir-butir tersebut, gagasan
paradigma baru pendidikan Indonesia
dalam abad mendatang adalah:
1. Mengubah dan mengembangkan paradigma lama
menjadi paradigma baru - ciptakan pandangan baru
yang sesuai dengan kebutuhan atau tantangan zaman
Termasuk di sini adalah perubahan pendekatan dalam
pendidikan yang sentralistik dan segregatif, serta
mewujudkan pendidikan masa depan dan nasional
menuju terwujudnya suatu masyarakat dunia yang
damai yang dimulai di dalam masyarakat lokal yang
berbudaya
13
2. Perlunya perubahan metode penyampaian materi
pendidikan. Metode yang kita gunakan selama
ini rasanya terlampau banyak menekankan
penguasaan informasi untuk menyelesaikan
masalah. Akibatnya, kita hanya mengutamakan
manusia yang patuh dan kurang memikirkan
terbinanya manusia kreatif
3. paradigma pendidikan agama yang eksklusif,
dikotomis, dan parsial harus diubah menjadi
pendidikan yang inklusif, integralistik, dan
holistis.
14

Bahan ajar 4 pilar-pilar pendidikan

  • 1.
  • 2.
    1. Learning toKNOW  Learning to know bukan sebatas mengetahui dan memiliki materi informasi sebanyak-banyaknya, menyimpan dan mengingat selama-lamanya dengan setepat-tepatnya, sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang telah diberikan, namun juga kemampuan dalam memahami makna di balik materi ajar yang telah diterimanya. 2 6 pilar-pilar pendidikan yang direkomendasikan UNESCO
  • 3.
     Dengan learningto know, kemampuan menangkap peluang untuk melakukan pendekatan ilmiah diharapkan bisa berkembang yang tidak hanya melalui logika empirisme semata, tetapi juga secara transendental, yaitu kemampuan mengaitkannya dengan nilai-nilai spiritual. 3
  • 4.
    2. Learning toDO  Learning to do merupakan konsekuensi dari learning to know. Kelemahan model pendidikan dan pengajaran yang selama ini berjalan adalah mengajarkan “omong doang” (baca: teori), dan kurang menuntun orang untuk “berbuat” (praktek). Semangat retorika lebih besar dari action.  Yang dimaksud learning to do bukanlah kemampuan berbuat mekanis dan pertukangan tanpa pemikiran, tetapi peserta didik akan terus belajar bagaimana memperbaiki dan menumbuhkembangkan kerja, juga bagaimana mengembangkan teori atau konsep intelektualitasnya. 4
  • 5.
    3. Learning toBE  Melengkapi learning to know dan learning to do, Robinson Crussoe berpendapat bahwa manusia itu hidup sendiri tanpa kerja sama atau saling tergantung dengan manusia lain. Manusia di era sekarang ini bisa hanyut ditelan masa jika tidak berpegang teguh pada jati dirinya.  Learning to be akan menuntun peserta didik menjadi ilmuwan sehingga mampu menggali dan menentukan nilai kehidupannya sendiri dalam hidup bermasyarakat sebagai hasil belajarnya. 5
  • 6.
    4. Learning toLIVE TOGETHER  Learning to live together ini merupakan keterkaitan dan kelanjutan dengan poin-poin di bawah. Oleh karena itu, premis ini menekankan dan menuntut seseorang untuk hidup bersama-sama ditengah masyarakat dan menjadi educated person yang bermanfaat baik bagi diri dan masyarakatnya maupun bagi seluruh umat manusia.  Karena manusia adalah “makhluk sosial”, maka pendidikan diperoleh melalui interaksi sosial, adaptasi dan mengaktualisasikan diri ditengah masyarakatnya 6
  • 7.
    SISTEM PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN STANDARDINTERNASIONAL LEARN TO KNOW LEARN TO DO LEARN TO BE LEARN TO LIVE TOGETHER PENGEMBANGAN PENGETAHUAN/WAWASAN KEILMUAN PENGEMBANGAN KEMAMPUAN DAN PENGALAMAN PENGEMBANGAN KEAHLIAN DAN PRESTASI PENGEMBANGAN KEMAMPUAN ADAPTASI SOSIAL DAN LINGKUNGAN 4 PILAR PENDIDIKAN OBJEKTIF MELIHAT MASALAH MEMAHAMI MASALAH MEMECAHKAN MASALAH MENCEGAH MASALAH MELIHAT PELUANG MEMAHAMI PELUANG MEMANFAATKAN PELUANG MENCIPTAKAN PELUANG TINGKAT PENCAPAIAN INTELEKTUAL SUMBER UNESCO7
  • 8.
    Oleh karena perkembangandunia pendidikan abad 21 ini yang semakin beragam dan meluas, maka diperlukan tambahan 2 rumusan pilar- pilar pendidikan yaitu : 1. Learning How To Learn 2. Learning Throughout Learn 8
  • 9.
    5. Learning HOWTO LEARN  Sekolah boleh saja selesai, tetapi belajar tidak boleh berhenti. Pepatah, “Satu masalah terjawab, seribu masalah menunggu untuk dijawab”, seakan sudah menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan yang serba modern ini.  Oleh karena itu, Learning How to Learn akan membawa peserta didik pada kemampuan untuk dapat mengembangkan strategi dan kiat belajar yang lebih independen, kreatif, inovatif, efektif, efisien, dan penuh percaya diri, karena masyarakat baru adalah learning society atau knowledge society. 9
  • 10.
     Orang-orang yangmampu menduduki posisi sosial yang tinggi dan penting adalah mereka yang mampu belajar lebih lanjut.  Learning How to Learn memerlukan model pembelajaran baru, yaitu pergeseran dari model belajar “memilih” (menghafal) menjadi model belajar “menjadi” (mencari/ meneliti). Asumsi yang digunakan dalam model belajar “memiliki” adalah “pendidik tahu”, peserta didik tidak tahu. Oleh karena itu, pendidik memberi pelajaran, peserta didik menerima. 10
  • 11.
     Yang dipentingkandalam model belajar “memiliki” ini adalah penerima pelajaran yang akan menerima sebanyak-banyaknya, menyimpan selama-lamanya, dan menggunakannya sesuai dengan aslinya serta menurut instruksi yang telah diberikan.  Sebaliknya, pada proses belajar “menjadi”, peserta didik sendiri yang mencari dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dihadapinya, sedang pendidik dituntut membimbing, memotivasi, memfasilitasi, memprovakasi, dan mempersuasi. 11
  • 12.
    6. Learning THROUGHOUTLEARN  Perubahan dan perkembangan kehidupan berjalan terus- menerus yang semakin keras dan rumit. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain kecuali harus belajar terus- menerus sepanjang hayat.  Learning Throughout Learn ini menuntun dan memberi pencerahan pada peserta didik bahwa ilmu bukanlah hasil buatan manusia, tetapi merupakan hasil temuan atau hasil pencarian manusia. Karena ilmu adalah ilmu Tuhan yang tidak terbatas dan harus dicari, maka upaya mencarinya juga tidak mengenal kata berhenti. 12
  • 13.
    Bertolak dari butir-butirtersebut, gagasan paradigma baru pendidikan Indonesia dalam abad mendatang adalah: 1. Mengubah dan mengembangkan paradigma lama menjadi paradigma baru - ciptakan pandangan baru yang sesuai dengan kebutuhan atau tantangan zaman Termasuk di sini adalah perubahan pendekatan dalam pendidikan yang sentralistik dan segregatif, serta mewujudkan pendidikan masa depan dan nasional menuju terwujudnya suatu masyarakat dunia yang damai yang dimulai di dalam masyarakat lokal yang berbudaya 13
  • 14.
    2. Perlunya perubahanmetode penyampaian materi pendidikan. Metode yang kita gunakan selama ini rasanya terlampau banyak menekankan penguasaan informasi untuk menyelesaikan masalah. Akibatnya, kita hanya mengutamakan manusia yang patuh dan kurang memikirkan terbinanya manusia kreatif 3. paradigma pendidikan agama yang eksklusif, dikotomis, dan parsial harus diubah menjadi pendidikan yang inklusif, integralistik, dan holistis. 14