ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN
GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER
Paten Ductus Arteriosus (PDA)
Dosen Pembimbing : Ida Ariani, M.Kep., Sp.Kep.An.
Disusun Oleh :
Kelompok 2
1. Nurul Khasanah
2. Siti Karina Hardiyanti
3. Novieka Dwi Mahesa
4. Lutfi Tri K
5. Anah Nur Aliyah
6. Tuminah
7. Mey Ferdita S.P.
8. Khasbulloh
9. Joni Koeswara
10. Rachmawati Nur K.
11. Nilam Marwati
12. Retno Dwi Jayanti
S1 KEPERAWATAN
STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP
TAHUN AKADEMIK 2015/2016
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat
yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyusun makalah dengan judul
“Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler Paten Ductus
Arteriosus (PDA)” dengan sebaik-baiknya.
Penyusunan makalah ini atas dasar tugas Askep Kardiovaskuler untuk melengkapi
materi berikutnya. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada narasumber yang telah
membantu penulis dalam penyusunan makalah ini. Mohon maaf penulis sampaikan apabila
terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah ini, karena kami masih dalam taraf belajar.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat sebagai referensi untuk menambah wawasan
kepada pembaca. Penulis sadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan, maka dari itu penulis mengharapkan saran dan kritik guna perbaikan di masa
yang akan datang. Terima kasih.
Cilacap, 30 November 2015
Penulis
3
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...............................................................................................................2
DAFTAR ISI..............................................................................................................................3
PENDAHULUAN .....................................................................................................................4
Latar Belakang .......................................................................................................................4
Rumusan Masalah..................................................................................................................4
Tujuan.....................................................................................................................................5
PEMBAHASAN ........................................................................................................................6
Paten Ductus Arteriosus (PDA) .............................................................................................6
Pengertian ...........................................................................................................................6
Etiologi ...............................................................................................................................7
Manifestasi Klinis...............................................................................................................7
Patofisiologi........................................................................................................................8
Pathway.............................................................................................................................12
Pemeriksaan Diagnostik ...................................................................................................12
Penatalaksanaan................................................................................................................14
Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Gangguan Paten Ductus Arteriosus ..............14
PENUTUP................................................................................................................................19
Kesimpulan...........................................................................................................................19
Saran.....................................................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................................20
4
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Paten Ductus Arteriosus (PDA) adalah kegagalan menutupnya ductus
arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu
pertama kehidupan, yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan
tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah.
Penyakit jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan pada bayi dan
anak. Apabila tidak di operasi, kebanyakan akan meninggal waktu bayi. Apabila
penyakit jantung bawaan ditemukan pada orang dewasa, hal ini menunjukkan bahwa
pasien tersebut mampu melalui seleksi alam, atau telah mengalami tindakan operasi
dini pada usia muda. Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat
diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh
pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan.
Adapun gejala paten ductus arteriosus pada bayi Kadang-kadang terdapat
tanda-tanda gagal jantung, Machinery mur-mur persisten (sistolik, kemudian menetap,
paling nyata terdengar di tepi sternum kiri atas.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi Paten Ductus Arteriosus pada bayi?
2. Apa penyebab Paten Ductus Arteriosus?
3. Bagaimana manifestasi klinik pada Paten Ductus Arteriosus?
4. Bagaimana pathways pada Paten Ductus Arteriosus?
5. Bagaimana pemeriksaaan penunjang dan penatalaksanaan pada Paten Ductus
Arteriosus?
6. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada kasus Paten Ductus Arteriosus?
5
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari Paten Ductus Arteriosus (PDA) pada bayi
2. Untuk mengetahui penyebab dari Paten Ductus Arteriosus (PDA)
3. Untuk mengetahui manifestasi klinik dari Paten Ductus Arteriosus (PDA)
4. Untuk mengetahui pathways dari Ductus Paten Arteriosus (PDA)
5. Untuk mengetahui pemeriksaaan penunjang dan penatalaksanaan pada Paten
Ductus Arteriosus
6. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan pada kasus Paten Ductus Arteriosus
6
BAB II
PEMBAHASAN
A. Paten Ductus Arteriosus (PDA)
1. Pengertian
Patent Duktus Arteriosus (PDA) adalah tetap terbukanya duktus arteriosus
setelah lahir, yang menyebabkan dialirkannya darah secara langsung dari aorta
(tekanan lebih tinggi) ke dalam arteri pulmoner (tekanan lebih rendah). (Betz &
Sowden, 2002 ; 375)
Duktus Arteriosus adalah saluran yang berasal dari arkus aorta ke VI pada
janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendens. Pada bayi
normal duktus tersebut menutup secara fungsional 10 – 15 jam setelah lahir dan
secara anatomis menjadi ligamentum arteriosum pada usia 2 – 3 minggu. Bila
tidak menutup disebut Duktus Arteriosus Persisten (Persistent Ductus Arteriosus :
PDA). (Buku ajar Kardiologi FKUI, 2001 ; 227)
Paten duktus arteriosus adalah kegagalan penutupan duktus arteriosus
(pembuluh arteri yang menghubungkan aorta dengan arteri pulmonalis) pada bayi
berusia beberapa minggu pertama. (Wong, 2009).
7
2. Etiologi
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui
secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada
peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan :
a. Faktor prenatal diantaranya :
1) Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella.
2) Ibu alkoholisme.
3) Umur ibu lebih dari 40 tahun.
4) Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin.
5) Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu
b. Faktor geneti diantaranya :
1) Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.
2) Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.
3) Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.
4) Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.
3. Manifestasi Klinis
a. Gawat nafas disertai tanda-tanda gagal jantung pada bayi khususnya yang lahir
premature. Gangguan pernafasan ini di sebabkan oleh pemintasan aliran darah
dalam jumlah sangat besar ke dalam paru-paru melalui duktus arteriosus yang
terbuka (paten) dan peningkatan beban kerja pada jantung sebelah kiri.
b. Bising Gipson (mac hineri mur-mur yang klasik), bising yang terus menerus
terdengar disepanjang systole dan diastole pada anak yang lebih besar dan
dewasa akibat pemintasan aliran darah dari aorta ke dalam arteri pulmonaris
pada saat systole dan diastole. (bising ini terdengar paling jelas pada daerah
basis kordis, yaitu pada ruang slaiga kedua kiri di bawah klafikula kiri. Bising
tersebut dapat mengaburkan bunyi S2 namun bising ini pada shunt kanan ke
kiri mungkin tidak ada).
c. Vibrasi (thrill) yang teraba saat meragukan palpasi pada tepi kiri sternum;
gejala ini disebabkan oleh pemintasan aliran darah dari aorta pulmonaris.
d. Implus ventrikel kiri yang nyata akibat hipertrofi ventrikel kiri denyut nadi
perifer yang memantul (nadi corigan) akibat keadaan aliran yang tinggi.
8
e. Tekanan nadi yang melebar akibat kenaikan tekanan sistolik dan terutama
akibat penurunan tekanan diastolik pada saat darah memintas melalui PDA
dan dengan demikian mengurangi tahapan tepi.
f. Motorik yang lambat akibat gagal jantung.
g. Kegagalan tumbuh kembang akibat gagal jantung.
h. Keletihan dan dispenea pada saat melakukan kegiatan yang dapat terjadi pada
dewasa yang mengalami PDA yang tidak terditeksi
4. Patofisiologi
Normalnya, duktus arteriosus menutup pada saat kadar postragladin yang
dihasilkan plasenta menurun dan kadar oksigen meningkat. Proses penutupan ini
harus segera di mulai ketika bayi menarik nafas yang pertama tetapi bias saja
memerlukan waktu 3 bulan pada beberapa anak.
Pada PDA, resistensi relative pada pembuluh darah pulmoner serta sistemik
dan ukuran duktus menentukan jumlah darah mengalami pemintasan aliran atau
shunt dari kanan ke kiri karena peningkatan dalam aorta, darah bersih akan
mengalami shun dari aorta melalui duktus arteriosus ke dalam arteri pulmonaris.
Darah akan kembali ke dalam jantung kiri dan dipompa sekali lagi ke dalam aorta.
Atrium kiri dan ventrikel kiri harus menampung aliran balik vena aliran
pulmonaris sehingga terjadi kenaikan tekanan pengisian dan beban kerja jantung
kiri. Keadaan akan mengadakan hipertrofi ventrikel kiri dan mungkin pula gagal
jantung. Pada stadium akhir PDA yang tidak dikoreksi shun kiri ke kanan yang
akan menimbulkan hipertensi arteri pulmonaris yang kronis dan kemudian
menjadi resisten serta tidak responsive terhadap terapi. Hal ini menyebabkan
pembalikan shunt sehingga darah kotor ini memasuki sirkulasi sistemik dan
menimbulkan sianosis.
a. Mekanisme Sirkulasi Darah Janin
Dalam sistem peredaran darah janin tidak hanya melibatkan pembuluh darah
saja tetapi juga melibatkan organ tubuh janin di antaranya sebagai berikut :
1) Plasenta
Tempat terjadinya pertukaran darah bersih dengan yang kotor.
2) Umbilikalis
Mengalirkan darah dari plasenta ke janin dan dari janin ke plasenta.
9
3) Hati
Terdapatnya percabangan antara vena porta dengan duktus venosus
arantii.
4) Jantung
Terdapatnya foramen ovale yang langsung menyalurkan darah dari atrium
dekstra ke atrium sinistra.
5) Paru-paru
Terdapatnya duktus arteriosus bothalli.
Mekanisme sirkulasi darah janin
Peredaran darah janin digambarkan langsung sebagai berikut :
Mula-mula darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi yang berasal dari
plasenta masuk ke janin melalui vena umbilikus yang bercabang dua
setelah memasuki dinding perut yaitu :
a) Cabang yang kecil bersatu dengan vena aorta, darahnya beredar dalam
hati dan kemudian diangkut melalui vena hepatika ke vena cava
inferior.
b) Cabang satunya lagi duktus venosus arantii yang langsung masuk ke
dalam vena cava inferior. Darah dari vena cava inferior masuk ke
atrium kanan dan sebagian besar darah dari atrium kanan akan
dialirkan ke atrium kiri melalui foramen ovale. Sebagian kecil darah
dari atrium kanan masuk ke ventrikel kanan bersama-sama dengan
darah yang berasal dari vena cava superior
10
c) Darah dari ventrikel kanan ini dipompakan ke paru-paru melalui arteri
pulmonalis, karena adanya tahanan dari paru-paru yang belum
mengembang maka darah yang terdapat pada arteri pulmonalis
sebagian akan dialirkan ke aorta melalui duktus arteriosus bothalli dan
sebagian kecil akan menuju paru-paru dan selanjutnya ke atrium
sinistra melaui vena pulmonalis.
Sementara itu darah yang terdapat pada atrium kiri kemudian
dialirkan ke ventrikel kiri dan diteruskan ke seluruh tubuh melaui
aorta guna memberikan oksigen dan nutrisi bagi tubuh bawah. Cabang
aorta bagian bawah ini menjadi 2 (dua) arteri hipograstika interna
yang mempunyai cabang arteri umbilikalis. Darah yang miskin nutrisi
dan banyak karbondioksida serta sisa metabolisme akan dikembalikan
ke plasenta melalui arteri umbilikalis ke plasenta melalui arteri
umbilikalis untuk diteruskan ke ibu.
b. Mekanisme Sirkulasi Darah Pada Bayi Baru Lahir
Setelah janin dilahirkan, bayi menghisap udara dan menangis kuat, hal
ini akan paru-parunya berkembang, tekanan dalam paru-paru mengecil dan
darah akan terisap ke dalam paru-paru, dengan demikian duktus arteosus botali
tidak berfungsi dan karena tekanan dalam atrium sinistra meningkat maka
foramen ovale akan tertutup dan menjadi tidak berfungsi lagi. Ketika tali pusat
dipotong dan diikat, arteri umbilikalis dan duktus venosus arantii akan
mengalami obiliterasi, dengan demikian setelah bayi lahir maka kebutuhan
oksigen dipenuhi oleh udara yang dihisap ke paru-paru dan kebutuhan nutrisi
dipenuhi oleh makanan yang dicerna dengan sistem pencernaansendiri.
Perubahan sirkulasi pasca lahir :
1) Tahanan vascular paru menurun dan tahanan sistemik meningkat sehingga
aliran darah ke paru meningkat.
Ketika bayi menangis untuk pertama kalinya akan mengakibatkan
paru-paru berkembang, hal itu akan mengakibatkan tahanan vaskular paru
berkurang dengan cepat tapi tidak segera diikuti penurunan tekanan arteri
pulmonalis. Penurunan tekanan arteri pulmonalis disebabkan perubahan
pada dinding arteiol paru.
11
2) Tahanan sistemik meningkat
Tekanan darah sistemik tdk segera meningkat tapi berangsur-angsur
bahkan bisa terjadi penurunan tekanan darah dulu dalam 24 jam pertama.
Pengaruh hipoksi di sini tidak bermakna.
3) Penutupan Duktus arteosus
Penutupan anatomis dimulai segera setelah lahir tapi penutupan sempurna .
sebagian besar bayi baru terjadi setelah beberapa bulan, .pada sebagian
kecil sampai umur satu tahun. Secara fungsional DA kiri dan kanan masih
dilewati darah sampai beberapa jam bahkan beberapa hari.
Pada hipoksia, pirau kanan ke kiri bertambah. DA persisten sering terjadi
pada keadaan yang menyebabkan hipoksia seperti sindrom gangguan
pernafasan, prematuritas dan bayi lahir di dataran tinggi.
4) Penutupan Foramen ovale
Tidak menutup secara fungsinal pada jam-jam pertama setelah lahir. Pirau
kanan ke kiri masih dapat terjadi pada 50% bayi yang menangis sampai
usia 8 hari paska lahir. Meski foramen ovale masih paten sampai usia
sampai usia 5 tahun (50%) dan masih tetap terbuka pada umur lebih dari
25 tahun (25%) tetapi FO tidak berfungsi lagi setelah satu minggu.
Bila FO menutup sebelum janin lahir akan menyebabkan kardiomegali in
utero yang bisa menyebabkan gagal jantung kanan.
5) Penutupan Duktus venosus
Bila semua perubahan fisiologis berlangsung normal maka sirkulasi ekstra
uterin yang terjadi akan berlangsung normal yaitu darah dari paru menuju
ke atrium kiri lalu ke ventrikel kiri selanjutnya menuju aorta ke seluruh
tubuh kemudian darah dari perifer melalui vena kava superior dan inferior
menuju atrium kanan, ventrikel kanan dan melalui arteri pulmonalis
masuk lagi ke dalam paru.
12
5. Pathway
13
5. Pemeriksaan Diagnostik
c. Foto thorax
Tampak kardiomegali akibat pembesaran atrium dan ventrikel kiri. Aorta
membesar dan arteri pilmonalis menonjol, corakan vaskularisasi paru
meningkat (pletora). Tetapi bila telah terjadi hipertensi pulmonalyang disertai
perubahan vaskuler paru, maka corakan tersebut didaerah tepi akan berkurang
(pruned tree).
d. Ekhokardiografi
Rasio atrium kiri terhadap pangkal aorta lebih dari 1,3:1 pada bayi cukup
bulan atau lebih tinggi dari 1,0 pada bayi praterm (disebabkan oleh
peningkatan volume atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke kanan).
e. Pemeriksaan dengan Doppler berwarna
f. EKG
Bervariasi sesuai tingkat keparahan, PDA kecil tida ada abnormalitas,
hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar.
g. Kateterisasi jantung
Akan mengungkapkan tekanan normal atau meningkatkan dalam
ventrikel kanana dan arteri pulmonalis. Adanya darah yang telah di
oksigenisasi dalam arteri pulmonalis memastikan adanya pintasan kiri ke
kanan, seperti juga dengan kurva hidrogen dan pengenceran indikator. Contoh-
contoh darah yang diambil dari ke dua vena cava, atrium kanan dan ventrikel
kanan memperlihatkan kandungan oksigen yang sebanding. Dengan
insufisiensi katup pulmonal mungkin dijumpai peningkatan kandungan
oksigen dalam darah ventrikel kanan. Kateter tersebut akan melewati duktus
dan masuk ke dalam aorta desendens. Penyuntikan bahan kontras ke dalam
aorta asenden memperlihatkan opasitas arteri pulmonalis berasal dari aorta dan
dapat mengenali duktus.
h. Pemeriksaan roengenografis
Pada umumnaya untuk memperlihatkan arteri pulmonalis yang menonjol
dan peningkatan tanda-tanda pembuluh darah paru. Besar jantung tergantung
pada derajat pintasan kiri ke kanan, jantung dapat tetap normal atau
mengalami pembesaran sedang hingga hebat. Ruangan-ruangan yang terlibat
adalah atrium dan ventrikel kiri. Tonjolan aorta tampak normal atau menonjol
14
dan berdenyut dengan kuat. Secara jarang dijumpai adanya perkapuran
didalam dinding duktus tersebut.
6. Penatalaksanaan
a. Pembedahan untuk ligasi duktus jika penatalaksanaan medis tidak bias
mengendalikan gagal jantung (bayi dengan PDA Asimpetomatik tidak
memerlukan penanganan segera. Apabila gejala ringan, ligasi PDA dengan
pembedahan biasanya baru dilakukan setelah usia 1 tahun)
b. Pemberian indometasin(inhibitor prostaglandin) untuk menimbulkan spasme
ductus dan penutupan pada bayi premature
c. Terapi profilaksis dengan anti biotic untuk melindungi bayi dari endokaditis
infeksiosa
d. Penangganan gagal jantung melalui pembatasan cairan, pemeberian diuretic
dan digoksin.
e. Terapi lain termasuk kateterisasi jantung, untuk menaruh sumbat atau
umbrella(benda seperti payung) dalam ductus arteriosus yang akan
menghentikan pemintasan.
7. Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Gangguan Paten Ductus
Arteriosus
a. Pengkajian
1) Anamnesa
a) Identitas ( Data Biografi)
PDA sering ditemukan pada neonatus, tapi secara fungsional
menutup pada 24 jam pertama setelah kelahiran. Sedangkan secara
anatomic menutup dalam 4 minggu pertama. PDA ( Patent Ductus
Arteriosus) lebih sering insidens pada bayi perempuan 2 x lebih
banyak dari bayi laki-laki. Sedangkan pada bayi prematur diperkirakan
sebesar 15 %. PDA juga bisa diturunkan secara genetik dari orang tua
yang menderita jantung bawaan atau juga bisa karena kelainan
kromosom.
b) Keluhan Utama
Pasien dengan PDA biasanya merasa lelah, sesak napas.
15
c) Riwayat penyakit sekarang
Pada pasien PDA, biasanya akan diawali dengan tanda-tanda
respiratory distress, dispnea, tacipnea, hipertropi ventrikel kiri, retraksi
dada dan hiposekmia.
d) Riwayat penyakit terdahulu
Perlu ditanyakan apakah pasien lahir prematur atau ibu
menderita infeksi dari rubella.
e) Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita
penyakit PDA karena PDA juga bisa diturunkan secara genetik dari
orang tua yang menderita penyakit jantung bawaan atau juga bisa
karena kelainan kromosom.
f) Riwayat Psikososial
Meliputi tugas perasaan anak terhadap penyakitnya, bagaimana
perilaku anak terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya,
perkembangan anak, koping yang digunakan, kebiasaan anak, respon
keluarga terhadap penyakit anak, koping keluarga dan penyesuaian
keluarga terhadap stress.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Pernafasan B1 (Breath)
Nafas cepat, sesak nafas ,bunyi tambahan ( marchinery murmur ),adanyan
otot bantu nafas saat inspirasi, retraksi.
2) Kardiovaskuler B2 ( Blood)
Jantung membesar, hipertropi ventrikel kiri, peningkatan tekanan darah
sistolik, edema tungkai, clubbing finger, sianosis.
3) Persyarafan B3 ( Brain)
Otot muka tegang, gelisah, menangis, penurunan kesadaran.
4) Perkemihan B4 (Bladder)
Produksi urin menurun (oliguria).
16
5) Pencernaan B5 (Bowel)
Nafsu makan menurun (anoreksia), porsi makan tidak habis.
6) Muskuloskeletal/integument B6 (Bone)
Kemampuan pergerakan sendi terbatas, kelelahan.
c. Diagnosa Keperawatan
1) Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan volume
sekuncup
2) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ventilasi-perfusi
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplei
dan kebutuhan oksigen
d. Intervensi Keperawatan
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
TUJUAN DAN KRITERIA
HASIL
(Nursing Outcome)
INTERVENSI
KEPERAWATAN
(Nursing Interventions
Classication)
Penurunan curah
jantung berhubungan
dengan perubahan
volume sekuncup.
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama .....x 24 jam,
diharapakan curah jantung
normal.
Kriteria hasil:
Cardiac Pump Effectiveness
INDIKATOR IR ER
1. Tekanan darah
dalam batas
yang
diharapkan
2. RR dalam
batas yang
diharapkan
3. Tidak terdapat
angina
4. Kelemahan
ekstermitas
tidak ada
Keterangan :
1. Keluhan ekstrim
Cardiac Care
1. Evaluasi adanya nyeri
dada.
2. Catat adanya tanda dan
gejala penurunan cardiac
output.
3. Monitor / melihat
monitor untuk melihat
adanya perubahan
tekanan darah.
4. Atur periode latihan dan
istirahat untuk
menghindari kelelahan.
5. Monitor / melihat
toleransi aktifitas pasien.
6. Monitor / melihat adanya
17
2. Keluhan berat
3. Keluhan sedang
4. Keluhan ringan
5. Tidak ada keluhan
dypsnea, patigue,
takipnea dan ortopnea
Gangguan pertukaran
gas berhubungan
dengan
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama .....x 24 jam,
diharapakan gangguan pertukaran
gas dapat teratasi.
Kriteria hasil:
respiratory status : ventilation
INDIKATOR IR ER
1. Peningkatan
ventilasi dan
oksigenasi yang
adekuat
2. Kebersihan
paru-paru
3. Mendemonstras
ikan batuk
efektif dan
suara nafas
yang bersih
Keterangan :
1. Keluhan ekstrim
2. Keluhan berat
3. Keluhan sedang
4. Keluhan ringan
5. Tidak ada keluhan
Airway Management
1. posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
2. pemasangan alat jalan
nafas buatan
3. lakukan fisioterapi dada
4. keluarkan sekret dengan
batuk atau suction
5. Auskultasi suara nafas,
catat adanya suara
tambahan
Intoleransi aktivitas
berhubungan dengan
ketidakseimbangan
antara suplei dan
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama .....x 24 jam,
diharapakan intoleransi aktivitas
dapat teratasi
Activity Therapy
1. Kolaborasikan dengan
tenaga rehabilitasi medik
dalam merencanakan
18
kebutuhan oksigen Kriteria hasil:
Activity Tolerance
INDIKATOR IR ER
1. Mampu
melakukaan
aktivitas
sehari-hari
2. TTD normal
3. Level
kelemahan
Keterangan :
1. Keluhan ekstrim
2. Keluhan berat
3. Keluhan sedang
4. Keluhan ringan
5. Tidak ada keluhan
program terapi yang tepat
2. Bantu klien untuk
mengidentivikasi aktivitas
yang mampu dilakukan
3. Bantu untuk mendapatkan
alat bantuan aktivitas
4. Bantu klien untuk
membuat jadwal latihan
diwaktu luang
19
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Paten ductus arteriosus merupakan saluran yang berasal dari arkus aorta
ke VI pada janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendes.
Menutupnya ductus arteriosus pada minggu pertama kehidupan yang
menyebabkan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan tinggi ke arteri
pulmonal yang bertekanan rendah.
Penyebab penyakit bawaan jantung belum dapat di ketahui secara pasti,
tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu faktor prenatal dan faktor
genetic.
Pada bayi prematur sering di samarkan oleh masalah-masalah lain dengan
premature (misalnya sindrom gawat nafas) pemberian endome-thacin (inhibitor
prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus.
B. Saran
Kami selaku penulis menyarankan kepada para pembaca baik individu,
serta teman-teman, agar kiranya dapat memperhatikan mengalirnya darah dari
aorta yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. Terima
kasih semoga bermanfaat.
20
DAFTAR PUSTAKA
Kowalak.P.Jenifer, Welsh.William, Mayer.Brenna. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta.
EGC
https://www.scribd.com/doc/244529699/Pathway-PDA
http://askep.asuhan-keperawatan.com/2013/10/asuhan-keperawatan-anak-pada-pasien-
dengan-penyakit-jantung-bawaan-81304.html

ASKEP PATEN DUCTUS ARTERIOSUS (PDA)

  • 1.
    ASUHAN KEPERAWATAN PADAANAK DENGAN GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER Paten Ductus Arteriosus (PDA) Dosen Pembimbing : Ida Ariani, M.Kep., Sp.Kep.An. Disusun Oleh : Kelompok 2 1. Nurul Khasanah 2. Siti Karina Hardiyanti 3. Novieka Dwi Mahesa 4. Lutfi Tri K 5. Anah Nur Aliyah 6. Tuminah 7. Mey Ferdita S.P. 8. Khasbulloh 9. Joni Koeswara 10. Rachmawati Nur K. 11. Nilam Marwati 12. Retno Dwi Jayanti S1 KEPERAWATAN STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP TAHUN AKADEMIK 2015/2016
  • 2.
    2 KATA PENGANTAR Puji syukurpenulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyusun makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler Paten Ductus Arteriosus (PDA)” dengan sebaik-baiknya. Penyusunan makalah ini atas dasar tugas Askep Kardiovaskuler untuk melengkapi materi berikutnya. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada narasumber yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah ini. Mohon maaf penulis sampaikan apabila terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah ini, karena kami masih dalam taraf belajar. Semoga makalah ini dapat bermanfaat sebagai referensi untuk menambah wawasan kepada pembaca. Penulis sadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, maka dari itu penulis mengharapkan saran dan kritik guna perbaikan di masa yang akan datang. Terima kasih. Cilacap, 30 November 2015 Penulis
  • 3.
    3 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...............................................................................................................2 DAFTAR ISI..............................................................................................................................3 PENDAHULUAN .....................................................................................................................4 Latar Belakang .......................................................................................................................4 Rumusan Masalah..................................................................................................................4 Tujuan.....................................................................................................................................5 PEMBAHASAN ........................................................................................................................6 Paten Ductus Arteriosus (PDA) .............................................................................................6 Pengertian ...........................................................................................................................6 Etiologi ...............................................................................................................................7 Manifestasi Klinis...............................................................................................................7 Patofisiologi........................................................................................................................8 Pathway.............................................................................................................................12 Pemeriksaan Diagnostik ...................................................................................................12 Penatalaksanaan................................................................................................................14 Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Gangguan Paten Ductus Arteriosus ..............14 PENUTUP................................................................................................................................19 Kesimpulan...........................................................................................................................19 Saran.....................................................................................................................................19 DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................................20
  • 4.
    4 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Paten Ductus Arteriosus (PDA) adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama kehidupan, yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. Penyakit jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan pada bayi dan anak. Apabila tidak di operasi, kebanyakan akan meninggal waktu bayi. Apabila penyakit jantung bawaan ditemukan pada orang dewasa, hal ini menunjukkan bahwa pasien tersebut mampu melalui seleksi alam, atau telah mengalami tindakan operasi dini pada usia muda. Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan. Adapun gejala paten ductus arteriosus pada bayi Kadang-kadang terdapat tanda-tanda gagal jantung, Machinery mur-mur persisten (sistolik, kemudian menetap, paling nyata terdengar di tepi sternum kiri atas. B. Rumusan Masalah 1. Apa definisi Paten Ductus Arteriosus pada bayi? 2. Apa penyebab Paten Ductus Arteriosus? 3. Bagaimana manifestasi klinik pada Paten Ductus Arteriosus? 4. Bagaimana pathways pada Paten Ductus Arteriosus? 5. Bagaimana pemeriksaaan penunjang dan penatalaksanaan pada Paten Ductus Arteriosus? 6. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada kasus Paten Ductus Arteriosus?
  • 5.
    5 C. Tujuan 1. Untukmengetahui definisi dari Paten Ductus Arteriosus (PDA) pada bayi 2. Untuk mengetahui penyebab dari Paten Ductus Arteriosus (PDA) 3. Untuk mengetahui manifestasi klinik dari Paten Ductus Arteriosus (PDA) 4. Untuk mengetahui pathways dari Ductus Paten Arteriosus (PDA) 5. Untuk mengetahui pemeriksaaan penunjang dan penatalaksanaan pada Paten Ductus Arteriosus 6. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan pada kasus Paten Ductus Arteriosus
  • 6.
    6 BAB II PEMBAHASAN A. PatenDuctus Arteriosus (PDA) 1. Pengertian Patent Duktus Arteriosus (PDA) adalah tetap terbukanya duktus arteriosus setelah lahir, yang menyebabkan dialirkannya darah secara langsung dari aorta (tekanan lebih tinggi) ke dalam arteri pulmoner (tekanan lebih rendah). (Betz & Sowden, 2002 ; 375) Duktus Arteriosus adalah saluran yang berasal dari arkus aorta ke VI pada janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendens. Pada bayi normal duktus tersebut menutup secara fungsional 10 – 15 jam setelah lahir dan secara anatomis menjadi ligamentum arteriosum pada usia 2 – 3 minggu. Bila tidak menutup disebut Duktus Arteriosus Persisten (Persistent Ductus Arteriosus : PDA). (Buku ajar Kardiologi FKUI, 2001 ; 227) Paten duktus arteriosus adalah kegagalan penutupan duktus arteriosus (pembuluh arteri yang menghubungkan aorta dengan arteri pulmonalis) pada bayi berusia beberapa minggu pertama. (Wong, 2009).
  • 7.
    7 2. Etiologi Penyebab terjadinyapenyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan : a. Faktor prenatal diantaranya : 1) Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella. 2) Ibu alkoholisme. 3) Umur ibu lebih dari 40 tahun. 4) Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin. 5) Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu b. Faktor geneti diantaranya : 1) Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan. 2) Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan. 3) Kelainan kromosom seperti Sindrom Down. 4) Lahir dengan kelainan bawaan yang lain. 3. Manifestasi Klinis a. Gawat nafas disertai tanda-tanda gagal jantung pada bayi khususnya yang lahir premature. Gangguan pernafasan ini di sebabkan oleh pemintasan aliran darah dalam jumlah sangat besar ke dalam paru-paru melalui duktus arteriosus yang terbuka (paten) dan peningkatan beban kerja pada jantung sebelah kiri. b. Bising Gipson (mac hineri mur-mur yang klasik), bising yang terus menerus terdengar disepanjang systole dan diastole pada anak yang lebih besar dan dewasa akibat pemintasan aliran darah dari aorta ke dalam arteri pulmonaris pada saat systole dan diastole. (bising ini terdengar paling jelas pada daerah basis kordis, yaitu pada ruang slaiga kedua kiri di bawah klafikula kiri. Bising tersebut dapat mengaburkan bunyi S2 namun bising ini pada shunt kanan ke kiri mungkin tidak ada). c. Vibrasi (thrill) yang teraba saat meragukan palpasi pada tepi kiri sternum; gejala ini disebabkan oleh pemintasan aliran darah dari aorta pulmonaris. d. Implus ventrikel kiri yang nyata akibat hipertrofi ventrikel kiri denyut nadi perifer yang memantul (nadi corigan) akibat keadaan aliran yang tinggi.
  • 8.
    8 e. Tekanan nadiyang melebar akibat kenaikan tekanan sistolik dan terutama akibat penurunan tekanan diastolik pada saat darah memintas melalui PDA dan dengan demikian mengurangi tahapan tepi. f. Motorik yang lambat akibat gagal jantung. g. Kegagalan tumbuh kembang akibat gagal jantung. h. Keletihan dan dispenea pada saat melakukan kegiatan yang dapat terjadi pada dewasa yang mengalami PDA yang tidak terditeksi 4. Patofisiologi Normalnya, duktus arteriosus menutup pada saat kadar postragladin yang dihasilkan plasenta menurun dan kadar oksigen meningkat. Proses penutupan ini harus segera di mulai ketika bayi menarik nafas yang pertama tetapi bias saja memerlukan waktu 3 bulan pada beberapa anak. Pada PDA, resistensi relative pada pembuluh darah pulmoner serta sistemik dan ukuran duktus menentukan jumlah darah mengalami pemintasan aliran atau shunt dari kanan ke kiri karena peningkatan dalam aorta, darah bersih akan mengalami shun dari aorta melalui duktus arteriosus ke dalam arteri pulmonaris. Darah akan kembali ke dalam jantung kiri dan dipompa sekali lagi ke dalam aorta. Atrium kiri dan ventrikel kiri harus menampung aliran balik vena aliran pulmonaris sehingga terjadi kenaikan tekanan pengisian dan beban kerja jantung kiri. Keadaan akan mengadakan hipertrofi ventrikel kiri dan mungkin pula gagal jantung. Pada stadium akhir PDA yang tidak dikoreksi shun kiri ke kanan yang akan menimbulkan hipertensi arteri pulmonaris yang kronis dan kemudian menjadi resisten serta tidak responsive terhadap terapi. Hal ini menyebabkan pembalikan shunt sehingga darah kotor ini memasuki sirkulasi sistemik dan menimbulkan sianosis. a. Mekanisme Sirkulasi Darah Janin Dalam sistem peredaran darah janin tidak hanya melibatkan pembuluh darah saja tetapi juga melibatkan organ tubuh janin di antaranya sebagai berikut : 1) Plasenta Tempat terjadinya pertukaran darah bersih dengan yang kotor. 2) Umbilikalis Mengalirkan darah dari plasenta ke janin dan dari janin ke plasenta.
  • 9.
    9 3) Hati Terdapatnya percabanganantara vena porta dengan duktus venosus arantii. 4) Jantung Terdapatnya foramen ovale yang langsung menyalurkan darah dari atrium dekstra ke atrium sinistra. 5) Paru-paru Terdapatnya duktus arteriosus bothalli. Mekanisme sirkulasi darah janin Peredaran darah janin digambarkan langsung sebagai berikut : Mula-mula darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi yang berasal dari plasenta masuk ke janin melalui vena umbilikus yang bercabang dua setelah memasuki dinding perut yaitu : a) Cabang yang kecil bersatu dengan vena aorta, darahnya beredar dalam hati dan kemudian diangkut melalui vena hepatika ke vena cava inferior. b) Cabang satunya lagi duktus venosus arantii yang langsung masuk ke dalam vena cava inferior. Darah dari vena cava inferior masuk ke atrium kanan dan sebagian besar darah dari atrium kanan akan dialirkan ke atrium kiri melalui foramen ovale. Sebagian kecil darah dari atrium kanan masuk ke ventrikel kanan bersama-sama dengan darah yang berasal dari vena cava superior
  • 10.
    10 c) Darah dariventrikel kanan ini dipompakan ke paru-paru melalui arteri pulmonalis, karena adanya tahanan dari paru-paru yang belum mengembang maka darah yang terdapat pada arteri pulmonalis sebagian akan dialirkan ke aorta melalui duktus arteriosus bothalli dan sebagian kecil akan menuju paru-paru dan selanjutnya ke atrium sinistra melaui vena pulmonalis. Sementara itu darah yang terdapat pada atrium kiri kemudian dialirkan ke ventrikel kiri dan diteruskan ke seluruh tubuh melaui aorta guna memberikan oksigen dan nutrisi bagi tubuh bawah. Cabang aorta bagian bawah ini menjadi 2 (dua) arteri hipograstika interna yang mempunyai cabang arteri umbilikalis. Darah yang miskin nutrisi dan banyak karbondioksida serta sisa metabolisme akan dikembalikan ke plasenta melalui arteri umbilikalis ke plasenta melalui arteri umbilikalis untuk diteruskan ke ibu. b. Mekanisme Sirkulasi Darah Pada Bayi Baru Lahir Setelah janin dilahirkan, bayi menghisap udara dan menangis kuat, hal ini akan paru-parunya berkembang, tekanan dalam paru-paru mengecil dan darah akan terisap ke dalam paru-paru, dengan demikian duktus arteosus botali tidak berfungsi dan karena tekanan dalam atrium sinistra meningkat maka foramen ovale akan tertutup dan menjadi tidak berfungsi lagi. Ketika tali pusat dipotong dan diikat, arteri umbilikalis dan duktus venosus arantii akan mengalami obiliterasi, dengan demikian setelah bayi lahir maka kebutuhan oksigen dipenuhi oleh udara yang dihisap ke paru-paru dan kebutuhan nutrisi dipenuhi oleh makanan yang dicerna dengan sistem pencernaansendiri. Perubahan sirkulasi pasca lahir : 1) Tahanan vascular paru menurun dan tahanan sistemik meningkat sehingga aliran darah ke paru meningkat. Ketika bayi menangis untuk pertama kalinya akan mengakibatkan paru-paru berkembang, hal itu akan mengakibatkan tahanan vaskular paru berkurang dengan cepat tapi tidak segera diikuti penurunan tekanan arteri pulmonalis. Penurunan tekanan arteri pulmonalis disebabkan perubahan pada dinding arteiol paru.
  • 11.
    11 2) Tahanan sistemikmeningkat Tekanan darah sistemik tdk segera meningkat tapi berangsur-angsur bahkan bisa terjadi penurunan tekanan darah dulu dalam 24 jam pertama. Pengaruh hipoksi di sini tidak bermakna. 3) Penutupan Duktus arteosus Penutupan anatomis dimulai segera setelah lahir tapi penutupan sempurna . sebagian besar bayi baru terjadi setelah beberapa bulan, .pada sebagian kecil sampai umur satu tahun. Secara fungsional DA kiri dan kanan masih dilewati darah sampai beberapa jam bahkan beberapa hari. Pada hipoksia, pirau kanan ke kiri bertambah. DA persisten sering terjadi pada keadaan yang menyebabkan hipoksia seperti sindrom gangguan pernafasan, prematuritas dan bayi lahir di dataran tinggi. 4) Penutupan Foramen ovale Tidak menutup secara fungsinal pada jam-jam pertama setelah lahir. Pirau kanan ke kiri masih dapat terjadi pada 50% bayi yang menangis sampai usia 8 hari paska lahir. Meski foramen ovale masih paten sampai usia sampai usia 5 tahun (50%) dan masih tetap terbuka pada umur lebih dari 25 tahun (25%) tetapi FO tidak berfungsi lagi setelah satu minggu. Bila FO menutup sebelum janin lahir akan menyebabkan kardiomegali in utero yang bisa menyebabkan gagal jantung kanan. 5) Penutupan Duktus venosus Bila semua perubahan fisiologis berlangsung normal maka sirkulasi ekstra uterin yang terjadi akan berlangsung normal yaitu darah dari paru menuju ke atrium kiri lalu ke ventrikel kiri selanjutnya menuju aorta ke seluruh tubuh kemudian darah dari perifer melalui vena kava superior dan inferior menuju atrium kanan, ventrikel kanan dan melalui arteri pulmonalis masuk lagi ke dalam paru.
  • 12.
  • 13.
    13 5. Pemeriksaan Diagnostik c.Foto thorax Tampak kardiomegali akibat pembesaran atrium dan ventrikel kiri. Aorta membesar dan arteri pilmonalis menonjol, corakan vaskularisasi paru meningkat (pletora). Tetapi bila telah terjadi hipertensi pulmonalyang disertai perubahan vaskuler paru, maka corakan tersebut didaerah tepi akan berkurang (pruned tree). d. Ekhokardiografi Rasio atrium kiri terhadap pangkal aorta lebih dari 1,3:1 pada bayi cukup bulan atau lebih tinggi dari 1,0 pada bayi praterm (disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke kanan). e. Pemeriksaan dengan Doppler berwarna f. EKG Bervariasi sesuai tingkat keparahan, PDA kecil tida ada abnormalitas, hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar. g. Kateterisasi jantung Akan mengungkapkan tekanan normal atau meningkatkan dalam ventrikel kanana dan arteri pulmonalis. Adanya darah yang telah di oksigenisasi dalam arteri pulmonalis memastikan adanya pintasan kiri ke kanan, seperti juga dengan kurva hidrogen dan pengenceran indikator. Contoh- contoh darah yang diambil dari ke dua vena cava, atrium kanan dan ventrikel kanan memperlihatkan kandungan oksigen yang sebanding. Dengan insufisiensi katup pulmonal mungkin dijumpai peningkatan kandungan oksigen dalam darah ventrikel kanan. Kateter tersebut akan melewati duktus dan masuk ke dalam aorta desendens. Penyuntikan bahan kontras ke dalam aorta asenden memperlihatkan opasitas arteri pulmonalis berasal dari aorta dan dapat mengenali duktus. h. Pemeriksaan roengenografis Pada umumnaya untuk memperlihatkan arteri pulmonalis yang menonjol dan peningkatan tanda-tanda pembuluh darah paru. Besar jantung tergantung pada derajat pintasan kiri ke kanan, jantung dapat tetap normal atau mengalami pembesaran sedang hingga hebat. Ruangan-ruangan yang terlibat adalah atrium dan ventrikel kiri. Tonjolan aorta tampak normal atau menonjol
  • 14.
    14 dan berdenyut dengankuat. Secara jarang dijumpai adanya perkapuran didalam dinding duktus tersebut. 6. Penatalaksanaan a. Pembedahan untuk ligasi duktus jika penatalaksanaan medis tidak bias mengendalikan gagal jantung (bayi dengan PDA Asimpetomatik tidak memerlukan penanganan segera. Apabila gejala ringan, ligasi PDA dengan pembedahan biasanya baru dilakukan setelah usia 1 tahun) b. Pemberian indometasin(inhibitor prostaglandin) untuk menimbulkan spasme ductus dan penutupan pada bayi premature c. Terapi profilaksis dengan anti biotic untuk melindungi bayi dari endokaditis infeksiosa d. Penangganan gagal jantung melalui pembatasan cairan, pemeberian diuretic dan digoksin. e. Terapi lain termasuk kateterisasi jantung, untuk menaruh sumbat atau umbrella(benda seperti payung) dalam ductus arteriosus yang akan menghentikan pemintasan. 7. Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Gangguan Paten Ductus Arteriosus a. Pengkajian 1) Anamnesa a) Identitas ( Data Biografi) PDA sering ditemukan pada neonatus, tapi secara fungsional menutup pada 24 jam pertama setelah kelahiran. Sedangkan secara anatomic menutup dalam 4 minggu pertama. PDA ( Patent Ductus Arteriosus) lebih sering insidens pada bayi perempuan 2 x lebih banyak dari bayi laki-laki. Sedangkan pada bayi prematur diperkirakan sebesar 15 %. PDA juga bisa diturunkan secara genetik dari orang tua yang menderita jantung bawaan atau juga bisa karena kelainan kromosom. b) Keluhan Utama Pasien dengan PDA biasanya merasa lelah, sesak napas.
  • 15.
    15 c) Riwayat penyakitsekarang Pada pasien PDA, biasanya akan diawali dengan tanda-tanda respiratory distress, dispnea, tacipnea, hipertropi ventrikel kiri, retraksi dada dan hiposekmia. d) Riwayat penyakit terdahulu Perlu ditanyakan apakah pasien lahir prematur atau ibu menderita infeksi dari rubella. e) Riwayat penyakit keluarga Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit PDA karena PDA juga bisa diturunkan secara genetik dari orang tua yang menderita penyakit jantung bawaan atau juga bisa karena kelainan kromosom. f) Riwayat Psikososial Meliputi tugas perasaan anak terhadap penyakitnya, bagaimana perilaku anak terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya, perkembangan anak, koping yang digunakan, kebiasaan anak, respon keluarga terhadap penyakit anak, koping keluarga dan penyesuaian keluarga terhadap stress. b. Pemeriksaan Fisik 1) Pernafasan B1 (Breath) Nafas cepat, sesak nafas ,bunyi tambahan ( marchinery murmur ),adanyan otot bantu nafas saat inspirasi, retraksi. 2) Kardiovaskuler B2 ( Blood) Jantung membesar, hipertropi ventrikel kiri, peningkatan tekanan darah sistolik, edema tungkai, clubbing finger, sianosis. 3) Persyarafan B3 ( Brain) Otot muka tegang, gelisah, menangis, penurunan kesadaran. 4) Perkemihan B4 (Bladder) Produksi urin menurun (oliguria).
  • 16.
    16 5) Pencernaan B5(Bowel) Nafsu makan menurun (anoreksia), porsi makan tidak habis. 6) Muskuloskeletal/integument B6 (Bone) Kemampuan pergerakan sendi terbatas, kelelahan. c. Diagnosa Keperawatan 1) Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan volume sekuncup 2) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ventilasi-perfusi 3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplei dan kebutuhan oksigen d. Intervensi Keperawatan DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA HASIL (Nursing Outcome) INTERVENSI KEPERAWATAN (Nursing Interventions Classication) Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan volume sekuncup. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .....x 24 jam, diharapakan curah jantung normal. Kriteria hasil: Cardiac Pump Effectiveness INDIKATOR IR ER 1. Tekanan darah dalam batas yang diharapkan 2. RR dalam batas yang diharapkan 3. Tidak terdapat angina 4. Kelemahan ekstermitas tidak ada Keterangan : 1. Keluhan ekstrim Cardiac Care 1. Evaluasi adanya nyeri dada. 2. Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac output. 3. Monitor / melihat monitor untuk melihat adanya perubahan tekanan darah. 4. Atur periode latihan dan istirahat untuk menghindari kelelahan. 5. Monitor / melihat toleransi aktifitas pasien. 6. Monitor / melihat adanya
  • 17.
    17 2. Keluhan berat 3.Keluhan sedang 4. Keluhan ringan 5. Tidak ada keluhan dypsnea, patigue, takipnea dan ortopnea Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .....x 24 jam, diharapakan gangguan pertukaran gas dapat teratasi. Kriteria hasil: respiratory status : ventilation INDIKATOR IR ER 1. Peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat 2. Kebersihan paru-paru 3. Mendemonstras ikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih Keterangan : 1. Keluhan ekstrim 2. Keluhan berat 3. Keluhan sedang 4. Keluhan ringan 5. Tidak ada keluhan Airway Management 1. posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi 2. pemasangan alat jalan nafas buatan 3. lakukan fisioterapi dada 4. keluarkan sekret dengan batuk atau suction 5. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplei dan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .....x 24 jam, diharapakan intoleransi aktivitas dapat teratasi Activity Therapy 1. Kolaborasikan dengan tenaga rehabilitasi medik dalam merencanakan
  • 18.
    18 kebutuhan oksigen Kriteriahasil: Activity Tolerance INDIKATOR IR ER 1. Mampu melakukaan aktivitas sehari-hari 2. TTD normal 3. Level kelemahan Keterangan : 1. Keluhan ekstrim 2. Keluhan berat 3. Keluhan sedang 4. Keluhan ringan 5. Tidak ada keluhan program terapi yang tepat 2. Bantu klien untuk mengidentivikasi aktivitas yang mampu dilakukan 3. Bantu untuk mendapatkan alat bantuan aktivitas 4. Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang
  • 19.
    19 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Patenductus arteriosus merupakan saluran yang berasal dari arkus aorta ke VI pada janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendes. Menutupnya ductus arteriosus pada minggu pertama kehidupan yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. Penyebab penyakit bawaan jantung belum dapat di ketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu faktor prenatal dan faktor genetic. Pada bayi prematur sering di samarkan oleh masalah-masalah lain dengan premature (misalnya sindrom gawat nafas) pemberian endome-thacin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus. B. Saran Kami selaku penulis menyarankan kepada para pembaca baik individu, serta teman-teman, agar kiranya dapat memperhatikan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. Terima kasih semoga bermanfaat.
  • 20.
    20 DAFTAR PUSTAKA Kowalak.P.Jenifer, Welsh.William,Mayer.Brenna. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta. EGC https://www.scribd.com/doc/244529699/Pathway-PDA http://askep.asuhan-keperawatan.com/2013/10/asuhan-keperawatan-anak-pada-pasien- dengan-penyakit-jantung-bawaan-81304.html