Disusun oleh:
1. Riska amalia (213-14-100)
2. Hana af’ida (213-14-101)
3. Miftakhul jannah (213-14-160)
PPh Pasal 23 dan 24
PERPAJAKAN
PPh Pasal 23
Ketentuan dalam pasal 23 UU PPh mengatur pemotongan
pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib
Pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap yang berasal dari
modal, penyerahan jasa, atau penyelenggaraan kegiatan selain
yang telah dipotong Pajak Penghasilan pasal 21, yang
dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh
tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak
badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha
tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya.
Pemotong PPh Pasal 23
Pemotong PPh pasal 23 adalah pihak-pihak yang
membayarkan penghasilan, yang terdiri atas:
1. Badan Pemerintah.
2. Subjek Pajak badan dalam negeri.
3. Penyelenggara kegiatan.
4. Bentuk usaha tetap.
5. Perwakilan perusahaan luar negeri lainnya.
6. Orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri yang
telah mendapat penunjukan dari Direktur Jendral Pajak
untuk memotong pajak PPh Pasal 23.
Yang Dikenakan Pemotongan PPh Pasal
23
Yang dikenakan pemotongan PPh pasal 23 adalah Wajib
Pajak dalam negeri atau Bentuk Usaha Tetap yang
menerima atau memperoleh penghasilan yang berasal
dari modal, penyerahan jasa, atau penyelenggaraan
kegiatan selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan
Pasal 21.
Objek Pemotongan PPh Pasal 23
Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 23 adalah:
1. Dividen
2. Bunga
3. Royalti
4. Hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya
5. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan
penggunaan harta, kecuali sewa tanah dan/atau bangunan
6. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa
manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain
selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 21.
Pengecualian Objek Pemotongan PPh
Pasal 23
Penghasilan yang tidak dikenakan pemotongan PPh Pasal 23
adalah:
 Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank
 Sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa
guna usaha dengan hak opsi
 Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan
terbatas sebagai Wajib Pajak daalam negeri, koperasi, badan
usaha milik negara, atau badan usaha milik daerah, dari
penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan
bertempat kedudukan di indonesia dengan syarat:
1. Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan
2. Bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha
milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada
badan yang memeberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah
modal yang disetor.
Lanjutan...
 Dividen yang dterima oleh orang pribadi
 Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari
perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-
saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk
pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif
 Sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada
anggotanya
 Pengahilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa
keuangan yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau
pembiayaan yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Tarif pemotongan
Besarnya PPh pasal 23 yang dipotong adalah:
1. Sebesar 15% dari bruto atas:
 Dividen
 Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan
pengembalian utang
 Royalti
 Hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya
2. Sebesar 2% dari jumlah bruto yang tidak termasuk Pajak
Penambahan Nilai, atas:
 Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta,
kecuali sewa tanah dan/atau bangunan
 Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa
konstruksi, jasa konsultasi, dan jasa lain selain jasa yang telah
dipoong Pajak Penghasilan pasal 21
Cara Menghitung PPh Pasal 23
Cara Menghitung PPh Pasal 23 atas Dividen
Atas penghasilan berupa dividen akan dikenakan pemotongan PPh
pasal 23 sebesar 15% dari jumlah bruto
Contoh 1:
PT. Solusindo membayar dividen kepada CV Perkasa pada bulan
maret 2009 sebesar Rp. 200.000.000,00.
PPh pasal 23 dipotong PT. Solusindo adalah:
15% x Rp. 200.000.000,00 = Rp. 30.000.000,00
Cara Menghitung PPh Pasal 23 atas Bunga, termasuk Premium,
Diskonto, dan Imbalan karena Jaminan Pengembaliian Utang
1. Atas penghasilan berupa bunga dikenakan pemotongan PPh pasl
23 sebesar 15 % dari jumlah bruto.
PPh Pasal 23 = 15% x Bruto
PPh Pasal 23 = 15% x Bruto
Lanjutan...
Contoh 2:
PT Karya Utama membayar bunga atas pinjaman membayarkan bunga kepada PT Indo Jaya
sebesar Rp. 80.000.000,00.
PPh pasal 23 yang dipotong PT Karya Utama adalah:
15% x Rp. 80.000.000,00 = Rp. 12.000.000,00
Cara Menghitung PPh Pasal 23 atas Royalti
Atas pengahsilan yang berupa royalti akan dikenakan pemotongan PPh pasal 23 sebesar
15% dari jumlah Bruto.
Contoh 3:
CV. Selera Makan membayar royalti kepada ny. Sulastri atas pemakaian merek Ayam
Goreng “Bu Lastri” sebesar Rp. 30.000.000,00
PPh pasal 23 yang dipotong CV Selera Makan adalah:
15% x Rp. 30.000.000,00 = Rp. 4.500.000,00
Apabila ny. Sulastri belum memiliki NPWP, maka PPh pasal 23 yang dipotong CV Selera
Makan adalah:
30% x Rp. 30.000.000,00 = Rp. 9.000.000,00
PPh Pasal 23 = 15% x Bruto
Lanjutan...
Cara menghitung PPh pasal 23 atas hadiah, penghargaan, bonus, dan
sejenisnya
Atas hadiah atau penghargaan yang diberikan melalui suatu perlombaan yang
diterima Wajib Pajak badan termasuk BUT dikenakan pemotongan PPh pasal 23
sebesar 15% dari jumlah bruto.
Contoh 4:
CV. Perdana mendapat hadiah sebuah mobil senilai Rp. 200.000.000,00 atas undian
tabungan yang diselenggarakan Bank Artha Raya.
PPh pasal 23 yang dipotong Bank Artha Raya adalah:
15% x Rp. 200.000.000,00 = Rp. 30.000.000,00
Cara menghitung PPh pasal 23 atas sewa da penghasilan lain sehubungan
dengan penggunaan harta
Atas penghasilan sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta
(kecuali sewa dan penhasilan lain sehubungan dengan persewaan tanah dan atau
bangunan) dikenakan pemotongan PPh pasl 23 sebesar 2% dari jumlah bruto tidak
termasuk pajak pertambahan nilai.
PPh Pasal 23 = 15% x Bruto
Lanjutan...
PT. Sejahtera Raya menyewa sebuah traktor milik susanto dengan nilai sewa
sebesar Rp. 10.000.000,00
PPh pasal 23 yang dipotong PT. Sejahtera Raya adalah:
2% x Rp. 10.000.000,00 = Rp. 200.000,00
Apabila susanto belum memiliki NPWP, maka PPh pasal 23 yang dipotong PT
Sejahtera Raya adalah:
4% x Rp. 10.000.000,00 = Rp. 400.000,00
Cara menghitung PPh pasal 23 atas imbalan sehubungan dengan jasa
teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain
Atas penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa
manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah
dipotonng pajak penghasilan pasal 21 dikenakan pemotongan PPh pasal 23
sebesar 2% dari jumlah bruto tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai.
PPh Pasal 23 = 2% x Bruto
PPh Pasal 23 = 2% x Bruto
Lanjutan...
Contoh 6:
a. PT. Pilar Utama yang baru berdiri meminta jasa CV. Konsultindo untuk membuat
sistem akuntansi perusahaan dengan imbalan sebesar Rp. 11.000.000,00 (termasuk
PPN Rp. 1.000.000,00).
PPh pasal 23 yang dipotong oleh PT. Pilar Utama adalah:
2% x Rp. 10.000.000,00 = Rp. 200.000,00
a. Fa. Duta bangsa membayarkan jasa cleaning service kepada PT. Mitra Makmur
sebesar Rp. 15.000.000,00
PPh pasal 23 dipotong oleh Fa. Duta bangsa adalah sebesar:
2% x Rp. 15.000.000,00 = Rp. 300.000,00
apabila PT. Mitra makmur belum memiliki NPWP, maka PPh pasal 2 yang
dipotong Fa. Duta Bangsa adalah sebsar:
4% x Rp. 15.000.000,00 = Rp.600.000,00
a. CV. Terang abadi mengikat kontrak dengan PT. Almaidah yang merupakan perusahaan
ketering makanan untuk menyediakan makan siang bagi karyawan perusahaan
tersebut selama satu tahun dengan nilai kontrak sebesar Rp. 100.000.000,00
PPh pasal 23 yang dipotong adalah sebesat :
2% x Rp. 100.000.000,00 = Rp. 1.500.000,00
PPh pasal 24
Ketentuan pasal 24 UU PPh Mengatur tentang perhitungan besarnya
pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri
yang dpat dikreditkan terhadap pajak penghasilan yang terutang atas
seluruh penghasilan wajib pajak dalam negeri.
Penggabungan penghasilan
Penggabungan penghasilan yang berasal dari luar negeri dilakukan
sebagai berikut:
1. Penggabungan penghasilan dari usaha dilakukan dalam tahun
pajak diperolehnya penghasilan tersebut (accrual basis).
2. Penggabungan penghasilan lainnya dilakukan dalam tahun
pajak diterimanya penghasilan tersebut (cash basis).
3. Penggabungan penghasilan yang berupa dividen (pasl 18 ayat 2
UU PPh) dilakukan dalam tahun pajak pada saat perolehan
dividen tersebut ditetapkan sesuai dengan keputusan menteri
keuangan.
Contoh 1:
PT Mandiri menerima dan memperoleh pengahsilan neto dari sumber luar
negeri dalam tahun 2009 sebagai berikut:
1. Hasil usaha di negara jerman dalam tahun pajaj 2009 sebesar Rp
700.000.000,00.
2. Di negara Belanda, memperoleh dividen atas kepemilikan sahamnya
di “ABC Corp.” sebsar Rp 1.000.000.000,00 yaitu berasal dari
keuntungan tahun 2007 yang ditetapkan RUPS tahun 2007, dan baru
dibayarkan tahun 2009.
3. Di negara inggris memperoleh dividen atas penyertaan saham
sebanyak 75% di “DEF Corp.” sebesarRp. 2000.000.000,00. saham
tersebut tidak diperdagangkan di bursa efek. Dividen tersebut berasal
dari keuntungan saham 2008 yang berdasarkan keputusan menteri
keuangan dittetapkan diperoleh tahun 2009.
4. Penghasilan berupa bunga semester II tahun 2009 sebesar Rp
500.000.000,00 dari bangkok bank di thailand. Penghasilan tersebut
baru akan diterima pada bulan april 2010.
Penghasilan dari sumber luar negeri yang digabungkan dengan penghasilan
PT Mandiri dan dalam tahun pajak 2009 adalah penghasilan pada angka
1,2,3. sedangkan penghasilan pada angka 4 digabungkan dengan
penghasilan PT Mandiri dari dalam negeri dalam tahun pajak 2010.
Batas maksimum kredit pajak
Dalam menghitung batas jumlah pajak yang boleh dikreditkan, sumber penghasilan
ditentukan sebagai berikut:
1. Pengahasilan dari saham dan sekuritas lainnya serta keuntungan dari pengalihan saham
dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan yang menerbitkan saham atau
sekuritas tersebut didirikan atau bertempat kedudukan.
2. Penghasilan berupa bunga, royalti, dan sewa sehhubungan dengan penggunaan harta
gerak adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani bunga, royalti, atau
sewa tersebut bertempat kedudukan atau berada.
3. Penghasilan berupa sew sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak adalah negara
tempat harta tersebut terletak.
4. Penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan adalah
negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan tersebut bertempat
kedudukan atau berada.
5. Penghasilan bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap tersebut
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan.
6. Penghasilan dari pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan atau tanda turut
serta dalam pembiayaan atau permodalan dalam perusahaan pertambangan adalah
negara tempat lokasi penambangan berada.
7. Kuntungan karena pengalihan harta tetap adalah negara tempat harta tetap berada.
8. Keuntungan karena pengalihan harta yang menjadi bagian dari suatu bentuk usaha
tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap berada.
Batas maksimum kredit pajak diambil yang terendah diantara 3
unsur/perhitungan berikut ini:
1. Jumlah pajak yang terutang atau dibayar di luar negeri.
2. (penghasilan luar negeri : seluruh penghasilan kena pajak) x PPh
atas seluruh yang dikenakan tarif pasal 17.
3. Jumlah pajak yang terutang untuk seluruh penghasilan kena pajak
(dalam hal penghasilan kena pajak adalah lebih kecil daripada
penghasilan luar negeri).
Contoh 2:
PT cemara memperoleh pengahasilan neto dalam tahun 2009 sebagai
berikut:
1. Pnghasilan dar luar negeri Rp 5.000.000.000,00 dengan tarif
pajak sebesar 40%.
2. Penghasilan usaha di indonesia Rp 3.000.000.000,00
maka jumlah penghasilan netto adalah:
Rp 5.000.000.000,00 + Rp 3.000.000.000,00 = Rp 8.000.000.000,00
Batas maksimum kredit pajak diambil yang terendah dari 3
unsur/perhitungan berikut:
 PPh terutang atau dibayar di luar negeri adalah:
40% x Rp 5.000.000.000,00 = Rp 2.000.000.000,00
 (Rp 5.000.000.000,00 : Rp 8.000.000.000,00) x Rp
2.240.000.000,00 = Rp 1.400.000.000,00
 PPh terutag (menurut tarif pasal 17) = Rp 8.000.000.000,00
x 28% = Rp 2.240.000.000,00
Dengan demikian kredit pajak yang diperkenankan adalah
pada poin 2 sebesar Rp 1.400.000.000,00
Batas maksimum kredit pajak untuk
setiap negara (per country limitation)
Apabila pengahsilan luar negeri berasal dari beberapa negara, maka
perhitungan batas maksimum kredit pajak dilakukan masing-masing
negara.
Contoh 3:
PT Diaswati memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2009
sebagai berikut:
1. Di negara A, memperoleh penghasilan (laba) Rp
2.000.000.000,00 dengan tarif pajak sebesar 35% (Rp
700.000.000,00).
2. Di negara B, memperoleh penghasilan (laba) Rp
1000.000.000,00 dengan tarif pajak sebesar 20% (Rp
200.000.000,00).
3. Pengahsilan usaha di indonesia Rp 5000.000.000,00.
Perhitungan kredit pajak luar negeri adalah sebagai berikut:
 Penghasilan luar negeri.
a. Laba di negara A Rp 2.000.000.000,00
b. Laba di negara B Rp 1.000.000.000,00
jumlah penghasilan luar negeri Rp 3.000.000.000,00
 Penghasilan dalam negeri Rp 5.000.000.000,00
 Jumlah penghasilan neto atau penghasilan kena pajaknya adalah: Rp 3.000.000.000,00 +
Rp 5.000.000.000,00 = Rp8.000.000.000,00
 PPh terutang (menutut tarif pasal 17) = Rp 8.000.000.000,00 x 28% = Rp
2.240.000.000,00
 Batas maksimum kredit pajak untuk masing-masing negara adalah:
 Untuk negara A:
(Rp 2.000.000.000,00 : Rp 8.000.000.000,00) x Rp 2.240.000.000,00
= Rp560.000.000,00
pajak terutang di negara A sebesar Rp 700.000.000,00 maka maksimum kredit pajak yang
dapat dikreditkan adalah Rp 560.000.000,00.
 Untuk negara B :
(Rp 1.000.000.000,00 : Rp 8.000.000.000,00) X Rp 2.240.000.000,00 = Rp
280.000.000,00.
Pajak terutang di negara B sebesar Rp 200.000.000,00 maka maksimum kredit pajak yang
dapat dikreditkan adalah Rp 200.000.000,00.
jadi, Jumlah kredit pajak luar negeri yang diperkenankan adalah sebesar :
Rp 560.000.000,00 + Rp 200.000.000,00 = Rp 760.000.000,00.
Cara Melaksanakan Kredit Pajak Luar
Negeri
Untuk melaksanakan perkreditan pajak yang terutang atau
dibayar di luar negeri, wajib pajak wajib menyampaikan
permohonan kepad direktur jendral pajak dengan dilampiri:
1. Laporan keuangan daei penghasilan yamg berasal dari
luar negeri.
2. Fotokopi surat pemberitahuan pajak yang disampaikan di
luar negeri.
3. Dokumen pembayaran paja di luar negeri.
Penyampaian permohonan kredit pajak yang terutang atau
dibayar di luar negeri tersebut dilakukan bersamaan dengan
penyampaian SPT Tahunan PPh.
TERIMAKASIH 

Perpajakan PPh Pasal 23 dan 24

  • 1.
    Disusun oleh: 1. Riskaamalia (213-14-100) 2. Hana af’ida (213-14-101) 3. Miftakhul jannah (213-14-160) PPh Pasal 23 dan 24 PERPAJAKAN
  • 2.
    PPh Pasal 23 Ketentuandalam pasal 23 UU PPh mengatur pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap yang berasal dari modal, penyerahan jasa, atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan pasal 21, yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya.
  • 3.
    Pemotong PPh Pasal23 Pemotong PPh pasal 23 adalah pihak-pihak yang membayarkan penghasilan, yang terdiri atas: 1. Badan Pemerintah. 2. Subjek Pajak badan dalam negeri. 3. Penyelenggara kegiatan. 4. Bentuk usaha tetap. 5. Perwakilan perusahaan luar negeri lainnya. 6. Orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri yang telah mendapat penunjukan dari Direktur Jendral Pajak untuk memotong pajak PPh Pasal 23.
  • 4.
    Yang Dikenakan PemotonganPPh Pasal 23 Yang dikenakan pemotongan PPh pasal 23 adalah Wajib Pajak dalam negeri atau Bentuk Usaha Tetap yang menerima atau memperoleh penghasilan yang berasal dari modal, penyerahan jasa, atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21.
  • 5.
    Objek Pemotongan PPhPasal 23 Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 23 adalah: 1. Dividen 2. Bunga 3. Royalti 4. Hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya 5. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa tanah dan/atau bangunan 6. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21.
  • 6.
    Pengecualian Objek PemotonganPPh Pasal 23 Penghasilan yang tidak dikenakan pemotongan PPh Pasal 23 adalah:  Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank  Sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsi  Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak daalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di indonesia dengan syarat: 1. Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan 2. Bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memeberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor.
  • 7.
    Lanjutan...  Dividen yangdterima oleh orang pribadi  Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham- saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif  Sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya  Pengahilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa keuangan yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau pembiayaan yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.
  • 8.
    Tarif pemotongan Besarnya PPhpasal 23 yang dipotong adalah: 1. Sebesar 15% dari bruto atas:  Dividen  Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang  Royalti  Hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya 2. Sebesar 2% dari jumlah bruto yang tidak termasuk Pajak Penambahan Nilai, atas:  Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa tanah dan/atau bangunan  Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultasi, dan jasa lain selain jasa yang telah dipoong Pajak Penghasilan pasal 21
  • 9.
    Cara Menghitung PPhPasal 23 Cara Menghitung PPh Pasal 23 atas Dividen Atas penghasilan berupa dividen akan dikenakan pemotongan PPh pasal 23 sebesar 15% dari jumlah bruto Contoh 1: PT. Solusindo membayar dividen kepada CV Perkasa pada bulan maret 2009 sebesar Rp. 200.000.000,00. PPh pasal 23 dipotong PT. Solusindo adalah: 15% x Rp. 200.000.000,00 = Rp. 30.000.000,00 Cara Menghitung PPh Pasal 23 atas Bunga, termasuk Premium, Diskonto, dan Imbalan karena Jaminan Pengembaliian Utang 1. Atas penghasilan berupa bunga dikenakan pemotongan PPh pasl 23 sebesar 15 % dari jumlah bruto. PPh Pasal 23 = 15% x Bruto PPh Pasal 23 = 15% x Bruto
  • 10.
    Lanjutan... Contoh 2: PT KaryaUtama membayar bunga atas pinjaman membayarkan bunga kepada PT Indo Jaya sebesar Rp. 80.000.000,00. PPh pasal 23 yang dipotong PT Karya Utama adalah: 15% x Rp. 80.000.000,00 = Rp. 12.000.000,00 Cara Menghitung PPh Pasal 23 atas Royalti Atas pengahsilan yang berupa royalti akan dikenakan pemotongan PPh pasal 23 sebesar 15% dari jumlah Bruto. Contoh 3: CV. Selera Makan membayar royalti kepada ny. Sulastri atas pemakaian merek Ayam Goreng “Bu Lastri” sebesar Rp. 30.000.000,00 PPh pasal 23 yang dipotong CV Selera Makan adalah: 15% x Rp. 30.000.000,00 = Rp. 4.500.000,00 Apabila ny. Sulastri belum memiliki NPWP, maka PPh pasal 23 yang dipotong CV Selera Makan adalah: 30% x Rp. 30.000.000,00 = Rp. 9.000.000,00 PPh Pasal 23 = 15% x Bruto
  • 11.
    Lanjutan... Cara menghitung PPhpasal 23 atas hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya Atas hadiah atau penghargaan yang diberikan melalui suatu perlombaan yang diterima Wajib Pajak badan termasuk BUT dikenakan pemotongan PPh pasal 23 sebesar 15% dari jumlah bruto. Contoh 4: CV. Perdana mendapat hadiah sebuah mobil senilai Rp. 200.000.000,00 atas undian tabungan yang diselenggarakan Bank Artha Raya. PPh pasal 23 yang dipotong Bank Artha Raya adalah: 15% x Rp. 200.000.000,00 = Rp. 30.000.000,00 Cara menghitung PPh pasal 23 atas sewa da penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta Atas penghasilan sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta (kecuali sewa dan penhasilan lain sehubungan dengan persewaan tanah dan atau bangunan) dikenakan pemotongan PPh pasl 23 sebesar 2% dari jumlah bruto tidak termasuk pajak pertambahan nilai. PPh Pasal 23 = 15% x Bruto
  • 12.
    Lanjutan... PT. Sejahtera Rayamenyewa sebuah traktor milik susanto dengan nilai sewa sebesar Rp. 10.000.000,00 PPh pasal 23 yang dipotong PT. Sejahtera Raya adalah: 2% x Rp. 10.000.000,00 = Rp. 200.000,00 Apabila susanto belum memiliki NPWP, maka PPh pasal 23 yang dipotong PT Sejahtera Raya adalah: 4% x Rp. 10.000.000,00 = Rp. 400.000,00 Cara menghitung PPh pasal 23 atas imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain Atas penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotonng pajak penghasilan pasal 21 dikenakan pemotongan PPh pasal 23 sebesar 2% dari jumlah bruto tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai. PPh Pasal 23 = 2% x Bruto PPh Pasal 23 = 2% x Bruto
  • 13.
    Lanjutan... Contoh 6: a. PT.Pilar Utama yang baru berdiri meminta jasa CV. Konsultindo untuk membuat sistem akuntansi perusahaan dengan imbalan sebesar Rp. 11.000.000,00 (termasuk PPN Rp. 1.000.000,00). PPh pasal 23 yang dipotong oleh PT. Pilar Utama adalah: 2% x Rp. 10.000.000,00 = Rp. 200.000,00 a. Fa. Duta bangsa membayarkan jasa cleaning service kepada PT. Mitra Makmur sebesar Rp. 15.000.000,00 PPh pasal 23 dipotong oleh Fa. Duta bangsa adalah sebesar: 2% x Rp. 15.000.000,00 = Rp. 300.000,00 apabila PT. Mitra makmur belum memiliki NPWP, maka PPh pasal 2 yang dipotong Fa. Duta Bangsa adalah sebsar: 4% x Rp. 15.000.000,00 = Rp.600.000,00 a. CV. Terang abadi mengikat kontrak dengan PT. Almaidah yang merupakan perusahaan ketering makanan untuk menyediakan makan siang bagi karyawan perusahaan tersebut selama satu tahun dengan nilai kontrak sebesar Rp. 100.000.000,00 PPh pasal 23 yang dipotong adalah sebesat : 2% x Rp. 100.000.000,00 = Rp. 1.500.000,00
  • 14.
    PPh pasal 24 Ketentuanpasal 24 UU PPh Mengatur tentang perhitungan besarnya pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang dpat dikreditkan terhadap pajak penghasilan yang terutang atas seluruh penghasilan wajib pajak dalam negeri. Penggabungan penghasilan Penggabungan penghasilan yang berasal dari luar negeri dilakukan sebagai berikut: 1. Penggabungan penghasilan dari usaha dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya penghasilan tersebut (accrual basis). 2. Penggabungan penghasilan lainnya dilakukan dalam tahun pajak diterimanya penghasilan tersebut (cash basis). 3. Penggabungan penghasilan yang berupa dividen (pasl 18 ayat 2 UU PPh) dilakukan dalam tahun pajak pada saat perolehan dividen tersebut ditetapkan sesuai dengan keputusan menteri keuangan.
  • 15.
    Contoh 1: PT Mandirimenerima dan memperoleh pengahsilan neto dari sumber luar negeri dalam tahun 2009 sebagai berikut: 1. Hasil usaha di negara jerman dalam tahun pajaj 2009 sebesar Rp 700.000.000,00. 2. Di negara Belanda, memperoleh dividen atas kepemilikan sahamnya di “ABC Corp.” sebsar Rp 1.000.000.000,00 yaitu berasal dari keuntungan tahun 2007 yang ditetapkan RUPS tahun 2007, dan baru dibayarkan tahun 2009. 3. Di negara inggris memperoleh dividen atas penyertaan saham sebanyak 75% di “DEF Corp.” sebesarRp. 2000.000.000,00. saham tersebut tidak diperdagangkan di bursa efek. Dividen tersebut berasal dari keuntungan saham 2008 yang berdasarkan keputusan menteri keuangan dittetapkan diperoleh tahun 2009. 4. Penghasilan berupa bunga semester II tahun 2009 sebesar Rp 500.000.000,00 dari bangkok bank di thailand. Penghasilan tersebut baru akan diterima pada bulan april 2010. Penghasilan dari sumber luar negeri yang digabungkan dengan penghasilan PT Mandiri dan dalam tahun pajak 2009 adalah penghasilan pada angka 1,2,3. sedangkan penghasilan pada angka 4 digabungkan dengan penghasilan PT Mandiri dari dalam negeri dalam tahun pajak 2010.
  • 16.
    Batas maksimum kreditpajak Dalam menghitung batas jumlah pajak yang boleh dikreditkan, sumber penghasilan ditentukan sebagai berikut: 1. Pengahasilan dari saham dan sekuritas lainnya serta keuntungan dari pengalihan saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan yang menerbitkan saham atau sekuritas tersebut didirikan atau bertempat kedudukan. 2. Penghasilan berupa bunga, royalti, dan sewa sehhubungan dengan penggunaan harta gerak adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani bunga, royalti, atau sewa tersebut bertempat kedudukan atau berada. 3. Penghasilan berupa sew sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak adalah negara tempat harta tersebut terletak. 4. Penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan tersebut bertempat kedudukan atau berada. 5. Penghasilan bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan. 6. Penghasilan dari pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan atau tanda turut serta dalam pembiayaan atau permodalan dalam perusahaan pertambangan adalah negara tempat lokasi penambangan berada. 7. Kuntungan karena pengalihan harta tetap adalah negara tempat harta tetap berada. 8. Keuntungan karena pengalihan harta yang menjadi bagian dari suatu bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap berada.
  • 17.
    Batas maksimum kreditpajak diambil yang terendah diantara 3 unsur/perhitungan berikut ini: 1. Jumlah pajak yang terutang atau dibayar di luar negeri. 2. (penghasilan luar negeri : seluruh penghasilan kena pajak) x PPh atas seluruh yang dikenakan tarif pasal 17. 3. Jumlah pajak yang terutang untuk seluruh penghasilan kena pajak (dalam hal penghasilan kena pajak adalah lebih kecil daripada penghasilan luar negeri). Contoh 2: PT cemara memperoleh pengahasilan neto dalam tahun 2009 sebagai berikut: 1. Pnghasilan dar luar negeri Rp 5.000.000.000,00 dengan tarif pajak sebesar 40%. 2. Penghasilan usaha di indonesia Rp 3.000.000.000,00 maka jumlah penghasilan netto adalah: Rp 5.000.000.000,00 + Rp 3.000.000.000,00 = Rp 8.000.000.000,00
  • 18.
    Batas maksimum kreditpajak diambil yang terendah dari 3 unsur/perhitungan berikut:  PPh terutang atau dibayar di luar negeri adalah: 40% x Rp 5.000.000.000,00 = Rp 2.000.000.000,00  (Rp 5.000.000.000,00 : Rp 8.000.000.000,00) x Rp 2.240.000.000,00 = Rp 1.400.000.000,00  PPh terutag (menurut tarif pasal 17) = Rp 8.000.000.000,00 x 28% = Rp 2.240.000.000,00 Dengan demikian kredit pajak yang diperkenankan adalah pada poin 2 sebesar Rp 1.400.000.000,00
  • 19.
    Batas maksimum kreditpajak untuk setiap negara (per country limitation) Apabila pengahsilan luar negeri berasal dari beberapa negara, maka perhitungan batas maksimum kredit pajak dilakukan masing-masing negara. Contoh 3: PT Diaswati memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2009 sebagai berikut: 1. Di negara A, memperoleh penghasilan (laba) Rp 2.000.000.000,00 dengan tarif pajak sebesar 35% (Rp 700.000.000,00). 2. Di negara B, memperoleh penghasilan (laba) Rp 1000.000.000,00 dengan tarif pajak sebesar 20% (Rp 200.000.000,00). 3. Pengahsilan usaha di indonesia Rp 5000.000.000,00.
  • 20.
    Perhitungan kredit pajakluar negeri adalah sebagai berikut:  Penghasilan luar negeri. a. Laba di negara A Rp 2.000.000.000,00 b. Laba di negara B Rp 1.000.000.000,00 jumlah penghasilan luar negeri Rp 3.000.000.000,00  Penghasilan dalam negeri Rp 5.000.000.000,00  Jumlah penghasilan neto atau penghasilan kena pajaknya adalah: Rp 3.000.000.000,00 + Rp 5.000.000.000,00 = Rp8.000.000.000,00  PPh terutang (menutut tarif pasal 17) = Rp 8.000.000.000,00 x 28% = Rp 2.240.000.000,00  Batas maksimum kredit pajak untuk masing-masing negara adalah:  Untuk negara A: (Rp 2.000.000.000,00 : Rp 8.000.000.000,00) x Rp 2.240.000.000,00 = Rp560.000.000,00 pajak terutang di negara A sebesar Rp 700.000.000,00 maka maksimum kredit pajak yang dapat dikreditkan adalah Rp 560.000.000,00.  Untuk negara B : (Rp 1.000.000.000,00 : Rp 8.000.000.000,00) X Rp 2.240.000.000,00 = Rp 280.000.000,00. Pajak terutang di negara B sebesar Rp 200.000.000,00 maka maksimum kredit pajak yang dapat dikreditkan adalah Rp 200.000.000,00. jadi, Jumlah kredit pajak luar negeri yang diperkenankan adalah sebesar : Rp 560.000.000,00 + Rp 200.000.000,00 = Rp 760.000.000,00.
  • 21.
    Cara Melaksanakan KreditPajak Luar Negeri Untuk melaksanakan perkreditan pajak yang terutang atau dibayar di luar negeri, wajib pajak wajib menyampaikan permohonan kepad direktur jendral pajak dengan dilampiri: 1. Laporan keuangan daei penghasilan yamg berasal dari luar negeri. 2. Fotokopi surat pemberitahuan pajak yang disampaikan di luar negeri. 3. Dokumen pembayaran paja di luar negeri. Penyampaian permohonan kredit pajak yang terutang atau dibayar di luar negeri tersebut dilakukan bersamaan dengan penyampaian SPT Tahunan PPh.
  • 22.