ASUHAN KEPERAWATAN PADA
ANAK DENGAN PERTUSIS
DISUSUN OLEH
Mujayati (2102013214P)
Sri Sugiartiningtyas (2102013198P)
Yeni Rosiati Istim Saroh (2102013210P)
PENGERTIAN
Pertusis adalah suatu infeksi akut saluran nafas yang
mengenai setiap pejamu yang rentan, tetapi paling sering
dan serius pada anak-anak. (Behrman, 1992).
Definisi Pertusis lainnya adalah penyakit infeksi akut pada
saluran pernafasan yang sangat menular dengan ditandai
oleh suatu sindrom yang terdiri dari batuk yang bersifat
spasmodic dan paroksismal disertai nada yang meninggi.
(Rampengan, 1993).
ETIOLOGI
Pertusis disebabkan diantaranya Bordetella pertussis (Hemophilis pertusis).
Adapun ciri-ciri organisme ini antara lain :
 Berbentuk batang (coccobacilus) ■ Tidak dapat bergerak
 Bersifat gram negative Tidak berspora, mempunyai kapsul
 Mati pada suhu 55 ºC selama ½ jam, & tahan pada suhu rendah (0º- 10ºC)
 Dengan pewarnaan Toluidin blue, dapat terlihat granula bipolar
metakromatik
 Tidak sensitive terhadap tetrasiklin, ampicillin, eritomisisn, tetapi resisten
terhdap penicillin
 Menghasilkan 2 macam toksin antara lain :
 -Toksin tidak Tahan panas (Heat Labile Toxin)
 -Endotoksin (lipopolisakarida)
PATOFISIOLOGI
MANIFESTASI KLINIS
Masa inkubasi 7-14 hari, penyakit berlangsung 6-8 minggu
atau lebih dan berlangsung dalam 3 stadium yaitu :
Stadium kataralis / stadium prodomal / stadium pro
paroksimal Lamanya 1-2 minggu
Gejala permulaannya yaitu timbulnya gejala infeksi saluran
pernafasan bagian atas, yaitu timbulnya rinore dengan lender yang
jernih:
- Kemerahan konjungtiva, lakrimasi
- Batuk dan panas ringan
- Anoreksia kongesti nasalis
Batuk yang timbul mula-mula malam hari, siang hari menjadi
semakin hebat, sekret pun banyak dan menjadi kental dan lengket
Batuk yang timbul mula-mula malam hari, siang hari menjadi
semakin hebat, sekret pun banyak dan menjadi kental dan
lengket
Stadium paroksimal / stadium spasmodic (Lamanya 2-4
minggu)
Selama stadium ini batuk menjadi hebat ditandai oleh whoop
(batuk yang bunyinya nyaring) sering terdengar pada saat
penderita menarik nafas akhir serangan batuk. Batuk dengan
sering 5 – 10 kali, selama batuk anak tak dapat bernafas dan
pada akhir serangan batuk anak mulai menarik nafas denagn
cepat dan dalam. Sehingga terdengar bunyi melengking (whoop)
dan diakhiri dengan muntah
Stadium konvaresens (Terjadi pada minggu ke 4 –
6 setelah gejala awal)
- Gejala yang muncul antara lain : Batuk berkurang,
nafsu makan timbul kembali dan muntah berkurang
serta anak merasa lebih baik
- Pada beberapa penderita batuk terjadi selama
berbulan-bulan akibat gangguan pada saluran
pernafasan.
PENATALAKSANAAN
Ada 2
1. Therapi kausal
- Anti mikroba
- Salbutamol
- Kortikosteroid
2. Terapi supportif
PENCEGAHAN
Diberikan vaksin pertusis yang terdiri dari kuman bordetella pertusis yang
telah dimatikan untuk mendapatkan imunitas aktif. Vaksin ini diberikan
bersama vaksin difteri dan tetanus. Dosis yang dianjurkan 12 unit
diberikan pada umur 2 bulan.
Kontra indikasi pemberian vaksin pertusis :
 Panas lebih dari 33ºC
 Riwayat kejang
 Reaksi berlebihan setelah imunisasi DPT sebelumnya misalnya: suhu
tinggi dengan kejang, penurunan kesadaran, syok atau reaksi
anafilatik lainnya.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK
DENGAN PERTUSIS
I.Pengkajian
1.Identitas :Mengenai semua golongan umur, terbanyak
mengenai anak umur 1-5th
2.Keluhan Utama.Batuk disertai muntah.
3.Riwayat Penyakit Sekarang.
Batuk makin lama makin bertambah berat dan diikuti dengan
muntah terjadi siang dan malam. Awalnya batuk dengan lendir
jernih dan cair disertai panas ringan, lama–kelamaan batuk
bertambah hebat (bunyi nyaring) dan sering, maka tampak
benjolan, lidah menjulur dan dapat terjadi pendarahan sub
conjungtiva.
4.Riwayat Penyakit Dahulu.
Adanya gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas.
Batuk dan panas ringan, batuk mula-mula timbul pada malam
hari, kemudian siang hari dan menjadi hebat.
5.Riwayat Penyakit Keluarga.
Dalam keluarga atau lingkungan sekitarnya, biasanya
didapatkan ada yang menderita penyakit pertusis.
6.Riwayat Imunisasi
JENIS UMUR CARA JUMLA
H
BCG 0 – 2 bulan IC 1x
DPT 2, 3, 4 bulan IM 3x
Polio 1-5 bulan oral 4x
Campak 9 bulan SC 4x
Hepatitis 0, 1, 6 bulan IM 3x
7.Riwayat Antenatal, Natal Dan Postnatal
8. ADL
a.Nutrisi : Muntah, anoreksia.
Aktivitas : Pada stadium akut paroksimal terjadi lemas / Lelah
Istirahat tidur : Terganggu, akibat serangan batuk panjang dan
berulang-ulang.
Personal hygiene : Lidah menjulur keluar dan gelisah yang berakibat
keluar liur berlebihan.
Eliminasi : Sering terberak-berak, terkencing-kencing bila
sedang batuk
Pemeriksaan fisik.
Keadaan umum : Saat batuk mata melotot, lidah menjulur, batuk
dalam waktu yang lama dan berkeringat
Kesadaran : Composmetis
TTV : Nadi meningkat(120-125x/mnt), respirasi meningkat
(30-35x/mnt)
 Head to toe
 Kepala : Tidak ada bekas luka ataupun bengkak.
 Rambut : Warna rambut hitam, lurus, distribusi merata, tidak
 terdapat ketombe.
 Wajah : Simetris, bentuk bulat, tidak terdapat kelainan kulit
 Mata : Sklera berwarna putih,mata tampak menonjol
 Hidung : Lubang hidung simetris, hidung berair, terdapat
 pernafasan cuping hidung.
 Mulut : Mukosa lembab, lidah menjulur
 Telinga : Daun telinga simetris, membran timpani putih
 mengkilat, tidak ada benda asing.
 Leher : Tidak terdapat pembesaran JVP, tidak ada tanda- tanda pembesaran kaku kuduk dan pembesaran kelenjar tiroid.
 Dada
 Inspeksi : Terdapat tarikan otot bantu pernafasan dengan cepat, adanya whooping saat akhir inspirasi
 Palpasi : Tidak ada krepitasinya
 Perkusi : Paru sonor, jantung dallnes
 Auskultasi : Wheezing inspirasi
 Abdomen
 Inspeksi : Terdapat distensi abdomen
 Auskultasi : Bising usus 9 x/menit
 Palpasi : Tidak terdapat pembesaran lien dan hepar, turgor kulit bisa menurun bisa normal.
 Perkusi : Perut tidak kembung
Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium : LED dan leukosit meningkat.
Pada stadium kataralis dan permulaan stadium
plasmodik jumlah leukosit meningkat antara 15.000 -
45.000 per mm3 dengan limfositosis. Diagnosis dapat
diperkuat dengan mengisolasi kuman dari sekresi jalan
nafas yang dikeluarkan pada waktu batuk.
b. Foto thorax, CT Scan.
c. Periksa sputum.
Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi jalan napas dibuktikan
dengan batuk tidak efektif, sputum berlebih, ronkhi dan pola nafas berubah. (D.0001)
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan hambatan upaya napas dibuktikan dengan penggunaan
otot bantu pernafasan, fase ekspirasi memanjang dan pola nafas abnormal (D.0005)
3. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis dibuktikan dengan tampak
meringis, rewel,gelisah, frekuensi nadi meningkat, sulit tidur, pola nafas berubah dan nafsu
makan berubah. (D.0077)
4. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidak mampuan mencerna makanan dibuktikan dengan
berat badan menurun 10% dibawah rentang ideal. (D.0019)
5. Resiko infeksi dibuktikan dengan ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer terhadap
penurunan kerja siliaris. (D.0142)
Intervensi Keperawatan
Diagnosis Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
1. Bersihan jalan nafas
tidak efektif berhubungan
dengan hipersekresi jalan
napas dibuktikan dengan
batuk tidak efektif,
sputum berlebih, ronkhi
dan pola nafas berubah.
(D.0001)
Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama 1x 24 jam maka
bersihan jalan napas meningkat
(L.01001) dengan kriteria hasil:
 Batuk efektif meningkat(5)
 Produksi sputum menurun (5)
 Ronkhi menurun (5)
 Dispneu menurun (5)
 Frekuensi nafas membaik (5)
 Pola napas membaik (5)
Latihan batuk efektif (1.01006)
Observasi :
1. Identifikasi kemampuan batuk
2. Monitor adanya retensi sputum
3. Monitor tanda dan gejala infeksi saluran
napas
4. Monitor input dan output cairan
Terapiutik :
1. Atur posisi semi fowler atau fowler
2. Pasang perlak dan bengkok dipangkuan
pasien
3. Buang secret paada tempat sputum
Edukasi :
1. Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif
2. Anjurkan tarik napas dalam melalui hidung selama 4 detik,
ditahan selama 2 detik, kemudian keluarkan dari mulut dengan
bibir mencucu selama 8 detik
3. Anjurkan mengulangi tarik napas dalam hingga 3 kali
4. Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah Tarik napas
dalam yang ke -3
Kolaborasi :
Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspetoran jika perlu.
Pemantauan Respirasi (1.03124)
Observasi
1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas
2. Monitor pola napas
3. Monitor kemampuan batuk efektif
4. Monitor adanya produksi sputum
5. Monitor adanya sumbatan jalan napas
6. Auskultasi bunyi napas
7. Monitor saturasi oksigen
Terapiutik
1. Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi
pasien
2. Dokumentasi hasil pemantauan
Edukasi
1. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
Informasikan hasil pemantauan, jika perlu.
Intervensi Keperawatan
Diagnosis Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
2. Pola nafas tidak efektif
berhubungan hambatan
upaya napas dibuktikan
dengan penggunaan otot
bantu pernafasan, fase
ekspirasi memanjang dan
pola nafas abnormal
(D.0005)
Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama 1x8 jam maka
pola nafas membaik (L.01004) dengan
kriteria hasil:
Dispnea menurun (5)
Penggunaan otot bantu nafas
menurun (5)
Frekuensi nafas membaik (5)
Kedalaman nafas membaik (5)
Manajemen jalan nafas (1.01012)
Observasi
1. Monitor pola nafas (frekuensi, kedalaman,
usaha nafas)
2. Monitor bunyi nafas tambahan (whooping
inspirasi)
Terapeutik
3. Pertahankan kepatenan jalan nafas
4. Berikan minum hangat
5. Berikan oksigen bila perlu
6. Posisikan semi fowler
Edukasi
7.Anjurkan masukan cairan yang cukup
8.Anjurkan memonitoring nyeri secara mandiri
9.Ajarkan teknik nonfarmakologis untk
mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
Kolaborasi dalam pemberian anti mikroba,
salbutamol, kodein dan kortikosteroid
Intervensi Keperawatan
Diagnosis Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
3. Nyeri akut berhubungan
dengan agen pencedera
fisiologis dibuktikan dengan
tampak meringis,
rewel,gelisah, frekuensi
nadi meningkat, sulit tidur,
pola nafas berubah dan
nafsu makan berubah.
(D.0077)
Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama 1 x 24 jam
maka tingkat nyeri (L.08066)
menurun dengan kriteria hasil:
1. Tingkat nyeri (L.08066)
a. Keluhan nyeri menurun (5)
b. Meringis menurun (5)
c. Gelisah menurun (5)
d. Muntah menurun (5)
e. Frekuensi nadi membaik (5)
f. Pola napas membaik (5)
g. Tekanan darah membaik (5)
h. Nafsu makan membaik (5)
i. Pola tidur membaik (5)
Manajemen nyeri (1.08238)
Observasi
1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
2. Identifikasi skala nyeri
3. Identifikasi respon nyeri non verbal
4. Indentifikasi faktor yang memperberat dan
memperingan nyeri
2. Kontrol nyeri
(L.08063)
Melaporkan nyeri
terkontrol (5)
Kemampuan
mengenali penyebab
nyeri meningkat (5)
Dukungan orang
terdekat meningkat (5)
Keluhan nyeri
menurun (5)
Edukasi
7. Anjurkan masukan cairan yang cukup
8. Anjurkan memonitoring nyeri secara mandiri
9. Ajarkan teknik nonfarmakologis untk mengurangi rasa
nyeri
Kolaborasi
Kolaborasi dalam pemberian anti mikroba, salbutamol,
kodein dan kortikosteroid
2. Kontrol nyeri (L.08063)
a. Melaporkan nyeri terkontrol (5)
b. Kemampuan mengenali
penyebab nyeri meningkat (5)
c. Dukungan orang terdekat
meningkat (5)
Keluhan nyeri menurun (5)
Terapeutik
5. Berikan teknik nonfarmakologis untk
mengurangi rasa nyeri (mis. Terapi msuik, terapi
pijat, aromaterapi, kompres hangat/dingin)
6. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa
nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan)
7. Fasilitasi istirahat tidur
Edukasi
8. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri
9. Anjurkan memonitoring nyeri secara mandiri
10. Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
2. Kontrol nyeri (L.08063)
a. Melaporkan nyeri terkontrol (5)
b. Kemampuan mengenali
penyebab nyeri meningkat (5)
c. Dukungan orang terdekat
meningkat (5)
Keluhan nyeri menurun (5)
Edukasi
8. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri
9. Anjurkan memonitoring nyeri secara mandiri
10. Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
11. Kolaborasi dalam pemberian analgetik
Pemberian analgesik (I. 08243)
Observasi
1. Identfikasi karakteristik nyeri
2. Identifikasi riwayat nyeri
3. Moitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
2. Kontrol nyeri
(L.08063)
Melaporkan nyeri
terkontrol (5)
Kemampuan
mengenali penyebab
nyeri meningkat (5)
Dukungan orang
terdekat meningkat (5)
Keluhan nyeri
menurun (5)
Terapeutik
1. Diskusikan jenis analgesic untuk mencapai analgesic
yang optimal, jika diperlukan
2. Tetapkan target efektifitas analgesk untuk
mengoptimalkan respons pasien
3. Dokumentasikan respons pasien terhadap efek
analgesic dan efek yang tidak diinginkan
Edukasi :
Jelaskan efek terapi dan efek samping obat
Kolaborasi :
Pemberian dosis dan jenis analgesic
Intervensi Keperawatan
Diagnosis Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
4. Defisit nutrisi
berhubungan dengan
ketidak mampuan
mencerna makanan
dibuktikan dengan berat
badan menurun 10%
dibawah rentang ideal.
(D.0019)
Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama 1 x 24 jam
maka status nutrisi (L.03030)
membaik dengan kriteria hasil:
Porsi makan yang dihabiskan
meningkat (5)
Berat badan membaik (5)
IMT membaik (5)
Frekuensi makan membaik (5)
Nafsu makan membaik (5)
Manajemen nutrisi (1.03119)
Observasi
1. Identifikasi status nutrisi
2. Identifikasi alergi dan intoleransi
makanan
3. Identifikasi makanan disukai
4. Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis
nutrien
5. Monitor asupan makan
6. Monitor BB
7. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
Terapiutik
1. Sajikan makanan secara menarik dan
sushu yang sesuai
2. Berikan makanan tinggoi serat, kalori
dan protein
3. Berikan suplemen makanan
Edukasi
1. Anjurkan posisi duduk
2. Ajarkan diet yang diprogramkan
Kolaborasi
1. Kolaborasi dengan gizi untuk menentukan jumlah kalori
dan jenis nutrien yang dibutuhkan
2. Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan
Promosi berat badan (1.03136)
Observasi
1. Identifikasi kemungkinan penyebab BB kurang
2. Monitor adanya mual muntah
3. Monitor Jumlah kalori yang dikonsumsi sehari-hari
4. Monitor BB
Terapiutik
1. Sediakan makanan yang tepat sesuai kondisi pasien
2. Hidangkan makanan secara menarik
3. Berikan suplemen bila perlu
4. Berikan pujian untuk peningkatan yang dicapai
Edukasi
1. Jelaskan makanan yang bergizi tinggi, namun tetap
terjangkau
2. Jelaskan peningkatan asupan yang dibutuhkan
Intervensi Keperawatan
Diagnosis Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
5. Resiko infeksi
dibuktikan dengan ketidak
adekuatan pertahanan
tubuh primer terhadap
penurunan kerja siliaris.
(D.0142)
Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama 1 x 24 jam
maka tingkat infeksi (L.14137)
menurun dengan kriteria hasil:
Kebersihan tangan
meningkat (5)
Kebersihan badan
meningkat (5)
Nafsu makan meningkat (5)
Demam menurun (5)
Kadar sel darah putih
membaik (5)
Manajemen Imunisasi/Vaksinasi (1.14508)
Observasi
1. Identifikasi riwayat kesehatan dan alergi
2. Identifikasi kontraindikasi pemberian
imunisasi
3. Identifikasi status imunisasi setiap
kunjungan kepelayanan kesehatan
Terapiutik
1. Berikan suntikan pada bayi dibagian paha
anterolateral
2. Dokumentasikan informasi vaksinasi (nama
produsen, tanggal kadaluarsa)
3. Jadwalkan imunisasi pada interval waktu
yang tepat
Edukasi
1. Jelaskan tujuan, manfaat, reaksi yang terjadi, jadwal dan
efek samping
2. Informasikan imunisasi yang diwajibkan pemerintah
3. Informasikan penundaan pemberian imunisasi tidak
berarti mengulang jadwal imunisasi kembali
4. Informasikan penyedia layanan Pekan Imunisasi
Nasional yang menyediakan vaksin gratis
Pencegahan Infeksi (1.14539)
Observasi
1. Monitor tanda dan gejala infeksi local dan sistemik
Terapiutik
1. Batasi Jumlah pengunjung
2. Cuci tangan sebelumdan sesudah kontal dengan pasien
dan lingkungan pasien
3. Pertahankan teknik aseptik pada pasien beresiko tinggi
Edukasi
1. Jelaskan tanda dan gejala infeksi
2. Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar
3. Ajarkan etika batuk
4. Ajarkan cara meningkatkan asupan nutrisi
5. Ajarkan cara meningkatkan asupan cairan
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu
j
Terima Kasih

pertusis.pptx

  • 1.
    ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAKDENGAN PERTUSIS DISUSUN OLEH Mujayati (2102013214P) Sri Sugiartiningtyas (2102013198P) Yeni Rosiati Istim Saroh (2102013210P)
  • 2.
    PENGERTIAN Pertusis adalah suatuinfeksi akut saluran nafas yang mengenai setiap pejamu yang rentan, tetapi paling sering dan serius pada anak-anak. (Behrman, 1992). Definisi Pertusis lainnya adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan yang sangat menular dengan ditandai oleh suatu sindrom yang terdiri dari batuk yang bersifat spasmodic dan paroksismal disertai nada yang meninggi. (Rampengan, 1993).
  • 3.
    ETIOLOGI Pertusis disebabkan diantaranyaBordetella pertussis (Hemophilis pertusis). Adapun ciri-ciri organisme ini antara lain :  Berbentuk batang (coccobacilus) ■ Tidak dapat bergerak  Bersifat gram negative Tidak berspora, mempunyai kapsul  Mati pada suhu 55 ºC selama ½ jam, & tahan pada suhu rendah (0º- 10ºC)  Dengan pewarnaan Toluidin blue, dapat terlihat granula bipolar metakromatik  Tidak sensitive terhadap tetrasiklin, ampicillin, eritomisisn, tetapi resisten terhdap penicillin  Menghasilkan 2 macam toksin antara lain :  -Toksin tidak Tahan panas (Heat Labile Toxin)  -Endotoksin (lipopolisakarida)
  • 4.
  • 5.
    MANIFESTASI KLINIS Masa inkubasi7-14 hari, penyakit berlangsung 6-8 minggu atau lebih dan berlangsung dalam 3 stadium yaitu : Stadium kataralis / stadium prodomal / stadium pro paroksimal Lamanya 1-2 minggu Gejala permulaannya yaitu timbulnya gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas, yaitu timbulnya rinore dengan lender yang jernih: - Kemerahan konjungtiva, lakrimasi - Batuk dan panas ringan - Anoreksia kongesti nasalis Batuk yang timbul mula-mula malam hari, siang hari menjadi semakin hebat, sekret pun banyak dan menjadi kental dan lengket
  • 6.
    Batuk yang timbulmula-mula malam hari, siang hari menjadi semakin hebat, sekret pun banyak dan menjadi kental dan lengket Stadium paroksimal / stadium spasmodic (Lamanya 2-4 minggu) Selama stadium ini batuk menjadi hebat ditandai oleh whoop (batuk yang bunyinya nyaring) sering terdengar pada saat penderita menarik nafas akhir serangan batuk. Batuk dengan sering 5 – 10 kali, selama batuk anak tak dapat bernafas dan pada akhir serangan batuk anak mulai menarik nafas denagn cepat dan dalam. Sehingga terdengar bunyi melengking (whoop) dan diakhiri dengan muntah
  • 7.
    Stadium konvaresens (Terjadipada minggu ke 4 – 6 setelah gejala awal) - Gejala yang muncul antara lain : Batuk berkurang, nafsu makan timbul kembali dan muntah berkurang serta anak merasa lebih baik - Pada beberapa penderita batuk terjadi selama berbulan-bulan akibat gangguan pada saluran pernafasan.
  • 8.
    PENATALAKSANAAN Ada 2 1. Therapikausal - Anti mikroba - Salbutamol - Kortikosteroid 2. Terapi supportif
  • 9.
    PENCEGAHAN Diberikan vaksin pertusisyang terdiri dari kuman bordetella pertusis yang telah dimatikan untuk mendapatkan imunitas aktif. Vaksin ini diberikan bersama vaksin difteri dan tetanus. Dosis yang dianjurkan 12 unit diberikan pada umur 2 bulan. Kontra indikasi pemberian vaksin pertusis :  Panas lebih dari 33ºC  Riwayat kejang  Reaksi berlebihan setelah imunisasi DPT sebelumnya misalnya: suhu tinggi dengan kejang, penurunan kesadaran, syok atau reaksi anafilatik lainnya.
  • 10.
    ASUHAN KEPERAWATAN PADAANAK DENGAN PERTUSIS I.Pengkajian 1.Identitas :Mengenai semua golongan umur, terbanyak mengenai anak umur 1-5th 2.Keluhan Utama.Batuk disertai muntah. 3.Riwayat Penyakit Sekarang. Batuk makin lama makin bertambah berat dan diikuti dengan muntah terjadi siang dan malam. Awalnya batuk dengan lendir jernih dan cair disertai panas ringan, lama–kelamaan batuk bertambah hebat (bunyi nyaring) dan sering, maka tampak benjolan, lidah menjulur dan dapat terjadi pendarahan sub conjungtiva.
  • 11.
    4.Riwayat Penyakit Dahulu. Adanyagejala infeksi saluran pernafasan bagian atas. Batuk dan panas ringan, batuk mula-mula timbul pada malam hari, kemudian siang hari dan menjadi hebat. 5.Riwayat Penyakit Keluarga. Dalam keluarga atau lingkungan sekitarnya, biasanya didapatkan ada yang menderita penyakit pertusis. 6.Riwayat Imunisasi JENIS UMUR CARA JUMLA H BCG 0 – 2 bulan IC 1x DPT 2, 3, 4 bulan IM 3x Polio 1-5 bulan oral 4x Campak 9 bulan SC 4x Hepatitis 0, 1, 6 bulan IM 3x
  • 12.
    7.Riwayat Antenatal, NatalDan Postnatal 8. ADL a.Nutrisi : Muntah, anoreksia. Aktivitas : Pada stadium akut paroksimal terjadi lemas / Lelah Istirahat tidur : Terganggu, akibat serangan batuk panjang dan berulang-ulang. Personal hygiene : Lidah menjulur keluar dan gelisah yang berakibat keluar liur berlebihan. Eliminasi : Sering terberak-berak, terkencing-kencing bila sedang batuk Pemeriksaan fisik. Keadaan umum : Saat batuk mata melotot, lidah menjulur, batuk dalam waktu yang lama dan berkeringat Kesadaran : Composmetis TTV : Nadi meningkat(120-125x/mnt), respirasi meningkat (30-35x/mnt)
  • 13.
     Head totoe  Kepala : Tidak ada bekas luka ataupun bengkak.  Rambut : Warna rambut hitam, lurus, distribusi merata, tidak  terdapat ketombe.  Wajah : Simetris, bentuk bulat, tidak terdapat kelainan kulit  Mata : Sklera berwarna putih,mata tampak menonjol  Hidung : Lubang hidung simetris, hidung berair, terdapat  pernafasan cuping hidung.  Mulut : Mukosa lembab, lidah menjulur  Telinga : Daun telinga simetris, membran timpani putih  mengkilat, tidak ada benda asing.  Leher : Tidak terdapat pembesaran JVP, tidak ada tanda- tanda pembesaran kaku kuduk dan pembesaran kelenjar tiroid.  Dada  Inspeksi : Terdapat tarikan otot bantu pernafasan dengan cepat, adanya whooping saat akhir inspirasi  Palpasi : Tidak ada krepitasinya  Perkusi : Paru sonor, jantung dallnes  Auskultasi : Wheezing inspirasi  Abdomen  Inspeksi : Terdapat distensi abdomen  Auskultasi : Bising usus 9 x/menit  Palpasi : Tidak terdapat pembesaran lien dan hepar, turgor kulit bisa menurun bisa normal.  Perkusi : Perut tidak kembung
  • 14.
    Pemeriksaan penunjang a. Laboratorium: LED dan leukosit meningkat. Pada stadium kataralis dan permulaan stadium plasmodik jumlah leukosit meningkat antara 15.000 - 45.000 per mm3 dengan limfositosis. Diagnosis dapat diperkuat dengan mengisolasi kuman dari sekresi jalan nafas yang dikeluarkan pada waktu batuk. b. Foto thorax, CT Scan. c. Periksa sputum.
  • 15.
    Diagnosa Keperawatan 1. Bersihanjalan nafas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi jalan napas dibuktikan dengan batuk tidak efektif, sputum berlebih, ronkhi dan pola nafas berubah. (D.0001) 2. Pola nafas tidak efektif berhubungan hambatan upaya napas dibuktikan dengan penggunaan otot bantu pernafasan, fase ekspirasi memanjang dan pola nafas abnormal (D.0005) 3. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis dibuktikan dengan tampak meringis, rewel,gelisah, frekuensi nadi meningkat, sulit tidur, pola nafas berubah dan nafsu makan berubah. (D.0077) 4. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidak mampuan mencerna makanan dibuktikan dengan berat badan menurun 10% dibawah rentang ideal. (D.0019) 5. Resiko infeksi dibuktikan dengan ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer terhadap penurunan kerja siliaris. (D.0142)
  • 16.
    Intervensi Keperawatan Diagnosis Tujuandan kriteria hasil Intervensi 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi jalan napas dibuktikan dengan batuk tidak efektif, sputum berlebih, ronkhi dan pola nafas berubah. (D.0001) Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x 24 jam maka bersihan jalan napas meningkat (L.01001) dengan kriteria hasil:  Batuk efektif meningkat(5)  Produksi sputum menurun (5)  Ronkhi menurun (5)  Dispneu menurun (5)  Frekuensi nafas membaik (5)  Pola napas membaik (5) Latihan batuk efektif (1.01006) Observasi : 1. Identifikasi kemampuan batuk 2. Monitor adanya retensi sputum 3. Monitor tanda dan gejala infeksi saluran napas 4. Monitor input dan output cairan Terapiutik : 1. Atur posisi semi fowler atau fowler 2. Pasang perlak dan bengkok dipangkuan pasien 3. Buang secret paada tempat sputum
  • 17.
    Edukasi : 1. Jelaskantujuan dan prosedur batuk efektif 2. Anjurkan tarik napas dalam melalui hidung selama 4 detik, ditahan selama 2 detik, kemudian keluarkan dari mulut dengan bibir mencucu selama 8 detik 3. Anjurkan mengulangi tarik napas dalam hingga 3 kali 4. Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah Tarik napas dalam yang ke -3 Kolaborasi : Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspetoran jika perlu.
  • 18.
    Pemantauan Respirasi (1.03124) Observasi 1.Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas 2. Monitor pola napas 3. Monitor kemampuan batuk efektif 4. Monitor adanya produksi sputum 5. Monitor adanya sumbatan jalan napas 6. Auskultasi bunyi napas 7. Monitor saturasi oksigen
  • 19.
    Terapiutik 1. Atur intervalpemantauan respirasi sesuai kondisi pasien 2. Dokumentasi hasil pemantauan Edukasi 1. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan Informasikan hasil pemantauan, jika perlu.
  • 20.
    Intervensi Keperawatan Diagnosis Tujuandan kriteria hasil Intervensi 2. Pola nafas tidak efektif berhubungan hambatan upaya napas dibuktikan dengan penggunaan otot bantu pernafasan, fase ekspirasi memanjang dan pola nafas abnormal (D.0005) Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x8 jam maka pola nafas membaik (L.01004) dengan kriteria hasil: Dispnea menurun (5) Penggunaan otot bantu nafas menurun (5) Frekuensi nafas membaik (5) Kedalaman nafas membaik (5) Manajemen jalan nafas (1.01012) Observasi 1. Monitor pola nafas (frekuensi, kedalaman, usaha nafas) 2. Monitor bunyi nafas tambahan (whooping inspirasi) Terapeutik 3. Pertahankan kepatenan jalan nafas 4. Berikan minum hangat 5. Berikan oksigen bila perlu 6. Posisikan semi fowler
  • 21.
    Edukasi 7.Anjurkan masukan cairanyang cukup 8.Anjurkan memonitoring nyeri secara mandiri 9.Ajarkan teknik nonfarmakologis untk mengurangi rasa nyeri Kolaborasi Kolaborasi dalam pemberian anti mikroba, salbutamol, kodein dan kortikosteroid
  • 22.
    Intervensi Keperawatan Diagnosis Tujuandan kriteria hasil Intervensi 3. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis dibuktikan dengan tampak meringis, rewel,gelisah, frekuensi nadi meningkat, sulit tidur, pola nafas berubah dan nafsu makan berubah. (D.0077) Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam maka tingkat nyeri (L.08066) menurun dengan kriteria hasil: 1. Tingkat nyeri (L.08066) a. Keluhan nyeri menurun (5) b. Meringis menurun (5) c. Gelisah menurun (5) d. Muntah menurun (5) e. Frekuensi nadi membaik (5) f. Pola napas membaik (5) g. Tekanan darah membaik (5) h. Nafsu makan membaik (5) i. Pola tidur membaik (5) Manajemen nyeri (1.08238) Observasi 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri 2. Identifikasi skala nyeri 3. Identifikasi respon nyeri non verbal 4. Indentifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
  • 23.
    2. Kontrol nyeri (L.08063) Melaporkannyeri terkontrol (5) Kemampuan mengenali penyebab nyeri meningkat (5) Dukungan orang terdekat meningkat (5) Keluhan nyeri menurun (5) Edukasi 7. Anjurkan masukan cairan yang cukup 8. Anjurkan memonitoring nyeri secara mandiri 9. Ajarkan teknik nonfarmakologis untk mengurangi rasa nyeri Kolaborasi Kolaborasi dalam pemberian anti mikroba, salbutamol, kodein dan kortikosteroid
  • 24.
    2. Kontrol nyeri(L.08063) a. Melaporkan nyeri terkontrol (5) b. Kemampuan mengenali penyebab nyeri meningkat (5) c. Dukungan orang terdekat meningkat (5) Keluhan nyeri menurun (5) Terapeutik 5. Berikan teknik nonfarmakologis untk mengurangi rasa nyeri (mis. Terapi msuik, terapi pijat, aromaterapi, kompres hangat/dingin) 6. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan) 7. Fasilitasi istirahat tidur Edukasi 8. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri 9. Anjurkan memonitoring nyeri secara mandiri 10. Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
  • 25.
    2. Kontrol nyeri(L.08063) a. Melaporkan nyeri terkontrol (5) b. Kemampuan mengenali penyebab nyeri meningkat (5) c. Dukungan orang terdekat meningkat (5) Keluhan nyeri menurun (5) Edukasi 8. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri 9. Anjurkan memonitoring nyeri secara mandiri 10. Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri Kolaborasi 11. Kolaborasi dalam pemberian analgetik Pemberian analgesik (I. 08243) Observasi 1. Identfikasi karakteristik nyeri 2. Identifikasi riwayat nyeri 3. Moitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgesik
  • 26.
    2. Kontrol nyeri (L.08063) Melaporkannyeri terkontrol (5) Kemampuan mengenali penyebab nyeri meningkat (5) Dukungan orang terdekat meningkat (5) Keluhan nyeri menurun (5) Terapeutik 1. Diskusikan jenis analgesic untuk mencapai analgesic yang optimal, jika diperlukan 2. Tetapkan target efektifitas analgesk untuk mengoptimalkan respons pasien 3. Dokumentasikan respons pasien terhadap efek analgesic dan efek yang tidak diinginkan Edukasi : Jelaskan efek terapi dan efek samping obat Kolaborasi : Pemberian dosis dan jenis analgesic
  • 27.
    Intervensi Keperawatan Diagnosis Tujuandan kriteria hasil Intervensi 4. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidak mampuan mencerna makanan dibuktikan dengan berat badan menurun 10% dibawah rentang ideal. (D.0019) Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam maka status nutrisi (L.03030) membaik dengan kriteria hasil: Porsi makan yang dihabiskan meningkat (5) Berat badan membaik (5) IMT membaik (5) Frekuensi makan membaik (5) Nafsu makan membaik (5) Manajemen nutrisi (1.03119) Observasi 1. Identifikasi status nutrisi 2. Identifikasi alergi dan intoleransi makanan 3. Identifikasi makanan disukai 4. Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien 5. Monitor asupan makan 6. Monitor BB 7. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium Terapiutik 1. Sajikan makanan secara menarik dan sushu yang sesuai 2. Berikan makanan tinggoi serat, kalori dan protein 3. Berikan suplemen makanan
  • 28.
    Edukasi 1. Anjurkan posisiduduk 2. Ajarkan diet yang diprogramkan Kolaborasi 1. Kolaborasi dengan gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan 2. Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan Promosi berat badan (1.03136) Observasi 1. Identifikasi kemungkinan penyebab BB kurang 2. Monitor adanya mual muntah 3. Monitor Jumlah kalori yang dikonsumsi sehari-hari 4. Monitor BB
  • 29.
    Terapiutik 1. Sediakan makananyang tepat sesuai kondisi pasien 2. Hidangkan makanan secara menarik 3. Berikan suplemen bila perlu 4. Berikan pujian untuk peningkatan yang dicapai Edukasi 1. Jelaskan makanan yang bergizi tinggi, namun tetap terjangkau 2. Jelaskan peningkatan asupan yang dibutuhkan
  • 30.
    Intervensi Keperawatan Diagnosis Tujuandan kriteria hasil Intervensi 5. Resiko infeksi dibuktikan dengan ketidak adekuatan pertahanan tubuh primer terhadap penurunan kerja siliaris. (D.0142) Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam maka tingkat infeksi (L.14137) menurun dengan kriteria hasil: Kebersihan tangan meningkat (5) Kebersihan badan meningkat (5) Nafsu makan meningkat (5) Demam menurun (5) Kadar sel darah putih membaik (5) Manajemen Imunisasi/Vaksinasi (1.14508) Observasi 1. Identifikasi riwayat kesehatan dan alergi 2. Identifikasi kontraindikasi pemberian imunisasi 3. Identifikasi status imunisasi setiap kunjungan kepelayanan kesehatan Terapiutik 1. Berikan suntikan pada bayi dibagian paha anterolateral 2. Dokumentasikan informasi vaksinasi (nama produsen, tanggal kadaluarsa) 3. Jadwalkan imunisasi pada interval waktu yang tepat
  • 31.
    Edukasi 1. Jelaskan tujuan,manfaat, reaksi yang terjadi, jadwal dan efek samping 2. Informasikan imunisasi yang diwajibkan pemerintah 3. Informasikan penundaan pemberian imunisasi tidak berarti mengulang jadwal imunisasi kembali 4. Informasikan penyedia layanan Pekan Imunisasi Nasional yang menyediakan vaksin gratis Pencegahan Infeksi (1.14539) Observasi 1. Monitor tanda dan gejala infeksi local dan sistemik Terapiutik 1. Batasi Jumlah pengunjung 2. Cuci tangan sebelumdan sesudah kontal dengan pasien dan lingkungan pasien 3. Pertahankan teknik aseptik pada pasien beresiko tinggi
  • 32.
    Edukasi 1. Jelaskan tandadan gejala infeksi 2. Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar 3. Ajarkan etika batuk 4. Ajarkan cara meningkatkan asupan nutrisi 5. Ajarkan cara meningkatkan asupan cairan Kolaborasi 1. Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu
  • 33.